Tidak Ada Kejayaan Tanpa Hantaman​, ​Tidak Ada Persatuan Tanpa Kesatuan Harapan​, ​Tidak Ada Bangsa Besar Tanpa Pemimpin Besar​

Kamis, 19 Dzul-Hijjah 804 Hijriah
Pertempuran di Ankara – 20 Juli 1402

Pertempuran yg terjadi di padang rumput Çubuk, dekat ibukota Turki sekarang yaitu Ankara, merupakan baku hantam terbesar antara Khilafah Turki Utsmani dengan Kekaisaran Timur.

Pada pertempuran ini kedua pemimpin tertinggi, Sultan Bayezid I dan Sultan Timur (Lang, Lenk, Lame) berhadap-hadapan memimpin pasukannya masing-masing di garia terdepan. Ketika itu menjadi pemimpin pada umumnya juga seorang yg siap untuk dituntut maju memimpin pasuka perangnya ke meda laga.

Pertempuran, dimana jumlah pasukan Timur 4 kali lipat lebih banyak tersebut, berakhir dengan kekalahan telak pada pihak Khilafah Turki Utsmani. Bahkan berbuntut tertangkapnya Sultan Bayezid I. Kekalahan ini juga diwarnai dengan sejumlah pengkhianatan pada barisan Turki Utsmani dari barisan kavaleri Tatar dan pasukan berkuda Sipahi lokal dari sejumlah Beylik Turki lainnya.

Pengkhianatan adalah penyakit bagi setiap peradaban yg hendak maju menjadi pemimpin dunia. Ia bagaikan sebuah proses yg tidak dapat dihindari utk menempa masyarakat dan pemimpin dari suatu bangsa yg ditakdirkan menjadi besar. Seberapa cepat dan tangkas mengatasinya merupaka salah satu indikator kertahanan bangsa tersebut dalam memelihara peradabannya.

Namun, pertempuran tidak seimbang ini terus berlanjut, bahkan hampir sepekan kontingen pengawal sultan bertahan dalam kepungan di pebukitan Çubuk sebelum akhirnya satu-persatu menemui ajalnya hingga sultan tertawan. Sultan Bayezid I bergelar Yıldırım akhirnya wafat setelah 1 tahun dalam tawanan dan jenazahnya dikirim kembali ke anaknya Mehmed Çelebi setelah Sultan Timur sendiri wafat juga.

Kesedihan adala keniscayaan dalam sebuah kekalahan, namun hal itu tidak perlu terlalu lama bagi bangsa yg besar. Pembelajaran atas sebab-sebab kekalahan menjadi prioritas yg lebih utama ketimbang ratapan kesedihan komunal.

Masa hilanganya kepemimpinan Khilafah Turki Utsmani dikenal dalam sejarah sebagai “interregnum” yg berakhir dgn konsolidasi ulang oleh anaknya mendiang sultan, yg kemudian dikenal sebagai Sultan Mehmed I Çelebi sang pemersatu. Khikafah Turki Utsmani kembali bergerak, tumbuh, dan terus berkembang sampai 2-3 abad setelah itu.

Dari seorang pemimpin yg laju kerjanya sangat “secepat kilat” sesuai gelar Yıldırım-nya lalu lahirlah seorang pemimpin pemersatu yg cerdas mengatasi masa genting seperti Mehmed I bergelar Çelebi yg berarti “cerdas.” Mungkin ada benarnya, bahwa buah tidak jatuh begitu jauh dari pohonnya; kebaikan melahirkan kebaikan.

Agung Waspodo, pagi sebelum silaturrahim di wilayah Depok dan sekitarnya.. 613 tahun kemudian!

Depok, 20 Juli 2015, sekitar jam 08.41
Laporan foto kolase dimuat C3i: 20 Juli 2015, sekitar 2 jam setelahnya

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh:
http://www.manis.id

Lawan Bersatu, Jangan Dibiarkan!​

Sekelompok kavaleri pengintai dari balatentara Bulgaria di pinggiran kota ​Edirne​, setelah 25 Maret 1913 yang menandai jatuhnya kota tersebut, AND.

Bulgaria telah meminta bantuan meriam berat Serbia untuk meluluh-lantakkan kota Edirne pada awal Perang Balkan Kedua yang dimulai kembali pada 30 Januari 1913. Berbagai upaya serangan untuk mematahkan kepungan Bulgaria dilancarkan oleh Şükrü Paşa sebagai jenderal Turki Utsmani yang mempertahankan kota.

Namun bantuan tak kunjung datang karena Pusat Komando balatentara Turki Utsmani lebih memprioritaskan peningkatan garis pertahanan Çatalca. Garis ini adalah yang terakhir sebelum kota İstanbul. Dalam kondisi serba kekurangan dan banyaknya pengungsi sipil di dalam kota yang berpotensi menjadi korban, maka pada jam 13.00 tanggal 25 Maret 1913, Şükrü Paşa menyerah kepada Jenderal Ivanov.

​Edirne​ yang pernah menjadi ibukota kedua setelah Bursa dan sebelum İstanbul hancur lebur kecuali beberapa masjid seperti Selimiye Cami pada gambar ini. Kota kelahiran Mehmet II Fatih itu harus menunggu hingga 21 Juli tahun yang sama untuk dibebaskan kembali. Kolapsnya Aliansi Balkan melemahkan posisi pendudukan Bulgaria. Enver Bey, pimpinan Turki Muda yang berhasil mengkudeta Sultan Mehmet V Reşat, memanfaatkan kelemahan itu. Enver Bey mengerahkan 250.000 pasukan dibawah Ahmet İzzet Paşa untuk merebut kembali kota bersejarah itu. Namun, Enver Bey yang mengklaim sebagai Pembebas Edirne Kedua.

Agung Waspodo, bekerja agar kesatuan Kaum Muslimin tidak lagi pecah belah.

Depok, 7 Mei 2017

Selalu ada Bahaya Besar sebelum Kemenangan Besar​ ​(Ketika Sultan Mehmed II belum Bergelar Fatih)​

Sejak kemarin, 26 Mei, tahun 1453, Sultan Mehmed II masih terus dirayu oleh sadrazam-nya untuk mencabut kepungan atas Konstantinopel. Çandarli Halil Paşa menawarkan pendekatan kompromi terhadap Kaisar Konstantin XI. Mengajukan tuntutan upeti kepada kaisar merupakan salah satu usulannya. Keluarga Çandarli telah lama menjalin hubungan diplomatik antara Turki Utsmani dan Byzantium; upeti bukan barang baru dalam diplomasi.

Untung saja, Mehmed II telah lama melihat gelagat buruk ini. Beliau menempatkan panglima Zaganos Paşa pada posisi sadrazam-sani, satu tingkat dibawah sadrazam, dalam lingkar inti penasihatnya. Kepahlawanan Zaganos Paşa lebih dari cukup untuk mengimbangi pengaruh Halil Paşa. Sepertinya masih ada harapan untuk menggelorakan semangat tempur.

Hari ini, 27 Mei, tahun 1453, Mehmed II mengunjungi setiap kemah kesatuan tempurnya untuk meraba denyut juang pasukan barisan terdepan. Mehmed II tidak menemukan alasan untuk bersedih karena hampir semua kesatuan ingin menjadi yang pertama melampaui dinding pertahanan kota. Mehmed II menginstrusikan agar kisah Sahabat Abu Ayyub al-Anshari (ra) dibacakan kembali di setiap kemah kesatuan.

Tidak ada yang tahu bahwa 2 hari kemudian kota Konstantinopel jatuh ke tangan Kaum Muslimin Turki Utsmani. Nubuwwat Nabi SAW tentang pembebasan kota akhirnya terwujud setelah 8 abad lamanya.

Apa kiranya bahaya besar yang harus diatasi Kaum Muslimin di Indonesia sebelum Allah SWT memberkahi negeri ini dengan kemenangan yang besar?

Agung Waspodo
Depok, 27 Mei 2017

Sejarah dan Keutamaan Al Aqsha Serta Kewajiban Melindunginya (Bag. 2)​

📌Masjid Al Aqsha Termasuk Tiga Masjid Yang Paling Dianjurkan Untuk Dikunjungi

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى

“Janganlah bertekad kuat untuk melakukan perjalanan kecuali menuju tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan Masjidil Aqsha. (HR. Bukhari
No. 1132, 1139, Muslim No. 1338, Ibnu Majah No. 1409, 1410, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 19920)

Maksudnya adalah berkunjung untuk berniat shalat, janganlah terlalu bertekad kecuali ke tiga masjid ini. Ada pun sekedar, kunjungan biasa, silaturrahim, maka tentu tidak mengapa mengunjungi selain tiga masjid ini; seperti mengunjungi orang shalih, silaturrahim ke rumah saudara dan family, ziarah kubur, mengunjungi ulama, mendatangi majelis ilmu, berdagang, dan perjalanan kebaikan lainnya. Semua ini perjalanan kebaikan yang dibolehkan bahkan dianjurkan.

Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah:

أن النهي مخصوص بمن نذر على نفسه الصلاة في مسجد من سائر المساجد غير الثلاثة فإنه لا يجب الوفاء به قاله ابن بطال.

“Bahwa larangan dikhususkan bagi orang yang bernazar  atas dirinya untuk shalat di masjid selain tiga masjid ini, maka tidak wajib memenuhi nazar tersebut, sebagaimana dikatakan Ibnu Baththal.” (Fathul Bari, 3/65)

Imam Al Khathabi Rahimahullah mengatakan:

وأنه لا تشد الرحال إلى مسجد من المساجد للصلاة فيه غير هذه الثلاثة؛ وأما قصد غير المساجد لزيارة صالح أو قريب أو صاحب أو طلب علم أو تجارة أو نزهة فلا يدخل في النهي، ويؤيده ما روى أحمد من طريق شهر بن حوشب قال: سمعت أبا سعيد وذكرت عنده الصلاة في الطور فقال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “لا ينبغي للمصلي أن يشد رحاله إلى مسجد تبتغى فيه الصلاة غير المسجد الحرام والمسجد الأقصى ومسجدي”

“Bahwa sesungguhnya janganlah bertekad kuat mengadakan perjalanan menuju masjid untuk shalat di dalamnya selain tiga masjid ini. Ada pun bermaksud selain masjid-masjid ini untuk berziarah kepada orang shalih, kerabat, sahabat, menuntut ilmu, berdagang, atau berwisata, maka tidaklah termasuk dalam larangan. Hal yang menguatkan ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari jalan Syahr bin Hausyab, dia berkata: aku mendengar Abu Said, dan aku menyebutkan padanya tentang shalat di Ath thur, dia berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: Hendaknya janganlah orang yang shalat itu bersungguh-sungguh mengadakan perjalanan untuk shalat menuju masjid  selain Masjidil Haram, Masjid Al Aqsha, dan masjidku (Masjid nabawi). (Ibid)

Bersambung ….

Sejarah dan Keutamaan Al Aqsha Serta Kewajiban Melindunginya (Bag. 1)​

📌Definisi Al Aqsha

Secara bahasa (etimologis)  Al Aqsha bermakna Al Ab’ad (yang paling jauh), maksimum, atau puncak.

Secara istilah (terminologis), berkata Imam Ibnu Hajar Al Asqalani Rahimahullah:

يَعْنِي مَسْجِد بَيْت الْمَقْدِس ، وَقِيلَ لَهُ الْأَقْصَى لِبُعْدِ الْمَسَافَة بَيْنه وَبَيْن الْكَعْبَة ، وَقِيلَ لِأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ وَرَاءَهُ مَوْضِع عِبَادَة ، وَقِيلَ لِبُعْدِهِ عَنْ الْأَقْذَار وَالْخَبَائِث ، وَالْمَقْدِس الْمُطَهَّر عَنْ ذَلِكَ .

Yakni masjid Baitul Maqdis, dikatakan pula baginya Al Aqsha, karena jauhnya jarak antara dia dengan Ka’bah. Dikatakan pula, karena dibelakangnya tidak ada tempat ibadah lainnya. Dikatakan juga, karena dia jauh dari kotoran dan kekejian, dan Al Maqdis merupakan pensuci dari hal itu. (Fathul Bari, 6/408. Darul Fikr. Lihat juga Imam Asy Syaukani, Fathul Qadir, 4/280. Mawqi Ruh Al Islam)

📌Masjid Tertua Kedua Setelah Masjidil Haram

Abu Dzar Radhiallahu Anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي الْأَرْضِ أَوَّلَ قَالَ الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْمَسْجِدُ الْأَقْصَى قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا قَالَ أَرْبَعُونَ سَنَةً 

“Wahai Rasulullah, masjid apa yang dibangun pertama kali di muka bumi? Beliau menjawab: Masjidil Haram. Aku (Abu Dzar) berkata: lalu apa lagi? Beliau menjawab: Masjidi Aqsha. Aku bertanya lagi: berapa lama jarak keduanya? Beliau menjawab: empat puluh tahun. (HR. Bukhari No. 3186, Muslim No. 520, Ibnu Majah No. 753, Ibnu Hibban No. 1598, 6228, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 4061, Ibnu Khuzaimah No. 787)

Yang dimaksud di bangun dalam hadits ini adalah fondasi dari kedua masjid itu. Sebab jika makna keduanya adalah masjid yang utuh, maka ada musykil. Berkata Imam Ibnul Jauzi:

فيه إشكال، لأن إبراهيم بنى الكعبة وسليمان بنى بيت المقدس وبينهما أكثر من ألف سنة انتهى

“Dalam hadits ini terdapat musykil, karena Ibrahim membangun Ka’bah dan Sulaiman membangun Baitul Maqdis, padahal  antara keduanya terpaut  jarak lebih dari seribu tahun. Selesai. (Fathul Bari, 6/408)

Ya, karena memang di beberapa riwayat shahih disebutkan bahwa Nabi Ibrahim membangun Kabah dan Nabi Sulaiman yang membangun Masjidil Aqsha. Maka, hadits di atas harus  dipahami bahwa yang dibangun saat itu adalah fondasinya.

Kemusykilan ini dijawab oleh Imam Ibnu  Al Jauzi dengan jawaban yang memuaskan. Katanya:

وجوابه أن الإشارة إلى أول البناء ووضع أساس المسجد وليس إبراهيم أول من بنى الكعبة ولا سليمان أول من بنى بيت المقدس، فقد روينا أن أول من بنى الكعبة آدم ثم انتشر ولده في الأرض، فجائز أن يكون بعضهم قد وضع بيت المقدس ثم بنى إبراهيم الكعبة بنص القرآن 

“Jawabannya adalah bahwa isyaratnya menunjukkan yang dibangun adalah fondasinya masjid, Ibrahim bukanlah yang pertama membangun Kabah, dan Sulaiman bukanlah yang pertama kali membangun Baitul Maqdis. Kami telah meriwayatkan bahwa yang pertama kali membangun Kabah adalah Adam, kemudian anak-anaknya menyebar di muka bumi. Maka, boleh saja sebagian mereka membangun Baitul Maqdis, kemudian Ibrahim yang membangun Ka’bah menurut Nash Al Quran.  (Ibid)

Imam Al Qurthubi Rahimahullah juga mengatakan hal yang sama:

وكذا قال القرطبي: إن الحديث لا يدل على أن إبراهيم وسليمان لما بنيا المسجدين ابتدا وضعهما لهما، بل ذلك تجديد لما كان أسسه غيرهما.

Demikian juga yang dikatakan oleh Al Qurthubi: sesungguhnya hadits ini tidaklah menunjukkan bahwa Ibrahim dan Sulaiman ketika  mereka berdua   membangun dua masjid sebagai yang mengawali, tetapi mereka hanya memperbarui apa-apa yang telah difondasikan oleh selain mereka berdua. (Ibid)

Bersambung …

Masjid ad-Dhirar – Ketika Kemunafikan Berkumpul dan Berbuah Rencana Makar!​

Waspada dengan masjid yang dibangun dengan ciri-ciri:
1. Mengajak pada kerusuhan,
2. Mengajak pada kekufuran,
3. Mengajak pada perpecahan;

Karena dia akan menjadi tempat ditampungnya orang-orang yang memerangi Allah SWT dan RasulNya SAW dan itu sudah dengan perencanaan yang matang (lama)

Jika terbongkar tujuannya maka pastilah penghuninya akan bersumpah bahwa niat mereka baik. Namun, Allah SWT bersaksi bahwa orang seperti ini pastilah berbohong!

QS at-Taubah: 109

Abu Amir, seorang tokoh munafik Madinah, yang juga promotor pembangunan Masjid ad-Dhirar bahkan menyarankan kepada kaum munafiqin untuk menyiapkan persenjataan. Abu Amir sendiri berencana untuk meminta bantuan militer Byzantium untuk (membantu kaum munafiqin) mengusir Rasul SAW dan para sahabat keluar kota Madinah. Sebuah makar terbuka!

Dari Ibn Abbas, dari kitab Dala’il Imam al-Bayhaqi yang dirujuk oleh as-Sumhudi dalam kitabnya Wafa’ hal. 518.

Memaksimalkan Amanah, Memanfaatkan Peluang​

Musa ibn Nusayr mempercayakan 7.000 pasukan yang direkrut dari kalangan Berber kepada Thariq ibn Ziyad. Thariq yang juga berasal dari suku Berber telah juga dipercaya sebagai gubernur Tanjah (Tangiers). Tugasnya adalah melakukan survei atas wilayah Visigothic Hispania di seberang Selat Herkules.

Pada tanggal 5 Rajab 92 Hijriyah (sekitar 28-29 April 711 Masehi) Thariq memimpin ekspedisi pengintaian laut menggunakan 4 kapal transpor pinjaman dari Julian. Adapun Julian adalah penguasa Visigoth di Sibtah (Ceuta) yang bersaing dengan Raja Roderick di Hispania.

Pendaratan dilakukan secara senyap di sebelah timur Tanjung Calpe guna terhalangi pantauan pengawas pantai Visigoth. Peyeberangan dilakukan dalam beberapa kali, kelak tanjung ini lebih dikenal sebagai Jabal Thariq atau Jibraltar (Gibraltar). Pada bulan tersebut, Roderick sedang sibuk memadamkan pemberontakan Vascos di Navarra, sebelah utara Hispania.

Melihat peluang yang begitu besar, Thariq mengubah tujuan pendaratan dari pengintaian menjadi pendudukan berkecepatan tinggi. Roderick baru menyadari besarnya ancaman pasukan kecil Thariq ketika pendaratan sudah sempurna dan kekuatan Kaum Muslimin sudah terpusat. Pertempuran di Wadi-Lakah (Guadalete) pada hari Ahad 28 Ramadhan 92 Hijriyah (sekitar 19 Juli 711 Masehi) sudah terlambat hampir 3 bulan.

Agung Waspodo, harusnya saya tuliskan 28-29 April 2017
Depok, 2 Juli 2017

Ketika Merasa Tersaingi dapat Merusak & Mengancam Persatuan​

Dalam kitab Futuh Masr wal-Maghrib karya Ibn Abdul Hakan, halaman 280:

Musa ibn Nusayr berangkat menyusul Thariq pada bulan Rajab 93 H dengan mayoritas pasukan Arab beserta klien-spesial (الموالى و عرفاء) dari kalangan Berber sampai mendarat di Andalus. (Musa) dalam keadaan marah* terhadap Thariq, membawa** (calon pengganti, yaitu) Hajib ibn Abi Ubaydah al-Fihri. Musa menjadikan anak sulungnya yang bernama Abdullah ibn Musa sebagai pemimpin di kota al-Qayrawan (ibukota Ifriqiya) sekepergiannya.

Pada paragraf yg terpotong (dari foto kitab di bawah, tertulis):

(Ketika keduanya bertemu di Qurtuba/Cordova) Thariq mencoba menjelaskan (keputusannya) kepada Musa:

“Sesungguhnya aku adalah mawla (pembantu)-mu dan pembebasan (Andalus) ini adalah bagi (kejayaan)-mu”

Agung Waspodo
Depok, 9 Syawal 1438 H


* Musa menganggap inisiatif penaklukan Andalus oleh Thariq melampaui wewenang yang ia berikan selaku wali (gubernur) Ifriqiya.

** Inilah bibit awal persaingan antara bangsa Arab dan Berber di Andalusia yang turut mengakibatkan perpecahan beberapa abad ke depan sehingga mengubah negeri ini menjadi Mulukuth Thawa’if (kerajaan yang berpecah-belah) hingga kehancurannya..

Romantisme Nabi SAW dan ‘Aisyah (ra) Ada Saat-saatnya Ditengah Kesibukan Da’wah dan Jihad

Oleh: Agung Waspodo, SE, MPP

Rasulullah SAW membangunkan sebuah rumah (bilik) bagi ‘Aisyah (ra) yang (kelak) menjadi tempat dikuburnya Baginda Nabi Muhammad SAW. Rumah tersebut memiliki pintu (akses) ke masjid yang letaknya berseberangan dengan pintu bilik ‘Aisyah (ra). Dari pintu tersebut Baginda Nabi SAW dapat keluar menuju Masjid Nabawi.

Dalam suatu kesempatan, Nabi SAW sedang ber-i’tikaf di masjid. Kepala baginda diselonjorkan hingga keluar dari batas masjid hingga ke undakan pintu bilik ‘Aisyah (ra). Dalam kondisi haidh, ‘Aisyah (ra) membasuh kepala baginda Nabi Muhammad SAW.

Kita tidak lebih sibuk dan lebih serius berda’wah daripada Nabi SAW, namun sepertinya baginda Muhammad SAW masih dapat menyempatkan untuk bermesraan dengan isterinya.

Thabaqat karya Ibn Sa’d, Vol. X, hal. 159.
Dari az-Zuhri dan ‘Ashim ibn ‘Umar ibn Qatadah

Depok, 24 Mei 2017

Raja Saudi yang Terpaksa Berkompromi dengan AS dan Inggris

Oleh: Agung Waspodo, SE, MPP

Dari Sumber Catatan Sir Winston Churchill

Kisah itu dimulai ketika Raja ‘Abdul ‘Aziz as-Sa’ ud (Ibn Saud) bertemu dengan presiden AS Franklin Delano Roosevelt (FDR) di atas kapal perang USS Quincy pada 14 Februari 1946, setelah Perang Dunia Kedua usai. Setelah itu FDR bertemu Perdana Menteri Inggris Sir Winston Churchill di kota Alexandria, Mesir, pada 15 Februari. Pertemuan terakhir antara keduanya, FDR wafat pada bulan April 1946.

Setelah pertemuan tersebut, Churchill langsung berangkat menuju Oasis Fayyoum untuk bertemu dengan Raja Ibn Sa’ud di Auberge du Lac Hotel. Hotel in dahulunya adalah bekas peristirahatan Raja Farouq Mesir ketika ia sedang berburu. Tempat tersebut diubah menjadi hotel dengan pemandangan Danau (Lac) Qarun. Qarun adalah menteri keuangan di zaman Fir’aun. Hotel yang kini masih dapat dijumpai di lokasi yg sama (1954) bukan yang asli dibangun tahun 1945.

Kisah selanjutnya diambil dari jilid ke-6 buku karya Churchill yang berjudul The Second World War – Triumph and Tragedy:

Setelah kepergian delegasi AS, saya (Churchill) telah mengarsir pertemuan dengan Ibn Saud. Beliau (Ibn Saud) diangkut menggunakan kapal perang kelas perusak USS Murphy dengan penghormatan layaknya seorang pemimpin dari Timur. Ikut bersama rombongan beliau terdapat 50 orang termasuk dua anaknya, perdana menterinya, spesialis ilmu falaq, serta selusinan domba untuk disembelih sesuai aturan Islam.

Beberapa seloroh Churchill yang cukup terkenal, antara lain:

Beberapa masalah sosial timbul. Saya (Churchill) diberitahu tidak boleh ada acara merokok serta pelayanan Minum an beralkohol di dalam jamuan Raja (Ibn Saud). Karena saya (Churchill) adalah penjamu/tuan-rumah maka segera kuangkat masalah ini. Kukatakan kepada penterjemah bahwa hak sang raja untuk tidak menikmati merokok dan alkohol sesuai agamanya. Namun, perlu diketahui bahwa aturan hidupku menuntut merokok cerutu bersama minum alkohol sebelum, setelah, dan jika dirasakan perlu dalam perjamuan sesuai interval. Raja (Ibn Saud) secara terhormat menerima usulanku. Bahkan, pelayan minum raja (Ibn Saud) sendiri yang menuangkan segelas air zam-zam untukku, segelas air yang paling lezat dalam hidupku.

Masalah lainnya menurut Churchill:

It had been indicated to me beforehand that here would be an interchange of presents during the course of our meeting. I had therefore made what I thought were adequate arrangements. “Tommy” Thompson [Churchill’s aide] had bought for me in Cairo for about a hundred pounds, at the Government’s expense, a little case of very choice perfumes which I presented. We were all given jewelled swords, diamond-hilted, and other splendid gifts. Sarah [Churchill’s daughter] had an enormous portmanteau which Ibn Saud had provided for “your womenfolk.” I appeared that we were rather outclassed in gifts, so I told the King, “What we bring are but tokens. His Majesty’s Government have decided to present you with the finest motor-car in the world, with every comfort for peace and every security against hostile action.” This was later done.

Profil Raja Ibn Su’ud menurut impresi Churchill:

King Ibn Saud made a striking impression. My admiration for him was deep, because of his unfailing loyalty to us. He was always at his best in the darkest hours. He was now over seventy, but had lost none of his warrior vigour. He still lived he existence of a patriarchal King of the Arabian desert, with his forty living sons and the seventy ladies of his harem, and three of the four legal wives, as prescribed by the Prophet, one vacancy being left.

Satu-satunya isu yang tidak berhasil didapatkan oleh Churchill dari Ibn Su’ud adalah dukungan Raja Saudi atas usulan Inggris mempartisi Palestina dengan mendirikan Israel seiring dengan mundurnya Inggris dari mandat wilayah tersebut.

Agung Waspodo, tujuh puluh satu tahunan kemudian
Depok, 30 April 2017