Menyedekahkan Barang Temuan

*Ustadz Menjawab*
_Selasa, 23 Agustus 2016_
🌿Ustadzah Ida Faridah
🌿🍁🌺🍄🍀🌷🌻🌹
Assalamu’alaikum ustadz/ustadzah,saya mau bertanya,saat mengantar suami ke airport,saya menemukan uang di jalan lumayan besar lalu saya ambil
Karna tdk tahu pemiliknya maka saya ambil,kata suami kasihkan aja ke kotak amal masjid,tp kata saya buat sopir taxi aja buat tips. Yg saya ingin tanyakan,apa lebih baik ke masjid atau ke sopir taxi jg tdk apa2,karena kan beramal bukan hanya ke masjid saja,sopir taxi jg kan membutuhkan,kadang suka senang klo dikasih tips,lalu apa dikasihnya harus semua atau 2,5%.syukron.. A.10
Jawaban
========
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Barang temuan (Luqatah) baik uang atau benda berharga lainnya harus d simpen dengan baik selama setahun dan harus di umukan di masyarakat. Di umumkan dengan cara sebutkan nama barang yang hilang tp tidak di sebutkan jumlah barang temuannya, cara ini dilakukan demi menjaga barang temuan itu tidak jatuh kepada orang yang tidak berhak
Jika sudah diumukan dan tidak di temukan siapa pemiliknya dan sudah mencapai setahun maka barang temuan itu menjadi hak penemu dan si pemilik baru ini dikenakan wajib zakat.
Zakat bagi barang temuan adalah 20%. Zakat diserahkan ke orang yang berhak.
Wallahu a’lam.
🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻
Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com
Ikuti Kami di:
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
💼Sebarkan! Raih Bahagia….

Perjodohan Terpaksa

*Ustadz Menjawab*
_Senin, 22 Agustus 2016_
*Ustadz DR Wido Supraha*
💐🌻🌷🌹 *PERJODOHAN TERPAKSA*
📬 Soal: “_Assalamu’alaikum ustadz… Apa hukumnya perjodohan terpaksa?_”
🔓 Jawab:
———–
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
“Ini bentuk pernikahan yang sebaiknya ditinggalkan. Menutup pintu keburukan jauh lebih utama dibandingkan menambah kebaikan.”
📌 Pernikahan adalah ibadah yang memiliki tujuan-tujuan besar, sehingga seluruh instrumen pendukungnya harus terlaksana. Perjodohan terpaksa yang kemudian masuk ke gerbang pernikahan dikhawatirkan akan menyulitkan tercapainya tujuan-tujuan besar pernikahan, dan lebih jauh dikhawatirkan akan menjauhkan manusia dari kebahagiaan sejati, bahkan lebih jauh dikhawatirkan mendorong manusia terjatuh ke dalam kemaksiatan.
🚨 Dijadikan pernikahan untuk melahirkan sakinah di hati kaum beriman. Keridhoan dalam amal ibadah akan mendorong lahirnya amal-amal ibadah berikutnya yang semoga diridhai-Nya
Wallahu a’lam.
📚 *Sumber* || Al-Qur’an dan As-Sunnah
🌍 *Telegram Channel: * @supraha || [#IslamIsBeautiful] 🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻
Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com
Ikuti Kami di:
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
💼Sebarkan! Raih Bahagia….

Bolehkah Panitia Qurban Mengambil Bagian?

*Ustadz Menjawab*
_Ahad, 21 Agustus 2016_
๐ŸŒพUstadz Noorahmat

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป

Assalamu’alaikum Ustadz/ah mau tanya..
Apakah panitia qurban diperbolehkan menerima bagian daging qurban seperti yg dibagikan kpd masyarakat?
Mohon segera dijawab. Karena sekarang menjadi perdebatan di kampung saya.
Jazakallohu

Jawaban:
———–

ูˆ ุนู„ูŠูƒู…  ุงู„ุณู„ุงู…  ูˆ  ุฑุญู…ุฉ  ุงู„ู„ู‡  ูˆ  ุจุฑูƒุงุชู‡ ุŒ
Terkait pembagian….
Jumhur menyampaikan bahwa pembagian qurban sebaiknya adalah sebagai berikut.
1/3 untuk dimakan yang melakukan qurban.
1/3 untuk disedekahkan.
1/3 untuk disimpan oleh yang melakukan qurban.

Dasarnya dari hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dalam shahih beliau.

“Makanlah, sedekahkanlah, dan simpanlah”. (HR Muslim No.1562)

Panitia Kurban bisa saja dimasukkan sebagai penerima sedekah walaupun penerima sedekah diutamakan fakir miskin di lingkungan dipotongnya hewan qurban.

Wallahua’lam.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

Ikuti Kami di:
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih Bahagia….

Pedagang Mengambil Untung 100% Lebih

*Ustadz Menjawab*
_Sabtu, 20 Agustus 2016_
🌾Ustadzah Suryanisah
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁 🌷
Pertanyaan dri I20:
Assalamu’alaikum..Afwan Ustadz/Ustadzah mau tanya, bagaimana hukumnya kalau dalam berdagang mengambil keuntungan lebih dari 100%?, bagaimana dalilnya?
Ini banyak pertanyaan seperti ini dan jawabannya juga beragam, jazakillah atas jawabannya.
Jawaban
———-
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Mencari keuntungan dalam berdagang itu diperbolehkan dan dibenarkan oleh syariat. Bahkan itu merupakan salah satu tujuan dalam berdagang. Jika seseorang berdagang namun ia sengaja merugi, maka ia telah keluar dari tujuan perdagangan. Demikian dinyatakan oleh Prof. DR. Wahbah Az-Zuhailiy dalam Tafsir Al-Munir, 5/31.
Allah berfirman,
إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ

“Kecuali dengan jalan perniagaan yang berdasarkan asas saling ridha di antara kamu.”
( Qs. An-Nisa`: 29)
وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”
( Qs. Al-Baqarah : 275)
Setelah para ulama sepakat bahwa mencari keuntungan merupakan salah satu tujuan perdagangan, mereka membahas tentang batas maksimal pengambilan keuntungan yang diperbolehkan oleh syariat.
Masih menurut Prof. DR. Wahbah Az-Zuhaili, pada dasarnya Islam tidak memiliki batasan atau standar baku tentang pengambilan laba atau keuntungan. Pedagang bebas menentukan laba yang diinginkan dari suatu barang. Hanya saja, keuntungan yang berkah adalah keuntungan yang tidak melebihi sepertiga harga modal.
Syaikh Fauzan bin Shalih al-Fauzan juga berpendapat, tidak ada batas keuntungan yang boleh diambil dalam penjualan. Karena Allah ta’ala menghalalkan jual beli tanpa mengkaitkannya dengan batas keuntungan tertentu.
Pernyataan dua ulama di atas selaras dengan hadits shahih berikut ini. Sahabat ’Urwah al-Bariqiy menyatakan bahwa Nabi saw pernah memintanya untuk membeli seekor kambing. Beliau memberinya uang 1 dinar untuk itu. Lantas ’Urwah membeli dua ekor kambing dengan uang 1 dinar itu dan menjual salah satunya seharga 1 dinar. Maka ia datang kepada Rasulullah dengan seekor kambing dan uang 1 dinar. Nabi pun mendoakan keberkahan baginya dalam transaksinya.
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam al-Bukhari, Imam Abu Dawud, dan Imam at-Tirmidziy.
Hadits di atas jelas-jelas memberitahukan bahwa ’Urwah mengambil keuntungan 100 %; ia membeli seekor kambing seharga ½ dinar dan menjualnya seharga 1 dinar. Dan hal itu tdk diingkari oleh Rasulullah. Sekiranya hal itu tidak diperbolehkan, niscaya Rasulullah saw mengingkarinya.
Juga selaras dengan riwayat yang menceritakan perdagangan yang pernah dilakukan oleh Zubair bin ’Awwam—salah seorang sahabat yang dijamin masuk jannah. Zubair pernah membeli sebidang tanah yang cukup luas di wilayah Madinah seharga 170.000, kemudian ia menjualnya dengan harga 1.600.000. Maknanya, Zubair mengambil keuntungan lebih dari 9 kali lipat dari harga.
Wallahu A’lam
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹
Dipersembahkan oleh:
website: http://www.iman-islam.com
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Facebook  : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
💼 Sebarkan! Raih pahala…

Qurban Sang Kepala Keluarga

*Ustadz Menjawab*
_Jum’at, 19 Agustus 2016_
๐ŸŒพ*Ustadz* *Farid Nu’Man*

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป

Assalamu’alaikum wrwb
Tanya tentang qurban:
Pernah dengar ada pendapat kalau qurbannya kepala keluarga bisa mewakili satu keluarga (istri, anak), jadi cukup yang berkorbannya sang ayah saja.
Atau sebaiknya qurban atas  nama diri sendiri?
Syukron, Member Manis ๐Ÿ…ฐ2โƒฃ8โƒฃ

๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu โ€˜Ala Rasulillah wa Baโ€™d:

Seseorang anggota keluarga yang memiliki seekor hewan qurban, lalu diatasnamakan untuk sekeluarganya, maka itu sah dan benar adanya.

Telah shahih bahwa Nabi ๏ทบ pernah berqurban dengan seekor kambing Kibasy, lalu Beliau mengatasnamakan dirinya, keluarganya, bahkan umatnya.

Sebagimana yang diriwayatkan dari โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha:

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุจูุงุณู’ู…ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุชูŽู‚ูŽุจู‘ูŽู„ู’ ู…ูู†ู’ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ูˆูŽุขู„ู ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ูˆูŽู…ูู†ู’ ุฃูู…ู‘ูŽุฉู ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุซูู…ู‘ูŽ ุถูŽุญู‘ูŽู‰ ุจูู‡ู

  โ€˜Nabi mengucapkan (sebelum menyembelih): โ€œBismillahi Allahumma taqabbal min Muhammadin wa Aali Muhammad wa  min  ummati Muhammadin (Dengan Nama Allah, Ya Allah terimalah Kurban dari Muhammad, *dari keluarga Muhammad* dan umat Muhammad),โ€ lalu beliau pun menyembelih.โ€ (HR. Muslim No. 1967)

  Sebenarnya Kibasy yang Nabi ๏ทบ qurbankan ada dua ekor, sebegaimana keterangan berikut:

ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุตูŽุญู‘ูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุถูŽุญู‘ูŽู‰ ุจููƒูŽุจู’ุดูŽูŠู’ู†ู ุฃูŽุญูŽุฏูู‡ูู…ูŽุง ุนูŽู†ู’ ู†ูŽูู’ุณูู‡ู ุŒ ูˆูŽุงู„ุขู’ุฎูŽุฑู ุนูŽู…ู‘ูŽู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูุถูŽุญู‘ู ู…ูู†ู’ ุฃูู…ู‘ูŽุชูู‡ู

  Telah shahih bahwa Rasulullah ๏ทบ berqurban dengan dua kambing Kibasy, yang satu untuk dirinya dan yang satunya lagi untuk umatnya yang belum berqurban. (Al Mausuโ€™ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 5/106)

  Lebih jelasnya tentangโ€dua ekor Kibasyโ€ itu adalah riwayat berikut:

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽู†ูŽุณู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุถูŽุญู‘ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุจููƒูŽุจู’ุดูŽูŠู’ู†ู ุฃูŽู…ู’ู„ูŽุญูŽูŠู’ู†ู ุฃูŽู‚ู’ุฑูŽู†ูŽูŠู’ู†ู ุฐูŽุจูŽุญูŽู‡ูู…ูŽุง ุจููŠูŽุฏูู‡ู ูˆูŽุณูŽู…ู‘ูŽู‰ ูˆูŽูƒูŽุจู‘ูŽุฑูŽ ูˆูŽูˆูŽุถูŽุนูŽ ุฑูุฌู’ู„ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุตูููŽุงุญูู‡ูู…ูŽุง

  โ€œDari Anas, dia berkata: โ€œNabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam berkurban dengan dua kambing Kibas berwarna putih dan bertanduk, dan memotong keduanya dengan tangannya sendiri, beliau menyebut nama Allah dan bertakbir, dan meletakkan kakinya di sisi Kibas tersebut (untuk mencengkram, pen). (HR. Al Bukhari No. 5565, Muslim No. 1966)

  Tertulis dalam Al Mausuโ€™ah tentang pandangan ulama Malikiyah:

ุชุฌุฒุฆ ุงู„ุฃุถุญูŠุฉ ุงู„ูˆุงุญุฏุฉ ุงู„ุชูŠ ูŠู…ู„ูƒู‡ุง ุดุฎุต ูˆุงุญุฏ ุฃู†ูŠุถุญูŠ ุจู‡ุง ุนู† ู†ูุณู‡ ูˆุนู† ุฃุจูˆูŠู‡ ุงู„ูู‚ูŠุฑูŠู† ูˆุฃูˆู„ุงุฏู‡ ุงู„ุตุบุงุฑ ุŒ ูˆูƒุฐู„ูƒ ูŠุฌุฒุฆ ุฃู† ูŠุถุญูŠ ุงู„ุฅู†ุณุงู† ุจุงู„ุฃุถุญูŠุฉ ุงู„ูˆุงุญุฏุฉ ุงู„ุชูŠ ูŠู…ู„ูƒู‡ุง ูˆุญุฏู‡ ู†ุงูˆูŠุง ุฅุดุฑุงูƒ ุบูŠุฑู‡ ู…ุนู‡ ููŠ ุงู„ุซูˆุงุจ ุŒ ุฃูˆ ู†ุงูˆูŠุง ูƒูˆู†ู‡ุง ูƒู„ู‡ุง ุนู† ุบูŠุฑู‡

  Telah sah satu hewan qurban yang dimiliki seseorang, denganya dia berqurban untuk dirinya, untuk kedua orangtuanya yang faqir, atau anak-anaknya yang kecil, dan demikian juga telah sah qurban seseorang yang satu hewan qurban yang dimiliki seseorang dengan niat adanya perkongsian pahala anyara dirinya dengan orang lain, atau dengan niat seluruhnya untuk orang lain. (Al Mausuโ€™ah, 5/82-83)

Wallahu Aโ€™lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป

Dipersembahkan Oleh:
www.imas-manis.com

Ikuti Kami di:
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page: https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter: https://twitter.com/grupmanis
Instragram: https://www.instragram.com/mejelismanis/
Play Store: https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih Bahagia….

Memotong Kuku dan Rambut Saat Berqurban

*Ustadz Menjawab*
_Rabu, 17 Agustus 2016_
🌾Ustadz Noorahmad
🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻
Assalamu’alaikum ustadz/ah..
ane masih ragu akan hadits larangan memotong kuku & rambut bagi orang yg hendak berkurban (larangan terhitung 1 dzulhijjah). Benarkah ه (‘ha’ dhomir itu) merujuk ke org yang berkurban bukan ke hewan kurbannya?
Pasalnya, anjuran memotong kuku & rambut dalam islam itu mensyaratkan kebersihan (bertentangan dgn larangan memotong kuku & rambut)
Mhn penjelasannya.
Jazakallah khairon
Jawaban
——–
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Lafazh shahih terkait hal ini diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh para imam hadits kecuali Imam Bukhari yaitu dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha,
إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِى الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ
“Jika kalian telah menyaksikan hilal Dzul Hijah (maksudnya telah memasuki satu Dzulhijah, pen) dan kalian ingin berqurban, maka hendaklah shohibul qurban membiarkan (artinya tidak memotong) rambut dan kukunya.”
Dalam lafazh lainnya,
مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فَإِذَا أُهِلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ
“Siapa saja yang ingin berqurban dan apabila telah memasuki awal Dzulhijah (1 Dzulhijah), maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sampai ia berqurban.”
Dari lafadz tersebut terdapat iktilaf diantara empat madhab utama ahlussunnah wa jama’ah.
Jumhur Hanafiyyah menyatakan tidak makruh sehingga boleh mencukur tanpa masalah
Hanafiyyah muta’akhirin menyatakan aktifitas mencukur termasuk meninggalkan yang mustahab (khilaful aula).
Malikiyyah dan Syafi’iyyah menyatakan bahwa disunnahkan tidak mencukur dan bilapun terlanjur tidak termasuk haram, hanya sebatan makruh tanzih.
Hanabaliyyah mengambil makna dzhahir hadits diatas yang mengarah pada keharaman memotong atau mencukur bagi infdividu yang hendak berkurban.
Untuk kita generasi muta’akhirin, sikap kehati-hatian tetap didahulukan sembari tetap menjaga soliditas barisan ummat dan mengembalikan kepada nash beserta tafsirannya yang sesuai kaidah pentafsiran yang telah dibakukan diantara ulama hadits generasi awal.
Wallahua’lam.
🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻
Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com
Ikuti Kami di:
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
💼Sebarkan! Raih Bahagia….

Menitipkan Anak Untuk Diasuh Orang Lain

*Ustadz Menjawab*
_Selasa, 16 Agustus 2016_
🌾Ustadzah Nurdiana
🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻
Assalamu’alaikum ustadz, ustadzah saya mau bertanya bagaimana jika perempuan sudah menikah, lalu punya anak, anaknya dititipkan kepada ibundanya untuk mengasuh anaknya setiap hari dan memberikan uang bulanan kepada ibunya karena mengasuh anaknya tersebut. Sedangkan ibu dari anak itu bekerja kantoran hanya menyempatkan bertemu dgn anak seminggu dua kali. Krn jarak antara orangtuanya dan ibu dari anak itu jauh. Mohon penjelasannya. Terima kasih.
Jawaban
————–
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Mendidik anak adalah kewajiban bagi kedua orang tuanya, karena anak adalah amanah dan sekaligus investasi masa depan yang paling berharga.
Sayang banyak orang tua yang belum atau kurang memahami tentang tanggung jawabnya sebagai ortu, sehingga dengan alasan pekerjaan, karir akhirnya anak di nomor dua kan.
Untuk pertanyaan diatas ini perlu kita bedah satu persatu. Pertama,niat nitip anaknya? Kedua ortu sbg pengasuh terbebani atau terhibur?
Kalau jawaban pertama niatnya supaya anaknya bisa dididik oleh nenek secara baik karena pemahaman nenek bagus.
Jawaban pertanyaan kedua, nenek suka dan terhibur krn cucu, dalam islam hukumnya *Boleh*.
Tapi kalau jawaban pertanyaan pertama, semata- mata karir, mengejar dunia saja dan jawaban pertanyaan kedua nenek terbebani, hukumya *Dosa* karena dzolim ke anak dan ke orangtua.
Wallahu a’lam.
🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻
Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com
Ikuti Kami di:
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
💼Sebarkan! Raih Bahagia….

Pakaian Ihram Beraroma Wangi Deterjen

*Ustadz Menjawab*
_Senin, 15 Agustus 2016_
🌾Ustadzah Nurdiana
🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻
Assalamu’alaikum ustadz/ah..mau tanya terkait ketika kita pakai baju ihram. diantaranya tdk boleh pakai wangi2an, bagaimana jika wanginya itu karna bau detergen, molto dan kisprai.karna baju abis dicuci dng bahan tersebut ?  #A12
Jawaban
———-
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Berdasarkan hadits Nabi saw. yang
diriwayatkan oleh Ibnu Umar r.a.,
“Dan, janganlah kamu mengenakan pakaian yang dicelup dengan ra’faran (kumkuka) atau dengan waras (sebangsa celupan berwarna merah).”
(Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari III:401 no: 1542, Muslim II:834 no: 117, ‘Aunul Ma’bud V:269 no:1806, dan Nasa’i V:129).        
Dan, sabda Rasulullah saw. tentang seorang yang berihram yang terlempar dari atas untanya hingga wafat,
”Janganlah kalian memulurinya (dengan balsam) agar tetap awet dan jangan (pula) menutup kepalanya; karena sesungguhnya dia akan dibangkitkan pada hari kiamat (kelak) dalam keadaan membaca talbiyah.” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari III:135 no:265, Muslim II:865 no:1206, ’Aunul Ma’bud IX:63 no:3222-3223, dan Nasa’i V:196).
Kalau merujuk ke hadits yang di Atas, sebaiknya tidak memakai kispray atau molto secara berlebihan kalau ala kadarnya supaya aroma pakaian tidak bau masih di bolehkan, asal jangan harumnya menebar, tercium.
Wa Allahu A’lam
🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻
Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com
Ikuti Kami di:
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
💼Sebarkan! Raih Bahagia….

Hukum Silaturahim ke Mertua

Ustadz Menjawab Kamis, 14 Juli 2016

๐Ÿ’ปUstadzah Menjawab
โœUstadzah Dra. Indra Asih

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒป๐Ÿ€๐Ÿ„๐ŸŒธ

Assalamu’alaikum ustadz/ah..
Bagaimana hukumnya bila seorang menantu tidak mau silahturahim kepada ibu mertua nya, jika pihak ibu mertua dan keluarganya yg pernah membuat keluarga menjadi sangat kecewa,  dan itu sangat membekas buat sang istri ,dan anak2 ,nampaknya istri ini belum bisa Menerima dengan kejadian ini semua. ๐Ÿ…ฐ2โƒฃ5โƒฃ

๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด
Jawaban__

ูˆ ุนู„ูŠูƒู…  ุงู„ุณู„ุงู…  ูˆ  ุฑุญู…ุฉ  ุงู„ู„ู‡  ูˆ  ุจุฑูƒุงุชู‡ ุŒ
Ketika seorang wanita telah sah untuk bersanding dengan seorang laki-laki, maka statusnya berubah menjadi seorang istri. Dan kewajiban sebagai seorang istri ialah mentaati suaminya. Termasuk untuk tinggal dan mengikuti segala aturannya, selama itu masih berada dalam tuntunan syariat Islam. Bukan hanya berlaku baik terhadap suami, sang istri pun harus berperilaku baik pula pada keluarga suami, termasuk kedua orang tuanya, yang menjadi mertua bagi istri.

Seorang istri wajib menaati suami dalam perkara-perkara yang tidak mengandung maksiat kepada Allah. Syariat telah memberikan dorongan yang kuat kepada istri untuk menaati suami, serta memperingatkannya dari tidak mentaatinya dalam perkara-perkara yang ia bisa taat kepadanya.

Dalam Al-Musnad dan Shahih Ibnu Hibban disebutkan bahwa Nabi SAW bersabda, โ€œJika seorang wanita telah mengerjakan shalat lima waktu, berpuasa satu bulan, menjaga kehormatannya dan mentaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya, โ€˜Masuklah kamu ke dalam surga dari pintu-pintu surga mana saja yang kamu kehendakiโ€™.โ€

Dalam Al-Musnad, Shahih Ibnu Hibban dan Al-Mustadrak disebutkan bahwa Nabi bersabda, โ€œSeandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain (selain Allah), sungguh aku akan memerintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya.โ€

Dalam kitab Ash-Shahih diriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, โ€œMaukah kalian aku kabarkan tentang dosa yang paling besar? Yaitu, menyekutukan Allah dan mendurhakai kedua orang tua.โ€ Kemudian beliau duduk setelah sebelumnya bersandar dan bersabda, โ€œKetahuilah, juga perkataan sia-sia.โ€ Beliau terus menerus mengulanginya hingga kami bergumam, โ€œSekiranya beliau berhenti.โ€

Di antara sempurnanya ketaatan istri kepada suami ialah hendaknya ia berbuat baik kepada kedua orang tua suami, berbakti kepada keduanya, tidak berlaku buruk pada keduanya, serta bersabar terhadap apa yang muncul dari keduanya. Semua itu dilakukan demi meraih ridha suami agar dengan itu ia memperoleh pahala dari Allah.

Pahala memaafkan
Hendaknya seorang mengetahui pahala yang disediakan oleh Allah taโ€™ala bagi orang yang memaafkan dan bersabar (terhadap tindakan orang lain yang menyakitinya). Hal ini dinyatakan dalam firman-Nya,

ูˆูŽุฌูŽุฒูŽุงุกู ุณูŽูŠู‘ูุฆูŽุฉู ุณูŽูŠู‘ูุฆูŽุฉูŒ ู…ูุซู’ู„ูู‡ูŽุง ููŽู…ูŽู†ู’ ุนูŽููŽุง ูˆูŽุฃูŽุตู’ู„ูŽุญูŽ ููŽุฃูŽุฌู’ุฑูู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุง ูŠูุญูุจู‘ู ุงู„ุธู‘ูŽุงู„ูู…ููŠู†ูŽ

โ€œDan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.โ€
(QS. Asy Syuura: 40).

Ditinjau dari segi penunaian balasan, manusia terbagi ke dalam tiga golongan, yaitu :
[1] Golongan yang zalim karena melakukan pembalasan yang melampaui batas.
[2] Golongan yang moderat yang hanya membalas sesuai haknya.
[3] Golongan yang muhsin (berbuat baik) karena memaafkan pihak yang menzalimi dan justru meninggalkan haknya untuk membalas.
 Allah taโ€™ala menyebutkan ketiga golongan ini dalam ayat di atas, bagian pertama bagi mereka yang moderat, bagian kedua diperuntukkan bagi mereka yang berbuat baik dan bagian akhir diperuntukkan bagi mereka yang telah berbuat zalim dalam melakukan pembalasan (yang melampaui batas).

(Hendaknya dia juga) mengetahui panggilan malaikat di hari kiamat kelak yang akan berkata,

ุฃูŽู„ุงูŽ ู„ููŠูŽู‚ูู…ู’ ู…ูŽู†ู’ ูˆูŽุฌูŽุจูŽ ุฃูŽุฌู’ุฑูู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู

โ€œPerhatikanlah! Hendaknya berdiri orang-orang yang memperoleh balasan yang wajib ditunaikan oleh Allah!โ€

(Ketika panggilan ini selesai dikumandangkan), tidak ada orang yang berdiri melainkan mereka yang (sewaktu di dunia termasuk golongan) yang (senantiasa) memaafkan dan bersabar (terhadap gangguan orang lain kepada dirinya).

Apabila hal ini diiringi  dengan pengetahuan bahwa segala pahala tersebut akan hilang jika dirinya menuntut dan melakukan balas dendam, maka tentulah dia akan mudah untuk bersabar dan memaafkan setiap pihak yang telah menzaliminya termasuk mertua

ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูŠูุญูุจู‘ู ุงู„ู’ู…ูุญู’ุณูู†ููŠู†ูŽ

โ€œAllah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.โ€
(QS. Ali Imran: 134).

(Dengan melaksanakan perbuatan di atas), dirinya pun menjadi pribadi yang dicintai Allah. Kondisi yang dialaminya layaknya seorang yang kecurian satu dinar, namun dia malah menerima ganti puluhan ribu dinar. (Dengan demikian), dia akan merasa sangat gembira atas karunia Allah yang diberikan kepadanya melebihi kegembiraan yang pernah dirasakannya.

ูˆูŽู…ูŽุง ุฒูŽุงุฏูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽุจู’ุฏู‹ุง ุจูุนูŽูู’ูˆู ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุนูุฒู‘ู‹ุง

โ€œKemuliaan hanya akan ditambahkan oleh Allah kepada seorang hamba yang bersikap pemaaf.โ€

(Berdasarkan hadits di atas) kemuliaan yang diperoleh dari sikap memaafkan itu (tentu) lebih disukai dan lebih bermanfaat bagi dirinya daripada kemuliaan yang diperoleh dari tindakan pelampiasan dendam. Kemuliaan yang diperoleh dari pelampiasan dendam adalah kemuliaan lahiriah semata, namun mewariskan kehinaan batin.
(Sedangkan) sikap memaafkan (terkadang) merupakan kehinaan di dalam batin, namun mewariskan kemuliaan lahir dan batin.

Wallahu a’lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐Ÿ„๐ŸŒธ๐ŸŒป๐ŸŒท๐ŸŒน

Dipersembahkam oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih Bahagia…

Bagaimana Perhitungan Zakat Profesi???

๐Ÿ‘ณUstadz Menjawab๐Ÿ‘ณ
โœUst. Rikza Maulana Lc.M.Ag

๐Ÿ“†Kamis, 17 Juni 2016 M
                  12 Ramadhan 1437H

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Assalamuallaikum wr wb Ustadz,
Apakah zakat profesi harus dikeluarkan dengan perhitungan :

A. 2.5% ร— gross income

Atau

B.  2.5%ร— gross – hutang?

Mungkin memang ada perbedaan pendapat yang boleh di share untuk pengetahuan kami.Jazakumullah khairan katsiran. ๐Ÿ…ฐ0โƒฃ8โƒฃ
       
๐ŸŒฟ Jawabannya  

 ูˆ ุนู„ูŠูƒู…  ุงู„ุณู„ุงู…  ูˆ  ุฑุญู…ุฉ  ุงู„ู„ู‡  ูˆ  ุจุฑูƒุงุชู‡ ุŒ
Zakat dikeluarkan setelah dikurangi hutang.Namun hutang yang dimaksud adalah hutang yg jatuh tempo pada saat tersebut,bukan akumulasi hutang secara keseluruhan. Misal,punya cicilan pembiayaan rumah, perbulan Rp 3 Juta. Maka,dikurangi dulu dari penghasilan brutonya,utk membayar hutangnya. Lalu baru sisanya di kalikan 2,5%.
Wallahu A’lam                        

——————–

๐ŸŒUstadzah Menjawab
โœUstadzah Ida Faridah, S.Pd.I

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐Ÿ„๐ŸŒป๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน

Assalaamu ‘alaikum wrwb…
Mohon materi pencerahan tentang zakat profesi.
Syukron bapak/ibu ustadz/ustadzah..

[A13] ——

JAWABAN:

ูˆ ุนู„ูŠูƒู…  ุงู„ุณู„ุงู…  ูˆ  ุฑุญู…ุฉ  ุงู„ู„ู‡  ูˆ  ุจุฑูƒุงุชู‡ ุŒ
Zakat profesi termasuk zakat mal, yaitu al-mal al-mustafaad (kekayaan yg d peroleh oleh seorang muslim melalu bentuk usaha baru yang sesuai dengan syari’at islam). Adapun profesi baru yang d maksud adalah dokter, insinyur, dan pengacara. Para ulama sepakat bahwa harta pendapatan wajib di keluarkan zakatnya apabila mencapai batas nisab. Adapun nisabnya sama dengan nisab uang, dengan kadar zakat 2,5%

Dalam harta profesi ini, para ulama berbeda pendapat dalam hasil pendapatan.

โœ’Abu Hanifah mengatakan, harta pendapatan itu di keluarkan zakatnya apabila mencapai masa setahun penuh kecuali jika pemiliknya mempunyai harta sejenis. Untuk itu harta penghasilan di keluarkan pada permulaan tahun dengan syarat sudah mencapai batas nisab

โœ’Imam Malik berpendapat bahwa zakat dari harta penghasilan tidak di keluarkan sampai satu tahun penuh, baik harta itu sejenis dengan harta pemiliknya atau tidak sejenis.

โœ’Imam Syafe’i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa zakat dari harta penghasilan itu di keluarkan bila mencapai waktu satu tahaun meskipun ia memiliki harta sejenis yang sudah cukup nisab.
Wallahu a’lam.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐Ÿ„๐ŸŒป๐ŸŒผ๐ŸŒท๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia…