Kumpulan Hadits-Hadits Shahih Tentang Shaum dan Ramadhan (Bag. 1)

๐Ÿ“† Senin,  1 Ramadhan 1437 H / 6 Juni 2016 M

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

๐Ÿ“‹  *Kumpulan Hadits-Hadits Shahih Tentang Shaum dan Ramadhan (Bag. 1)*
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

  Ini adalah risalah kecil tentang kumpulan hadits-hadits shahih seputar puasa (shaum) dan bulan Ramadhan, dan hal-hal yang berkaitan dengannya.

Pentingnya risalah ini adalah sebagai bahan referensi yang bisa dijadikan sandaran terpercaya dalam mengamalkan ajaran agama; khususnya tentang shaum dan Ramadhan. Selain itu, ini merupakan upaya meredam kebiasaan sebagian umat Islam, baik kaum terpelajar dan orang awam, yang sering menyampaikan hadits-hadits tentang shaum dan Ramadhan tanpa memberitahukan, atau tanpa mau tahu, tentang dari siapakah hadits itu berasal? Terlebih lagi bagaimana otentitas hadits tersebut;  shahih atau dhaif?

  Hendaklah seorang muslim lebih perhatian dengan pengamalan hadits-hadits shahih. Sebab, kesibukkan dengan hadits-hadits shahih akan dapat mengurangi tersebarnya hadits-hadits dhaif di tengah umat Islam.

  Berikut ini adalah kumpulan hadits-hadits shahih tersebut, sejauh yang bisa kami kumpulkan. Selain itu, kami juga tambahkan seperlunya atsar shahih dari para sahabat dan tabiโ€™in. Kami yakini upaya ini masih sangat memerlukan tambahan di sana sini, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah Tabaraka wa Taโ€™ala.                                                                                            
1โƒฃ *Berpuasa karena melihat hilal, berhari raya juga karena melihat hilal, jika tertutup awan maka genapkan hingga tiga puluh hari*

  Dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ุตููˆู…ููˆุง ู„ูุฑูุคู’ูŠูŽุชูู‡ู ูˆูŽุฃูŽูู’ุทูุฑููˆุง ู„ูุฑูุคู’ูŠูŽุชูู‡ู ููŽุฅูู†ู’ ุบูุจู‘ููŠูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ููŽุฃูŽูƒู’ู…ูู„ููˆุง ุนูุฏู‘ูŽุฉูŽ ุดูŽุนู’ุจูŽุงู†ูŽ ุซูŽู„ูŽุงุซููŠู†ูŽ

  Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berhari rayalah karena melihatnya, jika hilal hilang dari penglihatanmu   maka sempurnakan bilangan Syaโ€™ban sampai tiga puluh hari. (HR. Bukhari No. 1909)

  Dari Ibnu Umar Radhiallahu โ€˜Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ููŽุตููˆู…ููˆุง ู„ูุฑูุคู’ูŠูŽุชูู‡ู ูˆูŽุฃูŽูู’ุทูุฑููˆุง ู„ูุฑูุคู’ูŠูŽุชูู‡ู ููŽุฅูู†ู’ ุฃูุบู’ู…ููŠูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ููŽุงู‚ู’ุฏูุฑููˆุง ู„ูŽู‡ู ุซูŽู„ูŽุงุซููŠู†ูŽ

  Maka berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berhari rayalah karena melihatnya, lalu jika kalian terhalang maka ditakarlahlah sampai tiga puluh hari. (HR. Muslim No. 1080, 4)

ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุงู„ุดู‘ูŽู‡ู’ุฑู ุชูุณู’ุนูŒ ูˆูŽุนูุดู’ุฑููˆู†ูŽ ููŽู„ูŽุง ุชูŽุตููˆู…ููˆุง ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูŽุฑูŽูˆู’ู‡ู ูˆูŽู„ูŽุง ุชููู’ุทูุฑููˆุง ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูŽุฑูŽูˆู’ู‡ู ููŽุฅูู†ู’ ุบูู…ู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ููŽุงู‚ู’ุฏูุฑููˆุง ู„ูŽู‡ู

  Sesungguhnya sebulan itu 29 hari, maka janganlah kalian berpuasa sampai kalian melihatnya (hilal), dan janganlah kalian berhari raya sampai kalian melihatnya, jika kalian terhalang maka takarkan/perkirakan/hitungkanlah dia. (HR. Muslim No. 1080, 3)

2โƒฃ *Berpuasa Ramadhan menghilangkan dosa-dosa yang lalu*

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ูˆู…ู† ุตุงู… ุฑู…ุถุงู† ุฅูŠู…ุงู†ุง ูˆุงุญุชุณุงุจุง ุบูุฑ ู„ู‡ ู…ุง ุชู‚ุฏู… ู…ู† ุฐู†ุจู‡

            “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan ihtisab,  maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.” (HR. Bukhari No. 38, 1910, 1802)

            Makna โ€˜diampuninya dosa-dosa yang laluโ€™ adalah dosa-dosa kecil, sebab dosa-dosa besar โ€“seperti membunuh, berzina, mabuk, durhaka kepada orang tua, sumpah palsu, dan lainnya- hanya bias dihilangkan dengan tobat nasuha, yakni dengan menyesali perbuatan itu, membencinya, dan tidak mengulanginya sama sekali.  Hal ini juga ditegaskan oleh hadits berikut ini.

3โƒฃ  *Diampuni dosa di antara Ramadhan ke Ramadhan*

            Dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

 ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽูˆูŽุงุชู ุงู„ู’ุฎูŽู…ู’ุณู ูˆูŽุงู„ู’ุฌูู…ู’ุนูŽุฉู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุฌูู…ู’ุนูŽุฉู ูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุงุชูŒ ู„ูู…ูŽุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู†ู‘ูŽ
       
  โ€œShalat yang lima waktu, dari jumat ke jumat, dan ramadhan ke Ramadhan, merupakan penghapus dosa di antara mereka, jika dia menjauhi dosa-dosa besar.โ€ (HR. Muslim No. 233)

4โƒฃ  *Shalat pada malam Lailatul Qadar menghilangkan dosa-dosa yang lalu*

        Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 ู…ู† ู‚ุงู… ู„ูŠู„ุฉ ุงู„ู‚ุฏุฑ ุฅูŠู…ุงู†ุง ูˆุงุญุชุณุงุจุงุŒ ุบูุฑ ู„ู‡ ู…ุง ุชู‚ุฏู… ู…ู† ุฐู†ุจู‡

            “Barang siapa yang shalat

malam pada malam Lailatul Qadar karena iman dan  ihtisab (mendekatkan diri kepada Allah) , maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.” (HR. Bukhari No. 35, 38, 1802)

5โƒฃ *Shalat malam (tarawih) Pada Bulan Ramadhan menghilangkan dosa-dosa yang lalu*

            Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุงู…ูŽ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ุฅููŠู…ูŽุงู†ู‹ุง ูˆูŽุงุญู’ุชูุณูŽุงุจู‹ุงุŒ ุบูููุฑูŽ ู„ูŽู‡ู ู…ูŽุง ุชูŽู‚ูŽุฏู‘ูŽู…ูŽ ู…ูู†ู’ ุฐูŽู†ู’ุจูู‡ู.

            “Barang siapa yang shalat malam pada Ramadhan karena iman dan  ihtisab, maka akan diampuni dosa-dosa yang lalu.” (HR. Bukhari No. 37 1904, 1905)

6โƒฃ *Dibuka Pintu Surga, Dibuka pinta Rahmat, Ditutup Pintu Neraka, dan Syetan dibelenggu*

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ุฅูุฐูŽุง ุฌูŽุงุกูŽ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู† ููุชู‘ูุญูŽุชู’ ุฃูŽุจู’ูˆูŽุงุจู ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ูˆูŽุบูู„ู‘ูู‚ูŽุชู’ ุฃูŽุจู’ูˆูŽุงุจู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู ูˆูŽุตููู‘ูุฏูŽุชู’ ุงู„ุดู‘ูŽูŠูŽุงุทููŠู†

            “Jika datang Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka dan syetan dibelenggu.” (HR. Muslim No. 1079)

            Dalam hadits lain:

ุฅุฐุง ูƒุงู† ุฑู…ุถุงู† ูุชุญุช ุฃุจูˆุงุจ ุงู„ุฑุญู…ุฉุŒ ูˆุบู„ู‚ุช ุฃุจูˆุงุจ ุฌู‡ู†ู…ุŒ ูˆุณู„ุณู„ุช ุงู„ุดูŠุงุทูŠู†

                “Jika bulan Ramadhan maka dibukalah pintu-pintu rahmat, ditutup pintu-pintu neraka dan syetan dirantai.” (HR. Muslim No. 1079)

7โƒฃ  *Allah Taโ€™ala Langsung Membalas Pahala Puasa*
Firman Allah Taโ€™ala dalam hadist Qudsi :

ูƒูู„ู‘ู ุนูŽู…ูŽู„ู ุงุจู’ู†ู ุขุฏูŽู…ูŽ ู„ูŽู‡ูุŒ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุงู„ุตู‘ููŠูŽุงู…ูŽุŒ ููŽู‡ููˆูŽ ู„ููŠุŒ ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุง ุฃูŽุฌู’ุฒููŠ ุจูู‡ู

โ€œSetiap amalan anak Adam itu adalah (pahala)  baginya, kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya.โ€ (HR. Bukhari No. 1795, Muslim No. 1151, Ibnu Majah No. 1638, 3823, Ahmad No. 7494, Ibnu Khuzaimah No. 1897, Ibnu Hibban No. 3416)

8โƒฃ  *Disediakan Pintu Ar Rayyan bagi orang yang puasa*

Haditsnya:

ุฅูู†ู‘ูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ุจูŽุงุจู‹ุง ูŠูู‚ูŽุงู„ู ู„ูŽู‡ู ุงู„ุฑู‘ูŽูŠู‘ูŽุงู†ู ูŠูŽุฏู’ุฎูู„ู ู…ูู†ู’ู‡ู ุงู„ุตู‘ูŽุงุฆูู…ููˆู†ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ู„ูŽุง ูŠูŽุฏู’ุฎูู„ู ู…ูู†ู’ู‡ู ุฃูŽุญูŽุฏูŒ ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ูู…ู’ ูŠูู‚ูŽุงู„ู ุฃูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ุตู‘ูŽุงุฆูู…ููˆู†ูŽ ููŽูŠูŽู‚ููˆู…ููˆู†ูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽุฏู’ุฎูู„ู ู…ูู†ู’ู‡ู ุฃูŽุญูŽุฏูŒ ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ูู…ู’ ููŽุฅูุฐูŽุง ุฏูŽุฎูŽู„ููˆุง ุฃูุบู’ู„ูู‚ูŽ ููŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฏู’ุฎูู„ู’ ู…ูู†ู’ู‡ู ุฃูŽุญูŽุฏูŒ

โ€œSesungguhnya di surga ada pintu yang dinamakan Ar Rayyan, yang akan dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat nanti, dan tidak ada yang memasuki melaluinya kecuali mereka. Dikatakan: โ€œMana orang-orang yang berpuasa? Maka mereka berdiri, dan tidak ada yang memasukinya seorang pun kecuali mereka. Jika mereka sudah masuk, maka pintu itu ditutup, dan tidak ada lagi seorang pun yang masuk melaluinya.โ€ (HR. Bukhari No. 1797, 3084, Muslim No. 1152, At Tirmidzi No. 762, Ibnu Majah No. 1640)

9โƒฃ *Bau mulut orang puasa lebih Allah Taโ€™ala cinta di banding kesturi*

Dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam:

ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ู†ูŽูู’ุณู ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุจููŠูŽุฏูู‡ู ู„ูŽุฎูู„ููˆูู ููŽู…ู ุงู„ุตู‘ูŽุงุฆูู…ู ุฃูŽุทู’ูŠูŽุจู ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ู…ูู†ู’ ุฑููŠุญู ุงู„ู’ู…ูุณู’ูƒู

โ€ฆ Demi Yang Jiwa Muhammad ada di tanganNya, bau mulut orang yang berpuasa lebih Allah cintai  dibanding bau misk (kesturi) โ€ฆโ€  (HR. Bukhari No. 1904 dan Muslim No. 1151)

๐Ÿ”Ÿ *Dua kebahagiaan bagi orang berpuasa*

Dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam:

 ู„ู„ุตุงุฆู… ูุฑุญุชุงู† ูŠูุฑุญู‡ู…ุง: ุฅุฐุง ุฃูุทุฑ ูุฑุญุŒ ูˆุฅุฐุง ู„ู‚ูŠ ุฑุจู‡ ูุฑุญ ุจุตูˆู…ู‡

โ€œBagi orang berpuasa ada dua kebahagiaan: yaitu kebahagiaan ketika berbuka, dan  ketika berjumpa Rabbnya bahagia karena puasanya.โ€ (HR. Bukhari No. 1805, 7054. Muslim no. 1151. At Tirmidzi No. 766. An Nasaโ€™i No. 2211, 2212, 2213, 2215, 2216. Ibnu Majah No. 1638. Ad Darimi No. 1769. Ibnu Hibban No. 3423. Al Baihaqi dalam As Sunan No. 7898. Ibnu Khuzaimah No. 1896. Abu Yaโ€™la No. 1005. Ahmad No. 4256, dari Ibnu Masโ€™ud. Ath Thabarani dalam Al Kabir No. 10077. Abdurrazzaq No. 7898)

๐Ÿ”ธBersambung ๐Ÿ”ธ

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Kalau Cinta Katakanlah! Surga Bagimu

๐Ÿ“† Ahad, 29 Sya’ban 1437H / 05 Juni 2016

๐Ÿ“š *Muamalah*

 ๐Ÿ“ *Ust. Farid Nu’man Hasan*

 ๐Ÿ“‹ *Kalau Cinta Katakanlah! Surga Bagimu*

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

โฃ Anas bin Malik Radhiallahu โ€˜Anhu bercerita:

ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุฌูู„ุงู‹ ูƒูŽุงู†ูŽ ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจูู‰ู‘ู -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ููŽู…ูŽุฑู‘ูŽ ุจูู‡ู ุฑูŽุฌูู„ูŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูู†ู‘ูู‰ ู„ุฃูุญูุจู‘ู ู‡ูŽุฐูŽุง. ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽู‡ู ุงู„ู†ู‘ูŽุจูู‰ู‘ู -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ยซ ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู’ุชูŽู‡ู ยป. ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ุงูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ยซ ุฃูŽุนู’ู„ูู…ู’ู‡ู ยป. ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽู„ูŽุญูู‚ูŽู‡ู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูู†ู‘ูู‰ ุฃูุญูุจู‘ููƒูŽ ููู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู.
ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุญูŽุจู‘ูŽูƒูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐูู‰ ุฃูŽุญู’ุจูŽุจู’ุชูŽู†ูู‰ ู„ูŽู‡ู.

Bahwa ada seorang laki-laki sedang bersama Nabi ๏ทบ, lalu lewatlah seorang laki-laki di hadapannya. Maka, dia berkata: โ€œWahai Rasulullah, saya benar-benar mencintai orang itu.โ€

Maka Nabi ๏ทบ berkata kepadanya: โ€œApakah kamu sudah memberitahu dia?โ€

Dia menjawab: โ€œBelum.โ€ Nabi bersabda: โ€œBeritahu dia!โ€ Lalu dia   menghampiri laki-laki itu dan berkata: โ€œAku mencintaimu karena Allah.โ€

Laki-laki itu menjawab: โ€œSemoga Allah mencintaimu, lantaran cintamu kepadaku karenaNya.โ€ (HR. Abu Daud No. 5127, Ibnu Hibban No. 571, Ahmad No. 12430. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth dan Syaikh Al Albani)

Cinta karena Allah ๏ทป yaitu cinta didasari oleh Islam, aqidah dan ukhuwah, bukan karena hartanya, sukunya, almamaternya, bisnisnya, kekayaannya, dan penampilannya.

Semua ini fana, maka cintanya pun akan fana. Sebaliknya, cinta karena Allah ๏ทป akan melanggengkan para pecinta sampai mereka di surga nanti, kekal dan abadi.

โฃ Abu Hurairah Radhiallahu berkata, bahwa Nabi ๏ทบ bersabda:

ุณูŽุจู’ุนูŽุฉูŒ ูŠูุธูู„ู‘ูู‡ูู…ู ุงู„ู„ู‡ู ูููŠ ุธูู„ู‘ูู‡ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ู„ูŽุง ุธูู„ู‘ูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุธูู„ู‘ูู‡ู

Ada tujuh golongan manusia yang akan Allah berikan perlindungan pada hari tidak ada perlindungan kecuali perlindungan dariNya (maksudnya hari kiamat) : …….. (salah satunya adalah)

ูˆูŽุฑูŽุฌูู„ูŽุงู†ู ุชูŽุญูŽุงุจู‘ูŽุง ูููŠ ุงู„ู„ู‡ู ุงุฌู’ุชูŽู…ูŽุนูŽุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุชูŽููŽุฑู‘ูŽู‚ูŽุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู

Dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul karenaNya dan berpisah pun karenaNya. (HR. Al Bukhari No. 660)

โฃ Abdullah bin Masโ€™ud Radhiallahu โ€˜Anhu bercerita, ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah ๏ทบ :

ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ูƒูŽูŠู’ููŽ ุชูŽู‚ููˆู„ู ูููŠ ุฑูŽุฌูู„ู ุฃูŽุญูŽุจู‘ูŽ ู‚ูŽูˆู’ู…ู‹ุง ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽู„ู’ุญูŽู‚ู’ ุจูู‡ูู…ู’ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู ? ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุกู ู…ูŽุนูŽ ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุญูŽุจู‘ูŽ

  Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda tentang seseorang yang mencintai kaum padahal dia belum pernah berjumpa dengan kaum itu? Rasulullah menjawab: โ€œSeseorang akan hidup bersama orang yang dicintainya.โ€ (HR. Al Bukhari No. 6169)

Imam Ibnu Baththal Rahimahullah menjelaskan:

ูุฏู„ ู‡ุฐุง ุฃู† ู…ู† ุฃุญุจ ุนุจุฏู‹ุง ูู‰ ุงู„ู„ู‡ ูุฅู† ุงู„ู„ู‡ ุฌุงู…ุน ุจูŠู†ู‡ ูˆุจูŠู†ู‡ ูู‰ ุฌู†ุชู‡ ูˆู…ุฏุฎู„ู‡ ู…ุฏุฎู„ุฉ ูˆุฅู† ู‚ุตุฑ ุนู† ุนู…ู„ู‡ ุŒ ูˆู‡ุฐุง ู…ุนู†ู‰ ู‚ูˆู„ู‡ : ( ูˆู„ู… ูŠู„ุญู‚ ุจู‡ู… ) ูŠุนู†ู‰ ูู‰ ุงู„ุนู…ู„ ูˆุงู„ู…ู†ุฒู„ุฉ

Hadits ini menunjukkan bahwa manusia yang mencintai seorang hamba karena Allah, maka Allah akan mengumpulkan antara dia dan orang yang dicintainya itu di surgaNya, dia akan dimasukan ke dalamnya walau amal dia sedikit dibanding amal orang tersebut. Inilah maksud dari perkataannya (padahal dia belum pernah berjumpa dengan kaum itu) yakni dalam amal dan kedudukannya. (Syarh Shahih Al Bukhari, 9/333)

  Maka, cintailah orang-orang yang benar lagi jujur, shalih,  syuhada,  ulama, dan paling utama adalah Rasulullah ๏ทบ, keluarganya, dan para sahabat-sahabatnya.  Walau kita masih jauh untuk seperti mereka, tapi mencintai mereka adalah bagian dari ketaatan atas perintah  Allah dan RasulNya.

โฃ Allah Taโ€™ala berfirman:

ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูุทูุนู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูˆูŽุงู„ุฑู‘ูŽุณููˆู„ูŽ ููŽุฃููˆู„ูŽุฆููƒูŽ ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุฃูŽู†ู’ุนูŽู…ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ููŠู†ูŽ ูˆูŽุงู„ุตู‘ูุฏู‘ููŠู‚ููŠู†ูŽ ูˆูŽุงู„ุดู‘ูู‡ูŽุฏูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ุตู‘ูŽุงู„ูุญููŠู†ูŽ ูˆูŽุญูŽุณูู†ูŽ ุฃููˆู„ูŽุฆููƒูŽ ุฑูŽูููŠู‚ู‹ุง

  Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. An Nisa: 69)

Semoga Allah ๏ทป tumbuhkan rasa cinta kita kepada orang-orang shalih, betah bersama mereka, dan bisa mengikuti jejak keshalihan mereka. Amiin.

Wallahu Aโ€™lam.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag. 11)

๏“† Rabu,  25 Sya’ban 1437 H / 01 Juni 2016 M

๏“š Fiqih dan Hadits

๏“ Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

๏“‹  *Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag. 11)*
๏Œฟ๏Œบ๏‚๏€๏Œผ๏„๏Œท๏

๏“š *Hal-hal yang diperbolehkan  ketika puasa*

โฃ *Mencium Isteri Selama mampu menahan diri*

Sebelum saya bahas dari sisi dalil, saya sampaikan secara global apa yang dikatakan oleh Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berikut:

ู‚ุงู„ ุงุจู† ุงู„ู…ู†ุฐุฑ ุฑุฎุต ููŠ ุงู„ู‚ุจู„ุฉ ุนู…ุฑ ูˆุงุจู† ุนุจุงุณ ูˆุฃุจูˆ ู‡ุฑูŠุฑุฉ ูˆุนุงุฆุดุฉุŒ ูˆุนุทุงุกุŒ ูˆุงู„ุดุนุจูŠุŒ ูˆุงู„ุญุณู†ุŒ ูˆุฃุญู…ุฏุŒ ูˆุฅุณุญุงู‚. ูˆู…ุฐู‡ุจ ุงู„ุงุญู†ุงู ูˆุงู„ุดุงูุนูŠุฉ: ุฃู†ู‡ุง ุชูƒุฑู‡ ุนู„ู‰ ู…ู† ุญุฑูƒุช ุดู‡ูˆุชู‡ุŒ ูˆู„ุง ุชูƒุฑู‡ ู„ุบูŠุฑู‡ุŒ ู„ูƒู† ุงู„ุงูˆู„ู‰ ุชุฑูƒู‡ุง. ูˆู„ุง ูุฑู‚ ุจูŠู† ุงู„ุดูŠุฎ ูˆุงู„ุดุงุจ ููŠ ุฐู„ูƒุŒ ูˆุงู„ุงุนุชุจุงุฑ ุจุชุญุฑูŠูƒ ุงู„ุดู‡ูˆุฉุŒ ูˆุฎูˆู ุงู„ุงู†ุฒุงู„ุŒ ูุฅู† ุญุฑูƒุช ุดู‡ูˆุฉ ุดุงุจุŒ ุฃูˆ ุดูŠุฎ ู‚ูˆูŠุŒ ูƒุฑู‡ุช. ูˆุฅู† ู„ู… ุชุญุฑูƒู‡ุง ู„ุดูŠุฎ ุฃูˆ ุดุงุจ ุถุนูŠูุŒ ู„ู… ุชูƒุฑู‡ุŒ ูˆุงู„ุงูˆู„ู‰ ุชุฑูƒู‡ุง. ูˆุณูˆุงุก ู‚ุจู„ ุงู„ุฎุฏ ุฃูˆ ุงู„ูู… ุฃูˆ ุบูŠุฑู‡ู…ุง. ูˆู‡ูƒุฐุง ุงู„ู…ุจุงุดุฑุฉ ุจุงู„ูŠุฏ ูˆุงู„ู…ุนุงู†ู‚ุฉ ู„ู‡ู…ุง ุญูƒู… ุงู„ู‚ุจู„ุฉ.

Berkata Ibnul Mundzir: Umar, Ibnu Abbas, Abu Hurairah,  Aisyah, Athaโ€™, Asy Syaโ€™bi, Ahmad dan Ishaq, mereka memberikan rukhshah (keringanan) dalam hal mencium (isteri).

Madzhab Hanafi dn Asy Syafโ€™i: Mencium itu makruh jika melahirkan syahwat, dan tidak makruh jika tidak bersyahwat, tetapi lebih utama meninggalkannya.

Dalam hal ini, tak ada perbedaan antara anak muda dan orang tua, yang menjadi pelajaran adalah munculnya syahwat (rangsangan) itu, dan kekhawatiran terjadinya inzal (keluarnya mani). Maka, munculnya syahwat, baik anak muda dan orang tua yang masih punya kekuatan, adalah makruh.. Namun, jika tidak menimbulkan syahwat, baik untuk orang tua atau anak muda yang lemah, maka tidak makruh, dan lebih utama adalah meninggalkannya.

Sama saja, baik mencium pipi, atau mulut, atau lainnya. Begitu pula mubasyarah (hubungan-cumbu) dengan tangan atau berpelukan, hukumnya sama dengan mencium. (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah , 1/461)

Jika dilihat dalil-dalil yang ada, dari berbagai perbedaan pendapat dalam hal ini,  maka akan kita dapatkan bahwa mencium isteri adalah mubah bagi orang yang berpuasa. Inilah pendapat yang lebih kuat.  Hal ini ditunjukkan langsung oleh perilaku Rasulullah terhadap isterinya, begitu pula perilaku para sahabat terhadap isteri mereka di antaranya Umar, Ibnu Masโ€™ud, Saad bin Abi Waqash, dan fatwa Ibnu Abbas Radhiallahu โ€˜Anhum. Bahkan mereka melakukan โ€˜lebihโ€™ dari sekedar mencium sebagaimana yang akan nanti saya sampaikan. Sedangkan alasan bagi pihak yang memakruhkan, biasanya adalah karena dzariโ€™ah (preventif, mencegah perbuatan yang mubah agar tidak jatuh ke yang haram), atau jika karena melampau batas. Jadi, dilihat dari sisi dalil, maka pihak yang memubahkan lebih rajih (kuat) landasannya.

โฃ *Berikut ini adalah bukti-buktinya.*

โœ… Perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan โ€˜Aisyah Radhiallahu ‘Anha

Rasulullah adalah laki-laki yang paling mampu menahan hawa nafsunya, namun diriwayatkan dari โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha dia berkata:

ูƒุงู† ูŠู‚ุจู„ู†ูŠ ูˆ ู‡ูˆ ุตุงุฆู… ูˆ ุฃู†ุง ุตุงุฆู…ุฉ

โ€œRasulullah mencium saya dan dia sedang puasa dan aku juga berpuasa.โ€

Syaikh Al Albany berkata: โ€œHadits ini shahih sesuai syarat Bukhari.โ€ (Syaikh Al Albani, As Silsilah Ash Shahihah No. 219)

Dalam hadits lain, juga dari โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha:

ูƒุงู† ูŠุจุงุดุฑ ูˆ ู‡ูˆ ุตุงุฆู… ุŒ ุซู… ูŠุฌุนู„ ุจูŠู†ู‡ ูˆ ุจูŠู†ู‡ุง ุซูˆุจุง . ูŠุนู†ูŠ ุงู„ูุฑุฌ

โ€œRasulullah bermubasyarah padahal sedang puasa, lalu dia membuat tabir dengan kain antara dirinya dengan kemaluan (โ€˜Aisyah).โ€ (HR. Ahmad No. 24314, Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mengatakan: shahih. Lihat Taโ€™liq Musnad Ahmad No. 24314)

Tentang hadits ini, berkata Al โ€˜Allamah Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah:

ูˆ ู‡ุฐุง ุณู†ุฏ ุฌูŠุฏ ุŒ ุฑุฌุงู„ู‡ ูƒู„ู‡ู… ุซู‚ุงุช ุฑุฌุงู„ ู…ุณู„ู… ุŒ ูˆ ู„ูˆู„ุง ุฃู† ุทู„ุญุฉ ู‡ุฐุง ููŠู‡ ูƒู„ุงู… ูŠุณูŠุฑ ู…ู† ู‚ุจู„ ุญูุธู‡ ุŒ ู„ู‚ู„ุช : ุฅู†ู‡ ุตุญูŠุญ ุงู„ุฅุณู†ุงุฏ ุŒ ูˆ ู„ูƒู† ุชูƒู„ู… ููŠู‡ ุจุนุถู‡ู… ุŒ ูˆ ู‚ุงู„ ุงู„ุญุงูุธ ููŠ ” ุงู„ุชู‚ุฑูŠุจ ” : ” ุตุฏูˆู‚ ูŠุฎุทู‰ุก ” . ู‚ู„ุช : ูˆ ููŠ ู‡ุฐุง ุงู„ุญุฏูŠุซ ูุงุฆุฏุฉ ู‡ุงู…ุฉ ูˆ ู‡ูˆ ุชูุณูŠุฑ ุงู„ู…ุจุงุดุฑุฉ ุจุฃู†ู‡ ู…ุณ ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ููŠู…ุง ุฏูˆู† ุงู„ูุฑุฌ ุŒ ูู‡ูˆ ูŠุคูŠุฏ ุงู„ุชูุณูŠุฑ ุงู„ุฐูŠ ุณุจู‚ ู†ู‚ู„ู‡ ุนู† ุงู„ู‚ุงุฑูŠ ุŒ ูˆ ุฅู† ูƒุงู† ุญูƒุงู‡ ุจุตูŠุบุฉ ุงู„ุชู…ุฑูŠุถ ( ู‚ูŠู„ ) : ูู‡ุฐุง ุงู„ุญุฏูŠุซ ูŠุฏู„ ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู‚ูˆู„ ู…ุนุชู…ุฏ ุŒ ูˆ ู„ูŠุณ ููŠ ุฃุฏู„ุฉ ุงู„ุดุฑูŠุนุฉ ู…ุง ูŠู†ุงููŠู‡ ุŒ ุจู„ ู‚ุฏ ูˆุฌุฏู†ุง ููŠ ุฃู‚ูˆุงู„ ุงู„ุณู„ู ู…ุง ูŠุฒูŠุฏู‡ ู‚ูˆุฉ ุŒ ูู…ู†ู‡ู… ุฑุงูˆูŠุฉ ุงู„ุญุฏูŠุซ ุนุงุฆุดุฉ ู†ูุณู‡ุง ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง ุŒ ูุฑูˆู‰ ุงู„ุทุญุงูˆูŠ ( 1 / 347 ) ุจุณู†ุฏ ุตุญูŠุญ ุนู† ุญูƒูŠู… ุจู† ุนู‚ุงู„ ุฃู†ู‡ ู‚ุงู„ : ุณุฃู„ุช ุนุงุฆุดุฉ : ู…ุง ูŠุญุฑู… ุนู„ูŠ ู…ู† ุงู…ุฑุฃุชูŠ ูˆ ุฃู†ุง ุตุงุฆู… ุŸ ู‚ุงู„ุช : ูุฑุฌู‡ุง ูˆ ุญูƒูŠู… ู‡ุฐุง ูˆุซู‚ู‡ ุงุจู† ุญุจุงู† ูˆ ู‚ุงู„ ุงู„ุนุฌูŠู„ูŠ : ” ุจุตุฑูŠ ุชุงุจุนูŠ ุซู‚ุฉ ” . ูˆ ู‚ุฏ ุนู„ู‚ู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ( 4 / 120 ุจุตูŠุบุฉ ุง
ู„ุฌุฒู… : ” ุจุงุจ ุงู„ู…ุจุงุดุฑุฉ ู„ู„ุตุงุฆู… ุŒ ูˆ ู‚ุงู„ุช ุนุงุฆุดุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง : ูŠุญุฑู… ุนู„ูŠู‡ ูุฑุฌู‡ุง ” . ูˆ ู‚ุงู„ ุงู„ุญุงูุธ : ” ูˆุตู„ู‡ ุงู„ุทุญุงูˆูŠ ู…ู† ุทุฑูŠู‚ ุฃุจูŠ ู…ุฑุฉ ู…ูˆู„ู‰ ุนู‚ูŠู„ ุนู† ุญูƒูŠู… ุจู† ุนู‚ุงู„ …. ูˆ ุฅุณู†ุงุฏู‡ ุฅู„ู‰ ุญูƒูŠู… ุตุญูŠุญ ุŒ ูˆ ูŠุคุฏูŠ ู…ุนู†ุงู‡ ุฃูŠุถุง ู…ุง ุฑูˆุงู‡ ุนุจุฏ ุงู„ุฑุฒุงู‚ ุจุฅุณู†ุงุฏ ุตุญูŠุญ ุนู† ู…ุณุฑูˆู‚ : ุณุฃู„ุช ุนุงุฆุดุฉ : ู…ุง ูŠุญู„ ู„ู„ุฑุฌู„ ู…ู† ุงู…ุฑุฃุชู‡ ุตุงุฆู…ุง ุŸ ู‚ุงู„ุช . ูƒู„ ุดูŠุก ุฅู„ุง ุงู„ุฌู…ุงุน ” .

โ€œSanad hadits ini jayyid (bagus). Semua rijalnya (periwayatnya) tsiqat (terpercaya) dan dipakai oleh Imam Muslim, seandainya Thalhah (salah seorang perawinya) tidak mendapat kritikan, saya akan katakan: hadits ini sanadnya shahih. Namun, sebagian ulama ada yang membicarakannya. Berkata Al Hafizh (Ibnu Hajar) dalam At Taqrib: โ€œDia jujur tapi melakukan kesalahan.โ€

Selanjutnya, ada faedah penting dari hadits ini, yakni tafsir tentang arti mubasyarah (bercumbu), yakni menyentuh wanita (isteri) selain kemaluannya. Pemaknaan ini mendukung tafsir yang telah dikutip oleh Al Qari. Walau pun dia dalam mengutipnya dengan bentuk kata tamridh (dikatakan ..). Maka hadits ini dapat dijadikan sebagai acuan, dan tidak ada dalil syariat yang menentangnya. Bahkan saya (Syaikh al Albany) telah menemukan prilaku para salaf (generasi terdahulu) yang memperkuat kebolehannya. Di antaranya adalah hadits dari โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha yang beliau tafsirkan sendiri, Ath Thahawi telah meriwayatkan (1/347) dengan sanad yang shahih dari Hakim bin Iqal, bahwa dia berkata: โ€œAku bertanya kepada โ€˜Aisyah: โ€˜Apa yang haram bagiku terhadap isteriku saat aku sedang puasa?โ€™, Dia menjawab: โ€˜Kemaluannya.โ€™

Hakim bin Iqal ini dinilai tsiqah (terpercaya) oleh Ibnu Hibban. Berkata Al โ€˜Ijili: โ€œDia (Hakim) adalah orang Bashrah (nama kota di Irak), generasi tabiโ€™in, dan tsiqah (terpercaya).โ€ Sedangkan Imam Bukhari telah mengomentari hadits ini (4/120)  dalam bab khusus dengan bentuk kata pasti: โ€œBab Mubasyarah (bercumbu) bagi orang yang berpuasa dan perkataan โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha: Haram bagi suaminya, kemaluannya.โ€

Sementara Al Hafizh (Ibnu Hajar) berkata: โ€œAth Thahawi menyambungkan sanad hadits itu melalui Abu Murrah, bekas pelayan Uqail, dari Hakim bin Iqal โ€ฆโ€

Penyandaran kepada Hakim bin Iqal ini adalah shahih. Hal serupa juga diriwayatlan oleh Abdurrazzaq dengan sanad yang shahih dari Masruq: โ€œAku bertanya kepada โ€˜Aisyah: โ€œApa sajakah yang dihalalkan bagi suami yang sedang puasa atas isterinya?โ€ Dia menjawab: โ€œSemuanya halal kecuali jimaโ€™ (bersetubuh).โ€ (Syaikh al Albany, Silsilah Ash Shahihah, No. 221)

โœ… Perbuatan Umar bin Al Khathab Radhiallahu โ€˜Anhu

Diriwayatkan dari Umar Radhilallahu โ€˜Anhu:

ุนู†ู’ ุนูู…ูŽุฑูŽ ุจู’ู†ู ุงู„ู’ุฎูŽุทู‘ูŽุงุจู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‡ูŽุดูŽุดู’ุชู ูŠูŽูˆู’ู…ู‹ุง ููŽู‚ูŽุจู‘ูŽู„ู’ุชู ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุง ุตูŽุงุฆูู…ูŒ ููŽุฃูŽุชูŽูŠู’ุชู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ููŽู‚ูู„ู’ุชู ุตูŽู†ูŽุนู’ุชู ุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุฃูŽู…ู’ุฑู‹ุง ุนูŽุธููŠู…ู‹ุง ููŽู‚ูŽุจู‘ูŽู„ู’ุชู ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุง ุตูŽุงุฆูู…ูŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูŽ ู„ูŽูˆู’ ุชูŽู…ูŽุถู’ู…ูŽุถู’ุชูŽ ุจูู…ูŽุงุกู ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูŽ ุตูŽุงุฆูู…ูŒ ู‚ูู„ู’ุชู ู„ูŽุง ุจูŽุฃู’ุณูŽ ุจูุฐูŽู„ููƒูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ููŽูููŠู…ูŽ

Suatu hari bangkitlah syahwat saya, lalu saya mencium isteri, saat itu saya sedang puasa. Maka saya datang kepada Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, saya berkata: โ€œHari ini, Aku telah melakukan hal yang besar, aku mencium isteri padahal sedang puasa.โ€ Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda: โ€œApa pendapatmu jika kamu bekumur-kumur dengan air dan kamu sedang berpuasa?โ€, Saya (Umar) menjawab: โ€œTidak mengapa.โ€ Maka Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda: โ€œLalu, kenapa masih ditanya?โ€ (HR. Ahmad No. 138. Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mengatakan: shahih, sesuai syarat Muslim. Lihat Taโ€™liq Musnad Ahmad No. 138)

โœ… Perilaku Saโ€™ad bin Abi Waqqash Radhiallahu โ€˜Anhu

Dia  adalah seorang sahabat nabi yang termasuk  mubasysyiruna bil jannah (dijamin masuk surga) oleh Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam sendiri. Dia adalah tokoh utama perang Al Qadisiyah melawan Persia. Namun demikian, itu semua tidak membuatnya malu untuk tetap romantis dengan isterinya. Walau pun dia sedang berpuasa, tidak menghalanginya untuk mubasyarah dengan isterinya.

Imam Ibnu Hazm Al Andalusi berkata:

” ูˆ ู…ู† ุทุฑูŠู‚ ุตุญุงุญ ุนู† ุณ
ุนุฏ ุจู† ุฃุจูŠ ูˆู‚ุงุต ุฃู†ู‡ ุณุฆู„ ุฃุชู‚ุจู„ ูˆ ุฃู†ุช ุตุงุฆู… ุŸ
ู‚ุงู„ : ู†ุนู… ุŒ ูˆ ุฃู‚ุจุถ ุนู„ู‰ ู…ุชุงุนู‡ุง

โ€œDari jalan yang shahih dari Saโ€™ad bin Abi Waqqash, bahwa dia ditanya: โ€œApakah engkau mencium (isteri) ketika sedang puasa?โ€ Dia menjawab: โ€œYa, bahkan aku menggenggam kemaluannya segala.โ€ (Imam Ibnu Hazm, Al Muhalla, 6/212. Darul Fikr. Tahqiq: Ustadz Ahmad Muhammad Syakir)

โœ… Perbuatan Abdullah bin Masโ€™ud Radhiallahu โ€˜Anhu

Dia ahli membaca Al Qurโ€™an dan tafsirnya, dan menjadi manusia pertama yang berani membaca Al Qurโ€™an di depan kaโ€™bah ketika masa-masa awal Islam.

ุนูŽู†ู’ ุนูŽู…ู’ุฑููˆ ุจู† ุดูุฑูŽุญู’ุจููŠู„ูŽุŒ”ุฅูู†ู‘ูŽ ุงุจู’ู†ูŽ ู…ูŽุณู’ุนููˆุฏู ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุจูŽุงุดูุฑู ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุชูŽู‡ู ู†ูุตู’ููŽ ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ูŽุงุฑูุŒ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุตูŽุงุฆูู…ูŒ”.

โ€œDari โ€˜Amru bin Syurahbil: โ€œSesungguhnya Ibnu Masโ€™ud pernah mubasyarah dengan isterinya pada tengah siang, padahal dia  sedang puasa.โ€ (HR. Ath Thabarani, Al Muโ€™jam Al Kabir,  No. 9573. Imam Abdurrazzaq, Al Mushannaf, Juz. 4, Hal. 191, No. 8442. Imam Ibnu Hazm, Al Muhalla, Juz. 6, Hal. 212. Katanya: โ€œIni adalah jalan yang paling shahih dari Ibnu Masโ€™ud.โ€)

Semua atsar (riwayat) di atas, baik Ibnu Abbas, Saโ€™ad bin Abi Waqqash, dan Ibnu Masโ€™ud  adalah shahih, maka bersenang-senang dengan isteri ketika berpuasa adalah boleh, namun bagi orang yang tidak mampu meredam hawa nafsunya, lebih baik ditinggalkan. Tetapi, kita tidak dibenarkan mengingkari pendapat yang memakruhkan mencium isteri atau lebih dari itu, sebab para ulama yang memakruhkan itu juga para imam agama yang mendalam ilmunya (lihat pembahasan dari Syaikh Sayyid Sabiq sebelumnya).

โœ… Pendapat Abdullah bin Abbas Radhiallahu โ€˜Anhu

Beliau adalah maha gurunya para mufassir (ahli tafsir). Ia dijuluki Hibrul Ummah (tintanya umat ini). Dan dia memiliki pandangan yang amat moderat dalam hal ini.

Imam Ibnu Hazm Rahimahullah meriwayat kan:

  ุนู† ุณุนูŠุฏ ุจู† ุฌุจูŠุฑ ุฃู† ุฑุฌู„ุง ู‚ุงู„ ู„ุงุจู† ุนุจุงุณ : ุฅู†ูŠ ุชุฒูˆุฌุช ุงุจู†ุฉ ุนู… ู„ูŠ ุฌู…ูŠู„ุฉ ุŒ ูุจู†ูŠ ุจูŠ ููŠ ุฑู…ุถุงู† ุŒ ูู‡ู„ ู„ูŠ – ุจุฃุจูŠ ุฃู†ุช ูˆ ุฃู…ูŠ – ุฅู„ู‰ ู‚ุจู„ุชู‡ุง ู…ู† ุณุจูŠู„ ุŸ ูู‚ุงู„ ู„ู‡ ุงุจู† ุนุจุงุณ : ู‡ู„ ุชู…ู„ูƒ ู†ูุณูƒ ุŸ ู‚ุงู„ : ู†ุนู… ุŒ ู‚ุงู„ : ู‚ุจู„ ุŒ ู‚ุงู„ : ูุจุฃุจูŠ ุฃู†ุช ูˆ ุฃู…ูŠ ู‡ู„ ุฅู„ู‰ ู…ุจุงุดุฑุชู‡ุง ู…ู† ุณุจูŠู„ ุŸ ! ู‚ุงู„ : ู‡ู„ ุชู…ู„ูƒ ู†ูุณูƒ ุŸ ู‚ุงู„ : ู†ุนู… ุŒ ู‚ุงู„ :
ูุจุงุดุฑู‡ุง ุŒ ู‚ุงู„ : ูู‡ู„ ู„ูŠ ุฃู† ุฃุถุฑุจ ุจูŠุฏูŠ ุนู„ู‰ ูุฑุฌู‡ุง ู…ู† ุณุจูŠู„ ุŸ ู‚ุงู„ : ูˆ ู‡ู„ ุชู…ู„ูƒ ู†ูุณูƒุŸ ู‚ุงู„ : ู†ุนู… ุŒ ู‚ุงู„ : ุงุถุฑุจ . ” ูˆ ู‡ุฐู‡ ุฃุตุญ ุทุฑูŠู‚ ุนู† ุงุจู† ุนุจุงุณ ” .

โ€œ Dari Said bin Jubeir bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Ibnu Abbas: โ€˜Aku menikahi seorang putri anak paman saya, ia seorang yang cantik. Saya membawanya pada bulan Ramdhan. Maka bolehkah bagi saya menciumnya?โ€™ maka Ibnu Abbas menjawab: โ€œApakah engkau bisa menahan hawa nafsu?โ€™ dia menjawab: โ€˜Ya,โ€™
Ibnu Abbas berkata: โ€œCiumlah!โ€
Laki-laki itu betanya lagi: โ€˜Bolehkah saya bercumbu dengannya?โ€™
Ibnu Abbas bertanya: โ€˜Bisakah engkau meredam nafsumu?โ€™
Laki-laki itu menjawab: โ€˜Ya.โ€™
Ibnu Abbas berkata: โ€˜Bercumbulah.โ€
Laki-laki itu bertanya lagi: โ€˜Bolehkah tangan saya memegang kemaluannya?โ€™
Ibnu Abbas bertanya: โ€˜Bisakah engkau meredam nafsumu?โ€™
Laki-laki itu menjawab: โ€˜Ya.โ€™
Ibnu Abbas berkata: โ€˜Peganglah.โ€

Ibnu Hazm berkata: โ€œIni adalah sanad yang paling shahih dari  Ibnu Abbas.โ€ (Imam Ibnu Hazm, Al Muhalla, Juz.  6, Hal. 212 Darul Fikr)

โœ… Komentar Al โ€˜Allamah al Muhaddits Muhammad Nashiruddn Al Albani Rahimahullah

Beliau menguatkan riwayat-riwayat di atas, baginya kebolehan mencium bahkan mubasyarah dengan isteri adalah pendapat yang lebih kuat, walau sebaiknya dihindarkan bagi yang tidak mampu meredam hawa nafsu.

ุฃุซุฑ ุงุจู† ู…ุณุนูˆุฏ ู‡ุฐุง ุฃุฎุฑุฌู‡ ุงุจู† ุฃุจูŠ ุดูŠุจุฉ ( 2 / 167 / 2 ) ุจุณู†ุฏ ุตุญูŠุญ ุนู„ู‰ ุดุฑุทู‡ู…ุง ุŒ ูˆ ุฃุซุฑ ุณุนุฏ ู‡ูˆ ุนู†ุฏู‡ ุจู„ูุธ ” ู‚ุงู„ : ู†ุนู… ูˆ ุขุฎุฐ ุจุฌู‡ุงุฒู‡ุง ” ูˆ ุณู†ุฏู‡ ุตุญูŠุญ ุนู„ู‰ ุดุฑุท ู…ุณู„ู… ุŒ ูˆ ุฃุซุฑ ุงุจู† ุนุจุงุณ ุนู†ุฏู‡ ุฃูŠุถุง ูˆ ู„ูƒู†ู‡ ู…ุฎุชุตุฑ ุจู„ูุธ : ” ูุฑุฎุต ู„ู‡ ููŠ ุงู„ู‚ุจู„ุฉ ูˆ ุงู„ู…ุจุงุดุฑุฉ ูˆ ูˆุถุน ุงู„ูŠุฏ ู…ุง ู„ู… ูŠุนุฏู‡ ุฅู„ู‰ ุบูŠุฑู‡ ” . ูˆ ุณู†ุฏู‡ ุตุญูŠุญ ุนู„ู‰ ุดุฑุท ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ . ูˆ ุฑูˆู‰ ุงุจู† ุฃุจูŠ ุดูŠุจุฉ ( 2 / 170 / 1 ) ุนู† ุนู…ุฑูˆ ุจู† ู‡ุฑู… ู‚ุงู„ : ุณุฆู„ ุฌุงุจุฑ ุจู† ุฒูŠุฏ ุนู† ุฑุฌู„ ู†ุธุฑ ุฅู„ู‰ ุงู…ุฑุฃุชู‡ ููŠ ุฑู…ุถุงู† ูุฃู…ู†ู‰ ู…ู† ุดู‡ูˆุชู‡ุง ู‡ู„ ูŠูุทุฑ ุŸ ู‚ุงู„ : ู„ุง ุŒ ูˆ ูŠุชู… ุตูˆู…ู‡ ” . ูˆ ุชุฑุฌู… ุงุจู† ุฎุฒูŠู…ุฉ ู„ู„ุญุฏูŠุซ ุจู‚ูˆู„ู‡ : ” ุจุงุจ ุงู„ุฑุฎุตุฉ ููŠ ุงู„ู…ุจุงุดุฑุฉ ุงู„ุชูŠ ู‡ูŠ ุฏูˆู† ุงู„ุฌู…ุงุน ู„ู„ุตุงุฆู… ุŒ ูˆ ุงู„ุฏู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ุฃู† ุงุณู… ุงู„ูˆุงุญุฏ ู‚ุฏ ูŠู‚ุน ุนู„ู‰ ูุนู„ูŠู† ุฃุญุฏู‡ู…ุง ู…ุจุงุญ ุŒ ูˆ ุงู„ุขุฎุฑ ู…ุญุธูˆุฑ ” .

โ€œAtsar (segala perbuatan dan perkataan sahabat dan tabiโ€™in) dari Ibnu Masโ€™ud ini telah juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (2/167) dengan san
ad yang shahih, sesuai syarat Bukhari dan Muslim. Sedangkan atsar dari Saโ€™ad bin Abi Waqqash juga diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dengan redaksi: โ€œBenar, bahkan aku memegang juga kemaluannya.โ€ Sanad ini shahih, sesuai syarat Imam Muslim.  Sedangkan atsar Ibnu Abbas  oleh Ibnu Abi Syaibah juga disebutkannya, tetapi dengan redaksi yang agak ringkas, yakni:

โ€œDia (Ibnu Abbas) memberikan keringanan kepada orang itu (yang bertanya) untuk mencium isterinya, bermubasyarah, dan meletakkan tangannya di atas kemaluan isterinya, selama tidak mendorongnya untuk melakukan hal yang lebih dari itu.โ€

Sanad atsar ini shahih sesuai syarat Bukhari. Ibnu Abi Syaibah (2/170/1)  meriwayatkan dari Amru bin Haram: bahwa Jabir bin Zaid ditanya tentang laki-laki yang melihat isterinya pada bulan Ramadhan sampai keluar mani-nya karena syahwatnya, apakah batal puasanya? Beliau menjawab: โ€œTidak, hendaknya dia menyempurnakan puasanya.โ€

Hadits ini juga disebutkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah, dalam pokok bahasan:

โ€œBab rukhshah (keringanan) dalam bermubasyarah (bercumbu) yang tanpa disertai jimaโ€™ (setubuh) bagi orang yang berpuasa.โ€

Disertai pula dalil mengenai satu kata yang bisa menghasilkan dua macam perbuatan, ada yang mengatakannya mubah (boleh) dan yang lainnya mengatakan mahzhur (terlarang). (Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany, Silsilah Ash Shahihah, Juz. 1, Hal. 220, No. 221)

Riwayat-riwayat shahih ini menunjukkan bahwa mencium isteri adalah mubah, bahkan ada yang melakukan  โ€˜lebihโ€™, selama tidak sampai jimaโ€™. Itulah yang dilakukan para sahabat nabi yang paling tahu tentang Islam dan paling bisa menahan diri.

๏ƒ๏ƒ๏ƒ๏ƒ๏ƒ๏ƒ

Demikianlah hal-hal yang diperbolehkan bagi orang yang puasa. Namun demikian, bukan berarti hal-hal di atas menjadi sebuah kelaziman bagi para shaimin, sehingga mereka menganggap ringan hal ini.

Sebab, menahan dari dari hal-hal yang bisa merusak kualitas puasa adalah hal yang utama, walau belum tentu perbuatan itu membatalkan puasa atau dibenci. 

Ini lebih sedikit, yang pada dasarnya karena dzariโ€™ah (tindakan preventif) demi menjaga kualitas puasa di sisi Allah Taโ€™ala.

โฃ *Berendam* secara *berlebihan* (sudah dibahas pada bab hal-hal yang dibolehkan)

โฃ *Kumur-kumur* dan menghirup air ke rongga hidung secara *berlebihan* (sudah dibahas juga di atas)

โฃ *Berbekam hingga membuat lemah badan* (sudah dibahas di atas)

โฃ *Mencium isteri hingga melahirkan syahwat* yang tidak terkendali (sudah dibahas di atas)

โฃ *Tidur berlebihan*

Hadits-hadits tentang โ€˜Tidurnya orang berpuasa adalah ibadahโ€™ tidaklah valid, alias *dhaif*.

Berikut pembahasannya:

ุนู† ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ุฃุจูŠ ุฃูˆูู‰ ุŒ ู‚ุงู„ : ู‚ุงู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… : ยซ ู†ูˆู… ุงู„ุตุงุฆู… ุนุจุงุฏุฉ ุŒ ูˆุตู…ุชู‡ ุชุณุจูŠุญ ุŒ ูˆุนู…ู„ู‡ ู…ุถุงุนู ุŒ ูˆุฏุนุงุคู‡ ู…ุณุชุฌุงุจ ุŒ ูˆุฐู†ุจู‡ ู…ุบููˆุฑ ยป

Dari Abdullah bin Abi Aufa, dia berkata: bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda: โ€œTidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya dilipatgandakan, doanya dikabulkan, dan dosanya diampunkan.โ€ (HR. Al Baihaqi, Syuโ€™abul Iman, No. 3937)

Dalam sanad hadits ini diriwayatkan oleh Maโ€™ruf bin Hisan dan Sulaiman bin Amru an Nakhaโ€™i.

Imam Al Baihaqi berkata tentang mereka berdua:

ู…ุนุฑูˆู ุจู† ุญุณุงู† ุถุนูŠู ูˆุณู„ูŠู…ุงู† ุจู† ุนู…ุฑูˆ ุงู„ู†ุฎุนูŠ ุฃุถุนู ู…ู†ู‡

โ€œMaโ€™ruf  bin Hisan adalah dhaโ€™if, dan Sulaiman bin โ€˜Amru an Nakhaโ€™i, lebih dhaโ€™if darinya.โ€ (Syuโ€™abul Iman No. 3939)

Dalam Takhrijul Ihyaโ€™ disebutkan:

ูˆููŠู‡ ุณู„ูŠู…ุงู† ุจู† ุนู…ุฑูˆ ุงู„ู†ุฎุนูŠ ุฃุญุฏ ุงู„ูƒุฐุงุจูŠู† .

โ€œDalam hadits ini terdapat Sulaiman bin โ€˜Amru an Nakhaโ€™i, salah seorang pendusta.โ€ (Imam Zainuddin al โ€˜Iraqi, Takhrijul Ihyaโ€™, Juz. 2, Hal. 23, No. 723)

Syaikh al Albany mendhaโ€™ifkan hadits ini. (Lihat Shahih wa Dhaโ€™if Jamiโ€™ush Shaghir, Juz. 26, Hal. 384,No. 12740)

Hadits lainnya:

ุงู„ุตุงุฆู… ููŠ ุนุจุงุฏุฉ ูˆ ุฅู† ูƒุงู† ุฑุงู‚ุฏุง ุนู„ู‰ ูุฑุงุดู‡

โ€œOrang yang berpuasa senantiasa dinilai ibadah, walau pun sedang berbaring di atas ranjangnya.โ€

Berkata Syaikh Al Albani Rahimahullah:

ุถุนูŠู . ุฑูˆุงู‡ ุชู…ุงู… ( 18 / 172 – 173 ) : ุฃุฎุจุฑู†ุง ุฃุจูˆ ุจูƒุฑ ูŠุญูŠู‰ ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ุงู„ุฒุฌุงุฌ ู‚ุงู„ : ุญุฏุซู†ุง ุฃุจูˆ ุจูƒุฑ ู…ุญู…ุฏ ุจู† ู‡ุงุฑูˆู† ุจู† ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุจูƒุงุฑ ุจู† ุจู„ุงู„ : ุญุฏุซู†ุง ุณู„ูŠู…ุงู† ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ุฑุญู…ู† : ุญุฏุซู†ุง ู‡ุงุดู… ุจู† ุฃุจูŠ ู‡ุฑูŠุฑุฉ ุงู„ุญู…ุตูŠ ุนู† ู‡ุดุงู… ุจู† ุญุณุงู† ุนู† ุงุจู† ุณูŠุฑูŠู† ุนู† ุณู„ู…ุงู† ุจู† ุนุงู…ุฑ ุงู„ุถุจูŠ ู…ุฑููˆุนุง . ูˆ ู‡ุฐุง ุณู†ุฏ ุถุนูŠู ูŠุญูŠู‰ ุงู„ุฒุฌุงุฌ ูˆ ู…ุญู…ุฏ ุจู† ู‡ุงุฑูˆู† ู„ู… ุฃุฌุฏ ู…ู† ุฐูƒุฑู‡ู…ุง . ูˆ ุจู‚ูŠุฉ ุฑุฌุงู„ู‡ ุซู‚ุงุช ุบูŠุฑ ู‡ุงุดู… ุจู† ุฃุจูŠ ู‡ุฑูŠุฑุฉ ุงู„ุญู…ุตูŠ ุชุฑุฌู…ู‡ ุงุจู† ุฃุจูŠ ุญุงุชู… ( 4 / 2 / 105 ) ูˆ ู„ู… ูŠุฐูƒุฑ ููŠู‡ ุฌุฑุญุง ูˆ ู„ุง ุชุนุฏูŠู„ุง . ู‚ุงู„ : “ูˆ ุงุณู… ุฃุจูŠ ู‡ุฑูŠุฑุฉ ุนูŠุณู‰ ุจู† ุจุดูŠุฑ ” . ูˆ ุฃูˆุฑุฏู‡ ููŠ ” ุงู„ู…ูŠุฒุงู† ” ูˆ ู‚ุงู„ : ” ู„ุง ูŠุนุฑู ุŒ ู‚ุงู„ ุงู„ุนู‚ูŠู„ูŠ : ู…ู†ูƒุฑ ุงู„ุญุฏูŠุซ ” . ูˆ ุงู„ุญุฏูŠุซ ุฃูˆุฑุฏู‡ ุงู„ุณูŠูˆุทูŠ ููŠ ” ุงู„ุฌุงู…ุน ุงู„ุตุบูŠุฑ ” ุจุฑูˆุงูŠุฉ ุงู„ุฏูŠู„ู…ูŠ ููŠ ” ู…ุณู†ุฏ ุงู„ูุฑุฏูˆุณ ” ุนู† ุฃู†ุณ . ูˆ ุชุนู‚ุจู‡ ุงู„ู…ู†ุงูˆูŠ ุจู‚ูˆู„ู‡ : ” ูˆ ููŠู‡ ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุฃุญู…ุฏ ุจู† ุณู‡ู„ ุŒ ู‚ุงู„ ุงู„ุฐู‡ุจูŠ ููŠ ” ุงู„ุถุนูุงุก ” : ู‚ุงู„ ุงุจู† ุนุฏูŠ : [ ู‡ูˆ ] ู…ู…ู† ูŠุถุน ุงู„ุญุฏูŠุซ ” .

Diriwayatkan oleh Tamam (18/172-173): Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Yahya bin Abdullah bin Az Zujaj, dia berkata: berkata kepadaku Abu Bakar Muhammad bin Harun bin Muhammad bin Bakar bin Bilal, berkata kepadaku Sulaiman bin Abdurrahman, berkata kepadaku Hasyim bin Abi Hurairah al Himshi, dari Hisyam bin Hisan, dari Ibnu Sirin, dari Salman bin โ€˜Amir adh dhabi secara marfuโ€™. Sanad ini dhaโ€™if  karena Yahya az Zujaj dan Muhammad bin Harun tidak saya (Syaikh al Albany) temukan biografinya tentang mereka berdua. Sedangkan yang lainnya tsiqat (terpercaya),  kecuali Hasyim bin Abi Hurairah  al Himshi, Imam Abu Hatim (4/2/105) telah menulis tentangnya tetapi tidak memberikan pujian atau kritik atasnya.

Dia berkata: โ€œNama asli dari Abi Hurairah al Himshi adalah โ€˜Isa bin Basyir.โ€ 

Dalam Al Mizan disebutkan tentang dia: โ€œTidak diketahui.โ€ Berkata Al โ€˜Uqaili: โ€œMunkarul hadits.โ€™  Hadits ini juga ada dalam Jamiโ€™ush Shaghir-nya Imam As Suyuthi, diriwayatkan oleh Ad Dailami dalam Musnad al Firdaus dari jalur Anas bin Malik. Al Munawi  ikut menerangkan dengan ucapannya: โ€œDi dalamnya terdapat Muhammad bin Ahmad bin Sahl, berkata Adz Dzahabi dalam Adh Dhuโ€™afa: berkata Ibnu โ€˜Adi: โ€œDia (Muhammad bin Ahmad binSahl) termasuk di antara pemalsu hadits.โ€ (Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany, Silsilah Adh Dhaโ€™ifah, Juz. 2, Hal. 230,

๏Œฟ๏Œบ๏‚๏€๏Œผ๏„๏Œท๏๏Œน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๏’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag. 10)

๏“† Selasa,  24 Sya’ban 1437 H / 31 Mei 2016 M

๏“š Fiqih dan Hadits

๏“ Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

๏“‹  *Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag. 10)*
๏Œฟ๏Œบ๏‚๏€๏Œผ๏„๏Œท๏

๏“š *Hal-hal yang diperbolehkan  ketika puasa*

๏“Œ *Bersiwak (menggosok gigi) baik pagi atau siang*

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata:

ูˆูŠุณุชุญุจ ู„ู„ุตุงุฆู… ุฃู† ูŠุชุณูˆูƒ ุฃุซู†ุงุก ุงู„ุตูŠุงู…ุŒ ูˆู„ุง ูุฑู‚ ุจูŠู† ุฃูˆู„ ุงู„ู†ู‡ุงุฑ ูˆุขุฎุฑู‡. ู‚ุงู„ ุงู„ุชุฑู…ุฐูŠ: ” ูˆู„ู… ูŠุฑ ุงู„ุดุงูุนูŠ ุจุงู„ุณูˆุงูƒุŒ ุฃูˆู„ ุงู„ู†ู‡ุงุฑ ูˆุขุฎุฑู‡ ุจุฃุณุง “. ูˆูƒุงู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูŠุชุณูˆูƒุŒ ูˆู‡ูˆ ุตุงุฆู….

Disunahkan bersiwak bagi orang yang berpuasa ketika ia berpuasa, tak ada perbedaan antara di awal siang dan akhirnya. Berkata At Tirmidzi: Imam Asy Syafi’i menganggap tidak mengapa bersiwak pada awal siang dan akhirnya. Dan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersiwak, padahal dia sedang puasa. (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Juz. 1,Hal. 459) 

Beliau menambahkan:

ูˆุงู„ุตุงุฆู… ูˆุงู„ู…ูุทุฑ ููŠ ุงุณุชุนู…ุงู„ู‡ ุฃูˆู„ ุงู„ู†ู‡ุงุฑ ูˆุขุฎุฑู‡ ุณูˆุงุกุŒ ู„ุญุฏูŠุซ ุนุงู…ุฑ ุจู† ุฑุจูŠุนุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡

Dan disunnahkan bagi orang yang berpuasa dan tidak, untuk bersiwak baik di awal siang atau di akhirnya, sama saja.

Diriwayatkan dari Amir bin Rabiโ€™ah Radhiallahu โ€˜Anhu:

ูˆูŽูŠูุฐู’ูƒูŽุฑู ุนูŽู†ู’ ุนูŽุงู…ูุฑู ุจู’ู†ู ุฑูŽุจููŠุนูŽุฉูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽุณู’ุชูŽุงูƒู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุตูŽุงุฆูู…ูŒ ู…ูŽุง ู„ูŽุง ุฃูุญู’ุตููŠ ุฃูŽูˆู’ ุฃูŽุนูุฏู‘

Disebutkan dari Amir bin Rabiโ€™ah, dia berkata: โ€œAku melihat Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersiwak, dan dia sedang puasa, dan tidak terhitung jumlahnya.โ€ (HR. Bukhari,  Bab  Siwak Ar Rathbi wal Yaabis Lish Shaa-im)

Imam Al Bukhari membuat judul Bab dalam kitab Jamiโ€™ush Shahih-nya:

ุจูŽุงุจ ุณููˆูŽุงูƒู ุงู„ุฑู‘ูŽุทู’ุจู ูˆูŽุงู„ู’ูŠูŽุงุจูุณู ู„ูู„ุตู‘ูŽุงุฆูู…ู

โ€œSiwak dengan yang kayu basah dan yang kering bagi orang Berpuasaโ€

Imam Ibnu Hajar berkata dalam Al Fath:

ูˆูŽุฃูŽุดูŽุงุฑูŽ ุจูู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ุชู‘ูŽุฑู’ุฌูŽู…ูŽุฉู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ุฑู‘ูŽุฏู‘ู ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุฑูู‡ูŽ ู„ูู„ุตู‘ูŽุงุฆูู…ู ุงู„ูุงุณู’ุชููŠูŽุงูƒูŽ ุจูุงู„ุณู‘ููˆูŽุงูƒู ุงู„ุฑู‘ูŽุทู’ุจู ูƒูŽุงู„ู’ู…ูŽุงู„ููƒููŠู‘ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ุดู‘ูŽุนู’ุจููŠู‘ู ุŒ ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุชูŽู‚ูŽุฏู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุจู’ู„ู ุจูุจูŽุงุจู ู‚ููŠูŽุงุณู ุงูุจู’ู†ู ุณููŠุฑููŠู†ูŽ ุงู„ุณู‘ููˆูŽุงูƒูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุทู’ุจูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูŽุงุก ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูŠูุชูŽู…ูŽุถู’ู…ูŽุถู ุจูู‡ู

โ€œKeterangan ini mengisyaratkan bantahan atas pihak yang memakruhkan bersiwak bagi orang yang berpuasa, yakni bersiwak dengan  kayu  basah, seperti kalangan Malikiyah dan Asy Sya’bi, dan telah dikemukakan sebelumnya tentang qiyas-nya Ibnu Sirin, bahwa bersiwak dengan yang basah itu sama halnya seperti air yang dengannya kita berkumur-kumur (yakni boleh, pen). (Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, 4/158)

Dalam Tuhfah Al Ahwadzi disebutkan:

( ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุจูŽุนู’ุถูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ูƒูŽุฑูู‡ููˆุง ุงู„ุณู‘ููˆูŽุงูƒูŽ ู„ูู„ุตู‘ูŽุงุฆูู…ู ุจูุงู„ู’ุนููˆุฏู ุงู„ุฑู‘ูŽุทู’ุจู ) ูƒูŽุงู„ู’ู…ูŽุงู„ููƒููŠู‘ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ุดู‘ูŽุนู’ุจููŠู‘ู ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ูู…ู’ ูƒูŽุฑูู‡ููˆุง ู„ูู„ุตู‘ูŽุงุฆูู…ู ุงู„ูุงุณู’ุชููŠูŽุงูƒูŽ ุจูุงู„ุณู‘ููˆูŽุงูƒู ุงู„ุฑู‘ูŽุทู’ุจู ู„ูู…ูŽุง ูููŠู‡ู ู…ูู†ู’ ุงู„ุทู‘ูŽุนู’ู…ู ุŒ ูˆูŽุฃูŽุฌูŽุงุจูŽ ุนูŽู†ู’ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุงูุจู’ู†ู ุณููŠุฑููŠู†ูŽ ุฌูŽูˆูŽุงุจู‹ุง ุญูŽุณูŽู†ู‹ุง ุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ุจูุฎูŽุงุฑููŠู‘ู ูููŠ ุตูŽุญููŠุญูู‡ู : ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงูุจู’ู†ู ุณููŠุฑููŠู†ูŽ : ู„ูŽุง ุจูŽุฃู’ุณูŽ ุจูุงู„ุณู‘ููˆูŽุงูƒู ุงู„ุฑู‘ูŽุทู’ุจู ุŒ ู‚ููŠู„ูŽ ู„ูŽู‡ู ุทูŽุนู’ู…ูŒ ุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุงุกู ู„ูŽู‡ู ุทูŽุนู’ู…ูŒ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูŽ ุชูู…ูŽุถู’ู…ูุถู ุจูู‡ู ุงูู†ู’ุชูŽู‡ูŽู‰ . ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงูุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ : ู„ูŽุง ุจูŽุฃู’ุณูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุณู’ุชูŽุงูƒูŽ ุงู„ุตู‘ูŽุงุฆูู…ู ุจูุงู„ุณู‘ููˆูŽุงูƒู ุงู„ุฑู‘ูŽุทู’ุจู ูˆูŽุงู„ู’ูŠูŽุงุจูุณู ุฑูŽูˆูŽุงู‡ู ุงูุจู’ู†ู ุฃูŽุจููŠ ุดูŽูŠู’ุจูŽุฉูŽ ุŒ ู‚ูู„ู’ุช ู‡ูŽุฐูŽุง ู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุญูŽู‚ู‘ู

(Hanya saja sebagian ahli ilmu ada yang memakruhkan bersiwak bagi orang yang berpuasa dengan menggunakan dahan kayu yang basah) seperti kalangan Malikiyah dan Imam Asy Syaโ€™bi, mereka memakruhkan orang berpuasa bersiwak dengan dahan kayu basah karena itu bagian dari makanan. Ibnu Sirin telah menyanggah itu dengan jawaban yang baik. Al Bukhari berkata dalam Shahihnya: โ€œBerkata Ibnu Sirin: Tidak mengapa bersiwak dengan kayu basah, dikatakan โ€œ bahwa itu adalah makananโ€, Dia (Ibnu Sirin) menjawab: Air baginya juga makanan, dan engkau berkumur kumur dengannya (air).โ€ Selesai. Ibnu Umar berkata: โ€œTidak mengapa bersiwak bagi yang berpuasa baik dengan kayu basah atau kering,โ€ diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah. Aku (pengarang Tuhfah Al Ahwadzi) berkata: Inilah yang lebih benar.โ€ (Syaikh Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim Al Mubarkafuri, Tuhfah Al Ahwadzi, 3/345)

Dengan demikian tidak mengapa bahkan sunah kita bersiwak ketika berpuasa, baik, pagi, siang, atau sore secara mutlak.

Syaikh Al Mubarkafuri mengatakan:

ูˆูŽุจูุฌูŽู…ููŠุนู ุงู„ู’ุฃูŽุญูŽุงุฏููŠุซู ุงู„ู‘ูŽุชููŠ ุฑููˆููŠูŽุชู’ ูููŠ ู…ูŽุนู’ู†ูŽุงู‡ู ูˆูŽูููŠ ููŽุถู’ู„ู ุงู„ุณู‘ููˆูŽุงูƒู ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ุจูุฅูุทู’ู„ูŽุงู‚ูู‡ูŽุง ุชูŽู‚ู’ุชูŽุถููŠ ุฅูุจูŽุงุญูŽุฉูŽ ุงู„ุณู‘ููˆูŽุงูƒู ูููŠ ูƒูู„ู‘ู ูˆูŽู‚ู’ุชู ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูู„ู‘ู

ุญูŽุงู„ู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุตูŽุญู‘ู ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽู‚ู’ูˆูŽู‰
โ€œDan dengan mengumpulkan semua hadits-hadits yang diriwayatkan tentang ini dan tentang  keutamaan bersiwak, bahwa keutamaannya adalah mutlak, dan kebolehannya itu pada setiap waktu, setiap keadaan, dan itu lebih shahih dan lebih kuat.โ€ (Ibid)

Adapun pasta gigi, dihukumi sama dengan kayu basah, karena sama-sama mengandung air dan rasa. Dan Imam An Nawawi mengatakan bahwa dengan alat apa pun selama tujuan โ€˜membersihkanโ€™ telah tercapai, itu juga dinamakan bersiwak, baik itu dengan jari, kain, atau lainnya selama tidak membahayakan. Imam Abul Hasan As Sindi berkata:

ูˆูŽู‡ููˆูŽ ูƒูู„ู‘ ุขู„ูŽุฉ ูŠูุชูŽุทูŽู‡ู‘ูŽุฑ ุจูู‡ูŽุง ุดูุจู‘ูู‡ูŽ ุงู„ุณู‘ููˆูŽุงูƒ ุจูู‡ูŽุง ุ› ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูู†ูŽุธู‘ูู ุงู„ู’ููŽู… ุŒ ูˆูŽุงู„ุทู‘ูŽู‡ูŽุงุฑูŽุฉ ุงู„ู†ู‘ูŽุธูŽุงููŽุฉ ุฐูŽูƒูŽุฑูŽู‡ู ุงู„ู†ู‘ูŽูˆูŽูˆููŠู‘

โ€œYaitu alat apa saja yang bisa mensucikan dengannya maka dia menyerupai siwak, karena dia bisa membersihkan mulut, bersuci dan membersihkan, demikian kata An Nawawiโ€ (Imam Abul Hasan Muhammad bin Abdil Hadi As Sindi, Syarh An Nasaโ€™i, 1/10)

๏“Œ *Mencicipi makanan sekedarnya*

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

ูˆู‚ุงู„ ุงุจู† ุนุจุงุณ: ู„ุง ุจุฃุณ ุฃู† ูŠุฐูˆู‚ ุงู„ุทุนุงู… ุงู„ุฎู„ุŒ ูˆุงู„ุดุฆ ูŠุฑูŠุฏ ุดุฑุงุกู‡. ูˆูƒุงู† ุงู„ุญุณู† ูŠู…ุถุบ ุงู„ุฌูˆุฒ ู„ุงุจู† ุงุจู†ู‡ ูˆู‡ูˆ ุตุงุฆู…ุŒ ูˆุฑุฎุต ููŠู‡ ุฅุจุฑุงู‡ูŠู….

โ€œBerkata Ibnu Abbas: โ€˜Tidak mengapa mencicipi asamnya makanan, atau sesuatu yang hendak dibelinya.โ€™ Al Hasan pernah mengunyah-ngunyah kelapa untuk cucunya, padahal dia sedang puasa, dan Ibrahim memberikan keringanan dalam hal ini.โ€ (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 1/462)

๏“Œ *Hal-hal yang tidak mungkin dihindari (menelan ludah, menghirup debu jalanan, menyaring tepung, dan lain-lain)*

Syaikh Sayyid Sabiq mengatakan:

ูƒุฐุง ูŠุจุงุญ ู„ู‡ ู…ุง ู„ุง ูŠู…ูƒู† ุงู„ุงุญุชุฑุงุฒ ุนู†ู‡ ูƒุจู„ุน ุงู„ุฑูŠู‚ ูˆุบุจุงุฑ ุงู„ุทุฑูŠู‚ุŒ ูˆุบุฑุจู„ุฉ ุงู„ุฏู‚ูŠู‚ ูˆุงู„ู†ุฎุงู„ุฉ ูˆู†ุญูˆ ุฐู„ูƒ.

โ€œDemikian pula, dibolehkan baginya apa-apa yang tidak mungkin dihindari, seperti menelan ludah, menghirup debu jalanan, menyaring tepung, dan lain-lain.โ€ (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 1/462)

๏“Œ *Junub di Pagi hari*

โ€˜Aisyah dan Ummu Salamah Radhiallahu โ€˜Anhuma menceritakan:

ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุฏู’ุฑููƒูู‡ู ุงู„ู’ููŽุฌู’ุฑู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุฌูู†ูุจูŒ ู…ูู†ู’ ุฃูŽู‡ู’ู„ูู‡ู ุซูู…ู‘ูŽ ูŠูŽุบู’ุชูŽุณูู„ู ูˆูŽูŠูŽุตููˆู…ู

โ€œAdalah Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam memasuki fajar dalam keadaan junub karena berhubungan dengan isterinya, lalu dia mandi dan berpuasa.โ€ (HR. Bukhari No. 1925, Muslim No. 1109)

Imam Ibnu Hajar mengatakan:

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุทูุจููŠู‘ : ูููŠ ู‡ูŽุฐูŽุง ููŽุงุฆูุฏูŽุชูŽุงู†ู ุŒ ุฅูุญู’ุฏูŽุงู‡ูู…ูŽุง ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุฌูŽุงู…ูุน ูููŠ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู† ูˆูŽูŠูุคูŽุฎู‘ูุฑ ุงู„ู’ุบูุณู’ู„ ุฅูู„ูŽู‰ ุจูŽุนู’ุฏ ุทูู„ููˆุน ุงู„ู’ููŽุฌู’ุฑ ุจูŽูŠูŽุงู†ู‹ุง ู„ูู„ู’ุฌูŽูˆูŽุงุฒู . ุงู„ุซู‘ูŽุงู†ููŠ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุฌูู…ูŽุงุน ู„ูŽุง ู…ูู†ู’ ุงูุญู’ุชูู„ูŽุงู… ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽุญู’ุชูŽู„ูู… ุฅูุฐู’ ุงู„ูุงุญู’ุชูู„ูŽุงู… ู…ูู†ู’ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู† ูˆูŽู‡ููˆูŽ ู…ูŽุนู’ุตููˆู… ู…ูู†ู’ู‡ู .

โ€œBerkata Al Qurthubi: โ€œHadits ini ada dua faidah. Pertama, bahwa beliau berjimaโ€™ pada Ramadhan (malamnya) dan mengakhirkan mandi hingga setelah terbitnya fajar, merupakan penjelasan bolehnya hal itu. Kedua, hal itu (junub) dikarenakan jimaโ€™ bukan karena mimpi basah, karena beliau tidaklah mimpi basah, mengingat bahwa mimpi basah adalah dari syetan, dan beliau maโ€™shum dari hal itu.โ€ (Fathul Bari, 4/144)

๏“Œ *Mencium Harum-Haruman*

Tak ada keterangan yang shahih tentang pelarangannya, oleh karena itu Imam Ibnu Taimiyah berkata:

ูˆูŽุดูŽู…ู‘ู ุงู„ุฑู‘ูŽูˆูŽุงุฆูุญู ุงู„ุทู‘ูŽูŠู‘ูุจูŽุฉู ู„ูŽุง ุจูŽุฃู’ุณูŽ ุจูู‡ู ู„ูู„ุตู‘ูŽุงุฆูู…ู
โ€œMencium harum-haruman adalah tidak mengapa bagi orang berpuasa.โ€ (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Fatawa Al Kubra, 5/376)

๏”ธBersambung ๏”ธ

๏Œฟ๏Œบ๏‚๏€๏Œผ๏„๏Œท๏๏Œน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๏’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag. 9)

๏“† Senin,  23 Sya’ban 1437 H / 30 Mei 2016 M

๏“š Fiqih dan Hadits

๏“ Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

๏“‹  *Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag. 9)*
๏Œฟ๏Œบ๏‚๏€๏Œผ๏„๏Œท๏

๏“š *Hal-hal yang diperbolehkan  ketika puasa*

Pada dasarnya, hal-hal yang diperbolehkan bagi orang berpuasa lebih banyak dibanding perbuatan yang dilarang (baik makruh atau haram).  Selain secara dalil juga lebih kuat dan banyak. Sedangkan alasan pemakruhan biasanya karena alasan pencegahan (dzariโ€™ah) dan jika perbuatan itu melampaui batas.

๏“Œ Berendam di Air atau Mandi

Abu Bakar berkata, telah ada yang bercerita kepadaku seseorang:

ู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุจูุงู„ู’ุนูŽุฑู’ุฌู ูŠูŽุตูุจู‘ู ุงู„ู’ู…ูŽุงุกูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฑูŽุฃู’ุณูู‡ู ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุนูŽุทูŽุดู ุฃูŽูˆู’ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุญูŽุฑ

โ€œAku telah melihat Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam mengguyurkan air ke kepalanya, lantaran rasa haus dan panas.โ€ (HR. Malik, Al Muwaththa, No. 561, riwayat Yahya Al Laits. Ahmad No. 16602. Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mengatakan: shahih. Taโ€™liq Musnad Ahmad No. 16602)

Disebutkan dalam Imam Abu Sulaiman  Walid Al Baji Rahimahullah mengatakan:

ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุจูŽู„ูŽุบูŽ ุจูู‡ู ุดูุฏู‘ูŽุฉู ุงู„ู’ุนูŽุทูŽุดู ุฃูŽูˆู’ ุงู„ู’ุญูŽุฑู‘ู ุฃูŽู†ู’ ุตูŽุจู‘ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุงุกูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฑูŽุฃู’ุณูู‡ู ู„ููŠูŽุชูŽู‚ูŽูˆู‘ูŽู‰ ุจูุฐูŽู„ููƒูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุตูŽูˆู’ู…ูู‡ู ูˆูŽู„ููŠูุฎูŽูู‘ููู’ ุนูŽู†ู’ ู†ูŽูู’ุณูู‡ู ุจูŽุนู’ุถูŽ ุฃูŽู„ูŽู…ู ุงู„ู’ุญูŽุฑู‘ู ุฃูŽูˆู’ ุงู„ู’ุนูŽุทูŽุดู ูˆูŽู‡ูŽุฐูŽุง ุฃูŽุตู’ู„ูŒ ูููŠ ุงุณู’ุชูุนู’ู…ูŽุงู„ู ู…ูŽุง ูŠูŽุชูŽู‚ูŽูˆู‘ูŽู‰ ุจูู‡ู ุงู„ุตู‘ูŽุงุฆูู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุตูŽูˆู’ู…ูู‡ู ู…ูู…ู‘ูŽุง ู„ูŽุง ูŠูŽู‚ูŽุนู ุจูู‡ู ุงู„ู’ููุทู’ุฑู ู…ูู†ู’ ุงู„ุชู‘ูŽุจูŽุฑู‘ูุฏู ุจูุงู„ู’ู…ูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุถู’ู…ูŽุถูŽุฉู ุจูู‡ู ุ› ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ูŠูุนููŠู†ูู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุตู‘ูŽูˆู’ู…ู ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽู‚ูŽุนู ุจูู‡ู ุงู„ู’ููุทู’ุฑู ุ› ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽู…ู’ู„ููƒู ู…ูŽุง ูููŠ ููŽู…ูู‡ู ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ู…ูŽุงุกู ูˆูŽูŠูŽุตู’ุฑูููู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงุฎู’ุชููŠูŽุงุฑูู‡ู ูˆูŽูŠููƒู’ุฑูŽู‡ู ู„ูŽู‡ู ุงู„ูุงู†ู’ุบูู…ูŽุงุณู ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุงุกู ู„ูุฆูŽู„ู‘ูŽุง ูŠูŽุบู’ู„ูุจูŽู‡ู ุงู„ู’ู…ูŽุงุกู ู…ูŽุนูŽ ุถููŠู‚ู ู†ูŽููŽุณูู‡ู ููŽูŠูŽูู’ุณูุฏูŽ ุตูŽูˆู’ู…ูู‡ู ููŽุฅูู†ู’ ููŽุนูŽู„ูŽ ููŽุณูŽู„ูู…ูŽ ููŽู„ูŽุง ุดูŽูŠู’ุกูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู .

โ€œBeliau  mengalami  haus  atau panas yang sangat, sehingga beliau mengguyurkan air ke kepalanya untuk menguatkan puasanya, dan meringankan sebagian rasa sakit yang dialami dirinya lantaran panas atau haus. Ini adalah hukum dasar dalam memakai apa saja yang bisa menguatkan orang berpuasa, yakni tidaklah membatalkan puasa, baik berupa menyejukkan diri dengan air dan berkumur-kumur dengannya. Karena hal itu bisa membantunya dalam puasa dan tidaklah membatalkan puasanya, karena dia mampu menjaga mulutnya dari air dan bisa mengatur air. Dan dimakruhkan berendam dalam air karena air telah menguasai (menutupi) dirinya dan membuatnya disempitkan dnegan air tersebut, sehingga  puasanya bisa dirusak olehnya. Tetapi jika dia melakukan itu, dan selamat dari hal itu, maka tidak apa-apa.โ€  (Al Muntaqa Syarh Al Muwaththaโ€™ , Juz. 2, Hal. 172, Mawqiโ€™ Al Islam)

Tentang hadits di atas,  berkata Imam Asy Syaukani Rahimahullah:

ูููŠู‡ู ุฏูŽู„ููŠู„ูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽุฌููˆุฒู ู„ูู„ุตู‘ูŽุงุฆูู…ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽูƒู’ุณูุฑูŽ ุงู„ู’ุญูŽุฑู‘ูŽ ุจูุตูŽุจู‘ู ุงู„ู’ู…ูŽุงุกู ุนูŽู„ูŽู‰ ุจูŽุนู’ุถู ุจูŽุฏูŽู†ูู‡ู ุฃูŽูˆู’ ูƒูู„ู‘ูู‡ู ุŒ ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุฐูŽู‡ูŽุจูŽ ุฅู„ูŽู‰ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุงู„ู’ุฌูู…ู’ู‡ููˆุฑู ุŒ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูููŽุฑู‘ูู‚ููˆุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุบู’ุณูŽุงู„ู ุงู„ู’ูˆูŽุงุฌูุจูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุณู’ู†ููˆู†ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุจูŽุงุญูŽุฉู .
ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ุงู„ู’ุญูŽู†ูŽูููŠู‘ูŽุฉู : ุฅู†ู‘ูŽู‡ู ูŠููƒู’ุฑูŽู‡ู ุงู„ูุงุบู’ุชูุณูŽุงู„ู ู„ูู„ุตู‘ูŽุงุฆูู…ู ุŒ ูˆูŽุงุณู’ุชูŽุฏูŽู„ู‘ููˆุง ุจูู…ูŽุง ุฃูŽุฎู’ุฑูŽุฌูŽู‡ู ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ุฑู‘ูŽุฒู‘ูŽุงู‚ู ุนูŽู†ู’ ุนูŽู„ููŠู‘ู ู…ูู†ู’ ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ู’ูŠู ุนูŽู†ู’ ุฏูุฎููˆู„ู ุงู„ุตู‘ูŽุงุฆูู…ู ุงู„ู’ุญูŽู…ู‘ูŽุงู…ูŽ 

โ€œDalam hadits ini terdapat dalil bolehnya bagi orang puasa mengurangi rasa panas dengan mengguyurkan air ke sebagian badannya atau seluruhnya (seperti mandi, pen), demikianlah madzhab jumhur (mayoritas ulama), dan mereka tidak membedakan antara mandi wajib, sunah, dan mubah (semuanya hukumnya sama).

Kalangan Hanafiyah berkata: Sesungguhnya mandi adalah makruh bagi orang berpuasa, mereka beralasan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, dari Ali, berupa larangan bagi orang puasa untuk memasuki kamar mandi.  (Nailul Authar, 4/585. Lihat Aunul Mabud, 6/352)

Tetapi riwayat larangan tersebut adalah dhaif, sebagaimana dikatakan Al Hafizh Ibnu Hajar. (Ibid)

๏“Œ Memakai celak (Iktihal) atau meneteskan obat ke mata

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

ุงู„ุงูƒุชุญุงู„: ูˆุงู„ู‚ุทุฑุฉ ูˆู†ุญูˆู‡ู…ุง ู…ู…ุง ูŠุฏุฎู„ ุงู„ุนูŠู†ุŒ ุณูˆุงุก ุฃูˆุฌุฏ ุทุนู…ู‡ ููŠ ุญู„ู‚ู‡ ุฃู… ู„ู… ูŠุฌุฏู‡ุŒ ู„ุงู† ุงู„ุนูŠู† ู„ูŠุณุช ุจู…ู†ูุฐ ุฅู„ู‰ ุงู„ุฌูˆู. ูˆุนู† ุฃู†ุณ: ” ุฃู†ู‡ ูƒุงู† ูŠูƒุชุญู„ ูˆู‡ูˆ ุตุงุฆู… “. ูˆุฅู„ู‰ ู‡ุฐุง ุฐู‡ุจุช ุงู„ุดุงูุนูŠุฉุŒ ูˆุญูƒุงู‡ ุงุจู† ุงู„ู…ู†ุฐุฑุŒ ุนู† ุนุทุงุกุŒ ูˆุงู„ุญุณู†ุŒ ูˆุงู„ู†ุฎุนูŠุŒ ูˆุงู„ุงูˆุฒุงุนูŠุŒ ูˆุฃุจูŠ ุญู†ูŠูุฉุŒ ูˆุฃุจูŠ ุซูˆุฑ. ูˆุฑูˆูŠ ุนู† ุงุจู† ุนู…ุฑุŒ ูˆุฃู†ุณ ูˆุงุจู† ุฃุจูŠ

ุฃูˆูู‰ ู…ู† ุงู„ุตุญุงุจุฉ. ูˆู‡ูˆ ู…ุฐู‡ุจ ุฏุงูˆุฏ. ูˆู„ู… ูŠุตุญ ููŠ ู‡ุฐุง ุงู„ุจุงุจ ุดุฆ ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…ุŒ ูƒู…ุง ู‚ุงู„ ุงู„ุชุฑู…ุฐูŠ.
โ€œBercelak dan meneteskan obat atau lain-lain ke dalam mata, semuanya adalah sama. Walau pun terasa dalam keronkongan atau tidak, karena mata bukanlah bukanlah jalan menuju rongga perut.  Dari Anas: โ€œBahwa beliau bercelak padahal sedang berpuasa. Inilah madzhab Syafiiyyah, dan menurut cerita Ibnul Mundzir, ini juga pendapat Atha, Al Hasan, An Nakhai, Al Auzai, Abu Hanifah dan Abu Tsaur. Diriwayatkan pula dari Ibnu Umar, Anas, dan Ibnu Abi Aufa dari golongan sahabat. Ini juga madzhab Daud, dalam masalah ini tak ada satu pun yang shahih dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam (yang menunjukkan larangan, pen) sebagaimana yang dikatakan oleh Imam At Tirmidzi.  (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Juz. 1, Hal. 460)

๏“Œ *Hijamah (Berbekam) selama tidak melemahkan*

ุนูŽู†ู’ ุงุจู’ู†ู ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ูŽุง ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุงุญู’ุชูŽุฌูŽู…ูŽ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ู…ูุญู’ุฑูู…ูŒ ูˆูŽุงุญู’ุชูŽุฌูŽู…ูŽ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุตูŽุงุฆูู…ูŒ
Dari Ibnu โ€˜Abbas Radhiallahu โ€˜Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam berbekam dan beliau sedang ihram, dan pernah berbekam padahal sedang berpuasa.โ€  (HR. Bukhari No. 1938)

Dari Tsabit Al Bunani:

ุณูุฆูู„ูŽ ุฃูŽู†ูŽุณู ุจู’ู†ู ู…ูŽุงู„ููƒู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ุฃูŽูƒูู†ู’ุชูู…ู’ ุชูŽูƒู’ุฑูŽู‡ููˆู†ูŽ ุงู„ู’ุญูุฌูŽุงู…ูŽุฉูŽ ู„ูู„ุตู‘ูŽุงุฆูู…ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽุง ุฅูู„ู‘ูŽุง ู…ูู†ู’ ุฃูŽุฌู’ู„ู ุงู„ุถู‘ูŽุนู’ูู

โ€œAnas bin Malik ditanya: โ€œApakah Anda memakruhkan berbekam bagi orang puasa?โ€ beliau menjawab: โ€œTidak, selama tidak membuat lemah.โ€ (HR. Bukhari No. 1940)

Imam Ibnu Hajar Rahimahullah berkata:

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงูุจู’ู† ุนูŽุจู’ุฏ ุงู„ู’ุจูŽุฑู‘ ูˆูŽุบูŽูŠู’ุฑู‡ : ูููŠู‡ู ุฏูŽู„ููŠู„ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุญูŽุฏููŠุซ ” ุฃูŽูู’ุทูŽุฑูŽ ุงู„ู’ุญูŽุงุฌูู… ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุญู’ุฌููˆู… ” ู…ูŽู†ู’ุณููˆุฎ ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุฌูŽุงุกูŽ ูููŠ ุจูŽุนู’ุถ ุทูุฑูู‚ู‡ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ูููŠ ุญูŽุฌู‘ูŽุฉู ุงู„ู’ูˆูŽุฏูŽุงุน

โ€œBerkata Ibnu Abdil Bar dan lainnya: โ€œHadits ini merupakan dalil, bahwa hadits yang berbunyi โ€œOrang yang membekam dan yang dibekam, hendaknya berbuka, telah mansukh (dihapus) karena telah ada beberapa riwayat lain bahwa hal itu (berbekam ketika ihram) terjadi pada haji wada (perpisahan). (Fathul Bari, 4/178. Darul Marifah)

Dari keterangan ini maka jelaslah kebolehkan berbekam, kecuali jika melemahkan, maka ia makruh sebagaimana yang dikatakan Anas bin Malik Radhiallahu Anhu. Hal ini sama dengan orang yang mendonorkan darahnya, tidak apa-apa jika tidak melemahkannya. Inilah pendapat yang lebih kuat dalam hal ini. Wallahu Aโ€™lam

๏“Œ *Kumur-kumur dan Menghirup air ke rongga hidung (istinsyaq) tanpa berlebihan*

Dari Laqith bin Shabrah Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ุฃูŽุณู’ุจูุบู’ ุงู„ู’ูˆูุถููˆุกูŽ ูˆูŽุฎูŽู„ู‘ูู„ู’ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุตูŽุงุจูุนู ูˆูŽุจูŽุงู„ูุบู’ ูููŠ ุงู„ูุงุณู’ุชูู†ู’ุดูŽุงู‚ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฃูŽู†ู’ ุชูŽูƒููˆู†ูŽ ุตูŽุงุฆูู…ู‹ุง

โ€œBersungguh-sungguhlah berwudhuโ€™ dan gosok-gosoklah antara jari jemari kalian, dan bersungguhlah dalam menghirup air, kecuali jika kalian puasa.โ€ (HR. Abu Daud No. 2366, At Tirmidzi No. 788, katanya: hasan shahih)

Hadits ini menunjukkan bolehnya menghirup air ke rongga hidung, namun makruh jika berlebihan, oleh karena itu Imam At Tirmidzi memberi judul Bab Ma Jaa Fi Karahiyah Mubalaghah  Al Istinsyaq Li Shaim (Apa-apa saja yang dimakruhkan, berupa menghirup air bagi orang berpuasa secara berlebihan/mubalaghah).

Apakah batasan berlebihan? Berkata Syaikh Abdurrahman Al Mubarakfuri ketika mengomentari hadits di atas:

ููŽู„ูŽุง ุชูุจูŽุงู„ูุบู’ ู„ูุฆูŽู„ู‘ูŽุง ูŠูŽุตูู„ูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุจูŽุงุทูู†ูู‡ู ููŽูŠูุจู’ุทูู„ูŽ ุงู„ุตู‘ูŽูˆู’ู…ูŽ .

โ€œMaka janganlah berlebihan, yakni hingga sampainya (air) ke rongga perutnya, sehingga batal-lah puasa.โ€ (Tuhfah Al Ahwadzi, 3/418. Darul Kutub Al โ€˜Ilmiyah)

Diriwayatkan dari Umar Radhilallahu โ€˜Anhu:

ุนู†ู’ ุนูู…ูŽุฑูŽ ุจู’ู†ู ุงู„ู’ุฎูŽุทู‘ูŽุงุจู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‡ูŽุดูŽุดู’ุชู ูŠูŽูˆู’ู…ู‹ุง ููŽู‚ูŽุจู‘ูŽู„ู’ุชู ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุง ุตูŽุงุฆูู…ูŒ ููŽุฃูŽุชูŽูŠู’ุชู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ููŽู‚ูู„ู’ุชู ุตูŽู†ูŽุนู’ุชู ุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุฃูŽู…ู’ุฑู‹ุง ุนูŽุธููŠู…ู‹ุง ููŽู‚ูŽุจู‘ูŽู„ู’ุชู ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุง ุตูŽุงุฆูู…ูŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูŽ ู„ูŽูˆู’ ุชูŽู…ูŽุถู’ู…ูŽุถู’ุชูŽ ุจูู…ูŽุงุกู ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูŽ ุตูŽุงุฆูู…ูŒ ู‚ูู„ู’ุชู ู„ูŽุง ุจูŽุฃู’ุณูŽ ุจูุฐูŽู„ููƒูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ููŽูููŠู…ูŽ

Suatu hari bangkitlah syahwat saya, lalu saya mencium isteri, saat itu saya sedang puasa. Maka saya datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, saya berkata: Hari ini, Aku telah melakukan hal yang besar, aku mencium isteri padahal sedang puasa. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: Apa pendapatmu jika kamu bekumur-kumur dengan air dan kamu sedang berpuasa?, Saya (Umar) menjawab: Tidak mengapa. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: Lalu, kenapa masih ditanya? (HR. Ahmad No. 138. Syaikh Syuaib Al Arnauth mengatakan: shahih, sesuai syarat Muslim. Lihat Taliq Musnad Ahmad No. 138)

Hadits ini menunjukkan bahwa berkumur-kumur tidaklah mengapa, dan disamakan dengan mencium isteri, selama tidak sampai berlebihan.

๏”ธBersambung ๏”ธ

๏Œฟ๏Œบ๏‚๏€๏Œผ๏„๏Œท๏๏Œน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๏’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag. 8)

๏“† Ahad,  22 Sya’ban 1437 H / 29 Mei 2016 M

๏“š Fiqih dan Hadits

๏“ Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

๏“‹  *Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag. 8)*
๏Œฟ๏Œบ๏‚๏€๏Œผ๏„๏Œท๏

๏“š *Amalan Sunnah Ketika Ramadhan*

โฃ *Qiyamur Ramadhan (Shalat Tarawih)*

โœ… *Keutamaannya:*

Shalat Tarawih memiliki keutamaan dan ganjaran yang besar, sebagaimana yang disebutkan oleh berbagai hadits shahih, yakni di antaranya:

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุฃูŽู†ูŽู‘ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุงู…ูŽ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ุฅููŠู…ูŽุงู†ู‹ุง ูˆูŽุงุญู’ุชูุณูŽุงุจู‹ุง ุบูููุฑูŽ ู„ูŽู‡ู ู…ูŽุง ุชูŽู‚ูŽุฏูŽู‘ู…ูŽ ู…ูู†ู’ ุฐูŽู†ู’ุจูู‡ู

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: Barangsiapa yang shalat malam pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap ganjaran dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.  (HR. Bukhari No. 37, Muslim No. 759)

Hadits lain:

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ุนูŽู†ู’ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุงู…ูŽ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ุฅููŠู…ูŽุงู†ู‹ุง ูˆูŽุงุญู’ุชูุณูŽุงุจู‹ุง ุบูููุฑูŽ ู„ูŽู‡ู ู…ูŽุง ุชูŽู‚ูŽุฏูŽู‘ู…ูŽ ู…ูู†ู’ ุฐูŽู†ู’ุจู

Dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu, dari Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam dia bersabda: Barangsiapa yang shalat malam ketika lailatul qadar karena iman dan mengharap ganjaran dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.  (HR. Bukhari No. 1901, Muslim No. 760, ini lafaz Bukhari)

Mengomentari hadits di atas, Imam An Nawawi Rahimahullah berkata:

ุฃูŽู†ู’ ูŠูู‚ูŽุงู„ ู‚ููŠูŽุงู… ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู† ู…ูู†ู’ ุบูŽูŠู’ุฑ ู…ููˆูŽุงููŽู‚ูŽุฉู ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉ ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑ ูˆูŽู…ูŽุนู’ุฑูููŽุชู‡ูŽุง ุณูŽุจูŽุจ ู„ูุบููู’ุฑูŽุงู†ู ุงู„ุฐูู‘ู†ููˆุจ ุŒ ูˆูŽู‚ููŠูŽุงู… ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉ ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑ ู„ูู…ูŽู†ู’ ูˆูŽุงููŽู‚ูŽู‡ูŽุง ูˆูŽุนูŽุฑูŽููŽู‡ูŽุง ุณูŽุจูŽุจ ู„ูู„ู’ุบููู’ุฑูŽุงู†ู ูˆูŽุฅูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽู‚ูู…ู’ ุบูŽูŠู’ุฑู‡ูŽุง

โ€œBahwa dikatakan, shalat malam pada bulan Ramadhan yang tidak bertepatan dengan lailatul qadar dan tidak mengetahuinya, merupakan sebab diampunya dosa-dosa. Begitu pula shalat malam pada bulan Ramadhan yang bertepatan dan mengetahui lailatul qadar, itu merupakan sebab diampuni dosa-dosa, walau pun dia tidak shalat malam pada malam-malam lainnya. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6/41)

Imam Abu Thayyib Muhammad Syamsuddin Abadi Rahimahullah berkata dala kitabnya, Aunul Mabud:

( ุฅููŠู…ูŽุงู†ู‹ุง ) : ุฃูŽูŠู’ ู…ูุคู’ู…ูู†ู‹ุง ุจูุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽู…ูุตูŽุฏูู‘ู‚ู‹ุง ุจูุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู ุชูŽู‚ูŽุฑูู‘ุจ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ( ูˆูŽุงุญู’ุชูุณูŽุงุจู‹ุง ) : ุฃูŽูŠู’ ู…ูุญู’ุชูŽุณูุจู‹ุง ุจูู…ูŽุง ููŽุนูŽู„ูŽู‡ู ุนูู†ู’ุฏ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ ุฃูŽุฌู’ุฑู‹ุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽู‚ู’ุตูุฏ ุจูู‡ู ุบูŽูŠู’ุฑู‡

                โ€œ(Dengan keimanan) maksudnya adalah dengan keimanan kepada Allah, dan meyakini bahwa hal itu merupakan taqarrub kepada Allah Taala. (Ihtisab) maksudnya adalah mengharapkan bahwa apa yang dilakukannya akan mendapat pahala dari Allah, dan tidak mengharapkan yang lainnya. (Aunul Mabud,  4/171)

                Begitu pula yang dikatakan oleh Imam Ibnu Hajar Al Asqalani Rahimahullah:

ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุฑูŽุงุฏ ุจูุงู„ู’ุฅููŠู…ูŽุงู†ู ุงู„ูุงุนู’ุชูู‚ูŽุงุฏ ุจูุญูŽู‚ูู‘ ููŽุฑู’ุถููŠูŽู‘ุฉู ุตูŽูˆู’ู…ูู‡ู ุŒ ูˆูŽุจูุงู„ูุงุญู’ุชูุณูŽุงุจู ุทูŽู„ูŽุจ ุงู„ุซูŽู‘ูˆูŽุงุจู ู…ูู†ู’ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰

                 โ€œYang dimaksud โ€˜dengan keimananโ€™ adalah keyakinan dengan benar terhadap kewajiban puasanya, dan yang dimaksud dengan ihtisab adalah mengharap pahala dari Allah Taala. (Fathul Bari, 4/115)

โœ… *Hukumnya*

Hukum shalat tarawih adalah sunah bagi muslim dan muslimah, dan itu merupakan ijma (kesepakatan) para ulama sejak dahulu. Berkata Imam An Nawawi Rahimahullah:

ูˆูŽุงุฌู’ุชูŽู…ูŽุนูŽุชู’ ุงู„ู’ุฃูู…ูŽู‘ุฉ ุฃูŽู†ูŽู‘ ู‚ููŠูŽุงู… ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู† ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุจููˆูŽุงุฌูุจู ุจูŽู„ู’ ู‡ููˆูŽ ู…ูŽู†ู’ุฏููˆุจ

                โ€œUmat telah ijmaโ€™ bahwa qiyam ramadhan (tarawih) tidaklah wajib, melainkan sunah.โ€ (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6/40,  Imam Abu Thayyib, โ€˜Aunul Maโ€™bud,  4/171)

                Sunahnya tarawih, karena tak lain dan tak bukan adalah ia merupakan tahajudnya manusia pada bulan Ramadhan, oleh karena itu ia disebut Qiyam Ramadhan, dan istilah tarawih baru ada belakangan. Sedangkan tahajjud adalah sunah (mustahab/ mandub/ tathawwu/nafilah).

                Allah Taala berfirman:

ูˆูŽู…ูู†ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ูŠู’ู„ู ููŽุชูŽู‡ูŽุฌูŽู‘ุฏู’ ุจูู‡ู ู†ูŽุงููู„ูŽุฉู‹ ู„ูŽูƒูŽ

                โ€œDan pada sebagian malam, lakukanlah tahajjud sebagai nafilah (tambahan) bagimu.โ€ (QS. Al Israโ€™ (17): 79)

                Imam Qatadah Radhiallahu โ€˜Anhu berkata tentang maksud ayat โ€œ nafilah bagimuโ€:

ุชุทูˆู‘ุนุง ูˆูุถูŠู„ุฉ ู„ูƒ.

                โ€œSunah dan keutamaan bagimu.โ€ (Imam Abu Jaโ€™far Ath Thabari, Jamiโ€™ Al Bayan Fi Taโ€™wil Al Quran, 17/526)

โœ… *Boleh dilakukan sendiri, tapi berjamaah lebih afdhal*

 Shalat terawih dapat dilakukan berjamaah atau sendiri, keduanya pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

Berkata Asy Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

ู‚ูŠุงู… ุฑู…ุถุงู† ูŠุฌูˆุฒ ุฃู† ูŠุตู„ู‰ ููŠ ุฌู…ุงุนุฉ ูƒู…ุง ูŠุฌูˆุฒ ุฃู† ูŠุตู„ู‰ ุนู„ู‰ ุงู†ูุฑุงุฏุŒ ูˆู„ูƒู† ุตู„ุงุชู‡ ุฌู…ุงุนุฉ ููŠ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ุฃูุถู„ ุนู†ุฏ ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ.

Qiyam Ramadhan boleh dilakukan secara berjamaah sebagaimana boleh pula dilakukan secara sendiri, tetapi dilakukan secara berjamaah adalah lebih utama menurut pandangan jumhur (mayoritas) ulama. (Fiqhus Sunnah, 1/207)

Dari Aisyah Radhiallahu Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat di masjid, lalu manusia mengikutinya, keesokannya shalat lagi dan manusia semakin banyak, lalu pada malam ketiga atau keempat mereka berkumpul namun Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak keluar bersama mereka, ketika pagi hari beliau bersabda:

ู‚ูŽุฏู’ ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ุตูŽู†ูŽุนู’ุชูู…ู’ ููŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽู…ู’ู†ูŽุนู’ู†ููŠ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุฎูุฑููˆุฌู ุฅูู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุฅูู„ูŽู‘ุง ุฃูŽู†ูู‘ูŠ ุฎูŽุดููŠุชู ุฃูŽู†ู’ ุชููู’ุฑูŽุถูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ูููŠ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ
โ€œAku melihat apa yang kalian lakukan, dan tidak ada yang mencegahku keluar menuju kalian melainkan aku khawatir hal itu kalian anggap kewajiban.โ€ Itu terjadi pada bulan Ramadhan. (HR. Bukhari No. 1129, Muslim No. 761)

Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan:

ููŽูููŠู‡ู : ุฌูŽูˆูŽุงุฒ ุงู„ู†ูŽู‘ุงููู„ูŽุฉ ุฌูŽู…ูŽุงุนูŽุฉ ุŒ ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ูŽู‘ ุงู„ูุงุฎู’ุชููŠูŽุงุฑ ูููŠู‡ูŽุง ุงู„ูุงู†ู’ููุฑูŽุงุฏ ุฅูู„ูŽู‘ุง ูููŠ ู†ูŽูˆูŽุงููู„ ู…ูŽุฎู’ุตููˆุตูŽุฉ ูˆูŽู‡ููŠูŽ : ุงู„ู’ุนููŠุฏ ูˆูŽุงู„ู’ูƒูุณููˆู ูˆูŽุงู„ูุงุณู’ุชูุณู’ู‚ูŽุงุก ูˆูŽูƒูŽุฐูŽุง ุงู„ุชูŽู‘ุฑูŽุงูˆููŠุญ ุนูู†ู’ุฏ ุงู„ู’ุฌูู…ู’ู‡ููˆุฑ ูƒูŽู…ูŽุง ุณูŽุจูŽู‚
              
โ€œDalam hadits ini, menunjukkan bolehnya shalat nafilah dilakukan berjamaah, tetapi lebih diutamakan adalah sendiri, kecuali shalat-shalat nafilah tertentu (yang memang dilakukan berjamaah, pen) seperti: shalat Ied, shalat gerhana, shalat minta hujan, demikian juga tarawih menurut pandangan jumhur, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6/41)

                Di dalam sejarah, sejak saat itu, manusia melakukan shalat tarawih sendiri-sendiri, hingga akhirnya pada zaman Umar Radhiallahu Anhu, dia melihat manusia shalat tarawih sendiri-sendiri dan semrawut, akhirnya dia menunjuk Ubay bin Kaโ€™ab Radhiallahu โ€˜Anhu untuk menjadi imam shalat tarawih mereka, lalu Umar berkata:

ู†ูุนู’ู…ูŽ ุงู„ู’ุจูุฏู’ุนูŽุฉู ู‡ูŽุฐูู‡ู

        โ€œSebaik-baiknya bidโ€™ah adalah ini.โ€ (HR. Bukhari No. 2010)

โœ… *Jumlah Rakaat*

Masalah jumlah rakaat shalat tarawih sejak dahulu telah menjadi polemik hingga hari ini. Antara yang menganjurkan 8 rakaat dengan 3 rakaat witir, atau 20 rakaat dengan 3 rakaat witir, bahkan ada yang lebih dari itu. Manakah yang sebaiknya kita jadikan pegangan? Ataukah semuanya benar, karena memang tak ada ketentuan baku walau pun Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sepanjang hidupnya hanya melaksanakan 11 rakaat? Dan apakah yang dilakukan oleh nabi tidak berarti wajib, melainkan hanya contoh saja?

โœ… *Tarawih Pada Masa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam*

                Dari โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha, dia berkata:

ู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽุฒููŠุฏู ูููŠ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ูููŠ ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฅูุญู’ุฏูŽู‰ ุนูŽุดู’ุฑูŽุฉูŽ ุฑูŽูƒู’ุนูŽุฉ
           
โ€œBahwa Rasulullah tidak pernah menambah lebih dari sebelas rakaat shalat malam, baik pada bulan Ramadhan atau selainnya.โ€  (HR. Bukhari No. 2013, 3569, Muslim No. 738)

                Dari Jabir bin Abdillah Radhiallahu โ€˜Anhu, dia berkata:

ุฌุงุก ุฃุจูŠ ุจู† ูƒุนุจ ุฅู„ู‰ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูู‚ุงู„ : ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุŒ ุฅู† ูƒุงู† ู…ู†ูŠ ุงู„ู„ูŠู„ุฉ ุดูŠุก ูŠุนู†ูŠ ููŠ ุฑู…ุถุงู† ุŒ ู‚ุงู„ : ยซ ูˆู…ุง ุฐุงูƒ ูŠุง ุฃุจูŠ ุŸ ยป ุŒ ู‚ุงู„ : ู†ุณูˆุฉ ููŠ ุฏุงุฑูŠ ุŒ ู‚ู„ู† : ุฅู†ุง ู„ุง ู†ู‚ุฑุฃ ุงู„ู‚ุฑุขู† ูู†ุตู„ูŠ ุจุตู„ุงุชูƒ ุŒ ู‚ุงู„ : ูุตู„ูŠุช ุจู‡ู† ุซู…ุงู† ุฑูƒุนุงุช ุŒ ุซู… ุฃูˆุชุฑุช ุŒ ู‚ุงู„ : ููƒุงู† ุดุจู‡ ุงู„ุฑุถุง ูˆู„ู… ูŠู‚ู„ ุดูŠุฆุง
               
Ubay bin Kaโ€™ab datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan berkata: Wahai Rasulullah, semalam ada peristiwa pada diri saya (yaitu pada bulan Ramadhan). Rasulullah bertanya: Kejadian apa itu Ubay?, Ubay menjawab: Ada beberapa wanita di rumahku, mereka berkata: Kami tidak membaca Al Quran, maka kami akan shalat bersamamu. Lalu Ubay berkata: Lalu aku shalat bersama mereka sebanyak delapan rakaat, lalu aku witir, lalu Ubay berkata:  Nampaknya nabi ridha dan dia tidak mengatakan apa-apa.  (HR. Abu Yala dalam Musnadnya No. 1801. Ibnu Hibban No. 2550, Imam Al Haitsami mengatakan: sanadnya hasan. Lihat Majma az Zawaid, Juz. 2, Hal. 74)

                Dari keterangan dua hadits di atas, kita bisa mengetahui bahwa shalat tarawih pada masa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam masih hidup adalah delapan rakaat, dan ditambah witir, dan tidak sampai dua puluh rakaat. Oleh karena itu Syaikh Sayyid Sabiq berkomentar:

ู‡ุฐุง ู‡ูˆ ุงู„ู…ุณู†ูˆู† ุงู„ูˆุงุฑุฏ ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆู„ู… ูŠุตุญ ุนู†ู‡ ุดุฆ ุบูŠุฑ ุฐู„ูƒ
           
    โ€œInilah sunah yang datang dari Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, dan tidak ada sesuatu pun yang shahih selain ini.โ€ (Fiqhus Sunnah, 1/206) 

                Imam Ibnu Hajar Al Asqalani berkata:
               
ูˆูŽุฃูŽู…ูŽู‘ุง ู…ูŽุง ุฑูŽูˆูŽุงู‡ู ุงูุจู’ู†ู ุฃูŽุจููŠ ุดูŽูŠู’ุจูŽุฉูŽ ู…ูู†ู’ ุญูŽุฏููŠุซ ุงูุจู’ู† ุนูŽุจูŽู‘ุงุณู ” ูƒูŽุงู†ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ูŠูุตูŽู„ูู‘ูŠ ูููŠ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู† ุนูุดู’ุฑููŠู†ูŽ ุฑูŽูƒู’ุนูŽุฉ ูˆูŽุงู„ู’ูˆูุชู’ุฑูŽ ” ููŽุฅูุณู’ู†ูŽุงุฏูู‡ู ุถูŽุนููŠููŒ ุŒ ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุนูŽุงุฑูŽุถูŽู‡ู ุญูŽุฏููŠุซู ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉ ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ูููŠ ุงู„ุตูŽู‘ุญููŠุญูŽูŠู’ู†

            โ€œDan ada pun  yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dari hadits Ibnu Abbas, โ€œBahwa dahulu Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam shalat pada bulan Ramadhan dua puluh rakaat dan ditambah witir maka sanadnya dhaif, dan telah bertentangan dengan hadits dari Aisyah yang terdapat dalam shahihain (Bukhari dan Muslim). (Fathul Bari, 4/253)  Imam Al Haitsami juga mengatakan: Dhaif. Lihat Majma Az Zawaid, 3/ 172)

                Demikian keadaan shalat Tarawih pada masa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam masih hidup.

โœ… *Tarawih Pada masa Sahabat Radhiallahu Anhum dan generasi setelahnya*

                Pada masa sahabat, khususnya sejak masa khalifah Umar bin Al Khathab Radhilallahu โ€˜Anhu dan seterusnya, manusia saat itu melaksanakan shalat tarawih dua puluh rakaat.

ูˆุตุญ ุฃู† ุงู„ู†ุงุณ ูƒุงู†ูˆุง ูŠุตู„ูˆู† ุนู„ู‰ ุนู‡ุฏ ุนู…ุฑ ูˆุนุซู…ุงู† ูˆุนู„ูŠ ุนุดุฑูŠู† ุฑูƒุนุฉุŒ ูˆู‡ูˆ ุฑุฃูŠ ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ู…ู† ุงู„ุญู†ููŠุฉ ูˆุงู„ุญู†ุงุจู„ุฉ ูˆุฏุงูˆุฏุŒ ู‚ุงู„ ุงู„ุชุฑู…ุฐูŠ: ูˆุฃูƒุซุฑ ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ุนู„ู‰ ู…ุง ุฑูˆูŠ ุนู† ุนู…ุฑ ูˆุนู„ูŠ ูˆุบูŠุฑู‡ู…ุง ู…ู† ุฃุตุญุงุจ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุนุดุฑูŠู† ุฑูƒุนุฉุŒ ูˆู‡ูˆ ู‚ูˆู„ ุงู„ุซูˆุฑูŠ ูˆุงุจู† ุงู„ู…ุจุงุฑูƒ ูˆุงู„ุดุงูุนูŠุŒ ูˆู‚ุงู„: ู‡ูƒุฐุง ุฃุฏุฑูƒุช ุงู„ู†ุงุณ ุจู…ูƒุฉ ูŠุตู„ูˆู† ุนุดุฑูŠู† ุฑูƒุนุฉ

                โ€œDan telah shah, bahwa manusia shalat pada masa Umar, Utsman, dan Ali sebanyak 20 rakaat, dan itulah pendapat jumhur (mayoritas) ahli fiqih dari kalangan Hanafi, Hambali, dan Daud. Berkata At Tirmidzi: Kebanyakan ulama berpendapat seperti yang diriwayatkan dari Umar dan Ali, dan selain keduanya dari kalangan sahabat nabi yakni sebanyak 20 rakaat. Itulah pendapat Ats Tsauri, Ibnul Mubarak. Berkata Asy Syafii: Demikianlah, aku melihat manusia di Mekkah mereka shalat 20 rakaat. (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 1/206

                Imam Ibnu Hajar menyebutkan:
               
ูˆูŽุนูŽู†ู’ ูŠูŽุฒููŠุฏ ุจู’ู† ุฑููˆู…ูŽุงู†ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ” ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณ ูŠูŽู‚ููˆู…ููˆู†ูŽ ูููŠ ุฒูŽู…ูŽุงู†ู ุนูู…ูŽุฑ ุจูุซูŽู„ูŽุงุซู ูˆูŽุนูุดู’ุฑููŠู†ูŽ ” ูˆูŽุฑูŽูˆูŽู‰ ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏ ุจู’ู† ู†ูŽุตู’ุฑ ู…ูู†ู’ ุทูŽุฑููŠู‚ ุนูŽุทูŽุงุก ู‚ูŽุงู„ูŽ ” ุฃูŽุฏู’ุฑูŽูƒู’ุชู‡ู…ู’ ูููŠ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู† ูŠูุตูŽู„ูู‘ูˆู†ูŽ ุนูุดู’ุฑููŠู†ูŽ ุฑูŽูƒู’ุนูŽุฉ ูˆูŽุซูŽู„ูŽุงุซูŽ ุฑูŽูƒูŽุนูŽุงุชู ุงู„ู’ูˆูุชู’ุฑ “
         
  โ€œDari Yazid bin Ruman, dia berkata: Dahulu manusia pada zaman Umar melakukan  23 rakaat. Dan Muhammad bin Nashr meriwayatkan dari Atha, dia berkata: Aku berjumpa dengan mereka pada bulan Ramadhan, mereka shalat 20 rakaat dan tiga rakaat witir. (Fathul Bari, 4/253)

                Beliau melanjutkan:

ูˆูŽุฑูŽูˆูŽู‰ ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏ ุงูุจู’ู† ู†ูŽุตู’ุฑ ู…ูู†ู’ ุทูŽุฑููŠู‚ ุฏูŽุงูˆูุฏูŽ ุจู’ู† ู‚ูŽูŠู’ุณ ู‚ูŽุงู„ูŽ ” ุฃูŽุฏู’ุฑูŽูƒู’ุช ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณ ูููŠ ุฅูู…ูŽุงุฑูŽุฉ ุฃูŽุจูŽุงู†ูŽ ุจู’ู† ุนูุซู’ู…ูŽุงู† ูˆูŽุนูู…ู’ุฑ ุจู’ู† ุนูŽุจู’ุฏ ุงู„ู’ุนูŽุฒููŠุฒ – ูŠูŽุนู’ู†ููŠ ุจูุงู„ู’ู…ูŽุฏููŠู†ูŽุฉู – ูŠูŽู‚ููˆู…ููˆู†ูŽ ุจูุณูุชูู‘ ูˆูŽุซูŽู„ูŽุงุซููŠู†ูŽ ุฑูŽูƒู’ุนูŽุฉู‹ ูˆูŽูŠููˆุชูุฑููˆู†ูŽ ุจูุซูŽู„ูŽุงุซู ” ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ูŽุงู„ููƒ ู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ุฃูŽู…ู’ุฑู ุงู„ู’ู‚ูŽุฏููŠู…ู ุนูู†ู’ุฏูŽู†ูŽุง . ูˆูŽุนูŽู†ู’ ุงู„ุฒูŽู‘ุนู’ููŽุฑูŽุงู†ููŠูู‘ ุนูŽู†ู’ ุงู„ุดูŽู‘ุงููุนููŠูู‘ ” ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุช ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณ ูŠูŽู‚ููˆู…ููˆู†ูŽ ุจูุงู„ู’ู…ูŽุฏููŠู†ูŽุฉู ุจูุชูุณู’ุนู ูˆูŽุซูŽู„ูŽุงุซููŠู†ูŽ ูˆูŽุจูู…ูŽูƒูŽู‘ุฉ ุจูุซูŽู„ูŽุงุซู ูˆูŽุนูุดู’ุฑููŠู†ูŽ ุŒ ูˆูŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ูููŠ ุดูŽูŠู’ุก ู…ูู†ู’ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุถููŠู‚ูŒ “

                Muhammad bin Nashr meriwayatkan dari jalur Daud bin Qais, dia berkata: Aku menjumpai manusia pada masa pemerintahan Aban bin Utsman dan Umar bin Abdul Aziz yakni di Madinah- mereka shalat 39 rakaat dan ditambah witir tiga rakaat. Imam Malik berkata,Menurut saya itu adalah perkara yang sudah lama.
Dari Az Zafarani, dari Asy Syafii: Aku melihat manusia shalat di Madinah 39 rakaat, dan 23 di Mekkah, dan ini adalah masalah yang lapang. (Ibid)

                Sementara itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika mengomentari tarawih-nya Ubay bin Kaโ€™ab yang 20 rakaat, beliau berkata:

ููŽุฑูŽุฃูŽู‰ ูƒูŽุซููŠุฑูŒ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุนูู„ูŽู…ูŽุงุกู ุฃูŽู†ูŽู‘ ุฐูŽู„ููƒูŽ ู‡ููˆูŽ ุงู„ุณูู‘ู†ูŽู‘ุฉู ุ› ู„ูุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู ุฃูŽู‚ูŽุงู…ูŽู‡ู ุจูŽูŠู’ู† ุงู„ู’ู…ูู‡ูŽุงุฌูุฑููŠู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽู†ู’ุตูŽุงุฑู ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูู†ู’ูƒูุฑู’ู‡ู ู…ูู†ู’ูƒูุฑูŒ . ูˆูŽุงุณู’ุชูŽุญูŽุจูŽู‘ ุขุฎูŽุฑููˆู†ูŽ : ุชูุณู’ุนูŽุฉู‹ ูˆูŽุซูŽู„ูŽุงุซููŠู†ูŽ ุฑูŽูƒู’ุนูŽุฉู‹ ุ› ุจูู†ูŽุงุกู‹ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู…ูŽู„ู ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ู…ูŽุฏููŠู†ูŽุฉู ุงู„ู’ู‚ูŽุฏููŠู…ู .

                โ€œKebanyakan ulama berpendapat bahwa itu adalah sunah, karena itu ditegakkan di antara kaum Muhajirin dan Anshar dan tidak ada yang mengingkarinya. Sedangkan ulama lainnya menyunnahkan 39 rakaat, lantaran itu adalah perbuatan penduduk Madinah yang telah lampau.โ€ (Majmuโ€™ Al Fatawa, 23/112)

                Lalu, yang lebih baik dari semua ini? Imam Ibnu Taimiyah berkata:

ูˆูŽุงู„ุตูŽู‘ูˆูŽุงุจู ุฃูŽู†ูŽู‘ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฌูŽู…ููŠุนูŽู‡ู ุญูŽุณูŽู†ูŒ ูƒูŽู…ูŽุง ู‚ูŽุฏู’ ู†ูŽุตูŽู‘ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุงู„ู’ุฅูู…ูŽุงู…ู ุฃูŽุญู’ู…ูŽุฏ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡
             
  โ€œYang benar adalah bahwa itu semua adalah baik, sebagaimana yang telah dikatakan oleh Imam Ahmad Radhiallahu โ€˜Anhu.โ€ (Ibid).  Semoga Allah merahmati Imam Ibnu Taimiyah.

                Telah masyhur dalam madzhab Imam Malik adalah 39 rakaat, demikian keterangannya:

ูˆุฐู‡ุจ ู…ุงู„ูƒ ุงู„ู‰ ุฃู† ุนุฏุฏู‡ุง ุณุช ูˆุซู„ุงุซูˆู† ุฑูƒุนุฉ ุบูŠุฑ ุงู„ูˆุชุฑ.
ู‚ุงู„ ุงู„ุฒุฑู‚ุงู†ูŠ: ูˆุฐูƒุฑ ุงุจู† ุญุจุงู† ุฃู† ุงู„ุชุฑุงูˆูŠุญ ูƒุงู†ุช ุฃูˆู„ุง ุฅุญุฏู‰ ุนุดุฑุฉ ุฑูƒุนุฉุŒ ูˆูƒุงู†ูˆุง ูŠุทูŠู„ูˆู† ุงู„ู‚ุฑุงุกุฉ ูุซู‚ู„ ุนู„ูŠู‡ู… ูุฎูููˆุง ุงู„ู‚ุฑุงุกุฉ ูˆุฒุงุฏูˆุง ููŠ ุนุฏุฏ ุงู„ุฑูƒุนุงุช ููƒุงู†ูˆุง ูŠุตู„ูˆู† ุนุดุฑูŠู† ุฑูƒุนุฉ ุบูŠุฑ ุงู„ุดูุน ูˆุงู„ูˆุชุฑ ุจู‚ุฑุงุกุฉ ู…ุชูˆุณุทุฉุŒ ุซู… ุฎูููˆุง ุงู„ู‚ุฑุงุกุฉ ูˆุฌุนู„ูˆุง ุงู„ุฑูƒุนุงุช ุณุชุง ูˆุซู„ุงุซูŠู† ุบูŠุฑ ุงู„ุดูุน ูˆุงู„ูˆุชุฑุŒ ูˆู…ุถู‰ ุงู„ุงู…ุฑ ุนู„ู‰ ุฐู„ูƒ.
              
โ€œDan madzhab Imam Malik adalah 39 rakaat belum termasuk witir. Berkata Imam Az Zarqani: Ibnu Hibban menyebutkan bahwa shalat Tarawih dahulunya adalah sebelas rakaat, mereka membaca surat yang panjang dan itu memberatkan bagi mereka, lalu mereka meringankan bacaan namun menambah rakaat, maka mereka shalat 20 rakaat belum termasuk witir dengan bacaan yang sedang-sedang, kemudian mereka meringankan lagi bacaannya dan rakaatnya menjadi 39 rakaat belum termasuk witir, dan perkara ini telah berlangsung sejak lama. (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 1/206,  cat kaki no. 2)

            Jadi, para imam ini, tidak mempermasalahkan banyak sedikitnya rakaat. Namun mereka melihat pada esensinya yakni ketenangan dan kekhusyuan. Jika mereka ingin membaca surat yang panjang, mereka menyedikitkan jumlah rakaat, jika mereka memendekkan bacaan, maka mereka memperbanyak jumlah rakaat.

                Berkata Imam Asy Syafii Radhiallahu Anhu:

ุฅูู†ู’ ุฃูŽุทูŽุงู„ููˆุง ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽ ูˆูŽุฃูŽู‚ูŽู„ูู‘ูˆุง ุงู„ุณูู‘ุฌููˆุฏูŽ ููŽุญูŽุณูŽู†ูŒ ุŒ ูˆูŽุฅูู†ู’ ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑููˆุง ุงู„ุณูู‘ุฌููˆุฏ ูˆูŽุฃูŽุฎูŽููู‘ูˆุง ุงู„ู’ู‚ูุฑูŽุงุกูŽุฉูŽ ููŽุญูŽุณูŽู†ูŒ ุŒ ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽู‘ู„ ุฃูŽุญูŽุจูู‘ ุฅูู„ูŽูŠูŽู‘

                โ€œSesungguhnya mereka memanjangkan berdiri dan menyedikitkan sujud maka itu baik, dan jika mereka memperbanyak sujud dan meringankan bacaan, maka itu juga baik, dan yang pertama lebih aku sukai. (Fathul Bari, 4/253)

Demikianlah pandangan bijak para imam kaum muslimin tentang perbedaan jumlah rakaat tarawih, mereka memandangnya bukan suatu hal yang saling bertentangan. Tetapi, semuanya benar dan baik, dan yang terpenting adalah mana yang paling dekat membawa kekhusyuan dan ketenangan bagi manusianya.

โฃ *Umrah ketika Ramadhan adalah sebanding pahalanya seperti haji bersama Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam*

Dari Ibnu โ€˜Abbas Radhiallahu โ€˜Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam berkata kepada seorang wanita Anshar bernama Ummu Sinan:

ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุนูู…ู’ุฑูŽุฉู‹ ูููŠ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ุชูŽู‚ู’ุถููŠ ุญูŽุฌู‘ูŽุฉู‹ ุฃูŽูˆู’ ุญูŽุฌู‘ูŽุฉู‹ ู…ูŽุนููŠ

โ€œSesungguhnya Umrah ketika bulan Ramadhan sama dengan memunaikan haji atau haji bersamaku. (HR. Bukhari No. 1863, Muslim No. 1256)

โฃ *Menjauhi perbuatan yang merusak puasa*

Perbuatan seperti menggunjing (ghibah), adu domba (namimah), menuruti syahwat (rafats), berjudi,  dan berbagai perbuatan fasik lainnya, mesti dijauhi sejauh-jauhnya agar shaum kita tidak sia-sia.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

ูƒูŽู…ู’ ู…ูู†ู’ ุตูŽุงุฆูู…ู ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู„ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ุตููŠูŽุงู…ูู‡ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุงู„ู’ุฌููˆุนู

Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar saja.

(HR. Ahmad No. 9685, Ibnu Majah No. 1690, Ad Darimi No. 2720)

Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mengatakan: hasan. (Taliq Musnad Ahmad No. 9685), Syaikh Husein Salim Asad mengatakan: hadits ini shahih. (Sunan Ad Darimi No. 2720. Cet. 1, 1407H. Darul Kitab Al Arabi, Beirut)

Demikian. Di antara sunah-sunah di bulan Ramadhan yang bisa kita agendakan.

๏”นBersambung ๏”น

๏Œฟ๏Œบ๏‚๏€๏Œผ๏„๏Œท๏๏Œน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๏’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag. 7)

๏“† Jumat, 20 Sya’ban 1437 H / 27 Mei 2016 M

๏“š Fiqih dan Hadits

๏“ Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

๏“‹ *Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag. 7)*
๏Œฟ๏Œบ๏‚๏€๏Œผ๏„๏Œท๏

๏“š *Amalan Sunnah Ketika Ramadhan*

โฃ *Bersedekah*

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai teladan kita telah mencontohkan akhlak yang luar biasa yaitu kedermawanan. Hal itu semakin menjadi-jadi ketika bulan Ramadhan.
Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma, menceritakan:

ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุฃูŽุฌู’ูˆูŽุฏูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู ูˆูŽุฃูŽุฌู’ูˆูŽุฏู ู…ูŽุง ูŠูŽูƒููˆู†ู ูููŠ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ุญููŠู†ูŽ ูŠูŽู„ู’ู‚ูŽุงู‡ู ุฌูุจู’ุฑููŠู„ู ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุฌูุจู’ุฑููŠู„ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุงู„ุณูŽู‘ู„ูŽุงู… ูŠูŽู„ู’ู‚ูŽุงู‡ู ูููŠ ูƒูู„ูู‘ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ู…ูู†ู’ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ููŽูŠูุฏูŽุงุฑูุณูู‡ู ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุขู†ูŽ ููŽู„ูŽุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุฃูŽุฌู’ูˆูŽุฏู ุจูุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุฑู ู…ูู†ู’ ุงู„ุฑูู‘ูŠุญู ุงู„ู’ู…ูุฑู’ุณูŽู„ูŽุฉู

Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling dermawan, dan kedermawanannya semakin menjadi-jadi saat Ramadhan apalagi ketika Jibril menemuinya. Dan, Jibril menemuinya setiap malam bulan Ramadhan dia bertadarus Al Quran bersamanya. Maka, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam benar-benar sangat dermawan dengan kebaikan laksana angin yang berhembus. (HR. Bukhari No. 3220)

โฃ *Memberikan makanan buat orang yang berbuka puasa*

Dari Zaid bin Khalid Al Juhani Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

ู…ูŽู†ู’ ููŽุทูŽู‘ุฑูŽ ุตูŽุงุฆูู…ู‹ุง ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูŽู‡ู ู…ูุซู’ู„ู ุฃูŽุฌู’ุฑูู‡ู ุบูŽูŠู’ุฑูŽ ุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู ู„ูŽุง ูŠูŽู†ู’ู‚ูุตู ู…ูู†ู’ ุฃูŽุฌู’ุฑู ุงู„ุตูŽู‘ุงุฆูู…ู ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง

Barang siapa yang memberikan makanan untuk berbuka bagi orang berpuasa maka dia akan mendapatkan pahala sebagaimana orang tersebut, tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang itu.

(HR. At Tirmidzi No. 807, katanya: hasan shahih. Ahmad No. 21676, An Nasai dalam As Sunan Al Kubra No. 3332. Al Baihaqi dalam Syuabul Iman No. 3952. Dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami No. 6415. Syaikh Syuaib Al Arnauth mengatakan: hasan lighairih. Lihat taliq Musnad Ahmad No. 21676, Al Bazzar dalam Musnadnya No. 3775)

Para ulama berbeda pendapat tentang batasan memberikan makanan untuk berbuka. Sebagian menilai itu adalah makanan yang mengenyangkan selayaknya makanan yang wajar. Sebagian lain mengatakan bahwa hal itu sudah cukup walau memberikan satu butir kurma dan seteguk air. Pendapat yang lebih kuat adalah Wallahu Alam- pendapat yang kedua, bahwa apa yang tertulis dalam hadits ini sudah mencukupi walau sekedar memberikan seteguk air minum dan sebutir kurma, sebab hal itu sudah cukup bagi seseorang dikatakan telah ifthar (berbuka puasa).

โฃ *Memperbanyak doa*

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

 ุซูŽู„ูŽุงุซูŽุฉูŒ ู„ูŽุง ุชูุฑูŽุฏูู‘ ุฏูŽุนู’ูˆูŽุชูู‡ูู…ู’ ุงู„ุตูŽู‘ุงุฆูู…ู ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ูŠููู’ุทูุฑูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุฅูู…ูŽุงู…ู ุงู„ู’ุนูŽุงุฏูู„ู ูˆูŽุฏูŽุนู’ูˆูŽุฉู ุงู„ู’ู…ูŽุธู’ู„ููˆู…

Ada tiga manusia yang doa mereka tidak akan ditolak: 1. Doa orang yang berpuasa sampai dia berbuka, 2. Pemimpin yang adil, 3. Doa orang teraniaya.

(HR. At Tirmidzi No. 2526, 3598, katanya: hasan. Ibnu Hibban No. 7387, Imam Ibnul Mulqin mengatakan: hadits ini shahih. Lihat Badrul Munir, 5/152. Dishahihkan oleh Imam Al Baihaqi. Lihat Shahih Kunuz As sunnah An Nabawiyah, 1/85. Sementara Syaikh Al Albani mendhaifkannya. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 2526)

Berdoa diwaktu berbuka puasa juga diajarkan oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam Berikut ini adalah doanya:

ูƒูŽุงู†ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุฅูุฐูŽุง ุฃูŽูู’ุทูŽุฑูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฐูŽู‡ูŽุจูŽ ุงู„ุธูŽู‘ู…ูŽุฃู ูˆูŽุงุจู’ุชูŽู„ูŽู‘ุชู’ ุงู„ู’ุนูุฑููˆู‚ู ูˆูŽุซูŽุจูŽุชูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุฌู’ุฑู ุฅูู†ู’ ุดูŽุงุกูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู

โ€œAdalah Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, jika sedang berbuka puasa dia membaca: โ€œDzahaba Azh Zhamau wab talatil uruqu wa tsabatal ajru insya Allah.

(HR. Abu Daud No. 2357, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 7922, Ad Daruquthni, 2/185, katanya: isnadnya hasan. An Nasai dalam As sunan Al Kubra No. 3329, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1536, katanya: Shahih sesuai syarat Bukhari- Muslim. Al Bazzar No. 4395. Dihasankan Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami No. 4678)

Sedangkan doa berbuka puasa: Allahumma laka shumtu … dst, dengan berbagai macam versinya telah didhaifkan para ulama, baik yang dari jalur Muadz bin Zuhrah secara mursal, juga jalur Anas bin Malik, dan Ibnu Abbas.

 (Lihat Al Hafizh Ibnu Hajar, At Talkhish Al Habir, 2/444-445. Imam An Nawawi, Al Adzkar, 1/62. Imam Abu Daud, Al Maraasiil, 1/124, Imam Al Haitsami, Majma Az Zawaid, 3/371. Syaikh Al Albani juga mendhaifkan dalam berbagai kitabnya)

โฃ *Menyegerakan berbuka puasa*

Dari Amru bin Maimun Radhiallahu Anhu, katanya:

ูƒุงู† ุฃุตุญุงุจ ู…ุญู…ุฏ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… ุฃุนุฌู„ ุงู„ู†ุงุณ ุฅูุทุงุฑุง ูˆุฃุจุทุฃู‡ู… ุณุญูˆุฑุง

Para sahabat Muhammad Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling bersegera dalam berbuka puasa, dan paling akhir dalam sahurnya. (HR. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 7916. Al Faryabi dalam Ash Shiyam No. 52. Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 9025)

Imam An Nawawi mengatakan: sanadnya shahih. (Lihat Al Majmu Syarh Al Muhadzdzab, 6/362), begitu pula dishahihkan oleh Imam Ibnu Abdil Bar, bahkan menurutnya keshahihan hadits tentang bersegera buka puasa dan mengakhirkan sahur adalah mutawatir. (Lihat Imam Al Aini, Umdatul Qari, 17/9. Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, 4/199)

โฃ *Itikaf di – asyrul awakhir*

Dalilnya berdasarkan Al Quran, As Sunnah, dan Ijma, yakni sebagai berikut:

โœ… *Al Quran*

ูˆูŽู„ุง ุชูุจูŽุงุดูุฑููˆู‡ูู†ูŽู‘ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูู…ู’ ุนูŽุงูƒููููˆู†ูŽ ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุณูŽุงุฌูุฏู

Janganlah kalian mencampuri mereka (Istri), sedang kalian sedang Iโ€™tikaf di masjid. (QS. Al Baqarah : 187)

โœ… *As Sunnah*

Dari โ€˜Aisyah Radiallahu โ€˜Anha:

ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูŽู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽุนู’ุชูŽูƒููู ุงู„ู’ุนูŽุดู’ุฑูŽ ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑูŽ ู…ูู†ู’ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ุชูŽูˆูŽููŽู‘ุงู‡ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุซูู…ูŽู‘ ุงุนู’ุชูŽูƒูŽููŽ ุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌูู‡ู ู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุฏูู‡ู

Bahwasanya Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam beriโ€™tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan sampai beliau diwafatka Allah, kemudian istri-istrinya pun Iโ€™tikaf setelah itu.(HR. Bukhari, No. 2026, Muslim No. 1171, Abu Daud No. 2462. Ahmad No. 24613, dan lainnya)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya:

ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ูŠูŽุนู’ุชูŽูƒููู ูููŠ ูƒูู„ูู‘ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ู ุนูŽุดู’ุฑูŽุฉูŽ ุฃูŽูŠูŽู‘ุงู…ู ููŽู„ูŽู…ูŽู‘ุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู’ุนูŽุงู…ู ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ู‚ูุจูุถูŽ ูููŠู‡ู ุงุนู’ุชูŽูƒูŽููŽ ุนูุดู’ุฑููŠู†ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ู‹ุง

Dahulu Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam Iโ€™tikaf di setiap Ramadhan 10 hari, tatkala pada tahun beliau wafat, beliau Iโ€™tikaf 20 hari. (HR. Bukhari No. 694, Ahmad No. 8662, Ibnu Hibban No. 2228, Al Baghawi No. 839, Abu Yaโ€™la No. 5843, Abu Nuโ€™aim dalam Akhbar Ashbahan, 2/53)

โœ… *Ijmaโ€™*

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah menceritakan adanya ijmaโ€™ tentang syariat Iโ€™tikaf:

ูˆู‚ุฏ ุฃุฌู…ุน ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู…ุดุฑูˆุนุŒ ูู‚ุฏ ูƒุงู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูŠุนุชูƒู ููŠ ูƒู„ ุฑู…ุถุงู† ุนุดุฑุฉ ุฃูŠุงู…ุŒ ูู„ู…ุง ูƒุงู† ุงู„ุนุงู… ุงู„ุฐูŠ ู‚ุจุถ ููŠู‡ ุงุนุชูƒู ุนุดุฑูŠู† ูŠูˆู…ุง.

Ulama telah ijmaโ€™ bahwa Iโ€™tikaf adalah disyariatkan, Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam beriโ€™tikaf setiap Ramadhan 10 hari, dan 20 hari ketika tahun beliau wafat. (Fiqhus Sunnah, 1/475)

โœ… *Hukumnya*

 Hukumnya adalah sunnah alias tidak wajib, kecuali Itikaf karena nazar. Kesunahan ini juga berlaku bagi kaum wanita, dengan syarat aman dari fitnah, dan izin dari walinya, dan masjidnya kondusif.

Imam Asy Syaukani Rahimahullah mengatakan:

ูˆู‚ุฏ ูˆู‚ุน ุงู„ุฅุฌู…ุงุน ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู„ูŠุณ ุจูˆุงุฌุจ ุŒ ูˆุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠูƒูˆู† ุฅู„ุง ููŠ ู…ุณุฌุฏ

Telah terjadi ijmaโ€™ bahwa Iโ€™tikaf bukan kewajiban, dan bahwa dia tidak bisa dilaksanakan kecuali di masjid. (Fathul Qadir, 1/245)

Namun jika ada seorang yang bernazar untuk beriโ€™tikaf, maka wajib baginya beriโ€™tikaf.

 Khadimus Sunnah Asy Syaikh Sayyid Sabiq mengatakan:

ุงู„ุงุนุชูƒุงู ูŠู†ู‚ุณู… ุฅู„ู‰ ู…ุณู†ูˆู† ูˆุฅู„ู‰ ูˆุงุฌุจุŒ ูุงู„ู…ุณู†ูˆู† ู…ุง ุชุทูˆุน ุจู‡ ุงู„ู…ุณู„ู… ุชู‚ุฑุจุง ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ุŒ ูˆุทู„ุจุง ู„ุซูˆุงุจู‡ุŒ ูˆุงู‚ุชุฏุงุก ุจุงู„ุฑุณูˆู„ ุตู„ูˆุงุช ุงู„ู„ู‡ ูˆุณู„ุงู…ู‡ ุนู„ูŠู‡ุŒ ูˆูŠุชุฃูƒุฏ ุฐู„ูƒ ููŠ ุงู„ุนุดุฑ ุงู„ุงูˆุงุฎุฑ ู…ู† ุฑู…ุถุงู† ู„ู…ุง ุชู‚ุฏู…ุŒ ูˆุงู„ุงุนุชูƒุงู ุงู„ูˆุงุฌุจ ู…ุง ุฃูˆุฌุจู‡ ุงู„ู…ุฑุก ุนู„ู‰ ู†ูุณู‡ุŒ ุฅู…ุง ุจุงู„ู†ุฐุฑ ุงู„ู…ุทู„ู‚ุŒ ู…ุซู„ ุฃู† ูŠู‚ูˆู„: ู„ู„ู‡ ุนู„ูŠ ุฃู† ุฃุนุชูƒู ูƒุฐุงุŒ ุฃูˆ ุจุงู„ู†ุฐุฑ ุงู„ู…ุนู„ู‚ ูƒู‚ูˆู„ู‡: ุฅู† ุดูุง ุงู„ู„ู‡ ู…ุฑูŠุถูŠ ู„ุงุนุชูƒูู† ูƒุฐุง.
ูˆููŠ ุตุญูŠุญ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ุงู„: ” ู…ู† ู†ุฐุฑ ุฃู† ูŠุทูŠุน ุงู„ู„ู‡ ูู„ูŠุทุนู‡ “

 Iโ€™tikaf terbagi menjadi dua bagian; sunah dan wajib. Itikaf sunah adalah Itikaf yang dilakukan secara suka rela oleh seorang muslim dalam rangka taqarrub ilallahi (mendekatkan diri kepada Allah), dalam rangka mencari pahalaNya dan mengikuti sunah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Hal itu ditekankan pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan sebagaimana penjelasan sebelumnya.

 Itikaf wajib adalah apa-apa yang diwajibkan seseorang atas dirinya sendiri, baik karena nazar secara mutlak, seperti perkataan: wajib atasku untuk beritikaf sekian karena Allah. Ataukarena nazar yang mualaq (terkait dengan sesuatu), seperti perkataan: jika Allah menyembuhkan penyakitku saya akan Itikaf sekian ..

 Dalam shahih Bukhari disebutkan, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: Barang siapa yang bernazar untuk mentaati Allah maka taatilah (tunaikanlah). (Fiqhus Sunnah, 1/475)

 Wallahu Alam

๏”นBersambung ๏”น

๏Œฟ๏Œบ๏‚๏€๏Œผ๏„๏Œท๏๏Œน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๏’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Bagaimanakah Kedudukan Hadits Perintah Sholat ?

๏‘ณUstadz Menjawab
๏–‹Ustadz Farid Nu’man
๏Œฟ๏๏Œบ๏„๏€๏Œท๏Œป๏Œน
Assalamu’alaikum wrwb  Ustadz saya mau tanya apakah kedudukan  hadist ttg diperintahkannya Rosul Muhammad saw solat dr 50x ke 5 x ? Shahih Atau dhoif ? Bagaimana memahaminya?   = A 39
๏ƒ๏ƒJawaban๏ƒ๏ƒ
Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh, Bismillah wal Hamdulillah …
Dari Anas bin Malik Radhiallahu โ€˜Anhu, dia berkata:
ููุฑูุถูŽุชู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ุจููŠู‘ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŽ ุฃูุณู’ุฑููŠูŽ ุจูู‡ู ุงู„ุตูŽู„ูˆูŽุงุชู ุฎูŽู…ู’ุณููŠู†ูŽุŒ ุซูู…ู‘ ู†ูู‚ูุตูŽุชู’ ุญูŽุชู‘ู‰ ุฌูุนูู„ูŽุชู’ ุฎูŽู…ู’ุณุงู‹ุŒ ุซูู…ู‘ ู†ููˆุฏููŠูŽ: ูŠุง ู…ุญู…ุฏู: ุฅูู†ู‘ู‡ู ู„ุงูŽ ูŠูุจูŽุฏู‘ู„ู ุงู„ู’ู‚ูŽูˆู’ู„ู ู„ูŽุฏูŽูŠู‘ ูˆูŽุฅูู†ู‘ ู„ูŽูƒู ุจูู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ุฎูŽู…ู’ุณู ุฎูŽู…ู’ุณูŠู†ูŽ  .
โ€œTelah difardhukan kepada Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam shalat pada malam beliau diisra`kan 50 shalat. Kemudian dikurangi hingga tinggal 5 shalat saja. Lalu diserukan, โ€œWahai Muhammad, perkataan itu tidak akan tergantikan. Dan dengan lima shalat ini sama bagi mu dengan 50 kali shalat.โ€ (HR. At Tirmidzi No. 213, katanya: hasan shahih gharib. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 213)
Dalam kisah Isra Miโ€™raj yang panjang, Nabi Muhammad ๏ทบ berjumpa dengan Nabi Musa โ€˜Alaihissalam. Ketika turun kewajiban shalat  50 kali dalam sehari, Nabi Musa โ€˜Alaihissalam mengusulkan kepada Nabi Muhammad ๏ทบ untuk meminta kepada Allah ๏ทป agar dikurangi menjadi 5 waktu saja, sebab umatnya tidak akan sanggup. Kisah ini *SHAHIH* dalam *_Shahih Bukhari_* dan *_Shahih Muslim_.*
Tidak ada masalah apa pun pada hadits itu dan semisalnya. Tidak ada yang mendhaifkannya kecuali orang โ€“orang jahil terhadap ilmu hadits. Tidak yang menganggap bahwa Allah ๏ทป โ€œbingungโ€ dengan perintahnya sendiri kecuali orang-orang kufur. Tidak ada yang menganggap Nabi Musa โ€˜Alaihissalam itu lebih tahu dari Allah ๏ทป tentang kemampuan manusia, kecuali anggapan orang-orang yang belum paham.
Hal yang biasa, pada sebuah perintah lalu di _mansukh_ (direvisi) oleh Allah ๏ทป. Dahulu Jihad dilarang kemudian, diperintahkan  oleh Allah ๏ทป. Dahulu dilarang berperang di bulan-bulan haram *(Dzulqaโ€™dah, Dzulhijjah, Muharam, dan Rajab)*, lalu Allah ๏ทป menghapus larangan itu, dan sebagainya.
Semua ini terjadi atas kehendak dan keluasan hikmah dan ilmuNya yang sempurna atas hamba-hambaNya. Begitu perubahan beban shalat dari 50 menjadi 5. Tidak ada yang perlu dirisaukan dengan itu.
_Wallahul muwafiq ilaa aqwamith thariq_
๏Œฟ๏Œบ๏„๏€๏Œท๏Œน๏Œป
Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com
๏’ผSebarkan! Raih Bahagia….

Hukum Sterril Kandungan Dalam Islam

๐Ÿ‘ณUSTADZ MENJAWAB๐Ÿ‘ณ
โœUstadz Farid Nu’man Hasan, S.S

๐Ÿ“†Kamis, 26 Mei 2016 M
                  19 Sya’ban 1437 H
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒป๐ŸŒผ๐ŸŒธ๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน

 Assalamualaikum.wr.wb. ustadz..ada seorang istri yg sudah 2x melahirkan dan setiap kehamilannya selalu bermasalah (mengidap pre eklamsia parah). Sehingga si istri ini bermaksud untuk di sterilkan (tidak dapat hamil lagi). Pertanyaan ana apakah hukum steril si istri dalam tinjauan hukum syariat islam karena bila hamil mudharatnya juga besar. Demikian, Jazakallahu khayran katsiro ustadz. i-02

Jawaban
————-

ูˆ ุนู„ูŠูƒู…  ุงู„ุณู„ุงู…  ูˆ  ุฑุญู…ุฉ  ุงู„ู„ู‡  ูˆ  ุจุฑูƒุงุชู‡ ุŒ
 _Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu โ€˜Ala Rasulillah wa Baโ€™d:_

Pada dasarnya, sterilisasi baik _vasektomi_ (pada laki-laki) dan _tubektomi_ (pada perempuan)  adalah terlarang. Apalagi alasannya hanya karena takut memiliki anak, karena keyakinannya atas ketidakmampuannya membiayai hidup mereka. Ditambah lagi, itu merupakan merubah ciptaan Allah ๏ทป yang ada pada mereka. Maka, larangannya sangat jelas.

Tetapi, jika hal itu dilakukan karena adanya alasan kuat yang bukan dugaan semata, tetapi memang terbukti ada dan atas rekomendasi dokter ahli yang terpercaya, berupa madharat/bahaya yang mengancam nyawa si ibu dan janin, maka tidak apa-apa dia melakukannya.

Sebab syariat Islam, sebagaimana dikatakan umumnya para ulama, diturunkan dalam rangka  menjaga kemaslahatan ad diin (agama), an nafs (jiwa), al โ€˜aql (akal), an nasl (keturunan), dan al maal (harta). Sedangkan Imam Al Qarrafi menambahkan; juga menjaga al โ€˜irdh (kehormatan).

Oleh karena itu, semua pintu yang mengarah pada ancaman kepada hal-hal di atas, maka Islam menuntup pintu itu rapat-rapat. Ancaman kepada hal-hal ini adalah kondisi Adh Dharuurah (darurat), yang mesti dicarikan solusinya, hatta dengan cara yang sebenarnya terlarang. Hal ini dibolehkan berdasarkan nash-nash Al Quran dan As Sunnah yang begitu banyak.

Oleh karena itu, para ulama membuat kaidah:

๐Ÿ“Œ _Adh Dharuuriyah Tubiihul Mahzhurah_ โ€“ Keadaan darurat membuat hal yang terlarang menjadi boleh

๐Ÿ“Œ _Irtikaab Akhafu dhararain_ โ€“ Menjalankan bahaya yang lebih ringan di antara dua bahaya.

Maka, upaya sterilisasi dalam rangka menjaga kehidupan dan jiwa si ibu, adalah perkara yang dibolehkan oleh syaraโ€™, jika memang itulah jalan yang mesti ditempuh sebagaimana rekomendasi dokter ahli yang terpercaya.
Wallahu Aโ€™lam.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih Bahagia….

Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag. 6)

๐Ÿ“† Rabu,  18 Sya’ban 1437 H / 25 Mei 2016 M

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

๐Ÿ“‹  *Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag. 6)*
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“š *Amalan Sunah Ketika Ramadhan*

Berikut ini adalah amalan yang sesuai sunah Nabi, baik sunah qauliyah dan filiyah yang bisa kita lakukan selama bulan Ramadhan.

โฃ *Bersahur*

๐Ÿ”นDalilnya: Dari Anas bin Malik Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

ุชูŽุณูŽุญู‘ูŽุฑููˆุง ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ูููŠ ุงู„ุณู‘ูŽุญููˆุฑู ุจูŽุฑูŽูƒูŽุฉู‹

โ€œBersahurlah kalian, karena pada santap sahur itu ada keberkahan.โ€  (HR. Bukhari No. 1923, Muslim No. 1095)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:

ูˆู‚ุฏ ุฃุฌู…ุนุช ุงู„ุงู…ุฉ ุนู„ู‰ ุงุณุชุญุจุงุจู‡ุŒ ูˆุฃู†ู‡ ู„ุง ุฅุซู… ุนู„ู‰ ู…ู† ุชุฑูƒู‡

Umat telah ijmaโ€™ atas kesunahannya, dan tidak berdosa meninggalkannya. (Fiqhus Sunnah, 1/455)

Beliau menambahkan:

ูˆุณุจุจ ุงู„ุจุฑูƒุฉ: ุฃู†ู‡ ูŠู‚ูˆูŠ ุงู„ุตุงุฆู…ุŒ ูˆูŠู†ุดุทู‡ุŒ ูˆูŠู‡ูˆู† ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุตูŠุงู….

Sebab keberkahannya adalah karena sahur dapat menguatkan orang yang berpuasa, menggiatkannya, dan membuatnya ringan menjalankannya. (Ibid, 1/456)

๐Ÿ”นKeutamaannya:

Dari Abu Saโ€™id Al Khudri Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ุงู„ุณู‘ูŽุญููˆุฑู ุฃูŽูƒู’ู„ูู‡ู ุจูŽุฑูŽูƒูŽุฉูŒุŒ ููŽู„ูŽุง ุชูŽุฏูŽุนููˆู‡ูุŒ ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุฌู’ุฑูŽุนูŽ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ุฌูุฑู’ุนูŽุฉู‹ ู…ูู†ู’ ู…ูŽุงุกูุŒ ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ุนูŽุฒู‘ูŽ ูˆูŽุฌูŽู„ู‘ูŽ ูˆูŽู…ูŽู„ูŽุงุฆููƒูŽุชูŽู‡ู ูŠูุตูŽู„ู‘ููˆู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูุชูŽุณูŽุญู‘ูุฑููŠู†ูŽ

Makan sahur adalah berkah, maka janganlah kalian meninggalkannya, walau kalian hanya meminum seteguk air, karena Allah โ€˜Azza wa Jalla dan para malaikat mendoakan orang yang makan sahur. (HR. Ahmad No. 11086, Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mengatakan:  sanadnya shahih. Lihat Taโ€™liq Musnad Ahmad No. 11086)

Dari Amru bin Al โ€˜Ash Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ููŽุตู’ู„ู ู…ูŽุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุตููŠูŽุงู…ูู†ูŽุง ูˆูŽุตููŠูŽุงู…ู ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจู ุฃูŽูƒู’ู„ูŽุฉู ุงู„ุณู‘ูุญููˆุฑ

โ€œPerbedaan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab adalah pada makan sahur.โ€ (HR. Muslim No. 1096)

Dari hadits dua ini ada beberapa faedah:

โœ… Anjurannya begitu kuat, sampai nabi meminta untuk jangan ditinggalkan

โœ… Sahur sudah mencukupi walau dengan seteguk air minum

โœ… Allah ‘Azza wa Jalla dan para malaikat mendoakan (bershalawat) kepada yang makan sahur

โœ… Orang kafir Ahli Kitab juga berpuasa, tapi tanpa sahur

โœ… Berpuasa tanpa sahur secara sengaja dan terus menerus adalah menyerupai Ahli kitab

๐Ÿ”นDisunnahkan mentakhirkan sahur:

Dari Amru bin Maimun Radhiallahu Anhu,  katanya:

ูƒุงู† ุฃุตุญุงุจ ู…ุญู…ุฏ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… ุฃุนุฌู„ ุงู„ู†ุงุณ ุฅูุทุงุฑุง ูˆุฃุจุทุฃู‡ู… ุณุญูˆุฑุง

Para sahabat Muhammad Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling bersegera dalam berbuka puasa, dan paling akhir dalam sahurnya. (HR. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 7916. Al Faryabi dalam Ash Shiyam No. 52. Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 9025)

Imam An Nawawi mengatakan: sanadnya shahih.(Lihat Al Majmu Syarh Al Muhadzdzab, 6/362), begitu pula dishahihkan oleh Imam Ibnu Abdil Bar, bahkan menurutnya keshahihan hadits tentang bersegera buka puasa dan mengakhirkan sahur adalah mutawatir. (Lihat Imam Al Aini, Umdatul Qari, 17/9. Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, 4/199)

๐Ÿ“š *Amalan Sunah Ketika Ramadhan*

โฃ *Tadarus Al Quran dan Mengkhatamkannya*

Bulan Ramadhan adalah bulan yang amat erat hubungannya dengan Al Quran, karena saat itulah Al Quran diturunkan. Oleh karenanya aktifitas bertadarus (membaca sekaligus mengkaji) adalah hal yang sangat utama saat itu, dan telah menjadi aktifitas utama sejak masa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan generasi terbaik.

Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma menceritakan:

 ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุฌูุจู’ุฑููŠู„ู ูŠูŽู„ู’ู‚ูŽุงู‡ู ูููŠ ูƒูู„ู‘ู ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ู…ูู†ู’ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ููŽูŠูุฏูŽุงุฑูุณูู‡ู ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุขู†ูŽ

Jibril menemuinya pada tiap malam malam bulan Ramadhan, dan dia (Jibril)  bertadarus Al Quran bersamanya.  (HR.  Bukhari No. 3220)

Faedah dalam hadits ini adalah:

โœ… Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga melakukan tadarus Al Quran bersama Malaikat Jibril

โœ… Beliau melakukannya setiap malam, dan dipilihnya malam karena waktu tersebut biasanya waktu  kosong dari aktifitas keseharian, dan malam hari suasana lebih kondusif dan khusyu.

๐Ÿ”นBukan hanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, tetapi ini juga perilaku para sahabat dan generasi setelah mereka.

  Imam An Nawawi Rahimahullah menceritakan dalam kitab At Tibyan fi Aadab Hamalatil Quran, bahwa diriwayatlan oleh As Sayyid Al Jalil Ahmad Ad Dawraqi dengan sanadnya, dari Manshur bin Zaadaan, dari para ahli ibadah tabiin  semoga Allah meridhainya- bahwasanya pada bulan Ramadhan dia mengkhatamkan Al Quran antara zhuhur dan ashar, dan juga mengkhatamkan antara maghrib dan isya, dan mereka mengakhirkan isya hingga seperampat malam.

 Imam Abu Daud meriwayatkan dengan sanad yang shahih, bahwa Mujahid mengkhatamkan Al Quran  antara maghrib dan isya. Dari Manshur, katanya bahwa Al Azdi mengkhatamkan Al Quran setiap malam antara maghrib dan isya pada bulan Ramadhan.

Ibrahim bin Sa’ad menceritakan: bahwa ayahku kuat menahan duduk dan sekaligus mengkhatamkan Al Quran dalam sekali duduk. Ada pun yang sekali khatam dalam satu rakaat shalat tidak terhitung jumlahnya karena banyak manusia yang melakukannya, seperti Utsman bin Affan, At Tamim Ad Dari, Sa’id bin Jubeir semoga Allah meridhai mereka- yang khatam satu rakaat ketika shalat di dalam Kabah.

Ada juga yang khatam dalam sepekan, seperti Utsman bin Affan, Ibnu Mas’ud, Zaid bin Tsabit, Ubai bin Ka’ab,  dan segolongan tabi;in seperti Abdurrahman bin Yazid, Al Qamah, dan Ibrahim  semoga Allah merahmati mereka semua. (Lingkapnya lihat Imam An Nawawi, At Tibyan, Hal. 60-61)

๐Ÿ”นBersambung ๐Ÿ”น

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…