Toleransi

TOLERANSI DI HARI RAYA AGAMA LAIN

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Jauh sebelum istilah toleransi antara umat beragama didengungkan dan ramai dibicarakan, sejak awal ajaran Islam sudah mengajarkan nilai-nilai yang menjadi prinsip toleransi antara umat beragama, yaitu Tidak menghalangi keyakinan orang yang beragama lain dan tidak memaksa mereka untuk pindah keyakinan ke dalam agama kita dan kemudian tidak menyakiti dan mengganggu mereka semata karena agamanya.

Allah Taala berfirman,

لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ

Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam) (QS. Al-Baqarah: 256)

Di ayat lain Allah berfirman:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Maka, apabila seorang muslim memahami agamanya dengan baik dan utuh lalu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, hal itu akan menjadikannya sebagai muslim yang toleran terhadap saudara-saudara kita yang belainan agama.

Termasuk dalam hal menyikapi hari raya agama lain. Maka sikap yang benar sesuai syariat Islama adalah tidak melarang mereka merayakan hari raya mereka, tidak mengganggu dan menyakiti mereka merayakan hari rayanya di tempat-tempat ibadah mereka atau di tempat-tempat yang telah ditentukan.

Karena itu, tidaklah dibenarkan, bahkan layak dikecam, dengan alasan apapun, menghalangi dan mengganggu orang yang beragama lain merayakan hari rayanya, apalagi jika sampai menimbulkan kerusakan dan korban nyawa. Itu adalah perbuatan yang layak dikutuk.

Namun di sisi lain, yang patut diingatkan adalah bahwa ajara Islam yang mengajarkan kita untuk bersikap baik, tidak mengganggu dan menyakiti orang yang beragama lain di hari rayanya, juga adalah ajaran yang mengajarkan kita untuk menjaga jatidiri dan identitas muslim sebaik-baiknya serta tidak mencampur adukkan masalah akidah dan ibadah. Dalam hal ini, wujudnya adalah tidak ikut serta dalam pelaksanaan hari raya mereka. Karena hari raya suatu agama adalah perkara yang sangat spesial dan khusus bagi agama itu sendiri.

Rasulullah saw bersbada pada hari raya Islam,

إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا (رواه البخاري ومسلم)

“Setiap kaum ada Idnya, dan ini adalah Id kita.” (HR. Ibnu Majah)
Maka dilarang bagi seorang muslim melakukan tasyabuh (menyerupai) pada perkara yang khusus dan special bagi suatu agama, apakah dalam bentuk sikap, penampilan, pakaian, gerakan, dll. Sebagaimana sabda Rasulullah saw

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَومٍ فَهُوَ مِنْهُم (رواه أبو داود)

Siapa yang menyerupai mereka, maka dia bagian dari mereka (HR. Abu Daud)

Para ulama mengatakan bahwa hadits ini merupakan peringatan untuk tidak menyerupai orang-orang kafir atau ahli maksiat terkait perkara-perkara yang bersifat khusus sebagai identitas mereka.
Karena itu, jika menyerupai mereka yang berlainan agama terkait dengan perkara-perkara khusus mereka, dilarang dalam Islam, apalagi jika ikut serta dalam perayaan agama mereka yang didalamnya terdapat ritual keagamaan mereka dan berbagai keyakinan yang menyertainya.

Rasulullah saw sebagaimana diriwayatkan, ketika datang ke Madinah mendapatkan penduduk Madinah bergembira ria di dua hari yang mereka anggap sebagai hari raya mereka. Maka beliau bersabda.

إِنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُم بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْر

Allah sudah mengganti untuk kalian dua hari yang lebih baik dari kedua hari tersebut; Idul Adha dan Idul Fitri. (HR. Abu Daud)

Karena itu Majlis Ulama Indonesia (MUI) sejak jauh-jauh hari dalam fatwanya yang dikeluarkan pertahun 1401 H/1981 M telah tegas menyatakan haram ikut serta menghadiri upacara natal dan menganjurkan untuk tidak terjerumus dalam perkara syubhat dengan tidak mengikuti kegiatan-kegiatan natal.

Ini bukanlah sikap intoleran atau tidak bertoleransi. Karena toleransi berlaku pada sikap baik dalam perkara-perkara yang bersifat duniawi. Adapun jika berkaitan dengan keyakinan, ibadah dan perkara yang menjadi ciri khas mereka, maka kita memiliki pedoman yang jelas dan tegas; Lakum diinukum waliyadiin (bagi kalian agama kalian, dan bagiku adalah agamaku)

Surat Al-Kafirun yang mengandung ayat di atas diturunkan sebagai jawaban dari tawaran orang kafir Quraisy kepada Rasulullah saw untuk melakukan ibadah secara bergantian, sekali waktu mereka ikut beribadah seperti orang beriman, sekali waktu orang beribadah ikut cara mereka. Maka Allah turunkan surat Al-Kafirun yang sangat kita hafal tersebut sebagai bantahan bahwa soal ibadah dan keyakinan maka hendaklah memegang prinsip dan pengamalan sendiri. Tidak boleh dicampuradukkan.

Demikianlah Islam mengajarkan sebuah ajaran yang agung namun penuh keseimbangan. Yaitu bagaimana kita sebagai muslim memiliki akidah yang kuat, ibadah yang benar, identitas dan jatidiri yang jelas, namun tetap memberikan penghormatan kepada mereka yang berlainan agama, tidak menyakiti dan mengganggu mereka.

Jangan sampai keimanan dan ketaatan, kita dijadikan alasan untuk menyakiti dan mengganggu umat beragama lain. Tapi jangan sampai juga, tuntutan toleransi membuat kita luntur dalam akidah, rusak dalam ibadah serta kehilangan identitas dan jatidiri. Semoga Allah kuatkan iman islam kita dan berikan kita kemampuan untuk berakhlak mulia dan berlaku baik kepada siapapun termasuk kepada mereka yang berlainan agama.

بارك الله لي وليكم في القرآن العظيم

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Perbaiki Niat

Pelajaran dari kisah perkawinan Rasulullah saw dengan Hafshah binti Umar bin Khattab Radhiallahu anhuma

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Umar bin Khattab (ayahnya) berkata,

“Hafshah menjanda setelah suaminya Khunais bin Huzafah wafat, dia adalah salah seorang shahabat yang turut serta dalam perang Badar, lalu meninggal di Madinah.

Maka aku segera menemui Utsman bin Affan, lalu aku tawarkan kepadanya agar menikahi Hafshah. Aku katakan kepadanya, “Jika engkau bersedia, Hafshah akan aku nikahkan denganmu.” Namun Utsman bin Affan berkata, “Aku pikir-pikir dahulu.”

Lalu aku tunggu beberapa malam hingga akhirnya dia (Utsman) menemuiku seraya berkata, “Saat-saat sekarang ini, saya belum berencana untuk menikah.” Lalu Umar berkata, “Lalu aku menemui Abu Bakar dan aku katakan kepadanya, ‘Kalau mau, aku akan nikahkan Hafshah denganmu” Namun tidak ada respon, sehingga aku merasa bahwa keadaannya seperti Utsman. Setelah beberapa hari berlalu, ternyata Hafshah dilamar oleh Rasulullah saw, akhirnya Hafshah aku nikahkan dengan beliau saw.

Kemudian (setelah pernikahan tersebut) Abu Bakar menemuiku seraya berkata, “Tampaknya ada sesuatu yang engkau simpan saat engkau menawarkan Hafshah kepadaku dan aku tidak menjawabnya?” Aku katakan, “Ya” Lalu dia berkata, ‘Tidak ada yang menghalangiku untuk menerima tawaranmu sedikit pun kecuali aku mendengar bahwa Rasulullah saw menyebut namanya (untuk menikahinya) dan aku tidak berani menyebarkan rahasia Rasulullah saw. Seandainya beliau membatalkannya, niscaya aku bersedia menikahinya.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat disebutkan bahwa ketika Abu Bakar dan Utsman tidak merespon tawaran Umar bin Khattab untuk menikahi Hafshah, beliau mendatangi Rasulullah saw untuk menyampaikan hal tersebut. Maka Rasulullah saw bersabda,

يَتَزَوَّجُ حَفْصَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْ عُثْمَانَ ; وَيَتَزَوَّجُ عُثْمَانُ مَنْ هِيَ خَيْرٌ مِنْ حَفْصَةَ (رواه أبو يعلى)

“Hafshah akan dinikahi oleh orang yang lebih baik dari Utsman dan Utsman akan menikah dengan wanita yang lebih baik dari Hafshah.” (HR. Abu Ya’la)

Ternyata benar. Tak lama kemudian Rasulullah saw melamar Hafshah untuk dirinya, sedangkan Utsman menikahi puteri Rasulullah saw; Ummu Kultsum, setelah isteri beliau sebelumnya yang juga puteri Rasulullah saw; Ruqoyyah, meninggal dunia.

Pernikahan Rasulullah saw dengan Hafshah terjadi pada tahun ketiga hijriah. Maka dengan demikian, Hafshah menikah dengan Rasulullah saw pada usia 20 tahun.

———————————–

Pelajaran:

– Seorang ayah sebaiknya aktif mencarikan calon suami yang saleh bagi puterinya.

– Kedua belah pihak hendaknya merahasiakan proses pencarian tsb dan tidak dipublikasikan.

– Seraya berikhtiar, tetap meyakini bahwa pilihan Allah baginya adalah yang terbaik.

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Islam Rahmatan lil Alamin

Mengembalikan Makna Rahmatan Lil Alamin

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Beberapa kali saya ikuti acara yang terkait pembinaan bagi para dai yang diadakan oleh lembaga formal. Nyaris isunya tidak pernah keluar dari peringatan soal bahaya radikalisme dan intoleransi. Seakan cap radikal dan intoleran sudah menjadi cap asli bagi sebagian kaum muslimin, khususnya para dai.

Jarang di antara para pembicara itu, yang notabene berasal dari lembaga yang khusus membidangi masalah dakwah, mengingatkan agar para dai kuat komitmennya dalam berdakwah, bersungguh-sungguh menyampaikan ajaran Allah, agar masyarakat mengamalkan Islam secara utuh dan bersemangat melindungi masyarakat dari bahaya kekufuran, kemusyrikan, kemaksiatan dan dekadensi moral.

Biasanya yang jadi andalan adalah ayat 107 surat Al-Anbiya

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

Seakan ayat ini khusus ditujukan untuk bab toleransi dan menangkal bahaya radikalisme, khususnya terkait dengan sikap kita dengan orang-orang di luar Islam. Maka keluarlah ajakan untuk bersikap baik kepada orang kafir, tidak menyakiti dan memusuhi mereka.

Sampai disini sebenarnya tidak bermasalah, karena pada dasarnya Islam memang mengajarkan demikian. Tapi oleh pihak-pihak tertentu, khususnya Islam liberal, tidak jarang ayat ini digiring agar kita mengendurkan sikap tegas dan kuat pada tempat-tempat dimana kita harus tegas dan kuat, khususnya soal aqidah dan ibadah, juga soal perkara halal haram. Atau dengan kata lain, sikap menghormati orang kafir dengan keyakinannya mereka giring menjadi bagaimana agar kaum muslimin dengan sikapnya dapat menyenangkan orang kafir. Padahal tidak ada yang paling mereka senangi kecuali seorang muslim menjauh dari ajaran agamanya dan mengikuti langkah-langkah mereka (QS. 2: 120).

Maka kadang keluarlah sikap-sikap yang aneh, bershalawat di gereja, ikut ritual mereka, sampai pada sikap lebih dapat akrab dengan mereka ketimbang sesama elemen muslim. Memang ini bukan fenomena umum, tapi gejalanya mulai tumbuh.

Bagaimanakah pemahaman ayat di atas? Dalam banyak tafsir disebutkan, bisa dilihat dalam Tafsir Ath-Thabari atau Ibnu Katsir, bahwa diutusnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan syariatnya tak lain sebagai rahmat bagi seluruh alam ini, baik muslim maupun kafir. Bagi kaum muslimin menjadi rahmat, karena orang beriman menjadi tahu syariat dan jalan Allah untuk menuju surgaNya. Bagi orang kafir juga menjadi rahmat sebab diutusnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membuat mereka tidak diazab langsung di dunia sebagaimana menimpa umat terdahulu. Karena di antara kekhususan umat ini adalah tidak adanya azab masal seperti menimpa umat sebelumnya.

Ada juga penafsiran, bahwa Islam ini adalah rahmat jika mereka mau menerimanya, karena di dalamnya tidak terdapat kecuali kebaikan. Maka jika mereka menolak Islam, pada dasarnya mereka tidak menghendaki rahmat dan kebaikan yang Allah berikan.

Di antara penafsiran lain dari ayat ini juga adalah penolakan nabi ketika diminta untuk melaknat bangsa Arab yang menolak seruan dakwahnya, maka dia katakan ‘Saya adalah rahmat yang diberi petunjuk’ di riwayat lain dia mengatakan, ‘Aku tidak diutus untuk menjadi tukang laknat’.

Maka secara umum, makna rahmatan lil aalamin adalah bahwa ajaran Islam ini merupakan rahmat bagi semesta alam. Karenanya, ayat ini harus mendorong kita untuk mengimani Islam, mengamalkannya dan berikutnya mendakwahkannya.

Orang-orang yang mengamalkan Islam dan menyampaikan dakwah Islam mestinya disuport, karenanya sejatinya mereka sedang menebarkan rahmat dan kebaikan bagi masyarakat, bangsa dan negara. Bukan selalu dicurigai apalagi diintai dengan anggapan sebagai pemicu sikap radikal, intoleran dan ancaman bagi negara. Kata kuncinya adalah, siapa yang mengamalkan dan mendakwahkan Islam dengan segenap ajarannya, berarti dia sedang menebarkan rahmat di tengah masyarkat.

Soal toleransi, kaum muslimin di negeri ini dan umumnya di negeri-negeri mayoritas Islam, insyaAllah sudah khatam dengan bab toleransi dalam bentuk menghormati keyakinan agama orang lain dengan tidak mengganggunya dan menyakitinya serta berbuat baik secara sosial kepada mereka. Kalau tidak, non muslim di negeri ini akan bernasib sama seperti muslim minoritas di beberapa negara, seperti muslim Rohingya di Myanmar, bangsa Kashmir di India, Uighur di Cina, dll.

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Jalan Dakwah

Antara Dakwah dan Alwala’ Wal Baro’

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Saat berdakwah, selain menjelaskan kebenaran dan keunggulan aqidah Islam, Rasulullah ﷺ pun tak lupa sampaikan kesesatan para menyembah berhala atau apa saja yg disembah selain Allah. Al-Qur’an pun banyak jelaskan kebatilan tersebut. Inilah jalan dakwah para nabi dan para pewarisnya.

Inilah konsekwensi dari aqidah tauhid. ada yang harus diyakini dan ada yang harus ditolak dan diingkari. Itulah kandungan Laa ilaaha illallahu. Bahkan jika diperhatikan, kalimat tauhid justeru diawali oleh penolakan, Laa ilaaha… tidak ada tuhan selain Allah yabg boleh diyakini, diimani dan ditaati.

Dalam Islam memang dikenal konsep al wala wal baro; Kita bukan hanya dituntut punya loyalitas terhadap keyakinan yang kita pegang, tapi harus diiringi pula dengan pengingkaran terhadap keyakinan yang berbeda. Jadi, menerima kebenaran islam, tapi masih menganggap agama selainnya juga benar, itu tidak diterima dalam Islam.

Konsekwensinya adalah kebatilan dan penyimpangan ajaran selain Islam harus disampaikan, khususnya masalah aqidah. Agar jelas bagi kita bersikap dan ambil posisi.

Ayat yang paling tegas berbicara ttg al wala wal baro adalah surat Al-Baqarah: 256

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ

“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (QS. Al-Baqarah: 256)

“Thagut” adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah.

Inilah keyakinan Islam yang harus dipahami umat Islam sebelum umat agama lain. Sayangnya sekarang ini, jangan umat agama lain, umat Islam sendiri ada yang belum paham soal ini. Alil-alih berusaha dan berperan berikan penguatan aqidah dan keimanan di tengah umat, justeru malah mengaburkan dan melemahkannya.

Bagaimana sikap kita dengan keyakinan agama lain? Ayat di atas surat Al-Baqarah diawali oleh pesan Allah…

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

“Tidak ada paksaan dalam agama…”

Tugas kita hanya memperjelas dan memperkokoh keimanan. Soal penganut agama lain, kita tidak pernah memaksakan mereka untuk ikut. Merekapun harus paham sikap dan keyakinan kita terhadap ajaran mereka.

Bahkan jika mereka menjelaskan keyakinan mereka kepada umat mereka dengan menyebutkan ‘kebatilan’ agama Islam versi mereka atau memberikan label-label kesesatan seperti ‘domba-domba tersesat’, kita selama ini tidak pernah ambil pusing, selama itu mereka sampaikan dalam majlis majlis ilmu mereka. Bahkan itu konsekwensi logis kalau mereka meyakini kebenaran agama mereka. Dan bagi muslim, dikatakan sesat atau bahkan kafir oleh mereka dan menurut agama mereka, justru kita anggap sebagai kebenaran agama ini. Justeru yabg bermasalah adalah kalau kita dianggap sama imannya oleh mereka.

Dalam aspek sosial pun Islam tetap mengajarkan berbuat baik, tidak menzalimi, tidak berkhianat, saling tolong menolong dan perkara-perkara sosial lainnya. Selama tidak berkaitan dengan aqidah dan ibadah, serta tidak ada yang terlarang dalam syariat, kita tetap diperintahkan berbuat baik kepada mereka…..

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Larangan Memakan Sembelihan Tanpa Dibacakan Basmalah

Menyembelih Banyak Hewan dengan Satu Basmalah

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, bagaimana kalau memotong ayam banyak tapi baca bismillahnya cuma satu kali menurut islam?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Prinsip dasar pemotongan hewan yang halal menurut syariat Islam adalah: Penyembelihnya harus seorang muslim, alat yang digunakan tajam, menyembelih pada bagian leher di saluran makanan dan pernafasan dan membaca basmalah.

Terkait bacaan basmalah, jumhur ulama menyatakan bahwa perkara tersebut termasuk syarat sahnya penyembelihan apabila seseorang ingat dan mampu. Berdasarkan firman Allah taala:

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ ۗ

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan…” (QS. Al-An’am: 121)

Jika ayam tersebut disembelih secara manual, maka setiap kali menyembelih pemotongnya harus membaca basmalah, tidak cukup sekali basmalah untuk sekian banyak ayam.

Adapun jika penyembelihannya menggunakan mesin khusus penyembelihan yang dapat menyembelih sekian ratus ayam sekaligus maka menurut beberapa fatwa kontemporer dari beberapa lembaga fatwa, hal tersebut dibenarkan dengan beberapa catatan;

– Mesin tersebut dioperasikan oleh seorang muslim dan membaca basmalah saat mengoperasikannya, walau sekali saja.

– Sejumlah ayam yang hendak dipotong sudah dalam keadaan siap disembelih. Jika dipersiapkan lagi kelompok ayam yang baru untuk disembelih, maka ulang lagi bacaan basmalahnya.

– Alat penyembelihan harus berupa benda tajam yang menyembelih bagian leher serta memutus saluran pernafasan dan makanan ayam tersebut.
Wallahu A’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Aku Cinta Rasulullah

Meneladani Rasulullah saw Pada Tempatnya

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Ayat yang sangat popular di hari-hari belakangan ini adalah ayat 21 surat Al Ahzab.

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا – سورة الأحزاب: 21

Mungkin banyak yang tidak tahu kalau ayat ini dari sebab turunnya memiliki latar belakang perang. Sebagaiman nama suratnya; Al-Ahzab yang di dalamnya banyak bercerita tentang salah satu perang yang fenomenal, yaitu perang Ahzab. Perang yang terjadi pada tahun 5 H ini adalah perang yang sangat berat. Kaum kafir berkolaborasi dan bersekutu menghimpun kekuatan untuk menghabisi kekuatan kaum muslimin di Madinah, karenanya dikatakan ‘ahzab’ (sekutu). Maka untuk menghadapinya Rasulullah dan para sahabatnya membuat parit besar di perbatasan kota Madinah. Karenanya perang ini juga dinamakan perang Khandaq (parit).

Jadilah Rasulullah saw berhari-hari bahu membahu dengan para sahabat lainnya menggali parit dalam suasana yang sangat berat. Sementara itu, orang-orang munafik terlihat enggan ikut bersama kaum muslimin, maka dengan alasan di tempat tersebut tidak ada tempat berteduh dan rumah mereka tidak ada yang menjaga, mereka ‘melipir’ tidak mau ikut menggali parit bersama kaum muslimin (QS. Al-Ahzab: 13). Dalam kontek inilah Allah turunkan ayat tersebut.

Para ulama menyatakan bahwa ayat ini merupakan peringatan bagi kaum munafik yang enggan ikut berlelah-lelah menggali parit dan berjihad menghadapi pasukan sekutu. Semestinya mereka meneladani Rasulullah saw yang walaupun kemuliaannya, tetap mau membersamai para sahabat untuk menggali parit dan menanggung beban jihadi di jalan Allah.

Jalaludin As-Suyuti dan Jalaludin Al-Mahalli dalam tafsirnya Al-Jalalain menafsirkan ayat ini dengan singkat;

اقْتِدَاءً بِهِ فِي الْقِتَالِ وَالثَّبَاتِ فِي مَوَاطِنِهِ

“Meneladaninya dalam perang dan keteguhan pada tempatnya masing-masing.”

Walaupun pemahaman Al-Quran diambil dari keumuman ayat bukan kekhususan sebab, sebagaimana kaidah populer dalam ilmu tafsir, namun latar belakang ini penting kita pahami, bahwa meneladani Rasulullah saw itu bukan hanya pada hal-hal yang sifatnya lembut, santun, kasih sayang dan dalam suasana tenang nyaman tanpa permusuhan. Tapi disana juga ada keteladangan dalam hal ketegasan, marah, perang, letih dan berat menanggung beban dan tidak lemah hadapi permusuhan.

Abu Bakar Ash-Shidiq terkenal dengan kesantunan dan kelembutannya. Saat menjadi khalifah, ada sebagian rakyatnya yang membangkang, menola zakat. Tanpa ragu beliau putuskan untuk memerangi mereka. Saat Umar bin Khatab tampak ragu soal itu, dengan tegas beliau nyatakan, ‘Aku akan perangi orang yang ingin pisahkan shalat dengan zakat. Apakah engkau berani di masa jahiliah, justeru jadi penakut di masa Islam?”

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Keutamaan Salat Shubuh

Jika Salah Bacaan Sholat, Apakah Wajib Qodho?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, apakah saya wajib mengqadha shalat saya jika saya salah bacaan syahadat saya ketika tahiyat awal dan akhir Karena tidak tahu atau salah mengira, seharusnya lafad asyhadu dibaca dengan ش tapi saya kira di baca dengan س. Apakah ini merubah makna dan saya harus mengqadha shalat saya?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Pelaksanaan ibadah yang keliru yang pernah dilakukan karena tidak ada ilmu atau tidak mengetahui permasalahan tersebut dengan sebenarnya, jika sudah terlaksana, maka tidak perlu diqadha lagi. Akan tetapi dia tentu saja harus belajar dan memperbaiki apa yang sebelumnya ia yang merasa kurang melakukannya. Hal ini sesuai dengan ayat yang pernah menjadi doa kita:

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا..

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah…” (QS. Al-Baqarah: 286).

Juga disebutakan dalam hadits

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَال: (إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ)

“Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah membiarkan(mengampuni) kesalahan dari umatku akibat kekeliruan dan lupa serta keterpaksaan.” (HR. Ibnu Majah).

Ada juga riwayat yang menjelaskan bahwa orang yang keliru sholatnya, ketika dia selesai sholat, kemudian menghadap Rasulullah SAW dan mengucapkan salam, maka Rasulullah SAW perintahkan untuk sholat lagi, lalu dia balik lagi dan Rasulullah SAW perintahkan untuk sholat lagi, karena dikatakan belum sholat. Sampai ketiga kali dia mengatakan “ajarkan aku ya Rasulullah SAW sholat, karena aku tidak bisa lebih dari ini sholatku”, maka Rasulullah Saw ajarkan sholat yang benar (HR. Bukhari).

Dalam riwayat tersebut Rasulullah Saw tidak memerintakan orang tersebut untuk mengulangi sholatnya. Hal ini menunjukkan bahwa amalan-amalan ibadah yang pernah dia lakukan dan di dalamnya ada kekeliruan dan dia ketahui di kemudian hari, maka itu tidak perlu di qadha lagi ibadahnya. Yang jelas ke depan dia harus memperbaiki sebaik mungkin sesuai ajaran yang benar. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Usia Penghuni Surga

Pemuda di Dalam Al-Qur’an

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dalam Al-Quran, Allah berbicara tentang pemuda dua kali.

Pertama, tentang para pemuda Ashabul Kahfi, para penghuni goa. Dikatakan demikian, karena demi mempertahankan keimanannya saat penguasa dan kaumnya menjadikan keimanan kepada Allah sebagai kejahatan yang harus dibasmi, mereka lebih memilih meninggalkan negeri mereka dan bersembunyi di goa. Sehingga Allah berikan karomah kepada mereka tertidur selama 309 tahun lamanya tanpa perubahan berarti pada diri mereka. Saat terbangun, zaman sudah berubah, negeri yang mereka tinggalkan telah menjadi negeri beriman.

Allah abadikan kisah mereka dalam surat Al-Kahfi dan Allah jelaskan dengan lugas tentang karakter mereka,

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. (QS. Al-Kahfi: 13)

Ashbul Kahfi adalah teladan yang sangat baik bagaiman para pemuda seharusnya adalah orang yang kokoh keimanannya, tidak mudah tergiur oleh berbagai godaan dan tak mudah lemah oleh berbagai ancaman. Perkara sekarang banyak sekali ujian dan tantangan keimanan, mestinya semakin menambah dorongan bagi para pemuda untuk semakin semangat menjaga dan merawat keimanannya. Dari sinilah langkah-langkahnya kedepan akan sangat ditentukan.

Kedua, tentang sosok Nabi Ibrahim alaihissalam yang juga hidup di tengah kekufuran dan kezaliman merajalela, dari tingkat pemimpin hingga rakyat jelata. Nabi Ibrahim alaihissalam yang saat itu dikatakan masih muda, berdiri tegak menghadapi kerusakan kaumnya, menyampaikan yang hak dan berusaha mencegah kemunkaran yang terjadi. Sampai akhirnya beliau mengambil tindakan berani, secara sembunyi-sembunyi, dihancurkannya berhala-berhala yang mereka sembah dan puja-puja itu.

Maka, ketika orang-orang kafir mencari-cari siapa yang merobohkan berhala-berhala mereka.

قَالُوا۟ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ

“Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim”.

Maka ada yang melaporkan bahwa Ibrahimlah yang melakukan hal tersebut. Kala itu dia disebut sebagai ‘pemuda’.

قَالُوا۟ سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبْرَٰهِيمُ

Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim”. (QS. Al-Anbiya: 59-60)

Kita semua tahu resiko apa yang ditanggung Nabi Ibrahim alaihissalam dari perbuatannya itu. Namun yang penting bagi kita, khususnya bagi para pemuda, adalah mengambil pelajaran, bagaimana semestinya seorang muslim memiliki sikap yang tegas, bahwa mereka menentang berbagai bentuk kemunkaran, kezaliman dan kebatilan. Minimal seorang pemuda hendaknya mengambil posisi yang jelas di hadapan kebatilan, jangan bimbang dan abu-abu, apalagi menjadi pengusung dan promotor kebatilan. Sikap yang seharusnya tidak boleh ada dalam kamus para pemuda.

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Tutuplah Aib

Jika Ghibah Pahala Akan Berpindah?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, ketika kita membicarakan (ghibah) seseorang maka pahala kita akan dipindahkan ke orang yang dighibahkan. Pertanyaan: (a) Apakah pahala yang dipindahkan hanya sebagian saja atau seluruh pahala yang kita miliki? (b) Setelah melakukan ghibah apakah pahala yang akan kita dapatkan untuk kedepannya akan terus menjadi milik orang yang dighibahi?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Perkara ghibah atau perkara-perkara lain yang bersifat menyakiti, menzalimi orang lain itu memang dapat berpotensi mengakibatkan kebaikan itu akan diberikan kepada mereka di akhirat nanti, meskipun tentu saja ukuran-ukurannya Allah SWT yang tahu, karena itu perkara ghaib.

Hal ini memang merujuk pada hadits Rasulullah SAW terkait dengan orang yang muflis (bangkrut), sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat tentang hal ini;

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ ». قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ « إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ

Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya : “Tahukah kalian siapakah orang orang yang bangkrut itu?” Para sahabat _rodiyallahu ‘anhum_menjawab, “Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta.” Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang pada hari kiamat datang membawa pahala sholat, puasa, dan zakat, namun dia juga membawa dosa mencaci maki si A, menuduh zina si B tanpa bukti, memakan hartanya si C, membunuh si D, dan memukul si E. karena itu, sebagian pahala amal kebajikannya diberikan kepada mereka. Jika pahala kebajikannya sudah habis, sedangkan belum selesai urusannya maka dosa orang yang dianiaya diberikan kepadanya. Kemudian dia dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim).

Maka kebaikan yang dia bawa akan diberikan kepada siapa yang dia zalimi, kalau tidak cukup, keburukan yang dimiliki oleh orang yang dia sakiti akan diberikan kepadanya. Berapa ukurannya? Tentu saja Allah SWT yang tahu, bisa jadi kebaikan yang dia bawa sekian, keburukannya sekian, maka diambil sekian. Jika kebaikan yang dimiliki sedikit, sementara orang yang dizalimi justru sangat banyak, maka bisa jadi yang terjadi justru kebaikan kita habis dan tidak cukup, kemudian keburukan orang yang disakiti itu akan diberikan kapada kita. Itulah sejatinya orang yang bangkrut berdasarkan sabda Rasulullah Saw.

Yang paling penting memang bukan melihat itu semua sebagai ukuran berapanya, tapi yang paling penting apabila semua itu dilakukan, maka segera bertaubat kepada Allah SWT, menyesali perbuatannya, berjanji tidak mengulangi perbuatan itu, menghentikan semua itu dan minta maaf kepada orang yang dighibahi. Jika takut, maka mohon kepada Allah SWT, kemudian mohonkan ampun untuk orang tadi, kemudian perbaiki nama baiknya. Misalnya orang itu baik dan sebagainya, sebagai upaya untuk menunjukkan kesungguhan kita dalam bertaubat, karena itu yang paling penting.

Jangan sampai mengukurnya misalnya dengan berkata “sholat saya banyak bisa untuk membayar dosa ghibah”, maka itu termasuk sesuatu yang bisa membuat terpedaya dan akhirnya terus dalam dosa ghibah yang bisa jadi akan memberikan keburukan yang sangat besar bagi kita.

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Ilmu

Gelorakan Spirit Santri; Mempelajari Ilmu Agama

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Tanggal 22 Oktober ditetapkan pemerintah RI sebagai hari Santri nasional. Ini tentu saja memberikan makna bahwa peran para ulama dan santri dalam sejarah perjuangan bangsa tidak dapat dipungkiri dan seharusnya kita kenang..

Karena memang sejarah mencatat dengan jelas bagaimana para ulama dan santrinya, bukan hanya berjasa pada bangsa ini dalam menyebarkan ilmu, khusunya ilmu agama di tengah masyarakat, tapi mereka pun ikut angkat senjata bersama berbagai elemen masyarakat lainnya dalam perjuangan melawan penjajah.

Karenanya hari Santri ditetapkan berdasarkan tanggal dikeluarkannya resolusi jihad oleh Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari, rahimahullah, yaitu pada tanggal 22 Oktober 1945 di Surabaya.

Penjajah sudah sekian lama meninggalkan negeri kita. Perjuangan bersenjata mengusir penjajah sudah tidak berlaku lagi. Namun kiprah dan spirit santri tidak boleh hilang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Spirit utama dalam kehidupan santri adalah spirit dalam mempelajari ilmu agama. Maka sejatinya, hari santri yang diperingati ini bukan hanya berlaku untuk kalangan santri saja, tapi untuk mengingatkan kaum muslimin agar memiliki mental santri, yaitu orang yang selalu termotivasi dan semangat untuk selalu mempelajari dan memahami agamanya.

Sebab, masalah mempelajari agama, jangankan dalam kondisi normal, dalam kondisi perang sekalipun, Al-Quran mengingatkan kita untuk tidak meninggalkannya.

Allah Taala berfirman,

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS. At-Taubah: 122)

Hal ini tak lain karena nilai-nilai agama sangat dibutuhakn oleh seorang muslim, bukan hanya terkait dengan praktek ibadah sehari-hari, tapi lebih dari itu sangat dibutuhkan untuk menjadi pedoman dan pegangan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan, baik ruang lingkup individu, keluarga, bermasyarakat hingga bernegara. Nah, menghadirkan nilai-nilai agama dapat dimulai dengan mempelajari ajaran agama itu sendiri.

Karena itu kaum muslimin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah Taala.

Kita sangat bersyukur jika kita dapati pada masa sekarang ini kemudahan untuk mempelajari ilmu-ilmu agama. Di masjid-masjid, sekolah dan kampus, perkantoran dan tempat lainnya, banyak diselenggarakan kajian-kajian keislaman. Sehingga kita tidak kesulitan untuk mendapatkan kebaikan di dalamnya. Hal inipun dapat kita tambah dengan kesempatan mendalami ilmu agama lewat membaca buku-buku keislaman, atau tayangan kajian di televisi dan di dunia maya.

Tinggal yang kita butuhkan adalah kesadaran dan kemauan untuk melakukannya. Kesadaran bahwa mempelajari agama pada hakekatnya bukan hanya kewajiban ulama, ustaz atau kalangan santri saja, tapi kewajiban sekaligus kebutuhan setiap muslim, siapapun dia, apapun kedudukannya. Semakin dini kesadaran ini dimiliki, semakin mendorong kemauan untuk mempelajari agama. Semakin dini seseorang belajar agama, semakin banyak kebaikan yang akan didapatkan insyaAllah.

Mempelajari agama semakin tampak kita butuhkan, ketika kita sadari bahwa tantangan yang ada sekarang ini semakin kompleks. Tidak cukup kita hanya mengandalkan kepandaian semata atau kekuatan materi dan fisik semata. Sangat dibutuhkan kekuatan mental yang berbasis pada kekuatan iman dan pemahaman agama yang baik.

Maka dari sini akan kita dapatkan bahwa mempelajari ilmu agama berdampak erat pada kehidupan sosial kemasyarakatan, bahkan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Karena itu, semangat jihad yang sudah diwariskan dari para ulama dan santri di masa-masa perjuangan bangsa ini, dapat kita warisi dan tetap kita lanjutkan, di antaranya dengan bersemangat membekali diri kita dengan pemahaman yang terhadap ajaran Islam melauli majelis-majelis ilmu yang dapat kita hadiri.

Hal ini sesuai dengan semangat yang digelorakan oleh Rasulullah saw, bahwa siapa yang keluar untuk menuntut ilmu, maka pada hakekatnya dia sedang keluar di jalan Allah.

مَن خرَج في طَلَبِ العِلمِ، كان في سَبيلِ اللَّهِ حَتَّى يرجِعَ

Siapa yang keluar untuk menuntut ilmu, maka dia berada di jalan Allah hingga kembali. (HR. Tirmizi)

Karena itu, di hari santri ini, selain kita diingatkan untuk mengenang jasa para ulama dan para santri yang telah berjasa memperjuangkan negeri ini merebut kemerdekaan dari penjajah, hendaknya di sisi lain menjadi pengingat dan motivasi kuat bagi kita sesama anak bangsa yang beragama Islam untuk jangan malas dan terus bersemangat menangkap spirit kaum santri, yaitu semangat belajar ilmu agama. Semakin tinggi kesadaran ini muncul di tengah masyarakat, insyaAllah akan semakin baik dan semakin mendatangkan keberkahan dari Allah Talaa.

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم….

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678