Mengelola Harta Anak Yatim

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Bagaimana mengelola harta anak yatim dlm hal ini uang. Ada ibu yg pnya anak 5. Suaminya sdh wafat 4th lalu. Bnyk tmn ayahnya yg suka nitip uang tuk anak ibu itu yg kecil sj. Krn mmg yg 4 kknya sdh akil balik. Tp belum ada yg kerja. Masih skolah n kuliah. Nah krn bnyk yg nitip uang untuk anak bungsunya, si ibu kan bingung tuk biaya kk2nya. Apa boleh uang simpanan adiknya dipake tuk biaya kakaknya? Statusnya minjem ke adiknya atau sedekah ke kekaknya. Si ibu sudah berazam kalau ada yg sedekah dia akan keluarkan zakatnya 10% agar uang yg diterima menjadi bersih. Karena tidak mungkin si ibu bertanya sumber uang sedekah itu ke si pemberi.
Member 🅰0⃣2⃣

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Mengurus harta anak yatim termasuk iman dan kebajikan yang diperintahkan. Allah Ta’ala menyebutkan bahwa memberikan hak harta anak yatim termasuk al-birr (kebaikan) seperti rukun-rukun iman dan rukun-rukun Islam. (QS. Al-Baqarah ayat 177) bahkan menyantuni anak yatim dijanjikan surga bagi pelakunya. Dalam Shahih al-Bukhari disebutkan, Bab keutamaan orang yang menyantuni anak yatim dengan menanggung kebutuhannya, dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ’anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam W bersabda :

”Aku dan orang yang menanggung kebutuhan anak yatim demikian ini keadaannya di surga” Perawi mengatakan, ”Beliau mengisyaratkan dengan kedua jarinya, yaitu telunjuk dan tengahnya.” (HR. al-Bukhari).

BAGAIMANA MENGELOLA HARTA ANAK YATIM?

Pada ulama menyebut orang yang mengurusi harta anak yatim dan menanggung penghidupan mereka dengan washi atau wali. Merekalah yang memikul amanah pemanfaatan harta anak yatim untuk kepentingan si yatim dan hartanya dengan sebaik-baiknya.

Imam al-Bukhari rahimahullah di dalam kitab Shahihnya membuat bab, ”Bab apa yang boleh dilakukan oleh washi atau wali terhadap harta si yatim dan apa yang boleh ia makan darinya sekadar kerepotannya.” Lalu beliau membawakan atsar dari Aisyah radhiyallahu ’anha tentang ayat :

(Barangsiapa (di antara pemelihara itu) mampu, Maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu). Dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut) (QS. An-Nisa [4] : 6).

Aisyah radhiyallahu ’anha mengatakan : ”Ayat tersebut diturunkan pada haknya wali anak yatim. Boleh baginya mengambil bagian dari harta anak yatim. Boleh baginya mengambil bagian dari harta anak yatim apabila dia memang butuh kepada harta tersebut, sebatas apa yang ia berhak atasnya dengan cara yang baik.” (HR. Al-Bukhari : 2614). Yaitu, apabila walinya seorang yang fakir atau miskin.

Meski ulama berselisih pendapat dalam masalah ini, namun yang lebih kuat ialah apabila wali anak yatim memang benar-benar dalam keadaan fakir atau miskin, boleh memakan sebatas hajatnya tanpa berlebihan, tidak mubazir serta tanpa berbuat dosa. Maksudnya ialah tidak boleh sampai menyimpan sebagai perbekalannya dari harta anak yatim tersebut yang merupakan kelebihan dari ukuran yang dibutuhkan untuk makan.

Termasuk yang dibolehkan bagi wali ialah membaurkan dengan anak yatim dalam hal makanan maupun minuman. Hal ini berdasarkan riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhu, tatkala turun ayat

(Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat.) (QS. Al-An’am [6] : 152).

Maka para sahabat para wali anak yatim pun menjauhkan diri dari harta anak yatim sehingga makanan mereka pun rusak, dagingnya busuk dan semacamnya, sehingga diadukan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka turunlah ayat :

(Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah, mengurus urusan mereka secara patut adalah baik dan jika kalian berbaur bersama mereka, maka mereka adalah saudaramu. Dan Allah Maha tahu orang yang berbuat kerusakan dari yang berbuat kebaikan). (QS. Al-Baqarah [2] : 220).

Sehingga akhirnya mereka pun berbaur dengan anak-anak yatim dalam makanan. (HR. Ahmad, an-Nasa’i, Abu Dawud, al-Hakim).

Berbaur di sini terjadi dengan bercampurnya makanan anak yatim dengan makanan wali mereka. Sedangkan yang harus diperhatikan ialah bahwa Allah Ta’ala Maha tahu orang yang berniat memakan harta anak yatim dan orang yang berusaha menghindarinya. Bila anak yatim tersebut berbaur dengan anak-anaknya sendiri dan keluarga yang menjadi tanggungannya, rasanya sulit memisahkan makanannya dari makanan mereka. Sehingga apabila sampai mengharuskan ia mengambil harta anak yatim tersebut dibolehkan secukupnya saja, dengan tetap memelihara diri dari sikap aniaya.

Itulah kelapangan yang diberikan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya. Semestinya orang yang diberi amanah mengurus harta anak yatim senantiasa berlaku hanya dengan apa yang dibolehkan oleh syariat dalam memakan harta anak yatim dan membaurkannya dengan hartanya. Tidak boleh ia menukar harta anak yatim yang baik dengan hartanya yang buruk, tidak boleh pula membaurkan dalam rangka menganiaya haknya anak yatim. Termasuk juga memakannya, tidak boleh berlebihan lantaran berlebihan adalah kezaliman. (QS. An-Nisa [4] : 2 dan 6).

ZAKAT HARTA ANAK YATIM

Washi atau wali anak yatim berkewajiban mengurusi urusan mereka dan urusan harta mereka dengan sebaik-baiknya. Termasuk mengurusi zakat hartanya apabila harta itu mencapai nishab (patokan minimum untuk mengeluarkan zakat). Dan yang demikian ini hukumnya wajib.

Adapun tentang haul (batas kepemilikan) harta mereka dihitung sejak hari kematian ayahnya, sebab harta itu dengan kematian ayahnya masuk kepemilikan mereka.

Tentang Sedekah Yang Diterima dari yang tidak jelas

Pertama: Ada ulama yang memasukkan kasus di atas ke dalam hadits keenam Arbain An-Nawawiyyah. Sehingga, bentuk sikap wara’ (baca: hati-hati, pent.) untuk masalah ini adalah menjauhi harta (misalnya: hadiah, jamuan ketika bertamu ke rumahnya, dan sebagainya, pent.) orang tersebut. Namun, hukum sikap ini adalah DIANJURKAN, TIDAK WAJIB karena dengan sikap ini, kita menjadi lebih bersih dari kemungkinan yang tidak diharapkan.

Kedua: Sejumlah (ulama lain) berpendapat bahwa yang menjadi tolak ukur adalah jenis harta yang paling dominan. Jika yang paling dominan adalah harta yang berasal dari sumber yang haram maka kita jauhi harta tersebut. Jika yang paling dominan adalah harta yang berasal dari sumber yang halal maka kita boleh memakannya, selama kita tidak mengetahui secara pasti bahwa harta yang dia suguhkan atau dia hadiahkan kepada kita adalah harta yang berasal dari sumber yang haram.

Ketiga: Ulama yang lain, semisal Ibnu Mas’ud, mengatakan bahwa kita boleh memakan harta orang tersebut, sedangkan tentang jalan haram–yang ditempuh orang tersebut dalam memperoleh hartanya–itu menjadi tanggung jawabnya, karena cara mendapatkan harta itu antara kita dengan dia berbeda. Orang tersebut mendapatkan harta itu melalui profesi yang haram, namun ketika dia memberikan harta tersebut kepada kita, dia memberikannya sebagai hadiah, hibah, jamuan tamu, atau semisalnya kepada kita.

Perbedaan cara mendapatkan harta menyebabkan berbedanya status hukum harta tersebut. Sebagaimana dalam kisah Barirah. Barirah mendapatkan sedekah berupa daging, lalu daging tersebut dia hadiahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah diperkenankan untuk memakan harta sedekah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Daging tersebut adalah sedekah untuk Barirah, namun hadiah untuk kami.’ (HR. Bukhari dan Muslim, dari Aisyah)

Meski daging yang dihadiahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu adalah daging yang disedekahkan kepada Barirah, tetapi status hukumnya berbeda karena terdapat perbedaan cara mendapatkannya. Berdasarkan pertimbangan ini, sejumlah shahabat dan ulama mengatakan bahwa kita boleh memakan harta orang tersebut, sedangkan tentang adanya dosa, maka itu menjadi tanggungan orang yang memberikan harta tersebut kepada kita. Alasannya, kita mendapatkan harta tersebut dengan status hadiah, sehingga tidak ada masalah jika kita memakannya.

Keempat: Sejumlah ulama yang lain mengatakan bahwa kita boleh memakan harta orang tersebut selama kita tidak mengetahui bahwa harta tertentu yang dia berikan kepada kita adalah harta yang haram. Jika kita mengetahui bahwa harta yang dia berikan kepada kita adalah harta yang berasal dari sumber yang haram, kita tidak boleh memakan harta tersebut saja, sedangkan hartanya yang lain tetap boleh kita makan. Dalilnya adalah orang-orang Yahudi yang memberi makanan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal mereka adalah para rentenir. Meski demikian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memakan makanan yang diberi oleh orang-orang Yahudi itu.

Dari sisi dalil, pendapat Ibnu Mas’ud adalah pilihan yang tepat.

عن ذر بن عبد الله عن ابن مسعود قال : جاء إليه رجل فقال : إن لي جارايأكل الربا ، وإنه لا يزال يدعوني ، فقال : مهنأه لك ، وإثمه عليه

Dari Dzar bin Abdullah, dia berkata, “Ada seseorang yang menemui Ibnu Mas’ud lalu orang tersebut mengatakan, ‘Sesungguhnya, aku memiliki tetangga yang membungakan utang, namun dia sering mengundangku untuk makan di rumahnya.’ Ibnu Mas’ud mengatakan, ‘Untukmu enaknya (makanannya) sedangkan dosa adalah tanggungannya.’” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf)

عن سلمان الفارسي قال: إذا كان لك صديق عامل، أو جار عامل أو ذو قرابةعامل، فأهدى لك هدية، أو دعاك إلى طعام، فاقبله، فإن مهنأه لك، وإثمهعليه.

Dari Salman Al-Farisi, beliau mengatakan, “Jika Anda memiliki kawan, tetangga, atau kerabat yang profesinya haram, lalu dia memberi hadiah kepada Anda atau mengajak Anda makan di rumahnya, terimalah! Sesungguhnya, rasa enaknya adalah hak Anda, sedangkan dosanya adalah tanggung jawabnya.” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf)

Ringkasnya, harta haram itu ada dua macam:

Pertama: Haram karena bendanya. Misalnya: Babi dan khamar; mengonsumsinya adalah haram atas orang yang mendapatkannya maupun atas orang lain yang diberi hadiah oleh orang yang mendapatkannya.

Kedua: Haram karena cara mendapatkannya. Misalnya: Uang suap, gaji pegawai bank, dan penghasilan pelacur; harta tersebut hanyalah haram bagi orang yang mendapatkannya dengan cara haram. Akan tetapi, jika orang yang mendapatkannya dengan cara haram tersebut menghadiahkan uang yang dia dapatkan kepada orang lain, atau dia gunakan uang tersebut untuk membeli makanan lalu makanan tadi dia sajikan kepada orang lain yang bertamu ke rumahnya, maka harta tadi berubah menjadi halal untuk orang lain tadi, karena adanya perbedaan cara mendapatkannya antara orang yang memberi dengan orang yang diberi. Inilah pendapat ulama yang paling kuat dalam masalah ini, sebagaimana pendapat ini adalah pendapat dua shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Ibnu Mas’ud dan Salman Al-Farisi.

Wallahu a’lam.

Hukum Menjual Rokok

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Apakah hukumnya menjual rokok? Bolehkah disamakan dengan hukumnya menjual khamr? Kalau tidak salah, orang yang menjual khamr, minum, dan menyajikan, semuanya berdosa. Bagaimana dengan rokok? Kemudian utk minuman kemasan yg banyak dipasaran yg lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya, apakah sebaiknya tdk di jual juga? Mengingat utk kmaslahatan manusia.

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Merokok itu hukumnya haram. Ratusan ulama telah berfatwa akan haramnya rokok. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ

“Dan dia (Muhammad) menghalalkan untuk umatnya hal hal yang baik dan dia haramkan untuk umatnya hal hal yang jelek.” (QS. Al A’raf: 157)

Di zaman ini bisa kita katakan bahwa semua orang sepakat bahwa rokok itu berbahaya. Sedangkan Nabi bersabda,
لا ضرر ولا ضرار

“Tidak boleh melakukan hal yang membahayakan diri sendiri atau pun orang lain.” (HR. Ibnu Majah).

Rokok itu membahayakan orang yang ada di dekatnya sehingga dia termasuk dalam hadis di atas ‘membahayakan orang lain‘. Rokok itu membahayakan perekonomian suatu rumah tangga. Perokok juga membahayakan anaknya.

Rokok itu haram. Sejumlah ulama di masa silam dan di masa sekarang telah menegaskan keharamannya menimbang kejelekan dan bahayanya. Segala sesuatu yang haram dikomsumsi itu haram diperjualbelikan, haram ditanam dan haram diproduksi. 

Wallahu a’lam.

Bid’ah, Apa dan Bagaimana?

Assalamualaikum ustadz /ah..izin bertanya,
Sebetulnya bid’ah itu apa ya? Soalnya di fb saya sering ditemukan orang update status bid’ah dan dibilang sesat. Mohon penjelasannya.
Dari i16

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Belakangan ini marak di media sosial tentang sekelompok umat Islam yang sangat sering dan dengan mudahnya membid’ahkan muslim lain yang tidak sepaham dengan mereka. Dan yang disayangkan masalah tersebut hanya masalah furu’ (cabang). Maka banyak masyarakat yang bertanya apa sebenarnya bid’ah? Apakah semua yang tidak dilakukan nabi ﷺ bid’ah? Apakah bid’ah bersifat general, semua yang tidak ada pada masa Rasulullah ﷺ?

Makna Bid’ah

1. Imam Syathibi
“Suatu cara/kebiasaan dalam agama Islam, cara yang dibuat-buat, menandingi syariat Islam, tujuan melakukannya adalah sikap berlebihan dalam beribadah kepada Allah ﷻ.”

2. Imam Al-Izz bin Abdissalam
“Bid’ah adalah perkara yang tidak pernah dilakukan Rasulullah saw.”

3. Imam An-Nawawi
“Para ahli bahasa berkata, bid’ah adalah semua perbuatan yang tidak ada contoh sebelumnya.”

4. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Atsqalany
“Segala sesuatu yang dibuat-buat tanpa ada contoh sebelumnya adalah bid’ah, apakah itu terpuji atau tercela.”

Dari definisi di atas lalu muncul pertanyaan, apakah semua bid’ah sesat? Dan apakah bisa dibagi beberapa macam? Jawabannya adalah tidak semua bid’ah sesat dan bid’ah bisa dibagi.

Para ulama ada yang membagi bid’ah menjadi dua, yaiitu bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela). Bahkan ada yang membaginya menjadi tiga, yaitu bid’ah hasanah (terpuji), bid’ah mustaqbahah (sesat), bid’ah mubah. Dan ada pula yang melebarkan menjadi lima, yaitu bid’ah wajib, bid’ah mandub, bid’ah haram, bid’ah makruh, bid’ah mubah.

Yang membagi bid’ah menjadi dua adalah Imam Syafii, yaitu bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela). Jika sesuai sunnah maka itu bid’ah mahmudah, hukumnya boleh dilakukan. Dan jika bertentangan maka disebut bid’ah madzmumah, hukumnya haram.

Adapun kriteria kedua bid’ah tersebut sebagai berikut:
Jikaa perkara yang dibuat-buat sesuai/tidak bertentangan dengan Al-Qur’an atau atsar atau ijma’, maka itu bid’ah mahmudah. Namun jika sebaliknya maka  disebut bid’ah madzmumah.

Yang membagi bid’ah menjadi tiga adalah Ibnu hajar Al-Atsqalany, yaitu bid’ah hasanah, bid’ah mustaqbahah dan bid’ah mubah. Jika suatu perkara dianggap baik dan tidak bertentangan dengan syariat Islam maka itu bid’ah hasanah, hukumnya boleh dilakukan. Jika sebaliknya maka disebut bid’ah mustaqbahah (buruk), hukumnya haram dilakukan. Jika tidak termasuk kedua bidah di atas maka itu bid’ah mubah.

Yang dimaksud oleh hadits bahwa bid’ah adalah sesat yaitu bid’ah yang bertentangan dengan syariat

Selanjutnya bid’ah yang dibagi lima adalah pendapat Imam An-Nawawi. Dasar beliau adalah hadits berikut:

كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة

“Setiap perkara yang dibuat-buat adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”

Namun hadits di atas adalah type hadits umum, dan dikhususkan oleh hadits lain yang berbunyi:

من سن فى الإسلام سنة حسنة فله أجرها

“Siapa yang membuat tradisi baik dalam Islam maka ia mendapatkan pahalanya.”

Yang dimaksud bid’ah dhalalah (sesat dalam hadits pertama adalah:

المحدثات الباطلة والبدع المذمومة

“Perkara yang dibuat-buat yang batil dan perkara yang dibuat-buat yang tercela.”

Beliau membagi bid’ah menjadi lima, dengan ukuran atau timbangan kaidah-kaidah  syariat Islam. Jika masuk dalam kaidah wajib maka menjadi bid’ah wajib, jika masuk perkara sunnah maka menjadi bid’ah mandub, jika masuk perkara makruh maka bid’ah makruh, jika masuk perkara mubah maka menjadi bid’ah mubah, jika masuk perkara haram maka menjadi bid’ah haram.

Contoh-contohnya sebagai berikut:
1. Bid’ah wajib: Mempelajari ilmu nahwu untuk memahami dan mendalami Al-Quran dan sunnah. Bid’ah ini menjadi wajib karena modal untuk mendalami syariat harus paham bahasa Arab secara baik.
2. Bid’ah mandub (dianjurkan): Membangun sekolah dan jembatan dan sejenisnya, dimana hal tersebut belum ada di masa Rasulullah ﷺ.
3. Bid’ah makruh: Hiasan pada masjid, hiasan pada mushaf dan lainnya.
4. Bid’ah haram: Melantunkan Al-Quran dengan merubah laafazh sehingga merubah makna dan kaidah bahasa Arab.
5. Bid’ah mubah: Bersalaman setelah shalat.

Benarkah semua yang tidak pernah dilakukan nabi ﷺ haram?

Bagi orang yang berargumen bahwa semua yang tidak pernah dilakukan nabi ﷺ adalah bid’ah dhalalah menggunakan kaidah berikut:

الترك يقتضى التحريم

“Perkara yang ditinggalkan/tidak dilakukan Rasulullah ﷺ berarti mengandung makna haram.”

Padahal tidak ada satu pun kitab fiqih dan ushul fiqih yang memuat kaidah seperti itu.

Mari kita lihat contoh perbuatan yang tidak dilakukan Rasulullah ﷺ, namun tidak selamanya perbuatan tersebut haram.

1. Karena kebiasaan
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ بْنِ سَهْلٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ قَالَ
أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِضَبٍّ مَشْوِيٍّ فَأَهْوَى إِلَيْهِ لِيَأْكُلَ فَقِيلَ لَهُ إِنَّهُ ضَبٌّ فَأَمْسَكَ يَدَهُ فَقَالَ خَالِدٌ أَحَرَامٌ هُوَ قَالَ لَا وَلَكِنَّهُ لَا يَكُونُ بِأَرْضِ قَوْمِي فَأَجِدُنِي أَعَافُهُ فَأَكَلَ خَالِدٌ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْظُرُ
قَالَ مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ بِضَبٍّ مَحْنُوذٍ

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Yusuf Telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Abu Umamah bin Sahl dari Ibnu Abbas dari Khalid bin Al Walid ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah diberi daging biawak yang terpanggang. Maka beliau pun berselera hendak memakannya, lalu dikatakanlah kepada beliau, “Itu adalah daging biawak.” Dengan segera beliau menahan tangannya kembali. Khalid bertanya, “Apakah daging itu adalah haram?” beliau bersabda: “Tidak, akan tetapi daging itu tidak ada di negeri kaumku.” Beliau tidak melarang. Maka Khalid pun memakannya sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat. Malik berkata; Dari Ibnu Syihab; BIDLABBIN MAHNUUDZ (Biawak yang dipanggang).  (HR. Bukhari – 4981)

2. Khawatir akan memberatkan umatnya
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ قَالَ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya ia berkata, saya telah membacakan kepada Malik dari Ibnu Syihab dari Urwah dari Aisyah bahwasanya; Pada suatu malam (di bulan Ramadlan), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat di Masjid, lalu diikuti oleh beberapa orang sahabat. Kemudian (pada malam kedua) beliau shalat lagi, dan ternyata diikuti oleh banyak orang. Dan pada malam ketiga atau keempat mereka berkumpul, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak keluar shalat bersama mereka. Maka setelah pagi, beliau bersabda: “Sesungguhnya aku tahu apa yang kalian lakukan semalam. Tiada sesuatu pun yang menghalangiku untuk keluar dan shalat bersama kalian, hanya saja aku khawatir (shalat tarawih itu) akan diwajibkan atas kalian.” (HR. Bukhari – 1061 & Muslim – 1270)

3. Tidak terlintas di fikiran Rasulullah ﷺ
حَدَّثَنَا خَلَّادٌ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ أَيْمَنَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ
أَنَّ امْرَأَةً قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا أَجْعَلُ لَكَ شَيْئًا تَقْعُدُ عَلَيْهِ فَإِنَّ لِي غُلَامًا نَجَّارًا قَالَ إِنْ شِئْتِ فَعَمِلَتْ الْمِنْبَرَ

Telah menceritakan kepada kami Khallad berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahid bin Aiman dari Bapaknya dari Jabir bin ‘Abdullah, bahwa ada seorang wanita berkata, “Wahai Rasulullah, bolehkah aku buatkan sesuatu untuk Tuan, sehingga Tuan bisa duduk di atasnya? Karena aku punya seorang budak yang ahli dalam masalah pertukangan kayu.” Beliau menjawab: “Silakan, kalau kamu mau.” Maka wanita itu membuat sebuah mimbar.” (HR. Bukhari – 430)

4. Karena Rasulullah ﷺ lupa
حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ
صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةً فَلَا أَدْرِي زَادَ أَمْ نَقَصَ فَلَمَّا سَلَّمَ قِيلَ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ حَدَثَ فِي الصَّلَاةِ شَيْءٌ قَالَ لَا وَمَا ذَاكَ قَالُوا صَلَّيْتَ كَذَا وَكَذَا قَالَ فَثَنَى رِجْلَيْهِ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْ السَّهْوِ فَلَمَّا سَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ وَإِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلَاةِ فَلْيَتَحَرَّ الصَّلَاةَ فَإِذَا سَلَّمَ فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ

Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Ibrahim dari ‘Alqamah dari Abdullah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat satu kali namun aku tidak tahu apakah beliau menambah atau mengurangi. Ketika salam dikatakan kepada beliau; Wahai Rasulullah, apakah terjadi sesuatu dalam shalat? Beliau menjawab: “Tidak, apa itu?” mereka berkata; Engkau shalat ini dan itu. Ia berkata; Lalu beliau melipat kedua kakinya dilanjut dengan sujud sahwi dua kali, ketika salam beliau bersabda: “Sesungguhnya aku adalah manusia yang biasa lupa seperti kalian, apabila salah seorang dari kalian ragu dalam shalat, maka carilah (kepastian) shalat, maka apabila salam, hendaklah sujud dua kali.” (HR. Ahmad – 3420)

5. Khawatir orang arab tidak dapat menerima perbuatan Rasulullah  ﷺ
أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَلَّامٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ قَالَ أَنْبَأَنَا جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ رُومَانَ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهَا يَا عَائِشَةُ لَوْلَا أَنَّ قَوْمَكِ حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ لَأَمَرْتُ بِالْبَيْتِ فَهُدِمَ فَأَدْخَلْتُ فِيهِ مَا أُخْرِجَ مِنْهُ وَأَلْزَقْتُهُ بِالْأَرْضِ وَجَعَلْتُ لَهُ بَابَيْنِ بَابًا شَرْقِيًّا وَبَابًا غَرْبِيًّا فَإِنَّهُمْ قَدْ عَجَزُوا عَنْ بِنَائِهِ فَبَلَغْتُ بِهِ أَسَاسَ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَام
قَالَ فَذَلِكَ الَّذِي حَمَلَ ابْنَ الزُّبَيْرِ عَلَى هَدْمِهِ قَالَ يَزِيدُ وَقَدْ شَهِدْتُ ابْنَ الزُّبَيْرِ حِينَ هَدَمَهُ وَبَنَاهُ وَأَدْخَلَ فِيهِ مِنْ الْحِجْرِ وَقَدْ رَأَيْتُ أَسَاسَ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَام حِجَارَةً كَأَسْنِمَةِ الْإِبِلِ مُتَلَاحِكَةً

Telah mengabarkan kepada kami Abdur Rahman bin Muhammad bin Salam, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, ia berkata; telah memberitakan kepada kami Jarir bin Jazim, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Yazid bin Ruman dari ‘Urwah dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Wahai Aisyah, seandainya bukan karena kaummu dekat dengan masa jahiliyah niscaya saya akan memerintahkan untuk menghancurkan Ka’bah, kemudian saya masukkan kepadanya apa yang telah dikeluarkan darinya, dan saya tancapkan di Bumi, serta saya buat untuknya dua pintu, pintu timur dan pintu barat. Karena mereka tidak mampu untuk membangunnya, sehingga dengannya saya telah sampai kepada pondasi Ibrahim ‘alaihissalam.” Yazid berkata; itulah yang mendorong Ibnu Az Zubair untuk menghancurkannya. Yazid berkata; saya telah menyaksikan Ibnu Az Zubair ketika menghancurkan dan membangunkannya serta memasukkan hijir padanya. Dan saya lihat pondasi Ibrahim ‘alaihissalam berupa bebatuan seperti punuk-punuk unta yang saling melekat. (HR. Nasa’i – 2854)

6. Karena termasuk dalam makna ayat yang bersifat umum
وافعل الخير لعلكم تفبحون

“Dan berbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan.”

Rasulullah ﷺ tidak melakukan bukan berarti haram, tapi karena kebaikan-kebaikan itu bersifat umum. Patokannya adalah jika tidak bertentangan dengan syariat maka termasuk bid’ah hasanah. Jika bertentangan maka bid’ah dhalalah.

Mereka yang mudah membid’ahkan memakai kaida, “Jika tidak dilakukan Rasulullah ﷺ maka haram”. Pertanyaannya, adakah kaidah tersebut dalam ushul fiqih? Di atas saya sudah menyinggung bahwa tidak ada di kitab fiqih dan ushul fiqih manapun yang mencantumkan kaidah seperti itu. Kaidah haram ada tiga:
1. Nahyi (larangan/kalimat langsung), contohnya QS. Al-Isra’:72.
2. Nafy (larangan/kalimat tidak langsung), contohnya QS. An-Nisa:148.
3. Wa’id (ancaman keras), contohnya hadits: “Siapa yang menipu kami, maka bukanlah dari golongan kami.” (HR. Muslim)
Sedangkan at-tark (sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah ﷺ) tidak ada satupun aahli fiqih yang memasukkannya kedalam sesuatu yang diharamkan.

Dan yang diwasiatkan Rasulullah ﷺ adalah kerjakan apa yang beliau perintah, tinggalkan apa yang beliau larng. Tidak ada satu riwayatpun yang mengatakan untuk meninggalkan apa yang tidak beliau kerjakan.

Perkara yang tidak dilakukan Rasulullah ﷺ adalah asal. Hukum asalnya tidak ada suatu perbuatanpun yang datang belakangan. Maka at-tark tidak bisa disebut bisa menetapkan hukum. Karena banyak sekali perkara mandub (anjuran) dan perkara mubah yang tidak pernah dilakukan Rasulullah ﷺ. Jika semua yang tidak dilakukan Rasulullah ﷺ dihukumi haram, maka terhenti perkembangan kehidupan muslim saat ini.

Jalan keluatnya adalah sabda Rasulullah ﷺ,

حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ مُوسَى السُّدِّيُّ حَدَّثَنَا سَيْفُ بْنُ هَارُونَ عَنْ سُلَيْمَانَ التَّيْمِيِّ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ عَنْ سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ قَالَ
سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ السَّمْنِ وَالْجُبْنِ وَالْفِرَاءِ قَالَ الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ

Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Musa As Suddi telah menceritakan kepada kami Saif bin Harun dari Sulaiman At Taimi dari Abu Utsman An Nahdi dari Salman Al Farisi dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang minyak samin dan keju serta bulu binatang, beliau menjawab: “Yang halal adalah apa yang dihalalkan Allah di dalam kitab-Nya, dan yang haram adalah apa yang diharamkan Allah di dalam kitab-Nya, dan apa yang Dia diamkan adalah sesuatu yang Dia maafkan.” (HR. Ibnu Majah – 3358)

Dan banyak sekali kita temui contoh-contoh amalan sahabat ang tidak dilakukan Rasulullah ﷺ, akan tetapi ketika beliau tahu tidak lantas menyalahkan dan membid’ahkan, tapi justru memuji. Misal kebiasaan Bilal shalat sunnah setelah wudhu’, sahabat yang selalu mengawali bacaannya denga surat Al-Ikhlas, sahabat yang selalu mengakhiri bacaan dengan surat Al-Ikhlas dan lain-lain.

Tapi ada juga perbuatan sahabat yang dilarang Rasulullah ﷺ, karena bertentangan dengan sunnah (bukan perkara yang di diamkan). Contohnya, hadits yang menyebutkan tiga sahabat yang ingin shalat malam selamanya, ada yang ingin puasa sepanjang tahun, dan ada yang tidak ingin menikah. Kemudian Rasulullah ﷺ menegur mereka bahwa beliau tidak demikian, maka mereka dilarang melakukannya.

Kesimpulan

Yang menjadi dasar bukanlah pernah atau tidak pernah dilaakukan Rasulullah ﷺ, akan tetapi prinsipnya adalah apakah perbuatan tersebut melanggar syariat atau tidak. Jika melanggar maka bid’ah dhalalah, jika tidak maka bid’ah hasanah.

Wallahu a’lam.

Merayakan Ulang Tahun dan Hari Pernikahan

Assalamualaikum wr wb ustadz…. minta penjelasannya tentang :
1. hukum perayaan ulang tahun
2. hukum perayaan hari jadi pernikahan.

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Hukum merayakan milad.
Dalam hal ini, para ulama kontemporer berbeda pendapat.

📌 Pertama. HARAM.
Alasannya ini merupakan budaya kafir yg dilarang untuk diikuti. Jika diikuti maka tasyabbuh bil kuffar (menyerupai orang kafir). Apa pun cara dan wujudnya, maka tdk boleh, baik hari ultah manusia, lembaga, ormas, bahkan negara. Sehingga, jika yg pokoknya tidak boleh maka turunannya jg demikian, termasuk mengucapkan selamat, walau sdh dimodiv dengan doa-doa kebaikan. Bagi mereka itu merupakan mencampurkan haq dan batil.

Alasan lain karena Nabi, para sahabat, para imam madzhab tdk pernah menyontohkan bahkan tidak pernah membahasnya.

Ini dianut sebagian ulama Arab Saudi, dan yg mengikutinya, dan juga kelompok salafi.

📌 Kedua, BOLEH, dengan syarat. Mereka menolak cara pendalilan golongan pertama. Ini pendapat sebagian ulama Arab Saudi juga seperti Syaikh Salman Al Audah, atau Mufti Qathar seperti Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, dan lainnya.

Bagi mereka ini masalah duniawi, tidak terkait ibadah, yg hukum asalnya adalah mubah, kecuali ada dalil khusus yg melarang. Bagi mereka tidak ada dalil khusus yg melarangnya.
Lalu, alasan lainnya ayat:
wa basysyarnaahu bighulaamin haliim .. dan kami berikan kabar gembira kepada Ibrahim atas lahirnya anak yang penyabar.

Ayat ini menunjukkan bolehnya bergembira dengan kelahiran, dan tentunya berlaku juga dengan mengingat hari kelahiran.

Lalu, Nabi pernah ditanya tentang puasa hari senin, Beliau menjawab: itulah hari aku dilahirkan. (Hr. Muslim)

Jd, ini menunjukkan bolehnya mengingat hari kelahiran. Kalau pun, ini berasal dr Barat, mrk menganggap tidak apa-apa mengambil istilah dari luar Islam, tp isinya diganti dgn cara Islam. Hal ini pernah nabi lakukan, yaitu ketika nabi mengubah makna RUHBANIYAH/kependetaan yg telah dicela Allah dlm Al Quran. Jadi, walau istilah ini buruk, akhirnya oleh nabi istilah ini dipakai dgn isi yang diubah, sabdanya:
ar ruhbaniyatu fi ummati al jihad fisabilillah, kependetaan umatku adalah jihad fisabilillah.

Tp mereka memberi syarat: tidak boleh ada maksiat di dalamnya, meninggalkan yang wajib, hura-hura (nyanyi2), pemborosan, ikhtilat, tiup lilin, dan kejelekan lainnya.

Kalau isinya adalah mauizhah hasanah, atau hanya ucapan tahniah dan doa saja agar hidupnya berkah, sehat, dan semisalnya, tidak apa apa bagi mereka.

Wallahu a’lam.

Keutamaan Surat Yasin

Assalamu’alaikum warrahmatullohi wabaraktuh…
Afwan ana ingin bertanya mengenai hukum nya melaksanakan wirid yasin yg dilaksanakan secara rutin tiap malam jumat namun pelaksanaannya dilaksanakan di mesjid…..syukron

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Hadits pertama,

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ زُرَارَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ حَدَّثَنَا رَاشِدٌ أَبُو مُحَمَّدٍ الْحِمَّانِيُّ عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ قَالَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ مَنْ قَرَأَ يس حِينَ يُصْبِحُ أُعْطِيَ يُسْرَ يَوْمِهِ حَتَّى يُمْسِيَ وَمَنْ قَرَأَهَا فِي صَدْرِ لَيْلِهِ أُعْطِيَ يُسْرَ لَيْلَتِهِ حَتَّى يُصْبِحَ

Telah menceritakan kepada kami Amr bin Zurarah telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab telah menceritakan kepada kami Rasyid Abu Muhammad Al Himmani dari Syahr bin Hausyab ia berkata; Ibnu Abbas berkata; Barangsiapa yang membaca surat Yasin ketika berada di waktu pagi niscaya diberikan kepadanya kemudahan hari itu hingga ia berada di waktu sore, dan barangsiapa yang membacanya pada awal malam niscaya diberikan kepadanya kemudahan malam itu hingga ia berada di waktu pagi. (HR. Ad-Darimi – 3285)

Hadits kedua,

حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ شُجَاعٍ حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنِي زِيَادُ بْنُ خَيْثَمَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُحَادَةَ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ يس فِي لَيْلَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ غُفِرَ لَهُ فِي تِلْكَ اللَّيْلَةِ

Telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Syuja’ telah menceritakan kepadaku ayahku telah menceritakan kepadaku Ziyad bin Khaitsamah dari Muhammad bin Juhadah dari Al Hasan dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Yasin pada malam hari karena mengharap wajah Allah niscaya ia akan diampuni pada malam hari tersebut.” (HR. Ad-Darimi – 3283)

Hadits ke tiga,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ الْحَسَنِ بْنِ صَالِحٍ عَنْ هَارُونَ أَبِي مُحَمَّدٍ عَنْ مُقَاتِلِ بْنِ حَيَّانَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا وَإِنَّ قَلْبَ الْقُرْآنِ يس مَنْ قَرَأَهَا فَكَأَنَّمَا قَرَأَ الْقُرْآنَ عَشْرَ مَرَّاتٍ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Humaid bin Abdurrahman dari Al Hasan bin Shalih dari Harun Abu Muhammad dari Muqatil bin Hayyan dari Qatadah dari Anas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya setiap sesuatu memiliki hati dan sesungguhnya hati Al Qur’an adalah surat Yasin. Barangsiapa yang membacanya, maka ia seakan-akan telah membaca Al Qur’an sebanyak sepuluh kali.” (HR. Ad-Darimi – 3282) [At-Tirmidzi juga meriwayatkan hadits serupa, Sunan Tirmidzi nomor 2812]

Ibnu Katsir berkomentar dalam tafsirnya saat membahas surat ini (Yasin),

ولهذا قال بعض العلماء: من خصائص هذه السورة: أنها لا تقرأ عند أمر عسير إلا يسره الله وكأن قرآءتها عند الميت لتنزل الرحمة والبركة وليسهل عليه خروج الروح. وااله أعلم.

Oleh sebab itu sebagian ulama berkata: “di antara keistimewaan surat ini (Yasin), sesungguhnya tidaklah surat Yasin dibacakan pada suatu perkara sulit, melainkan Allah ﷻ memudahkannya. Seakan-akan dibacakannya surat Yasin di sisi mayat agar turun rahmat dan berkah, serta memudahkan baginya keluarnya ruh. Wallahu a’lam.” [Lihat Tafsir Al-Quran Al-Adhim juz VI hal. 561]

Berdasarkan hadits-hadits di atas dapat disimpulkan bahwa ​membaca surat Yasin pada malam hari (boleh malam Jum’at, Sabtu dst) dan waktu-waktu lainnya adalah baik​. Jika ada yang mengatakan haditsnya lemah dan sebagainya, mayoritas ulama sepakat bahwa mengamalkan hadits dhaif boleh sebagai fadhilah amal dan tidak menyangkut permasalahan aqidah, halal-haram, tidak terlalu dhaif, bernaung di bawah hadits shahih, tidak di yakini sebagai suatu ketetapan.

Wallahu a’lam.

Wali Nikah Anak Dari Luar Pernikahan

Assalamualaikum Ustadz.. saya mau tanya bagaimana hukumnya kalau ada anak lahir di luar pernikahan baru bbrp tahun kemudian ibu bapaknya menikah, siapa yang menjadi wali nikahnya anak tsb? Apakah wali hakim atau bapak kandungnya?
Pertanyaan dari A06

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
….(pertanyaan)

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ba’d:

Saya akan jawab secara ringkas, bahwa:

📌 Wali adalah salah satu rukun nikah, tanpa wali nikah tidak sah. Ini pandangan mayoritas ulama, kecuali menurut Abu Hanifah.

Nabi ﷺ bersabda:

أيما امرأة نكحت بغير إذن وليها فنكاحها باطل، فنكاحها باطل، فنكاحها باطل

Wanita mana pun yang menikah tanpa izin walinya, maka nikahnya itu batil (diulang 3x). 1)

📌 Anak yang dilahirkan dari perzinahan, maka ayah biologisnya tidak menjadi nasabnya sebab pada hakikatnya dia tanpa ayah,  namun dia dinasabkan kepada ibunya, sebagaimana ‘Isa bin Maryam yang lahir tanpa ayah, sesuai kehendak Allah ﷺ.

Imam Ibnu Rusyd Rahimahullan mengatakan:

واتفق الجمهور على أن أولاد الزنا لا يلحقون بآبائهم إلا في الجاهلية

Mayoritas ulama sepakat bahwa anak-anak zina tidaklah disandarkan kepada ayah-ayah mereka, kecuali yang terjadi pada masa jahiliyah.  2)

📌 Sehingga, ayahnya pun tidak bisa menjadi walinya jika anak itu (jika dia wanita) menikah.

📌 Jika tidak ada wali maka yang menjadi walinya adalah penguasa. Sesuai hadits berikut:

اَلسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ

“Sulthan (penguasa) adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali”.  3)

Penguasa itulah wali hakim, yakni petugas/pejabat yang ditunjuk oleh negara yakni KUA – Kantor Urusan Agama. Di negeri kita adalah penghulu.
Demikian. Wallahu A’lam

🌿🍃🌿🍃🌿🍃🌿

[1] HR. At Tirmidzi No. 1102, katanya: hasan, Ibnu majah No. 1879, Al Hakim No. 2706, katanya: shahih sesuai syarat Al Bukhari-Muslim, Ahmad No. 24417
[2] Imam Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, 2/358
[3] HR. Ahmad No. 25326, Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih. Lihat Ta’liq Musnad ahmad, 42/200.

Wallahu a’lam.

Multilevel Marketing

Assalamuallaikum Ustadz/ah..Ustadz  bagaimana hukumnya bisnis dg sistim MLM? Bolehkah, tolong penjelasannya? 

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Masalah bisnis MLM ini tidak bisa digeneralisir. Semua tergantung komitmen masing2 perusahaan MLM terhadap syariah. Bukan sekedar penamaan “MLM syariah”.

– Pd  dasarnya semua bentuk muamalah dan akad adalah sah dan boleh sampai ada dalil yang melarangnya (kullul asyyaa al ibaahah illa maa warada ‘anisy syaari’ tahriimuhu), termasuk MLM

– MLM pd dasarnya keumuman ayat: wa ahallallahul bai’a .. dan Allah halalkan jual beli

maka, selama tdk ada, atau bebas dari:

* barang dan jasa haram
* gharar(penipuan)
* dharar (bahaya)
* Zhulm (ada pihak yang dirugikan)
* unsur riba
* dua akad dalam 1 transaksi,

Maka, MLM boleh-boleh saja, asalkan para upline dan downline sama2 bekerja.

Jadi, secara global ada aspek:

1. Aspek barang dan jasa, ini harus jelas halalnya
2. Aspek mekanisme penjualannya, juga harus jelas  halalnya juga akadnya.

Pihak yg mengharamkan MLM beralasan ada unsur haram, yaitu satu transaksi ada dua akad. Akad jual beli dan ijarah/sewa jasa. Yaitu ketika anggota beli barang biasanya lebih murah dibanding bukan anggota. Maka “lebih murah” itu merupakan reward dari keanggotaannya, itulah akad keduanya yaitu dimurahkan krn jasanya sebagai anggota.

Sementara pihak yang membolehkan menganggap bahwa seseorang yg telah menjadi anggota, maka dia menjadi “pengiklan dan penawar” produk yg bisa menekan biaya produksi sperti iklan. Posisi seperti ini namanya SAMSARAH orangnya disebut SIMSAAR, bahasa kita adalah makelar atau perantara. Ini dibolehkan para salaf seperti Ibnu Abbas, Ibnu Sirin, Atha,  Al Bukhari, Ibrahim. (Fiqhus Sunnah, 3/159).

Jadi, dia mendapat murah bukan karena akad kedua dalam satu transaksi, tapi itu transaksi yang berbeda yaitu samsarah/makelar, dia ikut menjadi perantara antara produsen dan konsumen, sehingga wajar dia mendapat diskon, bonus, tip, atau istilah lainnya.

Perselisihan ini sangat wajar mengingat model ini adalah sistem kontemporer yang sangat mungkin beda sudut pandang.

Wallahu a’lam.

Kapan Sholat Dzuhur di Hari Jum’at??

Assalamualaikum ustadz/ ah.. Jika pada hari Jumat telah memasuki waktu sholat dzuhur bagi yg tdk menunaikan  sholat jumat di masjid apakah menunggu org yg sholat jumat selesei sholat/pulang dari masjid atau stlh adzan sdh boleh menunaikan sholat dzuhur?
Member 🅰0⃣2⃣

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Ibnu Mas’ud mengatakan: “Sesungguhnya shalat memiliki waktu khusus, sebagaimana haji juga memiliki waktu khusus.” (Tafsir Ibn Katsir, 2:403)

Waktu zuhur dimulai sejak zawal (matahari tergelicir ke arah Barat) sampai bayangan benda sama dengan tinggi bendanya. Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وقت الظهر إِذا زالت الشمس، وكان ظلّ الرجل كطوله، ما لم يحضُر العصر

“Waktu zuhur, sejak matahari tergelincir sampai bayangan orang sama dengan tingginya, sebelum masuk waktu asar.” (HR. Muslim).

“Wanita tidak wajib melaksanakan shalat Jum’at. Namun jika wanita melaksanakan shalat Jumat bersama imam shalat Jumat, shalatnya tetap dinilai sah. Jika ia shalat di rumahnya, maka ia kerjakan shalat Zhuhur empat rakaat. Ia boleh mulai mengerjakan shalat Zhuhur tadi setelah masuk waktu Zhuhur, yaitu setelah matahari tergelincir ke barat (waktu zawal). Dan sekali lagi dia tidak boleh laksanakan shalat jumat (di rumah) sebagaimana maksud keterangan sebelumnya.

Wallahu a’lam.

Suami Ucapkan Talak Dua Kali

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Seorang suami mengucap kt talak 2x apakah harus menikah lg klo dlm masa iddah itu sudah baikan? Apakah jatuh talak / tidak

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Ada 2 perbedaan :

Jika suami mentalak istrinya dengan ucapan: 
1. “Saya talak kamu tiga kali.”

2. “Saya talak kamu, saya talak kamu, saya talak kamu.”

Dalam hal ini terdapat perselisihan pendapat yang masyhur di kalangan para ulama.

🔅Imam Syafi’i berpendapat bahwa talak seperti ini hukumnya mubah dan dianggap talak tiga.

🔅Imam Malik,  Imam Abu Hanifah dan pendapat terakhir dari Imam Ahmad menyatakan bahwa talak ini dihukumi haram dan tetap dianggap talak tiga.

🔅Sedangkan ulama Zhohiri, Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnul Qayyim berpendapat bahwa talak tiga dalam sekali ucap dihukumi haram dan dianggap hanya satu talak (bukan tiga kali talak). Pendapat ini juga menjadi pendapat kebanyakan tabi’in. Pendapat terakhir inilah yang lebih kuat dengan alasan sebagai berikut:

Firman Allah Ta’ala,

الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ

“Talak (yang dapat kembali rujuk) dua kali” (QS. Al Baqarah: 229).

Yang dimaksud di sini adalah talak itu ada dua, artinya talak itu tidak sekali ucap. Jika jatuh talak, lalu dirujuk, setelah itu ditalak lagi, ini baru disebut dua kali. Artinya ada kesempatan untuk rujuk. Sedangkan talak tiga dalam sekali ucap tidak berlaku demikian dan berseberangan dengan aturan yang telah  Allah tetapkan.

Dari Thowus, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,

كَانَ الطَّلاَقُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبِى بَكْرٍ وَسَنَتَيْنِ مِنْ خِلاَفَةِ عُمَرَ طَلاَقُ الثَّلاَثِ وَاحِدَةً فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ إِنَّ النَّاسَ قَدِ اسْتَعْجَلُوا فِى أَمْرٍ قَدْ كَانَتْ لَهُمْ فِيهِ أَنَاةٌ فَلَوْ أَمْضَيْنَاهُ عَلَيْهِمْ. فَأَمْضَاهُ عَلَيْهِمْ.

“Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, lalu dua tahun di masa khilafah ‘Umar muncul ucapan talak tiga dalam sekali ucap. ‘Umar pun berkata, “Manusia sekarang ini sungguh tergesa-gesa dalam mengucapkan talak tidak sesuai dengan aturan Islam yang dulu pernah berlaku, yaitu talak itu masih ada kesempatan untuk rujuk. Karena ketergesa-gesaan ini, aku berharap bisa mensahkan talak tiga sekali ucap.” Akhirnya ‘Umar pun mensahkan talak tiga sekali ucap dianggap telah jatuh tiga kali talak.[3]

Hadits ini menunjukkan bahwa talak itu masih ada kesempatan untuk rujuk, tidak bisa langsung menjatuhkan tiga kali talak dan tidak ada rujuk sama sekali. Dan karena merajalelanya kebiasaan mentalak tiga sekaligus dalam sekali ucap, maka ‘Umar memutuskan dianggap tiga kali talak. Hal ini dilakukan ‘Umar agar orang tidak bermudah-mudahan dalam menjatuhkan talak tiga sekaligus. Namun sekali lagi, talak tetap masih ada kesempatan untuk rujuk.

Sekali lagi masalah ini adalah masalah ijtihadiyah (masih ada ruang ijtihad). Dari hadits Ibnu ‘Abbas di atas menunjukkan bahwa talak tiga dalam sekali ucap dianggap hanya jatuh satu dan dianggap talak roj’iy.

Dalam kasus di atas apakah suami mengucapkan talak tersebut dalam keadaan sadar atau tidak. Jika pengucapannya dengan niat dan sadar maka sudah jatuh talak kepada istrinya. Suami istri tersebut dapat rujuk kembali jika masih dalam masa idah. Berdasarkan firman Allah

Allah SWT berfirman:

وَالْمُطَلَّقٰتُ يَتَرَ بَّصْنَ بِاَنْفُسِهِنَّ ثَلٰثَةَ قُرُوْٓءٍ  ۗ  وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ اَنْ يَّكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللّٰهُ فِيْٓ اَرْحَامِهِنَّ اِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ۗ  وَبُعُوْلَتُهُنَّ اَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِيْ ذٰلِكَ اِنْ اَرَادُوْٓا اِصْلَاحًا  ۗ  وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِيْ عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۖ  وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ   ۗ  وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

“Dan para istri yang diceraikan (wajib) menahan diri mereka (menunggu) tiga kali quru’. Tidak boleh bagi mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahim mereka, jika mereka beriman kepada Allah dan hari Akhir. Dan para suami mereka lebih berhak kembali kepada mereka dalam (masa) itu jika mereka menghendaki perbaikan. Dan mereka (para perempuan) mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut. Tetapi para suami mempunyai kelebihan di atas mereka. Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 228)

Bisa rujuk kembali jika talak satu atau dua.

Dalam kasus tersebut penanya tidak menjelaskan apakah suami istri tersebut pernah bercerai sebelumnya atau tidak.

Wallahu a’lam.

Jin yang Menyukai Manusia

Assalaamu’alaikum wr.wb ustadz/ ah..
Saya mau tanya ustadz,Apakah benar bahwa ada jin yang menyukai manusia ?
jin yang menyukai manusia akan selalu menghalangi dalam hal jodoh ?
dan tanda-tandanya
Yaitu merasa pusing ktika masuk waktu asar ke atas
Serta merasa tertindih saat tidur tidak bisa bergerak.
Sering merasa lemas padahal tidak melakukan kegiatan apa-apa.
dan ada beberapa tanda lainya..

Lalu.. Bagaimana cara menghilangkan rasa suka jin terhadap manusia?
Manis-A22

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Ibu, kemungkinan jin menyukai manusia tentu bisa saja terjadi, bahkan terjadi pernikahan antara jin dan manusia telah terjadi dalam rentang sejarah sejak dahulu hingga hari ini.
Adapun jodoh adalah ketetapan dari Allah Swt., maka hendaknya seseorang dapat pro-aktif mencari jodohnya dengan berbagai cara yang disyariatkan dan bernilai mulia.

Di sisi lain, hendaknya manusia sentiasa menjaga dirinya dari gangguan jin yang jahat atau syaithon agar Allah Swt memudahkan seluruh urusannya. Untuk menjaga diri dari gangguan jin dan syaithan, hendaknya kita sentiasa membaguskan kualitas tauhid kita, dan memperbaharui konsep dasar-dasar keimanan kita. Ini adalah pondasi paling asasi.
Berikutnya hendaknya sentiasa meminta perlindungan Allah Swt dengan merutinkan wirid-wirid al-ma’tsurat baik di pagi dan petang hari. Ini menjadi agenda harian kita.

Adapun jika betul-betul nantinya membutuhkan bantuan dari pihak ketiga dapat menghubungi ustadz/ah terdekat.

Semoga Allah Swt melindungi kita dari bisikan, gangguan dan kejahatan syaithan. Perlakukanlah syaithan sebagai musuh, jangan pernah kita takuti.

Wallahu a’lam.