Mempermudah dalam Muamalah

Membebaskan Utang

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, saya pengepul (jual beli)buah sawit biasanya para petani pinjam uang, walau ada pinjaman harga pengambil buah ke petani tidak akan dikurangi atau diturun, uang pinjaman sifatnya hanya sebagai pengikat saja, karena sesuatu hal saya berhenti jadi pengepul maka sebagian petani ada yang mengembalikan dan ada yang tdk mengembalikan, untuk sementara saya biarkan tidak sy tagih lagi kalau ybs mau byr alhamdullih sy terima dan kl tdk juga menjadi beban buat sy.
Yg ingin di tanyakan apakah sy tetap wajib mengingatkan atau membiar kewajiban pr petani ustd. Trims.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Jika kita serius membebaskan mrk dari pinjaman, maka beritahukan ke orangnya. Agar jgn sampai dia menyangka masih ada hutang padahal sdh dibebaskan. Ini keutamaan besar yang membebaskan hutang.

وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Siapa yang membebaskan kesulitan seorang muslim maka Allah akan bebaskan kesulitan dia pada hari kiamat. (HR. Bukhari no. 2442)

Tapi, jika memang ingin tetap dianggap hutang tagihlah dgn baik. Jangan dibuat ngambang antara bebas atau msh berhutang.

Dari Jabir bin Abdillah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلاً سَمْحًا إِذَا بَاعَ ، وَإِذَا اشْتَرَى ، وَإِذَا اقْتَضَى

“Semoga Allah merahmati seseorang yang bersikap mudah ketika menjual, ketika membeli dan ketika menagih haknya (utangnya).” (HR. Bukhari no. 2076)
Demikian. Wallahu A’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Tutuplah Aib

Jika Ghibah Pahala Akan Berpindah?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, ketika kita membicarakan (ghibah) seseorang maka pahala kita akan dipindahkan ke orang yang dighibahkan. Pertanyaan: (a) Apakah pahala yang dipindahkan hanya sebagian saja atau seluruh pahala yang kita miliki? (b) Setelah melakukan ghibah apakah pahala yang akan kita dapatkan untuk kedepannya akan terus menjadi milik orang yang dighibahi?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Perkara ghibah atau perkara-perkara lain yang bersifat menyakiti, menzalimi orang lain itu memang dapat berpotensi mengakibatkan kebaikan itu akan diberikan kepada mereka di akhirat nanti, meskipun tentu saja ukuran-ukurannya Allah SWT yang tahu, karena itu perkara ghaib.

Hal ini memang merujuk pada hadits Rasulullah SAW terkait dengan orang yang muflis (bangkrut), sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat tentang hal ini;

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ ». قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ « إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ

Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya : “Tahukah kalian siapakah orang orang yang bangkrut itu?” Para sahabat _rodiyallahu ‘anhum_menjawab, “Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta.” Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang pada hari kiamat datang membawa pahala sholat, puasa, dan zakat, namun dia juga membawa dosa mencaci maki si A, menuduh zina si B tanpa bukti, memakan hartanya si C, membunuh si D, dan memukul si E. karena itu, sebagian pahala amal kebajikannya diberikan kepada mereka. Jika pahala kebajikannya sudah habis, sedangkan belum selesai urusannya maka dosa orang yang dianiaya diberikan kepadanya. Kemudian dia dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim).

Maka kebaikan yang dia bawa akan diberikan kepada siapa yang dia zalimi, kalau tidak cukup, keburukan yang dimiliki oleh orang yang dia sakiti akan diberikan kepadanya. Berapa ukurannya? Tentu saja Allah SWT yang tahu, bisa jadi kebaikan yang dia bawa sekian, keburukannya sekian, maka diambil sekian. Jika kebaikan yang dimiliki sedikit, sementara orang yang dizalimi justru sangat banyak, maka bisa jadi yang terjadi justru kebaikan kita habis dan tidak cukup, kemudian keburukan orang yang disakiti itu akan diberikan kapada kita. Itulah sejatinya orang yang bangkrut berdasarkan sabda Rasulullah Saw.

Yang paling penting memang bukan melihat itu semua sebagai ukuran berapanya, tapi yang paling penting apabila semua itu dilakukan, maka segera bertaubat kepada Allah SWT, menyesali perbuatannya, berjanji tidak mengulangi perbuatan itu, menghentikan semua itu dan minta maaf kepada orang yang dighibahi. Jika takut, maka mohon kepada Allah SWT, kemudian mohonkan ampun untuk orang tadi, kemudian perbaiki nama baiknya. Misalnya orang itu baik dan sebagainya, sebagai upaya untuk menunjukkan kesungguhan kita dalam bertaubat, karena itu yang paling penting.

Jangan sampai mengukurnya misalnya dengan berkata “sholat saya banyak bisa untuk membayar dosa ghibah”, maka itu termasuk sesuatu yang bisa membuat terpedaya dan akhirnya terus dalam dosa ghibah yang bisa jadi akan memberikan keburukan yang sangat besar bagi kita.

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Menggerakkan Lisan Ketika Membaca Al Quran

Keutamaan Membaca dan Menghafal AlQur’an

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, kira2 ketika kita sdh hafal suatu surat lalu kita selalu membacanya dg melihat mushaf apakah akan hilang hafalannya atau tdk ya… sebab kan lbh baik tilawah dg melihat mushaf…🙏 A/34

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Slamet Setiawan, SHI

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Banyak sekali riwayat hadis yang menjelaskan keutamaan membaca Al-Qur’an . Bahkan Allah Ta’ala mengganjar 1 huruf Al-Qur’an yang dibaca sama dengan 10 kebaikan.

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa membaca Al-Qur’an dengan melihat mushaf (lembaran kitab) lebih utama daripada membaca Qur’an tanpa mushaf.

Rasulullah SAW bersabda:

عَن عُثمَانَ بنِ عَبدِ اللٌهِ بنِ اَوسِ الثٌقَفيِ رَضَيِ اللٌهُ عَنهُ عَن جَدٌهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللٌهِ صَلَي اللٌهُ عَلَيهِ وَسَلَمَ قِراَءةُ الٌرَجُلِ القُرانَ فيِ غَيرش الُصحَفِ ألفُ دَرَجَةٍ وَقِرَاَءتُه فيِ الصُحَفِ تَضُعَفُ عَلى ذَالِكَ اِل ألفَي دَرَجَةٍ. (رواه البيهقي في شعب الإيمان)

Dari Utsman bin Abdullah bin Aus ats Tsaqafi RA dari kakeknya, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Bacaan Al-Qur’an seseorang tanpa melihat mushaf adalah seribu derajat (pahalanya), dan bacaannya dengan melihat mushaf adalah dilipatkan sampai dua ribu derajat.” (HR. Al-Baihaqi-Syu’abul Iman)

Hadis ini memunculkan perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian ulama berpendapat bahwa membaca Al-Qur’an dengan melihat mushaf adalah lebih utama, karena mata akan selalu melihat Al-Qur’an, sehingga terhindar dari kesalahan dalam pembacaan.

Sedangkan sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa membaca Al-Qur’an melalui hafalan itu lebih utama, karena akan lebih khusyu’ dan dapat terhindar dari sifat riya, dan itu adalah kebiasaan Rasulullah SAW .

Imam Nawawi menyatakan kedua-duanya baik dan bergantung pada keadaan si pembaca. Sebagian orang ada yang lebih konsentrasi jika membacanya dengan melihat mushaf. Sebagian lainnya merasa lebih konsentrasi jika membacanya dengan hafalan.

Hafizh Ibnu Hajar menulis dalam Fathul-Bari bahwa penjelasan itulah yang dia setujui. Diceritakan bahwa sangkin seringnya Utsman bin Affan membaca Al-Qur’an, maka dua mushaf Al-Qur’an telah robek. Amr bin Maimun meriwayatkan dalam Syarh Ihya bahwa seseorang yang membuka Al-Qur’an setelah salat Shubuh dan membacanya seratus ayat, maka akan ditulis baginya pahala seisi dunia ini.

Disebutkan bahwa membaca Al-Qur’an dengan melihat mushaf sangat bermanfaat bagi penglihatan. Diriwayatkan dari Abu Ubaidah sebuah hadis musalsal yang setiap perawinya berkata bahwa mereka mengalami gangguan penglihatan. Lalu, guru-guru mereka menasihati agar selalu membaca Al-Qur’an dengan melihatnya.

Untuk diketahui, menurut Imam Syafi’i, Al-Qur’an terdiri dari 114 surat dan 1.027.000 (satu juta dua puluh tujuh ribu) huruf. Bisa dibayangkan, jika 1 huruf diganjar dengan pahala 10 kebaikan, maka berapa kebaikan (hasanah) yang kita dapat ketika kita membaca dan mengkhatamkannya. Semoga Allah menjadikan kita ahlul Qur’an dan bisa mengamalkannya.

Namun perlu diingat juga bahwa membaca Al-Qur’an dengan hafalan akan memperkuat hafalan kita, dan itu wajib dilakukan sebagai upaya menjaga hafalan. Jika membaca Al-Qur’an dengan melihat mushaf memberi manfaat/pahala bagi mata, maka membaca Al-Qur’an dengan hafalan akan memberi manfaat/pahala bagi memori/otak kita. Keduanya baik, maka lakukan dengan seimbang. Pahala adalah urusan Allah. Wallahu A’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Suami yang Bersama Istri di Surga

Hukum Menunda Malam Pertama

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, apakah boleh sebelum menikah kita memberi persyaratan utk tidak berhubungan badan terlebih dahulu selama satu bulan setelah akad. Jadi selama sebulan kita menjalankan hari-hari seperti pacaran. Semua hak² istri pada suami ttp dijalankan hanya berhubungan saja yg tidak. Dengan maksud ini cara preventif agar jika ternyata kami tidak cocok, maka tidak ada pihak yg dirugikan.
Pertanyaan ini jga didasari fenomena yg terjadi, banyak perceraian yg terjadi pasca menikah 3 bulan dengan alasan tidak cocok. Menyebabkan kerugian di pihak wanita.
Semoga ustad paham maksud dan tujuan dri pertanyaan saya. Bagaimana mnurut pendapat ustad? Syukran ustad 🙏 A38

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Slamet Setiawan, STHI

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Hukum menunda malam pertama dalam Islam adalah mubah atau boleh. Sepasang suami istri boleh menunda sampai waktu tertentu untuk berhubungan intim atau jimak sesuai kehendak pasangan suami istri.

Rasulullah SAW menikahi Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika beliau berusia 7 tahun. Selanjunya beliau baru kumpul dengan Aisyah, ketika Aisyah berusia 9 tahun.

Dari Urwah, dari bibinya, Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau bercerita,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- تَزَوَّجَهَا وَهْىَ بِنْتُ سَبْعِ سِنِينَ وَزُفَّتْ إِلَيْهِ وَهِىَ بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ وَلُعَبُهَا مَعَهَا وَمَاتَ عَنْهَا وَهِىَ بِنْتُ ثَمَانَ عَشْرَةَ

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika Aisyah berusia 7 tahun. dan Aisyah kumpul dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau berusia 9 tahun, sementara mainan Aisyah bersamanya. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat ketika Aisyah berusia 18 tahun. (HR Muslim 3546)

Dalam riwayat lain, Aisyah radhiyallahu ‘anha juga bercerita,

تَزَوَّجَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ، وَبَنَى بِي وَأَنَا بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ

“Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menikahiku pada saat usiaku 6 tahun, dan beliau serumah denganku pada saat usiaku 9 tahun.” (Muttafaqun ‘alaih).

Semua riwayat ini dalil bahwa pasangan suami istri yang telah menikah, tidak harus langsung kumpul. Boleh juga mereka tunda sesuai kesepakatan.

Dalam Fatwa Syabakah Islamiyah dinyatakan, “Syariat tidak menentukan batas waktu tertentu sebagai rentang antara akad dengan kumpul. Karena itu, acuan dalam rentang ini kembali kepada ‘urf (tradisi masyarakat) atau kesepakatan antara suami istri.”

Wallahu A”lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Membayar Zakat

Zakat Profesi

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, terkait dg zakat penghasilan.
Bagaimana penghitungannya hingga seseorang di kenai zakat penghasilan/profesi?
Apakah ada syarat2 nya?
Jika seorang PNS yg penghasilannya habis untk memenuhi kebutuhan se hari2 apakah dikenakan zakat penghasilan setiap bulannya? Jazakillah khoir 🙏 A/10

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Para ulama, seperti Syaikh Muhammad Abu Zahrah, Syaikh Abdul Wahhab Khalaf, Syaikh Abdurrahman Hasan, dan ditegaskan lagi oleh Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, di mana mereka memandang ada beberapa alasan keharusan adanya zakat profesi:

– Profesi yang dengannya seseorang menghasilkan uang, termasuk kategori harta dan kekayaan (al maal al mustafad).

– Kekayaan dari penghasilan bersifat berkembang, bertambah, dan tidak tetap, ini sama halnya dengan barang yang dimanfaatkan untuk disewakan.

Dilaporkan dari Imam Ahmad, bahwa beliau berpendapat tentang seseorang yang menyewakan rumahnya mendapatkan uang sewaan yang cukup nisab, bahwa orang tersebut wajib mengeluarkan zakatnya ketika menerimanya tanpa persyaratan setahun. Hal itu pada hakikatnya menyerupai mata pencaharian, dan wajib dikeluarkan zakatnya bila sudah mencapai satu nisab, walau tanpa haul.

– Selain itu, hal ini juga diqiyaskan dengan zakat tanaman, yang mesti dikeluarkan oleh petani setiap memetik hasilnya. Bukankah petani juga profesi?

– Dalam perspektif keadilan Islam, maka adanya zakat profesi adalah keniscayaan. Bagaimana mungkin Islam mewajibkan zakat kepada petani yang pendapatannya tidak seberapa, namun membiarkan para pengusaha kaya, pengacara, dokter, dan profesi prestise lainnya menimbun harta mereka? Kita hanya berharap mereka mau bersedekah sesuai kerelaan hati?

– Dalam perspektif maqashid syari’ah (tujuan dan maksud syariat), adanya zakat profesi adalah sah. Sebab lebih mendekati keadilan dan kemaslahatan, serta sesuai ayat:
“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (keluarkan zakat) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.“ (QS. Al Baqarah (2): 267)

Bukankah zakat penghasilan diambil dari hasil usaha yang baik-baik saja? Bukankah usaha yang baik-baik itu tidak terbatas pada perniagaan dan pertanian? Inilah dasar yang kuat tentang kewajiban zakat atas penghasilan dari profesi seseorang.

– Mereka berpendapat bahwa zakat profesi ada dua pendekatan pelaksanaan, sesuai jenis pendapatan manusia.

Pertama, untuk orang yang gajian bulanan, maka pendekatannya dengan zakat pertanian, yaitu nishabnya adalah 5 wasaq, senilai dengan HARGA 653 Kg gabah kering giling (atau 520 kg beras), dan dikeluarkan 2,5%, yang dikeluarkan ketika menerima hasil (gaji), tidak ada haul.

Menurut Syaikh Al Qaradhawi, zakat penghasilan baru dikeluarkan jika sudah dikeluarkan kebutuhan POKOKnya dahulu, jika sisanya masih nishab, itulah yang dikeluarkan 2,5%. Sementara Az Zuhri, mengatakan langsung dikeluarkan tanpa dikurangi kebutuhan-kebutuhan pokok.

Kedua, bagi yang penghasilannya bukan bulanan, seperti tukang jahit, kontraktor, pengacara, dokter, dan semisalnya, menggunakan pendekatan zakat harta, yakni nishab senilai dengan 85gr emas setelah diakumulasi dalam setahun, setelah dikurangi hutang konsumtif, dikeluarkan sebesar 2,5%.

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Zakat

Zakat Rumah

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya sesuatu terkait zakat. Baru2 ini kami menjual rumah Krn mau pindah keluar kota. apakah dari hasil penjualan rumah tsb ada zakat yg harus kami tunaikan ustd?
Klo ada berapa % besarannya?

Ini rumah baru selesai dibangun, rencana mau kita tempati. Tp karena mutasi tempat kerja, maka kami jual.
Bisa disamakan dg rumah tinggal ustd.
(Nb.selama ini kami masih kontrak rumah)

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Jika itu rumah yg biasa kita tempati, maka tdk ada zakat saat menjualnya. Beda halnya jika kita profesinya jual beli rumah, maka kena zakat perniagaan.

Rumah yang rencana ditempatkan, atau sdh ditempatkan.. Intinya itu rumah bukan rumah produktif yg menghasilkan harta seperti disewakan atau jual beli rumah

Syaikh Yusuf Al Qaradhawi Hafizhahullah mengatakan tentang batasan barang dagangan:

ولو اشترى شيئًا للقنية كسيارة ليركبها، ناويًا أنه إن وجد ربحًا باعها، لم يعد ذلك مال تجارة بخلاف ما لو كان يشتري سيارات ليتاجر فيها ويربح منها، فإذا ركب سيارة منها واستعملها لنفسه حتى يجد الربح المطلوب فيها فيبيعها، فإن استعماله لها لا يخرجها عن التجارة، إذ العبرة في النية بما هو الأصل، فما كان الأصل فيه الاقتناء والاستعمال الشخصي: لم يجعله للتجارة مجرد رغبته في البيع إذا وجد ربحًا، وما كان الأصل فيه الاتجار والبيع: لم يخرجه عن التجارة طروء استعماله. أما إذا نوى تحويل عرض تجاري معين إلى استعماله الشخصي، فتكفي هذه النية عند جمهور الفقهاء لإخراجه من مال التجارة، وإدخاله في المقتنيات الشخصية غير النامية

Seandainya seseorang membeli sesuatu untuk dipakai sendiri seperti mobil yang akan dikendarainya, dengan niat apabila mendatangkan keuntungan nanti dia akan menjualnya, maka itu juga bukan termasuk barang tijarah (artinya tidak wajib zakat ). Hal ini berbeda dengan jika seseorang membeli beberapa buah mobil memang untuk dijual dan mengambil keuntungan darinya, lalu jika dia mengendarai dan menggunakan mobil itu untuk dirinya, dia menemukan adanya keuntungan dan menjualnya, maka apa yang dilakukannya yaitu memakai kendaraan itu tidaklah mengeluarkan status barang itu sebagai barang perniagaan. Jadi, yang jadi prinsip adalah niatnya. Jika membeli barang untuk dipakai sendiri, dia tidak meniatkan untuk menjual dan mencari keuntungan, maka hal itu tidak merubahnya menjadi barang tijarah walau pun akhirnya dia menjualnya dan mendapat keuntungan. Begitu juga sebaliknya jika seorang berniat merubah barang dagangan menjadi barang yang dia pakai sendiri, maka niat itu sudah cukup menurut pendapat mayoritas fuqaha (ahli fiqih) untuk mengeluarkan statusnya sebagai barang dagangan, dan masuk ke dalam kategori milik pribadi yang tidak berkembang. (Fiqhuz Zakah, 1/290)

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Sutrah

Shalat Batal Karena Cewek Lewat Di Hadapan?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… afwan mau bertanya tentang satu hadits yang redaksinya mengatakan bahwa sholat kita bisa batal jika ada wanita melewati sutroh sholat kita.
nah wanita itu apakah anak-anak yang belum baligh juga termasuk yang bisa membatalkan ya Ustadz?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّي فَإِنَّهُ يَسْتُرُهُ إِذَا كَانَ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلُ آخِرَةِ الرَّحْلِ فَإِذَا لَمْ يَكُنْ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلُ آخِرَةِ الرَّحْلِ فَإِنَّهُ يَقْطَعُ صَلَاتَهُ الْحِمَارُ وَالْمَرْأَةُ وَالْكَلْبُ الْأَسْوَدُ قُلْتُ يَا أَبَا ذَرٍّ مَا بَالُ الْكَلْبِ الْأَسْوَدِ مِنْ الْكَلْبِ الْأَحْمَرِ مِنْ الْكَلْبِ الْأَصْفَرِ قَالَ يَا ابْنَ أَخِي سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا سَأَلْتَنِي فَقَالَ الْكَلْبُ الْأَسْوَدُ شَيْطَانٌ

“Apabila salah seorang dari kalian hendak shalat, sebaiknya kamu membuat sutrah (penghalang) di hadapannya yang berbentuk seperti kayu yang diletakkan diatas hewan tunggangan, apabila di hadapannya tidak ada sutrah seperti kayu yang diletakkan diatas hewan tunggangan, maka shalatnya akan terputus oleh keledai, wanita, dan anjing hitam.’ Aku bertanya, ‘Wahai Abu Dzarr, apa perbedaan anjing hitam dari anjing merah dan kuning? Dia menjawab, ‘Aku pernah pula menanyakan hal itu kepada Rasulullah ﷺ sebagaimana kamu menanyakannya kepadaku, maka jawab beliau, ‘Anjing hitam itu setan’.”
(HR. Muslim No. 510)

Hadits di atas menyebut “terputus shalatnya”, apakah itu berarti batal shalatnya?

Tidak. Menurut mayoritas ulama maknanya adalah hilangnya kesempurnaan khusyu, karena hati menjadi sibuk.

Hal ini diterangkan oleh Imam An Nawawi Rahimahullah berikut ini:

وَقَالَ مَالِك وَأَبُو حَنِيفَة وَالشَّافِعِيّ رَضِيَ اللَّه عَنْهُمْ وَجُمْهُور الْعُلَمَاء مِنْ السَّلَف وَالْخَلَف: لَا تَبْطُل الصَّلَاة بِمُرُورِ شَيْء مِنْ هَؤُلَاءِ وَلَا مِنْ غَيْرهمْ، وَتَأَوَّلَ هَؤُلَاءِ هَذَا الْحَدِيث عَلَى أَنَّ الْمُرَاد بِالْقَطْعِ نَقْص الصَّلَاة لِشُغْلِ الْقَلْب بِهَذِهِ الْأَشْيَاء، وَلَيْسَ الْمُرَاد إِبْطَالهَا

Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Asy Syafi’i Radhiallahu ‘Anhum, dan mayoritas ulama salaf dan khalaf, mengatakan bahwa shalat TIDAKLAH BATAL dengan lewatnya semua itu dan yang lainnya. Mereka mengartikan makna terputus shalat adalah berkurang nya shalat karena sibuknya hati gara-gara hal-hal tersebut, bukan bermakna batal shalatnya.
(Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 4/227)

Dalil yang memperkuat bahwa itu bukan bermakna batal adalah sebagai berikut:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَأَقْبَلْتُ رَاكِبًا عَلَى أَتَانٍ وَأَنَا يَوْمَئِذٍ قَدْ نَاهَزْتُ الِاحْتِلَامَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِالنَّاس بِمِنًى فَمَرَرْتُ بَيْنَ يَدَيْ الصَّفِّ فَنَزَلْتُ فَأَرْسَلْتُ الْأَتَانَ تَرْتَعُ وَدَخَلْتُ فِي الصَّفِّ فَلَمْ يُنْكِرْ ذَلِكَ عَلَيَّ أَحَدٌ

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Aku datang dengan mengendarai keledai betina, saat itu aku hampir baligh dan Rasulullah ﷺ shalat di Mina, maka aku lewat di depan shaf lalu aku turun dari kendaraan keledai betina, lalu aku masuk ke shaf dan tak ada satu pun yang mengingkari perbuatan itu.” (HR. Muslim No. 504)

Ada pun untuk perempuan, hal itu dibantah langsung oleh Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Beliau pernah tiduran di depan Rasulullah ﷺ dan aaat itu Rasulullah ﷺ sedang shalat.

Berikut ini dalilnya:

عَنْ عَائِشَةَ
ذُكِرَ عِنْدَهَا مَا يَقْطَعُ الصَّلَاةَ الْكَلْبُ وَالْحِمَارُ وَالْمَرْأَةُ فَقَالَتْ شَبَّهْتُمُونَا بِالْحُمُرِ وَالْكِلَابِ وَاللَّهِ لَقَدْ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي وَإِنِّي عَلَى السَّرِيرِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ مُضْطَجِعَةً فَتَبْدُو لِي الْحَاجَةُ فَأَكْرَهُ أَنْ أَجْلِسَ فَأُوذِيَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنْسَلُّ مِنْ عِنْدِ رِجْلَيْهِ

Dari ‘Aisyah, bahwa telah disebutkan kepadanya tentang sesuatu yang dapat memutuskan shalat; anjing, keledai dan wanita. Maka ia pun berkata, “Kalian telah menyamakan kami dengan keledai dan anjing! Demi Allah, aku pernah melihat Nabi ﷺ shalat sedangkan aku berbaring di atas ranjang antara beliau dan arah kiblatnya. Sampai ketika aku ada suatu keperluan dan aku tidak ingin duduk hingga menyebabkan Nabi ﷺ terganggu, maka aku pun pergi diam-diam dari dekat kedua kaki beliau.”
(HR. Bukhari no. 514)

Imam al Bukhari, mencantumkan hadits ini dalam bab: MAN QAALA LAA YAQTHA’USH SHALAH SYAI’UN (Orang yang berpendapat tidaklah shalat terputus oleh suatu apa pun).

Maka, kesimpulan lewatnya wanita, keledai, anjing, atau lainnya di hadapan orang shalat bukanlah penyebab batalnya shalat. Itulah pendapat mayoritas ulama.

Ada pun Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah mengatakan:

يقطعها الْكَلْب الْأَسْوَد، وَفِي قَلْبِي مِنْ الْحِمَار وَالْمَرْأَة شَيْء

Untung anjing hitam bisa membatalkan shalat, tapi untuk keledai dan wanita, di hatiku ada ganjalan.
(Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 4/227)

Demikian. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Sabar

Ridho Terhadap Ujian

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, saya pernah dengar kalau tidak khilaf bahwa setiap hamba Allah yang mendapat ujian dari Allah baik ybs ridho atau tidak ridho akan mendapat kemulian di sisi Allah, tentunya tergantung ybs kalau dia ridho tentunya kemuliaannya akan lebih tinggi tingkatannya begitu sebaliknya.
Yang ingin saya tanyakan apakah ini benar ustadz trims wassalam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Tidak seperti itu, haditsnya seperti ini:

إِنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلاَءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah Ta’ala cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan Allah, namun barangsiapa yang murka (tidak ridha) maka baginya kemurkaan Allah.

(HR. At Tirmidzi no. 2396, dari Anas bin Malik. Imam at Tirmidzi berkata: hasan)

Maka, jika seseorang mendapat ujian lalu dia tidak ridha baik diekspresikan secara kasar seperti mengutuk keadaan, memaki takdir, atau dengan cara pasif seperti kebencian, maka orang-orang seperti ini mendapatkan murkanya Allah Ta’ala. Kemuliaan hanya bagi mereka yang tulus dan ikhlas terhadap takdirNya.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Utang

Utang Kepada Pihak Ketiga/Paylater

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, saya dr grup Manis, Ingin bertanya seputar hutang.

Jadi, kami pernah kekurangan dana untuk beli tiket pesawat. Dan ada teman yang menawarkan pinjaman untuk beli tiket pesawat.
Setelah itu, beliau meminta data kami dan memesankan tiket pesawat.
Tanpa diduga, ternyata beliau menggunakan Paylater utk memesankan tiket kami. Dengan kata lain, beliau bukan meminjamkan uangnya kepada kami. Tapi dia membantu meminjamkan kepada pihak ke-3. Dan harus lunas bulan depan, karena kami memang berjanji di awal untuk melunaskan biaya tiket pesawat itu bulan depan. Karena tiket itu dibayar bulan depan, ada biaya administrasi yang dikenakan sebab dibayar dengan menggunakan kartu kredit. Dan di sini kami juga terkejut.
Singkat cerita, kami batal berangkat karena PPKM. Tiket yang kami pesan juga dibatalkan dan akan direfund. Tapi ternyata, uang harus ditransfer ke Paylater, tetap harus dilunasi jika tidak ada denda sebesar 5% yang ditambahkan. Padahal kami tidak jadi berangkat dan tiket juga batal dibeli.
Jadi ustadz, bagaimana sikap kami?
Apakah tetap membayar hutang itu kepada teman kami atau kami berlepas saja? Karena dari awal, kami tidak tahu menahu kalau beliau menggunakan pihak ke-3.

A/06

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Jawaban

Oleh: Ustadz DR Oni Sahroni, MA

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

1. Utang terhadap pihak ketiga atau paylater tetap harus dibayar, walaupun menggunakan skema ribawi. Kecuali jika paylater itu merelakan haknya untuk tidak dibayar, atau dibayar sekedar pokoknya saja.

2. Selanjutnya dari mana sumber pembayaran.
Itu menjadi negosisasi antara bapak/ibu (yang bertanya) dengan teman yang awalnya berniat untuk meminjamkan langsung.

3. Sebagai pelajaran.
Sebelum bertransaksi, termasuk peminjam dipastikan terlebih dahulu, siapa yang meminjam, berapa nominalnya, kepada siapa harus jelas sedari awal.

Demikian. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Qur'an Surat Cinta dari Allah

Membaca Al Qur’an Hanya Di Hati

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, mohon penjelasannya ap boleh kita pd waktu sholat/tilawah membaca alqur’an dngn cra dihati..mulut tidak bergerak.pd saat itu bru sakit gigi…jazakallah atas penjelasannya.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Baca surah hendaknya dilafazkan walau lirih saja, sebab tidak dikatakan tilawah jika tidak dilafazkan..

Membaca Al Qur’an dihati, belum dikatakan “tilawah”. Kecuali membaca satu ayat di sebuah buku pelajaran, majalah, dalam rangka merenungkannya .. tidak apa-apa.

Imam Al Kasani Rahimahullah berkata:

القراءة لا تكون إلا بتحريك اللسان بالحروف ، ألا ترى أن المصلي القادر على القراءة إذا لم يحرك لسانه بالحروف لا تجوز صلاته

Membaca Al Qur’an tidaklah terwujud kecuali dengan menggerakkan lisan terhadap hurufnya, apakah Anda tidak melihat orang yang shalat jika tidak menggerakkan lisannya terhadap huruf-huruf maka shalatnya tidak diperbolehkan.

(Bada’iy Shana’iy, 4/118)

Imam Malik Rahimahullah pernah ditanya tentang orang yang shalat namun bacaannya tidak terdengar oleh orang lain dan dirinya. Beliau menjawab:

ليست هذه قراءة ، وإنما القراءة ما حرك له اللسان

Ini bukanlah membaca Al Qur’an, membaca itu hanyalah bagi yg menggerakkan lisannya.

(Imam Ibnu Rusyd, Al Bayan wat Tahshil, 1/490)

Dalam Mawahib Al Jalil disebutkan:

لا يجوز إسرار من غير حركة لسانه لأنه إذا لم يحرك لسانه لم يقرأ وإنما فكر..

Tidak boleh menyembunyikan bacaan tanpa menggerakkan lisannya, sebab jika tanpa menggerakkan lisannya maka itu bukan membaca namanya, itu hanyalah merenung.. (Imam Al Hathab, 1/317)

Jadi, saran saya gerakkan bibir, bacalah sesuai tajwid, minimal di dengar untuk diri sendiri.

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678