Menjaga Lisan

Uqbah bin ‘Amir bertanya kepada Rasulullaah SAW, “Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?” Rasulullah bersabda, “Jagalah lisanmu, berikan kelapangan dalam rumahmu untuk taat beribadah kepada Allah, dan menangislah karena dosamu.” (HR. At-Tirmidzi)

Sahal bin Sa’ad meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang menjaminku (dengan anggota tubuh) antara dua jenggot dan dua kaki, maka aku akan menjamin masuk surga.” (HR. At-Tirmidzi)

‘Abdullah Ats-Tsaqafi menuturkan, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullaah, katakan kepadaku apa yang bisa kujadikan pegangan.’ Rasulullah menjawab, “Katakan, Tuhanku adalah Allah, kemudian beristiqamahlah!” Aku bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apa yang paling kamu takutkan?’ Rasulullah menunjuk lisannya sendiri sambil berkata, “Ini”.

Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, Hendaklah ia berkata benar atau diam.” (HR. Bukhari)

Lisannya Para Sahabat Nabi

Abu Bakar r.a. pernah meletakkan kerikil ke dalam mulutnya supaya tidak berbicara.

Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata, “Tiada tuhan selain Allah. Tiada perkara yang membutuhkan penjagaan yang ketat kecuali Lisan.”

Thawus r.a. berkata, “Lisanku sangat buas, Jika aku membiarkan, ia akan melumatku.”

Sufyan Ats-Tsauri r.a. berkata, “Menyerang manusia dengan panah itu lebih mudah, daripada menyerangnya dengan lisan. Karena panah terkadang luput dari sasarannya, sementara lisan tidak.”

Abu Darda r.a. berkata, “Perbanyak menggunakan telinga melebihi mulutmu. Karena kamu diberi dua telinga dan satu mulut, supaya kamu lebih banyak mendengar daripada berbicara.”

Diantara Bahaya Lisan

Membicarakan sesuatu yang tidak bermanfaat.

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan, Rasulullaah SAW bersabda, “Diantara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak ada manfaatnya bagi diri nya.” (HR. At-Tirmidzi)

Banyak bicara

Diantara sifat negatif seseorang yang alim adalah banyak bicara daripada mendengarkan. Mujahid berkata, “Aku pernah mendengar Ibnu Abbas r.a. berkata, “Ada lima perkara yang membuatku senang pada tiga malam terakhir setiap bulan Qamariyah, yaitu :

Jangan membicarakan sesuatu yang tidak ada manfaatnya bagi dirimu, karena hal itu sia-sia.

Jangan percaya kepada orang yang gemar berbuat dosa.

Jangan membicarakan sesuatu sebelum menemukan tema pembicaraan yang baik.

Jangan memusuhi orang yang sabar dan orang yang bodoh. Ingatlah ia saudaramu, jika ia hilang dari sisimu padahal kamu menyayanginya.

Beramal-lah seperti orang yang tahu bahwa amalnya akan dibalas dengan kebaikan dan kejahatannya akan dihapus.

Berkata kotor dan keji

Rasulullah SAW bersabda, “Hati-hatilah dengan perkataan kotor. Sesungguhnya Allah tidak menyukai kekejian dan perkataan kotor.” (HR. Ahmad)

Rasulullah SAW bersabda, “Diantara dosa yang paling besar adalah orang yang mengutuk kedua orangtua.” Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mereka mengutuk kedua orangtuanya?” Rasulullah menjawab, “Jika seseorang mengutuk bapak orang lain, kemudian oranglain itu membalas dengan mencaci bapak dan ibunya.” (HR. Bukhari)

Melaknat

Rasulullah SAW mengingatkan, “Jangan saling melaknat dengan laknatan Allah, melaknat dengan kemarahan-Nya, dan melaknat dengan neraka-Nya.”

‘Imran bin Husain r.a. meriwayatkan, “Ketika dalam suatu perjalanan, Rasulullah melihat seorang wanita Anshar berada diatas Unta. Wanita itu merasa bosan, lalu melaknat Untanya. Ketika mendengar ucapan wanita itu Rasul berkata, “Ambil Unta yang ada pada wanita itu, dan biarkan dia! Karena wanita itu sedang dilaknat.” Aku melihat wanita itu sedang berjalan diantara orang banyak, namun tidak seorangpun yang memperhatikannya.” (HR. Muslim)

Wallaahu’Alam..

Oleh Ustadz Muhar Nur Abdy

Bersyukur Selalu, Hidup Anda Akan Lebih Baik

Assalamu’alaikum adik-adik, apa kabar semuanya?
Semoga kita masih dalam rahmat Allah swt, Aamiin
Adik-adik hari ini kita akan membahas tentang Bersyukur

Syukur, suatu kata yang sangat berbobot dan memberikan makna yang tidak terhingga. Allah telah menjamin dalam Al-Qur’an, barang siapa yang bersyukur maka Allah akan menambah nikmat kepada orang tersebut. Pada artikel ini, akan dibahas 2 manfaat penting bersyukur yang akan mengubah hidup Anda. Anda akan lebih sukses jika pandai bersyukur.

Sudahkan kita bersyukur? Sudahkah kita merasakan tambahan nikmat atas syukur Anda? Apakah kita ingin mendapatkan nikmat yang lebih besar lagi? Lupakan mengeluh, mulailah perbanyak syukur.

Inilah 2 Manfaat Bersyukur

Saya tidak membatasi bahwa manfaat bersyukur itu hanya 2. Hanya saja yang dibahas pada materi kali ini fokus kepada 2 manfaat ini.

Berikut adalah dua manfaat syukur. Mudah-mudahan bisa memotivasi kita menjadi hamba yang pandai bersyukur.

1. Pahala dari Allah.

Jelas, bersyukur adalah perintah Allah, kita akan mendapatkan pahala jika kita bersyukur dengan ikhlas. Menciptakan Feeling Good. Dengan bersyukur akan membuat kita lebih bahagia.

2. Perasaan kita menjadi lebih enak dan nyaman dengan bersyukur.

Bagaimana tidak, pikiran kita akan fokus pada berbagai kebaikan yang kita terima.

Apa Hubungan Pahala dari Allah Dengan Sukses?

Jelas sekali. Semakin banyak pahala dari Allah, maka Allah akan lebih sayang kepada kita. Jika Allah lebih sayang, maka pertolongan Allah semakin dekat. Do’a-do’a kita dikabulkan. Tindakan dan pikiran kita dibimbing, diarahkan ke jalan yang benar.

Bukankah ini luar biasa?

Lalu apa manfaat Feeling Good?

Jika kita yang percaya dengan Hukum Daya Tarik (law of attraction), feeling good akan meningkatkan kekuatan kita menarik apa yang kita inginkan. Kekuatan hukum ini akan sebanding dengan keyakinan dan perasaan positif. Sementara semakin banyak kita bersyukur, akan semakin banyak perasaan positif pada diri kita. Jika dari sekian teknik LOA tidak bisa kita ikuti, fokus saja pada bersyukur maka akan menghasilkan kondisi emosi yang positif.

Sementara bersyukur akan menciptakan emosi yang positif karena kita fokus pada hal-hal yang positif. Semakin banyak kita bersyukur akan semakin besar motivasi yang kita miliki. Syukur memfokus pikiran kita kepada hal-hal positif, kufur justru mengarahkan pikiran kepada hal yang negatif. Bersyukur akan membentuk pola pikir sukses. Pola pikir sukses adalah keyakinan dalam mendapatkan. Saat kita bersyukur, maka pikiran kita secara tidak sadar diberikan suatu “pola” mendapatkan, sehingga akan terbentuk pola sukses. Semakin banyak bersyukur, pola pikir sukses kita akan semakin kuat.

Dengan melihat ketiga manfaat dari feeling good, kita bisa menyimpulkan bahwa feeling good adalah mungkin menjadi salah satu cara Allah memberikan nikmat tambahan kepada kita. Jika orang baru ribut dengan manfaat syukur pada kahir-akhir ini, Al-Qur’an sudah 14 abad yang lalu. Sungguh suatu nikmat Allah yang diberikan kepada kita, sayang jika kita mengabaikannya.

Cara Meningkatkan Syukur

Saya yakin, kita orang-orang yang pandai bersyukur. Namun, bukan berarti kita tidak perlu meningkatkan syukur kita. Jika masih ada hal yang Anda inginkan, maka tingkatkan rasa syukur Anda.

Setinggi apa pun kita menjadi hamba yang bersyukur, kita masih tetap perlu meningkatkan syukur kita. Jika Anda baru bersyukur saat menambatkan nikmat berupa materi, ini adalah baru tahap awal menjadi hamba yang pandai bersyukur.

Untuk meningkatkan rasa bersyukur, kita harus lebih jeli dan peka terhadap berbagai nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Kurangnya kepekaan terhadap nikmat Allah akan mengurangi syukur kita, sebab kita merasa tidak ada yang perlu disyukuri lagi. Meningkatkan kepekaan bisa dilakukan dengan melakukan perenungan terhadap apa yang terjadi pada hidup kita sehari-hari. Luangkan waktu Anda setiap hari untuk merenungkan nikmat setiap harinya. Sadari bahwa: Setiap saat, kita mendapatkan nikmat baru. Satu detik waktu berlalu berarti kita mendapatkan nikmat hidup selama satu detik. Nafas kita, penglihatan kita, penciuman kita, detak jantung kita dan sebagainya yang tidak mungkin disebutkan disini. Selalu ada hikmah dari setiap kejadian, baik kejadian pada diri sendiri maupun orang lain.

Sementara setiap saat selalu ada kejadian, berarti selalu ada hikmah yang bisa kita ambil. Sementara hikmah adalah suatu nikmat. Syukurilah. Caranya ialah dengan rajin tafakur. Pikirkan apa hikmah dari setiap kejadian? Kitaa akan menemukan banyak hikmah dan lebih banyak bersyukur.

3 Cara bersyukur ini bisa kita lakukan setiap hari, bahkan setiap saat. Sampai kapan? Jangan bertanya sampai kapan, sebab bersyukur adalah sebuah ibadah, tidak diukur oleh keberhasilan materi. Justru, jika kita lupa bersyukur, apa yang telah kita miliki bisa jadi malah menjadi laknat, bukan lagi nikmat.

Jadi fahami, bagaimana syukur bisa mengubah diri Anda menjadi pribadi yang lebih sukses, kemudian tingkatkan syukur kita.

Sumber : motivasi-islam.com

Oleh: Ustadz M. Shafwan Husein el-Lomboki

Adab Left Grup

Dari Abu Burdah, katanya:

دَخَلْت مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ فَإِذَا عَبْدُ اللهِ بْنُ سَلاَمٍ ، فَسَلَّمْت ثُمَّ جَلَسْت ، فَقَالَ : يَا ابْنَ أَخِي ، إنَّك جَلَسْت وَنَحْنُ نُرِيدُ الْقِيَامَ.

Aku masuk ke Masjid Madinah, ada Abdullah bin Salam, lalu aku mengucapkan salam kemudia aku duduk. Dia berkata: _”Wahai Anak saudaraku, kamu duduk sedangkan kami  hendak berdiri.”_

Al Mushannaf Ibni Abi Syaibah No. 26178

Dari Musa bin Nafi’, dia berkata:

قَعَدْتُ إِلَى سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ، قَالَ: ” أَتَأْذَنُونَ؟ إِنَّكُمْ جَلَسْتُمْ إِلَيَّ “

Aku duduk bersama Sa’id bin Jubair, ketika Beliau hendak berdiri, Beliau berkata : “Apakah kamu mengizinkan ? Sesungguhnya kamu telah bermajelis (duduk)  bersamaku.”

Al Mushannaf Ibni Abi Syaibah,  No. 26184

Di antara adab bermajelis atau berkumpul adalah izin atau pamit kepada manusia yang semajelis dengannya. Ini merupakan hiasan akhlak bagi seorang muslim.

Sebagaimana datang mengucapkan salam atau izin, meninggalkannya juga demikian. Bermajelis di zaman modern bukan hanya di sebuah tempat, ruangan, masjid, dan semisalnya, tetapi juga di dunia maya, di antaranya grup _Whatsapp, Telegram,_ dll. Hal ini penting, bukan hanya menunjukkan bagusnya perilaku, tapi juga meminimalisir zhan yang tidak baik bagi rekan-rekan sekumpulannya, dan terputusnya silaturrahim.

Namun, diakui bahwa kadang _left grup_ terjadi secara tidak sengaja dan tidak diduga oleh pemiliknya, baik karena; hp error, dimainkan anak, dsb.

Wallahu A’lam

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

Ash Shadiquun – Orang-Orang Jujur

Al Harits Al Muhasibiy Rahimahullah berkata:

الصادق هو الذي لا يبالي ولو خرج عن كل قدر له في قلوب
الخلائق من أجل صلاح قلبه ولا يحب إطلاع الناس على مثاقيل الذر من حسن عمله ولا يكره إطلاع الناس على السئ من عمله فإن كراهته لذلك دليل على أنه يحب الزيادة عندهم وليس هذا من أخلاق الصديقين

Orang Jujur lagi benar adalah orang yang tidak memperhatikan segala penghargaan manusia kepadanya, demi kedamaian hatinya. Dia tidak suka manusia mengetahui kebaikan dirinya walau seberat atom. Dia tidak menarus rasa benci jika manusia tahu kejelekan dirinya. Kebencian itu hanyalah menunjukkan bahwa dia menginginkan tambahan perhatian dari mereka. Itu bukan akhlak orang-orang yang jujur

Imam An Nawawi, At Tibyan fi Adab Hamalah Al Quran, Hal. 33

Ditulis oleh: Farid Nu’man Hasan

ADAB MURID TERHADAP GURU

Akhlak

Ustadzah Kingkin Anida

Bagaimana hari ini sikap murid murid terhadap guru mereka? bila mereka meremehkan guru, tidak menghormati mereka, atau membicarakan keburukan keburukannya, mungkin ini hasil pendidikan (rumah-sekolah) atau peran lingkungan atau kebijakan system pemerintahan.

Alangkah baiknya kita semua mulai membuka kitab lama, adakah hal hal berikut tersampaikan? Misalnya:

🚷 Tidak berjalan di depan gurunya.

⛔ Tidak duduk di tempat/kursi gurunya.

📵 Tidak memulai bicara padanya kecuali dengan izin guru.

📵 Tidak berbicara di hadapan guru saat guru sedang menyampaikan ilmu.

📛 Tidak bertanya sesuatu bila guru sedang capek atau bosan.

🔙 Harus menjaga waktu, jangan mengetuk pintunya, tapi menunggu sampai guru keluar

💌 Seorang murid harus mendapat kerelaan hati guru, harus menjauhi hal-hal yang menyebabkan guru marah, mematuhi perintahnya asal tidak bertentanngan dengan agama

🔮 Termasuk menghormati guru adalah juga dengan menghormati putra-putra guru, dan sanak kerabat guru

💔 Jangan menyakiti hati seorang guru karena ilmu yang dipelajarinya akan tidak berkah

Menurut Syeikh Ahmad Nawawi, adab murid terhadap guru antara lain :

🎌 Murid harus taat kepada guru terhadap apa yang diperintahkan didalam perkara yang halal.

🎌 Murid harus menghormati guru

🎌 Mengucapkan salam ketika bertemu dengan guru, karena perilaku itu bisa membuat guru senang

🎌 Ketika murid bertemu guru di tepi jalan, hendaklah murid menghormati guru dengan berdiri dan berhenti

🎌 Murid hendaknya menyiapkan tempat duduk guru sebelum guru datang

🎌 Ketika duduk di hadapan guru harus sopan seperti ketika sedang sholat yaitu dengan menundukkan kepala

🎌 Murid harus memperhatikan penjelasan guru

🎌 Murid jangan bertanya ketika guru sedang lelah

🎌 Ketika duduk dalam suatu majelis pelajaran, murid hendaklah tidak menolah-noleh ke belakang

🎌 Murid jangan bertanya kepada guru tentang ilmu yang bukan di bidangnya atau bukan ahlinya

🎌 Murid harus memperhatikan penjelasan guru dan mencatatnya untuk mengikat ilmu agar tidak mudah hilang

🎌 Murid harus berprasangka baik terhadap guru

Semua ini penting diketahui murid, karena jika seorang murid menghormati guru, maka ilmu yang diperoleh bisa manfaat.

Seorang penyair berkata: “Sesungguhnya guru dan dokter keduanya tidak akan menasihati kecuali bila dimuliakan. Maka rasakan penyakitmu jika tidak menuruti dokter, dan terimalah kebodohanmu bila kamu membangkang pada guru.”

Memilih Teman

Ustadzah Ida Faridah

Adik-adik MFT yang dirahmati Allah, apa kabar semuaya? Kali ini kita akan membahas tema Berteman dengan Orang Sholeh dan Sholehah.

Adik-adik, dalam kehidupan sangat dibutuhkan yang namanya teman, teman tidak semuanya harus jadi sahabat, bersahabat harus memilih karna tidak semua orang bisa di jadikan teman. Jika salah dalam memilih sahabat akibatnya akan fatal, berteman dengan orang yang salah bisa berdampak buruk pada kita, berteman dengan orang sholeh dan sholehah akan berdampak baik pada kita. Begitu kuat pengaruh seorang sahabat pada diri kita sehingga kita harus selektif dalam memilih orang yang dekat.

Adik-adik MFT, berteman dengan orang yang salah bisa menjerumuskan kita pada jalan yang tidak benar, jauh dari Allah, jauh dari orang tua bahkan akan mudah sekali meninggalkan kewajiban-kewajiban kita pada Allah, begitu mudah meninggalkan sholat dan begitu mudah masuk dunia hitam. Maka jauhilah teman yang akan mengajak kita pada hal yang negatif

Seorang ulama berkata: “Kufur nikmat adalah tercela dan menenmani orang yang dzalim adalah sial (tidak akan diberi berkah)”.

Rasulullah saw bersabda “Putuskanlah persahabatan dengan orang dzalim”.

Adik-adik semuanya, sementara jika kita bersahabt dengan orang-orang sholeh dan sholehah akan mendekatkan kita pada kebaikan, lebih taat pada Allah, ingat akan dosa dan mengerjakan pekerjaan yang baik-baik dan menjauhi maksiat.

“Jika kalian memiliki seorang teman yang membantu dalam ketaatan pada Allah, maka peganglah dia erat-erat dan jangan kalian lepaskan. Karena mencaru teman baik itu susah tetapi melepaskannya sangat mudah sekali”. (Imam syafe’i)

Beruntunglah kita jika ada dalam lingkungan orang-orang sholeha, bersahabat bukan hanya di dunia akan tetapi bersahaabt pula di akhirat, yang bisa membawa kita makin menjadi manususia lebih baik lg

Wallahu a’alam

Tawaqal

Ustadz Muhar Nur Abdy

◈ Pengertian Tawaqal.

⇨ Menurut bahasa, lafal tawakal berasal dari bahasa arab yang artinya bersandar.

⇨ Menurut istilah , tawaqal ialah sikap berserah diri kepada Allah SWT setelah melakukan usaha secara maksimal. Seseorang yang berusaha secara maksimal untuk mencapai suatu keinginan atau cita-cita, setelah itu dia menerima dengan ikhlas dan berserah diri kepada Allah SWT atas hasil yang akan dia dapatkan, orang ini disebut bertawaqal. Orang yang bertawaqal, maka ia termasuk orang yang berakhlak mulia.

◈ Pengertian Tawaqal menurut para ahli dan ulama yaitu :

▣ Imam al-Ghazâli

Tawaqal adalah menyandarkan diri kepada Allah tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepada-Nya dalam kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang dan hati yang tenteram.

▣ Buya Hamka

Tawaqal adalah menyerahkan segala urusan atau perkara ikhtiar dan usaha kepada Allah SWT karena kita lemah dan tak berdaya.

▣ Hamzah Ya’qub

Tawaqal adalah mempercayakan diri kepada Allah SWT dalam melaksanakan suatu rencana, bersandar kepada kekuatan-Nya dalam melaksanakan suatu pekerjaan, berserah diri kepada-Nya pada waktu menghadapi kesukaran.

▣ Imam Ahmad bin Hambal

Tawaaal merupakan aktivitas hati, artinya tawaqal itu merupakan perbuatan yang dilakukan oleh hati, bukan sesuatu yang diucapkan oleh lisan, bukan pula sesuatu yang dilakukan oleh anggota tubuh. Dan tawaaal juga bukan merupakan sebuah keilmuan dan pengetahuan. (Al-Jauzi:2004. Hal 337)

▣ Ibnu Qayyim al-Jauzi

Tawaqal merupakan amalan dan ubudiyah (baca; penghambaan) hati dengan menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah SWT, tsiqah terhadap-Nya, berlindung hanya kepada-Nya dan ridha atas sesuatu yang menimpa dirinya, berdasarkan keyakinan bahwa Allah SWT akan memberikannya segala ‘kecukupan’ bagi diriny, dengan tetap melaksanakan ‘sebab-sebab’ (baca ; faktor-faktor yang mengarakhkannya pada sesuatu yang dicarinya) serta usaha keras untuk dapat memperolehnya.” (Al-Jauzi/ Arruh fi Kalam ala Arwahil Amwat wal Ahya’ bidalail minal Kitab was Sunnah, 1975 : 254)

▣ Adapun menurut ajaran Islam, tawaqal itu adalah menyerahkan diri kepada Allah SWT setelah berusaha keras dan berikhtiar serta bekerja sesuai dengan kemampuan dan mengikuti sunnah Allah yang Dia tetapkan. Jadi, dapat di simpulkan pengertian tawakkal adalah berserah diri kepada Allah SWT setelah berusaha keras, dan menunggu hasilnya.

◈ Ciri-ciri Tawaqal

⇨ Mujahadah (Semangat yang kuat)

Sebagai seorang mukmin dan muslim dianjurkan untuk memiliki akhlak yang baik.  Salah satunya tawaqal. Guna terciptanya sosialisasi yang tenteram, tenang, dan damai. Tawaqal bukan hanya sekedar merasakan segala perkara kepada Allah SWT, tetapi diawali dengan usaha-usaha ataupun jalan-jalannya yang kuat. Setelah itu serahkan hasilnya kepada Allah SWT. Diantara ciri orang yang bertawaqal ialah memiliki semangat yang kuat. Mempunyai semangat yang kuat merupakan salah satu akhlak orang mukmin yang dianjurkan oleh Islam.

Orang mukmin yang menempuh cara semacam ini adalah orang  yang  lebih bagus dan lebih dicintai Allah Azza wa Jalla daripada orang yang lemah semangatnya, tidak mau bekerja keras dan mengerjakan atau mencari pekerjaan yang berfaedah. Sepantasnyalah setiap orang untuk meningkatkan ilmu, budi pekerti, serta kemasyarakatan dan perekonomiannya.

⇨ Bersyukur

Ciri lain orang yang bertawaqal ialah ia senantiasa bersyukur kepada Allah SWT. Apabila ia sukses ataupun berhasil dalam segala urusan ataupun ia mendapatkan apa yang dibutuhkan dan diinginkan ia tak luput untuk senantiasa  bersyukur kepada Allah SWT, karena ia menyadari dan meyakini bahwa semua yang ia dapatkan itu adalah takdir Allah dan kehendak-Nya. Dengan bersyukur pula ia akan selalu merasa puas, senang dan bahagia.

Firman Allah SWT : “Bersyukurlah kepada-Ku niscaya akan aku tambah nikmatnya, tapi jika tidak bersyukur sesungguhnya azabku teramat pedih.”

⇨ Bersabar

Ciri orang yang bertawaqal selanjutnya ialah selalu bersabar. Sebagai orang mukmin yang bertawaqal kepada Allah SWT ia akan bersabar, baik dalam proses maupun dalam proses maupun dalam hasil. Karena dengan inilah ia akan bahagia dan tenang  atas apa yang di terimanya. Rasulullah SAW bersabda yang artinya sebagai berikut: “Orang yang bahagia ialah yang dijauhkan dari fitnah-fitnah dan orang yang terkena ujian dan cobaan dia bersabar.” (HR. Ahmad dan Abu dawud)

⇨ Intropeksi Diri (Muhasabah)

Orang yang bertawaqal salah satu sikapnya ialah intropeksi diri. Dimana ia akan intropeksi diri apabila ia kurang sukses daam menjalankan sesuatu ia tidak membuat dirinya “drop”, melainkan ia selalu intropeksi pada diri, dapat dikatakan muhasabah. Senantiasa mengoreksi apa yang telah dilakukannya. Setelah itu ia akan berusaha menghindari faktor penyebab suatu kegagalan tersebut serta senantiasa memberikan yang terbaik pada dirinya.

◈ Keutamaan Tawaqal

Adapun keutamaan bagi seorang muslim yang memiliki sifat bertawaqal diantaranya adalah sebagai berikut:

⇨ Mendapatkan Cinta dari Allah SWT.

Allah berfirman dalam Al-Quran : “(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, Karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari pada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” ( QS. Ali-Imran 3:153)

⇨ Tawaqal dapat mencegah adzab Allah SWT.

⇨ Dicukupkan rizkinya dan merasakan ketenangan.

Firman Allah SWT :
“Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

⇨ Dikuatkan iman dan dijauhkan dari syaitan.

⇨ Jiwa, harta, anak, dan keluarga senantiasa terjaga.

Waallaahua’alamu bisshawab..

Sifat-Sifat Allah Ta’ala

By: Ustadzah Kingkin Annida

1. Rabbul ‘Alamin.

لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ ۖ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ

“Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam.” (QS. Al-Maidah: 28)

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwir: 29)

2. Penguasa Hari Kiamat.

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

“Yang menguasai di Hari Pembalasan.” (QS. Al-Fatihah: 4)

3. Pemilik karunia yang Agung.

مَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلَا الْمُشْرِكِينَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِنْ خَيْرٍ مِنْ رَبِّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Baqarah: 105)

4. Maha Dahsyat Hukumannya.

سَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَمْ آتَيْنَاهُمْ مِنْ آيَةٍ بَيِّنَةٍ ۗ وَمَنْ يُبَدِّلْ نِعْمَةَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Tanyakanlah kepada Bani Israil: “Berapa banyaknya tanda-tanda (kebenaran) yang nyata, yang telah Kami berikan kepada mereka”. Dan barangsiapa yang menukar nikmat Allah setelah datang nikmat itu kepadanya, maka sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 211)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنْ رَبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۚ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maidah: 2)

5. Pencipta Langit dan bumi.

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.” (QS. Al-Baqarah: 117)

6. Maha Dahsyat azab-Nya.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS. Al-Baqarah: 165)

7. Maha cepat perhitungan-Nya.

أُولَٰئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا ۚ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 202)

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (QS. Ali Imran: 19)

8. Pemilik pembalasan.

مِنْ قَبْلُ هُدًى لِلنَّاسِ وَأَنْزَلَ الْفُرْقَانَ ۗ إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ

“Sebelum (Al Quran), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al Furqaan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa).” (QS. Ali Imran: 4)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۚ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَٰلِكَ صِيَامًا لِيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ ۗ عَفَا اللَّهُ عَمَّا سَلَفَ ۚ وَمَنْ عَادَ فَيَنْتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-yad yang dibawa sampai ke Ka’bah atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.” (QS. Al-Maidah: 95)

9. Raja Diraja.

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran: 26)

10. Sebaik baik pengatur tipu daya.

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Ali Imran: 54)

11. Sebaik baik Penolong.

 بَلِ اللَّهُ مَوْلَاكُمْ ۖ وَهُوَ خَيْرُ النَّاصِرِينَ

“Tetapi (ikutilah Allah), Allahlah Pelindungmu, dan Dialah sebaik-baik Penolong.” (QS. Ali Imran: 150)

Meneladani Akhlak Rasulullah SAW

📆 Senin, 06 Shafar 1438 H/07 November 2016

📕 Akhlak

📝 Ustadz Muhar Nur Abdy

============================
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Assalamu’alaikum adik-adik..
Ketemu lagi sama Senin nih..😊
Sehat dan Semangat teruss ya adik-adik..

So, kita lanjut nih, materi Akhlaknya..
Kita masih ngebahas tentang Meneladani Akhlak Rasulullah SAW..

Dalam diri Nabi SAW terdapat akhlak-akhlak yang mulia sehingga beliau menjadi teladan yang baik bagi ummatnya. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswah hasanah (suri tauladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab : 21)

Akhlak yang mulia menjadi kunci keberhasilan beliau membangun bangsa dari kenistaan ke martabat yang tinggi. Akhlak-akhlak beliau bisa kita ketahui dari banyak referensi, utamanya kitab-kitab syamail (kitab yang membahas tentang sifat, bentuk fisik dan akhlak Nabi), seperti Syamail At-Tirmidzi, Syamail As-Suyuthi dan sebagainya. Membaca kisah Nabi SAW kian lama kian mengasyikkan dan tidak membuat bosan. Semakin kita mengenal Nabi, semakin banyak kita mengenal keistimewaan yang ada padanya. Dengan mengetahui keistimewaan tersebut kita akan bertambah cinta dan ta’at menjalankan sunnah-sunnahnya. Jika sebuah pepatah “tak kenal maka tak sayang” itu menjadi pijakan kita, maka tak salah kalau kita harus membaca biografi beliau secara tuntas hingga akhirnya kita dapat meneladani dan mencintai sunnah-sunnah yang beliau lakukan setiap hari. Bagi seorang muslim, Nabi SAW adalah sumber teladan utama yang patut diikuti. Karena sunnah-sunnahnya mengajari umatnya bagaimana meneguhkan iman dan taqwa, bersabar dalam setiap musibah, bersyukur ketika mendapatkan anugerah, bersikap ridha dan tawakal dalam setiap urusan, bertindak jujur dalam segenap keadaan, serta berjiwa ikhlas dalam beramal.

© Akhlak Rasulullah SAW.

Para ulama banyak menulis tentang masalah ini. Berikut ini adalah sebagian dari akhlak Nabi SAW :

® Suka memaafkan dan tidak suka membalas kejelekan orang lain.

Diriwayatkan bahwa waktu perang Uhud, wajah Nabi SAW terluka dan gigi raba’iyah (gigi yang terletak antara gigi seri dan gigi taring)nya patah. Para sahabat merasa berat melihat hal itu. Mereka berkata: “Hendaknya engkau berdoa agar mereka celaka!.” Nabi SAW berkata: “Sesungguhnya aku tidak diutus sebagai orang yang suka melaknat. Aku diutus sebagai juru dakwah dan sebagai rahmat. Wahai Allah, berilah petunjuk kepada kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (Asy-Syifa bii Ta’rifi Huquq Al-Musthafa, Qadhi Iyadh, Juz 1 hal. 105)

Sikap pemaafnya juga tergambar jelas saat berdakwah di Makkah pada awal Islam. Sikap ini perlu ditiru oleh kaum muslimin. Hanya saja, kadang-kadang memberi maaf cukup dilakukan oleh hati tanpa diucapkan dengan kata-kata agar orang yang bersalah tidak mengulangi kesalahannya lagi.

® Dermawan.

Nabi SAW ketika dimintai sesuatu maka beliau pasti memberi jika ada yang diberikan. Jika tidak ada maka beliau diam. Berdasarkan riwayat ini, orang yang dimintai sesuatu tetapi tidak mungkin memenuhinya maka ia disunnahkan untuk diam agar orang yang meminta tidak malu. Jika orang yang meminta tidak memahami bahasa diamnya, maka ia perlu menegaskan penolakannya dengan kata-kata. (Asy-Syamail Asy-Syarifah, As-Suyuthi, hal 247)

® Menerima hadiah sekecil apapun dan membalasnya.

Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa Nabi SAW menerima hadiah dan membalasnya. Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa Ummu Fadhli mengirim air susu dalam sebuah wadah kepada Nabi SAW saat beliau melakukan wukuf di Arafah, dan beliau meminumnya. (Ithaf As-Sadah Al-Muttaqin, Az-Zabadi, Juz 7 hal. 99)

® Hidup sederhana dan tidak mau menyusahkan diri sendiri.

Nabi SAW memerah kambing, mengikat dan memberi makan unta, menyapu rumah, membersihkan pakaian, membawa barang belanja dari pasar, makan apa adanya dan berpakaian seadanya. (Madarij As-Su’ud, Nawawi Al-Bantani, hal 54. Ihya ‘Ulumuddin, Al-Ghazali, Juz 3 hal. 366, 372)

® Bergaul dengan baik

Nabi SAW memenuhi undangan walimah, menjenguk orang sakit, mengiring jenazah, duduk dan makan bersama fakir miskin, menyambung tali kekerabatan, rendah hati dan kadang-kadang bercanda. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa seorang nenek datang kepada Nabi SAW dan berkata: “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia memasukkan aku ke dalam surga!.” Nabi SAW berkata: “Hai ibu si Fulan, sesungguhnya surga tidak dimasuki oleh nenek-nenek!.” Wanita itu pergi sambil menangis. Lalu Nabi SAW berkata kepada para sahabat: “Katakan kepada wanita itu bahwa ia tidak masuk surga dalam keadaan nenek-nenek (karena akan dimudakan umurnya menjadi perawan).” (Ihya ‘Ulumuddin, Al-Ghazali, Juz 3 hal. 356-359. Asy-Syamil, At-Tirmidzi hal. 199)

© Jangan sampai salah Idola ya adik-adik..

Kemajuan teknologi dan globalisasi yang tidak dibarengi dengan ketakwaan dan ilmu agama yang kuat, akan menimbulkan krisis akhlak dan moral yang berkepanjangan. Banyak remaja muslim yang kurang atau tidak mengenal Nabinya. Di antara akibatnya adalah mereka memilih idola yang tidak semestinya diidolakan. Mengapa demikian? Ada beberapa faktor penyebab di samping faktor di atas, di antaranya:

Mengikuti atau menyesuaikan diri dengan keadaan yang menjadi trend saat itu.Tidak adanya tokoh yang bisa menjadi panutan pada saat itu. Perpecahan kaum muslimin yang berbeda-beda kepentingan.

Adalah sangat disayangkan jika kemudian orang-orang memandang sebelah mata lalu menyalahkan para remaja dan pemuda yang melakukan kesalahan di atas, tanpa melihat latar belakang mereka melakukan kesalahan itu. Banyak pihak yang mungkin dipersalahkan dalam hal ini. Tak ada asap jika tak ada api. Kata yang tepat yang tidak menyinggung perasaan semua pihak dalam masalah ini adalah lepas kontrol. Lepas kontrol terhadap diri sendiri, terhadap anak, terhadap murid dan terhadap lingkungan merupakan penyebab mengapa para remaja begitu mudah terbawa arus, malu mempertahankan sunnah Nabi SAW dan bangga jika telah menyesuaikan diri dengan trend saat itu. Untuk mengatasinya, tak cukup hanya dengan memperbanyak ceramah atau mauidhah. Harus ada pengamalan sunnah Nabi SAW secara nyata oleh berbagai pihak, utamanya orang-orang yang memiliki massa atau pengikut. Dan telah maklum, bahwa seseorang tidak mungkin mengikuti sunnah Nabi SAW secara sempurna, ia hanya diperintahkan untuk melakukan semampunya.

© Dan pada akhirnya..

Dalam tiap masa dan tiap generasi, selalu ada dua sisi dalam kehidupan: sisi terang yang diperankan oleh aktor protagonis dan sisi gelap yang diperankan oleh aktor antagonis. Pada masa Nabi Dawud AS muncul raja Jalut, pada masa Nabi Musa AS muncul raja Firaun, pada masa Nabi Muhammad SAW muncul Abu Jahal beserta sekutunya di Makkah dan Abdullah bin Ubay beserta sekutunya di Madinah. Begitu juga masa sekarang. Ini telah menjadi sunnatullah. Jadi, hidup adalah pilihan. Jika bisa berperan sebagai aktor protagonis dengan mengamalkan akhlak yang baik, mengapa kita mau memerankan peran antagonis dengan mengamalkan akhlak yang buruk?

Wallaahua’alamu bisshawab.

Belajar Tawadhu dan Rendah Hati dari Rasulullah SAW

Senin, 30 Muharam 1438 H/31 Oktober 2016

Akhlak

Ustadz Muhar Nur Abdy

============================

Suatu hari, Umar bin Khattab r.a. pernah menangis, iba melihat keadaan Nabi SAW. Umar menjumpai utusan Penguasa alam semesta itu bangun tidur dan anyaman tikar mengecap di tubuhnya. Rasulullah SAW bertanya kepadanya, “Mengapa engkau menangis, wahai Umar?.”

“Bagaimana saya tidak menangis, Kisra dan Kaisar duduk di atas singgasana bertahtakan emas,” sementara tikar ini telah menimbulkan bekas di tubuhmu, wahai Rasulullah. Padahal engkau adalah kekasih-Nya,” jawab Umar.

Rasulullah SAW kemudian menghibur Umar, beliau bersabda: “Mereka adalah kaum yang kesenangannya telah disegerakan sekarang, dan tak lama akan sirna, tidakkah engkau rela mereka memiliki dunia sementara kita memiliki akhirat…?”

Kemudian beliau SAW melanjutkan, “Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang bepergian dibawah terik panas. Dia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian pergi meninggalkannya.”

® Ramah Terhadap Anak Kecil

Di Madinah, ada seorang anak kecil yang berkun-yah Abu Umair. Si Anak memiliki hewan peliharan seekor burung. Ia suka bermain dengan burung peliharaannya itu. Suatu hari, burung itu mati, dan Rasulullah SAW menyapa dan menghiburnya.

Dari Anas bin Malik r.a. ia berkata, “Nabi SAW datang menemui Ummu Sulaim yang memiliki seorang putra yang diberi kun-yah Abu Umair. Rasulullah SAW suka mencadainya. Suatu hari, beliau melihat Abu Umair bersedih. Lalu beliau SAW bertanya,

فقال: “مَا لِي أَرَى أَبَا عُمَيْرٍ حَزِينًا؟” فقالوا: مات نُغْرُه

“Mengapa kulihat Abu Umair bersedih?” Orang-orang menjawab, “Nughrun (burung kecil seperti burung pipit yang lekuk matanya berwarna merah)nya yang biasa bermain dengannya mati.”

Kemudian beliau menyapanya untuk menghibur si anak yang kehilangan mainannya ini,

أبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ؟

“Abu Umair, burung kecilmu sedang apa?.” (HR. Bukhari No. 5850)

® Mengerjakan Pekerjaan Rumah

عن عائشة أنها سُئلت ما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعمل في بيته، قالت: “كَانَ يَخِيطُ ثَوْبَهُ، وَيَخْصِفُ نَعْلَهُ، وَيَعْمَلُ مَا يَعْمَلُ الرِّجَالُ فِي بُيُوتِهِمْ.”

Dari Aisyah r.a., ia pernah ditanya apa yang dilakukan Rasulullah SAW di rumah. Aisyah radhiallahu ‘anha menjawab, “Beliau menjahit pakaiannya sendiri, memperbaiki sendalnya, dan mengerjakan segala apa yang (layaknya) para suami lakukan di dalam rumah.” (HR. Ahmad No. 23756)

® Bergaul Dengan Penduduk Desa

Sebagian orang kadang malu jika ada orang desa yang polos, yang mungkin terlihat kuno, mau berteman dekat dengan mereka. Televisi-televisi kita menyugukan tayangan bagaimana anak-anak gaul, malu berteman dengan yang terlihat culun. Hal itu disaksikan anak-anak, sehingga mereka meniru. Tentu, ini berbahaya jika tidak direspon oleh orang tua dengan pendidikan adab dan akhlak yang mulia. Ketika orang tua mampu menampilkan teladan dari Rasulullah SAW, seorang tokoh berkedudukan tinggi di masyarakat, mau berteman dengan orang biasa, tentu hal itu akan menimbulkan kesan yang berbeda pada diri anak-anak.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، أَنَّ رَجُلا مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ كَانَ اسْمُهُ زَاهِرًا , وَكَانَ يُهْدِي إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , هَدِيَّةً مِنَ الْبَادِيَةِ ، فَيُجَهِّزُهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , إِذَا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِنَّ زَاهِرًا بَادِيَتُنَا وَنَحْنُ حَاضِرُوهُ ” وَكَانَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّهُ وَكَانَ رَجُلا دَمِيمًا , فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , يَوْمًا وَهُوَ يَبِيعُ مَتَاعَهُ وَاحْتَضَنَهُ مِنْ خَلْفِهِ وَهُوَ لا يُبْصِرُهُ ، فَقَالَ : مَنْ هَذَا ؟ أَرْسِلْنِي . فَالْتَفَتَ فَعَرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَعَلَ لا يَأْلُو مَا أَلْصَقَ ظَهْرَهُ بِصَدْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ عَرَفَهُ ، فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , يَقُولُ : ” مَنْ يَشْتَرِي هَذَا الْعَبْدَ ” ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِذًا وَاللَّهِ تَجِدُنِي كَاسِدًا ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” لَكِنْ عِنْدَ اللَّهِ لَسْتَ بِكَاسِدٍ ” أَوْ قَالَ : ” أَنتَ عِنْدَ اللَّهِ غَالٍ ” .

Dari Anas bin Malik r.a., bahwasanya ada seorang dari penduduk desa (Arab badui) yang bernama Zahir, dia selalu menghadiahkan berbagai hadiah dari desa untuk Nabi SAW. Jika Nabi SAW hendak keluar, beliau menyiapkan perbekalannya. Lalu bersabda: “Sesungguhnya Zahir adalah desa kami (maksudnya beliau SAW bisa belajar darinya sebagaimana orang Badui mengambil manfaat dari padang Sahara) dan kami adalah kotanya (yang membuka pintu Madinah lebar-lebar untuk kehadirannya, ini adalah salah satu bukti pergaulan yang baik).

Nabi SAW mencintainya, dia adalah seorang yang jelek (tidak tampan) namun baik hatinya. Suatu hari Nabi SAW mendatanginya sementara ia sedang menjual barangnya, lalu beliau mendekapnya dari belakang, sementara dia tidak bisa melihat beliau. Dia berseru: ‘Siapa ini? Lepaskan aku!’ Kemudian ia menengok ke belakang dan ia tahu bahwa itu adalah Nabi SAW. Ketika dia tahu, dia tetap merapatkan punggungnya agar bersentuhan dengan dada Nabi SAW. Lalu Nabi SAW berseru, ‘Siapa yang mau membeli hamba sahaya ini?’ Zahir menjawab, ‘Wahai Rasulullah, kalau begitu demi Allah, engkau akan mendapatiku (terjual) sangat murah.’ Nabi SAW bersabda, ‘Akan tetapi, di sisi Allah engkau tidaklah murah’ atau ‘Di sisi Allah engkau sangat mahal.’ (HR. Ahmad No.12669)

Lihatlah bagaimana beliau SAW bercanda dengan teman-teman beliau. Pertemanan beliau tidak didasari oleh tampilan fisik, materi kekayaan, namun, beliau mendasari pertemanan berdasarkan keta’atan.

Kita semua tahu, Nabi SAW adalah manusia paling mulia yang pernah ada dan selama-lamanya. Ada para raja, pemimpin negara dan pejabat negara, orang-orang kaya, tidak satu pun yang melebihi kedudukan beliau SAW. Dan mereka tidak layak dibandingkan dengan beliau SAW. Lihatlah, alangkah rendah hatinya beliau SAW dalam pergaulannya. Dalam kehidupan sosialnya.

Dan kita berlindung kepada Allah SWT, agar kita yang tidak memiliki jabatan dan kedudukan ini, tidak berbuat sombong dan meremehkan orang lain.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad..

Wallaahua’alam..