Shobaahul khair….Senyumlah


© Senyum itu sederhana, yang tak sederhana adalah menata hatinya…

▪Senyum itu mudah, yang tak mudah adalah merapihkan jiwanya…

© Senyum itu ringan, yang tak ringan adalah dampak positifnya…

▪Senyumlah kawan, hidup ini terlalu singkat untuk dilalui dengan banyak keluh kesah…apa yang kita dapati, jauh lebih banyak dibanding apa yang tak dapat kita raih….

© Bagaimana kau berharap dunia di sekelilingmu cerah merekah sementara dirimu sering bermuram durja….?!

😄

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Jangan Kalah, Teruslah Berjuang

© Dahulu muslimah yang memakai jilbab di negeri kita sering dilecehkan dan dipojokkan, kini wanita yang berjilbab ada dimana-mana.

▪Kini, laki-laki yang berjenggot karena ingin ikut sunah sering dilecehkan dan dipojokkan, insya Allah, nanti, laki-laki berjenggot untuk laksanakan sunah, ada dimana-mana….

® Dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tinggalkan kota Mekkah karena permusuhan kafir Quraisy Mekkah. Sekian tahun kemudian, beliau dan para sahabatnya tundukkan kota Mekkah dan para musuhnya misuh-misuh minta pengampunan….

© Dahulu bangsa Tatar menyerbu negeri-negeri Islam dan membantai kaum muslimin dan nyaris membumihanguskan peradaban Islam. Sekian ratus kemudian, anak cucunya masuk Islam, bahkan ada yang jadi mujahid terdepan…..

▪Dahulu imperialis barat jajah negeri-negeri muslim sembari sebarkan ajaran Kristen. Kini, Islam menjadi agama yang paling cepat pertumbuhannya di barat. Prediksinya sekian puluh tahun kemudian Islam akan menjadi agama mayoritas.

® Jangan pernah lemah dan hilang kendali oleh keras dan degilnya orang-orang yang memusuhi Islam dan syariatnya. Teruslah berdakwah dan berjuang di jalan Allah, dengan tenang dan Spartan serta kokoh di atasnya. Allah punya cara tersendiri untuk memenangkan agama-Nya dan menghinakan para penghina syariat-Nya.

© Orang Islam boleh jadi dikalahkan, kaum Muslimin boleh jadi dilecehkan, ajaran Islam boleh jadi menjadi guyonan, para dai boleh jadi dipojokkan, bahkan Nabi sekalipun ada yang jadi korban pembunuhan. Tapi yang tidak boleh terjadi, kita yang mengaku muslim, berhenti berdakwah dan berjuang serta amalkan syariat Islam….

▪Allahumma afrig alaina shabran wa tsabbit aqdaamana…..

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh:
http://www.manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram
🖥 Fans Page
📮 Twitter
📸 Instagram
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Kedudukan Bulan Muharram


© Bulan Muharram adalah bulan yang dalam syariat Islam dimasukkan dalam bulan-bulan yang dimuliakan (Al-Asyhurul Hurum)

Firman Allah Ta’ala:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu….” (QS. At-Taubah: 36)

▪ Rasulullah saw sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Bakrah ra, bersabda:

إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ، السَّنَّةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ: ثَلاَثٌ مُتَوَالِيَاتٌ؛ ذُو الْقَعْدَةِ، وَذُوْ الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ – متفق عليه

“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan, di antaranya termasuk empat bulan yang dihormati: Tiga bulan berturut-turut; Dzul Qoidah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab Mudhar yang terdapat antara bulan Jumadal Tsaniah dan Sya’ban.” (Muttafaq ‘alaih)

® Pada keempat bulan ini Allah menekankan agar kita kaum muslimin jangan melakukan perbuatan aniaya (az-zulm), sebagaimana firman-Nya:

فلا تظلموا فيهن أنفسكم

“Jangan kalian aniaya diri kalian.”

© Ada dua penafsiran az-zulm (الظلم) dalam ayat di atas.

▪Pertama, berperang.

Maksudnya tidak boleh berperang pada bulan-bulan yang diharamkan tersebut. Namun ketentuan ini sebagaimana dikuatkan oleh Al-Qurtubi dalam tafsirnya telah mansukh (dihapus)

▪ Kedua, berbuat maksiat dan dosa.

Namun hal ini bukan berarti bahwa bermaksiat dibolehkan pada bulan lainnya. Karena kemaksiatan, apapun bentuknya adalah dilarang, kapan pun dan dimana pun tanpa terkecuali.

® Ibnu Jarir at-Thabari dalam tafsirnya mengatakan bahwa dikhususkannya larangan bermaksiat pada bulan-bulan ini menunjukkan kemuliaan dan keagungan bulan ini di banding bulan-bulan lainnya, dimana kemaksiatan di dalamnya mendapat penekanan untuk dijauhi oleh setiap muslim. Hal tersebut mirip dengan perintah Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 238, Allah Ta’ala berfirman:

حَٰفِظُوا۟ عَلَى ٱلصَّلَوَٰتِ وَٱلصَّلَوٰةِ ٱلْوُسْطَىٰ 

“Peliharalah segala shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustha.” (QS. Al-Baqarah: 238)

▪ Menjaga seluruh shalat jelas diperin-tahkan, namun menjaga shalat Wustha yang menurut sebagian ulama adalah shalat Ashar, mendapat tekanan khusus untuk kita jaga.

© Kedudukan bulan Muharram juga dapat dilihat dari nama bulan itu sendiri dan julukan yang diberikan kepadanya.

® Nama Muharram merupakan sighat maf’ul dari kata Harrama-Yuharrimu, yang artinya diharamkan. Maka kembali kepada permasalahan yang telah dibahas sebelumnya, hal tersebut bermakna bahwa pengharaman perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah Ta’ala memiliki tekanan khusus yang sangat kuat pada bulan ini.

▪ Kemudian dari sisi istilah, bulan ini disebut sebagai “Bulan Allah” (شهر الله), sebagaimana terdapat suatu riwayat hadits. Berarti bulan ini disandingkan kepada Lafzul Jalalah (Lafaz ‘Allah’). Para ulama menyatakan bahwa penyandingan makhluk kepada Lafzul Jalalah, memiliki makna tasyrif (pemu-liaan), sebagaiman istilah Baitullah, Rasulullah, Abdullah, dan sebagainya.

Jangan Terlambat

▪Jangan terlambat, adalah salah satu kunci kesuksesan hidup kita. Sebab kehidupan ini selalu bergulir dan mengalir seiring bergulir dan mengalirnya waktu yang tidak pernah menunggu. Maka keterlambatan akan mengakibatkan berbagai problem kehidupan yang bertumpuk-tumpuk.

®Banyak fenomena keterlambatan yang sering mendera kehidupan kita. Terlambat menunaikan kewajiban hingga menumpuk satu demi satu. Terlambat membangun kematangan pribadi, baik dalam urusan agama maupun dunia. Terlambat menangkap sinyal keinginan atau kekecewaan pihak lain, apakah suami atau isteri, orang tua atau anak-anak, tetangga atau teman sejawat dan lain-lain.

▪Terlambat memperkirakan berbagai tantangan yang ada di depan, mencari solusi sebelum permasalahan tak dapat teratasi, mengurai problem satu persatu sebelum liar tak menentu. Lambat pula menumbuhkan kesadaran untuk melakukan antisipasi atau merespon berbagai tuntutan yang menghampiri.

▪Maka, dampaknya adalah kekecewaan, kegagalan, penolakan, sikap tidak terkendali, dan tidak jarang berujung pada jatuhnya harga diri.

© Jadi, terlambat bisa jadi merupakan kata kunci dari serangkaian problem yang kita hadapi. Bukan karena kemampuan atau kepandaian tidak dimiliki, bukan pula karena minimnya fasitilitas yang ada pada diri sendiri, bukan pula karena tiadanya kecerdasan dan berbagai teori.

▪Ibarat seorang pengendara, manakala sejak awal dia sudah dapat mengantisipai berbagai kejadian di depan, lalu mengambil ancang-ancang dalam jarak yang masih luang, maka pada saatnya dia dapat menghindar dengan aman. Lain halnya kalau ancang-ancang tersebut baru diambil beberapa meter saja sebelum menghindar, akibatnya akan fatal. Walaupun mobilnya mewah dengan berbagai fasilitas tersedia, jalan mulus dan lurus serta fisik yang prima.

® Akan tetapi, selama kita masih diberi kesempatan hidup di dunia ini, peluang untuk memperbaiki segala keterlambatan yang pernah kita lalui masih terbuka, selagi kita masih mau memperbaiki, jujur terhadap kekurangan diri, dan optimis dengan masa depan yang lebih berarti. Maka, kalau kita pernah merasa terlambat dalam kehidupan ini, hendaknya jangan lagi terlambat untuk kedua kali. Tidak ada kata terlambat selagi masih ada kesempatan memperbaiki.

▪ Keterlambatan yang sesungguhnya sekaligus mengerikan adalah jika dia baru disadari ketika tidak ada lagi kesempatan untuk kembali….

حَتَّى إِذا جاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قالَ رَبِّ ارْجِعُونِ . لَعَلِّي أَعْمَلُ صالِحاً فِيما تَرَكْتُ كَلاَّ إِنَّها كَلِمَةٌ هُوَ قائِلُها وَمِنْ وَرائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, kembalikan aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja.” (QS. Al-Mu’minun: 99-100)

Suara Hati Untuk Para Pejabat Dan Wakil Rakyat…​

Kini sudah kau duduki kursi jabatan itu.
Dia adalah ​amanah dan beban​, bukan ukuran kemuliaan.

Motivasi apa yang mendorongmu menduduki jabatan, akan sangat berpengaruh pada sepak terjangmu kedepan.
Rapikan niat dan tujuan.

Di penghujung malam, bangunlah, bermunajat kepada Tuhanmu, mohon kekuatan dan bimbingan, begitulah Rasulullah saw diajarkan saat menerima beban.

Di siang hari, bangunlah, berilah layanan terbaik kepada masyarakat yang dapat kau lakukan.

Hormati mereka dengan pelayananmu, jangan minta dihormati untuk beri pelayanan.

Sadarilah, kursi yang kau duduki itu, terletak di atas rintihan doa, pengorbanan waktu, tenaga dan harta para pendukugmu.
Jangan ada kesombongan..

Kuatkan jiwamu, kokohkan fisikmu.
Ini dunia orang-orang kuat, bukan dunia orang-orang lemah.
Dunia orang-orang tegar, bukan dunia orang-orang cengeng..

Di tengah masyarakat kau seharusnya orang paling pertama bangun dan paling terakhir tidur, paling awal bersedih dan paling akhir bergembira.

Matamu harus lebih tajam dari pandangan elang agar dapat melihat seluk beluk persoalan walau dari kejauhan..

Telingamu harus lebih peka dari radar dan lebih alot dari baja, agar dapat sensitive dan sabar mendengar aneka ragam keluhan dan rintihan.

Jawablah segala nasehat dan kritik dengan kinerja memuaskan, bukan melontarkan tuduhan dan menebar ancaman.

Kenalilah baik-baik, mana senyum tulus persaudaraan, dan mana senyum akal bulus penuh maksud dan pengelabuan.

Yang tampak akrab denganmu, jangan semua kau kira baik kepadamu, yang tampak keras kepadamu, jangan semua kau kira membencimu..

Jangan terpedaya oleh sanjungan yang menjatuhkan, jangan lemah oleh kritik obyektif yang memberi solusi dan kemajuan…

Akhirnya, ingatlah sabda Nabi,
​”Siapa saja yang telah Allah beri jabatan publik, lalu dia mati dalam keadaan menipu rakyatnya, surga haram baginya..”​

(HR. Muslim)

Aqiqah dulu ato Qurban dulu

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Afwan mau nanya kalau udah dewasa belum aqiqah lebih baik qurban dulu apa aqiqah dulu? Mohon penjelasannya. #  I.15

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Sering ditanyakan, kalau blm aqiqah, apa boleh berkurban? Pd dasarnya boleh saja, krn bukan syarat sahnya berkurban harus sudah aqiqah.

Disamping, baik aqiqah maupun berkurban, para ulama menguatkan hukum keduanya sebagai sunah. Bukan perkara wajib.

Akan tetapi jika masalahnya lebih baik aqiqah dahulu atau qurban dahulu, tdk ada dalil detail dlm masalah ini, akan tetapi dapat disimpulkan.

Dpt dilihat masanya. Jika kelahiran jauh dari hari qurban, sebaiknya aqiqah dahulu. Tapi jika sdh datang hari qurban, maka qurban dahulu

Bagaimana jika sudah besar belum diaqiqahkan, sedang dia mau qurban, qurban dulu apa aqiqah dulu? Saran saya qurban saja dahulu….

Adapun aqiqah, dpt dia lakukan di lain waktu. Disamping inipun diperdebatkan para ulama, apakah disyariatkan baginya aqiqah atau tidak?

Bagaimana dgn menggabungkan antara kurban dgn aqiqah dlm satu niat? Ulama berbeda pendapat antara yang memboleh dan melarang.

Lebih hati2 dan keluar dari khilaf sebaiknya tidak digabungkan, karena kurban dan aqiqah walau ada kesamaan di sebagian, tapi masing2 berdiri sendiri

Wallahu a’lam.

Hentakkan Jiwamu..!!​

Oleh: Abdullah Haidir, Lc

Kadang, ada saatnya dalam hidup ini, kita tidak lagi membutuhkan cara-cara gradual untuk meraih kebaikan, atau menghindar dari keburukan.

Karena, perbedaan yang tipis antara menempuh cara gradual untuk melakukan perbaikan, dengan tabaathu’ (keengganan), takaasul (kemalasan) dan taswiif (menunda-nunda), sering menjadi celah bagi setan untuk menghalangi seseorang dari langkah-langkah kebaikan dengan alasan bertahap dalam melakukannya.

Ya, ada saatnya kita membutuhkan hentakan jiwa untuk keluar dari perangkap setan yang menghalangi kita untuk mengambil langkah tegas, cepat dan tepat dalam melakukan kebaikan.

Karena, sedikit saja kita tunda langkah tersebut dengan berbagai alibi, disanalah setan masuk, mengulur-ngulur waktu lebih lama sambil memberi janji-janji manis penuh pesona, lalu menggiring pada kemunkaran yang nyata.

Ketika azan telah berkumandang, sementara kita masih tertidur lelap serasa malam masih panjang, atau tenggelam dalam kesibukan kerja bak pejuang, saat itu kita perlu hentakan untuk menggerakkan jiwa menyambut panggilan Tuhan, menghadap-Nya dengan jiwa yang tenang.

Ketika jadwal pengajian sudah tiba gilirannya, sementara kita sedang asyik bercengkrama dengan keluarga, bercanda dengan kolega, menyalurkan hobi yang disuka, menghadiri undangan tetangga, atau asyik berselancar di dunia maya, saat itu kita perlu hentakan untuk menggerakan hati, memenuhi agenda jiwa, menunaikan janji membina diri menuju takwa.

Ketika batang demi batang rokok tidak juga dapat kita tinggalkan, janji untuk menghentikannya sudah berkali-kali dinyatakan, berbagai terapi sudah dipraktekkan, saat itu kita butuh hentakan jiwa, tinggalkan total hingga tak tersisa dan hapuskan rokok dari ingatan saat itu juga.

Ketika bayang-bayang ‘si Dia’ begitu menggoda, senyumannya selalu terbayang di pelupuk mata, ucapannya indah terdengar bagaikan kata-kata mutiara, bayang-bayangnya selalu hadir saat bekerja, beribadah dan dimana saja, berpindah-pindah antara satu ‘zina’ ke ‘zina’ berikutnya…..

Saat itu, perlu hentakan jiwa. Hapuskan ‘file’ tentang ‘si Dia’ dalam pikiran dan perangkat lainnya, atau…. segera menikah, agar ekspresi cinta tersalurkan dengan halal dan penuh mesra.

Dahulu, kala perang Mu’tah yang sangat heroik, ketika satu demi satu panglima perang kaum muslimin gugur, timbul sedikit kegentaran pada diri *Abdullah bin Rawahah*, sahabat mulia yang dikenal ahli sastra. Namun dia tidak ingin terpenjara oleh jebakan setan durjana. Segera dia hentakan jiwanya untuk turun ke arena, seraya bersenandung penuh makna…

أقسمت يا نفس لتنــــــــــزلن لتنزلن أو لتــــــــــــكرهنه
إن أجلب الناس وشدوا الرنة ما لي أراك تكـرهين الجنة

_Aqsamtu billahi ya nafsu latanzilinna……._
_Latanzilinna aw latukrahinnah…._
_In ajlabannasu wa syaddu rannah_
_Maalii araaki takrahiinal jannah…_

_Aku bersumpah! wahai jiwa, engkau harus turun perang._
_Engkau harus turun, atau kalau tidak, engkau akan dipaksa._
_Orang-orang sudah turun, suara telah bersahutan…_
_Mengapa ku lihat engkau tidak menyukai surga…?_

Tak lama kemudian, *Abdullah bin Rawahah* sudah termasuk barisan syuhada…..

Di sisi lain, Saat perang Tabuk, *Ka’ab bin Malik* tak segera menghentakkan jiwanya utk menyambut seruan Rasulullah saw untuk andil dalam perang tersebut, beliau justeru membiarkan dirinya diombang ambing bisikan setan dengan godaan-godaan duniawi.

Akhirnya diapun tertinggal pasukan perang Tabuk dan kemudian mendapatkan hukuman Rasulullah saw hingga akhirnya Allah menerima taubat sang sahabat yang mulia ini……

*Ramadan* adalah kesempatan emas untuk melakukan berbagai hentakan jiwa menuju takwa, meraih pahala, menanggalkan dosa, berharap mendapatkan kucuran rahmat, ampunan dan surga……

_Kalau tidak sekarang, kapan lagi?_

Wallahu a’lam

Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan Nughair?”

Oleh: Abdullah Haidir, Lc

Anas bin Malik radhiallahu anhu berkata:

_’Dahulu Rasulullah saw suka bercengkrama dengan kami, bahkan terhadap adik saya yang masih kecil dia bekata,_

يَا أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ

_”Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan nughair?” (Muttafaq alaih)_

Abu Umair adalah kuniyah (nama panggilan) seorang bocah kecil.
Dia memiliki burung kecil kesayangan sejenis burung pipit. Dalam bahasa Arab dipanggil Nughar. Agar sepadan dengan kata “Umair”, maka kata ‘nughar’ beliau sebut dengan kata “nughair” yang dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah _tashgir._

Ungkapan yang menunjukkan keakraban terhadap anak-anak sesuai dengan jiwa mereka.

Jika hal ini diungkapkan oleh orang yang baru berusia belasan tahun, mungkin masih mudah dipahami. Tapi perkataan tersebut diungkapkan Rasulullah saw yang ketika itu ditaksir berusia lima puluh tahun ke atas.

Hal ini menunjukkan akhlak mulia Rasulullah saw yang konstan dan utuh, tidak berubah atau terbelah. Keramahan, keakraban, perhatian, kejujuran dan semua perangai baiknya, terbagi rata dalam setiap keadaan dan untuk semua lapisan.

Suatu hal yang semakin melengkapi keutamaan pribadi Rasulullah saw.

Sebuah sikap yang sepatutnya mengingatkan kita untuk sedapat mungkin menjaga agar perangai dan akhlak kita tetap konstan, siapapun yang ada di hadapan.

Jangan sampai seseorang tampak begitu santun di hadapan atasan namun ketus memperlakukan bawahan.
Unggah ungguh terhadap orang kaya tapi jumawa kepada mereka yang tak berpunya.

Sopan terhadap tetangga elit, namun lancang terhadap tetangga ekonomi sulit.
Dapat akrab dan bercanda dengan orang dewasa, tapi dingin tanpa ekspresi terhadap anak-anak.
Senyumnya yang tersungging di depan kamera berganti dengan mulut yang selalu ditekuk dalam kehidupan nyata.

Akhlak seharusnya menyatu menjadi jati diri kapan dan dimanapun, apa adanya, spontan, tidak dibuat-buat, tidak direkayasa, apalagi sekedar menampilkan citra.

Ketika akhlak kita masih sangat tergantung dengan kedudukan orang yang kita hadapi, disini kita perlu berhenti sejenak, menangkap kekurangan, lalu memperbaiki keadaan.

Suatu saat Rasulullah SAW merasa kehilangan seorang wanita hitam yang biasa beliau lihat menyapu masjid. Lalu beliau bertanya kepada para shahabat. Mereka berkata, ‘Dia meninggal dunia.’ Seakan-akan mereka meremehkan nya.

Rasulullah berkata, _’Mengapa kalian tidak memberitahu aku.’ Lalu Rasulullah saw minta ditunjukkan kuburnya, kemudian beliau shalat (jenazah) di atasnya.” (Muttafaq alaih)_

Begitulah Rasulullah saw memperlakukan seseorang. Sekali lagi, apa adanya, mengalir begitu saja dan tidak dibuat-buat.
Namun disitulah kemuliaan akhlak beliau tampak berkilauan, menjadi teladan abadi dalam kehidupan.

_Asytaaqu ilaika yaa Rasuulallah…_

Aku rindu padamu wahai Rasulullah….

Wallahu A’lam

Arisan

Oleh: Abdullah Haidir, Lc

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Tolong tanyakan ke para asatidz tentang hukum arisan?
Syukran jazakallah…

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Hukum arisan pada dasarnya boleh, yang penting masing2 komitmen utk memenuhi kewajibannya, sebab arisan pada dasarnya adalah hutang piutang.

Melakukan undian untuk menetapkan siapa yg mendapatkannya juga boleh. Undian yg diharamkan adalah apabila ada unsur judinya, ada salah satu pihak yg dirugikan, yg lain mendapatkan keuntungan besar. Ini hanya utk mengatur saja, siapa yg dapat lebih dahulu siapa yang belakangan.

Dahulu Rasulullah saw apabila menentukan siapakah isterinya yg ikut dalam suatu safar bersamanya, ditentukan berdasarkan undian.

Wallahu a’lam.

Marah, Kecewa Dan Persahabatan Kita

As’adallahu shobaahakum_

Semoga Allah bahagiakan Anda di pagi ini.

Jangan tersandera oleh kekecewaan. Jadikan dia motivasi lakukan perbaikan…

Kekecewaan ibarat tikungan tajam bagi seorang pembalap. Di sana dia dapat terjungkal, atau justru menyalip lawan.
Tergantung penyikapan…

Kekecewaan akan selalu menyapa. Sebagai isyarat, walau kita harus ikhtiar sekuat tenaga, tapi jangan menuntut segalanya harus sempurna…

Kecewa sering lahir dari espektasi dan pemujaan berlebihan.
Selalulah bersikap wajar,
tapi jangan liberal.

Kecewa tak mungkin kita hindari. Tapi kita dapat hindari sikap dan ucapan tak terkendali.

Saat kita kecewa, banyak juga orang lain yang kecewa. Hanya saja, ada yang menatanya dengan tenang, ada yang melampiaskannya dengan berang.

Yang menyedihkan adalah kekecewaan berlebihan untuk hal-hal yang dia tidak tahu persis latar belakang masalahnya dan tidak terlibat langsung di dalamnya.

Sebagaimana kecewa, kemarahanpun sering menerpa. Jika memang harus terjadi, jangan mudah melampiaskannya.

Ingat pesan nabi,

*مَنْ كَظَمَ غَيظاً، وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أنْ يُنْفِذَهُ، دَعَاهُ اللهُ سُبحَانَهُ وَتَعَالى عَلَى رُؤُوسِ الخَلائِقِ يَومَ القِيامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنَ الحُورِ العِينِ مَا شَاءَ*

_“Siapa yang menahan amarah padahal dia mampu melampiaskannya, Allah akan panggil dia di hadapan makhluk-makhluknya yang mulia di hari kiamat, lalu dipersilahkan untuknya memilih bidadari yang dia suka.” (HR. Abu Daud dan Tirmizi)_

Jika ada saudara kita yang sedang marah dengan saudaranya, jangan ikut-ikutan marah. Jika mampu medamaikannya, bagus. Jika tidak, cukup doakan atau diam.

Sahabat akrab dari sahabat kita, layak kita akrabi. Sahabat yang sedang tidak akrab dengan sahabat kita, tidak mesti harus kita musuhi.

Jika begitu saja kita ikut memusuhi orang yang dimusuhi sahabat kita, boleh jadi di lain waktu mereka berbaikan sedangkan kita masih bermusuhan.

Jika Allah selamatkan kita dari sengketa yang terjadi di antara saudara-saudara kita, mestinya kita selamatkan sikap dan lidah kita dari sengketa tersebut.

Semoga hati kita selalu disatukan dalam cinta karena Allah, marah dan kecewa segera sirna berganti cinta, canda dan tawa…

Aamin.

Oleh: Abdullah Haidir, Lc