Janganlah Suka Menghinda Diri Sendiri

TIGA HAL ISTIMEWA DAN PENUH MAKNA

📝 Pemateri: Ust. Farid Nu’man Hasan

Ada TIGA  hal yang membinasakan:
1. Kikir yang dituruti
2. Hawa nafsu yang ditaati
3.Seorang kagum dgn diri sendiri

TIGA hal yang menyelamatkan:
1. Takut kepada Allah dalam kesendirian dan keramaian
2. Sederhana dlm keasaan faqir dan kaya
3. Adil dlm keadaan ridha dan marah

TIGA hal yang meninggikan derajat:
1. Menyebarkan salam
2. Bangun utk shalat malam ktk manusia tidur
3. Memberikan makanan

TIGA hal yang menghapuskan dosa:
1. Menyempurnakan wudhu
2. Berjalan ke masjid
3. Menunggu waktu dari shalat ke shalat

Ada TIGA jenis manusia..:
1. Zhalimun linafsih (zalim thdp diri sndiri)
2. Muqtashid (pertengahan)
3. Sabiqun bil khairat (terdepan dalam kebaikan)

Ada TIGA ciri munafiq:
1. Jika bicara dia bohong
2. Jika janji dia ingkar
3. Jika diberi amanah dia khianat

Ada TIGA macam kezaliman:
1. Kezaliman yg tidak Allah ampuni (syirik)
2. Kezaliman yg diampuni
3. Kezaliman yg tidak akan Allah biarkan

Jika mati manusia semua amal terputus kecuali TIGA:
1⃣. Sedekah jariyah
2⃣. Ilmu yg bermanfaat
3⃣. Doa anak shalih

Ada TIGA surat yang disebut al muawidzaat:
1⃣. Al Ikhlash
2⃣. Al Falaq
3⃣. An Naas

Ada TIGA panglima jihad yg syahid dalam perang Mu’tah:
1⃣. Zaid bin Haritsah
2⃣. Ja’far bin Abi Thalib
3⃣. Abdullah bin Rawahah

Ada TIGA masjid yg sgt dianjurkan dikunjungi:
1⃣. Masjid Al Haram
2⃣. Masjid An Nabawi
3⃣. Masjid Al Aqsha

Ada TIGA cinta utama bagi kaum beriman:
1⃣. Allah
2⃣. Rasul
3⃣. Jihad

Wallohu a’lam bis showaab.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷

Sebarkan! Raih Pahala

Dipersembahkan oleh : manis.id

📲 Follow IG MANIS: http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allah Maha Berkehendak

Polemik Siapakah Manusia Pertama

✔Pertanyaan:

Apakah ada ayat alQuran atau hadits Nabi yg menyatakan bahwa Nabi Adam adalah manusia pertama yg diciptakan oleh Allah SWT?

☑Jawaban:

Oleh: Farid Nu’man Hasan

Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu ‘Ala Rasulillah wa ba’d:

Ilmu pengetahuan modern sampai hari ini belum menyimpulkan apa-apa tentang asal-usul manusia, kecuali terjadinya diskontinuitas. Semua penemuan bagian tulang belulang, baik itu tengkorak, rahang, dan lainnya, tidak pernah utuh, hanya bagian-bagian kecil tertentu yang terpisah di tempat yang jauh, lalu di reka-reka dan rekonstruksikan sebagai manusia puba bernama A, B, C, dan seterusnya. Beragam teori tentang asal usul manusia sudah banyak yang mengemukakan, ada yang saling menguatkan, ada yang saling  menegasikan.  Tetapi, semua berujuang pada: ketidakpastian.

Sependek yang saya ketahui, tidak ada satu pun ahli yang benar-benar yakin bahwa temuan mereka, beserta teori yang mereka bangun, merupakan finalisasi perdebatan panjang tentang siapa manusia pertama yang pernah ada. Sebagai orang yang berakal, kita mengapresiasi segala jerih payah para ilmuwan untuk menguak misteri ini secara scientific. Semoga saja semua penemuan ini tidak berujung pada keputusasaan sehingga mengatakan keberadaan pencipta pun bisa diteorikan! Bagaimana mungkin bisa, padahal tentang asal usul dirinya saja mereka kebingungan?

Kemudian, di sisi lain, sebagai orang beriman, kita juga memiliki wahyu yang kebenarannya laa syakka wa laa rayba. Semuanya adalah haq dari Allah ﷻ,hukumnya haq, kisahnya haq, nasihatnya haq, tidak sedikit pun kesalahan baik atas, bawah, kanan, kiri, dan tengahnya.

Semuanya saling menguatkan dan menopang. Maka, ketika penemuan modern masih masuk dalam ranah zhanniyat (dugaan), belum keluar darinya sedikit pun, bahkan tidak ada clue (tanda) baru untuk keluar dari ranah itu, maka selama itu pula dia bukan pegangan, apalagi dijadikan  aqidah yang mencapai derajat ilmul yaqin.

Maka, ketika terjadi ketidakserasian antara keduanya, yang satu masih berputar pada teori, mencari-cari data, mengumpulkan bukti, lalu saling bantah dan koreksi, apa yang mereka  upayakan pun hanya menjadi konsumsi elitis sebagian ilmuwan dan kaum terpelajar, bahkan tidak pernah ada yang bisa memastikan kapan berakhirnya upaya ini …, sementara Al Quran sudah menceritakannya, dengan penceritaan yang tidak sekali, lalu menjadi keyakinan milyaran manusia, baik cerdik cendikia, maupun awamnya, maka apa yang Allah ﷻsampaikan melalui firmanNya lebih kita ikuti.

Kita meyakini, dalam hal-hal yang pasti kebenarannya selamanya ayat suci tidak akan pernah berbenturan dengan teori modern yang haq, karena keduanya –pada hakikatnya- juga berasal dari ayat-ayatNya, yaitu ayat Qauliyah dan Kauniyah, keduanya berasal dari Allah ﷻ maka keduanya tidak mungkin dan tidak seharusnya berseberangan, justru saling mengkonfirmasi. Jika terjadi benturan keduanya, maka yang qath’i (pasti) lebih kita jadikan pedoman dibanding yang zhanni (dugaan). Justru yang zhanni itu mesti diarahkan kepada yang qath’i.

Nabi Adam ‘Alaihissalam Dalam Al Quran

Taruhlah kita tidak dapatkan ayat dengan kalimat lugas (manthuq/tersurat) menyebut Nabi Adam ‘Alaihissalam adalah manusia pertama, yang mengharuskan ada kata “manusia pertama” dalam ayat tersebut. Kita tidak akan menemuinya. Tetapi secara mafhum (tersirat) kita banyak mendapatkannya. Mereka-mereka yang menolak atau meragukan Nabi Adam ‘Alaihissalam sebagai manusia pertama, sangat-sangat tekstualist, mereka mensyaratkan  mesti ada kata semisal “Adam adalah manusia pertama, “ atau “Aku ciptakan manusia pertama adalah Adam,” atau yang semakna dengan ini, yang tanpa perlu penjelasan lagi memang begitulah maknanya.

Sejenak kita perhatikan ayat-ayat berikut:

▶        Al Baqarah ayat 30

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Mereka yang menolak meyakini Nabi Adam‘Alaihissalam sebagai manusia pertama memahami bahwa ayat ini menunjukkan ada orang lain sebelum Nabi Adam ‘Alaihisalam. Sebab, bagaimana para malaikat bisa tahu sebelum Nabi Adam sudah ada pertumpahan darah di muka bumi?  Pastilah sebelumnya sudah ada manusia lain.

Betulkah seperti itu? Betulkah sebelum Nabi Adam ‘Alaihissalam sudah ada manusia di muka bumi yang saling menumpahkan darah? Ataukah itu makhluk lain selain manusia?

Kita lihat penjelasan dari Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, imamnya para imam ahli tafsir, yang dijuluki Turjumanul Quran (penafsir Al Quran), Al Bahr (samudera), Hibru hadzihil ummah (tintanya umat ini), dan telah didoakan oleh Nabi ﷺ : “Ya Allah ajarkanlah dia ta’wil Al Quran, dan fahamkanlah dia ilmu agama.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 6287, katanya:shahih. Ath Thabarani dalam Al Kabir No. 10587), dalam hadits lain: “Ya Allah ajarkanlah dia Al Kitab (Al Quran). (HR. Bukhari No. 75)

Beliau berkata:

أنه كان في الأرض الجِنُّ , فأفسدوا فيها , سفكوا الدماء , فأُهْلِكوا , فَجُعِل آدم وذريته بدلهم

Bahwasanya dahulu di muka bumi ada jin, mereka membuat kerusakan di dalamnya, dan menumpahkan darah dan mereka pun binasa, lalu diciptakanlah Adam dan keturunannya untuk menggantikan mereka. (Imam Abul Hasan Al Mawardi, An Nukat wal ‘Uyun, 1/95. Lihat Imam Ibnu Jarir Ath Thabari, Jami’ul Bayan, 1/450)

Apa yang dikatakan oleh Abdullah bin  Abbas Radhiallahu ‘Anhuma ini sesuai dengan yang Allah ﷻfirmankan:

وَالْجَانَّ خَلَقْناهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نارِ السَّمُومِ

Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. (QS. Al Hijr: 27)

Maka, keterangan Abdullah bin AbbasRadhiallahu ‘Anhuma, dan juga  ayat yang menyatakan bahwa Jin lebih dahulu diciptakan  sebelum Adam, merupakan koreksi yang menganulir pemahaman atau perkiraan  bahwa sudah ada manusia sebelum Nabi Adam ‘Alaihissalam.

Sementara, para pakar yang lain mengatakan bahwa pengetahuan para malaikat adanya kerusakan dan pertumbahan darah bukan karena sebelumnya sudah ada manusia, bukan pula karena jin, tetapi itu merupakan pengabaran masa yang akan datang setelah diciptakannya  Adam yang dilakukan oleh anak cucunya, baik itu merupakan terkaan malaikat terhadap yang ghaib, ada pula riwayat yang menyebutkan karena Allahﷻ juga telah mengabarkan itu kepada mereka. Bagi yang ingin memperluas masalah ini silahkan buka Tafsir Jami’ul Bayan-nya Imam Ibnu Jarir Ath Thabari Rahimahullah.

▶       Sebutan bagi manusia adalah “Bani Adam”

Al Quran dan As Sunnah menyebut manusia keseluruhan dengan Bani Adam (Keturunan Adam), atau jika satu orang disebut Ibnu Adam. Keduanya (baik Bani Adam dan Ibnu Adam) ada dalam teks-teks yang shahih lagi sharih (jelas). Penyebutan tersebut, secara mafhum muwafaqah  menjadikan Adam ‘Alaihissalam sebagai porosnya menunjukkan dialah yang pertama, bukan selainnya. Jika memang ada selainnya, tentunya Allah ﷻ tidak akan menyebut (semua) manusia Bani Adam, dan tidak mungkin Allah ﷻ salah sebut. Maha Suci Allah dari hal itu. Allah ﷻ juga menyebut Bani Israel, karena Israel (Nabi Ya’qub ‘Alaihissalam) adalah yang awal bagi anaknya yang 12 orang dan menjadi suku-suku sendiri di kemudian hari, lalu mereka pun disebut Bani Israel, bukan bani-bani yang lainnya. Jikalau sebelum Nabi Adam ‘Alaihissalam sudah ada manusia, taruhlah namanya X atau jenis X, tentulah Bani X panggilannya.

Masalah ini begitu penting sampai-sampai menyita perhatian  milyaran manusia, bahkan ada disiplin ilmu khusus untuk mempelajarinya dan mereka menghabiskan usianya hanya untuk urusan ini. Apakah masalah sepenting ini luput begitu saja dari Al Quran? Ketika Al Quran telah membahasnya bahwa jenis “manusia”  adalah Bani Adam, maka itulah finalnya dari masalah penting ini, dan itulah jawaban dan perhatian Al Quran terhadap misteri ini.

Tenanglah jadinya hati kita bahwa Adam ‘Alaihissalam memang manusia pertama sebagaimana tersirat dalam beberapa ayat Al Quran.

Terakhir, ada baiknya kita renungkan perkataan bagus berikut ini. Al Ustadz Hasan Al Banna Rahimahullah mengatakan:

وقد يتناول كل من النظر الشرعي والنظر العقلي ما لا يدخل في دائرة الآخر , ولكنهما لن يختلفا في القطعي , فلن تصطدم حقيقة علمية صحيحة بقاعدة شرعية ثابتة ، ويؤول الظني منهما ليتفق مع القطعي , فإن كانا ظنيين فالنظر الشرعي أولى بالإتباع حتى يثبت العقلي أو ينهار

Pandangan teori agama dan pandangan akal masing-masing punya domain, dan  tidak boleh dicampuradukkan, keduanya tidak akan pernah berselisih dalam masalah yang pasti kebenarannya. Maka, selamanya hakikat teori ilmiah yang shahih tidak akan bertentangan dengan kaidah syar’i  yang pasti. Jika salah satu di antara keduanya ada yang bersifat zhanni, dan yang lainnya adalah qath’i maka yang zhanni mesti ditarik agar sesuai dengan yang qath’i, jika keduanya sama-sama zhanni maka pandangan agama lebih utama diikuti, sehingga akal mendapatkan legalitasnya atau gugur sama sekali.  (Ushul ‘Isyrin, No. 19)

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allah Maha Berkehendak

Apakah Makhluk Pertama Kali Yang Allah ﷻ Ciptakan?

📝 Pemateri: Farid Nu’man Hasan

Para ulama berbeda pendapat tetang hal ini:

Pertama. Mereka yang mengatakan Qalam adalah makhluk pertama yang Allah ﷻ ciptakan sebelum seluruh makhluk lainnya. Inilah pendapat Imam Ibnu Jarir, Imam Ibnul Jauzi, dan selainnya. Imam Ibnu Jarir mengatakan setelah itu Allah ﷻ menciptakan awan tipis. (Imam Ibnu Katsir, Al Bidayah wan Nihayah, 1/9)

Dalilnya adalah dari ‘Ubadah bin Ash Shamit Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إن أول ما خلق الله القلم

Sesungguhnya yang pertama kali Allah ciptakan adalah Al Qalam. (HR. At Tirmidzi No. 3319, katanya:hasan shahih. Abu Daud No. 4700, Ahmad No. 22705. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 22705)

Kedua. Mereka yang mengatakan ‘Arsy adalah makhluk pertama yang Allah ﷻ ciptakan sebelum yang lainnya. Inilah pendapat mayoritas ulama, seperti yang dinukilkan Al Hafizh Abul ‘Ala Al Hamdani dan lainnya. (Al Bidayah wan Nihayah, Ibid)

Dalilnya adalah dari Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، قَالَ: وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ

Allah ﷻ menuliskan takdir-takdir bagi makhluk sebelum menciptakan langit dan bumi sejauh 50.000 tahun. Beliau bersabda: ‘Arsy-Nya di atas air. (HR. Muslim No. 2653)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan:

وقد دل هذا الحديث أن ذلك بعد خلق العرش فثبت تقديم العرش على القلم الذي كتب به المقادير كما ذهب إلى ذلك الجماهير. ويحمل حديث القلم على أنه أول المخلوقات من هذا العالم

Hadits ini menunjukkan bahwa peristiwa itu terjadi setelah penciptaan ‘Arsy, maka telah shahih bahwa ‘Arys lebih dahulu dari pada Qalam, yang dengannya dituliskan takdir-takdir sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Ada pun hadits tentang Qalam, mereka menafsirkan bahwa Qalam adalah makhluk pertama di jagat raya (bukan makhluk yang pertama kali  diciptakan, pen). (Al Bidayah wan Nihayah, ibid)

Imam Ibnu Jarir menolak pendapat ini dengan beberapa riwayat yang dia jadikan hujjah. Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan:

قال ابن جرير وقال آخرون ” بل خلق الله عزوجل الماء قبل العرش ” رواه السدي عن أبي مالك وعن أبي صالح عن ابن عباس وعن مرة عن ابن مسعود وعن ناس من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم: قالوا ” ان الله كان عرشه على الماء (1)، ولم يخلق شيئا غير ما خلق قبل الماء ” وحكى ابن جرير عن محمد بن اسحاق أنه قال ” أول ما خلق الله عزوجل النور والظلمة ثم ميز بينهما فجعل الظلمة ليلا أسود مظلما، وجعل النور نهارا مضيئا مبصرا ” قال ابن جرير وقد قيل: ” إن الذي خلق ربنا بعد القلم الكرسي. ثم خلق بعد الكرسي العرش، ثم خلق بعد ذلك الهواء والظلمة. ثم خلق الماء فوضع عرشه على الماء ” والله سبحانه وتعالى أعلم

 Ibnu Jarir dan lainnya mengatakan: “Bahkan Allah telah menciptakan air sebelum ‘Arsy.” As Suddi meriwayatkan dari Abu Malik, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, dan dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud, dari manusia para sahabat Nabi ﷺ, mereka mengatakan: “Sesungghnya ‘ArsyNya ada di atas air, dan Dia belum menciptakan apa pun selain apa yang Dia ciptakan sebelum air.” Ibnu Jarir menceritakan dari Muhammad bin Ishaq, dia berkata: “Yang pertama kali Allah ﷻ ciptakan adalah cahaya dan kegelapan, lalu  Allah memisahkan keduanya sehingga dijadikanNya kegelapan itu di malam hari dan dijadikannya cahaya itu siang hari yang terang benderang. Berkata Ibnu Jarir: telah dikatakan: “Sesungguhnya yang diciptakan Rabb kami setelah Qalam adalah Kursiy, lalu setelah Kursiy adalah ‘Arsy, lalu setelah itu udara dan kegelapan, lalu diciptakan air maka diletakan ‘ArsyNya di atas air.” Wallahu A’lam (Al Bidayah, 1/10) Tapi, riwayat-riwayat ini tidak dijelaskan keshahihannya oleh Imam Ibnu Jarir.

Ketiga. Pendapat yang mengatakan bahwa yang pertama kali Allah ﷻ ciptakan adalah “Nur Muhammad.” Pendapat ini dianut oleh golongan sufi.

Dalilnya, dari Jabir Radhiallahu ‘Anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:

أول ما خلقت نور نبيك يا جابر

“Pertama kali yang diciptakan adalah Nur Nabimu wahai Jabir!” (HR. Abdurazzaq, lihat Al ‘Ajluni dalam Kasyful Khafa, 1/302)

Bahkan golongan ini meyakini bahwa Nur Muhammad diciptakan sebelum Lauh Mahfuzh, Qalam, surga, neraka, malaikat, langit, bumi, matahari, bulan, jin dan manusia. (Ibid)

Namun pendapat ini ditentang secara keras, dan dituding sebagai pendapat yang  menyimpang, karena dasarnya adalah riwayat yang palsu. Berikut ini keterangannya:

وهذا حديث موضوع مكذوب لا قيمة له، فنحن نسمع الناس في هذا الوقت يقولون: يا أول خلق الله! ويا نور عرش الله! فما هو الفرق بين هذا القول وبين قول النصارى: عيسى ابن الله؟ هذا ضلال وذاك ضلال

Hadits ini palsu dan dusta, tidak ada nilainya. Kami mendengar orang-orang sekarang  mengatakan: Wahai makhluk Allah yang pertama! Wahai cahaya ‘Arsynya Allah! Maka, apa bedanya perkataan ini dengan perkataan orang Nasrani: “Isa adalah anak Allah?” Ini sesat yang itu juga sesat. (Syaikh Hasan Abul Asybal Az Zuhri Al Mishri, Syarh Shahih Muslim, 13/97)

Sementara Syaikh Al Albani menyebut ini sebagai min abthalil baathil (di antara kebatilan yang paling batil). (Mausu’ah Al Albani fil ‘Aqidah, 3/816)

Manakah yang lebih shahih? Al Hafizh Abul ‘Ala Al Hamdani  Rahimahullah  mengatakan  pendapat yang paling shahih adalah yang mengatakan ‘Arsy sebagai makhluk pertama yang Allah ﷻ ciptakan. (Al ‘Ajluni, Kasyful Khafa, 1/302). Dan, inilah pendapat mayoritas ulama.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Majelis ilmu

FIQHUD DA’WAH (Bag. 2)

📝 Pemateri: Farid Nu’man Hasan, SS

Keutamaan-Keutamaan Da’wah

Berbahagialah Para Da’i limpahan fadhilah menanti Anda …

1. Melanjutkan tugas dan perjuangan para Nabi dan Rasul ‘alaihimissalam

Ini kemuliaan yang luar biasa. Para da’i menjadi pelanjut estafeta perjuangan para Nabi dan Rasul. Mengajak manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya Islam, dari kesyirikan menuju tauhid, dari maksiat menuju taat, dari kemunafikan dan kekufuran  menuju iman.

Allah ﷻ berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (QS. AN Nahl: 36)

Setiap umat ada Rasul yang diutusNya, dan para rasul itu sejak Adam ‘Alaihissalam sampai Nabi Muhammad ﷺ adalah bersaudara, dan agama mereka sama. Sedangkan pasca wafat Rasulullah ﷺ tidak ada lagi Nabi dan Rasul setelahnya. Maka, para da’i melanjutkan perjuangan mereka, sejak masa sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan seterusnya.

Allah ﷻ berfirman:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf: 108)

Dari Abu Hurairah
Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

وَالْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ

Para nabi itu bersaudara ayah mereka satu sedangkan ibu-ibu mereka berbeda, dan agama mereka satu (yaitu agama tauhid, Islam). (HR. Al Bukhari No. 3443, Muslim No. 2365)

2. Allah ﷻ dan seluruh makhluk bershalawat kepada para penyeru kebaikan

Abu Umamah Al Bahili Radhiallahu ‘Anhu berkata, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الخَيْرَ

Sesungguhnya Allah, para malaikatNya, penduduk langit dan bumi, sampai semut-semut di lubangnya dan ikan-ikan di lautan, mereka bershalawat kepada orang yang mengajarkan manusia pada kebaikan. (HR. At Tirmidzi No. 2685, katanya: hasan shahih. Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 7912)

Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah mengatakan bahwa yang dimaksud “shalawat” dalam hadits ini adalah doa dan istighfar. (Imam Ibnu Abdil Bar, Jami’ Bayan, 1/174)

Jadi, semua makhluk mendoakan dan memintakan ampunan buat para penyeru dan pengajar kebaikan.
Sedangkan, kata Imam Al Munawi Rahimahullah, makna “shalawat” dari Allah ﷻ adalah rahmat (kasih sayang). (Imam Al Munawi, Faidhul Qadir, 4/432)

3. Jika manusia dapat hidayah karena perantara seorang da’i maka itu lebih mahal dari Unta Merah

Dari Sahl bin Sa’ad As Sa’idi Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ berkata kepada Ali Radhiallahu ‘Anhu:

فَوَاللَّهِ لَأَنْ يُهْدَى بِكَ رَجُلٌ وَاحِدٌ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

Demi Allah, Seseorang mendapatkan hidayah karena kamu, maka itu lebih baik bagimu dibandingkan Unta Merah. (HR. Al Bukhari No. 2942, Muslim No. 2406)

Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah menjelaskan bahwa bagi orang-orang Arab saat itu tidak ada warna Unta yang lebih baik dibandingkan merah. (Imam Ibnu Abdil Bar, At Tamhid, 24/116)

Syaikh Mushthafa Al Bugha dalam Ta’liqnya terhadap Shahih Al Bukhari mengatakan bahwa Humrun Na’am yaitu Unta Merah, pada masa Arab dahulu dia adalah harta yang paling disukai dan dikagumi.

Sementara Abu Bakar Al Anbari mengatakan digunakannya Unta Merah di sini, karena posisinya yang mulia dan tinggi. (Imam Ibnu Baththal, Syarh Shahih Al Bukhari, 5/166)

4. Mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang mengikuti kebaikan yang diajarkannya

Dari Abu Mas’ud Al Anshari Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barang siapa yang menunjukkan jalan kebaikan maka dia mendapatkan ganjaran yang sama dengan orang yang melakukan kebaikan itu. (HR. Muslim No. 1893)

Imam An Nawawi Rahimahullah menerangkan:

فيه فضيلة الدلالة على الخير والتنبيه عليه والمساعدة لفاعله وفيه فضيلة تعليم العلم ووظائف العبادات

Dalam hadits ini terdapat keutamaan memberikan petunjuk pada kebaikan dan memberikan peringatan atas hal itu, serta membantu orang yang melakukannya. Juga keutamaan mengajarkan ilmu dan agenda-agenda peribadatan. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 13/39)

Bahkan akan menjadi pahala yang tidak putus-putus jika ajakan kebaikannya dilakukan oleh banyak orang dari masa ke masa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ  ….

“Barangsiapa dalam Islam melakukan kebiasaan baik, maka tercatat baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka yang mengikutinya….”   (HR. Muslim, No. 1017, At Tirmidzi No. 2675, An Nasa’i No. 2554, Ibnu Majah No. 203)

5. Sarana Menuju Khairu Ummah (Umat Terbaik)

Allah ﷻ berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kalian adalah umat yang terbaik dikeluarkan untuk manusia, memerintahkan yang ma’ruf, mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Ali ‘Imran: 110)

Siapakah umat terbaik dalam ayat ini? Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘Anhuma mengatakan: “Mereka adalah para sahabat nabi yang berhijrah bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari Mekkah ke Madinah.” (Musnad Ahmad No. 2463. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: hasan. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 6164, katanya: shahih. Disepakati Adz DZahabi)

Namun, walau ayat ini secara khusus membicarakan kedudukan kaum muhajirin, namun  Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:

وَالصَّحِيحُ أَنَّ هَذِهِ الْآيَةَ عامةٌ فِي جَمِيعِ الْأُمَّةِ، كُلُّ قَرْن بِحَسْبِهِ، وَخَيْرُ قُرُونِهِمُ الَّذِينَ بُعثَ فِيهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلونهم، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Yang benar adalah ayat ini berlaku secara umum bagi semua umat ini (Islam), setiap masing-masing zaman, dan sebaik-baik zaman mereka adalah manusia yang ketika itu pada mereka diutus Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kemudian yang mengikuti mereka, kemudian yang mengikuti mereka. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/94)

Demikianlah generasi sahabat, dan kita pun bisa menjadi khairu ummah sebagaimana mereka jika sudah memenuhi syarat-syarat seperti mereka, yaitu menjalankan amar ma’ruf, nahi munkar, dan beriman kepada Allah ﷻ. Imam Ibnu Jarir, meriwayatkan dari Qatadah,  bahwa Umar Radhiallahu ‘Anhu berkhutbah ketika haji:

مَنْ سَرَّه أَنْ يَكُونَ مِنْ تِلْكَ الْأُمَّةِ فَلْيؤدّ شَرْط اللَّهِ فِيهَا

Barang siapa yang ingin menjadi seperti umat tersebut maka penuhilah syarat yang Allah tentukan dalam ayat itu. (Tafsir Ath Thabari, 7/102)

6. Sarana Untuk Menghindar Dari Azab Allah ﷻ

Allah ﷻ berfirman:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقابِ

Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya. (QS. Al Anfal: 25)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah ﷻ akan memberikan siksaan yang merata, bukan hanya menimpa orang-orang zalim saja. Orang-orang baik juga akan merasakannya. Ini terjadi ketika mereka meninggalkan da’wah dan amar ma’ruf nahi munkar, karena sikap diamnya mereka membuat kezaliman merajalela. Akhirnya, layaklah jika orang-orang shalih pun kena dampak keburukannya.

Al Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan:

يحذر تعالى عباده المؤمنين {فتنة} أي: اختبارا ومحنة، يعم بها المسيء وغيره، لا يخص بها أهل المعاصي ولا من باشر الذنب، بل يعمهما، حيث لم تدفع وترفع

“Allah ﷻ memperingatkan hamba-hambaNya orang beriman dengan adanya fitnah, yaitu ujian dan cobaan yang ditimpakan secara umum baik orang jahat dan selainnya, tidak dikhususkan bagi pelaku maksiat dan orang berdosa saja, tapi ditimpakan merata, ketika mereka tidak mencegah dan menghilangkannya (kemungkaran).” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 4/37)

Wallahu A’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Majelis ilmu

Fiqih Dakwah (Bag. 1)

📝 Pemateri: Farid Nu’man Hasan, SS

Definisi

✔Secara bahasa Ad Da’wah – الدعوة adalah:

◀    النداء :
seruan, panggilan
◀الدعاء :
permohonan, permintaan
◀    الطلب :
tuntutan.
(Lengkapnya Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 20/319-321)

✔ Secara istilah adalah:

دعوة الناس الى الله بالحكمة و الموعظة الحسنة حتى يكفروا بالطاغوت و يؤمنوا بالله و يخرجوا من جاهلية الى نور الإسلام

“Seruan manusia menuju (agama) Allah dengan cara hikmah dan memberikan pelajaran yang baik sampai manusia ingkar terhadap thaghut dan beriman kepada Allah, dan keluar dari jahiliyah menuju cahaya Islam”

Hukumnya

Para ulama sepakat bahwa da’wah adalah fardhu (wajib), hal ini ditunjukkan oleh dalil-dalil berikut:

 وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran: 104)

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An Nahl: 125)

Tetapi, para ulama berbeda tentang kewajibannya itu fardhu ‘ain atau kifayah? Imam Ibnu Katsir berpendapat da’wah adalah fardhu ‘ain, ketika Beliau menjelaskan surat Ali ‘Imran 104: wal takun minkum ummah … :

✏ “Maksud ayat ini adalah bahwa hendaknya ada segolongan umat ini yang menjalankan tugas ini, walau pun kewajibannya adalah berlaku bagi tiap pribadi pada umat ini sesuai kemampuannya. Sebagaimana hadits Shahih Muslim dari Abu Hurairah,1)  bahwa Nabi ﷺ bersabda:

“Barang siapa yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.”

(Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/91. Dar Ath Thayibah)

Jadi, kata min -من   pada kata منكم (minkum – di antara kalian) bukan berfungsi تبعيضية    – tab’idhiyah (menyatakan sebagian), tetapi menyatakan تأكيدية    – ta’kidiyah (penegasan). Sehingga artinya bukan bermakna “hendaknya ada sebagian kalian ..”, tetapi bermakna “hendaknya kalian ..!” Pendapat ini juga diikuti oleh Al ‘Allamah Syaikh Yusuf Al Qaradhawi Hafizhahullah.

Sementara, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz Rahimahullah menyatakan bahwa da’wah adalah fardhu kifayah, berikut ini perkataannya:

✏ “Para ulama menjelaskan bahwa da’wah adalah fardhu kifayah, yaitu pada sebuah daerah mesti ada aktifitas da’wahnya para da’i, walau pun aktifitas da’wah dibutuhkan  di setiap daerah dan wilayah namun dia adalah fardu kifayah yang jika sudah ada yang menjalankannya maka gugurlah kwajiban bagi yang lainnya, bagi yang lain itu menjadi sunah muakadah dan merupakan amal shalih yang agung.
Jika penduduk di sebuah wilayah belum ada yang menjalankan aktifitas da’wah, maka semuanya berdosa, maka menjadi wajib bagi semuanya, dan seluruhnya wajib menjalankannya sesuai kekuatannya.”

(Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baaz, Ad Da’wah Ilallah wa Akhlaqud Du’aah, Hal. 15.  Ri-asah Idarah Al Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’, 2002M-1423H. KSA)

Bagi yang ingin memperluas masalah hukum da’wah silahkan lihat Tafsir Ibnu Katsir pada surat Al Maidah ayat 105.

(Bersambung …. Insya Allah)

Notes:

1) Hadits ini tidak diriwayatkan dari Abu Hurairah sebagaimana dikatakan Imam Ibnu Katsir. Dalam Shahih Muslim (No. 49) diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu. Oleh karena itu Syaikh Ahmad Syakir menganggap ini merupakan wahm (keraguan) dari Imam Ibnu Katsir.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Seruan Untuk Memakmurkan Masjid

Bermakmum di Rumah Sedangkan Imam di Masjid

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa man waalah, wa ba’d:

Shalatnya kaum laki-laki -yang sedang tidak ada ‘udzur syar’i- di masjid sangat dianjurkan oleh syariat ini. Berdasarkan beberapa dalil-dalil berikut:

▶ Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ، فَيُحْطَبَ، ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلاَةِ، فَيُؤَذَّنَ لَهَا، ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسَ، ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ، فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ

Demi yang jiwaku ada ditanganNya, aku berkeinginan kuat memerintakan manusia untuk mengumpulkan kayu bakar, lalu memerintahkan mereka untuk menyerukan adzan shalat, lalu memerintahkan seseorang untuk mengimami manusia. Lalu aku datangi kaum laki-laki yang tidak ikut berjamaah lalu saya bakar rumah-rumah mereka. (HR. Al Bukhari No. 644)

▶ Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

إِنْ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّمَنَا سُنَنَ الْهُدَى، وَإِنَّ مِنْ سُنَنَ الْهُدَى الصَّلَاةَ فِي الْمَسْجِدِ الَّذِي يُؤَذَّنُ فِيهِ

Sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah mengajari kami sunah-sunah petunjuk, dan di antara sunah petunjuk itu adalah shalat di masjid yang sudah diserukan adzan di dalamnya. (HR. Muslim No. 654)

▶ Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, dari Rasulullah ﷺ, katanya:

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ، فَلَا صَلَاةَ لَهُ، إِلَّا مِنْ عُذْرٍ

Barang siapa yang mendengarkan adzan lalu dia tidak mendatangi masjid (untuk berjamaah), maka tidak ada shalat baginya, kecuali bagi yang ‘udzur. (HR. Ibnu Majah No. 793, Dishahihkan oleh  Imam Al Hakim, Imam An Nawawi, Imam Ibnu Hajar, Imam Adz Dzahabi,  Imam Abdul Haq, Syaikh Al Albani, dan sebagainya)

Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma menjelaskan yang dimaksud dengan ‘udzur adalah rasa takut atau sakit. (Lihat Sunan Abi Daud No. 551, Sunan Ad Daruquthni No. 1557, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 896, Al Baihaqi dalam As Sunan Ash Shaghir No. 486, dll)

Dan masih banyak lagi hadits-hadits senada yang mendorong kita, khususnya kaum laki-laki, untuk shalat wajib secara berjamaah di masjid. Oleh karena itu berbagai riwayat ini dipahami beragam oleh para imam kaum muslimin sejak masa salaf dan khalaf, bahwa berjamaah  bersama kaum muslimin itu:

1 Berjamaah di masjid merupakan syarat sahnya shalat, alias tidak sah jika tidak berjamaah. Ini pendapat Imam Daud Azh Zhahiri dan yang mengikutinya. (Fathul Bari, 2/126), ini juga dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. (Majmu’ Al Fatawa, 11/615), juga Imam Ibnu ‘Aqil Al Hambali. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 27/166)

2 Fardhu ‘ain, ini pendapat Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma (Riwayat Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No. 1914, 1916), juga pendapat Atha’, Al Auza’i,  Imam Ahmad, dan jamaah ahli hadits kalangan Syafi’iyah seperti Abu Tsaur, Ibnu Khuzaimah, Ibnul Mundzir, Ibnu Hibban. (Fathul Bari, Ibid). Juga pendapat yang dipilih oleh para ulama kerjaan Arab Saudi di Al Lajnah Ad Daimah.

3 Fardhu kifayah, ini pendapat Imam Asy Syafi’i dan mayoritas Syafi’iyah generasi terdahulu, dan kebanyakan Malikiyah dan Hanafiyah. (Ibid)

4 Sunnah Muakadah,  ini pendapat yang lebih  resmi dari Hanafiyah, mayoritas Malikiyah, dan sebagian Syafi’iyah. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 27/165)

Jadi, kalau diperhatikan semua perbedaan ini, mayoritas ulama baik salaf dan khalaf menyatakan wajib berjamaah di masjid bersama kaum muslimin. (Majmu’ Al Fatawa, 11/615) Maka, sebagai upaya keluar dari khilafiyah ini adalah sebaiknya tetap menjaga untuk berjamaah di masjid. Sehingga diperspektif pendapat mana pun posisi kita sebagai laki-laki tetap aman.

Makmum di Rumah Sedangkan Imam di Masjid

Sebenarnya yang seperti ini tidak perlu terjadi seandainya orang tersebut mau menghormati tata krama shalat berjamaah, yaitu di masjid. Lain halnya jika jamaah membludak sehingga shaf pun melebar dan meluas sampai jalan-jalan dan rumah-rumah sekitar masjid, ini tidak masalah sebab masih adanya ketersambungan shaf, seperti yang kita lihat di sebagian masjid  perumahan ketika shalat ‘Id misalnya.
Dari Ma’mar, dari Hisyam bin ‘Urwah, katanya:

جِئْتُ أَنَا، وَأَبِي مُرَّةَ، فَوَجَدْنَا الْمَسْجِدَ قَدِ امْتَلَأَ، فَصَلَّيْنَا بِصَلَاةِ الْإِمَامِ فِي دَارٍ عِنْدَ الْمَسْجِدِ بَيْنَهُمَا طَرِيقٌ

Aku dan Abu Murrah datang ke masjid, dan kami dapatkan masjid sudah penuh maka kami pun shalat (bersama imam di masjid) di rumah yang berada di samping masjid yang di antara keduanya dipisahkan oleh jalan. (Lihat Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf, No. 4885)

Namun, kasus yang terjadi adalah makmum seorang diri di rumahnya, alias berbeda gedung dengan masjid,  dan dia berimam kepada imam di masjid yang terpisah darinya, bahkan sudah terhalang dinding, jalan, bahkan mungkin parit/selokan. Sehingga dia tidak melihat gerakan imam, hanya mengandalkan suara imam saja. Ini bagaimana? Ada beberapa pendapat:

✔Pertama. Ini tidak sah. Inilah pendapat Umar bin Al Khathab, Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Hambaliyah. Ada beberapa alasan:

 Syarat sahnya makmum adalah dia mesti mengetahui gerak-gerik imam dan mendengar suaranya. Ini dikatakan Asy Syaikh Abdul Qadir Ar Rahbawi dalam Ash Shalatu ‘Ala Madzahibil Arba’ah. Maka tidak sah pula berimam dengan imam yang ada di radio dan TV.

 Terpisahnya makmum tersebut dengan imam, oleh adanya jalan, atau sungai, sehingga terputusnya shaf merupakan sebab tidak sahnya shalat baginya. (Kasyaaf Al Qinaa’, 1/493), yang serupa dengan ini adalah seorang yang berjamaah di sebuah perahu sementara imamnya di perahu lainnya secara tidak berbarengan, maka ini juga tidak sah, sebab air adalah jalanan, bukan shaf yang besambung, kecuali jika darurat perang. (Ibid)

 Sebagian imam ada yang menyatakan batal shalat sendiri di belakang shaf, padahal dia masih di dalam masjid dan masih bisa masuk ke shaf, apalagi berjamaah dengan memisahkan  diri di rumahnya yang jelas jauh dari jamaah. Imam Ahmad, Ishaq, Hammad, Ibnu Abi Laila, Waki’, Hasan bin Shalih, Ibrahim An Nakha’i, Ibnul Mundzir, mereka mengatakan: “Barang siapa yang shalat seorang diri  satu rakaat sempurna di belakang shaf, maka batal shalatnya.” (Fiqhus Sunnah, 1/244)

Mereka beralasan dengan hadits Wabishah bin Ma’bad:

سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن رجل صلى خلف الصف وحده؟ فقال (يعيد الصلاة)

Rasulullah ﷺ ditanya tentang shalat seseorang sendirian di belakang shaf? Beliau menjawab: “Ulangi shalatnya.” (HR. At Tirmdzi No. 230, katanya: hasan. Abu Daud No. 682, Ibnu Majah No. 1004, Ahmad No. 18002, Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 18002. Juga dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam berbagai kitabnya)

Untuk pembahasan shalat sendiri di belakang shaf ada kajian tersendiri, dan bukan di sini pembahasan detailnya. Insya Allah.

✔ Pendapat kedua. Shalat ma’mum tetap sah tapi bersyarat. Ini pendapat Malikiyah yaitu dengan syarat ma’mum masih bisa melihat dan mendengar  imam, ada pun larangan terputusnya shaf bagi Malikiyah berlaku untuk shalat Jumat, bukan shalat lainnya.  Sedangkan Imam Syafi’i mensyaratkan jarak terpisahnya gedung tidak boleh lebih dari 300 dzira’ (hasta), jika kurang dari itu maka tidak sah.

Diriwayatkan oleh Shalih bin Ibrahim:

أَنَّهُ رَأَى أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ صَلَّى الْجُمُعَةَ فِي دَارِ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بِصَلَاةِ الْوَلِيدِ بْنِ عَبْدِ الْمَلِكِ وَبَيْنَهُمَا طَرِيقٌ

Bahwasanya dia melihat Anas bin Malik shalat Jumat di rumah Humaid bin Abdirrahman, yang menjadi imam adalah Al Walid bin Abdil Malik, dan di antara keduanya terpisahkan oleh jalan.  (Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No. 4887)

Walau ini diperselisihkan, tetaplah shalat tersebut jika dalam keadaan tidak normal, jika dalam keadaan normal maka di masjid bersama imam dan kaum muslimin sepakat oleh semuanya untuk diikuti. Di sisi lain, hikmah berjamaah dan kebersamaan baru bisa kita rasakan dengan berjamaah di masjid, bukan memisahkan diri di rumah.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

berdoa setelah membaca alfatihah

Mengangkat Tangan Ketika Berdoa Bagi Khatib Jumat

📝 Pemateri: Farid Nu’man Hasan, SS

عَنْ حُصَيْنٍ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ رُؤَيْبَةَ قَالَ رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ رَافِعًا يَدَيْهِ فَقَالَ قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ

“Dari Hushain dari ‘Umarah bin Ru’aibah (beliau adalah salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , pent) ia berkata bahwa ia melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar mengangkat kedua tangannya. Lalu ia (‘Umarah) berkata: “Semoga Allah memburukkan kedua tangan ini, sungguh aku telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (saat berdoa dalam khutybahnya) tidak lebih  dari mengisyaratkan dengan jari telunjuk beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim No 874)

Komentar ulama:

✔ Kata Imam An Nawawi:

– Sunahnya ktka khutbah adalah tidak angkat kedua tangan, ini adalah pendapat Malik, Syafi’iyah, dll

– Al Qadhi ‘Iyadh mnceritakan dr sbagian salaf dan sebagian Malikiyah boleh mengangkat kdua tangan. alasannya Nabi pernah khutbah Jumat mngangkat kedua tangan juga saat itu beliau doa minta hujan. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim,  6/162)

✔Imam Ali Al Qari mwngatakan maksud raafi’an yadaih artinya mengangkat kedua tangan ketika ceramah/’indat takallam. (Mirqah Al Mafatih, 3/1049)

✔ Sementara Ath Thayyibiy  mengatakan maksud hadits di atas bukan berdoa ktka khutbah tapi angkat kedua tgn ketika khutbah utk menarik perhatian pendengar spy dengar. (‘Aunul Ma’bud, 3/319)

✔Syaikh Abul Hasan Al Mubarkafuri mngatakan: makruh mengangkat kedua tangan dlm doa khutbah jumat atau utk mnarik prhatian pndengar. Yg boleh adlh dgn jari telunjuk, baik doa maupun menarik perhatian. (Mir’ah Al Mafatih, 4/511)

Notes:

-Haditsnya sama tp beda pahamnya: ada yg memakruhkan berdoa ktk khutbah dgn mngangkat kedua tgn , ada membolehkan, bhkan ada yg bilang bukan lagi mmbicarakan doa, tp mngangkat tgn ktka ceramah. So, mslh ini luas n mesti luwes.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Amal dan Ajal

Kedudukan As Sunnah An Nabawiyah Dalam Islam (pengantar – bag. 2)

📝 Pemateri: Farid Nu’man Hasan, SS

Kemarin kita sudah bahas definisi As Sunnah, selanjutnya kita bahas dalil-dalil kenapa kita menggunakan As Sunnah.

Dalil-Dalil Kehujjahan As Sunnah

Berikut ini adalah dalil-dalil kenapa umat Islam menjadikan As Sunnah sebagai salah satu marja’  (referensi) pokok bersama Al Quran.

Dari Al Qur’an:

Ayat 1:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An Nisa (4): 59)

Dikeluarkan oleh Abdullah bin Humaid, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abi Hatim, dari ‘Atha, bahwa ayat ‘Taatlah kepada Allah dan Rasul’ adalah mengikuti Al Kitab dan As Sunnah. (Imam Asy Syaukany, Fathul Qadir, 2/166. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Athi’uur rasul artinya khudzuu bisunnatihi (ambillah sunahnya). (Imam Ibnu Katsir, Jilid 1, hal. 518. Darul Kutub Al Mishriyah)

Ayat kedua:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An Nisa (4): 65)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menerangkan:

يُقْسِمُ تَعَالَى بِنَفْسِهِ الْكَرِيمَةِ الْمُقَدَّسَةِ: أَنَّهُ لَا يُؤْمِنُ أَحَدٌ حَتَّى يُحَكم الرَّسُولَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَمِيعِ الْأُمُورِ، فَمَا حَكَمَ بِهِ فَهُوَ الْحَقُّ الَّذِي يَجِبُ الِانْقِيَادُ لَهُ بَاطِنًا وَظَاهِرًا؛ وَلِهَذَا قَالَ: {ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا} أَيْ: إِذَا حَكَّمُوكَ يُطِيعُونَكَ فِي بَوَاطِنِهِمْ فَلَا يَجِدُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا حَكَمْتَ بِهِ، وَيَنْقَادُونَ لَهُ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ فَيُسَلِّمُونَ لِذَلِكَ تَسْلِيمًا كُلِّيًّا مِنْ غَيْرِ مُمَانِعَةٍ وَلَا مُدَافِعَةٍ وَلَا مُنَازِعَةٍ، كَمَا وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ: “وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ”

Allah ﷻ bersumpah dengan diriNya yang mulia dan suci, bahwasanya tidaklah seseorang itu beriman sampai dia berhukum kepada Rasulullah ﷺ disemua urusan, maka apa-apa yang diputuskannya adalah kebenaran yang wajib ditaati baik  bathin dan zhahir. Oleh karena itu firmanNya (“kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”) yaitu jika mereka berhukum kepadamu (Muhammad) dan mentaatimu dalam bathin mereka dan mereka tidak ada kesempitan hati pada keputusanmu, dan tidak ada kontradiksi antara bathin dan zhahir mereka, maka mereka menerima secara total tanpa ada penolakan, perlawanan, dan perdebatan, sebagaimana terdapat dalam hadits: “Demi yang jiwaku ada di tanganNya, tidaklah seseorang di antara kamu beriman sampai dia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa-apa yang aku bawa.” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/349)

Ayat ketiga:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah…” (QS. An Nisa (4): 80)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengomentari;

يخبر تعالى عن عبده ورسوله محمد صلى الله عليه وسلم بأنه من أطاعه فقد أطاع الله، ومن عصاه فقد عصى الله،وما ذاك إلا لأنه ما ينطق عن الهوى، إن هو إلا وحي يوحى

Allah Ta’ala mengabarkan tentang hamba dan RasulNya, bahwa barangsiapa yang taat kepadanya, maka itu termasuk taat juga kepada Allah, barangsiapa yang bermaksiat kepadanya maka itu termasuk bermaksiat kepada Allah, dan tidaklah hal itu melainkan bahwa apa yang dikatakannya bukan berasal dari hawa nafsunya, melainkan wahyu kepadanya. (Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 1. hal. 528)

Dan masih banyak ayat lainnya.

Wallahu A’lam

Bersambung … Insya Allah dalil-dalil As Sunnah sendiri.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allahu Robbul Alamin

Kapan Mulai Takbiran?

📝 Pemateri: Farid Nu’man Hasan, SS

Dalam Majmu’ Syarah al Muhadzdzab dijelaskan tentang hal ini sebagai berikut:

(ﻓﺼﻞ) ﻭاﻣﺎ ﺗﻜﺒﻴﺮ اﻻﺿﺤﻰ ﻓﻔﻰ ﻭﻗﺘﻪ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻗﻮاﻝ (ﺃﺣﺪﻫﺎ) ﻳﺒﺘﺪﺉ ﺑﻌﺪ اﻟﻈﻬﺮ ﻣﻦ ﻳﻮﻡ اﻟﻨﺤﺮ اﻟﻲ اﻥ ﻳﺼﻠﻰ اﻟﺼﺒﺢ ﻣﻦ ﺁﺧﺮ اﻳﺎﻡ اﻟﺘﺸﺮﻳﻖ ﻭاﻟﺪﻟﻴﻞ ﻋﻠﻲ اﻧﻪ ﻳﺒﺘﺪﺉ ﺑﻌﺪ اﻟﻈﻬﺮ ﻗﻮﻟﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ (ﻓﺈﺫا ﻗﻀﻴﺘﻢ ﻣﻨﺎﺳﻜﻜﻢ ﻓﺎﺫﻛﺮﻭا اﻟﻠﻪ) ﻭاﻟﻤﻨﺎﺳﻚ ﺗﻘﻀﻲ ﻳﻮﻡ اﻟﻨﺤﺮ ﺿﺤﻮﺓ ﻭاﻭﻝ ﺻﻼﺓ ﺗﻠﻘﺎﻫﻢ اﻟﻈﻬﺮ ﻭاﻟﺪﻟﻴﻞ ﻋﻠﻲ اﻧﻪ ﻳﻘﻄﻌﻪ ﺑﻌﺪ اﻟﺼﺒﺢ اﻥ اﻟﻨﺎﺱ ﺗﺒﻊ ﻟﻠﺤﺎﺝ ﻭﺁﺧﺮ ﺻﻼﺓ ﻳﺼﻠﻴﻬﺎ اﻟﺤﺎﺝ ﺑﻤﻨﻰ ﺻﻼﺓ اﻟﺼﺒﺢ ﺛﻢ ﻳﺨﺮﺝ (ﻭاﻟﺜﺎﻧﻰ) ﻳﺒﺘﺪﺉ ﺑﻌﺪ ﻏﺮﻭﺏ اﻟﺸﻤﺲ ﻣﻦ ﻟﻴﻠﺔ اﻟﻌﻴﺪ ﻗﻴﺎﺳﺎ ﻋﻠﻰ ﻋﻴﺪ اﻟﻔﻄﺮ ﻭﻳﻘﻄﻌﻪ ﺇﺫا ﺻﻠﻰ اﻟﺼﺒﺢ ﻣﻦ ﺁﺧﺮ اﻳﺎﻡ اﻟﺘﺸﺮﻳﻖ ﻟﻤﺎ ﺫﻛﺮﻧﺎﻩ (ﻭاﻟﺜﺎﻟﺚ) ﺃﻥ ﻳﺒﺘﺪﺉ ﺑﻌﺪ ﺻﻼﺓ اﻟﺼﺒﺢ ﻣﻦ ﻳﻮﻡ ﻋﺮﻓﺔ ﻭﻳﻘﻄﻌﻪ ﺑﻌﺪ ﺻﻼﺓ اﻟﻌﺼﺮ ﻣﻦ ﺁﺧﺮ اﻳﺎﻡ اﻟﺘﺸﺮﻳﻖ ﻟﻤﺎ ﺭﻭﻯ ﻋﻤﺮ ﻭﻋﻠﻲ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ” ﻛﺎﻥ ﻳﻜﺒﺮ ﻓﻲ ﺩﺑﺮ ﻛﻞ ﺻﻼﺓ ﺑﻌﺪ ﺻﻼﺓ اﻟﺼﺒﺢ ﻳﻮﻡ ﻋﺮﻓﺔ ﺇﻟﻰ ﺑﻌﺪ ﺻﻼﺓ اﻟﻌﺼﺮ ﻣﻦ ﺁﺧﺮ اﻳﺎﻡ اﻟﺘﺸﺮﻳﻖ ” *

jadi ada tiga pendapat, dalam madzhab Syafi’i:

1. Mulai takbiran dari zuhur hari penyembelihan sampai dengan subuh hari tasyriq yang terakhir

2. Seteleh tenggelam matahari malam hari raya, seperti malam ini, qiyas dengan malam takbiran Idul Fitri, sampai dengan subuh akhir tasyriq

3. Mulai dari ba’da subuh hari arafah sampai dengan ba’da ashar akhir tasyriq

Mana yang paling kuat?

ﻓﺎﻟﺤﺎﺻﻞ ﺃﻥ اﻷﺭﺟﺢ ﻋﻨﺪ ﺟﻤﻬﻮﺭ اﻷﺻﺤﺎﺏ اﻻﺑﺘﺪاء ﻣﻦ ﻇﻬﺮ ﻳﻮﻡ اﻟﻨﺤﺮ ﺇﻟﻰ ﺻﺒﺢ ﺁﺧﺮ اﻟﺘﺸﺮﻳﻖ ﻭاﺧﺘﺎﺭﺕ ﻃﺎﺋﻔﺔ ﻣﺤﻘﻘﻲ اﻷﺻﺤﺎﺏ اﻟﻤﺘﻘﺪﻣﻴﻦ ﻭاﻟﻤﺘﺄﺧﺮﻳﻦ ﺃﻧﻪ ﻳﺒﺪﺃ ﻣﻦ ﺻﺒﺢ ﻳﻮﻡ ﻋﺮﻓﺔ ﻭﻳﺨﺘﻢ ﺑﻌﺼﺮ ﺁﺧﺮ اﻟﺘﺸﺮﻳﻖ ﻣﻤﻦ اﺧﺘﺎﺭﻩ ﺃﺑﻮ اﻟﻌﺒﺎﺱ اﺑﻦ ﺳﺮﻳﺞ ﺣﻜﺎﻩ ﻋﻨﻪ اﻟﻘﺎﺿﻲ ﺃﺑﻮ اﻟﻄﻴﺐ ﻓﻲ اﻟﻤﺠﺮﺩ ﻭﺁﺧﺮﻭﻥ ﻗﺎﻝ اﻟﺒﻨﺪﻧﻴﺠﻲ ﻫﻮ اﺧﺘﻴﺎﺭ اﻟﻤﺰﻧﻲ ﻭاﺑﻦ ﺳﺮﻳﺞ ﻗﺎﻝ اﻟﺼﻴﺪﻻﻧﻲ ﻭاﻟﺮﻭﻳﺎﻧﻲ ﻭﺁﺧﺮﻭﻥ ﻭﻋﻠﻴﻪ ﻋﻤﻞ اﻟﻨﺎﺱ ﻓﻲ اﻷﻣﺼﺎﺭ ﻭاﺧﺘﺎﺭﻩ اﺑﻦ اﻟﻤﻨﺬﺭ ﻭاﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻭﻏﻴﺮﻫﻤﺎ ﻣﻦ ﺃﺋﻤﺔ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ اﻟﺠﺎﻣﻌﻴﻦ ﺑﻴﻦ اﻟﻔﻘﻪ ﻭاﻟﺤﺪﻳﺚ ﻭﻫﻮ اﻟﺬﻱ اﺧﺘﺎﺭﻩ *

Ternyata pendapat  1, yaitu  di mulai sejak zuhur ketika 10 Dzulhijah …

Tapi, ini pendapat mayoritas Syafi’iyah saja … madzhab lain tidak jauh beda dari 2 pendapat lain di atas.

Sayyid Sabiq memilih dari tanggal 9 Dzulhijah sampai dengan 13 ba’da ashar.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allahu Robbul Alamin

Takbiran 3x

📝 Pemateri: Farid Nu’man Hasan, SS

Imam Abu Ishaq Asy-Syirazi berkata dalam kitabnya Al-Muhadzab:

والسنة في التكبير أَنْ يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ثلاثا لما روى عن ابن عباس انه قال ” الله اكبر ثلاثا ” وعن عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي بَكْرِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ قَالَ رَأَيْت الْأَئِمَّةَ رضى الله عنهم يكبرون أيام التشريق بعد الصلاة ثلاثا وعن الحسن مثله

“Yang sesuai sunnah dalam Takbir adalah mengucapkan Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. sebanyak tiga kali berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas bahwa beliau mengatakan: Allahu Akbar sebanyak tiga kali.Abdullah bin Muhamad bin Abu Bakr bin Amr bin Hazm mengatakan: Saya melihat para imam bertakbir pada hari-hari Tasyriq setelah shalat sebanyak tiga kali. Riwayat dari Al-Hasan pun demikian.”

قال في الام وان زاد زيادة فليقل بعد الثلاث:

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعَدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

“Dalam kitab Al-Umm disebutkan:Seandainya ada yang ingin menambah bacaan maka hendaknya ia membacanya setelah takbir tiga kali tersebut:

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعَدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

“Allahu akbar kabiran, wal hamdulillahi katsiran, wa subhanallahi bukrotan wa ashilan, la ilaha illallahu, wa la na’budu illa iyyahu, mukhlishina lahud dina, wa lau karihal kafiruna, la ilaha illallahu wahdahu, shodaqo wa’dahu, wa nashoro ‘abdahu, wa hazamal ahzaba wahdahu, la ilaha illallahu, wallahu akbar.”(Allahu Maha Besar sebesar-besarnya, Segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya. Maha suci Allah di waktu pagi dan sore hari. Tidak ada tuhan selain Allah dan kita tidak menyembah selain-Nya secara ikhlas hanya untuk-Nya agama ini meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya. Tidak ada tuhan selain Allah saja. Dia menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, mengalahkan musuh-Nya seorang diri. Tidak ada tuhan selain Allah. Allah Maha Besar.)

Imam Syafi’i mengatakan:

وما زاد من ذكر الله فحسن

“Tambahan zikir itu baik.”

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678