Surat An-Nashr

Sabtu, 25 Syawal 1437 H/ 30 Juli 2016
Al-Qur’an
Ustadz Noorahmat
 *Surat An-Nashr*
==========================

Assalamu’alaikum wr wb.
Adik-adik. Kali ini kita akan membahas surat yang turun di fase akhir risalah kenabian. Yaitu Surat An Nashr.
سْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. [QS An-Nasr: 1]
Surat An Nashr ini turun menjelang wafatnya Rasulullah SAW sebagai sebuah khabar gembira bahwa Rasulullah SAW akan melihat kejayaan dan kemenangan Islam.
Ada yang menarik pada kelanjutannya….yuk disimak.
وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا * فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.
[QS An-Nasr: 2 – 3]
Adik-adik…
Apa ya hubungan antara istighfar dengan kemenangan Islam dan kejayaan kaum muslimiin? Menang kok justru disuruh istighfar?
Ternyata memang seseorang ataupun sekelompok manusia yang diberi kemenangan seringkali terjangkiti sebuah penyakit kronis….
Penyakit apa itu adik-adik?
Penyakit itu adaah penyakit hati berupa rasa kagum berlebih pada diri sendiri atau NARSIS yang berujung pada kesombongan….
Jangankan kemenangan muslim…..lulus UN dengan nilai Amazing saja bisa menimbulkan efek Narsis…..iya apa iya hayo…? Eh…
Nah ketika seorang muslim atau kumpulan muslim atau entitas organisasi Islam mendapat nikmat kemenangan, tidak jarang diantara mereka dan pemimpinnya terjangkiti efek Narsis ini sebagaimana juga menjangkiti banyak pemimpin “sukses” dunia yang akhirnya berujung pada kejatuhan yang sangat pahit.
Sejarah mencatat karir melejit seperti Ramses sang Fir’aun, Napoleon Bonaparte, Adolf Hitler, hingga tak terkecuali pemimpin-pemimpin di Indonesia. Sukses di awal masa kelemimpinan namun berujung pada akhir kehidupan yang menyedihkan dan cenderung mengenaskan.
Oleh karena itu, kemenangan, keberhasilan, kesuksesan dan kejayaan harus ddisambut dengan pujian yang tulus pada Allah Azza wa Jalla atas nikmat kejayaan yang diberikan-Nya agar selalu ingat bahwa kejayaan itu tidak lepas dari keputusan Rabb Penguasa Alam Semesta.
Sekaligus diiringi permohonan ampun kepada Allah Ta’ala Dzat pemberi nikmat kejayaan atas segala bentuk kelengahan dan kealfaan tindak-tanduk kita selama proses menuju kejayaan yang kita peroleh. Karena Allah Ta’ala Yang Maha Sempurna menutupi kelengahan dan kelemahan kita yang bisa menangguhkan kejayaan.
Adik-adik sekalian….
Syukur dan Istighfar merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya tidak sekedar menjaga amal dari ke-sia-sia-an, namun juga sekaligus menjaga hati dari kesombongan maupun keangkuhan. Karena sadar sepenuhnya bahwa nikmat kejayaan itu diberikan oleh Allah Azza wa Jalla kepada kita sebagai anugerah dan bentuk kasih sayang Allah Ta’ala pada hamba-Nya.
Melalui surat ini, Allah mengajarkan kepada kita semua untuk selalu mengembalikan keutamaan kepada Allah Rabb Semesta Alam, sekaligus pengakuan diri atas kelengahan dan kelemahan diri dihadapan-Nya dengan memohon ampun kepada Allah Al Ghafuur Ar Rahiim. Sebab hanya milik Allah Al Aziz segala bentuk keutamaan dan kejayaan.
Wallahua’lam.

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
Sebarkan! Raih pahala

Membentuk Mental Pemenang

Jum’at, 24 Syawal 1437 H/ 29 Juli 2016
Pengembangan Diri dan Motivasi
Ustadzah Wiwit, Ustadzah Dina, Ustadzah Heni
 *Membentuk Mental Pemenang*
==============================

Assaalaamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh
Hai sobat muda, salam semangat perubahan!! 
Senang sekali kita bisa bersua lagi di grup manis for teen ini.
setelah di pekan sebelumnya, kita tak bersua  mohon maaf yaa 
Oke, materi kali ini adalah…..
MEMBENTUK MENTAL PEMENANG
Sebelumnya, yuk kita coba resapi dulu yang berikut ini.
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ
_Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan._
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
_Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan._ (Huud : 15-16)
Sob, kalau kita coba pahami ayat diatas, mudah banget ya kalo Alloh pingin buat dunia kita lapang selapang lapangnya.
Begitu juga sebaliknya, sangat mudah bagi Alloh membuat hidup kita disempitkan sesempit sempitnya.
Ayat 15-16 jelasin tentang keadaan orang yg beramal hanya untuk dunia. Gak ridho ama jatahnya di dunia, dan kalaupun berdoa, minta semua dibayar didunia
Orang yg beramal demi kehidupan dunia dan perhiasannya, ia akan mendapat balasan pekerjaannya di dunia dengan sempurna dan ia di dunia nggak mungkin dirugikan.
Pernah ngerasa ibadah semangat cuma pas keliatan orang (riya)? Padahal kalo sendiri malesnya minta ampun?Motor butut dah diganti mobil, tetep aja susah solat jamaah..rejeki nambah tetep aja sedekah kurang dari 10 persen penghasilan?
Nah..hati hati
Sob..jangan jangan Alloh lgi ngasih semua jatah kita, tpi alloh lgi habisin semua di dunia tapi dicabut keberkahan dan ampunan di akhirat.
Al Aufi dalam Tafsir ibnu katsir menjelaskan ayat diatas khusus buat yg beramal tapi riya :
“Orang orang yg suka riya, kebaikan mereka dibalas di dunia dan mereka tidak akan dizalimi sedikitpun. Barangsiapa yg melakukan atau tidak amal baik untuk dunia, misal puasa,shalat, tahajud hanya untuk kepentingan dunia, maka Allah berkata , _”Aku akan memenuhi pahala dunia yg ia cari, namun amalnya itu rusak karna tujuannya dunia dan di akhirat nanti ia termasuk yg merugi”_
Sob,
Entah sampe kapan kita akan hidup. Itupun kalo dihitung, gak tau lah sudah berapa lama usia kita isi dengan ketaatan.
So, supaya kita tdk mjd org yg merugi, kita perlu membentuk mental kita menjadi mental pemenang
mental pemenang berarti mengejar SUKSES AKHIRAT terlebih dulu, baru mengejar SUKSES dunia
Yuk Mari mendekat kpd Alloh, agar hubungan kita ama Alloh makin erat.. 🙂

www.iman-islam.com
Sebarkan! Raih pahala

Hikmah ramadhan

Kamis, 23 Syawal 1437 H/ 28 Juli 2016
Fiqih Ibadah
 Suci Susanti S.SoS.I
 *Hikmah Ramadhan*
=====================

Assalammualaykum adik-adik solehah..
Sebentar lagi bulan Syawal berakhir. Yuk… yang belum puasa sunnah syawal masih ada waktu beberapa hari lagi.
Masih ada yang ingat bahasan bunda minggu kemarin tentang hikmah Ramadhan ?
Nah… sekarang bunda akan bahas satu persatu.
Yang pertama tentang hikmah taat.
1. Sebenarnya apa sih arti taat itu ?
Taat adalah mengikuti aturan dan menjauhi larangan.
Sepertinya mudah ya adik-adik. Mudah untuk dituliskan dan diucapkan. Tapi dalam kenyataannya masih banyak yang berat melaksanakan.
Contoh kita menuruti perintah Allah adalah mengenakan hijab atau jilbab. Coba deh adik-adik lihat di sekitar lingkungan. Masih banyak sekali muslimah yang belum memakai hijab. Alasannya banyak. Ada yang katanya belum dapat hidayah, ada yang karena ngga mau aja, ada juga yang takut kalau pake hijab jadi ngga ‘kekinian’. Padahal jelas sekali perintah Allah swt bahwa semua muslimah wajib berhijab.
2. Kepada siapa saja kita harus taat ?
2.1. Yang pertama pastinya kita harus taat kepada Allah swt dan Rasulullah saw. Seperti perintah Allah swt dalam QS An-Nisa 59 ;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ
” Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya)… “
Wajib hukumnya bagi semua muslim untuk tunduk patuh pada perintah Allah swt dan Rasulullah saw. Semua perintah Allah swt harus dituruti. Dalam mentaati Allah swt, kita ngga boleh sepotong-sepotong. Mengambil yang sesuai dengan keadaan kita dan menjauhi yang ngga sesuai dengan keinginan kita. Perintah Allah swt harus kita jalani secara utuh.
Memang ada ya, yang mengambil aturan Allah swt sepotong-sepotong ?
Ada dan banyak banget adik-adik. Contohnya, ada sebagian muslim yang ngga mau pakai hijab dengan alasan hijab budaya Arab tapi dia tetap menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Atau ada juga yang sudah berhijab tapi masih pacaran. Ini semua ngga utuh dalam mentaati perintah Allah swt. Seharusnya hijab dikerjakan, puasa Ramadhan dilaksanakan dan tidak berpacaran. Yang seperti ini artinya taat pada Allah swt secara utuh, tidak sepotong-sepotong.
2.2. Taat kepada orangtua
Nah.. untuk kita yang masih punya orangtua, wajib banget mentaati perintah mereka.
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
“Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepadaNya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut disisimu maka janganlah katakan kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya” [Al-Isra : 23]
Jelas sekali perintah Allah swt di atas agar kita mentaati orangtua. Kalau disuruh shalat ya shalat. Disuruh baca Alquran ya baca Alquran. Ikuti dan taati orangtua, selama nasehat yang diberikan tidak melanggar perintah Allah swt.
Selain taat pada orangtua, Allah swt jiga menyuruh kita untuk memperlakukan mereka sebaik-baiknya. Ada kalanya kita _bete_ banget sama nasehat orangtua.
Dalam hati kita ngomong “Ih.. mama ngga ngerti anak muda banget deh.”
Atau malah ketika orangtua kita memberi nasehat, karena ngga sesuai maka kota lawan. Wah… jangan sampai ya adik-adik. Ngga boleh banget melawan orangtua. Membentak orangtua, apalagi sampai teriak-teriak.
Coba baca lagi ayat di atas. Allah swt secara jelas mengatakan bahwa berkata ‘ah’ saja ngga boleh. Apalagi sampai melawan, membentak bahkan berteriak.
Pokoknya ketika orangtua memberi nasehat kebaikan, kita wajib untuk taat. InsyaAllah ngga ada orangtua soleh yang akan menjerumuskan anaknya.
Sekian dulu ya adik-adik solehah. InsyaAllah hikmah selanjutnya akan dibahas minggu depan.
Enjoy your school…
Enjoy your life..
Put Allah always swt in your heart ☺
Wassalammualaykum…
——————
Maroji :
Shahih Tafsir Ibnu Katsir

=====================
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
Sebarkan! Raih pahala

Dakwah Itu…

📆 Rabu,  22 Syawal 1437 H / 27 Juli 2016 M

📚 DAKWAH ISLAM

📝 Ustadz Abdullah Haidir Lc.

📋  *Dakwah Itu………*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

🌺Dakwah itu, membina, bukan menghina…
Dakwah itu, mendidik, bukan ‘mendelik’…
Dakwah itu, mengobati, bukan melukai….
Dakwah itu, mengukuhkan, bukan meruntuhkan…
Dakwah itu, menguatkan, bukan melemahkan…

🌼Dakwah itu, mengajak, bukan mengejek…
Dakwah itu, menyejukkan, bukan memojokkan..
Dakwah itu, mengajar, bukan menghajar….
Dakwah itu, belajar, bukan kurang ajar ..
Dakwah itu, menasehati, bukan mencaci maki…
Dakwah itu, merengkuh, bukan menuduh…
Dakwah itu, bersabar, bukan gusar…

🌺Dakwah itu, argumentative, bukan provokatif..
Dakwah itu, bergerak cepat, bukan sibuk berdebat…
Dakwah itu, realistis, bukan fantastis …
Dakwah itu, adu konsep di dunia nyata, bukan adu mulut dan olah kata.

🌼Dakwah itu, mencerdaskan, bukan mencemarkan…
Dakwah itu, menawarkan solusi, bukan mengumbar janji…
Dakwah itu, berlomba dalam kebaikan, bukan berlomba saling menjatuhkan..
Dakwah itu, menghadapi masyarakat, bukan membelakangi masyarakat…

🌺Dakwah itu, memperbarui masyarakat, bukan membuat masyarakat baru..
Dakwah itu, mengatasi keadaan, bukan meratapi kenyataan…
Dakwah itu, pandai memikat, bukan mahir mengumpat …

🌼Dakwah itu, menebar kebaikan, bukan mengorek kesalahan…
Dakwah itu, menutup aib dan memperbaikinya, bukan mengumpat aib dan menyebarkannya..

🌺Dakwah itu, menghargai perbedaan, bukan memonopoli kebenaran..
Dakwah itu, apresiasi terhadap langkah positif, bukan mencari-cari motif….

🌼Dakwah itu, mendukung semua proyek kebaikan, bukan memunculkan keraguan..
Dakwah itu, memberi senyum manis , bukan menjatuhkan vonis…
Dakwah itu, berletih-letih menanggung problema umat, bukan meletihkan umat…

🌺Dakwah itu, menyatukan kekuatan, bukan memecah belah barisan..
Dakwah itu, kompak dalam perbedaan, bukan ribut atas nama persatuan…
Dakwah itu, menghadapi musuh, bukan mencari musuh…
Dakwah itu, mencari teman, bukan memusuhi teman…
Dakwah itu, melawan kesesatan, bukan berbicara menyesatkan…
Dakwah itu, menjulurkan tangan, bukan menjulurkan lidah…

🌼Dakwah itu, asyik dengan kebersamaan, bukan bangga dengan kesendirian…
Dakwah itu, menampung semua lapisan, bukan mengkotak-kotakkan…

🌺Dakwah itu, kita mengatakan.. ‘aku cinta kamu’… bukan… ‘aku benci kamu..’

🌼Dakwah itu, kita mengatakan, ‘Mari bersama kami…’ bukan.. ‘Kamu harus ikut kami…’

🌼Dakwah itu, dapat di masjid, di sekolah, di pasar, di kantor, di parlemen, di jalanan, hingga di tempat kebanjiran….
Dakwah bukan hanya di pengajian….!

🌺Dakwah itu…,asyik dah …
🌼Mau ikutan?… Hayuu lah..!

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Syarah Hadits Arbain Nawawiyah (Bag. 2)

📆 Selasa,  21 Syawal 1437 H / 26 Juli 2016 M

📚 Fiqih dan Hadits

📝 Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

📋  *Syarah Hadits Arbain Nawawiyah (Bag. 2)*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚 *SYARAH HADITS PERTAMA (Niat dan Ikhlas)*

📌 *Matan Hadits* :

  عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله تعالى عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله تعالى عليه وعلى آله وسلم يقول: “إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى، فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه”. رواه إماما المحدثين: أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبه البخاري وأبو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة.

  Dari Amirul Mu’minin, Abu Hafsh Umar bin Al Khathab Radhiallahu Ta’ala ‘Anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya amal itu hanyalah beserta niat, dan setiap manusia mendapatkan apa-apa sesuai yang diniatkannya. Barang siapa yang hijrahnya  kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya itu adalah kepada Allah dan RasulNya, dan barang siapa yang hijrahnya   karena dunia yang diinginkannya atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa-apa yang ia inginkan itu.”  (Diriwayatkan oleh Imamul Muhadditsin, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari dan Abul Husein Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi, dalam kitab shahih mereka yang merupakan kitab hadits paling shahih)

📌 *Takhrij Hadits:*

–  Imam Bukhari, Jami’ush Shahih, No. 45, 163, 2392, 3685, 4783, 6311, 6553
–  Imam Muslim, Jami’ush Shahih, No.  1907
–  Imam At Tirmidzi, As Sunan, No. 1698
–  Imam Abu Daud, As Sunan,  No. 2201
–  Imam Ibnu Majah, As Sunan, No. 4227
–  Imam Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra, No.181, 2087, 12686, 14773
–  Imam Ibnu Hibban, Ash Shahih, No. 388, 4868

Semuanya melalui jalur sahabat nabi yang sama yakni Umar bin Al Khathab Radhiallahu ‘Anhu. Beliau menggunakan kata sami’tu (Aku mendengar) yang menunjukkan bahwa Beliau mendengar hadits ini secara langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tanpa perantara.

📌 *Makna Hadits:*

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله تعالى عنه قال  :

“Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Al Khathab Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata:”

  Amirul Mu’minin artinya pemimpin orang-orang beriman, yakni orang yang mengurus berbagai urusan (Al Umur) kaum beriman yang berada dalam jangkauan wilayah kekuasaannya. Umar bin Al Khathab Radhiallahu ‘Anhu adalah orang pertama yang dipanggil dengan sebutan gelar ini. Orang pertama yang memanggilnya dengan sebutan ini adalah Abdullah bin Jahsy, dan menurut riwayat lainnya adalah Amr bin Al ‘Ash dan Mughirah bin Syu’bah. Sejak itu panggilan Amirul Mu’minin menjadi panggilan baku bagi khalifah selanjutnya.

  Bahkan pada masa selanjutnya, istilah tersebut juga dipakai oleh para ulama hadits yakni Amirul Mu’minin fil Hadits (pemimpin orang beriman dalam hadits) sebuah gelar tertinggi yang diberikan kepada ahli hadits. Di antara ahli hadits yang menyandang gelar ini pada masanya masing-masing adalah Imam Al Bukhari dan Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani (walau Beliau lebih dikenal dengan gelar Al Hafizh).

  Abu Hafsh Umar bin Al Khathab adalah  -sebagaimana keterangan Imam As Suyuthi dalam Tarikhul Khulafa’:
Beliau adalah Umar bin Al Khathab bin Nufail bin Abdil ‘Uzza bin Riyah bin Qurth bin Razah bin ‘Adi bin Ka’ab bin Lu’ai. Dialah Amirul Mu’minin, Abu Hafsh Al Qursyi Al ‘Adawi Al Faruq.

  Masuk Islam tahun keenam masa kenabian, saat usianya 27 tahun sebagaimana kata Imam Adz Dzahabi. Imam An Nawawi mengatakan Umar bin Al Khathab dilahirkan 13 tahun setelah peristiwa gajah (tahun gajah). Dia berasal dari suku Quraisy yang paling mulia. Masuk Islam termasuk generasi awal setelah 40 laki-laki dan 11 wanita. Ada juga yang mengatakan setelah  39 laki-laki dan 23 wanita, dan ada juga yang mengatakan setelah 45 laki-laki  dan 11 wanita. Setelah keislaman Umar, kaum muslimin di Mekkah senantiasa berjaya dan mereka amat berbahagia dengan keislamannya.

Dia adalah salah seorang sahabat nabi yang paling utama, salah seorang yang dikabarkan dijamin masuk surga, dan salah seorang khalifatur rasyidin. Beliau meriwayatkan hadits dari nabi 539 buah. (Imam As Suyuthi, Tarikhul Khulafa’, Hal. 89. Cet. 1. 2004M-1425H. Maktabah Nazar Mushthafa Al Baz)

  Selanjutnya:

 : سمعت رسول الله صلى الله تعالى عليه وعلى آله وسلم يقول”

Aku mendengar
 Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa ‘Ala Aalihi Sallam bersabda”  
  Ucapan Umar,  Sami’tu (Aku Mendengar) menunjukkan bahwa hadits ini didengarnya secara langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tanpa perantara orang lain. Hal ini ditegaskan oleh Al ‘Allamah Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah sebagai berikut:

وفي قوله سَمِعْتُ دليل على أنه أخذه من النبي صلى الله عليه وسلم بلا واسطة. والعجب أن هذا الحديث لم يروه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم إلا عمر رضي الله عنه مع أهميته، لكن له شواهد في القرآن والسنة.

  “Ucapannya ‘Aku Mendengar’ merupakan dalil bahwa Beliau mengambil hadits ini dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan tanpa perantara. Mengagumkannya adalah bahwa hadits sepenting ini tidak ada sahabat yang meriwayatkannya dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kecuali Umar Radhiallahu ‘Anhu. Tetapi hadits ini memiliki syawahid (banyak saksi/penguat) dalam Al Quran dan As Sunnah.” (Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Syarh Arba’in An Nawawiyah Hal. 3. Mawqi’ Ruh Al Islam)

  Selanjutnya:

إنما الأعمال بالنيات :”Sesungguhnya amal itu hanyalah beserta niat”
  Kata innama adalah –sebagaimana kata para ulama muhaqqiq (peneliti)-  Lil Hashr  للحصر)) yakni sebagai pembatas,  sehingga dia bermakna ‘Sesungguhnya hanyalah’ . Sebagai itsbat (penetap) dari hukum dari hal yang disebutkan setelahnya.

  Dengan kata lain tidak ada amal kecuali dengan niat. Jika dikatakan: Zaidun Qaaimun (Zaid sedang berdiri). Maka ini tidak ada pembatasan, bisa saja Zaid berdiri sambil makan, bersandar, atau aktiftas lainnya. Tetapi jika dikatakan Innama Zaidun Qaaimun (Sesungguhnya Zaid hanyalah sedang berdiri), maka ini sudah ada pembatasan bahwa aktifitas zaid cuma berdiri,  tidak yang lainnya.

  Al A’mal adalah jamak (plural) dari ‘amal (perbuatan),  sebagai kelanjutan dan ikrar dari niat. Al A’mal mencakup berbagai bentuk perbuatan, baik perbutan hati, lisan, dan jawarih (anggota badan). Amal hati seperti tawakkal kepada Allah, kembali dan takut kepadaNya. Amal lisan seperti berbicara dan makan. Amal jawarih seperti perbuatan tangan dan kaki dan yang semisalnya.

  Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id Rahimahullah mengatakan:

والمراد بالأعمال: الأعمال الشرعية. ومعناه: لا يعتد بالأعمال بدون النية مثل الوضوء والغسل والتيمم وكذلك الصلاة والزكاة والصوم والحج والاعتكاف وسائر العبادات، فأما إزالة النجاسة فلا تحتاج إلى نية لأنها من باب الترك والترك لا يحتاج إلى نية، وذهب جماعة إلى صحة الوضوء والغسل بغير نية.

  “Yang dimaksud Al A’mal adalah amal-amal syar’i. artinya amal perbuatan tersebut  tidaklah cukup dengan tanpa niat, seperti wudhu, mandi junub, tayammum, demikian juga shalat, zakat, puasa, haji, I’tikaf, dan semua ibadah. Sedangkan menghilangkan najis tidaklah membutuhkan niat, karena itu merupakan pembahasan at tarku  (meninggalkan perbuatan), dan meninggalkan perbuatan tidaklah membutuhkan niat. Segolongan manusia berpendapat sahnya wudhu dan mandi  junub walau tanpa niat.”  Demikian dari Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id.

  An Niyyat –dengan huruf Ya’ ditasydidkan- adalah jamak dari niyyah yang bermakna ‘azmul qalbi (tekad di hati). Di juga bermakna Al Qashdu (maksud).

Secara syariat menurut Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin niat bermakna:

العزم على فعل العبادة تقرّباً إلى الله تعالى، ومحلها القلب، فهي عمل قلبي ولاتعلق للجوارح بها

Tekad (keinginan kuat) untuk melaksanakan ibadah demi mendekatkan diri kepada Allah Ta’la, letaknya di hati, dan dia termasuk amal hati yang tidak tergantung dengan perbuatan anggota badan.  (Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin, Syarh Al Arba’in An Nawawiyah hal. 4-5. Lihat juga Syaikh Ismail bin Muhammad Al Anshari, At Tuhfah Ar Rabbaniyah Syarh Al Arba’in An Nawawiyah, Hal. 2. Maktabah  Al Misykah. Juga Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id, Syarh Al Arba’in An nawawiyah, Hal. 26. Maktabah Al Misykah)

 Maka, amal perbuatan dikatakan

SAH sebagai perbuatan, jika dibarengi niat untuk melaksanakannya. Tanpa niat, itu dinamakan ketidaksengajaan, rekayasa atau sandiwara, walau secara lahiriyah juga nampak adanya perbuatan tersebut.

  Tidak dinamakan shalat orang yang melakukannya tanpa niat, walau lahiriyahnya menampakkan dia sedang shalat. Tidak dinamakan masuk Islam bagi orang kafir yang mengucapkan dua kalimat syahadat, jika melaksanakannya tanpa niat untuk itu, melainkan sekedar tuntutan skenario di film.

  Selanjutnya:

وإنما لكل امرئ ما نوى :
“dan setiap manusia mendapatkan apa-apa sesuai yang diniatkannya.”

  Maksudnya, hasil akhir yang didapatkan seseorang dari perbuatannya  tergantung niat apa dibalik perbuatannya itu, dia tidak akan mendapatkan selain yang diniatkannya.

  Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr Hafizhahullah mengatakan:

  “Barangsiapa yang datang ke masjid untuk shalat, atau untuk menghadiri shalat berjamaah, atau mencari pahala dengan berdzikir dan membaca Al Quran, maka dengan ini dia akan mendapatkan sesuai apa yang diinginkannya. Ada pun yang masuk ke masjid  untuk melakukan amal yang tidak ada kaitan dengan perkara agama dan ketaatan, maka dia mendapatkan sesuai apa yang diinginkannya itu, dan tidak   mendapatkan pahala.” (Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr, Syarh Sunan Abi Daud, No. 066. Maktabah Al Misykah)

  Para ulama berbeda pendapat, apakah kalimat  ‘ wa innama likullimri’in maa nawa’ memiliki makna yang sama dengan innamal a’malu bin niyyat, ataukah dia merupakan kalimat penegas (taukid) dari kalimat tersebut?

  Dan, Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin lebih menguatkan bahwa maknanya adalah sebagai kalimat penegas. Sebab, pengulangan (repetition) biasanya memang berfungsi sebagai penegas, penguat dan penjelas dari kalimat sebelumnya.

🔹 Bersambung .. (masih syarah hadits 1)🔹
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

KENAPA YA NABI DILAHIRKAN DI MAKKAH?

📆Selasa, 21 Syawwal 1437 H/ 26 Juli 2016
📘Sirah
📝 Wido Supraha
📖 KENAPA YA NABI DILAHIRKAN DI MAKKAH?
=============================
🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃
Brother and Sista,
Alhamdulillah, ternyata mudah kan ya menghafalkan nasab Nabi Muhammad Saw, manusia yang telah dipilih Allah Swt sebagai penutup para Nabi. Setiap pilihan Allah Swt sejatinya menunjukkan Rububiyah Allah dan memperlihatkan keutamaan sesuatu itu pada jenisnya. Itulah yang terlihat ketika Allah memilih langit yang paling atas dari tujuh tingkatan, Surga Firdaus, Tiga Malaikat Utama (Jibril, Mikail, Israfil), dan 2 khalil (kekasih) dari 5 Rasul Ulul Azmi dari 313 Rasul dari 124.000 Nabi. Demikian pula pilihan Allah kepada Nabi Muhammad Saw dari Bani Hasyim, dari Suku Quraisy, dari keturunan Kinanah, dari Khuzaimah, dari keturunan Ismail a.s. Rahasia-rahasia seperti ini yang perlu kita lebih perdalam bersama.
Demikian pula terhadap pemilihan Tanah Suci untuk para Nabi juga tidak terlepas dari tujuannya sebagai tempat berkumpulnya manusia dari berbagai penjuru negeri untuk pelaksanaan ritual ibadah mereka, sebagai tempat tersucikannya hati mereka, sebagai tempat yang paling aman bagi penganutnya, dan sebagai sarana penghapusan dosa. Tentu saja tanah itu adalah menjadi negeri yang paling baik dan paling dicintai-Nya, sehingga Allah bersumpah dengannya (lihat Q.S. At-Tin: 3 dan Q.S.  Al-Balad: 1), menjadikan masjid pertama yang dibangun di muka bumi ada di dalamnya, melarang manusia membuang hajat sembari menghadap dan membelakangi titik pusatnya, menyebutnya sebagai induk dari semua kampung (Umm al-Qurā), menjatuhi hukuman kepada yang berniat jahat di dalamnya (lihat Q.S. Al-Hajj: 25), memasukinya dengan berihram dengan pengecualian, dan menjadikan perasaan manusia tidak akan pernah bosan untuk mengunjunginya kembali. Coba deh niatkan dalam hati agar di antara negara pertama yang nanti sahabat-sahabat kunjungi adalah Makkah al-Mukarramah, ada perasaan yang jauh lebih menentramkan di sana.
Oh ya, tanah air bangsa Arab asli itu berada di kawasan Barat Daya Asia. Bagian Utara berbatasan dengan Syam, bagian Timur dengan Teluk Arab dan Laut Amman, bagian Selatan dengan Samudera Hindia, dan bagian Barat dengan Laut Merah. Kawasan inilah yang disebut Jazirah Arab atau Anak Benua Arab, dengan menisbatkan nama ini kepada bangsa Arab karena merupakan tanah kelahiran asli mereka, dan sebagian bangsa Arab tinggal di luar jazirah Arab, terutama suku pedalaman di Syam. Sementara bangsa Arab pada aslinya merupakan keturunan dari dua bangsa besar: Qahthan dan ‘Adnan.
So, udah mulai kebayang kan sedikit tentang rahasia pemilihan lokasi kelahiran Nabi? Ada pertanyaan bro and sis? Nanti kita lanjutkan lagi yach.
🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
💼Sebarkan! Raih pahala….

Obat Galau

 Senin, 20 Syawal 1437H/ 25 Juli 2016
 Akhlak
 Kingkin Anida
 Obat Galau
=====================

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..
Hai sahabat fillah, gimana kabar kamu sekarang? Lagi galaukah? Hmm, galau boleh boleh aja sih. Itu normal. Yang ngga normal, bila galau dibiarin aja. Kamu bakal jadi anggota Komunitas Galau Internasional lho.
Hati galau adalah milik Allah. Hati ngga galau milik Allah juga sih… hati kita itu amanah Allah. Hati yang perlu senantiasa dijaga kekuatannya, kecerdasannya, kesehatannya untuk membangun pribadi bertakwa. Hati bertakwa itu imun dari kegalauan.
Hati yang sehat tidak galau, adalah hati yang terkategori dalam “Qolbun Syakirun” maknanya adalah hati yang selalu menerima apa adanya (qona’ah) dengan penuh rasa berterima kasih pada Allah.
Hati yang senang dengan pemberian Allah. Hati demikian yakin bahwa itulah rahmatNya yang terbaik bagi dirinya. Tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur.
Allah berfirman :
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
_”(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram_”(QS 13:28).

============================
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
Sebarkan! Raih pahala…

SYARAH HADITS ARBAIN NAWAWIYAH (Bag. 1)

📆 Senin, 20 Syawal 1437H / 25 Juli 2016

📚 *HADITS DAN FIQIH*

📝 Ustadz Farid Nu’man Hasan

📝 *SYARAH  HADITS  ARBAIN  NAWAWIYAH (Bag. 1)*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚 *Muqadimah*

   Al Arba’un An Nawawiyah  adalah sebuah kitab kecil yang berisi kumpulan hadits sebanyak  empat puluh dua hadits yang disusun oleh seorang imam fiqih dan hadits, zahid, wira’i, dan pemberani yakni Imam An Nawawi Rahimahullah. Walaupun kitab ini bernama Arba’in (empat puluh) tetapi jumlah hadits yang terdapat di dalamnya adalah empat puluh dua   hadits, bukan empat puluh.

  _Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Al Utsaimin Rahimahullah_ menjelaskan tentang kitab tersebut:

وقد ألف مؤلفات كثيرة من أحسنها هذا الكتاب: الأربعون النووية، وهي ليست أربعين،بل هي اثنان وأربعون، لكن العرب يحذفون الكسر في الأعداد فيقولون: أربعون. وإن زاد واحداً أو اثنين، أونقص واحداً أواثنين.
  “Beliau (Imam An Nawawi) telah banyak menyusun karya tulis, yang terbaik di antaranya adalah kitab ini: Al Arba’un An Nawawiyah. Buku tersebut bukan empat puluh hadits (arba’in), tetapi empat puluh dua hadits (itsnan wa arba’un), namun orang Arab menghilangkan kasrah dalam bilangan, maka mereka menyebut: arba’un (empat puluh), walaupun ditambahkan sat? atau dua, atau dikurangi satu atau dua.” (Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Syarh Al Arba’in An Nawawiyah, Hal. 2. Mawqi’ Ruh Al Islam) .

  Sebelum _Imam An Nawawi_, sudah banyak para imam kaum muslimin menyusun kitab serupa seperti yang diceritakan oleh Imam An Nawawi sendiri dalam mukadimah kitab ini, mereka adalah  Abdullah bin Mubarak, Muhammad bin Aslam Ath Thusi, Hasan bin Sufyan An Nasa’i, Abu Bakr Al Ajuri, Abu Bakar Muhammad bin Ibrahim Al Ashfahani, Daruquthni, Al Hakim, Abu Nu’aim, Abu Abdurrahman A Sulami, Abu Said Al Malini, Abu Utsman Ash Shabuni, Abdullah bin Muhammad Al Anshari, Al Baihaqi, dan ulama lain yang tak terhitung jumlahnya.

  Besarnya perhatian para imam kaum muslimin terhadap upaya pengumpulan ’empat puluh hadits’ ini karena didasari berbagai riwayat yang menunjukkan keutamaan nya. Hanya saja, sebagaimana kata Imam An Nawawi sendiri, semua riwayat tersebut adalah dhaif (lemah) menurut kesepakatan ahli hadits. Imam An Nawawi mengatakan:

فقد روينا عن علي بن أبي طالب، وعبد الله بن مسعود، ومعاذ بن جبل، وأبي الدرداء، وابن عمر، وابن عباس، وأنس بن مالك، وأبي هريرة، وأبي سعيد الخدري رضي الله تعالى عنهم من طرق كثيرات بروايات متنوعات: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “من حفظ على أمتي أربعين حديثاً من أمر دينها بعثه الله يوم القيامة في زمرة الفقهاء والعلماء” وفي رواية: “بعثه الله فقيها عالما”.
وفي رواية أبي الدرداء: “وكنت له يوم القيامة شافعا وشهيدا”.وفي رواية ابن مسعود: قيل له: “ادخل من أي أبوب الجنة شئت” وفي رواية ابن عمر “كُتِب في زمرة العلماء وحشر في زمرة الشهداء”. واتفق الحفاظ على أنه حديث ضعيف وإن كثرت طرقه.

  “Kami telah meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Mu’adz bin Jabal, Abu Ad Darda, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Anas bin Malik, Abu Hurairah, dan Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu ‘Anhum dari banyat jalan dan riwayat yang berbeda: bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa di antara umatku menghapal empat puluh hadits berupa perkara agamanya, maka Allah akan membangkitkannya pada hari kiamat bersama rombongan fuqaha dan ulama.” Dalam riwayat lain: “Allah akan membangkitkan nya sebagai seorang yang faqih (ahli fiqih) dan ‘alim.”

Dalam riwayat Abu Ad Darda: “Maka aku (nabi) pada hari kaimat nanti sebagai syafaat dan saksi baginya.” Dalam riwayat Ibnu Mas’ud: “Dikatakan kepadanya: masuklah kau ke surga melalui pintu mana saja yang kamu kehendaki.” Dalam riwayat Ibnu Umar: “Dia dicatat termasuk golongan ulama dan dikumpulkan pada golongan syuhada.”

  Para huffazh (ahli hadits) sepakat bahwa hadits-hadits ini dhaif walaupun diriwayatkan dari  banyak jalan.”  (Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id, Muqadiimah Syarh Al Arbai’in an Nawawiyah, Hal. 16-17. Maktabah Al Misykat)

Hanya saja memang, jumhur (mayoritas) ulama – Imam An Nawawi mengatakan kesepakatan ulama- membolehkan menggunakan hadits dhaif (seperti hadits-hadits di atas) hanya untuk tema-tema fadhailul a’mal, targhib wat tarhib, dan hal-hal semisal demi mengalakan amal shalih dan kelembutan hati dan akhlak. Tetapi pembolehan ini pun bersyarat, yakni: tidak ada rawi yang tertuduh sebagai pemalsu hadits atau pembohong, tidak bertentangan dengan tabiat umum agama Islam, dan jangan menyandarkan atau memastikan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika mengamalkannya. Mereka yang membolehkan di antaranya adalah Imam Ahmad, Imam Al Hakim, Imam Yahya Al Qaththan, Imam Abdurrahman bin Al Mahdi, Imam Sufyan Ats Tsauri, Imam An Nawawi, Imam As Suyuthi, Imam ‘Izzuddin bin Abdissalam, Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id, dan lainnya.

Sedangkan yang menolak adalah Imam Al Bukhari, Imam Muslim, Imam Yahya bin Ma’in, Imam Ibnu Hazm, Imam Ibnul ‘Arabi, Syaikh Ahmad Muhammad Syakir, Syaikh Nashiruddin Al Albani dan lainnya dari kalangan hambaliyah  kontemporer, juga yang nampak dari pandangan Syaikh Yusuf Al Qaradhawi Hafizhahullah.

  Khusus untuk Al Arba’un An Nawawiyah ini, telah banyak  ulama yang memberikan perhatian terhadapnya yakni dengan memberikan syarah (penjelasan) terhadap seluruh hadits yang ada di dalamnya, mereka adalah Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id,  Al ‘Allamah Ismail bin Muhammad Al Anshari,  Al ‘Allamah Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, dan lainnya. Juga diantara ulama, ada yang mentakhrij dan mentahqiq (meneliti) kualitas validitas hadits-hadits dalam kitab ini, yakni Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah. Hal ini lantaran betapa lengkapnya muatan dan tema yang  dihimpun oleh Imam An Nawawi, yakni berupa dasar-dasar agama, hukum, ibadah, muamalah, dan akhlak. Sedangkan ulama lain, ada yang menyusun empat puluh hadits tentang persoalan tertentu saja, ada yang akhlak saja, atau jihad, atau adab, atau zuhud. Inilah letak keistimewaan kitab ini.

 Boleh dikatakan, kitab ini -dan kitab Beliau lainnya yakni _Riyadhus Shalihin_- adalah kitab Beliau yang paling luas peredarannya dan paling besar perhatian  umat Islam terhadapnya baik kalangan ulama,  dosen, mahasiswa, dan  orang umum. Ini merupakan petunjuk atas keikhlasan penulisnya sehingga Allah Ta’ala mengabadikan karya-karyanya di tengah manusia walau dirinya telah wafat berabad-abad lamanya.

  Semoga kita semua bisa mengikuti jejak langkah para ulama rabbani dan mengambil banyak manfaat dari karya dan keteteladanan kehidupan mereka. Amin.

🔹Bersambung 🔹

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Kelembutan Tutur Kata Nabi Saw

📆 Ahad, 19 Syawal 1437H / 24 Juli 2016

📚 *MUAMALAH*

📝 Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

📝 *Kelembutan Tutur Kata Nabi Saw*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚 *Hadits*

عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاحِشًا وَلَا لَعَّانًا وَلَا سَبَّابًا كَانَ يَقُولُ عِنْدَ الْمَعْتَبَةِ مَا لَهُ تَرِبَ جَبِينُهُ (رواه البخاري)
Dari Anas bin Malik ra berkata; “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah bertutur kata yang keji, (tidK pernah pula) melaknat dan mencela orang lain. Dan apabila beliau hendak mencela seseorang, maka beliau akan (menyindirnya saja) dengan berkata: “Mengapa dahinya berdebu?” (HR. Bukhari)

📚 *Hikmah Hadits :*

❣1. Diantara kemuliaan Nabi Saw adalah bahwa beliau senantiasa bertutur kata yang baik, lembut dan berusaha tidak menyinggung perasaan orang lain (para sahabat). Beliau tidak pernah berkata yg kasar dan keji, tidak pernah pula melaknat atau mencela orang lain, serta senantiasa mengedepankan kasih sayang.

Maka diantara cara mengikuti sunnah Nabi Saw adalah dengan berusaha bertutur kata yg baik, lembut dan tidak mencela atau melaknat sesama muslim lainnya.

❣2. Kalaupun Nabi Saw tidak suka dengan perbuatan atau perangai seseorang, maka beliau hanya mengungkapkan dengan perkataan sindiran yang menunjukkan ketidaksukaan beliau terhadap orang tersebut, seperti ungkapan beliau, “Mengapa dahinya berdebu?” Dan umumnya para sahabat memahami bahwa ungkapan tersebut adalah bentuk teguran Nabi Saw.

Sungguh, betapa mulianya akhlak beliau… Allahumma shalli wasallim wabarik alaih…

Wallahu A’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

MENGHIDUPKAN RASULULLAH SHALALLAHU ‘ALAIHI WASSALAM DALAM JIWA ANAK-ANAK KITA Bag.2

📆 Sabtu, 18 Syawal 1437H / 23 Juli 2016

📚 *KELUARGA & TARBIYATUL AULAD*

📝 Pemateri: *Ustadzah Dra. Indra Asih*

📝 *MENGHIDUPKAN RASULULLAH SHALALLAHU ‘ALAIHI WASSALAM DALAM JIWA ANAK-ANAK KITA  Bag.2*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁 🌷

*Bag. 1*   http://www.iman-islam.com/2016/07/menghidupkan-rasulullah-shalallahu.html?m=1

*3. Ceritakan Kisah Rasul SAW.*

Dalam Shahîh Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ
“Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan (Nabi) Ismail. Dan memilih suku Quraisy dari (bangsa) Kinânah. Kemudian memilih Bani Hasyim dari suku Quraisy dan memilih diriku dari Bani Hasyim” (HR Muslim).
Mempelajari Siroh (sejarah hidup) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berguna sebagai nutrisi bagi hati dan sumber keceriaan bagi jiwa serta penyejuk bagi mata. Bahkan hal itu merupakan bagian dari agama Allah Ta’ala dan ibadah untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Sebab, kehidupan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam  merupakan kehidupan sarat dengan mobilitas tinggi, ketekunan, kesabaran, keuletan, penuh harapan, jauh dari pesimisme dalam mewujudkan ubudiyah (penghambaan diri) kepada Allah Ta’ala dan mendakwahkan ajaran agama-Nya.

📚 *_Faedah dan manfaat mempelajari Sirah Nabawi tersimpulkan pada poin-poin berikut:_*
💐a. Mengenal teladan terbaik bagi seluruh manusia dalam aqidah, ibadah dan akhlak. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah“. (QS. Al-Ahzab/33:21).

💐b. Mempelajari Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membantu dalam memahami Kitabullah, karena kehidupan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan pengamalan nyata terhadap al-Qur`an. Hal ini berdasarkan keterangan Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika ditanya tentang akhlak beliau, “Akhlak beliau adalah al-Qur`an”. Dan yang dimaksud dengan akhlak di sini adalah pengamalan agama beliau, beliau telah mengerjakan petunjuk al-Qur`an dengan sempurna, dalam hal perintah dan larangan serta adab-adab al-Qur`an.
💐c. Mempelajari Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memperkuat cinta seorang Muslim kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Penanaman cinta dan penguatannya pada hati seorang Muslim menuntutnya untuk mempelajari Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, supaya cintanya kian subur di hatinya terhadap sosok yang mulia ini. Dan selanjutnya, cinta tersebut akan mendorongnya menuju setiap kebaikan dan ittiba’ kepada beliau.
💐 d. Mempelajari Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan pintu menuju peningkatan keimanan.
💐 e. Mempelajari Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membantu memudahkan memahami Islam dengan baik dalam aspek aqidah, ibadah dan akhlak. Dan sejarah telah mencatat bahwa beliau memulai dakwah dengan tauhid dan perbaikan aqidah dan menekankan pada masalah tersebut.
💐 f. Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri sudah merupakan bukti kebenaran nubuwwah dan kerasulan beliau.
💐 g. Mempelajari Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan pintu berkah menuju gerbang kebahagiaan. Bahkan kebahagiaan seseorang tergantung pada sejauh mana ia mengetahui petunjuk-petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab tidak ada jalan menuju kebahagiaan bagi seorang hamba di dunia dan di akhirat kecuali melalui petunjuk para rasul.
💐 h. Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan bahwa perilaku dan sejarah hidup beliau shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan jalan hidup bagi setiap Muslim yang mengharap kebaikan dan kehidupan mulia di dunia dan akhirat. Generasi Islam akan mengalami kemerosotan bila sebagian mereka lebih mengenal sejarah hidup orang-orang yang tidak pantas diteladani.

Kegiatan ini bisa dilakukan menjelang tidur, ketika anak-anak pulang dari sekolah atau di saat-saat lain yang kondusif untuk belajar.
Kita bisa membelikan buku tentang kehidupan Rasul shalallahu ‘alaihi wassalam. Bisa juga memperdengarkan melalui radio dalam perjalanan di mobil.
Atau bisa saja dimunculkan kegiatan setiapa anggota keluarga menceritakan cerita pilihan masing-masing.

*4. Meneladani Rasul shalallahu ‘alaihi wassalam Ketika Tidur*

Kebiasaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang waktu tidur adalah teladan terbaik. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah tidur melampaui batas yang dibutuhkan tubuh, tidak juga menahan diri untuk beristirahat sesuai kebutuhan. Inilah prinsip pertengahan yang Beliau ajarkan. Selaras dengan fitrah manusia. Jauh dari sikap ifrath (berlebih-lebihan) ataupun tafrith (mengurangi atau meremehkan).
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa tidur pada awal malam dan bangun pada pertengahan malam.

Pada sebagian riwayat dijelaskan, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur berbaring di atas rusuk kanan Beliau. Terkadang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur terlentang dengan meletakkan salah satu kakinya di atas yang lain. Sesekali Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam letakkkan telapak tangannya di bawah pipi kanan Beliau. Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa. Satu catatan penting juga, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah tidur dalam kondisi perut penuh berisi makanan.

🙏Diantara doa yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan untuk dibaca sebelum tidur adalah sebagaimana yang tertuang dalam hadits berikut.
عَنِ البَرَّاء بنِ عَازِب، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: (( إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَأْ وُضُوءَكَ للصَلاةِ، ثُمَّ اضْطَّجِعْ على شِقِّكَ الأَيْمَنِ، ثُمَّ قُلْ: اللهُمَّ إِنِّي اَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، وَوَجَهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَ فَوَضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَ أَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَ رَهْبَةً إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَ لاَ مَنْجَا منك إَلاّ إِلَيْكََ ، أَمَنْتُ بِكِتَابٍكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَ بِنَبِيِّكَ الذي أَرْسَلْتَ وَ اجْعَلْهُنَّ آخِرَ كَلاَمِكَ فَإِنْ مِتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ مِتَّ على الفِطْرَة))
“Dari al Barra bin Azib, bahwa Rasululah bersabda,”Jika engkau hendak menuju pembaringanmu, maka berwudhulah seperti engkau berwudhu untuk shalat, kemudian berbaringlahlah di rusukmu sebelah kanan lalu ucapkanlah doa:” Ya Allah sesungguhnya aku menyerahkan jiwaku hanya kepadaMu, kuhadapkan wajahku kepadaMu, kuserahkan segala urusanku hanya kepadamu, kusandarkan punggungku kepadaMu semata, dengan harap dan cemas kepadaMu, aku beriman kepada kitab yang Engkau turunkan dan kepada nabi yang Engkau utus” dan hendaklah engkau jadikan doa tadi sebagai penutup dari pembicaranmu malam itu. Maka jika enkau meninggal pada malam itu niscaya engkau meninggal di atas fitrah” (HR Al Bukhari dan Muslim)

Posisi berbaring seperti yang dijelaskan dalam hadits di atas adalah posisi tidur terbaik yang sangat bermanfaat bagi tubuh. Karena pada posisi miring ke kanan, makanan berada dalam lambung dengan stabil sehingga proses pencernaan berlangsung lebih efektif.

Adapun tentang posisi tidur yang terlarang, hadits berikut akan menjelaskan kepada kita.
عَنْ يَعِيْشَ بن طِخْفَةَ الغِفَاري رَضِي الله عنه قال : قال أَبي بَيْنَمَا أَناَ مُضْطَجِعٌ في المَسْجِد ِعَلى بَطْنِي إِذَا رَجُلٌ يُحَرِّكُنِي بِرِجْلِهِ فَقَال (( إَّنَّ هَذِهَ ضِجْعَةٌ يُبْغِضَها اللهُ)) قال فَنَظَرْتُ، فَإِذَا رَسُولُ اللهِ
“Dari Ya’isy bin Thihfah ia berkata,”Ayahku berkata,” Ketika aku berbaring (menelungkup) di atas perutku di dalam masjid, tiba-tiba ada seseorang yang menggoyangkan tubuhku dengan kakinya lantas ia berkata,” Sesungguhnya cara tidur seperti ini dibenci Allah” Ia berkata,”Akupun melihatnya ternyata orang itu adalah Rasululullah” (HR Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad)

Tentang tidur siang, sebagian ulama ada yang membaginya ke dalam tiga kategori:
🌷 *Pertama* : Tidur siang pada tengah hari saat matahari bersinar terik. Tidur ini biasa dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
🌷 *Kedua* : Tidur pada waktu dhuha. Tidur ini sebaiknya ditinggalkan, karena membuat kita malas serta lalai untuk berusaha meraih kemashlatan dunia dan akhirat
🌷 *Ketiga* : Tidur pada waktu ashar. Ini merupakan waktu tidur yang paling jelek.
Sebagian salaf juga membenci tidur waktu pagi. Ibnu Abbas pernah mendapati putranya tidur pada pagi hari, lantas ia berkata kepadanya,”Bangunlah, apakah engkau tidur pada saat rizki dibagikan?”

*5. Meneladani cara makan Rasul salallahu ‘alaihi wassalam*

Dan di antara perintah dan larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah adab ketika makan dan minum.
🍀 a. Memakan makanan dan minuman yang halal. Allah Ta’ala telah memerintahkan kepada kita agar memakan makanan yang halal lagi baik. Allah Ta’ala telah berfirman,يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ
“Hai para rasul, makanlah yang baik-baik, dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mu`minun: 51)
🍀 b. Mendahulukan makan daripada shalat jika makanan telah dihidangkan.Yang dimaksud dengan telah dihidangkan yaitu sudah siap disantap. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila makan malam telah dihidangkan dan shalat telah ditegakkan, maka mulailah dengan makan malam dan janganlah tergesa-gesa (pergi shalat) sampai makanmu selesai.” (Muttafaqun ‘alaih)
Faidahnya supaya hati kita tenang dan tidak memikirkan makanan ketika shalat. Oleh karena itu, yang menjadi titik ukur adalah tingkat lapar seseorang. Apabila seseorang sangat lapar dan makanan telah dihidangkan hendaknya dia makan terlebih dahulu. Namun, hendaknya hal ini jangan sering dilakukan.
🍀 c. Tidak makan dan minum dengan menggunakan wadah yang terbuat dari emas dan perak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang minum pada bejana perak sesungguhnya ia mengobarkan api neraka jahanam dalam perutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam salah satu riwayat Muslim disebutkan, “Sesungguhnya orang yang makan atau minum dalam bejana perak dan emas …”
🍀 d. Jangan berlebih-lebihan dan boros.Sesungguhnya berlebih-lebihan adalah di antara sifat setan dan sangat dibenci Allah Ta’ala sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Isra` ayat 26-27 dan Al-A’raf ayat 31. Berlebih-lebihan juga merupakan ciri orang-orang kafir sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seorang mukmin makan dengan satu lambung, sedangkan orang kafir makan dengan tujuh lambung.” (HR. Bukhari dan Muslim)
🍀 e. Jangan menyantap makanan dan minuman dalam keadaan masih sangat panas ataupun sangat dingin karena hal ini membahayakan tubuh.Mendinginkan makanan hingga layak disantap akan mendatangkan berkah berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Sesungguhnya yang demikian itu dapat mendatangkan berkah yang lebih besar.” (HR. Ahmad)
🍀 f. Tuntunan bagi orang yang makan tetapi tidak merasa kenyang.Para sahabat radhiyallahu ‘anhum berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan tetapi tidak merasa kenyang.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ”Barangkali kalian makan berpencar (sendiri-sendiri).” Mereka menjawab, ”Benar.” Beliau kemudian bersabda, “Berkumpullah kalian atas makanan kalian dan sebutlah nama Allah, niscaya makanan itu diberkahi untuk kalian.” (HR. Abu Dawud)
🍀 g. Dianjurkan memuji makanan dan dilarang mencelanya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan sama sekali. Apabila beliau menyukainya, maka beliau memakannya. Dan apabila beliau tidak suka terhadapnya, maka beliau meninggalkannya. (HR. Muslim)
🍀 h. Membaca tasmiyah (basmallah) sebelum makan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaklah ia membaca ‘Bismillah’ (dengan menyebut nama Allah). Jika ia lupa membacanya sebelum makan maka ucapkanlah ‘Bismillaahi fii awwalihi wa aakhirihi’ (dengan menyebut nama Allah pada awal dan akhir -aku makan-)” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi) Di antara faedah membaca basmallah di setiap makan adalah agar setan tidak ikut makan apa yang kita makan. Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk bersama seseorang yang sedang makan. Orang itu belum menyebut nama Allah hingga makanan yang dia makan itu tinggal sesuap. Ketika dia mengangkat ke mulutnya, dia mengucapkan, ‘Bismillaahi fii awwalihii wa aakhirihi’. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa dibuatnya seraya bersabda, “Masih saja setan makan bersamanya, tetapi ketika dia menyebut nama Allah maka setan memuntahkan semua yang ada dalam perutnya.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa`i)
🍀 i. Makan dan minum dengan tangan kanan dan dilarang dengan tangan kiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian makan, makanlah dengan tangan kanan dan minumlah dengan tangan kanan, karena sesungguhnya setan makan dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salammendoakan keburukan bagi orang yang tidak mau makan dengan tangan kanannya. Seseorang makan di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam dengan tangan kirinya, maka beliau bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu.” Orang itu menjawab, “Saya tidak bisa.” Beliau bersabda, “Semoga kamu tidak bisa!” Orang tersebut tidak mau makan dengan tangan kanan hanya karena sombong. Akhirnya dia benar-benar tidak bisa mengangkat tangan kanannya ke mulutnya. (HR. Muslim)
🍀 j. Makan mulai dari makanan yang terdekat. Umar Ibnu Abi Salamah radhiyallahu’anhuma berkata, “Saya dulu adalah seorang bocah kecil yang ada dalam bimbingan (asuhan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tangan saya (kalau makan) menjelajah semua bagian nampan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam menegur saya, ‘Wahai bocah bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang terdekat denganmu.’ Maka demikian seterusnya cara makan saya setelah itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
🍀 k. Memungut makanan yang jatuh, membersihkannya, kemudian memakannya.Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika salah satu dari kalian makan lalu makanan tersebut jatuh, maka hendaklah ia memungutnya dan membuang kotorannya kemudian memakannya. Jangan ia biarkan makanan itu untuk setan.” (HR. At-Tirmidzi)
🍀 l. Makan dengan tiga jari (yaitu dengan ibu jari, telunjuk, dan jari tengah) kemudian menjilati jari dan wadah makan selesai makan.Ka’ab bin Malik radhiyallahu ’anhu berkata, “Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam makan dengan tiga jarinya. Apabila beliau telah selesai makan, beliau menjilatinya.” (HR. Muslim)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Apabila salah seorang dari kalian selesai makan, maka janganlah ia mengusap jari-jarinya hingga ia membersihkannya dengan mulutnya (menjilatinya) atau menjilatkannya pada orang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maksudnya yaitu menjilatkan pada orang lain yang tidak merasa jijik dengannya, misalnya anaknya saat menyuapinya, atau suaminya.
🍀 m. Cara duduk untuk makan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Aku tidak makan dengan bersandar.” (HR. Bukhari) Maksudnya adalah duduk yang serius untuk makan.
🍀 n. Apabila lalat terjatuh dalam minumanNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila lalat jatuh pada minuman salah seorang dari kalian maka hendaklah ia mencelupkan lalat tersebut kemudian barulah ia buang, sebab di salah satu sayapnya ada penyakit dan di sayap yang lain terdapat penawarnya.” (HR. Bukhari)
🍀 o. Bersyukur kepada Allah Ta’ala setelah makanTerdapat banyak cara bersyukur atas kenikmatan yang Allah Ta’ala berikan kepada kita, salah satunya dengan lisan kita selalu memuji Allah Ta’ala setelah makan (berdoa setelah makan). Salah satu doa setelah makan yaitu, “alhamdulillaahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi ghaira makfiyyin walaa muwadda’in walaa mustaghnan ‘anhu rabbanaa.”(Segala puji bagi Allah dengan puja-puji yang banyak dan penuh berkah, meski bukanlah puja-puji yang memadai dan mencukupi dan meski tidak dibutuhkan oleh Rabb kita.”) (HR. Bukhari)
🍀 p. Buruknya makan sambil berdiri dan boleh minum sambil berdiri, tetapi yang lebih utama sambil duduk.Dari Amir Ibn Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya radhiyallahu ’anhum, dia berkata, “Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri dan sambil duduk.” (HR. Tirmidzi, hadits hasan shahih) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang laki-laki minum sambil berdiri. Qatadah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami bertanya kepada Anas, ‘Kalau makan?’ Dia menjawab, ‘Itu lebih buruk -atau lebih jelek lagi-.’” (HR. Muslim)
🍀 q. Minum tiga kali tegukan seraya mengambil nafas di luar gelas. Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minum, beliau bernafas tiga kali. Beliau bersabda, “Cara seperti itu lebih segar, lebih nikmat dan lebih mengenyangkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
🍀 r. Bernafas dalam gelas dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, “Apabila salah seorang dari kalian minum, janganlah ia bernafas di dalam gelas.”(HR. Bukhari)
🍀 s. Berdoa sebelum minum susu dan berkumur-kumur sesudahnya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika minum susu maka ucapkanlah, ‘Allahumma barik lana fihi wa zidna minhu’ (Ya Allah berkahilah kami pada susu ini dan tambahkanlah untuk kami lebih dari itu) karena tidak ada makanan dan minuman yang setara dengan susu.” (HR. Al-Baihaqi) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian minum susu maka berkumur-kumurlah, karena sesungguhnya susu meninggalkan rasa masam pada mulut.” (HR. Ibnu Majah)
🍀 t. Dianjurkan bicara saat makan, tidak diam dan tenang menikmati makanan seperti halnya orang-orang Yahudi.Ishaq bin Ibrahim berkata, “Pernah suatu saat aku makan dengan Abu ‘Abdillah (Imam Ahmad) dan sahabatnya. Kami semua diam dan beliau (Imam Ahmad) saat makan berkata, ‘Alhamdulillah wa bismillah’,kemudian beliau berkata, ‘Makan sambil memuji Allah Ta’ala adalah lebih baik dari pada makan sambil diam.'”

*6. Meneladani Rasul shalallahu ‘alaihi wassalam dalam sholat*

 صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوُنِيْ أُصَلِّيْ
“Shalatlah kalian sebagaimana melihat aku shalat.” (HR. al-Bukhari dari sahabat Malik bin al-Huwairits)

Hadits di atas merupakan landasan utama bagi umat Islam dalam meneladani ibadah shalat yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula dalam ibadah-ibadah yang lainnya, karena syarat diterimanya sebuah ibadah selain niat yang ikhlas juga harus sesuai contoh yang dibimbingkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada dasarnya dari kami maka amalan itu tertolak.” (HR. al-Bukhari  dan Muslim lafazh hadits diambil dari riwayat Muslim)

Sebagai contoh, sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan, ada seseorang shalat di masjid yang saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di dalamnya. Seusai shalat, orang itu menemui beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau menyuruhnya untuk mengulangi kembali shalatnya. Lalu orang tersebut mengulangi shalatnya, ternyata disuruh kembali oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengulanginya, hingga peristiwa tersebut terulang tiga kali. Akhirnya orang tersebut meminta Nabi supaya diajarkan sifat shalat yang benar, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarinya. (Lihat Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim)

*7. Berhibur mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam*

🔸Bersambung 🔸

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…