Menjadi Orangtua Amanah

📆 Sabtu, 20 Dzulhijjah 1439H / 01 September 2018

📚 KELUARGA MUSLIM

📝 Pemateri: Ustadz Bendri Jaisyurrahman

Setiap jiwa bertanggung jawab atas semua yang diperbuatnya. Manusia pasti identik dengan pertanggungjawaban. Ketika kita diamanahi seorang anak, maka Allah akan menanyakan bagaimana kita mengelola, mengasuh, hingga mendidik anak ini.

Jika orangtua yang rajin ibadah, rajin ngaji, qiyamul lail, dan sebagainya, namun tidak mendidik anaknya, maka ia akan terhalang masuk surga, karena tidak bisa menjalankan perannya sebagai orangtua. Anak itu amanah, yang harus dijaga. Maka jadilah orang tua yang mampu menjalankan perannya dengan baik.

Tugas orangtua mengarahkan anaknya untuk menjalankan programnya sebagai khalifah Allah. Fitrah sejatinya adalah program. Fitrah ibarat “software” yang ditanam dalam setiap bayi. Orangtua yang mengaktifkan atau merusaknya. Nah tugas orang tua sejatinya adalah memastikan anaknya untuk menjalankan programnya di dunia dengan baik. Kemudian mengenali softwarenya, lalu menyesuaikan dengan hardwarenya, lalu install lah.

Tugas Orangtua: Bagaimana Menjadi Orangtua yang Amanah?
Ar-Ruum ayat 21: “tetaplah atas fitrah Allah sesuai dengan apa yang diciptakan Allah.”

Tugas pertama orangtua adalah:

Menerima, menjaga, dan mengembangkan fitrah anak.

Fitrah Dasar Anak Manusia:

1. Setiap anak itu BERTAUHID

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu ?”, mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (QS Al-A’raf: 172)

Allah adalah manajer yang paling baik. Program Allah kelak di hari akhir adalah akan membuat semua manusia bersaksi. Sejatinya semua manusia itu fitrahnya Islam. Orang tuanyalah yang mengubahnya menjadi bukan Islam. Software yang ditanamkan oleh Allah tidak diaktifkan oleh orangtuanya.

Kenalkanlah anak pertama kali pada Kalamullah. Ketika dalam kandungan biasakan sang ibu mendengarkan atau membaca Al-Qur’an. Jangan pada musik-musik barat, misal musik Jazz, Mozart.

Tidak akan berkumpul dalam satu hati jika Anda mencintai Al-Qur’an dan mencintai Musik.

Kenalkan anak pada kalimat toyyibah. Tanamkan kecintaan pada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.

Jangan jadikan anak sebagai cabe-cabean, terong-terongan, terong dicabein (banci), jagung bakar (jablai tanggung baru mekar), jamur (janda di bawah umur).
Anak kita sejatinya BERTAUHID!.

2. Anak adalah seorang PENGABDI yang TAAT

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
(QS Adz-Dzariyat: 56)

“Bakat” taat ada di dalam jiwa manusia, maka jangan putus asa terhadap kenakalan anak. Awal pembangkangan menjadikan akal sebagai panglima. Hati adalah Raja, maka taklukkanlah hatinya untuk taat pada Allah. Ilmu Allah sangat luas, dibandingkan akal manusia. Ilmu Allah ibarat gunung, akal manusia ibarat timbangan bawang. Filfasat kalo tidak direm dengan hati, maka bahayanya akan tergelincir pada hal yang tidak baik. Standar Islam dalam mengurus anak adalah dapat menjadikan Anak tunduk pada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.

3. Setiap anak itu memiliki jiwa LEADER (pemimpin)

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: ”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yg akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senatiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”

Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tdk kamu ketahui.” (QS Al-Baqarah: 30)

Sentuhlah hati anak, setelah itu arahkan akalnya. Jangan jadikan anak sebagai anak ALAY. Alay itu tidak tau arah (mental follower —> thinking shock), mudah dipengaruhi. Anak-anak yang tidak memiliki daya pikir yang kuat maka akan mudah dipengaruhi.

4. Anak itu BERPOTENSI dan CERDAS

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam taqwim yang sebaik-baiknya.” (QS At-Tin: 4)

Taqwim adalah potensi untuk menjadi qowwam atau pemimpin, termasuk kecerdasan, pola pikir dan strategi. Ketika dalam kandungan, pertumbuhan otak anak mulai berkembang. Buatlah hati seorang ibu menjadi senang, ibu hamil yang stres akan berpotensi menghasilkan anak yang cacat. Namun jika saat seorang Istri hamil, muliakan ia, bahagiakan ia, maka berpotensi akan mencipatakan otak anak yang sangat baik. Membahagiakan Ibu hamil, sama halnya dengan investasi untuk kebaikan di masa depan. Buatlah program “Membahagiakan Orang Hamil”.

5. Fitrahnya seorang anak yg memiliki SEKSUALITAS BENAR dan LURUS.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa bangsa dan bersuku suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS al-Hujurat: 13)

“……Dan laki2 tidaklah seperti anak perempuan.” (QS Ali-Imran: 36)

Kenapa ada anak laki-laki yang berkarakter seperti perempuan atau sebaliknya, maka perhatikanlah bagaimana pola asuhnya. Biasanya pengasuhannya kekurangan sosok ayahnya. Kurangnya sosok Ayah di masa kecil.

Minimal 5 fitrah dasar ini kita jaga, kenali, dan kembangkan. Agar fitrah anak sesuai pada apa yang diciptakan Allah. Islam lebih menekankan pada proses pengasuhan, bukan pada hasilnya.

Pertanyaan:
Bagaimana jika Anak kita sudah besar, dan belum menerapkan sistem pengasuhan anak sesuai fitrahnya?

Jawaban:
Jika anak sudah terlanjur besar, maka mulailah untuk beristighfar lalu mulailah untuk mencicil menjadikan anak itu sesuai pengasuhan yang baik. Jika anak sudah besar dan berkarakter nyebelin, maka cobalah untuk evaluasi, sebenarnya itu cara anak untuk menagih sistem pengasuhan yang baik dari orangtuanya. Ibarat anak nyebelin itu sama posisinya sebagai debt collector. Maka hendaklah lunasi semua hutang (pengasuhan) pada anak.

Pelan-pelan menjalankan untuk pelunasan hutang pengasuhan yang baik. Mengurus anak itu memang susah, karena hadiahnya SURGA, kalau mudah mendidik anak maka hadiahnya Voucher PULSA.

Harus sabar…sampai anak mampu mengubah dirinya sendiri kepada hal yang baik. Jangan menuntut anak yang berlebihan, namun berkacalah sebagai orangtua, apakah kita sudah mendidik, mengasuh anak sesuai syari’at?.

Bertaqwalah kepada Allah, perbaikilah perkataan kalian (orangtua). Berkomunikasilah dengan baik, gunakan kata-kata indah dan baik terhadap anak. Ketahuilah bahwa tanamkan iman pertama kali pada anak. Kenalkan Allah dan buat anak cinta pada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.

*****
Intinya setiap anak itu terlahir dengan fitrah yang baik, atau dapat dikatakan sebagai muslim. Terlampir dalilnya Al-A’raf: 172, Adz-Dzariyat: 56, Al-Baqarah: 30, At-Tin: 4, Al-Hujurat: 13, Ali-Imran: 36.

Nah tinggal bagaimana orang tua yang akan mengarahkan sang Anak. Bagaimana mendidik, membimbing, menjaga dan mengasuhnya.

Sejatinya fitrah seorang anak yang dilahirkan itu adalah:

a. Anak Bertauhid
b. Seorang Pengabdi yang Taat
c. Memiliki Jiwa Leader
d. Memiliki Potensi dan Cerdas
e. Memiliki Seksualitas yang Benar dan Lurus

Wallahu a’lam bish showab

Raih Kemenangan dengan Akhlakul Karimah

📆 Jum’at, 19 Dzulhijjah 1439H / 31 Agustus 2018

📚 Motivasi
 
📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

Akhlak mulia seorang manusia tercermin dalam sikap, perkataan, dan perbuatan. Akhlak mulia tak lain adalah takaran dari iman. Semakin genapnya iman seseorang akan semakin baik ia berakhlak kepada sesama. Dan ciri orang beriman adalah senantiasa memelihara lisannya. Semoga kita termasuk orang yang semakin terampil mengelola lisan kita agar terhindar dari ucapan yang mengandung dosa, menyakiti orang lain atau tiada berguna.

Rasulullah Saw. bersabda, “Muslim yang sejati adalah muslim yang selamat orang muslim lainnya dari lisan dan tangannya..” (HR. Bukhori dan Muslim)

Mari kita lebih berhati-hati dalam menjaga lisan dan perbuatan. Salah dalam berkata atau pun bertindak bisa fatal akibatnya. Kita sangat tahu orang-orang yang dikatakan sumber masalah, orang seperti itu sangat sulit mengendalikan lisannya. Bahkan sebuah keberhasilan yang akan kita dapatkan bukan semata karena usaha namun akhlak mulia jadi penopangnya.

Kualitas seseorang salah tolak ukurnya adalah lisannya. Orang yang cerdas dia pandai memilih kata yang berkelas. Orang cerdik dia pandai memilih mana kata-kata yang baik. Orang yang paham adab tentu kata-kata yang dipilih pun kata yang beradab. Bukan kata penuh prasangka, bukan kata penuh angkara, bukan kata berbumbu dusta dan bukan kata yang dipenuhi kebencian pada sesama.

Kita lihat seperti apa perpecahan umat di negeri ini, semua bermula dari lisan dan tulisan. Menisbatkan manusia dengan hal yang tak sepantasnya. Menghina, menyindir hingga merendahkan seseorang dengan serendah-rendahnya.

Ucapan itu seperti anak panah yang direntangkan pada busurnya. Sebelum dilepaskan maka tahan dulu, sebelum diucapkan maka pikirkan dulu. Sebelum dilepaskan maka bidik dulu, sebelum dikatakan maka pastikan dulu. Supaya ucapan kita tepat sasaran, yaitu ucapan kita diridhoi Allah Swt.

Orang yang cerdas lagi bijak adalah orang yang mampu memilah kata yang layak untuk diucapkan. Sekiranya akan timbul persengketaan maka kita perlu menahan sehingga ketika kalimat itu meluncur tak melukai orang lain. Luka fisik mudah diobati tapi luka hati bisa dibawa hingga mati.

Ibnu Mas’ud mengatakan, “Tidak ada yang lebih pantas dipenjara dalam waktu yang lama melainkan lisanku ini.” (Mukhtashor Minhajil Qoshidin, hal. 165, Maktabah Darul Bayan)

Saat ini, kita sedang berjuang melawan ketidakadilan. Kita ingin apa yang kita citakan meraih keberhasilan. Untuk terwujudnya harapan mari kita berkata yang baik sebagai cerminan akhlak mulia. Kalimat pun penuh simpati hingga Allah pun berkenan beri kemudahan.

Wallahul musta’an

Bagaimana Status Harta Hasil dari Bekerja di Lembaga Keuangan Ribawi??

Ustadz Menjawab
Jum’at, 31 Agustus 2018
Ustadz Rikza Maulan, Lc.,M.Ag

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….saya mau tanya..Saya sudah hijrah dari riba, dan udah resign dari kerja di bank.
Yg jadi risau saya saat ini, bagaimana status barang2 yg saya beli dari gaji saat masih di bank? Apa yg harus dilakukan?
Terima kasih sebelumnya.

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Bekerja di institusi yg haram adalah haram, termasuk bekerja di Lembaga Keuangan Yang Ribawi, karena riba adalah haram. Namun haramnya riba, tdk lah sebagaimana haramnya khamer, dimana khamer setiap tetesnya adalah haram, bahkan najis. Sedangkan riba, secara dzatnya uangnya tidaklah haram, hanya saja proses mengelola uangnya yg haram. Sehingga tentu ada perbedaan antara haramnya uang yg berasal dari bunga dengan haramnya khamer.

Uangnya sendiri secara dzatnya tidaklah haram, namun cara dan metode menghasilkannya yg haram. Uang tsb tdk lah najis, sedangkan khamer termasuk najis.

Oleh karena itulah, uang dari hasil bunga masih tetap boleh dimanfaatkan, namun terbatas hanya boleh untuk fasilitas umum. Sedangkan khamer tdk boleh dimanfaatkan utk apapun juga.
Nah terkait dgn hal tsb, maka aset yg dahulu pernah dibeli dari hasil bekerja di Lembaga Ribawi, tidaklah serta merta menjadi haram. Di samping karena adanya perbedaan sebagaimana di atas, juga karena pada dasarnya uang yg digunakan utk membeli tsb adalah hasil dari keringat atau jerih payahnya dan bukan murni dari riba.

Dan oleh karenanya, aset tsb masih sah menjadi hak milik dan tidaklah haram. Terlebih tadi penanya menyatakan sudah bertaubat dan sdh hijrah. Maka insya Allah akan menjadi amal shaleh yg luar biasa nilainya di sisi Allah Swt  Kecuali jika jelas2 misalnya aset tsb dibeli dari “bunga” yg didapatkan dari Lembaga Konvensional. Maka jika jelas spt itu tentu hukumnya berbeda.

Terakhir, jika masih ada keraguan di dalam hati, ada baiknya perbanyak zakat infak dan shadaqah. Karena secara konsep zakat bermakna berkah, bersih dan berkembang. Dan insya Allah dgn zakat infak shadaqah, akan semakin membersihkan harta kita.

Wallahu a’lam.

Cara Membersihkan Najis Babi

Ustadz Menjawab
Kamis, 30 Agustus 2018
Ustadz Farid Nu’man Hasan

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
….bagaimana membersihkan najis babi apakah sama seperti membersihkan najis anjing?

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

pernah dibahas digrup lain 👇

Cara membersihkan piring, sendok, atau apa saja yang kena daging babi, ada dua pendapat ulama.

Pertama. Cuci tujuh kali, awalnya atau salah satunya dgn tanah. Ini diqiyaskan dengan najis anjing.

Kedua. Cukup dicuci sampai bersih.

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid Hafizhahullah mengatakan:

أما بالنسبة لكيفية تطهير نجاسة الخنزير ، فقد ذهب بعض العلماء إلى أن تغتسل سبع مرات إحداهن بالتراب قياساً على الكلب .

Ada pun terkait cara mensucikan najisnya babi, sebagian ulama berpendapat mencuci tujuh kali salah satunya dengan tanah, diqiyaskan dengan membersihkan liur anjing.

والصحيح أن نجاسة الخنزير يكفي فيها الغسل مرة واحدة فقط ، قال النووي رحمه الله في شرحه على مسلم : ( وذهب أكثر العلماء إلى أن الخنزير لا يفتقر إلى غسله سبعا ، وهو قول الشافعي ، وهو قوي في الدليل ) .

Yang BENAR, najisnya babi cukup mencucinya sekali saja. Imam An Nawawi Rahimahullah berkata: “Mayoritas ulama berpendapat bahwa membersihkan najis babi tidak memerlukan mencuci tujuh kali, dan ini adalah pendapat  Asy Syafi’iy, dan ini adalah pendapat yang KUAT DALILNYA”.
(Fatawa Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 20843)

Wallahu a’lam.

Semua Suku Bisa Disuap! Kisah Pilu Menjelang Tergusurnya Turki Utsmani dari Hijaz, Palestina, hingga Suriah

📆 Kamis, 18 Dzulhijjah 1439H / 30 Agustus 2018

📚 SIROH  DAN TARIKH ISLAM

📝 Pemateri: Ustadz Agung Waspodo, SE, MPP

Ketika suku-suku Arab Badawi pendukung pasukan pemberontak Feisal ibn Hussein ibn Ali yang berasal dari wilayah selatan Hijaz mulai berangsur kembali ke daerah mereka, maka berdatanganlah suku-suku Arab Badawi bagian utara. Diantara mereka suku Huweitat, Syararat, Banu Athiyah, serta Rawalla. Mereka ini suku yang mendiami wilayah Syam (Suriah) serta perbatasan selatan.

Para kepala sukunya, seperti Auda Abu Tayyi* berikut para nasionalis Arab sekuler seperti Nasib al-Bakri** dan  Zaki Drubi*** semua menganjurkan Feisal untuk mengobarkan pemberontakan ke wilayah Palestina dan Suriah. Pucuk dicinta ulam tiba, Feisal juga sudah lama menginginkan wilayahnya meliputi kedua tanah subur di utara itu.

Diluar dugaan, dan bacaan saya sebelumnya, atau karena saya kurang teliti, bahwa Feisal dan pemimpin pemberontakan Arab lainnya sudah mendapatkan “bocoran” (sejak Mei 1917) tentang kesepakatan rahasia antara Perancis dan Inggris yang dikenal sebagai Perjanjian Sykes-Picot (Februari 1916). Perjanjian ini hendak membagi bekas wilayah Turki Utsmani di Timur Tengah pasca perang tanpa melibatkan bangsa Arab, bahkan menipu Lawrence agennya sendiri.

Walau sebenarnya menurut Lawrence penyerangan ke arah utara oleh Arab Northern Army yang digagasnya adalah strategi yang terlalu cepat. Namun, Feisal mendesak agar segera menguasai daerah tersebut dengan harapan setelah Perang Dunia Pertama usai ada kekuatan politik yang dapat dimainkan. Akhirnya Lawrence pun sepakat, entah karena desakan Feisal atau karena dia juga baru tahu di-double-cross oleh dinas intelijen Inggrisnya sendiri.

Lawrence mengarahkan untuk menyerang al-Aqaba sebagai kota pelabuhan terakhir yang masih di tangan Turki Utsmani di sepanjang Laut Merah. Pasukan pemberontak Arab akan lebih mudah mendapatkan logistik dari Royal Navy. Jika kota al-Aqaba dapat direbut ini sekaligus juga memperbesar peluang balatentara Inggris di Mesir dan Sinai untuk mengalahkan Turki Utsmani di Palestina dan Suriah secara keseluruhan.

Sebenarnya angkatan laut Inggris sudah pernah menembaki kota al-Aqaba, namun mengingat meriam pantai yang dimiliki Turki Utsmani terlalu kuat maka opsi pendaratan amfibi dicoret. Kedatangan suku Arab Badawi dari utara membuka peluang penyerangan atas kota tersebut dari arah yang tidak diduga-duga. Yaitu, lewat darat.

Untuk menyerang kota al-Aqaba secara mendadak perlu perencanaan yang matang. Oleh sebab itu dinilai perlu ada serangan pengalihan ke tempat lain. Lawrence dan Kolonel Joyce menyerang pertahanan Turki Utsmani di Ma’an. Pada saat yang hampir bersamaan juga dikerahkan pasukan Kolonel Newcombe ke al-Ula.

Untuk serbuan sebesar kota al-Aqaba dibutuhkan bantuan suku Arab Badawi dalam jumlah yang cukup. Lawrence telah menyiapkan uang emas senilai £ 20 ribu untuk “membujuk” suku Arab Badawi di sekitar wilayah al-Aqaba, daerah pengaruh Suku Huweitat.

Agung Waspodo, merasakan betapa banyaknya revisi pandangan serta kesimpulan sejarah dengan bertambahnya bacaan.

Depok, 16 Dzul-Hijjah 1439 Hijriyah

* Auda Abu Tayyi adalah kepala suku Huweitat
* Nasib al-Bakri turut mendirikan organisasi rahasia nasional al-Fatat yang ingin melepaskan Suriah dari kekhilafahan Turki Utsmani

Tabungan Haji

📆 Rabu, 17 Dzulhijjah 1439/ 29 Agustus 2018

📚 Fikih Muamalah

📝 Pemateri: Ustadz Dr. Oni Sahroni, M.A

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Produk talangan haji sebenarnya saat ini sudah dihapus dan yang ada adalah tabungan haji, di mana seseorang yang ingin berangkat haji menabung di bank syariah layaknya tabungan yang lain, seperti produk-produk tabungan di bank syariah.

Produk tabungan untuk haji ini halal dan mubah. Penabung sebagai shahibul maal (pemilik modal) dan bank sebagai pengelola. Setelah jangka sekian, tabungan dan bagi hasilnya akan diserahterimakan kepada nasabah atau penabung untuk biaya atau ongkos berangkat haji.

Begitu pula praktik tabungan haji di seluruh bank syariah. Karena diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah dan Otoritas Jasa Keuangan, praktik tabungan haji di Bank Syariah sudah sesuai syariah. Jika menemukan kejanggalan, bisa diberikan informasinya.

Dana haji, yang mencapai sekitar Rp101 triliun, sudah diatur penyaluran dan penggunaannya oleh undang-undang dan Fatwa DSN MUI. Penempatan investasi dana haji tersebut harus memenuhi kriteria berikut.

1. Ditempatkan di portofolio instrumen sesuai syariah, seperti deposito dan sukuk.

2. Likuid, dapat dicairkan sesuai kebutuhan penyelenggaraan ibadah haji.

3. Risiko terkendali.

4. Atas izin jamaah haji sebagai pemilik dana.

Jika dilihat dari empat kriteria ini, pada kriteria kedua yaitu likuid, investasi infrastruktur tidak dibolehkan karena bertentangan dengan aspek likuid. Pembiayaan infrastruktur akan memakan waktu cukup lama, padahal biaya haji diperlukan tahunan.

Sesuai dengan UU No. 43 dan Fatwa DSN MUI tentang Penempatan Dana Haji, maka saat ini pemerintah tidak diperkenankan untuk menempatkan dana tersebut di instrumen-instrumen konvensional, tetapi diwajibkan untuk menempatkannya di instrumen-instrumen yang sesuai dengan syariah.

Wallahu a’lam

Saat Istri Bekerja Diluar…

Ustadz Menjawab
Selasa, 28 Agustus 2018
Ustadz Farid Nu’man Hasan
Assalamu’alaikum ustadz/ustadzah, afwan saya mau nanya., gini ustadz, ketika seorang wanita sudah berumah tangga kan seluruh tanggung jawab atas dirinya sudah ditanggung sama suaminya (sudah menjadi kewajiban suaminya), nah, ketika si istri mau bekerja d luar rumah, si istri ini sudah mendapatkan izin dari suaminya, saya tahu kalau tanggung jawab istri itu kan berada d rumah, dan memelihara dirinya., tapi kan si istri ini sudah mendapatkan izin dari suaminya untuk bekerja., jadi dimana letak tidak berkah nya ustadz??
Soalnya ada yang bilang sama saya, walaupun si istri sudah mendapatkan izin dari suaminya utk bekerja d luar rumah, tapi itu tetap tidak berkah., apa benar begitu ustadz? jika benar dimana letak tidak berkahnya,, kan dari awal suaminya sudah mengizinkannya utk bekerja., mohon penjelasannya ustadz., jazakallahu khairan ustdaz, wassalam 🙏🏻🙏🏻
Jawaban
————–
‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Berkah (Al Barokah), artinya:
هي النماء والزيادة .
وكذلك البركة في الأمر , فالخير يثبت فيه ولا يُفارقه ويُبارك الله فيه بأن ينمُو ويزداد .
البركة قيمةٌ معنوية لا تُرى بالعين المجردة ولا تُقاس بالكم ولا تحويها الخزائن .. هي شعورٌ إيجابي يشعر به الإنسان .
إذاً البركة تحملُ معنى نزول الخير الإلهي .
Artinya berkembang dan bertambah. Demikian juga makna berkah pada sebuah urusan, yaitu kebaikan selalu mengiringi urusan tersebut dan tidak pernah berpisah, dan Allah memberkahi urusan itu dengan menumbuhkan dan menambahkan.
Berkah itu nilai yang sifatnya ma’nawiyah (esensial), tidak bisa dilihat oleh mata telanjang dan tidak bisa dianalogikan dengan kuantitas, dan tidak pula diukur dengan harta .. berkah adalah cita rasa positif yang dirasakan manusia. Jadi, berkah itu bermakna turunnya kebaikan ilahiy kepada manusia.(Selesai)
Untuk wanita bekerja itu boleh (bukan wajib dan Sunnah), asalkan:
– izin suami
– pekerjaan yang halal
– tetap menjaga adab dan akhlak Islam
– tidak menelantarkan hak-hak suami dan anak, dan kewajiban di rumah
Jika ada yg terbengkalai salah satunya maka terlarang baginya bekerja.
Wallahu a’lam.

Buang Angin Lewat Kemaluan, Batalkah Wudhu?

📆 Selasa, 16 Dzulhijjah 1439H / 28 Agustus 2018
📚 Fiqih dan Hadits

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.
Masalah buang angin lewat kemaluan, ada dua pendapat:
1. BATAL Wudhunya
Ini pendapat Syafi’iyah dan Hambaliyah.
Imam An Nawawi mengatakan:
الخارج من قبل الرجل أو المرأة أو دبرهما ينقض الوضوء ، سواء كان غائطا أو بولا أو ريحا أو دودا أو قيحا أو دما أو حصاة أو غير ذلك ، ولا فرق في ذلك بين النادر والمعتاد ، ولا فرق في خروج الريح بين قبل المرأة والرجل ودبرهما ، نص عليه الشافعي رحمه الله في الأم ، واتفق عليه الأصحاب
Sesuatu yg keluar dari kemaluan dan dubur laki-laki dan perempuan adalah membatalkan wudhu, baik itu tinja, kencing, angin,  ulat, nanah, darah, atau lainnya. Tidak beda dalam hal ini baik yang jarang atau kebiasaan. Tidak ada beda antara keluarnya angin dari kemaluan laki-laki dan perempuan, dengan dari duburnya. Demikianlah ungkapan dari Asy Syafi’iy dalam Al Umm dan disepakati para sahabatnya.
(Al Majmu’, 2/3)
Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah mengatakan:
نقل صالح عن أبيه في المرأة يخرج من فرجها الريح : ما خرج من السبيلين ففيه الوضوء . وقال القاضي : خروج الريح من الذكر وقبل المرأة ينقض الوضوء
Shalih mengutip dari ayahnya (Imam Ahmad bin Hambal) tentang wanita yg mengeluarkan angin dari kemaluannya: “Apa pun yg keluar dari dua jalan (dubur dan kemaluan) adalah membatalkan wudhu.” Al Qadhi mengatakan: “Keluarnya angin dari dzakar laki-laki dan kemaluan wanita adalah membatalkan wudhu.”
(Al Mughniy, 1/125)
2. TIDAK BATAL
Ini merupakan pendapat Hanafiyah dan Malikiyah.
Imak Ibnu ‘Abidin Rahimahullah mengatakan:
لا – ينقض – خروجُ ريح مِن قُبُل وَذَكر ؛ لأنه اختلاج ؛ أي ليس بريح حقيقة ، ولو كان ريحا فليست بمنبعثة عن محل النجاسة فلا تنقض
Tidaklah membatalkan wudhu angin yg keluar dari kemaluan laki-laki dan perempuan, karena itu bukanlah angin yang sebenarnya, kalau pun itu angin itu bukankah berasal dari tempat bersemayamnya najis.
(Raddul Muhtar, 1/136)
Al ‘Allamab Ad Dardir Al Malikiy Rahimahullah mengatakan:
إذا خرج الخارج المعتاد من غير المخرجين ، كما إذا خرج من الفم ، أو خرج بول من دبر ، أو ريح من قبل ، ولو قبل امرأة ، أو من ثقبة ، فإنه لا ينقض
Jika ada sesuatu keluar  yg biasa bukan berasal dari dua jalan keluar, seperti keluarnya dari mulut, atau kencing dari dubur, atau angin dari kemaluan, walau kemaluan wanita, atau walau dr lubang kencingnya, maka itu tidak membatalkan wudhu.
(Asy Syarhul Kabir, 1/118)
Mana yg kita ambil? Pendapat pertama lebih hati-hati untuk diambil. Sesuai hadits:
لَا وُضُوءَ إِلَّا مِنْ صَوْتٍ أَوْ رِيحٍ
Tidak ada wudhu kecuali dikarenakan suara atau angin. (HR. At Tirmidzi no. 74, katanya: hasan shahih)
Tapi, jika sudah menjadi penyakit yg tidak bisa dikontrol, semoga itu dimaafkan dan bisa diambil pendapat kedua.
Demikian. Wallahu A’lam