Romantis Tahajud Bersama

SUASANA ROMANTIS DALAM KELUARGA RASULULLAH SAW

Pemateri: Ustadzah. Dra. Indra Asih

Suasana harmonis sangat ditentukan dengan kerja sama yang bagus antara suami istri dalam menciptakan suasana yang kondusif dan hangat, tidak membosankan, apalagi menjemukan.

Rasulullah adalah sosok manusia yang paling sempurna akhlaknya di antara makhluk ciptaan Allah. Beliau merupakan sosok teladan terbaik dalam membina keluarga, sehingga patut dijadikan contoh bagi seluruh umat manusia di muka bumi ini.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memukul siapapun dengan tangannya, tidak pada perempuan, tidak juga pada pembantu, kecuali perang di jalan Allah.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga ketika diperlakukan sahabatnya secara buruk tidak pernah membalas, kecuali kalau ada pelanggaran atas kehormatan Allah, maka ia akan membalas atas nama Allah.

(HR Muslim).

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling sibuk. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pemimpin pemerintahan negara, memimpin ribuan tentara, menghabiskan waktunya untuk agama, tetapi beliau tetap meluangkan waktu bersama istri dan keluarga, sesuai sabdanya:

“Orang terbaik di antara kalian (suami) adalah yang terbaik bagi keluarganya dan akulah di antara kalian yang paling baik terhadap keluargaku, tidak memuliakan wanita kecuali orang yang hina,”

(HR Ibnu Asakir dari Ali bin Abi Thalib).

Gambaran bagaimana suasana romantis beliau bersama istrinya nampak pada:

1. Panggilan Kesayangan

Suasana mesra dalam rumah tangga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah ia memanggil ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dengan panggilan kesayangan dan mengabarkan kepadanya berita yang membuat perasaan ‘Asiyah menjadi  sangat bahagia.

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bercerita sebagai berikut, pada suatu hari Rasûlullâh berkata kepadanya.

يَا عَائِشُ, هَذَا جِبْرِيْلُ يُقْرِئُكِ السَّلاَمَ

“Wahai ‘Aisy Malaikat Jibril tadi menyampaikan salam buatmu.”

(HR Muttafaqun ‘alaihi).

Kita masih sering mendengar suami yang memanggil istrinya seenaknya saja. Bahkan ada yang memanggil istrinya dengan cacat dan kekurangannya.

Kalau begitu sikap suami, mungkinkah keharmonisan dapat tercipta?

Mungkinkah akan tumbuh rasa cinta istri kepada suami?

2.  Mandi Bersama

Suami-istri diperbolehkan mandi bersama dalam satu ruangan meski masing-masing saling melihat aurat pasangannya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata;

كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَ رَسُوْلُ اللهِ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ

Aku biasa mandi berdua bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari satu bejana. (HR Bukhari).

Dalam redaksi yang lain disebutkan Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

“Aku pernah mandi berdua bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari satu wadah yang terletak di antara aku dan beliau.

Tangan kami berebutan menciduk air yang ada di dalamnya. Beliau menang dalam perebutan itu, sampai aku katakan, “Sisakan untuk saya…Sisakan untuk saya…!

Kami dalam keadaan junub.” (HR Bukhari Muslim)

3.   Makan dan Minum dalam Satu Tempat

‘Aisyah radhiallahu ‘anha menuturkan:

كُنْتُ أَشْرَبُ وَأَنَا حَائِضٍ, فَأُنَاوِلُهُ النَّبِيَ فَيَضَعُ فَاهُ عَلَى مَوْضِعِ فِيّ وَ أَتَعَرَّقُ العَرَقَ فَيَتَنَاوَلُهُ وَ يَضَعُ فَاهُ فِي مَوْضِعِ فِيّ

“Suatu ketika aku minum, ketika itu aku sedang haidh, lantas aku memberikan gelasku kepada Rasulullah dan beliau meminumnya dari mulut gelas tempat aku minum. Dalam kesempatan lain aku memakan sepotong daging, lantas beliau mengambil potongan daging itu dan memakannya tepat di tempat aku memakannya.” (HR Muslim)

Begitulah kemesraan dapat tercipta, yaitu menciptakan rasa saling memiliki. Sepiring berdua, segelas berdua, makan berjama’ah serta beberapa hal lain yang dianjurkan oleh Rasulullah agar dilakukan bersama oleh suami istri!

Dengan demikian akan tercipta rasa saling memahami satu sama lain.

4.   Mencium Kening Istri

Dalam kesempatan lain Rasulullah saw tidak malu untuk bermesraan walaupun hanya sekedar mencium istri sebelum keluar rumah.

Diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa ia berkata:

أَنَّ النَّبِيَ قَبَّلَ امْرَأَةً مِنْ نِسَائِهِ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلاَةِ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ

“Sungguh Rasulullah pernah mencium salah seorang istri beliau baru kemudian berangkat menunaikan shalat tanpa memperbaharuhi wudhu”

(HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

Budaya mencium istri agaknya masih asing di tengah masyarakat kita, khususnya masyarakat timur. Bahkan masih banyak yang menggapnya tabu, mereka mengklaimnya sebagai budaya barat.

Tentu saja mencium istri yang kita maksud di sini bukanlah mencium istri di depan umum atau di hadapan orang banyak. Sebenarnya banyak sekali hikmah sering-sering mencium istri.

Sering kita lihat sepasang suami istri yang saling cuek. Kadang kala si suami pergi tanpa diketahui oleh istrinya kemana suaminya pergi. Buru-buru melepasnya dengan ciuman, menanyakan kemana perginya saja tidak sempat. Sang suami keburu pergi menghilang, kadang kala tanpa pamit dan tanpa salam!? Coba lihat bagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bergaul dengan istri-istri beliau. Sampai-sampai Rasulullah menyempatkan mencium istri beliau sebelum berangkat ke masjid.

5.  Beribadah Bersama

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. kami tidak meminta rezqi kepadamu, kamilah yang memberi rezqi kepadamu dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa.” (QS Thaha [20]: 132).

Dalam kesempatan lain, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan:

كَانَ النَّبِيُ يُصَلِّي وَأَنَا رَاقِدَةٌ مُعْتَرِضَةٌ عَلَى فِرَاشِهِ, فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يُوتِرَ أَيْقَظَنِي

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat malam sementara aku tidur melintang di hadapan beliau. Beliau akan membangunkanku bila hendak mengerjakan shalat witir.” (HR Muttafaqun ‘alaihi)

Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah bahwa beliau bersabda:

رَحِمَ اللهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا المَاءَ,رَحِمَ اللهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَصَلَّى فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ المَاءَ

“Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun pada malam hari untuk mengerjakan shalat malam lalu membangunkan istrinya untuk shalat bersama. Bila si istri enggan, ia memercikkan air ke wajah istrinya (supaya bangun). Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati seorang istri yang bangun pada malam hari untuk mengerjakan shalat malam lalu membangunkan suaminya untuk shalat bersama. Bila si suami enggan, ia memercikkan air ke wajah suaminya (supaya bangun)”

(HR Ahmad).

6. Ramah dan Lembut

Masing-masing pihak suami istri harus bertekad untuk bersikap ramah dan lembut kepada pasangannya, bersenda gurau dengannya, dan bercanda dengannya.

Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, meskipun mempunyai sifat keras dan tegas, mengatakan: “Sudah selayaknya seorang laki-laki menjadi seperti anak kecil di tengah keluarganya. Bila dia di tengah kaumnya, maka hendaknya dia menjadi seorang laki-laki.”

Aisyah radhiyallâhu ‘anha menceritakan, “Adalah Rasulullah ketika bersama istri-istrinya, beliau adalah manusia lembut dan paling pemurah. Gampang tertawa dan gampang tersenyum.” (HR Ibnu Asakir)

Berlaku lemah lembutlah dalam menjalankan kehidupan supaya keharmonisan dapat tercapai dalam lingkungan keluarga, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

“Janganlah seorang mukmin (suami) membenci seorang mukminah (istri). Jika ia tidak menyukai salah satu akhlaknya, ia pasti ridha kepada akhlaknya yang lain.”
(HR Muslim)

Sikap ramah dan lembut Rasulullah ditunjukkan kepada keluarganya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersenda gurau dengan istri dan anak-anaknya, menghibur, dan mema’afkan kesalahan mereka, menyebar senyum bahagia serta mengisi rumah mereka dengan hal-hal yang menyenangkan.

Suatu ketika Anas bin Malik, pembantu beliau melukiskan keadaan keadaan beliau dengan mengatakan, “Aku telah melayani Rasulullah selama sepuluh tahun. Selama itu belum pernah beliau menegur atas apa yang aku lakukan, “Mengapa kamu tidak melakukan ini?” Beliau juga beliau belum pernah mengatakan kepadaku sesuatu yang belum aku kerjakan, “Mengapa kamu belum melakukan ini?”

Kasih sayang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah menembus hati orang-orang terdekat yang pernah berinteraksi dengan beliau, sehingga setiap jiwa selalu merindukannya.

Oleh karena itu, berlemah lembutlah pada keluarga supaya kehangatan dan kemesraan keluarga dapat tercapai sebagaimana keluarga Rasulullsh shallallahu alaihi wa sallam.

7.  Memberi Hadiah

Saling memberi hadiah diantara suami istri –terutama hadiah dari suami untuk istri- merupakan salah sebab makin mendalamnya rasa cinta di antara keduanya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Hendaknya kalian sering memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR Bukhari)

Hadiah merupakan ekspresi kasih sayang dan mampu mencairkan kebekuan dan rutinitas hubungan manusia.

Hadiah tidak disyaratkan berupa barang-barang kepemilikan yang mahal lagi mewah karena tujuan dari hadiah pada awalnya adalah mengekspresikan kasih sayang dan kesatuan. Hal ini dapat diwujudkan dalam materi hadiah dengan nilai seberapa pun. Tapi jika hadiah tersebut berupa sesuatu yang mahal, maka itu akan menyebabkan kebahagiaan berlipat ganda dan kasih sayang makin bertambah.

8.  Memahami Kecemburuan Istri

Rasa cemburu dianggap sebagai watak dasar para wanita, tidak ada wanita yang selamat dari watak ini, bahkan para Ummahat al-Mukminin yang merupakan istri-istri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Aisyah selalu mencemburui Khadijah radhiyallahu ‘anha walaupun ia tidak pernah bertemu dengan Khadijah.

Aisyah mengingkari pujian dan sanjungan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada Khadijah dengan mengatakan,

“Allah telah memberikan ganti yang lebih baik darinya.” (Ini ucapan Aisyah radhiyallahu ‘anha. HR Bukhari dan Muslim)

Kecemburan yang baik memengaruhi hubungan mesra suami istri dengan syarat tidak berlebihan dalam cemburu, namun proporsional dan penuh pertimbangan.

Dengan demikian, cemburu menjadi indikator rasa cinta pasangan kepada pasangannya, disinilah cemburu itu akan nampak indah. Untuk itu suami harus bersikap proporsional dalam masalah ini, dan tidak boleh berburuk sangka, dan mencari-cari kesalahan.

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah cemburu pada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, ia menceritakan sendiri bahwa pada suatu malam Rasulullah pergi dari sisinya. Ia berkata,

“Aku mencemburuinya karena jangan-jangan beliau mendatangi salah satu istrinya. Lalu datanglah beliau dan melihat keadaanku.

Rasulullah bersabda, “Apakah engkau cemburu?”

Jawabku, “Apakah orang sepertiku tidak pantas untuk cemburu terhadap orang sepertimu?”

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh setanmu telah datang”. (HR Muslim dan Nasa’i)

Aisyah radhiyallâhu ‘anha juga pernah berkata, “Aku tidak melihat yang pandai memasak seperti Shafiyah. Ia memasak makanan untuk Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam saat beliau ada dirumahku.

Timbullah rasa cemburuku, aku merebut piring yang berisi makanan tersebut dan membantingnya sampai pecah. Tetapi aku menyesal, lalu berkata, “Ya Rasulullah, apa kifarat bagi perbuatan yang telah aku lakukan?”

Nabi shallallâhu alaihi wa sallam menjawab, “Gantilah piring itu dengan piring yang serupa, demikian pula makanannya.”

(HR Abu Dawud dan Nasa’i)

9.  Mengajak Istri Bermusyawarah

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajak istri-istrinya bermusyawarah dalam banyak urusan. Beliau sangat menghargai pendapat-pendapat mereka.

Padahal wanita pada masa jahiliyah, sebelum datangnya Islam diperlakukan seperti barang dagangan semata, dijual dan dibeli, tidak dianggap pendapatnya, meskipun itu berkaitan dengan urusan yang langsung dan khusus dengannya.

Islam datang mengangkat martabat wanita, bahwa mereka sejajar dengan laki-laki, kecuali hak kepemimpinan keluarga, berada di tangan laki-laki.

Allah Azza wa Jalla  berfirman: “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS al Baqarah [2]: 228)

Pendapat dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha pada peristiwa Hudaibiyah, membawa berkah dan keselamatan bagi umat Islam. Ummu Salamah memberi masukan kepada Nabi agar keluar menemui para sahabat tanpa berbicara dengan siapa pun, langsung menyembelih hadyu atau seekor domba dan mencukur rambutnya. Ketika beliau melaksanakan hal itu, para sahabat dengan serta-merta menjalankan perintah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, padahal sebelumnya mereka tidak mau melaksanakan perintah Rasul, karena mereka merasa pada pihak yang kalah pada peristiwa itu. Mereka melihat bahwa syarat yang diajukan kaum kafir Quraisy tidak menguntungkan kaum muslimin.

10. Bercanda dengan Istri

Bercanda dengan istri akan memupuk rasa kasih sayang terhadap istri dan keluarga, disamping itu juga bercanda akan melepaskan rasa penat ketika selesai bekerja di luar rumah.

Dengan bercanda kita akan sangat mudah tersenyum dan ketawa. Namun tidaklah ketawa berlebihan karena hal itu akan membawa mudharat.

Canda Rasulullah bersama istri dan keluarganya dilakukan saat sedang melakukan perjalanan dan saat sedang berada di rumahnya.

Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan, bahwa pernah ia bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan. Maka aku mengajak Beliau lomba lari dan aku berhasil mendahului beliau dengan kedua kakiku. Ketika aku menjadi gemuk, aku mengajak Beliau lomba lari lagi. Akhirnya Beliau berhasil mengalahkan aku dan bersabda, “Ini sebagai balasan atas perlombaan yang dulu itu.”
(HR Abu Dawud)

Masya Allah…

Indahnya suasana rumah teladan kita Rasulullah shallahu alaihi wa sallam. Semoga kita bisa membangun kemesraan dan romantisme di dalam rumah kita, hingga keluarga yang harmonis bukan hanya potret dan mimpi.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Stop Ghibah

Antara Ghibah dan Dusta

Pemateri: Ust. Rikza Maulan Lc. MAg.

FENOMENA GHIBAH DAN DUSTA

Ghibah dan Dusta merupakan dua hal, yang hampir-hampir menjadi fenomena dalam lingkup kehidupan manusia. Seringkali, dimanapun manusia berkumpul dan berbicara, tidak luput dari dua hal ini, atau minimal dengan salah satunya.

Jika kita perhatikan di kantor, di pasar, di rumah, di kantin atau di manapun juga, baik laki-laki maupun perempuan, senantiasa minimal ghibah (baca; membicarakan orang lain) menjadi tema sentral pembicaraan mereka.

Padahal, Allah SWT memerintahkan kepada setiap insan untuk berkomunikasi  dan berbicara dengan baik. Dalam salah satu ayatnya Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا*  يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا*

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar (baik), niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta`ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.

Ayat di atas menggambar kan kepada kita, adanya korelasi yang kuat antara keimanan (baca; ketakwaan) dengan perkataan yang baik.

Seseorang yang memiliki keimanan yang baik, insya Allah secara otomatis akan berkomunikasi dan bertutur kata yang baik.

Sementara ghibah apalagi dusta termasuk dalam kategori perkataan yang tidak baik. Bahkan dusta masuk dalam kategori dosa-dosa besar.

ANTARA GHIBAH DAN DUSTA

Dari segi bahasa, ghibah berasal dari kata bahasa Arab ‘Ghaba’, yang berarti ghaib (baca; tidak tampak), atau tidak terlihat:

الغيبة لغة مشتق من فعل غاب أو الغيب، وهو كل ما غاب عن الإنسان

Oleh karena itulah, dari segi bahasa, ghibah berarti membicarakan orang lain yang ghaib (baca; yang tidak hadir) diantara orang yang sedang membicarakannya.
Baik pembicaraan tersebut mengenai hal-hal yang positif darinya, ataupun yang bersifat negatif.

Adapun dari segi istilah, GHIBAH adalah pembicaraan yang dilakukan seorang muslim mengenai saudaranya sesama muslim lainnya dalam hal-hal yang bersifat keburukan dan kejelekannya, atau hal-hal yang tidak disukainya.

Sedangkan DUSTA, adalah kita membicarakan sesuatu yang terdapat dalam diri seseorang yang sesungguhnya sesuatu itu tidak terdapat dalam diri saudara kita tersebut.

Sehingga dari sini, perbedaan antara ghibah dengan dusta terletak pada obyek pembicaraan yang kita lakukan. Dalam ghibah, yang kita bicarakan itu memang benar-benar ada dan melekat pada diri orang yang menjadi obyek pembicaraan kita. Sedangkan dalam dusta, sesuatu yang kita bicarakan tersebut, ternyata tidak terdapat pada diri seseorang yang kita bicarakan.

Hal ini secara jelas pernah digambarkan oleh Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Tahukah kalian, apakah itu ghibah?
Para sahabat menjawab, ‘Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.’

Rasulullah SAW bersabda, ‘engkau membicarakan sesuatu yang terdapat dalam diri saudaramu mengenai sesuatu yang tidak dia sukai.

Salah seorang sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah SAW, bagaimana pendapatmu jika yang aku bicarakan benar-benar ada pada diri saudaraku?

Rasulullah SAW menjawab, jika yang kau bicarakan ada pada diri saudaramu, maka engkau sungguh telah mengghibahinya. Sedangkan jika yang engkau bicarakan tidak terdapat pada diri saudaramu, maka engkau sungguh telah mendustakannya. (HR. Muslim)

DUSTA DAN GHIBAH DALAM PANDANGAN ISLAM

Baik ghibah maupun dusta, sesungguhnya merupakan perbuatan yang dilarang oleh Allah dan Rasulullah SAW .

Mengenai dusta, Dalam Al-Qur’an Allah berfirman (QS. 22: 30):

فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ*

‘Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.’

Bahkan dusta ini masuk dalam kategori dosa-dosa besar yang senantiasa harus dijauhi oleh setiap mu’min.

Dalam satu riwayat, Rasulullah SAW pernah mengatakan:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ قُلْنَا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فَقَالَ أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ فَمَا زَالَ يَقُولُهَا حَتَّى قُلْتُ لاَ يَسْكُتُ (رواه البخاري)

“Dari Abu Bakrah ra, Rasulullah SAW bersabda: ‘Maukah kalian aku beritahu tentang dosa-dosa yang paling besar diantara dosa-dosa besar?

Kami menjawab, tentu wahai Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW mengatakan, ‘Yaitu, menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua.’ Beliau berdiri, kemudian duduk, lalu mengatakan lagi, ‘dan perkataan dusta serta persaksian dusta.. perkataan dusta dan persaksian dusta..’

Beliau terus mengucapkan itu, hingga aku katakan bahwa beliau tidak berhenti mengucapkannya.” (HR. Bukhari)

Ayat-ayat dan hadits-hadits lainnya yang membicarakan masalah ghibah masih cukup banyak. Namun dari kedua dalil di atas, kita sudah dapat mengambil kesimpulan bahwa dusta merupakan perbuatan tercela yang dilarang oleh Allah dan Rasulullah SAW. Bahkan Rasulullah SAW secara langsung mengkategorikannya pada perbuatan dosa-dosa besar yang paling besar.

Sedangkan mengenai ghibah, sebagaimana dusta, banyak ayat-ayat maupun hadits-hadits yang melarangnya. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman dalam (QS. 49 : 12) :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ*

‘Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain.

Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.

Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.’

Dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda :

عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ مِنْ أَرْبَى الرِّبَا الاِسْتِطَالَةَ فِي عِرْضِ الْمُسْلِمِ بِغَيْرِ حَقٍّ (رواه أبو داود)

Dari Said bin Zaid ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya riba yang paling bahaya adalah berpanjang kalam dalam membicarakan (keburukan) seorang muslim dengan (cara) yang tidak benar. (HR. Abu Daud)

Kedua dalil di atas telah cukup menunjukkan kepada kita mengenai bahaya ghibah. Dalam ayat (QS. 49 : 12) Allah mengumpamakan ghibah seperti orang yang memakan daging saudaranya sendiri yang telah meninggal.

Sedangkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Rasulullah SAW mengumpamakannya dengan riba yang paling berat dan berbahaya.Oleh karena itulah, bagi setiap muslim harus berusaha secara maksimal untuk meninggalkan kedua penyakit lisan yang ternyata sangat berbahaya ini.

Kita dapat membayangkan, sekiranya setiap hari kita diumpamakan seperti menyantap makanan yang terbuat dari daging saudara kita sendiri ? Selain itu kita juga diumpakan selalu berinteraksi dengan riba yang paling berbahaya dan paling besar dosanya di sisi Allah SWT?

Na’udzu billah min dzalik.

Kondisi Diperbolehkannya Ghibah dan Dusta

Meskipun demikian, memang ada beberapa kondisi tertentu di mana kita diperbolehkan untuk dusta dan ghibah.

1. Kondisi Diperbolehkan nya Dusta

Dalam hadits dijelaskan oleh Rasulullah SAW mengenai beberapa keadaan dimana seseorang dihalalkan untuk berdusta, berdasarkan hadits berikut:

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيدَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، لاَ يَحِلُّ الْكَذِبُ إِلاَّ فِي ثَلاَثٍ يُحَدِّثُ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ لِيُرْضِيَهَا وَالْكَذِبُ فِي الْحَرْبِ وَالْكَذِبُ لِيُصْلِحَ بَيْنَ النَّاسِ (رواه الترمذى)

“Dari Asma’ binti Yazid ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: Dusta tidak diperkenankan melainkan dalam tiga hal; seorang suami berbicara kepada istrinya agar istrinya (lebih mencintainya), dusta dalam peperangan dan dusta untuk mendamaikan diantara manusia (yang sedang bertikai)” (HR. Turmudzi)

2. Kondisi Diperbolehkan nya Ghibah

Dr. Sayid Muhammad Nuh dalam Afat Ala al-Thariq (1996 : III/ 52) mengungkapkan ada enam hal, dimana seseorang diperbolehkan untuk ghibah, yaitu:

Tadzalum.

Yaitu orang yang teraniaya, kemudian mengadukan derita yang diterimanya kepada hakim, ulama dan penguasa agar dapat mengatasi problematika yang sedang dialaminya. Dalam pengaduan tersebut tentu ia akan menceritakan keburukan orang yang menganiaya dirinya. Dan hal seperti ini diperbolehkan. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman:

لاَ يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلاَّ مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا*

“Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Meminta bantuan untuk merubah kemungkaran & mengembalikan orang yang maksiat menjadi taat kepada Allah SWT, kepada orang yang dirasa mampu untuk melakukannya. Seperti ulama, ustadz atau psikolog.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda,
‘Barang siapa diantara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu, maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu maka dengan hatinya. (HR. Muslim).

Sementara meminta bantuan kepada orang yang lebih mampu, masuk dalam kategori merubah kemungkaran dengan lisan.

Meminta fatwa.

Seperti seseorang yang meminta fatwa kepada ulama dan ustadz, bahwa saudaraku misalnya mendzolimiku seperti ini, maka bagaimana hukumnya bagi diriku maupun bagi suadaraku tersebut.

Dalam salah satu riwayat pernah digambarkan, bahwa Hndun binti Utbah (istri Abu Sufyan) mengadu kepada Rasulullah SAW dan mengatakan, wahai Rasulullah SAW, suamiku adalah seorang yang bakhil. Dia tidak memberikan padaku uang yang cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga kami, kecuali yang aku ambil dari simpanannya dan dia tidak mengetahuinya. Apakah perbuatanku itu dosa ?

Rasulullah SAW menjawab, ambilah darinya sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhanmu dan anak-anakmu dengan cara yang baik (baca; ma’ruf)” (HR. Bukhari)

Peringatan terhadap keburukan atau bahaya.

Seperti ketika Fatimah binti Qais ra datang kepada Rasulullah SAW dan memberitahukan bahwa ada dua orang pemuda yang akan meminangnya, yaitu Muawiyah dan Abu Jahm.

Rasulullah SAW mengatakan, ‘Adapun Muawiyah, ia adalah seseorang yang sangat miskin, sedangkan Abu Jahm, adalah seseorang yang ringan tangan (suka memukul wanita).” (HR. Muslim)

Terhadap orang yang menampakkan kefasikan & kemaksiatannya, seperti minum khamer, berzina, judi, mencuri, dan membunuh.

Terhadap orang yang seperti ini kita boleh ghibah. Apalagi terhadap orang yang menampakkan permusuhannya kepada agama Islam dan kaum muslimin.

Untuk pengenalan.

Adakalanya seseorang telah dikenal dengan julukan tertentu yang terkesan negatif, seperti para periwayat hadits ada yang dikenal dengan sebutan A’masy (si rabun), A’raj (pincang), Asham (tuli), A’ma (buta) dsb. Mereka semua sangat dikenal dengan nama tersebut. Jika disebut nama lain bahkan banyak perawi lainnya yang kurang mengenalnya.

Meskipun demikian, tetap menggunakan nama aslinya adalah lebih baik. Bahkan jika dengan namanya tersebut dia telah dikenal, maka tidak boleh menggunakan julukan yang terkesan negatif.

Cara Untuk Menghindari Dusta dan Ghibah

Sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap penyakit tentu ada obatnya. Demikian juga dengan penyakit hati dan lisan, seperti dusta dan ghibah. Allah memberikan berbagai jalan untuk manusia agar dapat mengobati dirinya dari penyakit-penyakit seperti ini, diantaranya adalah:

1. Dengan meningkatkan rasa ‘muraqabatullah’ yaitu sebuah rasa dimana kita senantiasa tahu, bahwa Allah sangat mengetahui segala tindak tanduk yang kita lakukan, baik ketika seorang diri maupun di saat bersama-sama. Baik ketika orang yang kita bicarakan ada diantara kita ataupun tidak ada. Allah pasti mengetahuinya.

2. Meningkatkan keyakinan kita bahwa setiap orang yang kita bicarakan, pasti akan dimintai pertanggung jawabannya dari Allah SWT kelak. Dalam salah satu ayatnya, Allah berfirman (QS. 50 : 18) :

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ*

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.

3. Menahan emosi dan mencegah amarah. Karena keduanya merupakan faktor yang dapat membawa seseorang pada ghibah dan dusta.

4. Tabayun (baca; mengecek) terhadap informasi yang datang dari seseorang, sebelum membicarakannya pada orang lain.

Dalam Al-Qur’an Allah berfirman (QS. 49 : 6)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ*

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

5. Beramal & berusaha untuk dapat menciptakan suasana yang ‘Islami’, dilingkungan kerja, dirumah, di kantin dsb, dengan membuat kesepakatan dan ketauladanan untuk tidak membicarakan kejelekan orang lain, apalagi berbohong. Di samping itu juga keharusan adanya teguran, kepada orang yang secara sengaja atau tidak dalam membicarakan orang lain.

6. Jika kita merupakan orang yang menjadi obyek pembicaraan, kitapun harus menanggapinya dengan akhlak yang baik dan bijaksana. Kita mencek kembali, mengapa mereka membicarakan kita, siapa saksinya kemudian diselesaikan dengan baik.

7. Himbauan secara khusus kepada orang-orang yang menjadi panutan, baik dalam kantornya, masyarakatnya atau di mana saja, untuk menjauhi hal ini (ghibah dan dusta), supaya mereka yang berada di bawahnya dapat mencontoh. Karena apabila para panutan ini memberikan keteladanan yang buruk, maka para bawahannya pun akan mengikutinya.

8. Membiasakan diri untuk bertanya sesegera mungkin manakala melihat adanya fenomena seseorang yang berbuat sesuatu yang melanggar syariat, hingga kita tidak terjerumus pada keghibahan.

9. Mengajak umat secara keseluruhan untuk menghindari diri dari penyakit ini, dengan cara tidak membicarakan orang lain, tidak mendengarkan jika ada orang yang membicarakan orang lain, memberikan teguran dan lain sebagainya.

10. Mengingat-ingat kembali, tentang hukum dusta dan ghibah serta akibat yang akan ditimbulkan dari adanya hal seperti ini.

❤ PENUTUP

Kita yakin bahwa setiap insan pasti pernah terjerumus dalam perbuatan maksiat.
Dan kemasiatan yang paling mudah menjerumus kan setiap insan adalah maksiat mata dan maksiat lisan. Dan diatara kemasiatan lisan adalah dusta dan ghibah.

Padahal kedua kemaksiatan ini (ghibah dan dusta) adalah termasuk dalam kategori dosa-dosa besar.

Dusta, adalah dosa besar yang paling besar, yang disejajarkan dengan syirik dan durhaka pada orang tua.

Sementara ghibah Allah umpamakan seperti memakan bangkai saudara kita sendiri yang telah mati. Atau seperti orang yang melakukan riba yang paling berat dan berbahaya. Jadi betapa besarnya dosa kita jika setiap hari kita ‘menkonsumsi’ dusta dan ghibah ?

Oleh karena itulah, hendaknya kita memper baharui taubat kita kepada Allah SWT serta berjanji untuk tidak terjerumus kembali pada ghibah & dusta, semampu kita.

Apalagi jika kita merenungi bahwa salah satu sifat mu’min adalah sebagaimana yang digambarkan dalam hadits berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ (رواه البخاري)

Dari Abdullah bin Amru ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Seorang muslim adalah seseorang yang menjadikan muslim lainnya selamat (terjaga) dari lisan dan tanganya.

Sedangkan muhajir adalah orang yang meninggalkan sesuatu yang dilarang Allah SWT. (HR. Bukhari)

Wallahu A’lam Bis Shawab


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berjihad Mencari Ridha Allah

Tenang Dalam Kemenangan, Tenang Dalam Kekalahan (Bagaimana Shalahuddin Mengelola Emosi Pasukannya) (bag-1)

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE. MPP

Pertempuran Arsuf – 7 September 1191

Pertempuran ini terjadi pada masa Perang Salib Ketiga dimana Raja Richard I dari Inggris (bergelar “Berhati Singa” atau The Lionheart) mengalahkan Sultan Shalahuddin (Yusuf ibn Ayyub) di luar kota Arsuf di Palestina. Pada perang itu pasukan Salib telah merebut kota Acre melalui pengepungan yang berkepanjangan. Sasaran mereka berikutnya adalah menguasai kota Jaffa guna menopang pencapaian sasaran utamanya yaitu merebut kota al-Quds (Jerusalem).

Setelah tidak tergiur oleh serbuan-serbuan pancingan yang dilancarkan Shalahuddin, maka pada hari Sabtu 11 Sya’ban 587 Hijriah (7 September 1191) pertempuran besar mulai berkobar. Balatentara Richard berhasil mempertahankan kedisiplinan untuk tidak terpancing maju menyerang keluar dari jarak formasi kohesif. Hanya kesatuan Hospitallers yang tidak tahan dan melancarkan serangan keluar sehjngga Richard terpaksa mengerahkan seluruh pasukannya. Richard kemudian menyusun ulang barisan pasukannya setelah keberhasilan serbuan pertama dan menyerang lagi lalu menang. Pertempuran ini menyebabkan beberapa kota di pesisir selatan Palestina, termasuk kota Jaffa, kembali ke tangan Pasukan Salib. Sejauh itu sepertinya target merebut Jerusalem sepertinya dimungkinkan.

Permulaan di Selatan Acre

Setelah berhasil menguasai Acre pada tahun 1191, Richard sadar bahwa ia juga harus merebut Jaffa sebelum bergerak menuju Jerusalem. Ia mulai bergerak menuju Jaffa menyisiri jalur pesisir dari Acre  pada bulan Agustus 1191. Shalahuddin pun menyadari tujuan manuver ini sehingga ia pun mengarahkan pasukannya guna mencegat Richard. Raja Inggris yang konon tidak bisa berbahasa Inggris ini telah menyusun formasi dan manuver militer secara detail.

Setelah jatuhnya Acre, angkatan laut Shalahuddin yang berasal dari Mesir telah jatuh ke tangan lawan sehingga Richard dapat bebas bergerak menyusuri pesisir ke arah selatan tanpa harus khawatir akan serangan dari sayap kanannya (dari laut).

*Richard Belajar dari Pertempuran Hattin

Richard sangat sadar akan permasalahan yang menyebabkan kekalahan telak Pasukan Salib di Pertempuran Hattin sehingga ia menyiapkan persediaan air yang cukup serta rutin memantau tingkat keletihan pasukannya dari sengatan terik matahari. Walaupun ia harus mengejar waktu untuk sampai ke titik transit sebelum sampai ke Jaffa namun Richard tidak memacu barisan pasukannya. Ia hanya menggerakkan pasukannya pada pagi hari sebelum matahari menyengat dan berhenti pada titik-titik mata air untuk beristirahat. Angkatan lautnya berlayar secara paralel sebagai pangkalan logistik sekaligus ambulans bagi mereka yang cidera.

Richard juga menyadari taktik lawannya berupa serangan pancingan serbu-mundur sehingga ia mewajibkan formasi ketat dengan 12 resimen berkuda masing-masing berkekuatan 100 knight sebagai inti kekuatan. Pasukan infanteri berbaris dalam formasi sejajar di sebelah pasukan berkuda pada sisi daratan sebagai perlindungan bagi pasukan berkuda atas serangan panah. Barisan terluar dari infanteri ditempati oleh pasukan crossbow sebagai penggentar kesatuan berkuda ringan Shalahuddin. Pasukan infanteri secara bergantian pindah ke sisi dalam (ke dekat pantai) untuk beristirahat untuk menjaga mereka selalu dalam kondisi segar.

Walaupun seluruh Pasukan Salib tersiksa perasaan akibat tidak diperbolehkannya meladeni serangan-serangan pancingan Shalahuddin, namun kharisma Richard mampu meredam emosi serta menegakkan disiplin mereka; bahkan untuk ini ditulis oleh Bahauddin, seorang sejarawan sekretaris pribadi Shalahuddin yang juga saksi peristiwa tersebut:

“Pasukan Muslimin menyerang sisi luar untuk memancing emosi mereka agar keluar dari formasi rapat barisan, namun mereka (pasukan Richard) sangat terkendali dan tetap dalam formasi barisan sambil bergerak maju seiring dengan berlayarnya kapal sepanjang pesisir, hal ini mereka lakukan dengan rapi hingga tercapai setiap tahapan perjalanan diselingi peristirahatan.”

Bahauddin juga memaparkan adanya perbedaan kekuatan antara crossbow Passukan Salib dan kaum Muslimin. Ia melihat bagaimana prajurit Salib tetap berjalan dalam formasi walaupun pada baju besinya tertancap 1 sampai 10 panah. Sedangkan, prajurit kaum Muslimin banyak yang langsung terbunuh manakala tertembak crossbow lawan dan kuda tersungkur sekali tembak.

Strategi Shalahuddin

Derap laju Pasukan Salib ditentukan oleh kecepatan infanteri dan rombongan logistik, sedangkan pasukan Ayyubi sebagian besar bertunggang kuda sehingga mobilitasnya lebih tinggi. Tindakan membakar dan memanen lebih awal bahan pangan di jalur lawan oleh pihak Shalahuddin ternyata tidak  efektif menghambat laju karena logistik Pasukan Salib sebagian besar diangkut via laut.

Pada hari Ahad 3 Sya’ban 587 Hijriah (25 Agustus 1191) elemen terbelakang  Pasukan Salib sempat tertinggal sehingga diserbu lawannya. Kalau saja kesigapan iring-iringan Pasukan Salib tidak sempat menghubungkan barisan maka mereka sudah bisa diperkirakan binasa. Dari tanggal 28-29 Agustus pasukan Richard mengalami jeda serangan karena mereka harus mengitari bukit Caramel sehingga tidak ada ruang manuver kavaleri yang cukup. Shalahuddin membawa pasukannya mengitari dari sisi dalam dan kedua balatentara bertemu lagi di sekitar kota Caesaria; separuh jalan antara Acre dan Jaffa. Shalahuddin tiba di luar Caesarea lebih dahulu pada tanggal 30 Agustus karena Pasukan Salib menempuh jarak jarak yang lebih jauh dengan kecepatan yang lebih lamban. Antara tanggal 30 Agustus hingga 7 september Shalahuddin selalu berada pada jarak dekat dan siap menyergap jika kesempatan terbuka.

*Penyesuaian Strategi

Pada awal bulan September, Shalahuddin menyadari bahwa mengerahkan sebagian kecil saja dari pasukannya tidak akan mampu menghentikan laju pasukan Richard. Ia harus mengerahkan keseluruhan pasukannya dalam suatu serangan umum. Perubahan taktik ini mendapatkan peluangnya karena tidak lama lagi lawan akan melintasi salah satu dari sedikit area di Palestina yang berhutan agak lebat; yaitu Hutan Arsuf. Daerah berpohon lebat ini membentang sejajar pesisir sekitar 19 km panjangnya dan merupakan medan yang cocok untuk menyamarkan penyebaran pasukan Shalahuddin dalam rencana penyerbuan.

*Dalam Penyamaran Hutan Arsuf

Pasukan Salib telah melintasi separuh hutan tanpa gangguan yang berarti dan mereka beristirahat pada hari Jum’at 15 Sya’ban 587 Hijriah (6 September 1191) dimana tendanya terlindungi oleh sedikit rawa pada muara Sungai Nahrul Falaik (Rochetaillée). Lebih ke selatan lagi terbentang jarak sekitar 9.7 km yang harus ditempuh Pasukan Salib sebelum sampai ke reruntuhan Arsuf. Pada bentangan ini terdapat padang rumput selebar 1.5-3.0 km antara pinggiran hutan dan pantai; di sinilah rencana Shalahuddin akan melancarkan serangannya.

Shalahuddin tetap melancarkan serbuan pancingan sepanjang kolom barisan Pasukan Salib namun kali ini memusatkan serbuan terkuat pada bagian belakang. Rencananya adalah memberikan dorongan bagi elemen terdepan untuk menjauh hingga memecah kekuatan mereka sendiri. Jika celah nanti terbentuk maka Shalahuddin akan menumpahkan elemen cadangannya guna menuntaskan jebakan serta melumatkan lawannya.

(bersambung…insyaa Allah Kamis pekan depan)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Bersegera Mencari Ampunan Allah

Enam Perkara Yang Seharusnya Disegerakan

Pemateri: UST. SYAHRONI MARDANI,Lc

Sesungguhnya perbuatan baik yang paling utama adalah yang disegerakan. Ini sesuai dengan apa yang biasa dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.

Dari Ali bin Abi Thalib, sesungguhnya Rasulullah saw berpesan padanya, “Wahai Ali, ada tiga perkara yang tidak baik kalau diakhirkan (jangan ditunda-tunda): shalat jika sudah datang waktunya, jenazah jika sudah hadir, menikahkan anak gadis jika sudah datang jodohnya (HR Turmudzi).

Dari Hatim Al-Ashom -rahimahullah- berkata :

يقال: العجلة من الشيطان إلا في خمس إطعام الطعام إذا حضر الضيف وتجهيز الميت إذا مات وتزويج البكر إذا أدركت وقضاء الدين إذا وجب والتوبة من الذنب إذا أذنب

“Dikatakan, “Ketergesa-gesaan itu dari setan, kecuali dalam lima perkara: menghidangkan makanan jika tamu telah hadir, mengurusi jenazah jika telah wafat, menikahkan anak gadis jika telah baligh, menunaikan utang jika telah jatuh tempo, dan bertobat dari dosa jika telah melakukan dosa”. [HR. Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (8/78)]

Dari hadist dan keterangan keterangan hadits di atas, minimal ada 6 hal yang seharusnya disegerakan.

1. SHALAT KALAU SUDAH MASUK WAKTUNYA

Pertama, menyegerekan shalat ketika sudah masuk waktunya. Kenyataan yg sering kita temui di lapangan (bahkan mungkin menimpa diri kita, naudzubillahi mindzalik) bahwa “seorang karyawan jika dipanggil bosnya, sesibuk apa pun dia segera memenuhi panggilan tersebut. Tetapi saat Allah memanggilnya melalui suara adzan, kebanyakan dari kita tidak segera memenuhinya.

Padahal dari Abu Abdurrahman Abdulloh bin Masud ra berkata, Aku bertanya pada Nabi saw , “Amal apakah yang paling Allah cintai?” Nabi saw menjawab, “Shalat pada (awal) waktunya. Berbakti pada orang tua, dan Jihad di jalan Allah”. (Muttafaq Alaih)

Ketka Aisyah ra ditanya, “Bagaimanakah kebiasaan Nabi Muhammad saw di rumahnya?” Aisyah menjawab, “Beliau biasa membantu keluarganya dan melayani mereka. Tapi jika terdengar panggilan Adzan, Beliau pergi untuk melakukan shalat”. (HR Bukhari)

Dari Ibnu Umar berkata, Rasulullah saw bersabda, “Shalat di awal waktu akan mendapatkan keridhoan (kasih sayang) Allah. shalat di akhir waktu ‘dimaafkan’ oleh Allah”. (HR Turmudzi)

2. SEGERA MEMULIAKAN TAMU

Kedua, segera memuliakan tamu. Ketika seseorang kedatangan tamu,yang seharusnya disegerakan adalah menghidangkan minuman dan makanan, bukan menanyakan ini dan itu pada sang tamu. Juga tidak perlu ditanya mau  minum apa, sudah makan atau belum? Kalau tamunya pemalu, meskipun lapar dan belum makan, dia akan menjawab sudah makan.

Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang beriman pada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia memuliakan tamunya”. (HR Bukhari dan Muslim).

Nabi Ibrahim dikenal sebagai orang yang paling baik dalam memuliakan tamunya. Tak heran jika Nabi Ibrahim a.s memiliki gelar ABU DHIFAN (orang yang sangat memuliakan tamu).

Allah mengabadikan dalam Al Qur’an kisah bagaimana Nabi Ibrahim a.s yang bersegera dalam memuliakan tamunya. Nabi Ibrahim segera mengeluarkan hidangan saat tamunya datang.

“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (Yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan?

(ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaamun,” Ibrahim menjawab: “Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal.”

Maka Dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk. lalu dihidangkan-nya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata: “Silahkan anda makan.” (Adz Dzariyat 51 : 24 – 27).

dan Sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: “Selamat.” Ibrahim menjawab: “Selamatlah,” Maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang.

Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: “Jangan kamu takut, sesungguhnya Kami adalah (malaikat-ma]aikat) yang diutus kepada kaum Luth.”

dan istrinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya’qub. (Huud 11 : 69 – 71)

3. SEGERA MENGURUS JENAZAH

Ketiga, yang seharusnya segera dilakukan adalah mengurus jenazah. Apalagi ada hadits yang melarang mendiamkan jenazah berlama-lama. “Tidak sepantasnya mayat seorang muslim dibiarkan berlama lama di tengah keluarganya. (HR Abu Daud).

Hadits lainnya menyebutkan, “Jenazah itu segera diurus. Seandainya dia orang baik, maka dia akan segera mendapatkan balasan kebaikannya. Seandainya bukan orang baik, agar segera lepas dari tanggungan kalian” (Muttafaq Alaih).

Jika jenazah digotong di atas pundak (menuju kuburnya), jika jenazah ini adalah orang soleh, maka dia akan berkata, “Segerakan aku.” Dan jika jenazah ini adalah orang jahat, maka dia akan berkata kepada keluarganya “Cilakalah aku, mau dibawa kemanakah aku ini” Semua makhluk mendengar suara ini, kecuali manusia. Seandainya manusia dapat mendengarnya pasti mereka akan pingsan.” (HR Bukhari)

4. MENYEGERAKAN MENIKAHKAN ANAK GADIS KETIKA SUDAH DATANG JODOHNYA

Keempat, yang seharusnya disegerakan menikahkan anak gadis jika sudah ada jodohnya. Dalam menikahkan anak gadisnya, menururt pengamatan Syahroni, kebanyakan yang menjadi pertimbangan dari para orangtua faktornya harta, bukan agama dan akhlaknya.

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda, “Jika datang padamu seorang pemuda yang akan mengkitbah(melamar) anak gadismu. Engkau ridha dengan agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah anak gadismu dengannya. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan muncul kerusakan yang nyata.” (HR Turmudzi).

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, maka Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui. (An Nuur 24 ; 32).

5. MEMBAYAR HUTANG

Kelima, yang seharusnya disegerakan membayar hutang. Jika seseorang punya hutang hendaknya segera dibayar. Jangan ditunda-tunda untuk melunasinya. Dalam Hadits Nabi disebutkan, Dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw bersabda, “Jiwa seorang mukmin itu ‘tergantung’ gara gara hutangnya hingga hutangnya dilunasi. (HR Turmudzi). Rasulullah kembali bersabda, “Penundaan pembayaran hutang oleh orang yang mampu adalah satu kezaliman.” (Muttafaq Alaih)

6. BERTAUBAT DARI PERBUATAN MAKSIAT

Keenam, yang seharusnya disegarakan bertaubat dari perbuatan maksiat. Tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan perbuatan salah dan dosa. Tapi sebaik-baik orang yang pernah melakukan perbuatan salah dan dosa, segera bertaubat kepada Allah. “Sesungguhnya Allah swt menerima taubat hamba-Nya sebelum ajal di tenggorokannya.” (HR Turmudzi)

“Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An Nuur 24 : 31.

Segeralah taubat sebelum wafat dan segeralah shalat sebelum waktunya terlewat.

wallahu a’lam bishshowab


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Manusia Terbaik

TIGA SIFAT UNGGULAN MANUSIA PILIHAN ALLAH SWT (Bag-1)

Pemateri: Ust. DR. Abas Mansur Tamam

وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إبْرَاهِيمَ وَإِسْحَقَ وَيَعْقُوبَ أُوْلِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ. إِنَّا أَخْلَصْنَاهُم بِخَالِصَةٍ ذِكْرَى الدَّارِ. وَإِنَّهُمْ عِندَنَا لَمِنَ الْمُصْطَفَيْنَ الْأَخْيَارِ (ص [38]: 45-47)

Artinya: “Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang terampil (punya tangan/ulil aidi) dan berwawasan luas (punya penglihatan/ulil abshar). Sesungguhnya Kami telah memilih mereka dengan kualifikasi mengingat negeri akhirat (dzikrad dar). Dan sesungguhnya mereka di sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik” (Shad [38]: 45-47).

MUKADIMAH:

Allah SWT. memiliki khazanah kisah menarik yang jumlahnya tak terhingga, sebanding dengan ketidak terhinggaan ilmu-Nya.

Dari sekian banyak kisah itu, Allah telah memilihkan untuk kita kisah-kisah terbaik dan paling menarik (ahsanal qashashi). Diantara kisah terbaik itu disebutkan dalam tiga ayat di atas, yaitu kisah Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub.

Tidak bisa dipungkiri manusia menyukai kisah.

Allah Mengetahui, karena Dia yang menciptakannya. Maka kisah-kisah dalam Alquran dimaksudkan untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan dalam diri manusia. Karena itu kisah merupakan satu dari sekian metode terbaik dalam pendidikan.

Alquran mengatakan: “Sungguh pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang cerdas” (Yusuf [12]: 111).

Kita wajib berusaha untuk pandai memetik pelajaran dari setiap kisah Alquran.

Dalam hal ini, Allah swt. menyebutkan tiga sifat unggulan dari manusia-manusia pilihan Allah itu, yaitu: terampil (ulil aidi), berwawasan luas (ulil abshar), dan selalu mengingat negeri akhirat (zikrad dar).

Nilai kita di hadapan Allah digantungkan pada kemampuan untuk melakukan proses internalisasi ketiga sifat itu.

Tujuannya agar nilai kita di sisi Allah mendekati keutamaan para nabi, meskipun tidak akan menyamainya. “Saddidu wa qaribu”, bertindaklah dengan tepat dan berupayalah untuk  semakin dekat!
(Bukhari, 5/6099) demikian pesan al-habib Rasulullah saw.

TERAMPIL (ULIL AIDI):

Dalam bahasa Arab kata ulil aidi (punya tangan) digolongkan sebagai pendekatan metafora (majaz mursal).
Artinya bukan punya tangan dalam pengertian biasa, tetapi mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan besar.

Hubungan makna ini dengan kalimat ulil aidi, karena biasanya orang berbuat dengan tangan. Dalam bahasa yang lugas, ulil aidi bisa diartikan terampil.

Agar kita bisa mengejar kualifikasi ulil aidi seperti Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub, kita harus mengetahui ragam penafsiran para ulama tentang kalimat tadi.

Karena keragaman makna ayat bersifat saling melengkapi. Makna-makna itu dirangkum oleh Imam Al-Mawardi dalam tafsirnya (An-Nukat wal Uyun).

Keragaman makna itu sekaligus bisa dijadikan indikator dari ketercapaian kualifikasi terampil dalam diri kita.

1. Kemampuan Beribadah (Al-Quwwatu fil Ibadah):

Indikator pertama dari orang yang terampil adalah memiliki kemampuhan untuk beribadah, demikian menurut Ibn Abbas. Kemampuan ini menjadi indikator pertama dari manusia unggulan, karena agama hakikatnya adalah ibadah, taat, serta tunduk kepada Allah swt.

Kemampuan beribadah kedudukannya lebih dari sekedar tahu dan mau.

Karena orang tahu dan mau belum tentu bisa melakukannya.
Betapa banyak orang yang mengetahui keutamaan bangun malam, tetapi tidak bisa melakukannya. Betapa banyak orang yang mau membiasakan wirid Alquran satu juz dalam sehari, tetapi tidak sanggup menjaga konsistensi tilawahnya karena alasan kesibukan dan lain-lain.

Orang yang terampil akan mampu menunaikan semua amal-amal fardu dengan sebaik-baiknya. Mampu menyempurnakan salat, puasa, zakat, dan haji. Mampu melakukan amal-amal nafilah (sunah), baik yang sejenis fardu seperti: salat sunah, puasa sunah, infak dan sedekah, serta umrah; atau amal-amla sunah lainnya.

Orang yang mampu menyempurnakan ibadah-ibadah wajib dan ditambah dengan ibadah-ibadah sunah akan membuatnya menjadi wali-wali Allah swt.

Dalam hadits qudsi dikatakan:
“Siapa yang memusuhi Aku, maksudnya memusuhi wali-Ku, maka Aku akan mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku taqarrub kepada-Ku lebih Aku cintai dari jenis ibadah yang telah Aku fardukan.

Jika hamba-Ku terus bertaqarrub dengan nawafil, maka Aku akan mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya ketika dia mendengar. Akulah matanya ketika dia melihat. Akulah tangannya ketika dia merangkak. Dan akulah kakinya yang dia pakai untuk melangkah. Jika dia meminta sesuatu pada-Ku, pasti akan Aku kabulkan. Jika ia meminta perlindungan, pasti akan Aku lindungi..”  (Bukhari, 5/6137).

2. Ketegasan Menjaga Perintah Allah (Alquwwatu fi Amrillah):

Indikator kedua adalah ketegasan dalam menjaga perintah Allah (alquwwatu fi amrillah) demikian menurut Qatadah.

Indikator ini berbeda dari indikator pertama. Karena orang yang rajin beribadah (mahzah), belum tentu punya rasa cemburu dengan agamanya.

Sehingga mungkin saja dia bersikap tak acuh dengan pelanggaran-pelanggaran terhadap perintah Allah yang terjadi di tengah masyarakat.

Ketegasan menjaga perintah Allah menuntut kepedulian terhadap masyarakat, serta berani melakukan amar makruf dan nahyil mungkar.

Rasulullah saw. bersabda:

من رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بيده، فَإِنْ لم يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لم يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

Artinya: “Siapa yang melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa dengan tangannya, maka rubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa dengan lisannya, maka dengan hatinya. Dan itu selemah-lemahnya iman” (Muslim, 1/49).

Contoh ideal dari sahabat yang memiliki indikator ini adalah Umar bin Khattab. Ketika Rasulullah saw. mengumumkan prestasi sahabat-sahabatnya beliau bersabda:

“Wa asyadduhum fi amrillah Umar”, orang yang paling tegas menjaga perintah Allah adalah Umar (Tirmizi, 5/3790, hadits hasan garib).

Sebagai tambahan, orang yang tegas dalam menjaga perintah Allah akan disegani oleh kawan dan ditakuti oleh lawan.

Abdullah bin Buraidah mengabarkan, Rasulullah saw. bersabda: “Aku mengira, syaitan saja akan melarikan diri dari engkau wahai Umar” (Sahih Ibn Hibban, 15/6892).

Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang ditakuti oleh syetan.

3. Memiliki Fisik yang Sehat dan Kuat (Alquwwah fil Abdan)

Indikator ketiga adalah memiliki fisik yang sehat dan kuat (alquwwah fil abdan), demikian kata Athiyyah.

Indikator ini menjadi bagian dari pemahaman dasar, bahwa orang-orang yang berbadan kuat dan sehat dimungkinkan akan mampu beramal lebih dahsyat, serta mampu mengerjakan proyek-proyek besar dalam hidup ini.

Kaidah orang kuat mampu melakukan pekerjaan besar memang tidak mutlak.

Karena Syeikh Ahmad Yasin dalam keadaan memiliki fisik yang tidak berdaya, beliau mampu melakukan pekerjaan besar yaitu memimpin intifazah.

Meskipun begitu, tidak bisa dipungkiri bahwa pekerjaan berat dan besar kemungkinan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang fisiknya sehat dan kuat.
Itu sebabnya Rasulullah saw. bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إلي اللَّهِ من الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وفي كُلٍّ خَيْرٌ

Artinya: “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah, daripada seorang mukmin yang lemah. Meskipun masing-masing memiliki kebaikan” (Muslim, 4/2664).

Maka manusia-manusia pilihan Allah memiliki kebiasaan menjaga kesehatan dan kekuatan fisik.

4. Pekerjaan yang Kreatif (Al-ibda’):

Indikator keempat ini diinspirasi dari Ibn Baher, ketika ia mengartikan ulil aidi sebagai al-‘amal.

Al-‘amal secara sederhana artinya memang bekerja atau berbuat. Tetapi jenis pekerjaan yang akan membuat seseorang menjadi orang yang unggul tentu bukan pekerjaan biasa. Pekerjaan itu harus bersifat kreatif dan inovatif, sehingga mampu memberikan sumbangan yang baru bagi umat manusia.

Allah swt. memberikan contoh paling ideal dalam kreatifitas yang inovasi, ketika menciptakan langit dan bumi dengan segala yang ada di dalamnya.

Semua pekerjaan itu bersifat inovatif, tidak menjiplak dari yang ada sebelumnya. Semuanya diciptakan dari ketidak-adaan. Alquran menyebutnya “Badi’us samawati wal ardi” (Al-Baqarah [2]: 117).

Penemuan-penemuan baru di bidang sains dan teknologi masuk dalam kategori ini.

(Bersambung)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

selamat berjuang ayah

Ustadz Menjawab : Hak Asuh Anak dan Jatah Pesangon jika Kepala Keluarga Meninggal

Pertanyaan

Assalamu’alaikum
1. Apabila seorang ayah atau kepala keluarga meninggal, maka hak asuh anak diutamakan diberikan kepada siapa? ada beberapa pendapat yang bilang lebih diutamakan ke keluarga almarhum laki2 dibanding ke Ibunya. Apakah ada dasar ayat, dalil atau hadits mengenai ini?

2. Apabila seorang ayah atau kepala keluarga meninggal, maka jatah pesangon (bukan warisan) akan diutamakan jatuh kepada siapa? anak, istri atau orang tua ? mohon disertakan dalil jika memang ada

Jawaban

Oleh: Ustadz Abdul Latief Khan

1. Hak asuh anak diberikan kepada ibunya. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh ibn Qudamah dan sedemikian pula dinyatakan oleh ibn Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa (17/216-218).
Terkait hak asuh anak yang ayahnya bercerai dengan ibunya terdapat hadist dari Abdullah bin Amr bahwa ada seorang wanita yg mendatangi nabi saw dan mengadukan permasalahannya. “Ya Rasulullah, anakku ini dulu akulah yg mengandungnya, akulah yg menyusuinya dan memangkunya. Dan sesungguhnya ayahnya telah menceraikanku dan ingin mengambilnya dariku.” Rasul saw menjawab : “engkau lebih berhak mengasuhnya selama engkau belum menikah.” (HR. Ahmad 2/182) Abu Daud dan al Hakim (2/247). Syaikh albani menshahihkan hadist nya.

Namun hak pengasuhan akan hilang jika yang bersangkutan adalah budak (riqqu), fasiq, kafir, atau si ibu menikah lagi dengan lelaki lain.

Bisa jadi pendapat yang mengatakan ibu tdk berhak atas hak pengasuhan anak mengikut pada unsur keempat yang menghalangi hak asuh anak atau memang keempat unsur dimaksud

2. Uang pesangon bukanlah harta yang dimiliki oleh si mati. Karena melainkan harta yang diperoleh oleh keluarganya karena sebab matinya keluarga mereka. Maka itu tidak dapat dikategorikan sebagai warisan.

Wallahu a’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allah Maha Indah dan Menyukai Keindahan

Ustadz Menjawab: Seputur Hukum Patung, Lukisan, dan Foto Makhluk Bernyawa

Pertanyaan

Assalamu ‘Alaikum … Benarkah rumah yang ada lukisannya, malaikat tidak mau masuk ke rumah tersebut? Dan bagaiman dengan foto keluarga? (dari 085265893xxx)

Jawaban

Oleh: Farid Nu’man Hasan

Wa ‘Alaikum Salam Wa Rahmatullah Wa Barakatuh. Bismillah wal hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘ala Alihi wa Shahbihi wa man waalah, wa ba’d:

Ya, rumah yang terdapat lukisan, yakni lukisan makhluk bernyawa seperti manusia dan hewan, dapat mencegah masuknya malaikat rahmat ke rumah kita. Hal ini berdasarkan hadits berikut:

Dari Abu Thalhah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallambersabda:

لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا صُورَةٌ

“Malaikat tidak akan masuk ke rumah yang terdapat anjing dan lukisan.”[1]

Dalam hadits lain, dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ صُورَةٌ وَلَا كَلْبٌ وَلَا جُنُبٌ

“Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat lukisan (gambar), anjing, dan orang yang junub.”[2]

Malaikat apakah yang dimaksud di sini? Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan:

فَهُمْ مَلَائِكَة يَطُوفُونَ بِالرَّحْمَةِ وَالتَّبْرِيك وَالِاسْتِغْفَار ، وَأَمَّا الْحَفَظَة فَيَدْخُلُونَ فِي كُلّ بَيْت ، وَلَا يُفَارِقُونَ بَنِي آدَم فِي كُلّ حَال ، لِأَنَّهُمْ مَأْمُورُونَ بِإِحْصَاءِ أَعْمَالهمْ ، وَكِتَابَتهَا

“Mereka adalah malaikat yang berkeliling dengan membawa rahmat, berkah, dan pengampunan, sedangkan malaikat penjaga, maka mereka masuk ke setiap rumah, mereka tidak memisahkan diri dengan manusia dalam segala keadaan, karena mereka diperintahkan untuk menghitang amal manusia dan menuliskannya.”[3]

Berkata Imam Al Khathabi dalam Ma’alim As Sunan:

يُرِيد الْمَلَائِكَة الَّذِينَ يَنْزِلُونَ بِالْبَرَكَةِ وَالرَّحْمَة دُون الْمَلَائِكَة الَّذِينَ هُمْ الْحَفَظَة فَإِنَّهُمْ لَا يُفَارِقُونَ الْجُنُب وَغَيْر الْجُنُب

“Maksud malaikat di sini adalah malaikat yang turun bersama keberkahan dan rahmat, bukan malaikat penjaga, sebab mereka tidaklah menjauh baik kepada orang yang junub dan yang tidak junub.”[4]

Lukisan atau gambar apa yang dimaksud?  Beliau juga berkata:

وَأَمَّا الصُّورَة فَهِيَ كُلّ مُصَوَّر مِنْ ذَوَات الْأَرْوَاح كَانَتْ لَهُ أَشْخَاص مُنْتَصِبَة ، أَوْ كَانَتْ مَنْقُوشَة فِي سَقْف أَوْ جِدَار أَوْ مَصْنُوعَة فِي نَمَط أَوْ مَنْسُوجَة فِي ثَوْب أَوْ مَا كَانَ ، فَإِنَّ قَضِيَّة الْعُمُوم تَأْتِي عَلَيْهِ فَلْيُجْتَنَبْ

“Ada pun lukisan yang dimaksud yaitu semua lukisan yang memiliki ruh, baik lukisan seseorang, atau ukiran pada atap rumah atau dinding, atau kain bercorak yang dibuatan pabrik,  atau hasil tenunan pada kain, atau apa saja. Sesungguhnya dalam masalah ini dalil yang ada adalah umum, maka hendaknya dijauhi.”[5]

Dari keterangan ini maka lukisan bukan makhluk bernyawa, seperti lautan, pegunungan, kubus, dan lainnya dari benda-benda mati, tidaklah termasuk dalam hadits tersebut.

Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma berkata:

إِنْ كُنْتَ لَا بُدَّ فَاعِلًا فَاصْنَعْ الشَّجَرَ وَمَا لَا نَفْسَ لَهُ

“Jika kau ingin melakukannya, maka buatlah pohon, atau apa-apa yang tidak bernyawa.”[6]

Berikut adalah ulasan Syaikh Ali Ash Shabuni tentang patung dan lukisan yang diharamkan dan yang dibolehkan, dalam Kitab Rawa’i Al Bayan, Juz. 2, Hal. 334-335. Darul Kutub Al Islamiyah.

Beliau menulis:

Patung dan Gambar seperti apa yang Diharamkan?

Patung dan gambar yang diharamkan adalah sebagai berikut:

1. Patung berbentuk tubuh yang memiliki ruh (nyawa) seperti patung manusia dan hewan. Ini haram menurut ijma’ (konsensus/kesepakatan). Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:“Sesungguhnya malaikat tidak akan masuk ke rumah yang di dalamnya ada anjing, gambar, patung, dan orang junub.” (HR. Imam Bukhari)[7]

2. Gambar yang dibuat oleh tangan (melukis), berupa bentuk yang memiliki ruh. Ini juga disepakati keharamannya.   Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya pembuat gambar ini akan diazab pada hari kiamat. Diperintahkan kepada mereka, ‘Hidupkan apa-apa yang kau ciptakan.’ ”(HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Abu Daud, An Nasa’i)

3. Gambar yang bentuknya lengkap (sempurna), tidak ada yang kurang kecuali ruh saja, ini juga disepakati haramnya berdasarkan hadits-hadits sebelumnya, seperti: “Diperintahkan untuk meniupkan (memberikan) ruh pada gambar tersebut, dan tidaklah mampu untuk meniupkannya.”  Juga hadits lain dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk menemuiku, saat itu aku mengenakan kain lembut yang bergambar, maka raut mukanya berubah, kemudian ia mengambilnya dan merobeknya. Lalu berkata, ‘Sesungguhnya manusia yang paling keras azabnya pada hari kiamat nanti adalah orang-orang yang membuat hal yang serupa dengan makhluk Allah.’ “ ‘Aisyah berkata: “Maka aku potong kain itu dan aku jadikan dua bantal, dan Rasulullah bersandar di atasnya.”

“Kemudian ia mengambil dan merobeknya” menunjukkan keharaman gambar. Lalu, dipotong oleh ‘Aisyah menjadi dua bantal sehingga gambar menjadi terbagi dan tidak sempurna, ini menunjukkan kebolehannya. Dari sinilah para ulama menyimpulkan, bahwa gambar jika tidak lengkap (sempurna) tidaklah haram.

4. Gambar-gambar yang diagungkan, digantung (pajang-pamer) agar dilihat-lihat, maka ini juga haram tanpa diperselisihkan. Hadits dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa dahulu ia punya kain yang memiliki gambar burung, jika ada orang masuk pasti akan melihatnya, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Jauhkan ini dariku, sebab tiap aku melihatnya membuat aku ingat dengan dunia.” (HR. Imam Muslim, lihat juga Tafsir al Qurthuby dan Ahkamul Qur’an-nya Ibnul ‘Araby)

Hadits dari Abu Thalhah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa ‘Aisyah berkata: “Nabi keluar pada hari peperangan, lalu aku mengambil namath (kain bergambar yang dicelupi banyak warna),  aku tutupi pintu dengannya. Ketika ia pulang, ia melihatnya, dan aku mengetahui adanya ketidaksukaan pada wajahnya, ia menariknya hingga terkoyak, dan bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan kita untuk tunduk kepada batu dan tanah!” ‘Aisyah berkata: “Maka aku potong kain itu, lalu aku jadikan dua bantal dan sabut (lap – keset), aku tidak melihat ia mencelaku karena itu.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Abu Daud, An Nasa’I, lihat Jam’ul Fawaaid, juz 1, hal. 825)

Patung dan Gambar Apa  yang Dibolehkan?

1. Setiap Patung atau gambar yang tidak bernyawa, seperti bentuk bangunan, sungai, pepohonan, pemandangan alam. Dan seleruh yang tidak memiliki ruh (nyawa). Maka tidak haram menggambarkannya, sebagaimana hadits dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu  terdahulu ketika ia ditanya seseorang, “Sesungguhnya akulah yang menggambar ini, berikan fatwamu untukku tentang hal ini?…” lalu Ibnu Abbas memberitahukan hadits nabi, lalu ia berkata: “Jika engkau ingin menggambar, gambarlah pepohonan, dan apa-apa yang tidak memiliki ruh.” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)

2. Setiap gambar yang tidak utuh, seperti salah satu tangan misalnya, atau mata, atau kaki, maka itu tidak haram karena itu bukanlah gambaran makhluk yang sempurna. Ini sesuai hadits dari ‘Aisyah, katanya: “Aku memotongnya, lalu aku jadikan dua bantal, aku tidak melihat ia mencelaku karena itu.”

3. Juga dikecualikan mainan (boneka) anak perempuan (la’ibul banaat). Telah ada berita yang pasti dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha  bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menikahinya saat usianya baru tujuh tahun, lalu ia membawa ‘Aisyah ke rumahnya saat ‘Aisyah berusia sembilan tahun, dan saat itu ia masih bersama bonekanya. Rasulullah wafat saat usianya baru delapan belas tahun. (HR. Muslim, lihat juga Jam’ul Fawaaid)

Dari ‘Aisyah dia berkata, “Aku bermain bersama anak-anak perempuan di dekat Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, saat itu aku memiliki sahabat yang bermain bersamaku, jika beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk ke rumah, sahabat-sahabatku malu kepadanya dan pergi, lalu beliau memangil mereka dan mendatangkan mereka untukku agar  bermain bersamaku lagi.”

Berkata para ulama: Sesungguhnya dibolehkannya boneka anak-anak karena adanya kebutuhan terhadapnya, yaitu kebutuhan anak perempuan agar ia memiliki pengalaman dalam mengasuh anak-anak, namun tidak boleh terus menerus sebab dibolehkannya karena adanya kebutuhan tadi.[8] Serupa dengan ini adalah bentuk yang terbuat dari permen dan adonan kue. Ini adalah keringanan (dispensasi) dalam masalah ini.[9] Selesai kutipan dari Syaikh Ali Ash Shabuni.

Bagaimana Hukum Fotografi?

Tentang hukum fotografi (makhluk bernyawa) para ulama kita telah berselisih pendapat, ada yang mengharamkan karena itu termasuk keumuman hadits larangan untuk menggambar, kecuali untuk kebutuhan mendesak seperti KTP, Pasport, dan lainnya. Ada pula yang membolehkan selama isi fotonya adalah hal-hal yang baik, tidak diagungkan, bermanfaat untuk ilmu pengetahuan dan informasi. Namun, yang benar adalah kelompok kedua, sebab fotografi bukanlah menggambar atau melukis, melainkan bayangan manusia itu sendiri, sebagaimana bercermin. Jadi, sumber penyebab  perbedaannya adalah perbedaan para ulama ini dalam mempersepsikan fotografi.

Berkata Fadhilatus Syaikh As Sayis: “Anda berharap mengetahui hukum fotografi, maka kami katakan, ‘Mungkin menurut anda hukumnya sama dengan hukum gambar di pakaian/kain, dan anda telah mengetahui ada nash yang mengecualikannya. Anda juga mengatakan, ‘Sesungguhnya fotografi bukanlah menggambar, tetapi menahan (merekam-pent) gambar, sebagaimana gambar di cermin, tidak mungkin anda mengatakan yang di cermin itu adalah gambar (lukisan), dan sesungguhnya itu satu bentuk (dengan aslinya).

Apa-apa yang dibuat oleh alatut tashwir (tustel)  adalah gambar sebagaimana di cermin, tujuan dari ini adalah bahwa alat tersebut menghasilkan dengan pasti bayangan nyata[10] yang terjadi padanya (negatif film – klise), sedangkan cermin tidak seperti itu. Kemudian klise itu diletakkan pada zat asam tertentu, maka tercetaklah sejumlah gambar/foto (proses ini disebut cuci cetak-pent). Jelas ini secara hakiki  bukanlah menggambar. Sebab ini sekadar upaya memperjelas dan menampakkan gambar yang sudah ada, supaya tertahan dari sinar matahari langsung (agar tidak terbakar –pent). Mereka berkata: “Sesungguhnya seluruh foto yang ada bukanlah hasil dari pemindahan (gambar)  dengan perbuatan  sinar  dan cahaya, selamanya tidak ada larangan dalam memindahkan dan mengasamkannya, dan selamanya di dalam syariat yang luas ini foto itu dibolehkan, sebagaimana pengecualian gambar pada pakaian/kain, tidak ada dalil secara khusus yang mengharamkannya. Telah tampak bahwa manusia menjadikannya sebagai barang kebutuhan yang sangat penting bagi mereka.” (Ayatul Ahkam lis Sayis, Juz. 4, hal. 61) [11]

Sementara Syaikh Ali Ash Shabuni sendiri cenderung mengharamkan fotografi, kecuali darurat kebutuhan. Beliau berkata:

Aku (Ali Ash Shabuni) mengatakan, “Sesungguhnya fotografi tidaklah keluar dari prinsip larangan menggambar, tidak juga keluar dari apa-apa yang oleh ayat disebut  shurah(gambar/lukisan), dan orang yang membuatnya oleh bahasa dan tradisi disebut mushawwir(pelukis). Jika pun foto tidak termasuk yang dimaksud oleh ayat yang jelas ini -lantaran ia tidak dibuat langsung oleh tangan, dan tidak ada unsur penyerupaan terhadap ciptaan Allah- namun ia tidak keluar dari keumuman maksud dari pembuatan  gambar/lukisan (tashwiir). Maka hendaknya pembolehan foto dibatasi atas dasar kebutuhan mendesak (dharurah), dan karena jelas manfaatnya.Sebab, telah terjadi kerusakan besar yang dihasilkan oleh foto, sebagaimana keadaan majalah-majalah hari ini yang telah menyemburkan racunnya kepada pemuda-pemuda kita, sehingga lahirlahfitnah (bencana) dan kelalaian, di mana terpampang foto-foto bentuk tubuh wanita dan wajah-wajah mereka[12], dengan kepalsuan dan penampilan yang merusak agama dan akhlak.

Adapun foto-foto telanjang, pemandangan yang rendah dan hina, dan rupa-rupa yang membawa fitnah (kerusakan) yang terlihat pada majalah-majalah porno, di mana kebanyakan halamannya mengandung kegilaan, maka akal tidak ragu atas keharamannya, walau gambar tersebut bukan buatan tangan secara langsung, namun kerusakan dan bencana yang dihasilkannya lebih besar dibanding lukisan dengan tangan.

Kemudian, sesungguhnya ‘Ilat (alasan) pengharaman foto  bukan karena ia  menyerupai dan menyamai makhluk Allah, tetapi karena adanya titik persamaan dengan jenis gambar yang telah diberi peringatan, yaitu bahwa watsaniyah (paganisme – keberhalaan) yang merasuki umat-umat terdahulu terjadi karena melalui jalan ‘gambar’. Di mana jika orang shalih mereka wafat, mereka membuat gambarnya (patung) dan mengabadikannya untuk mengingatnya dan mengikutinya. Kemudian datang generasi setelah mereka, menyembah patung tersebut. Maka apa-apa yang dilakukan manusia, menggantung foto  besar yang diberi perhiasan di dinding rumah, walau sekadar untuk kenang-kenangan, dan tidak dibuat dengan tangan (bukan lukisan), ini termasuk yang tidak dibolehkan oleh syariat. Karena, nantinya  berpotensi  untuk mengagungkannya dan menyembahnya, sebagaimana yang dilakukan Ahli Kitab terhadap para nabi dan orang-orang shalih mereka.[13]

Maka pemutlakan kebolehan foto dengan alasan ia bukanlah melukis melainkan menahan (merekam) bayangan. Seharusnya pembolehannya terikat yaitu  karena dharurat kebutuhan seperti foto identitas pribadi, dan semua hal yang berkaitan dengan maslahat dunia yang dibutuhkan manusia. Wallahu A’lam[14]

Sementara itu, Syaikh Wahbah Az Zuhaili mengatakan:

أما التصوير الشمسي أو الخيالي فهذا جائز، ولا مانع من تعليق الصور الخيالية في المنازل وغيرها، إذا لم تكن داعية للفتنة كصور النساء التي يظهر فيها شيء من جسدها غير الوجه والكفين، كالسواعد والسيقان والشعور، وهذا ينطبق أيضاً على صور التلفاز وما يعرض فيه من رقص وتمثيل وغناء مغنيات، كل ذلك حرام في رأيي

“Ada pun fotografi maka itu boleh, dan tidak terlarang menggantungnya di rumah dan selainnya jika tidak mengundang fitnah, seperti foto wanita yang menampakkan bagian tubuhnya selain wajah dan telapak tangan, seperti bagian dada, betis, rambut, dan ini juga berlaku pada gambar televisi. Apa-apa yang terjadi di dalamnya seperti tarian, panggung, dan penyanyi wanita, semua ini adalah haram menurutku.”[15]

Syaikh Jaad Al Haq Ali Jaad Al Haq Rahimahullah –mufti Mesir-  berkata:

  اختلف الفقهاء فى حكم الرسم الضوئى بين التحريم والكراهة، والذى تدل عليه الأحاديث النبوية الشريفة التى رواها البخارى وغيره من أصحاب السنن وترددت فى كتب الفقه، أن التصوير الضوئى للإنسان والحيوان المعروف الآن والرسم كذلك لا بأس به، إذا خلت الصور والرسوم من مظاهر التعظيم ومظنة التكريم والعبادة وخلت كلذلك عن دوافع تحريك غريزة الجنس وإشاعة الفحشاء والتحريض على ارتكاب المحرمات .

ومن هذا يعلم أن تعليق الصور فى المنازل لا بأس به متى خلت عن مظنة التعظيم والعبادة، ولم تكن من الصور أو الرسوم التى تحرض على الفسق والفجور وارتكاب المحرمات

“Para ahli fiqih berbeda pendapat tentang hukum foto,  antara yang mengharamkan dan memakruhkan, yang ditunjukkan oleh hadits-hadits nabi yang telah diriwayatkan oleh Bukhari dan lainnya dari pengarang kitab As Sunan, dan dituangkan dalam kitab-kitab fiqih.  Sesungguhnya foto manusia dan hewan yang sekarang kita kenal adalah tidak  mengapa, jika tidak dicampur dengan sikap  pemandangan untuk diagungkan, dimuliakan, dan diibadahi, dan juga tidak dicampuri dengan hal-hal yang menggerakan syahwat, menyiarkan kekejian, dan segala hal yang diharamkan.

Dari sini, bisa diketahui bahwa menggantungkan foto tidaklah mengapa selama bersih dari pengagungan, peribadatan, dan bukan termasuk gambar yang mengundang kefasikan, dosa, dan hal-hal yang diharamkan lainnya.”[16]

Demikian. Wallahu A’lam

***

[1] HR. Bukhari, Kitab Bada’al Khalq Bab Idza Waqa’a Az Zubab fi Syarabi Ahadikum …,   No. 3075. Muslim, Kitab Al Libas waz Zinah Bab Tahrim Tashwir Shurah Al Hayawan …,   No. 3929.

[2] HR. Abu Daud, Kitab Ath Thaharah Bab fil Junubi Yu’akhirul Ghusla,  No. 196. An Nasa’i, Kitab Ath Thaharah Bab fil Junubi Idza La Yatawadhdha’,  No 261. Ahmad,  No. 598. Hadits ini shahih. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan An Nasa’i, Juz. 9, Hal. 353.

[3] Imam An Nawawi, Syarh Shahih Muslim, Juz. 7, Hal. 207, No. 3929.

[4] Imam Abu Ath Thayyib Muhammad Syamsuddin Abadi, ‘Aunul Ma’bud, Juz. 1, Hal. 262, No. 196.

[5] Ibid

[6] HR. Muslim, Kitab Al Libas waz Zinah Bab Tahrim Tashwir Shurah Al Hayawan ..,  No. 3945.

[7] Sebagian orang mengatakan, “Rasulullah mengharamkan patung, karena saat itu manusia imannya masih lemah, sehingga jika dihalalkan khawatir mereka kembali meyembah patung, tetapi setelah iman sudah kuat dan tak ada lagi yang menyembah patung dan kekhawatiran untuk menyembahnya,  maka tak ada alasan lagi patung diharamkan.”  Perkataan ini ada beberapa kesalahan. Pertama, 2,5 milyar manusia masih menyembah patung di India,  Cina, Thailand, Bali, dan lain-lain, baik itu pemeluk Hindu, Budha, Konghucu, dan sebagainya. Kedua, patung diharamkan bukan karena alasan itu (faktor kuat atau lemahnya iman), tetapi karena patung (dan lukisan) adalah penyerupaan terhadap makhluk Allah ‘Azza wa Jalla, belum lagi alas an lain yakni tidak masuknya malaikat ke rumah yang ada patung, dan patung merupakan tempat bersemayamnya syetan –pent.

[8] Artinya ketika si anak perempuan  telah beranjak remaja dan seterusnya, ia tidak dibenarkan lagi memainkannya. Sebab ia telah keluar dari kategori al banaat (gadis cilik), pent.

[9] Tidak hanya itu, tetapi juga bentuk manusia, hewan, atau robot-robotan  berukuran sangat kecil yang terbuat dari plastik atau karet yang biasa dimainkan juga oleh bocah laki-laki, atau gambar kartun, bahkan Syaikh Yusuf Al Qaradhawy memuji kartun-katun Islami untuk kepentingan da’wah Islam dalam rangka mengimbangi kartun-kartun jahili. Juga patung untuk keperluan ilmu pengetahuan, yang menggambarkan  anatomi tubuh. Ini semua juga diberi dispensasi (keringanan) sesuai kebutuhannya saja, pent.

[10] Dalam Ilmu Fisika kita ketahui bayangan ada dua, yaitu bayangan nyata dan maya, fotografi dan cermin adalah bayangan maya. pent.

[11] Syaikh Ali Ash Shabuni, Rawa’i Al Bayan, Juz. 2, Hal. 337

[12] Syaikh Ali Ash Shabuni termasuk ulama yang berpandangan bahwa wajah wanita adalah aurat, wajib ditutup (cadar), itu juga pendapat para ulama di Saudi Arabia seperti  Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh  ‘Utsaimin, Syaikh Shalih Al Fauzan,  ulama Siria seperti  Syaikh Said Ramadhan Al Buthi.  atau para ulama di India seperti Syaikh Abul A’la Al Maududi.  Sedangkan sebagian ulama menyatakan bahwa wajah wanita bukan aurat seperti Syaikh Yusuf Al Qaradhawy, Syaikh Muhammad Al Ghazali,  Syaik Muhammad Nashiruddin Al Albani, dan para ulama di Al Azhar University.

[13] Orang Kristen biasa menggantung lukisan Yesus Kristus di tembok rumah mereka, maka semestinya bagi seorang muslim untuk berbeda dengan mereka.

[14] Syaikh Ali Ah Shabuni, Rawa’i Al Bayan, Juz, 2 , Hal. 337

[15] Syaikh Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, Juz. 4, Hal. 224.

[16] Fatawa Al Azhar, Juz. 7, Hal. 220


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Qur'an Nutrisi Akal dan Jiwa

SURAT AL FALAQ (Bag-2)

Pemateri: Ust. AHMAD SAHAL HASAN, Lc.

AYAT 2
BERLINDUNG DARI KEJAHATAN MAKHLUK CIPTAAN ALLAH

مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

Ayat ini menjelaskan – secara global – DARI APAKAH kita mesti berlindung kepada Rabbul falaq?

Yaitu dari kejahatan makhluk yang semuanya adalah ciptaanNya.

Semua makhluk diciptakan dengan hikmah dan tujuan. Kebaikan dan kelebihan yang ada pada makhluk akan membuat mereka saling membutuhkan sehingga interaksi antar mereka tak mungkin dihindari baik secara langsung atau tidak langsung. Oleh karena itu kita hanya berlindung dari kejahatan makhluk, bukan berlindung dari makhluk itu sendiri.

“Dalam situasi berinteraksi sesama makhluk, ada kejahatan yang muncul, sebagaimana ada kebaikan dan manfaat mereka dalam situasi yang lain. Dan permohonan perlindungan kepada Allah di sini adalah dari kejahatannya agar bertahan kebaikannya.” (Fi Zhilal Al-Quran, 6/4007).

Setelah disebutkan kejahatan makhluk secara umum, ayat-ayat selanjutnya akan menyebutkan secara khusus apa saja bentuk kejahatan yang kita diminta berlindung darinya dengan membaca surat Al-Falaq ini.

Ada tiga hal terkait kejahatan yang disebutkan secara khusus:

1. Waktu yang biasanya banyak kejahatan terjadi di dalamnya, yaitu malam.

2. Sekelompok manusia yang profesi mereka dibangun di atas keinginan jahat terhadap orang lain, yaitu para penyihir.

3. Dan sekelompok manusia yang memiliki akhlak buruk yang memotifasi diri mereka untuk menyakiti orang lain. Merekalah para pendengki.

AYAT 3
BERLINDUNG DARI MALAM/GELAP JIKA IA DATANG

وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ

Ghasiq: malam, idzaa waqab: jika ia telah masuk. Demikian riwayat dari Mujahid. (Tafsir Ath-Thabari, 24/702).

Setelah mengemukakan beberapa pendapat tentang makna ghasiq, Al-Imam Ath-Thabari menyatakan bahwa makna ghasiq yang tepat menurut beliau adalah segala sesuatu yang berubah menjadi gelap. (Tafsir Ath-Thabari, 24/704).

Malam hari terutama saat ia semakin larut dan gelap adalah waktu di mana para penjahat biasanya beraksi memanfaatkan kelalaian dan kelelahan calon korbannya atau penegak hukum.

Di malam hari pula hewan malam yang berbahaya mencari mangsanya.

Suasana malam itu sendiri dengan kegelapan dan keheningannya kadang sudah menumbuhkan perasaan takut pada diri seseorang.

Jika kita memaknai gelap tidak secara lahiriah, maka suasana ketidakjelasan, ketersembunyian atau kekacauan juga merupakan kegelapan dan menjadi saat-saat krusial bagi berlangsungnya kejahatan, meskipun di siang hari.

AYAT 4
BERLINDUNG DARI KEJAHATAN PARA PENYIHIR ATAU PELAKU ILMU HITAM

وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ

Setelah berlindung dari kejahatan malam, kita juga diperintahkan berlindung dari satu jenis kejahatan amat keji yang pelakunya kerap menggunakan malam untuk beraksi, yaitu sihir.

Dalam ayat ini digambarkan bahwa tukang sihir ini meghembus pada buhul yaitu benang atau tali yang dibuat simpul atau ikatan tertentu yang telah dibacakan mantra-mantra untuk mengganggu korbannya. Tukang sihir akan menjaga agar simpul tali ini tidak terurai, untuk itu mereka menyembunyikannya di tempat yang sulit ditemukan orang lain.

Di masyarakat Arab saat itu, mayoritas praktek sihir seperti ini dilakukan oleh perempuan, sehingga ayat ini mengungkapkan orang-orang yang menghembus pada buhul ini dalam bentuk jamak muannats salim (kata benda jamak untuk perempuan) yakni an-naffaatsaat. Kata an-naffaatsaat juga dapat diartikan jiwa-jiwa tukang sihir, sehingga berlaku juga pada tukang sihir laki-laki.

AYAT 5
BERLINDUNG DARI PENDENGKI JIKA IA MEWUJUDKAN

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

Kejahatan sihir biasanya dilakukan oleh tukang sihir karena kedengkiannya kepada orang yang akan disihirnya, atau tukang sihir itu melakukan sihir atas pesanan orang yang dengki.

Hasad atau dengki adalah keinginan seseorang agar kebaikan atau kelebihan orang lain lenyap atau bahkan bisa ia rebut.

Jika sifat hasad ini hanya tersimpan di dalam hati maka ia tidak membahayakan orang lain, hanya membahayakan pemilik sifat itu.

Oleh karena itu ayat ini mengajarkan kita berlindung kepada Allah dari kejahatan orang yang hasad yaitu apabila ia mewujudkan hasadnya dengan berbagai usaha keji, termasuk dengan sihir.

PENUTUP

Perintah Allah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan ummatnya untuk berlindung kepadaNya dari kejahatan-kejahatan yang disebutkan oleh surat Al-Falaq ini menunjukkan betapa besarnya dosa kejahatan-kejahatan tersebut dan betapa hina pelakunya di sisi Allah.

Seorang muslim dan muslimah yang rutin membaca dzikir dan doa perlindungan yang disyariatkan, dengan izin Allah akan terhindar dari berbagai gangguan.

Akan tetapi tidak menutup kemungkinan ia tetap terkena gangguan kejahatan karena beberapa hal, diantaranya:

1. karena Allah hendak mengangkat lebih tinggi derajatnya seperti yang dialami oleh para Nabi dan Rasul yang mengalami luka atau musibah dalam perjuangan mereka.

Atau Allah hendak menghapus dosa hambaNya melalui gangguan kejahatan tersebut yang bisa jadi dosa itu tidak terampuni karena ia tak kunjung bertaubat. Sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَا مِنْ مُصِيبَةٍ يُصَابُ بِهَا الْمُسْلِمُ، إِلَّا كُفِّرَ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا»

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Tidaklah seorang muslim terkena musibah, kecuali diampuni dosa karenanya, termasuk tusukan duri yang ia alami. (HR. Muslim).

2. tidak yakin atau kurang yakin dengan dzikir atau doa yang ia baca, atau tidak khusyu’ hatinya saat membacanya.

Namun tetap saja dzikir yang ia baca akan lebih meringankan dampak buruk gangguan kejahatan itu baik pada fisiknya atau sikap mentalnya dalam menyikapi gangguan atau penyakit.

Artinya boleh jadi ia merasakan sakit secara fisik tetapi hal itu tidak membahayakan imannya kepada Allah, tidak merusak kesabaran menghadapinya dan rasa syukurnya kepada Allah atas berbagai ni’matNya.

لَنْ يَضُرُّوكُمْ إِلاَّ أَذًى ..

Mereka sekali-kali tidak akan dapat membuat madharat (bahaya) kepada kamu, selain dari gangguan-gangguan saja. (QS. Ali Imran: 111).

والله أعلم بالصواب


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allahu Robbul Alamin

Urgensi Dua Kalimat Syahadat (أهمية الشهادتين) (Bag-1)

Pemateri: Ustadz DR Wido Supraha

Materi ini mengingatkan kaum muslimin akan pentingnya dua kalimat syahadat yang telah sangat dikenal sejak pertama kali mengenal Islam, bahkan dihafal dan terus menerus diulang pengucapannya setiap hari.

Namun adakah di antara Anda yang memaknai untaian kalimat singkat namun penuh makna ini? Bukankah dua kalimat ini kita lafazhkan setiap harinya?

Bagaimana sesungguhnya urgensi dari kalimat yang merupakan gerbang pertama seseorang untuk masuk ke dalam agama Islam?

Aqidah berasal dari kata ‘aqoda, bermakna ma’qudah (yang terikat).

Aqidah bagaikan ikatan perjanjian yang teguh dan kuat, karena ia terpatri dalam hati dan tertanam di dalam lembah hati yang paling dalam. Aqidah adalah iman dengan semua rukunnya yang enam.

Rukun pertamanya adalah mengucapkan syahadatain, dua kalimat syahadat.[1]

Tegaknya Islam wajib didahului tegaknya rukun Islam. Tegaknya Rukun Islam wajib didahului tegaknya syahadah.

Maka sedemikian pentingnya syahadah ini sehingga ia perlu mendapatkan perhatian khusus agar mendapatkan pemaknaan yang shahih, menentukan kebahagiaan hidup kita, dunia dan akhirat.

Bersama syahadat, kita saksikan generasi awal pemeluk agama ini (السَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ) memiliki kesabaran di atas rata-rata ketika disiksa, ditawan, dipukuli, dan berhijrah.

Syahadatain, dua kalimat syahadat, dua kalimat yang diucapkan sebagai persaksian seorang Muslim.

Kalimat pertama menegaskan bahwa ‘Tidak Ada Tuhan yang disembah dengan sebenar-benarnya selain Allah’, dan kalimat kedua menegaskan bahwa ‘Muhammad Saw. adalah benar utusan Allah Swt.’.[2] Yang dimaksud dengan kalimat ini adalah makna hakikinya bukan sekedar lafazhnya.

Maka kemudian, kedua kalimat ini melahirkan loyalitas (wala’) dan penolakan (bara’), sebagai wujud kelurusan tauhid.

Muslim pun akan tergerak untuk hanya mengesakan Allah, selalu bergantung kepada Allah, mengingkari dan berlepas diri dari segalah sesuatu yang disembah selain Allah. [3]

Berkata Ibn Qayyim al-Jauziyyah, “Tauhid itu mengandung kecintaan kepada Allah, ketundukan dan merendahkan diri kepada-Nya, patuh dengan sebenarnya untuk ta’at kepada-Nya, memurnikan ibadah hanya kepada-Nya, menghendaki pertemuan dengan wajah-Nya Yang Maha Tinggi dengan segenap perkataan dan perbuatan, memberi dan menahan, mencinta dan marah karena-Nya, serta menghindarkan diri dari segala sesuatu yang menyeret pada kedurhakaan kepada-Nya.”[4]

Begitu pentingnya pemaknaan yang benar akan konsep syahadat, dan melihat begitu banyak penyimpangan dalam sejarah pengembangan agama ini, maka lahirlah disiplin ilmu tauhid.

Kehadiran ilmu tauhid ini merupakan salah satu bentuk perhatian terhadap aqidah Islam, baik dari sisi pemahaman, penarikan konklusi dalil, ataupun pembelaan terhadap ragam serangan yang telah pernah terjadi di masanya.

Ragam serang itu muncul karena lahirnya ragam pemikiran menyimpang sehingga membutuhkan upaya untuk pelurusan dan penguatan kembali.[5]

Bersyukurlah kita berada dalam keyakinan Islam. Islam dengan akidah ketuhanan menjadi penyempurna dan perbaikan bagi setiap akidah yang telah mendahuluinya dalam berbagai aliran keagamaan ataupun filsafat yang membahas masalah ketuhanan.[6]

Syahadatain merupakan awal sekaligus inti dari ber-Islam.
Syahadatain adalah akidah itu sendiri. Syahadatain adalah sesuatu yang kepadanya segala bentuk ketundukan sebagaimana makna ad-Din. Maka Islam adalah akidah, agama, dan manhaj hidup seorang mukmin.[7]

Syahadatin menjadi inti dan sumber motivasinya. Konsep ini membawa kita kepada keimanan dengan cara yang benar bahwa hanya kepada Allah kita beribadah, dan bahwa hanya Allah yang memiliki hak membuat syariat untuk manusia.[8]

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-Baqarah/2 ayat 143:

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan [95] agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”

Kata wasathan hanya satu kali ditemukan dalam Al-Qur’an, namun ada 4 kata lain yang menggunakan dasar kata yang sama didapati, dengan satu kata sebagai kata kerja.

Ummat wasathan adalah umat terbaik, sebagaimana dikatakan ‘Rasulullah wasathan fi qaumihi‘, dan sebagaimana Shalat Wustha adalah shalat terbaik. Ketika Allah menjadikan Ummat ini sebagai ummatan wasathan maka Dia memberikan kekhususan kepadanya dengan syari’at yang paling sempurna, jalan yang paling lurus, dan paham yang paling jelas.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Sa’id, juga disebutkan oleh Rasulullah bahwa kata al-wasath juga bermakna al-‘adl, adil dan pilihan.[9]

Kata syahadah dengan ragam bentuknya dapat ditemukan sebanyak 160 kata di dalam Al-Qur’an, 107 kata benda, dan 53 kata kerja. Sebagaimana kata ‘syahiidan’, dalam Surat An-Nisa’/4 ayat 41:

“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu.:

1. Pintu Masuk ke dalam Islam

Memasuki agama Islam sangatlah mudah, hanya dengan memformalkan pengucapan syahadatain di atas keimanan.

Namun sesuatu yang mudah ini sangat sulit dilakukan oleh kafir Quraisy yang sangat memahami makna di balik kalimat yang mudah diucapkan tersebut. Kandungan dan konsekuensi logis di balik kalimat tersebut telah menahan mereka untuk kembali ke jalan Islam, jalan hidayah nan penuh kasih.

Dikatakan ‘kembali’, karena asasinya, manusia telah pernah berjanji di alam ruh, untuk sentiasa menyembah Allah semata.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-A’raf/7 ayat 172;

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”.

(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata- kan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

Atau agar kamu tidak mengatakan:
“Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?”

Menurut Imam Jalaluddin Muhammad al-Mahalli, kata ‘min zhuhurihim‘ merupakan badal isytimal (kata ganti yang mencakup) dari kata-kata sebelumnya, ‘min bani Adam‘ dengan mengulang penyebutan huruf jar ‘min‘.[10]

Maka kemudian kita menyaksikan bagaimana Nabi Muhammad Saw. telah berupaya mengislamkan seluruh isi bumi ini semaksimal kemampuan yang ada saat tersebut, sebagaimana hadits ke-8 Arba’in An-Nawawiyah berikut ini:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَالَ : أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ، وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكاَةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَـهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ تَعَالىَ [رواه البخاري ومسلم

Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma sesungguhnya Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda:

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka melakukan hal itu maka darah dan harta mereka akan dilindungi kecuali dengan hak Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah ta’ala. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Allah Swt. juga berfirman dalam Surat Muhammad/47 ayat 19,

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.”

Kalimat ‘wastaghfir li dzanbika‘ mengikuti untaian kalimat tauhid menunjukkan bahwa ketidakkonsistenan antara pernyataan dan perbuatan merupakan dosa.

Maka selain menjaga kemurnian kalimat tauhid dengan amal ibadah yang shahih, seorang Muslim juga dituntut untuk tidak menyombongkan diri di atas kalimat tersebut, sebagaimana firman Allah dalam Surat Ash-Shaffat/37 ayat 35:

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri.

Maka hanya dengan ilmu-lah, seorang Muslim akan terhindar dari kesombongan diri, dan bersyahadat dalam arti yang sebenarnya. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surat Ali ‘Imran/3 ayat 18,

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu  (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Perlu diketahui bahwa kata paduan qa-sin-tha ini digunakan dalam 27 kata di dalam Al-Qur’an, dengan 14 kata di antaranya adalah kata ‘bil qisth‘. 24 kata darinya adalah kata benda, dan 3 kata merupakan kata kerja

2. Intisari Ajaran Islam

Syahadatain menjadi inti dari ajaran Islam.
Keimanan sebagai motivator kehidupan sekaligus asas amal. Gerak hati menjadi lebih penting daripada gerak jasmani.

Sebab hati sumber dan pengarah amal. Jika hati penuh dengan keimanan, keikhlasan, ketakwaan, maka amal jasmani mendapat ridha dan pahala dari-Nya. Maka wajib setiap Muslim untuk memperbaiki ibadah hati. [11]

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-Anbiya/21 ayat 25,

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.

Allah Swt. juga berfirman dalam Surat Al-Jasiyah/45 ayat 18,

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.”

Maka prinsip syahadatain yang menjadi intisari ajaran Islam adalah sebagai pernyataan penghambaan dan ibadah hanya kepada Allah. Pernyataan bahwa Rasulullah menjadi teladan dalam penghambahan dan ibadah tersebut.

Pernyataan bahwa penghambaan dan ibadah itu meliputi seluruh aspek kehidupan.

Bersambung


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678