๐นโ๏ธโ๏ธ๐นโ๏ธโ๏ธ
๐ Pemateri : Ustadzah Dr. Eko Yuliarti Siroj
Ada sebuah pemandangan yang selalu menghangatkan hati. Ketika kita melihat seorang anak berlari kecil menuju pelukan neneknya. Di sudut lain, seorang kakek dengan sabar mengajarkan cucunya mengayuh sepeda, mengikat tali sepatu, atau sekadar bercerita tentang masa kecilnya. Di balik momen-momen sederhana itu, sesungguhnya sedang tumbuh sesuatu yang sangat berharga: ikatan lintas generasi yang menguatkan keluarga.
Di tengah kehidupan modern yang bergerak semakin cepat, kehadiran kakek dan nenek sering kali menjadi anugerah. Banyak keluarga bergantung pada mereka, baik untuk membantu mengasuh cucu ketika orang tua bekerja, menemani anak-anak sepulang sekolah, maupun menjadi tempat pulang ketika keluarga sedang menghadapi kesulitan. Peran ini dikenal sebagai grandparenting, yaitu keterlibatan kakek dan nenek dalam proses pengasuhan dan tumbuh kembang cucu.
Namun grandparenting bukan sekadar “menjaga cucu”. Ia adalah proses mewariskan kasih sayang, nilai kehidupan, keteladanan, serta rasa memiliki terhadap keluarga. Di sinilah ketahanan keluarga sering kali menemukan akarnya.
Ketahanan tangguh adalah keluarga yang mampu bertahan, beradaptasi, dan bangkit ketika menghadapi perubahan maupun krisis. Dalam banyak keadaan, kehadiran kakek dan nenek menjadi salah satu sumber daya keluarga yang sangat penting.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan kakek dan nenek dapat memberikan banyak manfaat. Mereka dapat membantu mengurangi beban pengasuhan orang tua, memberikan dukungan emosional, menjadi sumber pengalaman hidup, bahkan memperkuat hubungan antargenerasi. Pada keluarga yang memiliki kerja sama pengasuhan yang baik, keterlibatan kakek dan nenek terbukti membantu menurunkan stres pengasuhan ibu dan memperkuat kualitas pengasuhan secara keseluruhan.
Bagi anak, hubungan yang hangat dengan kakek dan nenek menghadirkan rasa aman yang berbeda. Mereka menemukan sosok yang sabar mendengar, lebih banyak bercerita, dan sering kali memiliki waktu yang lebih lapang. Dari merekalah anak belajar tentang sejarah keluarganya, perjuangan hidup, kesederhanaan, kesabaran, serta nilai-nilai yang tidak selalu diajarkan di ruang kelas.
Dalam budaya Asia, termasuk Indonesia, kehidupan lintas generasi telah menjadi bagian dari tradisi yang panjang. Banyak penelitian menunjukkan bahwa keluarga multigenerasi dapat menjadi sumber dukungan ekonomi, emosional, dan sosial yang sangat berharga apabila hubungan antaranggotanya berjalan harmonis.
Namun demikian, grandparenting juga memiliki tantangan. Tidak sedikit kakek dan nenek yang akhirnya menjadi pengasuh utama karena perceraian, kemiskinan, migrasi orang tua, atau berbagai persoalan keluarga lainnya. Beban pengasuhan yang terlalu berat justru dapat memengaruhi kesehatan fisik maupun psikologis mereka. Sebuah tinjauan sistematis menunjukkan bahwa ketika kakek-nenek menjadi pengasuh utama dalam jangka panjang tanpa dukungan yang memadai, mereka lebih rentan mengalami kelelahan, tekanan emosional, bahkan penurunan kesehatan.
Penelitian lain juga mengingatkan bahwa pengasuhan oleh kakek-nenek tidak otomatis menghasilkan dampak positif ataupun negatif. Hasilnya sangat dipengaruhi oleh kondisi keluarga, kualitas hubungan orang tua dengan kakek-nenek, alasan mengapa anak diasuh oleh mereka, serta dukungan yang tersedia. Karena itu, yang perlu dibangun bukanlah pengalihan tanggung jawab pengasuhan, melainkan *kolaborasi pengasuhan*.
Di sinilah letak kebijaksanaan sebuah keluarga. Orang tua tetap menjadi pengasuh utama. Kakek dan nenek bukan pengganti ayah dan ibu, melainkan mitra yang memperkaya proses pengasuhan. Ketika nilai yang diajarkan sejalan, komunikasi terbuka terbangun, dan keputusan-keputusan penting dibicarakan bersama, anak akan tumbuh dalam lingkungan yang konsisten dan penuh kasih.
Dalam perspektif Islam, hubungan antargenerasi merupakan bagian dari keberkahan keluarga. Allah SWT berfirman:
_”Dan orang-orang yang berkata: Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”_ (QS. Al-Furqan: 74).
Doa ini tidak hanya berbicara tentang anak, tetapi tentang keberlangsungan generasi yang saling menguatkan. Rasulullah Saw. pun mengajarkan penghormatan kepada orang tua dan orang yang lebih tua sebagai bagian dari akhlak seorang muslim. Karena itu, kehadiran kakek dan nenek bukan sekadar pelengkap dalam keluarga, tetapi penjaga mata rantai nilai yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Mungkin itulah sebabnya banyak orang dewasa masih mengingat dengan jelas aroma masakan neneknya, nasihat sederhana dari kakeknya, atau doa yang selalu dipanjatkan setiap kali mereka hendak bepergian. Ingatan-ingatan itu bukan hanya kenangan. Ia menjadi sumber kekuatan ketika kehidupan menghadirkan ujian.
Di era ketika banyak keluarga menghadapi tekanan ekonomi, perubahan sosial, dan derasnya arus digital, kita memerlukan lebih banyak ruang bagi perjumpaan lintas generasi. Duduk bersama, makan bersama, mendengar cerita keluarga, atau sekadar membiarkan cucu menghabiskan sore bersama kakek dan nenek sering kali memberikan dampak yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.
Pada akhirnya, grandparenting bukan sekadar tentang siapa yang menjaga anak. Ia adalah strategi bagaimana sebuah keluarga saling menopang. Ketika orang tua menjalankan amanahnya, kakek dan nenek menghadirkan kebijaksanaan, dan anak-anak tumbuh di tengah kasih sayang yang utuh, maka keluarga sedang membangun fondasi ketahanan yang kokoh.
Allahu’alam Bishowab
๐นโ๏ธโ๏ธ๐นโ๏ธ
Dipersembahkan oleh : www.manis.id
Subscribe YouTube MANIS : https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial
Follow Media Sosial MANIS :
IG : https://www.instagram.com/majelis_manis/?igshid=YmMyMTA2M2Y%3D
FB: http://fb.com/majelismanis
TikTok https://www.tiktok.com/@majelis_manis_
๐ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/gabungmanis
๐ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Iman Islam
No Rek BSI : 7113816637
Konfirmasi:
wa.me/6285279776222
wa.me/6287782223130








