Air Mata Manusia-Manusia Mulia: Tangisan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepadaku”,

«اقْرَأْ عَلَيَّ» قُلْتُ: آقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ؟ قَالَ: «فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي» فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ سُورَةَ النِّسَاءِ، حَتَّى بَلَغْتُ: {فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا} [النساء: ٤١] قَالَ: «أَمْسِكْ» فَإِذَا عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ

“Bacakanlah Al-Qur`an padaku.”

Aku pun berkata, “Aku membacakannya untuk Anda, padahal kepada Andalah ia diturunkan?”

Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku suka mendengarnya dari orang lain.”

Akhirnya aku pun membacakan surat An-Nisa` dan ketika sampai pada ayat: “Dan bagaimanakah sekiranya Kami mendatangkan manusia dari seluruh umat dengan seorang saksi, lalu kami mendatangkanmu sebagai saksi atas mereka.”

Maka beliau pun bersabda padaku: “Cukuplah.” Lalu aku pun melihat kedua mata beliau meneteskan air.

Shahih Al-Bukhari No. 4583, 5050, 5055, Shahih Muslim No. 247 (800) )

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata:

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkhutbah dengan khutbah yang belum kami dengar sebelumnya. Beliau bersabda:

“Seandainya kalian melihat apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”

Lalu para sahabat menutup wajah mereka dan menangis tersedu-sedu.

HR. Muttafaq ‘Alaih

Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.

WAHABI

Assalamualaykum wr wb. Ustadz/ah…
Apakah yang dimaksud dengan kaum wahabi? Apakah mereka sesuai dengan qur’an dan sunnah?
Syukran mba.  A02

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Bismillah wal Hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah wa ba’d:

Gerakan Wahabiyah, adalah sebuah gerakan tajdid (pembaharuan), di jazirah Arab, khususnya Najd. Dimotori oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah.
Tema utamanya adalah pemurnian tauhid dari noda kesyirikan dan pemurnian ibadah dari noda kebid’ahan.

Da’wah beliau, tidak bernama. Ada pun penamaan wahabi, ada beragam versi; ada yang menyebut dari penjajah Inggris, ada pula yang menyebut penamaan itu berawal dari kakak kandungnya sendiri, Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab yang tidak menyukai da’wah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Syaikh Sulaiman menyusun kitab membantah da’wah adiknya, dengan judul Fashlul Khithab fi Raddi ‘ala Muhammad bin ‘Abdil Wahhab. Konon, sbagian ulama mengatakan bahwa sang kakak sudah meralat hal itu dan justru membela da’wah adiknya.

Garis perjuangan dan pemikiran Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sejalan dengan Imam Ibnu Taimiyah, dan juga Imam Ahmad bin Hambal. Bahkan dianggap pelanjut estafeta mereka.

Gerakan da’wah Beliau … selanjutnya terlalu banyak kabut sejarah yang menyertainya. Fitnah yang dialaminya dari musuh-musuhnya, juga pembelaan kepadanya dari para pengikutnya. Keduanya pada porsi yang sangat banyak saling bantah dan menihilkan.

Kadang citra buruk itu diperagakan oleh pengikutnya sendiri, pada Syaikh tidaklah demikian. Kadang citra itu adalah fitnahan semata. Sejauh yg saya ketahui, pandangan2 Beliau jika dilihat dari karyanya sendiri, bukan dr kutipan2 org lain yg sgt mungkin terjadi bias, maka Beliau memang seorg pejuang tauhid, namun tetap moderat. Para ulama -yg bukan Wahabiyah-  telah memberikan penilaian positif kepadanya seperti Syaikh Wahbah Az Zuhailiy, Syaikh Muhammad bin Alawiy Al Malikiy, dan lainnya. Tentunya yang mengkritiknya juga ada bahkan menyebut gerakan Wahabiyah adalah khawarij.

Pandangan Beliau terhadap tawassul dgn org soleh misalnya, beliau menganggapnya perselisihan fiqih, dan mayoritas ulama melarangnya. Dan menurutnya, hendaknya toleran.

Sementara kita dapati kesan di luar, bahwa Beliau nampak begitu keras dan buas terhadap pelaku tawassul. Sehingga gambaran itu membuat marah pihak yang pro tawassul.

Dan sebagainya.

Di Indonesia, gerakan ini sdh ada sejak masa Tuanku Imam Bonjol, lalu dilanjutkan oleh Muhammadiyyah, Persis, dan Al Irsyad. Sebagaimana umumnya terjadi pada sebuah pemikiran, maka para pengikutnya selalu ada yang bersikap ekstrim dan fanatik.

Ekstrim dan Fanatik ini bisa terjadi pd gerakan apa pun. Maka, titik titik itulah yang paling sering terjadi gesekan baik tokoh atau awwamnya.

Bagi yang moderat, msh mungkin mereka bekerja sama dan saling lapang dada dalam perbedaan.

Wallahu a’lam.

Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.

Keutamaan Menujukkan Kebaikan

Dari Abu Mas’ud Al Anshari Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِه

Siapa yang menunjukkan (seseorang) pada kebaikan maka dia mendapatkan pahala yang sama dengan si pelakunya.

Shahih Muslim No. 3509

Durus wa ‘Ibar (Pelajaran dan Hikmah):

Ini merupakan salah satu keutamaan mengajar dan mengajak manusia pada kebaikan, yaitu seseorang akan mendapatkan pahala atas amal orang lain, karena dia punya andil dalam amal tersebut baik berupa memberikan contoh atau ajakan

Tentu kebaikan tersebut adalah kebaikan yang kita sendiri sudah melakukan sebelum mengajak orang lain, sebab Allah Ta’ala berfirman:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri. (Qs. Al Baqarah: 44)

Ayat lain:

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Qs. Ash Shaf:2)

Para ulama berbeda pendapat apakah SAMA antara  pahala  “menunjukkan kebaikan” dengan “melakukan kebaikan”.

Sebagian mengatakan SAMA balasan kebaikan keduanya, baik yang mengajak dan yang melakukan.

Sebagian lain mengatakan tidak  sama,  Imam As Suyuthi berkata:

قال النووي: المراد أن له ثوابًا كما لفاعله ثوابًا، ولا يلزم أن يكون قدر ثوابهما سواء. انتهى

Berkata An Nawawi: maksudnya adalah dia mendapatkan pahala yang sama dengan pelakunya, dan tidak mesti menjadikan kadar pahala keduanya sama persis. Selesai. (Syarh As Suyuthi ‘Ala Muslim)

Al Abiy berkata:

ظاهر الحديث المساواة، وقاعدة الشريعة أن الأجر على قدر المشقة؛ إذ مشقة من أنفق عشرة دراهم ليس كمن دلّ

Zahir hadits memang menunjukkan kesamaan, tapi kaidah syari’ah menyebutkan bahwa besarnya pahala tergantung kadar kesulitannya. Jadi, tidak sama kesulitan orang yang berinfaq 10 Dirham, dengan orang yang memberikan ajakan untuk itu. (At Tanwir Asy Syarh Al Jaami’ Ash Shaghiir)

Orang yang mengajak tapi BELUM MAMPU melakukan, tidak sama dengan orang yang mengajak TAPI TIDAK MAU MELAKUKAN. Yang pertama dimaafkan, yang kedua dimurkai sebagaimana Ash Shaf ayat 2.

Wallahu A’lam

Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.

Luput Shalat Karena Ketiduran Atau Lupa, Bagaimana Nih ?

Sangat mungkin hal ini terjadi pada siapa pun. Bukan karena sengaja meninggalkannya tapi keadaan yang dia tidak bisa menghindarinya.

Bagi siapa pun yang mengalaminya, maka hendaknya dia shalat saat dia tersadar dan teringat, baik disebabkan oleh ketiduran atau lupa karena adanya kesibukan yang luar biasa.

Berikut ini dalil-dalilnya:

Dari Abu Qatadah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

ذَكَرُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَوْمَهُمْ عَنْ الصَّلَاةِ فَقَالَ إِنَّهُ لَيْسَ فِي النَّوْمِ تَفْرِيطٌ إِنَّمَا التَّفْرِيطُ فِي الْيَقَظَةِ فَإِذَا نَسِيَ أَحَدُكُمْ صَلَاةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا

Mereka menceritakan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa tidurnya mereka membuat lalai dari shalat. Maka Beliau bersabda: “Sesungguhnya bukan termasuk lalai  karena tertidur, lalai itu adalah ketika terjaga. Maka, jika kalian  LUPA atau TERTIDUR maka shalatlah ketika kalian ingat (sadar).”

(HR. At Tirmidzi No. 177, katanya: hasan shahih. Abu Daud No. 437, Ibnu Majah No. 698, An Nasai No. 615, Ad Daruquthni, 1/386, Ibnu Khuzaimah No. 989, Ahmad No. 22546. Dishahihkan oleh Syaikh Syuaib Al Arnauth (Taliq Musnad Ahmad No. 22546), Syaikh Al Albani (Shahihul Jami No. 2410), juga diriwayatkan oleh Imam Muslim No. 680, namun dengan lafaz agak berbeda)

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ نَسِيَ صَلَاةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا لَا كَفَّارَةَ لَهَا إِلَّا ذَلِكَ{وَأَقِمْ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي}

Barang siapa yang lupa dari shalatnya maka hendaknya dia shalat ketika ingat, tidak ada tebusannya kecuali dengan itu (Allah berfirman: “dirikanlah shalat untuk mengingatKu”). (HR. Bukhari No. 597)

Dari Qatadah  Radhiallahu ‘Anhu , katanya:

سِرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ لَوْ عَرَّسْتَ بِنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَخَافُ أَنْ تَنَامُوا عَنْ الصَّلَاةِ قَالَ بِلَالٌ أَنَا أُوقِظُكُمْ فَاضْطَجَعُوا وَأَسْنَدَ بِلَالٌ ظَهْرَهُ إِلَى رَاحِلَتِهِ فَغَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ فَنَامَ فَاسْتَيْقَظَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ طَلَعَ حَاجِبُ الشَّمْسِ فَقَالَ يَا بِلَالُ أَيْنَ مَا قُلْتَ قَالَ مَا أُلْقِيَتْ عَلَيَّ نَوْمَةٌ مِثْلُهَا قَطُّ قَالَ إِنَّ اللَّهَ قَبَضَ أَرْوَاحَكُمْ حِينَ شَاءَ وَرَدَّهَا عَلَيْكُمْ حِينَ شَاءَ يَا بِلَالُ قُمْ فَأَذِّنْ بِالنَّاسِ بِالصَّلَاةِ فَتَوَضَّأَ فَلَمَّا ارْتَفَعَتْ الشَّمْسُ وَابْيَاضَّتْ قَامَ فَصَلَّى

“Kami pernah berjalan bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada suatu malam. Sebagian kaum lalu berkata, Wahai Rasulullah,  barangkali anda mau istirahat sebentar bersama kami? Beliau menjawab: Aku khawatir kalian tertidur sehingga terlewatkan shalat. Bilal berkata, Aku akan membangunkan kalian. Maka merekapun berbaring, sedangkan Bilal bersandar pada hewan tunggannganya, tapi rasa kantuknya mengalahkannya dan akhirnya iapun tertidur. Ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam terbangun ternyata matahari sudah terbit, maka beliau pun bersabda: Wahai Bilal, mana bukti yang kau ucapkan! Bilal menjawab: Aku belum pernah sekalipun merasakan kantuk seperti ini sebelumnya. Beliau lalu bersabda: Sesungguhnya Allah ‘Azza Wa Jalla memegang ruh-ruh kalian sesuai kehendak-Nya dan mengembalikannya kepada kalian sekehendak-Nya pula. Wahai Bilal, berdiri dan adzanlah (umumkan) kepada orang-orang untuk shalat! kemudian beliau berwudhu, ketika matahari meninggi dan tampak sinar putihnya, beliau pun berdiri melaksanakan shalat. (HR. Bukhari No. 595)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah menerangkan:

اتفق العلماء على أن قضاء الصلاة واجب على الناسي والنائم

Para ulama sepakat tentang wajibnya mengqadha shalat bagi orang lupa atau tertidur. (Fiqhus Sunnah, 1/274, Lihat juga Bidayatul Mujtahid, 1/182)

 Yaitu wajib mengqadha bagi shalat wajib, sedangkan shalat sunah tidak wajib di qadha, melainkan sunah juga.

Demikian dasar yang begitu kuat dalam mengqadha shalat, bisa disimpulkan dari hadits-hadits di atas sebagai berikut:

Jika luput shalat karena lupa dan tertidur, maka hendakmya diqadha

Qadha dilakukan segera ketika sadar atau ingat

Mengqadha shalat wajib adalah wajib, karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengatakan: tidak ada tebusan yang lain kecuali dengan itu.”

Nabi dan para sahabat pun pernah mengalaminya.

Demikian. Wallahu A’lam

Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.

Tidak Bisa Sholat Jum’atan Karena Pekerjaan

Assalamuallaikum wr wb..Bagaimana hukumnya ustadz seandainya ada perkara tidak pergi jumatan dengan alasan pekerjaan yang tidak bisa di tinggal sedangkan mencari rejeki kan juga kewajiban! Ana itu punya Saudara yang jadi security di sebuah perusahaan,ketika shift pagi dan kebetulan hari jum’at dia tidak  bisa jum’atan  karena  dia kebagian jaga..bagaimana hukumnya ustadz? 
                          
Jawaban
————–
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
 Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Man waalah, wa ba’d:
Jazakillah  khairan kepada ukhty penanya … semoga Allah Ta’ala selalu menaungi antum, keluarga, dan kaum muslimin yang istiqamah dengan hidayah dan rahmatNya.
Pada dasarnya melaksanakan shalat jum’at adalah kewajiban bagi setiap muslim berdasarkan firman Allah swt :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya : “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” 
(QS. Al Jumu’ah : 9)
أن النبي صلى اللّه عليه وآله وسلم قال لقوم يتخلفون عن الجمعة لقد هممت أن آمر رجلاً يصلي بالناس ثم أحرق على رجال يتخلفون عن الجمعة بيوتهم. رواه أحمد ومسلم عن ابن مسعود رضي اللّه عنه
وعن أبي هريرة وابن عمر: (أنهما ما سمعا النبي صلى اللّه عليه وآله وسلم يقول على أعواد منبره لينتهين أقوام عن ودعهم الجمعات أو ليختمن اللّه على قلوبهم ثم ليكونن من الغافلين). رواه مسلم وأحمد والنسائي من حديث ابن عمر وابن عباس. 
وعن أبي الجعد الضمري وله صحبة: (أن رسول اللّه صلى اللّه عليه وآله وسلم قال من ترك ثلاث جمع تهاوناً طبع اللّه على قلبه). رواه الخمسة. ولأحمد وابن ماجه من حديث جابر نحوه أخرجه أيضاً النسائي وابن خزيمة والحاكم بلفظ (من ترك الجمعة ثلاثاً من غير ضرورة طبع على قلبه) قال الدارقطني أنه أصح من حديث أبي الجعد.
Syarat wajib shalat jumah: 
lelaki baligh yang mukim/menetap
Yang tidak wajib:
1. lelaki atau siapapun yang musafir
2. Perempuan
3. anak-anak
4. Budak
5. orang gila
6. Orang sakit.
Ancaman Allah bagi yang meninggalkannya.
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah Shalallahu A’laihi wa Salam bersabda tentang orang-orang yang meninggalkan shalat jum’at dengan mengatakan,
”Sebenarnya aku berniat memerintahkan seseorang untuk menjadi imam shalat bersama masyarakat dan aku pergi membakar rumah orang-orang yang meninggalkan shalat jum’at itu.” (HR. Muslim dan Ahmad)
Diriwayatkan dari Abu Hurairoh dan Ibnu Umar bahwa keduanya pernah mendengar Rasulullah Shalallahu A’alibi wa Salam bersabda diatas mimbar bersabda,
”Hendaklah orang-orang itu menghentikan perbuatan meninggalkan shalat jum’at atau Allah akan mengunci hati mereka kemudian mereka menjadi orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim)
Al-Ja’d radhiallahu anhu sesungguhnya Rasulullah Shallllah  A’laihi wa Sallam bersabda,
مَنْ تَرَكَ ثَلَاثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ(وصححه الشيخ الألباني في ” صحيح الجامع)
“Siapa yang meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali dengan meremehkannya, maka Allah tutup hatinya.” (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami)
Ibnu Majah, no. 1126 juga meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah radhiallahu anhuma, dia berkata, Rasulullah Shallallah  A’laihi wa Sallam bersabda,
مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلَاثًا مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ   (وحسنه الشيخ الألباني في ” صحيح ابن ماجه)
“Siapa yang meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali tanpa kebutuhan darurat, Allah akan tutup hatinya.” (Dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih Ibnu Majah)
Al-Munawi rahimahullah berkata, “Yang dimaksud ditutup hatinya adalah Allah tutup dan cegah hatinya dari kasih sayangnya, dan dijadikan padanya kebodohan, kering dan keras, atau menjadikan hatinya seperti hati orang munafik.” (Faidhul Qadir, 6/133)
Dalam sebagian riwayat disebutkan dengan membatasi tiga kali dengan berturut-turut. Dalam musnad Thayalisi dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu  A’laihi wa Sallam bersabda,
من ترك ثلاث جمع متواليات من غير عذر طبع الله على قلبه
“Siapa yang meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali berturut-turut tanpa uzur, maka Allah akan tutup hatinya.”
Dalam hadits yang lain,
من ترك الجمعة ثلاث مرات متواليات من غير ضرورة طبع الله على قلبه   (وصححه الشيخ الألباني في ” صحيح الجامع)
“Siapa yang meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali berturut-turut tanpa darurat, maka Allah akan tutup hatinya.” (Dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami)
Tertunda karena udzur syar’i.
Dari Abdullah bin Fadhaalah, dari Ayahnya, katanya:
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan saya, di antara yang pernah dia ajarkan adalah: 
“Jagalah shalat yang lima.” Aku berkata: “Saya memiliki waktu-waktu yang begitu sibuk, perintahkanlah kepada saya dengan suatu perbuatan yang jika saya lakukan perbuatan itu, saya tetap mendapatkan pahala yang cukup.” Beliau bersabda: 
“Jagalah shalat al ‘ashrain. “ (HR. Abu Daud No. 428, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 51, 717, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 2188, Ibnu Abi ‘Ashim dalam Al Aahad wal Matsaani No. 939, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 826. Hadits ini dishahihkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar. (Al Imta’ Al Arba’in, Hal. 48), Imam Al Hakim: shahih sesuai syarat Imam Muslim. (Al Mustadrak No. 717), dan disepakati oleh Imam Adz Dzahabi. Syaikh Al Albani juga menshahihkan. (As Silsilah Ash Shahihah No. 1813) )
Dalam riwayat tersebut dijelaskan tentang shalat Al ‘Ashrain adalah:
«صَلَاةٌ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ، وَصَلَاةٌ قَبْلَ غُرُوبِهَا»
Shalat sebelum terbit matahari (Shalat Subuh) dan Shalat sebelum tenggelam matahari (shalat Ashar). (Ibid)
Dalam hadits ini nabi mengajarkan kepada sahabatnya untuk menjaga shalat lima waktu, tetapi sahabat itu mengeluh kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tentang kesulitannya menjaga shalat lima waktu itu, lalu nabi memerintahkan dia untuk menjaga shalat subuh dan ashar. Apa maksudnya? Apakah berarti dia boleh meninggalkan shalat lainnya karena kesibukannya, dan dia cukup shalat subuh dan ashar saja? Bukan itu! Sangat mustahil nabi memerintahkan sahabat itu hanya shalat subuh dan ashar tapi meninggalkan shalat wajib lainnya. Tetapi makna hadits ini mesti diartikan bahwa dia sangat sibuk dan kesulitan untuk menjaga shalat berjamaah, maka dia dianjurkan oleh nabi untuk menjaga shalat berjamaah subuh dan ashar, bukan menjaga shalat subuh dan ashar semata-mata.
Inilah Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah, dia telah menjelaskan hadits ini dengan begitu bagus sebagai berikut:
وَفِي الْمَتْن إِشْكَال لِأَنَّهُ يُوهم جَوَاز الِاقْتِصَار على الْعَصْريْنِ وَيُمكن أَن يحمل على الْجَمَاعَة لَا على تَركهَا أصلا وَاللَّهُ أَعْلَمُ
Pada redaksi hadits ini nampak ada hal yang membingungkan, karena seakan nabi membolehkan cukup dengan shalat al ashrain (subuh dan ashar), kemungkinan maksud hadits ini adalah tentang meninggalkan shalat berjamaah, bukan meninggalkan shalatnya itu sama sekali. Wallahu A’lam. (Al Imta’ Al Arba’in, Hal. 48)
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah menambahkan:
Rukhshah (keringanan) ini terjadi hanyalah karena kesibukan yang dimiliki orang itu sebagaimana keterangan dalam hadits tersebut. Wallahu A’lam. (As Silsilah Ash Shahihah No. 1813)
Demikianlah, kesibukan apa pun yang mendatangkan kesulitan untuk shalat pada awal waktu,  atau tidak sholat jum’at berjamaah. Inilah di antara udzur syar’i itu. Tetapi, ini hanya berlaku bagi kesibukan pada aktifitas yang halal dan bermanfaat bagi kehidupan manusia di dunia dan akhirat, bukan kesibukan karena kesia-siaan apalagi sibuk karena perkara haram dan maksiat.
Jadi, dari keterangan diatas, Khusus buat kasus saudara penanya, tentang kesulitan sholat jumat, bila memungkinkan bisa ditugaskan kepada pegawai wanita ketika jam-shalat jum’at  untuk menjaga . karena wanita tidak wajib shalat jumat. Atau jika ada yang non muslim, mungkin bisa didelegasikan dulu kepada mereka. .
Jika tidak didapatkan pengganti maka dibolehkan baginya untuk tidak melaksanakan shalat jum’at dan menggantinya dengan shalat zhuhur berdasarkan keumuman firman Allah swt :
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
 “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS. At Thaghabun : 16)
Wallahu a’lam.
Ustadz Farid Nu’man Hasan

Kaligrafi

Assalamu’alaikum, Ustad mau tanya apa hukumnya memajang khaligrafi Alquran didalam rumah.  #A22

Jawaban
————–
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillah wal Hamdulillah ..

Terjadi perbedaan pendapat ulama tentang menuliskan ayat Al Quran di dinding, atau lainnya. Perbedaan ini karena memang tidak ada nash khusus yang membahasnya. Hukumnya berangkat dari perspektif masing-masing pihak. Ada yang menganggap hal itu justru dapat merendahkan Al Quran, pakaian, atau terbawa ke tempat yang tidak pantas, dan sebagainya.

Imam An Nawawi Rahimahullah berkata:
مذهبنا أنه يكره نقش الحيطان والثياب بالقرآن وبأسماء الله تعالى قال عطاء لا بأس بكتب القرآن في قبلة المسجد وأما كتابة الحروز من القرآن فقال مالك لا بأس به إذا كان في قصبة أو جلد وخرز عليه وقال بعض أصحابنا إذا كتب في الخرز قرآنا مع غيره فليس بحرام ولكن الأولى تركه لكونه يحمل في حال الحدث وإذا كتب يصان بما قاله الإمام مالك رحمه الله وبهذا أفتى الشيخ أبو عمرو بن الصلاح رحمه الله

Madzhab kami memakruhkan mengukir dinding dan pakaian dengan ayat-ayat Al Quran dan Asma Allah Ta’ala.

Atha mengatakan tidak apa-apa menulis Al Quran di kiblat Masjid.

Imam Malik mengatakan tidak apa-apa menulis beberapa huruf Al Quran pada bambu, kayu, atau kulit.

Menurut sebagian sahabat kami (Syafi’iyah), jika ditulis Al Quran dan lainnya pada manik-manik, tidak haram tapi lebih utama ditinggalkan. Karena bisa terbawa ke tempat hadats.

Jika ditulis juga, sebaiknya mengikuti nasihat Imam Malik Rahimahullah, dan dengan ini pula fatwa Abu Amr bin Shalih Rahimahullah.
(Selesai dari Imam An Nawawi dalam _At Tibyan_)

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Farid Nu’man Hasan

Mandi Lagi kah?

Assalamualaikum ustadz/ah.. mau bertanya mengenai orang yg setelah mandi junub karena berhubungan lalu beberapa waktu/jam kemudian keluar lagi sisa maninya.
Apakah wajib mandi kembali atau tidak? Mohon penjelasanya terima kasih sebelumnya Wass.
I-11

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Bismillah wal Hamdulillah.
Perlu diperjelas dulu .., jika mani yang dimaksud adalah mani yang di kemaluan istri, lalu keluar lagi beberapa saat kemudian, maka itu tidak usah diulang lagi mandinya, sebab itu sisa saja, tidak membuat keadaan junub. Cukup cebok aja, lalu wudhu jika mau shalat.

Kalau maksudnya adalah suami yang keluar mani lagi, maka mesti mandi lagi, sebab itu membuat keadaan junub lagi.

Wallahu a’lam

Oleh: Ustadz Farid Nu’man

Bangunan di Atas Kuburan

Assalamualaikum Ustadz/ah…
Aku mau nanya soal Kuburan yg *_sudah Lama Banget_* yg ada disamping Rumah kami…
Haruskah kita pindahkan ke Pemakaman Massal kuburan tsb ?
atau Bolehkah kita kasih Keramik diatasnya untuk perluasan rumah ?

Tolong Jawab pertanyaan saya ini ya ust…Syukron I20

Jawab
———-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillah wal Hamdulillah ..

Membangun kuburan atau mendirikan tembok di sisi kubur adalah terlarang, sebagaimana hadits berikut:

نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يجصص القبر وأن يقعد عليه وأن يبنى عليه

“Rasulullah ﷺ melarang mengecat kubur, duduk di atasnya, dan membangunnya.”
 (HR. Muslim No. 970)

Imam Ash Shan’ani Rahimahullah mengatakan:

الحديث دليل على تحريم الثلاثة المذكورة لأنه الأصل في النهي. وذهب الجمهور إلى أن النهي في البناء والتجصيص للتنزيه.

Hadits ini merupakan dalil haramnya tiga hal tersebut, karena hukum asal dari larangan adalah haram. Sedangkan mayoritas ulama mengatakan bahwa larangan membangun dan mengapur adalah untuk _tanzih_ (sesuatu yang sepantasnya ditinggalkan). *( _Subulus Salam_, 2/111)*

  Imam Al Munawi _Rahimahullah_ mengatakan:

(وأن يبني عليه) قبة أو غيرها فيكره كل من الثلاثة تنزيها

_Nabi melarang (Membangun bangunan atasnya) yaitu kubah dan selainnya, maka dimakruhkan tiga hal itu sebagai hal yang selayaknya ditinggalkan (tanzih)._

Lalu beliau juga berkata:

قال ابن القيم : والمساجد المبنية على القبور يجب هدمها حتى تسوى الأرض إذ هي أولى بالهدم من مسجد الضرار الذي هدمه النبي صلى الله عليه وسلم وكذا القباب والأبنية التي على القبور وهي أولى بالهدم من بناء الغاصب اه.
وأفتى جمع شافعيون بوجوب هدم كل بناء بالقرافة حتى قبة إمامنا الشافعي رضي الله عنه التي بناها بعض الملوك

_Imam Ibnul Qayyim berkata: masjid yang dibangun di atas kubur wajib dihancurkan sampai rata dengan tanah, bahkan dia lebih utama dihancurkan dibanding masjid dhirar yang pernah dihancurkan Nabi ﷺ , demikian juga kubah-kubah di atas kubur dia lebih layak dihancurkan dibandingkan bangunannya, dst. Ulama Syafi’iyah memfatwakan wajib menghancurkan semua bangunan di qarafah (tanah kuburan) sampai-sampai kubah imam kita sendiri, Imam Asy Syafi’iy, yang telah dibangun oleh pihak kerajaan._  *( _Faidhul Qadir,_ 6/402)*

Namun, Imam Asy Syafi’i membolehkan meninggikan kuburan tidak sampai melebihi sejengkal, sebagai tanda itu adalah kubur agar tidak terinjak-injak manusia. *( _Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab,_ 5/286-287)*

Jadi, kalau membangunnya tidak sampai melebihi sejengkal tidak apa-apa, sebagai tanda itu adalah kubur. Selebihnya terlarang.

Wallahu A’lam

Dijawab oleh Ustadz Farid Nu’man Hasan

Shalih Pribadi Tapi …..

Realita politik di DKI Jakarta, mungkin bisa menjadi barometer wajah politik umat Islam Indonesia

Polarisasi pemilih memang menyesuaikan tipikal paslon gubernur

Tapi ternyata, tidak selalu muslim memilih muslim, tidak sedikit muslim memilih non muslim, betapa pun non muslim tersebut begitu buruk perangai dan kebenciannya kepada umat Islam dan ulama

Uniknya lagi, ada juga yang memilihnya adalah orang-orang yang sebenarnya rajin shalat, rajin ke masjid, mungkin dia juga berzakat dan bersedekah dan ritual ibadah lainnya

Baik mereka yang strata pertengahan atau bawah

Artinya, untuk keshalihan pribadi dengan ibadah-ibadah terbatas, mereka tidak ada masalah sama sekali.

Maraknya ta’lim yang mereka ikuti, kajian-kajian spiritualitas, nampaknya hanya untuk memenuhi sisi kosong jiwa  mereka saja

Tapi kenapa mereka memilih non muslim juga, masih bagus jika non muslim tersebut berpihak kepada Islam, tapi ini berkali-kali menunjukkan antipatinya kepada Islam dan ulama?

Atau, kenapa masih suka bergelimangan dengan pinjaman-pinjaman atau cicilan ribawi?

Ini bisa jadi tidak sederhana, tapi yang paling mudah terlihat adalah pemahaman mereka pada batas keshalihan; yang penting saya sudah melaksanakan rukun Islam!

Ada pun Islam dalam artian sebuah tatanan hidup yang mewarnai semua sendi kehidupan belum menjadi sesuatu yang menarik dan menggoda. Bahkan bisa jadi mereka asing bahkan menolaknya

Jadi, yang dikatakan Islami itu jika sudah shalat, zakat, haji, shaum, umrah, …. mereka sangat menikmati itu semua

Namun, untuk keluarga Islami, ekonomi syariah, politik syariah, pergaulan Islam, busana Islam .. mrk tidak memandang penting bahkan menyebutnya “Islam Politik”, dengan pandangan skeptis

Ya, mereka sudah masuk shalih pribadi, dan ini perlu diapresiasi .., tapi masih perlu dilanjutkan dengan shalih sosial, shalih politik, shalih ekonomi dan lainnya ..

Allahu Yahdina ilaa sawaa’is sabiil

Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.

Memutar Badan Bagi Imam Setelah Selesai Shalat adalah Sunnah

Dari Jabir bin Yazid bin Al Aswad, dari ayahnya, dia berkata:

شَهِدْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَجَّتَهُ فَصَلَّيْتُ مَعَهُ صَلَاةَ الصُّبْحِ فِي مَسْجِدِ الْخَيْفِ قَالَ فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ وَانْحَرَف

“Aku pernah berhaji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu aku shalat subuh bersamanya di masjid Al Khaif.” Ia berkata; “Ketika beliau selesai melakasanakan shalat subuh dan Beliau memutar badannya …. ” (Hr. At Tirmidzi No. 219, katanya: hasan shahih)

 Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuri Rahimahullah berkata:

قلت والظاهر أن المعنى انحرف عن القبلة وقال بن حجر أي جعل يمينه للمأمومين ويساره للقبلة كما هو السنة

Aku berkata: yang benar maknanya adalah berpaling dari kiblat. Ibnu Hajar berkata: yaitu menjadikan posisi sebelah kanan badan ke arah Ma’mun, dan bagian kiri ke arah kiblat. Sebagaimana itu adalah sunnah.

Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuri, Tuhfah Al Ahwadzi, 2/3. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah

Wallahu A’lam

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan