Teknis Pembayaran Infaq, Shodaqoh & Zakat

Assalamu ‘alaikum wr wb ustadz/ah…
Bagaimana seharusnya menurut syari’at tentang pembayaran infaq, sedekah dan zakat apakah setelah pemotongan kebutuhan tiap bulan atau disisihkan dl untuk infaq, sedekah dan zakat?
Member MANIS A23

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

📌 Sedekah dan Infaq ada sedikit perbedaan.
📌Sedekah itu ibadah harta dan non harta 
📌 Utk yg harta, seperti ayat:
“khudz min amwaalihim shadaqatan – ambillah dr harta mereka sedekahnya (zakat) ..”

📌Dalam hadits Abu Daud, Ahmad, dll, dari Sa’ad bin ‘Ubadah, Beliau bertanya:
“ayyu shadaqah afdhal? – sedekah apa yang paling baik?, nabi menjawab: saqiyul maa’ – memberikan air.”

📌 untuk yg non harta, sebagaimana dalam beberapa hadits, misal dlm Shahih Muslim:
“Inna fi budh’i ahadikum shadaqah – dikemaluan kalian ada sedekah.”
Atau dalam Shahih Bukhari:
“kalimatuth thayyibah shadaqah – perkataan yang baik adalah sedekah.”

📌 Sedangkan infaq adalah ibadah harta saja. Seperti ayat:
“wa mimma razaqnaahum yunfiquun – dan orang2 yang menginfakan apa yang Kami rezekikan …”

📌atau hadits doa malaikat:
“Allahumma a’thi munfiqan khalafa – Ya Allah, berikanlah ganti bagi org yg berinfaq.”  (HR. Bukhari)

📌 Persamaannya adalah pada keduanya ada yang WAJIB dan SUNNAH.

📌 Yang Wajib seperti zakat dan belanja dari suami kepada istri, juga sedekah yg  dinadzarkan, kaffarat, dan semisalnya.

📌 yang Sunnah, seperti sedekah dan infaq kpd org yang sdg kesulitan, sumbangn membangun masjid, dll.

📌 mana yang di dahulukan? Maka yg wajib didahulukan dibanding yang sunnah

📌 Jika sama2 wajib, seperti zakat dan nafkah kpd keluarga, maka zakat didahulukan, sebab sedekah yang membawa manfaat pribadi dan org banyak secara bersamaan didahulukan dibanding sedekah yg bermanfaat utk diri sndiri. TAPI ini terjadi jika sudah NISHAB dan HAUL,  jika belum maka kebutuhan keluarga didahulukan.

Wallahu a’lam.

Cara Mandi Wajib & Wudhu Bagi Si Sakit

Assalamualaikum wr,wb   ustadzah. saya mau bertanya berkenaan dengan cara mandi wajib orang yang tidak bisa bangun dari tempat tidur (dikarenakan habis operasi). saat operasi dia sedang haid. apakah harus menunggu sembuh dulu baru bisa mandi? mohon bantuannya. terimakasih 🅰1⃣ 0⃣.       

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Allah SWT berfirman :
“Dia  sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu suatu kesempitan dalam agama.” (QS. Al Hajj [22]: 78)

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.” (QS. Al Baqarah [2]: 185)

“Maka bertakwalah kalian kepada Allah sesuai kesanggupan kalian dan dengarlah serta ta’atlah.” (QS. At Taghobun [64]: 16)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya agama ini mudah.” (HR. Bukhari)

“Jika kalian diperintahkan dengan suatu perintah, laksanakanlah semampu kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bersuci (thoharoh) bagi orang yang sakit

1. jika tidak mampu bersuci dengan air karena tidak mampu atau karena khawatir sakitnya bertambah parah, atau khawatir sakitnya bisa bertambah lama sembuhnya, maka dia diharuskan untuk tayamum. (Menepuk kedua telapak tangan ke tanah yang suci dengan satu kali tepukan, lalu mengusap seluruh wajah dengan kedua telapak tangan tadi, setelah itu mengusap kedua telapak tangan satu sama lain.)

2. jika orang yang sakit tersebut tidak mampu bersuci sendiri,  maka orang lain boleh membantunya untuk berwudhu atau tayamum.

3. jika pada sebagian anggota tubuh yang harus disucikan terdapat luka, maka luka tersebut tetap dibasuh dengan air.  Apabila dibasuh dengan air akan membuat luka bertambah parah, cukup bagian yang terluka tersebut diusap dengan satu kali usapan. Caranya adalah tangan dibasahi dengan air, lalu luka tadi diusap dengan tangan yang basah tadi. Jika diusap juga berdampak sesuatu, pada saat ini diperbolehkan untuk bertayamum.

4. jika sebagian anggota tubuh yang harus dibasuh dibalut dengan kain (perban) atau gips, maka cukup anggota tubuh tadi diusap dengan air sebagai ganti dari membasuh. Pada kondisi luka yang diperban seperti ini tidak perlu beralih ke tayamum karena mengusap adalah pengganti dari membasuh. 

5. jika kita telah bertayamum dan si sakit masih dalam keadaan suci hingga masuk waktu shalat berikutnya, maka dia cukup mengerjakan shalat dengan menggunakan tayamum yang pertama tadi, tanpa perlu mengulang tayamum lagi karena ini masih dalam keadaan thoharoh (suci) selama belum melakukan pembatal.

6. wajib bagi orang yang sakit untuk membersihkan badannya dari setiap najis. Jika dia tidak mampu untuk menghilangkannya dan dia shalat dalam keadaan seperti ini, shalatnya tetap sah dan tidak perlu diulangi.

7. wajib bagi orang yang sakit mengerjakan shalat dengan pakaian yang suci. Jika pakaian tersebut terkena najis, maka wajib dicuci atau diganti dengan pakaian yang suci. Jika dia tidak mampu untuk melakukan hal ini dan shalat dalam keadaan seperti ini, shalatnya tetap sah dan tidak perlu diulangi.

8. wajib bagi orang yang sakit mengerjakan shalat pada tempat yang suci. Apabila tempat shalatnya (seperti alas tidur atau bantal) terkena najis, wajib najis tersebut dicuci atau diganti dengan yang suci, atau mungkin diberi alas lain yang suci. Jika tidak mampu untuk melakukan hal ini dan tetap shalat dalam keadaan seperti ini, shalatnya tetap sah dan tidak perlu diulangi.

9. tidak boleh bagi orang yang sakit mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya dengan alasan karena tidak mampu untuk bersuci. Bahkan orang yang sakit ini tetap wajib bersuci sesuai dengan kadar kemampuannya, sehingga dia dapat shalat tepat waktu; walaupun badan, pakaian, atau tempat shalatnya dalam keadaan najis dan tidak mampu dibersihkan (disucikan).   

Wallahu a’lam.

Bolehkah Menjalankan Wasiat Untuk Membagi Warisan Tidak Menggunakan Hukum Islam

Assalaamu ‘alaikum wr wb ustadz/ ah..
Menurut hukum Islam, bagian harta warisan untuk 2 orang anak perempuan kan sama dengan bagian 1 orang anak laki-laki. Atau, bagian 1 orang anak laki-laki sama dengan 2 kali bagian 1 orang anak perempuan.
Bapak saya baru-baru ini wafat. Ternyata ketika masih hidup, bapak meninggalkan surat wasiat. Isinya bahwa jika bapak meninggal, bapak saya tidak mau mengikuti hukum Islam yang sudah ada bahwa anak laki-laki bagiannya lebih banyak (dua kali lipat) dari perempuan. Tujuan almarhum bapak adalah agar semua anaknya mendapat bagian yang sama rata jumlahnya, tidak ada yg dibedakan.
Ditulis sendiri oleh bapak dengan tulisan tangannya.
Ini bagaimana, ustadz..?? Wasiatnya ini sah atau tidak..?? Boleh dijalankan atau tidak..??
Karena bertentangan dengan batasan/ketentuan hukum Islam tentang bagian warisan.
Mohon penjelasannya.
Jazakumullaah.
Wassalam.
-A13-

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Sebelumnya kami turut berduka cita atas kembalinya beliau ke sisi-Nya, semoga Allah Swt meluaskan kuburnya, menghapuskan dosa-dosanya, dan memasukkannya ke Jannah.

Pertanyaan Anda terkait dengan masalah waris, maka pembagian waris langsung dibagi oleh Allah Jalla wa ‘Ala, maka makhluknya diharamkan membuat aturan sendiri, sementara Sang Khalik telah menetapkan pembagian untuk masing-masing. Dalam hal ini tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah Jalla wa ‘Ala.

Semoga Allah mengumpulkan kita bersama di Jannah, bersama ketaatan kita kepada perintah-nya, keridhoan kita kepada aturan-nya, dan kesungguhan kita dalam meraih cinta-Nya.

Wallahu a’lam.

Memilih Pemimpin yang Paling Baik di Antara yang Buruk

Assalamualaikum ustadz/ah..
Tanya ustad Assalamu’alaikum bagaimana sikap kita berpolitik dalam memilih caleg/kep daerah smuanya tdk ada yg amanah kalau gak pilih non muslim yg mimpin kalau pilih muslim jg gak amanah dosakah kt kalau golput wassalamu’alaikum
#Pertanyaan dari I-11

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

📌 Tidak amanahnya calon Muslim ke depan, tiada manusia yang mengetahui. Amanahnya calon non-muslim tiada manusia yang mengetahui. Allah yang membolak-balikkan hati manusia.

📌 Tugas Muslim adalah memilih pemimpin Muslim, sebagaimana komando non-muslim adalah memilih pemimpin non-Muslim.

📌 Memilih pemimpin Muslim adalah urusan Muslim kepada Allah, korupsinya pemimpin Muslim adalah urusan beliau dengan Allah

📌 Memilih yang bertanggung jawab adalah memilih dan melanjutkan dengan mengawasi, menasihati, dan melaporkan kepada yang berwajib, dan menggantinya juga dengan pemimpin Muslim

📌 Berdiskusi masalah Islam dengan pemimpin Muslim masih lebih berpotensi memiliki ketersambungan daripada selainnya

Wallahu a’lam.

Setelah Berhubungan Ternyata Haidh Belum Selesai

Assalamualaikum ustadz/ah…bagaimana hukumnya,jika kita sdh mandi hadats besar, dan berhubungan sama suami. Tiba – tiba esoknya harinya ternyata ada yg keluar lagi tp hanya sedikit. jzkllh khoir ,🅰0⃣9⃣.                   
                                             
Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

1. Mayoritas ulama baik Imam Malik, Imam Asy Syafi’iy, Imam Abu Hanifah, juga kalangan Zhahiriyah seperti Imam Daud, mengatakan ​TIDAK ADA kaffarat​ bagi hubungan suami istri saat haid. Itu memang berdosa, tapi hendaknya mereka tobat kepada Allah.

2. Kalaupun ada kaffarat sebagaimana pendapat Imam Ahmad, ahli hadits, dan sebagian kecil tabi’in, ​caranya bukan seperti Al Maidah: 89,  surat Al Maidah: 89 ini untuk kaffarat  Sumpah dan Nadzar.

Lalu bagaimana bayar kaffaratnya?   Beragam pendapat para ulama:

– membayar kaffarat seperti jima’ di siang  bulan Ramadhan, ini Qiyas.

– 1 Dinar, jika darahnya masih mengalir. Dan 1/2 Dinar jika darah sudah berhenti lalu dia jima’, sebagaimana pendapat ahli hadis.

Namun, pendapat yg paling kuat – Wallahu a’lam- adalah TIDAK ADA KAFFARAT, sebab tidak dalil khusus untuk itu.
Demikian.

Wallahu a’lam.

Memilih Pemimpin yang Tidak Taat Agama

Assalaamu ‘alaikum Wr.Wb. ustadz..
Terkait surat Ali ‘Imran ayat 28 : “Janganlah orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dst…”
Bagaimana bila ada pemilu, dan kita merasa calon pemimpin adalah orang yang tidak taat agama, bahkan berbeda agama.

Apa yang harus kita lakukan?
Apa lebih baik golput saja?
✍ Pertanyaan dari member A13

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Jika ada pemimpin yang tidak taat agama namun dia memiliki kekuatan dan manajemen yang baik, maka kekuatannya untuk umat dan ketidaktaatannya adalah untuk dirinya sendiri.

Adapun jika pemimpin itu berbeda agama, dan tidak ada pilihan lain selain seluruhnya beda agama, maka diserahkan kepada para ulama yang otoritatif di masanya, kepada pihak yang mana yang paling membawa maslahah kepada umat secara keseluruhan di atas komunikasi yang telah dibangun dan komitmen tertulis yang telah dibuat.

Wallahu a’lam.

Menghadiri Pernikahan Non Muslim


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
Apa hukumnya bila menghadiri pesta pernikahan teman yang non islam,apakah boleh kita memasuki tempat Beribadahnya ? Mohon penjelasan!
Member 🅰2⃣8⃣.

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Hukum menghadiri pesta pernikahan yang non muslim boleh, karena ini bagian dari muamalah kita, bagaimana kita menjalin hubungan baik sebagai makhluk sosial, sementara tuk memasuki rumah peribadatannya ulama berbeda pendapat.

A.Haram ketika ada peribadatan, dalilnya Al-Qur’an surat Al-kafirun,

“katakanlah hai orang-orang kafir, aku tdk menyembah apa yang kamu sembah dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah..”
hingga akhir surah.

Juga fatwa Umar ibnul khattab
“Janganlah kalian memasuki tempat ibadah orang kafir pada saat mereka sedang merayakan hari agama mereka,karena kemarahan Allah akan turun kepada mereka”.

B. Ketika tidak ada peribadatan, khilaf ada yang membolehkan ada yang melarang. Kesimpulannya, kalau hanya menghadiri pernikahan di bolehkan akan tetapi kalau acaranya di gereja atau yang semisalnya sebaiknya tidak usah .

Wallahu a’lam.

Bolehkah Ikut Belajar Al-Qur'an Saat Haidh?


Assalamualaikum wr wb ustadz/ah..
Jika seorang perempuan menjadi guru mengaji quran setiap hari.. pas kebetulan menstruasi. Jadi yang ingin saya tanyakan Apakah bisa kita terus mengajar mengaji dengan keadaan mens ?

Apabila diri kita menstruasi, apa boleh ikut belajar tahfidz Qur’an atau memegang Al Qur’an untuk menghafal?
[A15_Korma 3] ————–

Jawaban
————

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Dalam pertanyaan diatas, perlu diketahui berhadats besar yaitu hadats yang disucikannya dengan ghusl (mandi), atau istilah lainnya di negeri kita adalah mandi junub, mandi wajib, dan mandi besar. Yang termasuk ini adalah wanita haid, nifas, dan orang junub (baik karena jima’ atau mimpi basah yang dibarengi syahwat).

Pada bagian ini terjadi khilaf (perselisihan) pendapat di antara ulama Islam, antara yang mengharamkan dan membolehkan.

🌿Para Ulama Yang Mengharamkan dan Alasannya Mereka yang mengharamkan beralasan dengan beberapa dalil berikut:Hadits dari Ali bin Abi ThalibRadhiallahu ‘Anhu, katanya:

أنه لا يحجزه شيء عن القرأءة إلا الجنابة              

“Bahwasanya tidak ada suatu pun yang menghalanginya dari membaca Al Quran kecuali junub.” (HR. Ibnu Majah No. 594) Hadits lain dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لاتقرأ الحائض ولا الجنب شيئا من القرآن          

“Janganlah wanita haid dan orang junub membaca sesuatu pun dari Al Quran.” (HR. At Tirmidzi No. 131, Al Baihaqi dalam Sunannya No. 1375, katanya: laisa bi qawwi – hadits ini tidak kuat. Ad Daruquthni,  Bab Fin Nahyi Lil Junub wal Haa-id ‘An Qira’atil Quran,No. 1)

🌿Para Ulama Yang Membolehkan dan Alasannya Menurut ulama lain, sama sekali tidak ada larangan yang qath’i (pasti) dalam Al Quran dan As Sunnah bagi orang yang berhadats besar untuk membaca Al Quran. Ada pun dalil-dalil yang dikemukakan di atas bukanlah larangan membaca Al Quran, tetapi larangan menyentuh Al Quran. Tentunya, membaca dan menyentuh adalah dua aktifitas yang berbeda. Inilah pendapat yang lebih kuat, dan memang begitulah adanya, menurut mereka bahwa nash-nash yang dibawakan oleh kelompok yang melarang tidaklah relevan. Wallahu A’lamTetapi, ada yang merinci: wanita  HAID dan  NIFAS adalah  BOLEH, sedangkan  JUNUB adalah TIDAK BOLEH.Syaikh Abdul Aziz bin BazRahimahullah mengatakan –dan ini adalah jawaban beliau yang memuaskan dan sangat bagus:

لا حرج أن تقرأ الحائض والنفساء الأدعية المكتوبة في مناسك الحج ولا بأس أن تقرأ القرآن على الصحيح أيضاً لأنه لم يرد نص صحيح صريح يمنع الحائض والنفساء من قراءة القرآن إنما ورد في الجنب خاصة بأن لا يقرأ القرآن وهو جنب لحديث على رضي الله عنه وأرضاه أما الحائض والنفساء فورد فيهما حديث ابن عمر { لا تقرأ الحائض ولا الجنب شيئاً من القرآن } ولكنه ضعيف لأن الحديث من رواية اسماعيل بن عياش عن الحجازيين وهو ضعيف في روايته عنهم ، ولكنها تقرأ بدون مس المصحف عن ظهر قلب أما الجنب فلا يجوز له أن يقرأ القرآن لا عن ظهر قلب ولا من المصحف حتى يغتسل والفرق بينهما أن الجنب وقته يسير وفي إمكانه أن يغتسل في الحال من حين يفرغ من اتيانه أهله فمدته لا تطول والأمر في يده متى شاء اغتسل وإن عجز عن الماء تيمم وصلى وقرأ أما الحائض والنفساء فليس بيدهما وإنما هو بيد الله عز وجل ، فمتى طهرت من حيضها أو نفاسها اغتسلت ، والحيض يحتاج إلى أيام والنفاس كذلك ، ولهذا أبيح لهما قراءة القرآن لئلا تنسيانه ولئلا يفوتهما فضل القرأءة وتعلم الأحكام الشرعية من كتاب الله فمن باب أولى أن تقرأ الكتب التي فيها الأدعية المخلوطة من الأحاديث والآيات إلى غير ذلك هذا هو الصواب وهو أصح قولى العلماء رحمهم الله في ذلك . 

 “Tidak mengapa bagi wanita haid dan nifas membaca doa-doa manasik haji, begitu pula dibolehkan membaca Al Quran menurut pendapat yang benar. Lantaran tidak adanya nash yang shahih dan jelas yang melarang wanita haid dan nifas membaca Al Quran, yang ada hanyalah larangan secara khusus bagi orang yang junub sebagaimana hadits dari Ali – semoga Allah meridhainya dan dia  ridha padaNya. Sedangkan untuk haid dan nifas, terdapat hadits dari Ibnu Umar: “Janganlah wanita haid dan orang junub membaca apa pun dari Al Quran,” tetapi  hadits ini dhaif (lemah), lantaran hadits yang diriwayatkan oleh Ismail bin ‘Iyash dari penduduk Hijaz adalah tergolong hadits  dhaif. Tetapi membacanya dengan tidak menyentuh mushaf bagian isinya. Ada pun orang junub, tidaklah boleh membaca Al Quran, baik dari isinya atau dari mushaf, sampai dia mandi.  Perbedaan antara keduanya adalah, karena sesungguhnya junub itu waktunya sedikit, dia mampu untuk  mandi sejak selesai berhubungan dengan isterinya dan waktunya tidaklah lama, dan urusan ini ada di bawah kendalinya kapan pun dia mau mandi. Jika dia lemah kena air dia bisa tayamum, lalu shalat dan membaca Al Quran. Sedangkan haid dan nifas,  dia tidak bisa mengendalikan waktunya karena keduanya adalah kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla, ketika sudah suci dari haid dan nifasnya maka  dia baru mandi. Haid membutuhkan waktu berhari-hari begitu pula nifas, oleh karena itu dibolehkan bagi keduanya untuk membaca Al Quran agar dia tidak lupa terhadapnya, dan tidak luput darinya keutamaan membacanya, dan mengkaji hukum-hukum syariat dari kitabullah. Maka, diantara permasalahan yang lebih utama dia baca adalah buku-buku yang didalamnya terdapat doa-doa dari hadits dan ayat-ayat, dan selainnya. Inilah pendapat yang benar di antara dua pendapat ulama –rahimahumullah-tentang hal ini. (Fatawa Islamiyah,  4/27. Disusun oleh Muhammad bin Abdul Aziz Al Musnid)

🌿Berkata Syaikh Al Albani Rahimahullah:

فسقط الاستدلال بالحديث على التحريم ووجب الرجوع إلى الأصل وهو الإباحة وهو مذهب داود وأصحابه واحتج له ابن حزم ( 1 / 77 – 80 ) ورواه عن ابن عباس وسعيد بن المسيب وسعيد بن جبير وإسناده عن هذا جيد رواه عنه حماد بن أبي سليمان قال : سألت سعيد بن جبير عن الجنب يقرأ ؟ فلم يربه بأسا وقال : أليس في جوفه القرآن ؟

“Maka gugurlah pendalilan dengan hadits tersebut tentang keharamannya, dan wajib kembali kepada hukum asal, yakni boleh. Inilah madzhab Daud dan sahabat-sahabatnya, Ibnu Hazm berhujah dengannya (1/77-80). Ini juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Said bin Al Musayyib, Said bin Jubeir, dan sanadnya tentang ini jayyid (baik). Telah diriwayatkan dari Hammad bin Abi Sulaiman, dia berkata: “Aku bertanya kepada Said bin Jubeir tentang orang junub yang membaca Al Quran, dia memandangnya tidak apa-apa, dan berkata; “Bukankah Al Quran juga berada di rongga  hatinya?” (Tamamul Minnah, Hal. 117)

🌿Begitu pula Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah, dia berkata:

يجوز للحائض أن تقرأ القرآن للحاجة، مثل أن تكون معلمة، فتقرأ القرآن للتعليم، أو تكون طالبة فتقرأ القرآن للتعلم، أو تكون تعلم أولادها الصغار أو الكبار، فترد عليهم وتقرأ الآية قبلهم. المهم إذا دعت الحاجة إلى قراءة القرآن للمرأة الحائض، فإنه يجوز ولا حرج عليها، وكذلك لو كانت تخشى أن تنساه فصارت تقرؤه تذكراً، فإنه لا حرج عليها ولو كانت حائضاً، على أن بعض أهل العلم قال: إنه يجوز للمرأة الحائض أن تقرأ القرآن مطلقاً بلا حاجة.وقال آخرون: إنه يحرم عليها أن تقرأ القرآن ولو كان لحاجة.فالأقوال ثلاثة والذي ينبغي أن يقال هو: أنه إذا احتاجت إلى قراءة القرآن لتعليمه أو تعلمه أو خوف نسيانه، فإنه لا حرج عليها.

“Dibolehkan bagi wanita haid untuk membaca Al Quran jika ada keperluan, misal jika dia seorang guru, dia membaca Al Quran untuk pengajaran, atau dia seorang pelajar dia membacanya untuk belajar, atau untuk mengajar anak-anaknya yang masih kecil atau besar, dia menyampaikan dan membacakan ayat di depan mereka. Yang penting adalah jika ada kebutuhan bagi wanita untuk  membaca Al Quran, maka itu boleh dan tidak mengapa. Begitu pula jika dia khawatir lupa maka membacanya merupakan upaya untuk mengingatkan, maka itu tidak mengapa walau pun dia haid. Sebagian ulama mengatakan: sesungguhnya boleh bagi wanita haid membaca Al Quran secara mutlak walau tanpa kebutuhan.               
Jadi, tentang “Orang Berhadats Besar Membaca Al Quran” bisa kita simpulkan:
🍀 Haram secara mutlak, baik itu Haid, Nifas, dan Junub. Inilah pandangan mayoritas ulama, sejak zaman sahabat seperti Umar, Ali,  Jabir,  hingga tabi’in seperti Az Zuhri, Al Hasan, An Nakha’i , Qatadah, dan generasi berikutnya, seperti Sufyan Ats Tsauri, Ibnul Mubarak, Ahmad bin Hambal, Asy Syafi’i, dan Ishaq.

🍀 Haid dan Nifas adalah boleh, sedangkan junub tidak boleh. Ini pendapat Al Qadhi ‘Iyadh dan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz.

🍀 Boleh jika ada kebutuhan seperti untuk mengajar, belajar, atau untuk menjaga hapalan. Ini pendapat Imam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin.

🍀Boleh secara mutlak, baik untuk Haid, Nifas, dan Junub.  Ini pendapat Ibnu Abbas, Said bin Al Musayyib, Said bin Jubeir, Bukhari, Thabarani, Daud,  Ibnu Hazm, Ibnul Mundzir, Asy Syaukani, dan lainnya. Selesai.

http://kumpulanartikelsyariah.blogspot.ae/2014/02/apakah-orang-haid-nifas-dan-junub-boleh.html?m=1 is good,have a look at it!

Wallahu a’lam.

Haruskah Ahli Waris Membagi Harta Peninggalan Orang Tuanya yang Belum Dibagi dan Tidak Ada Wasiatnya?

Assalamualaikum waroatullahi wabarakatuh. Saya mohon izin dpt bertanya ttg pembagian waris
Apabila org tua sdh meninggal dan waris belum dilakukan, apakah anak wajib menuntaskan? Bila ada rumah msh atas nama alm org tua dan dijadikan tempat kos dan jg rumah tinggal anaknya, apakah hrs byr zakat usaha? Menurut info anaknya, uang kosnya hanya cukup ut makan, byr listrik, air dan keperluan kenyamanan kosnya spt pel dan perbaikan kerusakan kecil. Kalau anak2 nya tdk mau mengurus waris, apakah dosa jika salah seorg anaknya meminta waris krn anak tsb punya byk utang di bank dan ingin melunasinya?

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa Ba’d:
Ada tiga pertanyaan ya ..

1⃣ Apakah waris mesti disegerakan?

Ya, sebaiknya waris tidak ditunda agar hak ahli waris tidak terlantar, sebab kita tidak tahu ajal, dikhawatirikan harta waris belum diapa-apakan tetapi ahli waris sudah ada yang wafat juga. Namun, menyegerakan tentu bukan perkara mudah, mengingat kendala teknis. Seperti wujud harta waris adalah bangunan, yang tidak mudah untuk menjualnya. Disegerakan namun tetap bersabar.

2⃣ Lalu, apakah ada zakat pada rumah yang dijadikan kost?

Iya, barang-barang yang produktif kena zakat yaitu hasilnya yang dizakati. Rumah yang disewakan, maka hasil sewanya yang dizakati, bukan harga total rumahnya plus sewanya, bukan itu. Nishabnya adalah jika hasilnya sudah mencapai senilai 85 gram emas, dikeluarkan zakatnya jika usianya sudah memenuhi satu haul (satu tahun), sebesar 2,5%. (Fatwa-Fatwa ulama Terlampir)

Jika rumah itu dijual, karena ini rumah dipakai sendiri, bukan sebuah objek bisnis, maka tidak ada zakat ketika menjualnya. Bedakan antara menjual rumah karena memang itulah usahanya (property) dengan menjual rumah bukan disebabkan bisnis. Menjual rumah karena bisnis property kena zakat, yaitu zakat perdagangan/perniagaan/tijarah, sebagaimana pendapat mayortas ulama. Hanya sebagian kecil saja ulama yang mengatakan tidak ada zakat perniagaan, seperti Imam Ibnu Hazm, Imam Asy Syaukani, Imam Shiddiq Hasan Khan, dan Syaikh Al Albani.

3⃣ Apakah berdosa seorang anak meminta waris tersebut ketika yang lain tidak ada yang mengurus?

Tidak apa-apa dia meminta haknya, apalagi ketika yang lain tidak peduli. Tapi, ini juga diperhatikan keharmonisan hubungan di antara saudara. Sebaiknya dibicarakan dengan baik tentang urgensi penyegeraan pengurusan harta waris.

Wallahu A’lam

📋 Lampiran Fatwa Ulama:

💥 Tidak Ada Zakat Pada Tanah dan Bangunan Yang Tidak Produktif

Berikut ini kumpulan fatwa para imam zaman ini, tentang tidak adanya zakat tanah dan bangunan yang tidak dimanfaatkan, baik dijual, disewakan, ditanami, dan semua bentuk bisnis lainnya. Ini adalah pendapat terkenal dari zaman ke zaman, bahkan boleh dikatakan telah ijma’ (konsensus) para ulama Islam.

1. Fatwa Syaikh Abdul Karim bin Abdullah Al Khudhair

السؤال: اشترى رجل أرضاً يريد أن يبني عليها استثماراً بعد سنة من شرائها فهل يجب عليه فيها الزكاة في هذه السنة وما بعدها؟
الجواب:
أرض الاستثمار لا تجب الزكاة في عينها، اللهم إلا إذا اشتريت هذه الأرض بنية التجارة ليبيع هذه الأرض، أي: يُتاجر فيها، أما أن يقيم عليها مشروعاً يستغل فإن الزكاة في نتاجه، في أجرته، فيما يخرجه من غلة وما أشبه ذلك، أما أصل الأرض ليس عليها زكاة، هذا يريد أن يقيم عليها مشروعاً، فإذا أقام المشروع وأخذ المشروع في الإنتاج فالزكاة معروفة، فإذا أقام عليها مشروعاً سكنياً مثلاً وأجّر هذا المشروع فإن الزكاة في الأجرة وليست في الأرض، ولا في العمارة، إنما الزكاة في الأجرة، لو أقام عليها زراعة فالزكاة في ثمرتها، وهكذا، لكن لو أقام عليها محلاً تجارياً وملأه بالبضائع المعدة للتجارة فالزكاة على البضائع، والمبنى لا زكاة عليه، الزكاة على البضائع تُقَوَّم كلما حال عليها الحول وتزكّى.

Pertanyaan:
“Ada seseorang yang memberi tanah dan ia ingin membangun kebun di sana. Setelah satu tahun dari waktu pembeliannya, apakah ia harus mengeluarkan zakat dari tanah tersebut dan begitu pula tahun selanjutnya?”

Jawab:
Tanah yang dijadikan kebun tidak wajib untuk dizakati. Kecuali jika tanah tersebut ingin dibisniskan. Adapun jika di tanah tersebut ditanam sesuatu, maka zakatnya adalah dari tanaman tersebut atau dari penjualannya yang merupakan hasil dari tanah tersebut. Jadi, tanah itu sendiri tidak ada zakatnya. Baru ada zakat, jika tanah tersebut dimanfaatkan. Jika pemanfaatn itu memiliki hasil, itulah yang dikenai zakat. Jika tanah tersebut memiliki bangunan (misalnya), lalu ada keuntungan dari bangunan tersebut, maka zakat ditarik dari keuntungannya dan bukan ditarik dari tanah dan bukan pula ditarik dari kontruksi bangunan. Sekali lagi zakatnya ditarik dari hasil (keuntungan) tadi. Jika tanah tersebut terdapat tanaman, maka zakatnya ditarik dari hasil tanaman (yaitu buah, dll). Demikian seterusnya. Jika di atas tanah tersebut didirikan sesuatu yang diperdagangkan, maka zakatnya diambil dari hasil perdagangan barang tersebut. Sedangkan bangunannya tidak dikenai zakat apa-apa. Zakat hanya diambil dari keuntungan penjualan barang-barang dagangan yang ada. Ketika keuntungan tersebut telah bertahan satu tahun (haul), maka barulah dikeluarkan zakatnya.
(sumber: http://www.khudheir.com/text/4312)

2. Syaikh muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah

أما السؤال الثاني وهو الأرض التي اشتراها ليبني عليها بناء ولكنه لم يتمكن من البناء عليها لعدم وجود ما يبنيها به فإنه ليس فيها زكاة لأن العقارات التي لا تعد في البيع والشراء أي لا يريد التكسب ببيعها وشرائها ليس فيها زكاة لأنها من العروض والعروض لا تجب فيها الزكاة إلا إذا قصد بها الاتجار وعلى هذا فليس عليه زكاة في هذه الأرض ولو بقيت سنوات كما أنه ليس عليها زكاة إذا بناها أيضاً واستغلها لكن إذا استغلها فإن عليه الزكاة في أجرتها.

Adapun pertanyaan kedua, tanah yang dibeli untuk didirikan bangunan di atasnya, maka dia tidak ada zakat karena tanah milik yang tidak dipersiapkan untuk dijualbelikan yaitu yang tidak diambil keuntungan dari jual belinya, tidaklah terkena zakat, karena itu termasuk harta yang ditempati, dan harta seperti itu tidak wajib dizakatkan kecuali jika dimaksudkan untuk dijual, oleh karena itu tidak ada zakat atas tanah itu, walau pun keberadaannya bertahun-tahun lamanya, dan tidak pula ada zakat jika didirikan bangunan dan ditanamkan sesuatu di atasnya, tetapi jika ditanamkan sesuatu maka zakatnya ada pada harga tanaman itu (jika dijual). (Fatawa Nur ‘Alad Darb, Az Zakah wash Shiyam, No. 199)

Dalam fatwanya yang lain:

س ـ أمتلك قطعة أرض ، ولا أستفيد منها ، وأتركها لوقت الحاجة ، فهل يجب علي أن أخرج زكاة عن هذه الأرض ؟ .. وإذا أخرجت الزكاة هل علي أن أقدر ثمنها في كل مرة ؟
ج ـ ليس عليك زكاة في هذه الأرض لأن العروض إنما تجب الزكاة في قيمتها ، إذا أعدت للتجارة ، والأرض والعقارات والسيارات والفرش ونحوها عروض لا تجب الزكاة في عينها ، فإن قصد بها المال أعني الدراهم بحيث تعد للبيع والشراء والاتجار ، وجبت الزكاة في قيمتها . وإن لم تعد كمثل سؤالك فإن هذه ليست فيها زكاة .

Pertanyaan:
Saya mempunyai sebidang tanah, namun tidak menghasilkan apa-apa dan saya biarkan begitu saja. Wajibkah saya mengeluarkan zakat tanah tersebut ? Jika dikeluarkan zakatnya, wajibkah saya memperhitungkan zakatnya ?

Jawaban:
Tanah seperti ini tidak wajib dizakati. Semua barang wajib dizakati saat diperdagangkan. Pada dasarnya tanah, berbagai tanah milik (‘aqarat), kendaraan atau barang-barang lainnya, maka semuannya termasuk harta pemilikan dan tidak wajib dizakati kecuali jika dimaksudkan memperoleh uang, yakni diperjualbelikan atau diperdagangkan. (Fatawa Islamiyah, 2/140. Disusun oleh Muhammad bin Abdul Aziz Al Musnad)

3. Syaikh Muhammad Khaathir Rahimahullah (mufti Mesir pada zamannya)

Katanya:

لا تجب فى الأرض المعدة للبناء زكاة إلا إذا نوى التجارة بشأنها

Tanah yang dipersiapkan untuk didirikan bangunan tidak wajib dizakati, kecuali diniatkan untuk dibisniskan dengan mengembangkannya. (Fatawa Al Azhar, 1/157. Fatwa 15 Muharam 1398)

4. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz
Rahimahullah (Mufti Arab Saudi pada zamannya)

س : إذا كان لدى الإنسان قطعة أرض ولا يستطيع بناءها ولا الاستفادة منها ، فهل تجب فيها الزكاة ؟
ج : إذا أعدها للبيع وجبت فيها الزكاة ، وإن لم يعدها للبيع أو تردد في ذلك ولم يجزم بشيء ، أو أعدها للتأجير فليس عليه عنها زكاة ، كما نص على ذلك أهل العلم ؛ لما روى أبو داود رحمه الله عن سمرة بن جندب -رضي الله عنه- قال : « أمرنا رسول الله -صلى الله عليه وسلم- أن نخرج الصدقة مما نعده للبيع » .

Pertanyaan:
Jika manusia punya sebidang tanah dan dia tidak mampu mendirikan bangunan dan tidak pula bisa memanfaatkannya, apakah tanah itu wajib dizakati?

​Jawaban nya:​
Jika dia mempersiapkannya untuk dijual maka wajib dikelurkan zakat, jika tidak untuk dijual atau ragu-ragu dan belum pasti, atau tidak untuk disewa, maka tidak ada kewajiban zakat atasnya.

Sebagaimana ulama katakan tentang hal itu, karena telah diriwayatkan oleh Abu Daud Rahimahullah, dari Samurah bin Jundub Radhiallahu ‘Anhu, katanya:
“Kami diperintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mengeluarkan zakat dari apa-apa yang diperdagangkan.” (Majalah Al Buhuts Al Islamiyah, 56/124).

Wallahu a’lam.

Hukim Seorang Istri Menjadi TKI Untuk Mencukupi Nafkah Keluarga


Assalamualaikum waroatulloh wabarakatuh. Ustadz.. saya mau bertanya. Keluarga kami sedang di beri ujian kefakiran dan hutang dan saya ada rencana kerja TKI utk jangka waktu kontrak 1 tahun. Bagaimana menurut Islam tentang keputusan itu?

Saya seorang istri dengan 4 orang anak sedangkan suami saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk hutang-hutang tersebut. Kalo hanya untuk kebutuhan hidup saya msih bisa bertahan tapi saya gelisah dengan hutang-hutang saya dan biaya pendidikan anak-anak saya.Terimakasih sebelumnya untuk pencerehannya.
[Member A32]

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d:

Ada dua hal yang menjadi masalah:

1. Wanita bekerja
2. Wanita safar tanpa mahram lebih dari tiga hari

Kegelisahan ini sebenarnya tidak akan terjadi jika suami tetap berjuang menafkahi keluarga. Sehingga kesan tidak bisa berbuat apa-apa tidak sampai terjadi. Sebelum berpikir kesana, sebaiknya motivasi lagi suami, agar mau berusaha, sebagai bentuk dan bukti kepemimpinannya dalam keluarga.

Anggaplah, yang terpahit suami memang sudah tidak mampu. Sayangnya di sini tidak dijelaskan sebabnya apa. Apa karena sakit, PHK, atau memang malas dan ogah-ogahan berusaha.

Sebab apa pun itu, sehingga membuat istri mesti menjaga ngebulnya dapur bahkan biaya pendidikan, dan biaya lain sewajarnya kehidupan rumah tangga. Tetaplah mesti diperhatikan sisi syara’-nya. Prinsipnya, bekerja buat wanita boleh saja selama terpenuhi syarat-syaratnya. Bukan sunah, apalagi wajib. Sebab, suami masih ada, dan dia masih bisa berusaha.

Dahulu Asma’ binti Abu Bakar, membantu Az Zubeir bim Awwam ke pasar, membawa barang dagangan suaminya di atas kepalanya. Ini menunjukkan peran serta wanita dalam ekonomi rumah tangga. Tetapi tetaplah tulang punggungnya adalah suami.

Maka, usul saya:

– Carilah pekerjaan yang aman menurut syara’, yang bisa tetap aman dari khalwat, ikhtilat mamnu’, tetap menutup aurat, pada usaha-usaha yang halal.

– Atau ciptakan lapangan kerja sendiri di rumah, yang sambil tetap menjalankan fungsi kerumahtanggaan. Cukup banyak wanita yg tetap produktif secara ekonomi, tanpa harus menabrak batasan syariat.

Saya faham ini sangat tidak mudah bagi seorang istri. Tp, tidak salahnya dipikir ulang, dan dicoba dulu.

Sedangkan masalah ke dua, Safarnya Wanita Tanpa Mahram akan saya bahas sambil menunggu perkembangan dari penanya.

Wallahu a’lam.