Dosa Syirik (Edisi Lengkap)


Assalamu’alaikum ustadz/ustadzah. Mohon penjelasan dosa yang tidak diampuni meski sudah bertaubat yaitu salah satunya adalah syirik, menduakan Allaah. Benarkah dosa tersebut tidak diampuni Allaah meskipun sudah bertaubat dan menghilangksn kesyirikannya tsb? Jazakumullah…
🅰4⃣3⃣

Jawaban
———–

و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Allah berfirman :
إِنَّ اللَّـهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ ۚ وَمَن
يُشْرِكْ بِاللَّـهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisaa’: 116)

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisaa’: 48)

Bahwa segala dosa dapat diampuni Allah bagi siapa yang Allah kehendaki, tapi dosa mempersekutukan yang lain dengan Dia, tidaklah dapat Allah mengampuni.

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya berkata, “Allah Ta’ala tidak akan mengampuni dosa syirik yaitu ketika seorang hamba bertemu Allah dalam keadaan berbuat syirik.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, terbitan Dar Ibnul Jauzi, 3: 129).

Maksud ayat ini kata Ibnul Jauzi yaitu Allah tidak akan mengampuni pelaku syirik (musyrik) yang ia mati dalam kesyirikan (Lihat Zaadul Masiir, 2: 103). Ini berarti jika sebelum meninggal dunia, ia sudah bertaubat dan menyesali kesyirikan yang ia perbuat, maka ia selamat.

Yang dimaksud dengan “mengampuni” dalam ayat di atas bermakna, Allah akan menutupi dan memaafkan. Jika dikatakan bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa syirik berarti Allah tidak akan memaafkan dan menutupi orang yang berbuat syirik pada-Nya. Syirik yang dimaksudkan di sini adalah syirik dalam rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat. Karena mentauhidkan Allah adalah seutama-utamanya kewajiban. Sehingga jika ada yang berbuat syirik (sebagai lawan dari tauhid), maka Allah tidak akan mengampuninya berbeda dengan perbuatan maksiat lainnya.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Qosim rahimahullah berkata, “Jika seseorang mati dalam keadaan berbuat syirik tidak akan diampuni, maka tentu saja ini menunjukkan bahwa kita mesti sangat khawatir terhadap syirik karena begitu besarnya dosa tersebut di sisi Allah.  (Hasyiyah Kitab Tauhid, hal. 48).

Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh rahimahullah berkata, “Syirik adalah dosa yang amat besar karena Allah sampai mengatakan bahwa Dia tidak akan mengampuninya bagi siapa yang tidak bertaubat dari dosa syirik tersebut. Sedangkan dosa di bawah syirik, maka itu masih di bawah kehendak Allah. Jika Allah kehendaki ketika ia berjumpa dengan Allah,  maka bisa diampuni. Jika tidak, maka ia akan disiksa. Jika demikian seharusnya seseorang begitu takut terhadap syirik karena besarnya dosa tersebut di sisi Allah.” (Fathul Majid, hal. 85).

Ayat yang kita kaji berisi ajaran penting, yaitu agar kita waspada terhadap kesyirikan.

Syirik begitu berbahaya sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat lainnya,

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al An’am: 88).

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar: 65).

Dalam hadits dari Jabir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ مَاتَ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ

“Barangsiapa yang mati dalama keadaan tidak berbuat syirik pada Allah dengan sesuatu apa pun, maka ia akan masuk surga. Barangsiapa yang mati dalam keadaan berbuat syirik pada Allah, maka ia akan masuk neraka” (HR. Muslim no. 93).
[12/20, 10:38 PM] Novria Manis: padaa kasus orang syirik maka supaya Allah mengampuni dosanya yaitu dengan meninggalkan syirik yaitu dengan mengucapkan syahadat kembali karena demgan melakukan kesyirikan otomatis orang tersebut sudah keluar dari islam :

أَشْهَدُ أَنْ لَآ اِلَهَ إِلَّا اللهُ, وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

Kemudian membuat penyesalan atas perbuatan syirik yang selama ini dipertahankan, dan tanamkan niat dan cita-cita yang kuat untuk tidak kembali kepada kemusyrikan.
Firman Allah SWT pada QS. 8:38

 “Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu”.

Orang-orang kafir atau musyrik yang tidak diampuni dosanya sebagaimana yang disebutkan pada surat Annisa ayat 48 dan 116 adalah orang kafir dan musyrik yang mati dalam kekafiran dan kemusyrikannya, artinya bahwa ia mati sebelum sempat bertaubat.

Adapun jika ia sempat bertaubat dengan syarat-syarat yang telah tersebut diatas maka dosanya tetap diampuni dan dimaafkan, inilah maksud firman Allah pada (Qs.4:153

Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: “Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata”. Maka mereka disambar petir karena kedzalimannya, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami maafkan (mereka) dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata.) Dan diperjelaskan dengan sangat jelas pada Qs.25:68-71 :Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya). (yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina. kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertobat dan mengerjakan amal shaleh, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Membaca Al-Quran dengan Suara Nyaring


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Ustadz mau tanya tentang hukum baca alquran dengan suara terdengar nyaring, soalnya saya pernah di tegur kaka ipar ketuka lagi tilawah katanya tidak boleh bersuara
Adakah hujjahnya tentang hal itu?
Jazakalloh khoir usatad

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Bismillah wal Hamdulillah ..
Jika membaca Al Qur’an dengan suara keras memang ada maslahat, orang lain bisa mengambil manfaat, atau dalam keadaan mengajar, tidak apa-apa.

Dalam hal ini dalilnya banyak:

– Abu Musa Al Asy’ari membaca Al Qur’an dengan suara merdu, Nabi ​Shallallahu’Alaihi wa Sallam​ mendengarkannya tanpa sepengetahuannya, dan Beliau pun memuji dengan kalimat:

لَقَدْ أُوْتِيْتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيْرِ أَهْلِ دَاوُدَ

“Sungguh engkau telah diberi seruling di antara seruling-seruling keluarga Nabi Daud.” (HR. Bukhari dan Muslim)

▪ Abu Hurairah ​Radhiyallahu ‘Anhu​ berkata, bahwa Nabi ​Shallallahu’Alaihi wa Sallam​ bersabda:

ما اذن اللهُ بِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيِّ حُسْنَ الصَّوْتِ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ يُجْهِرُ بِهِ

​“Allah tidak memberi izin terhadap suatu perbuatan sebagaimana Nabi diizinkan membaguskan suara dalam melagukan Al-Qur’an secara JAHR (nyaring).”​ (HR. Bukhari dan Muslim)

▪ Nabi ​Shallallahu’Alaihi wa Sallam​ pun pernah meninggikan suara dengan merdu saat membaca Al Qur’an, dan para sahabat mendengarkannya.

Abdullah bin Al Mughaffal ​Radhiyallahu ‘Anhu​ berkata:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ عَلَى نَاقَتِهِ يَقْرَأُ سُورَةَ الْفَتْحِ
قَالَ فَقَرَأَ ابْنُ مُغَفَّلٍ وَرَجَّعَ فَقَالَ مُعَاوِيَةُ لَوْلَا النَّاسُ لَأَخَذْتُ لَكُمْ بِذَلِكَ الَّذِي ذَكَرَهُ ابْنُ مُغَفَّلٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Pada hari Fathu Makkah, saya melihat Rasulullah ​Shallallahu ‘Alaihi wa sallam​ di atas untanya membaca surat Al Fath. Ibnu Mughaffal pun membacanya dan mengulangi bacaannya kembali. Kemudian Mu’awiyah berkata, “Sekiranya bukan karena (akan berkumpulnya) manusia, niscaya saya melakukan seperti yang telah disebutkan oleh Ibnu Mughaffal dari Nabi ​Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam​.” (HR. Muslim)

Dan masih banyak kisah lainnya. Semua ini menunjukkan mengeraskan suara saat membaca Al Qur’an, tentu dengan indah dan tartil, adalah perbuatan yang boleh bahkan dilakukan oleh orang-orang utama.

Hanya saja, mengeraskan suara menjadi TERLARANG, jika sampai mengganggu orang lain, baik sedang shalat, dzikir, atau tilawah Al Quran juga.

Berikut ini dalilnya:

▪ Diriwayatkan dari Al Bayadhi:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى النَّاسِ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَقَدْ عَلَتْ أَصْوَاتُهُمْ بِالْقِرَاءَةِ فَقَالَ إِنَّ الْمُصَلِّي يُنَاجِي رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَلْيَنْظُرْ مَا يُنَاجِيهِ وَلَا يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ بِالْقُرْآنِ

“Bahwa Rasulullah ​Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam​ keluar menuju mesjid dan manusia sedang shalat, mereka meninggikan suara mereka dalam membaca Al Quran, maka Nabi bersabda: “Sesungguhnya orang yang shalat adalah orang sedang bermunajat dengan Rabb-nya ‘Azza wa Jalla maka konsentrasilah dengan munajatnya itu! Dan janganlah kalian saling mengeraskan suara dalam membaca Al Quran.” (HR. Ahmad No. 19022. Syaikh Syu’aib Al Arna-uth mengatakan: shahih. Ta’liq Musnad Ahmad No. 19022)

Dari Abu Said al Khudri ​Radhiallahu ‘Anhu​:

اعْتَكَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ فَسَمِعَهُمْ يَجْهَرُونَ بِالْقِرَاءَةِ فَكَشَفَ السِّتْرَ وَقَالَ أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَلَا يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ أَوْ قَالَ فِي الصَّلَاةِ

“Rasulullah ​Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam​ i’tikaf di masjid, beliau mendengar manusia mengeraskan suara ketika membaca Al Quran, maka dia membuka tirai dan bersabda: “ Ketahuilah sesungguhnya setiap kalian ini bermunajat kepada Rabbnya, maka jangan kalian saling mengganggu satu sama lain, dan jangan saling tinggikan suara kalian dalam membaca Al Quran atau di dalam shalat.” (HR. Abu Daud No. 1334, Ibnu Khuzaimah No. 1162, Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No. 4216, dll. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani, Syaikh Salim Husein Asad, Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

​📚 Kesimpulan:​

☘ Syaikh Sayyid Sabiq ​Rahimahullah​ mengatakan:

يحرم رفع الصوت على وجه يشوش على المصلين ولو بقراءة القرآن. ويستثنى من ذلك درس العلم.
​“Diharamkan mengeraskan suara (dimasjid) hingga menyebabkan terganggunya orang shalat walau pun yang dibaca itu adalah Al Quran, dikecualikan bagi yang sedang proses belajar mengajar Al Quran.”​ ​(Fiqhus Sunnah, 1/251)​

☘ Syaikh Abdul Aziz bin Baaz ​Rahimahullah​ berkata:

رفع الصوت بالقراءة إذا كان فيه مصلحة؛ لأن هناك من يستمع، وهم كثيرون، فيرفع الصوت حتى يبلغهم هذا مطلوب، أما إذا كان رفع الصوت قد يشوش على المصلين أو القراء لا، يخفض صوته لا يشوش على الناس

​Meninggikan suara saat membaca Al Qur’an jika mengandung maslahat, karena ada yang mendengarkan dan mereka banyak, maka meninggikan suara hingga sampai kepada mereka justru diperintahkan. Tapi, jika itu mengganggu orang shalat atau orang yang sedang membaca Al Qur’an, maka tidak boleh. Hendaknya dia merendahkan suaranya jangan sampai mengganggu manusia.​ (selesai)
Demikian.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Poligami….


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
afwan mau bertanya..saat ini kondisi saudara saya sedang lemah. Suaminya bersikeras ingin poligami atas dasar iba dg wanita lain teman kerja..janda anak 2, masih muda dan punya usaha sendiri. suaminya iba karena sering mendengar curhatan perempuan tsb. hingga memutuskn untuk menghalalkn hubungannya saja. suaminya selalu mendoktrin istrinya untuk menerima niatan poligaminya dg alasan..”ingin memberikan jannah untuk istrinya tsb”. istrinya orang baik, walaupun dia merasa sangat sakit bahkan sudah tak terasa air matanya sering menetes akhirnya mengizinkan suaminya berpoligami atas dasar mengalah saja demi anak2 dan agar suaminya bahagia..

mendengar keputusan itu bapa dari istrinya marah..sampai tak sadarkan diri, linglung dan dibawa ke RS..ibu dari istri nya pun punya penyakit jantung. namun suaminya ttp bersikeras atas nama jannah…

pertanyaan saya bagaimana seharusnya ustadz meluruskan kembali suaminya..dan bagaimana tafsir dari qs. dalam al quran.mengenai poligami..
syukron jazaakillah..🙏🏻

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
1. Menurut fikih, poligami bisa dilakukan oleh suami jika mampu bersikap adil, punya kemampuan finansial untuk membiaya seluruh isteri2 dan anak2nya, keluarga yang pertama tidak terbengkalai

2. Jika tidak terpenuhi, maka tidak diperkenankan untuk poligami

3. Dalam kasus dalam soal, ;
Isteri memperkuat ruhiah dan maknawiah kepada allah swt agat bisa bersabar dan tsabat

4. Suami dan isteri perlu dialog bisa langsung atau menyertakan ortu.
Boleh jadi alasan suami poligami bukan yang terucap, tetapi ada hal lain; misalnya isteri tidak bisa menunaikan kewajibannya sebagai isteri dan ibu dari anak2…., karena itu suami memilih poligami.

5. Tetapi jika motiv suami hanya kasihan pada wanita lain, atau mungkin (syahwat), maka bisa dingatkan dengan pertemuan langsung atau sesama ortu. Diingatkan dengan masa depan anak2, masa depan keluarga,, dan seterusnya

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Gaji Istri > Gaji Suami


Assalamu’alaikum ustadz/ah….Mau menanyakan sesuatu hal, bermula dr sebelum nikah mereka (adik saya dan suaminya) pacaran kurleb 2 th, selama pacaran orang tua saya dan saudara2 saya termasuk saya tidak setuju adik berhubungan dg suaminya itu dikarenakan tidak pernah sholat. Tahun 2013 mereka menikah, dari awal menikah hingga saat ini pernikahan mereka tidak pernah rukun, kalau kata adik saya, dalam sebulan bahagianya hanya seminggu. Adik saya asisten apoteker di rs haji, suaminya buka bengkel bubut ( bukanya siang sekitar pukul 9/10), klo sedang bertengkar sama istrinya tidak buka bengkel. Pendapatan istrinya lbh besar dr suaminya, istrinya insyaa alloh slalu menjalankan kwajibannya sbg muslimah atau pun istri, sedangkan suaminya msh blom mau sholat, puasa ramadhan jg selalu dilewatkan hampir tiap tahunnya. Hampir tiap lebaran mereka bertengkar, kalau adik cerita, yang menjadi permasalahannya adalah gaji istrinya, suaminya ingin tahu secara detail kemana saja gajinya itu, padahal gaji istrinya diberikan kpd orang tuanya, orang tua suaminya dan keperluan sehari2, sampai kontrakan bengkel pun kata adik saya sih adik saya yg bayar. Slama ini suaminya jg selalu menuntut supaya istrinya menjadi istri yang berguna, istri yang selalu taat pada suaminya, sedangkan slama ini istrinya yg mengurus rumah sebelum berangkat / pulang kerja, nyuci, nyetrika, dll. Suaminya hampir tiap malam kelayapan, pulang larut malam, setiap pulang kelayapan minta dipijitin sama istrinya dg sikap kasar menggunakan kaki membangunkan istrinya yg sedang tidur. Ruang gerak istrinya dibatasin, hanya sekedar main k rumah kakaknya saja yang hanya terhalang 10 rumah aja tidak diperkenankan, ketika istrinya minta izin mau ikut tahsin, suaminya bilang ” belajar ngaji, benerin aja dulu kelakuannya”, ketika tahun lalu mau berqurban memakai uangya sendiri, suaminya bilang “buat kontrakan aja blum ada”, akhirnya tidak jadi qurban padahal uang kontrakan sudah disediakan sama istrinya, qurban kemarin, istrinya bilang mau qurban, suaminya tidak respon, akhirnya istrinya tetep berqurban, tapi malah jadi bertengkar gara2 istrinya berqurban itu. Barusan istrinya bilang ke saya kalau dia ingin ngontrak saja, selama ini tidak pernah merasa dianggap istri oleh suaminya, sudah capek menghadapi suaminya itu. Pernah suatu hari istrinya menyarankan suaminya untuk mencari istri lagi, jawaban suaminya ” kamu ngusir saya, mentang2 saya miskin”.
Mohon pencerahannya ustadz/ah, bagaimana seharusnya sikap adik saya terhadap suaminya itu supaya rumah tangganya lebih baik lagi. saya sebagai kakaknya bingung harus bagaimana, kasian lihat adik saya, ada suatu hal lagi tadz, selama ini adik saya terlalu memfasilitasi dalam hal keuangan, sampai2 jika ada teman suaminya berkunjung, suaminya bilang ke temannya kalau istrinya itu adalah bosnya.
Jazakalloj khoiir atas jawabannya.

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Saya turut prihatin dengan rumah tangga adik anti. Semoga kisah ini jadi pelajaran mahal buat mereka yg mau menikah. Dan memilih calon suami tidak semata cinta tapi yg paling mendasar adalah pengetahuan agama dan ibadah kesehariannya. Karena mereka yg paham agama akan berusaha menjadi suami yang baik dan paham dengan firman Allah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

” Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. “
(Qs. At-Tahrim, Ayat 6)

Dari cerita diatas betapapun keluarga tdk setuju tp takdir berbicara lain. Pernikahan terjadi. Dan itulah resiko dari keputusan yg sdh di ambil oleh adik.

Lalu bila semua sudah terjadi, apa yg bisa kita lakukan?

Kita sebagai orang luar tidak bisa berbuat banyak kecuali hanya saran
1.Keadaan ini disebabkan karena ketidak pahaman suami akan ajaran islam shg berdampak dalam kehidupan nya. Tidak sholat .tidak jd suami yg baik.dll
2.Istri yang mau menerima suami dengan kondisi tsb diatas maka konsekwensi logisnya mengalami apa yg sdh di alami selama ini.
3.Dengan kondisi seperti itu kembali bagaimana keputusan adik anti. Mau lanjut , bersabar, dan banyak doa atau mau menggugat cerai karena sudah tidak tahan.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Keluarga ku Syiah..

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….apakah kita sbg org muslim bs memakan makanan yg d sajikan oleh kaum syiah pada acara berkabungnya di bulan muharam ini ?
apakah kita sbg ibu (muslim) harus mengikuti acara mereka dgn alasan menghargai suami n keluarganya ?
gmn sikap kita sbg ibu menghadapi anak” kita yg mengikuti acara tsb ,pukul n melukai badan ?
Sebelum n sesudahnya saya ucapkan terima kasih

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Tergantung makanan nya makanan yg diperuntukkan selain mencari keridhoan Allah dilarang dalam Islam.
Idealnya untuk masalah aqidah ada saling nasehat menasehati. Kemukakan alasan kenapa tdk boleh ikuti ritual mereka. Karena ritual mereka bertentangan dgn Islam.
Sikap seorang ibu hendaknya mencegah dan melarang.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Nikahi Syiah ????


Assalamualaikum ustadz/ ah..apakah muslim sah nikah dgn syiah ?
Ada teman saya yg nikah dgn syiah selama 13 tahun n selalu bilang alasan menghargai suami walau dia shalat n ibadah dgn cara sunni …
Sebelum n sesudahnya saya ucapkan terima kasih Wassalamualaikum

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Allah –Ta’ala- berfirman:

) وَلا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ ) البقرة/221

“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”. (QS. Al Baqarah: 221)

Berdasarkan ayat tersebut diatas kita tdk boleh menikah dgn orang syiah.krn syiah bukan Islam dan banyak kesesatan ajarannya.

Penyimpangan Aqidah Syiah

Dalam sebuah kajian mengenai Syiah di Depok, pengamat Syiah Prof. DR. H. Mohammad Baharun, SH, MA saat membedah buku “Mewaspadai Gerakan Syiah di Indonesia”, mengungkapkan ajaran-ajaran Syiah yang menyesatkan. Nah, agar tidak tersesat, berikut ini adalah ajaran-ajaran Syiah yang menyimpang, sesat dan menyesatkan :

​Aqidah Syirik,​ menisbatkan sifat Ilahiyah kepada imam mereka seperti pemilik dunia akhirat, rob bumi.
Aqidah Bada’, yaitu keyakinan bahwa Allah mengetahui sesuatu setelah sebelumnya tidak mengetahui.
Aqidah Raj’ah, yaitu kembali hidup sesudah mati sebelum hari kiamat.
Arroj’ah adalah salah satu diantara sekian banyak ajara Syi’ah Imamiyyah Itsna Asyariyyah (Ja’fariyah), yang jelas-jelas menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya. Ajaran Roj’ah ini menurut ulama-ulama Islam, telah membuat Syiah Imamiyah Itsna Asyariyyah (Ja’fariyah) masuk golongan Ghulaah. Ajaran tersebut sangat menyimpang dari ajaran Rasulullah Saw.

Arroj’ah adalah suatu keyakinan , orang-orang Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah (Ja’fariyah), bahwa suatu saat nanti, Imam mereka yang bernama Muhammad bin Husain al-Askari – yang dikenal sebagai Imam Syiah yang ke-12 dan sekarang menurut mereka masih sembunyi di dalam gua Sarro Man Roa, akan muncul kembali. Kemudian imam itu akan membangkitka Rasulullah, Imam Ali, Siti Fatimah, Imam Hasan, Imam Husein dan imam-imam lain, serta orang-orang yang dekat kepada mereka.

Selanjutnya, semua orang-orang tersebut akan membaiatnya, yang diawali oleh Rasulullah dan disusul yang lain. Bersamaan dengan itu, menurut mereka, Abu Bakar, Umar dan Aisyah serta orang-orang yang dianggap zhalim oleh mereka, dibangkitkan dalam keadaan hidup untuk menerima siksaan-siksaan.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh:
[www.manis.id]

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram
🖥 Fans Page
📮 Twitter
📸 Instagram
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Shodaqoh Atau Kewajiban??


Assalamualaikum ustadz/ ah..Mw tanya,memberi uang kepada orang tua itu termasuk sedekah apa kewajiban?

Jawaban
———-

و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته ،

Dalam Qur’qn surat al ahqaf : 15
“Dan kami wasiatkan (perintahkan) kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya…”

Dalam Qur’an surat Al Isra : 23
“Dan Tuhanmu telah perintahkan, supaya engkau tidak menyembah melainkan kepadaNya semata, dan hendaklah engkau berbuat baik kepada ibu bapak…”

Dalam beberapa hadist jg di jelaskan begitu pentingnya berbakti kepada orang tua…
Bentuk bakti anak kepada orang tua ada 2 macam
1. Saat masih hidup
2. Setelah meninggal dunia

Saat masih hidup, bakti anak kepada orang tua diantaranya, mengunjunginya, tidak menyakitinya dengan kata2 dan perbuatan, mendoakan, memberi nafkah dan menjamin fasilitas kehidupan jika orang tua adalah fakir miskin.

Ada 2 syarat kewajiban anak dalam memberi nafkah kepada orang tua.
1. Orang tua fakir miskin
2. Si anak memiliki kelapangan rezeki dan berkemampuan memberikan nafkah tsb.

Jadi, jika anak memiliki kemampuan finansial dan orang tuanya termasuk fakir miskin, maka si anak wajib memberikan nafkah kepada orang tuanya.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh:
http://www.manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram
🖥 Fans Page
📮 Twitter
📸 Instagram
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Denda Bayar Listrik, Riba kah?

Assalamu’alaikum ustadz,apakah denda dalam pembayaran apapun termasuk riba.. Misal kita tiap bulan bayar listrik sama padam, kalau telat dr ketentuan tgl kena denda,seperti ini termasuk riba bukan, kalau padam memang dari awal kita sdh dikasih tahu,bahkan ada peraturan tertulisnya klo telat denda 10 persen…
Trus klo termasuk riba…bagaimana klo sebagai petugas yg menerima sebagai loket pembayaran,apakah ikut terkena dosa riba, seandainya semua itu riba

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Tidak benar dan tidak selalu semua denda (ta’dzir) dianggap riba. Denda riba itu ada pada transaksi, seperti: denda pada kredit (kendaraan, rumah, dll), itu riba nasiah.

Tapi denda yg disebabkan pelanggaran atau kesalahan kita, itu merupakan hukuman atas pelanggaran tsb.

Contoh, orang yg sdh wajib zakat tp tidak mau bayar zakat, maka negara boleh mengambil paksa dan menta’dzirnya dgn mengambil harta selain zakatnya.

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

أما من امتنع عن أدائها – مع اعتقاده وجوبها – فإنه يأثم بامتناعه دون أن يخرجه ذلك عن الاسلام، وعلى الحاكم أن يأخذها منه قهرا ويعزره، ولا يأخذ من ماله أزيد منها، إلا عند أحمد والشافعي في القديم، فإنه يأخذها منه، ونصف ماله، عقوبة له

“Ada pun orang yang tidak berzakat –dan dia masih mengakui kewajibannya- maka dia berdosa karena namun tidak sampai mengeluarkannya dari Islam, dan Hakim wajib mengambilnya secara paksa dan menta’dzir (mendenda), dan diambilnya sesuai kadarnya tidak boleh lebih, ​kecuali menurut Ahmad dan Asy Syafi’i dalam pendapatnya yang lama, bahwa mesti diambilnya denda lebihnya sebanyak setengah hartanya, sebagai hukuman baginya.”​ (Fiqhus Sunnah, 1/333)

Oleh karena yg dia lakukan merugikan orang lain, yaitu hak para mustahiq yg Allah Ta’ala titipkan melaluinya.

Maka, aktifitas yang melanggar dan merugikan pihak lain (negara, lembaga, atau individu), lalu dia dikenakan denda atas pelanggarannya, itu bukan riba. Sebab, itu merupakan ganti rugi atas hak pihak lain yg diambil atau ditahan olehnya.
Demikian.

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram
🖥 Fans Page
📮 Twitter
📸 Instagram
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Uang Perusahaan

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
Ada pertanyaan dr seorang kawan tentang bagimana caranya bertobat kalo kita melakukan korupsi terhadap perusahaan tempat kita bekerja ..

Kasusnya :
Beliau katanya bekerja sbg seorang marketing di salah satu perusahaan swasta di jakarta, suatu saat melakukan transaksi penjualan (jual beli) barang perusahaan yg barangnya diluar dr stok gudang (tdk tercatat dlm sistem invetory barang)

Pada saat terjadi Transaksi jual beli kondisi normal dng sistem COD.

nah permasalahanya timbul pada saat uang hasil penjualan barang tsb akan diserahkan ke bag finance perusahaan ternyata oleh bag keuangan ditolak dng alasan stok barang yg dijual  tsb tdk terdapat di sistem inventory perusahaan.

Akhirnya bag finance minta agar dana tersebut di pegang sj dulu oleh si marketing (minta nanti saja disetorkannya)

Waktu berjalan terus hingga beberapa bulan dan si marketing pun terus menanyakan masalah status dana tersebut dan tetap  jawabanya iya nanti saja…sampai akhirnya berjalan serahun lebih tanpa kejelasan dan uangpun akhirnya hbs terpakai.

Masalah berikutnya,  perusahaan tempatnya bekerja kondisinya dlm kondisi kolaps
dan akhirnya memutuskan utk melakukan efisiensi terhadap beberapa karyawanya dengan mem PHK beberapa karyawannya termasuk si marketing ini.

Karena uangnyapun habis terpakai dan beliau di PHK tiba2 akhirnya beliau keluarlah dari perusahaan tsb tanpa pernah mengembalikan lagi uang peruhaan dr hasil jual beli tersebut..

Pertanyaanya

Bagaiman dengat status perbuatan tersebut, apakah dia berdosa dan bila berdosa bagimana cara ia bertobat atau memohon ampun ?

Lalu Bagaimana dngan status uang hasil penjualanya apakah tetap harus dikembalikan ke perusahaan tempat ia bekerja dulu ? Dan bagaimana caranya krn kasusnya juga sdh lewat beberapa tahun kemudian dan si marketingpun sdh tdk pernah berkomunikasi sama sekali dengan perusahaan tersebut.

Mohon penjelasan dan jawabannya dari ust
Jazakallohu khoir

Jawaban
—————

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
barang penjualannya tercatat sbg inventori di mana?

Jika tdk tercatat di inventori gudang tempat dia bekerja, pasti tercatat di gudang lain. tidak mungkin barangnya tiba2 muncul dr alam ghaib kan? 😁

Intinya, uang tersebut bukan haknya, dan wajib dikembalikan kepada yg berhak (gudang/kantor/perusahaan asal muasal barang yg dijualnya).

jika tdk berhasil menemukan tempat tujuan pengembalian uang tsb, maka bisa jadi diperbolehkan bersedekah kepada faqir miskin sejumlah uang yg telah diambilnya. Hal ini fatwa sebagian ulama yg membolehkan pengutang untuk mengganti utangnya dg bersedekah atas nama pemberi utang jika tdk berhasil menemukan pemberi utangnya.

Wallahu a’lam.

MengUmrohkan Orangtua


Assalamu’alaikum ustadz/ah…mau tanya ttg umroh ,apa bisa anak mengumrohkan orang tua yg meninggal?
🅰2⃣1⃣

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa ba’d:

Sebagian ulama mengatakan umrah adalah haji juga yaitu haji kecil, seperti yang dikatakan ‘Atha, Asy Sya’biy, Mujahid, Abdullah bin Syadaad, dan Az Zuhri. (Tafsir Ath Thabari, 14/129-130)

Sehingga masalah badal umrah ini sama halnya dengan badal haji, karena kemiripannya.

Secara khusus, ada hadits yang memang menyebutkan badal umrah:
Dari Abu Razin Al ‘Uqailiy, dia mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lalu bertanya:

يا رسول الله إن أبي شيخ كبير لا يستطيع الحج و لا العمرة و لا الظعن : قال ( حج عن أبيك واعتمر )

Wahai Rasulullah, ayahku sudah sangat tua, tidak mampu haji, umrah, dan perjalanan.
Beliau bersabda:
“Haji dan umrahlah untuk.”
(HR. Ibnu Majah No. 2906, At Tirmidzi No. 930, An Nasa’i No. 2637, Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No. 8895, dll. Imam At Tirmidzi mengatakan: hasan shahih. Dishahihkan pula oleh Imam Al Hakim, dalam Al Mustadrak, 1/481, dan disepakati oleh Imam Adz Dzahabi. Dishahihkan pula oleh Syaikh Al Albani, Syaikh Syu’aib Al Arna’uth, dll)

Namun pembolehannya ini terikat syarat, yaitu:

1. Yang dibadalkan memang sudah wafat, atau fisik tidak memungkinkan, bukan karena menghindari antrean haji.

2. Yang membadalkan sudah haji atau umrah juga, inilah pendapat mayoritas ulama.

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

شرط الحج عن الغير يشترط فيمن يحج عن غيره، أن يكون قد سبق له الحج عن نفسه.

“Disyaratkan bagi orang yang menghajikan orang lain, bahwa dia harus sudah haji untuk dirinya dulu.” (Ibid, 1/638)

Hal ini berdasarkan pada hadits berikut:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ قَالَ مَنْ شُبْرُمَةُ قَالَ أَخٌ لِي أَوْ قَرِيبٌ لِي قَالَ حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ قَالَ لَا قَالَ حُجَّ عَن نَفْسِكَ ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ

Dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendengar seorang laki-laki berkata: “Labbaika dari Syubrumah.” Rasulullah bertanya: :”Siapa Syubrumah?” laki-laki itu menjawab: “Dia adalah saudara bagiku, atau teman dekat saya.” Nabi bersabda: “Engkau sudah berhaji?” Laki-laki itu menjawab: “Belum.” Nabi bersabda: “Berhajilah untuk dirimu dahulu kemudian berhajilah untuk Syubrumah.” (HR. Abu Daud No. 1813, Imam Al Baihaqi mengatakan: isnadnya shahih. Lihat Al Muharar fil Hadits, No. 665)

Hadits ini menjadi pegangan mayoritas ulama, bahwa orang yang ingin mewakilkan haji orang lain, di harus sudah berhaji untuk dirinya dahulu.

Berkata Imam Abu Thayyib Rahimahullah:

وَظَاهِر الْحَدِيث أَنَّهُ لَا يَجُوز لِمَنْ لَمْ يَحُجّ عَنْ نَفْسه أَنْ يَحُجّ عَنْ غَيْره وَسَوَاء كَانَ مُسْتَطِيعًا أَوْ غَيْر مُسْتَطِيع لِأَنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَآله وَسَلَّمَ لَمْ يَسْتَفْصِل هَذَا الرَّجُل الَّذِي سَمِعَهُ يُلَبِّي عَنْ شُبْرُمَةَ ، وَهُوَ يَنْزِل مَنْزِلَة الْعُمُوم ، وَإِلَى ذَلِكَ ذَهَبَ الشَّافِعِيّ . وَقَالَ الثَّوْرِيّ : إِنَّهُ يُجْزِئُ حَجّ مَنْ لَمْ يَحُجّ عَنْ نَفْسه مَا لَمْ يَتَضَيَّقْ عَلَيْهِ .

Menurut zhahir hadits ini, tidak dibolehkan orang yang belum menunaikan haji untuk diri sendiri menghajikan untuk orang lain. Sama saja, apakah orang tersebut mampu atau tidak mampu, sebab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak merinci keadaan laki-laki yang telah beliau dengar menjawab panggilan dari Syubrumah, sehingga hal itu menunjukkan keadaan yang umum, Inilah madzhab Asy Syafi’i. Sementara Ats Tsauri berkata: “Bahwa boleh saj orang yang belum haji, dia menghajikan orang lain selama tidak menyulitkannya.” (‘Aun Ma’bud, 5/174
Demikian.

Wallahu a’lam.