Kalau…….Minimal….

Kalau engkau belum jadi ulama, jadilah penuntut ilmu.
Kalapun tidak, jadilah orang yang mencintai ulama atau penuntut ilmu.
Kalaupun tidak, *minimal jangan membenci mereka.*

Kalaupun benih kebaikanmu tidak kau ketahui dimana dia akan tumbuh, biarkan saja.
Nanti kan datang hujan yang akan memberitahu….

Kalaupun prestasimu belum jadi pusat perhatian, setidaknya kau tidak dikenal sebagai sumber keburukan…..

Kalaupun belum ada buku yang kau susun, setidaknya kau sudah memiliki judul-judul positif sebagai penuntun……

Kalau belum dapat mengarang puisi cinta, setidaknya engkau tidak mengumbar kata-kata tercela….

Kalau tak dapat menjadi pohon yang berbuah,
Jadilah pohon rindang, tempat semua orang merasakan tempat yang nyaman…

Wallahu musta’an.

Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir Lc.

Mari Belajar Cerdas……

Cerdas adalah selalu berusaha menjadi pelopor, bukan pengekor….

Cerdas itu pandai memilah bukan suka menggeneralisir masalah.

Cerdas adalah teliti mengamati, bukan terbawa arus opini….

Cerdas adalah engkau melakukan kebaikan yang telah engkau ketahui…

Cerdas itu adalah apabila kesalahan tak menghalanginya tuk terus bekerja sambil memperbaiki diri, bukan alasan untuk undur diri dan mencaci maki…

Cerdas tidak lemah berjuang karena survey lemah, justeru dia harus lemahkan hasil survey dengan perjuangan keras…

Cerdas standar:
Memilih yang baik dari yg buruk.

Cerdas super: Memilih yang terbaik di antara yang baik atau memilih yang lebih ringan keburukanya di antara yang buruk

Cerdas itu, kalau tidak dapat seluruhnya, minimal dapat sebagiannya….
bukan berprinsip, kalau tidak dapat sebagiannya, tinggalkan saja seluruhnya….

Cerdas adalah memilih kata yang tepat di moment yang tepat, bukan selalu mengulang-ulang kata yang sama walau moment berbeda.

Wallahu musta’an.

Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir Lc.

Sebelum Menuntut Pemimpin, Jadilah Pemilih Yang Baik…

Sebelum menuntut pemimpinmu adil, kamu harus adil dahulu dalam memilih pemimpin….
 
Bagaimana kan kau dapatkan pemimpin yang adil kalau kau tidak adil dalam memilihnya?
 
Sebelum kau menuntut pemimpinmu amanah, kau harus amanah dahulu dalam memilihnya…..
 
Bagaimana kan kau dapatkan pemimpin yang amanah, kalau kau sendiri tak amanah dalam memilihnya…..
 
Sebelum kau tuntut pemimpinmu tidak zalim, kau harusnya tidak boleh zalim dalam memilihnya….
 
Bagaimana kau harapkan pemimpinmu tidak zalim sedangkan engkau zalim dalam memilihnya….
 
Indikasi tidak adil dan amanah dalam memilih pemimpin; memilih karena dibayar, mendahulukan popularitas ketimbang kualitas, tidak teliti, dan lain-lain.
 
Jika objektif, sangat mudah menilai calon pemimpin, mana yang penuh cinta mana yang sering dusta, mana yang andalkan kerja, mana yang andalkan citra
 
Selama gayamu memilih pemimpin tidak berubah, jangan banyak berharap ada perubahan kepemimpinan di negeri ini.

Ayat- ayat  al-Quran menunjukkan dengan  jelas  larangan  memilih pemimpin non Muslim.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

لاَّ يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُوْنِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّهِ فِي شَيْءٍ إِلاَّ أَن تَتَّقُواْ مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللّهِ الْمَصِيرُ

“Janganlah  orang-orang  mukmin  mengambil  orang-orang  kafir  menjadi  WALI (waly) pemimpin, teman setia, pelindung) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara  diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Allah kamu kembali.” (QS:  Ali Imron [3]: 28)

Ayat yang lain:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَن تَجْعَلُواْ لِلّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَاناً مُّبِيناً

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (pemimpin) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah kami ingin mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” (QS:  An Nisa’ [4]: 144)

Maka…
Bagi warga DKI yang sudah punya hak pilih, jangan sia-siakan kesempatan untuk memilih calon pemimpin Muslim.

Jika ada pilihan calon pemimpin yang beriman, cerdas, bersih dan berpengalaman, santun dan berakhlak, maka jangan pilih yang non muslim.

Apalagi jika berbagai dugaan korupsi membayanginya,  belum lagi dengan prilakunya yang kasar dan suka menista.

Semoga Allah memberi warga Jakarta Pemimpin Muslim yang Amanah.

Wallahu musta’an.

Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir Lc.

Track Record

Ada dua peristiwa yang disikapi berbeda oleh Rasulullah saw.

Pertama, saat setan yang berpura-pura menjadi manusia berpesan kepada Abu Hurairah (dalam sebuah hadits panjang riwayat Bukhari) untuk membaca ayat Kursi sebelum tidur agar selalu dijaga Allah dan tidak diganggu setan.

Maka ketika mendengar berita tersebut, Rasulullah saw bersabda,

صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ذَاكَ شَيْطَانٌ

“Dia telah benar kepadamu sedangkan dia adalah pendusta. Dia adalah setan.” (HR. Bukhari)

Peristiwa lain terjadi menjelang Fathu Makkah (Penaklukan kota Mekah). Rasulullah saw telah mempersiapkan matang, namun beliau berupaya merahasiakan rencana tersebut agar tidak diketahui kaum kafir Quraisy Mekah.

Siapa nyana, seorang shahabat membocorkan rencana tersebut dengan mengirim surat kepada keluarganya yang masih berada di Mekah melalui kurir seorang wanita.

Singkat cerita rencana tersebut tercium oleh Rasulullah saw, wanita tersebut dicegat dan akhirnya diketahui bahwa dia diperintahkan oleh Hatib bin Abi Balta’ah.

Beliau segera di interogasi. Rupanya dia beralasan karena khawatir dengan keluarganya kalau-kalau terjadi pertumpahan darah, maka keluarganya cepat berlindung, sebab keluarganya bukan dari suku besar yang dapat melindunginya.

Pelanggaran berat!
Umar minta izin kepada Rasulullah saw untuk membunuhnya sebagai pengkhianat!

Namun apa jawab Rasulullah saw….?

Beliau berkata,

وَمَا يُدْرِيك يَا عُمَرُ لَعَلّ اللّهَ قَدْ اطّلَعَ إلَى أَصْحَابِ بَدْرٍ يَوْمَ بَدْرٍ فَقَالَ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ ، فَقَدْ غَفَرْت لَكُمْ

“Tidakkah kau tahu wahai Umar, Allah telah menyatakan untuk ahli Badar saat perang Badar dengan berfirman, ‘Perbuatlah sesuka kalian, sungguh Aku telah ampuni kalian.’ ” (Lihat sirah Ibnu Hisyam, 2/398, Maktabah Syamilah)

Pelajaran berharga dari dua peristiwa di atas adalah bahwa memberikan penilaian terhadap seseorang (atau institusi) tidak cukup hanya mengandalkan satu dua kejadian yang tampak sekilas.

Tapi harus dilihat track record (rekam jejak)nya.

Seseorang yang track recordnya buruk, boleh jadi satu dua kali melakukan kebaikan, jangan langsung kita anggap bahwa dia adalah pionir kebaikan, apalagi pahlawan yang dipuja-puja, namun juga kebaikannya ketika itu tidak perlu diingkari.

Sebagaimana Rasulullah saw tidak mengingkari kebenaran yang dibawa oleh setan saat dia mengajarkan ayat Kursy kepada Abu Hurairah ra. Maka, beliau katakan bahwa setan itu benar, tapi dia tetaplah makhluk pendusta berdasarkan rekam jejaknya.

Sebaliknya, seseorang yang track recordnya baik, boleh jadi suatu saat melakukan kekhilafan, kesalahan atau pelanggaran.

Jangan kemudian keburukan itu yang selalu kita semati kepadanya, meskipun tidak kita ingkari keburukan yang dia lakukan saat itu.

Sahabat yang ikut perang Badar (Ahlu Badr) memiliki kedudukan tinggi, namun boleh jadi dia suatu saat melakukan kesalahan. Hatib bin Abi Balta’ah adalah Ahlu Badr yang melakukan kesalahan.

Rasulullah saw tetap nyatakan bersalah, namun beliau tetap tidak melupakan rekam jejaknya sebagai seorang pejuang mulia.

Semoga kita pandai meneladani jejak Rasulullah saw, tidak hanya dalam shalat dan puasanya, tapi juga dalam sikap dan pandangannya.

Wallahua’lam.

Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir Lc

Mengenang Al-Izz bin Abdussalam, Ulama Berani Lawan Kezaliman

Mengenang Al-Izz bin Abdussalam, Ulama Berani Lawan Kezaliman.

📚 MUAMALAH

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir Lc.

☘Saat-saat seperti ini, kita mendambakan figur ulama seperti Al-Izz bin Abdusssalam, ulama yang menggabungkan ilmu dengan keberanian sampaikan kebenaran.
 
🍁Al-Izz adalah ulama Syam, lahir di Damaskus, tahun 577 H. Ilmunya dalam, karangan dan muridnya banyak, ulama besar dalam mazhab Syafii..
 
☘Julukannya yang terkenal adalah Sulthanul Ulama; pemimpin para ulama. Pada masanya banyak ulama, namun beliau sangat menonjol dibanding lainya
 
🍁Salah satu sifatnya yang paling menonjol adalah keberaniannya nyatakan sikap di hadapan penguasa walaupun bertentangan dengan keinginan mereka!
 
☘Di antara kisah yang disebutkan tentang ketegasan Al-Izz bin Abdussalam terhadap penguasa adalah, saat  Saifuddin Qutuz menjadi raja pada masanya..
 
🍁Saat itu pasukan Tatar yang hendak menyerbu negeri-negeri Islam, sudah berada di perbatasan Mesir dan Syam. Maka Qutuz mengumpulkan para ulama..
 
☘Sang penguasa minta pendapat para ulama karena dia akan lakukan penggalangan dana dari masyarkat untuk biayai pasukan berperang lawan Tatar…
 
🍁Saat itu, tidak ada ulama yang berbicara karena wibawa raja. Namun Al-Izz dengan tegas dan berani menyatakan ketidaksetujuannya…
 
☘Dia tegaskan, raja tidak boleh mengambil dana dari masyarkat, sebelum raja dan para pangeran serta para panglima mengeluarkan harta-harta mereka!
 
🍁Seblum mereka infakkan harta-harta mereka yang ada di istana-istana dan gudang-gudang harta mereka, sehingga keadaan mereka sama dengan rakyat pada umumnya…
 
☘Ketika kondisi mereka sudah sama dengan masyarkat umum, baik dalam hal pakaian, makanan dan minuman, maka ketika itu, mereka boleh ambil dana dari masyarakat
 
🍁Di lain waktu, ketika Shaleh Ayyubi berkuasa di Damaskus, dia hendak berkoalisi dengan pasukan salib untuk perangi saudaranya Najmudin Ayubi di Mesir
 
☘Koalisi Shaleh Ayyubi dengan kaum salibis ini kompensasinya adalah kaum Salib mendapat dua kota di Damaskus dan berhak membeli senjata dari sana
 
🍁Al-Izz langsung menentang keras rencana tersebut, dia langsung sampaikan di atas mimbar dengan mengatakan bahwa kedua kota tersebut bukan milik Shaleh…
 
☘Dia juga mengharamkan kaum salib membeli senjata dari kaum muslimin, apalagi diketahui bahwa senjata itu untuk menyerang kaum muslimin..
 
🍁Maka Shaleh memecatnya dari jabatan qadhi, melarangnya khutbah di mimbar-mimbar serta memenjarakannya…
 
☘Karena situasi yg tidak nyaman di Damaskus, akhirnya Al-Izz pindah ke negeri Mesir.
 
🍁Begitulah figur Al-Izz bin Abdussalam, ulama Rabbani, tidak bersembunyi dibalik ilmu dan alasan kesantunan untuk diam menghadapi kezaliman…
 
☘Alhamdulillah, dalam sepanjang sejarahnya selalu ada ulama yang berani sampaikan kebenaran walau berbagai tuduhan dan ancaman….
 
🍁Walaupun tetap ada juga ulama yg lebih memilih diam, bahkan ada juga yg langsung atau tidak justru menjadi stempel kezaliman.

Allahul mustaan

Hukum Ikhtilath

Ustadz Abdullah Haidir, Lc

Assalamualaikum ustadz/ah….Bagaimanakah hukum ikhtilath itu karena di dalam mengerjakan suatu pekerjaan perlu adanya sebuah kelompok kerja? Apakah istilah ikhtilath itu juga bersumber pada Alqur’an dan Al hadist? Maaf saya blm tahu . # A 43

Jawaban:
—————-

و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Terkait dgn ikhtilath, pada dasarnya jika tidak ada kepentingan mendesak dan dapat dilakukan, maka tidak perlu ada interaksi laki perempuan yang bukan mahram dalam satu tempat. Namun, jika ada kebutuhan, tidak mengapa berinteraksi sebatas kebutuhan yang ada. Yang penting tetap dijaga adab-adabnya, seperti tidak saling memandangi, bersentuhan, atau khalwat, berduaan di tempat sepi.

Berdasarkan nash tidak ada secara khusus istilah tersebut. Yang ada dalam hadits adalah istilah khalwat. Umumnya para ulama menyebut masalah ikhtilath ini dari beberapa hadits yang memiliki makna larangan berkumpul-kumpul laki-laki dan wanita, seperti hadit terkenal:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ قَالَ الْحَمْوُ الْمَوْتُ

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian masuk ke dalam tempat kaum wanita.” Lalu seorang laki-laki dari Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda mengenai ipar?” beliau menjawab: “Ipar adalah maut.” (HR. Bukhari)

Wallahu A’lam

Meneladani Rasulullah Shallallahu alaihi Wa Sallam

📚 MOTIVASI

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir Lc.

Tidak perlu ditanya tentang kecintaan seorang muslim terhadap Rasulnya.
Sedikit saja keimanan bersemayam di dadanya, cinta kepada Rasululullah saw, niscaya merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupannya.

Cinta yang ada ini seharusnya terus dipelihara, dipupuk dan selalu dihidupkan dari masa ke masa agar tak redup di telan zaman.

Akan tetapi, semestinya permasalahannya tidak berujung pada rasa cinta.

Justeru rasa cinta itulah yang harus dijadikannya sebagai energi kehidupan untuk meneladani Rasulullah saw. Sekaligus inilah bukti paling riil pengakuan cinta seseorang kepada siapa yang dicintainya.

Cinta tanpa bukti nyata, adalah cinta gombal seorang pembual.

Seorang penyair berkata,

لَوْ كُنْتَ تَصْدُقُ حُبَّهُ لأَطَعْتَهُ ****** إِنَّ الْمُحِبَّ لِمَنْ يُحِبُّ مُطِيعُ

Seandainya cintamu kepadanya benar, niscaya engkau akan menaatinya.
Sesungguhnya, seorang pencinta akan taat kepada yang dicintainya.

Cinta kepada Rasulullah saw yang berujung kepada sikap meneladaninya, adalah cinta sejati bukan cinta basa-basi, cinta yang teruji bukan sekedar seremoni, cinta aktual bukan sekedar emosional, cinta abadi, bukan cinta setengah hati.

Jika kita telah sepakat tentang hal ini, hal berikutnya yang penting kita pahami dengan baik adalah bagaimana sesungguhnya cara kita meneladani Rasulullah saw?

Jawabannya ada terkandung pada ayat yang sangat kita hafal,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ – سورة الأحزاب: 21

“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagimu…” (QS. Al-Ahzab: 21)

Ayat ini mengisyaratkan bahwa teladan yang harus kita ambil dari Rasulullah saw adalah semua hal terkait dengan kehidupannya.

Tidak hanya terbatas pada satu aspek tertentu dari kehidupannya.

Ketika berbicara tentang teladan Rasulullah saw, sebagian orang ada yang melulu berbicara tentang etika dan hubungannya antara sesama manusia, lupa kalau aqidah dan ibadah adalah masalah prinsip, sebagian lagi fokus kepada masalah ibadah, abai bahwa masalah akhlak tidak boleh terbengkalai, sebagian lainnya konsentrasi pada masalah aqidah, tak peduli dengan ibadahnya yang kering dan akhlaknya yang ‘garing’.

Sehingga sering terjadi munculnya kepribadian yang tidak utuh dalam pandangan Islam dan akhirnya melahirkan pandangan yang tidak utuh terhadap Islam itu sendiri.

Ada yang aqidahnya mantap, tapi lisannya penuh duri suka menyakiti. Ada pula yang akhlaknya begitu lembut, tapi aqidahnya kabur penuh kabut.

Adapula yang ibadahnya getol, namun aqidah jebol dan akhlaknya ambrol.

Yang diinginkan dalam meneladani Rasulullah saw adalah bagaimana agar seorang muslim memiliki sifat
❣ salimul aqidah (aqidah yang bersih),
❣ shahihul ibadah (ibadah yang sahih) dan
❣ matinul khuluq (akhlak yang jernih).

Ini tentu membutuhkan sebuah kesadaran sekaligus proses yang berkelanjutan, serta bimbingan dan pembinaan spartan (terus-menerus) agar kehidupan kita semakin dekat dengan kemuliaan pribadi Rasulullah saw.

Seorang bijak berkata,

تَشَبَّهُوا بِالْكِرَامِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ مِثْلَهُمْ ، فَإِنَّ التَّشَبُّهَ بِالْكِرَامِ فَلاَحُ

“Serupailah orang mulia, meskipun engkau tidak menjadi seperti mereka,
Karena menyerupai orang mulia mengundang keberuntungan.”

Semoga kecintaan kita kepada Rasulullah saw, bukan cuma cinta semusim yang merasa cukup dengan seremoni sesaat dan hanya mengandalkan pengakuan tanpa bukti kuat.

Tapi cinta yang mendorong kita untuk selalu berupaya meneladani semua aspek kehidupan beliau sepanjang hayat.

Aamiin.

Allahumma shalli ‘alaa muhammad wa ‘alaa aali Muhammad….

Natal Dan Toleransi

Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir Lc.

Membaur, akrab, tolong menolong dalam bermasyarakat walau beda agama, tapi mampu menjaga identitas keyakinan, itulah toleransi.

Tegas dalam keyakinan, ramah dalam pergaulan, akrab dalam kehidupan…
Itulah toleransi

Tegas lalu kaku, apalagi kasar dalam bergaul, gaul tapi lebur dan luntur dalam  keyakinan…..
Itu bukan toleransi.

Kami hormati anda yang beragama lain berhari raya sewajarnya.
Mohon hormati ajaran agama kami yang melarang tasyabbuh dengan ajaran dan keyakinan agama lain…

Umat Nashrani semestinya apresiasi kaum muslimin Indonesia yang biarkan mereka merayakan hari besarnya dengan aman di tengah mayoritas muslim.

Jika mereka bandingkan kehidupan beragama mereka di Indonesia dengan nasib minoritas kaum muslimin di negara-negara mayoritas Kristen, pasti tidak ada apa-apanya.

Apakah di Washington atau London, Idul Fitri seperti Natal di Jakarta?

Belum lagi berbicara umat Islam yang dibantai di berbagai negara oleh penganut agama lain…

Menggunakan kuasa untuk memaksa penganut agama lain berpartisipasi dalam hari rayanya, walau dengan memakai simbol, itulah anti toleransi yang sebenarnya!

Jadi, yang tidak toleran siapa? Yg tidak ikut natal tapi tidak mengganggu mereka yang natal, atau yang merayakan natal dan mengajak atau bahkan memaksa penganut agama lain untuk ikut serta?

Suasana kondusif hari natal nanti jangan dirusak dengan mengajak-ajak kaum muslimin ikut merayakannya. Yang muslim pun jangan lebay ikut merayakannya…Lakum diinukum wa liyadiin…

Sangat dianjurkan MUI atau lembaga-lembaga Islam membuka pusat layanan pengaduan jika ada umat Islam mengalami tekanan untuk berpartisipasi dalam perayaan agama lain.

Selamat menjaga izzah beragama namun tetap tebar akhlak mempesona.

Wallahu A’lam bis shawab

Harta = Kebaikan

Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir Lc.

Dalam Al Quran Allah SWT berfirman:

وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya manusia sangat bakhil karena kecintaannya terhadap hartanya.” (QS. Al-‘Aadiyaat: 8)

Ayat ini berbicara tentang sebuah kenyataan tentang tabiat manusia secara umum terkait dengan hartanya. Yaitu bahwa manusia sangat cinta terhadap hartanya.

Ada pula yang menafsirkan bahwa kecintaannya terhadap harta, mendorong manusia untuk bersifat bakhil, enggan mengeluarkannya di jalan Allah.

Yang menarik dari ayat tersebut adalah bahwa Allah menyebutkan harta dengan ungkapan (الخير) yang secara harfiah artinya ‘kebaikan’.

Para ulama tafsir sepakat bahwa yang dimaksud ‘kebaikan’ dalam ayat di atas adalah harta.

Begitu pula kata yang sama untuk makna yang sama terdapat dalam Surat Al-Baqarah: 180.

“Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.”

Abu Bakar Al-Jazairi mengatakan bahwa harta disebut dengan istilah ‘kebaikan’ berdasarkan urf (kebiasaan), maksudnya sudah dikenal di tengah bangsa Arab bahwa yang dimaksud (الخير) adalah harta, juga karena dengan harta akan dapat dilakukan berbagai kebaikan jika dikeluarkan di jalan Allah. (Tafsir Muyassar, Al-Jazairi)

Dari sini setidaknya dapat disimpulkan bahwa sebenarnya harta secara langsung bukanlah ‘sumber keburukan’, meskipun kenyataannya banyak manusia yang tergelincir karenanya.

Maka, enggan mencari harta dengan alasan agar tidak tergelincir bukanlah jawaban yang tepat, bahkan bisa jadi itu menjadi sebab ketergelinciran dari pintu yang lain.

Karena, banyak juga keburukan yang terjadi akibat kekurangan harta.

Namun yang harus diluruskan adalah sikap kita terhadap harta, bahwa dia bukanlah tujuan dan sumber kebahagiaan itu sendiri, tapi sarana untuk mendapakan kemuliaan dalam kehidupan dan merelisasikan kebaikan untuk meraih kebahagiaan.

Dengan paradigma seperti ini seseorang akan semangat berusaha meraih harta dan menyalurkannya dengan cara yang halal.

Bahkan dalam surat Al-Araf ayat 32, Allah mengisyarat kan bahwa tujuan Dia menciptakan harta (perhiasan dunia) pada hakekatnya adalah untuk orang beriman.

Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat”.
Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.”

Maka, ‘cinta harta’ atau ‘mengejar harta’ tidak dapat secara mutlak dikatakan buruk.

Sebab, selain cinta harta memang dasarnya adalah fitrah, diapun dapat menjadi pintu kebaikan yang banyak selama digunakan dengan benar.

Imam Bukhari meriwayat kan dalam Al-Adabul Mufrad-nya, dari Amr bin Ash, dia berkata,

“Rasulullah saw memerintahkan aku untuk menemuinya dengan membawa perlengkapan pakaian dan senjata.
Maka aku datang menghadap beliau saat beliau sedang berwudhu, lalu dia memandangiku dari atas hingga bawah. kemudian berkata,
“Wahai Amr, aku ingin mengutusmu dalam sebuah pasukan, semoga Allah memberimu ghanimah dan aku ingin engkau mendapatkan harta yang baik.”

Maka aku berkata, “Sungguh, aku masuk Islam bukan karena ingin harta. Tapi aku masuk Islam karena Islam dan agar aku dapat bersama Rasulullah saw.”

Maka Rasulullah saw bersabda,

يا عَمْرو ، نِعْمَ المَالُ الصَّالِحُ للمَرءِ الصَالِحِ

“Wahai Amr, sebaik-baik harta, adalah milik orang yang saleh.”

Ucapan Rasulullah saw ini setidaknya memberikan dua pesan kepada kita;

❣ Semangat membina diri agar menjadi orang saleh dan

❣ Semangat berusaha agar menjadi orang kaya…

Abdullah bin Mubarak, seorang ulama besar dan zuhud, suatu hari menjamu makan orang-orang miskin, lalu setelah itu dia berkata,

لَوْلاَكَ وَأَصْحَابَكَ مَا اتَّجَرْتُ

“Kalau bukan kalian dan orang-orang seperti kalian, saya tidak akan berdagang….”

Selain sebagai ulama, beliau memang terkenal sebagai pedagang besar… (Siyar A’lam An-Nubala)

Wallahu A’lam

Pesan-Pesan Pernikahan Bagi Mempelai Pria

Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir Lc.

Saya ucapkan selamat atas pernikahan antum, moga keberkahan selalu meliputi, keharmonisan antum dapati, anak-anak saleh Allah karuniai..

Jika antum sebelum menikah banyak belajar tentang bagaimana membangun keluarga harmonis, kini sesudah menikah, antum harus lebih banyak belajar lagi.

Ketika antum menikahi seorang gadis, itu artinya antum mengambil alih perwalian gadis tersebut dari tangan orang tuanya kepada antum….

Bukan hanya perwaliannya antum ambil alih saat menikahi seorang wanita, tapi juga kewajiban mendidik, merawat, melindungi dengan segenap kasih sayang.

Menjadi kepala keluarga itu bukan semata kita harus ditaati, tapi bagaimana kita dapat mengayomi. Bukan semata kita harus dituruti, tapi bagaimana kita melindungi.

Akhi, membentuk rumah tangga bukan seperti membentuk panitia, ada pembentukan dan pembubaran. Yang ada adalah dibentuk, dan sedapatnya jangan dibubarkan.

Jika dahulu antum mencari, menanti, memilih-memilih calon isteri. Kini dia telah ada di hadapanmu. Saatnya antum ridha & fokus melaksanakan amanah..

Ketika akad nikah sudah antum laksanakan, sudah habis masa mencari-cari dan memilih-milih pasangan. Kini masanya antum konsen menunaikan tugas..

Jadikanlah cintamu kepada isterimu tidak hanya terungkap dalam kata, tapi menyatu dalam jiwa raga, hingga tak ada beda antara gerak dan kata

Jauh sebelum orang tua menasehati tentang sikap baik terhadap Isteri, Allah dan Rasul-Nya telah berpesan agar suami bersikap baik terhadap isterinya..

Ketika kau nyatakan “Saya terima nikahnya” artinya adalah “Saya terima menjadi pemimpinnya, pelindungnya, pembinanya dan pengayomnya.”

Ketika kau nyatakan “Saya terima nikahnya” Artinya adalah “Saya siap mencintainya, menerimanya, memperlakukannya dengan segenap jiwaraga”

Jika ada yang paling berhak mendapat kasih sayangmu, dia adalah isterimu.
Jika ada yang paling jauh dari keburukanmu, dia adalah isterimu

Dunia keluarga, berbeda dengan dunia jomblo. Banyak sikap, style, langkah-langkah, hingga tutur kata yang harus kau sesuaikan..

Apapun profesi dan jabatanmu, tetap saja isteri ingin kau hadir di hadapannya sebagai suami, bukan sebagai kedudukan yang kau sandang…

Kalau kau cintai isterimu semata kecantikannya, kian lama kecantikan kan sirna. Tapi kalau kau cintai karena takwanya, kian lama takwa kian mempesona

Kau kan tahu, berkeluarga artinya engkau harus berani, gagah, siap tempur pantang mundur, tidak cengeng, namun hatimu tetap lembut…..

Wanita itu lemah, tapi bukan untuk kau zalimi, wanita itu lembut, tapi bukan untuk kau kelabui….

Sekali lagi, semoga keberkahan selalu meliputi, keharmonisan antum dapati, anak-anak saleh Allah karuniai..

Aamiin.