Membaca Al Quran di Ponsel

Assalamu’alaikum Ustadz, afwan mau tanya ketika kita membaca Al Qur’an di ponsel dlm kondisi blm wudhu apa haram?
Syukran

Jawaban
—————

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak ketika ditanya demikian, beliau menjawab:

Telah disepakati (ulama) bahwa membaca Al-Quran secara hafalan, tidak disyaratkan untuk suci dari hadats kecil, bahkan tidak harus suci dari hadats besar. Namun dalam kondisi suci ketika membaca Al-Quran, sekalipun hafalan adalah lebih utama. Karena Al-Quran adalah firman Allah. Dan termasuk upaya mengagungkan firman Allah, hendaknya tidak dibaca kecuali dalam kondisi suci.

Adapun membaca Al-Quran dengan membawa mushaf maka disyaratkan suci dari hadats karena memagang mushaf, berdasarkan hadis yang masyhur, ‘Tidak boleh menyentuh Al-Quran kecuali orang yang suci.’ Juga berdasarkan riwayat dari para sahabat dan tabi’in.

Dan inilah pendapat mayoritas ulama, bahwa dilarang bagi orang yang berhadats untuk memegang mushaf, baik untuk dibaca maupun untuk tujuan lainnya.

Oleh karena itu, yang benar, HP atau peralatan lainnya, yang berisi konten Al-Quran, tidak bisa dihukumi sebagai mushaf. Karena teks Al-Quran pada peralatan ini berbeda dengan teks Al-Quran yang ada pada mushaf. Tidak seperti mushaf yang dibaca, namun seperti vibrasi yang menyusun teks Al-Quran ketika dibuka. Bisa nampak di layar dan bisa hilang ketika pindah ke aplikasi yang lain. Oleh karena itu, boleh menyentuh HP atau kaset yang berisi Al-Quran. Boleh juga membaca Al-Quran dengan memegang alat semacam ini, sekalipun tidak bersuci terlebih dahulu.

Wallahu a’lam.

Segala Bentuk Usaha Adalah Ibadah​

Hadits:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً، وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَة،ٌ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَة،ٌ وَمَا أَكَلَتْ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَة،ٌ وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ (رواه مسلم)

Dari Jabir ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Tidaklah seorang muslim yang menancapkan satu tanaman, kecuali setiap (hasil) tanaman yang dimakannya akan bernilai sedekah baginya; apa yang dicuri orang darinya menjadi sedekah baginya; apa yang dimakan binatang liar menjadi sedekah baginya; apa yang dimakan burung menjadi sedekah baginya; dan juga tidaklah seseorang mengambil darinya, melainkan akan menjadi sedekah bagi dirinya.” (HR. Muslim, hadits no. 2900)

Hikmah Hadits:

1⃣. Keutamaan berusaha dan bekerja dalam rangka memenuhi nafkah diri dan keluarga.

Bahwa setiap usaha yang dilakukannya akan bernilai ibadah di mata Allah Swt. Jika ia seorang petani, maka setiap tanaman atau bibit atau biji yang ditanamnya akan terhitung sebagai amal perbuatan yang memiliki nilai ibadah yang mulia (baca ; sedekah) sebagaimana digambarkan dalam hadits di atas.

2⃣. Ulama berbeda pendapat terkait usaha apakah yang paling mulia di mata Allah Swt.

(1) Sebagian berpendapat bahwa pertanian adalah yang paling mulia dengan dasar hadits di atas ditambah lagi bahwa petani benar-benar mengharapkan hasil pertaniannya dari Allah SWT karena Allah lah yang menumbuhkan dan memberikan buah2an tersebut.

(2). Sebagian lainnya mengatakan bahwa berdagang merupakan bentuk yang paling mulia, lantaran Nabi Saw dahulunya adalah seorang pedagang, dan banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang memberikan permisalahan hubungan seorang hamba dengan Allah Swt sebagai hubungan tijarah (perdagangan).

3⃣. Namun sesungguhnya dalam Islam, segala bentuk usaha, apakah pertanian, perdagangan, pegawai, profesional, atau apapun ​selama niatnya ikhlas karena Allah Swt, pekerjaan dan usaha yang dilakukannya halal tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah, jujur dan amanah, serta menjaga akhlak dan etika bekerja sebagai seorang muslim/ah​. Maka betapa bahagianya seorang muslim, karena setiap pekerjaannya mengantarkannya pada dua benefit dan kebaikan:

☆ benefit duniawi dengan gaji, tunjangan, bonus dan faslitas yang ia dapatkan dan

☆ benefit ukhrawi dengan pahala dan ampunan dosa dari pekerjaannya.

Nabi Saw bersabda, ​“Barang siapa yang di sore hari duduk melepaskan lelah dari pekerjaan yang dilakukan oleh kedua tangannya, maka ia dapatkan aore hari tersebut dosa-dosanya diampuni oleh Allah Swt.” (HR. Thabrani)

Wallahu A’lam

Lupa Rakaat Sholat Tarawih

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Jika saya ikut shalat tarawih berjamaah tiba2 lupa udah sampai rakaat yg keberapa dan jadi berfikiran ngikut imam saja tanpa tahu sudah berapa rakaat. Bagaimana hukum shalatnya ?

Dan ke 2

Sah atau tidak jika niat shalat berjamaah, imamnya di masjid tp saya nya di kos ? Sedangkan bacaan imam terdengar dengan jelas ?
A22

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Lupa jumlah rakaat salah satu sebab mengharuskannya sujud sahwi. Jadi, ketika lupa itu anggap saja sebagai rakaat angka kecilnya, lalu lanjutkan kekurangannya, dan ketika duduk tasyahud akhir dgn 2 x sujud sahwi, dilakukan setelah membaca innaka hamidum majid. Wallahu a’lam

Berpisah dgn Imam sampai lain gedung, tidak sah shalatnya. Kecuali jika ada sebab syar’i seperti masjid yg tidak menampung jamaah akhirnya jamaah sampai numpang di gedung2 sekitar, ini tidak apa2, dan pernah terjadi di masa aahabat dan tabi’in.

Wallahu a’lam.

Kisah Khadijah Binti Khuwailid Ra. Wanita Mulia Sepanjang Masa

Oleh: Eko Yuliarti Siroj

❤️ Dia adalah Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab. Dia adalah ibu kandung putra putri Rasulullah Saw. Orang pertama yang beriman kepada beliau dan kepada risalahnya.

💚 Dalam sebuah suasana santai yang diliputi oleh cahaya Robbani, Rasulullah Saw tampak sedang berbincang dengan Khadijah Ra. Suaranya yang jernih menyentuh relung hatinya dan hikmah yang meluncur dari kedua bibirnya membuat jiwanya begitu bahagia.

💙 Dalam suasana seperti itu, datanglah seorang pelayan yang mengatakan “Tuanku, sesungguhnya Halimah binti Abdullah bin Al Harits As Sa’diyah mohon izin untuk bertemu dengan anda berdua.” Saat mendengar nama Halimah disebut, hati Rasulullah Saw yang diliputi kerinduan dipenuhi dengan kenangan-kenangan masa lalu yang sangat disukainya. Beliau teringat dengan padang ilalang Bani Sa’ad dan bagaimana ia tumbuh dibawah asuhan Halimah As Sa’diyah.

💜 Khadijah Ra langsung berdiri untuk menyambut kedatangan Halimah. Ia sering mendengar Rasulullah Saw. Bercerita tentang sosok wanita yang penuh rasa cinta, kasih sayang, kehangatan dan kemuliaan tersebut. Ketika Rasulullah Saw menatap wanita itu, Khadijah mendengar suaminya dengan suara lirih memanggil rindu “Ibuku…ibuku…”. Bahagia yang amat sangat terpancar dari wajah Rasulullah Saw.

❣ Ditengah perbincangan yang hangat, Rasululllah Saw bertanya tentang keadaan keluarga Halimah. Halimah pun menceritakan kondisi sulit yang dialamainya beserta keluarganya. Ia menceritakan tentang kemiskinan yang menjadi-jadi di kampungnya.
Mendengar hal itu, Rasulullah Saw memperlihatkan kedermawanannya dengan menyampaikan kesedihannya mendengar cerita Halimah ibu susunya. Khadijah meresponnya dengan hati yang penuh kasih sayang. Ia membekali Halimah dengan 40 ekor kambing dan 1 ekor unta yang bisa dipergunakan untuk mengangkut air dan perbekalan yang cukup hingga Halimah sampai di kampung halamannya. Khadijah selalu siap mengorbankan hartanya demi menyenangkan hati suaminya di jalan Allah. Rasulullah Saw berterima kasih kepada Khadijah atas kebaikannya, lalu ia menyiapkan semua pemberian istrinya dan membawanya ke hadapan ibu susunya.

💞 *Butir-butir Hikmah*💞 :
💕 Diantara kebaikan seorang perempuan adalah memiliki nasab yang jelas dan baik.
Pasangan suami istri perlu menyiapkan  waktu khusus untuk berbincang santai berdua saja. Membahas hal-hal ringan yang membahagiakan. Bertukar cerita yang saling menyenangkan.
💓 Masing-masing pasangan baik suami dan istri hendaknya mempelajari ilmu komunikasi agar masing-masing mengetahui bagaimana cara membahagiakan pasangan dengan cara yang sederhana.
Diantara karakter keluarga yang baik adalah selalu menyambut kehadiran tamu dengan baik.
💗 Istri yang baik menghargai dan menghormati tamu suaminya. 
💖 Diantara adab menerima tamu adalah menghadirkan pasangan dihadapan tamu jika tamu tersebut lawan jenis.  Hal ini sebagai bentuk penghargaan untuk pasangan dan menghindari fitnah.
💘 Rasulullah Saw sangat menghargai dan menghormati orang-orang yang pernah memberikan kebaikan kepadanya.
💝 Saat memberikan bantuan kepada keluarga besar, baik suami maupun istri harus melakukannya secara terbuka dengan pasangan. Tidak menyembunyikan kebaikan yang dilakukan untuk keluarga besarnya, akan tetapi bahu membahu memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. 
Keterbukaan antara suami istri inilah yang akan menghindarkan suami istri dari salah paham dalam segala hal.

Sewa Gratis

Oleh: Noorahmat, M.Sc

Assalamu’alaikum. Mau bertanya tentang pemberian sewa gratis tempat sampai beberapa waktu. Dalam hal ini, pemberian itu apa disebut hibah? Atau hanya sekedar sewa tapi memang tdk berbayar (gratis) krn utk dimanfaatkan tempatnya utk menuntut ilmu?

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Terkait pemberian sewa tempat gratis, baru dapat dipastikan setelah penandatanganan kontrak atau MoU antara penyewa dengan yang menyewakan tempat.

Sewa gratis tersebut bisa dimaknai hibah, hadiah maupun sedekah dari yang memiliki tempat. Semua tergantung niat pemilik tempat.

Kalau melihat maksud penggunaan tempat adalah untuk pendidikan, dan pemilik tempat mengetahui maksud tersebut untuk kemudian diberikan sewa gratis, maka InsyaAllah itu merupakan amal shalih untuk pemilik.

Titik tekan tetap pada adanya perjanjian hitam diatas putih yang mencatat segala hal terkait persewaan dan tujuan penggunaan termasuk tempo penyewaan dan biaya penyewaan meskipun gratis.

Wallahu a’lam.

Hentakkan Jiwamu..!!​

Oleh: Abdullah Haidir, Lc

Kadang, ada saatnya dalam hidup ini, kita tidak lagi membutuhkan cara-cara gradual untuk meraih kebaikan, atau menghindar dari keburukan.

Karena, perbedaan yang tipis antara menempuh cara gradual untuk melakukan perbaikan, dengan tabaathu’ (keengganan), takaasul (kemalasan) dan taswiif (menunda-nunda), sering menjadi celah bagi setan untuk menghalangi seseorang dari langkah-langkah kebaikan dengan alasan bertahap dalam melakukannya.

Ya, ada saatnya kita membutuhkan hentakan jiwa untuk keluar dari perangkap setan yang menghalangi kita untuk mengambil langkah tegas, cepat dan tepat dalam melakukan kebaikan.

Karena, sedikit saja kita tunda langkah tersebut dengan berbagai alibi, disanalah setan masuk, mengulur-ngulur waktu lebih lama sambil memberi janji-janji manis penuh pesona, lalu menggiring pada kemunkaran yang nyata.

Ketika azan telah berkumandang, sementara kita masih tertidur lelap serasa malam masih panjang, atau tenggelam dalam kesibukan kerja bak pejuang, saat itu kita perlu hentakan untuk menggerakkan jiwa menyambut panggilan Tuhan, menghadap-Nya dengan jiwa yang tenang.

Ketika jadwal pengajian sudah tiba gilirannya, sementara kita sedang asyik bercengkrama dengan keluarga, bercanda dengan kolega, menyalurkan hobi yang disuka, menghadiri undangan tetangga, atau asyik berselancar di dunia maya, saat itu kita perlu hentakan untuk menggerakan hati, memenuhi agenda jiwa, menunaikan janji membina diri menuju takwa.

Ketika batang demi batang rokok tidak juga dapat kita tinggalkan, janji untuk menghentikannya sudah berkali-kali dinyatakan, berbagai terapi sudah dipraktekkan, saat itu kita butuh hentakan jiwa, tinggalkan total hingga tak tersisa dan hapuskan rokok dari ingatan saat itu juga.

Ketika bayang-bayang ‘si Dia’ begitu menggoda, senyumannya selalu terbayang di pelupuk mata, ucapannya indah terdengar bagaikan kata-kata mutiara, bayang-bayangnya selalu hadir saat bekerja, beribadah dan dimana saja, berpindah-pindah antara satu ‘zina’ ke ‘zina’ berikutnya…..

Saat itu, perlu hentakan jiwa. Hapuskan ‘file’ tentang ‘si Dia’ dalam pikiran dan perangkat lainnya, atau…. segera menikah, agar ekspresi cinta tersalurkan dengan halal dan penuh mesra.

Dahulu, kala perang Mu’tah yang sangat heroik, ketika satu demi satu panglima perang kaum muslimin gugur, timbul sedikit kegentaran pada diri *Abdullah bin Rawahah*, sahabat mulia yang dikenal ahli sastra. Namun dia tidak ingin terpenjara oleh jebakan setan durjana. Segera dia hentakan jiwanya untuk turun ke arena, seraya bersenandung penuh makna…

أقسمت يا نفس لتنــــــــــزلن لتنزلن أو لتــــــــــــكرهنه
إن أجلب الناس وشدوا الرنة ما لي أراك تكـرهين الجنة

_Aqsamtu billahi ya nafsu latanzilinna……._
_Latanzilinna aw latukrahinnah…._
_In ajlabannasu wa syaddu rannah_
_Maalii araaki takrahiinal jannah…_

_Aku bersumpah! wahai jiwa, engkau harus turun perang._
_Engkau harus turun, atau kalau tidak, engkau akan dipaksa._
_Orang-orang sudah turun, suara telah bersahutan…_
_Mengapa ku lihat engkau tidak menyukai surga…?_

Tak lama kemudian, *Abdullah bin Rawahah* sudah termasuk barisan syuhada…..

Di sisi lain, Saat perang Tabuk, *Ka’ab bin Malik* tak segera menghentakkan jiwanya utk menyambut seruan Rasulullah saw untuk andil dalam perang tersebut, beliau justeru membiarkan dirinya diombang ambing bisikan setan dengan godaan-godaan duniawi.

Akhirnya diapun tertinggal pasukan perang Tabuk dan kemudian mendapatkan hukuman Rasulullah saw hingga akhirnya Allah menerima taubat sang sahabat yang mulia ini……

*Ramadan* adalah kesempatan emas untuk melakukan berbagai hentakan jiwa menuju takwa, meraih pahala, menanggalkan dosa, berharap mendapatkan kucuran rahmat, ampunan dan surga……

_Kalau tidak sekarang, kapan lagi?_

Wallahu a’lam

Waspada Terhadap Lawanmu & Tipudayanya

Oleh: Agung Waspodo, SE, MPP

*Tingkatkan Kesadaran akan Lingkunganmu*

الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. (QS an-Nisa, ayat 76)

Gambar menunjukkan seorang mata-mata Russia yang menyamar sebagai juru da’wah atau guru agama. Ia tertangkap dekat kota Kars di sebelah timur wilayah Anatolia oleh pasukan kekhilafahan Turki Utsmani, AND, 1915.

Orangtua yang Suka Membanggakan Orang Lain

Oleh: Dwi Hastuti R.S.Psi

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….afwan sy mau tanya, saya punya teman, di sekolah sering mendapat nilai yang kurang memuaskan. Dia cerita kalau orang tua nya sering membedakan teman2 nya yang nilai nya bagus dan menceritakan kebagusan orang tersebut . Orang tua nya sering membanggakan orang yang dapat nilai bagus tersebut. Sayangnya nilai anaknya,teman saya ini, kurang memuaskan. Gimana ya solusinya dan bagaimana cara menyikapi kondisi tersebut?  tks
i.04

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Mudah2an saya tidak salah memahami pertanyaan nya. Yang saya pahami ada temen penanya yang merasa “tersakiti” karena ortunya sering membandingkan dengan lainnya bahkan lebih bangga dengan lainnya daripada anak sendiri.
Kalau memang kasusnya begitu,perlu ada komunikasi yang bisa memperjelas kondisi. Karena dengan komunikasi menjadi jembatan untuk saling mengetahui satu dengan lainnya.

Allah pun menciptakan mulut dan akal yang digunakan untuk sarana berkomunikasi sehingga gunakan ciptaan Allah ini sesuai dengan fungsinya.

Berhubung yang dihadapi adalah ortu sehingga perlu trik khusus agar apa yang ingin disampaikan bisa diterima dengan baik.
📌pilih waktu yang tepat untuk mengungkapkan rasa tidak nyaman ortu yang selalu membandingkan dengan lainnya,bahkan cara membandingkan itu dilakukan di khalayak umum.

📌jika dirasa sulit cari pihak lain yang lebih didengar oleh ortu atau lebih disegani ortu untuk menjadi jembatan dalam mengungkapkan uneg2 hati
Contoh: kalau hal itu dilakukan oleh bapak,coba ungkapkan keluhan hati ke ibu,kakak,pakdhe atau sodara lainnya

📌perlu digali lagi apa benar diri ini lebih baik dari lainnya. Manusia dilahirkan memiliki potensi diri yang membedakan dengan manusia lainnya. Carilah itu!

📌bisa jadi itu adalah cara ortu memberikan motivasi pada anaknya supaya anaknya bisa melakukan yang lebih dari sebelumnya. Be positif thinking!

📌ada berbagai cara untuk mengungkapkan rasa kesal dan marah,hal itu wajar punya rasa marah dan kesal karena Allah memang kasih itu di setiap manusia. Tapi carilah cara yang tidak sampai merugikan diri sendiri dan orang lain dalam mengungkapkan rasa kesal dan marah.

Wallahu a’lam.

Hadist Tentang Kegemaran Syaitan Mengganggu Kedamaian Rumah Tangga

Oleh: Dwi Hastuti R.S.Psi

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah saya mohon penjelasan tentang hadits yang menyatakan bahwa syaitan(iblis) senantiasa mengganggu kedamaian dalam rumah tangga.. Terima kasih.

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،

Berbicara tentang iblis,telah dijelaskan dengan gamblang dalam Al-Qur’an. Bagaimana iblis membangkang akan perintah Allah dan berjanji untuk menyesatkan manusia. Ketika Allah memerintah untuk bersujud pada Adam,iblis tak mau bersujud ( Qs. Al-Baqarah : 34 )

hingga Allah mempertanyakan mengapa iblis tak mau bersujud kepada Adam.
Iblis menjawab dengan sombongnya bahwa manusia hanya diciptakan dari tanah,tak lebih baik dari iblis. ( Qs. Al-A’raf : 12 ).

Dan ada pula janji iblis kepada Allah karena tak mau bersujud pada Adam yaitu akan menyesatkan manusia sampai hari dibangkitkan.
( Qs. Al A’raf  : 16-17 ).

Begitulah sifat iblis,sombong dan berjanji menyesatkan manusia sampai hari dibangkitkan.

Salah satu kesukaan iblis adalah memisahkan suami dan istri.

Rasulullâh –shallallâhu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Sesungguhnya Iblis menempatkan singgasananya di atas air, lalu menyebar anak buahnya ke berbagai penjuru, yang paling dekat dengan sang Iblis adalah yang kemampuan fitnahnya paling hebat di antara mereka, salah seorang dari anak buah itu datang kepadanya dan melapor bahwa dirinya telah berbuat begini dan begitu, maka sang Iblis berkata: ‘kamu belum berbuat sesuatu’, lalu seorang anak buah lainnya datang dan melapor bahwa dia telah berbuat begini dan begitu sehingga mampu memisahkan antara seorang suami dari istrinya, maka sang Iblis menjadikan sang anak buah ini sebagai orang yang dekat dengannya, dan Iblis berkata: ‘tindakanmu sangat bagus sekali’, lalu mendekapnya”. (H.R. Muslim [5032]).

Wallahu a’lam.

Da’wah Nabi: Antara Lembut dan Tegas

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

Islam mengajarkan untuk tawazun (seimbang):

_wa aqiimul wazna bil qishthi wa laa tukhsirul miizaan_

Di antara keseimbangan itu adalah seimbang antara reward dan punishment, pujian dan kritik, serta kelembutan dan ketegasan.

Pada dasarnya, lembut adalah baik, tapi jika bukan pada tempat dan waktunya maka itu zalim.

Pada dasarnya, tegas itu bagus, tapi jika bukan pada tempat dan waktunya, itu juga zalim.

Kedua sikap ini benar pada kondisinya masing-masing.

Da’wah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sangat memperhatikan keduanya.

Nabi pernah melerai seorang pemuda yang mabuk dari amuk massa saat itu, dan menyelamatkannya, serta mengatakan _”dia masih mencintai Allah dan Rasul-Nya”._

Nabi pernah menjenguk Yahudi yang sakit lalu mengajaknya kepada Islam.

Nabi tidak memarahi Badui yang kencing di masjid, justru melarang para sahabat yang bersikap keras kepadanya.

Nabi tidak menghardik orang yang tubuhnya beraroma bawang merah dan bawang putih di  masjid, tapi dia pegang tangannya dengan lembut dan membawa  keluar masjid sampai ke Baqi’.

Masih banyak fragmen lain, yang menunjukkan kelembutan da’wah nabi.

Tapi .. kita dapati ketegasan pula dalam da’wahnya, jika memang itu yang diperlukan.

Nabi pernah memboikot tiga sahabatnya sendiri lantaran tidak mentaatinya untuk mengikuti perang Tabuk , 50 hari lamanya mereka didiamkan sampai Allah menerima taubat mereka.

Nabi pernah mendiamkan semua istrinya sebulan lamanya pasca perang Hunain, lantaran mereka meminta harta dunia yang tidak dimilikinya.

Nabi pernah sangat marah kepada Usamah bin Zaid karena mencoba merayu nabi agar meringankan hukuman bagi wanita Bani Makhzum yang mencuri, _”Seandainya Fathimah mencuri aku sendiri yang memotong tangannya!”_ Kata nabi.

Nabi pernah marah kepada Usamah bin Zaid karena telah membunuh  musuh yang telah bersyahadat, walau syahadatnya itu menurutnya hanya untuk menghindar saja, _”Kenapa kau tidak belah saja dadanya agar kau tahu karena apa dia bersyahadat!”_ Kata nabi.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah marah kepada para sahabat yang telah salah dalam fatwa mandi wajib bagi yang junub dalam keadaan pendarahan sehingga hilang nyawa seseorang karena fatwa itu, _”Mereka telah membunuhnya, semoga Allah memerangi mereka!”_ Kata nabi.

Masih banyak fragmen ketegasan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam baik kepada sahabatnya dan juga musuhnya.

Maka, selalu lembut tanpa kenal ketegasan adalah banci …

Selalu tegas tanpa kenal kelembutan adalah preman …

Da’wah Nabi dan para sahabat amat memperhatikan keseimbangan keduanya ..

Keshalihan seseorang tidak semata dinilai dari berapa lembut dia terhadap manusia ..
Keshalihan seseorang juga tidak dinilai dari berapa tegas dia terhadap manusia ..

Tetapi ditentukan oleh kemampuannya dalam meletakkan posisi manusia dan kesalahan mereka ..yang dengannya disikapi lembut atau tegas.

Maka, lembut atau tegas karena tiga hal: kondisi orangnya, kadar dan jenis kesalahannya, dan situasi yang melatar belakanginya.

Pemahaman terhadap hal-hal ini sangat vital, jika tidak memahaminya pasti dia tergelincir dan jauh tergelincir .. walau dia merasa benar dan tahu.

Wallahu a’lam