Kenikmatan Waktu Luang dan Sehat

Keutamaan Amalan Dibulan Dzulqo’dah

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… saya mau bertanya, Apa keutamaan amalan dibulan Dzulqo’dah.dan bagaimana menjaga spirit diluar Ramadhan agar tetap bisa seperti Ramadhan?A_04

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Slamet Setiawan, S,HI

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Dzulqadah adalah bulan ke sebelas dalam Tahun Hijriyah dan salah satu dari empat bulan yang dimuliakan Allah SWT, yaitu Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab,  sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS at-Taubah: 36)

Dzulqadah berasal dari bahasa Arab  ذُو القَعْدَة (dzul-qa’dah). Dalam kamus al-Ma’ānī kata dzū artinya pemilik, namun jika digandengkan dengan kata lain akan mempunyai makna tersendiri, misalnya dzū mālin (orang kaya), dzū ‘usrah (orang susah).

Kata “qa’dah” adalah derivasi dari kata “qa’ada”, salah satu artinya tempat yang diduduki. Sehingga Dzulqadah secara etimologi orang yang memiliki tempat duduk, dalam pengertian orang itu tidak bepergian kemana-mana ia banyak duduk (di kursi). Dari kata “qa’ada” ini bisa berkembang beberapa bentuk dan pemaknaan, antara lain taqā’ud artinya pensiun, konotasinya orang yang sudah purna tugas akan berkurang pekerjaannya sehingga dia akan banyak duduk (di kursi).
Dalam Lisānul ‘Arab disebutkan, bahwa bulan ke-11 ini dinamai Dzulqadah, karena pada bulan itu orang Arab tidak bepergian, tidak mencari pakan ternak, dan tidak melakukan peperangan. Hal itu dilakukan guna menghormati dan mengagunggkan bulan itu. Sehingga seluruh jazirah Arab pada bulan tersebut dipenuhi ketenangan. Dan ada lagi yang mengatakan bahwa mereka tidak bepergiaan itu karena untuk persiapan ibadah haji.

Keistimewaan :

1. Menurut Mazhab Syafii, barang siapa berbuat kebaikan di bulan-bulan suci, maka pahalanya dilipatgandakan, dan barang siapa berbuat kejelekan di bulan-bulan tersebut, maka dosanya dilipatgandaakan pula. Di samping itu,  pembayaran diyat yang diberikan kepada keluarga terbunuh di bulan-bulan suci harus diperberat.

2. Al-Thabari, sewaktu menafsirkan al-Taubah: 36, dia berpendapat bahwa kata ganti  fī hinna  di ayat itu  kembali ke bulan-bulan suci, dan dia menyebutkan dalil-dalil untuk memperkuat pendapatnya ini. Jika dikatakan bahwa pendapat ini berarti membolehkan untuk berbuat zalim di selain empat bulan suci itu, sudah barang tentu pendapat itu tidak benar, karena perbuatan zalim itu diharamkan kepada kita di setiap waktu dan di setiap tempat. Hanya saja Allah SWT sangat menekankan keempat bulan tersebut karena kemuliaan bulan itu sendiri, sehingga ada penekanan secara khusus kepada orang yang bebuat dosa pada bulan-bulan itu, sebagaimana ada penekanan secara khusus  kepada orang-orang yang memuliakannya.

Sebagai padanannya firman Allah SWT:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى

“Peliharalah semua sholat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa.” (QS al-Baqarah: 238).

Tidak diragukan lagi bahwasanya Allah SWT memerintah kita untuk memelihara (melaksanakan) seluruh shalat-shalat fardlu dan tidak berubah menjadi boleh meninggalkan shalat-shalat itu dikarenakan ada perintah untuk memelihara shalat wustha. Karena perintah memelihara shalat wustha di sana untuk penekanan agar diperhatikan jangan sampai ditinggalkannya.

Demikian halnya larangan berbuat zhalim pada keempat bulan suci dalam QS at-Taubah: 36

3. Bulan Dzulqadah termasuk bulan-bulan haji, sebagaimana firman-Nya:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi.” (QS Al-Baqarah: 197)

Menurut Ibn Umar RA yang dimaksud bulan-bulan haji itu adalah: Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Menurut Ibnu Abbas RA diantara sunnah Rasulullah SAW adalah melaksanakan ihram haji hanya pada bulan-bulan haji tersebut.

4. Rasulullah SAW melaksanakan ibadah Umrah empat kali, tiga kali diantaranya dilaksanakan pada bulan Dzulqadah dan sekali bersama ibadah haji di bulan Dzulhijjah.

قَالَ أَنَسٌ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ-: “اعْتَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَرْبَعَ عُمَرٍ، كُلَّهُنَّ فِي ذِي القَعْدَةِ، إِلَّا الَّتِي كَانَتْ مَعَ حَجَّتِهِ: عُمْرَةً مِنَ الحُدَيْبِيَةِ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ العَامِ المُقْبِلِ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ الجِعْرَانَةِ، حَيْثُ قَسَمَ غَنَائِمَ حُنَيْنٍ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مَعَ حَجَّتِهِ” متفق عليه

Anas RA berkata: “Rasulullah SAW melaksanakan ibadah umrah empat kali, semuanya dilaksanakan padan bulan Dzulqadah, kecuali umrah yang dilaksanakan bersama ibadah Haji, yaitu umrah dari al-Hudaibiyah di bulan Dzulqadah, umrah tahun berikutnya di bulan Dzulqadah, umrah dari Ji’ranah sambil membagikan ghanimah perang Hunain di bulan Dzulqadah, dan umrah sekalian melaksanakan ibadah haji (di bulan Dzulhijjah).” (HR al-Bukhari/ 1654 dan Muslim/ 1253).

5. Keistimewaan lainnya dari bulan Dzulqadah,  Allah SWT berjanji untuk berbicara kepada Nabi Musa as selama tiga puluh malam di bulan Dzulqadah, ditambah sepuluh malam di awal bulan Dzulhijjah, sebagaimana firman Allah SWT:

وَوَٰعَدْنَا مُوسَىٰ ثَلَٰثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَٰهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَٰتُ رَبِّهِۦٓ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi).” (QS Al-A’raf: 142).

Mayoritas ahli tafsir mengatakan bahwa, “Tiga puluh malam itu adalah di bulan Dzulqadah, sedangkan yang sepuluh malam adalah di bulan Dzulhijjah.” (Tafsir Ibni Katsir II/244)

Menjaga Spirit Ramadhan

Setelah melewati bulan suci Ramadhan, kita memasuki bulan Syawal yang penuh dengan sukacita kemenangan di hari yang fitri. Walau sudah tidak berada dalam bulan Ramadhan, sebagai umat Muslim wajib untuk tetap istiqamah dan bersemangat untuk beribadah kepada Allah Swt agar terus memperoleh keberkahan dan pahala yang berlimpah.

Berikut beberapa tips mudah untuk menjaga semangat beribadah setelah Ramadhan:

1. Istiqamah melakukan hal baik

Dari ’Aisyah, Nabi SAW bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّ

”Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang rutin walaupun sedikit.” HR. Muslim no. 782

Melakukan ibadah apapun merupakan sesuatu hal baik yang tentunya disukai oleh Allah SWT. Perbuatan baik tidak perlu dengan bentuk yang besar, mulai dari hal kecil seperti memberikan bantuan sedikit rezeki kepada orang yang tidak mampu dan lain lain.

2. Membiasakan berpuasa sunah

Puasa sunnah merupakan salah satu amalan yang dianjurkan dilaksanakan pada bulan bulan setelah bulan Ramadhan. Seperti puasa ayyamul bid, puasa senin/kamis, puasa arafah, puasa asyura, puasa sya’ban atau puasa daud.

Nabi SAW menyebutkan keutamaan puasa sunnah sebagai berikut: “Maukah kutunjukkan padamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai,…” (HR. Tirmidzi).

3. Membaca Al-Quran setiap hari

Rutinitas membaca Al-Quran di bulan Ramadhan bisa menjadi cara tetap bersemangat untuk selalu beribadah kepada Allah. Meskipun intensitas membaca Al-Quran akan berbeda setelah Ramadhan, numan dengan selalu konsisten membaca satu halaman perhari akan lebih mudah. Selain itu, membaca Al-Quran setiap hari akan mendatangkan kebaikan.

عَنْ عَائِشَةَ رضى الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

“Aisyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Seorang yang lancar membaca Al Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah, adapun yang membaca Al Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut maka baginya dua pahala” (HR. Muslim).

4. Bersilaturahim

Bersilahturahim merupakan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Saat seorang muslim akan panjanglah umurnya dan lapang rejekinya. Selain itu, silaturahmi  ini juga memiliki nilai amalan pahala yang besar. Seperti dalam hadis berikut, Rasulullah SAW bersabda :

“Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturahim,” (HR. Bukhari – Muslim).

Kegiatan bersilaturahim tentu mudah untuk dilakukan agar tetap bersemangat dalam menjalankan ibadah lainnya. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Ciri Penghuni Surga

Memaafkan, Salah Satu Ciri Penghuni Surga

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, apa yang sebaiknya kita lakukan jika ada orang yg menghujat dan memfitnah kita. Kemudian orang itu melakukan pendekatan seolah perbuatan yang sudah dilakukannya tidak pernah terjadi. Sedangkan bagi hati yg sudah dilukai masih merasa sakit dan tidak mudah melupakannya. Salahkah jika orang yg tersakiti tersebut mau memaafkan bila sang pelaku sudah meminta maaf?
Terima kasih. A/10

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Memaafkan itu bukan perbuatan salah, justru itu perbuatan mulia yg mengantarkan pelakunya ke surga. Memaafkan itu memang berat, dan kadang itu menjadi ujian bagi orang posisinya benar.

Ciri-ciri penghuni surga, Allah Ta’ala ceritakan dalam Al Quran:

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan,

-Surat Ali ‘Imran, Ayat 134

Dalam ayat lainnya:

ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ ٱلسَّيِّئَةَۚ نَحۡنُ أَعۡلَمُ بِمَا يَصِفُونَ

Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan (cara) yang lebih baik, Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan (kepada Allah).

(QS. Al-Mu’minun, Ayat 96)

Demikian. Wallahu A’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Wasiat Harta

Judul: Wasiat Harta

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… mau bertanya. Apa perbedaan seseorang berwasiat harta dengan memberikan hadiah?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Syaikh K.H. Muhammad Muhajirin Amsaar Bakasiy Rahimahullah -seorang ulama Nusantara, berasal dari Bekasi- dia berkata dalam Syarahnya terhadap kitab Bulughul Maram:

و الوصية بالمال هي التبرع بعد الموت و اما التبرع فى الحياة فانه هبة أو صدقة أو هدية فلا تنفيذ الوصية الا بعد الموت

Wasiat dengan harta adalah pemberian yang dilakukan setelah kematian. Sedangkan pemberian pada saat masih hidup itu adalah hibah, sedekah, dan hadiah. Maka, wasiat tidak bisa dilaksanakan kecuali setelah kematian.

(Mishbahuzh Zhalam Syarh Bulugh Al Maram, Jilid. 3, Hal. 13. 2914M-1435H. Darul Hadits. Jakarta)

Syariat Islam menganjurkan umatnya menuliskan wasiat, sebagaimana hadits berikut:

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ما حقُّ امِرئٍ مسلمٍ ، له شيءُ يُوصي فيه ، يَبِيتُ ليلتين إلا ووصيتُه مكتوبةٌ عندَه

Tidak ada hak bagi seorang muslim yang memiliki sesuatu yang bisa diwasiatkan, dia bermalam selama dua malam, melainkan wasiatnya sudah tertulis disisinya. (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Ini menunjukkan anjuran kuat bagi seorang muslim untuk melakukannya. Syaikh K.H. Muhammad Muhajirin Amsaar Rahimahullah berkata:

قال النووى فى شرح مسلم : فيه الحث على الوصية، قد اجمع على الامر بها، لكن مذهبنا و مذهب الجماهير انها مندوبة لا واجبة، و قال داود و غيره من اهل الظاهر: هي واجبة لهذا الحديث و لا دلالة لهم فيه، فليس فيه تصريح بإيجابها لكن ان كان على الإنسان دين أو حق أو عنده وديعة أو نحوه لزمه إيصاء بذلك

Imam An Nawawi berkata dalam Syarh Muslim: “Pada hadits ini terdapat dorongan untuk membuat wasiat. Telah terjadi ijma’ atas perintah membuatnya. Tetapi madzhab kami dan juga madzhab mayoritas ulama berpendapat bahwa hal itu sunah bukan wajib. Sedangkan Daud dan selainnya, dari golongan tekstualist (Ahluzh Zhahir), berpendapat wajib berwasiat berdasarkan hadits ini. Hadits ini bukankah alasan bagi mereka.

Di dalam hadits ini tidak ada keterangan yang menunjukkan wajibnya. Tetapi, jika manusia memiliki hutang, atau hak, atau dia memiliki harta wadi’ah (titipan), atau yang semisalnya, maka dia mesti/wajib berwasiat karena hal ini. (Mishbahuzh Zhalam, Ibid)

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Suami Adalah Pemimpin

Meninggalkan Suami Untuk Mengurus Ibu

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, selama ini Ibu biasa tinggal sendiri dikampung,anak2nya tinggal jauh ada yg di luar pulau dan di luar daerah.
Selama ini Ibu msh kuat mengurus dirinya sendiri.tetapi kami khawatir dg kesehatannya akhir2 ini, krn usia yg sdh sepuh.
Tidak ada saudara yg tinggal dekat dengannya. anak2nya, semua punya tanggungan pekerjaan dan keluarga yg sebagian besar masih pnya anak2 kecil.
Ibu di boyong disalah satu anaknya belum berkenan.
Akhirnya kami memutuskan untuk bergilir mengunjungi dan menemani Ibu,meskipun harus dg perjalanan jauh.
Bagi anak perempuan,berapa lama diperkenankan meninggalkan suami untuk mengurus Ibunya?
Terima kasih untuk pencerahannya Ustad/Ustazah. A/19
🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillahirrahmanirrahim..

Tidak ada ketentuan khusus berapa lama istri boleh menemani ibunya di rumah, dengan meninggalkan sementara suaminya. Hal ini tergantung izin dan keridhaan suami, berapa lama dia izinkan. Asalkan saat kepergiannya wanita tersebut ditemani suaminya, atau mahramnya, atau orang yang bisa dipercaya. Ini semua tidak masalah, Insya Allah ketaatan kepada suami tetap terjaga dan berbakti kepada ibu juga tetap terlaksana.

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Wali Nikah

Nikah Tanpa Wali Ayah

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, apakah jika janda menikah, wali merupakan syarat sahnya nikah? Bagaimana kalau janda nikah tanpa wali ayahnya dengan alasan tidak dapat restu dari ayahnya, apakah nikahnya sah?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadzah Herlini Amran, MA.

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Salah satu dari rukun nikah adalah adanya Wali, baik bagi seorang gadis ataupun pernikahan seorang janda.

لاَ نِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيٍّ

“Tidak sah nikah kecuali dengan keberadaan wali.” (HR. Abu Daud).

Namun bagi para janda, mereka berhak atas dirinya dalam arti orang tua atau wali tidak berhak menghalanginya untuk menikah dengan pria manapun.

وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ

“Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis ‘iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya.” (Al-Baqarah/2: 232).

Dari Ibnu Abbas r.a. ia berkata, Nabi SAW bersabda: “Perempuan janda lebih berhak terhadap dirinya daripada walinya. Anak gadis diminta pertimbangannya dan izinnya adalah diamnya.”

Bahkan wanita manapun (baik masih gadis ataupun sudah janda) pernikahannya dianggap tidak sah bila menikah tanpa sepengetahuan walinya (orangtuanya).

أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَإِنْ دَخَلَ بِهَا فَلَهَا الْمَهْرُ بِمَا اسْتَحَلَّ مِنْ فَرْجِهَا، وَإِنِ اشْتَجَرُوْا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لاَ وَلِيَّ لَهَا

“Wanita manapun yang menikah tanpa seizin walinya, maka pernikahannya bathil, pernikahannya bathil, pernikahannya bathil. Jika seseorang menggaulinya, maka wanita itu berhak mendapatkan mahar, sehingga ia dihalalkan terhadap kemaluannya. Jika mereka terlunta-lunta (tidak mempunyai wali), maka penguasa adalah wali bagi siapa (wanita) yang tidak mempunyai wali.” (HR. At Tirmizi).

Pengecualian disini apabila janda tersebut sudah minta izin walinya untuk menikah dengan laki-laki pilihannya, namun orangtuanya tidak merestuinya, maka dia bisa meminta wali hakim untuk menikahkannya (tentu saja sepengetahuan wali/orang tuanya), bukan menikah diam-diam.
Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Memelihara Kehormatan

Hukum Mendegarkan Ghibah

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, kita tidak pernah memilih dan tidak bisa menduga orang bercerita apa pada kita. Suatu ketika X menceritakan keburukan Y pada Z. X tau Y dan Z berteman baik. Z hanya mendengarkan apa yang disampaikan X, meski dalam hati Z juga tidak suka mendengar cerita buruk seseorang dan juga tahu bahwa Z sendiri juga mgkn memiliki kekurangan yg sama spt itu. Sedang Z sebagai teman Y juga tidak berani menyampaikan masukan X krn tipikal Y cepat emosi, sensitif dan baperan.
a. Apa yang harus dilakukan Z utk menghargai X dan Y? karena berada pada posisi itu.
b. Perlukah Z meminta maaf pada Y?
Apakah ini termasuk ghibah? dan apakah Z yg mendengar juga melakukan ghibah? A/34

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillahirrahmanirrahim..

Jika memang berteman baik, maka sangat aneh menggunjing kejelekan teman sendiri. Seharusnya saling menutupi kekurangan, jika memang mengaku berteman.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Siapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah Ta’ala akan tutup aibnya pada hari kiamat nanti. (HR. Muslim no.2580)

Apa yang diceritakan di atas adalah ghibah, jika yang diceritakan oleh X adalah hal negatif tentang Y yang tidak disukai oleh Y jika dia tahu itu diceritakan.

Tentang definisi ghibah, telah diceritakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri dalam salah satu haditsnya.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu:

أَنَّهُ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْغِيبَةُ قَالَ « ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ». قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ « إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ بَهَتَّهُ »

Bahwasanya ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ : “Wahai Rasulullah, Apakah ghibah itu?” Beliau bersabda: “Kamu menceritakan tentang saudaramu apa-apa yang dia tidak suka.”

Ditanyakan lagi: “Apa pendapatmu jika pada saudaraku memang seperti yang aku katakan.”

Beliau bersabda: “Jika apa yang kamu katakan memang ada, maka kamu telah menghibahinya. Jika apa yang kamu katakan tidak ada padanya, maka kamu telah melakukan buhtan (kebohongan keji).” (HR. Muslim No. 2589)

Maka, yang perlu dilakukan oleh Z atau siapa pun yang mendengar saudaranya sedang melakukan ghibah, atau dighibahi, hendaknya dia menasihatinya, jika tidak mampu minimal mengalihkan ke pembicaraan lainnya.

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah berkata:

واعلم : أن المستمع للغيبة شريك فيها، ولا يتخلص من إثم سماعها إلا أن ينكر بلسانه، فإن خاف فبقلبه وإن قدر على القيام، أو قطع الكلام بكلام آخر، لزمه ذلك . وقد روى عن النبى صلى الله عليه وآله وسلم أنه قال : من أذل عنده مؤمن وهو يقدر أن ينصره أذله الله عز وجل على رؤوس الخلائق ” وقال صلى الله عليه وآله وسلم : ” من حمى مؤمناً من منافق يعيبه، بعث الله ملكاً يحمى لحمه يوم القيامة من نار جهنم ” ورأى عمر بن عتبة مولاه مع رجل وهو يقع في آخر، فقال له : ويلك نزه سمعك عن استماع الخنا كما تنزه نفسك عن القول به، فالمستمع شريك القائل، إنما نظر إلى شر ما في وعائه فأفرغه في وعائك

Ketahuilah, bahwasanya menjadi pendengar ghibah sama juga terlibat dalam ghibah. Dia tidak akan lepas dari dosa mendengarkannya kecuali jika dia mengingkari dengan lisannya, jika dia takut minimal ingkari dengan hatinya. Jika dia mampu meluruskan atau memutuskan pembicaraan ke pembicaraan lain maka lakukanlah itu.

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa Beliau bersabda: “Barang siapa yang dihadapannya ada seorang mu’min direndahkan, padahal dia mampu membelanya, maka Allah akan rendahkan dia dihadapan para makhluk.”

Dalam hadits lain: “Barang siapa yang melindungi seorang mu’min dari munafiq yang menggunjingnya maka Allah akan utus malaikat untuk menjaga dagingnya dari sengatan neraka Jahanam pada hari kiamat.”

Umar bin Utbah melihat pelayannya sedang bersama seseorang yang sedang menggunjing orang lain. Beliau berkata:

“Celaka kamu, jagalah telingamu dan jangan dengarkan pembicaraan yang kotor, sebagaimana kamu menjaga lisanmu dari pembicaraan kotor, karena orang yang mendengarkan adalah sekutu bagi orang yang membicarakan. Dia melihat sesuatu yang buruk ada di bejananya lalu menuangkan keburukan itu ke bejanamu.”

(Mukhtashar Minhajul Qashidin, Ar Rub’uts Tsaalits, Hal. 30-31)

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Mempermudah dalam Muamalah

Memanfaatkan Barang Gadai

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, untuk barang gadai bisa di gunakan untuk perputaran modal ndak?

Kita ada program buka gadai LM Antam, tanpa biaya administrasi, biaya sewa dan bebas margin.

Kita hanya ambil margin dari perputaran LM Antam yang digadai itu
Jazaakallohu Ustadz 🙏 I/13

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillahirrahmanirrahim..

Dalam akad gadai (Ar Rahn), ada istilah-istilah yang mesti dipahami dulu.

Rahin yaitu orang yang menggadaikan barang, dan dia memperoleh “sesuatu” setelah dia menggadaikan barang tsb.

Murtahin yaitu pihak yg memberikan “sesuatu”, lalu dia yang memegang barang yang digadaikan.

Marhun yaitu barang yang digadaikan.

Permasalahan tentang apakah boleh murtahin memanfaatkan marhun (brg gadaian), sangat sering ditanyakan. Dalam hal ini para ulama merincinya menjadi dua bagian.

📌Pertama. Jika akadnya qardh (pinjaman). Misal, seorang minjam uang 1jt rupiah, dengan menggadaikan sebuah Hand Phone ke kawannya. Lalu, kawannya memakai HP tsb. Tau dia gadaikan laptop, lalu laptopnya dipakai si murtahin.

Ini haram menurut mayoritas ulama (bahkan Imam Ibnu Qudamah mengatakan tidak ada beda pendapat keharamannya), baik dia diizinkan atau tidak oleh pemiliknya, sebab saat dia memakainya maka dia mendapatkan riba. Sebab, dia dapat dua hal: piutang, yg akan dilunaskan untuknya, dan pemakaian tersebut yg merupakan ribanya.

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata:

عقد الرهن عقد يقصد به الاستيثاق وضمان الدين وليس المقصود منه الاستثمار والربح، وما دام ذلك كذلك فإنه لا يحل للمرتهن أن ينتفع بالعين المرهونة، ولو أذن له الراهن، لانه قرض جر نفعا، وكل قرض جر نفعا فهو ربا

Akad gadai adalah akad yg dengannya bermaksud untuk menjaga dan menjamin hutang, bukan untuk mengambil keuntungan dan hasil, *selama akadnya seperti itu maka dilarang si pemberi pinjaman memanfaatkan harta gadaian, walaun diizinkan oleh penggadai, karena itu menjadi pinjaman yang membuahkan untung, maka setiap untung didapatkan dari pinjaman maka itu riba.

(Fiqhus Sunnah, 3/156)

Syaikh Muhammad Shalih al Munajjid Rahimahullah mengatakan:

فإذا أذن الراهن للمرتهن بالانتفاع : فإن كان الدين دين قرض لم يجز للمرتهن الانتفاع بالرهن ، وإن أذن الراهن ؛ لأنه قرض جر نفعا فهو ربا

Jika pihak rahin mengizinkan murtahin memanfaatkannya, dan akadnya adalah hutang pinjaman maka tidak boleh bagi pihak murtahin memanfaatkannya walau itu diizinkan rahin. Sebab, pinjaman yang mendatangkan manfaatkan maka itu riba. (Al Islam Su’aalw a Jawaab no. 39734)

Imam al Baihaqi Rahimahullah -ulama hadits bermadzhab Syafi’i- mengatakan:

روينا عن فضالة بن عبيد ، أنه قال : كل قرض جر منفعة فهو وجه من وجوه الربا . وروينا عن ابن مسعود ، وابن عباس ، وعبد الله بن سلام ، وغيرهم في معناه ، وروي عن عمر ، وأبي بن كعب ، رضي الله عنهما

Kami meriwayatkan dari Fadhalah bin ‘Ubaid, bahwa dia berkata: “Setiap pinjaman yang memunculkan manfaat maka itu salah satu jenis dari berbagai jenis riba.” Kami meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Abdullah bin Salam, dan selain mereka dengan makna yang sama. Diriwayatkan juga dari Umar dan Ubay bin Ka’ad Radhiallahu ‘Anhuma. (as Sunan ash Shaghir, no. 1971)

Sedangkan jika tidak diizinkan pemiliknya, maka lebih besar lagi dosanya. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. (QS. An Nisa: 29)

Dalam hadits:

كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ : دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

Setiap muslim atas mulim lainnya adalah HARAM baik terhadap darahnya, hartanya, dan kehormatannya. (HR. Muslim no. 2564)

📌 Kedua. Jika akadnya jual beli. Misal, seorang beli motor, tapi uangnya kurang. Kekurangan itu akan di bayar misalnya selama 6 bulan secara cicil, selama cicilan tersebut si pembeli menggadaikan laptopnya ke penjual motor, lalu laptop itu dipakai oleh penjual motor tsb.

Jenis ini dibolehkan, jika diizinkan oleh pemilik barang gadainya. Ini bukan riba. Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah mengatakan:

وَإِنْ كَانَ الرَّهْنُ بِثَمَنِ مَبِيعٍ , أَوْ أَجْرِ دَارٍ , أَوْ دَيْنٍ غَيْرِ الْقَرْضِ , فَأَذِنَ لَهُ الرَّاهِنُ فِي الِانْتِفَاعِ , جَازَ ذَلِكَ

Jika gadai itu untuk menjamin harga dari transaksi jual beli, atau onkos sewa rumah, atau hutang yang bukan akad pinjaman, lalu diizinkan oleh rahin (pemilik barang gadai) untuk memanfaatkannya, maka hal itu dibolehkan. (Al Mughni, 4/250)

Tertulis dalam Al Mudawanah:

قُلْتُ: أَرَأَيْتَ الْمُرْتَهِنَ، هَلْ يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَشْتَرِطَ شَيْئًا مِنْ مَنْفَعَةِ الرَّهْنِ؟ قَالَ: إنْ كَانَ مِنْ بَيْعٍ فَذَلِكَ جَائِزٌ، وَإِنْ كَانَ الدَّيْنُ مِنْ قَرْضٍ فَلَا يَجُوزُ ذَلِكَ؛ لِأَنَّهُ يَصِيرُ سَلَفًا جَرَّ مَنْفَعَةً. قُلْتُ: وَهَذَا قَوْلُ مَالِكٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، إلَّا أَنَّ مَالِكًا قَالَ لِي: إذَا بَاعَهُ وَارْتَهَنَ رَهْنًا وَاشْتَرَطَ مَنْفَعَةَ الرَّهْنِ إلَى أَجَلٍ، قَالَ مَالِكٌ: لَا أَرَى بِهِ بَأْسًا فِي الدُّورِ وَالْأَرْضِينَ

Aku berkata: “Apa pendapat Anda tentang murtahin yang mensyaratkan akan memanfaatkan barang gadaian, apakah itu dibolehkan?” Beliau menjawab: “Jika itu berasal dari akad jual beli, maka boleh. Jika itu dari hutang pinjaman maka tidak boleh, sebab itu termasuk pinjaman yang mendatangkan manfaat (bagi yang memberikan pinjaman, riba). Aku berkata: “Apakah ini pendapat Malik?” Dia menjawab: “Ya, hanya saja Malik berkata kepadaku: “Jika seseorang menjual sesuatu dan ada yang digadaikan dan mensyaratkan memanfaatkan barang gadaian sampai batas waktu pembayaran, Malik berkata: “Menurutku tidak apa-apa baik dalam jual beli rumah dan tanah.” (Al Mudawanah, 4/149)

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Tidur Pagi Menghalangi Rezeki

Benarkah Jika Istri Bekerja Maka Rezeki Suami Jadi Berkurang?

Pertanyaan

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, apa benar rezeki istri itu ada di suami sehingga istri tak perlu bekerja? Karena kalau istri bekerja maka rezeki suami akan berkurang yg mana rezeki istri sudah Allah berikan langsung melalui istrinya yg bekerja. Sehingga kalau mau rezeki suami bertambah istri tdk perlu bekerja. Apa benar bgitu Ust? Mohon pencerahannya Ust, jazakumullah khair🙏. A/01

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillahirrahmanirrahim..

Konsep rezeki itu jelas, semua hamba telah dijamin rezekinya. Rezeki suami tidak ada istilah “berkurang” gara-gara istri bekerja. Karena masing-masing sudah Allah Ta’ala haknya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا مِن دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا وَيَعۡلَمُ مُسۡتَقَرَّهَا وَمُسۡتَوۡدَعَهَاۚ كُلّٞ فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ

Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

(QS. Hud, Ayat 6)

Dalam hadits:

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ

‘Sesungguhnya seorang manusia mulai diciptakan dalam perut ibunya setelah diproses selama empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal daging pada empat puluh hari berikutnya. Lalu menjadi segumpal daging pada empat puluh hari berikutnya. Setelah empat puluh hari berikutnya, Allah pun mengutus seorang malaikat untuk menghembuskan ruh ke dalam dirinya dan diperintahkan untuk menulis empat hal; rezekinya, ajalnya, amalnya, dan sengsara atau bahagianya.’

(HR. Muslim no. 2643)

Lalu, rezeki juga tidak bermakna uang atau benda. Tapi juga kesehatan, anak yang shalih, suami/istri yg shalihah, tetangga yang baik, diringankannya masalah hidup, dimudahkan untuk ibadah, dan semua hal yang kebaikannya bisa kita rasakan. Memahami bahwa rezeki hanya pada penghasilan dan harta, inilah yang paling sering membuat manusia sulit bersyukur.

Kemudian, untuk istri yang bekerja, ini harus dirinci dulu baik dari sisi motivasi dan jenis pekerjaannya. Dari sisi motivasi, istri bekerja bukanlah utk menjadi penanggung nafkah, sebab nafkah adalah kewajiban suami. Sekaya apa pun istri, suami tetap wajib nafkah, kewajiban itu tidak hilang karena istrinya kaya, dan ini telah menjadi kesepakatan para fuqaha. Istri bekerja adalah untuk aktualisasi diri, dan sekadar membantu suami jika memang itu diperlukan, sekaligus antisipasi dan belajar mandiri jikalau suami wafat muda sementara anak-anak masih butuh biaya. Sehingga tidak menjadi beban bagi orang lain.

Dari sisi jenis, hendaknya pekerjaan yang halal, tetap menjaga adab pergaulan, menjaga adab berpakaian, dan izin suami. Jika mampu pekerjaan yang bisa dikerjakan di rumah, sebab pada aslinya wanita itu memang di rumah dan itu adalah jihad baginya.

Dalam sebuah riwayat:

عَنْ أَنَسٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: جِئْنَ النِّسَاءُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ذَهَبَ الرِّجَالُ بِالْفَضْلِ وَالْجِهَادِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ تَعَالَى، فَمَا لَنَا عَمَلٌ نُدْرِكُ بِهِ عَمَلَ الْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَنْ قَعَدَ -أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا -مِنْكُنَّ فِي بَيْتِهَا فَإِنَّهَا تُدْرِكُ عَمَلَ الْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ”

Anas bin Malik bercerita bahwa kaum wanita mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam: _”Wahai Rasulullah, kaum laki-laki memiliki keutamaan dengan jihad fisabilillah, lalu bagaimana kami mendapatkan nilai jihad fisabilillah?”_ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: _”Siapa di antara kalian yang berdiam di rumahnya – atau yang seperti itu- maka itu setara dengan amalnya para mujahidin fisabilillah.”_

(Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 6/409)

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Dzikrullah

Perbedaan Al Ma’tsurat Hasan Al Banna dan Hisnul Muslim

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, do’a pqgi dan petang atau Al Ma’tsurat yg prnh sy baca ada bbrp versi..Ada yg dr Imam Hasan Al Banna dan ada yg dr Hisnul Muslim..

Yg ingin sy tnya kan,,apakah kedua al ma’tsurat tsb sm atau kah ada perbedaannya.
Dan yg lbh utama yg sesuai d ajarkan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam itu yg mana?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Al Ma’tsurat disusun oleh Imam Hasan al Banna, di kitab aslinya jauh lebih tebal dan lengkap dibanding yg beredar dipasaran atau di aplikasi2.. Isinya rata2 shahih, ada bbrp yg dha’if

Hishnul Muslim, disusun oleh Syaikh Sa’id Wahf al Qahthani, isinya lebih tipis dibanding al Ma’tsurat. Rata-rata juga shahih, hanya sedikit saja yang diperselisihkan keshahihannya.

Keduanya sama-sama bagus utk dibaca, hanya saja aktivis Islam dan banyak org lebih mengenal al Ma’tsurat, krn mungkin sudah ada sejak tahun 1930-40an.. Sdgkan Hishnul Muslim baru di susun tahun 2000an..

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Qashar

Jarak Safar yang Membolehkan Qashar, Betulkah Tidak Ada Ketentuan Baku?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… mau bertanya, bagaimana menurut ustad pendapat tentang batas jarak dibolehkannya sholat jamak oleh 4 Mazhab namun diselesihi oleh pendapat Ibnu Taimiyah dan Ibnu qoyyim yang hanya mensyaratkan safar saja dan tidak menentukan jarak?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Masalah ini
memang beragam pendapat…

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata:

وقد نقل ابن المنذر وغيره في هذه المسألة أكثر من عشرين قولا

Imam Ibnul Mundizr dan lainnya telah menukilkan bahwa ada lebih dari dua puluh pendapat tentang masalah ini (jarak dibolehkannya qashar). (Fiqhus Sunnah, 1/284)

Perbedaan ini terjadi karena memang tak ada satupun hadits dari Rasulullah ﷺ yang menyebutkan jarak secara jelas dan tegas. Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah, “Tidak ada sebuah hadits pun yang menyebutkan jarak jauh atau dekatnya bepergian itu.” (Fiqhus Sunnah, 1/239)

Secara umum memang ada dua pandangan mainstream:

Pendapat pertama. Empat burud, yaitu sekitar 88,656km

Ini pendapat jumhur ulama:
– Golongan Malikiyah (Imam ad Dasuqi dalam Hasyiyah ad Dasuqi, 1 /359)
– Syafi’iyyah (Imam an Nawawi dalam al Majmu’ Syarh al Muhadzdzab, 4/323, Imam al Mawardi dalam al Hawi al Kabir, 2/360)
– Hambaliyah (Imam al Mardawi dalam al Inshaf, 2/223)
– Juga sejumlah ulama salaf, dikutip oleh Imam An Nawawi Rahimahullah:

مَذْهبنا: أنَّه يجوز القصرُ في مرحلتين، وهو ثمانية وأربعون مِيلًا هاشميَّة، ولا يجوزُ في أقلَّ من ذلك، وبه قال ابنُ عُمرَ، وابنُ عبَّاس، والحسنُ البَصريُّ، والزُّهريُّ، ومالكٌ، والليثُ بنُ سَعدٍ، وأحمدُ، وإسحاقُ، وأبو ثورٍ

Dalam madzhab kami, dibolehkan qashar jika sudah sejauh 2 MARHALAH, yaitu 48 mil hasyimiyah, dan tidak boleh kurang dari itu. Inilah pendapat Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Hasan al Bashri, az Zuhri, Laits bin Sa’ad, Malik, Ahmad, Ishaq, dan Abu Tsaur.
(al Majmu Syarh al Muhadzdzab, 4/325)

– al Qadhi Abu Yusuf (murid dan kawannya Abu Hanifah). (al Muhith al Burhani, 2/22)
– Al Auza’i dan fuqaha kalangan ahli hadits. (an Nawawi, al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 5/195)
– Ini yg dipilih oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baaz (Fatawa Nuur ‘alad Darb, 13/42-43)

Pendapat kedua. Tidak ada batasan jarak khusus, yang penting sudah layak disebut safar baik jauh atau pendek

Siapa saja yang berpendapat seperti itu:

– Madzhab Zhahiri, seperti Imam Daud az Zhahiri, dan Imam Ibnu Hazm. (Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, 1/168)
– Sebagian Hambaliyah (Ikhtiyarat al Fiqhiyah, Hal. 434)
– Imam Ibnu Qudamah, Beliau berkata:

لا أرى لِمَا صار إليه الأئمَّة حُجَّة؛ لأنَّ أقوال الصحابة متعارضة مختلفة، ولا حُجَّة فيها مع الاختلاف

Saya lihat pendapat para imam itu tidak ditopang oleh hujjah, sebab para sahabat nabi sendiri berbeda-beda, maka perbedaan itu tidak bisa dijadikan hujjah.
(Ibnu Qudamah, al Mughni, 2/190)

– Imam Ibnu Taimiyah. (Majmu al Fatawa, 24/15)
– Imam Ibnul Qayyim (Zaadul Ma’ad, 1/463)
– Imam Asy Syaukani (Sailul Jarar, Hal. 188)
– Syaikh Amin Asy Syanqithi (Adhwa’ul Bayan, 1/273)
– Syaikh al Albani (as Silsilah ash Shahihah, 1/311)
– Syaikh Utsaimin (Syarhul Mumti’, 4/351)

Jadi, sebelum Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnul Qayyim, sudah ada yang punya pendapat bahwa jarak itu tidak baku, yang penting sudah layak disebut safar baik jauh atau tidak. Seperti Imam Daud, Imam Ibnu Hazm, Imam Ibnu Qudamah,.. Mereka hidup sebelum zaman Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnul Qayyim. Walau saya ikut pendapat mayoritas ulama, tapi pendapat lainnya mesti diberikan tempat dan tidak boleh remehkan. Sebab perbedaan seperti ini adalah hal yang biasa dalam dunia fiqih.

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678