Penghalang-Penghalang Jihad.., Adakah Kita Mengalaminya?

By: Ustadz Farid Nu’man Hasan

◈ Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah:

1. “Jika bapak-bapak,
2. anak-anak,
3. saudara-saudara,
4. isteri-isteri,
5. kaum keluargamu,
6. harta kekayaan yang kamu usahakan,
7. bisnis yang kamu khawatiri kerugiannya,
8. dan tempat tinggal yang kamu sukai,

adalah lebih kamu cintai dibanding Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

(QS. At-Taubah: 24)

⇨ Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menyebutkan urusan-urasan yang biasanya membuat manusia meninggalkan perjuangan. Mereka lebih suka, cinta, dan ridha, itu semua dibanding Allah, Rasul, dan Jihad. Allah Ta’ala mengancam dengan kalimat “fatarabbashu hatta ya’tiyallahu bi amrih …”  apa maksudnya?

⇨ Syaikh Wahbah Az Zuhailiy Rahimahullah mengatakan:

“Tunggulah sampai Allah mendatang “urusannya” merupakan ancaman bagi mereka, dan urusan di sini adalah hukuman baik yang disegerakan atau yang ditunda.”
(Dr. Wahbah Mushthafa Az Zuhailiy, At Tafsir Al Munir, 10/148.  Cet. 2, 1418H. Darul Fikr Al Mu’ashir, Damaskus)

⇨ Begitu pula dikatakan Syaikh Ali Ash Shabuni Rahimahullah:

{ فَتَرَبَّصُواْ } أي انتظروا وهو وعيد شديد وتهديد { حتى يَأْتِيَ الله بِأَمْرِهِ } أي بعقوبته العاجلة أو الآجلة

“Yaitu tunggulah oleh kalian ancaman yang keras dan menakutkan, yaitu berupa hukumanNya yang disegerakan atau ditunda.”

(Syaikh Ali Ash Shabuni, Shafwatut Tafasir, 1/386)

Wallahu A’lam

#AksiBelaIslam3
#TangkapdanPenjarakanPenista

Mati Syahid

By: Ustadz Farid Nu’man Hasan

Assalamualaikum wr wb ustadz/ah…Saya mau bertanya, tentang mati syahid. Mati seperti apa sajakah yg termasuk mati syahid? Dan mohon penjelasan nya tentang macam2 mati syahid. Terima kasih….. 🅰2⃣8⃣

Jawaban;
—————–

Wa’alaikumsalam wr wb
Bismillah wal Hamdulillah …
Orang-orang yang mati syahid itu banyak, di antaranya:

1⃣ Dibunuh Karena Amar Ma’ruf Nahi Munkar Kepada Penguasa Zalim

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  bersabda,

 سيد الشهداء حمزة بن عبد المطلب ، ورجل قال إلى إمام جائر فأمره ونهاه فقتله

“Penghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan orang yang berkata benar kepada penguasa kejam, ia melarang dan memerintah, namun akhirnya ia mati terbunuh.”   (HR. Al Hakim, Al  Mustdarak-nya, Ia nyatakan shahih, tetapi Bukhari-Muslim tidak meriwayatkannya.  Adz Dzahabi menyepakatinya. Syaikh Al Albany mengatakan hasan, dia memasukkannya dalam kitabnya As Silsilah Ash Shahihah,  No. 374)

3⃣  Dibunuh Karena Melindungi Harta

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ

”Barangsiapa yang dibunuh karena hartanya, maka dia syahid.”   (HR. Al Bukhari No. 2348)

3⃣  Dibunuh karena membela agama, keluarga, dan darahnya (kehormatan)

Dari Sa’id bin Zaid Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دَمِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ

Barangsiapa yang dibunuh karena hartanya maka dia syahid, barangsiapa dibunuh karena agamanya maka dia syahid, barangsiapa yang dibunuh karena darahnya maka dia syahid, barangsiapa yang dibunuh karena membela keluarganya maka dia syahid.”   (HR. At Tirmidzi, No. 1421, katanya: hasan shahih. Abu Daud, No. 4177. An Nasa’i,  No. 4095. Ahmad, Juz.  4, Hal. 76, No. 1565. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib, Juz. 2, Hal. 75, No. 1411)

4⃣  Mati karena penyakit tha’un, sakit perut, dan tenggelam

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

  مَا تَعُدُّونَ الشَّهِيدَ فِيكُمْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ قَالَ إِنَّ شُهَدَاءَ أُمَّتِي إِذًا لَقَلِيلٌ قَالُوا فَمَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي الطَّاعُونِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي الْبَطْنِ فَهُوَ شَهِيدٌ قَالَ ابْنُ مِقْسَمٍ أَشْهَدُ عَلَى أَبِيكَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّهُ قَالَ وَالْغَرِيقُ شَهِيد

Siapa yang kalian anggap sebagai syahid? Mereka menjawab: “Orang yang dibunuh di jalan Allah, itulah yang syahid.” Nabi bersabda: “Kalau begitu syuhada pada umatku sedikit.” Mereka bertanya: “Siapa sajakah mereka wahai Rasulullah?” Nabi menjawab: “Siapa yang dibunuh di jalan Allah dia syahid, siapa yang mati di jalan Allah dia syahid, siapa yang mati karena tha’un dia syahid, siapa yang mati karena sakit perut maka dia syahid.” Ibnu Miqsam berkata: “Aku bersaksi atas ayahmu, pada hadits ini bahwa Beliau bersabda: “Orang yang tenggelam juga syahid.” (HR. Muslim No. 1915)

5⃣ Juga karena melahirkan, tertiban, dan terbakar. Sebagaimana hadits berikut:

الشَّهَادَةُ سَبْعٌ سِوَى الْقَتْلِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ الْمَطْعُونُ شَهِيدٌ وَالْغَرِقُ شَهِيدٌ وَصَاحِبُ ذَاتِ الْجَنْبِ شَهِيدٌ وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ وَصَاحِبُ الْحَرِيقِ شَهِيدٌ وَالَّذِى يَمُوتُ تَحْتَ الْهَدْمِ شَهِيدٌ وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيدٌ ».

Mati syahid itu ada tujuh golongan, selain yang  terbunuh fi sabilillah: “Orang yang kena penyakit  tha’un, tenggelam, luka-luka di tubuh, sakit perut, terbakar, tertiban, dan wanita melahirkan.” (HR. Abu Daud No. 3113, shahih)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata:

قال العلماء:المراد بشهادة هؤلاء كلهم، غير المقتول في سبيل الله، أنهم يكون لهم في الآخرة ثواب الشهداء، وأما في الدنيا، فيغسلون، ويصلى عليهم.
 
  Berkata para ulam
a: Yang dimaksud   syahadah (mati syahid) adalah bagi mereka semua,  selain karena terbunuh di jalan Allah,   dan sesungguhnya bagi mereka di akhirat akan mendapatkan ganjaran syuhada, ada pun di dunia mereka tetap dimandikan dan dishalatkan. (Fiqhus Sunnah, 2/633)
Demikian. Wallahu A’lam

Wallahu a’lam.

Dibunuh Penguasa Zalim adalah Syahid, mereka bukan Bughat apalagi Khawarij

Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.

Mengapa mereka disebut syahid? Ada beberapa hujjah. Di antaranya;

1⃣ *Hadits Pertama.*    terdapat hadits yang shahih, tentang jihad paling agung dan paling afdhal adalah sebagai berikut:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ أَوْ أَمِيرٍ جَائِرٍ

   “Dari Abu Said al Khudri, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Jihad yang paling utama adalah mengutarakan perkataan yang ‘adil di depan penguasa  atau pemimpin yang zhalim.” (HR. Abu Daud No. 4344.  At Tirmidzi No. 2174, katanya: hadits ini hasan gharib. Ibnu Majah No. 4011, Ahmad No.  18830, dalam riwayat Ahmad tertulis Kalimatul haq (perkataan yang benar) )

  Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan shahih. (Tahqiq Musnad Ahmad No. 18830),  juga dishahihkan oleh Syaikh Al Albani. (As Silsilah Ash Shahihah No. 491)

   Nah, disebut apa orang yang mempersembahkan jiwanya, dibunuh oleh pemimpin yang zhalim karena perjuangannya menegakkan syariat Allah Ta’ala? Menurut hadits di atas Itulah afdhalul jihad sebab ia dibunuh oleh penguasa tiran pada masanya.  

2⃣  *Hadits Kedua.* Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  bersabda:

سيد الشهداء حمزة بن عبد المطلب ، ورجل قال إلى إمام جائر فأمره ونهاه فقتله

“Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan orang yang melawan penguasa kejam, ia melarang dan memerintah, namun akhirnya ia mati terbunuh.” (HR.  Ath Thabarani dalam Al Awsath No. 4079, Al Hakim, Al  Mustdarak ‘Ala ash Shaihain, No. 4884,  katanya shahih, tetapi Bukhari-Muslim tidak meriwayatkannya.  Al Bazzar No. 1285. Syaikh Al Albany  mengatakan shahih dalam kitabnya, As Silsilah Ash Shahihah No. 374 )

  🔑Dari hadits ini dapat kita ketahui. Pemimpin para syuhada ada dua orang.

 *Pertama,* Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  menyebut langsung secara definit yaitu pamannya sendiri, Hamzah bin Abdul Muthalib Radhiallahu ‘Anhu.

*Kedua,* Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hanya memberikan kriterianya, yaitu mereka yang dibunuh oleh penguasa yang zalim ketika beramar ma’ruf dan nahi munkar kepada mereka.

  Orang-orang yang menyeru kebaikan secara damai kepada penguasa zalim, agar mereka kembali kepada Allah Ta’ala, tidak tunduk kepada musuh, justru penguasa zalim ini takut   kekuasaannya terancam, lalu  dia membunuh orang-orang yang mengajak itu. Menurut hadits ini, orang yang terbunuh itu syahid, bahkan penghulu para syuhada, karena dia melakukan amar ma’ruf nahi munkar kepada penguasa yang zalim. Wallahu a’lam.

3⃣  *Hadits Ketiga.* Dari Sa’id bin Zaid, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دَمِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ

“Barangsiapa yang terbunuh karena membela hartanya, maka ia syahid. Terbunuh karena membela keluarga, maka ia syahid. Barangsiapa terbunuh membela agamanya, ia syahid. Barangsiapa yang terbunuh karena membela darahnya, maka ia syahid.” (HR. Ahmad No. 1652, Abu Daud No 4772, Ath Thayalisi No. 233. Berkata Syaikh Syuaib Al Arnauth: sanadnya kuat. Ta’liq Musnad Ahmad, 3/190)

4⃣  *Hadits Keempat.* Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا تَعُدُّونَ الشَّهِيدَ فِيكُمْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ قَالَ إِنَّ شُهَدَاءَ أُمَّتِي إِذًا لَقَلِيلٌ قَالُوا فَمَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي الطَّاعُونِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي الْبَطْنِ فَهُوَ شَهِيدٌ
 
  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:”Apa menurut kalian tentang orang yang mati syahid?” Mereka menjawab: “Wahai Rasulullah, asy Syahid adalah buat mereka yang dibunuh fisabilillah.” Rasulullah bersabda: “Jika demikian saja, maka syuhada umatku sedikit.” Mereka bertanya: “Lalu, siapa mereka Ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Barangsiapa dibunuh dijalan Allah itulah Syahid, dan barangsiapa mati fisabilillah itulah syahid, yang mati karena tha’un (sejenis penyakit lepra) maka dia syahid, dan siapa yang mati karena sakit perut dia syahid.” (HR. Muslim No. 1915)

  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyatakan syahid orang ‘sekadar’ membela diri dan keluarga, lalu bagaimana dengan membela agama dan kehormatan syariat Allah? Bukankah itu syahid?

📌 *Urusan Hati Serahkan kepada Allah Ta’ala*

  Terhadap para pejuang, hendaknya kita berbaik sangka. Jangan sampai lahir sikap-sikap sinis mempertanyakan niat mereka.    Para ulama tidak menilai hati mereka, sebab urusan niat kita serahkan kepada Allah Ta’ala. Mereka hanya menilai secara zhahir apa yang dilakukan oleh para pejuang tersebut. Kita tidak dibebani untuk membedah hati masing-masing pejuang, justru kita dianjurkan untuk berbaik sangka kepada sesama muslim, apalagi kepada para pejuang Islam.

  Tidak pantas menanyakan, “Jangan-jangan mereka hanya mencari pamor saja,” atau “mereka ingin mencari kekuasaan,”  atau , “ada ambisi pribadi dibalik perjuangan mereka,” dan semisalnya.

  Imam Badruddin Al ‘Aini mengatakan:

إحسان الظن بالله عز وجل وبالمسلمين واجب

  Berbaik sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan kaum muslimin adalah wajib. (‘Umdatul Qari, 29/325)

📌 *Sikap Para Ulama*

Para ulama banyak yang tidak mempermasalahkan   pemberian gelar Asy Syahid untuk orang yang wafat karena berjuang di jalan Allah Ta’ala. Itu bukan hanya diberikan kepada Hasan Al Banna, Sayyid Quthb, Abdullah ‘Azzam, Marwan Hadid, dan lainnya, tetapi jauh sebelum mereka  sudah ada yang disebut dengan Asy Syahid pada namanya. Demikian yang diriwayatkan oleh Imam Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam An Nubala.

📌 *Imam Adz Dzahabi Rahimahullah*

Sebagai contoh nama yang diberi gelar “Asy Syahid” oleh Imam Adz Dzahabi  dalam kitab Siyar-nya adalah:

–  As Sayyid Asy Syahid As Sabiq Al Badri Al Qursyi (Juz. 1, Hal. 145)

–  As Sayyid Asy Syahid Al kabir Abu Hudzaifah (Juz. 1, Hal. 164)

–  Abu Ya’ala Al Qursyi Al Hasyimi Al Makki Asy Syahid (Juz. 1, Hal. 172)

–  Al Amir As Sa’id Asy Syahid Abu Amru Al Anshari (Juz. 1, Hal. 230)

–  As Sayyid Asy Syahid Al Mujahid At Taqi Abu Abdirrahman Al Qursyi Al ‘Adawi (Juz. 1, Hal. 298)

–  As Sa’id Asy Syahid ‘Ukasyah bin Muhshin (Juz. 1 Hal. 307)

–  Al Husein Asy Syahid (Juz. 2, Hal. 202)

–  Asy Syahid ‘Ubaidah bin Al Harits Al Muthallibi (Juz. 2, hal. 218)

–  Al Malik Al Kamil Asy Syahid Nashiruddin  Muhammad bin Al Malik Al Muzhaffar (Juz. 23 Hal. 201)

–  Al Khalifah Asy Syahid Abu Ahmad Abdullah bin Al Mustanshir billah (Juz. 23, Hal. 174)

–  Dan masih banyak puluhan nama yang oleh Imam Adz Dzahabi disebut dengan gelar Asy Syahid.

📌 *Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Muhammad Alu Asy Syaikh Hafizhahullah*

   Beliau adalah mufti Kerajaan Saudi Arabia, pengganti Syaikh Ibnu Baaz. Beliau berkata tentang wafatnya Syaikh Ahmad Yasin Rahimahullah:

  “Sesungguhnya kami menerima kabar pembunuhan Asy Syaikh Asy Syahid Ahmad Yasin ini dengan perasaan duka. Semoga Allah mengampuni beliau, merahmatinya, dan meninggikan derajatnya di surga dan memberikan pengganti beliau dalam rangka melawan kekuatan zalim yang keji semoga Allah membalas berbuatan mereka.”  (http://www.said.net/Doat/Zugait/313.htm)

  Kita lihat gelar syahid langsung disebutkan oleh mufti kerajaan Saudi Arabia ini. Bukan hanya beliau, ada 65 ulama yang memberikan ucapan belasungkawa terhadapnya, di antaranya ada Syaikh Shalih Al Luhaidan Hafizhahullah, anggota Hai’ah Kibar al Ulama (Lembaga Ulama Senior) di Arab Saudi. Beliau mengkritik keras orang-orang yang mencela HAMAS dan Syaikh Ahmad Yasin.

  Beliau berkata:

الرجل أشتهر عنه الخير .. والثبات ..
وإغاضة اليهود .. ومن ورائهم من حماتهم ..المدافعين عنهم ..ثم الرجل قُتِل قتلةً ،، بشعةً ،، شنيعة ..  نسأل الله أن يجعله بعدها في أعلى عليين ..
تَنَقُصُهم ، هو ومن يقاتل اليهود ، .. لايدل على خير من المُنَتَقِص .. وإنما إما يدل على إما جهل بالحقائق ..أو عن هوى ..والمسلم ينبغي

أن يتجنب هذا وهذا ..

  “Laki-laki ini (Syaikh Ahmad yasin) terkenal dengan kebaikannya, keteguhannya dan perlawanannya yang sengit terhadap Yahudi. Dan, di belakang beliau ada orang-orang yang siap melindungi dan membelanya (maksudnya HAMAS). Kemudian Syaikh Ahmad Yasin dibunuh secara keji dan tak berperikemnusiaan. Kita memohon kepada Allah memasukkannya di surgaNya yang tinggi. Orang-orang yang menjelek-jelekkan mereka –padahal beliau orang yang memerangi Yahudi- tidak menunjukkan kebaikan orang yang menjelek-jelekkannya, melainkan menunjukkan kebodohannya terhadap fakta yang ada atau hanya menunjukkan hawa nafsunya.  Seorang muslim hendaknya menjauhi hal ini dan itu …   (http://www.islamgold.com/view.php?gid=7&rid=130)

Masih banyak fatwa ulama lain yang tidak mempermasalahkan sebutan “Asy Syahid” seperti fatwa Syaikh Abdullah Al Faqih, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin, dan lainnya.

Wallahu A’lam

Yakin Nih .. Netral-Netral Aja?

Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.

Banyak kita jumpai muslim yang sok bijak dengan mengambil sikap katanya “netral” .., tanpa sadar mencari muka dihadapan manusia tapi buang muka dari ridha Allah Ta’ala …

Penistaan terhadap Islam  melalui film FITNA (2007), karikatur menggambarkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di Denmark (2006), di Perancis (Charli Hebdo-2015), termasuk penistaan Al Quran oleh Ahok, atau kasus-kasus lang lainnya .. semuanya disikapi netral, baik karena khawatir dibilang fanatik, khawatir SARA, dan “gak enak ama tetangga sebelah” … dan alasan-alasan yang dibangun oleh persepsi dan ilusi, bukan iman dan argumentasi ..

📌 Ketahuilah, netral dalam situasi seperti ini adalah syetan bisu namanya ..

Abu Ali Ad Daqaq Rahimahullah mengatakan:

ُ مَنْ سَكَتَ عَن ِالْحَقِّ فَهُوَ شَيْطَانٌ أَخْرَسُ

Siapa yang diam saja tidak mengambil sikap bersama Al Haq, maka dia adalah syetan bisu. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 2/20)

📌 Ketahuilah, Abu Thalib wafat tetap dalam keadaan kafir lantaran tidak enakan terhadap kaumnya, dia pun memilih netral ..

📌 Ketahuilah, pertarungan Al Haq dan Al Bathil itu abadi selamanya, emang mau seumur hidup jadi Muslim abu-abu ..?
📌 Ketahuilah, di akhirat nanti tidak ada  netral, adanya golongan kanan dan golongan kiri .. perjelas posisimu!

📌 Ketahuilah, di akhirat nanti hanya ada golongan manusia, ahlisurga dan ahli neraka, bahkan ashhabul a’raf pun akhirnya masuk surga .. perjelas sikapmu! Rencanakan tempatmu!

📌 Ketahuilah, netral itu bukan kemajuan sikap, tapi jumud, kaku, statis, dan jalan di tempat, .. lihat tuh motor, kalo netral .. gak bisa jalan kan?

📌Ketahuilah, hidup di dunia hanya sekali dan mati juga sekali, maka matilah dalam keadaan muslim yang dibanggakan orang-orang beriman dan Rabbmu, matilah di atas jalan yang pernah dititi para pejuang mu’min dan pendahulu yang shalih ..

Perhatikan firman Rabbmu ..

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (Qs. An Nisa: 115)

Wallahu A’lam

Tata Cara Mandi Janabah/Mandi Besar/Mandi Wajib

By: Ustadz Farid Nu’man Hasan

◈ Syaikh Abu Bakar bin Jabir Al-Jazairi Rahimahullah menjelaskan:

ان يقول : بسم الله ناويا رفع حدث الأكبر باغتساله, ثم يغسل كفيه ثلاثا, ثم يستنجى فيغسل ما بفرجيه و ما حولهما من أذى ثم يتوضأ وضوءه الأصغر, الا رجليه فان له ان يغسلهما مع وضوءه, و له ان يؤخرهما الى الفراغ من غسله, ثم يغمس كفيه فى الماء فخلل بهما اصول شعر رأسه ثم يغسل رأسه نع أذنيه ثلاث مرات بثلاث غرفات, ثم يفيض الماء على شقه الأيمن يغسله بذلك من اعلاه الى أسفله, ثم الايسر كذلك متتبعا أثناء الغسل الأماكن الخفية كالسرة, و تحت الابطين, و الركبتين و نحوها, ذلك لقول عائشة رضي الله عنها: ( كان رسول الله  ﷺ إذا آراد ان يغتسل من الجنابة بدأ فغسل يديه قبل ان يدخلهما فى الإناء ثم غسل فرجه, و يتوضأ وضوءه للصلاة, ثم يشرب شعره الماء ثم يحثى رأسه ثلاث حثيات ثم يفيض الماء على سائر جسده. (رواه الترمذى صححه)    

⇨ Hendaknya membaca bismillah.

⇨ Berniat dalam rangka menghilangkan hadats besar dengan mandinya itu.

⇨ Lalu, mencuci kedua telapak tangan sebanyak tiga kali (3x).

⇨ Lalu beristinja (cebok) dan membersihkan kemaluan dan duburnya dan bagian sekitarnya dari kotoran.

⇨ Lalu dia berwudhu kecil kecuali bagian kakinya.

⇨ Sebab, bagian kaki akan dibasuh nanti bersama wudhunya dan mengakhirkannya sampai selesai mandinya.

⇨ Lalu mencelupkan kedua telapak tangannya ke air.

⇨ Lalu dengan kedua tangannya itu dia menyelah-nyelah rambut sampai akarnya.

⇨ Lalu menyiramkan kepalanya bersama kedua telinganya sebanyak tiga kali (3x) siraman.

⇨ Lalu mengguyurkan air ke tubuh sebelah kanan dimulai dari bagian atas lalu ke bawah.

⇨ Lalu menyiramkan bagian kiri sama persis dengan cara menyiram bagian kanan.

⇨ Kemudian, dia mesti memperhatikan bagian-bagian tersembunyi seperti pusar, dalam ketiak, balik lutut, dan bagian tersembunyi lainnya.

◈ Hal ini sebagaimana perkataan ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha:

“Dahulu Rasulullah ﷺ jika hendak mandi janabah, memulainya dengan mencuci kedua tangannya sebelum memasukannya ke bejana, lalu mencuci kemaluannya, lalu dia wudhu seperti wudhu-nya shalat, lalu membasahi rambutnya dengan air, lalu menyiramkan kepalanya tiga kali, kemudian mengguyurkan air ke seluruh tubuhnya.” (HR. At-Tirmidzi, dia menyatakan shahih)

 ▣ Syaikh Abu Bakar bin Jabir Al-Jazairi, Minhajul Muslim, Hal. 140. Cet. 4. 2012M/1433H. Maktabah Al-‘Ulum wal Hikam. Madinah Al-Munawwarah.

Pola Asuh yg Memanjakan

By: Ustadz Farid Nu’man Hassan, S.S

Assalammualaikum Wr. Wb.
saya ingin bertanya lebih dalam,tentang permasalahan keluarga kepada ustadz, Saya mohon pencerahannya..ada beberapa kebimbangan di hati saya saat ini,pola asuh ibu saya yang terlalu memanjakan kakak laki laki saya, membuat kakak saya jadi ngelunjak dan tak sadar diri, di usia dia yang mau ke 30 tahun, dia tak tergerak untuk hidup secara sederhana dan mandiri. Pola asuh ibu saya membuat dia selalu pengen dibelikan ini dan itu tanpa berusaha untuk sendiri mewujudkannya. kami keluarga besar sudah banyak memberi saran, agar ibu saya tak terlalu memperturutkan semua kehendak kakak saya, apakah saya sebagai anak tidak salah untuk mengingatkan ibu saya? Sikap yang bagaimana yang harus saya jalani ketika ibu saya sendiri tak mau mendengarkan saran saran baik dari kami.. 🅰1⃣3⃣

Jawaban
———-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillah wal Hamdulillah .., Jika memang begitu keadaannya, dan pihak saudara yang lain juga merasakan hal serupa, maka tidak apa-apa memberikan nasihat yang baik dengan perkataan yang lembut.

Mengingat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

«الدِّينُ النَّصِيحَةُ» قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: «لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ»

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Untuk siapa ?” Beliau bersabda: “Untuk Allah, kitabNya, rasulNya, para pemimpin kaum muslimin, dan orang-orang kebanyakan. (HR. Muslim, 95/55)

Jadi, siapa pun itu berhak mendapatkan nasihat. Bahkan budaya saling menasihati di sebuah keluarga merupakan di antara ciri keluarga dikatakan keluarga Islami (Usrah Muslimah).

Ini pun dalam rangka menolong ibu, agar bisa berbuat adil terhadap anak-anaknya. Sebab, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Bertakwalah kalian kepada Allah dan berbuat adil-lah kepada anak-anak kalian.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Wallahu a’lam

Umat Islam Itu Satu Tubuh

Pemateri: *Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.*

Nahnu Islam Qabla Kulli Syai’  (Kita adalah Islam Sebelum apa pun juga). Ini bukan ayat, bukan pula hadits, namun memiliki nilai kebenaran. Kita semua seharusnya merenung sejenak, bahwa sebelum kita menjadi NU, Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Salafi, dan lainnya, kita adalah seorang muslim. Kita adalah fitrah (Islam) sebelum menjadi ini dan itu.

Allah Ta’ala berfirman:

📌“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (QS. Al A’raf (7): 172)

🔑Oleh karena itu, kecintaan dan kebanggaan diri sebagai muslim harus lebih diutamakan dibanding kebanggaan sebagai anggota ini dan itu.

Allah Ta’ala berfirman:

📌“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri (muslim)?” (QS. Al Fuzhilat (41): 33)

Dari sini kita paham bahwa Allah Ta’ala yang telah mengikat kita dengan Islam,  bukan ormas-ormas.

Allah Ta’ala berfirman:

📌“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Anfal 98): 63)

Dalam ayat lain:

📌“Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu  dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (QS. Al Anbiya (21): 92)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إن المؤمن للمؤمن كالبنيان، يشد بعضه بعض . وشبك أصابعه.

  📌        “Sesungguhnya seorang mu’min bagi mu’min lainnya adalah seperti bangunan saling menguatkan satu sama lainnya.” Maka nabi menggenggamkan jari-jemarinya. (HR. Bukhari [476, 2314], At Tirmidzi [1993], Ibnu Abi Syaibah [112])

  🔑               Maka, ukhuwah Islamiyah (persaudaraan karena Islam) jangan dikorbankan dan dikalahkan oleh ukhuwah jam’iyah (persaudaraan karena organisasi). Ikatan hati dan aqidah ini sangat mahal harganya dan sangat sayang nilainya, jika hanya dikorbankan karena rebutan pengaruh dan eksistensi diri dan kelompok semata.

                Ayat-ayat dan hadits ini adalah makanan sehari-hari para tokoh Islam dan aktifis dakwah. Mereka pun diberbagai forum senantiasa menyerukan persaudaraan dan keutuhan. Tetapi, jangan sampai ini semua hanya slogan dan  bacaan formalitas tanpa aksi nyata. Apakah ayat dan hadits ini adalah kalimat-kalimat kosong tanpa makna?

📌Disebutkan dalam sebuah syair:

ولست أدرى سوى الإسلام لي وطنا      الشام فيها و وادي النيل سيان
وكلمـــا ذكر أسم الله فى بلــد       عددت أرجاءه من لب أوطـاني

                Aku Tidak Mengenal Tanah Air selain Islam
                Bagiku sama saja, Syam atau lembah Nil
                Tiap kali disebut nama Allah di sebuah negeri
                Maka, kuingat setiap penjuru dari negeriku

Wallahu A’lam

Benarkah Mubahalah Tidak Boleh Untuk Sesama Muslim?

Pemateri: *Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.*

Mubahalah, kata Imam Ibnu ‘Abidin adalah Al Mula’anah Al Masyru’ah (saling melaknat yg dibolehkan dalam syariat). (Hasyiyah Ibnu Abidin, 2/541)

Wacana mubahalah kembali mencuat ketika salah satu kontributor Jaringan Islam Liberal, Ade Armando, terangan-terangan mengajak mubahalah kepada siapa saja yang tidak setuju dengan kepemimpinan non muslim. Akhirnya sangat banyak yang menyambut tantangan ini dan memintanya berjumpa langsung. Tp sayangnya yang bersangkutan tidak berani berjumpa langsung untuk bermubahalah, tapi hanya mau di medsos saja, .. Ini menunjukkan kebodohannya terhadap syariat mubahalah.

Namun ada sebagian orang yang memandang tidak boleh mubahalah dengan sesama muslim, sebab yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam contohkan adalah bermubahalah dengan Nasrani Bani Najran, sehingga menurut  mereka mubahalah hanya boleh kepada non muslim.

📌 *Benarkah seperti itu ??*

Berikut ini kami tampilkan fatwa Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta (Komisi Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa) di Arab Saudi.

Berikut ini fatwanya:

المباهلة التي حصلت بين الرسول صلى الله عليه وسلم والنصارى في عهده ، والتي وردت في قوله تعالى: { فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ }  إلى آخر الآية الكريمة ، هل هي خاصة بالنبي صلى الله عليه وسلم ، وإن لم تكن كذلك فهل هي خاصة مع النصارى ؟

الحمد لله والصلاة والسلام على رسوله وآله وصحبه ، وبعد:
ج: ليست المباهلة خاصة بالرسول صلى الله عليه وسلم مع النصارى ، بل حكمها عام له ولأمته مع النصارى وغيرهم ، لأن الأصل في التشريع العموم ، وإن كان الذي وقع منها في زمنه صلى الله عليه وسلم في طلبه المباهلة من نصارى نجران ، فهذه جزئية تطبيقية لمعنى الآية لا تدل على حصر الحكم فيها .
وبالله وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم .
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

📌 *Pertanyaan:*

Mubahalah yang terjadi antara Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan Nasrani di  zamannya, yang telah di firmankan dalam ayatNya:

Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. (QS. Ali ‘Imran: 61)

Apakah ini khusus buat nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  saja? Jika tidak demikian, apakah ini juga khusus terhadap Nasrani saja?

🔑 *Jawab:*

Alhamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala rasulillah wa ba’d:

Mubahalah tidaklah khusus buat Nabi   Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  terhadap Nasrani saja, tapi itu berlaku umum bagi umatnya baik terhadap Nasrani dan selainnya. Sebab pada dasarnya pensyariatan itu berlaku umum, jika kenyataannya pada zaman Nabi    Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mubahalah terjadi terhadap Nasrani Bani Najran, itu hanyalah bagian dari penerapannya saja, hukum ayat tersebut tidak menunjukkan adanya pembatasan.

Wabillahit Taufiq wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

(Fatwa Al Lajnah Ad Daimah No. 6238)

Membacakan Al Fatihah Untuk Orang Meninggal

Ustadz Farid Nu’man

Assalamualaikum, mau bertanya:
Bagaimana membacakan atau mengirimkan alfatihah untuk orang yang sudah meninggal hukumnya? Syukran

Dari 🅰4⃣3⃣

Jawaban
——–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillah wal Hamdulillah

Masalah ini diperselisihkan sesama Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah ..

*A.  Para Imam Ahlus Sunnah Yang MELARANG Membaca Al Quran Untuk Mayit*

1.  Imam Abu Hanifah Radhiallahu ‘Anhu dan sebagian pengikutnya

Syaikh Athiyah Shaqr mengatakan Imam Abu Hanifah dan Imam Malik memakruhkan membaca Al Quran di kubur, alasannya karena tak ada yang sah dari sunah tentang hal itu. (Fatawa Al Azhar, 7/458)
Namun, kami dapati dalam  kitab lain bahwa kalangan Hanafiyah terjadi perbedaan antara waktu makruhnya itu, berikut ini keterangannya:

تُكْرَهُ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ عِنْدَ الْمَيِّتِ حَتَّى يُغَسَّل وَأَمَّا حَدِيثُ مَعْقِل بْنِ يَسَارٍ مَرْفُوعًا اقْرَءُوا سُورَةَ يس عَلَى مَوْتَاكُمْ   فَقَال ابْنُ حِبَّانَ : الْمُرَادُ بِهِ مَنْ حَضَرَهُ الْمَوْتُ ، وَيُؤَيِّدُهُ مَا أَخْرَجَهُ ابْنُ أَبِي الدُّنْيَا وَابْنُ مَرْدُوَيْهِ مَرْفُوعًا مَا مِنْ مَيِّتٍ يُقْرَأُ عِنْدَهُ يس إِلاَّ هَوَّنَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَخَالَفَهُ بَعْضُ مُتَأَخِّرِي الْمُحَقِّقِينَ ، فَأَخَذَ بِظَاهِرِ الْخَبَرِ وَقَال : بَل يُقْرَأُ عَلَيْهِ بَعْدَ مَوْتِهِ وَهُوَ مُسَجًّى وَفِي الْمَسْأَلَةِ خِلاَفٌ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ أَيْضًا . قَال ابْنُ عَابِدِينَ : الْحَاصِل أَنَّ الْمَيِّتَ إِنْ كَانَ مُحْدِثًا فَلاَ كَرَاهَةَ ، وَإِنْ كَانَ نَجِسًا كُرِهَ . وَالظَّاهِرُ أَنَّ هَذَا أَيْضًا إِذَا لَمْ يَكُنِ الْمَيِّتُ مُسَجًّى بِثَوْبٍ يَسْتُرُ جَمِيعَ بَدَنِهِ ، وَكَذَا يَنْبَغِي تَقْيِيدُ الْكَرَاهَةِ بِمَا إِذَا قَرَأَ جَهْرًا .
 
  “Dimakruhkan menurut Hanafiyah membaca Al Quran di sisi mayit sampai dia dimandikan. Ada pun hadits Ma’qil bin Yasar, secara marfu’: Bacalah surat Yasin atas orang yang mengalami sakaratul maut di antara kalian. Ibnu Hibban mengatakan maksudnya adalah bagi orang yang sedang menghadapi kematian. Hal ini didukung oleh riwayat Ibnu Abi Dunia dan Ibnu Mardawaih, secara marfu’: Tidaklah seorang mayit dibacakan di sisinya surat Yasin, melainkan Allah akan mudahkan baginya.  Sebagian peneliti muta’akhir (masa belakangan) berbeda dengannya, dengan mengambil makna zhahir dari khabar (hadits) itu, dengan berkata: “Bahkan dibacakan atasnya setelah wafatnya dan dia sudah dibungkus oleh kafan.” Ada pun tentang doa, kalangan Hanafiyah juga terjadi perbedaan pendapat. Berkata Ibnu ‘Abidin: “Kesimpulannya, sesungguhnya jika mayit itu  dalam kondisi hadats maka tidaklah makruh, jika dia bernajis maka makruh. Secara zhahir ini juga berlaku jika mayit belum dibungkus dengan kain yang menutup seluruh tubuhnya. Demikian juga pemakruhan dibatasi  jika membacanya secara Jahr (dikeraskan). (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 16/8. Mawqi’ Ruh Al Islam)

2.   Imam Malik Radhiallahu ‘Anhu dan sebagian pengikutnya

Syaikh Ibnu Abi Jamrah mengatakan bahwa Imam Malik memakruhkan membaca Al Quran di kuburan. (Syarh Mukhtashar Khalil, 5 /467)

Syaikh Wahbah Az Zuhaili Hafizhahullah mengatakan dalam Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu:

قال المالكية: تكره القراءة عند الموت إن فعله استناناً كما يكره القراءة بعد الموت، وعلى القبر؛ لأنه ليس من عمل السلف

Berkata  kalangan Malikiyah: dimakruhkan membaca Al Quran baik ketika naza’ (sakaratul maut) jika dilakukan menjadi kebiasaan, sebagaimana makruh membacanya setelah wafat, begitu pula di kubur, karena hal itu tidak pernah dilakukan para salaf (orang terdahulu). (Syaikh Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 2/599. Maktabah Misykah)

Disebutkan dalam Al Mausu’ah:

وَعِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ يُكْرَهُ قِرَاءَةُ شَيْءٍ مِنَ الْقُرْآنِ مُطْلَقًا

  “Menurut Malikiyah, dimakruhkan secara mutlak membaca apa pun dari Al Quran.” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah, 16/8. Wizarah Al Awqaf Asy Syu’un Al Islamiyah)

3.  Imam Asy Syafi’i Radhiallahu ‘Anhu dan Imam Ibnu Katsir Rahimahullah

Dalam Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, Imam Ibnu Katsir berkata ketika menafsirkan Surat An Najm ayat 18:  “(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”

كما لا يحمل عليه وزر غيره، كذلك لا يحصل من الأجر إلا ما كسب هو لنفسه. ومن وهذه الآية الكريمة استنبط الشافعي، رحمه الله، ومن اتبعه أن القراءة لا يصل إهداء ثوابها إلى الموتى؛ لأنه ليس من عملهم ولا كسبهم؛ ولهذا لم يندب إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم أمته ولا حثهم عليه، ولا أرشدهم إليه بنص ولا إيماء، ولم ينقل ذلك عن أحد من الصحابة، رضي الله عنهم، ولو كان خيرا لسبقونا إليه، وباب القربات يقتصر فيه على النصوص، ولا يتصرف فيه بأنواع الأقيسة والآراء، فأما الدعاء والصدقة فذاك مجمع على وصولهما، ومنصوص من الشارع عليهما.

“Sebagaimana dia tidak memikul dosa orang lain, begitu pula pahala, ia hanya akan diperoleh melalui usahanya sendiri. Dari ayat yang mulia ini, Imam Asy Syafi’i Rahimahullah dan pengikutnya berpendapat bahwa pahala bacaan Al Quran tidaklah sampai kepada orang yang sudah wafat karena itu bukan amal mereka dan bukan usaha mereka. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah menganjurkannya dan tidak pernah memerintahkannya, dan tidak ada nash (teks agama) yang mengarahkan mereka ke sana, dan tidak ada riwayat dari seorang sahabat pun yang melakukannya, seandainya itu baik tentulah mereka akan mendahului kita dalam melakukannya. Bab masalah qurbah (mendekatkan diri kepada Allah) harus berdasarkan nash, bukan karena qiyas atau pendapat-pendapat. Sedangkan, mendoakan dan bersedekah, telah ijma’ (sepakat) bahwa keduanya akan sampai kepada mayit, karena keduanya memiliki dasar dalam syara’. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, Juz.7, Hal. 465. Dar Thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi’. Cet. 2, 1999M-1420H)

  Dari apa yang disampaikan Imam Ibnu Katsir ini ada beberapa point:

1.  Imam Asy Syafi’i dan pengikutnya menyatakan pahala membaca Al Quran tidaklah sampai sebagaimana dosa seseorang tidaklah dipikul oleh orang lain.

2.  Tidak ada anjuran dan perintah, dan tidak ada nash dari Rasulullah, tidak ada riwayat dari sahabat yang melakukannya. Seandainya baik, pasti mereka orang pertama yang akan melaksanakannya.
3.  Tidak boleh qiyas dalam perkara ibadah ritual.
4.  Doa dan bersedekah atas nama mayit adalah boleh menurut ijma’, karena memiliki dasar dalam syariat.

Namun Imam An Nawawi mengatakan dalam Riyadhus Shalihin, bahwa Imam Asy Syafi’i mengatakan disunnahkan membaca Al Quran di sisi kubur, jika sampai khatam maka itu bagus.   (Imam An Nawawi, Riyadhus Shalihin, Hal. 117. Mawqi’ Al Warraq)

  Namun yang masyhur (terkenal) dari Imam Asy Syafi’i dan pengikutnya adalah mereka menolak keyakinan sampainya pahala bacaan Al Quran ke mayit. Imam Asy Syaukani menyatakan keterangan sebagai berikut:

والمشهور من مذهب الشافعي وجماعة من أصحابه أنه لا يصل إلى الميت ثواب قراءة القرآن

  “Yang masyhur dari madzhab Asy Syafi’i dan jamaah para sahabat-sahabatnya adalah bahwa pahala membaca Al Quran tidaklah sampai ke mayit.”

  Asy Syaukani juga mengutip perkataan Imam Ibnu Nahwi, seorang ulama madzhab Asy Syafi’i, dalam kitab Syarhul Minhaj, sebagai berikut:

لا يصل إلى الميت عندنا ثواب القراءة على المشهور

  “Yang masyhur menurut madzhab kami, pahala bacaan Al Quran tidaklah sampai ke mayit.” (Nailul Authar, 4/142. Maktabah Ad da’wah Al Islamiyah)

  Disebutkan dalam Al Mausu’ah:

وَذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ إِلَى أَنَّهُ لاَ يُقْرَأُ عِنْدَ الْمَيِّتِ قَبْل الدَّفْنِ لِئَلاَّ تَشْغَلَهُمُ الْقِرَاءَةُ عَنْ تَعْجِيل تَجْهِيزِهِ

  “Dan pendapat Syafi’iyah bahwa tidaklah dibaca Al Quran di sisi mayit sebelum dikubur, agar pembacaan itu tidaklah mengganggu kesibukan dalam menyegerakan pengurusan jenazah.”  (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 16/8. Mawqi’ Ruh Al Islam)

  Dari keterangan para imam di atas, maka janganlah langsung menuding Wahabi kepada muslim lainnya yang tidak mau membaca Al Quran untuk mayit. Apakah Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Asy Syafi’i adalah Wahabi karena mereka makruhkan hal itu? Bagaimana mungkin mereka disebut Wahabi,  padahal gerakan Wahabiyah baru ada hampir sepuluh Abad setelah zaman tiga imam ini!?

4.  Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah Rahimahullah

Beliau mengatakan:

وَكَانَ مِنْ هَدْيِهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ تَعْزِيَةُ أَهْلِ الْمَيّتِ وَلَمْ يَكُنْ مِنْ هَدْيِهِ أَنْ يَجْتَمِعَ لِلْعَزَاءِ وَيَقْرَأَ لَهُ الْقُرْآنَ لَا عِنْدَ قَبْرِهِ وَلَا غَيْرِهِ وَكُلّ هَذَا بِدْعَةٌ حَادِثَةٌ مَكْرُوهَةٌ

  “Di antara petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah bertakziah ke keluarga mayit. Dan, bukanlah petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkumpul di rumah keluarga mayit untuk menghibur, lalu membaca Al Quran untuk si mayit baik di kuburnya, atau di tempat lain. Semua ini adalah bid’ah yang dibenci.” (Zaadul Ma’ad, 1/527. Muasasah Ar Risalah)

  Namun, dalam kitab beliau yang lain yakni Ar Ruh, justru beliau membolehkan dan banyak meriwayatkan dari salaf tentang membaca Al Quran untuk mayit. Insya Allah akan kami ketengahkan juga.

5.  Imam Muhammad bin Abdul Wahhab At Tamimi Rahimahullah

Beliaulah yang disebut sebagai perintis gerakan Wahabi, walau beliau tidak pernah mengatakan hal itu dan tidak pernah meniatkan adanya gerakan atau faham Wahabi. Syaikh Shalih Fauzan Hafizhahullah mengutip darinya, sebagai berikut:

إن القراءة عند القبور، وحمل المصاحف إلى المقبور كما يفعله بعض الناس يجلسون سبعة أيام ويسمونها الشدة، وكذلك اجتماع الناس عند أهل الميت سبعة أيام ويقرءون فاتحة الكتاب، ويرفعون أيديهم بالدعاء للميت فكل هذا من البدع والمنكرات المحدثة التي يجب إزالتها، والحديث المروي في قراءة سورة يس في المقبرة لم يعز إلى شيء من كتب الحديث المعروفة، والظاهر عدم صحته، انتهى .

“ Sesungguhnya  membaca dan membawa Al Quran di kubur sebagaimana yang dilakukan sebagian manusia hari ini, mereka duduk selama tujuh hari dan menamakan itu sebagai kesungguhan, begitu pula berkumpul di rumah keluarga si mayit selama tujuh hari membaca Al Fatihah, dan mengangkat tangan untuk berdoa untuk si mayit, maka semua ini adalah bid’ah munkar yang diada-adakan, dan harus dihilangkan. Ada pun periwayatan hadits tentang membaca Yasin di kuburan tidak ada yang kuat satu pun di antara kitab-kitab  hadits yang terkenal, secara zhahir menunjukkan itu tidaklah shahih.”  (Syaikh Shalih Fauzan, Al Bayan Li Akhtha’i Ba’dhil Kitab, Hal. 171. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Hadits yang dimaksud adalah:

من زار قبر والديه كل جمعة ، فقرأ عندهما أو عنده *( يس )* غفر له بعدد كل آية أو حرف  
 
“Barangsiapa yang menziarahi kubur dua orang tuanya setiap Jum’at, lalu dibacakan Yasin pada sisinya, maka akan diampunkan baginya setiap ayat atau huruf.”

  Hadits ini palsu. Ibnu ‘Adi berkata: “Hadits ini batil dan tidak ada asalnya sanad ini.” Ad Daruquthni mengatakan: “Hadits ini palsu, oleh karena itu Ibnul Jauzi memasukkan hadits ini kedalam kitabnya Al Maudhu’at (hadits-hadits palsu).”   (Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, As Silsilah Adh Dha’ifah, 1/127/ 50)

6.  Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz Rahimahullah

Beliau berkata:

أما جلوس أهل الميت أو غيرهم يوما أو أكثر لقراءة القرآن وإهدائه إلى الميت فبدعة لا أصل لها في الشرع المطهر.

  Ada pun duduknya keluarga mayit atau selainnya, sehari atau lebih, untuk membaca Al Quran dan menghadiahkan pahalanya kepada mayit maka itu bid’ah, tidak ada sadarnya dalam syariat yang suci. (Majmu’ Fatawa Ibni Baaz, 13/397)

7.  Syaikh Shalih bin Abdullah Fauzan Hafizhahullah

Beliau berkata dalam kitab Al Mulakhash Al Fiqhi sebagai berikut:

أما من مات فأنه لا يقرأ عليه، فالقراءة على الميت بعد موته بدعة

  “Ada pun bagi orang sudah wafat maka tidaklah dibacakan Al Quran, maka membacakan Al Quran untuk mayit sesudah wafatnya adalah bid’ah …”

  Dia juga berkata:

فالقراءة على الميت عند الجنازة أو على القبر أو لروح الميت، كل هذا من البدع

  “Maka, membaca Al Quran  atas mayit di sisi jenazah atau di kubur atau untuk arwah mayit, semua ini adalah bid’ah.” (Al Mulakhash Al Fiqhi, 1/296-297. Mawqi’ Ruh Al Islam)

8.  Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr Hafizhahullah

Beliau mengatakan dalam Syarh Sunan Abi Daud:

وأما القراءة عند الأموات فلا تفعل لا بـ (يس) ولا غيرها؛ لأنه لم يثبت في ذلك شيء عن النبي صلى الله عليه وسلم

“Adapun membaca di sisi mayit, maka janganlah dilakukan, tidak dengan surat Yasin dan tidak pula dengan selainnya, sebab tak satu pun yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang itu.” (Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad, Syarh Sunan Abi Daud No. 363. Maktabah Misykat)

Dan masih banyak lainnya.

*B.  Para Imam Ahlus Sunnah Yang  MEMBOLEHKAN  Membaca Al Quran Untuk Mayit*

1.  Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash Radhiallahu ‘Anhuma

Beliau adalah seorang sahabat Nabi, ayahnya adalah  Amr bin Al ‘Ash, Gubernur Mesir pada masa Khalifah Umar. Dalam kitab Syarh Muntaha Al Iradat, disebutkan demikian:

وَعَنْ ابْنِ عَمْرٍو أَنَّهُ كَانَ يُسْتَحَبُّ إذَا دُفِنَ الْمَيِّتُ أَنْ يَقْرَأَ عِنْدَ رَأْسِهِ بِفَاتِحَةِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا ، رَوَاهُ اللَّالَكَائِيُّ ، وَيُؤَيِّدُهُ عُمُومُ { اقْرَءُوا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ } .

 Dari  Abdullah bin Amru, bahwa dia menganjurkan jika mayit dikuburkan hendaknya dibacakan pembuka  surat Al Baqarah, dan akhir surat Al Baqarah. Ini diriwayatkan oleh Imam Al Lalika’i. Hal ini dikuatkan oleh keumuman hadits: Bacalah Yasin kepada orang yang menghadapi sakaratul maut. (Imam Al Bahuti, Syarh Muntaha Al Iradat, 3/16. Mawqi’ Al Islam)

Hanya saja dalam kitab ini tidak disebutkan validitas riwayat tersebut, apakah shahih  dari Ibnu Amr?
Tetapi, ada riwayat dari Muhammad bin Al Jauhari, dia berkata, telah mengabarkan kepadaku  Mubasysyir, dari ayahnya, bahwa dia berwasiat jika dikuburkan maka hendaknya dibacakan surat Al Fatihah, Al Baqarah, dan sampai selesai membacanya. Aku mendengar bahwa Ibnu Amru juga mewasiatkan demikian.  (Imam Ibnu Qudamah, Al Mughni, 5/78)

 Mubaysyir ini dinilai tsiqah (bisa dipercaya) oleh Imam Ahmad.

2.  Imam Asy Syafi’i Rahimahullah

Tercatat dalam kitab Riyadhushshalihin:

قال الشَّافِعِيُّ رَحِمهُ اللَّه: ويُسْتَحَبُّ أن يُقرَأَ عِنْدَهُ شيءٌ مِنَ القُرآنِ، وَإن خَتَمُوا القُرآن عِنْدهُ كانَ حَسن

Berkata Asy Syafi’i Rahimahullah: disukai membaca Al Quran di sisi kubur dan jika sampai khatam maka itu bagus. (Hal. 295, Muasasah Ar Risalah)

Kitab Riyadhushshalihin disusun sejak delapan Abad yang lalu, tidak ada yang meragukan  pernyataan ini, sampai akhirnya Syaikh Al Albani meragukannya,  sebab menurutnya dalam madzhab Asy Syafi’i yang masyhur justru tidak sampainya bacaan Al Quran untuk mayit.

Namun dalam kitab yang lain, yakni _Al Qira’ah ‘Indal Qubur_, karta Abu Bakar Al Khalal, terdapat riwayat pembolehan membaca Al Quran di kubur oleh Imam Asy Syafi’i.

Abu Bakar Al Khalal berkata:

أخبرني روح بن الفرج ، قال : سمعت الحسن بن الصباح الزعفراني ، يقول : « سألت الشافعي عن القراءة عند القبر فقال : لا بأس به »

  Mengabarkan kepadaku Ruh bin Al Faraj, katanya: Aku mendengar Al Hasan bin Ash Shabaah Az Za’farani berkata: “Aku bertanya kepada Asy Syafi’i tentang membaca Al Quran di sisi kubur, Beliau menjawab: Tidak apa-apa.” (Lihat riwayat No. 6)

  Nah, dari sini kita mendapatkan keterangan dari Imam Asy Syafi’i.

Pertama, Beliau menyatakan TIDAK SAMPAI pahala bacaan Al Quran buat mayit seperti yang dikisahkan Imam Ibnu Katsir, dan ini menjadi pendapat yang masyhur golongan Syafi’iyah.

Kedua, Beliau membolehkan membaca Al Quran di sisi kubur, bahkan jika sampai khatam itu adalah bagus. Sebagaimana dikatakan Imam Abu Bakar Al Khalal dan Imam An Nawawi.

Jika keduanya shahih dari Imam Asy Syafi’i, maka apakah memang baginya kedua hal ini berbeda? Mengirim pahala adalah satu hal, sedangkan membaca di sisi kubur adalah hal yang lain?  Yang satu tidak sampai pahalanya berdalil surat An Najm ayat 39, yang satu dibolehkan karena untuk mencari berkahnya Al Quran bagi mayit? Wallahu A’lam

3.  Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah mengatakan dalam kitabnya, Syarhul Kabir:

وقال أحمد ويقرءون عند الميت إذا حضر ليخفف عنه بالقرآن يقرأ (يس) وأمر بقراءة فاتحة الكتاب.

 Berkata Ahmad: bahwa mereka membacakan Al Quran (surat Yasin) pada sisi mayit untuk meringankannya, dan juga diperintahkan membaca surat Al Fatihah. (Imam Ibnu Qudamah, Syarh Al Kabir, 2/305. Darul Kitab Al ‘Arabi).

Imam Al Bahuti juga mengatakan:

قَالَ أَحْمَدُ : الْمَيِّتُ يَصِلُ إلَيْهِ كُلُّ شَيْءٍ مِنْ الْخَيْرِ مِنْ صَدَقَةٍ أَوْ صَلَاةٍ أَوْ غَيْرِهِ لِلْأَخْبَارِ .

Imam Ahmad mengatakan, bahwa  semua bentuk amal shalih dapat sampai kepada mayit baik berupa doa, sedekah, dan amal shalih lainnya, karena adanya riwayat tentang itu. (Syarh Muntaha Al Iradat, 3/16)

Imam Ibnu Qudamah mengatakan, diriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hambal, beliau berkata: “Jika kalian memasuki kuburan maka bacalah ayat kursi tiga kali, qul huwallahu ahad, kemudian katakan: Allahumma inna fadhlahu li Ahlil Maqabir.” (Al Mughni, 5/78)

Dahulu Imam Ahmad membid’ahkan membaca Al Quran di kuburan, lalu dia meralat pendapatnya itu. Imam Ibnu Qudamah menceritakan perubahan pada Imam Ahmad tersebut, sebagai berikut:
  Diceritakan, bahwa Imam Ahmad melarang Dharir untuk membaca Al Quran di kuburan, Imam Ahmad berkata:  “Membaca Al Quran di kuburan adalah bid’ah.”  Lalu Muhammad bin Qudamah Al jauhari bertanya kepadanya, “Wahai Abu Abdillah, apa pendapatmu tentang Mubasysyir Al Halabi?” Imam Ahmad menjawab: “Dia tsiqah (bisa dipercaya).”
 Lalu Muhammad bin Al Jauhari berkata, telah mengabarkan kepadaku  Mubasysyir, dari ayahnya, bahwa dia berwasiat jika dikuburkan maka hendaknya dibacakan pembuka surat Al Baqarah, dan sampai selesai membacanya. Aku mendengar bahwa Ibnu Umar juga mewasiatkan demikian.  (Al Mughni, 5/78) berawal dari sinilah Imam Ahmad, meralat pendapatnya, yang tadinya membid’ahkan membaca Al Quran di kuburan, menjadi membolehkannya bahkan menganjurkannya.

4.  Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah

Tertulis dalam Majmu’ Al Fatawanya:

وسئل عن قراءة أهل البيت : تصل إليه ؟ والتسبيح والتحميد، والتهليل والتكبير، إذا أهداه إلى الميت يصل إليه ثوابها أم لا ؟
فأجاب :
يصل إلى الميت قراءة أهله، وتسبيحهم، وتكبيرهم، وسائر ذكرهم لله تعالى، إذا أهدوه إلى الميت، وصل إليه . والله أعلم .
وسئل : هل القراءة تصل إلى الميت من الولد أو لا على مذهب الشافعي ؟
فأجاب :
أما وصول ثواب العبادات البدنية كالقراءة، والصلاة، والصوم فمذهب أحمد، وأبي حنيفة، وطائفة من أصحاب مالك، والشافعي، إلى أنها تصل، وذهب أكثر أصحاب مالك، والشافعي، إلى أنها لا تصل . والله أعلم .

Beliau ditanya tentang membaca Al Quran ang dilakukan keluarga; apakah sampai kepada mayit? Begiju juga tasbih, tahmid, takbir, jika dihadiahkan olehnya untuk mayit , sampaikah pahalanya kepadanya atau tidak?

Beliau menjawab:

“Pahala bacaan Al Quran keluarganya itu sampai kepada mayit, dan tasbih mereka, takbir, serta semua bentuk dzikir mereka kepada Allah Ta’ala jika dia hadiahkan kepada mayit, maka sampai kepadanya. Wallahu A’lam”

Beliau ditanya: menurut madzhab Syafi’I apakah pahala membaca Al Quran akan sampai kepada mayit dari anak atau tidak?

Beliau menjawab:

“Ada pun sampainya pahala ibadah-ibadah badaniah seperti membaca Al Quran, shalat, dan puasa, maka madzhab Ahmad, Abu Hanifah, segolongan sahabat Malik, Syafi’i, menatakan bahwa hal itu sampai pahalana. Sedangkan pendapat kebanyakan sahabat Malik, Syafi’I, mengatakan hal itu tidak sampai.” Wallahu A’lam   (Majmu’ Fatawa, 34/324. Darul Maktabah Al Hayah)

5.  Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah Rahimahullah
Dalam kitab Ar Ruh Beliau berkata:

وقد ذكر عن جماعة من السلف أنهم أوصوا أن يقرأ عند قبورهم وقت الدفن قال عبد الحق يروى أن عبد الله بن عمر أمر أن يقرأ عند قبره سورة البقرة وممن رأى ذلك المعلى بن عبد الرحمن وكان الامام أحمد ينكر ذلك أولا حيث لم يبلغه فيه أثر ثم رجع عن ذلك وقال الخلال في الجامع كتاب القراءة عند القبور اخبرنا العباس بن محمد الدورى حدثنا يحيى بن معين حدثنا مبشر الحلبى حدثني عبد الرحمن بن العلاء بن اللجلاج عن أبيه قال قال أبى إذا أنامت فضعنى في اللحد وقل بسم الله وعلى سنة رسول الله وسن على التراب سنا واقرأ عند رأسى بفاتحة البقرة فإنى سمعت عبد الله بن عمر يقول ذلك قال عباس الدورى سألت أحمد بن حنبل قلت تحفظ في القراءة على القبر شيئا فقال لا وسألت يحيى ابن معين فحدثنى بهذا الحديث قال الخلال وأخبرني الحسن بن أحمد الوراق حدثنى على بن موسى الحداد وكان صدوقا قال كنت مع أحمد بن حنبل ومحمد بن قدامة الجوهرى في جنازة فلما دفن الميت جلس رجل ضرير يقرأ عند القبر فقال له أحمد يا هذا إن القراءة عند القبر بدعة فلما خرجنا من المقابر قال محمد بن قدامة لأحمد بن حنبل يا أبا عبد الله ما تقول في مبشر الحلبي قال ثقة قال كتبت عنه شيئا قال نعم فأخبرني مبشر عن عبد الرحمن بن العلاء اللجلاج عن أبيه أنه أوصى إذا دفن أن يقرأ عند رأسه بفاتحة البقرة وخاتمتها وقال سمعت ابن عمر يوصي بذلك فقال له أحمد فارجع وقل للرجل يقرأ وقال الحسن بن الصباح الزعفراني سألت الشافعي عن القراءة عند القبر فقال لا بأس بها وذكر الخلال عن الشعبي قال كانت الأنصار إذا مات لهم الميت اختلفوا إلى قبره يقرءون عنده القرآن قال وأخبرني أبو يحيى الناقد قال سمعت الحسن بن الجروى يقول مررت على قبر أخت لي فقرأت عندها تبارك لما يذكر فيها فجاءني رجل فقال إنى رأيت أختك في المنام تقول جزى الله أبا على خيرا فقد انتفعت بما قرأ أخبرني الحسن بن الهيثم قال سمعت أبا بكر بن الأطروش ابن بنت أبي نصر بن التمار يقول كان رجل يجيء إلى قبر أمه يوم الجمعة فيقرأ سورة يس فجاء في بعض أيامه فقرأ سورة يس ثم قال اللهم إن كنت قسمت لهذه السورة ثوابا فاجعله في أهل هذه المقابر فلما كان يوم الجمعة التي تليها جاءت امرأة فقالت أنت فلان ابن فلانة قال نعم قالت إن بنتا لي ماتت فرأيتها في النوم جالسة على شفير قبرها فقلت ما أجلسك ها هنا فقالت إن فلان ابن فلانة جاء إلى قبر أمه فقرأ سورة يس وجعل ثوابها لأهل المقابر فأصابنا من روح ذلك أو غفر لنا أو نحو ذلك

“Pernah disebutkan sebagian para salaf, bahwa mereka mewasiatkan supaya dibacakan diatas kubur mereka di waktu penguburannya. Telah berkata Abdul Haq, diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar pernah menyuruh supaya diabacakan diatas kuburnya surah Al Baqarah. Pendapat ini dikuatkan oleh Mu’alla bin Hanbal, pada mulanya mengingkari pendapat ini karena masih belum menemui sesuatu dalil mengenainya, kemudian menarik balik pengingkarannya itu setelah jelas kepadanya bahwa pendapat itu betul.

Berkata Al Khallal di dalam kitabnya ‘Al-jami’ dalam Kitab Qira’an ‘Indal Qubur: Telah berkata kepadaku Al Abbas bin Muhammad Ad Dauri, berbicara kepadaku Yahya bin Ma’in, berbicara kepadaku Mubasyyir Al Halabi, berbicara kepadaku Abdurrahman bin Al-Ala’ bin Lajlaj, dari ayahnya, katanya : Ayahku telah berpesan kepadaku, kalau dia mati, maka kuburkanlah dia di dalam lahad, kemudian sebutkanlah : Dengan Nama Allah, dan atas agama Rasulullah ! Kemudian ratakanlah kubur itu dengan tanah, kemudian bacakanlah dikepalaku dengan pembukaan surat Al Baqarah, karena aku telah mendengar Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘Anhu menyuruh membuat demikian. Berkata Al Abbas Ad Dauri kemudian : Aku pergi bertanya Ahmad bin Hanbal,  apakah dia  menghafal sesuatu tentang membaca diatas kubur. Maka katanya : Tidak ada ! kemudian aku bertanya pula Yahya bin Ma’in, maka dia telah menerangkan kepadaku bicara yang menganjurkan yang demikian.

Berkata Al Khallal, telah memberitahuku Al Hasan bin Ahmad Al Warraq, berbicara kepadaku Ali bin Musa Al-Haddad, dan dia adalah seorang yang berkata benar, katanya : Suatu saat saya bersama-sama Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Qudamah Al Jauhari menghadiri suatu jenazah. Setelah selesai mayit itu dikuburkan, maka telah duduk seorang yang buta membaca sesuatu diatas kubur itu. Maka ia disangkal oleh Imam Ahmad, katanya : Wahai fulan ! Membaca sesuatu diatas kubur adalah bid’ah !   Ketika kita keluar dari pekuburan itu, berkata Muhammad bin Qudamah Al Jauhari kepada Imam Ahmad bin Hanbal : Wahai Abu Abdullah ! Apa pendapatmu tentang si Mubasysyir Al-Halabi ? Jawab Imam Ahmad : Dia seorang yang dipercayai. Berkata Muhammad bin Qudamah Al Jauhari seterusnya : Aku  telah menulis sesuatu darinya !  Imam Ahmad berkata : Ya ? Berkata Muhammad bin Qudamah : Telah memberitahuku Mubasysyir, dari Abdurrahman Bin Al Ala’ bin Lajlaj, dari ayahnya, bahwasanya ia berpesan, kalau dia dikuburkan nanti, hendaklah dibacakan dikepalanya ayat-ayat permulaan surat Al Baqarah, dan ayat-ayat penghabisannya, sambil katanya : Aku mendengar Abdullah bin Umar (Ibnu Umar) mewasiatkan orang yang membaca demikian itu.

Mendengar itu, maka Imam Ahmad bin Hanbal berkata kepada Muhammad bin Qudamah : Kalau begitu aku tarik penolakanku itu. Dan suruhlah orang buta itu membacakannya.

Berkata Al  Hasan bin As Sabbah Az Za’farani pula : Saya pernah menanyakan hal itu kepada Imam Syafi’i, kalau boleh dibacakan sesuatu diatas kubur orang, maka Jawabnya : Boleh, Tidak mengapa !

Al Khalal pun telah menyebutkan lagi dari As-sya’bi, katanya : Adalah Kaum Anshar, apabila mati seseorang diantara mereka, senantiasalah mereka mendatangi kuburnya untuk membacakan sesuatu dari Al-Qur’an.

Asy-sya’bi berkata, telah memberitahuku Abu Yahya An Naqid, katanya aku telah mendengar Al Hasan bin Al-Haruri berkata : Saya telah mendatangi kubur saudara perempuanku, lalu aku membacakan disitu Surat Tabarak (Al-Mulk), sebagaimana yang dianjurkan. Kemudian datang kepadaku seorang lelaki dan memberitahuku, katanya : Aku mimpikan saudara perempuanmu, dia berkata : Moga-moga Allah memberi balasan kepada Abu Ali (yakni si pembaca tadi) dengan segala yang baik. Sungguh aku mendapat manfaat yang banyak dari bacaannya itu.

Telah memberitahuku Al-Hasan bin Haitsam, katanya aku mendengar Abu Bakar Al Athrusy berkata : Ada seorang lelaki datang ke kubur ibunya pada hari jum’at, kemudian ia membaca surat Yasin disitu. Bercerita Abu Bakar seterusnya : Maka aku pun datang kekubur ibuku dan membaca surah Yasiin, kemudian aku mengangkat tangan : Ya Allah ! Ya Tuhanku ! Kalau memang Engkau memberi pahala lagi bagi orang yang membaca surat ini, maka jadikanlah pahala itu bagi sekalian ahli kubur ini !

Apabila tiba hari jum’at yang berikutnya, dia ditemui seorang wanita. Wanita itu bertanya : Apakah kau fulan anak si fulanah itu ? Jawab Abu Bakar : Ya ! Berkata wanita itu lagi : Puteriku telah meninggal dunia, lalu aku bermimpikan dia datang duduk diatas kuburnya. Maka aku bertanya : Mengapa kau duduk disini ? Jawabnya : Si fulan anak fulanah itu telah datang ke kubur ibunya seraya membacakan Surat Yasin, dan dijadikan pahalanya untuk ahli kuburan sekaliannya. Maka aku pun telah mendapat bahagian daripadanya, dan dosaku pun telah diampunkan karenanya.” (Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Ar Ruh, Hal. 5. Maktabah Al Misykah)

Demikian dari Imam Ibnul Qayyim. Sebagian ulama –seperti Syaikh Al Albani- menganggap bahwa kitab Ar Ruh adalah tidak benar dinisbatkan sebagai karya Imam Ibnul Qayyim, sekali pun benar, mestilah kitab ini dibuat olehnya ketika masih muda. Dengan kata lain, pendapat Beliau dalam Zaadul Ma’ad tentang bid’ahnya membaca Al Quran di kubur, telah merevisi pendapat yang ada dalam Ar Ruh. Sementara ulama lain mengatakan, benar bahwa Ar Ruh adalah karya Imam Ibnul Qayyim jika dilihat dari gaya penulisannya yang jelas khas dan cita rasa beliau, bagi yang terbiasa membaca karya-karyanya, hal ini akan mudah diketahui. Wallahu A’lam

6.  Imam Jalauddin As Suyuthi Rahimahullah

Beliau mengatakan:

أَنَّ سُنَّةَ الْإِطْعَامِ سَبْعَةُ أَيَّامٍ، بَلَغَنِي أَنَّهَا مُسْتَمِرَّةٌ إِلَى الْآنَ بِمَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ، فَالظَّاهِرُ أَنَّهَا لَمْ تُتْرَكْ مِنْ عَهْدِ الصَّحَابَةِ إِلَى الْآنَ، وَأَنَّهُمْ أَخَذُوهَا خَلَفًا عَنْ سَلَفٍ إِلَى الصَّدْرِ الْأَوَّلِ. [وَرَأَيْتُ] فِي التَّوَارِيخِ كَثِيرًا فِي تَرَاجِمِ الْأَئِمَّةِ يَقُولُونَ: وَأَقَامَ النَّاسُ عَلَى قَبْرِهِ سَبْعَةَ أَيَّامٍ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ، وَأَخْرَجَ الْحَافِظُ الْكَبِيرُ أَبُو الْقَاسِمِ بْنُ عَسَاكِرَ فِي كِتَابِهِ الْمُسَمَّى ” تَبْيِينُ كَذِبِ الْمُفْتَرِي فِيمَا نُسِبَ إِلَى الْإِمَامِ أَبِي الْحَسَنِ الْأَشْعَرِيِّ “: سَمِعْتُ الشَّيْخَ الْفَقِيهَ أَبَا الْفَتْحِ نَصْرَ اللَّهِ بْنَ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْقَوِيِّ الْمِصِّيصِيَّ يَقُولُ: تُوُفِّيَ الشَّيْخُ نَصْرُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْمَقْدِسِيُّ فِي يَوْمِ الثُّلَاثَاءِ التَّاسِعِ مِنَ الْمُحَرَّمِ سَنَةَ تِسْعِينَ وَأَرْبَعِمِائَةٍ بِدِمَشْقَ، وَأَقَمْنَا عَلَى قَبْرِهِ سَبْعَ لَيَالٍ نَقْرَأُ كُلَّ لَيْلَةٍ عِشْرِينَ خَتْمَةً.

Bahwasanya disunahkan memberikan makanan selama tujuh hari (di rumah mayit, pen), telah sampai kepadaku bahwa hal itu terus berlangsung sampai saat ini di Mekkah dan Madinah. Kenyataannya hal itu tidak pernah ditinggalkan sejak masa para sahabat Nabi ﷺ sampai saat ini (zaman Imam As Suyuthi), dan sesungguhnya generasi khalaf telah   mengambil dari generasi salaf sampai generasi awal Islam. Aku melihat dalam banyak kitab-kitab sejarah dan biografi para imam, bahwa mereka mengatakan: “Manusia menetap di kuburnya (para imam, pen) selama tujuh hari membaca Al Quran. Diriwayatkan oleh Al Hafizh Al Kabir Abul Qasim bin ‘Asakir dalam kitabnya yang bernama “Tabyin Kadzib Al Muftara” yang disandarkan sebagaikarya Imam Abul Hasan Al Asy’ari: “Aku mendengar Asy Syaikh Al Faqih Abul Fath Nashrullah bin Muhammad bin Abdul Qawwi Al Mishshishiy berkata: Telah wafat Asy Syaikh Nashr bin Ibrahim Al Maqdisiy di hari selasa, tanggal 9 Muharam, 490H di Damaskus, kamu menetap di kuburnya selama tujuh malam dan membaca Al Quran tiap malam sebanyak 20 kali khatam.    (Imam Jalaluddin As Suyuthi, Al Hawi Lil Fatawi, Juz. 2 Hlm. 234)

Imam As Suyuthi juga menceritakan (dan ini sering dijadikan dalil tahlilan selama tujuh hari dan empat puluh hari oleh pihak yang mendukung tahlilan):

روى أحمد بن حنبل في الزهد وأبو نعيم في الحلية   عن طاوس أن الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام إسناده صحيح وله حكم الرفع وذكر بن جريج في مصنفه عن عبيد بن عمير أن المؤمن يفتن سبعا والمنافق أربعين صباحا وسنده صحيح أيضا

Imam Ahmad meriwayatkan dalam kitab Az Zuhd, Abu An Nu’aim dalam Al Hilyah, dari Thawus bahwasanya mayit akan mendapatkan ujian dikuburnya selama tujuh hari, maka para sahabat nabi menyukai untuk memberikan makan selama tujuh itu. Isandnya shahih dan hukumnya sebagai hadits marfu’. Ibnu Juraij dalam Mushannafnya menyebutkan dari ‘Ubaid bin ‘Amir bahwa seorang mu’min diuji selama tujuh hari sedangkan orang munafik diuji selama empat puluh hari. (Imam As Suyuthi, Ad Dibaj ‘Alash Shahih Muslim, Juz. 2, Hlm. 490. Atsar-atsar ini juga terdapat dalam kitabnya Imam Ibnul Jauzi, Shifatush Shafwah, Juz. 1, Hlm. 454)

7.  Imam Asy Syaukani Rahimahullah

Dalam kitab Nailul Authar-nya, Ketika membahas tentang hadits dari Ibnu Abbas, tentang pertanyaan seorang laki-laki, bahwa ibunya sudah meninggal apakah sedekah yang dilakukannya membawa manfaat buat ibunya? Rasulullah menjawab: ya. (HR. Bukhari, At Tirmidzi, Abu Daud, dan An Nasa’i)

Dalam menjelaskan hadits ini, dia mengatakan:

وَقَدْ اُخْتُلِفَ فِي غَيْرِ الصَّدَقَةِ مِنْ أَعْمَالِ الْبِرِّ هَلْ يَصِلُ إلَى الْمَيِّتِ ؟ فَذَهَبَتْ الْمُعْتَزِلَةُ إلَى أَنَّهُ لَا يَصِلُ إلَيْهِ شَيْءٌ وَاسْتَدَلُّوا بِعُمُومِ الْآيَةِ وَقَالَ فِي شَرْحِ الْكَنْزِ : إنَّ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَجْعَلَ ثَوَابَ عَمَلِهِ لِغَيْرِهِ صَلَاةً كَانَ أَوْ صَوْمًا أَوْ حَجًّا أَوْ صَدَقَةً أَوْ قِرَاءَةَ قُرْآنٍ أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ مِنْ جَمِيعِ أَنْوَاعِ الْبِرِّ ، وَيَصِلُ ذَلِكَ إلَى الْمَيِّتِ وَيَنْفَعُهُ عِنْدَ أَهْلِ السُّنَّةِ انْتَهَى

 Telah ada  perbedaan pendapat para ulama, apakah  ‘sampai atau tidak’ kepada mayit,  perihal amal kebaikan selain sedekah?   Golongan  mu’tazilah (rasionalis ekstrim) mengatakan, tidak sampai sedikit pun. Mereka beralasan dengan keumuman ayat (yakni An Najm: 39, pen).  Sementara, dalam Syarh Al Kanzi Ad  Daqaiq, disebutkan: bahwa manusia menjadikan amalnya sebagai pahala untuk orang selainnya, baik itu dari shalat, puasa, haji, sedekah, membaca Al Quran, dan semua amal kebaikan lainnya, mereka sampaikan hal itu kepada mayit, dan menurut Ahlus Sunnah hal itu bermanfaat bagi mayit tersebut. Selesai. (Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, 4/92. Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah)

Imam Asy Syaukani telah memberikan dalil untuk masing-masing amal kebaikan yang bisa disampaikan kepada mayit, baik puasa, haji, sedekah, dan juga membaca Al Quran. (Ibid, 4/93)

8.  Al Imam Al Hafizh Fakhruddin Az Zaila’i Rahimahullah

  Perlu diketahui, ayat yang dijadikan dalil oleh Imam Asy Syafi’i, menurut Ibnun Abbas telah dimansukh (dihapus). Dalam Tafsir Ibnu Jarir tentang An Najm ayat 39: “Manusia tidaklah mendapatkan kecuali apa yang diusahakannya.”  Disebutkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat tersebut mansukh (dihapus, yang dihapus bukanlah teksnya, tetapi hukumnya, pen) oleh ayat lain yakni, “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka ..”  maka anak-anak akan dimasukkan ke dalam surga karena kebaikan yang dibuat bapak-bapaknya. (Imam Abu Ja’far bin Jarir Ath Thabari,  Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Quran, 22/546-547)

Sementara dalam kitab Tabyin Al Haqaiq Syarh Kanzu Ad Daqaiq, disebutkan bahwa An Najm ayat 39 tersebut dikhususkan untuk kaum Nabi Musa dan Ibrahim, karena di dalam rangkaian ayat tersebut   diceritakan tentang  kitab suci mereka berdua, firmanNya: “Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran- lembaran Musa? dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji?” (QS. An Najm (53): 36-37)
Ada juga yang mengatakan, maksud ayat tersebut (An Najm 39) adalah untuk orang kafir, sedangkan orang beriman, maka baginya juga mendapatkan manfaat usaha dari saudaranya. (Imam Fakhruddin Az Zaila’i, Tabyin Al Haqaiq Syarh Kanzu Ad Daqaiq, 5/132)

9.  Imam Ibnu Nujaim Al Hanafi  dan Imam Kamaluddin bin Al Hummam Rahimahumallah

ومنها ما رواه أبو داود “اقرءوا على موتاكم سورة يس” وحينئذ فتعين أن لا يكون قوله تعالى: {وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى} [النجم:39] على ظاهره، وفيه تأويلات أقربها ما اختاره المحقق ابن الهمام أنها مقيدة بما يهبه العامل يعني ليس للإنسان من سعي غيره نصيب إلا إذا وهبه له فحينئذ يكون له.

“Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Daud: “Bacalah surat Yasin atas orang yang menghadapi kematian di antara kalian.” Saat itu tidaklah ayat: Manusia tidaklah mendapatkan kecuali apa yang diusahakannya (An Najm: 39) diartikan secara zhahir. Ayat ini memliki banyak takwil. Yang paling dekat dengan kebenaran adalah apa yang telah dipilih oleh Al Muhaqqiq Ibnu Al Hummam, bahwa ayat itu tidak termasuk  orang yang menghadiahkan amalnya. Artinya, tidaklah bagi manusia mendapatkan bagian selain apa yang diusahakannya, kecuali jika dia menghibahkan kepada orang lain, maka saat itu menjadi milik orang tersebut.” (Imam Ibnu Nujaim Al Hanafi, Al Bahrur Raiq Syarh Kanz Ad Daqaiq,  3/84.    Dar Ihya At Turats)

Dalam kitab Fathul Qadir –nya Imam Ibnul Hummam, pada Bab Al Hajj ‘anil Ghair, setelah beliau  memaparkan hadits-hadits tentang amal shalih yang bisa dilakukan orang hidup dan bermanfaat untuk orang mati, seperti doa, haji, sedekah, dan terakhir dia menyebut hadits tentang membaca surat Yasin. Lalu beliau mengatakan, bahwa siapa saja yang berbuat amal kebaikan untuk orang lain maka dengannya Allah Ta’ala akan memberinya manfaat dan hal itu telah sampai secara mutawatir  (diceritakan banyak manusia dari zaman ke zaman yang tidak mungkin mereka sepakat untuk dusta, pen). (Imam Kamaluddin bin Al Hummam, Fathul Qadir, 6/134)

10.  Imam Ibnu Rusyd Al Maliki Rahimahullah

Imam Muhammad Al Kharrasyi mengatakan dalam kitabnya, Syarh Mukhtashar Khalil:

 Dalam An Nawazil-nya, Ibnu Rusyd mengatakan: “Jika seseorang membaca Al Quran dan menjadikan pahalanya untuk mayit, maka hal itu dibolehkan. Si Mayit akan mendapatkan pahalanya, dan sampai juga kepadanya manfaatnya. Insya Allah Ta’ala.” (Imam Muhammad Al Kharrasyi, Syarh Mukhtashar  Khalil, 5/467)

11.  Imam Al Qarrafi Al Maliki Rahimahullah

Beliau mengatakan, “Yang benar adalah bahwa bagi orang yang sudah wafat akan mendapat keberkahan dari membaca Al Quran, sebagaimana seseorang yang mendapatkan keberkahan karena bertetanggaan dengan orang shalih, maka hendaknya jangan sampai dibiarkan begitu saja mayat dari perkara membaca Al Quran dan  tahlil (membaca Laa Ilaha Illallah) yang dilakukan saat dikuburnya.” (Imam Ahmad An Nafrawi, Al Fawakih Ad Dawani, 3/283)

12.  Imam Ibnu Hajar Al Haitami Asy Syafi’i Rahimahullah

Dalam Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj beliau mengatakan –setelah mengutip hadits membaca Yasin untuk orang yang sedang sakaratul maut-  bahwa hendaknya diperdengarkan bacaan Al Quran bagi mayit agar mendapatkan keberkahannya sebagaimana orang hidup, jika diucapkan salam saja boleh, tentu membacakannya Al Quran adalah lebih utama. Mereka telah menerangkan bahwa dianjurkan bagi para peziarah dan pengantar untuk membacakan bagian dari Al Quran. (Imam Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki, Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj, 10/371)

13.  Imam Syihabuddin Ar Ramli Asy Syafi’i Rahimahullah

Beliau membolehkan membaca Al Quran untuk mayit bahkan setelah dikuburkan, dan ada sebagian pengikut Syafi’i lainnya menyatakan itu sunah. (Imam Syihabuddin Ar ramli, Nihayatul Muhtaj, 2/428)

14.  Syaikh Hasanain Makhluf Rahimahullah (Mufti Mesir pada masanya)

Beliau  mengatakan –setelah memaparkan berbagai hadits tentang fadhilah Yasin dan analisa yang cukup panjang-  bahwa dibolehkan membaca  surat Yasin pada orang sakit untuk meringankannya, juga pada orang yang  mengalami sakaratul maut, dan boleh juga membacanya untuk orang yang sudah wafat dengan alasan untuk meringankannya. (Fatawa Al Azhar, 5/471)

15.  Syaikh ‘Athiyah Shaqr Rahimahullah (Mufti Mesir pada masanya)

Setelah beliau memaparkan hadits-hadits tentang pembacaan Yasin untuk orang wafat, beliau mengatakan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang waktu pembacaannya. Ada yang mengatakan sebelum wafat (ketika sakaratul maut) demi meringankan keluarnya ruh, dan saat itu pun malaikat hadir  mendengarkannya untu menurunkan rahmat. Ada juga yang mengatakan dibaca setelah wafat, baik sebelum di kubur atau sesudah dikubur, sama saja. Dan dibolehkan membaca Yasin dengan menghadiahkan pahalanya, Insya Allah itu bermanfaat bagi mayit, dan surat Yasin memiliki keutamaan itu dan juga pengaruhnya. Sedangkan pendapat beliau sendiri, membaca surat Yasin adalah sama saja waktunya, baik ketika sakaratul maut atau setelah wafatnya. Malaikat ikut mendengarkannya, mayit mendapatkan faidahnya karena hadiah tersebut, dan si pembaca juga mendapatkan pahala, begitu pula pendengarnya akan mendapatkan pelajaran dan hikmah darinya. (Fatawa Al Azhar, 8/295)

*📚Kesimpulan*

Demikianlah perselisihan ini.   Namun, masih ada jalan keluar yang bisa kita tempuh untuk keluar dari perselisihan ini, yakni semua ulama sepakat (ijma’) bahwa berdoa untuk sesama muslim, baik masih sehat, orang sakit, sakaratul maut, dan orang yang sudah meninggal adalah dibolehkan, sebagaimana yang sudah kami jelaskan. Maka, bagi yang tetap ingin mengirimkan pahala membaca Al Quran, sebaiknya ia lakukan dalam bentuk doa saja, setelah dia membaca Al Quran: “Ya Allah, jadikanlah bacaan Al Quranku tadi sebagai rahmat bagi si fulan, dan berikanlah pahalanya bagi si fulan.” Inilah cara yang ditempuh oleh sebagian ulama –seperti Imam Muhammad Al Kharrasyi,  Imam Ahmad An Nafrawi, Imam Abdul Karim As Salusi-  untuk menengahi dua arus pemikiran ini. Jadi,    membaca Al Quran tidak langsung diniatkan untuk si mayit, tapi ia berdoa kepada Allah Ta’ala semoga pahala bacaan Al Qurannya disampaikan untuk si mayit.
Dalam kitab Al Madkhal disebutkan bahwa barangsiapa yang ingin menyampaikan pahala bacaan Al Quran untuk mayit tanpa ada perselisihan pendapat, maka hendaknya dia menjadikannya sebagai doa, seperti: Allahuma awshil tsawaba Dzalik (Ya Allah, sampaikanlah pahala ini ..) (Syarh Mukhtashar Khalil, 5/468. Al Fawakih Ad Dawani, 3/283).

Terakhir, kami sampaikan pandangan bijak dari seorang ulama masa kini, Beliau tidak menyetujui membaca Al Quran untuk orang yang sudah wafat, tetapi pandangannya yang jernih dan sikapnya pun dewasa. Berikut ucapan Syaikh ‘Athiyah bin Muhammad Salim:

 أما أن نذهب إلى الميت، أو إلى القبر ونقرؤها فبعض العلماء يقول: كان بعض السلف يحب أن يقرأ عنده يس، وبعضهم يحب أن تقرأ عنده سورة الرعد، وبعضهم سورة البقرة، كل ذلك من أقوال السلف ومن أفعالهم، فلا ينبغي الإنكار في ذلك إلى حد الخصومة، ولو أن إنساناً عرض وجهة نظره واكتفى بذلك فقد أدى ما عليه، لكن أن تؤدي إلى الخصومة والمنازعة والمدافعة فهذا ليس من سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم في البيان، وفي الدعوة إلى الله أو إلى سنة رسول الله.

“Adapun kami pergi menuju mayit, atau kubur, dan kami membaca Al Quran. Maka sebagian ulama mengatakan: “Dahulu kaum salaf menyukai membaca surat Yasin di samping mayit, sebagian lagi menyukai membaca surat Ar Ra’du, dan sebagian lain surat Al Baqarah. Semua ini merupakan ucapan dan perbuatan kaum salaf (terdahulu). Maka, tidak semestinya mengingkari hal itu hingga lahir kebencian. Seandainya manusia sudah menyampaikan pandangannya maka hal itu sudah cukup, dan dia telah menunaikan apa yang seharusnya. Tetapi jika demi melahirkan  permusuhan, perdebatan, dan  menyerang, maka ini bukanlah sunah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam memberikan penjelasan, dan bukan cara dakwah kepada Allah dan kepada sunah Rasulullah.” (Syaikh ‘Athiyah bin Muhammad Salim, Syarh Bulughul Maram, Hal. 113. Maktabah Misykah)

Wallahu A’lam

Hukum Gambar

Ustadz Farid Nu’man Hasan

Assalamualaikum, afwan saya mau bertanya di zaman yang semakin berkembang ini kita pasti tau yang namanya selfie, disini saya mau bertanya bagaimana pandangan islam tentang foto selfie itu sendiri, terlebih lagi jika di posting di media sosial bukan kah ini dapat membuat kaum adam ataupun kaum hawa dpt tertarik satu sama lain ?dan juga bukan kah kita diperintahkan untuk menundukkan pandangan kita kpd yang bukan muhrim ?syukron😊

===========
Jawaban

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh

Untuk pertanyaan ini sudah di web manis, silahkan adik-adik cek d sana ya

HUKUM GAMBAR/FOTO

http://www.manis.id/2016/10/hukum-gambarfoto.html?m