Bolehkah Bersalaman dengan Lawan Jenis??


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Ustadz betulkah ada fiqih yg membolehkan bersalaman perempuan dan laki laki krn kedudukan yg lebih misal laki2 itu guru….

Sy seorang guru baru prihatin ada teman sy bahkan guru agama … Beliau rela dicium tangan oleh siswi putrinya…. Katanya Ada kilafiyah masalah tsb…

Sy akan tegaskan dgn tata tertib masih ragu untuk mengingatkan secara tegas pada guru tsb…

Jazakallah khair ustadz..
Jawaban ustadz sangat kami tunggu untuk perbaikan karakter lembaga sekolah kami

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Bismillah wal Hamdulillah..

Berjabat tangan dgn lawan jenis bukan mahram ada 2 pendapat ulama.

1. Terlarang, ini pendapat mayoritas ulama, dgn alasan2 :

– Nabi tidak pernah dibai’at dgn menyentuh tangan wanita, berbeda dgn saat dgn kaum laki2

– Nabi menyebut tertusuk besi neraka lbh dia sukai dibanding bersentuhan dengan wanita. Hr. Ath Thabarani

2. Boleh tp bersyarat, yaitu tdk mengaja mncr kesempatan buat itu, tdk menikmatinya, namun sbaiknya tetap hindari. Ini pendapat Syaikh Al Qaradhawi, Syaikh Abdul Halim Abu Syuqqah, Syaikh TM Hasbi Ash Shidiqiy, dan lainnya.

Alasan pihak yg membolehkan adlh hadits2 yg dijadikan dalil pihak mengharamkan justru tidak tegas. Tidak ad kata2: “Diharamkan .. Atau Nabi melarang ..” dan semisalnya, sbgaimana biasa terjadi pd aktifitas terlarang.

Semua menunjukkan “Nabi tidak melakukan” baik saat bai’at, atau sehari2 .. “.

Tidak melakukan tidak berarti bermakna haram, bs jadi memang nabi tidak menyukainya dan tidak memandang perlu melakukannya.

Ada pun riwayat Ath Thabarani yg menunjukkan “lebih baik tertusuk besi dibanding bersentuhan dgn wanita” bukan menunjukkan makna hakiki .. Tp menunjukkan begitu bencinya nabi dgn hal itu, atau makna bersentuhan disitu adalah hub suami istri ..

Sebab, dalam riwayat Imam Bukhari, nabi pernah dipegang tangannya oleh Jariyah (wanita usia Abg) dan dibawa keliling Madinah dan nabi pun tidak melepaskannya ..

Nabi pun pernah saat muda dicarikan kutu oleh Ummu Haram, seorg wanita yg bukan siapa2nya. Ini alasan2 pihak yg membolehkan.

Ada pun pendapat ulama madzhab, kalangan Syafi’iyah dan Malikiyah menyatakan haramnya bersalaman dengan wanita bukan mahram, baik wanita tua dan muda.

Sedangkan Hanafiyah dan Hanabilah, haram jika bersalaman dengan wanita muda, tapi tidak apa-apa dengan yang sudah tua dan aman dari fitnah/syahwat. ​( ​Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah,​ 9/297)​
Demikian.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Arwah Kaum Mu'minin Mendatangi Keluarganya di Malam Jum'at


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Izin bertanya tadz..
Adakah haditsnya kalau arwah orang yg sudah meninggal maka pada malam jum’at pulang untuk meminta do’a dan kiriman bacaan qur’an?Syukron

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Kisah seperti itu tidak kita temukan dalam kitab-kitab hadits standar. Sehingga tidak bisa dipastikan kebenarannya.

Tapi kita mendapatkan ada dalam kitab para ulama Ahlus Sunnah, seperti Imam Abu Bakar bin Sayyid Syatha As Dimyati Asy Syafi’i dalam ​I’anatuth Thalibin,​ Imam Sulaiman bin Muhammad Umar Al Bujairimi Asy Syafi’i, dalam kitab ​Hasyiyah Al Bujairimi ‘alal Khatib, dll.​

Keyakinan bahwa arwah kaum mu’minin mendatangi keluarganya di malam Jum’at bahkan tiap malam memang ada, dan ini bukan keyakinan para ahli bid’ah, tapi sebagian para ulama Ahlus Sunnah.

Sebagai contoh:

إنَّ أَرْوَاحَ الْمُؤْمِنِينَ يَأْتُونَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ إلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا وَيَقِفُونَ بِحِذَاءِ بُيُوتِهِمْ وَيُنَادِي كُلُّ وَاحِدٍ بِصَوْتٍ حَزِينٍ أَلْفَ مَرَّةٍ يَا أَهْلِي وَأَقَارِبِي وَوَلَدِي يَا مَنْ سَكَنُوا بُيُوتَنَا وَلَبِسُوا ثِيَابَنَا وَاقْتَسَمُوا أَمْوَالَنَا هَلْ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَذْكُرُنَا وَيُفَكِّرُنَا فِي غُرْبَتِنَا وَنَحْنُ فِي سِجْنٍ طَوِيلٍ وَحِصْنٍ شَدِيدٍ ؟ فَارْحَمُونَا يَرْحَمُكُمْ اللَّهُ وَلَا تَبْخَلُوا عَلَيْنَا قَبْلَ أَنْ تَصِيرُوا مِثْلنَا يَا عِبَادَ اللَّهِ إنَّ الْفَضْلَ الَّذِي فِي أَيْدِيكُمْ كَانَ فِي أَيْدِينَا وَكُنَّا لَا نُنْفِقُ مِنْهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَحِسَابُهُ وَوَبَالُهُ عَلَيْنَا وَالْمَنْفَعَةُ لِغَيْرِنَا ؛ فَإِنْ لَمْ تَنْصَرِفْ أَيْ الْأَرْوَاحُ بِشَيْءٍ فَيَنْصَرِفُونَ بِالْحَسْرَةِ وَالْحِرْمَانِ

Sesungguhnya ruh-ruh orang beriman datang setiap malam ke langit dunia mereka berdiri dengan sendal mereka di rumah-rumah mereka. Mereka memanggil seribu kali, masing-masing panggilan dengan suara memilukan: “Wahai keluargaku, kerabatku, anak-anakku, .. Wahai yang menempati rumah-rumah kami, yang memakai pakaian kami, dan membagi-bagikan harta kami. Apakah kalian masih mengingat kami, memikirkan kami, dalam keterasingan kami? Kami di penjara begitu lama dan dijaga begitu kuat, maka kasihanilah kami niscaya Allah akan menyayangi kalian. Janganlah kalian pelit kepada kami sebelum kalian mengalami apa yang kami alami. Wahai hamba Allah …, karunia yang ada pada kalian dulunya adalah milik kami, dan kami tidak menafkahkannya di jalan Allah, tidak menhitungnya, dan tidak peduli kepadanya dan tidak memberikan manfaat kepada selain kami. ” Maka, jika kalian tidak memberikan apa-apa kepada ruh-ruh itu, maka mereka akan kembali dengan menyesal dan kekurangan.

Lihat kitab:

​- Hasyiyah Al Bujairimi ‘Alal Khathib, 6/167​

​- I’anatuth Thalibin, 2/142​

Bukan hanya mereka, Imam Ahlus Sunnah bermadzhab Hambaliy, yg track record-nya “keras” pun menyebutkan datangnya arwah itu saat keluarganya menziarahi kuburnya.

Berikut ini fatwa Beliau ketika ditanya tentang hukum talqin setelah mayit dikubur:

أجاب: هذا التلقين المذكور قد نقل عن طائفة من الصحابة: أنهم أمروا به، كأبي أمامة الباهلي، وغيره، وروي فيه حديث عن النبي – صلى الله عليه وسلم – لكنه مما لا يحكم بصحته؛ ولم يكن كثير من الصحابة يفعل ذلك، فلهذا قال الإمام أحمد وغيره من العلماء: إن هذا التلقين لا بأس به، فرخصوا فيه، ولم يأمروا به. واستحبه طائفة من أصحاب الشافعي، وأحمد، وكرهه طائفة من العلماء من أصحاب مالك، وغيرهم. والذي في السنن «عن النبي – صلى الله عليه وسلم -: أنه كان يقوم على قبر الرجل من أصحابه إذا دفن، ويقول: سلوا له التثبيت، فإنه الآن يسأل» ، وقد ثبت في الصحيحين أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: «لقنوا أمواتكم لا إله إلا الله» . فتلقين المحتضر سنة، مأمور بها. وقد ثبت أن المقبور يسأل، ويمتحن، وأنه يؤمر بالدعاء له؛ فلهذا قيل: إن التلقين ينفعه، فإن الميت يسمع النداء. كما ثبت في الصحيح «عن النبي – صلى الله عليه وسلم – أنه قال: إنه ليسمع قرع نعالهم» وأنه قال: «ما أنتم بأسمع لما أقول منهم» ، وأنه أمرنا بالسلام على الموتى. فقال: «ما من رجل يمر بقبر الرجل كان يعرفه في الدنيا فيسلم عليه إلا رد الله روحه حتى يرد عليه السلام» . والله أعلم

Beliau menjawab: “Talqin seperti itu telah dinukilkan dari segolongan para sahabat bahwa mereka memerintahkan hal ini, seperti Abu Umamah Al Bahili dan selainnya. Dan, diriwayatkan hadits dari Nabi ﷺ tetapi tidak bisa dihukumi shahih, dan perbuatan ini tidak dilakukan banyak sahabat nabi. Oleh karena itu Imam Ahmad dan selainnya dari kalangan ulama mengatakan bahwa talqin seperti ini tidak apa-apa, mereka memberikan keringanan padanya namun tidak memerintahkannya. Ada pun sekelompok Syafi’iyah menyunnahkannya, juga pengikut Ahmad, tetapi dimakruhkan oleh segolongan ulama Malikiyah dan lainnya.

Tertulis dalam kitab-kitab sunah, dari Nabi ﷺ bahwa Beliau berdiri di sisi kubur seorang sahabatnya saat dia dimasukan ke kubur, dan Beliau bersabda: “Berdoalah untuknya keteguhan, karena dia sedang ditanya sekarang.” Telah shahih dalam Shahihain bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Talqinkan orang yang sedang mebghadapi kematian di antara kamu dengan La Ilaha Illallah.” Maka, talqin ketika menghadapi kematian adalah sunah, dan diperintahkan. Telah shahih bahwa seorang yang dikubur akan ditanya dan mengalami ujian, dan dianjurkan untuk mendoakannya. Oleh karena itu, dikatakan bahwa talqin itu bermanfaat baginya, karena mayit mendengarkan panggilan. Sebagaimana hadits shahih: “Sesungguhnya mayit mendengar suara sandal kalian.” Dan hadits lain: “Tidaklah kalian lebih mendengar apa yang aku katakan dibanding mereka.” Serta perintah nabi kepada kita untuk mengucapkan salam kepada mereka. Nabi ﷺ bersabda: ​“Tidaklah seorang laki-laki melewati kubur seorang laki-laki yang dia kenal, lalu dia ucapkan salam, melainkan Allah akan mengembalikan ruhnya sehingga dia menjawab salamnya.”​ Wallah A’lam. ​(Al Fatawa Al Kubra, 3/24)​

Saran saya adalah:

– Bagi yang tidak meyakininya, maka peganglah keyakinan itu, dan jangan menuduh saudara dengan tuduhan bahwa mereka ahli khurafat, tahayul, bahkan Hindu.

– Bagi yang meyakininya, silahkan pegang keyakinan itu, tapi jangan menyerang yang tidak meyakini dengan sebutan Wahabi, dsb. Sebab masalah ini memang khilaf para imam sejak dahulu.

​Musuh satu sudah banyak, kawan seribu masih sedikit.​
Demikian.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Investasi Saham


Assalamualaikum ustadz/ah…
mau tanya dong, kalo kita investasikan uang kita ke suatu PT finance, terus dpt keuntungan (kaya main saham gitu). Itu secara hukumnya apaa yaa? apakah itu samaa dgn judi ? A12

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Saham yg dijalankan secara syariah diperbolehkan. Adapun saham yg tidak syariah, maka bertransaksinya adalah haram, krn mengandung unsur maisir (gambling).

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Bertawashul dengan Amalan Sholih Kita


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Saya pernah denger cerita,nyata dialami.
seseorang kehilangan sesuatu,lalu beliau merutinkan baca ayat kursi tiap abis solatnya untuk barang yg hilang itu supaya ketemu,alhasil tiba2 keesokan harinya si barang yg hilang ini ketemu. Akhirnya tips ini dia kasih tau ke orang lain.Ini gimana hukumnya ya ust?
Apakah memang ayat kusinya yg berpengaruh atau memang ada kemusyrikan lain?

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Membaca ayat kursi dan ayat-ayat lain merupakan amal shalih bagi seorang muslim. Dan islam membolehkan kita bertawashul dengan amal shalih kita. Hal ini sebagaimana kisah tentang tiga orang yang terkurung didalam goa lalu mereka meminta kepada Allah swt dengan menyebutkan amal-amal shaleh yang pernah dilakukannya agar dikeluarkan darinya dan doa-doa itu pun dikabulkan oleh-Nya.

Karena itulah Ibnu Mas’ud mengatakan di waktu sahur,
”Wahai Allah Engkau telah memerintahkanku maka aku menaati-Mu dan Engkau telah menyeruku maka aku pun menyambut-Mu. Dan (dengan) sahur ini maka ampunkanlah (dosa) ku.”

Hadits Ibnu Umar yang mengatakan di bukit Shafa,”Wahai Allah sesungguhnya Engkau pernah mengatakan dan perkataan-Mu adalah benar,”Berdoalah kepada-Ku (maka) Aku kabulkan (doa) mu.’ Dan sesungguhnya Engkau tidaklah menyalahi janji.” Kemudian dia menyebutkan doa yang ma’ruf dari Ibnu Umar… (Majmu al Fatawa

Dan tidak ada pelarangan terhadap seseorang untuk meminta kepada Allah swt berbagai permintaan yang dikehendakinya baik terkait dengan urusan-urusan dunia maupun akherat melalui berdoa dengan perantara suatu amal shaleh yang paling afdhal yang pernah dilakukannya. Firman Allah ﷻ

رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنزَلَتْ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ

Artinya : “Ya Tuhan kami, kami Telah beriman kepada apa yang Telah Engkau turunkan dan Telah kami ikuti rasul, Karena itu masukanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)”. (QS. Al Imron : 53)

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Mengapa Madzhab Akidah Asy'ariyyah Dibedakan Dengan Madzhab Ahlussunnah Waljama'ah?


Assalamu’alaikum warohmatullaah ustadz..
Saya mau bertanya, mengapa madzhab akidah asy’ariyyah dibedakan dengan madzhab ahlussunnah waljama’ah?
Apa perbedaan dan persamaannya ustadz?
Jazaakallaahu khoiron

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Al Asy’ariyah itu Ahlus Sunnah, bersama Al Maturidiyah dan Al Atsariyah.

Lengkapnya ini 👇

​🌱🍄 ​Al Asy’ariyyah​ dituduh paham sesat, benarkah? 🍄🌱​

💢💢💢💢💢💢

Ust, ada buku berjudul Mulia dengan Manhaj Salaf, penulisnya bilang Asy’ariyyah sebagai aliran sesat .. itu serem amat ya, apa benar tuduhan itu?

🍃🍃🍃🍃🍃

​Bismillah wal Hamdulillah …​

​Al Asy’ariyyah​ adalah paham yang disandarkan kepada Imam Abul Hasan Al Asy’ariy ​Rahimahullah​.

Ajarannya memenuhi dunia Islam, Timur dan Barat, dan umumnya kampus kampus besar Islam.

Sebaiknya seorang muslim menahan dari menuduh sesat kepada sesamanya, dalam perkara yang sensitif. Apalagi kepada apa yang dianut oleh mayoritas umat ini.

Saya kutipkan pandangan para imam kaum muslimin tentang Asy’ariyyah. Agar kita bisa berpandangan adil dan inshaf/objektif.

Tertulis dalam darulfatwa.org:

الأشاعرة هم أئمة أهل السنة. منهم البيهقي النووي وابن حجر العسقلاني وصلاح الدين الأيوبي. أبو الحسن الأشعري كان إمام أهل السنة. الأشاعرة، لخصوا عقيدة الرسول والصحابة. أغلب أهل السنة والجماعة هم أشاعرة يعني يتبعون طريقة الإمام أبي الحسن الأشعري في نصرة هذا المذهب.

Al Asya’irah, mereka adalah Ahlus Sunnah, di antara seperti Al Baihaqi, An Nawawi, Ibnu Hajar Al ‘Asqalani, dan Shalahuddin Al Ayyubi.

Abul Hasan Al Asy’ariy adalah seorang imam Ahlus Sunnah.

Al Asya’irah adalah intisari dari ajaran Rasulullah dan sahabatnya. Mayoritas ulama Ahlus Sunnah adalah Asya’irah, yaitu para pengikut jalannya Imam Abul Hasan Al Asy’ariy dalam membela madzhab ini.
(Selesai)

Sementara, Imam As Safarayini ​Rahimahullah​ berkata:

الفائدة الرابعة التعريف بأهل السنة] (الرَّابِعَةُ) : أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ ثَلَاثُ فِرَقٍ: الْأَثَرِيَّةُ وَإِمَامُهُمْ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَالْأَشْعَرِيَّةُ وَإِمَامُهُمْ أَبُو الْحَسَنِ الْأَشْعَرِيُّ – رَحِمَهُ اللَّهُ، وَالْمَاتُرِيدِيَّةُ وَإِمَامُهُمْ أَبُو مَنْصُورٍ الْمَاتُرِيدِيُّ، وَأَمَّا فِرَقُ الضَّلَالِ فَكَثِيرَةٌ جِدًّا

Faidah yg keempat: Definisi Ahlus Sunnah.
Keempat: Ahlus Sunnah ada tiga kelompok.

1⃣ Al Atsariyah, imam mereka adalah Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah

2⃣ Al Asy’ariyah, imam mereka adalah Imam Abul Hasan Al Asy’ariy Rahimahullah

3⃣ Al Maturidiyah, imam mereka adalah Imam Abu Manshur Al Maturidiy Rahimahullah
Adapun firqoh sesat sangat banyak… ​(Imam Syamsuddin As Safarayini, ​Lawami’ Al Anwar Al Bahiyah wa Sawathi’ Al Asrar Al Atsariyah​, 1/73)​

Imam ‘Adhuddin Al Ijiy ​Rahimahullah​ berkata:

وأما الفرقة الناجية المستثناة الذين قال النبي ـ ‘ ـ فيهم “هم الذين على ما أنا عليه وأصحابي” فهم الأشاعرة والسلف من المحدثين وأهل السنة والجماعة، ومذهبهم خالٍ من بدع

Ada pun firqah najiyah (kelompok yang selamat), merekalah orang-orang yang dikecualikan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada kata: “pada mereka”, apa-apa yang aku dan sahabatku ada di atasnya, mereka adalah Al Asyaa’irah dan generasi terdahulu ahli hadits, dan Ahlus Sunnah, madzhab mereka bersih dari bid’ah. ​(Al Muwafaq, Hal. 430)​

Imam Al Jalaal Ad Dawani ​Rahimahullah​ berkata:

الفرقة الناجية، وهم الأشاعرة أي التابعون في الأصـول للشيخ أبي الحسـن

Firqah Najiyah, mereka adalah Al Asyaa’irah yaitu orang-orang yang mengikuti pokok-pokok aqidah Asy Syaikh Abul Hasan .. ​(Syarh Aqidah Al ‘Adhudiyah, 1/34)​

Imam Ibnu ‘Ajibah ​Rahimahullah​ berkata:

أما أهل السنة فهم الأشاعرة ومن تبعهم في اعتقادهم الصحيح، كما هو مقرر في كتب أهل السنة

Adapun Ahlus Sunnah, mereka adalah Al Asyaa’irah dan orang-orang yang mengikuti Aqidah mereka yang shahih, sebagaimana yang ditetapkan dalam kitab-kitab Ahlus Sunnah. ​(Al Bahr Al Madid, Hal. 607)​

Imam Abu Ishaq Asy Syirazi ​Rahimahullah​:

وأبو الحسن الأشعري إمام أهل السنة، وعامة أصحاب الشافعي على مذهبه، ومذهبه مذهب أهل الحق

Abul Hasan Al Asy’ari, dia adalah Imam Ahlus Sunnah, kebanyakan pengikut Asy Syafi’i adalah di atas madzhabnya, dan madzhabnya adalah madzhab Ahlul Haq. ​(Ath Thabaqat Asy Syafi’iyah, 3/376)​

Imam Murtadha Az Zabidi ​Rahimahullah​ berkata:

إذا أطلق أهل السنة والجماعة فالمراد بهم الأشاعرة والماتريدية

Jika secara mutlak disebut Ahlus Sunnah wal Jamaah, maka maksudnya adalah Al Asyaa’irah dan Al Maturidiyah. ​(Ittihaf As Sa’adah Al Muttaqin, 2/6)​

Di halaman lain dia berkata:

والمراد بأهل السنة هم الفرق الأربعة، المحدثون والصوفية والأشاعرة والماتريدية

Maksud dari Ahlus Sunnah, mereka adalah golongan yang empat: ahli hadits, sufi, Asyaa’irah, dan Maturidiyah. ​(Ibid, 2/86)​

Sufi di sini adalah sufi yang lurus, seperti Al Junaid bin Muhammad, Ma’ruf Al Karkhi, Ibrahim bin Adham, dan yg masih di atas Al Qur’an dan As Sunnah.

Imam Ibnu Hajar Al Haitami ​Rahimahullah​ berkata:

المـراد بالسنة ما عليه إماما أهل السنة والجمـاعة الشيخ أبو الحسن الأشعري وأبو منصور الماتريدي…

Maksud dari As Sunnah adalah apa yang imam ahlussunah ada di atasnya, yaitu Abul Hasan Al Asy’ariy dan Abu Manshur Al Maturidiy .. ​(Az Zawaajir, Hal. 82)​

Al ‘Allamah Thasyi Kubra Zaadah Rahimahullah berkata:

ثم اعلم أن رئيس أهل السنة والجماعة في علم الكلام – يعني العقائد – رجلان، أحدهما حنفي والآخر شافعي، أما الحنفي فهو أبو منصور محمد بن محمود الماتريدي، إمام الهدى…

وأما الآخر الشافعي فهو شيخ السنة ورئيس الجماعة إمام المتكلمين وناصر سنة سيد المرسلين والذاب عن الدين والساعي في حفظ عقائد المسلمين، أبو الحسن الأشعري البصري..

Ketahuilah bahwa pemimpinnya Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam ilmu Kalam -yaitu ilmu aqidah- ada dua orang.

Yang satu seorang Hanafiy, yang satu lagi Syafi’iy.

Ada pun Hanafiy, dia adalah Abu Manshur Muhammad bin Muhammad Al Maturidiy, Imamul Huda ..

Ada pun yang lain adalah seorang pengikut Syafi’iy, dia Syaikhus Sunnah, pimpinannya imam ahli kalam, pembela As Sunnah, penjaga agama dan aqidah kaum muslimin, Abul Hasan Al Asy’ariy .. ​(Miftah As Sa’aadah, 2/33)​

Dan, masih banyak perkataan yang lainnya. Bahkan Imam Ibnu Taimiyah juga memberikan kesaksian positif untuk Al Asy’ariyah.

وَأَمَّا لَعْنُ الْعُلَمَاءِ لِأَئِمَّةِ الْأَشْعَرِيَّةِ فَمَنْ لَعَنَهُمْ عُزِّرَ. وَعَادَتْ اللَّعْنَةُ عَلَيْهِ فَمَنْ لَعَنَ مَنْ لَيْسَ أَهْلًا لِلَّعْنَةِ وَقَعَتْ اللَّعْنَةُ عَلَيْهِ. وَالْعُلَمَاءُ أَنْصَارُ فُرُوعِ الدِّينِ وَالْأَشْعَرِيَّةُ أَنْصَارُ أُصُولِ الدِّينِ.

Adapun melaknat para ulama asy’ariyah, maka melaknat mereka mesti dita’zir (dihukum), dan laknat itu kembali kepada pelakunya. Barangsiapa yang melaknat org yang tdk berhak dilaknat maka laknat itu kembali kepada si pelaknat. Para ulama adalah pembela cabang-cabang agama, dan golongan Asy’ariyah adalah pembela-pembela dasar-dasar agama. ​(Majmu’ Al Fatawa, 4/16)​

Para imam seperti Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani, Ibnu Hajar Al Haitami, An Nawawi, Ibnu Furak, Ibnul Jauzi, Al Ghazali, Al Bulqini, Al Baqilani, Al Juwaini, Abu Syamah, Ibnu An Nahwi, As Suyuthi, Ali Al Qari, Zakariya Al Anshari, Al Qalyubi, Al Qasthalani, … dll -Rahimahumullah- semua ini Asy’ariyah. Maka, menyebut Asy’ariyyah sesat sama juga menuduh sesat sedemikian banyak imam umat Islam. Tentunya ini sangat berbahaya, selain sangat tidak etis.

Sikap ekstrim mencoret sesama Ahlus Sunnah, lalu mengeluarkan mereka sebagai bukan ​Ahlus Sunnah wal Jamaah,​ pernah melahirkan fitnah berdarah-darah pada masa lalu, .. apakah kita ingin menumpahkan kembali darah umat Islam oleh tangan kita sendiri? ​Laa hawla walaa quwwata Illa Billah​
Demikian.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Apakah Syiah Termasuk Mazhab?


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Izin bertanya Ustadz, Apakah Syi’ah itu termasuk Mazhab juga atau di luar itu ?

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Bismillah wal Hamdulillah ..

Syiah adalah sebuah firqah (kelompok) dan madzhab dalam aqidah.

Mereka terbagi 3 kelompok:
1. Ghaliyah, esktrim. Menuduh Al Qur’an lengkapnya di Ali Radhiyallahu ‘Anhu, memberikan sifat2 ketuhanan kepada Ali, dst. Mereka kafir, bahkan dikafirkan oleh sesama Syiah.

2. Rafidhah, ini Syiah mayoritas. Mereka membenci para sahabat nabi, mulai dari memaki sampai mengkafirkan. Selain itu, mereka menuduh para sahabat Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam telah memalsukan Al Qur’an, merebut kekhalifahan dari Ali bin Abi Talib.

Mereka menuduh mayoritas sahabat nabi murtad pasca wafat nabi, kecuali Salman Al Farisi, Miqdad bin Al Aswad, dan Abu Dzar.

Kebencian mereka kepada Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, Hafshah, Muawiyah, Abu Hurairah .. sangat luar biasa.

Oleh karena itu, sebagian Imam Ahlus Sunnah memfatwakan kafirnya Rafidhah, sebagian lain mengatakan ahli bid’ah, tergantung sejauh mana sikap mereka thdp sahabat Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam.

3. Syiah Zaidiyah, Syiah moderat. Masih menghormati para sahabat nabi, tetapi tetap lebih mengunggulkan Ali Radhiyallahu ‘Anhu baik dalam kedudukan dan kekhalifahan.

​LAMPIRAN​
🍀🌻Kafirnya Syiah Menurut Ulama Terdahulu dan 4 Madzhab🌻🍀

Berikut ini fatwa para Imam Ahlus Sunnah terhadap orang-orang yang mencela, memaki, hingga mengkafirkan para sahabat nabi. Dalam sejarah ada tiga golongan yang mencela para sahabat nabi. Pertama, golongan syiah yang telah mencela umumnya sahabat nabi, bahkan mengkafirkan umumnya para sahabat, kecuali Miqdad, Abu Dzar, dan Salman Al Farisi. Kedua , golongan khawarij yang telah mengkafirkan Ali, Muawiyah, Abu Musa, Amr bin Al ‘Ash, dan ketiga, golongan nashibi yang telah menghina Ali, Fathimah, dan keturunannya.

🔷 Imam Hasan Al Bashri Rahimahullah Berikut ini keterangannya:

قيل للحسن – رضي الله عنه -: «يا أبا سعيد، إن هاهنا قوماً يشتمون أو يلعنون معاوية و ابن الزبير». فقال: «على أولئك الذين يلعنون، لعنة الله

Ditanyakan kepada Al Hasan Radhiallahu ‘Anhu : “Wahai Abu Sa’id, di sini ada kaum yang suka mencela dan melaknat Mu’awiyah dan Ibnuz Zubeir.” Beliau menjawab: “Atas merekalah laknat Allah itu.” (Ibnu ‘Asakir, At Tarikh, , 59/206)

🔶 Imam Malik bin Anas Rahimahullah Imam Malik mengomentari ayat: Liyaghizhabihimul kuffar (adanya sahabat nabi membuat orang-orang kafir marah):

ومن هذه الآية انتزع الإمام مالك -رحمه الله، في رواية عنه-بتكفير الروافض الذين يبغضون الصحابة، قال: لأنهم يغيظونهم، ومن غاظ الصحابة فهو كافر لهذه الآية. ووافقه طائفة من العلماء على ذلك. والأحاديث في فضائل الصحابة والنهي عن التعرض لهم بمساءة كثيرة ، ويكفيهم ثناء الله عليهم، ورضاه عنهم.

Dari ayat ini, Imam Malik Rahimahullah –dalam sebuah riwayat darinya- memutuskan kafirnya kaum rafidhah, orang-orang yang membenci para sahabat. Beliau berkata: “Karena mereka murka terhadap para sahabat, maka itu adalah kafir menurut ayat ini.” Segolongan ulama menyetujui pendapat ini. Dan telah banyak hadits tentang keutamaan para sahabat dan larangan mencela mereka dengan keburukan, cukuplah bagi mereka pujian dari Allah dan keridhaanNya bagi mereka. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 7/362) 

🔷 Imam Abu Zur’ah Rahimahullah Beliau berkata:
فإذا رأيت الرجل ينتقص أحداً من أصحاب رسول الله –
صلى الله عليه وسلم – فاعلم أنّه زنديق

Jika kamu melihat seorang laki-laki yang mencela satu saja sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka ketahuilah bahwa orang itu adalah zindiq! (Al Kifayah Lil Khathib Al Baghdadi, Hal. 97)

🔶 Imam Al Qurthubi Rahimahullah Beliau berkata:

لقد أحسن مالك في مقالته و أصاب في تأويله، فمن نقص واحداً منهم أو طعن عليه في روايته فقد ردَّ على الله رب العالمين و أبطل شرائع المسلمين

Alangkah bagusnya perkataan Imam Malik dan benarlah ta’wilnya itu, bahwa barang siapa yang mencederai satu saja di antara mereka (para sahabat), atau menyerang mereka pada riwayat riwayat yang di bawa oleh mereka, maka sama saja telah membantah Allah Rabb semesta alam dan membatalkan syariat kaum muslimin. (Tafsir Al Qurthubi, 16/297)

Sebab berbagai syariat yang ada dan dilakukan oleh mayoritas umat Islam karena berasal dari periwayatan para sahabat nabi, maka apa jadinya jika para sahabat dicela bahkan dikafirkan? Tentu sama saja menganggap mereka tidak pantas membawa riwayat tersebut, dan gugurlah berbagai macam syariat tersebut.

🔷 Imam Al Auza’i Rahimahullah Beliau berkata:

من شتم أبا بكر الصديق – رضي الله عنه – فقد ارتد عن دينه و أباح دمه

Barang siapa yang mencela Abu Bakar As Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu, maka dia telah murtad dari agamanya dan halal darahnya (maksudnya boleh dihukum mati, pen). (Syarh Al Ibanah, Hal. 161)

🔶 Imam Ali Al Qari Rahimahullah Beliau berkata:

و أما من سبَّ أحداً من الصحابة فهو فاسق و مبتدع بالإجماع، إلا إذا اعتقد أنه مباح، كما عليه بعض الشيعة و أصحابهم، أو يترتب عليه ثواب، كما هو دأب كلامهم، أو اعتقد كفر الصحابة و أهل السنة، فإنه كافر بالإجماع

Ada pun barang siapa yang mencela seorang saja dari sahabat nabi, maka dia fasik dan mubtadi’ (pelaku bid’ah) menurut ijma’, – kecuali jika orang itu meyakini mencela sahabat itu boleh sebagaimana yang diyakini sebagian syiah dan para pengikutnya, atau yang meyakini bahwa mencela para sahabat akan mendapatkan pahala seperti yang biasa mereka katakan, atau meyakini bahwa para sahabat dan ahlus sunah adalah kafir- maka orang itu adalah kafir menurut ijma’. (Syammul ‘Awaridh fi Dzammir Rawafidh, Hal. 16. Masih Manuskrip)

🔷Al Qadhi Abu Ya’la Rahimahullah Beliau berkata:

من قذف عائشة بما برأها الله منه كفر بلا خلاف. و قد حكى الإجماع على هذا غير واحد، و صرّح غير واحد من الأئمة بهذا الحكم

Barang siapa yang melemparkan tuduhan kepada ‘Aisyah dengan tuduhan yang Allah Ta’ala jauhi dia dengan tuduhan itu, maka dia kafir dan tanpa perbedaan pendapat. Telah diceritakan adanya ijma tentang hal ini, lebih dari satu ulama yang menyatakan itu. Tentang hukum ini lebih dari satu ulama pula yang mengeluarkan hukum seperti ini. (Syubhat Rafidhah Haula Ash Shahabah, Hal. 31)

🔶 Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah Abu Bakar Al Marwadzi bertanya kepada Imam Ahmad bin Hambal:

أيما أفضل، معاوية أو عمر بن عبد العزيز؟». فقال: «معاوية أفضل! لسنا نقيس بأصحاب رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أحداً. قال النبي – صلى الله عليه وسلم -: خير الناس قرني الذي بعثت فيهم

Mana yang lebih utama, Mu’awiyah atau Umar bin Abdul Aziz? Beliau menjawab: Mu’awiyah lebih utama! Kami tidak pernah menyetarakan seorang pun dengan para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: sebaik-baik manusia adalah pada zamanku yaitu di mana aku diutus pada mereka. (Abu Bakar Al Khalal, As Sunnah, 2/434)

🔷 Imam Sarakhsi Rahimahullah Beliau berkata:

فمن طعن فيهم فهو ملحد منابذ للإسلام دواؤه السيف إن لم يتب

Barang siapa yang mencela para sahabat nabi, maka dia adalah mulhid (atheis) yang melawan Islam, maka boleh ditebas dengan pedang jika dia tidak bertobat. (Al Ushul, 2/134)

🔶 Imam Ibnu Hazm Az Zhahiri ketika disebutkan perkataan orang Nashrani, beliau berkata,
“Sedangkan perkataan mereka –Nashrani- yang menyangka bahwa orang Rafidhah telah mengubah Al Qur`an, maka sesungguhnya orang-orang Rafidhah itu bukan bagian dari kaum Muslimin; mereka adalah firqah buatan yang awal-awal muncul setelah wafatnya Rasulullah (, sekitar 25 tahun kemudian… Ia adalah kelompok yang mengalir seperti mengalirnya Yahudi dan Nashrani dalam hal kebohongan dan kekufuran.” (Al Fashlu fil Milal wan Nihal, 2/ 213)

Ada pun para imam 4 madzhab sebagai berikut:

1⃣ Madzhab Hanafi
Dari kalangan ulama Hanafiyah, “Jika seorang Rafidhi mencaci maki dan melaknat ‘Syaikhaini’ (Abu Bakar dan Umar) maka dia kafir, demikian halnya dengan pengkafiran terhadap Usman, Ali, Thalhah, az-Zubair dan Aisyah –semoga Allah meridhai mereka- (juga adalah kafir)” (Al Fatawa Al Hindiyah, 2/286)

2⃣ Madzhab Maliki
Imam Malik berkata: “Jika dia berkata bahwa para sahabat itu (Abu Bakr, Umar, Utsman, Mu’awiyah, ‘Amr bin ‘Ash) berada di atas kesesatan dan kafir maka ia dibunuh, dan jika mencaci mereka seperti kebanyakan orang maka dihukum berat”. (Asy Syifa bi Ta’rif Huquq Al Mushthafa, 2/1108)

Imam Ibnu Katsir berkata:

ومن هذه الآية انتزع الإمام مالك -رحمه الله، في رواية عنه-بتكفير الروافض الذين يبغضون الصحابة، قال: لأنهم يغيظونهم، ومن غاظ الصحابة فهو كافر لهذه الآية. ووافقه طائفة من العلماء على ذلك. 

Dari ayat ini, Imam Malik Rahimahullah memutuskan, dalam sebuah riwayat darinya, bahwa kafirnya Rafidhah (syiah) yaitu golongan yang marah kepada sahabat nabi. Beliau (Imam Malik) berkata: “Karena mereka murka kepada para sahabat, maka barang siapa yang murka kepada para sahabat nabi maka dia KAFIR menurut ayat ini. (maksudnya Al Fath: 29). Dan, segolongan ulama menyepakati fatwa Imam Malik atas kafirnya Syiah ini. ( Tafsir Al Quran Al Azhim, 7/362)

3⃣ Madzhab Syafi’i
Dari kalangan ulama Syafi’iyah, “Dipastikan kafir setiap orang yang mengatakan suatu perkataan yang ujungnya berkesimpulan menyesatkan semua umat Islam atau mengkafirkan sahabat.” (Imam An Nawawi, Raudhatuth Thalibin, 7/290)

4⃣ Madzhab Hambali
Dari kalangan ulama Hanabilah, Imam Ibnu Taimiyah berkata: “Siapa yang menganggap para sahabat Nabi telah murtad atau fasik setelah Nabi wafat, maka tidak ragu lagi bahwa orang itu kafir. ” (Al Mukhtashar ash Sharim al Maslul, hal. 128).
Sekian.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Haruskah Bermahzab??


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Saya mau tanya tadz…Jadi hukum bermazhab bgm..dan hukum yg tidak bermazhab bagaimana..krn ada yg bilang sy mah ikut rasulullah aja..namun ada juga yg bilang ikut mazhab syafii…Itu bgmn ustad..

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

​Bismillah wal Hamdulillah ..​

Untuk aqidah, bermadzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah wajib. Sebab itulah esensi Islam yang diajarkan Nabi ​Shallallahu’Alaihi wa Salam.​ Walau penamaan Ahlus Sunnah baru pada pada masa sahabat dan tabi’in.

Ada pun dalam bidang fiqih, internal Ahlus Sunnah wal Jamaah mengenal empat madzhab yg masih ada; Hanafi, Maliki, Syafi’iy, dan Hambaliy. Boleh memilih, madzhab yg mana .. sebab semuanya merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Untuk di Indonesia memang mayoritas Syafi’iyyah.

Ada orang yang mungkin merasa sudah jadi ulama, sering berkata madzhab saya Al Qur’an dan As Sunnah, … Perkataan ini mengandung beberapa hal:

1. Seolah dia sudah sampai derajat ulama Mujtahid Mutlaq, yg sudah mampu menggali hukum syariat langsung dari Al Qur’an dan As Sunah. Tanpa lagi mau merujuk kepada para ulama.

2. Seolah para imam madzhab tidak paham Al Qur’an dan As Sunnah, dan tidak merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah, sehingga mesti dibenturkan oleh orang-orang ini dgn perkataan “Saya tidak ikut madzhab, saya ikut Al Qur’an dan As Sunnah.”

3. Perkataan madzhab saya adalah Al Qur’an dan As Sunnah, secara tdk langsung (tidak mereka sadari) menurunkan derajat Allah dan RasulNya, seolah Allah dan RasulNya sederajat dengan para imam madzhab. Maha Suci Allah.

4. Terakhir .. jika mereka jujur dan konsisten dgn Al Qur’an, maka ikutilah ayat Al Qur’an:

​Fas’aluu ahladz dzikri inkuntum laa ta’lamuun​ – bertanyalah kepada ahli dzikir (para ulama) jika kalian tidak tahu …

Jika mereka konsisten dengan As Sunnah, maka ikutilah nasihat Nabi ​Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam​:

​Idza wusidal Amru ilaa ghairi ahlih fantazhirus saa’ah​ – Jika urusan diberikan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya. (HR. Bukhari)

Dan, yg ahli tentang agama adalah para ulama …

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Haruskah Bermahzab??


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Saya mau tanya tadz…Jadi hukum bermazhab bgm..dan hukum yg tidak bermazhab bagaimana..krn ada yg bilang sy mah ikut rasulullah aja..namun ada juga yg bilang ikut mazhab syafii…Itu bgmn ustad..

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

​Bismillah wal Hamdulillah ..​

Untuk aqidah, bermadzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah wajib. Sebab itulah esensi Islam yang diajarkan Nabi ​Shallallahu’Alaihi wa Salam.​ Walau penamaan Ahlus Sunnah baru pada pada masa sahabat dan tabi’in.

Ada pun dalam bidang fiqih, internal Ahlus Sunnah wal Jamaah mengenal empat madzhab yg masih ada; Hanafi, Maliki, Syafi’iy, dan Hambaliy. Boleh memilih, madzhab yg mana .. sebab semuanya merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Untuk di Indonesia memang mayoritas Syafi’iyyah.

Ada orang yang mungkin merasa sudah jadi ulama, sering berkata madzhab saya Al Qur’an dan As Sunnah, … Perkataan ini mengandung beberapa hal:

1. Seolah dia sudah sampai derajat ulama Mujtahid Mutlaq, yg sudah mampu menggali hukum syariat langsung dari Al Qur’an dan As Sunah. Tanpa lagi mau merujuk kepada para ulama.

2. Seolah para imam madzhab tidak paham Al Qur’an dan As Sunnah, dan tidak merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah, sehingga mesti dibenturkan oleh orang-orang ini dgn perkataan “Saya tidak ikut madzhab, saya ikut Al Qur’an dan As Sunnah.”

3. Perkataan madzhab saya adalah Al Qur’an dan As Sunnah, secara tdk langsung (tidak mereka sadari) menurunkan derajat Allah dan RasulNya, seolah Allah dan RasulNya sederajat dengan para imam madzhab. Maha Suci Allah.

4. Terakhir .. jika mereka jujur dan konsisten dgn Al Qur’an, maka ikutilah ayat Al Qur’an:

​Fas’aluu ahladz dzikri inkuntum laa ta’lamuun​ – bertanyalah kepada ahli dzikir (para ulama) jika kalian tidak tahu …

Jika mereka konsisten dengan As Sunnah, maka ikutilah nasihat Nabi ​Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam​:

​Idza wusidal Amru ilaa ghairi ahlih fantazhirus saa’ah​ – Jika urusan diberikan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya. (HR. Bukhari)

Dan, yg ahli tentang agama adalah para ulama …

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Suamiku…


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Saya mau bertanya ustadz,
1. Bagaimana batasan berhias bagi muslimah baik yg sudah menikah atau yang belum menikah?
2. Bagaimana seharusnya menurut islam , sikap istri yg tidak pernah dinafkahi bathin oleh suaminya selama lebih kurang 9 th, namun tetap dinafkahi lahir. Walau suaminya pun memenuhi kebutuhan keluarga, anak, walau untuk kebutuhan istri tetap istri memenuhi sendiri kecuali makan, tp selebihnya istri memenuhi sendiri, suami selalu sholat dimasjid, dan melaksanakan sunnah2 yang lain, suaminya juga sangat pendiam, sehingga komunikasi tdk terlalu bagus

Persoalannya: tdk menafkahi bathin, bahkan info yang kami dptkan, tidurnya tdk 1 kasur walau satu kamar, suami tdk pernah sekalipun membuka auratnya di depan istrinya, kalo istrinya ganti baju di kamar suaminya keluar , selama 9 th tadi 2 th istri pernah bertanya kenapa tdk pernah jima’ padahal istri sudah mengajak, suami diam atau marah, setelah itu katanya istri nya tdk pernah bertanya lagi, namun istrinya merasa tersiksa krn istri membutuhkan nafkah batin, bahkan cenderung lebih. Kalo demikian bolehkah mastrubasi. Member Manis 🅰2⃣8⃣

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

1. ☘Di dalam Islam tidak ada perbedaan dalam berhias untuk mereka yg sudah nikah atau belum. Batasannya firman Allah :

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

” dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Qs. Surat Al-Ahzab : 33)

2.☘ Dari uraian pertanyaan. Komentar saya lho ko bisa sampai 9 thn tidak mengetahui kondisi suami. Kalau benar demikian berarti suami dalam keadaan sakit . Hal yg prioritas yg harus dilakukan adalah berkomunikasi dari hati ke hati coba cari tahu akar masalahnya kalau hanya lemah syahwat sebenarnya istri berperan besar untuk membantu menyembuhkan.

Waktu 9 tahun bukan waktu singkat dan dalam keadaan demikian istri tetap tidak boleh mastrubasi, kenapa? Karena secara psychologis berpotensi menimbulkan kemudharatan yg lebih besar seperti penyimpangan Sex. Bila dirasa memang sudah tidak sanggup jalan keluar yang dibolehkan syariat adalah gugat cerai.
Alasannya :
Suami tidak mampu memberikan nafkah wajib bagi istri, yaitu nafkah “bathin”.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Harta Peninggalan Istri


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Klo dlm pembagian warisan… seorang istri meninggal dia sdah tdk punya orang tua, tdk punya anak, sdr kandung jg sdh meninggal, yg ada cuman suami, apakah semua warisan istri utk suami semua, apakah ponakan2 istri tsb jg dpt warisan…?
Mohon penjelasannya..
Terimakasih sebelumnya,.
#i03

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Suami berhak mendapatkan harta warisan dari istrinya yang meninggal. Nilainya adalah 1/2 (setengah) harta keseluruhan kalau istri tidak punya anak; dan 1/4 (kalau ada anak). Bagian suami tersebut adalah hak dari suami. Karena itu hak, maka suami bisa mengambil haknya atau bisa juga memberikan ke orang lain. Hukum asal adalah suami harus diberi bagian waris dari istrinya, sebagaimana istri harus mendapatkan bagian waris dari suaminya yang meninggal.

Bahwa harta milik istri adalah harta hasil kerjanya sendiri, maka perlu diketahui bahwa harta yang diwariskan itu memang harus berupa harta yang menjadi milik sendiri dari pewaris. Kalau pada harta istri itu terdapat harta orang lain, maka harta orang lain itu harus dipisah lebih dulu, tidak boleh ikut diwariskan.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA