ADAB IKHWAN DAN AKHWAT AGAR TIDAK MUDAH BAPER

💻Ustadzah Menjawab
💐Ustadzah Nurdiana

🌿🍁🌺🍄🍀🌷🌻🌹

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh ustadz/ah…saya ingin bertanya tentang  adab akhwat dan ikhwan supaya tidak mudah baper. Apalagi untuk aktivis rohis, supaya tetap bisa jaga hijab..kira kira bagaimana ya?
Syukron 🌺🌺A18

——————

Jawaban :
Wa Alaikum salam wr wb,
Kami senang mendengar tekad dan  keinginan anti  untuk bisa komitmen dengan nilai  Islam. Memang Benar seorang aktivis rohis pasti akan banyàk berinteraksi dengan banyak orang,baik akhwat dan terkadang ikhwan,

Sebagai mana Allah firmankan:
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Allah berfirman bahwa Ia menciptakan manusia berbangsa – bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenali. Artinya, Allah swt memerintahkan manusia untuk bersosialisasi dan saling bergaul satu dengan yang lainnya. Allah swt juga menjelaskan di dalam ayat ini bahwa manusia diciptakan berbeda-beda dari berbagai suku dan bangsa, dan Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dengan apa yang dimiliki orang tersebut karena sesungguhnya yang paling mulia dihadapan Allah swt adalah orang yang paling bertakwa.

Adab – adab pergaulan dalam islam :
🌷Pertama, hendaknya setiap muslim menjaga pandangan matanya dari melihat lawan jenis secara berlebihan. Dengan kata lain hendaknya dihindarkan berpandangan mata secara bebas. Perhatikanlah firman Allah berikut ini,

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” (QS. 24:30)

Awal dorongan syahwat adalah dengan melihat. Maka jagalah mata ini agar terhindar dari tipu daya syaithan. Tentang hal ini Rasulullah bersabda,

“Wahai Ali, janganlah engkau iringkan satu pandangan (kepada wanita yang bukan mahram) dengan pandangan lain, karena pandangan yang pertama itu (halal) bagimu, tetapi tidak yang kedua!” (HR. Abu Daud).

🌷Kedua, hendaknya setiap muslim menjaga auratnya masing-masing dengan cara berbusana islami agar terhindar dari fitnah. Secara khusus bagi wanita Allah SWT berfirman,

Dan Katakanlah kepada perempuan-perempuan Yang beriman supaya menjaga pandangan mereka (daripada memandang Yang haram), dan memelihara kehormatan mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali Yang zahir dari padanya; dan hendaklah mereka menutup belahan leher bajunya Dengan tudung kepala mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka melainkan kepada suami mereka, atau bapa mereka atau bapa mertua mereka atau anak-anak mereka, atau anak-anak tiri mereka, atau saudara-saudara mereka, atau anak bagi saudara-saudara mereka Yang lelaki, atau anak bagi saudara-saudara mereka Yang perempuan, atau perempuan-perempuan Islam, atau hamba-hamba mereka, atau orang gaji dari orang-orang lelaki Yang telah tua dan tidak berkeinginan kepada perempuan, atau kanak-kanak Yang belum mengerti lagi tentang aurat perempuan; dan janganlah mereka menghentakkan kaki untuk diketahui orang akan apa Yang tersembunyi dari perhiasan mereka; dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Wahai orang-orang Yang beriman, supaya kamu berjaya. (An-Nuur : ayat 31).

Batasan aurat bersama bukan mahram (ajnabi)
1. Lelaki – antara pusat ke lutut
2. Wanita – seluruh badan kecuali muka dan tapak tangan

• Berpakaian sopan menurut syara’, yaitu tidak tipis sehingga menampakkan warna kulit, tidak ketat sehingga menampakkan bentuk badan dan kerudung  dipanjangkan  melebihi  dada. Tidak salah berpakaian asalkan menepati standar pakaian Islam.

• Maknai pemakaian busana untuk sholat Sebagaimana kita berpakaian sempurna semasa mengadap Allah, mengapa tidak kita praktikkan dalam kehidupan di luar? Sekiranya mampu, bermakna solat yang didirikan berkesan dan berupaya mencegah kita daripada melakukan perbuatan keji dan mungkar.

• Jangan memakai pakaian yang tidak menggambarkan identitas kita sebagai seorang Islam. Hadith Nabi SAW menyebutkan : “Barangsiapa yang memakai pakaian menjolok mata, maka Allah akan memberikan pakaian kehinaan di hari akhirat kelak..” ( Riwayat Ahmad, Abu Dawud, An-Nasai dan Ibnu Majah)

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman,
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu dan juga kepada istri-istri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, sehingga tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS. 33: 59)

🌷Ketiga, tidak berbuat sesuatu yang dapat mendekatkan diri pada perbuatan zina (QS. 17: 32) misalnya berkhalwat (berdua-duaan) dengan lawan jenis yang bukan mahram. Nabi bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah berkhalwat dengan seorang wanita (tanpa disertai mahramnya) karena sesungguhnya yang ketiganya adalah syaithan (HR. Ahmad).

🌷Keempat, menjauhi pembicaraan atau cara berbicara yang bisa ‘membangkitkan syahwat’. Arahan mengenai hal ini kita temukan dalam firman Allah,

“Hai para istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti perempuan lain jika kamu bertaqwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara hingga berkeinginan orang yang ada penyakit dalam hatinya. Dan ucapkanlah perkataan yang ma’ruf.” (QS. 33: 31).

Berkaitan dengan suara perempuan Ibnu Katsir menyatakan, “Perempuan dilarang berbicara dengan laki-laki asing (non mahram) dengan ucapan lembut sebagaimana dia berbicara dengan suaminya.” (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3)
Wahai isteri-isteri Nabi, kamu semua bukanlah seperti  perempuan Yang lain kalau kamu tetap bertaqwa. oleh karena itu janganlah kamu berkata-kata Dengan lembut manja (semasa bercakap Dengan lelaki asing) kerana Yang demikian boleh menimbulkan keinginan orang Yang ada penyakit Dalam hatinya (menaruh tujuan buruk kepada kamu), dan sebaliknya berkatalah Dengan kata-kata Yang baik (sesuai dan sopan). (Al-Ahzaab : 32).
Melembutkan suara berbeda dengan merendahkan suara. Lembut,mendayu-dayu diharamkan, manakala merendahkan suara adalah dituntut. Merendahkan suara bermakna kita berkata-kata dengan suara yang lembut, tidak keras, tidak meninggi diri, sopan dan sesuai didengar oleh orang lain. Ini amat bertepatan dan sesuai dengan nasihat Luqman AL-Hakim kepada anaknya yang berbunyi

:“Dan sederhanakanlah langkahmu semasa berjalan, juga rendahkanlah suaramu (semasa berkata-kata), ‘ Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai” (Surah Luqman : ayat 19). Penggunaan perkataan yang baik ini perlu dipraktekkan dalamkeseharian kita baik secara langsung tidak langsung , contohnya melalui SMS, Yahoo Messengger ataupun apa yang ditulis di dalam Facebook karenanya menggambarkan keperibadian penuturnya.

Berkaitan dengan ungkapan yang baik ini, di dalam Al-Quran ada beberapa bentuk ungkapan yang wajar kita praktikkan dalam komunikasi seharian yaitu:
1. Qaulan Sadida (An-Nisa’ :9) : Isi pesanan jujur dan benar, tidak ditambah atau dibuat-buat
2. Qaulan Ma’rufa (An-Nisa : 5) :Menyeru kepada kebaikan dan kebenaran
3. Qaulan Baligha (An-Nisa’ : 63) : Kata-kata yang membekas pada jiwa
4. Qaulan Maisura (Al-Isra’ : 28) : Ucapan yang layak dan baik untuk dibicarakan
5. Qaulan Karima (Al-Isra’: 23) : Perkataan-perkataan yang mulia.

sehingga menjadi tanggung jawab  kita untuk menjaga sikap perilaku supaya diri ini tidak menjadi sebab  timbulnya fitnah.
Wa Allahu a’lam

🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

💼Sebarkan! Raih Bahagia….

SIAPA SAJA YANG BOLEH MELIHAT KITA TANPA HIJAB?

🌿Ustadzah Menjawab
🌴Ustadzah Ida Faridah

🌿🍁🌺🍄🍀🌷🌻🌹

 Assalamu’alaikum ustadz/ah siapa saja sih bagian dr keluarga yg boleh melihat kita tanpa hijab? Apakah ipar & mertua termasuk yg boleh melihat kita tdk berhijab? Bagai mana dengan saudara laki2 seibu (lain bapak) haruskah kita berhijab ketika dirumah ada saudara seibu?
Syukron..
#Korma 04#

Jawaban
——————
Wa Alaikum salam wr wb,
Yg boleh melihat kita tanpa hijab adalah Mahram kita artinya yg tidak bisa menikahi kita.Untuk mertua klo kita menikah dengan anakya sudah berhubungan badan walau hanya semalam maka menjadi mahram.
Sementara ipar bukan mahram artinya tdk boleh melihat aurat kita
 Sementara saudara laki2 seibu dia masuk mahram karena saudara kandung walaupun beda ayah

Coba buka Qur’an surat an-nur ayat : 30-31
[(وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ)

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.
Wa Allahu a’lam

🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

💼Sebarkan! Raih Bahagia….

HUKUM ZIKIR SAAT ADZAN

👳USTADZ MENJAWAB
✏Ustadz Farid Nu’man Hasan

🌿🌺🍁🌸💐🌻🍄🌹🌷

Assalamu’alaikum wr wb.
Mau tanya ustadz
Bagaimana hukum dzikir pada saat adzan?
syukron atas jawabannya
i25

Jawaban:

Wa’alaikumussalam  warahmatullah .., bismillah wak hamdulillah ..

 Ketika dikumandangkan adzan, yang mesti kita lakukan adalah menjawabnya. Hal ini berdasarkan hadits berikut:

  Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إذا سمعتم النداء فقولوا مثل ما يقول الموذن
Jika kalian mendengarkan panggilan adzan maka jawablah oleh kalian seperti yang dikatakan muadzin. (HR. Al Jama’ah)

Perintah ini umum buat siapa pun, tapi ada kondisi dikecualikan boleh tidak menjawabnya. Siapa saja itu?

Imam An Nawawi menjelaskan:

قال اصحابنا ويستحب
متابعته لكل سامع من طاهر ومحدث وجنب وحائض وكبير وصغير لانه ذكر وكل هؤلاء من اهل الذكر ويستثنى من هذا المصلي ومن هو على الخلاء والجماع فإذا فرغ من الخلاء والجماع تابعه صرح به صاحب الحاوى وغيره فإذا سمعه وهو في قراءة أو ذكر أو درس علم أو نحو ذلك قطعه وتابع المؤذن ثم عاد الي ما كان عليه ان شاء وان كان في صلاة فرض أو نفل قال الشافعي والاصحاب لا يتابعه في الصلاة فإذا فرغ منها قاله وحكى الخراسانيون في استحباب متابعته في حال الصلاة قولا وهو شاذ ضعيف

Para sahabat kami (Syafi’iyyah) berkata bahwa disunahkan menjawabnya bagi semua yang mendengarkannya, baik yang sedang suci, berhadats, junub, haid, tua, anak-anak, karena itu adalah kalimat dzikir, dan semua orang ini termasuk yang dibilehkan berdzikir. Dikecualikan adalah ORANG YANG SHALAT, juga orang yang sedang di toilet dan jima’.

Jika sudah selesai dari toilet dan jima’, maka hendaknya dia menjawabnya. Pengarang Al Hawi dan selainnya menjelaskan  hal itu. Jika dia sedang membaca Al Quran, atau dzikir, atau belajar ilmu atau semisalnya, maka hentikan dulu dan jawablah muadzin, lalu dia kembali lagi jika dia mau. Jika dia dalam keadaan shalat, wajib atau sunah, Asy Syafi’i dan para sahabatnya mengatakan tidak usah menjawabnya dalam shalat, jika sudah selesai hendaknya menjawabnya. Orang-orang Khurasan menyunnahkan menjawabnya walau ketika shalat, ini adalah pendapat yang janggal lagi lemah. (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 3/118)

Maka, dzikir bukan penghalang untuk menjawab adzan. Demikian. Wallahu A’lam

📓📕📗📘📙📔📒

✏️ Farid Nu’man Hasan
📚 Percik Iman, Ilmu, dan Amal
📡 Sebarkan! Raih amal shalih
🌏 Join Channel Telegram : bit.ly/1Tu7OaC

✏ FN

🌿🌺🍁🌸💐🌻🍄🌷🌹

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih bahagia…

Meminjam Uang Di Bank

👳USTADZ MENJAWAB
✏Ustadz Farid Nu’man Hasan

🌿🌺🍁🌸💐🌻🍄🌹🌷

Pertanyaan dari Korma 3:

Assalamualaikum. … saya ingin bertanya.
Dahulu kami membangun usaha dengan meminjam uang dari bank. Saat ini setelah kami sering mempelajari Al Quran dan mengikuti kajian Islam, kami tidak akan mengulanginya lagi. Kami berjanji akan menyelesaikan hutang-hutang kami yang tersisa dan melakukan shalat taubat.
Tetapi saat ini orang tua meminta bantuan  untuk meminjam dana  guna perluasan usaha dibidang pendidikan kebank menggunakan nama kami,  meskipun perbulannya orang tua yang akan membayar cicilanya (karena usia orang tua tidak layak saat diverifikasi oleh bank).
Apakah kami ikut terlibat dosa riba dalam kondisi seperti ini? Sedang kami tidak memakan keuntungan riba tersebut dan bertujuan membantu orang tua. Apa yang sebaiknya kami lakukan agar tidak menyingung perasaan orang tua dan tidak menimbulkan konflik keluarga?


JAWABAN:

📌 Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam maksiat kepada Allah Ta’ala

📌 Allah Ta’ala juga melarang saling bantu dalam dosa dan kejahatan, laa ta’awanu ‘alal itsmi wal ‘udwan ..maka menggunakan nama kita utk itu sama saja menjadi fasilitatornya

📌 Dari Jabir Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم آكل الربا وموكله وكاتبه وشاهديه وقال هم سواء
  Rasulullah ﷺ melaknat pemakan riba, yang memberinya, pencatatnya, dan yang menjadi saksinya. Beliau berkata: semua sama. (HR. Muslim No. 1598)

Jadi, fasilitatornya juga kena, walau tidak memakannya.

📌 Solusinya adalah tetap hindari, jaga perasaannya, lalu berikan alternatif ke Bank Syariah, dengan akad yamg sesuai syariah juga.

Selamat berjuang .. !

Wallahu a’lam

✏ FN

🌿🌺🍁🌸💐🌻🍄🌷🌹

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih bahagia…

MEMINTA ATAU MENCALONKA JABATAN

🌏USTADZ MENJAWAB
✏Ustadz Abdullah Haidir 

🌿🌺🍁🌸💐🍄🌻🌹🌷

Pertanyaan dari Member I25:
Assalamu’alaikum
 Saya mau bertanya ke ustadz abdullah haidir. Mhn sampaikan ke beliau.
Mohon berikan penjelasan tentang hukum meminta jabatan atau mencalonkan diri untuk menjabat sebuah jabatan. Ini ramai diperbincangkan setelah ustadz yusuf mansur mencalonkan diri sebagai calon gub DKI. Syukron jazakallahu khoir
 

JAWABAN:

Hukum asalnya minta jabatan tidak dibenarkan dan bukan akhlak terpuji… banyak hadits2 yg berbicara ttg buruknya orang yang meminta jabatan. Namun permasalahannya tdk dipukul rata begitu saja kepada orang yang ingin mencalonkan diri atas jabatan tertentu spt mencalonkan dlm pilkada… 

Sebab larangan tsb berlaku kpd orang yg benar2 menjadikan kedudukan semata sebagai tujuannya dan hanya utk kepentingan diri dan dunianya saja, sementara di sisi lain ada orang lain yg lebih cocok dan lebih layak memegang jabatan tsb. 

Adapun jika seseorang mencalonkan diri, karena dipandang tdk ada orang lain yg cakap dlm masalh tsb, atau  ada kekhawatiran calon lain yg dikenal dpt membahayakan bagi kaum muslimin atau masyarakat secara umum, yg akan merebut kekuasaan tsb,  atau karena dia didorong oleh masyarkat atau kelompok atau partai  krn dikenal kecakapannya bukan semata keinginan pribadinya….  intinya kekuasaan baginya adalah sarana utk melakukan kebaikan…. maka insya Allah hal tsb tidak termasuk dalam larangan yng dimaksud dlm hadits2 yg ada. 

Karna sering dlm masalah ini kita berada dalam kondisi dilematis… kekuasaan jika dibiarkan akan direbut oleh org yg tidak baik, sementara ada larangan mengejar kekuasaannya….. maka para ulama mengajarkan untuk memilih yg paling ringan mudharatnya… Ini juga merujuk kepada kisah Nabi Yusuf alaihissalam yg menawarkan diri untuk menjadi bendahara kerjaaan Mesir karena merasa dirinya mampu menunaikan amanah tsb sebagaimana tercantum dalam surat Yusuf ayat 55.. Wallahu a’lam.


🌿🌺🍁🌸💐🍄🍄🌷🌹

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih bahagia…

HUKUM TRANSPLANTASI ORGAN TUBUH

👳Ustadz Menjawab
✏Ust. Farid Nu’man Hasan

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹
Assalamu’alaykum wr, wb.
Ustadz mau nanya. Apa hukumnya menyumbangkan organ tubuh untuk praktek kedokteran atau donasi transplantasi organ ketika sudah meninggal?
Karena alasan, daripada tubuh hanya akan digerogoti juga oleh hewan2 kecil didalam tanah. Niat agar matipun tetap berguna bagi sesama.
🅰0⃣8⃣
Ditunggu jawabannya. 😊🙏
_________________________

Jawabannya
🌴.Wa”alaikum salam  wr,wb
Otopsi Mayat Untuk Praktek Mahasiswa Kedokteran

Seorang muslim dan muslimah adalah terhormat dan terjaga baik darah dan hartanya. Tidak boleh menodai kehormatan mereka, kecuali ada hak Islam yang mereka langgar.

Dasarnya adalah:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: (أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ وَيُقِيْمُوْا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءهَمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ تَعَالَى) رواه البخاري ومسلم

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi (bersyahadat), bahwa tidak ada Ilah kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan jika mereka telah melakukan ini maka mereka terjaga dariku darah dan harta mereka, kecuali dengan hak Islam, dan atas Allah-lah perhitungan mereka.” (HR. Bukhari, No. 25, dari Ibnu Umar , Muslim No. 35, dari Jabir bin Abdullah, juga No. 36 dari Ibnu Umar)

Jadi, setiap muslim telah terjaga (ma’shum) darah dan hartanya, mereka tidak boleh disakiti sedikit pun oleh siapapun. Tidak boleh dirusak kehidupannya, termasuk tubuhnya, kecuali karena hak Islam. Apa maksud hak Islam di sini? Seorang yang enggan mengeluarkan zakat padahal sudah mampu dan nishab, maka waliyul amri (pemimpin) berhak mengambil hartanya; seseorang yang berzina maka dia dihukum rajam, seseorang yang mencuri dengan jumlah yang mencapai nishab, maka dipotong tangannya, dan semisalnya. Itulah pertumpahan darah dan pengambilan harta karena mereka melanggar hak Islam. Larangan merusak dan menodai seorang muslim ini, adalah ketika mereka masih hidup. Bagaimana ketika sudah wafat?

Secara khusus, Islam melarang merusak seorang muslim yang sudah wafat, sebagaimana hadits:

Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

كَسْرُ عَظْمِ الْمَيِّتِ كَكَسْرِهِ حَيًّا

Mematahkan tulang seorang mayit, sama halnya dengan mematahkannya ketika dia masih hidup. (HR. Abu Daud No. 3207, Ibnu Majah No. 1616, Ahmad No. 24783, Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: “Para perawinya terpercaya dan merupakan perawi hadits shahih, kecuali Abdurrahman bin Ubay, yang merupakan perawi kitab-kitab sunan, dan dia shaduq (jujur).” Lihat Tahqiq Musnad Ahmad No. 24783. Syaikh Al Albani juga menshahihkannya. Lihat Shahihul Jami’ No. 2132)

Maka menyakitinya ketika sudah wafat adalah sama dengan menyakitinya ketika masih hidup, yaitu sama dalam dosanya. (Imam Abu Thayyib Abadi, ‘Aunul Ma’bud, 9/18) karena mayit juga merasakan sakit. (Ibid)

Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu berkata:

أذى المؤمن في موته كأذاه في حياته

Menyakiti seorang mukmin ketika matinya, sama dengan menyakitinya ketika dia masih hidup. (Lihat Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah No. 12115)

Dengan demikian, pada dasarnya adalah hal yang terlarang menyakiti dan melukai mayit muslim menurut keterangan-keterangan di atas, termasuk membedah mayit.

Bagaimana Jika Darurat? Dan Daruratnya seperti apa?

Keadaan darurat (sangat mendesak) memang membuat perkara yang pada dasarnya haram menjadi dibolehkan. Hal ini sesuai dengan kaidah:

الضَّرُورِيَّاتُ تُبِيحُ الْمَحْظُورَاتِ

Keadaan darurat membuat boleh hal-hal yang terlarang. (Imam As Suyuthi, Al Asybah wan Nazhair, Hal. 84. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Kaidah ini berasal dari ayat:

فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“ Barangsiapa yang dalam Keadaan terpaksa, sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al An’am (6): 145)

Atau ayat lainnya:

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ

Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. (QS. Al An’am (6): 119)

Namun, yang menjadi masalah adalah keadaan bagaimanakah yang sudah masuk zona darurat itu?

Para ulama kita telah menyebutkan bahwa keadaan darurat itu terjadi jika sudah mengancam eksistensi dari salah satu atau lebih dari lima hal; yaitu agama, nyawa, akal, harta, dan keturunan. Ini diistilahkan dengan Dharuriyatul Khamsah. Sementara Imam Al Qarrafi menambahkan menjadi enam dengan “kehormatan”.

Jika belum mengancam, dan masih bisa diupayakan dengan cara lain atau alternatif yang dapat menggantikannya, maka tidak bisa dikatakan darurat. Sehingga keharamannya tidak berubah.

Otopsi Untuk Kepentingan Praktek Kedokteran dan Ilmu Pengetahuan

Nah, apakah praktikum kedokteran masuk ke wilayah darurat? Yakni memang tidak ada alternatif lain selain menggunakan mayit manusia. Bisa jadi memang ada hewan yang anatominya sama dengan manusia, tapi apakah pada bagian detailnya memang sama semuanya? Bukankah Allah Ta’ala menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya bentuk, yang berarti memang tidak ada yang menyamainya kecuali manusia juga?

Maka, masalah ini para ulama kita berbeda pendapat. Ada yang membolehkan secara mutlak, mengharamkan secara mutlak, dan ada pula yang merinci dan melihatnya secara per kasus.

Kelompok pertama, yang membolehkan secara mutlak, di antaranya adalah yang dikeluarkan oleh Majma’ Fiqih Al Islami di Mekkah pada Daurah mereka yang ke 10. Disebutkan dalam Fiqhun Nawazil fil ‘Ibadat:

إذا تعارضت مصلحتان تقدم أعلى المصلحتين فعندنا مصلحة الميت أنه لا يشرح وعندنا المصلحة العامة وهي أنه يشرح كي يستفيد الناس ويتعلم هؤلاء الطلاب الذين سيتمكنون من مداواة الناس ..إلخ فقالوا المصلحة العامة مقدمة على المصلحة الخاصة. كذلك أيضاً إذا تعارضت مفسدتان فإنه ترتكب أدنى المفسدتين ، فتشريحه مفسدة والجهل بأحكام علم الطب مفسدة عامة فترتكب أدنى المفسدتين

Jika bertemu dua maslahat maka mesti diutamakan maslahat yang lebih tinggi, maka menurut kami maslahat bagi mayit dengan tidak dibedah, adapun bagi kami maslahat orang banyak adalah dengan cara membedah agar manusia mendapatkan faidah dan para mahasiswa bisa mempelajari bagaimana pengobatan bagi manusia … dan seterusnya. Mereka mengatakan: maslahat umum lebih diutamakan dibanding maslahat yang khusus. Demikian juga, jika bertemu dua mafsadat (kerusakan/mudharat) maka yang dijalankan adalah kerusakan yang lebih ringan. Membedah mayit adalah kerusakan, namun bodoh terhadap aturan ilmu kedokteran itu merupakan kerusakan yang umum, maka yang dijalankan adalah yang kerusakannya lebih ringan. (Dr. Khalid bin Ali Al Musyaiqih, Fiqhun Nawazil, Hal. 62)

Dalam Majalah Majma’ Fiqh Al Islami juga disebutkan:

نعم إن الدين الإسلامي كرم الإنسان حياً وميتاً ، فحرم العبث بجثث الموتى والتمثيل بها ، إلا أن الشريعة أجازت تشريح جثث الموتى عندما يكون تشريح الجثة وسيلة ضرورية للتعليم وإتقان مهنة الطب لتأهيل أطباء أكفاء يفيدون المجتمع الإسلامي

Benar, Islam adalah agama yang memuliakan manusia baik ketika hidup dan mati maka Islam mengharamkan mempermainkan mayit, memotong, dan mencincangnya, hanya saja syariat membolehkan membedah mayit ketika hal itu merupakan sarana yang mendesak untuk mempelajari dan mengetahui secara detail dan mudah ilmu kedokteran, dan memperbaiki kemajuan kemampuan para dokter dan bisa memberikan manfaat bagi masyarakat Islam. (Majalah Majma’ Fiqh Al Islami, 4/60)

Ada pun Kelompok kedua, yang mengharamkan secara mutlak. Berikut uraiannya:

واستدلوا على ذلك بأدلة :

قول الله ( {وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً } .حديث عائشة رضي الله تعالى عنها أن النبي ( قال : ” كسر عظم الميت ككسره حياً ” أن العلماء مجمعون على أن الخصاء – يعني قطع خصتي أهل الحرب والأرقاء – محرم .أن الشارع نهى عن المثلة والنُّهبة كما في حديث قتادة ( أن النبي ( نهى عن النهبة والمثلة” .حديث أبي مرثد أن النبي ( قال: ” لا تجلسوا على القبور ولا تصلوا إليها ” فإذا كان الجلوس محرم فبتشريح الجثة من باب أولى

Mereka beralasan dengan dalil-dalil berikut:

– Firman Allah Ta’ala: (dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan).

– Hadits ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha bahwa Nabi bersabda: (mematahkan tulang mayit adalah seperti mematahkannya ketika masih hidup)

– Ulama telah sepakat bahwa pengebirian – yakni memotong testis ahlul harbi dan budak- adalah haram, maka pembuat syariat melarang mencincang dan merampas mayit, sebagaimana dalam hadits Qatadah: (bahwa Nabi melarang merampas dan mencincang mayit)

– Hadits Abu Martsad dari Nabi, bersabda; (janganlah kalian duduk di atas kuburan dan jangan shalat menghadap kepadanya), maka jika duduk di atas kubur saja diharamkan apalagi membedahnya, itu lebih utama untuk diharamkan. (Fiqhun Nawazil, Hal. 63)

Kelompok ketiga, tidak mengharamkan secara mutlak, dan tidak pula membolehkan secara mutlak, tetapi mereka merincinya. Berikut keterangannya:

أنه يجوز تشريح جثة الكافر لغرض التعلم وأما المسلم فلا يجوز تشريح جثته , وهذا القول هو الذي صدرت به قرار هيئة كبار العلماء في المملكة العربية السعودية رقم (47)

Bahwasanya boleh saja membedah mayit orang kafir untuk maksud pengajaran. Ada pun mayit muslim maka tidak boleh membedahnya. Ini adalah pendapat yang diputuskan oleh Hai’ah Kibar Al ‘Ulama di Kerajaan Saudi Arabia, fatwa No. 47. (Ibid)

Alasan kelompok ini adalah:

أن الله (قال في حق الكافر : { وَمَن يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِن مُّكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ} ، فكرامة الكافر ليست ككرامة المسلم فهي أخف وحرمته ليست كحرمة المسلم ،فالكافر أهان نفسه بالكفر وعدم الإيمان فليس له مكرم , فقالوا بأن هذا يسوغ تشريح جثة الكافر دون المسلم .

Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman tentang hal yang menjadi hak kaum kafir: (Barangsiapa yang dihinakan Allah Maka tidak seorangpun yang memuliakannya ) maka kemuliaan orang kafir tidaklah seperti halnya kemuliaan orang muslim, dia lebih ringan, dan kehormatannya tidak seperti kehormatan seorang muslim. Jadi, orang kafir telah menghinakan dirinya dengan kekafirannya dan tanpa keimanannya, maka dia tidak memiliki kemuliaan. Maka, mereka mengatakan atas dasar inilah bolehnya membedah mayit kafir, dan tidak bagi mayit muslim. (Fiqhun Nawazil,Hal. 63)

Lengkapnya Fatwa Hai’ah Kibar Al ‘Ulama sebagai berikut:

وظهر أن الموضوع ينقسم إلى ثلاثة أقسام

الأول التشريح لغرض التحقق من دعوى جنائية.

الثاني التشريح لغرض التحقق عن أمراض وبائية لتتخذ على ضوئه الاحتياطات الكفيلة بالوقاية منها.

الثالث التشريح للغرض العلمي تعلماً وتعليماً.

وبعد تداول الرأي والمناقشة ودراسة البحث المقدم من اللجنة المشار إليه أعلاه قرر المجلس مايلي

بالنسبة للقسمين الأول والثاني فإن المجلس يرى أن في إجازتها تحقيقاً لمصالح كثيرة في مجالات الأمن والعدل ووقاية المجتمع من الأمراض الوبائية، ومفسدة انتهاك كرامة الجثة المشرحة مغمورة في جنب المصالح الكثيرة والعامة المتحققة بذلك، وإن المجلس لهذا يقرر بالإجماع إجازة التشريح لهذين الغرضين سواء كانت الجثة المشرحة جثة معصوم أم لا.

وأما بالنسبة للقسم الثالث وهو التشريح للعرض التعليمي فنظراً إلى أن الشريعة الإسلامية قد جاءت بتحصيل المصالح وتكثيرها، وبدرء المفاسد وتقليلها، وبارتكاب أدنى الضررين لتفويت أشدهما، وأنه إذا تعارضت المصالح أخذ بأرجحها، وحيث إن تشريح غير الإنسان من الحيوانات لا يغني عن تشريح الإنسان، وحيث إن في التشريح مصالح كثيرة ظهرت في التقدم العلمي في مجالات الطب المختلفة. فإن المجلس يرى جواز تشريح جثة الآدمي في الجملة، إلا أنه نظراً إلى عناية الشريعة الإسلامية بكرامة المسلم ميتاً كعنايتها بكرامته حياً وذلك لما روى أحمد وأبو داود ابن ماجه عن عائشة ــ رضي الله عنها ــ أن النبي، صلى الله عليه وسلم، قال ((كَسْرُ عَظْمِ الَمَّيتِ كَكَسْرِهِ حَيََّا)). ونظراً إلى أن التشريح فيه امتهان لكرامته، وحيث إن الضرورة إلى ذلك منتفية بتيسر الحصول على جثث أموات غير معصومة، فإن المجلس يرى الاكتفاء بتشريح مثل هذه الجثث وعدم التعرض لجثث أموات معصومين والحال ما ذكر. والله الموفق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم. . .

هيئة كبار العلماء

Nampaknya masalah ini mengandung tiga bagian, yaitu :
– Otopsi mayat untuk mengetahui sebab kematian saat terjadi tindakan kriminalitas
– Otopsi mayat untuk mengetahui adanya wabah penyakit agar bisa diambil tindakan preventif secara dini
– Otopsi mayat untuk belajar ilmu kedokteran

Setelah didiskusikan dan saling mengutarakan pendapat, maka majelis memutuskan sebagai berikut :

Untuk masalah pertama dan kedua, majelis berpendapat tentang diperbolehkannya hal itu demi mewujudkan banyak kemaslahatan dalam bidang keamanan, keadilan dan tindakan pencegahan dari wabah penyakit. Adapun mafsadat yang ada yaitu merusak kehormatan mayit yang di otopsi bisa tertutupi jika dibandingkan dengan kemaslahatannya yang sangat banyak. Maka majelis sepakat menetapkan diperbolehkan melakukan otopsi mayit untuk dua tujuan ini, baik mayit itu ma’shum (mayit muslim) ataukah tidak.

Adapun yang ketiga yaitu yang terkait dengan tujuan pendidikan kedokteran, maka memandang bahwa syariat Islam datang dengan membawa, serta memperbanyak kemaslahatan dan mencegah serta memperkecil kerusakan dengan cara melakukan kerusakan yang paling ringan serta maslahat yang paling besar, juga karena tidak bisa diganti dengan membedah binatang juga karena pembedahan ini banyak mengandung maslahat seiring dengan perkembangan ilmu medis, maka majelis berpendapat bahwa secara umum diperbolehkan untuk membedah mayat muslim. Hanya saja karena Islam menghormati seorang muslim baik hidup maupun mati sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu majah dari Aisyah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Mematahkan tulang mayit sebagaimana mematahkannya tatkala masih hidup.”

Juga melihat bahwa bedah itu menghinakan kehormatan jenazah muslim, padahal itu semua bisa dilakukan terhadap jasad orang yang tidak memiliki ‘ishmah (tidak memiliki keterjagaan dari darah dan hartanya yakni mayit non muslim, pen), maka majelis berpendapat bahwa bedah tersebut cuma bisa dilakukan terhadap mayit yang tidak ma’shum (mayit non muslim) bukan terhadap mayit yang ma’shum (muslim). Wallahul Muwaffiq wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa ashhabihi wa sallam … Hai’ah Kibar Al Ulama. (Lihat Fatawa Islamiyah, 2/110)

Dan, pendapat kelompok ketiga ini nampaknya lebih mendekati kebenaran. Wallahu A’lam.

Kami menambahkan, bahwa bisa juga dirinci sebagai berikut:

– Jika seorang atau sekelompok ilmuwan dan mahasiswa membutuhkan dengan sangat mendesak mayit manusia yang terkena penyakit aneh, mereka mencari dan meneliti tentang wabah penyakit, virus, dan semisalnya, yang ada padanya. Penelitian ini bermaslahat secara pasti buat kehidupan manusia secara umum, agar bisa mengetahui dan menghindar penyakit misterius sepertinya. Ini pun juga penelitian baru yang belum ada sebelumnya, maka tidak apa-apa melakukan pembedahan terhadap mayit manusia tersebut, baik mayit muslim atau bukan. Sebab Al Mashlahah Al ‘Ammah muqaddamatun ‘alal Mafsadah Al Khaashah (maslahat umum lebih diutamakan dibanding kerusakan yang khusus dan terbatas). Ini pun harus mendapatkan izin dari wali si mayit.

– Jika seorang mahasiswa kedokteran praktikum, dan dia memerlukan mayit untuk itu, dan ini pun diperintahkan oleh para dosennya. Maka sebaiknya dia menggunakan mayit yang sebelumnya sudah dijadikan bahan penelitian (misal mayat itu sudah dijadikan bahan penelitian oleh kasus yang saya sebut di atas), atau dengan menggunakan hewan yang memiliki anatomi yang hampir sama dengan manusia. Hal ini disebabkan tidak ada yang baru dalam penelitian ini, dan hanya demi kepentingan pribadi yakni nilai kuliah saja. Kaidahnya adalah Adh Dharar Laa Tuzaal bidh Dharar (kerusakan tidak boleh dihilangkan dengan cara yang rusak juga). Tidak mendapatkan nilai adalah mudharat bagi si mahasiswa, dan membedah mayit adalah mudharat bagi mayit tersebut, maka tidak boleh menghilangkan mudharat si mahasiswa dengan menggunakan dan menghasilkan mudharat baru bagi orang lain (si mayit). Kalau pun masih terpaksa menggunakan mayit manusia, maka menggunakan mayit non muslim adalah lebih selamat, sebab mereka tidak ada ‘ishmah, baik dalam keadaan hidup dan matinya. Wallahu A’lam

Syarat Pembedahan (Otopsi)
————————–
Ada beberapa syarat yang mesti dipenuhi:

1. Keadaan darurat di sini mesti sesuai kebutuhan dan kadarnya. Jika yang ingin diteliti adalah tubuh bagian tangan, maka bedahnya hanya bagian tangan. Tidak benar membedah mata dan lainnya apalagi dengan tujuan coba-coba.

2. Jika mayitnya laki-laki maka pihak yang membedah adalah laki-laki, juga sebaliknya jika mayit perempuan. Sebab aurat orang mati sama dengan aurat orang hidup, ini menurut mayoritas ulama.

3. Potongan-potongan tubuh yang dibedah atau diteliti hendaknya dikubur setelah digunakan, sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan terhadap manusia.

Demikian sikap Islam terhadap bedah mayit untuk kepentingan medis dan ilmu pengetahuan.
 Wallahu A’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

APAKAH DOA BISA MERUBAH TAKDIR?

👳Ustadz Menjawab
📚Ustadz DR. Syaiful Bahri

🌿🌺🍁🌻🍀🍄🌸🌷🌹

Pertanyaan ttg Materi ” Sunnah Perubahan “
Assalamu’alaikum ustadz…
🌴Di tema diatas  tertulis:
Berubah dari keadaannya dengan kemampuan kemanusiaannya menggapai ruang otoritas Allah yang bernama takdir. Bukan untuk membantahnya atau bahkan untuk mengubahnya. ..dst

pertanyaannya :
Bagaimana dg doa ? Bukankah doa bisa merubah takdir ?

🌴Disitu juga dikatakan “keberpihakan Allah..”
sy agak bingung.
Bukankah Allah itu Maha Adil ?

Jawaban
————————

🌴 Doa memang bisa mengubah takdir. Tapi semuanya tetap berujung pada ketentuan Allah. Beriman pada takdir selalu dengan kedua perspektif manusia yaitu takdir baik dan buruk. Padahal bagi Allah semua berujung kebaikan. Baik dan buruk itu perspektif manusia saja.
Manusia yg beriman seharusnya tak menyerah untuk melakukan perubahan kearah kebaikan dan di saat yg sama ia berdoa. Berdoa adalah usaha agar kengininan kita diselaraskan dg keinginan Allah Sang Penentu. Kalau pun tidak atau belum, doa adalah kekuatan untuk mengubah perspektif negatif kita.

🌴Keberpihakan Allah yg saya maksud adalah ketika keinginan kita dikabulkan Allah.
Manusia apa empat kondisi
– yang ia inginkan terjadi = sama dengan keinginan Allah ➕➕✅😀
– yang ia tidak ia inginkan tidak terjadi ➖➖✅😀
– yang ia inginkan tidak terjadi ➕➖❎☹
– yang tidak ia inginkan terjadi ➖➕❎☹😔
Sebagai orang beriman kita harus menyiapkan diri menerima keempat kondisi di atas. Doa adalah salah satu sarana menyiapkan diri menerima takdir Allah apapun keputusannya.
Wallahu a’lam

🌿🌺🍁🍄🌸🌻🌷🌹

Dipersembahkam oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih Bahagia…

MEMBERI UANG KEPADA PENGAMEN

🌏Ustadzah Menjawab
✏Ustadzah Dra.Indra Asih

🌿🌺🍁🌸💐🌻🌷🍄🌹

#Member A13#

Assalamu’alaikum mau nanya ustadz/ah….
Kalau pengamen nih ngamen trus pandangan dalam Islam nya bagaimana ya kalau kita ngasih duit ke dia nya? Entah itu pengamen dari kalangan anak-anak atau mas-mas/mbak-mbak.
Jazakillah

—————-

JAWABAN:

Sedapat mungkin tidak usah diberi, gunakan cara halus dan aman sehingga dia tidak tersinggung saat kita tolak.

Tapi jika ingin bersedekah padanya, jangan biarkan ia bernyanyi. Sebelum ia menyanyi, atau saat ia baru saja memulai menyanyi, segera saja datangi, serahkan uang sedekah itu.

🌿🌺🍁🌸💐🌻🌷🍄🌹

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih bahagia…

BOLEHKAH MENSTERIL BINATANG PELIHARASN?

🌏USTADZAH MENJAWAB
✏Ustadzah Dra.Indra Asih

🌿🌺🍁🌸🍄🌻🍄🌷🌹

Pertanyaan dari korma 3:

 Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Saya ingin menanyakan bagaimana hukum mensteril binatang seperti kucing. Karena jika tidak disteril jumlahnya semakin banyak dan tidak terurus …
Terima kasih

Jawaban:

Jika populasi kucing terlalu banyak dan mengganggu, sementara sterilisasi tidak sampai menyakitinya, tidak masalah sterilisasi kucing.

Kalangan Hanafi menyatakan bahwa sterilisasi atau pengebirian pada binatang boleh. Sebab, ia memberikan manfaat baik bagi manusia maupun bagi binatangnya sendiri.

Kalangan Maliki juga membolehkan karena berpengaruh pada kualitas dagingnya yang menjadi baik.

Kalangan Syafii membedakan antara binatang yang boleh dimakan dan tidak. Untuk binatang yang dimakan maka hukumnya boleh selama tidak mendatangkan kebinasaan. Sementara untuk binatang yang tidak dimakan, maka dilarang.

Ahmad ibn Hambal pernah berujar, “Aku tidak suka jika dikebiri. hal itu lantaran ada larangan menyakiti binatang.”

Dapat disimpulkan bahwa dibolehkan sterislisasi pada binatang, jika:

– Mendatangkan manfaat baik bagi manusia maupun binatang itu sendiri.

– Menghilangkan bahaya dan gangguan yang ada.

– Dilakukan dengan cara yang tidak menyakiti.

– Tidak merusak populasinya.

🌿🌺🍁🌸🍄🌻🌼🌷🌹

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih bahagia…

SUAMI MENCARI KESALAHAN ISTRI

🌏 USTADZAH MENJAWAB
✏ Ustadzah Dra.Indra Asih
🌿🌺🍁🌸💐🌻🍄🌷🌹
Pertanyaan dari Korma 3:
Assalamu’alaikum.. mau tanya dalam surat annisa, 34 diatas bahwa seorang suami tidak boleh mencari-cari kesalahan seorang istri yang sudah berusaha tuk menjadi istri solehah, apa hukuman dari Allah bagi suami yang selalu mencari kesalahan istrinya walau si istri sudah menjelaskan bahwa itu hanya prasangka saja dari suami dan terus berusaha menyakiti hati sang istri, kemudian langkah apa yang harus dilakukan oleh istri menghadapi sikap suami yang seperti itu? Jazakillah khoir ustd/ah
JAWABAN:
Dalam suatu hadits riwayat al Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasalam melarang laki-laki yang bepergian dalam waktu yang lama, pulang menemui keluarganya di waktu malam. Hal itu karena dikhawatirkan laki-laki tersebut akan mendapati berbagai kekurangan dan cela istrinya. Dan barangsiapa mencari-cari aib saudara sesama muslim, Allah akan mencari-cari aibnya. Barangsiapa dicari aibnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya walaupun dia berada di ruang tersembunyi dalam rumahnya.
Dan ingatlah sabda Rasulullah shalallahu’alaihi wasalam,
لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
“Janganlah seorang suami yang beriman membenci istrinya yang beriman. Jika dia tidak menyukai satu akhlak darinya, dia pasti meridhai akhlak lain darinya.” (HR Muslim)
“dan orang orang yang menuduh istri mereka berzina,padahal mereka tidak mempunyai saksi saksi selain diri mereka sendiri,maka kesaksian satu orang dari mereka adalah bersumpah empat kalli dengan nama Allah bahwa sesungguhnya dia adalah termasuk orang orang yang benar (dalam tuduhannya)  dan kelima kalinya (ia mengucapkan) bahwa laknat Allah akan menimpa dirinya jika ternyata ia tergolong orang orang yang berdusta.” (QS.An-Nuur, 24:6-7)
Ayat tersebut memberi ketentuan untuk melindungi istri dari tuduhan suami. Karena tuduhan itu dapat merusak kehormatan dan harga diri istri. Oleh karena itu,perlu dilakukan pengaturan ketat agar suami tidak sembarangan menuduh istrinya berzina tanpa bukti yang dipertanggung jawabkan menurut syariat Islam.
Dari mu’awiyah Al-Qusrayiri,ia berkata:”saya pernah datang kepada Rosulullah saw.’ Ia berkata lagi:’saya lalu bertanya:’Ya Rosulullah,apa saja yang engkau perintahkan (untuk kami perbuat) terhadap istri-istri kami? ’Beliau bersabda:’…janganlah kalian memukul dan janganlah kalian menjelek-jelekan mereka.’” (HR Abu Dawud)
Nabi saw melarang para suami menjelek jelekan atau merendahkan martabat istri. Suami dilarang menggunakan kata yang bernada merendahkandan menghina martabat istri baik di hadapannya maupun dihadapan orang lain. Walaupun istri berasal dari keluarga yang lebih rendah status ekonominya dibanding dirinya.
Hendaknya seorang suami bersabar dan menahan diri dari kekurangan yang ada pada istrinya, juga ketika istri tidak melaksanakan kewajibannya dangan benar. RasulullahShalallahu’alaihi wasalam bersabda,
اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ
“Bersikap baiklah kepada para istri. Karena mereka tercipta dari tulang rusuk. Dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atas. Jika kamu hendak meluruskannya niscaya kamu akan mematahkannya. Dan jika kamu biarkan maka dia akan tetap bengkok. Maka bersikap baiklah kepada para istri.” (Muttafaqun’alaih)
Hadits ini memiliki pelajaran yang sangat agung, diantaranya; meluruskan bengkoknya istri harus dengan lembut sehingga tidak mematahkannya, namun juga tidak dibiarkan saya karena jika dibiarkan dia tetap bengkok. Apalagi jika bengkoknya itu bisa menjalar menjadi kemaksiatan atau kemungkaran.
Usahakan berkomunikasi dengan lembut dan penuh kesabaran pada suami.
Biasanya, masalah banyak muncul karena masalah komunikasi.
🌿🌺🍁🌸🌻🌷🍄🌹💐
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
💼Sebarkan! Raih bahagia…