Sutrah

Sutrah (pembatas) ketika Shalat dan Pembahasannya

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan

A. Dalil-Dalil Sutrah

Menggunakan sutrah di depan mushalli (orang yang shalat) ketika shalat memiliki pensyariatan yang kuat. Berikut adalah sebagian saja dari dalil-dalilnya:

Pertama. Dari Sahl bin Abi Hatsmah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى سُتْرَةٍ فَلْيَدْنُ مِنْهَا لَا يَقْطَعْ الشَّيْطَانُ عَلَيْهِ صَلَاتَهُ

“Jika salah seorang kalian shalat menghadap sutrah (pembatas) maka hendaklah dia mendekatinya, niscaya shalatnya tidak akan diputus oleh syetan.” (HR. Abu Daud, Kitab Ash Shalah Bab Ad Dunuwwi min As Sutrah, Juz. 2, Hal. 349, No hadits. 596. An Nasa’i, Kitab Al Qiblah Bab Ad Dunuwwi min As Sutrah, Juz. 3, Hal. 196, No hadits. 740. Al Hakim, Al Mustadrak ‘alash Shahihain, Juz. 2, Hal. 433, No hadits. 877. Katanya: “Hadits ini shahih sesuai syarat Syaikhain (Bukhari-Muslim) tetapi keduanya tidak meriwayatkannya.” Al Maktabah Asy Syamilah)
Imam Nuruddin al Haitsami Rahimahullah mengatakan:

رواه الطبراني في الكبير ورجاله موثقون

“Diriwayatkan oleh Ath Thabarani dalam Al Kabir-nya, dan para rijalnya (periwayatnya) bisa dipercaya.”(Majma’ Az Zawaid, Juz. 2, Hal. 59. Al Maktabah Asy Syamilah)

Syaikh al Albany Rahimahullah menyatakan shahih.(Shahih wa Dha’if Sunan Abi Daud, Juz. 2, Hal. 195. Al Maktabah Asy Syamilah)

Kedua.  Dari Abu Said al Khudri Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa  Sallam bersabda:

 إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا

“Jika salah seorang kalian shalat, maka shalatlah dengan menggunakan sutrah, dan mendekatlah kepadanya.” (HR. Abu Daud, Kitab Ash Shalah Bab Ma Yu’maru al Mushalli An Yadra’a ‘An al Mamarru Al baina Yadaih, Juz. 2, hal. 235, no hadits. 598. Ibnu Majah, Kitab Iqamatush Shalah was Sunnah Fiiha Bab Idra’ Mastatha’ta, Juz. 3, Hal. 215, No hadits. 944. Syaikh al Albany menyatakan hasan shahih. Lihat Shahih wa Dha’if Sunan Abi Daud, Juz. 2, Hal. 198. Al Maktabah Asy Syamilah)

Ketiga. Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhu:

 أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَرَجَ يَوْمَ الْعِيدِ أَمَرَ بِالْحَرْبَةِ فَتُوضَعُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَيُصَلِّي إِلَيْهَا وَالنَّاسُ وَرَاءَهُ وَكَانَ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السَّفَرِ فَمِنْ ثَمَّ اتَّخَذَهَا الْأُمَرَاءُ

“Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jika keluar menuju lapangan pada shalat hari raya, dia memerintahkan untuk mengambil tombak dan meletakkan di hadapannya, lalu dia shalat menghadap ke arahnya, dan manusia melihat  hal itu. Demikian itu dilakukannya ketika safar, maka untuk selajutnya hal itu diikuti oleh para pemimpin umat.” (HR. Bukhari, Kitab Ash Shalah Bab Sutratul Imam Sutrah Man Khalfahu, Juz. 2, Hal. 297, No hadits. 464. Muslim, Kitab Ash Shalah Bab Sutratul Mushalli, Juz. 3, Hal. 63, No hadits. 773. Abu Daud, Kitab Ash Shalah Bab Ma Yasturu al Mushalliya, Juz. 2, Hal. 337, No hadits. 589. Al Maktabah Asy Syamilah)

Keempat. Dari Musa bin Thalhah, dari Ayahnya, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda;

 إِذَا وَضَعَ أَحَدُكُمْ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلَ مُؤْخِرَةِ الرَّحْلِ فَلْيُصَلِّ وَلَا يُبَالِ مَنْ مَرَّ وَرَاءَ ذَلِكَ

“Jika salah seorang kalian meletakkan di hadapannya setinggi pelana kuda, maka shalatlah dan janganlah dia peduli dengan apa-apa yang ada di belakangnya.” (HR. Muslim, Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, Juz. 2, hal. 251, No hadits. 769. Al Maktabah Asy Syamilah)

Kelima. Dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 لا تصلوا إلا إلى سترة ، ولا تدع أحدا يمر بين يديك ، فإن أبى  فقاتله ، فإن معه القرين

“Janganlah kalian shalat kecuali menghadap sutrah, dan jangan biarkan seorang pun melewati di hadapanmu, jika dia bersikeras lewat maka bunuhlah, karena sesungguhnya dia memiliki qarin (kawan dekat dari kalangan syetan).” (HR. Al Hakim, Al Mustadrak ‘Alash Shahihain, Juz. 2, Hal. 432, No hadits. 876. Al Maktabah Asy Syamilah)

Demikian beberapa dalil saja, dari sekian banyak dalil tentang menggunakan pembatas ketika shalat.

B. Perselisihan Pendapat Ulama Tentang Hukumnya

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum meletakkan sutrah (pembatas) di depan orang shalat. Di antara mereka ada yang menyunnahkan, ada pula yang mewajibkan.

Para Ulama yang Menyunahkan Sutrah

Kelompok ini berpendapat bahwa memasang sutrah hanyalah sunah, sebab perintah tidak selamanya bermakna wajib apalagi ada riwayat yang menunjukkan bahwa Rasulullah Shalllallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah shalat tidak menggunakan sutrah (pembatas).

Berkata Asy Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

 ستحب للمصلي أن يجعل بين يديه سترة تمنع المرور أمامه وتكف بصره عما وراءها

“Disukai (sunah) bagi orang yang shalat meletakkan di depannya sebuah pembatas untuk mencegah orang lewat di depannya, dan menghalanginya melihat hal-hal dibelakang pembatas itu.” (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Juz. 1, Hal. 255. Al Maktabah Asy Syamilah)

Beliau berdalil dengan hadits  dari Ibnu Abbas berikut:

 أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي فَضَاءٍ لَيْسَ بَيْنَ يَدَيْهِ شَيْءٌ

“Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat di lapangan dan dihadapannya tidak ada apa-apa.” (HR. Ahmad, Juz.4, Hal. 396, No hadits. 1864. Al Maktabah Asy Syamilah)

Hanya saja hadits ini dha’if. Berkata Imam Al Haitsami Rahimahullah:

وفيه الحجاج بن أرطأة وفيه ضعف

“Dalam (sanad) hadits ini terdapat Al Hijaj bin Artha’ah, dan dia dha’if.” (Majma’ az Zawaid, Juz.2, Hal. 63. Al Maktabah Asy Syamilah)

Namun ada hadits lain yang serupa dengan ini, dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhu:

أن المصلى كان فضاء ليس فيه شيء يستتر به

“Bahwa saat itu, orang yang shalat dilapangan tidaklah di depannya ada sesuatu yang menjadi pembatas.” (HR. Ibnu Majah, Kitab Iqamatush Shalah was Sunnah fiha Bab Maa Ja’a fil Harbah Yaumal ‘Id, Juz. 4, Hal. 190, No hadits. 1294.  Syaikh al Albany mengatakan hadits ini shahih. Irwa’ Al Ghalil, Juz.2, Hal. 284 No hadits. 504. Al Maktabah Asy Syamilah)

Imam An Nawawi Rahimahullah berkata, ketika mengomentari hadits sutrah  setinggi ‘pelana kuda’:

وَفِي هَذَا الْحَدِيث النَّدْب إِلَى السُّتْرَة بَيْن يَدَيْ الْمُصَلِّي وَبَيَان أَنَّ أَقَلّ السُّتْرَة مُؤْخِرَة الرَّحْل وَهِيَ قَدْر عَظْم الذِّرَاع

“Hadits ini menunjukkan sunah-nya meletakkan sutrah (pembatas) di depan orang shalat, dan juga terdapat penjelasan tentang ukuran minimal sutrah sebesar pelana kuda, yaitu kira-kira sepanjang satu  hasta.” (Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, Juz. 2, hal. 251, No hadits. 769. Al Maktabah Asy Syamilah)

Bagi  mayoritas madzhab Asy Syafi’i, tidak menjadi masalah jika sutrah adalah garis saja. Berkata Imam An Nawawi Rahimahullah:

وَقَالَ جُمْهُور أَصْحَابه بِاسْتِحْبَابِهِ ، وَلَيْسَ فِي حَدِيث مُؤْخِرَة الرَّحْل دَلِيل عَلَى بُطْلَان الْخَطّ . وَاَللَّه أَعْلَم

“Menurut mayoritas sahabat-sahabatnya (Asy Syafi’i) sutrah adalah sunah, dan hadits tentang setinggi pelana kuda itu tidak menunjukkan kesalahan dengan membuat  garis. Wallahu A’lam” (Ibid)

Imam Ash Shan’ani Rahimahullah berkata:

وَفِي الْحَدِيثِ نَدْبٌ لِلْمُصَلِّي إلَى اتِّخَاذِ سُتْرَةٍ ، وَأَنَّهُ يَكْفِيهِ مِثْلُ مُؤَخِّرَةِ الرَّحْلِ

“Hadits ini menunjukkan sunah-nya bagi orang shalat menggunakan pembatas, dan sudah cukup baginya seumpama ukuran pelana kuda.” (Subulus Salam, Juz.1, Hal. 497. Al Maktabah Asy Syamilah)
Diriwayatkan dari Khalid bin Abu Bakar, bahwa Al Qasim dan Salim, pernah shalat di gurun tanpa menggunakan sutrah.

Dari Jabir: aku pernah melihat Ja’far dan Amir shalat tanpa menggunakan pembatas. Dari Hisyam, bahwa: aku pernah melihat ayahku shalat tanpa sutrah. Mahdi bin Maimun mengatakan: aku pernah melihat Al Hasan shalat tanpa menggunakan sutrah. (Al Mushannaf, Ibnu Abi Syaibah, Juz. 1 Hal. 312. Al Maktabah Asy Syamilah)

Demikian para imam kaum muslimin yang tidak mewajibkan sutrah.

Para Ulama yang mewajibkan Sutrah

Bagi kelompok ini, hadits-hadits yang memerintahkan memasang pembatas menunjukkan kewajibannya, sebab hukum asal dari perintah adalah menunjukkan wajib selama belum ada dalil lain yang membelokkan kewajiban tersebut.

Berkata Imam Asy Syaukani Rahimahullah tentang hadits:

“Hendaklah dia shalat menggunakan pembatas.”

 فِيهِ أَنَّ اتِّخَاذَ السُّتْرَةِ وَاجِ

“Di dalam hadits ini menunjukkan wajibnya menggunakan sutrah.” (Nailul Authar, Juz. 4, Hal. 204. Al Maktabah Asy Syamilah)

Imam Al Qadhi ‘Iyadh membantah kebolehkan membuat batas (sutrah) sekedar garis.

وَاسْتَدَلَّ الْقَاضِي عِيَاض رَحِمَهُ اللَّه تَعَالَى بِهَذَا الْحَدِيث عَلَى أَنَّ الْخَطّ بَيْن يَدَيْ الْمُصَلِّي لَا يَكْفِي

“Al Qadhi ‘Iyadh Rahimahullah berdalil dengan hadits ini  bahwa membuat garis tidaklah mencukupi bagi orang yang shalat.” (Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, Juz. 2, hal. 251, No hadits. 769. Al Maktabah Asy Syamilah)

Sebab hadits yang menyebutkan sutrah hanya sekedar garis adalah dha’if. Berikut keterangan dalam Syarh An Nawawi  ‘ala Muslim:

 وَلَمْ يَرَ مَالِك رَحِمَهُ اللَّه تَعَالَى وَلَا عَامَّة الْفُقَهَاء الْخَطّ . هَذَا كَلَام الْقَاضِي ، وَحَدِيث الْخَطّ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَفِيهِ ضَعْف وَاضْطِرَاب

“Imam Malik dan kebanyakan fuqaha tidaklah berpendapat tentang garis.” Demikianlah ucapan Al Qadhi. Dan hadits tentang garis diriwayatkan oleh Abu Daud, sanadnya idhtirab (goncang)” (Ibid).

Namun Imam Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram-nya membantah anggapan bahwa hadits tersebut idhtirab (goncang).

Demikian Para Imam yang mewajibkan sutrah.

C. Makmum Tidak Perlu Sutrah

Pembahasan di atas adalah kaitannya dengan shalat sendiri, dan bagi imam shalat. Adapun bagi makmum dalam shalat berjamaah, maka bagi mereka sutrah imam adalah sutrah bagi mereka juga. Imam Ibnu Hajar telah membahasnya secara detil dalam Fathul Bari-nya, pada Bab Sutratul Imam Sutratul Man Khalfahu, Bab: Sutrah Imam adalah Sutrah bagi orang di belakangnya. (Juz. 2, Hal.  237. Al Maktabah Asy Syamilah)

Tertulis dalam Fathul Bari:

وَقَالَ اِبْن عَبْد الْبَرّ : حَدِيثُ اِبْن عَبَّاس هَذَا يَخُصُّ حَدِيثٌ أَبِي سَعِيد ” إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّي فَلَا يَدَعُ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْهِ ” فَإِنَّ ذَلِكَ مَخْصُوص بِالْإِمَامِ وَالْمُنْفَرِد ، فَأَمَّا الْمَأْمُومُ فَلَا يَضُرُّهُ مَنْ مَرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ لِحَدِيثِ اِبْن عَبَّاس هَذَا ، قَالَ : وَهَذَا كُلُّهُ لَا خِلَافَ فِيهِ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ

Berkata Ibnu Abdil Bar: “Hadits Ibnu Abbas ini menjadi takhsis (pembatas) bagi hadits Abu Said yang berbunyi ‘Jika salah seorang kalian shalat maka janganlah membiarkan seorang pun lewat di hadapannya,’ sebab hadits ini dikhususkan untuk imam dan shalat sendiri. Adapun makmum maka tidak ada yang memudharatkannya siapa pun yang lewat di hadapannya, sebagaimana yang ditegaskan oleh hadits Ibnu Abbas ini. Semua ini tidak ada perselisihan pendapat di antara para ulama.” (Ibid)

Hadits Ibnu Abbas  Yang dimaksud adalah sebagai berikut:

 عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
 أَقْبَلْتُ رَاكِبًا عَلَى أَتَانٍ وَأَنَا يَوْمَئِذٍ قَدْ نَاهَزْتُ الِاحْتِلَامَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِالنَّاس بِمِنًى فَمَرَرْتُ بَيْنَ يَدَيْ الصَّفِّ فَنَزَلْتُ فَأَرْسَلْتُ الْأَتَانَ تَرْتَعُ وَدَخَلْتُ فِي الصَّفِّ فَلَمْ يُنْكِرْ ذَلِكَ عَلَيَّ أَحَدٌ

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Aku datang dengan mengendarai keledai betina, saat itu aku telah bersih-bersih dari mimpi basah dan Rasulullah Shallallahu “Alaihi wa Sallam shalat di Mina, maka aku lewat di depan shaf lalu aku turun dari kendaraan keledai betina, lalu aku masuk ke shaf dan tak ada satu pun yang mengingkari perbuatan itu.” (HR. Muslim, Kitab Ash Shalah Bab Sutratul Mushalli, Juz. 3, Hal. 70, No hadits. 780. Al Maktabah Asy Syamilah)

Hadits ini menunjukkan bahwa Ibnu Abbas berjalan di depan shaf makmum, dan tidak seorang pun  mencegahnya. Artinya, larangan melewati (berjalan) di depan orang shalat, hanya berlaku jika melewati imam dan orang yang shalatnya sendiri menurut keterangan riwayat ini,  melewati di depan makmum (karena ada keperluan) tidaklah mengapa.  Wallahu A’lam

D. Apa sajakah Sutrah itu?

Benda-benda yang bisa dijadikan sebagai pembatas (sutrah) adalah benda suci apa pun yang minimal setinggi pelana kuda. Bisa tiang mesjid, punggung manusia, dinding mesjid, batu besar, tas koper, dan lain-lain.

عن نافع أن ابن عمر كان يقعد رجلا فيصلي خلفه والناس يمرون بين يدي ذلك الرجل

Dari Nafi’, bahwa Ibnu Umar sedang duduk lalu ada seorang laki-laki yang shalat di belakangnya, dan manusia lalu lalang di depan laki-laki tersebut. (Al Mushannaf, Ibnu Abi Syaibah Juz. 1, hal. 313. Al Maktabah Asy Syamilah)

Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya, dari Anas bahwa para sahabat mendekati tiang mesjid ketika hendak shalat maghrib. Wallahu A’lam.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berhati-hatilah dengan Nadzarmu

Syarah Bulughul Maram Hadits No. 1378: Fiqih Nadzar

Pemateri: Ust. Farid Nu’man Hasan, SS.

Matan Hadits

وَعَنْ ثَابِتِ بْنِ اَلضَّحَّاكِ – رضي الله عنه – قَالَ: – نَذَرَ رَجُلٌ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ يَنْحَرَ إِبِلاً بِبُوَانَةَ, فَأَتَى رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَسَأَلَهُ: فَقَالَ: “هَلْ كَانَ فِيهَا وَثَنٌ يُعْبَدُ ?” . قَالَ: لَا. قَالَ: “فَهَلْ كَانَ فِيهَا عِيدٌ مِنْ أَعْيَادِهِمْ ?” فَقَالَ: لَا.  فَقَالَ: “أَوْفِ بِنَذْرِكَ; فَإِنَّهُ لَا وَفَاءَ لِنَذْرٍ فِي مَعْصِيَةِ اَللَّهِ, وَلَا فِي قَطِيعَةِ رَحِمٍ, وَلَا فِيمَا لَا يَمْلِكُ اِبْنُ آدَمَ” – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَالطَّبَرَانِيُّ وَاللَّفْظُ لَهُ, وَهُوَ صَحِيحُ اَلْإِسْنَادِ

Dari Tsabit bin Adh Dhahak Radhiallahu ‘Anhu, katanya: Pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ada seorang laki-laki yang bernadzar bahwa dia akan berqurban Unta di Buwanah. Lalu dia mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu nabi pun bertanya kepadanya: “Apakah di sana ada berhala yang disembah?”

Beliau menjawab: ” Tidak.” Nabi bertanya lagi: “Apakah di sana dirayakah salah satu hari raya mereka?” Beliau menjawab: “Tidak.” Lalu nabi bersabda:

“Penuhilah nadzarmu, sesungguhnya tidak boleh memenuhi nadzar yang mengandung maksiat kepada Allah, nadzar untuk memutuskan silaturrahim, dan tidak pula nadzar pada harta yang tidak dimiliki manusia.” (HR. Abu Daud, Ath Thabarani dan ini adalah lafaz baginya, isnadnya shahih)

Takhrij Hadits

Dengan lafaz seperti di atas, hadits ini dikeluarkan oleh:

– Imam Abu Daud dalam Sunannya, Bab Maa Yu’maru bihi minal Wafa’ bi An Nadzri No. 3313

– Imam Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir No. 1341

–  Imam Al Baihaqi, As Sunan Ash Shaghir No. 3223

Dengan lafaz yang lebih ringkas, hanya sampai kalimat: “Penuhilah nadzarmu!”, dikeluarkan oleh:

–  Imam Ibnu Majah dalam Sunannya, Bab Al Wafa’ bi An Nadzr No. 2130

–  Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 27066,  dan lainnya.

Derajat hadits

Hadits ini dinilai SHAHIH oleh:

– Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani dalam kitab Bulughul Maram ini. Dalam kitabnya lain Beliau juga menyebut keshahihan hadits ini. (LihatAt Talkhish Al Habir, 4/439. Cet. 1. 1989M/1419H.  Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

– Imam Ibnu Abdil Hadi Al Hambali mengatakan  hasan shahih. (LihatAsh Sharim Al Munki fir Raddi As Subki, Hal. 309.  Cet. 1, 2003M/1424H.  Muasasah Ar Rayyan, Beirut, Libanon).

Dalam kitabnya yang lain beliau mengatakan: “Para perawi hadits ini adalah perawi hadits Shahihain (Bukhari-Muslim). (Lihat Al Muharrar fil Hadits, 1/435-436. Cet. 3. 2000M/1421H. Darul Ma’rifah, Beirut. Libanon)

– Imam Ibnul Mulaqin mengatakan: “Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad yang shahih, seluruh perawinya adalah perawi Bukhari dan Muslim, dan mereka telah disepakati  keadilannya.”(Lihat Al Badrul Munir, 9/518. Cet. 1. 2004M/1425H. Darul Hijrah, Riyadh. KSA)

Ta’rif (definisi)

Secara bahasa (etimlogis) nadzar adalah An Nahbu (النَّحْبُ) yaitu meratap. Para ahli bahasa  menjelaskan:

وهو ما ينذره الإنسان فيجعله على نفسه نحبا واجبا

Yaitu sesuatu yang diperingatkan oleh manusia, lalu dia menjadikan atas dirinya itu menjadi kewajiban.  (Al Mausu’ah, 40/126)

Secara istilah (terminologis), Syaikh Abu Bakar bin Jabir  Al Jazairi menjelaskan:

الزام المسلم نفسه طاعة لله تعالى لم تلزمه بدونه –  أى النذر – كأن يقول : لله علي صيام يوم أو صلاة ركعتين مثلا

Seorang muslim mewajibkan sesuatu pada dirinya karena ingin ketaatan kepada Allah Ta’ala, di mana tanpa hal itu –yaitu nadzar- dia tidak melakukan hal itu. Seperti perkataannya: “Demi Allah Ta’ala, wajib bagiku shaum dalam sehari, atau shalat dua raka’at.”
(Lihat Minhajul Muslim, Hal. 394. Darus Salam)

Hukumnya

Nadzar ada beberapa hukum tergantung keadaannya:

1. Nadzar Muthlaq

Yaitu nadzar yang didasari ketaatan kepada Allah Ta’ala semata, maka ini diperbolehkan. Seperti seseorang yang berinisiatif untuk melakukan shalat, i’tikaf, shaum, dan kebaikan lainnya yang berfungsi untuk qurbah (mendekatkan diri kepada Allah).

Hanafiyah mengkategorikan nadzar dengan qurbah adalah hal yang disyariatkan (masyru’). Bahkan kalangan Malikiyah mengkategorikannya  mustahab (disukai/sunah). Berikut ini keterangannya:

وذهب المالكية إلى أن النذر المطلق – وهو الذي يوجبه المرء على نفسه شكرا لله على ما كان ومضى – مستحب

Kalangan Malikiyah berpendapat bahwa nadzar muthlaq –yaitu seseorang mewajibkan dirinya disebabkan rasa syukur kepada Allah atas apa yang sedang terjadi dan telah lalu- adalah mustahab  (sunah).(Al Mausu’ah, 40/138)

Contoh yang seperti ini, Allah Ta’ala menceritakan nadzarnya istri ‘Imran:

إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

(ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Ali ‘Imran: 35)

Contoh lainnya:

فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمنِ صَوْماً فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

Maka Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah, Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”. (QS. Maryam: 26)

2. Nadzar Muqayyad atau Mu’allaq

Yaitu seorang yang bernadzar  disebabkan karena terikat atau tergantung oleh suatu keadaan atau keinginan tertentu.  Nadzar seperti ini makruh, sebab seolah dia baru ingin mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan amal shalih itu, jika keinginannya terpenuhi dulu.

Jelas sekali kesan dia bakhil terhadap amal shalih. Seperti ungkapan: “Saya akan shaum dua hari, jika anak saya lulus ujian sekolah.” Ucapan ini mengandung makna bahwa dia tidak akan shaum jika ternyata anaknya tidak lulus. Jadi, ibadah yang dilakukannya bukan karena Allah Ta’ala, tapi jika keinginannya terpenuhi dulu.

Inilah yang disindir oleh riwayat dari Ibnu Umar berikut:

 عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ نَهَى عَنِ النَّذْرِ، وَقَالَ: «إِنَّهُ لَا يَأْتِي بِخَيْرٍ، وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيلِ»

Dari Nabi Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa Beliau melarang bernadzar, Beliau bersabda: “Nadzar itu tidaklah mendatangkan kebaikan,   itu hanyalah dikeluarkan dari orang yang bakhil.” (HR. Muslim No. 1639)

Syaikh Abu Bakar Al Jazairi mengatakan:

و يكره النذز المقيد كأن يقول : ان شفا الله مريضى صمت كذا او تصدقت بكذا

Dimakruhkan nadzar muqayyad, seperti ucapan: “Jika Allah sembuhkan penyakitku aku akan puasa sekian, atau aku akan sedekah sekian. (Minhajul Muslim, Hal. 394)

Namun demikian, baik  nadzar muthlaq  dan muqayyad, keduanya wajib dipenuhi jika sudah direncanakan oleh seseorang dan jelas nadzarnya.

3. Nadzar yang diharamkan

Keharamannya disebabkan oleh dua faktor, atau salah satunya.

Pertama, orientasi dan tujuannya bukan karena Allah Ta’ala, bukan karena mentaatiNya, bukan pula bersyukur kepadaNya, bukan juga untuk mendekatkan diri kepadaNya. Seperti bernadzar untuk mendekatkan diri kepada ruh nenek moyang, untuk mengabdi kepada penghuni kubur, dan semisalnya. Misalnya perkataan seseorang kepada orang shalih yang sudah wafat: “Wahai Tuan Guru, jika penyakitku sembuh aku akan menyembelih kambing di kuburmu.”

Ini terlarang bahkan dosa besar, sebab mengarahkan peribadatan kepada selain Allah Ta’ala, yang membuat pelakunya jatuh pada kubangan kesyirikan.

Berkata Syaikh Hasan Al Banna Rahimahullah:

وزيارة القبور أيا كانت سنة مشروعة بالكيفية المأثورة , ولكن الاستعانة بالمقبورين أيا كانوا ونداؤهم لذلك وطلب قضاء الحاجات منهم عن قرب أو بعد والنذر لهم وتشيد القبور وسترها وأضاءتها والتمسح بها والحلف بغير الله وما يلحق بذلك من المبتدعات كبائر تجب محاربتها , ولا نتأول لهذه الأعمال سدا للذريعة

Berziarah kubur, siapa pun itu, adalah sunah yang disyariatkan dengan cara-cara yang sesuai tuntunan. Tetapi meminta pertolongan kepada penghuni kubur, siapa pun itu, dan memanggil-manggil mereka untuk tujuan memenuhi kebutuhannya, baik dari dekat atau dari jauh, nadzar untuk mereka, meninggikan kuburan, membuat penutup, memberikan penerangan, mengusap-usapnya, dan bersumpah dengan selain nama Allah, dan hal-hal lain yang terkait dengan ini, semuanya termasuk bid’ah besar yang wajib untuk diperangi, dan perbuatan ini janganlah dicari-cari pembenarannya agar tidak terjadi sesuatu yang lebih parah lagi. (Ushul ‘Isyrin No. 14)

Hal di atas berbeda maksud dengan menjalankan nadzarnya orang yang sudah wafat. Jika seorang muslim bernadzar, lalu dia wafat dalam keadaan belum sempat menjalankan nadzarnya, dan dia pun tidak pernah membatalkannya, maka wajib bagi ahli warisnya menjalankan nadzarnya itu. Hal ini sesuai hadits berikut:

أَنَّ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ، اسْتَفْتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا نَذْرٌ لَمْ تَقْضِهِ؟ فَقَالَ: رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اقْضِهِ عَنْهَا»

Bahwa Sa’ad bin ‘Ubadah meminta fatwa kepada Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, katanya: “Ibuku telah wafat, dan dia memiliki nadzar yang belum dijalankan?” Maka Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Penuhi nadzarnya!” (HR. Abu Daud No. 3308. An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 3732, Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir No. 5371. Imam Al Baghawi mengatakan: hadits ini disepakati keshahihannya. Lihat Syarhus Sunnah, 10/38)

Imam Muhammad bin Al Hasan Rahimahullah mengatakan, sebagaimana dikutip Imam Malik Rahimahullah:

مَا كَانَ مِنْ نَذْرٍ، أَوْ صَدَقَةٍ، أَوْ حَجٍّ قَضَاهَا عَنْهَا أَجْزَأَ ذَلِكَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ، وَالْعَامَّةِ مِنْ فُقَهَائِنَا رَحِمَهُمُ اللَّهُ تَعَالَى

Apa saja yang berupa nadzar, atau sedekah, atau haji, yang dijalankan untuk wanita itu maka  itu   akan mendapatkan ganjaran Insya Allah. Inilah pendapat Abu Hanifah dan umumnya ahli fiqih kami, semoga Allah merahmati mereka semua. (Imam Malik, Al Muwaththa’, dari riwayat Muhammad bin Al Hasan,  No. 750)

Kedua, keharaman di sisi amalnya ketika nadzar. Seperti bernadzar dengan maksiat kepada Allah Ta’ala, walau si pelakunya benar dari sisi tujuannya. Dia menyangka dengan cara itu bisa semakin dekat kepada Allah Ta’ala, atau dia bernadzar dengan sesuatu yang membahaya kan dirinya, hartanya, dan keluarganya.

Ini juga terlarang, sebab nadzar hanya disyariatkan dengan yang baik-baik dan bernilai ibadah seperti yang diterangkan dalam hadits yang kita bahas: “Penuhilah nadzarmu, sesungguhnya tidak boleh memenuhi nadzar yang mengandung maksiat kepada Allah, nadzar untuk memutuskan silaturrahim, dan tidak pula nadzar pada harta yang tidak dimiliki manusia.”

Atau perkataan lainnya:

–  Jika aku lulus ujian, maka aku akan pesta pora sepekan penuh.

–  Jika aku sembuh aku akan minum khmar sekian botol.

– Jika aku bisa hafal asma’ul husna maka aku akan menjemur diriku selama tiga hari berturut-turut di siang hari.

dll.

Kandungan dan Faidah Hadits

Hadits di atas mengandung beberapa pelajaran:

1. Nadzar memang ada dalam aturan agama ini, pernah terjadi sejak masa jahiliyah dan masa Islam. Hadits ini terjadi pada masa Islam, masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sedangkan pada masa jahiliyah, Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma bercerita tentang ayahnya:

 أَنَّ عُمَرَ، قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي نَذَرْتُ فِي الجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِي المَسْجِدِ الحَرَامِ، قَالَ: «أَوْفِ بِنَذْرِكَ»

Bahwasanya Umar  Radhiallahu ‘Anhu berkata: “Wahai Rasulullah, aku pernah bernadzar pada masa jahiliyah untuk beri’tikaf malam hari di masjidil haram.” Beliau bersabda: “Penuhi nadzarmu!” (HR. Al Bukhari No. 6697)

2. Nadzar terlarang jika di dalamnya mengandung unsur-unsur terlarang dalam agama, sebagaimana yang telah kami jelaskan dalam rincian hukumnya. Pertanyaan-pertanyaan nabi: “Apakah di sana ada berhala yang disembah?”  “Apakah di sana dirayakah salah satu hari raya mereka?”  menunjukkan bimbingan nabi kepada sahabatnya agar nadzarnya tidak dicampur unsur yang diharamkan Islam, baik cara, niat dan tujuan, bahkan tempatnya.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun menjelaskan secara rinci tidak boleh nadzar yang berisikan pemutusan silaturrahim dan menggunakan harta orang yang bukan menjadi miliknya.

3. Nadzar hanya boleh dengan perkara yang baik dan ibadah, hadits ini menyontohkan dengan an nahru (penyembelihan qurban). Contohnya tentu banyak, seperti shaum, sedekah, shalat sunah, dan sebagainya.

4. Sebaiknya nadzar dengan yang mudah dan mungkin dilaksanakan seperti menyembelih qurban, hindari dengan yang berat dan menyulitkan,  tetapi jika dia merasa mampu menjalankannya silahkan saja.

Hal ini sesuai riwayat berikut:

وَعَنْ جَابِرٍ – رضي الله عنه – – أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَوْمَ اَلْفَتْحِ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! إِنِّي نَذَرْتُ إِنْ فَتَحَ اَللَّهُ عَلَيْكَ مَكَّةَ أَنْ أُصَلِّيَ فِي بَيْتِ اَلْمَقْدِسِ, فَقَالَ: “صَلِّ هَا هُنَا” . فَسَأَلَهُ, فَقَالَ: “صَلِّ هَا هُنَا”. فَسَأَلَهُ, فَقَالَ: “شَأْنُكَ إِذًا” – رَوَاهُ أَحْمَدُ, أَبُو دَاوُدَ, وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ

Dari Jabir Radhiallahu ‘Anhu, bahwa ada seorang laki-laki berkata pada hari Fathul Makkah: “Wahai Rasulullah, aku telah bernadzar jila Allah menaklukan kota Mekkah untukmu, aku akan shalat di Baitul Maqdis (Masjidil Aqsha).” Nabi bersabda: “Shalat di sini saja.” Orang itu meminta lagi.

Nabi menjawab: “Shalat di sini saja.” Orang itu masih meminta lagi. Maka Nabi menjawab: “Kalau begitu terserah kamu.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan dishahihkan oleh Al Hakim)

Jika akhirnya tidak mampu melaksanakan nadzarnya, dia boleh membatalkan nadzarnya dengan melakukan Kaffarat Nadzarsebagaimana kaffarat sumpah, sebagaimana hadits:

كَفَّارَةُ النَّذْرِ كَفَّارَةُ الْيَمِينِ

Kaffarat nadzar itu sama dengan kaffarat sumpah. (HR. Muslim No. 1645)

Bagaimana caranya?

– Dengan memberikan makan kepada 10 fakir miskin masing-masing sebanyak satu mud gandum (atau disesuaikan dengan makanan dan takaran masing-masing negeri), atau mengundang mereka semua dalam jamuan makan malam atau siang sampai mereka puas dan kenyang, dengan makanan yang biasa kita makan.

– Atau memberikan pakaian yang sah untuk shalat, jika fakir miskin itu wanita, maka mesti dengan kerudungnya juga.

– Atau memerdekan seorang budak

– Jika semua tidak sanggup, maka shaum selama tiga hari, boleh berturut-turut atau tidak.

Ketetapan ini sesuai firman Allah Ta’ala sebagai berikut:

Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi Makan sepuluh orang miskin, Yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdeka kan seorang budak. barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, Maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). dan jagalah sumpahmu.

Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya). (QS. Al Maidah: 89)

Kaffarat ini bukan hanya bagi orang yang tidak sanggup menjalankan nadzarnya, tetapi juga bagi orang yang masih bingung menentukan nadzarnya mau ngapain lalu dia putuskan membatalkannya, juga bagi yang  nadzar dengan maksiat.

Hal ini sebagaimana hadits berikut dari Ibnu Abbas secara marfu’:

مَنْ نَذَرَ نَذْرًا لَمْ يُسَمِّهِ، فَكَفَّارَتُهُ كَفَّارَةُ يَمِينٍ، وَمَنْ نَذَرَ نَذْرًا فِي مَعْصِيَةٍ، فَكَفَّارَتُهُ كَفَّارَةُ يَمِينٍ، وَمَنْ نَذَرَ نَذْرًا لَا يُطِيقُهُ فَكَفَّارَتُهُ كَفَّارَةُ يَمِينٍ، وَمَنْ نَذَرَ نَذْرًا أَطَاقَهُ فَلْيَفِ بِهِ»

Barang siapa yang bernadzar dan dia belum tentukan, maka kafaaratnya sama dnegan kaffarat sumpah. Barang siapa yang bernadzar dalam hal maksiat, maka kaffaratnya sama dengan kaffarat sumpah, dan barang siapa yang nadzar dengan hal yang dia tidak sanggup maka kaffaratnya sama dengan kaffarat sumpah, dan siapa yang nadzarnya dengan sesuatu yang dia mampu, maka hendaknya dia penuhi nadzarnya. (HR. Abu Daud No. 3322. Hadits ini didhaifkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 3322. Sementara Imam Ibnu Hajar mengatakan dalam Bulughul Maram: “Isnadnya shahih, hanya saja para huffazh lebih menguatkan bahwa ini hanyalah mauquf.” Mauquf maksudnya terhenti sebagai ucapan sahabat nabi saja, yakni Ibnu Abbas, bukan marfu’ /ucapan nabi.  )

Wallahu A’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allah Tempat Bersandar

Tadabbur QS. Alam Nasyrah (94) SATU KESULITAN DUA KEMUDAHAN

Pemateri: Ust. Dr. H. Saiful Bahri, M.A

Mukaddimah

Menurut para ulama Surat Alam Nasyrah diturunkan di Makkah setelah Surat adh-Dhuha sebagaimana urutannya dalam mushaf usmany([1]). Surat ini memiliki beberapa nama selain Alam Nasyrah, di antarnya: asy-Syarh([2]), seperti yang terdapat dibanyak cetakan mushaf sekarang dan buku-buku tafsir. Juga al-Insyirah seperti yang disebutkan Imam Jalaluddin as-Suyuthi dan Ibnu al-Jauzy dalam tafsirnya([3]).

Surat ini merupakan kelanjutan surat sebelumnya, karena sama-sama membahas kepribadian Nabi Muhammad saw dan kondisi yang dihadapi oleh beliau. Keduanya juga menyebutkan kenikmatan-kenikmatan yang diberikan Allah.

Jika di surat sebelumnya Allah menyebutkan tiga nikmatnya: Allah lah yang memberikan inayah/perlindungan saat kondisi beliau yatim, fakir dan kebingungan. Maka pada surat ini Allah tambahkan tiga nikmat-Nya yang lain lagi, yaitu: nikmat kelapangan dada([4]), meringankan beban beliau saat berhadapan dengan kaumnya ketika menyampaikan risalah kenabian yang tak ringan, juga Allah tinggikan kedudukan dan derajat beliau baik di bumi maupun di langit melebihi segala ciptaan-Nya yang pernah ada, dan yang akan ada.

Hal ini semata diperuntukkan kepada beliau demi menghibur sekaligus menguatkan azam beliau. Di tengah teror yang tak henti-hentinya dari musyrikin Makkah.

Di akhir surat ini Allah memerintahkan untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya, juga untuk beribadah setelah menyampaikan risalah. Perpindahan-perpindahan aktivitas tersebut merupakan refleksi rasa syukur([5]) kepada Allah swt atas karunia nikmat-nikmat-Nya yang sangat banyak yang tak memungkinkan untuk dihitung-hitung apalagi untuk dibalas.

Kenikmatan-Kenikmatan

“Bukankah kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu. Yang memberatkan punggungmu? Dan kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu”. (QS. 94: 1-4)

Nikmat pertama yang disebut Allah adalah nikmat kelapangan dada. Diturunkan dalam bentuk pertanyaan sebagaimana surat sebelumnya. Hal ini dimaksudkan supaya Nabi Muhammad saw juga benar-benar bepikir, merenungi lebih dalam atas karunia dan nikmat-nikmat yang diberikan Allah kepadanya. Lebih dari yang sekadar disebut-Nya.

Ayat di atas mengandung dua makna, zhahir dan batin. Secara zhahir Rasulullah saw pernah dibersihkan organ dalamnya oleh malaikat sewaktu masih kecil.

Demikian juga setelah itu. Sebagian ulama berpendapat bahwa hal tersebut terjadi berkali-kali. Pertama kali terjadi pada saat beliau berusia empat tahun, yaitu masa-masa terakhir beliau di asuh oleh Halimah Sa’diyah di perkampungan Bani Sa’d sebelum dikembalikan kepada ibunya. Kedua, terjadi pada saat beliau berumur duapuluhan tahun. Ketiga, terjadi lagi sebelum beliau Isra’ Mi’raj([6]).

Dalam riwayat Imam Ahmad bahkan dijelaskan bahwa tujuan pembelahan dada beliau –operasi fisik- secara zhahir adalah untuk membuang dendam, hasad dan iri (al-ghill wa al-hasad) dan kemudian memasukkan cinta dan kasih sayang (rahmah wa ra`fah) ([7]). Menariknya Imam al-Baidhawy mengatakan bahwa seolah-olah ini merupakan athaf dari surat sebelumnya yang datang dengan kata tanya (istifham) (ألم يجدك يتيماً). Dan untuk menegaskan bahwa masih banyak nikmat-nikmat Allah yang lain yang tidak disebut dan manusia tak mampu menghitungnya.

Adapun kandungan makna batinnya, bahwa Allah telah memberikan kelapangan dada dengan membuka hati beliau untuk dimudahkan menerima ilmu dan hikmah kenabian serta risalah. Demikian ditegaskan maknanya oleh Imam al-Baghawi([8]). Bahkan para tokoh sufi lebih suka memakai makna batin ini dan lebih merajihkannya karena kata yang dipakai “syaraha”.

Nikmat kedua, menghilangkan beratnya beban-beban dakwah Rasulullah saw. Sebagian para ahli tafsir menafsirkan “al-wizr” di sini adalah kesalahan dan kealpaan yang dilakukan Nabi Muhammad sebelum beliau jadi nabi.

Semuanya telah Allah ampunkan. Tapi tak sedikit yang menafsirkannya dengan beban secara umum yang dihadapi oleh Rasulullah saw dalam melaksanakan misi yang dianugerahkan Allah kepada beliau, yaitu: menyampai-kan risalah kenabian. Baik beban fisik dengan teror yang diterimanya, maupun secara psikis yang dialaminya berkali-kali. Dari sejak hinaan, cemoohan, ancaman, tuduhan keji atau bahkan rayuan dan bujukan. Semuanya Allah jadikan ringan. Bahkan Allah melengkapinya dengan nikmat selanjutnya.

Nikmat ketiga, ditinggikan derajatnya. Allah angkat derajat beliau sebagai nabi. Bahkan disandingkan namanya dengan asma Allah Yang Mahaagung. Namanya disebut oleh penduduk bumi dan langit disepanjang waktu.

Penduduk bumi yang shalat saja berputar dari pagi ke pagi selalu ada yang shalat, syahadatain dibaca di dalamnya. Dalam khutbah, syahadatain juga dibaca, sebelum ijab qabul pernikahan syahadatain juga dibaca. Banyak riwayat yang menyebutan kemuliaan beliau yang diberikan Allah dengan penyebutan tersebut([9]).

Kemudahan-Kemudahan

Setelah menyebutkan nikmat dan karunia yang diberikan Allah kepada Nabi-Nya Allah menegaskan sebuah makna yang memberikan sugesti kemenangan, kebahagiaan dan ketenangan. Simaklah kedahsyatan janji-Nya:

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesung-guhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (QS. 94: 5-6)

Apa rahasia pengulangan kalimat-kalimat di atas. Apa makna yang terkandung hingga Allah perlu mengulangi dan menegaskan pesan-pesan-Nya.

Imam al-Baghawi, Imam al-Ma’iny dan Syeikh Muhyiddin ad-Darwisy menyimpulkan dari struktur gaya bahasa di atas dengan sebuah kaidah kebahasaan: “Isim nakirah jika disebut dua kali maka yang kedua tidaklah sama dengan yang pertama. Namun, jika isim makrifat disebut dua kali maka yang kedua sama dengan yang pertama”([10]).

Dari kaidah ini bisa ditarik sebuah kesimpulan, setiap satu kesulitan terdapat dua kemudahan. Setidaknya akan berupa penyelesaian yang terbaik serta pahala kebaikan yang hanya diketahui Allah jika bersabar dalam menghadapinya. Setelah kesulitan dan beban-beban dakwah yang berat di Makkah Allah akan berikan kemudahan dan kemenangan di Madinah.

Kemudahan yang diberikan Allah bahkan berlipat-lipat. Jika Nabi saw terlahir sebagai yatim, beliau bahkan menyantuni banyak fakir miskin dan anak-anak yatim serta para janda miskin. Allah berikan kekayaan, beliau diangkat derajatnya, dilapangkan dadanya dan diringankan beban-bebannya. Apalagi setelah diangkat sebagai Nabi dan Rasul Allah swt. Meski, tekanan justru datang setelah itu tapi kemudahan dan kemenangan Allah jadikan setelahnya. Rahmatan lil alamin, beliau bahkan kemudian menjelma menjadi rahmat –atas titah Allah- bagi segenap alam semesta. Bukan hanya bagi manusia saja.

Jika pada mulanya Islam ditekan. Pengikutnya juga ditindas dan dihina. Yang mengikutinya juga orang-orang lemah dan terzhalimi. Tapi akhirnya Allah mengubahnya sesuai janjinya. Sebagai contoh kisah Fathu Makkah memberikan kebenaran janji Allah. Dengan segala izzah, Rasul memasuki kota Makkah.

Jika sebelumnya orang-orang kuat penduduk Makkah menindas beliau dan para pengikutnya, maka pada saat itu semuanya tertunduk pasrah. Bahkan sebagian dari mereka ada yang melarikan diri. Kemuliaan yang tak menjadikan beliau sombong dan lupa diri. Beliau justru memperbanyak tasbih dan istighfar, bersyukur atas kemuliaan dan kemenangan yang dikaruniakan Allah; mengukuh-kan dan mengokohkan agama-Nya di muka bumi ini.

Jadi, yakinlah setidaknya setiap satu kesulitan ada dua kemudahan yang disiapkan Allah, kemudahan duniawi dan ukhrawy. Tak heran jika kemudian beliau bersabda sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud ra., “Beritakan kabar gembira, telah datang kemudahan. Takkan pernah satu kesulitan mengalahkan dua kemudahan”([11]).

Maha Benar Allah dalam segala firman-Nya.

Perpindahan Aktivitas

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”.(QS. 94: 7)

Inilah makna istirahat yang sebenarnya. Bukanlah dengan bermalas-malasan dan bersantai, namun dengan perpindahan dari satu aktivitas ke aktivitas lain.

Sehingga akan maksimal produktifitas seseorang. Maka Nabi Muhammad saw mencontohkan setelah menyampaikan dakwahnya, beliau diperintah untuk bersegera beribadah sebagai rasa syukur atas nikmat kenabian sekaligus sebagai rasa tawakkal memasrahkan usaha yang telah dilakukan sebelumnya.
Bahwa hasil dari dakwah beliau sepenuhnya diserahkan kepada Allah swt.

Inilah yang seharusnya juga ditiru oleh para pengikut beliau. Jika itu benar-benar kita lakukan maka kemudahan-kemudahan akan semakin banyak diberikan Allah. Dan Allah akan tinggikan pula izzah agama ini melalui tangan-tangan kita.

Selain itu ayat ini mengisyaratkan sebuah keseimbangan ideal. Setelah kita sibuk dan beramal untuk dunia kita maka seharusnya kita juga berbuat dan beramal untuk akhirat kita.

“Dan hanya kepada Tuhanmu lah hendaknya kamu berharap” (QS. 94: 8)

Kesyukuran itu lebih sempurna bila kita jadikan Allah benar-benar satu-satunya tempat bergantung dan berharap. Apa yang lebih indah dari rasa syukur yang dikaruniakan Allah yang telah menyebut bahwa hanya sedikit saja dari hamba-Nya yang mampu bersyukur dengan baik.

Sang Guru Ibnu Atha`illah As-Sakandary mengimbuhkan sebuah makna yang sangat dalam, “Allah menganugerahimu tiga kemuliaan, yaitu: Dia membuatmu ingat (dzikir) kepada-Nya. Kalaulah bukan karena karunia-Nya, engkau tak pantas menjadi ahli dzikir kepada-Nya. Dia membuatmu diingat oleh-Nya (madzkur), karena Dia sendiri yang menisbahkan dzikir itu untukmu. Dan Dia juga membuatmu diingat di sisi-Nya, saat Allah sempurnakan nikmat-Nya kepadamu”([12]).

Penutup

Itulah Allah. Dzat yang rahmat-Nya luas tanpa batas. Dzat yang kasih sayang-Nya tidak terbilang. Pernahkah kita menghitung nikmat dan karunia yang diberikan-Nya kepada kita. Padahal tak banyak yang sudah kita lakukan untuk menyukurinya. Berapa kalikah kita berbuat dosa dan melanggar larangan-Nya, tak menunaikan hak-hak-Nya dengan baik? Namun, hingga saat ini Dia masih saja memberi kesempatan pada kita untuk bertaubat dan memperbaiki kesalahan-kesalahan kita. Betapa banyak kesalahan yang kita sembunyikan dari orang tua kita, istri kita, anak kita dan dari orang banyak.

Dan Allah tetap terus menutupnya. Akankah kita melupakannya begitu saja? Alangkah baiknya jika kita tak menghentikan pengharapan kita pada-Nya dan terus mendekatkan diri padanya dengan taubat dan istighfar.
Itulah kesempurnaan pengharapan. Maka, Dialah Dzat yang laik untuk benar-benar diharapkan karena Dia tak pernah menyelisihi dan mengingkari janji-Nya serta mengabaikan ketulusan pengharapan hamba-hamba-Nya.

Maroji’

([1]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm.20-21; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 249. Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.816

([2]) Ibid. hlm. 817

([3]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, ad-Dur al-Mantsur fi at-Tafsir bi al-Ma`tsur, Beirut: Dar al-Fikr, Cet.I, 1983 M-1403 H,, Vol.VIII, hlm. 547, Abdurrahman Ibnu al-Jauzy, Zad al-Masir fi Ilmi at-Tafsir, Beirut: al-Maktab al-Islami, Cet.III, 1404 H, Vol.IX, hlm. 162

([4]) ada banyak pendapat tentang pembelahan dada Nabi Muhammad saw yang insya Allah akan kita bicarakan saat menadabburi ayatnya nanti.

([5]) Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ijazu al-Bayan fi Suar al-Qur’an, Cairo: Dar Ali Shabuni, 1986 M-1406 H, hlm. 302

([6]) Lihat: Syihabuddin al-Alusy, Ruhul Maani, Beirut: Dar al-Fikr, 1997 M-1417 H, Vol. 30, hlm. 299-300, Abu al-Fida` Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur`an al-Azhim, Cairo: al-Maktab Ats-Tsaqafi, Cet.I, 2001 M, Vol. IV, hlm. 528

([7]) Tafsir Ibnu Katsir, Ibid.

([8]) Al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M-1424 H, Vol.IV, hlm. 469

([9]) Ali bin Ahmad Al-Wahidy, Al-Wasith fi Tafsir al-Qur’an al-Majid, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 1994 M-1415 H, Vol.IV, hlm.416-417, juga: Ibnu Jarir ath-Thabary, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Ay al-Qur’an, tahqiq: Mahmud Syakir, Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Araby, Cet.I, 2001 M-1421 H, Vol. 30, hlm. 285

([10]) Al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, Op.Cit, Vol. IV, hlm. 470, Muhyiddin ad-Darwisy, I’rabu al-Qur`an al-Karim wa Bayanuhu, Beirut: Dar Ibnu Katsir, Cet. IX, 2005 M-1426 H, Vol. VIII,hlm. 353, lihat tesis penulis: Kitab Lawami’ al Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi Ma’ani al-Qur’an Karya Imam al-Ma’iny: Dirasah wa Tahqiq, Cairo: Universitas al-Azhar Jurusan Tafsir, 2006, Vol.2, hlm. 876

([11]) Ibnu Jarir ath-Thabary, Jami’ al-Bayan,Op.Cit, Vol. 30, hlm. 286, Abul Qasim Jarullah Az-Zamakhsyari, al-Kasyaf an Haqa`iq at-Tanzil wa ‘Uyun al-Aqawil fi Wujuh at-Ta`wil, Cairo: Maktabah Mustafa Muhammad, Cet.I, 1354 H, Vol.IV, hlm. 221

([12]) Ibnu Atha’illah as-Sakandary, Kitab al-Hikam, Penerjemah: Dr. Ismail Ba’adillah, Jakarta: Khatulistiwa Press, Cet.II, Juni 2008, hlm. 289


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Majelis ilmu

Wahyu dan Inspirasi Menuntut Ilmu

Pemateri: Ust. DR. WIDO SUPRAHA

Membaca adalah anjuran atau perintah pertama yang diturunkan Allah Swt sebagai bagian dari wahyu yang suci nan mulia. Kata seru ‘bacalah’ diulang 3 (tiga) kali dalam Al-Qur’an.[1]

Sementara kata wahyu sebagai kata dasar hanya digunakan 1 (satu) kali dalam Al-Qur’an[2], namun terdapat 78 kata yang menggunakan kata dasar wahyu dalam Al-Qur’an, 6 kata adalah kata benda, dan 72 kata adalah kata kerja.

Dalam wahyu yang pertama kali turun itu pun mengandung inspirasi bahwa menuntut ilmu hendaknya sarat dengan aktifitas membaca dan menulis, sebagaimana ilmu diikat dengan tulisan.

Wahyu secara bahasa berarti memberitahukan secara samar; tulisan; tertulis; utusan; ilham; perintah; dan syarat. Secara terminologi syariat, wahyu berarti memberitahukan hukum-hukum syariat, atau juga bisa bermakna sebagai sesuatu yang diwahyukan, yakni kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.

Cara Allah menurunkan wahyu kepada para Nabi adalah sama yakni dengan cara mimpi sehingga hati menjadi tenang, setelahnya baru Allah menurunkan wahyu dalam keadaan sadar.[3]

Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, ‘Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (Q.S. An-Nisa/4:163)

Maka demikian pula dengan Nabi Muhammad Saw dalam hal penerimaan wahyu juga dengan cara yang sama telah dialami oleh para Nabi sebelumnya. Nabi Saw telah dikondisikan pertama kali melalui mimpi yang benar sebagai bagian dari latihan sebelum menerimanya secara sadar.

Maka tidak heran jika setelahnya Nabi Saw dapat melhat cahaya, mendengar suara, dan batu-batu kerikil yang memberikan salam kepadanya.

Pada mimpi ini, Nabi Saw pertama kali melihat sosok Malaikat Jibril. Adapun secara sadar, sebagaimana pengakuan Nabi Saw., wujud asli Malaikat Jibril terlihat langsung sebanyak 2 (dua) kali yakni ketika di Ajyad dan kemudian ketika peristiwa Isra’ Mi’raj.

Namun terdapat juga penjelasan bahwa ketika turunnya wahyu di Gua Hira’, Malaikat Jibril juga menampakkan wujud aslinya.

Perintah Jibril kepada Nabi Muhammad Saw, ‘Iqra’, dijawab dengan “Ma Ana bi Qari” dan hal ini berlangsung hingga 3 (tiga) kali perulangan.

Berulangnya pernyataan Nabi bahwa dirinya tidak bisa membaca, mengandung maksud seakan-akan Nabi Saw memang tidak bisa membaca sama sekali.

Namun, hal ini dapat juga dijelaskan bahwa jawaban pertama Nabi mengadung makna penolakan (imtina’), jawaban kedua Nabi mengandung makna ketidakmampuan, sedangkan jawaban ketiga nabi mengandung makna pertanyaan akan apa yang harus dibaca.[4]

Pertanyaan tentang ‘kaifa aqra‘, dan ‘madza aqra‘, adalah bagian dari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin hadir[5], sehingga kemudian Jibril mengajarkan bahwa bersama pertolongan Allah (bismi rabbika) yang telah menciptakan akan memudahkan dalam membaca, sesuatu yang akan sulit jika hanya disandarkan pada pengetahuan manusia.

Namun di atas itu semua, peristiwa ini memperlihatkan adanya kebenaran yang bersumber dari faktor luar (haqiqah kharijiyyah).

Maka sedemikian bersemangatnya Nabi Saw dalam menerima wahyu, membuatnya selalu tidak sabar untuk dapat menghafalkannya, meskipun itu terasa sukar baginya.

Semangat Nabi yang totalitas untuk perbaikan umat (harakatul inqaz), melahirkan tanggung jawab kenabian (mas-uliyah an-nubuwwah), terlihat dari begitu tergesa-gesanya beliau untuk melahap seluruh ilmu yang disampaikan dalam bentuk wahyu.[6] Maka turunlah firman Allah, Swt,

Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai) nya. (Q.S. Al Qiyamah/ 75:16)

Namun Allah mengajarkan, bahwa sebaik-baik pengajaran adalah talaqqi, dimana yang dididik hendaknya mendengarkan secara seksama baru mengikutinya.

Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. (Q.S. Al-Qiyamah/75:18)

Setelah turunnya wahyu pertama ini, maka tidaklah turun ayat Al-Qur’an kecuali setelah masa penantian selama 6 bulan[7] atau 3 tahun[8] yang terasa sangat lama dan berat bagi Nabi Muhammad Saw., hingga jika beliau berada pada puncak kesedihannya, beliau akan naik ke atas gunung bahkan berniat untuk menjatuhkan diri, namun kehadiran Jibril kembali menguatkan dirinya, bahwa beliau memang benar-benar telah dijadikan utusan Allah[9].

Masa penantian itu berakhir setelah peristiwa melihatnya Nabi Muhammad Saw akan sosok Jibril yang sedang duduk di atas kursi yang melayang di langit dalam wujud aslinya di kota Ajyad.
Peristiwa ini yang mendorong turunnya firman Allah dalam Surat Al-Muddatstsir[10]. Menarik melihat bagaimana kebiasaan Nabi Saw tatkala diuji dengan ketakutan karena hal ghaib yang tidak biasa, seperti dalam peristiwa menampakkan dirinya Jibril di Gua Hira’ dan di Ajyad ini, beliau akan meminta istri tercintanya untuk menyelimuti tubuhnya.

Lebih menarik lagi ketika istrinya nan-shalihah sentiasa menguatkan keyakinan dirinya akan pertolongan bagi orang-orang yang sentiasa berbuat kebajikan dalam menolong orang lain.

Maka setelah turunnya Surat Al-Muddatstsir tersebut, mulailah wahyu turun dengan semakin sering. Terkadang wahyu itu datang seperti bunyi lonceng (shalshalah al-jaras), dan ini merupakan cara yang paling berat bagi manusia seperti Nabi Muhammad Saw.
Namun terkadang datang malaikat menjelma seperti laki-laki yang menyampaikan wahyu kepadanya.

Gambaran begitu beratnya Wahyu yang turun, diumpamakan oleh ‘Aisyah r.a. kejadian turunnya wahyu di saat musim dingin yang amat sangat, namun dahi Nabi Saw terlihat bersimbah peluh pertanda begitu berat yang dialaminya.

Setiap kali wahyu turun, Nabi Saw memerintahkan sahabatnya untuk mencatatnya dengan segera. Setiap kali sahabat bertanya tentang beberapa masalah, Nabi Saw harus menunggu beberapa masa hingga turun ayat yang menjawab permasalahan tersebut.

Permasalahan-permasalahan masa lalu yang tentu mustahil diketahui bagi seorang Nabi yang ummi, terlebih hal-hal yang baru diketahui di masa depan, menjadi jawaban utama keaslian Wahyu yang diterima Nabi Saw. Keraguan akan sosok pembawanya telah terjawab dengan kebersamaan hidup bersamanya selama 40 tahun.

Tuduhan segelintir orientalis bahwa wahyu hanyalah intuisi Nabi Saw dalam khalwatnya seorang diri sebenarnya terbantahkan dengan rangkaian peristiwa yang dialami Nabi Saw.

Pertama, bahwa untuk menumbuhkan inspirasi tidaklah perlu menjalani proses khalwat.

Kedua, tidak terlihatnya Jibril oleh para sahabat lain, bukan berarti Jibril itu tiada. Ketiga, kondisi emosi Nabi dalam ketakutannya akan makhluk jin menjadi jawaban bahwa risalah bukanlah hal yang dicarinya, atau kekhawatirannya akan murka Allah atas tidak turunnya wahyu selama beberapa lama tentu bukanlah hal yang dibuat-buat, atau menggigilnya sekujur tubuh menjadi jawaban bahwa peristiwan yang dialaminya merupakan hal yang tidak biasa, dan bahkan tidak pernah terlintas dalam benaknya sama sekali.[11]

Dalam peristiwa ini, Khadijah mendapatkan ilham untuk membawa suaminya kepada anak pamannya yang sudah tua dan buta, Waraqah bin Naufal, seorang ahli ilmu Kristen.

Pengetahuan Waraqah yang luas dari hasil menuntut ilmunya kepada para Ahli Kitab membawanya kepada keimanan akan kebenaran Nabi Muhammad Saw selaku manusia yang diutus Allah Swt. Namun perlu diketahui, bahwa Waraqah adalah satu dari empat orang yang menyadari akan kesalahan dalam ajaran yang diyakini orang-orang Quraisy, dan membawa mereka kepada pengembaraan ilmu.

Ketiga lainnya adalah Ubaidillah bin Jahsy, Ustman bin al-Huwairits, dan Zaid bin Amr bin Nufail. Ubaidillah bin Jahsy diketahui kemudian masuk Islam dan ikut hijran ke Habasyah bersama istrinya, Ummu Habibah, namun kemudian murtad dan masuk agama Kristen di Habasyah.

Utsman bin al-Huwairits masuk agama Kristen setelah bertemu Kaisar Romawi, dan mendapat kedudukan terhormat. Adapun Zaid bin Ammar tidak memeluk Yahudi maupun Nasrani, namun ia menjaga diri dari beragam perbuatan tercela, karena ia mengikrarkan untuk menyembah Tuhannya Nabi Ibrahim a.s. Zaid terus berkelana mencari agama Ibrahim yang benar, hingga menyelurusi Kota Syam, namun ia mendapatkan jawaban bahwa Nabi itu telah bangkit dari Kota Makkah.

Ketetapan Alalh mendahului, dimana ia terbunuh di pertengahan negeri Lakhm. Ini yang membuat Waraqah bersedih.

Keyakinan para ahli Kristen yang jujur muncul di antaranya karena sifat Nabi Muhammad Saw telah ada dalam kitab suci mereka yakni Al-Munhammana, sebagaimana sabda Nabi ‘Isa. Dalam bahasa Ibrahin, al-Munhamana berarti Muhammad, dan Muhammad dalam bahasa Romawi ialah Paraclet.[12]

Maraji’

1] Q.S. Al-Isra’/17:14; Q.S. Al-‘Alaq/96: 1,3

2] Q.S. An-Najm/53:4

3] Lihat Fathul Bari, Bab Permulaan Turunnya Wahyu

4] Kutipan pendapat Ath-Thibi oleh Ibn Hajar al-Atsqalani

5] Kutipan pendapat Abu Aswan dan Zuhri oleh Ibn Hajar al-Atsqalani

6] H.R. Bukhari No. 5

7] Riwayat Sya’bi dalam kitab sejarah buah karya Imam Ahmad bin Hanbal, dan dikuatkan oleh pendapat Ibn Ishq

8] Riwayat dari Ibn Ishaq

9] Lihat Tafsir Al-Hafizh ‘Imaduddin Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir (Ibn Katsir)

10] H.R. Bukhari No. 4

11] Analisa Dr. Sa’id Ramadhan al-Buthi dalam Fiqh as-Sirah: Dirasat Minhajiah ‘Ilmiah li-Shirat al-Musthafa ‘alaihishshalatu wa salam

12] Sirah Ibn Hisyam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Suami yang Bersama Istri di Surga

BINGKAI HUBUNGAN SUAMI ISTRI

Pemateri: Ustzh. EKO YULIARTI SIROJ, SAg

Satu kisah mengagumkan diriwayatkan oleh seorang sahabiyat berhati mulia bernama Asma binti Abu Bakar Ra.

Ia berkata : “Aku menikah dengan Zubair saat dia tidak memiliki apapun selain seekor keledai yang menjadi tunggangannya. Setiap hari aku memberi makan dan minum keledai itu serta membersihkannya.

Aku mencari air untuk keperluan keluarga dan aku menyiapkan minum untuknya.

Akupun membuatkan roti dengan dibantu para wanita anshar karena aku tidak pandai membuat roti.

Aku membawa biji gandum di atas kepalaku dan berjalan sepertiga farsakh menuju rumah para wanita anshar itu.

Suatu hari saat aku berjalan pulang dengan membawa biji gandum di atas kepalaku, tiba-tiba aku bertemu dengan Rasulullah SAW dan rombongan kaum anshar. Beliau mengajakku untuk pulang dengan menunggang unta yang berjalan di belakang unta beliau.

Betapa senang hatiku dengan tawaran beliau karena lelahku akan segera berakhir. Namun saat aku ingat Zubair yang sangat pencemburu, aku urungkan niatku menerima tawaran Rasulullah. Beliau memahami kekhawatiranku dan berlalu didepanku dengan cepat.

Setibanya dirumah, aku ceritakan peristiwa itu kepada Zubair suamiku dan ia berkata : “Sungguh perjalananmu dengan membawa biji gandum di atas kepalamu lebih membuatku merasa berat dibandingkan dengan engkau menerima tawaran Rasulullah SAW.”

Dari Anas bin Malik ia berkisah, “Suatu saat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam di tempat salah seorang istrinya dan istrinya yang lain mengirim sepiring makanan. Maka istrinya yang sedang bersamanya ini memukul tangan pembantu sehingga jatuhlah piring dan pecah sehingga makanan berhamburan. Lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan pecahan piring tersebut dan mengumpulkan makanan yang tadinya di piring, dengan tersenyum beliau berkata, “Ibu kalian cemburu…”

Imam Tirmizi dalam kitabnya Asy-Syamail meriwayatkan bahwa Aisyah RA berkata : “Rasulullah SAW itu adalah seorang biasa, beliau menjahit sendiri bajunya, memerah sendiri susu dari kambingnya, dan melakukan sendiri perkara yang diingininya.”

Demikianlah Rasulullah SAW dan para sahabat mencontohkan bagaimana seharusnya suami dan istri memiliki komitmen yang dilandasi kesadaran akan misinya sebagai manusia untuk beribadah kepada Allah dan untuk memakmurkan bumi. Menyadari bahwa setiap langkah hidupnya bahkan setiap helaan nafasnya adalah ibadah kepada Allah SWT.

Dalam rumah tangga hubungan suami istri adalah hubungan yang paling penting. Karena keduanya adalah subyek utama didalam keluarga.

Agar hubungan keduanya terjaga dalam keharmonisan, hubungan yang dijalin harus dilandasi oleh petunjuk Rasulullah SAW, dan landasan dari hubungan suami istri adalah :

1. Saling Tolong Menolong (Ta’awun)

Berumah tangga adalah kebaikan. Dan Allah SWT memerintahkan kita untuk saling tolong menolong dalam kebaikan.

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَ شَدِيدُ الْعِقَابِ ﴿المائدة: ٢﴾

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS Al-Maidah : 2)

Kalimat  تَعَاوَنُوا memiliki arti saling tolong menolong. Kata saling menunjukkan bahwa yang melakukan pekerjaan itu bukan hanya satu pihak akan tetapi dilakukan oleh kedua belah pihak.

Suami dan istri sama-sama melakukan dan memberikan pertolongan untuk pasangannya. Suami sebagai pencari nafkah, bekerja bukan semata untuk memenuhi kewajibannya. Ia menafkahi istri, anak-anak dan keluarganya dalam rangka menolong mereka agar berkehidupan layak dan mampu berdiri tegak menunaikan kebaikan-kebaikan yang banyak dalam rangka beribadah kepada Allah SWT.

Terkadang istri harus ikut turun tangan memenuhi kebutuhan keluarga. Seperti yang dilakukan oleh Asma binti Abi Bakar dalam kisah di atas. Saat Zubair suaminya tidak mampu untuk menghadirkan seorang pembantu (khadimat) maka Asma melakukan seluruh pekerjaan rumahnya seorang diri. Bahkan ia rela menempuh perjalanan cukup jauh demi membuat roti yang merupakan makanan pokok di keluarganya.

2. Tidak Mengurangi Hormat Pada Pasangan

Pekerjaan berat dan perjalanan jauh yang ditempuh Asma tidak membuat hormatnya kepada Zubair berkurang. Ia bahkan menjaga sekuat tenaga agar aktifitasnya selalu terjaga.

Bahkan saat ia benar-benar membutuhkan bantuan dan bantuan itu benar-benar datang, ia mempertimbangkan perasaan suaminya yang tidak tahu akan peristiwa itu. Jika saja Asma mau, ia bisa ikut dalam rombongan Rasulullah SAW dan tidak perlu menceritakannya pada suaminya. Tapi rupanya tidak demikian akhlak seorang muslimah.

Asma menyadari bahwa aktifitas yang ia lakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga adalah bantuan/pertolongan yang ia berikan kepada suaminya agar kelak mereka bisa mempertanggung jawabkan kelangsungan rumah tangga itu dihadapan Allah SWT.

Sebagai istri yang turut lelah memenuhi kebutuhan rumah tangga, Asma tidak lantas bercerita kepada orang lain akan kekurangan suaminya. Dengan ikhlas putri Abu Bakar ini bekerja dalam ta’at.

Kondisi yang sama perlu dipegang teguh juga oleh seorang suami.

Zaman yang semakin modern menuntut kaum perempuan untuk turut beraktifitas mencari finansial. Hal yang positif bila tetap berada dalam koridor syar’i. Dan Rasulullah SAW menegaskan bahwa harta istri yang dipakai untuk kepentingan keluarganya bernilai sedekah. Namun bukan berarti jika seorang istri tidak berpenghasilan membuat suami berhak untuk mengurangi rasa hormat pada istrinya. Ia tetap harus bersikap baik dan menghormati istrinya. Dan diantara menghormati istri adalah menjaga perasaannya.

Zaman dimana komunikasi antar manusia menjadi begitu mudah perlu kita waspadai. Karena bisa jadi maksiat/khalwat yang dilakukan oleh banyak orang tidak lagi membutuhkan tatap muka akan tetapi cukup di dunia maya. Cara-cara seperti itu tentu akan melukai perasaan pasangan. Oleh karenanya, ihsan (menyadari pengawasan Allah) harus terus dihidupkan dalam keseharian kita.

3. Tidak Perhitungan dg Jasa Masing-masing

Seringkali saat terjadi konflik di keluarga terutama jika terkait dengan hubungan suami istri, masing-masing tiba-tiba menjadi ingat akan semua kebaikan yang pernah dilakukan dirinya untuk pasangannya. Seringkali masing-masing mulai berhitung.

Istri berhitung bahwa suami tidak pernah turut serta dalam pendidikan anak, tidak pernah membantu pekerjaan-pekerjaan rumah, tidak pernah menyimpan handuk pada tempatnya seusai mandi dan lain sebagainya hingga masalah-masalah yang remeh.

Suami juga berhitung bahwa selama ini istri tidak menyediakan kebutuhan suami dengan optimal, kurang dalam mendidik anak, kurang dalam menata rumah, kurang pandai memasak, tidak membantu mencari income untuk keluarga dan lain-lain. Maka jadilah masing-masing berhitung akan jasanya.

Lantas…kita pun bertanya, apakah kita sedang mengelola keluarga atau mengelola perusahaan? Karena untung rugi hanya ada di perusahaan.  Karena di keluarga kita hanya mengenal ta’awun tanpa hitung-hitungan.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Puasa dan Salat yang Paling Utama

Seputar Jamak Shalat

Pertanyaan

Salam. Ustadz Farid yang dirahmati Allah, saya ingin bertanya mengenai jarak safar dan shalat qashar:

1. Berapa jarak terpendek ketika kita hendak melakukan shalat qashar.
2. Apakah benar hadits mengenai jarak safar tsb berderajat mudltharib? Jika iya, lantas bagaimana kita menyikapinya terlebih kita sebagai orang awam?
3. Apakah benar ada hadits yg menyatakan bahwa jarak terpendek utk bisa melakukan shalat qashar tsb adalah 5 km? Jika ada mohon penjelasannya.

Jazakallahu khair (Deni – I14)

Jawaban

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan, SS

Wa ‘Alaikum Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh.
Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah wa ‘ala aalihi wa ashhabihi wa man walah, wa ba’du:

Jamak Shalat

Menjamak Shalat ketika bepergian adalah boleh menurut jumhur (mayoritas) ulama. Hal ini berdasarkan hadits berikut:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ ثُمَّ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا

Dari Anas bin Malik, dia berkata: “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika dia mengadakan perjalanan sebelum matahari tergelincir (meninggi), maka dia akan akhirkan shalat zhuhur pada waktu Ashar, lalu dia turun dan menjamak keduanya.” [1]

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

الجمع بين الصلاتين في السفر في وقت إحداهما جائز في قول أكثر أهل العلم لا فرق بين كونه نازلا أو سائرا

“Menjamak dua shalat dalam perjalanan, pada waktu  salah satu dari dua shalat itu, adalah boleh menurut mayoritas para ulama, sama saja baik ketika dalam perjalanannya atau ketika turun (berhenti).”  [2]

Sebenarnya masyaqqat (kepayahan, kesempitan, kesulitan) yang membuat dibolehkannya jamak, bukan hanya perjalanan, melainkan juga hujan, sakit, dan keperluan yang mendesak.

Jamak ketika hujan

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

روى الاثرم في سننه عن أبي سلمة ابن عبد الرحمن أنه قال: من السنة إذا كان يوم مطير أن يجمع بين المغرب والعشاء. وروى البخاري أن النبي صلى الله عليه وسلم جمع بين المغرب والعشاء في ليلة مطيرة

“Al Atsram meriwayatkan dalam Sunan-nya, dari Abu Salamah bin Abdurrahman, bahwa dia berkata: “Termasuk sunah jika turun hujan menjamak antara Maghrib dan Isya’.” Bukhari telah meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjamak antara maghrib dan isya’ pada malam hujan.” [3]

Jamak ketika Sakit

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

الجمع بسبب المرض أو العذر: ذهب الامام أحمد والقاضي حسين والخطابي والمتولي من الشافعية إلى جواز الجمع تقديما وتأخيرا بعذر المرض لان المشقة فيه أشد من المطر. قال النووي: وهو قوي في الدليل

Menjamak Shalat lantaran sakit atau udzur, menurut Imam Ahmad, Al Qadhi Husein, Al Khathabi, dan Mutawalli dari golongan Syafi’iyyah, adalah boleh baik secara taqdim atau ta’khir, sebab kesulitan lantaran sakit adalah lebih berat dibanding hujan. Berkata Imam An Nawawi: “Dan Alasan hal itu  kuat.” [4]

Jamak karena adanya keperluan (kesibukan)

Berkata Imam An Nawawi Rahimahullah:

وَذَهَبَ جَمَاعَةٌ مِنْ الْأَئِمَّة إِلَى جَوَاز الْجَمْع فِي الْحَضَر لِلْحَاجَةِ لِمَنْ لَا يَتَّخِذهُ عَادَة ، وَهُوَ قَوْل اِبْن سِيرِينَ وَأَشْهَب مِنْ أَصْحَاب مَالِك ، وَحَكَاهُ الْخَطَّابِيُّ عَنْ الْقَفَّال وَالشَّاشِيّ الْكَبِير مِنْ أَصْحَاب الشَّافِعِيّ عَنْ أَبِي إِسْحَاق الْمَرْوَزِيِّ عَنْ جَمَاعَة مِنْ أَصْحَاب الْحَدِيث ، وَاخْتَارَهُ اِبْن الْمُنْذِر وَيُؤَيِّدهُ ظَاهِر قَوْل اِبْن عَبَّاس : أَرَادَ أَلَّا يُحْرِج أُمَّته ، فَلَمْ يُعَلِّلهُ بِمَرَضٍ وَلَا غَيْره وَاللَّهُ أَعْلَم

“Sekelompok para imam, membolehkan jamak ketika tidak bepergian apabila ia memiliki keperluan, namun hal itu tidak dijadikan sebagai kebiasaan. Demikianlah pendapat dari Ibnu Sirin, Asyhab dari golongan Malikiyah. Al Khathabi menceritakan dari Al Qaffal dan Asy Syasyil kabir dari madzhab Syafi’i, dari Abu Ishaq al Marwazi dan dari jamaah ahli hadits. Inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnul Mundzir, yang didukung oleh zhahir ucapan Ibnu Abbas, bahwa yang dikehendaki dari jamak adalah ‘agar umatnya keluar dari kesulitan.’ Karena itu, tidak jelaskan alasan jamak, apakah karena sakit atau yang lainnya. Wallahu A’lam.” [5]

Hal ini berdasarkan riwayat berikut, dan  inilah hadits yang yang dijadikan hujjah oleh Imam An Nawawi di atas.

 عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِينَةِ فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا مَطَرٍ

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menjamak antara zhuhur dan ashar, maghrib dan isya di Madinah, pada hari saat tidak ketakutan dan tidak hujan.”    [6]

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah menambahkan:

قال ابن تيمية: وأوسع المذاهب في الجمع مذهب أحمد فإنه جوز الجمع إذا كان شغل كما روى النسائي ذلك مرفوعا إلى النبي صلى الله عليه وسلم إلى أن قال: يجوز الجمع أيضا للطباخ والخباز ونحوهما ممن يخشى فساد ماله

“Berkata Ibnu Taimiyah: “Madzhab yang paling luas dalam masalah jamak adalah madzhab Imam Ahmad, dia membolehkan jamak karena kesibukkan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam An  Nasa’i[7] secara marfu’ (sampai)  kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sampai-sampai dibolehkan jamak juga bagi juru masak dan pembuat roti dan semisalnya, dan juga orang yang ketakutan hartanya menjadi rusak.” [8]

Bahkan dibolehkan pula menjamak, karena sedang menuntut ilmu atau mengajarkan ilmu. Ini berdasarkan riwayat Imam Muslim berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَقِيقٍ قَالَ خَطَبَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ يَوْمًا بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى غَرَبَتْ الشَّمْسُ وَبَدَتْ النُّجُومُ وَجَعَلَ النَّاسُ يَقُولُونَ الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ قَالَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ لَا يَفْتُرُ وَلَا يَنْثَنِي الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ
فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ أَتُعَلِّمُنِي بِالسُّنَّةِ لَا أُمَّ لَكَ ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ شَقِيقٍ فَحَاكَ فِي صَدْرِي مِنْ ذَلِكَ شَيْءٌ فَأَتَيْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ فَسَأَلْتُهُ فَصَدَّقَ مَقَالَتَهُ

Dari Abdullah bin Syaqiq, dia berkata: Ibnu Abbas berkhutbah kepada kami, pada hari setelah ‘ashar sampai matahari terbenam, hingga nampak bintang-bintang, sehingga manusia berteriak: “shalat .. shalat ..!” Lalu datang laki-laki dari Bani Tamim yang tidak hentinya berteriak: shalat.. shalat!. Maka Ibnu Abbas berkata: “Apa-apaan kamu, apakah kamu hendak mengajari saya sunah?”, lalu dia berkata: “Saya telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam menjamak antara zhuhur dan ashar, serta maghrib dan isya.” Berkata Abdullah bin Syaqiq: “Masih terngiang dalam dada saya hal itu, maka aku datang kepada Abu Hurairah, aku tanyakan dia tentang hal itu, dia membenarkan keterangan Ibnu ‘Abbas tersebut.” [9] Demikian. Wallahu A’lam.

Qashar (meringkas shalat)

Shalat Qashar (meringkas empat rakaat menjadi dua) adalah sedekah yang diberikan Allah Ta’ala kepada umat Islam. (HR. Jamaah). Mayoritas ulama menyatakan bahwa qashar lebih utama dilakukan dibanding shalat dengan sempurna (empat rakaat) jika syarat untuk mengqashar sudah terpenuhi. Karena qashar merupakan rukhshah (keringanan) yang Allah Ta’ala berikan kepada hambaNya, dan Dia senang jika keringanannya itu kita laksanakan.

Sebagaimana hadits yang berbunyi:

Dari Ibnu  Umar Radhiallahu ‘Anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah suka jika rukhshah (keringanan)nya dilaksanakan, sebagaimana ia benci jika maksiat dikerjakan.” [10]

Dari Aisyah Radhiallahu ‘Anha, “Sesungguhnya Rasulullah jika dihadapkan dua perkara, dia akan memilih yang lebih ringan, selama tidak berdosa.” [11]

Allah Ta’ala berfirman:

“Apabila kamu bepergian di permukaan bumi, maka tidak ada salahnya bila kamu mengqshar shalat …” (QS. An Nisa’: 101)

Menurut ayat di atas, jelas sekali bahwa qashar disyariatkan jika dalam bepergian, atau sudah bertolak dari tempatnya berasal, alias sudah keluar dari kotanya. Adapun jika masih ditempat kediamannya, belum boleh dilakukan qashar.

Berkata Imam Ibnul Mundzir, “Aku tidak menemukan sebuah keterangan pun bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengqashar dalam bepergian, kecuali setelah keluar dari Madinah.”
Ketika bepergian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selalu qashar, tidak ada keterangan yang kuat yang menyebutkan bahwa beliau shalat empat rakaat jika bepergian. Karena itu, tidak sedikit para sahabat Nabi yang menyatakan bahwa qashar hukumnya wajib. Mereka yang berpendapat wajib adalah Umar bin Khathab, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, dan Jabir bin Abdullah. Kalangan madzhab Hanafi menguatkan pendapat ini. Adapun kalangan Maliki mengatakan bahwa qashar adalah sunnah mu’akkadah (sangat dianjurkan), bahkan menurut mereka lebih utama dibanding shalat berjamaah. Makruh hukumnya shalat secara sempurna. Sedangkan kalangan Hambaliyah mengatakan qashar itu mubah (boleh) tetapi lebih utama dibanding shalat sempurna. Demikian juga pendapat kalangan Syafi’iyah. Ini semua jika sudah pada jarak dibolehkannya qashar.

Imam Ibnul Mundzir dan lainnya menyebutkan bahwa ada lebih dua puluh pendapat tentang jarak dibolehkannya qashar.  Perbedaan ini terjadi karena memang tak ada satupun hadits shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang menyebutkan jarak. Berkata Syaikh  Sayyid Sabiq Rahimahullah, “Tidak ada sebuah hadits pun yang menyebutkan jarak jauh atau dekatnya bepergian itu.” [12]

Namun, di antara hadits-hadits tersebut ada yang paling kuat -di antara yang lemah- yang menyebutkan jarak, yakni:

Yahya bin Yazid bertanya kepada Anas bin Malik mengenai mengqashar shalat. Ia menjawab,”Rasulullah mengerjakan shalat dua rakaat (qashar) jika sudah berjalan sejauh tiga mil atau satu farsakh.” [13]

Satu farsakh adalah 5.541 Meter (5,5 Km), satu mil adalah 1.748 meter.

Bahkan Imam Ibnu Abi Syaibah  meriwayatkan dengan sanad yang shahih, dari Ibnu Umar yang menyebutkan bahwa jarak minimal mengqashar shalat adalah satu mil! Jika kurang dari itu maka tidak boleh qashar. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Imam Ibnu Hazm.

Namun, jumhur (mayoritas) ulama mengatakan bahwa jarak dibolehkannya qashar adalah empat burd yakni 16 farsakh (88,656 Km). Inilah pandangan Imam Malik, Imam Asy Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal, dan pengikut ketiga imam ini. Alasannya adalah perbuatan sahabat, yakni  Ibnu Umar dan Ibnu Abbas mengqashar shalat dan berbuka puasa jika jarak tempuh sudah empat burd (16 farsakh = 88,656 Km).

Nah, bagaimanakah yang benar melihat berbagai riwayat  yang saling bertentangan ini?

Imam Abul Qasim Al Kharqi memberikan jawaban di dalam kitab Al Mughni, “Aku tidak menemukan alasan (yang bisa diterima) yang dikemukan oleh para imam itu. Sebab, keterangan dari para sahabat Nabi juga saling bertentangan sehingga tidak dapat dijadikan dalil. Telah diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas bahwa mereka berbeda dengan dalil yang digunakan oleh kawan-kawan kami (para ulama).  Kemudian, seandainya belum ditemukan dalil yang kuat, maka ucapan mereka (para sahabat) tidak bisa dijadikan dalil jika bertentangan dengan sabda dan perilaku Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dengan demikian ukuran jarak yang mereka tetapkan tidaklah bisa diterima, disebabkan dua hal berikut:

Pertama, bertentangan dengan sunah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana yang telah dijelaskan.

Kedua, teks ayat firman Allah Ta’ala yang membolehkan qashar shalat bagi orang yang dalam perjalanan: “Apabila kamu bepergian di permukaan bumi, maka tidak ada salahnya bila kamu mengqshar shalat …” (QS. An Nisa’: 101)
Syarat karena adanya rasa takut dengan orang kafir ketika bepergian, sudah dihapuskan dengan keterangan hadits Ya’la bin Umayyah. Dengan demikian, teks ayat ini bermakna  mencakupi seluruh macam jenis bepergian.” [14]

Kesimpulannya, qashar dapat dilakukan jika:

1. sudah keluar dari daerahnya,

2. lalu dengan jarak yang sudah layak, patut, dan pantas disebut sebagai perjalanan (safar). Mengingat dalil-dalil yang ada satu sama lain saling bertentangan. Inilah pandangan para Imam Muhaqiqin (peneliti) seperti Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim, Imam Asy Syaukani,  Asy Syaikh Sayyid Sabiq, juga Ustadz Ahmad Hasan dan lainnya.

3. Perjalanannya bukan perjalanan maksiat.

Tenggang Waktu Dibolehkannya Qashar

Dalam hal ini para ulama juga berbeda pendapat. Namun, kita akan lihat dalil yang kuat yang dilakukan Rasulullah dan para sahabat, dan itulah pandangan yang seharusnya kita pilih.

Dalam Musnadnya Imam Ahmad meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu, katanya: Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallami bermukim di Tabuk selama dua puluh hari dan beliau senantiasa mengqashar shalatnya.[15]

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bermukim dalam salah satu perjalanan selama sembilan belas hari dan selalu mengerjakan shalat dua rakaat.” [16]

Hafsh bin Ubaidillah mengatakan bahwa Anas bin Malik bermukim di Syam selama dua tahun dan terus mengerjakan qashar sebagaimana shalatnya musafir.

Menurut Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, para sahabat Nabi bermukim di daerah Ramhurmuz selama tujuh bulan dan tetap mengqashar shalat.

Berkata Al Hasan Radhiallahun’Anhu, “Aku pernah bermukim bersama Adurrahman bin Samurah di kota Kabul selama dua tahun, dan dia terus mengqashar shalatnya.”

Ibrahim juga pernah mengatakan bahwa para sahabat pernah bermukim di Ray selama satu tahun atau lebih dan di Sijistan selama dua tahun, tetap mengqashar shalat.

Ibnu Umar  Radhiallahu ‘Anhuma pernah tinggal di Azarbaijan selama enam bulan dan tetap mengqahar sebab terhalang oleh salju.

Adapun pendapat para Imam, seperti Imam Said bin al Musayyib, Imam Malik, Imam Asy Syafi’i, Imam Ahmad, yang membatasi paling lama adalah empat hari, dianggap tidak memiliki dasar yang kuat oleh para imam muhaqqiqin. Begitu pula pendapat Imam Abu Hanifah yang menyebutkan lima belas  hari saja, dan ikuti oleh Imam Laits bin Saad.

Berkata Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah tentang bermukimnya Nabi selama dua puluh hari di Tabuk, bahwa hal tersebut kebetulan saja, artinya jika masa perang Tabuk lebih panjang dari itu, ia akan tetap mengqasharnya. Katanya, “Bermukim (singgah) dalam bepergian tidak dapat dianggap sudah keluar dari hukum bepergian, baik singgahnya lama atau sebentar, dengan syarat ia tidak bermaksud menetap di sana sebagai penduduk.”

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq, “Seorang musafir itu boleh terus mengqashar shalatnya selama ia masih dalam bepergian. Jika ia bermukim (singgah) karena ada keperluan yang harus diselesaikannya, ia tetap boleh mengqashar sebab masih terhitung dalam bepergian, walau bermukimnya selama bertahun-tahun lamanya.”

Imam Ibnul Mundzir berkata dalam penelitiannya bahwa para ulama ijma’ (sepakat) bahwa seorang musafir diperbolehkan tetap qashar selama ia tidak bermaksud akan terus menetap di suatu tempat, walau singgahnya itu selama bertahun-tahun. [17]

Inilah pandangan yang sangat kuat berdasarkan dalil yang kuat pula, baik perilaku Rasulullah dan para sahabat,  beserta pemikiran yang menyeluruh yang dipilih ulama peneliti seperti Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim, Imam Ibnul Mundzir, Syaikh Sayyid Sabiq,dan lain-lain.

Sekian. Wallahu A’lam

***

[1] HR. Bukhari No. 1111. Muslim No. 804
[2] Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Juz.1, Hal. 289.

[3] Ibid, Hal. 290
[4] Ibid, Juz. 1, Hal. 291.
[5] Imam An Nawawi, Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Juz.3, Hal. 17
[6] HR. Muslim No. 705.
[7] Dia adalah Abu Abdirrahman Ahmad bin Syu’aib bin Bahr. Lahir di kota Nasa di daerah Khurasan tahun 215 H, namun dia lebih memilih Mesir untuk tempatnya mengajar.  Dia seorang muhaddits (ahli hadits) cerdas, wara’, dan  Al Hafizh (bahkan sebagian orang ada yang menilainya lebih hafizh dibanding Imam Muslim). Beliau dikenal sangat ketat dalam mengkritik para perawi hadits, sehingga jika ada seserang yang dinilainya dhaif, maka ulama lain tidak terima begitu saja. Karyanya yang terkenal adalah As Sunan Al Kubra (dikenal dengan Sunan An Nasa’i), dan Al Mujtaba’ merupakan seleksi hadits-hadits shahih dari kitab As Sunan Al Kubra). Beliau berguru kepada banyak ulama, di antaranya Qutaibah bin Said, Ishaq bin Rahawaih, Hisyam bin Ammar, Muhammad bin Nashr Al Marwazi, dan lainnya. Muruid-muridnya yang terkenal adalah Abu Ja’far Ath Thahawi, Abu Awwanah, Abu Ja’far Al ‘Uqaili, Abu Ali An Naisaburi, dan lainnya. Wafat di Palestina (di Ramallah) 13 Shafar 302H (ada juga yang menyebut wafat di Mekkah Sya’ban 303H, namun yang benar adalah yang pertama)

[8] Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Juz. 1, Hal. 291. Dar Al Kitab Al ‘Arabi
[9] HR. Muslim No. 705
[10] HR. Ahmad No. 5866, 5873. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 5201, Ibnu Hibban No. 545 – Mawarid Azh Zham’an. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih. (Tahqiq Musnad Ahmad No. 5866), ada pun yang No.5873 kayanya: hasan.  Imam Al Haitsami mengatakan: “diriwayatkan oleh Ahmad, para perawinya adalah perawi shahih, dan juga oleh Al Bazzar dan Ath Thabarani dalam Al Awsath, sanadnya hasan. (Majma’ Az Zawaid, 3/162)
[11] HR. Bukhari dan Muslim, Al Lu’lu wal Marjan. Kitab al Fadhail, Bab Muba’adatuhu Shallallahu ‘alaihi wa Sallam  lil Atsam …,no. 1502. Darul Fikri. Beirut- Libanon
[12] Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Jilid I, hal. 239. Darul Fikri, Beirut – Libanon
[13] HR. Muslim No. 691.  Ahmad  No. 12335.   Abu Daud No. 1201,   Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 5231.  Abu Ya’la No. 4198. Shahih Ibnu Hibban, Juz. 11, Hal. 470, no. 2800, Abu ‘Uwanah dalam Musnadnya No. 2368. Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 8207
[14] Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Jilid I, hal. 240.

[15] HR.  Ahmad  No. 14172.  Abu Daud No. 1235.  Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 5260, Abdu bin Humaid dalam Musnadnya No. 1139, Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No. 4335. Ibnu Hibban No. 546, Mawarid Azh Zham’an. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih sesuai syarat Bukhari Muslim. (Tahqiq Musnad Ahmad No. 14172)
[16] HR. Bukhari No. 1080. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 5244
[17] Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Jild I, hal. 243. Dar Al Kitab Al ‘Arabi


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Tertipu dengan dunia lalai dengan akhirat

Menggapai Esok Yang Lebih Baik

Pemateri: Ust. Rikza Maulan S.Ag, M.Ag.

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ، قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ، قَالَ وَمَعْنَى قَوْلِهِ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ يَقُولُ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا قَبْلَ أَنْ يُحَاسَبَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ – رواه الترمذي

Dari Syadad bin Aus ra, dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda,

‘Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.'(Imam Turmudzi) mengatakan, ‘bahwa hadits ini adalah hadits hasan.

Dan makna dari sabda Rasulullah SAW ( دان نفسه ) ‘menghisab/ mengevaluasi dirinya’ adalah ( حاسب نفسه في الدنيا قبل أن يحاسب يوم القيامة ) ‘orang yang menghisab (mengevaluasi diri) di dunia sebelum dihisab pada hari akhir.’ (HR. Turmudzi)

Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari hadits ini. Diantara hikmah-hikmah tersebut adalah sebagai berikut :

1. Sebagai seorang muslim, hendaknya kita selalu melakukan muhasabah (baca ; evaluasi) dalam setiap aktivitas kehidupan kita, baik menyangkut aspek kehidupan dunia (aspek pekerjaan) maupun juga aspek kehidupan akhirat.

Karena berdasarkan hadits di atas, bahwa orang yang cerdas (baca ; sukses) adalah orang mengevaluasi dirinya sendiri dan beramal untuk kehidupan setelah kematiannya. Muhasabah atau evaluasi dapat dilakukan setiap pekan, setiap bulan, setiap triwulan, setiap semester, atau setiap setahun sekali.

Dengan harapan mudah-mudahan hari-hari ke depan selalu lebih baik dari hari-hari sebelumnya.

2. Mengevaluasi atau menghisab diri sendiri sangat penting dalam kehidupan seorang muslim.
Karena dengan evaluasi, seseorang dapat mengetahui porsinya dalam menjalankan ibadah kepada Allah SWT, baik terkait dengan orang lain (muamalah dan pekerjaannya), maupun terkait dengan hubungannya secara langsung kepada Allah SWT.

Dan demikian pentingnya evaluasi, hingga banyak ungkapan dari salafuna shaleh tentang evaluasi (muhasabah) diantaranya adalah :

a. Muhasabah akan meringankan hisab di yaumul akhir.

Dalam sebuah riwayat, Umar bin Khatab ra, mengatakan :

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ اْلأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا

Umar bin Khatab ra berkata, ‘hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kaliau untuk hari aradh akbar (yaumul hisab).

Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia.

b. Muahasabah merupakan ciri dan karakter orang beriman.

Maimun bin Mihran ra, salah seorang tabi’iin (40h – 117h) dalam sebuah riwayat disebutkan :

عَنْ مَيْمُونِ بْنِ مِهْرَانَ قَالَ لاَ يَكُونُ الْعَبْدُ تَقِيًّا حَتَّى يُحَاسِبَ نَفْسَهُ كَمَا يُحَاسِبُ شَرِيكَهُ مِنْ أَيْنَ مَطْعَمُهُ وَمَلْبَسُهُ

Dan dari Maimun bin Mihran bahwa ia berkata, seorang hamba tidak diakatan bertakwa hingga ia menghisab dirinya sebagaimana dihisabnya pengikutnya dari mana makanan dan pakaiannya.

c. Muhasabah merupakan kunci kesuksesan seseorang di dunia maupun di akhirat, – sebagaimana di sebutkan dalam hadits diatas -, bahwa orang yang cerdas (baca ; sukses) adalah orang yang mengevaluasi dirinya sendiri dan beramal untuk kehidupan setelah kematiannya…

d. Setiap orang kelak pada hari akhir akan datang menghadap Allah SWT dengan kondisi sendiri-sendiri untuk  mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya.

Allah SWT menjelaskan dalam Al-Qur’an :

وَكُلُّهُمْ ءَاتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا – (مريم 95)

“Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.”

يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (النور : 24)

Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.

3. Evaluasi atau muhasabah, hendaknya berimbang dalam aspek kehidupan baik dunia maupun akhirat.

Ibarat dua sayap burung yang sedang terbang, kedua sayap harus bergerak seimbang.

Demikian juga kita perlu seimbang dalam mengevaluasi antara aspek duniawi dan aspek ukhrawi.
Tidak seyogianya, muhasabah dilakukan hanya pada aspek dunia saja; seperti aspek pekerjaan, penghasilan, target dan sebagainya, namun muhasabah juga harus dilakukan pada aspek kehidupan akhirat, seperti aspek ibadah kepada Allah SWT.

Diantara hal-hal yang perlu dievaluasi dalam kehidupan kita adalah sebagai berikut :
a. Aspek Ibadah ( الجانب التعبدي )

Evaluasi aspek ibadah sangat penting, karena ibadah merupakan esensi dari keberadaan kita di dunia ini sebagaimana yang difirmankan Allah SWT,

“Dan tidaklah Aku mencipkatan jin dan manusia, melainkan agar mereka menyembah kepada-Ku.” (QS. Ad-Dzariyat : 56).

Oleh karenanya aspek ibadah perlu menjadi perhatian besar bagi setiap muslim dalam melakukan evaluasi atau muhasabah.

Secara garis besar, ibadah mencakup dua hal ; ibadah yang wajib dan ibadah yang sunnah.

Ibadah Wajib ( الفرائض )

Ibadah wajib adalah ibadah yang tidak bisa tidak, harus dikerjakan oleh setiap muslim.

Ibadah yang wajib ini minimal sekali adalah ibadah yang terdapat dalam rukun Islam; seperti shalat, puasa, zakat dan juga haji.

Masing-masing dari ibadah ini perlu kita evaluasi, seperti pada aspek shalat; sudah sempurnakan shalat kita?
Apakah kita mengerjakannya tepat pada waktunya?
Berjamaah di masjidkah shalat kita?, dsb.

Apabila kita mendapatkan kelemahan pada sisi shalat, misalnya jarang berjamaah di masjid, maka kuatkan azam untuk senantiasa dapat shalat berjamaah di masjid.

Demikian juga dengan aspek puasa (ramadhan). Apabila kita merasa banyak kekurangan dalam sisi ibadah puasa ramadhan tahun 1436 H lalu, misalnya masih banyak waktu digunakan untuk sesuatu yang kurang bermanfaat di bulan ramadhan.

Maka hari mendatang harus lebih baik dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Demikian juga dengan zakat dan juga ibadah haji.

Ibadah Sunnah ( النوافل )

Rasulullah SAW sendiri memberikan perhatian yang demikian besarnya pada aspek ibadah sunnah.

Perhatikan saja sebagaimana yang diakatakan Aisyah ra, bahwa Rasulullah SAW shalat malam hingga kedua kakinya bengkak-bengkak. (HR. Bukhari Muslim)

Kemudian bagaimana juga antusias beliau dalam berpuasa sunnah, dalam berdzikir, dalam memperbanyak istighfar dan taubat, dalam berbuat ihsan, dsb.

Oleh karena itulah, hendaknya ibadah-ibadah sunnah yang kita lakukan dievaluasi, untuk kemudian membuat program ibadah sunnah hari mendatang yang lebih baik dari saat ini.

b. Aspek Pekerjaan & Perolehan Rizki ( الجانب العملي والتكسبي )

Alhamdulillah, kita bekerja pada lingkungan pekerjaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman dan keimanan kepada Allah SWT.

Namun walau bagaimanapun juga kita semua adalah kumpulan manusia-manusia biasa, yang sangat mungkin terpeleset dalam lembah yang sangat dibenci Allah SWT, seperti praktik risywah, melalaikan amanah, mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya, manipulasi absensi, menjilat atasan – menginjak bawahan – sikut kiri kanan, ikhtilat dengan lawan jenis, dsb (na’udzubillah min dzalik).

Hal-hal tersebut perlu kita evaluasi, untuk kemudian kita lakukan perbaikan pada tahun yang akan datang.

Rasulullah SAW mengingatkan kita bahwa kelak pada yaumul hisab, semua akan dipertanyakan oleh Allah SWT, termasuk di dalamnya perihal perolehan rizki kita.

Demi Allah, bahwa Rp 500,- yang kita dapatkan pun kelak akan dimintai pertanggung jawaban dari Allah SWT (perhatikan teks hadits yang digaris bawahi):

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلاَهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ – رواه الترمذيٍ

Dari Ibnu Mas’ud ra dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda, ‘Tidak akan bergerak tapak kaki ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara;

1. umurnya untuk apa dihabiskannya,
2. masa mudanya, kemana dipergunakannya,
3. hartanya darimana ia memperolehnya &
4. kemana ia membelanjakannya,
5. serta ilmunya sejauh mana diamalkannya?’ (HR. Turmudzi)

Alangkah meruginya seseorang, yang apabila kelak di akhirat ia tidak bisa mempertanggung jawabkan rizki yang perolehnya, atau ada sesuatu yang “haram” masuk ke dalam rekening atau ke dalam kantongnya.

Karena demi Allah, itu semua kelak akan dimintai pertanggung jawaban dari Allah SWT. Para ulama mengatakan, bahwa salah satu ciri orang yang bertakwa adalah “berhati-hati” dalam sisi halal dan haramnya rizki.

Hadits di atas menggambarkan bahwa orang yang tidak bisa menjelaskan rizkinya yang diperolehnya dalam kehidupannya di dunia, kelak tidak bisa menggerakkan tapak kakinya dihadapan Allah SWT.

c. Aspek kehidupan sosial (hubungan antara sesama manusia)

Aspek ini juga merupakan aspek yang sangat penting untuk dievaluasi. Karena manusia adalah makhluk sosial, yang selalu membutuhkan orang lain dalam menjalankan aktivitas kehidupannya sehari-hari. Kita perlu mengevaluasi berkenaan dengan hubungan kita terhadap orang lain.

Misalnya, apakah selama ini kehadiran kita “menentramkan” orang lain yang ada disekitar kita?, atau justru sebaliknya; kehadiran, perkataan dan juga perbuatan kita selama ini menyakitkan hati orang atau bahkan mendzalimi orang lain? (na’udzubillah min dzalik). Sebuah hadits shahih mengingatkan kita :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ، فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ رواه مسلم

Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?”

Sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak punya uang dan tidak punya harta benda.” Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang kepada Allah SWT pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat. Namun ia juga datang membawa (dosa) suka mencela si Fulan, menuduh si Fulan, memakan harta si Fulan, mencederai darah si Fulan dan memukul si Fulan dsb.

Maka akan diberikanlahlah pahalanya kepada si Fulan dan si Fulan (orang-orang yang didzaliminya). Dan apabila pahala kebaikannya telah habis sebelum ia menuntaskan kepada orang-orang yang didzaliminya, maka diambillah dosa-dosa mereka lalu dilemparkan kepadanya, lalu ia pun dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Muslim)

4. Selain evaluasi atau muhasabah, setiap muslim juga perlu menanamkan visi dalam hidupnya, yaitu bahwa orientasi hidupnya adalah untuk kehidupan setelah kematiannya.

Hadits diatas menggambarkan demikian, bahwa orang yang cerdas (bacaa ; sukses) adalah orang yang mengevaluasi dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan setelah kematiannya”.

Sehingga sesungguhnya visi setiap muslim tidak hanya terbatas pada 5, 10 atau 20 tahun yang akan datang.

Namun visi seorang muslim adalah menembus dimensi kehidupan dunianya, hingga ke dimensi kehidupan akhirat (kehidupan setelah kematiannya).

Apabila visi seperti ini tertanam dalam diri setiap muslim, maka dapat dipastikan (insya Allah) bahwa dalam bekerja, beraktivitas, beribadah, dan dalam segala ativitas hidupnya, ia akan hanya memiliki orienasi kepada Allah dan karena Allah SWT semata. Dan inilah sesungguhnya implementasi dari firman Allah SWT :

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, (QS. Al-An’am : 162)

Jadi ternyata, untuk menjdi hamba Allah sejati yang dapat memasrahkan segala-galanya kepada Allah, cukup dimulai dengan dua hal sederhana dan dapat kita lakukan mulai sekarang juga, yaitu : pertama muhasabah (evaluasi) diri sendiri, dan kedua memiliki visi (beramal) untuk kehidupan akhiratnya.

Jadi marilah kita mulai dari sekarang, untuk melakukan muhasabah serta menanamkan visi yang menembus dimensi kehidupan dunia, ke dimensi kehidupan akhirat kita.

Wallahu A’lam Bis Shawab.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

larangan melihat aurat orang lain

Batalkah Shalat Jika Aurat Tersingkap?

Pertanyaan

Assalamualaikum wr wb, Afwan mau tanya soal sholat. Pertanyaan saya seperti ini pak, jika saya sedang sholat dg memakai celana, setelah sholat ternyata celana yang saya kenakan ini berlubang di bagian paha dan hingga memperlihatkan aurat saya, apakah sholat saya batal dan harus mengulangi sholat lg dengan menggunakan pakaian yang menutup aurat secara sempurna atau bagaimana ? Terimakasih atas jawabannya  Jazakumullah (Member I-19)

Jawaban

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan, SS

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ba’d:

Perlu diketahui, tentang batasan aurat laki-laki terjadi perselisihan para ulama, apakah paha termasuk aurat atau bukan.

Kami akan ringkas dari kitab Fiqhus Sunnah, Jilid 1, hal. 106-107. Karya Syaikh Sayyid Sabiq[1] Rahimahullah. Cet. Ke 4. 1983M/1403H. Darul Fikri, Beirut – Libanon.

1. Kelompok yang menyatakan bukan aurat, mereka punya beberapa dalil, kami ambil satu saja, yakni:

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata: “Pada waktu perang Khaibar, Nabi menyingsingkan pakaiannya dari pahanya sehingga aku melihat pahanya yang putih.” (HR. Ahmad dan Bukhari)

Berkata Imam Ibnu Hazm Rahimahullah,[2] “Maka, benarlah bahwa paha bukanlah aurat (bagi laki-laki), jika memang aurat kenapa Allah ‘Azza wa Jalla menyingkap paha Rasulullah yang suci, padahal beliau adalah manusia paling suci dan ma’shum (terjaga dari kesalahan) di antara manusia, baik pada masa kenabian dan kerasulan. (kalaulah aurat), tidak mungkin ia memperlihatkan aurat kepada Anas bin Malik dan lainnya. Allah ‘Azza wa Jalla telah menjaganya dari tersingkapnya aurat, baik ketika kanak-kanak dan sebelum masa kenabian …dst.”

2. Kelompok yang menyatakan bahwa paha laki-laki adalah aurat, mereka punya beberapa dalil, kami ambil satu saja, yakni:

Dari Jarhad Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lewat, saat itu pakaianku terbuka bagian pahaku. Beliau bersabda: “Tutupilah pahamu, sebab sesungguhnya paha adalah aurat.” (HR. Ahmad, Malik, Abu Daud, At Tirmidzi, ia mengatakan haditsnya hasan, sementara Imam Bukhari mencantumkan hadits ini dalam kitab Shahih-nya sebagai hadits mu’allaq)

Imam Bukhari[3] berkata, “Hadits dari Anas (kelompok 1) lebih kuat (sanadnya), sedangkan hadits dari Jarhad (kelompok 2) lebih menunjukkan sikap hati-hati.” Demikian kami ringkas dariFiqhus Sunnah Jilid 1.

Perlu diketahui, dalam memahami hadits yang nampak bertentangan, sebagaimana hadits 1 dan 2 di atas, maka para ulama memiliki kaidah untuk mengkompromikannya, di antaranya  Al Qaul muqaddamun ‘alal Fi’l (Ucapan Nabi   diunggulkan dibanding perbuatannya). Kita lihat, hadits 2 merupakan Qaul (ucapan Nabi bahkan perintah) sedangkan hadits 1 merupakan perbuatannya, bahkan bisa jadi perbuatan itu (menyingkap paha) terjadi tidak sengaja, sebab itu terjadi ketika perang.

Imam Al Qurthubi Rahimahullah[4] berkata:

أجمع المسلمون على أن السوأتين عورة من الرجل والمرأة، وأن المرأة كلها عورة، إلا وجهها ويديها فإنهم اختلفوا فيهما. وقال أكثر العلماء في الرجل: من سرته إلى ركبته عورة، لا يجوز أن ترى

 “Kaum  muslimin telah ijma’ (sepakat) bahwa kemaluan adalah aurat wajib di tutup baik laki-laki dan wanita, dan wanita seluruh tubuhnya aurat kecuali wajah dan kedua telapak tangannya, mereka berselisih tentang wajah dan kedua telapak tangan itu. Kebanyakan ulama mengatakan bahwa aurat laki-laki adalah dari pusar ke lutut, dan tidak boleh terlihat.” [5]

Bagi yang menganggapnya bukan aurat, tentu tidak masalah terlihat pahanya.  Tapi, anggaplah pandangan jumhur ulama bahwa paha adalah aurat,   merupakan pendapat yang lebih tenteram di hati. Apakah ketika shalat jika nampak paha, baik lama atau sebentar, karena tidak sengaja, lupa, lalai, akan membatalkan shalatnya?

Syaikh Wahbah Az Zuhaili Rahimahullah mengatakan:

وإذا انكشف بعض العورة في الصلاة مع القدرة على سترها بطلت صلاته، إلا إن كشفها ريح أو سهواً، فسترها في الحال فلا تبطل، كما تقدم سابقاً. وإن كشفت بغير الريح أو بسبب بهيمة أو غير مميز فتبطل

Jika tersingkapnya sebagian aurat ketika shalat dalam keadaan mampu untuk menutupnya (tapi dia tidak menutupnya, pen) maka batal shalatnya, kecuali jika tersingkapnya itu karena angin atau LALAI, lalu dia tutup maka itu tidak membatalkan shalatnya sebagaimana penjelasan lalu. Jika tersingkapnya bukan karena angin atau karena hewan atau bukan karena hal yang  luar biasa, maka itu batal. (Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 1/750)

Jadi, ketika dia ingat maka hendaknya dia tutup auratnya itu, dan itu tidak membatalkan salatnya. Lalu bagaimana jika ingatnya ketika sudah selesai shalat?

Syaikh Shalih Al Fauzan Hafizhahullah menjawab:

وما ورد في السؤال من أن هذا المصلي انكشف بعض عورته، ولم يعلم بذلك حتى فرغ من الصلاة، ونبَّهه الحاضرون

هذا فيه تفصيل: إن كان هذا الذي انكشف شيء كثير فإنه بعيد الصلاة، أما إن كان شيئًا قليلًا، ولم يتعمده فصلاته صحيحة إن شاء الله، بدليل أن عمرو بن سلمة رضي الله عنه، كان يصلي بأصحابه وهو صغير السن، فكان إذا سجد انكشف شيء من عورته، فيراه النساء من وراء الصف، ولم يعد الصلاة، وكان هذا في عهد النبي صلى الله عليه وسلم، فدل على أنه إذا انكشف شيء من العورة، وهو يسير ولم يتعمده أن صلاته صحيحة.

أما إذا تعمد ذلك فصلاته باطلة، ولو كان المكشوف شيئًا يسيرًا

وكذلك إذا لم يتعمد، وكان هذا الانكشاف كثيرًا فإنه يعيد صلاته لعدم تحقق الشرط

Ada pun pertanyaan tentang orang shalat yang terlihat auratnya, dan dia tidak mengetahui sampai selesai shalatnya, kemudian orang lain yang memberi tahu. Maka masalah ini ada perincian:

Jika yang tersingkap itu banyak, maka hendaknya dia mengulang shalatnya, ada pun jika sedikit dan dia pun tidak sengaja melakukannya maka shalatnya sah. Insya Allah. Dalilnya adalah bahwa Amru bin Salamah Radhiallahu ‘Anhu, ketika dia masih kecil shalat bersama sahabat-sahabatnya, ketika dia sujud auratnya tersingkap dan orang-orang di belakangnya melihatnya, dia tidak mengulangi shalatnya. Ini terjadi pada masa Nabi ﷺ, ini menunjukkan bahwa jika aurat tersingkap, jika itu  SEDIKIT dan  TIDAK SENGAJA maka shalatnya tetap sah.

Sedangkan jika SENGAJA maka shalatnya batal, walau pun aurat yang terbuka adalah aurat yang ringan.

Demikian juga jika TIDAK SENGAJA tapi yang tersigkap itu BANYAK maka dia mesti mengulangi shalatnya karena tidak memenuhi syarat-syarat sahnya shalat. (Majmu’ Fatawa, 1/257).

Demikian. Wallahu A’lam

***


[1] Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah adalah tokoh ulama Mesir dan da’i masa kini, karya monumentalnya Fiqhus Sunnah, adalah termasuk karya paling laris di abad ini,  semua orang Islam yang perhatian terhadap dunia ilmu pasti mengetahui kitab ini. Beliau adalah murid dari Imam Asy Syahid Hasan al Banna (w. 1949M) dan sekaligus salah seorang ‘alim pada organisasi Al Ikhwan Al Muslimun. Lantaran kitabnya ini, beliau mendapatkan perhargaan –bersama Dr. Yusuf al Qaradhawi hafizhahullah, dari Kerajaan Saudi Arabia, yakni King Faishal Award. Beliau wafat pada awal abad 21.

[2] Dia adalah Imam Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Said bin Hazm Al Andalusi Azh Zhahiri, lebih dikenal dengan Ibnu Hazm. Dia adalah seorang ulama brilian dan tegas, baik dalam masalah fiqih, hadits,  sejarah, dan dia bermadzhab Zhahiri (tekstualis).  Beliau lahir akhir Ramadhan 384  H (7 November 994M) dan dibesarkan di kota Qurthubah (Kordoba) di Andalusia (Spanyol), tepatnya di istana kementrian ayahnya. Karangannya mencapai 80.000 lembar, dan kitab Al Muhalla adalah kitabnya yang paling monumental dan mendapat pujian dari para ulama seperti Imam Izzuddin bin Abdissalam dan Imam Adz Dzahabi. Dia piawai berdebat, hujahnya kuat, dan seringkali keras. Oleh karena itu, selain mendapatkan banyak pujian, ia juga menuai kritikan karena gayanya itu. Wafat 28 Sya’ban 456H (15 Juli 1064M)

[3] Beliau adalah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah, lahir di Khurasan di daerah yang bernama Bukhara, pada saat setelah shalat Jumat 13 Syawal 194H. Itulah sebabnya setelah ia menjadi ulama, ia dikenal dengan sebutan Imam Al Bukhari, panggilan sehari-harinya adalah Abu Abdillah. Ia bermadzhab Syafi’i. Sesuai pengakuannya dia berguru kepada 1080 orang, Imam Ahmad bin Hambal adalah salah seorang gurunya. Ia seorang yang sangat cerdas, brilian, kuat hafalannya, ahli ibadah, zuhud, banyak shalat malam, dan itu sudah terlihat masa kecilnya. Usia sebelas tahun dia sudah mampu mengkritik para pengajar hadits di Kuttab (tempat belajar). Karya monumentalnya adalah Jami’ush Shahih (biasa disebut Shahih Bukhari), dan menjadi kitab paling shahih setelah Al Quran, menurut jumhurulama. Banyak pujian baginya baik dari ulama sezaman atau setelahnya. Wafat 256H, dan belum menikah karena waktunya dihabiskan untuk ilmu dan agama.

[4] Dia adalah Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakar bin Farh Al Anshari Al Khazraji, dikenal dengan Imam Al Qurthubi karena lahir di kota Qurthubah, pada 600H (1204M) . Dia adalah seorang ulama besar zamannya, karena ilmu dia meninggalkan kehidupan duniawinya. Karyanya sekitar tiga puluhan, yang paling terkenal adalah kitab Tafsir Al Kabir Al Jami’u Li Ahkamil Quran Al Karim. Dia bermadzhab Maliki. Wafat 671H (1273M).

[5] Imam Al Qurthubi, Jami’ Li Ahkam Al Qur’an, Juz. 12, Hal. 237, Dar Ihya’ at Turats, Beirut Libanon. 1985M/1405H.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Umat Mulia Karena Islam

Syiahkah Ibnu Sina?

Pertanyaan

Assalamualaikum. Bagaimana pendapat antum megenai BC berikut:

Tahukah mereka, siapakah Ibnu Sina?

Mari Menelisik Hakikat Ibnu Sina

Ibnu Sina – semoga Allah tidak meridhoinya- memiliki nama Al Husein bin Abdillah. Dia sangat terkenal di bidang kedokteran sehingga banyak orang memujinya dan mengabadikan namanya di bidang kesehatan, bahkan menisbahkannya dengan Islam. Padahal dia memiliki kesesatan yang Islam berlepas darinya.

Bacalah keterangan ulama sunnah, yang dulu maupun sekarang, tentang siapa Ibnu Sina. Agar kita tidak ikut latah memuji dan menyandarkan namanya sebagai  “Dokter Islam”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:  “Ibnu Sina itu seorang Syiah Rafidhah dari sekte Qaramithah. Dia mencela dan merendahkan kehormatan para shahabat radhiyallahu anhum.

Ibnul Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah berkata dalam Ighasatul Lahafaan 2/267 : “Imamnya orang-orang yang menyimpang itu adalah Ibnu Sina.”

Ibnu Sholah rahimahullah dalam Fatawa Ibnu Sholah 1/209 berkata:  “Ibnu Shina itu termasu salah satu setan dari kalangan setan manusia.”

Adz Dzahabi rahimahullah berkata dalam Mizanul I’tidal: “Aku tidak mendapati riwayat ilmu sedikitpun dari Ibnu Sina. Kalaupun ada ilmu darinya, tidak boleh mengambilnya. Hal itu karena dia seorang ahli filsafat, plagiat, dan sesat.”

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah mengomentari ucapan Adz Dzahabi di atas, mengatakan:  “Semoga Allah tidak meridhoi Ibnu Sina.”

Asy Syaikh bin Baaz rahimahullah berkata:  “Tidak layak bagi kaum muslimin menamai suatu tempat dengan nama Ibnu Sina atau Al Farabi, semoga Allah menjelekkannya.” ( Al Fawaid Al Jaliyyah karya Az Zahrany hal 37)

Asy Syaikh Shalih Al Fauzan

Syaikh yang mulia, semoga Allah memberi kebaikan kepadamu. Apa pendapatmu kepada orang yang memuji Ibnu Sina dan menjadikan dia termasuk salah satu ulama kaum muslimin, semoga Allah membalas kebaikan kepadamu ?

Jawaban

Orang yang mengatakan hal tersebut berada diantara dua kemungkinan.

1. Kemungkinan pertama dia adalah orang jahil dan tidak mengetahui keadaan Ibnu Sina, maka orang yang demikian tidak pantas untuk berbicara tentang Ibnu Sina, yang menjadi kewajibannya adalah diam.

2. Kemungkinan kedua, dia mengetahui keadaan asli Ibnu Sina, tahu kekafirannya, menetapkan hal tersebut, maka hukumnya sebagaimana Ibnu Sina dihukumi. Kita berlindung kepada Allah dari hal yang demikian. Karena dia mengetahui dan menetapkan kekafiran Ibnu Sina namun dia malah memberikan pujian kepadanya. Sungguh ini perkara yang berbahaya. Akan tetapi, sebagian orang yang memberikan pujian kepada Ibnu Sina, karena penghormatan bahwa dia seorang dokter saja. Ini merupakan perkara dunia. Dia (Ibnu Sina) seorang dokter dan diantara orang kafir ada dokter yang lebih ahli dari pada Ibnu Sina, maka mengapa hanya mengkhususkan pujian kepada Ibnu Sina?

Mereka katakan: “Karena Ibnu Sina itu menyandarkan dirinya kepada Islam, sehingga ini merupakan kebanggaan untuk Islam.”

Maka kita katakan: “Islam berlepas diri darinya dan Islam tidak membutuhkannya.”

Kesimpulannya, Ibnu Sina tidak layak untuk dipuji dan diberi rekomendasi, karena dia seorang penganut Syiah Bathiniyyah, ahli filsafat, atheis dan menyatakan bahwa alam ini ada dengan sendirinya.” (At Ta’liiq Al Mukhtashar ‘alal Qasiidah An Nuuniyah 3/ 1328)

Maka, berhentilah memuji Ibnu Sina. Islam tidak butuh sesuatu dari Ibnu Sina.


Jawaban :

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan, SS

Saya mencoba untuk pertengahan dalam hal ini ..

Aqidah Ibnu Sina dikafirkan itu masyhur .. dan sudah lama banget, diantara kekeliruan fatalnya karena mnurut Ibnu Sina kenabian itu bukan kehendak Allah tapi karena orang tersebut sholeh, berilmu  …,  kesalahan pemikiran ini disepakati para ahli ilmu.

Tapi, jangan lupa … orang-orang yang mengkafirkan Ibnu Sina pun tidak selamat dari pengkafiran, seperti yang dia alami .. seperti:

– Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim, karena ketidak kekalan surga dan neraka bagi mereka. Silahkan fatwa yang sangat keras dari Imam Ibnu Hajar Al Haitami kepada mereka dan doa-doa yang buruk juga

– Ibnu Rusyd, karena filsafat metafisikanya

– Syaikh Ibnu Baaz, Syaikh Utsaimin, dikafirkan dianggap mujassimah oleh kelompoknya Syaikh Abdullah Al Harari yaitu ahbasy

Juga ulama lain seperti As Suyuthi, Al Qasthalani, disebut imam kesyirikan ..

Dan lainnya ..

Tapi apakah gara-gara ini kebaikan para imam ini dibuang semua …? Apalagi jika dasarnya adalah kesalahpahaman yang berujung pada pengkafiran ..

Untuk Ibnu Sina, toh yang kita ambil dari Ibnu Sina bukan agamanya, tapi kedokteran semata … kenapa menerima archimedes, newton, pascall, tapi menolak Ibnu Sina ..? kalaulah Ibnu Sina kafir apa bedanya dengan nama-nama ilmuwan kafir barat ini? Jika dia kafir, anggaplah ini pendapat yang benar, maka dia tidak beda dengan ilmuwan lain yang bisa diambil ilmunya (kedokteran) atau ditolak ..

Wallahu A’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

kobarkan semangat jihad

Kuasai Medan, Waspadai Makar Kawan ! (Pertemuan ‘Ayn Jalut – September 1260)

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE. MPP

Pertempuran Ain Jalut (dalam Bahasa Arab:عين جالوت) yang artinya “Mata Air Jalut/Goliath” mempertemukan antara pasukan Muslim dari bangsa Mamluk melawan bangsa Mongol di sebelah tenggara Galilee. Lokasinya berada di lembah Jezreel tidak jauh dari desa Zir’in. Pertempuran ini menandai titik terjauh invasi Mongol ke arah barat-daya sekaligus untuk pertama kalinya mereka terhenti secara permanen.

Pada umumnya kekalahan ini ditimpakan kepada wafatnya Khagan Möngke Khan yang tiba-tiba. Sebuah kejadian yang memaksa Hulagu Khan sebagai pemimpin Ilkhanate Mongol untuk menarik sebagian besar pasukan intinya kembali ke Mongolia. Keadaan ini mengakibatkan Kitbuga berangkat perang dengan pasukan seadanya dalam jumlah yang sedikit untuk standar Mongol saat itu.

Kejadian Sebelumnya

Ketika Möngke Khan menjadi pemimpin bangsa Mongol pada tahun 1251 ia meneruskan cita-cita kakeknya (Genghis Khan) untuk menguasai dunia. Untuk menaklukkan wilayah barat ia mempercayakan kepada saudaranya yang bernama Hulagu Khan. Dibutuhkan 5 tahun untuk mengumpulkan kekuatan itu sehingga Hulagu baru bergerak pada tahun 1256 dari basis kekuasaannya di Persia. Ia mendapat mandat untuk memperlakukan secara wajar atas lawan yang menyerah dan menghancurkan mereka yang melawan. Ketika ia sampai ke kota Baghdad, balatentaranya sudah meliputi bangsa Armenia asal Cilicia dan bahkan pasukan Frank dari Kerajaan Antioch yang tunduk kepadanya.

Sekte Hashsasin di Persia jatuh ke tangan Hulagu, ibukota dan kekuatan Daulah ‘Abbasiyah yang berumur 500 tahun juga dihancurkannya, dan sisa Kesultanan Ayyubiyah di Damaskus juga menyerah. Rencana besar Hulagu adalah untuk terus maju menembus Kerajaan Latin di Jerusalem hingga ke perbatasan Kesultanan Mamluk di Mesir.

Utusan Mongol ke Mesir

Pada tahun 1260, utusan Hulagu menyampaikan pesannya kepada Sultan Qutuz di Kairo untuk segera menyerah dengan surat yang berbunyi:

“Dari raja diraja dari timur dan barat, Khan yang Agung, kepada Qutuz dari Mamluk yang luput dari tebasan pedang kami.

Engkau harusnya belajar dari apa yang dialami negeri-negeri lain dan sepantasnya tunduk kepada kami. Engkau tentu telah mendengar bagaimana kami menaklukan wilayah yang sangat luas untuk membersihkannya dari kotoran dunia yang mencemari. Kami telah membantai banyak negeri dan engkau tidak mungkin meloloskan diri dari kebengisan pasukan kami. Hendak lari kemana dan menggunakan jalan mana dari menghindari kami?

Kuda perang kami sigap, panah kami tajam, pedang kami seperti halilintar, hati kami seteguh gunung, dan pasukan kami sebanyak pasir di pesisir. Benteng manapun tidak akan mengungkung maupun menghentikan pasukan kami. Kami tidak tersentuh dengan tangisan maupun ratapan. Hanya mereka yang memohon perlindungan kami yang akan selamat.

Segerakan balasanmu sebelum api perang menyala. Melawan lah maka engkau akan merasakan kemalangan yang besar. Kami akan meremukkan masjid-masjidmu serta menunjukkan kelemahan tuhanmu lalu kami akan menghabisi anak-anak serta orangtuamu. Sekarang ini hanya engkau musuh yang harus kami datangi.”

Sultan Qutuz membalasnya dengan membunuh utusan Hulagu itu lalu melepaskan kepalanya untuk dipasang di Bab Zuweila, salah satu pintu gerbang benteng kota Kairo.

Pergantian Kekuasaan Mongol

Hulagu terpaksa pulang ke Mongolia bersama sebagian besar pasukan utamanya karena ia merupakan calon penerus potensial dalam suksesi kepemimpinan. Ia hanya menyisakan 1-2 tumen (kesatuan balatentara Mongol) sekitar 10-20 ribu personil atau sekitar satu divisi tentara modern. Ia meletakkan kepemimpinan sementara pada jenderal kepercayaannya yang bernama Naiman Kitbuqa Noyan; Kitbuqa beragama Kristen Nestorian.

*Sultan Qutuz Bergerak

Mendapatkan berita kepulangan Hulagu, Sultan Qutuz dari Mamluk segera memobilisir balatentaranya di Kairo dan segera bergerak masuk wilayah Palestina. Pasa akhir bulan Agustus, Kitbuqa membawa pasukannya menuju wilayah selatan melintasi sebelah timur Danau Tiberias menuju Galilee selatan dari basisnya di kota Baalbek.

Sultan Qutuz bersekutu dengan pemimpin Mamluk lainnya yang bernama Baibars yang juga bermusuhan dengan Mongol karena telah merebut kota Damaskus dan sebagian besar region Syam dari tangannya.

*Turbulensi Aliansi Mongol-Frank

Kekuatan Mongol telah mencoba menundukkan wilayah kerajaan Latin di Syam dan bahkan memberikan sinyal positif untuk sebuah aliansi. Namun, ide aliansi ini ditentang keras oleh Paus Alexander IV. Kerajaan-kerajaan kecil bekas wilayah Pasukan Salib di beberapa kota pesisir Syam mendapatkan tawaran untuk bergabung baik dari pihak Mongol maupun Mamluk.

Walaupun bangsa Mamluk merupakan seteru lama bangsa Frank, namun para pemimpin Pasukan Salib menyadari bahwa Mongol adalah ancama yang lebih besar. Untuk melihat perkembangan maka sebagian besar dari mereka memilih untuk tetap netral. Bahkan balatentara Mamluk tidak mengalami pencegatan ketika mendekati wilayah Franks; bahkan di kota Acre mereka dapat membeli logistik dan beristirahat. Ketika datang kabar bahwa Mongol telah menyeberangi sungai Jordan, maka Sultan Qutuz bergegas menuju arah tenggara guna mencegatnya.

Pertempuran

Pasukan Mongol bergerak lebih dahulu dalam pertempuran ini dengan mengerahkan elemen pasukan dari Kerajaan Georgia dan Armenia-Cilicia. Pasukan Mamluk memiliki keunggulan karena lebih memahami medan dan bersegera menduduki daerah yang lebih tinggi. Sultan Kitbuqa berharap dapat memancing serangan lawannya dengan menjadikan kesatuan dibawah Baibars yang jumlahnya lebih sedikit sebagai umpan.

*Pancingan Baibars

Kedua balatentara bertempur dalam waktu yang lama dimana Baibars menerapkan serangan hit-and-run guna memancing serbuan Mongol namun tetap menjaga keutuhan pasukannya. Ada yang menduga bahwa Baibars-lah yang merencanakan perangkap ini karena ia lebih lama mengenal daerah ini. Dalam serangan berat Mongol berikutnya, Baibars mendramakan sebuah kemunduran yang akhirnya berhasil memancing balatentara Kitbuqa ke area berhutan dimana sudah ditunggu oleh sebagian besar balatentara Mamluk.

Kitbuqa yang sudah mulai letih menghadapi taktik serbu-dan-lari Mamluk melakukan sebuah kesalahan fatal dengan memerintahkan pengejaran besar-besaran hingga ke perbukitan. Di area itulah pasukan Mongol terkaget dengan siraman anak panah dari pasukan Mamluk yang sudah lama bersembunyi. Bahkan pasukan kavaleri Mamluk juga bermunculan sehingga Kitbuqa dan pasukannya terkepung hampir dari semua arah.

Pasukan Mongol bertempur dengan gigih lagi agresif untuk menembus kepungan jebakan Mamluk. Sultan Qutuz mengintai dari kejauhan dengan kesatuan kawalnya dan memperhatikan bahwa sayap kiri pasukannya mulai terkalahkan oleh daya juang Mongol yang ingin melepaskan diri. Pada saat itulah, Qutuz dikabarkan melepas helmet-nya dan maju menyerbu sambil meneriakkan “Wa Islama!” (Wahai [para pejuang] Islam) bersama pasukan kawalnya. Tindakan beresiko ini memompa kembali daya juang pasukan Mamluk dan mereka bergerak ke sayap kiri yang mulai rapuh.

Pasukan Mongol terdesak hingga mundur ke sekitar desa Bisan yang dikejar oleh pasukan Mamluk yang dipimpin langsung oleh Sultan Qutuz. Sisa kekuatan Mongol tersebut masih sempat melancarkan serangan balasan yang kembali dipatahkan oleh Mamluk karena mereka lebih menguasai medan serta unggul secara psikologis. Setelah pertempuran berakhir, kesatuan kavaleri berat Mamluk telah melakukan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya; yaitu mengalahkan Mongol dalam pertempuran jarak dekat. Kitbuqa dan hampir seluruh pasukan Mongol musnah dalam pertempuran di Ain Jalut dan pengejaran selanjutnya.

Pertempuran ini juga sering dirujuk dalam sejarah sebagai pertempuran pertama digunakannya kanon tembak portabel yang dikenal sebagai “midfa” dalam istilah bahasa Arab. Alat tembak ini dipergunakan oleh Mamluk untuk menakuti pasukan berkuda Mongol serta membubarkan formasi tempurnya. Komposisi kimia bahan peledaknya menjadi ilmu penting yang dijabarkan dalam buku manual perang yang populer di Dunia Islam pada abad ke-14.

Kesudahan

Dalam perjalanan pulang menuju Kairo setelah kemenangan beaar di Ain Jalut, Sultan Qutuz dikudeta oleh beberapa amir Mamluk yang diduga kuat mendapat dukungan dari Baibars. Ia donobatkan menjadi sultan pengganti dan melalui perjuangannya kemudian berhasil menguasai wilayah terakhir Pasukan Salib di Syam pada tahun 1291.

Perebutan dan konflik internal bangsa Mongol juga menghalangi Hulagu Khan untuk mengonsolidasi kekuatannya guna membalas kekalahan di Ain Jalut. Berke Khan dari Golden Horde memeluk Islam dan menyaksikan langsung bagaimana sepupunya dari Ilkhanate menghancurkan Kekhilafahan ‘Abbasiyah walau saat itu hanya sebagai simbol kepemimpinan tertinggi sipirtual Islam.

*Surat Berke kepada (mendiang) Möngke

Sejarwan Muslim yang bernama Rasyiduddin Hamdani bahkan mencatat surat protes Berke kepada Möngke yang belum sepengetahuannya telah wafat di China sebagai berikut:

“Ia (Hulagu) telah menghamcur-leburkan seluruh kota kaum Muslimin hingga membunuh khalifah. Dengan izin Allah Ta’ala aku akan menuntut pertanggung-jawabannya atas sedemikian banyak darah orang tak berdosa yanv ia tumpahkan.”

Pihak Mamluk, yang mendapatkan informasi melalui jaringan agen rahasianya bahwa Möngke telah memeluk Islam ser5a tidak suka dengan sepupunya, berusaha untuk memupuk hubungan baik dengannya dan Khanate-nya.

Setelah suksesi di tubuh kepemimpina Mongol tuntas dengan Kublai menjadi Khan Agung maka Hulagu kembali ke wilayahnya pada tahun 1262 untuk mengumpulkan kekuatan guna menyerang Mamluk guna membalaskan kekalahan di Ain Jalut. Namun, Berke telah memulai kampanye militernya ke di perbatasan utara Ilkhaniyah dan manuver ini menarik perhatian Hulagu dari urusan Mamluk. Hulagu mengalami kekalahan telak ketika menginvasi wilayah Kaukasus pada thaun 1263. Ini adalah pertempuran antar suku Mongol pertama dalam sejarah yang berujung pada pecahnya kesatuan Kekaisaran Mongol hingga masa akhirnya.

Hulagu masih sempat mengirimkan balatentara kecil sejumlah 2 Tumen untuk menyerang Mamluk setelah itu dan inipun terkalahkan. Hulagu wafat pada tahun 1265 dan ia digantikan oleh anaknya Abaqa.

Agung Waspodo, mencatat bahwa penguasaan atas medan tempur adalah mutlak dan kesiagaan atas unsur-unsur makar internal harus selalu diwaspadai. Suatu hal yang telah tercatat dalam sejarah 755 tahun sebelumnya..

Pasar Minggu, 14 September 2015.. dalam commuter line, tetapi edisi bahasa Indonesia telat naik tayang sekitar 11 hari, maaf saya benar-benar lagi keteteran..

(Redaksi : sekali lagi, disamping kita belajar tarikh, kita juga dapat pelajaran berharga dari Ust Agung Waspodo tentang keberkahan waktu dan umur. Di tengah suasana Commuter Line yg jarang sepi dari penumpang, beliau masih bisa menpersembahkan tulisan yg bermanfaat, mengingatkan kita akan keberkahan waktu dan umur yg Allah karuniakan kepada para ulama semisal Imam Nawawi, dg umurnya yg relatif pendek, beliau banyak menghasilkan karya besar yg bermanfaat sepanjang masa. Fastabiqul khairoot !)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678