Barisan Perfeksionis Itu Selalu Ada Bersama Ummat

πŸ“† Kamis, 14 Rajab 1437H / 21 April 2016

πŸ“š SIROH DAN TARIKH

πŸ“ Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

πŸ“ Barisan Perfeksionis Itu Selalu Ada Bersama Ummat

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸ

Catatan Awal April, Antara Tahun 2016 dan 1453

Sejak dua hari yg lalu, 2 April, 563 tahun yang silam, barisan terdepan kepanduan sultan Mehmed II telah berdatangan ke pinggiran barat dinding kota Konstantinopel. Mereka telah menduduki titik-titik strategis yang telah dipilih sejak perencanaan teknis ditetapkan dua tahun sebelumnya. Tenda sultan juga sudah disiapkan di bukit Maltepe yang berhadapan tidak jauh dari Istana Blachernae. Mengharukan, selalu ada angkatan muda pegiat dan pelopor kebaikan dalam tubuh Ummat ini. Membanggakan, selalu ada pundak-pundak muda diantara Kaum Muslimin yang siap menanggung beban berat perjuangan da’wah dengan hati yang ringan.

Mereka menjadi pengarah bagi 80-200 ribu balatentara Turki Utsmani yang menyusul di belakangnya. Mereka memastikan setiap kesatuan berada di zonanya dan setiap perbekalan mengalir sesuai jalur logistiknya. Mereka telah memetakan jalur serbu, rute evakuasi korban, jadwal dapur umum, agenda ta’lim ruhi, serta musholla lokal dan jadwal imam. Mereka juga memastikan dermaga di Beşiktaş, ÜskΓΌdar (Scutari), dan Studios telah siap menampung armada laut Turki Utsmani. Mereka juga telah menandai jalur tebang mendaki yang akan mengitari Galata. Mencengangkan, selalu ada shaf para perfeksionis yang membimbing ummat menuju kejayaannya.

Diantara yang menjadi fokus perhatian mereka adalah mengamankan zona khusus yang akan ditempati kanon Urbanus. Senjata bermesiu dengan kaliber terbesar dan proyektil terberat di zamannya menjadi keunggulan teknologi tersendiri bagi Kaum Muslimin. Untuk menghadirkan alat militer tercanggih mereka telah memastikan jalan, jembatan, serta hewan dan awak penariknya siap sepanjang rute aman. Mengharu-birukan, selalu ada barisan para salihin yang dengan kadar keihsanannya membuat mereka dipuji oleh Nabi SAW sejak Perang Khandaq dalam hadits Latuftahanna delapan abad sebelumnua.

Turut bersama rombongan kepanduan ini adalah gurunda Mehmed II muda yang bernama Aq Şemsettin (Ak Syamsuddin). Beliau memiliki agenda khusus yaitu mengamankan zona pusara seorang sahabat Nabi SAW. Abu Ayyub al-Anshari (ra) telah lebih dahulu menghadap Allah Ta’ala di medan palagan ini 800 tahun sebelumnya. Peletakan batu pertama kompleks peziarah sudah dicanangkan sebagai bagian dari penghormatan atas ke-13 angkatan Latuftahanna sebelumnya. Menggetarkan, selalu ada alim-ulama yang mempertautkan kisah kepahlawanan masa lampau dengan gelora perjuangan masa kini.

Bagian Pertama, Latuftahanna
Menyongsong Napak Tilas Fatih

Sebelum dan sesudah waktu subuh,
Depok, 4 April 2016
Agung Waspodo

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸπŸŒΉ

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

πŸ’Ό Sebarkan! Raih pahala…

Junudan Lam Tarawha (Tentara Allah yang Tak Terlihat)

πŸ“† Kamis, 14 Rajab 1437H / 21 April 2016

πŸ“š SIROH DAN TARIKH

πŸ“ Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

πŸ“ Junudan Lam Tarawha (Tentara Allah yang Tak Terlihat)

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸ

 20 Maret, 1389 tahun yg lalu, miladiyah:

Kaum Muslimin bersama Rasulullah SAW telah bertahan 27 hari di belakang parit. Mereka menggali parit pertahanan (khandaq) utk mempertahankan eksistensi peradaban Islam di kota Madinah yang baru berumur 5 tahun.

Pengepungan oleh kaum Musyrikin Quraisy dan sekutunya (ahzab) Banu Ghatafan itu mengalami kebuntuan. Frustasi berkepanjangan koalisi yg juga melibatkan Yahudi itu semakin diliputi perpecahan serta kecurigaan di kalangan mereka sendiri. Setelah krisis itu mendekati puncaknya, dikirimlah Nu’aim ibn Mas’ud oleh Rasulullah SAW utk mengadu berbagai kepentingan lawannya.

πŸ”…Tengoklah betapa perpecahan justru menghebat di barisan Kaum Muslimin sekarang ini. Mulailah mencari titik temu diantara ahlus sunnah wal jama’ah dan janganlah biarkan kita meruncing dalam perbedaan.

Taktik itu berhasil dan Allah SWT menggenapkan azab kepada musuhNya dengan mengirimkan angin kencang (riihan) serta tentaraNya yang tidak nampak (junudan lam tarawha). Pertolongan Allah Ta’ala itu dekat, amat dekat, namun hal itu tidak menghentikan usaha Rasul dan para sahabatnya untuk berjuang. Mereka generasi terbaik telah berjuang tanpa kenal lelah dan berkorban sampai batas-batas terujung. Begitu pula harusnya kita pada generasi penghujung masa..

Manggarai, jam delapan pagi, 2 April 2016
Agung Waspodo menuju acara Latuftahanna*..

*(Red : penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al Fatih, 23 April 2016 08:00-11:00 di Great Saladdin Square – Margonda Depok)

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸπŸŒΉ

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

πŸ’Ό Sebarkan! Raih pahala…

Konsekuensi Sebuah Perjanjian (Kisah Perjanjian Hudaibiyah, Bagian Ketiga)

πŸ“† Kamis, 7 Rajab 1437H / 14 April 2016

πŸ“š SIROH DAN TARIKH

πŸ“ Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

πŸ“ Konsekuensi Sebuah Perjanjian
(Kisah Perjanjian Hudaibiyah, Bagian Ketiga)

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸ

Janji setia (bai’ah) di Hudaibiyah itu dimulai oleh 2 sahabat Nabi SAW yang bernama Abu Sinan al-Asadi (ra) dan Salamah ibn al-Akwa (ra). Mereka berdua berjanji 3 kali untuk siap hingga titik darah penghabisan di jalan Allah pada bagian depan, tengah, maupun akhir dari barisan Kaum Muslimin. Demikian tingginya animo pembelaan terhadap Rasulullah SAW di kalangan sahabat pada masa tersebut membuktikan betapa mulianya generasi as-Sabiqunal Awwalun.

Perjanjian Kesetiaan ini dilaksanakan di bawah sebuah pohon dimana Rasul SAW diapit oleh ‘Umar (ra) dan Ma’qil ibn Yasar (ra). Allah SWT memuji peristiwa ini dan mengabadikannya pada Surah al-Fath (48) ayat ke-18: “Sesungguhnya, Allah meridhai atas orang-orang mukmin ketika mereka berbai’at kepadamu (Muhammad) di bawah pohon. Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberikan balasan dengan kemenangan yg dekat,” Demikianlah penghargaan tertinggi dari Allah Ta’ala pantas didapatkan oleh generasi terbaik dari Ummat ini.

Melihat teguhnya pendirian Kaum Muslimin serta kesiapan mereka untuk berjuang sampai titik Sarah penghabisan, kaum Musyrikin Quraisy menyadari bahwa rombongan ini tidak dapat dicegah begitu saja. Oleh karena itu, mereka mengirimkan lagi utusan untuk meminta perdamaian dengan sejumlah syarat.
πŸ”…Tarkadang, permasalahan ummat ini tidak membutuhkan terlalu banyak strategi kecuali teguh dalam pendirian serta konsisten dengan ajaran Islam.

Hasil perjanjian (sulhun) Hudaibiyah berisikan 5 butir kesepakatan:

1⃣ Kaum Muslimin harus balik arah dan pulang ke Madinah, akan tetapi tahun depan mereka boleh umroh ke Makkah selama tiga hari,

2⃣ Kaum Muslimin ketika kembali tidak boleh bersenjata kecuali pedang yang tersimpan di dalam sangkurnya dan diletakkan di dalam tas,

3⃣ Seluruh agresivitas Perang antara Kaum Muslimin dan Musyrikin Quraisy dihentikan selama 10 tahun, kedua belah pihak hidup dalam kedamaian dan tidak saling serang,

4⃣ Jika seorang dari Quraisy berpindah ke barisan Muhammad tanpa persetujuan sukunya, maka ia harus dikembalikan; sedangkan jika seorang dari Madinah berpindah ke barisan Quraisy maka ia tidak dikembalikan,

5⃣ Siapapun yang hendak bergabung ke barisan Muhammad atau mengikat perjanjian dengannya maka ia bebas melakukannya; sebagaimana halnya dengan siapapun yang ingin bergabung dengan Quraisy atau mengikat perjanjian dengan mereka maka ia bebas melakukannya.

Secara sepintas perjanjian ini sepertinya merugikan Kaum Muslimin sehingga ada sahabat yang sulit menerima kenyataan tersebut. Namun, Rasulullah SAW menerimanya dengan berbagai pertimbangan yg matang dan jauh ke depan.

Bersambung ke bagian keempat

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸπŸŒΉ

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

πŸ’Ό Sebarkan! Raih pahala…

Ketika Kesetiaan Kaum Muslimin Ditempa Sekali Lagi (Kisah di Hudaibiyah Bagian Kedua)

πŸ“† Kamis, 7 Rajab 1437H / 14 April 2016

πŸ“š SIROH DAN TARIKH

πŸ“ Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

πŸ“ Ketika Kesetiaan Kaum Muslimin Ditempa Sekali Lagi
(Kisah di Hudaibiyah Bagian Kedua)

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸ

Bagian 1 :  https://t.co/8vNVhSkuHN

Informasi yang dibawa kembali oleh ‘Urwah kepada pemuka Quraisy tentang khidmatnya para sahabat kepada perintah Rasulullah SAW ternyata menjadi pemecah kepentingan kaum musyrikin. Sebagian kalangan tetua Quraisy ingin berunding dengan Kaum Muslimin. Segolongan kaum mudanya berhasrat untuk berperang selagi Kaum Muslimin dalam keadaan lemah persenjataan. Kesatuan Kaum Muslimin merupakan kekuatan tersendiri yang mampu memecah-belah soliditas musuh-musuhnya; namun kini soliditas Kaum Muslimin yg melemah.

Golongan muda kaum Musyrikin Quraisy mencoba menyusup ke dalam perkemahan Kaum Muslimin di Hudaibiyah. Namun ketatnya pengawalan seksi pengamanan yg dipimpin oleh Muhammad ibn Maslamah (ra)  berhasil menangkap agen penyusup ini. Mereka ini diputuskan Rasulullah SAW utk dibebaskan untuk menyampaikan pesan bahwa kafilah ini bertujuan damai. Dalam konteks inilah turunnya ayat ke-24 dari Surah al-Fath (48) yg berbunyi:

“dan Dialah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) darimu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Makkah setelah Allah memenangkan kamu atas mereka, dan Allah Maha Melihat apa yang kamu Kerjakan.”

Masyarakat Islam adalah sekumpulan manusia yang beriman kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW yang dengan keduanya hidup mereka menjadi damai dan tenteram; namun bukan berarti mereka ini lalai dari pengamanan maslahat umum dan tidak juga lengah dari kesiagaan.

Setelah berselang beberapa waktu tanpa ada kepastian maka Rasulullah SAW hendak mengutus ‘Umar ibn al-Khaththab (ra) utk bernegosiasi dengan Kaum Musyrikin Quraisy. Namun, mengingat berbagai pertimbangan dan masukan dari ‘Umar (ra) sendiri, maka Rasulullah SAW akhirnya mengutus ‘Utsman ibn ‘Affan (ra) sebagai utusannya. Rasulullah SAW senantiasa mempertimbangkan keutamanan maupun keunggulan sahabatnya dalam setiap penugasan; beliau juga menerima masukan yang diberikan kepadanya.

‘Utsman (ra) kembali menegaskan niat dan tujuan damai yg dibawa Kaum Muslimin yang dipimpin Rasulullah SAW kepada para pemuka Quraisy. Namun, pihak Quraisy bersikeras utk tidak memberikan izin. Sebaliknya, mereka membujuk ‘Utsman (ra) dengan imbalan hak berumroh bagi dirinya sendiri jika ia mau mempengaruhi Rasulullah SAW utk mengurungkan tujuannya. Hal ini ditampik ‘Utsman (ra) dengan tugas dengan perkataannya yg masyhur “bagaimana aku bisa menikmatinya (umroh) ketika baginda Rasulullah SAW dan Kaum Muslimin dihalangi atas itu (umroh). Karakter seorang mu’min adalah mengutamakan kepentingan umum Kaum Muslimin diatas maslahat diri pribadinya.

Alotnya negosiasi ini menyebabkan keresahan di kalangan Kaum Muslimin serta kekhawatiran mereka atas keamanan jiwa ‘Utsman (ra). Untuk menjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan maka para sahabat diambil perjanjiannya untuk setia melindungi keselamatan Rasulullah SAW dari potensi ancaman Kaum Musyrikin Quraisy. Bai’at ini dikenal dalam sejarah sebagai Bai’atur Ridwan. Kehidupan masyarakat Muslimin sudah sepatutnya mengacu kepada kedisiplinan serta keseriusan generasi sahabat dalam menjunjung tinggi kecintaan kepada baginda Rasulullah SAW.

Bersambung ke bagian ketiga..

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸπŸŒΉ

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

πŸ’Ό Sebarkan! Raih pahala…

Ketika Kaum Musyrikin Quraisy Pertama Kali Mengakui Eksistensi Kaum Muslimin di Madinah

πŸ“† Kamis, 29 Jumadil Akhir 1437H / 7 April 2016

πŸ“š SIROH DAN TARIKH

πŸ“ Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

πŸ“ Ketika Kaum Musyrikin Quraisy Pertama Kali Mengakui Eksistensi Kaum Muslimin di Madinah

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸ

Berawal dari mimpi Rasul SAW memasuki kota Makkah dengan aman maka dimulailah perjalanan 1500 sahabat untuk melaksanakan umroh pertama kalinya. Mereka demikian bergembira dalam menyongsong kerinduan akan kampung halaman setelah 6 tahun berhijrah. Turut bersama Rasulullah SAW adalah isterinya yg bernama Ummu Salamah. Kerinduan adalah sebuah perayaan yang sangat manusiawi yang juga dirasakan oleh para sahabat.

Sesampainya mereka di Dhul Hulaifah, semua laki-laki mengenakan kain ihram adapun pedang yg mereka bawa semua tersimpan dalam sangkurnya karena bukan ekspedisi militer. Kesatuan pengintai yg dikirim Rasulullah SAW membawa berita bahwa jalan menuju Makkah telah diblokade oleh pasukan elit Quraisy yg juga mengerahkan kekuatan para Budak berkulit hitam. Dalam berbagai kesempatan, Rasulullah SAW selalu berupaya mengumpulkan data intelijen secara sistematik.

Khalid ibn al-Walid yg dikerahkan para pemuka Quraisy bersama 200 pasukan berkuda bermaksud menyerang secara mendadak pada waktu zuhur. Namun Allah SWT mewahyukan dibolehkannya sholat Khauf dimana sebagian sahabat bersiaga dengan senjata mereka ketika sebagian lain shalat; momen genting tersebut terselamatkan. Kecenderungan kepada perdamaian tidak pernah menjadikan Kaum Muslimin lengah akan ancaman lawannya.

Rasulullah SAW mengubah arah perjalanan mereka ke Tsaniyatul Marar hingga sampai ke sebuah sumur tua yg mulai mengering di daerah al-Hudaibiyah dimana mereka mendirikan tenda. Mu’jizat Allah SWT turun berupa mengalir derasnya kembali air di sebuah cerukan yang ditancapi anak panah oleh Rasulullah SAW. Ini adalah sebuah contoh perencanaan yang maksimal dan dengannya Allah Ta’ala turunkan bantuan sesuai dengan waktunya.

Ketika berkemah di sini, Kaum Quraisy mengirim 3 utusan berturut-turut. Ketika utusan ketiga, ‘Urwa ibn Mas’ud ats-Tsaqafi, menginap diantara Kaum Muslimin, ia menduga bahwa para sahabat pasti meninggalkan beliau pada saat genting nantinya. Namun setelah menyaksikan secara langsung bagaimana interaksi diantara Kaum Muslimin ia berubah pandangan. Ketika ia kembali ke Kaum Musyrikin Quraisy, ia berkata “aku sudah pernah melihat istana Kaisar serta Raja-Raja, namun belum pernah suatu kaum setia, mencintai, menghormati, dan rela berkorban utk pemimpinnya daripada Kaum Muslimin.

Bersambung..

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸπŸŒΉ

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

πŸ’Ό Sebarkan! Raih pahala…

Keimanan Selalu Menuntut Pengorbanan

πŸ“† Kamis, 29 Jumadil Awal 1437H / 7 April 2016

πŸ“š SIROH DAN TARIKH

πŸ“ Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

πŸ“ Keimanan Selalu Menuntut Pengorbanan

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸ

Di pelabuhan Syaibah, pesisir Laut Merah inilah para sahabat generasi paling awal mu’minin membuktikan keimanan mereka kepada Allah Ta’ala.

Setelah terus bertahan dalam ancaman, aniaya, siksaan, hingga pembunuhan sekian lama di kota Makkah maka diturunkan kepada mereka Surah al-Kahfi. Menurut para mufassirin surah ini mengandung 3 hikmah yg memberikan isyarat untuk mencari tempat untuk mengamankan keimanan mereka:

1. Kisah Ashabul Kahfi: menjahui kezaliman penguasa semata untuk mengamankan keimanan mereka dan Allah SWT memberkahi usaha sungguh-sungguh itu serta membukakan jalan dikemudian hari,

2. Kisah Khaidir dan Nabi Musa (as): mengupayakan segala macam ikhtiar untuk menghindari konfrontasi yang belum perlu dan juga belum diperintahkan kehadapan penguasa yang zalim dengan sebuah target yaitu kembali dengan kekuatan,

3. Kisah Dzulqarnain: pentingnya peran seorang Raja yg beriman kepada Allah Ta’ala, tegas dan adil, lagi perkasa dalam melindungi rakyatnya dari berbagai macam gangguan dan marabahaya.

Setelah itu baru diturunkan ayat ke-10 dari Surah az-Zumar (38) yaitu: “Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Than mu. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

Para mufassirin menyepakati bahwa ayat ini yg mendorong Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat berhijrah ke Habasyah di seberang pantai ini di benua Afrika.

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸπŸŒΉ

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

πŸ’Ό Sebarkan! Raih pahala…

Hadiah Sebagai Sarana Diplomasi dan Upaya Untuk Melengahkan Lawan!

πŸ“† Kamis, 22 Jumadil Akhir 1437H / 31 Maret 2016

πŸ“š SIROH DAN TARIKH

πŸ“ Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸ

Kisah Jatuhnya Syam kepada Turki Utsmani
Pertempuran Marj-Dabiq – 24 Agustus 1516

Pertenpuran ini ditulis juga sebagai Marj Dābiq (dalam bahasa ‘Arabi: Ω…Ψ±Ψ¬ Ψ―Ψ§Ψ¨Ω‚β€Ž, yang bermakna “the meadow of Dābiq” atau Padang Rumput Dābiq; dalam bahasa Turki: MercidabΔ±k Muharebesi) adalah bentrok militer bersejarah di Timur-Tengah. Lokasi pertempuran ini ada di Desa Dābiq sekitar 44 km sebelah utara kota Aleppo (Halab), Syria.

Pertempuran ini adalah bagian awal dari peperangan antara Khilafah Turki Utsmani melawan Kesultanan Mamluk sepanjang tahun 1516-1517 yang berakhir dengan kemenangan pada Turki Utsmani. Konsekuensi kekalahan Mamluk di Marj-Dabiq adalah lepasnya seluruh wilayah Syam. Bahkan setelah kekalahan total Kesultanan Mamluk nantinya serta jatuhnya Mesir dan Hijaz barulah secara resmi Turki Utsmani menyandang titel Khadimul-Haramain; pelayan Kedua Tanah Suci.

πŸ‡πŸΏPersiapan Perang

Sultan Al-Asyraf Qansuh al-Ghawri sempat menghabiskan musim dingin 1515 hingga musim semi 1516 menyiapkan pasukannya guna bergerak maju ke perbatasan Turki Utsmani di sebelah timur Anatolia yang konon ingin berpindah haluan ke Mesir. Karena mengantisipasi adanya perlawanan dari Turki Utsmani maka ia mempersiapkan diri secara maksimal; tentu berita kekalahan Kerajaan Safawi di Chaldiran tahun sebelumnya (tulisan tentang Chaldiran baru saja saya muat beberapa menit yang lalu) menjadi salah satu pertimbangan persiapan ini.

Ketika ia hendak berangkat, tibalah utusan dari Yavuz Sultan Selim I yang membawa berita persahabatan yang menjanjikan untuk menunjuk wakil dari Mesir sebagai penguasa wilayah perbatasan antara Turki Utsmani dan Mamluk. Sultan al-Asyraf menginginkan bahwa perbatasan, khususnya propinsi Dulkadir dalam wilayah Turki Utsmani, tunduk pada perintahnya atas nama Mamluk yang berkuasa di Mesir. Diantara janji yang juga dibawa oleh utusan Sultan Selim I adalah membuka perbatasan untuk perlintasan perdagangan dan bahkan menyerahkan sebagian wilayah taklukan bekas Safawi kepada al-Asyraf.

πŸ‡πŸΏKeberangkatan dari Kairo

Memasuki awal musim panas, pada hari Ahad 16 Rabi’uts Tsani 922 Hijriah (18 Mei 1516), al-Asyraf berangkat dari Kairo bersama pasukan yang banyak termasuk 20 ribu pasukan berkuda kelas berat; yang tidak ia miliki adalah kesatuan meriam lapangan. Al-Asyraf menugaskan Tuman Bey II sebagai pemimpin di Kairo selama ia memimpin ekspedisi tersebut; keberangkatan yang mewah dengan pertunjukan yang meriah melepas keberangkatan pasukan al-Asyraf. Ikut bersama pasukan ini tidak kurang dari 15 amir, kesatuan kawal kesultanan 5.000 kavaleri Mamluk, dan satuan milisi Beduin (Badw, Badui) lainnya yang bergabung di sepanjang perjalanan di Syam.

πŸ”…Khilafah ‘Abbasiyah di Kairo

Pada rombongan terkawal paling belakang terdapat Khalifah al-Mutawakkil III dari Daulah ‘Abbasiyah. Daulah ‘Abbasiyah berdiri di Kairo setelah Baghdad dihancurkan oleh Mongol pada tahun 1258. Kesultanan Mamluk menerima dan melindungi institusi kekhalifahan pada tahun 1261 ketika Sultan Baybars I al-BunduqdārΔ« secara resmi mengangkat Khalifah al-Mustanshir sebagai pelanjut Daulah ‘Abbasiyah di Kairo.

Dalam rombongan belakang ini terdapat juga Ahmed yang merupakan keponakan Selim I yang memiliki hak atas kekhilafahan Turki Utsmani. Al-Asyraf membawa serta Ahmed dengan tujuan dapat menarik simpati para pemimpin dari pihak lawannya. Al-Asyraf melaju pelan sehingga baru sampai ke Damakus pada tanggal 9 Juni. Ia pun diterima di kota ini dengan karpet terbentang serta perayaan besar lagi mewah yang disediakan oleh Amir Sibay, gubernur Mamluk untuk Damaskus. Setelah itu ia terus bergerak menuju kota Hims dan Hammah dengan penerimaan yang sama mewahnya hingga persiapan menuju Aleppo (Halab).

Diantara yang menyebabkan lambannya pasukan Mamluk yang dahulu terkenal gesit adalah bahwa setiap pasukan membawa perlengkapam dan persenjataan dalam jumlah yang berlebihan. Hal ini disebabkan oleh besarnya pembagian bonus dana perang yang diberikan oleh al-Asyraf kepada setiap pasukan elit kavalerinya berupa; 100 dinar, 4 bulan gaji ke depan, serta dana pembelian unta.

πŸ”…Diplomasi

Sementara itu tiba pula utusan dari pihak Turki Utsmani dengan membawa hadiah yang mahal kepada al-Asyraf maupun al-Mutawakkil III serta para pemuka lainnya. Disampaikan oleh utusan bahwa Sultan Selim I memelas untuk diberikan gula khas Mesir serta kue dan gula-gula lainnya. Di kemudian hari ternyata ditemukan bahwa aksi diplomasi ini ditujukan agara al-Asyraf dan para pemimpin Mamluk menganggap remeh Sultan Selim I yang justru sedang bersiap tempur tanpa disadarinya.

Utusan dari al-Asyraf datang ke tenda Selim I dengan membawa hadiah ala kadarnya sebagai balasan merendahkan utusan sebelumnya. Sultan Selim I mengerti pesan simbolik pelecehan itu dan menangkap utusan serta mengembalikannya setelah dicukur hingga gundul dan ditunggangkan di atas keledai. Balasan ini mengangetkan al-Aysraf yang mengira Sultan Selim I akan tunduk dan patuh pada perintahnya begitu saja.

πŸ“ŒGejalan Pengkhianatan pada Barisan Mamluk

Di kota Aleppo, gubernur Mamluk yang dijabat oleh Khair Bey menerima rombongan al-Asyraf dengan kemewahan yang sama dengan kota-kota sebelumnya untuk menyembunyikan perjanjiam rahasianya dengan Sultan Selim I. Penduduk Aleppo sebenarnya tidak menyukai al-Asyraf karena kekejamannya terhadap Aleppo di masa silam.

Kurang hangatnya penerimaan penduduk Aleppo sangat kontras dibandingkan dengan jamuan Kair Bey sehingga para penasihat al-Asyraf memberi masukan agar ia siaga. Al-Asyraf merasa tidak nyaman di Aleppo kemudian mengambil lagi janji setia para komandan dengan membagikan hadiah kepada mereka; sebagian yang tidak atau kurang mendapatkan bagian mulai merasa tersisihkan. Pertimbangan untuk menangkap Khair Beg Malbai karena tingkah-lakunya yang mencurigakan sudah disampaikan kepada al-Asyraf namun perintah itu digagalkan oleh Amir Janberdi Al-Ghazali.

βš”Pertempuran

Pada hari Rabu 21 Rajab 922 Hijriah (20 Agustus 1516) pasukan Mamluk sudah sampai di padang rumput Marj-Dabiq sekitar 1 hari perjalanan dari Aleppo. Al-Asyraf yang tiba lebih dahulu di tempat ini tidak segera menyusun barisan tempurnya sehingga kehadiran pasukan Turki Utsmani yang datang belakangan masih dapat memilih lokasi yang menguntungkannya.

Pertempuran dimulai dengan serbuan kavaleri Mamluk yang legendaris itu, sayap kanan dipimpin Amir Sibay dari Damaskus dan sayap kiri dipimpin Amir Khair Beg Malbai. Serangan keras ini berhasil memukul mundur sayap kiri Turki Utsmani setelah dibantu oleh infanteri Panglima Amir Su’dun; bahkan dalam catatan resmi diperoleh keterangan bahwa Selim I sudah mempertimbangkan untuk mundur. Namun, barisan meriam lapangan Turki Utsmani berhasil menewaskan panglima Amir Su’dun dan gubernur Amir Sibay dalam serangan balasan. Pada kondisi genting ini, sebenarnya Mamluk masih dapat meneruskan terjangan jika barisan kavaleri sayap kirinya terus mendesak maju. Hanya saja, Amir Kahir Beg Malbai menarik pasukannya sesuai komitment rahasianya dengan Selim I pada situasi tersebut sehingga sisa kavaleri dan infanteri Mamluk kini justru terkepung. Hampir semuanya terbunuh dengan tembakan jitu Janisari yang kini dilengkapi dengan senapan api Musket yang canggih untuk zamannya. Kavaleri Mamluk yang legendaris itu tercabik-cabik oleh peluru meriam lapangan yang ditembakkan secara terkoordinir dari berbagai arah membentuk “kill zone” yang mematikan.

πŸ“ŒKepanikan dan Tutupnya Gerbang Aleppo

Sisa pasukan Mamluk di garis belakang mundur secara panik karena sinyal komando mundur ditiupkan oleh Amir Khair Beg Malbai ketika barisan masih mencoba bertahan. Sia-sialah upaya menyusun ulang barisan karena kini semua pasukan sibuk menyelamatkan dirinya masing-masing. Masalah semakin bertambah karena kota Aleppo atas perintah Amir Kahir Beg Malbai menutup pintu gerbangnya. Sultan al-Asyraf Qansuh al-Ghawri terbunuh ketika ia mengalami stroke selagi menunggangi kudanya dan jatuh.

Khalifah al-Mutawakkil III memilih untuk menyerah dan berpindah pihak berikut beberapa amir yang sedari awal tidak merasa diperhatikan oleh Sultan al-Asyraf. Ada beberapa versi tentang akhir hayat al-Asyraf; pertama ia wafat karena stroke dan kepalanya dipenggal oleh pengawalnya untuk dikubur agar tidak menjadi tropi bagi lawan, kedua ia melarikan diri dan terbunuh bersama pengawalnya tapi tidak dapat ditemukan jazadnya, dan ketiga ia terbunuh dan dipenggal oleh pasukan Turki Utsmani yang hampir mendapatkan hukuman dari Selim I karena ia tidak menginginkan penistaan seperti itu.

πŸ”…Kesudahan

Yavuz Sultan Selim I masuk dan diterima oleh penduduk Aleppo sebagai sang pembebas dari kekejaman mendiang al-Asyraf. Sultan Selim I menerima dengan hangat Khalifah al-Mutawakkil III namun ia memarahi para ‘ulama yang menurut Selim i tidak berhasil menasihati sang sultan yang bertindak semena-mena di wilayah Syam serta tidak memerangi syi’ah di Kerajaan Safawi.

Tidak lama setelah itu Damaskus pun membuka gerbangnya dan Mesir menyusul untuk ditaklukan karena basis Mamluk masih ada di wilayah tersebut.

Agung Waspodo, mencatat berbagai taktik diplomasi yang menyebabkan al-Asyraf menjadi lengah dan Selim I menjadi sangat diuntungkan oleh kelengahan lawannya.. Indonesia pun sering terkesima dengan diplomasi berpura-pura baik dari negeri-negeri lain yang tidak menginginkan majunya negeri kita, negeri-negeri itupun telah menanam agennya di dalam pemerintahan Indonesia untuk mengalahkan semangat juang bangsa kita dari dalam.. taktik lama yang masih relevan hingga 501 setelah itu.. besok

Depok, 23 Agustus 2015.. sebentar lagi tengah malam..

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸπŸŒΉ

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

πŸ’Ό Sebarkan! Raih pahala…

Judul : Resiko Membawa Isteri Ke Medan Perang & Pembuktian Bahwa Mursyid Agama Syi’ah-Qizilbasy Ternyata Bisa Dikalahkan!

πŸ“† Kamis, 22 Jumadil Akhir 1437H / 31 Maret 2016

πŸ“š SIROH DAN TARIKH

πŸ“ Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸ

Pertempuran Chaldiran – 23 Agustus 1514

Pertempuran ini juga disebut Chaldoran (dalam bahasa Persia: Ϊ†Ψ§Ω„Ψ―Ψ±Ψ§Ω†β€Ž; dalam bahasa Turki: Γ‡aldΔ±ran) membuahkan kemenangan bagi Khilafah Turki Utsmani atas Kerajaan Safawi (Safavi). Dampak dari kemenangan tersebut adalah masuknya wilayah Anatolia bagian timur dan Irak bagian utara ke dalam lingkup Turki Utsmani.

Walau kemudiam sebagian wilayah tersebut direbut kembali oleh Safawi, namun pada konflik berikutnya tahun 1532-55 wilayah tersebut dikuasai lagi serta dikokohkan menjadi wilayah Turki Utsmani. Disamping itu, Turki Utsmani juga menguasai wilayah barat-laut Iran walau sementara. Pertempuran ini hanyalah pembuka dari 41 tahun konflik yang menguras energi kedua pihak sampai Perjanjian Amasya pada tahun 1555.

Pada umumnya keunggulan ada pada pihak Turki Utsmani walau Safawi tetap bertahan; terutama pada daerah dengan populasi Syi’ah yang padat seperti Luristan dan Kermanshah. Dua wilayah Mesopotamia dan Armenia barat sempat direbut kembali oleh Safawi, tetapi hilang secara permanen ke Turki Utsmani pada Perjanjian Zuhab pada tahun 1639.

Di palagan Chaldiran, pihak Turki Utsmani mendatangkan pasukan dengan jumlah yang lebih besar antara 60-200 ribu personil dipimpin okeh Yavuz Sultan Selim I dengan peralatan perang yang lebih maju. Sedangkan pasukan Qizilbasy Safawi yang dipimpin oleh Shah Isma’il I membawa sekitar 40-80 ribu personil. Shah Isma’il nyaris tertangkap di medan perang dan pengalaman tersebut membuatnya terguncang secara psikologis sampai mundur dari pengelolaan perang sekembalinya dari Chaldiran. Dalam pertempuran ini ia tidak sempat menyelamatkan isteri-isterinya dari rombongan kerajaan yang tertangkap oleh pasukan Turki Utsmani.

Pertempuran ini penting dalam sejarah karena ia membuktikan anggapan bahwa tidak benar mursyid (pimpinan spiritual) agama Syi’ah Qizilbasy tidak dapat dikalahkan. Selain itu, pertempuran ini juga penting karena menandai perpindahan loyalitas Bangsa Kurdi dari ke Safawi kepada Turki Utsmani.

Latar Belakang

Setelah Yavuz Sultan Selim I berhasil mengonsolidasikan kekhilafahan Turki Utsmani maka ia segera mengalihkan perhatiannya pada faktor eksternal yang selama ini menyokong instabilitas dalam negeri. Agama Syi’ah Qizilbasy yang bernaung di bawah Kerajaan Safawi selama ini memihak pada elemen minoritas yang mengingingkan kejatuhan Turki Utsmani; bahkan menyokong pihak keluarga Bayezid II yang memberontak.

Kekhawatiran Selim I adalah populasi syi’ah yang banyak bermukim di perbatasan Turki Utsmani yang selama ini tunduk kepada pemerintahan akan terpancing untuk membuat rusuh dengan adanya aktivitas Shah Isma’il di seberang perbatasan. Selim I merasa perlu untuk memberikan pelajaran pada Shah Isma’il I yang menjadi pemimpin spiritual sekaligus raja bagi Safawi yang aparturnya simpatik kepada Agama Syi’ah. Propaganda yang dikirimkan ke wilayah perbatasan adalah bahwa Kerajaan Safawi berasal dari keturunan Nabi (saw).

Sebelum berangkat perang, Selim I sudah meminta fatwa kepada ‘alim-‘ulama Turki Utsmani yang terkenal berani “berseberangan” dari pandangan sultan; bahkan terhadap Sultan Fatih sebelumnya. Fatwa yang dikeluarkan oleh Syaikhul Islam pada waktu itu adalah bahwa Qizilbasy adalah musyrik atau murtad. Sebagai balasannya, Shah Isma’il menuduh Selim I sebagai agresor tanah kaum Muslimin, pezina, penumpah darah, serta tuduhan lain guna menggoyahkan stabilitas internal Turki Utsmani.

Ketika Yavuz Sultan Selim I memulai ekspedisi militernya, Kerajaan Safawi diserang dari timur oleh Kesultanan Uzbek dipimpin oleh Abu-l Fath Muhammad yang juga mengalami permasalahan dengan propaganda Agama Syi’ah Qizilbasy di negerinya. Shah Isma’il I yang mengkhawatirkan dirinya bakal menghadapi perang dari dua front mengeluarkan perintah untuk “bumi-hangus” (scorched earth) setiap jengkal tanah yang hendak dikuasai Turki Utsmani.

Wilayah timur Anatolia dan Kaukasus merupakan tanah dengan iklim dan medan yang sangat tidak bersahabat kepada manusia. Ditambah lagi dengan kebijakan bumi-hangus Shah Isma’il serta sulitnya membawa perbekalan untuk pasukan yang berjumlah banyak mengakibatkan banyak pasukan Selim I yang gelisah. Bahkan ada satu orang prajurit elit Janisari yang mengamuk serta menembakkan senapannya ke arsh tenda sultan. Ketika Selim I mendapatkan informasi intelijen bahwa Shah Isma’il sedang menyusun pasukannya dekat Desa Chaldiran, maka ia menyegerakan pasukannya untuk bergerak ke sana.

πŸ“ŒPertempuran

Pasukan Turki Utsmani membawa dengan susah payah meriam lapangan berikut ribuan pasukan elit Janisari. Kedua elemen kekuatan andalan itu diposisikan di belakang gerobak logistik yang kini berfungsi sebagai benteng lapangan. Kerajaan Safawi mengerahkan pasukan berkudanya untuk menyerang lini kanan dan kiri Turki Utsmani menghindari deretan meriam yang berada di tengah. Hal yang tidak diantispasi oleh Safawi bahwa meriam tersebut sangat lincah bermanuver sehingga korban berjatuhan. Keunggulan teknologi ini menjadi faktor pengunggul yang besar dalam pertempuran ini disamping kekalahan Safawi pada perencanaan serta kedisiplinan prajuritnya.

Kekalahan ini begitu tak terduga oleh pihak Safawi sehingga mundurnya pasukan yang tersisa menjadi tak terkendali. Semua menyelamatkan diri masing-masing tanpa koordinasi. Pasukan kawal Shah Isma’il menyelamatkan pimpinannnya namun terpisah dari rombongan tenda kerajaan. Diantara rombongan tenda kerajaan yang tertinggal dan tidak dapat diselamatkan adalah iringan kedua isteri Shah Isma’il yang tertawan oleh pasukan kavaleri Turki Utsmani yang mengejar rombongan yang mundur tak tentu arah itu.

πŸ“ŒKesudahan

Pertempuran singkat itu menyebabkan tidak hanya hancurnya pasukan utama Safawi namun hilangnya pertahanan kota Tabriz. Kota ini tetap melawan walaupun tidak ada harapan untuk bertahan sehingga mengalami kehancuran yang besar; bentengnya diratakan dengan tanah sebelum ditinggalkan.

Efek dari kekalahan ini adalah padamnya pemberontakan Syi’ah di sepanjang perbatasan serta keterpukulan Shah Isma’il atas harga dirinya yang jatuh, aura mistik tak-terkalahkan yang buyar, serta hilangya tulang-punggung pasukan Safawi. Setelah perisitiwa Chaldiran, Shah Isma’il tidak lagi tampil ke depan publik maupun urusan administrasi kerajaannya.

Balatentara Safawi mengalami perubahan drastik dengan didatangkannya senapan api dari negara-negara Eropa. Anak Shah Isma’il yang bernama Tahmasp I juga mendatangkan meriam untuk melengkapi ketentaraam yang baru dibentuk ulang setelah kekalahan di Chaldiran.

Satu kekeliruan strategik Yavuz Sultan Selim I adalah ia tidak meneruskan kemenangan ini hingga ke jatung wikayah Safawi di Iran namun justru meembelokkan pasukannya ke selatan untuk menghadapi faktor ancaman kedua yaitu Kesultanan Mamluk yang juga merongrong wilayah perbatasan Turki Utsmani.

Agung Waspodo, mencatat bahwa jika Sultan Selim I tidak ke Mesir untuk mengalahkan Mamluk maka Portugis di Samudera Hindia mungkin menjadi lebih bebas lagi berkeliaran mengancurkan kesultanan Muslimin lainnya di region tersebut. Semua tikungan dan belokan sejarah sudah ada Yang mengaturnya, persis 501 tahun yang lalu..

Depok, 23 Agustus 2015

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸπŸŒΉ

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

πŸ’Ό Sebarkan! Raih pahala…

Keteguhan Para Prajurit, Keteladan Para Perwira Menjelang Masa Akhir Kekhalifahan Turki Utsmani

πŸ“† Kamis, 15 Jumadil Akhir 1437H / 24 Maret 2016

πŸ“š SIROH DAN TARIKH

πŸ“ Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸ

Pertempuran Bukit Scimitar – 21 Agustus 1915

Pertempuran di “Bukit Pedang Bengkok” ini dikenal di Turki sebagai YusufΓ§uk Tepe atau Bukit Capung (Dragonfly Hill) adalah serangan terakhir yang dilancarkan oleh Inggris di Suvla menghadapi Khilafah Turki Utsmani pada perang di Gallipoli, Perang Dunia Pertama.

Serangan ini adalah yang terbesar dalam satu hari yang pernah digelar oleh Sekutu di Gallipoli dengan mengerahkan 3 divisi. Tujuan dari serangan ini adalah untuk menghilangkan potensi ancaman Turki Utsmani atas pantai pendaratan Suvla serta mencoba menghubungkannya dengan sektor pendaratan ANZAC di selatan.

Serangan ini dilancarkan pada hari Ahad 4 Syawal 1333 Hijriah (21 Agustus 1915) yang diserentakkan dengan penyerangan terhadap Bukit-60. Serangan ini membuahkan kegagalan yang meminta korban dalam jumlah yang banyak bukan hanya pihak sekutu namun juga dari pihak Turki Utsmani. Pertempuran ini berlangsung hingga masuk waktu malam dimana parit pertahanan sempat berganti tangan beberapa kali.

πŸ“ŒPermulaan

Kemandegan menghampiri Sekutu pada kampanye militer di front Gallipoli ini sejak sulitnya mereka merebut Helles di ujung semenanjung sejak pendaratan gelombang pertama pada tanggal 25 April. Bukit Scimitar mendapatkan nama julukannya karena puncaknya yang berbentuk cembung. Bukit ini pada mulanya menjadi sasaran hari-pertama (7 Agustus) namun Jend. Stopford sangat ragu-ragu untuk maju tanpa kepastian dukungan artileri.

Pada pagi hari tanggal 9 Agustus, pasukan Inggris baru memulai upaya serius untuk menguasai tebing Tekke Tepe. Dalam konteks manuver di atas, Bukit Scimitar yang menghalangi arah serangan ke Tekke Tepe dari arah barat-daya sebenarnya sudah dikuasai lebih dahulu tanpa perlawanan oleh Batalion ke-6 dari Resimen East-Yorkshire sehari sebelumnya.

Hanya saja, Bukit Scimitar kemudian ditinggalkan oleh kesatuan tersebut tanpa sebab yang jelas sehingga diduduki kembali oleh pasukan Turki Utsmani. Inggris berusaha merebutnya kembali dan sempat terjadi perpindahan kekuasaan beberapa kali sebelum akhirnya Turki Utsmani berjaya sekitar tengah hari. Keesokan harinya, Divisi Infanteri Ke-53 kembali menyerbu Bukit Scimitar namun tetap menemui kegagalan; bahkan menyebabkan daya tempur divisi tersebut berkurang drastis.

πŸ“ŒPertempuran

Pada 15 Agustus, Jend. Stopford dibebas-tugaskan serta digantikan olrh Mayor Jend. Beauvoir De Lisle sebagai komandan sementara Korps IX sampai datangnya Jend. Julian Byng. De Lisle menghentikan semua penyerangan karena banyaknya korban yanb berjatuhan dari aksi sebelumnya. De Lisle hanya memusatkan perhatiannya pada penguatan atas area yang telah dikuasainya.

Rencana pada tanggal 21 Agustus adalah untuk menyerang Bukit Scimitar dengan Divisi Ke-29 dan Bukit-W diserang oleh Divisi Ke-11 dengan Yeomanry sebagai cadangan. Sebagaimana biasa pada pendahuluan serangan, tembakan artileri Inggris begitu sengit menembak namun kebanyakan tidak tepat sasaran karena faktor alam serta minimnya pantauan udara. Di lain pihak, posisi Turki Utsmani yang berada di atas dataran yang lebih tinggi memudahkan mereka untuk membaca gerakan lawannya serta lebih akurat mengarahkan tembakannya.

Serbuan Divisi Ke-11 menjadi berantakan karena menghadapi banyaknya titik-kuat pasukan Turki Utsmani yang tidak terlihat sebelumnya; disamping tembakan artileri lawan dari balik bukit yang akurasinya mematikan. Oleh karena itu, ketika Batalion Ke-1 dari Royal Inniskilling Fusiliers berhasil mencapai Bukit Scimitar mereka dihujani tembakan dari berbagai arah termasuk dari Bukit-W yang belum berhasil dikuasai. Kesatuan Irlandia ini terpaksa mundur dari Bukit Scimitar sambil menerobos rerumputan kering yang terbakar akibat bertubinya tembakan artileri Turki Utsmani. Sebuah neraka kecil bagi prajurit yang tidak sempat meloloskan dirinya.

Sekitar pukul 17.00 sore, Inggris mengerahkan kesatuan baru yaitu Divisi Kavaleri Ke-2 dari pantai Lala Baba untuk merebut kembali Bukit Scimitar melintasi dasar danau kering. Mereka maju berbaris rapi seperti perang zaman baheula. Mereka maju menerobos medan yang berkabut dan asap yang menutupi pandangan. Ke-5.000 pasukan dalam 5 brigade itu maju dengan gagah di lapangan terbuka sehingga menjadi sasaran empuk para penembak jitu Turki Utsmani di bukit yang lebih tinggi. Banyaknya korban yang gugur memaksa mereka untuk menghentikan langkah di dekat Bukit Green untuk berlindungan dari kematian sia-sia. Namun, Brig. Jend. Lord Longford tetap memaksa Brigade Kavaleri Ke-2 South Midland untuk terus maju, mereka semua disapu bersih oleh tembakan yang sangat akurat.

Serangan ini merupakan yang terakhir dilakukan Inggris di area operasi Suvla. Tapal batas kedua pihak antara Bukit Scimitar dan Bukit Green menjadi perbatasan statik hingga ke akhir kampanye Gallipoli pada tanggal 20 Desember.

πŸ“ŒCatatan Tambahan

Dalam satu hari pertempuran ini telah menelan korban pada pihak Inggris sebanyak 5.300 personil dari 14.300 yang dikerahkan. Hanya dua penganugerahan bintang Victoria Cross di front Suvla diberikan pada 9 Agustus kepada Kapten Percy Hansen yang menolong prajuritnya yg terluka turun dari Bukit Scimitar dan satu lagi kepada Prajurit Frederick Potts pada pertempuran di Bukit Scimitar pada tanggal 21 Agustus.

Agung Waspodo, merasakan bahwa setiap jengkal pantai dan setiap tapakan bukit di Gallipoli adalah bukti atas keteguhan para prajurit serta keteladanan para perwira di penghujung akhir kekhilafahan, 100 tahun berlalu lebih 2 hari..

Depok, 23 Agustus 2015, subuh lewat sedikit..

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸπŸŒΉ

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

πŸ’Ό Sebarkan! Raih pahala…

Komandan Yang Tertidur Dalam Pertempuran!

πŸ“† Kamis, 15 Jumadil Akhir 1437H / 24 Maret 2016

πŸ“š SIROH DAN TARIKH

πŸ“ Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸ

Pendaratan di Teluk Suvla: 6-15 Agustus 1915

Pendaratan di Teluk Suvla (Suvla Bay) adalah pendaratan amfibi dari Laut Aegean ke pesisir Gallipoli pada rentang Suvla dalam Serangan Bulan Agustus. Serangan ini adalah upaya terakhir Sekutu untuk memecah kebuntuannya pada Kampanye Militer di Gallipoli. Pendaratam yg dimulai pada Jum’at malam 24 Ramadhan 1333 Hijriah (6 Agustus 1915) secara khusus ditujukan untuk membuat terobosan lebih jauh dari posisi pendaratan sebelumnya di Sektor ANZAC sekitar 8 km di selatannya.

πŸ“ŒLatar Belakang

Walau hanya menghadapi perlawanan yg ringan, pendaratan Sekutu di Suvla sudah terlihat salah kelola sejak permulaan dan dengan cepat berubah menjadi kondisi kunci-mengunci seperti yg sudah te4jadi sebelumnya di sektor ANZAC dan Helles.

Pada hari Ahad 4 Syawal 1333 Hijriah (15 Agustus), setelah sepekan lebih tanpa adanya keputusan yg jelas serta aktivitas yg nyata, komandan Inggris di Suvla, Let. Jend. Sir Frederick Stopford dilepaskan dari jabatannya. Kepemimpinannya merupaka salah-satu yg terburuk dalam Perang Dunia Pertama di pihak Sekutu.

πŸ“ŒPerencanaan

Penyerangan itu dimulai dengan sebuah serangan pengalihan di sektor Helles yg kemudian dikenal sebagai Pertempuran Kebun Anggur di Krithia (the Battle of Krithia Vineyard) dan di sektoe ANZAC dikenal sebagai Pertempuran Pinus Tunggal (the Battle of Lone Pine).

Pendaratan itu direncanakan pada jam 20.00 malam atau satu jam setelah dua kolom serbuan terkoordinasi menembus keluar dari sektor ANZAC menuju sasaran dataran tinggi SarΔ± BaΔ±r.

Ketika Stopford diperlihatkan tentang rencana tersebut pada awal 22 Juli ia sangat yakin akan keberhasilannya, namun Kepala Staf-nya, brig. Jend. Hamilton Reed tidak seyakin pimpinannya; ia adalah Kastaf ini berhasil memengaruhi atasannya. Reed adalah seorang perwira artileri dengan dekorasi Bintang Viktoria di dadanya yg ia peroleh pada Perang Boer. Ia mengatakan bahwa sebuah penyerbuan atas posisi parit lawan tidak akan berhasil tanpa dukungan tembakan artileri. Walau pengintaian udara menunjukkan tidak adanya parit pertahanan itu, namun Stopford tetap membatasi capaian serangan. Perintah yg “tidal jelas” turun bagi Divisi Ke-11 untuk menyerang dimana komandannya May. Jend. Frederick Hammersley sampai detik terakhir masih belum yakin apakah tanah tinggi itu wajib dikuasai atau pilihan.

πŸ“ŒPihak Turki Utsmani

Komandan Balatentara Ke-5 Turki Utsmani yg diberikan kepada Jend. Otto Liman von Sanders sudah merasakan akan adanya serbuan ini melalui laporan peningkatan jumlah pasukan di sektor tersebut dari pantauan lapangan. Upaya pengelabuan Inggris sedikit berhasil mengalihkan 3 divisi Turki Utsmani ke sisi Asia dan 3 lagi ke bagian utara Semenanjung Gallipoli di sektor Bulair.

Sektor Suvla dipertahankan olrj 3 batalion yg dikenal sebagai Detasemen Anafarta yg dipimpin oleh seorang perwira kavaleri asal Bavaria, Mayor Wilhelm Wilmer. Ia memiliki satu tugas saja yaitu menahan serangan lawan sampai tiba bala bantuan, namum ia tidak diberi satuan senapan-mesin dan hanya sedikit artileri saja. Ia membentuk tiga titik pertahanan di Kiretch Tepe, Hill-10, dan Chocolate Hill berikut titik pantau di Lala Baba.

πŸ“ŒPendaratan

Pendaratan gelombang pertama di Pantai-B (B-Beach) oleh brigade ke-32 dan ke-33 tepat pukul 20.00 dan berhasil merebut posisi Lala baba namun dengan korban yg besar. Setelah itu Brigade Ke-34 mendarat di Pantai-A (A-Beach) namun lebih berantakan karena kesalahan teknis dimana sebagian kapal tersangkut pada karang dan posisi pendaratan bergeser. Sebagian pasukan ada yang mendarat di pantai yg curam dengan air sampai sebatas leher. Gelobang inipun dengan mudah ditekan oleh artileri dan tembakan sniper dari garis pertahanan Turki Utsmani. Resimen Manchester bisa dikatakan yg terbaik dalam pendaratan ini dengan berhasil mencapai Kiretch Tepe dengan korban 200 personil.

Di tempat lain pendaratan yg dilakukan pada tengah malam mengalami masalah yang lebih banyak. Para perwira kesulitan menemukan titik sasaran mereka dalam kegelapan, masalah baru timbul ketika cahaya yg dipantulkan oleh bulan justru menjadikan pasukan Inggris target bagi sniper Turki Utsmani. Hill-10 baru bisa direbut keesokan hari setelah jumlah personil yg mendarat bertambah dan pasukan Turki Utsmani mundur sebelum subuh.

πŸ“ŒKepemimpinan Sekutu

Masalah lain timbul karena Stopford memilih untuk memimpin pendaratan dari atas kapal HMS Jonquil dan, lebih parah, adalah ketika pendaratan berlangsung ia justru tertidur. Laporan pertama yg ia terima sekitar jam 04.00 pagi adalah ketika Komandan Unwin meminta pendaratan di Teluk Suvla dihentikan. Berbagai laporam baik dari wartawan perang Ellis Ashmead-Bartlett maupun buku yang ditulis oleh Kap. Cecil Aspinall-Oglandar menyatakan betapa porak-porandanya komando serta situasi di lapangan pada tanggal 7 Agustus.

πŸ“ŒMenjelang Akhir

Pada tanggal 7 Agustus kemajuan sangat minim, bahkan teriknya hari itu serta belum turunnya logisitik membuat banyak prajurit yang kehausan serta kesatuan diam tanpa perintah. Satu-satunya capaian yang jelas pada hari itu adalah kedua bukit di sebelah timur Danau Asin, namun korban yang jatuh dari pihak Sekutu mencapai 1.700 personil pada 24 jam pertama.

Pada jam 19.00 Willmer melaporkan kepada von Sanders: “tidak ada semangat untuk berperang dari pihak lawan, kalaupun mereka bergerak maju itu dengan kecepatan malu-malu..” Von Sanders memiliki banyak waktu untuk menggerakkan divisi ke-7 dan ke-12 Turki Utsmani pimpinan Feizi Bey dari Bulair di utara ke Suvla di selatan.

Stopford tidak turun dari kapalnya ke pantai sama sekali pada 7 Agustus. Prajurit dan para perwira dibiarkannya tanpa perintah dan arahan sehingga banyak nyawa meregang tanpa alasan.

Agung Waspodo, betapa mahalnya nilai seorang pemimpin, masih sangat dan akan terus relevan walau sudah berlalu 100 tahun, lewat 5 hari..

Depok, 11 Agustus 2015, pagi yg cerah..

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸπŸŒΉ

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

πŸ’Ό Sebarkan! Raih pahala…