Beruntung Memiliki Istri Sholihah

Tugas Seorang Istri

Pertanyaan

Assamualaikum ustadzah..saya ingin bertanya. Tugas istri adalah mentaati suami, Bagaimana jika suami meminta saya(kami sekeluarga) tinggal bersama dirumah ibunya , meninggalkan pekerjaan saya dan membantu ibunya berjualan, sebenarnya saya mau tp di hati kecil saya, saya ingin membangun keluarga saya dengan kemandirian.apa permintaan suami saya, saya patuhi?jazakillah.

Jawaban

Oleh: Ustadzah Nurdiana
‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Ukhty sholehah sudahkah di sampaikan ke suami tentang keinginan membangun keluarga dengan kemandirian? Dan anti sudah pahamkah apa yang menjadi alasan suami kenapa disuruh tinggal bersama bundanya? Coba di diskusikan kembali bersama suami, kemukakan dengan bijak apa keinginan anti? Tapi kalaupun keputusan nya tetap harus tinggal bersama bundanya, maka lapangkanlah hati  untuk menerima, ikhlaskan diri untuk memulai kehidupan bersama mertua hal-hal yang sebaiknya anti pahami:

1⃣.Masalah ketaatan, istri wajib taat perintah suami sepanjang suami tidak mengajak pada kemaksiatan, Allah berfirman”Taatlah kamu kepada Allah, Taat lah kepada rasul dan ulil amri diantara kalian” suami pemimpin dalam rumah tangga, sehingga istri wajib taat pada hal  yang ma’ruf.

2⃣.Mertua tidak hanya bunda suami tapi juga harus anti anggap dan perlakuan seperti bunda sendiri, menghormati, mencintai dan bersikap  baik, menolong kesulitannya merupakan hal  yang ma’ruf yang akan membuat suami senang dan tambah sayang dengan anti, dan yakinlah saat kita berbuat baik kebaikan itu untuk diri kita sendiri, Allah berfirman, di dalam surat  al Isro ayat 7
“in ahsantun ahsantum li anfusikum,….barangsiapa berbuat baik maka kebaikannya kembali untuk dirinya”.

3⃣Bakti pada ortu atau mertua bisa jadi tiket ke surga.

4⃣Utamakan keutuhan keluarga dari pada mempertahankan pekerjaan anti yang mungkin anti merasa senang dengan pekerjaan itu dan berat untuk meninggalkannya karena sudah terbiasa punya uang dan mengelola uang sendiri, kami paham dengan segala keberatan dan bayangan ketidak nyamanan yang ada dalam fikiran anti, tapi percayalah tidak ada pengorbanan yang sia-sia bila kita niatkan untuk kebaikan, rezqi tidak selalu dalam bentuk harta, kebahagiaan keluarga, keutuhan, kebersamaan yangǥ dibangun karena cinta itu juga rezqi.

5⃣.Coba sholat hajat, minta kepada Allah petunjuk dankeputusan terbaik, sehingga apapun keputusannya kita bisa menerima dengan lapang dada
“Pengalaman keikhlasan yang penting adalah tunduk dan patuh pada sesuatu yang kita tidak setujui dan taat dalam keadaan terpaksa”(ust Anis Mata).

Ukhty banyaklah bersyukur dengan setiap potongan kisah perjalanan kehidupan rumah tangga anti, Alhamdulillah masih ada orang tua jadikanlah bakti anti ke orang tua menjadi sebab Rahmat dan kasih sayang Allah turun untuk anti dan keluarga.

Wallahu a’lam.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Dia Sering Menyakiti Perasaan ku..

Assalamu’alaikum…Afwan ustadz, Bagaimana kita harus bersikap untuk menghadapi seseorang yg secara tidak langsung dia menyakiti hati dan perasaan orang di sekitarnya, tapi dia tidak pernah merasa apabila dia berkata dan berbuat itu menyakiti saudara a.
Apakah akan kita tabayun sendiri atau menyerahkan kepada seseorang lebih berkafaah dengan urusan ini?-A13-

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ba’d:

Menghadapi orang yang menyakiti kita, ada beberapa cara:

📌 Reaksikan dengan sikap, seperti mendiamkannya dalam rangka memberikan pelajaran. Ini tidak dilarang dan bukan termasuk larangan “mendiamkan saudara melebihi tiga hari.” Rasulullah  ﷺ pernah mendiamkan tiga orang sahabatnya selama 50 hari karena mereka meninggalkan perang Tabuk tanpa alasan.
Orang-orang bijak mengatakan: “Orang biasa menyikapi hal buruk dengan perkataan dan orang ‘alim menyikapi yang tidak disukai dengan sikapnya.”

📌 Jika cara itu tidak membuatnya berubah, maka coba menasihatinya dengan baik. Allah ﷻ berfirman:
  وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

Dan berilah peringatan, sesungguhnya peringatakn itu bermanfaat bagi orang-orang beriman. (QS. Adz Dzariyat: 55)

📌 Jika ini juga tidak bisa, maka minta bantuan kepada orang lain yang mungkin bisa dia dengar nasihatnya. Biasanya orang yang dihormatinya.

Sebagaimana yang Allah ﷻ perintahkan kepada suami istri yang sedang berselisih, dalam ayat berikut:

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَماً مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَماً مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلاحاً يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيماً خَبِيراً

Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam (juru damai) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. An Nisa: 35)

📌 Jika ini masih belum mempan, maka serahkan kepada Allah ﷻ, yang penting kita sudah melakukan upaya-upaya ishlah (perbaikan).

Allah ﷻ berfirman:

فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ (21) لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ

Berilah peringatakan, tugasmu hanyalah memberi peringatan. Kamu tidaklah memiliki kekuasaan kepada mereka untuk memaksa. (QS. Al Ghasyiah: 21-22)

📌 Terakhir doakan dia, karena doa orang teraniaya tidak ada hijab (penghalang).  Nabi ﷺ bersabda:

وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ

Dan takutlah kalian terhadap doanya orang teraniaya, sebab tidak hijab (penghalang) antara dirinya dengan Allah ﷻ.  (HR. Muttafaq ‘Alaih)
Demikian.

Wallahu a’lam.

Menghajikan Orang Yang Sudah Wafat

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….fulanan sdh tdk memiliki ayah (meninggal) sebelum menikah , setelah menikah ,ia dan suami nya diberi kesempatan oleh Allah Swt menunaikan ibadah haji…beberapa tahun kemudian atas idzin ALLAH swt,suami fulanah mendapatkan rezeki lg untuk bs berhaji lg…pertanyaan nya adalah..boleh kan kesempatan haji ini dipake sang suami untuk membadalkan haji ayahnya fulanah?

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulilla wa Ba’d:

Syariat Islam membolehkan ibadah haji seseorang yang sudah meninggal, lumpuh, dan  tua bangka yang lemah, digantikan oleh orang lain atas nama  orang tersebut. (Istilahnya  badal haji). Berikut dalil-dalilnya:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَةً اقْضُوا اللَّهَ فَاللَّهُ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ

  Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa ada seorang wanita dari Juhainah datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu berkata: “Sesungguhnya ibuku telah bernadzar untuk pergi haji, tetapi dia meninggal sebelum berangkat haji, apakah saya atas nama ibu saya?” Beliau bersabda: “Ya, berhajilah untuknya, apa pendapatmu jika ibumu punya hutang? Bayarlah hutang kepada Allah, sebab hutang kepada Allah lebih layak untuk ditunaikan.”  (HR. Al Bukhari No. 1852, 7315)

  Berkata Imam Ibnu Hajar Al Asqalani Rahimahullah:

وَفِيهِ أَنَّ مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ حَجّ وَجَبَ عَلَى وَلِيّه أَنْ يُجَهِّز مَنْ يَحُجّ عَنْهُ مِنْ رَأْس مَاله كَمَا أَنَّ عَلَيْهِ قَضَاء دُيُونه

  “Dalam hadits ini, sesungguhnya seseorang yang meninggal dan dia wajib haji, maka wajib bagi keluarganya untuk mempersiapkan seseorang untuk  berhaji baginya yang biayanya dari pokok hartanya, sebagaimana keluarganya wajib membayarkan hutang-hutangnya.”    (Fathul Bari, 4/66)

   Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah menambahkan:

وفي الحديث دليل على وجوب الحج عن الميت، سواء أوصى أم لم يوص، لان الدين يجب قضاؤه مطلقا، وكذا سائر الحقوق المالية من كفارة، أو زكاة، أو نذر. وإلى هذا ذهب ابن عباس، وزيد بن ثابت، وأبو هريرة، والشافعي، ويجب إخراج الاجرة من رأس المال عندهم.
 
“Dalam hadits ini terdapat dalil wajibnya haji bagi orang mayit, sama saja  baik dia berwasiat untuk dihajikan atau tidak, karena membayar hutang adalah kewajiban yang mutlak, demikian juga semua hak-hak harta, baik berupa kifarat (denda), zakat, atau nadzar. Inilah pendapat Ibnu Abbas, Zaid bin Tsabit, Abu Hurairah, Asy Syafi’i, dan menurut wajib mengeluarkan ongkosnya dari harta pokoknya (modal).”   (Fiqhus Sunnah, 1/636)

​📌 Haji Untuk Yang Sudah Sangat Tua dan Lemah​

Badal haji ini juga boleh dilakukan untuk orang yang sudah sangat tua dan tidak punya kekuatan, hal ini didasari oleh riwayat dari Al Fadhl bin ‘Abbas bahwa seorang wanita dari daerah Khats’am bertanya:

  يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ فِي الْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَثْبُتَ عَلَى الرَّاحِلَةِ أَفَأَحُجُّ عَنْهُ قَالَ نَعَمْ وَذَلِكَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ
 
“Ya Rasulullah, sesungguhnya kewajiban Allah tentang haji ini, bertepatan dengan keadaan ayahku yang sudah sangat tua dan tidak mampu berkendaraan, apakah boleh menghajikan untuknya?” Beliau bersabda: “Ya,” dan saat itu terjadi pada haji wada’. (HR. Al Bukhari No. 1854, 4399)

Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang sudah sangat tua dan tidak mampu berkendaraan, boleh dihajikan oleh orang lain. Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata:

لحج عن الغير من استطاع السبيل إلى الحج ثم عجز عنه، بمرض أو شيخوخة، لزمه إحجاج غيره عنه، لانه أيس من الحج بنفسه لعجزه، فصار كالميت فينوب عنه غيره.

  “Orang yang sudah mampu untuk pergi haji kemudian dia menjadi lemah karena sakit atau karena usia lanjut, wajiblah baginya mencari pengganti untuk menghajikan dirinya, karena dia tidak ada harapan untuk melakukannya sendiri lantaran kelemahannya, hal ini tidak ubahnya seperti orang yang sudah meninggal dan digantikan oleh orang lain.”  (Fiqhus Sunnah, 1/637)

  Selanjutnya beliau berkata:

وقد رخص بعضهم أن يحج عن الحي إذا كان كبيرا وبحال لا يقدر أن يحج، وهو قول ابن المبارك والشافعي. وفي الحديث دليل على أن المرأة يجوز لها أن تحج عن الرجل والمرأة، والرجل يجوز له أن يحج عن الرجل والمرأة، ولم يأت نص يخالف ذلك.
 
  “Sebagian ulama telah memberikan keringanan untuk berhaji bagi orang yang masih hidup jika dia sudah sangat tua dan  sudah tidak ada kesanggupan melaksanakan haji. Inilah pendapat Ibnul Mubarak dan Asy Syafi’i. Hadits ini juga terdapat dalil bahwa wanita boleh menghajikan laki-laki dan wanita, dan sebaliknya juga laki-laki boleh berhaji untuk laki-laki dan wanita, dan tidak ada pernyataan yang bertentangan dengan ini.”  (Ibid)

​📌 Syarat Orang Yang Menghajikan​

  Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

شرط الحج عن الغير يشترط فيمن يحج عن غيره، أن يكون قد سبق له الحج عن نفسه.

  “Disyaratkan bagi orang yang menghajikan orang lain, bahwa dia harus sudah haji untuk dirinya dulu.”  (Ibid, 1/638)

Hal ini berdasarkan pada hadits berikut:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ قَالَ مَنْ شُبْرُمَةُ قَالَ أَخٌ لِي أَوْ قَرِيبٌ لِي قَالَ حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ قَالَ لَا قَالَ حُجَّ عَن نَفْسِكَ ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ

Dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendengar seorang laki-laki berkata: “Labbaika dari Syubrumah.” Rasulullah bertanya: :”Siapa Syubrumah?” laki-laki itu menjawab: “Dia adalah saudara bagiku, atau teman dekat saya.” Nabi bersabda: “Engkau sudah berhaji?” Laki-laki itu menjawab: “Belum.”  Nabi bersabda: “Berhajilah untuk dirimu dahulu kemudian berhajilah untuk Syubrumah.”  (HR. Abu Daud No. 1813, Imam Al Baihaqi mengatakan: isnadnya shahih. Lihat Al Muharar fil Hadits, No. 665)

  Hadits ini menjadi pegangan mayoritas ulama, bahwa orang yang ingin mewakilkan haji orang lain, di harus sudah berhaji untuk dirinya dahulu.

Berkata Imam Abu Thayyib Rahimahullah:

وَظَاهِر الْحَدِيث أَنَّهُ لَا يَجُوز لِمَنْ لَمْ يَحُجّ عَنْ نَفْسه أَنْ يَحُجّ عَنْ غَيْره وَسَوَاء كَانَ مُسْتَطِيعًا أَوْ غَيْر مُسْتَطِيع لِأَنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَآله وَسَلَّمَ لَمْ يَسْتَفْصِل هَذَا الرَّجُل الَّذِي سَمِعَهُ يُلَبِّي عَنْ شُبْرُمَةَ ، وَهُوَ يَنْزِل مَنْزِلَة الْعُمُوم ، وَإِلَى ذَلِكَ ذَهَبَ الشَّافِعِيّ . وَقَالَ الثَّوْرِيّ : إِنَّهُ يُجْزِئُ حَجّ مَنْ لَمْ يَحُجّ عَنْ نَفْسه مَا لَمْ يَتَضَيَّقْ عَلَيْهِ .

Menurut zhahir hadits ini, tidak dibolehkan orang yang belum menunaikan haji untuk diri sendiri menghajikan untuk orang lain. Sama saja, apakah orang tersebut mampu atau tidak mampu, sebab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak merinci keadaan laki-laki yang telah beliau dengar menjawab panggilan dari Syubrumah, sehingga hal itu menunjukkan keadaan yang umum, Inilah madzhab Asy Syafi’i. Sementara Ats Tsauri berkata: “Bahwa boleh saja orang yang belum haji dia menghajikan orang lain selama tidak menyulitkannya.”  (‘Aunul Ma’bud, 5/174).
Demikian.

Wallahu a’lam.

Anak Hasil Pernikahan Beda Agama

Assalamu’alaikum ustadz.bagaimana hukum nikahnya seorang wanita dgn seorang pria hasil pernikahan ortunya beda agama(ibu muslimah & ayah Nasrani).bolehkah?kl misal gak blh,klo dah telanjur apa yg hrs dilakukan ustadz?jazakallah

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Pernikahan beda agama, khusunya jika yg ​non muslim​ adalah PRIANYA, maka para ulama sepakat keharamannya.

📌 Allah Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman ​maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir.​ Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. (Al-Mumtahanah: 10)

Berkata Imam Al-Qurthubi Rahimahullah tentang ayat ​(maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir.​ Mereka (muslimah)  tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka ):

​”Yaitu Allah tidak menghalalkan wanita beriman untuk orang kafir, dan tidak boleh laki-laki beriman menikahi wanita musyrik​.

​(Imam Al-Qurthubi, Jamiul Ahkam, 18/63. Tahqiq: Hisyam Samir Al-Bukhari. Dar Alim Al-Kutub, Riyadh)​

Dalam As-Sunnah, adalah Zainab puteri Rasulullah menikahi Abu Al-Ash yang masih kafir. Saat itu belum turun ayat larangan pernikahan yang seperti ini. Ketika turun ayat larangannya, maka meninggalkannya selama enam tahun hingga akhirnya Abu Al-Ash masuk Islam. Akhirnya nabi mengulangi pernikahan mereka dengan akad yang baru.

Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma mengatakan:

​”Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengembalikan puterinya, Zainab, kepada Abu Al-Ash bin Ar Rabi setelah enam tahun lamanya, dengan pernikahan awal.​

​(HR. At Tirmidzi No. 1143, katanya, isnadnya tidak apa-apa. Ibnu Majah No. 2009, Abu Daud No. 2240, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak No. 2811, 6693, Ahmad No. 1876)​

Imam Ibnul Qayyim mengatakan, “Dishahihkan oleh Imam Ahmad.” (Lihat Tahdzibus Sunan, 1/357). Imam Al-Hakim menshahihkannya, katanya sesuai syarat Imam Muslim. (Al Mustadrak No. 6693). Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan: hasan. (Tahqiq Musnad Ahmad No. 1876). Syaikh Al-Albani menshahihkannya. (Irwa Al-Ghalil No. 1961)

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah mengatakan bahwa larangan tersebut adalah ijma, katanya:

​”Dan, telah menjadi ijma (konsensus) yang kuat atas haramnya wanita muslimah menikahi orang-orang kafir.​

(Imam Ibnu Qudamah, Al-Mughni, 15/203. Mawqi Al-Islam)

Kemudian …

Bagaimana anak yg dihasilkan dari pernikahan itu? Maka anak tersebut tidak sah dinasabkan ke ayah biologisnya. Sebab lahir dr perzinahan.

Jika anak itu wanita, maka dia boleh menikah dgn ber-walikan wali hakim, atau istilah kita; penghulu, yaitu wali yg berasal dari negara.

Ini sesuai hadits Nabi ​Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam​:

السلطان ولي من لا ولي لها

​Sultan (negara)  adalah wali bagi wanita yang tidak mempunyai wali.​ (HR. At Tirmidzi, Abu Daud, dll. Hasan)
Demikian.

Wallahu a’lam.

Hukum Cadar

Assalamualaikum ustadzah…saya mau menanyakan ttg hukum cadar/niqab/burq  a.. dan bagaimana dampaknya dgan dakwah disekitar kita. 🅰2⃣8⃣

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

1. Hukum Memakai Cadar

Memakai cadar atau niqab menurut para ulama hukumnya berbeda-beda.

Ada sebagian kalangan ulama yang justru mewajibkannya bagi wanita muslimah.

Ada juga yang hanya menyunnahkannya tanpa mewajibkannya, terutama dalam kondisi banyak fitnah.

a. Pendapat yang Mewajibkan
Mereka yang mewajibkan berangkat dari pendapat bahwa wajah itu bagian dari aurat wanita yang wajib ditutup dan haram dilihat oleh lain jenis non mahram. Dalil-dalil yang mereka kemukakan antara lain:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu`min, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka`. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Ahzab: 59)

Ayat ini adalah ayat yang paling utama dan paling sering dikemukakan oleh pendukung wajibnya niqab. Mereka mengutip pendapat para mufassirin terhadap ayat ini bahwa Allah mewajibkan para wanita untuk menjulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka termasuk kepala, muka dan semuanya, kecuali satu mata untuk melihat.

Para ulama yang tidak mewajibkan niqab mengatakan bahwa ayat ini sama sekali tidak bicara tentang wajibnya menutup muka bagi wanita, baik secara bahasa maupun secara `urf (kebiasaan). Karena yang diperintahkan justru menjulurkan kain ke dadanya, bukan ke mukanya. Dan tidak ditemukan ayat lainnya yang memerintahkan untuk menutup wajah.

Dalil lainnya yang juga sering dikemukakan adalah:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: `Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang nampak dari padanya.`(QS. An-Nur: 31).

Menurut mereka dengan mengutip riwayat pendapat dari Ibnu Mas`ud bahwa yang dimaksud perhiasan yang tidak boleh ditampakkan adalah wajah, karena wajah adalah pusat dari kecantikan. Sedangkan yang dimaksud dengan `yang biasa nampak` bukanlah wajah, melainkan selendang dan baju.

Namun riwayat ini berbeda dengan riwayat yang shahi dari para shahabat termasuk riwayt Ibnu Mas`ud sendiri, Aisyah, Ibnu Umar, Anas dan lainnya dari kalangan tabi`in bahwa yang dimaksud dengan `yang biasa nampak darinya` bukanlah wajah, tetapi al-kuhl (celak mata) dan cincin. Riwayat ini menurut Ibnu Hazm adalah riwayat yang paling shahih.

Dalil lainnya lagi adalah:

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا

Apabila kamu meminta sesuatu kepada mereka, maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti Rasulullah dan tidak mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar di sisi Allah.`(QS. Al-Ahzab: 53)

Para pendukung kewajiban niqab juga menggunakan ayat ini untuk menguatkan pendapat bahwa wanita wajib menutup wajah mereka dan bahwa wajah termasuk bagian dari aurat wanita. Mereka mengatakan bahwa meski khitab ayat ini kepada isteri Nabi, namun kewajibannya juga terkena kepada semua wanita mukminah, karena para isteri Nabi itu adalah teladan dan contoh yang harus diikuti.

Selain itu bahwa mengenakan niqab itu alasannya adalah untuk menjaga kesucian hati, baik bagi laki-laki yang melihat ataupun buat para isteri nabi. Sesuai dengan firman Allah dalam ayat ini bahwa cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka (isteri nabi).

Namun bila disimak lebih mendalam, ayat ini tidak berbicara masalah kesucian hati yang terkait dengan zina mata antara para shahabat Rasulullah SAW dengan para isteri beliau. Kesucian hati ini kaitannya dengan perasaan dan pikiran mereka yang ingin menikahi para isteri nabi nanti setelah beliau wafat.

Dalam ayat itu sendiri dijelaskan agar mereka jangan menyakiti hati nabi dengan mengawini para janda isteri Rasulullah SAW sepeninggalnya. Ini sejalan dengan asbabun nuzul ayat ini yang menceritakan bahwa ada shahabat yang ingin menikahi Aisyah ra. bila kelak Nabi wafat. Ini tentu sangat menyakitkan perasaan nabi.

Adapun makna kesucian hati itu bila dikaitkan dengan zina mata antara shahabat nabi dengan isteri beliau adalah penafsiran yang terlalu jauh dan tidak sesuai dengan konteks dan kesucian para shahabat nabi yang agung.

Sedangkan perintah untuk meminta dari balik tabir, jelas-jelas merupakan kekhusususan dalam bermuamalah dengan para isteri Nabi. Tidak ada kaitannya dengan `al-Ibratu bi `umumil lafzi laa bi khushushil ayah`. Karena ayat ini memang khusus membicarakan akhlaq pergaulan dengan isteri nabi. Dan mengqiyaskan antara para isteri nabi dengan seluruh wanita muslimah adalah qiyas yang tidak tepat, qiyas ma`al-fariq. Karena para isteri nabi memang memiliki standart akhlaq yang khusus. Ini ditegaskan dalam ayat Al-Quran.

`Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik,` (QS. Al-ahzab: 32)

b. Pendapat Kalangan yang Tidak Mewajibkan Cadar

Sedangkan mereka yang tidak mewajibkan cadar berpendapat bahwa wajah bukan termasuk aurat wanita. Mereka juga menggunakan banyak dalil serta mengutip pendapat dari para imam mazhab yang empat dan juga pendapat salaf dari para shahabat Rasulullah SAW.

– Ijma` Shahabat
Para shahabat Rasulullah SAW sepakat mengatakan bahwa wajah dan tapak tangan wanita bukan termasuk aurat. Ini adalah riwayat yang paling kuat tentang masalah batas aurat wanita.

– Pendapat Para Fuqoha Bahwa Wajah Bukan Termasuk Aurat Wanita.
Al-Hanafiyah mengatakan tidak dibenarkan melihat wanita ajnabi yang merdeka kecuali wajah dan tapak tangan. (lihat Kitab Al-Ikhtiyar). Bahkan Imam Abu Hanifah ra. sendiri mengatakan yang termasuk bukan aurat adalah wajah, tapak tangan dan kaki, karena kami adalah sebuah kedaruratan yang tidak bisa dihindarkan.

Al-Malikiyah dalam kitab `Asy-Syarhu As-Shaghir` atau sering disebut kitab Aqrabul Masalik ilaa Mazhabi Maalik, susunan Ad-Dardiri dituliskan bahwa batas aurat waita merdeka dengan laki-laki ajnabi (yang bukan mahram) adalah seluruh badan kecuali muka dan tapak tangan. Keduanya itu bukan termasuk aurat.

Asy-Syafi`iyyah dalam pendapat As-Syairazi dalam kitabnya `al-Muhazzab`, kitab di kalangan mazhab ini mengatakan bahwa wanita merdeka itu seluruh badannya adalah aurat kecuali wajah dan tapak tangan.

Dalam mazhab Al-Hanabilah kita dapati Ibnu Qudamah berkata kitab Al-Mughni 1: 1-6,`Mazhab tidak berbeda pendapat bahwa seorang wanita boleh membuka wajah dan tapak tangannya di dalam shalat

Daud yang mewakili kalangan Zahiri pun sepakat bahwa batas aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuai muka dan tapak tangan. Sebagaimana yang disebutkan dalam Nailur Authar. Begitu juga dengan Ibnu Hazm mengecualikan wajah dan tapak tangan sebagaiman tertulis dalam kitab Al-Muhalla.

– Pendapat Para Mufassirin
Para mufassirin yang terkenal pun banyak yang mengatakan bahwa batas aurat wanita itu adalah seluruh tubuh kecuali muka dan tapak tangan. Mereka antara lain At-Thabari, Al-Qurthubi, Ar-Razy, Al-Baidhawi dan lainnya. Pendapat ini sekaligus juga mewakili pendapat jumhur ulama.

– Perintah kepada Laki-laki untuk Menundukkan Pandangan.
Allah SWt telah memerintahkan kepada laki-laki untuk menundukkan pandangan (ghadhdhul bashar). Hal itu karena para wanita muslimah memang tidak diwajibkan untuk menutup wajah mereka.

`Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: `Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. (QS. An-Nuur: 30)

Dalam hadits Rasulullah SAW kepada Ali ra. disebutkan bahwa,

Janganlah kamu mengikuti pandangan pertama (kepada wanita) dengan pandangan berikutnya. Karena yang pertama itu untukmu dan yang kedua adalah ancaman/ dosa`. (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmizy dan Hakim).

Bila para wanita sudah menutup wajah, buat apalagi perintah menundukkan pandangan kepada laki-laki. Perintah itu menjadi tidak relevan lagi.

2. Cadar dan Lingkungan Sosial
Mengingat bahwa masih merupakan khilaf di kalangan ulama, maka tentu saja kita dihadapkan kepada dua pilihan.

Anggaplah kita memilih pendapat yang mewajibkan, maka tentu saja tidak perlu lagi kita pertimbangkan masalah lingkungan sosial. Cadar wajib dikenakan, tanpa harus memperhatikan urusan sosial.

Sebaliknya bila kita cenderung untuk menerima pendapat yang tidak mewajibkan, maka tentu saja urusan lingukngan sosial perlu kita perhatikan. Maksudnya, bila masyarakat masih belum bisa menerima kehadiran cadar, rasanya tidak perlu untuk kita paksakan. Toh tidak ada kewajibannya, sedangkan keresahan di tengah masyarakat tentu sangat merugikan posisi seorang da’i di lingkungannya.

Orang-orang akan memandang asing masalah cadar ini, bahkan akan muncul rasa antipati yang tidak produktif. Walhasil, kelancaran dakwah tentu akan sangat terganggu hanya lantaran urusan cadar yang tidak wajib.(sumber  era muslim.com)

Wallahu a’lam.

Shodaqoh yang Hitung2an??

Assalamu’alaikum ustadz. Apa yg dimaksud dg sedekah yg hitung2an. kalau bersedekah sesuai dg anggaran yg sdh disiapkan setiap bulan, kalau anggaran sedekah habis, tidak sedekah lagi walaupun ada yg membutuhkan (diagendakan utk sedekah bulan depan) krn khawatir mengganggu stabilas keuangan. Apakah ini termasuk sedekah yg hitung2an ?

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Sedekah dgn memperhatikan kondisi keluarga dulu adalah benar, sebab sedekah terbaik adalah ke keluarga sendiri.

دينار أنفقته في سبيل الله ودينار أنفقته في رقبة ودينار تصدقت به على مسكين ودينار أنفقته على أهلك أعظمها أجرا الذي أنفقته على أهلك

Dinar yang kau infakkan fisabilillah, dinar yang kau infakkan untuk membebaskan budak, dinar yang kau pakai untuk bersedekah ke orang miskin, dan dinar yang kau nafkahkan untuk keluargamu, ​maka pahala yang paling besar adalah dinar yang kau nafkahkan untuk keluargamu.

(HR. Muslim No. 995)

Sedekah memang mesti hitung-hitungan, agar tidak terlalu pelit dan tidak terlalu royal. Sedang-sedang saja.

Allah Ta’ala berfirman:

وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُواْ لَمۡ يُسۡرِفُواْ وَلَمۡ يَقۡتُرُواْ وَڪَانَ بَيۡنَ ذَٲلِكَ

“Dan orang-orang yang apabila berinfak (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, ​dan adalah (infak itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”​ (QS. Al Furqan: 67).

Saran saya, sedikit tapi rutin dan konsisten itu lebih baik .. dan lebih disukai oleh agama ..

Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَحَبُّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ مَا دَاوَمَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ وَإِنْ قَلَّ

Amal yg paling Allah cintai adalah yang konsisten dilakukan oleh pelakunya walau sedikit. ​(HR. Muslim no. 782)

Ayat dan hadits-hadits ini menunjukkan agar sedekah kita tidak asal sedekah tapi termenej dgn baik. Demikian.

Wallahu a’lam.

Satu Masjid Berdiri Dua Jamaah Saat Bersamaan

Assalaamu’alaikum. Ustadz mau bertanya: hukum shalat fardlu di masjid ada dua imam berjama’ah? Jazakillah khoir..

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Itu tidak boleh, namun Shalatnya tetap sah karena tidak ada Nash khusus yg melarangnya, hanya saja itu makruh sebab membuat gaduh dan bising, serta menyelisihi substansi berjamaah yaitu persatuan dan ikatan hati. Adanya dua jamaah disaat bersamaan di masjid yang sama, sangat  mungkin akan menimbulkan  perselisihan dan keretakan.

Syaikh Abdullah Al Faqih ​Hafizhahullah​ mengatakan:

وأما إقامة جماعتين في مسجد واحد في وقت واحد كما يظهر أنه موضوع السؤال، فذلك مكروه إذا قصد إليه، لما فيه من التشويش وتفريق الكلمة وخلاف مقصود الشارع من الائتلاف ووحدة الصف، وتزداد الكراهة إذا كان المسجد صغيرا لما في ذلك من زيادة التشويش

Ada pun mendirikan dua jamaah shalat di masjid yg sama dan waktu bersamaan, inilah yg tema pertanyaannya, adalah hal yg makruh. Sebab hal itu dapat membuat kekacauan, memecah belah, dan menyelisihi tujuan disyariatkan shalat berjamaah untuk menyatukan hati dan barisan. Kemakruhan semakin bertambah jika masjidnya kecil sehingga kegaduhan semakin besar.

(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 125990)

Sebagian lain membid’ahkan, Syaikh Sulaiman bin Fahd Al ‘Isa ​Hafizhahullah​ mengatakan:

إن إقامة أكثر من جماعة في مسجد واحد وفي وقت واحد بدعة لم تكن على عهد النبي –صلى الله عليه وسلم- وأصحابه – رضي الله عنهم- ، قال الزركشي في إعلام المساجد (ص 366) : ( تكرير الجماعة في المسجد الواحد خلف إمامين فأكثر كما هو الآن بمكة وجامع دمشق لم يكن في الصدر الأول ).

Mendirikan lebih dari satu jamaah di waktu yang sama dan di masjid yang sama, adalah bid’ah, tidak pernah terjadi pada masa Rasulullah ​Shallallahu’Alaihi wa Sallam​ dan para sahabatnya ​Radhiallahu ‘Anhum​.

Az Zarkasyi berkata dalam ​I’lam Al Masajid​ (Hal. 366):

​”Mengulang shalat jamaah di masjid yang sama di belakang dua imam atau lebih seperti yang terjadi saat ini di Mekkah dan Masjid Jaami’ di Damaskus belum pernah terjadi di masa awal Islam.”​ (selesai)

Maka, sebisa mungkin hindari kemungkinan berbilangnya jamaah shalat di masjid dan waktu yang sama.

Wallahu a’lam.

Penghasilan dari Pekerjaan yg Nyogok

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Ustadz, ana pernah dngar kalau orang yang lulus PNS dengan cara nyogok itu gaji yg ia terima nntinya dihukumi haram. Mhon penjelesannya ustad…

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

​Bismillah wal Hamdulillah ..​

Haramnya risywah/suap/sogok sudah jelas, dan dalil-dalilnya telah diketahui.

Lalu apakah seorang yg menjadi pegawai melalui jalan risywah maka penghasilannya juga haram? Ya, itu jelas haramnya. Sebab jika yg pokoknya haram maka cabangnya juga demikian. Dari akar yg haram tumbuhlah ranting yg haram.

Tapi, apakah ini selamanya? Tidak. Yaitu JIKA dia bertaubat dgn sebenar-benarnya, lalu dia menyedekahkan sebagian hartanya, serta memang dia punya kompetensi pada pekerjaannya. Maka, penghasilannya setelah pertaubatan itu halal, Insya Allah. Tapi, jika dia tidak bertaubat, tidak merasa bersalah, bahkan ada orang yang bangga dengan sogokannya, maka selamanya penghasilannya itu haram.

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid ​Hafizhahullah​ menjelaskan:

وإذا كنت قد تبت إلى الله تعالى ، وتتصدق ببعض المال ، كما ذكرت ، فلا حرج في بقائك في هذا المنصب بشرط أن تكون لديك الكفاءة للعمل فيه ، لأن تولي غير الكفء هو من خيانة الأمانة ، ولا يخفى ضرره على عامة الأمة .

​Jika Anda telah bertaubat kepada Allah Ta’ala, dan menyedekahkan sebagian harta seperti yg  Anda katakan. Maka, tidak apa-apa penghasilan Anda pada pekerjaan ini. Dengan syarat Anda memang memiliki kemampuan bekerja di situ. Sebab, diberikan tanggung jawab tanpa memiliki kemampuan adalah khianat terhadap amanah. Jelas ini berbahaya bagi banyak orang.​

​(Fatawa Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 112128)​

Wallahu a’lam.

Seputar Warisan

Assalamualaikum ustadz/ah..Begini kondisinya saat ini ada seorang ibu yang mempunyai 4 orang anak laki2 dan 1 orang perempuan… Saat ini beliau sudah dlm kondisi tidak sehat lagi…
Pertanyaan :
1. Anak laki2 nya tdk ada satupun yang mau mengurus beliau setiap harinya (kondisi beliau sudah tdk bs bangun dr tempat tidur) selama 4 bulan ini diurus oleh anak perempuannya.. Namun lama kelamaan karena urusan ngurus anak dan rumah serta urusan biologis sang suami dirumah jd agak terbengkalai alhasil suami sang istri ini jadi keberatan jika ortu sang istri kelamaan diurus dirumah sang istri krn kan ada anak laki2nya yang lain… Nah dlm hal ini bagaimana kewajiban dlm mengurus sang ibu ini ya?

2. C ibu meminta untuk rumah beliau dijual dan dibagi rata kepada 5 orang anaknya (4 orang laki2 dan 1 org perempuan) nah nanti pembagian ini termasuk kategori hibah atau warisan? Apa boleh dibagi rata, apa ada hitungan pembagian lain?

3. Jika ada harta warisan dr org tua yang mempunyai 2 orang anak (1 laki2 dan 1 perempuan)  namun anak perempuannya ini sudah meninggal… Apa jatah warisannya bisa diberikan ke anak2 dari anak perempuannya tersebut?

Mohon maaf atas borongan pertanyaannya… Mudah2an bisa segera mendapatkan jawabannya

Pertanyaan 🅰0⃣9⃣

Jawaban
—————

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
Pertama,
Rasulullah ﷺ bersabda:

“Siapakah yang berhak terhadap seorang wanita?” Rasulullah menjawab, “Suaminya” (apabila sudah menikah). Aisyah Ra bertanya lagi, ”Siapakah yang berhak terhadap seorang laki-laki?” Rasulullah menjawab, “Ibunya” (HR. Muslim).

Hadits di atas menjelaskan bahwa seorang anak laki-laki adalah milik ibunya, artinya sang anak bertanggung jawab atas ibunya, merawat dan menjaganya.

Akan tetapi pada kasus di atas anak laki-laki enggan merawat ibunya, maka solusinya adalah lakukan musyawarah dengan semua anaknya, kemudian bicarakan dengan baik. Jika tetap tidak ada anak laki-lakinya yang mau merawat, maka kewajiban anda sebagai anak perempuannya untuk merawat.

Masalah suami yang tidak mengijinkan, ini hanya masalah komunikasi yang kurang baik antara anda dan suami. Mungkin ada sikap anda yang membuat suami yang asalnya mengijinkan lalu sekarang keberatan. Hilangkan penyebab dari keberatan suami itu. Kalau anda tidak tahu, tanyakan padanya apa saja sikap anda yang membuat dia keberatan dan lakukan negosiasi yang baik. Kalau komunikasi empat mata tidak bisa, mintalah bantuan pihak ketiga yang disetujui suami dan anda. 

Soal kedua,
Islam agama rahmatal lil’alamin, dalam pembagian warisan anak laki-laki mendapatkan dua kali bagian dari anak perempuan bukan berarti tidak adil, tetapi karena islam menitikberatkan pada berat ringanya pada tanggung jawab.

Sesuatu hal jika tidak sesuai dengan aturan yang sudah ada maka hukumnya haram. Harta pusaka itu wajib dibagi menurut semestinya sesuai dengan hukum yang telah ditentukan dalam alquran.

“Dan janganlah sebagian kamu makan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang batil.” (QS Al-Baqarah: 188)

Kalaupun orang tua ingin memberikan harta lebih kepada anak perempuanya ada satu cara yaitu dengan cara wasiat, namun wasiat ini tidak boleh lebih dari sepertiga harta kekayaannya kecuali apabila diijinkan ahli waris sesudah matinya yang berwasiat.

“Sesungguhnya Allah menganjurkan untuk bersedakah atasmu dengan harta sepertiga harta pusaka kamu. Ketika menjelang wafatmu, sebagai tambahan kebaikanmu.” (HR. Ad Daru Quthni dari Mu’ad bin Jabal)

Ketiga,
( Ada contoh kasus yg hampir sama)
Senin, 27 Rabiul Awwal 1438 H / 26 Desember 2016

Home » Mawaris » Hak Waris Cucu dari Anak Perempuan

Hak Waris Cucu dari Anak Perempuan

Muhammad Lukman – Rabu, 25 Safar 1428 H / 14 Maret 2007 11:08 WIB

Assalamu ‘alaikum wr wb.

Kami terdiri dari 5 bersaudara (1 laki-laki dan 4 perempuan) Ibu kami telah meninggal dunia tahun 2000 dan mempunyai 2 orang kakak laki-laki (paman kami), pada tahun 2005 dan 2006 kedua kakek dan nenek kami meninggal dunia dan mewariskan sebuah rumah.

Bagaimanakah pembagian hak waris Ibu kami, apakah kami sebagai cucunya juga mendapatkan hak atas hak waris Almarhum Ibu kami karena menurut Paman kami, kami tidak berhak mendapatkan warisan sedangkan kami sangat membutuhkan.

Sebelumnya kami ucapkan terima kasih,

Wassalam

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dalam hukum waris secara Islam, memang dikenal sebuah aturan hijab. Hijab artinya penutup. Maksudnya bahwa seorang yang termasuk dalam daftar ahli waris tertutup haknya -baik semua atau sebagian- dari harta yang diwariskan.

Sehingga orang yang terhijab ini bisa berkurang haknya atau malah sama sekali tidak mendapatkan harta warisan. Kalau hanya berkurang, disebut dengan istilah hijab nuqshan. Sedangkan kalau hilang 100%, disebut dengan istilah hijab hirman.

Yang menyebabkan adanya seorang ahli waris terhijab adalah keberadaan ahli waris yang lebih dekat kepada almarhum. Ketika seorang meninggal dunia dan meninggalkan anak dan cucu, maka yang mendapat warisan hanya anak saja, sedangkan cucu tidak mendapat warisan. Karena kedudukan cucu lebih jauh dari kedudukan anak. Atau boleh dibilang, keberadaan anak akan menghijab cucu dari hak menerima warisan.

Dan dalam kasus ini, hijab yang berlaku memang hijab hirman, yaitu hijab yang membuat si cucu menjadi kehilangan haknya 100% dari harta warisan.

Ada dua ilustrasi yang mungkin bisa membantu pemahaman ini. Ilustrasi pertama, mungkin anda bisa memahaminya dengan mudah. Tapi yang sering kurang dipahami adalah ilustrasi kedua, karena agak aneh namun memang demikian aturannya.

Pada diagram sebelah kiri, ktia dapati ilustrasi pertama. Seorang almarhum yang wafat, maka anaknya akan mendapat warisan. Namun cucunya yang posisinya ada di bawahnya, jelas tidak akan dapat warisan. Karena antara cucu dengan almarhum, dihijab oleh anak.

Pada diagram yang di sebelah kanan, almarhum punya 2 orang anak, anak 1 dan anak 2.Anak 2 punya anak lagi dan kita sebut cucu [anak2]. Seandainya anak 2 wafat lebih dahulu dari almarhum, maka cucu [anak2] tidak mendapat warisan.

Mengapa?

Karena almarhum masih punya anak 1, maka anak 1 ini akan menghijab cucu [anak 2]. Sehingga warisan hanya diterima oleh anak 1 sedangkan cucu [anak2] tidak mendapat warisan. Dia terhijab oleh pamannya, yaitu anak 1.

Walaupun dalam diagram itu, tidak ada penghalang antara cucu dengan almarhum, namun keberadaan anak akan menghijab cucu, meski cucu itu bukan anak langsung dari anak.
*dari berbagai sumber

Wallahu a’lam.

Obat Penyakit

Assalamualaikum ustadz/ah…Aku mau nanya, apakah penyakit fisik juga berawal dr penyakit hati? Kalau memang iya, adakah pengobatan yg mujarab?

🐝🐝🐝Jawaban

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Penyakit fisik ada yg disebabkan fisik saja, ada juga yang disebabkan kondisi dan suasana hati. “Semangat hidup”, “sugesti”, rasa syukur, merupakan suasana hati positif yg meresisten penyakit.

Obat mujarabnya adalah membaca Al quran dan dzikrullah, selain tentunya pengobatan medis.
Ada ibu2 yg cerita ke saya, suaminya kanker otak, dokter udah nyerah, dan memvonis sampai 6 bulan saja hidupnya. Tapi, suaminya selalu tilawah .. Alhamdulillah sampe sekarang masih hidup dan aktifitas biasa.

Wallahu a’lam.