Menilai Secara Menyeluruh

MENILAI SECARA UTUH

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Pada tahun 2 H, tim kecil dipimpin Abdullah bin Jahsy yg ditugaskan Rasulullah saw kontak senjata dgn kaum kafir Quraisy. Seorang kafir Quraisy tewas. Perisitiwa itu terjadi di bulan haram; bulan Rajab. Sontak orang kafir Quraisy bangun opini, Rasulullah saw melakukan tindakan “radikalime” dan “terorisme” di bulan haram yg mereka muliakan.

Opini terbentuk, kaum muslimin galau, sebab mereka pun diajarkan Rasulullah saw utk menghormati bulan haram, di antaranya dilarang membunuh. Mereka bertanya2. Bagaimana ini?

Maka Allah turunkan wahyu yg menjelaskan bahwa perbuatan sahabat tsb memang sebuah pelanggaran dan dosa besar. Tapi kaum kafir Quraisy jangan merasa paling benar dan suci, justeru pelanggaran dan dosa mereka lebih besar, karena mereka mencegah orang dari jalan Allah dan bahkan mengusirnya, dan peristiwa pembunuhan tersebut tak lepas dari tindakan zalim mereka thd orang beriman. (perhatikan tafsir surat Al-Baqarah 217 dalam berbagai kitab tafsir rujukan)

=======

Pada tahun 17-18 H, masa kekhalifahan Umar bin Khatab radhiallahu anhu terjadi musim paceklik yg sangat parah. Dikenal sebagai Aam Ar-Ramadah atau Aam Al-Majaah. Di antara eksesnya, banyak rakyat kecil yang mencuri. Diriwayatkan bhw Umar bin Khatab saat itu tdk lantas menjatuhkan hukum kepada mereka mempertimbangkan latar belakang perbuatan tersebut.

=======

Pada masa pemerintahan Umar bin Abdulaziz, gubernur Khurasan; Al-Jarrah bin Abdullah, mengirim surat ke khalifah. Dia minta izin kepada khalifah untuk menggunakan kekuatan senjata untuk menghadapi penduduk Khurasan yang dia anggap susah diatur, karena dia menganggap bhw penduduk Khurasan hanya dapat diatur dengan kekuatan senjata.

Alih2 sang khalifah mensupport sang gubernur untuk menghadapi rakyatnya dengan kekuatan senjata, hal mana jika terjadi di masa sekarang mungkin mereka akan dituduh; Intoleran, radikal, teroris, khawarij, anjing neraka, dsb. Beliau justeru menegur sang gubernur dgn berkata,

“Saya sudah terima suratmu yang menyatakan bahwa penduduk Khurasan tidak dapat diatasi kecuali dengan cambuk dan pedang. Engkau dusta!! Mereka dapat diperbaiki dengan keadilan dan menegakkan kebenaran. Bentangkan hal itu di hadapan mereka!!” (Tarikhul Khulafa; As-Suyuthi)

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Zina itu utang

Zina Itu Utang?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya…Berkaitan dengan ini…

🍃🍀🍂

Zina Itu Hutang
Boleh jadi keluarga atau keturunanmu yang akan membayar dengan maksiat yang sama.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

بروا آباءكم تبركم أبناؤكم وعفوا تعف نساؤكم

“Berbaktilah kepada orang tuamu, niscaya anak-anakmu akan menjadi anak-anak yang berbakti. Hindari zina, sehingga niscaya istrimu tidak akan berzina.”
(HR. Thabarani).

🍃🍀🍂

Bagaimana caranya memutus azab yang timbul krna dosa zina ini kepada keturunan dan keluarganya? Pelaku sudah bertaubat. Apakah ada kafarat atau amalan yang harus dilakukan, supaya dosanya tidak berlanjut kepada keluarga dan keturunannya? Mohon penjelasan.

A/04

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Jawaban

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Pertama hadits tsb diperdebatkan para ulama. Ada yang menyatakan shahih ada yang menyatakan dhaif.

Kalaupun dinyatakan shahih, maka maksudnya adalah bahwa prilaku yang dilakukan seseorang, dapat ditiru oleh keluarganya. Jadi sifatnya adalah kemungkinan yang akan terjadi. Jadi sifatnya bukan sebagai hukuman yang harus ditanggung oleh keluarga, akan tetapi dapat menimbulkan pengaruh atau contoh buruk yang diikuti kuarganya. Itupun tidak mutlak terjadi sifatnya.

Adapun jika seseorang sudah bertaubat dan berusaha memperbaiki dirinya lalu dia mendidik keluarganya dengan baik serta berusaha menjauhkannya dari zina, maka itu sudah cukup, tidak perlu dihantui perasaan bahwa suatu kali nanti keluarganya akan menlmbayar dengan maksiat yang sama. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allah Maha Mengetahui

Sering Mendapat Bisikan Masa Depan

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, saya dari kecil sering mendengar bisikan yang terkadang membisikan tentang masa depan. Saya bahkan terkadang bisa “melihat” seperti gambaran masa depan. Saya sudah menjauhi hal-hal itu setelah tahu itu bukanlah hal baik dan bukan dari Allah SWT. Kadang hal itu masih menggoda saya dengan bisikan-bisikan kecil. Apa yang harus saya lakukan?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Peristiwa yang terjadi di masa depan merupakan perkara gaib. Tidak ada yang mengetahuinya selain Allah Taala. Firman Allah Taala:

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ (سورة النمل: 65)

“Katakanlah (Muhammad), tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah. Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.”

Bahkan Rasulullah saw tidak mengetahui secara terperinci apa yang akan terjadi kemudian, buktinya beliau pernah terluka dan mendapatkan perlakuan buruk. Seandainya beliau tahu apa yang akan terjadi, pastilah beliau akan menghindarinya. Sebagaimana firman Allah Taala yang mengabadikan ucapan beliau dalam Al-Quran:

قُل لَّا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ
السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (سورة الأعراف: 188)

Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”

Memang ada beberapa perkara yang beliau sampaikan terkait kejadian yang akan datang, seperti tentang tanda-tanda hari kiamat, atau peristiwa hari kiamat itu sendiri. Semua itu tak lain bersumber dari wahyu yang Allah sampaikan kepada para nabi sebagai bentuk pengecualian sekaligus sebagai mukjizat para Rasul untuk membuktikan kenabiannya. Firman Allah Taala,

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا . إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا (سورة الجن: 26-27)

“Dia Mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya.”

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan berakhirnya kenabian, berarti berakhir pula wahyu, tidak ada lagi orang yang menerima wahyu. Karenanya, jika ada seseorang merasa mendapatkan bisikan-bisikan yang menghampirinya atau membisikkan suatu peristiwa yang bakal terjadi, maka hal tersebut adalah satu di antara dua perkara; kondisi kejiwaan yang tidak stabil atau gangguan jin.

Tampaknya penanya sudah menyadari hal ini, dan ini adalah sikap yang bagus. Jangan sampai seseorang terpedaya dalam hal ini lalu dia mengaku memiliki kelebihan-kelebihan tertentu yang akhirnya menjadi alat untuk membangga-banggakan dirinya apalagi sampai digunakan melakukan berbagai penyimpangan syariat atau untuk meraih keuntungan duniawi.

Beberapa langkah dapat dilakukan untuk mengatasi hal ini;

Pertama: menghadirkan kekuatan diri dengan selalu berzikir kepada Allah dan berdoa dan memohon pelindungan kepadaNya. Khususnya perlindungan dari godaan dan bisikan setan. Zikir pagi dan petang sangat sarat dengan ayat-ayat dan doa yang dapat berikan kita perlindungan. Silakan dirutinkan bacaan tersebut setiap hari.

Kedua: minta bantuan orang lain untuk mengatasi apa yang dihadapi. Bisa dengan minta bantuan para peruqyah untuk membacakan ruqyah atas dirinya, kalau-kalau memang ada gangguan jin yang dihadapi. Bisa juga minta bantuan psikiater untuk konsultasi masalah-masalah kejiwaan, boleh jadi ada perkara-perkara kejiwaan yang patut diterapi.

Ketiga: sibukkan diri dengan agenda-agenda positif, sehingga datangnya bisikan-bisikan tersebut tidak terlalu mencuri perhatiannya karena dia sibuk dengan berbagai agenda yang sedang dia kerjakan. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Aku Cinta Rasulullah

Menista Para Penista Rasulullah SAW

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Diriwayatkan dalam sebuah hadits riwayat Muslim dari Aisyah ra, dia menuturkan bahwa Rasulullah saw meminta beberapa orang sahabat yang diketahui memiliki kemampuan sastra yang baik untuk membalas penghinaan kaum kafir kepada beliau dengan gubahan syair mereka yang dapat merendahkan para penghina tersebut.

Pertama dipanggillah Abdullah bin Rawahah, maka Rasulullah saw memintanya untuk menggubah syair-syari seperti itu. Namun Rasulullah kurang puas. Lalu dipanggilah Ka’ab bin Malik dengan perintah yang sama, tampaknya juga belum memuaskan. Maka akhirnya dipanggillah Hassan bin Tsabit. Rasulullah saw memotvias Hassan dengans sabdanya,

إنَّ رُوحَ القُدُسِ لا يَزالُ يُؤَيِّدُكَ، ما نافَحْتَ عَنِ اللهِ ورَسولِهِ،

“Sesungguhnya ruhul qudus (malaikat Jibril) senantiasa membelamu selama engkau membela Allah dan RasulNya”

Sesudah itu Hassan membuat syair yang meggambarkan kemuliaan Rasulullah saw dan merendahkan para penghinanya. (HR. Muslim)

Hadits di atas paling tidak memberika dua pelajaran bagi kita,

Pertama, tidak ada kehormatan bagi orang yang telah menghina Rasulullah saw, dia layak dikecam, layak diungkap namanya agar kaum muslimin mengetahui keburukannya.

Kedua, wujud dari keimanan kita kepada Rasulullah saw selain mengimani kerasulannya mentaatai segala ajarannya, juga adalah membela nama baiknya jika ada pihak-pihak yang menghinanya.

Rasulullah saw adalah pribadi yang agung, mulia karena dimuliakan Allah, tinggi karena ditinggikan Allah. Karenanya sebagai umatnya kita diperintahkan untuk mencintainya, mengagungkannya dan memuliakannya. Bahkan, walaupun tidak ada perintah khusus dalam Al-Quran atau hadits untuk memuliakan beliau, sudah semestinya kecintaan dan pemuliaan setiap muslim diberikan kepada Rasulullah saw.

Betapa tidak, beliau sangat mencintai kita sebagai umatnya, karena cintanya itu beliau berupaya sekuat tenaga untuk menyampaikan ajaran Allah taala agar umatnya memiliki jalan terang yang diridhai Allah untuk keselamatannya di dunia dan akhirat. Untuk hal tersebut beliau melewati berbagai peristiwa yang amat berat dan pedih. Semua itu tak lain untuk keselamatan kita di dunia dan akhirat. Bagaimana kita sebagai umatnya tidak mencintai dan memuliakan beliau?

Karenanya sudah sepantasnya jika kita sebagai kaum muslimin marah, mengingkari dan mengecam keras setiap ucapan maupun tindakan yang mengarah kepada pelecehan dan penghinaan terhadap kehormatan dan kemuliaan Rasululah saw.

Ini sesunguhnya merupakan konsekwensi logis, bahkan langsung berkaitan dengan tingkat keimanan kita. Mengapa? Karena tidak ada seorang pun yang waras yang diam saja apabila ada orang lain yang menghina orang yang sangat dia cintai, misalnya orang tuanya, gurunya atau siapa yang dia idolakan. Dia pasti akan menolaknya, mengecamnya dan mengingkarinya.

Jika demikian halnya, maka sikap tersebut lebih layak dilakukan kepada orang yang menghina Rasulullah saw. Karena keimanan kita mengajarkan kita untuk mencintai Rasulullah saw lebih dari cinta kita kepada orang tua dan anak kita dan semua orang.

Rasulullah saw bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Tidak sempurna iman kalian sebelum aku lebih dia cintai dibanding orang tuanya, anaknya dan semua manusia (HR. Bukhari)

Setiap tahun kita peringati hari maulid beliau dengan penuh pengkhayatan dan pengagungan dan kita nyatakan bahwa hal tersebut kita lakukan sebagai bukti cinta kita kepada beliau. Maka tentu sebagai bukti cinta kita, kita tidak boleh tinggal diam terhadap penghinaan kepada Rasulullah saw.

Di sisi lain, kejadian ini hendaknya mengingatkan kita untuk mempertegas kembali dan memperkuat kembali kecintaan kepada Rasulullah saw. Kita kenali sirahnya, kita pelajari sabda-sabdanya dan kita ikuti jalan dan petunjuknya.

Semakin umat Islam perlihatkan kecintaannnya kepada Rasulullah saw, insyaAllah akan membuat berbagai pihak berpikir seribu kali untuk melakukan penghinaan kepada Rasulullah saw.

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Nasehat Kepada Pimpinan, Antara Ibnu Dzil Khuwaishirah dan Habab bin Munzir

© Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam shahihnya, setelah selesai suatu peperangan, seperti biasa beliau membagi-bagikan ghanimah (rampasan perang). Tiba-tiba ada seseorang dengan ketus berucap, “Adillah wahai Rasulullah!” Maka dengan tegas Rasulullah saw menjawab,
وَيْلَكَ ! وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ ؟! قَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ
“Celaka engkau, siapa yang adil jika aku tidak adil?! Sungguh engkau akan kecewa dan rugi jika aku tidak adil.”
▪Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa orang tersebut bernama Ibnu Dzil Khuwaishirah At-Tamimi.
® Di bagian lain, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hisyam dalam sirahnya, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menentukan sebuah tempat dekat mata air di daerah Badar sebagai markas pasukan kaum muslimin saat bersiap-siap menghadapi pasukan kafir Quraisy dalam perang Badar. Ada seorang Sahabat yang bernama Habab bin Munzir mendekati beliau seraya bertanya,
“Wahai Rasulullah, apakah tempat ini merupakan ketetapan yang telah Allah tetapkan untukmu, tidak dapat dimajukan atau dimundurkan, ataukah ini termasuk bagian yang masih boleh berpendapat dan strategi perang?”
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Ini termasuk bagian yang boleh berpendapat dan strategi perang.”
▪Maka Habab bin Munzir mengusulkan agar pasukan Rasulullah bermarkas di mata air yang lebih dekat dengan musuh, lalu mata air yang ada ditimbun agar musuh tidak mendapatkan air sedangkan mereka mendapatkan air. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun menerima keputusan tersebut dan memerintahkan pasukan kaum muslimin untuk berpindah ke tempat yang diusulkan oleh Habab.
© Dari dua riwayat di atas kita dapat tarik kesimpulan bahwa bukan masalah memberikan masukan bahkan kritikan sekalipun kepada pimpinan.  namun dia harus memenuhi adab yang baik, memiliki argument yang jelas serta tetap memberikan cinta dan loyalitas kepada pimpinan. Adapun nasehat atau kritik yang bersifat serampangan, mengabaikan berbagai alasan dan latar belakang dari sebuah keputusan serta dilandasi sikap benci dan bertujuan menggoyahkan loyalitas kepada pimpinan, maka dia lebih dekat disebut sebagai hujatan ketimbang nasehat atau kritik.
▪Dari sinilah kita dapat melihat perbedaan sikap Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terhadap apa yang dilakukan oleh Ibnu Dzil Khuwaishirah dan Habab bin Munzir dalam riwayat di atas.
Wallahua’lam.

Teladan Dalam Tawadhu Dan Memuliakan Ulama

© Imam Asy-Sya’bi berkata, “Suatu saat Zaid bin Tsabit radhiallahu anhu (sahabat senior, ulama dan penghafal Al-Quran) melakukan shalat jenazah. Setelah selesai, dibawakan kepadanya keledai untuk dia kendarai. Maka datanglah Ibnu Abas untuk memegang tempat pijakan kakinya.

Zaid berkata, “Biarkanlah wahai anak paman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.”

Ibnu Abbas berkata,

هكذا نفعل بالعلماء
“Demikianlah (yang seharusnya) kami lakukan terhadap ulama.”

Maka Zaid bin Tsabit segera mencium tangan Ibnu Abas seraya berkata,

هكذا أمرنا أن نفعل بأهل بيت نبينا
“Demikianlah kami diperintahkan untuk bersikap terhadap ahlul bait (keluarga) Nabi kami.”

(Tarikh Dimasyq, Ibnu Asakir, 19/326)

® Muhamad bin Abi Bisyr mendatangi Imam Ahmad untuk bertanya suatu masalah. Maka beliau berkata,

“Datanglah kepada Abu Ubaid, yaitu Al-Qasim bin Sallam, karena dia memiliki penjelasan yang tidak dapat kamu dengarkan dari selain dia.”

Maka dia mendatanginya dan ternyata mendapatkan jawaban yang jelas dari beliau. Lalu dia memberitahu bahwa Imam Ahmad yang menyuruhnya bertanya kepadanya seraya memujinya. Maka dia (Abu Ubaid) berkata,

“Beliau merupakan pembela Allah. Allah perlihatkan kebaikannya di tengah masyarakat, walapun dia menyembunyikannya, lalu Allah jadikan simpanan untuknya meraih kemuliaan. Tidakkah engkau lihat beliau menjadi orang yang dicintai masyarkat? Kedua mata saya belum pernah melihat seseorang di Irak yang berkumpul sifat-sifat yang ada padanya; Santun, berilmu dan paham.”

(Siyar A’lam Nubala, 11/201)

© Saat putera Imam Ahmad wafat, Ibrahim Al-Harbi, seorang ulama besar mendatangi bertakziah dan menemui Abdullah bin Ahmad bin Hambal, putera Imam Ahmad ini juga merupakan ulama besar. Saat melihat kedatangan Ibrahim Al-Harbi, Abdullah bin Ahmad segera berdiri menyambutnya.

Maka berkatalah Ibrahim Al-Harbi, “Kamu berdiri untukku?”

Abdullah bin Ahmad berkata,

والله لو رآك أبي لقام إليك

“Demi Allah, seandainya bapakku melihatmu, diapun akan bediri untuk menyambutmu.”

Lalu Ibrahim Al-Harbi berkata,

والله لو رأى ابن عيينة أباك لقام إليه

“Wallahi, seandainya Ibnu Uyaynah melihat bapakmu, niscaya diapun akan berdiri untuk menyambutnya.”

▪Ibnu Uyaynah adalah ulama besar yang hidup sebelum masa Imam Ahmad.

(Manaqib Imam Ahmad, hal. 202)

® Imam Bukhari berkisah,

“Saat aku ke negeri Bashrah (irak), lalu dia menghadiri majelis seorang ulama di sana yang bernama Bundaar. Saat melihatnya, ulama tersebut bertanya (dia belum mengenali wajah Imam Bukhari), “Saudara dari mana?” Beliau menjawab, “Dari Bukhara.” (Bukhara adalah negeri tempat Imam Bukhari tinggal yang dari situlah namanya lebih dikenal). Maka sang ulama tadi berkata, “Mengapa engkau tidak datangi majelis Abu Abdillah (kunyah Imam Bukhari).”

Imam Bukhari diam saja. Lalu orang-orang di situ yang mengenali Imam Bukhari berkata, “Beliaulah Abu Abdillah.” Maka sang ulama tadi berkata, “Selamat datang wahai orang yang selama ini bertahun-tahun aku kagumi.” Sambil beliau mengambil tangannya lalu memeluknya.

(Tarikh Baghdad, 2/17)

Wallahu A’lam

Pesan Pagi, As’adallahu shobaahakum….

سُئِلَ أَبُو هُرَيْرَةَ عَنِ التَّقْوَى، فَقَالَ: هَلْ أَخَذْتَ طَرِيقًا ذَا شَوْكٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَكَيْفَ صَنَعْتَ؟ قَالَ: إِذَا رَأَيْتُ الشَّوْكَ عَدَلْتُ عَنْهُ، أَوْ جَاوَزْتُهُ، أَوْ قَصَّرْتُ عَنْهُ، قَالَ: ذَاكَ التَّقْوَى.

Abu Hurairah pernah ditanya tentang taqwa. Maka dia balik bertanya, ‘Pernahkan engkau melewati jalan berduri?’ Orang itu menjawab, ‘Ya’ Beliau bertanya, ‘Apa yang kamu lakukan?’ dia menjawab, ‘Jika aku lihat duri, aku akan
menyingkir, atau melangkahinya atau aku mundur.’ Beliau berkata, ‘Itulah takwa.”

® Berdasarkan riwayat ini, Ibnu Mu’taz menggibah sebuah syair,

خَلِّ الذُّنُوبَ صَغِيرَهَا ..وَكَبِيرَهَا فَهُوَ التُّقَى

وَاصْنَعْ كَمَاشٍ فَوْقَ أَرْ ..ضِ الشَّوْكِ يَحْذَرُ مَا يَرَى

لَا تَحْقِرَنَّ صَغِيرَةً … إِنَّ الْجِبَالَ مِنَ الْحَصَى

▪Tinggalkan dosa, kecil maupu besar, itulah takwa

▪Bersikaplah seperti orang yang berjalan di atas tanah berduri, dia berhati-hati dengan apa yang dia lihat.

▪Jangan remehkan dosa kecil, sesungguhnya gunung dari kumpulan kerikil.

وَقَالَ الشَّافِعِيُّ: أَعَزُّ الْأَشْيَاءِ ثَلَاثَةٌ: الْجُودُ مِنْ قِلَّةٍ، وَالْوَرَعُ فِي خَلْوَةٍ، وَكَلِمَةُ الْحَقِّ عِنْدَ مَنْ يُرْجَى أَوْ يُخَافُ

Imam Syafii berkata, “Tiga perkara yang sangat mulia;
▪Dermawan saat kekurangan,

▪ Wara (sangat berhati-hati dari perbuatan dosa) saat sendirian

▪Menyampaikan kebenaran, baik kepada orang yang ditakuti atau diharapkan..”

إِذَا مَا خَلَوْتَ الدَّهْرَ يَوْمًا فَلَا تَقُلْ … خَلَوْتُ وَلَكِنْ قُلْ عَلَيَّ رَقِيبُ

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ يَغْفُلُ سَاعَةً … وَلَا أَنَّ مَا يَخْفَى عَلَيْهِ يَغِيبُ

▪Jika suatu saat engkau seorang diri, jangan katakan, aku seorang diri, tapi katakan, diriku selalu diamati.

▪Jangan dikira Allah lalai walau sesaat, juga jangan mengira bahwa apa yang tersembunyi, bagi-Nya tak terlihat

Wallahu A’lam

Iklan dan Kenyataan Barang Beda


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah…Iklan yang berlebihan ini sangat banyak terjadi, yang ditampilkan hanya yang baiknya saja.
Jadi bagaimana, apakah kita haram membelinya?
bgmn kita bijak menyikapi iklan yg bombastis ataupun bgmn kita sbg pembeli hrs bijak membedakan antara kebutuhan/demand dg keinginan/needs.
Syukron. Manis 05

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Soal iklan, jika produsen mengiklankannya tdk sesuai dg kenyataan, maka haram baginya. Adapun pembelinya tdk berlaku halal haram thd sebuah barang terkait dgn iklannya.. kalaupun dipermasalahkan halal haramnya, mungkin terkait dg kandungan barang tsb atau dg proses transaksinya… apakah boleh atau tidak.

Wallahu a’lam.

Baca Surat Yasin ato Al Kahfi u Amalan Hari Jum'at??


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah…. Mau bertanya, tentang amalan amalan utama yang dilakukan di hari jumat. Adakah hadist shohih untuk membaca surat yasin, atau surat al kahfi. Dan bagaimana hukumnya yasinan. Syukran.
Manis 05

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

من قرأ سورة الكهف ليلة الجمعة أضاء له من النور فيما بينه وبين البيت العتيق

Terkait surat yg sunah dibaca pada hari Jumat, riwayat yg shahih adalah sunah membaca surat Al-Kahfi.

Adapun surat Yasin, tdk didapatkan secara khusus hadits yang menyebutkan disunahkannya membaca surat Yasin pada hari Jumat. Namun ini masalah ringan. Kalau kita sdh paham, sebaiknya bacalah surat Al-Kahfi. Bagi mereka yg masih terbiasa baca surat Yasin, silakan disampaikan baik2 bahwa sunahnya adalah membaca surat Al-Kahfi. Namun jk dia masih juga membaca surat Yasin, jangan terlalu diingkari apalagi dimusuhi….

Wallahu a’lam.

Hidup Ini Indah Jika Kita Pandai Mensikapinya


© Manusia akhirnya kan kesal jika sering diminta….

▪Allah justeru marah jika hambanya jarang meminta….

© Manusia sering marah jika ada orang lain datang minta maaf dan mengakui kesalahan

▪Allah justeru gembira jika ada hamba-Nya akui kesalahan dan mohon ampunan

© Manusia kan lupakan segala kebaikan kita karena akhir sikap kita yang buruk…

▪Allah akan lupakan segala keburukan kita karena akhir sikap kita yang memohon ampunan.

© Bersandar kepada manusia melahirkan keluh kesah

▪Bersandar kepada Allah, lahirkan ibadah…..

© Berharaplah kepada manusia seperlunya,

▪Berharaplah kepada Allah sebesar-besarnya….

——————-
Mama papa minum madu…
Jangan lupa cari ilmu… 🙂

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA