Memaksimalkan Ketersediaan, Mengoptimalkan MedanPerang

Sirah & Tarikh
Senin, 21 September 2015

✊Memaksimalkan Ketersediaan, Mengoptimalkan Medan
Perang✊

DR. Agung Waspodo

Kisah Awal Khalid Menjadi Panglima
Pertempuran Mu’tah – September 629

Pertempuran yang dalam bahasa Arab ditulis معركة مؤتة , غزوة مؤتة atau Ghazwah/Ma’rakah Mu’tah berlangsung pada tanggal 5 Jumadil Awwal 8 Hijriah ini berlangsung dekat desa Mu’tah di sebelah timur sungai Jordan, daerah Karak (Jordan), mempertemukan antara pasukan yang diutus Rasulullah Muhammad (saw) dengan kekuatan Byzantium.

Dalam sejarah ummat Islam, pertempuran ini berkaitan erat dengan upaya membalas tindakan pembunuhan suku Arab dari Banu Ghassan terhadap utusan Rasul (saw). Pertempuran ini dinilai sama kuat dimana kedua pihak mundur ke wilayahnya masing-masing. Tetapi, menurut sejarah Byzantium pasukan Muslimin kalah setelah ketiga pemimpinnya gugur.

Latar Belakang

Perjanjian Huaibiyah memberikan perdamaian sejenak antara kaum Muslimin di Madinah dan kekuatan Quraisy di Makkah. Pada masa itu, gubernur Sassania-Persia untuk Yaman yang dijabat oleh Badhan memeluk Islam sehingga banyak suku-suku Arab di selatan Jazirah Arab yang juga masuk Islam dan menjadi sekutu Madinah.

Pada masa perdamaian inilah Rasul (saw) mengirmkan utusan-utusannya untuk mengajak kepada Islam berbagai pemimpin di Jazirah Arab termasuk gubernur Byzantium untuk Provinsi Arabia. Surat yang dibawa oleh utusan untuk gubernur tersebut sejatinya surat kepada Kaisar Heraclius. Ketika utusan tersebut melintasi kota Bosra ia ditangkap oleh Banu Ghassan dan dieksekusi atas perintah kepala sukunya di dekat desa Mu’tah. Pasukan yang dikirim oleh Rasul (saw) untuk meminta pertanggung-jawaban Banu Ghassan ini adalah kekuatan terbesar yang pernah dimobilisasi di Madinah serta yang pertama dikirim memasuki wilayah Byzantium.

Mobilisasi Pasukan

Menurut sejarawan Muslim, Nabi (saw) memberangkatkan 3.000 pasukan pada bulan Jumadil Awwal 8 Hijriah dengan misi bergerak cepat dengan hirarki kepemimpinan pada Zayd ibn Haritsah (ra), Ja’far ibn Abi Thalib (ra), dan ‘Abdullah ibn Rawahah (ra)

Pemimpin Banu Ghassan telah mengetahui ekspedisi ini sehingga sempat memobilisasai kekuatannya sekaligus mengirim utusan untuk meminta bantuan kepada Byzantium. Kaisar Heraclius mengirimkan bantuan mengingat Banu Ghassan adalah sekutunya di perbatasan Arabia.

Ketika pasukan kaum Muslimin tiba di area tersebut mereka baru mengetahui besarnya jumlah pasukan Byzantium yang dikirim kaisar. Pada awalnya mereka ingin menunggu di tempat sambil meminta bantuan dari Madinah. ‘Abdullah ibn Rawahah (ra) mengingatkan kembali akan nilai tinggi bagi mereka yang gugur sebagai syuhada; hal ini mendorong pasukan berhentu menunggu dan bergerak menuju arah lawan.

Pertempuran

Kaum Muslimin terlibay baku hantam melawan Byzantium di dekat tendanya dan lini-belakangnya di desa Musyarif; namun tidak berimbangnya kekuatan menyebabkan kaum Muslimin harus mundur ke arah desa Mu’tah. Di tempat ini kedua pasukan bertempur kembali. Sember sejarah kaum Muslimin menyebutkan bahwa pertempuran berlangsung di sebuah ebah diantara dua bukit sehingga jumlah pasukan Byzantium menjadi tidak banyak memberikan keunggulan. Dalam pertempuran ini ketiga komandan perang gugur sebagai syuhada’ sesuai urutan hirarkinya.

*Khalid Menjadi Panglima

Dalam shahih al-Bukhari tercatat bahwa pada tubuh Ja’far (ra) ditemukan 50 bekas luka dan tidak ada satupun yang berada di bagian punggung (belakang). Kisah ini tercatat dalam Shahih al-Bukhari: 5/56/560 dari Ibn ‘Umar: “waqafa ‘alā Ja’farin yawma’idzin wa huwa qatīlun fa’adadtuhu bihi khamsīna bayna tha’natin wa dharbatin laysa minhā sya’un fī duburihi ya’nī fī zuhurihi.”

Setelah ketiga panglima yang ditunjuk Rasul (saw) gugur mulai terlihat tanda-tanda kepanikan pada pasukan kaum Muslimin. Seorang sahabat yang bernama Tsabit ibn al-Arqam (ra) memungut panji perang yang sempat terjatuh dan mengibarkannya sambil menyemangati pasukan kaum Muslimin. Inisiatif Tsabit (ra) ini menyelamatkan pasukan dari kepanikan dan pasukan menginginkan dia untuk bangkit memimpin. Tsabit (ra) menolak serta mengatakan bahwa yang lebih tepat adalah Khalid ibn al-Walid (ra).

Khalid (ra) sendiri mengabarkan di kemudian hari bahwa pertempuran Mu’tah begitu dahsyat sehingga ia sempat mengganti pedang sampai 9 kali karena terus patah, yang tertinggal hanyalah pedang tempaan Yaman (Shahih al-Bukhari: 5/59/565 dari Qays: “Laqad duqqa fī yadī yawma Mu’tata tis’atu asyāfin wa shabarat fi yadī shafihatun lī yamāniytun”)

Khalid (ra) menilai bahwa pertempuran ini sangat tidak berimbang dan hasilnya akan memperburuk kondisi kaum Muslimin sehingga ia menyiapkan rencana kemunduran. Untuk menutup rencana tersebut ia mengirimkan kesatuan kecil untuk terus melancarkan serangan terbatas seolah tidak hendak mundur. Namun Khalid (ra) menghindari serangan umum dan ia tercatat berhasil menewaskan seorang komandan Banu Ghassan yang bernama Malik.

*Tipuan Perang Khalid

Pada suatu malam Khalid (ra) merotasi posisi pasukan sehingga ia menempatkan di barisan terdepan mereka yang tadinya di barisan belakang lengkap dengan panji-panji yang baru; guna memberikan impresi datangnya bala bantuan bagi kaum Muslimin dari Madinah. Ia juga memerintahkan pasukan berkudanya untuk mundur ke belakang bukit pada malam hari serta kembali pada siang hari dengan membawa alat tambahan yang ditarik kuda guna menerbangkan debu sebanyak-banyaknya; guna memberikan impresi bahwa bala bantuan tambahan datang lagi. Tipuan-tipuan perang ini berhasil meyakinkan pihak Byzantium untuk mundur sehingga kaum Muslimin dapat mundur juga tanpa ancaman.

Korban yang jatuh pada pihak Muslimin yang tercatat adalah: Zayd ibn Haritsa (ra), Ja’far ibn Abi Thalib (ra), ‘Abdullah ibn Rawahah (ra), Mas’ud ibn al-Aswad (ra), Wahab ibn Saad (ra), ‘Abbad ibn Qais (ra), ‘Amr ibn Sa’d (ra) tetapi bukan anak Sa’d ibn Abi Waqqasy (ra), Harits ibn Nu’man (ra), Suraqah ibn ‘Amr (ra), Abu Kulaib bin Amr (ra), Jabir ibn ‘Amr (ra), dan Amir bin Sa’ad (ra); sedangkan korban lain tidak tercatat.

Pada pihak Byzantium terdapat jumlah korban yang begitu banyak jila dibandingkan dengan kaum Muslimin walau angka persisnya tidak diketahui.

Kesudahan

Sejarah mencatat bahwa pasukan Muslimin yang berhasil kembali ke Madinah mrndapatkan perlakuan yanv tidak sewajarnya karena diduga terhina karema melarikan diri dari pertempuran. Salah seorang komandan dari ekspedisi itu yang bernama Salamah ibn Hisyam (ra) bahkan memilih untuk shalat di rumah daripada harus ke masjid dan menjelaskan kedudukannya. Akhirnya, Rasul (saw) memerintahkan kaum Muslimin di Madinah untuk menghentikan tindakan itu karena pasukan ini akan kembali memerangi Byzantium pada masa yang lain; khalayak menghentikan aksi tidak simpatik itu. Pada masa inilah Rasul (saw) memberikan gelar “Pedang Allah” (Sayfullah) kepada Khalid ibn al-Walid (ra).

Analisis kekinian atas sejarah ini menunjukkan bahwa ia bukam sebuah kekalahan namun sebuah keberhasilan strategik. Salah satu argumentasinya adalah bahwa keberanian berhadapan langsung dengan Byzantium menaikkan pamor umat Islam di kalangan bangsa Arab sekaligus menyampaikan pesan kepada Byzantium bahwa ummat Islam ada. Para syuhada Mu’tah kini mendapatkan penghormatan serta pekuburan layaknya para pahlawan di Jordan. Bahkan sejarawan al-Balazuri mencatat bahwa kaisar Herclius memindahkan markas besarnya dari Damaskus ke Antoich setelah pertempuran ini.

Agung Waspodo, mencatat awal permulaan Khalid (ra) tercatat kejeniusannya sebagai panglima perang yang terlihat pada pengaturan tipuan dan penjatuhan mental lawan.. walau sudah 1.386 tahun yang berlalu.

Lenteng Agung, Jum’at 18 September 2015.. masih di bulan yang sama, di tengah padatnya Commuter-Line pada jam puncak kembalinya para pekerja ibukota ke arah Depok hingga Bogor.

Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM 

– Twitter: @GrupMANIS
– Blog: www.grupmanis.blogspot.com

 Sebarkan! Raih pahala…

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *