Asbabun Nuzul Qur’an Surat al-Falaq (Waktu Subuh) dan an-Nas (Manusia)

🐝 MFT (MANIS For Teens)

📆 Sabtu, 23 Dzulhijjah 1438 / 16 September 2017

📕 Qur’an

📝 Ustadzah Ida Faridah

📖 Asbabun Nuzul Qur’an Surat al-Falaq (Waktu Subuh) dan an-Nas (Manusia)
~~~~~~~~~~~~~~~
📓🎖📓🎖📓🎖📓🎖📓🎖

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, apa kabar mujahid muda, generasi penerus bangsa? Semoga kita semua masih dalam naungan rahmat Allah yang Maha Pengasih, Aamiin

Adik-adik semua, pertemuan kita kali ini, akan  membahas Asbabun Nuzul (Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-ayat al-Qur’an) surat al-Falaq dan an-Nas.

Adik-adik udh pada hafal kan surat al-Falaq dan an-Nas? Pastinya udh dikeluar kepala kan. Kita mulai yuuu pembahasanya

بسم الله الرحمن الرحيم

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلْفَلَقِ. مِن شَرِّ مَا خَلَقَ. وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ. وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّٰثَٰتِ فِى ٱلْعُقَدِ. وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh. Dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”. (QS. Al-Falaq: 1-5)

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ. مَلِكِ ٱلنَّاسِ. إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ. مِن شَرِّ ٱلْوَسْوَاسِ ٱلْخَنَّاسِ. ٱلَّذِى يُوَسْوِسُ فِى صُدُورِ ٱلنَّاسِ. مِنَ ٱلْجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (QS. An-Nas: 1-6)

Adik-adik semuanya, dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rasulullah saw pernah mengalami sakit parah. Maka datanglah kepada beliau dua malaikat, yang satu duduk di sebelah kepala beliau dan yang satu lagi sebelah kaki beliau. Berkatalah malaikat yang duduk disebelah kaki beliau kepada malaikat yang duduk disebelah kepala beliau, “Apa yang kau lihat?” Ia menjawab, ‘Beliau terkena guna-guna.’ Dia bertanya lagi, ‘Apa guna-guna itu?’ Ia menjawab, ‘Guna-guna itu sihir!’ Dia bertanya lagi, ‘Siapa yang membuat sihirnya?’ Ia menjawab, Labid bin al-A’sham al-Yahudi, yang sihirnya berupa gulungan yang di simpan didalam sumur keluarga si anu dibawah sebuah batu besar. Datanglah ke sumur itu, timbalah airnya dan angkat batunya, kemudian ambillah gulungannya dan bakarlah.”

Adik-adik semuanya, pada pagi harinya Rasulullah saw mengutus ‘Ammar bin Yasir dan kawan-kawannya. Setibanya di sumur itu, tampaklah airnya berwarna merah seperti air pacar. Air itu ditimbanya, dan diangkat batunya, serta dikeluarkan gulungannya kemudian dibakar. Ternyata didalam gulungan itu ada tali yang terdiri atas sebelas simpul. Kedua surat ini (QS. Al-Falaq dan An-Nas) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut. Setiap kali Rasulullah saw mengucapkan satu ayat, terbukalah simpulnya.” (HR. Baihaqi, dalam kitab Dala-ilun Nubuwah dari al-Kalbi, dari Abu Shahih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas)

Adik-adik yang di sayang Allah, dalam kitab shahi bukhari juga terdapat syahid (penguat) yang ceritanya seperti itu, tapi tidak menyebutkan sebab turunnya kedua surat itu. Namun, dalam riwayat lain ada syahid (penguat) yang ceritanya seperti itu juga dan menyebutkan sebab turunnya kedua surat itu.

Adik adik penerus bangsa, dijelaskan lagi dalam riwayat lain bahwa kaum Yahudi membuatkan makanan untuk Rasulullah saw setelah memakan makanan itu, tiba-tiba Rasulullah sakit keras, sehingga sahabat-sahabatnya mengira bahwa penyakit itu timbul akibat perbuatan Yahudi itu. Maka turunlah Jibril membawa surat ini ( QS. al-Falaq dan an-Nas) serta membacakan taawud. Seketika itu juga Rasulullah keluar menemui sahabat-sahabatnya dalam keadaan sehat walafiat. (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam kitab ad-Dala-il, dari Abu Ja’far ar-Razi, dari ar-Rabi’ bin Anas, yang bersumber dari Anas bin Malik)

Demikian pembahasan pada hari ini, semoga pengetahuan kita bertambah dan kita semakin cinta pada ayat-ayat-Nya. Aamiin
~~~~~~~~~~~~~~~
📓🎖📓🎖📓🎖📓🎖📓🎖

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
~~~
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/majelismanis
📸 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
📱 Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Asbabul Nuzul Sirah Al-Lahab (Gejolak Api)

🐝 MFT (MANIS For Teens)

📆 Sabtu, 03 Muharram 1439 / 23 September 2017

📕 Al Qur’an

📝 Ida Farida

📖 Asbabul Nuzul Sirah Al-Lahab (Gejolak Api)
~~~~~~~~~~~~~~~
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Apa kabar adik-adik semua? Semoga kita semua masih dalam naungan Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Aamiin

langsung kita mulai aja ya

بسم الله الرحمن الرحيم
تَبَّتْ يَدَآ أَبِى لَهَبٍ وَتَبَّ. مَآ أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُۥ وَمَا كَسَبَ. سَيَصْلَىٰ نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ. وَٱمْرَأَتُهُۥ حَمَّالَةَ ٱلْحَطَبِ. فِى جِيدِهَا حَبْلٌ مِّن مَّسَدٍۭ

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.

🐣Adik-adik yang di rahmati Allah, dalam suatu riwayat dikemukakan pada suatu ketika Rasulullah saw naik ke bukit Shafa sambil berseru: “Mari berkumpul pada pagi hari ini!” Maka berkumpullah kaum Quraisy. Rasulullah saw bersabda, “Bagaimana pendapat kalian, seandainya aku beritahu bahwa musuh akan datang besok pagi atau petang, apakah kalian percaya padaku?” Kaum Quraisy menjawab: “Pasti kami percaya.” Rasulullah saw bersabda, “Aku peringatkan kepada kalian bahwa siksa Allah yang dahsyat akan datang.” Berkatalah Abu Lahab, “Celaka engkau! Apakah hanya untuk ini, engkau kumpulkan kami?” Maka turunlah ayat ini (QS. Al-Lahab: 1-5) berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang melukiskan bahwa kecelakaan itu akan menimpa orang yang memfitnah dan menghalang-halangi agama Allah. (HR. Bukhari dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas)

🐣Adik-adik semuanya, dalam riwayat lain dikemukakan bahwa istri Abu Lahab menyebarkan duri-duri ditempat yang akan dilalui Nabi saw.. ayat ini (QS. Al-Lahab:1-4) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang melukiskan bahwa orang yang menghalang-halangi dan menyebarkan permusuhan terhadap Islam akan mendapat siksaan Allah. (Diriwayatkan oleh Ibnu Karir dari Isra-il, dari Abu Ishaq yang bersumber dari orang Hamdan yang bernama Yazid bin Zaid dan diriwayatkan pula oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari ‘Ikrimah)

☄Demikian pembahasan kali ini, semoga bertambah pengetahuan kita dan bisa kita mengambil ibrah dari kisah Abu Lahab dan istrinya.

Adik-adik semuanya, kita berdoa bersama-sama semoga kita dijauhkan dari sifat-sifat seperti Abu Lahab dan istrinya. Aammiiinn🙏🏻

🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/majelismanis
📸 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
📱 Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Bacalah Dengan Nama Tuhanmu (QS. Al-‘Alaq) Bag. 3 Selesai

© Pilihan yang Selalu Berkonsekuensi

▪Jika mendustakan dan menghalang-halangi dakwah serta risalah yang dibawa Nabi Muhammad merupakan pilihan yang diambil oleh orang yang tidak memahami atau mengingkari dahsyatnya nikmat dan karunia diutusnya beliau, maka balasan yang buruk sangat pantas baginya. Karena ia telah melecehkan keberadaan dan kekuasaan Dzat Yang Maha Melihat.

”Tidaklah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatan-nya?” (QS. 96: 14)

▪Bisa jadi bukan karena ketidaktahuan, namun karena kesombongan dan keangkuhan hati yang menutupi kesadaran akan kemahabesaran Allah. Karenanya ia berbuat sesuka hati dan tidak pernah sekalipun ia mengerem nafsunya serta memperturutkan hawa dan syahwat kesesatannya. Ia tidak sadar bahwa yang ia musuhi dan ia hadapi bukanlah sekedar anak yatim saja. Tapi beliau adalah utusan Sang Maha Perkasa yang secara penuh memback up dakwahnya.

▪Tidakkah ia sadar akan ancaman Allah, ”Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.” (QS. 96: 15-16)

©Menurut al-Mubarrid, salah seorang pakar Bahasa Arab terkemuka, mengatakan, ”as-saf’u” artinya mengambil dengan paksa dan kekerasan. Apalagi yang diambil di sini adalah ubun-ubun. Maka bukan hanya fisik yang tersakiti. Ia akan benar-benar merasa terhinakan dan direndahkan. Karena ubun-ubun atau kepala adalah bagian termulia manusia.

▪Ada pendapat lain dari al-Farra` bahwa yang dimaksud di sini adalah menghitamkan wajah sebagai kiasan akan ditimpakan kepadanya adzab neraka yang pedih dan menghanguskan.

▪Yaitu ubun-ubun atau wajah yang hangus milik sang pendusta yang mengingkari dan memusuhi serta menyakiti Nabi Muhammad saw. Para pakar bahasa di sini membolehkan badal (ganti) dengan menggunakan isim nakirah padahal sebelumnya disebut dengan isim makrifat.

▪Az-Zamakhsyari dan Abu Hayyan memberikan dispensasi tersebut karena isim nakirah setelah makrifat tersebut memberikan penjelasan sebagai sifat. Sehingga seolah ia berdiri sendiri memberikan penjelasan tambahan setelahnya (al-ifadah).

▪Jika hal di atas terjadi, maka kepada siapa lagi ia hendak meminta pertolongan. ”Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya)” (QS. 96: 17)

Sebagaimana ia mengumpulkan mereka didarunnadwah, mengadakan konspirasi untuk mencelakakan Nabi Muhamamd saw. Dalam ayat ini seolah kata ”nadiah” yang berarti majelis menyimpan sebuah mudhaf yaitu para pegiatnya.

▪Namun, panggilan dan permintaan tolong tersebut tak menghasilkan apapun kecuali keputusasaan dan penyesalan. Karena nasib mereka juga tak lebih baik darinya. Justru Allah yang ”… akan memanggil Malaikat Zabaniyah” (QS. 96: 18) dan diperintahkan untuk mendatanginya, kemudian memberikan siksaan yang tiada tandingan dan bandingannya sebelum dan sesudahnya.

▪Maka, orang dengan karakter pembangkang dan pendusta tersebut tak perlu lagi didengar perkataannya apalagi sampai terpengaruh dengan syubhat dan ejekannya. Dan salah satu jalan untuk menguatkan diri dari pengaruh kejelekan tersebut yang paling mujarab adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah dan bersujud kepada-Nya.

”Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)” (QS. 96: 19)

▪Para ulama kemudian menyimpulkan bahwa kedekatan terbaik dan paling dekat seorang hamba dengan rabbnya terjadi pada saat ia bersujud. Apalagi ada sebuah hadits yang menyatakan,

”Keadaan yang paling dekat dari seorang hamba dengan Tuhannya adalah pada saat ia bersujud maka perbanyaklah berdoa”.

©Penutup

Semoga akhir yang tragis yang dialami oleh Abu Jahal –baik di dunia dengan mati terhinakan atau di akhirat sengsara dalam keabadian adzab-Nya- bisa kita jadikan pelajaran untuk tidak mencoba-coba menjadi penghalang dakwah Rasulullah saw atau menjadi orang yang mengabaikan sunnah-sunnahnya. Karena, pertemuan dengan makhluk termulia ini menjadi impian setiap muslim.

Semoga kelak kita dipertemukan dengan beliau dalam naungan ridha Allah swt, Aamiin.

Bacalah Dengan Nama Tuhanmu (QS. Al-‘Alaq) Bag. 2

© Manusia yang Tak Mau Bersyukur

▪Manusia yang seharusnya dengan memaksimalkan akalnya mampu membaca keagungan dan kebesaran Allah serta ciptaan-Nya ternyata tidak demikian.

“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas” (QS. 96: 06)

▪Tentu wajar jika Allah menganggapnya sebagai sebuah sikap yang keterlaluan dan melampaui batas. Tak sedikit pun para pendusta yang mengingkari nikmat tersebut merasa bahwa ketiadaannya yang berubah menjadi bentuk sempurna serta menjadi serba bisa adalah sebuah karunia yang agung. Dan bukan sesuatu yang sederhana.

©Ia melampaui batas dalam segala perilakunya. Dalam bersikap, berkata-kata dan bergaul. Sombong dalam berpakaian, berlebih-lebihan dalam makanan dan kendaraan-nya. Ia cenderung meremehkan dan merendahkan sesamanya. Hal tersebut dipicu oleh kebodohan dan ketidaktahuannya.

“Karena dia melihat dirinya serba cukup” (QS. 96: 07)

▪Sikap yang diambilnya barangkali bermula dari pola pikirnya yang salah. Ia merasa berkecukupan. Dengan menjadi seorang sarjana atau ilmuwan ternama, kemudian ia memiliki kehidupan yang mapan, rumahnya mewah. Sikap ”al-istighna” ini hanya bisa dimiliki oleh Allah, karena Dia memang tak memerlukan bantuan dan pertolongan siapapun. Dia yang Maha Kaya, Maha Sempurna dan selalu bisa berbuat apa saja sesuai kehendak-Nya. Dzat dengan sifat-sifat yang serba Maha tersebut memanglah baik untuk merasa cukup dari apa dan siapapun.

▪Jika manusia dengan segala keterbatasannya kemudian merasa cukup yang mengakibatkannya tinggi hati dan sombong maka hal tersebut membuatnya lupa. Lupa dari mana ia berasal dan ke mana hendak kembali. Namun, jika ia merasa cukup dan kemudian menjadi qana’ah maka itu sebuah sikap yang terpuji. Tapi dalam ayat ini dipakai al-istighna`, sehingga tidak menyimpan sedikitpun arti qana’ah yang baik tersebut.

“Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu)” (QS. 96: 08)

©Dalam ayat ini Allah menggunakan gaya bahasa beralih (uslûb al-iltifât) yaitu dari sebelumnya yang menggunakan kata ganti ketiga (dhamir gha`ib) berubah menjadi mukhatab yang menggunakan kata ganti kedua (kamu). Hal ini dimaksudkan memberikan kesan lebih dan menggetarkan hati setiap manusia yang tidak mau bersyukur akan kedahsyatan dan keseriusan ancaman Allah. Mereka semua akan kembali kepada Allah melalui pintu keniscayaan bernama kematian lalu dibangkitkan kembali di hari penentuan.

©Dan kembali kepada Allah berarti asal dari kejadian manusia juga bermula dari titah Allah. Dikembalikan kepada-Nya berarti pertanggungjawaban dari semua yang dilakukannya ketika di dunia.

▪Lihatlah orang yang sombong tersebut dan bagaimana ia hidup dengan penuh keangkuhan. ”Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba ketika mengerjakan shalat” (QS. 96: 09-10)

©Dituturkan dalam sebuah riwayat bahwa Abu Jahal bermaksud hendak melarang dan menghalang-halangi Nabi Muhammad saw yang sedang shalat dengan berbagai jalan. Tapi usahanya selalu gagal. Bahkan dari sekian usahanya, ia menjumpai sesuatu yang menakutkan berada di sisi Nabi Muhammad saw, sehingga ia lari terbirit-birit ketakutan karenanya.

▪Padahal jika ia tahu bahwa di antara karunia terbesar Allah adalah dengan mengutus Nabi Muhammad saw, sang manusia terbaik untuk seluruh manusia sebagai rahmat Allah di bumi-Nya. Seharusnya ia bersyukur dan menyukuri nikmat penciptaan, pengajaran dan berbagai nikmat Allah yang tiada pernah bisa terhitung.

©Seharusnya ia mengajak kepada kebaikan, ”Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran. Atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)?” (QS. 96: 11-12)

▪Alangkah baiknya jika seandainya ia mau berpikir sejenak dan kemudian meniti jalan kebenaran dengan ketakwaan dan mengajak sesamanya untuk mengikuti risalah Nabi Muhamamd saw. Ia gunakan pengaruh dan hartanya. Posisi dan status sosialnya. Tentu hal tersebut akan jauh lebih baik. Sayangnya, Abu Jahal tidaklah menggunakan kesempatan yang diberikan Allah untuk memperbaiki diri dengan berbagai kebaikan tersebut.

”Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpa-ling?” (QS. 96: 13)

©Inilah yang menjadi pilihannya. Ia menhabiskan diri menjadi musuh terdepan bagi dakwah Nabi Muhammad saw dan para pengikutnya.

Bacalah Dengan Nama Tuhanmu (QS. Al-‘Alaq) Bag. 1

© Mukaddimah

▪Para ulama meyakini bahwa Surat Al-‘Alaq merupakan surat yang pertama kali diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw di Makkah. Sebagaian besar mushaf yang beredar saat ini menulis surat ini dengan nama Surat Al-‘Alaq. Dan lima ayat pertamanya menjadi wahyu pertama beliau yang disampaikan melalui Malaikat Jibril. Serta ayat-ayat lainnya yang tersisa diturunkan setelah beberapa waktu berlalu dari sejak wahyu pertama diberikan.

▪Tema yang diangkat surat ini cukup beragam. Dari sejak tema wahyu dan turunnya al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw, pembicaraan sifat dan tabiat manusia yang melampaui batas dalam urusan harta, serta kisah Abu Jahal yang menghalang-halangi Nabi Muhammad saw dan melarang beliau untuk shalat di Masjidil Haram.

▪Surat ini diakhiri dengan ancaman Allah untuk orang-orang yang masih terus bersikukuh dalam kesesatan dan sikapnya yang melampaui batas serta perintah kepada Nabi-Nya untuk meneruskan shalat dan sujudnya tanpa mempedulikan gertakan sang durjana.

▪Adapun urutannya yang berada setelah Surat At-Tin seolah memberi isyarat hubungan erat antara keduanya. Terutama dalam pembahasan tentang manusia. Jika dalam surat sebelumnya manusia disebut sebagai penciptaan terbaik yang dilakukan Allah dengan sempurna, maka dalam surat ini dibahas asal muasal penciptaan tersebut serta dimensi lain dari sisi kejiwaan manusia yang kadang melampaui batas serta kufur ni’mat; padahal Allah telah mengaruniakan kepadanya segala kesempurnaan.

©Membaca Penciptaan Manusia

”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan”. (QS. 96: 01)

▪Itulah bunyi ayat pertama surat ini. Memberikan perintah secara jelas kepada Nabi Muhammad saw. juga kepada umatnya untuk membaca. Membaca dengan nama Allah Sang Pencipta. Hal ini secara langsung memberikan isyarat bahwa umat Islam harus menuntut ilmu. Karena membaca merupakan pintu ilmu. Dengan membaca cakrawala berpikir seseorang semakin luas. Dengan membaca kebodohan dan ketidaktahuan bisa diobati, bahkan dipunahkan. Dan karena membaca merupakan gerbang ilmu dan pengetahuan.

▪Apalagi jika perintah membaca ini dikaitkan secara bersamaan dengan menyebut nama Tuhan Sang Pencipta. Tentulah kaitan tersebut ada maksudnya. Mungkin untuk mengingatkan bahwa kemampuan baca seseorang Allah lah yang mengaruniakannya sebagaimana ia diciptakan oleh-Nya. Karena itu dalam segala aktivitasnya termasuk membaca sudah sebaiknya ia mengingat Sang Pencipta, ”yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah” (QS. 96: 02)

▪Segumpal darah yang secara anatomis belum bisa disebut sebagai manusia itu nantinya akan terlahir sebagai makhluk sempurna yang bisa membaca. Jika segumpal darah tersebut teronggok di tepi jalan, siapa yang akan menghargai dan memuliakannya?

”Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah”. (QS. 96: 03)

▪Allahlah yang memuliakannya. Mengangkat derajatnya. Di atas semua makhluk yang diciptakan-Nya. Dzat yang pemurah dan penuh kasih sayang tersebut yang, ”mengajar (manusia) dengan perantaran pena”. (QS. 96: 04)

Dengan belajar membaca dan kemudian menulis maka manusia akan meraih ilmu. Baik ilmu dunia maupun akhirat. Inilah yang oleh Ibnu Katsir kemudian disimpulkan dari sebuah atsar, ”Ikatlah ilmu dengan menulis”. Dengan menjadi manusia yang berilmu sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui menjadi jelas. Sesuatu yang sebelumnya menjadi rahasia berubah tersingkap.

▪Adam as ditinggikan derajatnya melebihi para malaikat dan semua makhluk-Nya karena diajarkan ”nama-nama” oleh Allah sehingga ia mengetahui sesuatu yang sebelumnya tak diketahuinya. ”Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS. 96: 05).

▪Tidakkah manusia kemudian merasa ada perubahan ke arah baik dari dalam dirinya. Dari tak mampu melihat kemudian ia bisa melihat. Tak mampu bicara dan mengungkapkan sesuatu karena keterbatasannya, kemudian ia bahkan mampu melakukannya dengan baik.

▪Dari tak berdaya hanya terlentang kemudian ia belajar berbaring miring dan kemudian duduk, lalu berjalan dan berlari serta mengendarai berbagai jenis kendaraan. Dari tak tahu satu hurufpun, kemudian ia bisa merangkai huruf-huruf menjadi kata-kata yang menjadi sarana komunikasi dengan sesama manusia. Siapa yang mengubah kondisi tersebut?

©Hanya Allah lah yang mampu menjadikan perubahan ke arah baik tersebut.

▪Seharusnya karunia penciptaan dan pengajaran yang sangat luar biasa ini direspon positif oleh manusia. Yaitu dengan rasa syukur dan totalitas pengabdian serta penghambaan yang ikhlas kepada-Nya. Namun, justru kebanyakan manusia tak melakukannya. Mereka bahkan bukan hanya tak pandai bersyukur, tapi mendustakan dan mengingkarinya.

Buah Tin dan Zaitun (QS. At-Tin)

©Manusia Terbaik dan Manusia Terburuk

”Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. 95: 04)

Setelah Allah bersumpah dengan tiga kelompok tempat di atas yang juga mengindikasikan tiga manusia terbaik yang diciptakan-Nya dan diutus-Nya ke bumi untuk membimbing manusia, kini giliran Allah menyampaikan maksud-Nya yang menjadi misi surat ini. Yaitu, mengungkap tanda-tanda kekuasaan Allah Swt. melalui penciptaan manusia yang sangat dahsyat, dalam bentuk yang sempurna dan terbaik di antara sekian makhluk Allah yang ada di alam ini.

Secara fisik, manusia diberi indera terlengkap. Dibekali dengan otak dan perasaan. Struktur tubuh dan anatominya juga bagus dan indah. Proses penciptaannya bahkan sangat menakjubkan.

Kebaikan di sini mencakup berbagai dimensi. Secara fisik manusia adalah makhluk Allah yang terbaik. Meskipun ia kadang mengagumi alam ini dan isi-isinya, namun ia akan lebih takjub bila melihat dirinya sendiri. Jantung yang berdetak sebelum ia dilahirkan dari rahim ibunya dan tak pernah berhenti sampai sebelum ajal mendatanginya.

Organ-organ luar yang tatanan eksteriornya sangat eksotis. Organ-organ dalam yang sangat seimbang. Sehingga ia benar-benar menjadi manusia yang -sebenarnya- memiliki amanah menanggung tugas kekhalifahan dan memakmurkan bumi Allah dengan sebaik-baiknya dan bukan merusaknya.

Dimensi non materi juga demikian. Manusia diberi rasa sedih dan gembira. Nikmat lupa dan ingat dan sebagainya.

Namun, bila kemuliaan dan segala perangkat kesempurnaan ini tak pandai disyukuri akan mengakibatkan murka Allah yang sangat mengerikan. ”Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).” (QS. 95: 05)

Adakah kehinaan dan kenistaan selain mendekam di dalam panasnya neraka? Kesengsaraan dan keabadian dalam penyesalan. Dari struktur kata yang dipakai sangat menarik. ”asfala sâfilîn” yang secara zhahir berarti tempat terendah diantara orang-orang penghuni tempat rendah/dasar neraka.

Meskipun Ibnu Abbas dalam riwayat yang lain, juga Qatadah, al-Kalbi, adh-Dhahhak dan Ibrahim an-Nakha’i menafsirkan ayat ini dengan pengembalian Allah terhadap keadaan manusia seperti semula pada saat ia renta dan pikun, mudah lupa dan sarat dengan kelemahan([8]).

Orang-orang yang tak pandai menyukuri nikmat kesempurnaan atau bahkan mendustakan dan mengingkarinya serta menggunakan karunia Allah untuk hal-hal yang menyebabkan murka-Nya pada hakikatnya derajat mereka diturunkan. Dijatuhkan lebih rendah dari binatang sekalipun.

©Menjaga Nilai Standar Kebaikan

”Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. 95: 06)

Inilah nilai standar untuk menjaga kualitas kesempurnaan manusia. Iman dan amal salih. Iman dengan berbagai dimensi keimanan yang diikuti dan dibuktikan dengan keseriusan beramal baik dan menjaga kontinyuitas serta kualitasnya. Hal inilah yang menjaga manusia untuk keluar dari rel kesempurnaan.

Orang yang memiliki karakteristik demikian layak mendapat balasan kebaikan dari Allah secara sempurna pula. Yaitu tidak terkurangi dan bahkan tidak terputus-putus([9]).

Imam Thabrani mengeluarkan sebuah hadits qudsi yang mengabarkan bahwa jika seorang hamba diberi cobaan Allah diantaranya berupa sakit dan ia ridho dan bersyukur atas cobaan itu maka saat ia sembuh bagaikan terlahir kembali dari rahim ibunya, dosa-dosanya tergugurkan dan mendapatkan pahala sebagaimana saat ia melakukan kebaikan ketika ia sehat.

©Lemahnya Alasan Pendustaan Hari Pembalasan

Jika tanda-tanda di atas sudah demikian jelasnya, lantas apa yang menyebabkan mata hati manusia tertutup sehingga tak mampu dan tak mau melihat dan menerima kebenaran yang sangat jelas.

”Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?” (QS. 95: 07)

Hanya orang-orang bodoh saja yang kemudian berpaling dari meyakini kepastian hari perhitungan tersebut. Hari tatkala keadilan ditegakkan dan tak ada yang bisa menutup-nutupi kezhaliman sekecil apapun.

Karena itu sangat wajar bila kata ganti yang digunakan mengkhithab di ayat ini adalah langsung. Yaitu kata ganti kedua ”kamu” (يكذبـك). Hal ini sekaligus untuk memberikan tantangan kepada jiwa yang selalu menentang titah dan perintah Allah yang dibawa oleh utusan-Nya.

”Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya?” (QS. 95: 08)

Jika nantinya Allah memuliakan kembali orang beriman dan beramal salih dengan kemuliaan yang lebih serta memperlakukan orang-orang yang mendustakan dengan balasan adzab dan siksa maka yang demikian itu bukanlah sebuah kezhaliman. Karena Allah takkan memurkai dan menyiksa hamba-Nya kecuali setimpal dengan perbuatan dan kezhalimannya.

Jika kemudian Allah melebihkan pahala dan balasan kebaikan itu semata karena rahmat dan kemurahan Dzat yang serba maha sesuai dengan janjinya tak sering diucapkan disela-sela firman-Nya.

Maka pertanyaan di akhir surat ini tidaklah untuk dijawab. Karena jawabannya hanya satu. Yaitu, berupa pembuktian keadilan yang jelas tanpa ada yang disembunyikan. Karena persaksian yang dihadirkan bukan hanya buku catatan dan orang-orang lain yang bersangkutan. Namun, berupa bukti otentik yang tak terbantahkan.

”Pada hari ini kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada kami tangan mereka dan kaki mereka memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka lakukan”. (QS. 36: 65)

Buah Tin dan Zaitun (QS. At-Tin)

©Mukaddimah

Menurut para ulama Surat At-Tin diturunkan Allah di Makkah setelah Surat al-Buruj([1]). Tema besar surat Makkiyah ini adalah dua. Pertama, pengangkatan Allah terhadap derajat manusia dengan memuliakannya. Kedua, tema iman dan amal serta balasannya. Itulah yang kelak akan membuktikan bahwa Allahlah sebijak-bijaknya hakim yang akan menuntaskan dan mengadili semua permasalahan manusia dengan seadil-adilnya([2]).

©Tempat-Tempat Suci

Dalam surat ini Allah bersumpah dengan beberapa hal.

▪Pertama,  ”Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun” (QS. At-Tin: 01)

Sebagian pakar tafsir ada yang mengartikan sumpah pertama ini dengan nama bukit yang ada di Baitul Maqdis, Palestina. Ini pendapat Ikrimah([3]). Sementara Qatadah mengatakan bahwa Tin adalah bukit di Damaskus dan Zaitun adalah nama bukit di Baitul Maqdis([4]).

Namun, tidak sedikit yang menyebutkan bahwa yang dimaksud di sini adalah nama dua buah yang sudah dikenal oleh orang Arab juga manusia secara umum yaitu buah Tin yang sangat manis dan buah Zaitun yang pahit namun banyak manfaatnya. Jika yang dimaksud adalah tempat maka bisa konteksnya dengan menambah penafsirannya menjadi bukit atau tempat tumbuhnya kedua buah tersebut. Yaitu di dataran Baitul Maqdis. Gagasan ini seperti disampaikan Syihabuddin al-Alusy dalam tafsirnya([5]).

▪Kedua, “Dan demi bukit Sinai”. (QS. At-Tin: 02)

Adapun tempat kedua yang dipakai bersumpah di sini adalah bukit Sinai, yang menurut kebanyakan ahli tafsir dimaknai dengan bukit tempat Musa menerima wahyu yaitu di bukit Sinai, Mesir([6]). Menurut Ikrimah, ”sinîn” berarti baik, yaitu dalam bahasa habasyah(Etiophia)([7]).

▪Ketiga, ”Dan demi kota (Makkah) ini yang aman”. (QS. At-Tin: 03)

Makkah yang disebut sebagai tempat yang aman karena dijaga Allah dari sentuhan Dajjal dan karena didalamnya terdapat Baitullah. Di sana Nabi Muhammad saw, utusan pamungkas-Nya dilahirkan dan dibesarkan serta menerima wahyu-Nya yang pertama. Demikian sebagaimana dituturkan sebagian besar para ahli tafsir dan ulama.

Lalu, apa hubungannya ketiga sumpah di atas dengan tema besar yang akan diusung oleh surat At-Tîn ini. Surat yang membawa misi manusia terbaik ini selain memerlukan kaidah yang nantinya akan disebutkan Allah, juga memerlukan contoh.

©Penyebutan ketiga kelompok sumpah tersebut seolah mengindikasikan beberapa hal berikut:

▪Sumpah dengan Buah Tin dan Zaitun yang berarti mengisyaratkan tempat asal kedua buah tersebut mengingatkan kita juga seluruh umat Islam akan perjuangan Nabi Isa yang terlahir tanpa bapak karena titah Allah, sekaligus sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya. Ia tumbuh bersama didikan Allah melalui ibunya yang sendiri.

▪Kedua, bukit Sinai memberikan isyarat tempat Nabi Musa menerima wahyu. Nabi yang juga perjuangannya tak ringan. Sejak kecil harus berpisah dengan keluarganya. Kemudian dididik oleh rezim yang kejam dan bengis tapi ditakdirkan untuk menyampaikan risalah keadilan di depan sumber dan inisiator kezhaliman yang sekaligus sebagai ayah angkatnya. Sebuah dilema yang harus dihadapi. Bahkan kisahnya termasuk cerita yang seirng diulang di dalam al-Qur’an dan dijadikan simbol perlawanan tokoh protagonis yang membela kebenaran, keadilan dan orang-orang tertindas melawan simbol dan icon kezhaliman, Fir’aun dan sekutunya.

Adapun negeri yang aman yang berarti Makkah mengisyaratkan sebuah kisah epik dan kepahlawanan seorang Nabi yatim yang menjadi pamungkas Nabi dan Rasul Allah.

Nabi Muhammad saw yang ditasbihkan sebagai manusia bahkan makhluk terbaik dari yang pernah ada dan akan ada, dengan membawa risalah yang akan kekal sampai hari penentuan, hari kiamat. Bersifat universal, diperuntukkan kepada seluruh manusia dan jin, lintas teritorial, lintas generasi dan lintas waktu.

Penyebutan sumpah di atas tidak dimaksudkan sesuai urutan waktu atau menunjuk-kan kemuliaan satu di atas lainnya. Namun, lebih merupakan penyebutan kolektif. Sebagaimana Allah memuliakan satu tempat di antara yang lainnya, para ulama sepakat bahwa Allah memuliakan Masjidil Haram melebihi masjid-masjid yang lain termasuk Masjil al-Aqsha yang juga memiliki keutamaan dibandingkan yang lainnya. Demikian juga, Nabi Isa diutus setelah Nabi Musa tapi disebut terlebih dahulu. Dan mereka adalah orang terbaik di zamannya.

Penyebutan Nabi Muhammad saw di akhir tetap tidak menutupi kemuliaan beliau sebagai manusia terbaik sepanjang masa. Sekaligus sebagai penegasan kekekalan penjagaan Allah terhadap risalah tauhid hingga akhir zaman. Karena umat Nabi Musa dan Nabi Isa as. yang tadinya mengimani dan memperjuangkan serta mendakwahkan risalah tauhid, kini sebaliknya bukan hanya mengingkari, bahkan memusuhi risalah tauhid yang dibawa Nabi Muhammad saw dan para da’i penerus dakwahnya.

Bersambung

Membaca Al Quran Memakai Mushaf Lebih Utama Dibanding Lewat Hapalan

Imam An Nawawi Rahimahullah berkata:

قراءة القرآن من المصحف أفضل من القراءة عن ظهر القلب لأن النظر في المصحف عبادة مطلوبة فتجتمع القراءة والنظر هكذا قاله القاضي حسين من أصحابنا وأبو حامد الغزالي وجماعات من السلف ونقل الغزالي في الإحياء أن كثيرين من الصحابة رضي الله عنهم كانوا يقرؤون من المصحف ويكرهون أن يخرج يوم ولم ينظروا في المصحف
وروى ابن أبي داود القراءة في المصحف عن كثيرين من السلف ولم أر فيه خلافا ولو قيل إنه يختلف باختلاف الأشخاص فيختار القراءة في المصحف لمن استوى خشوعه وتدبره في حالتي القراءة في المصحف وعن ظهر القلب ويختار القراءة عن ظهر القلب لمن لم يكمل بذلك خشوعه ويزيد على خشوعه وتدبره لو قرأ من المصحف لكان هذا قولا حسنا والظاهر أن كلام السلف وفعلهم محمول على هذا التفصيل

Membaca Al Quran melalui mushaf adalah lebih utama dibanding dari hapalan. Karena melihat mushaf sendiri adalah sebuah ibadah. Sehingga berpadulah keutamaan membaca dan melihat mushaf. Itulah yang dikatakan Al Qadhi Husein dari kalangan sahabat-sahabat kami (Syafi’iyyah), Abu Hamid Al Ghazali, dan jamaah para salaf. Al Ghazali telah menukil dalam Al Ihya’, bahwa kebanyakan para sahabat nabi Radhiallahu ‘Anhum membaca Al Quran melalui mushaf dan mereka membenci jika sehari mereka lalui tanpa melihat mushaf.

Ibnu Abi Daud meriwayatkan bahwa membaca lewat mushaf telah dilakukan oleh kebanyakan ulama salaf , “Dan Saya tidak melihat adanya perselisihan pendapat dalam hal ini.” Walau memang ada perbedaan yang sifatnya  personal,  mungkin ada orang yang memilih membaca lewat mushaf bagi bisa mencapai khusyu’ dan mampu memahaminya baik dengan cara melihat mushaf atau menghapal. Ada juga yang memilih lewat hapalan bagi yang bisa mendapatkan kekhusyuan dan pemahaman makna dengan cara itu. Tetapi, dia akan bertambah khusyu dan baik pemahamannya jika membacanya lewat mushaf. Maka, yang seperti ini adalah pendapat yang baik, Maka, yang ebnar adalah bahwa perkataan kaum salaf  dan perbuatan mereka, dimaknai sebagaimana penjelasan ini.

At Tibyan  fi Adab Hamalatil Quran, Hal. 100

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

Allah Ta’ala dan RasulNya Telah Menjamin Kemenangan Bagi Kaum Muslimin

Allah Ta’ala berfirman:

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ (8) هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ (9)

Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut-mulut mereka, namun Allah menyempurnakan cahaya (agama)Nya walau orang-orang kafir membencinya. Dialah (Allah) yang mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas semua agama-agama, walau orang-orang musyrik membencinya. (Qs. Ash Shaf: 8-9)

Dalam Tafsir Al Muyassar:

الله هو الذي أرسل رسوله محمدا بالقرآن ودين الإسلام؛ ليعليه على كل الأديان المخالفة له، ولو كره المشركون ذلك.

Allah, Dialah yang mengutus seorang rasul yaitu Muhammad, dengan membawa Al Quran dan agama Islam, untuk meninggikannya di atas semua agama yang menyelisihinya, walau orang-orang musyrik membenci agama itu (Islam). (Tafsir Al Muyassar, 10/122)

Dari Ubai bin Ka’ab Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

بَشِّرْ هَذِهالْأُمَّةَ بِالسَّنَاءِ وَالرِّفْعَةِ، وَالدِّينِ، وَالنَّصْرِ، وَالتَّمْكِينِ فِي الْأَرْضِ

“Berikan kabar gembira kepada umat ini dengan keagungan, ketinggian, agama, pertolongan, dan kedudukan kuat di muka bumi.”

(HR. Ahmad No. 21220, Syaikh Syu’aib Al Arna’uth mengatakan: isnaduhu qawwiy-isnadnya kuat. Juga diriwayatkan oleh Asy Syaasyi No. 1491, Al Hakim, 4/311. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 6834, 10335, juga dalam Dalail An Nubuwah, 6/317-318 , dari jalan Zaid bin Al Hibab, dan lain-lain. Syaikh Al Albani menshahihkan dalam Shahihul Jami’ No. 2825)

Bisa jadi, kaum muslimin kalah di beberapa front pertempuran, beberapa mimbar perjuangan, dan beberapa  periode pertarungan …. Tapi, itu tidak seberapa dibanding kemenangan besar yang telah dan akan mereka raih.

Imam Asy Syaukani Rahimahullah berkata:

وهذا الوعد لهم بالنصر ، والغلبة لا ينافيه انهزامهم في بعض المواطن ، وغلبة الكفار لهم ، فإن الغالب في كل موطن هو : انتصارهم على الأعداء ، وغلبتهم لهم ..

“Ini adalah janji pertolongan untuk mereka, dan kemenangan  tidak berarti meniadakan adanya kekalahan mereka di beberapa medan perang, dan kemenangan orang-orang kafir terhadap mereka, sebab pemenang dalam semua medan adalah pertolongan untuk mereka atas musuh-musuhnya, kemenangan mereka atas musuh-musuh tersebut ….” (Fathul Qadir, 6/224. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Wallahul Musta’an

Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.

Niatlah Yang Menentukan Baik atau Buruknya amal

Baik tidaknya amal perbuatan seseorang itu tergantung kepada baik tidaknya niat amal perbuatan  tersebut. Bisa jadi ada dua orang yang melakukan amal kebaikan yang sama secara kasat mata, tetapi berbeda nilai di sisi Allah ﷻ karena perbedaan niatnya.

Misalnya, ada dua orang ke masjid, tapi punya niat yang berbeda. Yang satu mencari kebaikan atau mengajarkan kebaikan, yang satu lagi ada tujuan duniawi, maka, kedua orang ini dinilai beda oleh syariat.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

من دخل مسجدنا هذا ليتعلم خيرا أو يعلمه كان كالمجاهد فى سبيل الله ومن دخله لغير ذلك كان كالناظر إلى ما ليس له

“Barang siapa yang masuk ke dalam masjid kami ini, dengan tujuan untuk mempelajari kebaikan atau mengajarkannya maka dia seperti mujahid fi sabilillah. Dan barang siapa yang memasukinya untuk tujuan selain itu, maka dia seperti orang yang sedang melihat sesuatu yang bukan kepunyaannya.” (HR. Ahmad No. 8587, Ibnu Hibban No. 78. Hadits ini hasan menurut Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dalam tahqiq Beliau terhadap Shahih Ibnu Hibban)

Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr Hafizhahullah mengatakan:

فمن جاء إلى المسجد من أجل أن يصلي فيه، أو من أجل أن يشهد الجماعة التي هي واجبة، أو من أجل أن يُحصّل الأجر في المسجد بالذكر وقراءة القرآن، فهو حظه وله ما أراد، ومن لم يدخل المسجد لهذا العمل العظيم، وإنما دخله لأمر من الأمور التي لا علاقة لها بالدين والطاعة فهو حظه، وله ما أراد من العمل بلا أجر

“Barangsiapa yang datang ke masjid untuk shalat, atau untuk menghadiri shalat berjamaah, atau mencari pahala dengan berdzikir dan membaca Al-Qur’an, maka dengan ini dia akan mendapatkan sesuai apa yang diinginkannya. Ada pun yang masuk ke masjid  untuk melakukan amal yang tidak ada kaitan dengan perkara agama dan ketaatan, maka dia mendapatkan sesuai apa yang diinginkannya itu, dan tidak   mendapatkan pahala.” (Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr, Syarh Sunan Abi Daud, No. 066. Maktabah Al-Misykah)

Tapi, ini tidak berlaku bagi “niat baik” dibalik sebuah kejahatan. Seperti ikut berjudi dengan niat mendakwahi para penjudi, berzina untuk mendakwahi PSK, dan semisalnya. Karena niat yang baik tidak mengubah yang haram menjadi halal, kecuali ada dalilnya.

Kaidahnya:

الغاية لا تبرر الوسيلة إلا بدليل

“Tujuan (yang baik) tidaklah membuat baik sarana (yang haram) kecuali dengan adanya dalil.” (Syaikh Walid bin Rasyid  bin Abdul Aziz bin Su’aidan, Tadzkir Al-Fuhul bitarjihat Masail Al-Ushul, Hal. 3. Lihat juga Talqih Al-Ifham Al-‘Aliyah, 3/23)

Contoh, berbohong untuk mendamaikan saudara yang bermusuhan. Caranya “berbohong” tapi tujuannya baik, untuk mendamaikan, ini dibolehkan karena ada dalilnya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَيْسَ الْكَذَّابُ الَّذِي (بِالَّذِي) يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ فَيَنْمِي خَيْرًا أَوْ يَقُولُ خَيْرًا

“Bukan kategori pembohong orang yang mendamaikan manusia yang berselisih, lalu dia menyampaikan hal-hal yang baik (tentang salah satu pihak), dan mengatakan hal-hal yang baik.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Wallahu A’lam

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan