Zina itu utang

Zina Itu Utang?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya…Berkaitan dengan ini…

🍃🍀🍂

Zina Itu Hutang
Boleh jadi keluarga atau keturunanmu yang akan membayar dengan maksiat yang sama.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

بروا آباءكم تبركم أبناؤكم وعفوا تعف نساؤكم

“Berbaktilah kepada orang tuamu, niscaya anak-anakmu akan menjadi anak-anak yang berbakti. Hindari zina, sehingga niscaya istrimu tidak akan berzina.”
(HR. Thabarani).

🍃🍀🍂

Bagaimana caranya memutus azab yang timbul krna dosa zina ini kepada keturunan dan keluarganya? Pelaku sudah bertaubat. Apakah ada kafarat atau amalan yang harus dilakukan, supaya dosanya tidak berlanjut kepada keluarga dan keturunannya? Mohon penjelasan.

A/04

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Jawaban

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Pertama hadits tsb diperdebatkan para ulama. Ada yang menyatakan shahih ada yang menyatakan dhaif.

Kalaupun dinyatakan shahih, maka maksudnya adalah bahwa prilaku yang dilakukan seseorang, dapat ditiru oleh keluarganya. Jadi sifatnya adalah kemungkinan yang akan terjadi. Jadi sifatnya bukan sebagai hukuman yang harus ditanggung oleh keluarga, akan tetapi dapat menimbulkan pengaruh atau contoh buruk yang diikuti kuarganya. Itupun tidak mutlak terjadi sifatnya.

Adapun jika seseorang sudah bertaubat dan berusaha memperbaiki dirinya lalu dia mendidik keluarganya dengan baik serta berusaha menjauhkannya dari zina, maka itu sudah cukup, tidak perlu dihantui perasaan bahwa suatu kali nanti keluarganya akan menlmbayar dengan maksiat yang sama. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allah Maha Mengetahui

Sering Mendapat Bisikan Masa Depan

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, saya dari kecil sering mendengar bisikan yang terkadang membisikan tentang masa depan. Saya bahkan terkadang bisa “melihat” seperti gambaran masa depan. Saya sudah menjauhi hal-hal itu setelah tahu itu bukanlah hal baik dan bukan dari Allah SWT. Kadang hal itu masih menggoda saya dengan bisikan-bisikan kecil. Apa yang harus saya lakukan?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Peristiwa yang terjadi di masa depan merupakan perkara gaib. Tidak ada yang mengetahuinya selain Allah Taala. Firman Allah Taala:

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ (سورة النمل: 65)

“Katakanlah (Muhammad), tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah. Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.”

Bahkan Rasulullah saw tidak mengetahui secara terperinci apa yang akan terjadi kemudian, buktinya beliau pernah terluka dan mendapatkan perlakuan buruk. Seandainya beliau tahu apa yang akan terjadi, pastilah beliau akan menghindarinya. Sebagaimana firman Allah Taala yang mengabadikan ucapan beliau dalam Al-Quran:

قُل لَّا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ
السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (سورة الأعراف: 188)

Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”

Memang ada beberapa perkara yang beliau sampaikan terkait kejadian yang akan datang, seperti tentang tanda-tanda hari kiamat, atau peristiwa hari kiamat itu sendiri. Semua itu tak lain bersumber dari wahyu yang Allah sampaikan kepada para nabi sebagai bentuk pengecualian sekaligus sebagai mukjizat para Rasul untuk membuktikan kenabiannya. Firman Allah Taala,

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا . إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا (سورة الجن: 26-27)

“Dia Mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya.”

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan berakhirnya kenabian, berarti berakhir pula wahyu, tidak ada lagi orang yang menerima wahyu. Karenanya, jika ada seseorang merasa mendapatkan bisikan-bisikan yang menghampirinya atau membisikkan suatu peristiwa yang bakal terjadi, maka hal tersebut adalah satu di antara dua perkara; kondisi kejiwaan yang tidak stabil atau gangguan jin.

Tampaknya penanya sudah menyadari hal ini, dan ini adalah sikap yang bagus. Jangan sampai seseorang terpedaya dalam hal ini lalu dia mengaku memiliki kelebihan-kelebihan tertentu yang akhirnya menjadi alat untuk membangga-banggakan dirinya apalagi sampai digunakan melakukan berbagai penyimpangan syariat atau untuk meraih keuntungan duniawi.

Beberapa langkah dapat dilakukan untuk mengatasi hal ini;

Pertama: menghadirkan kekuatan diri dengan selalu berzikir kepada Allah dan berdoa dan memohon pelindungan kepadaNya. Khususnya perlindungan dari godaan dan bisikan setan. Zikir pagi dan petang sangat sarat dengan ayat-ayat dan doa yang dapat berikan kita perlindungan. Silakan dirutinkan bacaan tersebut setiap hari.

Kedua: minta bantuan orang lain untuk mengatasi apa yang dihadapi. Bisa dengan minta bantuan para peruqyah untuk membacakan ruqyah atas dirinya, kalau-kalau memang ada gangguan jin yang dihadapi. Bisa juga minta bantuan psikiater untuk konsultasi masalah-masalah kejiwaan, boleh jadi ada perkara-perkara kejiwaan yang patut diterapi.

Ketiga: sibukkan diri dengan agenda-agenda positif, sehingga datangnya bisikan-bisikan tersebut tidak terlalu mencuri perhatiannya karena dia sibuk dengan berbagai agenda yang sedang dia kerjakan. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Menjamak Salat Sesuai Urutan

Menjamak Shalat Sesuai Urutannya

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… ingin bertanya.
Saya menjamak sholat dzuhur dan ashar dengan cara mengerjakan sholat dzuhur terlebih dahulu baru sholat ashar. Apakan yang demikian sudah benar? Karena teman saya bilang sholat ashar dulu baru dzuhur karena dikerjakan di waktu ashar

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Menjamak, baik taqdim atau ta’khir, adalah sesuai urutannya. Sebab Allah Ta’ala menurunkan syariat shalat sesuai urutannya.

Maka, apa yg Anda sudah dilalukan yaitu zhuhur dulu lalu ashar, sudah benar.

Syaikh Abu Bakar bin Jabir Al Jazaairiy Rahimahullah mengatakan:

ذكر صلاة قبلها كأن يدخل في العصر ويذكر انه ما صلى الظهر فان العصر تبطل حتى يصلي الظهر، اذ الترتيب بين الصلوات الخمس فرض لورودها عن الشارع مرتبة فرضا بعد فرض فلا تصلى صلاة قبل التي قبلها مباشرة

Seseorang yang teringat shalat sebelumnya, seperti orang yg sudah masuk waktu Ashar tapi dia belum shalat Zhuhur maka shalat Asharnya batal sampai dia melakukan zhuhurnya.

Karena berurutan dalam melaksanakan shalat yang lima adalah kewajiban, karena seperti itulah pembuat syariat menurunkannya, berurut satu kewajiban setelah kewajiban yang lain, maka janganlah shalat sebelum menunaikan shalat yang sebelumnya. (Minhajul Muslim, Hal. 176-177)

Jadi, apa yang Anda lalukan sudah benar, TAPI .. jika kasusnya adalah Anda berjamaah dengan imam dan masyarakat yang sedang shalat Ashar, maka ikutilah mereka shalat Ashar dulu, barulah setelah itu zhuhurnya.

Hal ini berdasarkan:

إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلَا تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ

Sesungguh imam itu dijadikan untuk diikuti maka janganlah kalian menyelisihinya .. (HR. Bukhari no. 723)

Demikian. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Doa Orang Tua Atas Anaknya

Doa Orang Tua Kepada Anaknya

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak sholeh yang berdoa baginya. Nah seandainya anaknya meninggal duluan dan orang tuanya mendoakan anak tersebut apakah doa tersebut akan sampai kepada sang anak?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Bismillahirrahmanirrahim..

Doa orang tua kepada anaknya adalah doa yang mustajab, berdasarkan hadits-hadits yang maqbul (bisa diterima) periwayatannya. Tidak beda apakah anak itu masih hidup atau sudah wafat. Doa seorang muslim atas muslim lainnya saja dianjurkan, baik masih hidup atau wafat, maka apalagi doa orang tua kepada anaknya?

Dalam hadits disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

Dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, “Ada tiga macam doa yang akan dikabulkan yang tidak ada keraguan padanya; doa orang yang terzalimi, doa musafir, dan doa orang tua atas anaknya.

(HR. At Tirmidzi no. 1905, At Tirmidzi menyatakan: hasan)

Imam Ash Shan’ani menjelaskan hadits di atas, bahwa mustajabnya doa orang tua untuk anak sebagaimana doa anak kepada orangtuanya:

(دعوة الوالد على ولده) مثل دعوته له

(Dan doa orang tua atas anaknya) seperti doanya kepada orang tuanya.

(At Tanwir Syarh al Jaami’ ash Shaghir, 5/169)

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Menutup Aurat

Bagaimana Mengetahui Akhir Haid?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saya mau bertanya, apabila istri saya haid 3 hari pasti sudah selesai, dan istri saya melakukan kegiatan ibadah seperti biasa shalat dan tadarus, tapi setelah seminggu suka keluar lagi haid nya.
Apakah setelah tiga hari setelah selesai haidnya boleh melakukan hubungan suami istri? Padahal setelah seminggu suka keluar lagi. I/15

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Masalah sprti ini terkait bagaimana mengetahui akhir haid dulu. Ada bbrp cara pendekatan sederhana untuk mengetahuinya sesuai keadaan masing2 haid wanita .., shgga masalah ini tdk bs dipukul rata ..

1. Bagi wanita yang haidnya lancar, maka yang menjadi batasan adalah kebiasaan durasi haidnya.

Sesuai kaidah:

Al ‘Aadah Muhakkamah : adat/kebiasaan itu bisa menjadi standar hukum

Jadi, jika kebiasaan seorang wanita haidnya 7 hari, maka itu menjadi standarnya. Jika dia sdh berhenti darahnya sebelum hari 7, maka jangan terburu-buru merasa sdh suci. Dia masih berlaku hukum-hukum haid, di antaranya larangan shalat, shaum, dan jima’. Shgga kalo dia tidak shalat dihari 6, maka tidak ada qadha.

Jika baru berhentinya setelah hari 7, atau sudah berhenti tapi keluar lagi, maka darah yg keluar selebihnya dugaan kuatnya adalah darah istihadhah, atau sisa darah haid yang lalu, bukan darah haid itu sendiri. Dia sdh suci dan tidak lagi berlaku lagi hukum hukum haid. Maka, sdh wajib lagi shalat, boleh shaum, dll. Ini relatif mudah.

2. Bagi wanita yang haidnya eror. Kadang 4 hari, kadang 6 hari, pernah 10 hari .., dsb, dan eror ini memang menjadi kebiasaannya, maka caranya dengan memperhatikan warna darahnya, sebab darah haid itu sudah dikenal. Ada pun maksimal menurut jumhur ulama adalah 15 hari, selebih itu adalah istihadhah/penyakit.

Hal ini sesuai hadits:

فَإِنَّهُ دَمٌ أَسْوَدُ يُعْرَفُ فَإِذَا كَانَ ذَلِكَ فَأَمْسِكِي عَنْ الصَّلَاةِ فَإِذَا كَانَ الْآخَرُ فَتَوَضَّئِي وَصَلِّي

“Apabila darah haid maka darah itu berwarna hitam dan dikenal, Apabila darah itu ternyata demikian, maka tinggalkanlah shalat. Apabila darah itu berwarna lain, maka berwudhulah dan shalatlah”. (HR. Abu Daud No. 261, hasan)

Sehingga, di masa-masa tidak keluar darah maka dia dihukumi suci, maka boleh shalat, shaum, dll. Sebaliknya di masa keluar darah di dihukumi haid, dengan syarat sifat darahnya memang dikenal sbgai darah haid. Ini memang agak ribet apalagi terjadi sepanjang tahun.

3. Bagi wanita yang tadinya teratur lalu berubah menjadi eror haidnya gara-gara obat, KB, setelah melahirkan, dll.

Maka, pendekatan pertamanya adalah dengan mengikuti kebiasaannya dulu, sebab pada awalnya memang teratur. Ini sebagai antisipasi bahwa dia masih teratur. Tapi, jika akhirnya eror, maka barulah dgn cara mengenali sifat darahnya, sebagaimana hadits Abu Daud di atas. Lalu berobatlah atau konsultasi dgn dokter agar kembali normal.

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Dipersembahkan oleh : www.manis.id


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Prasangka

Jika Istri Selalu Mencari Kesalahan dan kelemahan Suami

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, bagaimana jika seorang istri sdh tidak mempercayai suami (karena suami dianggap tdk memiliki kemampuan) dalan menafkahi keluarga, sehingga mengajukan permintaan cerai…Apakah itu sudah masuk dalam kategori bercerai, sedangkan suami masih menahan dan meminta kesabaran dan keridhaan dari istri…Sudah lebih dari beberapa bulan, pihak istri tidak mau jika di ajak berhubungan intim…Istri terus mencari kesalahan dan kelemahan dari suami… Mohon pencerahannya. Wasaalamualaikum wr wb. Jazakallah khair katsiron. I/14

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Slamet Setiawan, SHI

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Sebuah hubungan rumah tangga diimpikan setiap orang untuk berjalan dengan baik dan tanpa halangan apapun. Namun dalam kenyataannya, pertengkaran dan perselisihan antara pasangan suami istri pasti ada dan menjadi bumbu tersendiri.

Masalah dalam hubungan keluarga ini jika bisa diselesikan dengan baik akan membawa kedekatan bagi masing-masing, namun sebaliknya, jika tidak diselesaikan akan membawa perpecahan yang berujung pisah.

Perceraian dalam beberapa kasus tidak hanya diajukan oleh pihak suami, namun bisa juga dari sisi istri. Secara hukum negara, dua-duanya sah dan diizinkan, sementara dalam Islam ada rambu-rambu yang harus diperhatikan apalagi jika diajukan oleh istri.

Dalam islam, gugatan cerai memiliki dua istilah yakni fasakh dan khulu. Fasakh adalah lepasnya ikatan nikah antara suami istri dan istri tidak mengembalikan maharnya atau memberikan kompensasi pada suaminya. Sementara khulu adalah gugatan cerai istri dimana ia mengemblikan sejumlah harta atau maharnya kepada sang suami.

Disebutkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 229, “Maka apabila kalian khawatir bahwa keduanya tidak dapat menegakkan aturan-aturan hukum Allah, maka tidaklah mereka berdosa mengambil bayaran (tebus talak) yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya (dan mengenai pengambilan suami akan bayaran itu).”

Oleh Mustafa al-Khin dan Musthafa al-Bugha dalam al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhab al-Imam as-Syafi’i dijelaskan, “Khulu ialah talak yang dijatuhkan sebab keinginan dan desakan dari pihak istri, hal semacam itu disyariatkan dengan jalan khulu, yakni pihak istri menyanggupi membayar seharga kesepakatan antara dirinya dengan suami, dengan (standar) mengikuti mahar yang telah diberikan.”

Seorang wanita atau istri boleh saja menggugat cerai suaminya asalkan dengan syarat dan alasan yang jelas. Dalam sebuah hadits diriwayatkan seorang wanita yang takut berbuat kufur karena ia tidak menyukai suaminya meski suaminya memiliki perangai yang baik, diperbolehkan untuk menggugat cerai.

Dari Ibnu ‘Abbas, bahwasanya istri Tsabit bin Qais mendatangi Nabi SAW dan berkata: “Wahai, Rasulullah. Aku tidak mencela Tsabit bin Qais pada akhlak dan agamanya, namun aku takut berbuat kufur dalam Islam,” maka Nabi bersabda, “Apakah engkau mau mengembalikan kepadanya kebunnya?” Ia menjawab, “Ya, Rasulullah,” lalu Nabi pun bersabda: “Ambillah kebunnya, dan ceraikanlah ia”.

Imam Abu Ishak Ibrahim bin Ali bin Yusuf al-Fairuzzabadi al-Syairazi dalam bukunya al-Muhadzdzab fi Fiqh al-Imam as-Syafi’i menyebutkan, “Apabila seorang perempuan benci terhadap suaminya karena penampilannya yang jelek, atau perlakuannya yang kurang baik, sementara ia takut tidak akan bisa memenuhi hak-hak suaminya, maka boleh baginya untuk mengajukan khulu dengan membayar ganti rugi atau tebusan.”

Sementara bagi istri yang menggugat cerai suaminya tanpa alasan maka haram baginya bau surga. Hal ini disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW berikut, “Siapa saja wanita yang meminta (menuntut) cerai kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan maka diharamkan bau surga atas wanita tersebut.”

Selain alasan takut berbuat kufur seperti disebutkan di atas, ada beberapa alasan lain seorang istri diperbolehkan mengajukan khulu atau gugatan cerai. Salah satunya adalah suami melakukan penganiayaan. Penganiayaan ini bisa berupa bisa berupa fisik (pukulan) maupun verbal seperti mencaci dan memaki yang membuat istri menderita.

Alasan lainnya adalah suami tidak menjalankan kewajiban agama. Seorang suami yang tidak pernah menjalankan kewajibannya pada sang istri misalnya  berbuat buruk pada istri, tidak menjalankan perintah agama, berzina, dan selingkuh, maka wajar jika sang istri mengajukan gugatan cerai.

Jika seorang suami tidak memenuhi tugasnya dalam memberikan nafkah sementara ia mampu untuk itu, seorang istri berhak mengajukan gugat cerai. Nafkah bisa berupa materi maupun kebutuhan biologis istri.

Seorang suami yang hilang dan tidak ada kabarnya setelah sekian lama meninggalkan istrinya misalnya untuk mencari nafkah, maka sang istri boleh mengajukan gugatan cerai. Hal ini disebutkan dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Umar ra.

“Bahwasanya telah datang seorang wanita kepadanya yang kehilangan kabar tentang keberadaan suaminya. Lantas Umar berkata, “Tunggulah selama empat tahun.” dan wanita tersebut melakukannya. Kemudian datang lagi (setelah empat tahun). Umar berkata, “Tunggulah (masa idah) selama empat bulan sepuluh hari.” Kemudian wanita tersebut melakukannya. Dan saat datang kembali, Umar berkata, “Siapakah wali dari lelaki (suami) perempuan ini?”, kemudian mereka mendatangkan wali tersebut dan Umar berkata, “ceraikanlah dia”, lalu diceraikannya. Lantas Umar berkata kepada wanita tersebut, “Menikahlah (lagi) dengan laki-laki yang kamu kehendaki.”

Sementara itu, beberapa syarat khulu adalah berstatus cakap hukum, seorang akil baligh. Kemudian, ganti rugi khulu yakni sesuatu yang bisa dijadikan mahar dalam pernikahan. Menurut jumhur ulama, ganti rugi khuluk itu bisa benda apa saja yang dapat dimiliki, baik sifatnya materi maupun manfaat atau piutang.
Wallahu ‘alam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Merias Wajah Pengantin

Bagaimana Islam Mengatur Riasan Pengantin Perempuan?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya. Kmaren sy share materi kajian ttg pake bulu mata palsu trs jd bnyk yg tanya niih. Gimana Islam mengatur ttg riasan pengantin perempuan? pd saat acr walimah/ akad nikah Memakai make up yg sngt tebal dn pasti pake bulu mata palsu. Tdk cuma pengantin tp saudari2 perempuan nya dn ibunya juga dirias spt pengantin. Bagi kita yg sdh faham tentu hal itu mudah ditinggalkan. Tp bagi mrk yg blm faham sngt sulit untuk kita mengingatkan. Terima kasih bnyk ustadz atas jawabannya. A/21

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Seorang wanita diciptakan oleh Allah dalam keadaan memiliki fitrah untuk berdandan, sehingga dihalalkan untuknya sebagian yang tidak dihalalkan untuk laki – laki, seperti: emas dan sutera.

Namun, ada beberapa batasan yang ditetapkan dalam syariat, yang harus diperhatikan seorang wanita ketika berdandan (baik seorang pengantin atau bukan):

1. Tidak menyerupai dandanan khusus wanita kafir dan wanita fasiq (wanita yang buruk agama dan akhlaknya), rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من تشبه بقوم فهو منهم

“Siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk bagian kaum tersebut.”
( HR. Abu dawud: 4031).

2. Tidak menyerupai laki -laki.

Ibnu Abbas berkata:

«لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ»

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.”
( HR. Bukhari : 5885).

3. Tidak menyambung rambut, mencukur alis, mengikir gigi, bertato untuk berdandan.

Abdullah bin mas’ud berkata:

لعن اللَّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ وَالنَّامِصَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّهِ

“Allah melaknat perempuan yang menato dan yang meminta ditato, yang menghilangkan bulu di wajahnya dan yang meminta dihilangkan bulu alisnya, yang merenggangkan giginya, (semua itu) supaya ia terlihat cantik, dengan mengubah ciptaan Allah.”
Serta beliau berkata: mengapa aku tidak melaknat wanita yang dilaknat oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”
( HR. Bukhari : 5948).

4. Tidak menampakkan dandanannya kepada laki – laki yang bukan mahram.

Allah berfirman:

وقل لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ1 أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka….“
(QS. An – Nur : 31).

Itulah aturan syariat dalam dandanan wanita beserta dalil – dalilnya dan seorang wanita yang beriman tidak akan mempertentangkan aturan Allah dengan akalnya, hawa nafsunya atau alasan adat dan sebagainya.
Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Ipar Bukan Mahram

Karena Ipar Bukanlah Mahram

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, pa betul org2 yg jd mahram kita itu boleh lihat aurat kita yg biasa basah krn wudhu? Berarti anggota wudhu boleh dilihat oleh ipar laki2 kita ya ?
Terimakasih banyak. (A/19)

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Untuk orang-orang yang boleh melihat aurat wanita, khususnya aurat mukhafafah (ringan) seperti rambut, leher, tangan sampai pangkal, betis, ini boleh nampak bagi mahram. Dalilnya sebagai berikut:

Allah Ta’ala berfirman:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An Nuur: 31)

Ada pun ipar, dia bukanlah mahram. Maka, tidak dibenarkan menampakkan aurat dihadapannya.

ْعَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِر
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ قَالَ الْحَمْوُ الْمَوْتُ

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Hindarilah oleh kalian masuk ke rumah-rumah wanita!” Lalu seorang Anshar bertanya; ‘Ya, Rasulullah! Bagaimana pendapat Anda tentang Al Hamwu (ipar, keluarga dekat dari suaminya).’ Rasulullah ﷺ menjawab, ‘Bahkan itu kematian (lebih berbahaya).’

(HR. Muslim no. 2172)

Karena ipar bukan mahram, maka boleh menikahi ipar jika seseorang sdh bercerai atau wafat suami/istrinya. Sebagaimana yang dilakukan Utsman Radhiallahu ‘Anhu Saat menikahi dua putri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Awalnya menikahi Ruqayyah, lalu setelah Ruqayyah wafat, Utsman menikahi putri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang lain yaitu Ummu Kultsum.

Demikian. Wallahu a’lam
🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Harta Gono Gini

Harta Gono Gini

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… ingin bertanya. Bagaimana menurut ajaran Islam mengenai harta gono gini pasca bercerai (kondisi laki laki digugat cerai)?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Jika yang menceraikan suami, atas kemauan suami, maka suami mesti memberikan harta yang layak ke istri. Di negeri kita diistilahkan harta gono gini.

Allah Ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدۡنَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيۡنَ أُمَتِّعۡكُنَّ وَأُسَرِّحۡكُنَّ سَرَاحٗا جَمِيلٗا

Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, “Jika kamu menginginkan kehidupan di dunia dan perhiasannya, maka kemarilah agar kuberikan kepadamu mut‘ah (harta) dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.”
(QS. Al-Ahzab, Ayat 28)

Jika cerainya karena gugatan istri (khulu’) maka istrilah yang mesti mengembalikan mahar, atau harta seukuran mahar atau lebih.

Syaikh Muhammad Shalih al Munajjid Hafizhahullah mengatakan:

الخلع فراق الزوجة بعوض ، فيأخذ الزوج عوضاً ويفارق زوجته ، سواء كان هذا العوض هو المهر الذي كان دفعه لها أو أكثر أو أقل

Khulu’ adalah menceraikan istri dengan adanya tebusan, dimana suami mengambil tebusan itu dari istrinya saat menceraikan istrinya. Baik tebusan itu berupa maharnya yg pernah diberikan kepadanya atau lebih banyak, atau lebih sedikit. (Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 26247)

Dalilnya:

ٱلطَّلَٰقُ مَرَّتَانِۖ فَإِمۡسَاكُۢ بِمَعۡرُوفٍ أَوۡ تَسۡرِيحُۢ بِإِحۡسَٰنٖۗ وَلَا يَحِلُّ لَكُمۡ أَن تَأۡخُذُواْ مِمَّآ ءَاتَيۡتُمُوهُنَّ شَيۡـًٔا إِلَّآ أَن يَخَافَآ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ ٱللَّهِۖ فَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ ٱللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡهِمَا فِيمَا ٱفۡتَدَتۡ بِهِۦۗ تِلۡكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلَا تَعۡتَدُوهَاۚ وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ ٱللَّهِ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali. (Setelah itu suami dapat) menahan dengan baik, atau melepaskan dengan baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali keduanya (suami dan istri) khawatir tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu (wali) khawatir bahwa keduanya tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah, maka keduanya tidak berdosa atas bayaran yang (harus) diberikan (oleh istri) untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang zhalim.
(QS. Al-Baqarah, Ayat 229)

Dalil hadits:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
أَنَّ امْرَأَةَ ثَابِتِ بْنِ قَيْسٍ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ مَا أَعْتِبُ عَلَيْهِ فِي خُلُقٍ وَلَا دِينٍ وَلَكِنِّي أَكْرَهُ الْكُفْرَ فِي الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْبَلْ الْحَدِيقَةَ وَطَلِّقْهَا تَطْلِيقَةً

Dari Ibnu Abbas bahwasanya; Isteri Tsabit bin Qais datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, tidaklah aku mencela Tsabit bin Qais atas agama atau pun akhlaknya, akan tetapi aku khawatir kekufuran dalam Islam.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apakah kamu mau mengembalikan kebun miliknya itu?” Ia menjawab, “Ya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (kepada suaminya): “Terimalah kebun itu, dan ceraikanlah ia dengan talak satu.”
(HR. Bukhari no. 5273)

Kisah di atas menunjukkan:
– Tuntutan cerai datangnya dari istri
– Istri diminta memulangkan mahar
– Lalu, Suami menceraikannya

Hanya saja para ulama berbeda pendapat apakah boleh minta lebih dari mahar atau tidak. Jumhur ulama mengatakan lebih dari mahar, seperti Hanafiyah, Malikiyah, dan Syafi’iyah. Sementara Hambaliyah mengatakan setara dengan mahar saja.

Demikian. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Hidup dan Mati Adalah Ujian

Mendampingi Orang Yang Sedang Sakaratul Maut

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya. Ibu kami sudah ngedrop kondisinya, sy perhatikan lidahnya sdh agak masuk tdk seperti biasa, sdh cadel, …bacaan/ doa apa yg harus kami baca… ( Bbrp hari ini kami baca surat yassin, ar ro’d, ( surat 13), al mulk, al ma’tsurat kubro, dan sdh meracau… ).. Sdh dituntun kalimat2 thoyyibah, istighfar dan syahadah…. A/44

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Jika kondisinya sudah sakaratul maut, Lanjutkan saja dengan talqin laa ilaaha illalah (HR. Muslim) , secara lirih dan berikan jeda..

Sunnah pula membaca Yasin, menurut mayoritas ulama berdasarkan hadits Ma’qil bin Yassar.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678