Cinta Lokasi

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah.. Ada seseorang aktif di sebuah amanah organisasi, suatu ketika dia menyukai lawan jenis nya yg merupakan partner di organisasi, seseorang tsb memutuskan mundur dr amanah nya krn tdk mau perasaan nya terus berkembang sedangkan belum siap menikah,. Apakah ini termasuk konsep hijrah yg benar? Jika tdk, bagaimanakah solusi terbaik nya, terimakasih😊

🐝🐝🐝 Jawaban

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
🔓 ​Menutup pintu kemaksiatan dan pintu penyakit hati adalah bagian awal dari langkah berhijrah​

📌 Para ulama ushul menasihati bahwa menutup pintu kemaksiatan lebih didahulukan dari melaksanakan kebaikan

📌 Merealisasikan ilmu adalah wujud pemahaman manusia di atas penghayatannya yang mendalam

✅ Menegakkan sebuah ilmu adalah keniscayaan, melanjutkan dengan ilmu berikutnya adalah harapan berikutnya. Menikah dengan keyakinan rizqi yang terbuka adalah wujud bagusnya iman (Q.S. An-Nur [24] ayat 32)

Wallahu a’lam.

Pengelolaan Keuangan Haji (3)

H. Kendala Pengelolaan Keuangan Haji

1. Anggaran yang Tidak Memadai

▪Sebagai lembaga yang baru didirikan, BPKH mendapatkan anggaran dari dana keuangan haji.

▪Pengawasan, khususnya pengawasan syariah mendapatkan porsi yang tidak besar, karena aktifitas dan programnya masih tidak banyak dan juga invesatasi serta penempatan dananya di tahun pertama dan kedua difokuskan di sektor keuangan, khususnya Sukuk Negara Retail atau SBSN.

▪Oleh karena itu, biaya pengawasan syariah ini tidak terlalu besar dan alokasi dana atau anggaran ini bisa diperkecil hingga 40% dari alokasi yang ada.

2. Panduan Pengawasan Syariah

©Seperti halnya lembaga keuangan syariah di Indonesia yang sudah memiliki tata kelola syariah atau Good Corporate Governance (GCG) sebagaimana diatur oleh Peraturan Bank Indonesia (PBI) yang mencakup pengawasan, baik pengawasan sebelum investasi, saat investasi dan setelah investasi.

©Begitu pula pengelolaan keuangan haji ini harus memiliki konsep atau sistem pengawasan syariah.

3. Kepemilikan Dana Haji

▪Sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-undang No 43 Tahun 2014, komponen dana haji terdiri dari 4. Keempat itu secara syariah harus ditentukan status kepemilikannya, apakah titipan atau pinjaman, karena akan berimplikasi pada penempatan atau hak miliknya.

4. Arah Investasi

©Sebagaimana visi besar Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) untuk memperkuat sistem ekonomi syariah secara umum tidak hanya terbatas pada sektor keuangan tetapi juga pada sektor riil dan pilantrofi. Oleh karena itu, perlu kajian yang mendalam tentang arah investasi, tidak hanya terbatas pada sektor keuangan tetapi juga pada sektor riil yang memenuhi kriteria amanat undang-undang, yaitu aman secara syar’i, likuid dan memberikan imbal hasil yang cukup.

©Sementara ini, arah investasi terbatas pada sukuk negara retail sebagai salah satu instrumen keuangan dan belum merambah pada sektor riil.

5. Kriteria Investasi Syariah

▪BPKH belum memiliki kriteria apa saja yang harus dipenuhi bahwa portofolio tertentu itu bisa diinvestasikan dengan memenuhi 3 kriteria dalam undang-undang.

6. Analisis SWOT

a. S = Streingth (kekuatan)

©Pengelolaan dana keuangan haji oleh BPKH itu memiliki unsur strengths, yaitu keberadaan BPKH ini dilindungi regulasi khususnya UU No 43 Tahun 2014 yang memberikan kewenangan kepada BPKH untuk mengelola keuangan haji.

b. W = Weakness (kelemahan)

▪Tetapi pengelolaan dana keuangan haji oleh BPKH ini memiliki kelemahan, diantaranya adalah bahwa umur BPKH ini masih sangat baru. Di usianya yang muda masih memiliki Pekerjaan Rumah (PR) penyiapan infrastruktur dan konsepsi pengelolaan haji di mana membutuhkan waktu yang tidak sedikit.

c. O = Opportunity (Peluang)

©BPKH sendiri memiliki kesempatan dan peluang yang sangat besar, di mana dana haji yang dikumpulkan ini sangat besar. Posisi saat ini dana haji mencapai 90 triliun. ini adalah dana yang sangat besar sekali untuk bisa dikembangkan dan dikelola, sehingga bermanfaat bagi jamaah haji, meningkatkan kualitas jamaah haji, meningkatkan sistem keuangan syariah dan menguatkan basis sektor riil ekonomi syariah.

d. T = Threat (Ancaman)

▪Karena dana haji adalah dana jama’ah haji yang jumlahnya sangat besar, sehingga mereka memiliki harapan besar terhadap pengelolaan keuangan haji yang jika kesempatan pertama tidak dilakukan oleh BPKH dan bahkan memberikan kesan yang tidak positif, baik dalam pengelolaan, penempatan dana dan imbal hasil yang tidak memuaskan., maka akan merusak citra BPKH secara umum sebagai lembaga yang dilindungi undang-undang tetapi tidak mampu memberikan kepercayaan kepada masyarakat.

I. Kebijakan Umum

1. Mengurangi anggaran pengawasan syariah terhadap pengelolaan dana haji dengan memangkas 60% dari l anggaran 250 juta menjadi 100 juta.

2. Menyusun pedoman atau panduan pengawasan syariah, sehingga menjadi sistem yang melekat dalam setiap unit di dewan pengawas dan juga unit-unit di badan pelaksana.

3. Membuat pertimbangan syariah atau opini syariah terhadap hal-hal strategis dalam mobilisasi dana, arah investasi, penempatan dana dan juga penyaluran dana.

J. Solusi

1. Memangkas anggaran yang dialokasikan untuk pengawasan syariah sekitar 40%.

2. Menyusun konsepsi, panduan atau pedoman pengelolaan keuangan syariah.

3. Membuat opini syariah terhadap hak kepemilikan dana keuangan haji, arah investasi, penempatan dana dan penyaluran dana.

Suamiku Suka Foto Wanita Lain

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah … Ana mau bertanya, Bagaimana menyikapi suami yang hobi fotografi namun objek fotonya adalah wanita bukan mahram..
Jazakillah khair an katsiran

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Sikap kita tentunya tidak maklum tapi juga tidak dengan serta merta menentang. Yang perlu dibangun adalah pemahaman agama suami dan ini juga memang tidak mudah karena biasanya laki laki tidak mau diatur atau di kasih masukan oleh istri. Apalagi ketertarikan laki laki kepada perempuan itu begitu kuat.

Perempuan dengan segala keindahan akan selalu jadi objek dan inspirasi bagi semua laki laki . Tapi apabila dia seorang yg paham dan mengenal nilai agama. InsyaAllah dia akan membatasi atau paling tidak meminimalisir nya.

Jadi tugas istri bagaimana bisa mendampingi dan mencari solusi atau cara supaya suaminya bisa giat dan semangat menuntut ilmu agama. Jadi bersabarlah untuk tidak mengatakan bahwa ini tidak boleh dalam islam karena kalau masih awam dibatasi maka persepsi yg timbul akan negatif padahal semua boleh dalam Islam kecuali yang membawa kemudharatan.

Wallahu a’lam.

Pengelolaan Keuangan Haji (2)

F. Instrumen Investasi

▪Diantara instrumen investasi yang mungkin ditempatkan adalah:

1. Deposito Bank Syariah yang menggunakan skema mudharabah muthlaqah. Begitu pula mudharabah muqayyadah, sehingga menempatkan BPKH yang merupakan penerima mandat daripada jama’ah haji sebagai pemilik modal dan Bank Syariah sebagai pengelola.

©Skema Deposito Bank Syari’ah, silahkan lihat gambar

2. SBSN (Surat Berharga Syariah Negara) dengan cara BPKH selaku wakil yang menempatkan dana tersebut untuk dibelikan sukuk negara retail dengan akad wakalah atau wakalah bil Istitsmar, sehingga dana tersebut menghasilkan return baik berupa ujrah ataupun bagi hasil.

©Skema SBSN (Surat Berharga Syariah Negara) lihat gambar

3. Sukuk Korporasi, dimana salah satu skema dalam mudharabah yang menempatkan BPKH selaku penerima mandat dari jama’ah haji sebagai pemilik modal dan korporasi atau penerbit sukuk sebagai pengelola yang akan ditempatkan pada usaha-usaha yang memberikan imbal hasil secara pasti atau fix income, yaitu dengan akad murabahah.

©Contoh Sukuk Mudharabah dan skema Sukuk Ijarah lihat gambar

4. Investasi di sektor riil dengan penempatan langsung menggunakan akad musyarakah, dimana keuntungan ditentukan sesuai kesepakatan dan kerugian ditanggung bersama.

Itulah diantara instrumen-instrumen investasi yang mungkin bisa ditempatkan.

G. Hak Kepemilikan Dana Haji

▪Untuk menjelaskan hak kepemilikan dana haji ini disesuaikan dengan komponen dan jenis dana haji sebagai berikut :

1. Setoran Jama’ah Haji Setoran jama’ah haji ini menggunakan skema Ijarah Maushufah Fi Al Dzimmah, dimana nasabah sebagai pihak penyewa dan penyelenggara haji sebagai pihak yang menyewakan jasa layanan haji. Atas jasa layanan haji tersebut, BPKH mendapatkan fee atau ujrah.

▪Sebaliknya, jama’ah haji mendapatkan layanan untuk menunaikan ibadah haji. Dikatakan Ijarah Maushufah Fi Al Dzimmah karena jama’ah haji membayar ijarah atau fee atas layanan yang belum ada dan baru akan diterima pada saat menunaikan ibadah haji.

▪Oleh karena itu, maka dana setoran haji ini adalah milik nasabah secara individu.

2. Manfaat Dana Haji Manfaat dana haji ini bisa berdasarkan beberapa opsi :

a. Jika dana yang idle tersebut menjadi wadi’ah seperti halnya giro di perbankan syariah, maka berlakulah ketentuan hukum giro wadi’ah di perbankan syariah dimana transaksi formalnya wadi’ah tetapi substansinya adalah qardh.

©Oleh karena itu, jama’ah haji sebagai kreditur. Jika BPKH menginvestasikan atau menempatkan dana haji tersebut di portofolio atau usaha syariah, maka return itu milik pemerintah atau pengelola.

©Begitu pula resiko ditanggung oleh pengelola. Sedangkan kreditur berhak atas pokok modal tanpa imbalan, kecuali bonus yang tidak dipersyaratkan. Hal ini berdasarkan fatwa DSN MUI tentang giro wadi’ah.

©Begitu pula pernyataan AAOIFI bahwa wadi’ah itu substansinya qardh. Hal tersebut juga ditegaskan oleh As-Samarkandy

عارية الدراهم والد نير قرض

b. Mudharabah, dimana jama’ah haji sebagai pemilik modal dan BPKH sebagai pengelola. Atas akad ini, maka keuntungan dibagi sesuai kesepakatan dan kerugian ditanggung pemilik modal, kecuali kerugian diakibatkan oleh ta’addi dan tafrith yang dilakukan oleh pengelola.

3. Dana Efisiensi Jika dana efisiensi ini bersumber dari dana jama’ah haji maka milik jama’ah haji.

▪Sedangkan jika dana efisiensi ini bersumber dari fee milik penyelenggara haji maka dana efisiensi menjadi milik penyelenggara haji.

4. Dana Abadi Umat (DAU)

▪Dana Abadi Umat (DAU) bisa memungkinkan 2 skema :

a. Dana Abadi Umat (DAU) berbentuk infaq jama’ah haji kepada penyelenggara haji dan penyelenggara haji atau BPKH sebagai amil yang harus menyalurkan dana infaq ini untuk kebutuhan mustahik, baik secara langsung ataupun diinvestasikan dan dikembangkan dimana hasilnya itu disalurkan untuk para mustahik dan penerima manfaat.

b. Wakaf, dimana dana ini harus diinvestasikan agar memberikan return dan imbal hasil untuk disalurkan kepada para mustahik atau penerima manfaat. Sedangkan pokoknya tetap di tangan BPKH selaku nadzir.

Sholatnya Orang Sakit

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah..
ustdzh mau tanya..ini ada pasien kanker sdh stadium 3… masih sadar tapi sdh tdk bisa turun dr tempat tidur…dr luka kankernya keluar darah dan nanah
yg mau ditanyakan..klo sholat bagaimana?…diwudhu kan atau tayamum?.trus baju yg terkena darah dan nanah hrs ganti dulu kah?..
oya pasien jg pake pampers karena sudah susah naik turun tempat tidur…

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Semua dibersihkan saat mau sholat,  pempers, darah dan nanah, kalau bisa wudhu di wUdhukan pakai air kalau tdk boleh kena air bisa tayamum. Semampunya

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لِأَنْفُسِكُمْ ۗ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
( Qs. Surat At-Taghabun : 16 )

Wallahu a’lam.

Pengelolaan Keuangan Haji (1)

A. Mukadimah

▪Haji memiliki peran yang penting dan strategis dalam Islam, karena menjadi rukun islam kelima yang berarti menjadi salah satu tiang dari keislaman seseorang.

▪Pada saat yang sama, haji juga dilatarbelakangi oleh niat yang tulus dan komitmen akan ketaatan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, diharapkan setiap biaya dan pengorbanan yang telah dikeluarkan untuk menunaikan ibadah haji ini adalah dana yang halal dan berkah bagi yang bersangkutan, keluarga, dan masyarakat pada umumnya.

▪Seseorang dikatakan wajib menunaikan ibadah haji apabila dianggap mampu atau istitha’ah. Menurut Imam Asy Syaukani, istitha’ah sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an :

وَعَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبـَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً

▪Itu diartikan  والرحیلة adalah bekal bagi keluarga yang ditinggalkan. Sedangkan الرحیلة adalah biaya perjalanan.

▪Sebagian ulama As Syafi’iyyah menambahkan syarat baru sebagai syarat ketiga, yaitu الطریق امن yaitu kondisi perjalanan yang aman. Oleh karena itu, maka jama’ah haji yang sudah memenuhi kriteria tersebut wajib menunaikan haji, dan pada saat yang sama wajib pula menyiapkan bekal agar bisa menunaikan haji dengan sebaik-baiknya.

B. Komponen Dana Haji
Menurut UU No 34 tahun 2014 tentang pengelolaan keuangan haji ditegaskan bahwa sumber keuangan haji itu terdiri dari :

1. Setoran jama’ah haji.
2. Manfaat investasi dana haji.
3. Dana efisiensi penyelenggaraan ibadah haji.
4. Dana Abadi Umat (DAU); dan/ atau
5. Sumber lain yang sah dan tidak mengikat.

C. Hukum Investasi Dana Haji

▪Sesungguhnya jika dana haji itu dibayarkan sebelum menunaikan ibadah haji maka dana tersebut akan bisa digunakan langsung dan tidak ada dana yang mengendap. Tetapi dengan kondisi antrian dan daftar tunggu jama’ah haji saat ini, maka menimbulkan banyak dana haji yang tidak terkelola dan baru bisa digunakan pada saat yang bersangkutan itu menunaikan ibadah haji. Begitu pula, dana-dana lain seperti dana efisiensi, manfaat haji dan dana abadi umat yang berpotensi untuk dikembangkan manfaatnya.

▪Pertanyaan fikihnya adalah bolehkah menginvestasikan dana-dana tersebut untuk bersangkutan?

▪Jika dana tersebut dibiarkan (Idle) tidak dikelola dan dimanfaatkan maka hal ini bertentangan dengan ayat Al Qur’an :

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلاَ يـُنْفِقُونـَهَا فيِ سَبِيلِ الله  َِّ فـَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.”

▪Menimbun harta tersebut juga bertentangan dengan maqashid syari’ah, dimana setiap harta itu harus dikembangkan agar memberikan manfaat yang besar sesuai dengan
kaidah :

حفظ المال من جانب الوجود

©Bahwa salah satu bentuk sarana agar harta itu terlindungi dari keberadaannya maka dengan dioptimalkan. Oleh karena itu, maka dana tersebut harus diinvestasikan dan dikembangkan, sehingga memberikan return dan bagi hasil agar bisa memberikan nilai tambah dan bermanfaat bagi jama’ah haji dan masyarakat pada umumnya.

▪Dengan demikian, maka menginvestasikan dana idle bagi dana-dana haji itu wajib dilakukan dengan ketentuan bahwa itu terjadi dengan izin, mandat atau kuasa daripada jama’ah haji kepada BPKH untuk menempatkannya dalam portofolio tertentu yang halal dan menguntungkan.

D. Maqashid atau Target Investasi Dana Haji

▪Sebagaimana ditegaskan sebelumnya bahwa investasi atau penempatan dana haji ini hukumnya boleh bahkan wajib sesuai dengan dalil-dalil syariah untuk mencapai maqashid atau target-target syariah tertentu, di antaranya adalah:

1. Kewajiban investasi dan mengembangkan harta dan pada saat yang sama meninggalkan dana tersebut idle atau tidak digunakan, dimana hal itu dilarang oleh
syariat.

2. Investasi ini telah menunaikan maqashid

الوجود جانب من المال حفظ

▪Yaitu bagaimana harta bisa dilindungi, dikembangkan dan memberikan return atau imbal hasil yang besar, sehingga dana-dana tersebut memberikan manfaat yang lebih besar.

3. Mashlahat bagi jama’ah haji, penyelenggara jama’ah haji, penyelenggaraan jama’ah haji dan juga mashlahat pada umumnya.

E. Kriteria Investasi

▪Sesuai dengan ketentuan UU No 34 tahun 2008 bahwa seluruh investasi itu harus memenuhi rambu-rambu, di antaranya adalah sesuai syariah, dilakukan atas dasar kehati- hatian, akuntabel, dan lain sebagainya.

▪Dalam fikih, investasi juga harus memenuhi beberapa kriteria berikut:

1. Investasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

2. Tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah, diantaranya adalah fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh DSN MUI selaku otoritas fatwa di Indonesia. Di antara transaksi yang dilarang adalah transaksi di seluruh portofolio atau produk Lembaga Keuangan Konvensional (LKK) ataupun usaha-usaha yang tidak halal, seperti usaha-usaha yang bergerak di bidang pornografi, pornoaksi atau hal-hal yang memberikan madharat kepada anak bangsa dan pendidikan pada umumnya.

3. Investasi tersebut memberikan imbal hasil yang tinggi dengan resiko yang bisa dikendalikan, yaitu dengan cara memilih perusahaan-perusahaan yang amanah tetapi juga resikonya harus dimitigasi. Hal ini sesuai dengan penegasan dari Ibnu Taimiyyah bahwa

الخطر خطران خطر التجارة الذي لا بد منه

“Resiko itu ada dua, yaitu pertama adalah resiko dagang atau bisnis yang tidak bisa dihindarkan namun dibolehkan oleh syariat. Sedangkan resiko yang dilarang adalah
resiko yang berbasis judi atau spekulasi.

4. Investasi tersebut prioritasnya dilakukan pada sektor riil sebagaimana berdasarkan prinsip fikih aulawiyyat atau fikih prioritas yang mengharuskan kita untuk memilh mana yang lebih baik daripada yang baik dan mana yang lebih mashlahat daripada
yang mashlahat.

▪Dalam kaidah fikih juga disebutkan bahwa mashlahat yang lebih besar didahulukan daripada mashlahat yang lebih sedikit dan mashlahat yang mencakup orang banyak juga didahulukan daripada mashlahat yang mencakup orang sedikit. Sesuai dengan kaidah fikih :

المصلحة العامة مقدمة على المصلحة الخاصة

Jual Beli dengan Akad Salam

Assalamualaikum… ustadz/ustadzah saya menanyakan apa perbedaan jual-beli menggunakan akad Salam dengan jual-beli tanpa dimiliki dulu barangnya (yg dilarang)?

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Salam adalah jual beli dgn cara bayar kontan tp barangnya ditunda. Ini boleh menurut ijma’.

Rukunnya ada 3:
1. Ada 2 org yg transaksi salam
2. Ada modal/uang untuk terjadinya salam
3. Ada ijab kabul, serah terima jelas

Syaratnya:
– barang jelas, detil speknya
– kapan mesti ada barangnya juga jelas
– barang itu jg wujud dipasaran saat waktunya sesuai prjanjian

Ada pun jual beli ​”bayar dulu barangnya belum ada”​ karena ada unsur gharar, yg tidak memenuhi syarat di atas, seperti:

– barangnya blm jelas baik keberadaannya atau  kepemilikannya

– belum jelas kapan adanya

Cth:
📌 Beli buah yg masih di pohon, tp masih kecil2 ..blm jelas berapa yg akan matang atau kapan matangnya, tp dibayar kontan .. Ini tidak boleh, krn spekulasi dan gharar

Paham ya bedanya ..

Wallahu a’lam.

Menghidupkan Budaya Tabayyun​

Mujahid Rahimahullah bercerita:

أرسل رسول الله الوليد بن عقبة إلى بني المصطلق ليُصدّقهم، فتلقوه بالصدقة، فرجع فقال: إن بني المصطلق قد جمعت لك لتقاتلك -زاد قتادة: وإنهم قد ارتدوا عن الإسلام-فبعث رسول الله خالد بن الوليد إليهم، وأمره أن يتثبت ولا يعجل. فانطلق حتى أتاهم ليلا فبعث عيونه، فلما جاءوا أخبروا خالدا أنهم مستمسكون بالإسلام، وسمعوا أذانهم وصلاتهم، فلما أصبحوا أتاهم خالد فرأى الذي يعجبه، فرجع إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فأخبره الخبر، فأنزل الله هذه الآية. قال قتادة: فكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: “التَّبيُّن من الله، والعَجَلَة من الشيطان”.

  Rasulullah ﷺ mengutus Al Walid bin ‘Uqbah menuju Bani Al Mushthaliq untuk mengambil zakat mereka, lalu mereka memberikan zakat kepadanya, lalu Al Walid pulang, kemudian berkata:

  “Sesungguhnya Bani Mushthaliq telah berkumpul untuk memerangi Engkau (Rasulullah) –Qatadah menambahkan: mereka telah murtad dari Islam.”

Maka, Rasulullah ﷺ mengutus Khalid bin Al Walid kepada mereka, dan memerintahkannya untuk menginvestigasi (tatsabbut) dan jangan tergesa-gesa. Lalu, Khalid pun berangkat sampai kepada mereka dimalam hari, kemudian  menyebarkan mata-matanya. Ketika mereka (mata-mata) itu datang, mereka memberikan kabar kepada Khalid bahwa Bani Al Mushthaliq masih konsisten terhadap Islam, mereka masih mendengarkan adzan dan shalatnya mereka.

Pagi harinya, Khalid sendiri yang mendatangi mereka (Bani Al Mushthaliq) maka Khalid  melihat keadaan mereka yang mengagumkan baginya.

Lalu, Khalid kembali kepada Rasulullah ﷺ dan memberikan kabar kepadanya. Maka Allah ﷻ menurunkan ayat ini.”

Qatadah berkata: “Maka, Rasulullah ﷺ bersabda: “Tabayyun (meneliti berita) itu dari Allah, dan tergesa-gesa itu dari syetan.”

(Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 7/372)

Ayat apakah yang dimaksud turun setelah kejadian itu? Yaitu ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. Al Hujurat: 6)

Lebih dari satu ulama salaf yang mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan peristiwa di atas, seperti Ibnu Abi Laila, Yazid bin Ruman, Adh Dhahak, Muqatil bin Hayyan, dan lainnya. (Ibid) 

📚 Pelajaran Penting:

📌 Jangan tergesa-gesa menerima, mempercayai, dan menyikapi berita, apalagi menyebarkannya

Dari Hafsh bin ‘Ashim Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Cukuplah seseorang dikatakan berdusta jika dia selalu mengatakan setiap apa-apa yang dia dengar. (HR. Muslim No. 6)

📌  Periksalah berita, apalagi menyangkut aib dan kehormatan  saudara sesama muslim

📌  Adil-lah dalam menerima berita. Bertabayyun jangan hanya ketika ada berita buruk tentang orang yang kita sukai, tapi kita tidak bertabayyun ketika ada berita buruk tentang orang yang kita musuhi, sebab itu termasuk curang dalam timbangan

📌  Bertabayyun hendaknya dillakukan langsung kepada sumber yang diberitakan agar mendapatkan penjelasan, data, dan fakta primer tingkat tinggi

📌 Atau, kepada orang dekatnya yang tahu masalah, terpercaya, dan jujur

Wallahu A’lam. Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

Menemukan Dompet di Jalan

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah saya mau tanya kemaren pagi saya menemukan dompet jatuh dijalan dan saya ambil karena saya pikir didalamnya ada indentitas yg punya tapi ternyata tdk ada identitasnya sama sekali…. trus saya hrs bagaimana….? Mau mngembalikkan tapi ndak tau siapa yg punya.

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Sebenarnya tdk boleh diambil jika itu jelas milik seseorang, kecuali dia mengizinkannya. Tapi, jika menyelamatkannya khawatir diambil orang yang tidak bertanggungjawab maka tidak apa-apa.

Menyikapinya adalah jika itu barang yang kemungkinan masih diinginkan pemiliknya, kita boleh mnyimpannya selama 1 th untuk menunggu pemiliknya, jika yg punya datang maka berikan, jika tdk ada yg datang maka boleh jadi milik kita atau sedekahkan atas nama yg punya.

Jika barangnya sesuatu yg tdk berharga, rongsokan, atau sesuatu yg oleh pemiliknya sdh tdk diinginkan, maka boleh langsung dimiliki.
Pembahasan ini ada dalam Bab Luqathah.

Wallahu a’lam

Paranoid Ekstrim Terhadap Islam​

📌 Mereka resah dan gelisah dengan apa yang mereka katakan Islam Ideologi

📌 Hal-hal yang beraroma Islam di semua sendi hidup, mereka menggugatnya

📌 Padahal mereka ini ngakunya muslim juga .. Tapi rasa takutnya luar biasa

📌 Perumahan Islam mereka gugat, sebagai sebab intoleransi

📌 Tepuk Anak Shalih yang biasa di TK TK Islam mereka gugat, sebagai bibit radikalisme

📌 Entah .. Apakah mereka juga mau menggali kubur para pahlawan di Kalibata yang dikavling sesuai agamanya lalu dicampurkan dengan yang lain

📌 Ketakutan tingkat parah ini menunjukan sisi kebencian kepada Islam yang tingkat “Ultra”

📌 Muslim bangga dengan Islam, muslim bangga demgan budayanya .. Itu adalah hal natural .. Tapi bagi mereka itu  intoleransi

Maha Benar Allah Ta’ala ketika berfirman;

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنكَ صُدُودًا

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (QS. An Nisaa: 61)