Yang Bole Melihatku Tanpa Hijab

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
siapa saja sih bagian dr keluarga yg boleh melihat kita tanpa hijab? Apakah ipar & mertua termasuk yg boleh melihat kita tdk berhijab? Bagai mana dengan saudara laki2 seibu (lain bapak) haruskah kita berhijab ketika dirumah ada saudara seibu?
Syukron

Jawaban
———-

و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Yg boleh melihat kita tanpa hijab adalah Mahram kita artinya yg tidak bisa menikahi kita.Untuk mertua klo kita menikah dengan anakya sudah berhubungan badan walau hanya semalam maka menjadi mahram.
Sementara ipar bukan mahram artinya tdk boleh melihat aurat kita
Sementara saudara laki2 seibu dia masuk mahram karena saudara kandung walaupun beda ayah

Coba buka Qur’an surat an-nur ayat : 30-31

[(وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ)

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

Wallahu a’lam.

Wanita Sholat ke Masjid

Oleh: Ida Faridah

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….seorang istri / ibu yg sdh tidak ada tanggungan menyiapkan keperluan2 di pagi hari, suaminya solat subuh berjamaah di masjid, pertanyaannya apakah  sebaiknya ikut suami solat ke masjid apakah solat subuh di rmh saja sekalipun solat sendirian tidak berjamaah, mohon dijelaskan mana yg terbaik ?

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Seorang perempuan lebih d utamakan sholat dirumah daripada di masjid walaupun sholatnya seorang diri karna bagi seorang perempuan hukum sholat berjama’ah sunnah

Menurut pendapat para ulama
1. Madzahb Maliki berpendapat seorang wanita lebih utama sholat d rumah daripada sholat dimasjid. Namun demikian mereka disunnahkan untuk berjama’ah disana asal imamnya tetap lelaki

2. Madzhab hambali berpendapat bagi wanita sholat berjama’ah itu sunnah d laksanakan oleh kaum wanita itu sendiri tidak bersama jama’ah laki laki, baik yang jadi imam itu laki-laki maupun perempuan, sedangkan berjama’ah dengan laki-laki hukumnya makruh bagi wanita cantik dan boleh saja bagi wanita yang tidak cantik

3. Madzhab syafe’i berpendapat bagi wanita, berjama’ah dirumah lebih utama dari pada di masjid, sedangkan sholat jama’ah itu sendiri bagi mereka hukumnya sunnah muakad

4. Madzhad Hanafi berpendapat sholat berjama’ah itu tidak di syari’atkan atas kaum wanita. Bahkan jama’ah wanita yang di imami oleh seorang wanita hukumnya makruh tahrim. Sekalipun sah sholat mereka dan keimamannya.

Namun, jika seorang perempuan itu ingin kemasjid suami jangan melarangnya berdasarkan hadist nabi

Rasulullah saw bersabda
“janganlah kamu halangi hamba hamba wanita dari masjid-masjid allah, dan hendaklah mereka pergi (kesana) tanpa minyak wangi “
(HR. Abu Hurairah) 

Menurut Asy-Syaukani, hadist diatas “diartikan tidak memakai minyak wangi. Sedang artinya yang asli adalah wanita yang bau badanya tak sedap lagi. Dan demikian pula menurut Ibnu Abdil Barr dan yang lain, dengan demikian kaum wanita diperintahkan pergi kemasjid dan dilarang memakai minyak wangi.

Kemudian tambahnya pula :” Seperti halnya minyak wangi, dilarang pula menggunakan barang-barang lain yang searti dengannya, yakni larangan-larangan agama yang bisa membangkitkan syahwat, seperti pakaian mewah, perhiasan yang menyolok dan rias yang menggiurkan

Wallahu a’lam.

Yang Bole Melihatku Tanpa Hijab

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
siapa saja sih bagian dr keluarga yg boleh melihat kita tanpa hijab? Apakah ipar & mertua termasuk yg boleh melihat kita tdk berhijab? Bagai mana dengan saudara laki2 seibu (lain bapak) haruskah kita berhijab ketika dirumah ada saudara seibu?
Syukron

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Yg boleh melihat kita tanpa hijab adalah Mahram kita artinya yg tidak bisa menikahi kita.Untuk mertua klo kita menikah dengan anakya sudah berhubungan badan walau hanya semalam maka menjadi mahram.
Sementara ipar bukan mahram artinya tdk boleh melihat aurat kita
 Sementara saudara laki2 seibu dia masuk mahram karena saudara kandung walaupun beda ayah

Coba buka Qur’an surat an-nur ayat : 30-31

[(وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ)

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

Wallahu a’lam.

Oleh: Ida Faridah

Manfaat Ilmu

Assalamu’alaikum adik-adik, apa kabarnya hari ini, semoga kita masih dalam naungan rahamt Allah swt, aamiin. Kali ini kita akan membahas tentang salah satu manfaat ilmu

▣●• Ali ra sahabat Nabi saw berkata: “Barangsiapa sedang mencari ilmu, maka sebenarnya ia sedang mencari surga. Dan barangsiapa mencari kemaksiatan maka sebenernya dia sedang mencari neraka.”

▣●• Nabi saw bersabda, “Hendaklah kalian duduk bersama ulama dan mendengar perkataan mereka yang bijaksana karena sesungguhnya Allah Ta’ala menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah, sebagaimana Allah menghidupkan bumi yang mati dengan air hujan.”

▣●• Dikatakan: “Tidak ada keterasingan bagi orang yang berilmu lagi beramal, dan tidak ada tanah air bagi orang yang bodoh.”

▣●• Orang yang berilmu dan beramal saleh akan selalu dihormati dan dimuliakan sedangkan orang yang bodoh di mana pun akan merasakan kesulitan.

●•• Wallaahu’Alam..

Pemateri: Ustadzah Ida Faridah

Keutamaan Tahajjud

Assalamu’alaikum adik-adik, apa kabarnya hari ini, semoga kita masih dalam naungan rahamt Allah swt, aamiin. Kali ini kita akan membahas tentang Tahajjud

Sebagian ulama ahli hikmah berkata: “Aku mencari pelita hati dalam shlat siang hari,  tapi aku menemukannya dalam shalat di malam hari.”

“Dan dari sebagian malam hendaklah engkau melaksanakan shalat tahajjud sebagai tambahan bagimu. Semoga Allah membangkitkan kamu di tempat yang terpuji”. (QS. Al-Isra:79)

“Sedekat-dekat Tuhan dari hamba-Nya adalah pada tengah malam yang terakhir, apabila kamu mampu menjadi orang yang suka berdzikir kepada Allah pada saat itu, jadilah” (HR. Turmudzi, Nasa’i, dan Hakim)

Samurah bin Jundub mengatakan “Rasulullah saw memerintahkan kami agar melaksanakan shalat malam sedikit atau banyak dan menjadikan akhirnya shalat witir” (HR. at-Tabrani dan al-Bazzar)

Ibnu abbas mengatakan “kami disuruh oleh Rasulullah saw melakukan shalat malam dan supaya menggemarinya, hingga ia mengatakan: “Lakukan shalat malam sekalipun satu rakaat” (HR. at-Tabrani)

“Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya malam dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu…” (QS. Al-Muzamil: 20)

Wallaahu’Alam..

Oleh: Ustadzah Ida Faridah

Adab B.A.K (buang air kecil)

Assalamualaykum Ustadz/ah..
Mohon penjelasan tentang adap B.A.K (buang air kecil), terutama untuk para ikhwan berikut dalil2nya.

JAWABAN:
—————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Adab membuang hajat :
1. Jangan menyentuh kemaluan dengan tangan kanan. Rosulullah saw bersabda

“janganlah seseorang di antara kamu menyentuh kemaluanya dengan tangan kanan saat kencing dan janganlah cebok (istinja) dengan tangan kanannya.” (HR. Bukhori dan muslim)

2. Jangan menghadap kiblat atau membelakangi kiblat saat buang air. Rosulullah saw bersabda

” dan janganlah kamu menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya saat berak atau kencing, tetapi menghadaplah ketimur atau kebarat.” (HR. Tujuh ahli hadist)

3. Jangan berbicara saat buang air. Rosulullah saw bersabda

“apabila dua orang buang air besar maka hendaklah tiap-tiap  seseorang dari mereka berlindung dari teman nya dan janganlah mereka berbicara karena Allah murka kepada yang demikian itu.”  (HR. Muslim)

4. Janganlah buang air di jalan atau d tempat berteduh. Rosulullah saw bersabda

“jauhilah perbuatan dua orang yg menyebabkan laknat, yaitu buang air di jalan atau di perteduhan mereka.” (HR. Muslim)

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadzah Ida Faridah

Akhir Episode Dua Kubu Ini

Nabi Nuh menunaikan perintah Rabbnya dan membuat kapal. Setiap kali ada kaumnya yang melintasinya mereka mencemoohnya, dan Nabi Nuh bersabar menerima cemoohan itu, dengan menjelaskan bahwa cemoohan itu akan menimpa mereka pada saat mereka ditimpa kehinaan dan adzab pedih. Firman Allah:

“Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: “Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal”. (QS. Al-Huud: 38-39)

Datanglah perintah Allah, dan hujan turun dari langit, mata air memancar dari bumi sehingga air itu memenuhi tannur. Nabi Nuh naik kapalnya bersama orang-orang yang beriman dengannya, dan sepasang-sepasang makhluk, dengan memohon pertolongan Allah, bertaubat dan beristighfar. Kapal berlayar di antara ombak sebesar gunung.

Nabi Nuh melihat salah seorang anaknya terpencil jauh dari kapal, lalu ia memanggilnya, agar beriman dengannya lalu naik kapal bersamanya, dan tidak bersama dengan orang kafir. Anaknya itu menolak dengan mengatakan, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” dan ayahnya mengingatkannya, karena yakin akan akibat buruk yang dialami kaum kafir dengan mengatakan: لا عاصم اليوم من أمر الله إلا من رحم tetapi ia menolak dan binasa bersama mereka yang binasa.

Disinilah Allah memerintahkan langit untuk berhenti menurunkan hujan, dan bumi untuk menelan airnya, maka air surut, tampaklah daratan, dan kapal itu berhenti di Al Juudiy, nama sebuah bukit.وقيل بعدا للقوم لظالمين kaum yang zhalim divonis jauh dari rahmat dan ampunan Allah.

Nabi Nuh bertanya kepada Allah tentang anaknya yang binasa, dengan bersandar pada janji Allah kepadanya yang akan menyelamatkan keluarganya. Ketika itu Allah memberitahukan kepadanya bahwa anaknya itu tidak termasuk dalam keluarganya karena kafir. Dan sesungguhnya keluarga yang hakiki adalah ahlul iman dan amal shalih. Dna sesungguhnya tidak boleh bagi Nuh untuk meminta kepada Rabbnya apa yang tidak diketahuinya, jika tidak demikian maka termasuk orang yang jahil. Firman Allah dalam surat Huud ayat
 40-48, Al-Mukminun ayat 27-29 dan surat Al-Qamar ayat 11-16 (silahkan d buka al-qur’anya adik-adik)

Oleh: Ustadzah Ida Faridah

Dukungan Allah Swt Kepada Nabi Nuh

📔 Sirah – MFT

📝 Ustadzah Ida Faridah

Disinilah Allah swt memberitahukan kepadanya agar tidal berharap banyan mereka ini akan beriman. Dan hendaklah membuat perahu, Dan menunggu perintah Allah. Tandanya adalah ketika air sudah keluar dari tannut (tungku perapian), air telah memancar dari daratan bumu lain. Ketika air sudah keluar dari tannur Yang merupakan tungku api, dan ketika tanda ini sudah ada maka hendaklah ia bawa di kapal itu sepasang-sepasang, bersama dengan keluarganya, kecuali orang-orang Yang telah diketahui tidak akan beriman dan tidal akan selamat, dan hendaklah senantiasa meminta pertolongan Allah dalam mengemudikan kapal dan menghentikannya. Dan jika sudah selamat hendaklah memuji Rabbnya yang telah Menyelamatkannya dari kaum yang dzalim, dan memohon kepada Allah untuk diturunkan di tempat turun yang baik dan diberkahi. Firman Allah:

Lalu Kami wahyukan kepadanya: “Buatlah bahtera di bawah penilikan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami telah datang dan tanur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu, maka ucapkanlah: “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim”. Dan berdoalah: Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat. Sesungguhnya pada (kejadian) itu benar-benar terdapat beberapa tanda (kebesaran Allah), dan sesungguhnya Kami menimpakan azab (kepada kaum Nuh itu). (QS. Al-Mukminun: 27-31)

“Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan. Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: “Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal”. Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman”. Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. Dan Nuh berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya”. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Huud: 36-41)

Memilih Teman

Ustadzah Ida Faridah

Adik-adik MFT yang dirahmati Allah, apa kabar semuaya? Kali ini kita akan membahas tema Berteman dengan Orang Sholeh dan Sholehah.

Adik-adik, dalam kehidupan sangat dibutuhkan yang namanya teman, teman tidak semuanya harus jadi sahabat, bersahabat harus memilih karna tidak semua orang bisa di jadikan teman. Jika salah dalam memilih sahabat akibatnya akan fatal, berteman dengan orang yang salah bisa berdampak buruk pada kita, berteman dengan orang sholeh dan sholehah akan berdampak baik pada kita. Begitu kuat pengaruh seorang sahabat pada diri kita sehingga kita harus selektif dalam memilih orang yang dekat.

Adik-adik MFT, berteman dengan orang yang salah bisa menjerumuskan kita pada jalan yang tidak benar, jauh dari Allah, jauh dari orang tua bahkan akan mudah sekali meninggalkan kewajiban-kewajiban kita pada Allah, begitu mudah meninggalkan sholat dan begitu mudah masuk dunia hitam. Maka jauhilah teman yang akan mengajak kita pada hal yang negatif

Seorang ulama berkata: “Kufur nikmat adalah tercela dan menenmani orang yang dzalim adalah sial (tidak akan diberi berkah)”.

Rasulullah saw bersabda “Putuskanlah persahabatan dengan orang dzalim”.

Adik-adik semuanya, sementara jika kita bersahabt dengan orang-orang sholeh dan sholehah akan mendekatkan kita pada kebaikan, lebih taat pada Allah, ingat akan dosa dan mengerjakan pekerjaan yang baik-baik dan menjauhi maksiat.

“Jika kalian memiliki seorang teman yang membantu dalam ketaatan pada Allah, maka peganglah dia erat-erat dan jangan kalian lepaskan. Karena mencaru teman baik itu susah tetapi melepaskannya sangat mudah sekali”. (Imam syafe’i)

Beruntunglah kita jika ada dalam lingkungan orang-orang sholeha, bersahabat bukan hanya di dunia akan tetapi bersahaabt pula di akhirat, yang bisa membawa kita makin menjadi manususia lebih baik lg

Wallahu a’alam

Sikap Nabi Nuh Dari Penolakan Dan Pendustaan Mereka

Ustadzah Ida Faridah

◈ Ketika Nabi Nuh as melihat sikap mereka dan tidak hentinya mereka mengajak manusia untuk menyekutukan Allah (syirik), yang diaktualisasikan dengan melakukan perbuatan buruk dan merusak, ia berdo’a kepada Rabbnya agar membinasakan mereka, dan bertawassul dengan amal perbuatan yang telah dilakukan kepada mereka, dengan mengatakan:

⇨ Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.

⇨ Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam. Maka, aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.

⇨ Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita? Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu”.

⇨ Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka,
dan melakukan tipu-daya yang amat besar”. Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa´, yaghuts, ya´uq dan nasr”. Dan sesudahnya mereka menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan. Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah.

⇨ Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. (QS. Nuh: 5-27)

◈ Maka dia mengadu kepada Tuhannya: “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).” (QS. Al-qamar: 10)