Khitbah (Meminang)

๐Ÿ“† Rabu, 9 Shafar 1438H / 9 Nopember 2016

๐Ÿ“š MUAMALAH

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir Lc.

1. Khitbah (meminang) merupakan step pertama yang mestinya dilakukan oleh orang yang hendak menikah..

2. Khitbah hakekatnya adalah menyampaikan keinginan atau janji untuk menikahi wanita pilihannya kepada walinya.

3. Hukumnya disunahkan dalam agama, karena  sebelum pernikahan, hendaknya masing-masing pasangan mengenali calonnya dengan baik.

4. Bagusnya sebelum melangkah khitbah, seseorang melakukan istikharah dan istisyarah.

5. Istikharah adalah mohon kepada Allah agar pilihannya baik baginya, di dunia atau akhirat. Shalat dua rakaat, baca doanya..

6. Istisyarah adalah berkonsultasi dengan orang-orang bijak di sekitarnya, baik tentang kesiapan dirinya atau calon yang akan dilamar.

7. Jika pilihan sudah OK, hati sudah mantap, istikharah dan istisyarah sudah ditempuh… bersiap-siaplah khitbah…

8. Dianjurkan untuk melihat wanita yang hendak dilamar, begitupula, sang wanita melihat laki-laki yg melamar.

9. Dlm riwayat Muslim, ketika ada orang yang hendak menikah, namun belum melihat calonnya, Rasululah saw perintahkan dia untuk melihatnya.

10. Melihat juga boleh dilakukan sebelum khitbah, selama niat khitbah sudah ada. Bahkan boleh juga tanpa diketahui calonnya..

11. Atau melihat calon dapat dilakukan saat khitbah. Yang penting tidak boleh ada khalwat. Cuma berduaan saja.

12. Sekedar pengalaman, dahulu murabbi saya mengajak saya ke apotik untuk beli obat, sekalian untuk melihat calon saya yang kerja di apotik..:)

13. Sebaiknya memang tdk cukup dengan poto saja. Bahkan boleh jadi ada mudharatnya. Melihat langsung diutamakan.

14. Perkara lain lagi yg harus dipastikan adalah bahwa calon yang dilamar bukanlah orang yang terlarang dinikahi..

15. Misal, masih mahram, masih status isteri orang, masih dalam masa idah. Termasuk tidak boleh khitbah wanita yang sudah dikhitbah..

16. Jika semuanya telah siap, hubungilah walinya untuk mengajukan khitbah. Silakan tetapkan waktu yang tepat dan pas.

17. Khitbah bisa langsung dilakukan oleh calon suami, atau diwakili oleh keluarganya. Atau datang rame-rame sekalian..

18. Tidak ada ritual khusus untuk khitbah. Bahkan sebagian ulama menganjurkan agar khitbah dirahasiakan.

19. Khususnya jika dikhawatirkan khitbahnya mengundang kedengkian. Tapi jika  merasa aman, diumumkn juga tidak apa.

20. Terkait dengan hadiah-hadiah dan pemberian, semuanya sekedar pemberian biasa saja. Tidak mengikat, seperti mahar.

21. Tidak harus juga menyerahkan cincin khusus untuk khitbah. Atau tukeran cincin. Hal itu tidak ada aturannya dalam khitbah.

22. Tapi kalau memang ingin memberi hadiah cincin kepada wanita yang hendak dikhitbah tidak mengapa, dan tanpa ikatan apa-apa..

23. Sampaikan kepada wali wanita tersebut bahwa dia bermaksud melamarnya. Jika walinya setuju, dan wanitanya setuju, resmilah lamaran tersebut.

24. Namun, khitbah prinsipnya adalah sekedar janji untuk menikah. Bukan pernikahan itu sendiri. Maka status hukumnya masih ‘orang lain’.

25. Maka, setelah khitbah, kedua calon pasangan tersebut, tetap tidak boleh ‘klayar kluyur’ kesana kemari berduaan, layaknya suami isteri..

26. Bahkan berbicarapun secukupnya, sesuai kebutuhan, jangan langsung ngomong mesra-mesraan dan cinta-cintaan.

27. Sebaiknya memang, antara khitbah dan akad pernikahan jangan terlalu lama, agar tidak membuka peluang fitnah..

28. Kalau lamaran dibatalkan gimana? Boleh saja. Baik yang membatalakn laki-laki ataupun wanita. Hanya saja sebaiknya ada alasan yang jelas.

29. Makanya, khitbah itu baik ketika diajukan atau ketika diterima, hendaknya berdasarkan pemahaman yang jelas, agar tidak timbul masalah.

30. Jika dibatalkan, apakah pemberiannya harus dikembalikan? Tidak harus, itukan hadiah. Namun kalau dikembalikan lebih baik.

31. Jika sang wanita sudah dilamar, maka tidak boleh ada laki-laki yang melamarnya, apabila dia tahu akan hal itu.

32. Selama masa khitbah, calon pasangan tersebut boleh membicarakan rencana-rencana pernikahan. Termasuk syarat-syarat yang ingin diajukan.

33. Kalau syaratnya diterima dan tidak bertentangan dengan aturan agama, maka syarat tersebut harus dipenuhi.

34. Berdasarkan hadits, syarat yang paling berhak dipenuhi adalah syarat-syarat dalam perkawinan.

Moga Allah beri kemudian bagi saudara-saudara kita yang hendak menikah…

Amiin..

Tidak Ada…

Rabu, 25 Muharram 1438H / 26 Oktober 2016

MOTIVASI

Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir Lc.

ู„ุงูŽ ุญูŽูŠูŽุงุฉูŽ ุจูู„ุงูŽ ุฅููŠู…ูŽุงู†ู ูˆูŽู„ุงูŽ ุฅููŠู…ูŽุงู†ูŽ ู„ุงูŽ ุญูŽูŠูŽุงุฉูŽ ูููŠู‡ู

Tidak ada kehidupan tanpa iman, tak berguna  iman yang tak hidup.

ู„ุงูŽ ุฅููŠู…ูŽุงู†ูŽ ุจูู„ุงูŽ ุนูŽู…ูŽู„ู ูˆูŽู„ุงูŽ ุนูŽู…ูŽู„ูŽ ุจูู„ุงูŽ ุฅููŠู…ูŽุงู†ู

Tidak ada iman tanpa amal, tak berguna amal tanpa iman.

ู„ุงูŽ ู…ูŽุญูŽุจู‘ูŽุฉูŽ ุจูู„ุงูŽูŽ ุทูŽุงุนูŽุฉู ูˆูŽู„ุงูŽ ุทูŽุงุนูŽุฉูŽ ุจูู„ุงูŽ ู…ูŽุญูŽุจู‘ูŽุฉู

Tak ada cinta tanpa taat, tak kan lahir taat tanpa cinta.

ู„ุงูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑูŽ ูููŠ ุงู’ู„ุฅูุณู’ุฑูŽุงูู ูˆูŽู„ุงูŽ ุฅูุณู’ุฑูŽุงููŽ ูููŠ ุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุฑู

Tidak ada kebaikan pada sifat boros, tidak dikatakan boros jika untuk kebaikan.

ู„ุงูŽ ุณูู„ุงูŽุญูŽ ุฃูŽู‚ู’ูˆูŽู‰ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฏู‘ูุนูŽุงุกู ูˆูŽู„ุงูŽ ุญูุตู’ู†ูŽ ุฃูŽู‚ู’ูˆูŽู‰ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฐู‘ููƒู’ุฑู

Tidak ada senjata lebih kuat selain doa, tidak ada benteng yang lebih kokoh selain zikir

ู„ุงูŽ ุนูู„ู’ู…ูŽ ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู’ูƒูุจู’ุฑ ูˆูŽู„ุงูŽ ุฌูŽู‡ู’ู„ูŽ ู…ูŽุนูŽ ุงู„ุชู‘ูŽุนูŽู„ู‘ูู…

Tidak dikatakan berilmu jika disertai kesombongan, tidak dikatakan bodoh jika terus belajar

ู„ุงูŽ ุตูŽุบููŠุฑูŽุฉูŽ ู…ูŽุนูŽ ุงู„ุฅูุตู’ุฑูŽุงุฑู ูˆูŽู„ุงูŽ ูƒูŽุจููŠุฑูŽุฉูŽ ู…ูŽุนูŽ ุงู„ุงูุณู’ุชูุบู’ููŽุงุฑู

Tidak dikatakan dosa kecil kalau terus menerus, tidak dikatakan dosa besar jika disudahi istighfar (taubat)

ู„ุงูŽ ุนูู„ู’ู…ูŽ ุจูู„ุงูŽ ุนูŽู…ูŽู„ู ูˆูŽู„ุงูŽ ุนูŽู…ูŽู„ูŽ ุจูู„ุงูŽ ุนูู„ู’ู…ู

Tidak ada ilmu tanpa amal, tidak ada amal tanpa ilmu.

ู„ุงูŽ ุนูŽูŠู’ุดูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุนูŽูŠู’ุดู ุงู„ุขุฎูุฑูŽุฉู ูˆูŽู„ุงูŽ ู…ูŽูˆู’ุชูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ู…ูŽูˆู’ุชูŽ ุงู„ู’ู‚ูู„ููˆุจู

Tidak ada kehidupan (hakiki) kecuali kehidupuan akhirat, tidak ada kematian (hakiki) kecuali kematian hati.

ู„ุงูŽ ุณูŽุนูŽุงุฏูŽุฉูŽ ุจูู„ุงูŽ ุฒูŽูˆู’ุฌู ูˆูŽู„ุงูŽ ุฒูŽูˆู’ุฌูŽ ุจูู„ุงูŽ ุณูŽุนูŽุงุฏูŽุฉู

Tidak ada kebahagiaan tanpa pasangan (suami/isteri), apa guna pasangan kalau tidak bahagiaโ€ฆ.

Manusia Berhati Burung

Rabu, 18 Muharram 1438H / 19 Oktober 2016

TAZKIYATUN NAFS

Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir Lc.

Hadits:

“Akan masuk surga, orang-orang yang hatinya seperti hati burung.”  (HR. Muslim)

Di antara penjelasan ulama tentang ‘hati burung’ yang dimaksud dalam hadits di atas adalah hati yang sangat halus dan lembut serta penuh kasih sayang, jauh dari sifat keras dan zalim.

Hati, adalah keistimewaan yang kita miliki sebagai manusia. Hati pula yang sangat menentukan baik buruknya nilai diri kita, sebagaimana telah dinyatakan dalam sebuah hadits Rasulullah saw.

Di antara perkara yang sangat penting untuk kita pelihara dari hati adalah kelembutan dan kepekaannya terhadap perkara yang terjadi di sekeliling kita.

Di sini kita tidak berbicara tentang kaedah hukum, hak dan kewajiban, dalil dan argumentasi, atau apalah namanya. Kita berbicara tentang perasaan yang secara fitrah dimiliki semua orang. Namun dalam batasan tertentu, dapat bereaksi lebih cepat dan efektif, ketimbang faktor lainnya.

Kelembutan hati dan rasa kasih sayang seorang ibu membuatnya tidak akan dapat tidur nyenyak meski kantuk berat menggelayuti matanya, manakala dia mendengar rengekan bayinya di malam buta, maka dia bangun dan memeriksa kebutuhan sang bayi.

Boleh jadi ketika itu dia tidak berpikir tentang keutamaan atau janji pahala orang tua yang mengasihi anaknya.

Umar bin Khattab yang dikenal berkepribadian tegas, ternyata hatinya begitu lembut ketika melihat seorang nenek memasak batu hanya untuk menenangkan rengekan tangis cucunya yang lapar sementara tidak ada lagi makanan yang dapat dimasaknya, maka tanpa mengindahkan posisinya sebagai kepala Negara, dia mendatangi baitul mal kaum muslimin dan memanggul sendiri bahan makanan yang akan diberikannya kepada sang nenek.

Boleh jadi ketersentuhan hati Umar kala itu mendahului kesadaran akan besarnya tanggungjawab seorang pemimpin di hadapan Allah Ta’ala.

Demikianlah besarnya potensi kelembutan hati menggerakkan seseorang. Kelembutan hati semakin dibutuhkan bagi mereka yang Allah berikan posisi lebih tinggi di dunia ini.

Seperti suami kepada isteri dan anaknya, pemimpin atau pejabat kepada rakyatnya atau orang kaya terhadap orang miskin. Sebab, betapa indahnya jika kelembutan hati berpadu dengan kewenangan dan kemampuan yang dimiliki.

Karena memiliki kewenangan dan kemampuan, suami berhati lembut โ€“misalnya- akan sangat mudah mengekspresikannya kepada isteri dan anaknya, bukan hanya terkait dengan kebutuhan materi, tetapi juga bagaimana agar suasana kejiwaan mereka tenang dan bahagia, tidak tersakiti, apalagi terhinakan. Begitu pula halnya bagi pemimpin, pejabat atau orang kaya.

Akan tetapi, jika kelembutan itu telah sirna berganti dengan hati yang beku, sungguh yang terjadi adalah pemandangan yang sangat miris dan sulit diterima akal.

Bagaimana dapat seorang suami menelantarkan atau menyakiti isteri dan anaknya padahal mereka adalah belahan dan buah hatinya, bagaimana pula ada pemimpin atau pejabat yang berlomba-lomba mereguk kesenangan dan kemewahan dunia di atas penderitaan rakyatnya, padahal mereka dipilih rakyatnya, lalu bagaimana si kaya bisa tega mempertontonkan kekayaannya di hadapan si miskin yang papa tanpa sedikitpun keinginan berbagi, padahal tidak akan ada orang kaya kalau tidak ada orang miskin.
Sungguh mengerikan!

Di zaman ketika materi dan tampilan lahiriah semakin dipuja-puja, sungguh kita semakin banyak membutuhkan manusia berhati burung!

Ada Yang Lebih Dahsyat Dari Sekedar Terbelahnya Lautan

Rabu, 11 Muharrom 1438H / 12 Oktober 2016

MOTIVASI

Pemateri: Ust. Abdullah Haidir Lc.

Ada Yang Lebih Dahsyat Dari Sekedar Terbelahnya Lautan

Tahukah anda peristiwa besar yang terekam di hari Asyuro?

Ya, dialah peristiwa fantastis yang menjadi mukjizat Nabi Musa as, saat beliau dan kaumnya ingin kabur dari kezaliman Firโ€™aun, namun akhirnya terhadang laut Merah sementara Firโ€™aun dan bala tentaranya kian mendekat di belakang siap melumatkan mereka.

Di saat genting tersebut, Allah perintahkan Nabi Musa as memukulkan tongkatnya di laut Merah. Lalu lautan terbelah dua, maka Nabi Musa dan pengikutnya menyusuri dasar lautan hingga akhirnya mereka selamat hingga ke seberang.

Sementara Firโ€™aun dan balatentaranya, saat mereka menempuh jalan yang sama, Allah satukan kembali lautan tersebut dan binasalah mereka.

Peristiwa itu terjadi pada tanggal sepuluh Muharram yang kemudian dikenal dengan istilah hari Asyura. Nabi Musa as sebagai berpuasa di hari itu sebagai rasa syukurnya dan kemudian diabadikan dalam syariat Islam sebagai puasa Asyura.

Kita yang membaca kisah ini tentu akan takjub dan membayangkan betapa dahsyatnya pemandangan terbelahnya lautan sehingga dasarnya dapat dilalui.

Tapi tahukah anda yang lebih menakjubkan dari hal itu?

Dia adalah istiqamah. Keteguhan berada di jalan Allah serta keteguhan memperjuangkannya.
Maka, sebesar ketakjuban kita dengan sebuah mukjizat, sebesar itu pula atau bahkan lebih besar lagi, ketakjuban kita terhadap istiqamah.

Mengapa demikian? Karena mukjizat tidak akan lahir kecuali dari istiqamahnya seorang Nabi Allah Taala dalam menjalankan dan memperjuangkan syariatNya. Sementara, tidak semua Nabi dan tidak semua orang saleh mengalami kejadian luar biasa sehingga menyelamatkan dirinya. Nabi Zakaria as dibunuh di tengah dakwahnya, Ashhabul Ukhdud dibakar hidup bersama keimanannya, Hamzah bin Abdul Muthalib dibunuh dan dicabik-cabik di tubuhnya dalam jihadnya.
Akan tetapi satu perkara yang menyatukan mereka sekaligus menjadi sebab kemuliaannya, yaitu istiqamah di jalan Allah Taala.

Mukjizat mungkin ada mungkin tidak, karomah mungkin ada mungkin tidak, kejadian luar biasa mungkin ada mungkin tidak, tapi istiqamah, harus ada dan tidak boleh tidak!

Beginilah seharusnya kita memandang dan menilai, apalagi di tengah berbagai ragam tingkah polah manusia kini dan berbagai trik penipuan dan pengelabuan masa sekarang. Betapapun sepintas tampak hebat, luar biasa atau istimewa, tetap saja penilaian standar kita adalah apakah semua itu dibangun di atas landasan istiqmah di atas syariat Allah taala atau tidak.

Bahkan, Ibnu Katsir dalam tafsirnya saat menafsirkan surat Al-Baqarah: 34, mengutip ucapan Laits bin Saad dan Imam Syafii rahimahullah;

ุฅูุฐูŽุง ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูู…ู ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ูŽ ูŠูŽู…ู’ุดููŠ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูŽุงุกู ูˆูŽูŠูŽุทููŠุฑู ูููŠ ุงู„ู’ู‡ูŽูˆูŽุงุกู ููŽู„ูŽุง ุชูŽุบู’ุชูŽุฑู‘ููˆุง ุจูู‡ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูŽุนู’ุฑูุถููˆุง ุฃูŽู…ู’ุฑูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจู ูˆูŽุงู„ุณู‘ูู†ู‘ูŽุฉู

โ€œJika kalian melihat seseorang dapat berjalan di atas air dan terbang di udara, janganlah kalian terpesona sebelum menilai perkaranya dengan Al-Quran dan Sunah.โ€

Dengan cara pandang seperti ini, maka tidak akan kita temukan seorang muslim yang terpedaya hanya karena sesuatu yang sepintas menggambarkan kehebatan, luar biasa atau mampu menampilkan sesuatu yang lain dari biasanya, jika tidak ada indikasi atau bukti bahwa semua itu paralel dengan istiqamahnya di jalan Allah Taala.

Maka, jika demikian, apa yang dianggap luar biasa, bukanlah kebaikan, bukan pula karomah, apalagi mukjizat dari Allah Taala.

Sebaliknya, seorang muslim hendaknya menjunjung tinggi keistiqamahan di jalan Allah, walau sepintas tidak hebat, tidak luar biasa dan tidak ada yang fantastis. Cukuplah istiqamah itu sendiri menjadi sesuatu yang luar biasa baginya dan dia berusaha untuk mewujudkannya.

Dahulu para ulama mengatakan,

ุงู„ุงูุณู’ุชูู‚ูŽุงู…ูŽุฉู ุฎูŽูŠุฑูŒ ู…ูู†ู’ ุฃูŽู„ู’ูู ูƒูŽุฑูŽุงู…ูŽุฉู

โ€œIstiqamah lebih baik dari seribu karomahโ€ฆ.โ€

Maka, sembari kita hidupkan puasa Asyuro, hendaklah kita ambil ibrah (pelajaran) tentang benang merah sumber kemuliaan dari Allah Taala,  yaitu; Istiqamah atau keteguhan dalam menjalankan syariat Allah dan memperjuangkannya.

ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ู‚ูŽุงู„ููˆุง ุฑูŽุจู‘ูู†ูŽุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุซูู…ู‘ูŽ ุงุณู’ุชูŽู‚ูŽุงู…ููˆุง ุชูŽุชูŽู†ูŽุฒู‘ูŽู„ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู ุงู„ู’ู…ูŽู„ูŽุงุฆููƒูŽุฉู ุฃูŽู„ู‘ูŽุง ุชูŽุฎูŽุงูููˆุง ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุญู’ุฒูŽู†ููˆุง ูˆูŽุฃูŽุจู’ุดูุฑููˆุง ุจูุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ุงู„ู‘ูŽุชููŠ ูƒูู†ุชูู…ู’ ุชููˆุนูŽุฏููˆู†ูŽ (ุณูˆุฑุฉ ูุตู„ุช:
30)

โ€œSesungguhnya orang-orang yang mengatakan: โ€œTuhan kami adalah Allahโ€ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, โ€œJanganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih dan gembirakanlah mereka dengan surge yang telah dijanjikan Allah kepadamu.โ€ (QS. Fushshilat: 30)

Wallahu A’lam

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
– Telegram : @majelismanis
– Fans Page : /majelismanis
– Twitter : @grupmanis
– Instagram : @majelismanis
– Play Store : Majelis Iman Islam
– Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Islam Itu Moderat

๐Ÿ“† Rabu, 04 Muharram 1438H / 05 Oktober 2016

๐Ÿ“š TSAQOFAH

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir  Lc.

๐Ÿ“‹  Islam Itu Moderat..

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

Tanpa istilah moderat,
islam dengan keseluruhan ajarannya yang utuh; Aqidah, syariat dan akhlak, dengan sendirinya merupakan ajaran yang moderat…

Islam itu moderat,
antara mereka yang gampang mengkafirkan dengan mereka yang gampang mentolerir kekufuran….

Islam Itu moderat,
antara mereka yang rajin beramal tapi  tanpa ilmu dan mereka yang berilmu tapi malas beramal

Islam itu moderat,
antara mereka yang kaku dan kasar terhadap sesama muslim dan mereka yang akrab dengan musuh-musuh Islam…..

Islam itu moderat,
antara mereka yang menerapkan syariat tanpa akhlak dan mereka yang utamakan akhlak namun anti syariat…..

Islam itu moderat,
diantara mereka yang melampaui batas memuja para nabi dan orang saleh dan mereka yang menyakiti dan memusuhi Nabi dan orang-orang saleh

Islam itu moderat,
diantara mereka yang abai terhadap dunia atas nama mengejar akhirat dan mereka yang tenggelam dalam urusan dunia tak peduli akhirat..

Islam itu moderat,
antara mereka yang eksploitasi politik dengan kekuasaan dengan menjual agama dan mereka yang tak peduli politik dan kekuasaan untuk bela agama

Islam itu moderat,
antara mereka yang intoleran terhadap khilaf furu (perbedaan cabang) dan mereka yang toleran terhadap inhiraf ushul (penyimpangan prinsip)

Islam itu moderat,
antara mereka yang selalu bersihkan hati tapi amal menyimpang, dan mereka yang amalnya benar, tapi hatinya kotor….

Wallahu A’lam.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

Dipersembahkan oleh:
http://www.iman-islam.com

Ikuti Kami di:
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

๐Ÿ—ณSebarkan dan raihlah pahala …

Jangan โ€œMati Gayaโ€ Di Hadapan Promotor Kemunkaranโ€ฆ.

📆 Rabu, 26 Dzulhijjah 1437H / 28 September 2016
📚 MOTIVASI

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir Lc.
📋  Jangan “Mati Gaya” Di Hadapan Promotor Kemunkaran….
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁
Seringkali kita dihadapkan  pada sebuah kenyataan dimana kemunkaran dipromosikan secara terbuka.
Kemunkaran yang oleh sebagian orang dipahami sebagai perbuatan yang kalaupun ada yang berani melakukannya, maka dia dilakukan secara tersembunyi, itupun masih panas dingin.
Namun kini mereka sudah menyatakan resmi menganut ideologi Iblis; “Kalo saya sesat, maka orang lain pun harus sesat!”
Jadilah dia promotor kemunkaran.

Di antara senjata ampuh yang sangat mereka andalkan sejak dahulu dan apalagi sekarang adalah membentuk opini yang dapat melemahkan daya pikir masyarakat dan akhirnya secara bertahap masyarakat digiring pada sikap dan keinginan yang mereka bentuk. Dibuatlah berbagai alibi dan teori yang sekilas tampak ilmiah dan solutif, padahal dibalik itu menyimpan kebusukan yang sangat menyengat.
Kekufuran mereka tawarkan atas nama kebebasan berfikir dan berkeyakinan, free seks mereka jajakan atas nama seks sehat dan pencegahan AIDS, kemusyrikan disuguhkan atas nama seni dan budaya, dll. 
Sementara di sisi lain, secara sistematis dan massif dengan berbagai sarana media dan dukungan dana  tak terbatas, mereka berupaya menyudutkan orang-orang yang ingin komitmen mengamalkan agamanya. Berbagai isu mereka angkat; Terorisme, islam militant, Islam arab, wahabi, Islam transnasional, Islam garis keras, Islam politik, dll. 
Jika diperhatikan dengan seksama, semua itu tak lain upaya untuk ‘menggertak’ umat agar jangan ‘terlalu akrab’ dengan agamanya dan membelanya.

Di sisi lain, banyak di kalangan umat ini yang ‘terhenyak’ menyaksikan gempuran demi gempuran para promotor kemunkaran, sehingga mereka menjadi ‘mati gaya’, seperti tidak dapat berbuat apa-apa selain ‘ngelus-ngelus dada’.
Di sisi lain, ada sebagian pihak yang menempatkan sifat-sifat  kelembutan dan sopan santun dalam masalah ini bukan pada tempatnya.

Maka lengkaplah sudah setting yang mereka inginkan, promotor kemungkaran tampak sangat militan dan di atas angin berhadapan dengan orang-orang baik yang lemah tanpa mau berbuat apa-apa selain keselamatan dirinya.
Inilah yang dikhawatirkan oleh Umar bin Khatab radhiallahu anhu yang terungkap dalam doanya,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَلَدِ الْفَاجِرِ وَعَجْزِ الثِّقَةِ

“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari militansi orang durhaka dan lemahnya orang-orang baik.” 

Di alam bebas seperti ini dan saluran komunikasi dan informasi terbuka lebar, sudah tidak sepantasnya kita mengandalkan pengingkaran dalam hati sebagai langkah penolakan terhadap kemungkaran.
Selain itu merupakan gambaran selemah-lemahnya iman, juga karena Rasulullah saw melarang kita untuk tampak lemah di hadapan kekufuran dan kemungkaran.
Karena itu, saat pertama kali umrah, Rasulullah saw memerintahkan para shahabatnya untuk membuka pundak kanannya dan berlari-lari kecil saat thawaf, agar orang kafir melihat bahwa kaum muslimin kuat. Hal mana kemudian dikenal sebagai sunah dalam thawaf qudum bagi laki-laki.

Dalam peristiwa perang Uhud, ketika pasukan kaum muslimin terdesak akibat kelalaian pasukan pemanah dan Rasulullah saw terluka, orang-orang kafir ingin merontokkan mentalitas pasukan muslim.
Abu Sufyan yang ketika itu masih kafir berteriak, “Mana Muhamad, mana Abu Bakar, Mana Umar?”
Maka Umar berkata, “Ya Rasulullah, bolehkah saya menjawabnya?” Jawab Rasulullah, “Ya”. Maka ketika Abu Sufyan berteriak,

اعْلُ هُبَل
  
“Hidup Hubal (berhala mereka)

Umar menjawab,
الله أَعْلَى وَأَجَل

“Allah lebih tinggi dan lebih mulia.”

Abu Sufyan balik berkata,

يَومُ بِيَومِ بَدْر، إِنَّ الأَيَّامَ دُوَل، وَإِنَّ الْحَرْبَ سِجَال

“Hari ini adalah pembalasan perang Badar, hari-hari silih berganti, perang kadang kalah kadang menang.” 

Umar menjawab,

لاَ سَوَاءَ ، قَتْلاَنَا فِي الْجَنَّةِ ، وَقَتْلاَكُمْ فِي النَّارِ

“Tidak sama, orang yang terbunuh di antara kami masuk surga, orang yang terbunuh di antara kalian masuk neraka.” (dikutip dari riwayat Ahmad dan Hakim)

Lihatlah bagaimana Umar bin Khatab atas izin Rasulullah saw tidak diam menghadapi provokasi orang-orang kafir, bahkan di saat mereka terdesak sekalipun.
Lihat pula bagaimana pilihan kata-katanya yang singkat namun berbobot serta tidak menampakkan kelemahan sama sekali. Bahkan Ibnu Abbas yang meriwayatkan hadits tersebut mengatakan bahwa peristiwa tersebut sebagai kemenangan yang istimewa.

Harus kita bedakan antara orang yang berbuat maksiat karena kelalaian atau ketergelinciran. Kepada mereka hendaknya kita nasehati baik-baik, tersembunyi dan tidak dibongkar aibnya dan jangan dicela.
Tapi kepada mereka yang terang-terangan mempromosikan kemungkaran, kesesatan dan kekufuran di tengah masyarakat muslim dan sering mengolok-olok nilai-nilai syariat dan orang yang berusaha mengamalkannya, baik tersirat atau tersurat, tidak ada tempat untuk bersikap lemah lembut kepada mereka, tidak ada tempat untuk menutupi makar dan konspirasi mereka, bahkan seharusnya kedok mereka dibongkar, argument-argument mereka dipatahkan dan celotehan-celotehan mereka harus dibalas tegas.
Tidak perlu anarkis, tidak perlu angkat senjata,  tapi bantahlah seruan kesesatan mereka, bergabunglah dalam poros-poros kebaikan, nyatakanlah sikap dan jangan lemah. Inilah medan “perang” kita!

Abu Bakar Ash-Shidiq yang terkenal kelembutannya dan air matanya selalu meleleh, tak dapat menahan amarahnya ketika harus berhadapan dengan para provokator dan promotor kemungkaran.
Saat beliau menjadi khalifah dan berhadapan dengan sekelompok masyarakat yang terang-terangan terang-terangan murtad, sebagian lagi terang-terangan menolak membayar zakat, sebagai pemimpin dia memutuskan untuk memerangi mereka. Ketika sebagian shahabat berusaha mencegahnya dengan asumsi bahwa mereka masih muslim, Abu Bakar Ash-Shidiq memberikan jawaban memuaskan hinggga para shahabat menerimanya.
Bahkan ketika Umar bin Khatab ikut-ikutan menasehati Abu Bakar Ash-Shiddiq agar bersikap lemah lembut terhadap mereka, maka dengan tegas Abu menjawab,

جَبَّارٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خَوَارٌ فِي اْلإِسْلاَمِ .  بِمَاذَا أَتَأَلَّفُهُمْ ؟ بِشِعْرٍ مُفْتَعِلٍ أَمْ بِقَوْلٍ مُفْتَرِى ؟!

    “(Apakah engkau) perkasa saat masih jahiliah, namun justeru lemah setelah masuk Islam, dengan apa aku berbaik-baik dengan mereka, dengan syair yang dibuat-buat atau dengan ucapan dusta?!”

(Tuhfatu Ash-Shiddiq Fi Fadhli Abi Bakar Ash-Shiddiq, Ali Al-Maqdisi)

Jika promotor kemungkaran berkeliaran di tengah-tengah kita, sementara kita tidak terusik sama sekali untuk menghadangnya, periksalah kembali dimana iman kita diletakkan?!

*”Selamat Berperang!”*
Wallaahu a’lam.
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁
Dipersembahkan oleh:
http://www.iman-islam.com
Ikuti Kami di:
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
🗳Sebarkan dan raihlah pahala …

Mari Lembutkan Hati Dengan Ingat Mati…

📆 Rabu, 19 Dzulhijjah 1437H / 21 September 2016
📚 TAZKIYATUN NAFS

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir Lc.
📋  Mari Lembutkan Hati Dengan Ingat Mati…..
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁
Maha Benar Allah:
وما تدري نفس ماذا تكسب غدا وما تدري نفس بأي أرض تموت
“Tidak ada seorang pun yang tahu, apa yang dia lakukan besok, tidak ada seorang pun yang tahu, di negeri mana dia mati (QS Luqman: 34)
Mati adalah kepastian,
Kita tak tahu kapan dan dimana dia datang..
Hanya ada satu pilihan, sertakan iman Islam selalu dalam seluruh sisi kehidupan.
Cara terbaik agar mati membawa iman dan Islam, adalah hidup membawa iman dan Islam….
Kita sering mengangankan mati di jalan Allah, tapi lupa, bahwa kematian di jalan Allah, hanya dapat diraih dengan hidup di jalan Allah.
Hiduplah di jalan Allah, kau akan mati di jalanNya.
Umumnya kita enggan berbicara tentang kematian, padahal sering mengingat kematian, akan mengingatkan kita dengan hakikat kehidupan…
Mengingat kematian tidak memperpendek usia, sebagaimana melupakan kematian tidak memperpanjang usia.
Tapi keduanya dapat mempengaruhi dalam keadaan bagaimana kita mati…
Manusia ada yg mengingkari Allah.
Tapi kematian, siapakah yg berani mengingkari?
Alquran sebut kematian dg istilah “yaqin” (QS AlHijr: 99)
Jika kita tahu, besok jadwal kematian kita, apa kira-kira sikap kita?
Seperti itulah semestinya sikap yang slalu menyertai hidup kita…
Sabda Nabi saw:
اكثروا ذكر هاذم اللذات
“Hendaklah kalian banyak mengingat penghancur segala kenikmatan (kematian).”
(HR Tirmizi, dll)
*_Ingat kematian bukan untuk halangi kita kejar prestasi dunia, tapi justru memotivasi prestasi agar serasi dengan ajaran ilahi, bermanfaat di dunia dan setelah mati.._*
Sebab, betapapun prestasi yang diraih, dia hanya sementara. Dan apalah makna prestasi dunia, sehebat apapun, kalau setelah kematian kita justru sengsara….
Terngiang-ngiang bait-bait yang sering disenandungkan saat di pesantren dahulu…
يا من بدنياه اشتغل
قد غره طول الأمل
أولم يزل في غفلة
حتى دنى منه الأجل
Duhai yg sibuk dengan dunianya..
Dia terpedaya oleh panjang angan-angan. .
Masihkah dia dlm kelalaiannya?
Hingga ajal mendekatinya…
Semua orang pasti akan kembali kepada Allah setelah kematiannya…
Yang berbahagia adalah yang telah kembali kepada Allah sebelum kematiannya..
Wallaahu a’lam.
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁
Dipersembahkan oleh:
http://www.iman-islam.com
Ikuti Kami di:
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
🗳Sebarkan dan raihlah pahala …

Kebenaran itu….

📆 Rabu, 12 Dzulhijjah 1437H / 14 September 2016
📚 MOTIVASI

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir Lc.
📋  Kebenaran itu….
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁
Kebenaran..
bukan kisah roman yang asyik dibaca atau ditonton,
tapi dia sesuatu yang harus digenggam dan diperjuang kan…
Kebenaran…
bagi penjahat adalah ancaman,
bagi pejuang adalah medan pengorbanan….
Kebenaran itu…
kulitnya sering terasa pahit memberatkan,
namun isinya manis menyehatkan…
Kebenaran itu,
seringkali ketika datang tak ada yang mempedulikan bahkan mengundang cacian,
tapi ketika pergi semua merasa kehilangan…
Kebenaran,
bukan sampah berserakan yang dimana saja dengan mudah kau temukan,
tapi dia bak mutiara yang tak kau dapati kecuali menyelami lautan…
Jika kebenaran tak juga membuatmu berani berjuang,
setidaknya rasa malu mencegahmu jadi pecundang….
Wallahu A’lam.
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁
Dipersembahkan oleh:
http://www.iman-islam.com
Ikuti Kami di:
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
🗳Sebarkan dan raihlah pahala …

Talbiyahโ€ฆ Deklarasi Penghambaan dan Kepasrahan Seorang Muslim

📆 Rabu, 5 Dzulhijjah 1437H / 7 September 2016
📚 AQIDAH

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir Lc.
📋  Talbiyah…
Deklarasi Penghambaan dan Kepasrahan Seorang Muslim
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁
Dalam pelaksanaan haji, saat ihram khususnya, tidak ada untaian kalimat yang terasa amat menerbitkan keharuan dan getaran jiwa selain kalimat talbiyah. Bahkan yang belum berhaji sekalipun bisa jadi merasakan getaran tersebut sembari berharap dan menanti-kenanti kesempatan yang Allah berikan untuk melantunkannya di tempat dan waktu yang sesungguhnya.
Namun, yang sesungguhnya lebih penting dari itu adalah bagaimana makna yang terkandung dalam kalimat talbiyah meresap dalam jiwa, lalu berwujud dalam gerak nyata, dan kemudian menjadi sebuah keyakinan dan kepribadian mempesona. Karena dia mengandung hal yang sangat prisip sekali dalam akidah kita.
Secara garis besar, kalimat talbiyah dapat dibagi dua bagian.
Bagian pertama adalah;
لبيك اللهم لبيك ، لبيك لا شريك لك لبيك
“Aku penuhhi panggilanmu Ya Allah, tidak ada sekutu bagiMu, aku penuhi panggilanmu ya Allah.”
Labbaika… adalah ungkapan penuh ketaatan saat mendengar panggilan yang diarahkan kepadanya . Dalam bahasa Arab, ungkapan ini diucapkan dari pihak yang lebih rendah kepada yang lebih tinggi, seperti anak kepada orang tuanya atau murid kepada gurunya. Sebagaimana para shahabat radhiallahhu anhum, jika dipanggil Rasulullah saw, mereka akan berkata, “Labbaika yaa Rasulallah….” .
Dalam konteks ibadah haji, perjalanan yang panjang, ongkos dan beban berat yang harus dipikul serta berbagai kesulitan menghadang, takkan menghalangi kaum muslimin untuk memenuhi panggilan Allah menunaikan ibadah haji, jika Dia telah izinkan.
Di luar itu, sejatinya, “labbaika..” bukan hanya sebatas ucapan yang dilantunkan, tapi seharusnya menjadi keyakinan tak terpisahkan, bahwa tidak ada jawaban dan sikap yang paling pantas dari diri seorang mukmin saat mendengarkan dan menerima seruan Allah kecuali dia menyatakan “Kami dengar dan kami taat”.
Inilah terjemahan yang paling lugas dari kata “labbaik” itu. Sehingga, bukan hanya terhadap seruan haji, tapi terhadap seruan lainnya yang bersumber dari Allah Ta’ala, seperti shalat, puasa, zakat, bakti kepada orang tua, menutup aurat, melaksanakan yang ma’ruf dan menjauhi yang munkar, lisaanul haal (sikap) kita hendaknya menyatakan “Labbaika yaa Allah….”
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَجِيبُواْ لِلّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُم لِمَا يُحْيِيكُمْ (سورة الأنفال 24
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul-Nya apabila dia menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu…” (QS. Al-Anfal: 24)
Inilah hakekat tauhid uluhiyah, tauhid ibadah dan penghambaan yang menuntut kita untuk selalu mewujudkan ibadah dan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Dan inilah yang menjadi misi utama para rasul sejak awal hingga akhir. Bahkan pesan tauhid dipertegas lagi dengan kata “Laa syariika lak” (Tidak ada sekutu bagiMu), bahwa ibadah dan penghambaan harus murni kepada Allah Ta’ala semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada ibadah untuk selain-Nya, apapun dan siapapun wujudnya.
Bagian kedua dari kalimat talbiyah adalah:
إن الحمد والنعمة لك والملك ، لا شريك لك
“Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan hanya milik-Mu, tiada setuju bagi-Mu.”
Bagian kedua dari kalimat talbiyah ini berisi pengakuan dan keyakinan mutlak akan kekuasaan dan kerajaan Allah Ta’ala serta kebesaran dan keagunganNya yang tiada tanding. Maka segala puji hanya layak diberikan kepada-Nya. Lebih dari itu, nikmat Allah Ta’ala tiada terkira kepada setiap hamba.
Tidak ada satupun bagian hidup kita kecuali bergantung dengan nikmat dan kasih sayangNya. Dialah yang menentukan dan mengatur segala kehidupan ini. Maka segala puji hanya layak dikembalikan kepada-Nya.
Inilah Tauhid Rububiyah yang juga tidak boleh hilang dalam diri seorang muslim. Pernyataan ini pun diperkuat dengan nilai tauhid yang mutlak dan murni yang tidak menerima sikap mendua; “Laa syariika lak” (tidak ada sekutu bagiMu).
Tauhid Rububiyah mengajarkan kita untuk bersandar dan bergantung dengan kekuatan dan kekuasaan Allah semata.
Bahwa apapun kedudukan, kekuatan dan kebesaran yang kita miliki, atau yang dimiliki oleh makhluk apapun dan siapapun, semua itu tak ada apa-apanya dibanding kekuasaan dan kekuatan Allah yang sedikitpun kehidupan kita tidak dapat berpisah darinya.
Jangan sampai penyandaran dan kepasrahan kita dialihkan kepada diri sendiri atau makhluk lainnya dibanding kepada Allah.
Apalagi pada saat yang sama dan tempat yang sama, jamaah haji dari berbagai penjuru dunia dikumpulkan dengan berbagai latar belakang sosial, pendidikan dan ekonomi yang beraneka ragam. Semua kebesaran dan simbol-simbol duniawi hendaknya ditanggalkan.
Maka, ketika sesaat sebelum ihram seseorang melucuti pakaian biasanya untuk diganti dengan kain ihram, hendaknya diapun melucuti kesombongannya dan keangkuhannya untuk kemudian menjadi hamba yang bersandar, bergantung dan memohon hanya kepada Allah Ta’ala._ Sebuah sikap yang tidak hanya dituntut saat dia melaksanakan ibadah haji, tapi dalam semua aspek kehidupannya, sebelum haji, saat haji maupun sesudah haji.
Mengumandangkan kalimat talbiyah sambil meresapi makna yang terkandung di dalamnya, tentu akan lebih mampu mengetuk dinding-dinding hati dan lebih memberikan energi untuk semakin mempersembahkan ketundukan kepada Allah rabul izzati…
Wallahu A’lam
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁
Dipersembahkan oleh:
http://www.iman-islam.com
Ikuti Kami di:
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
🗳Sebarkan dan raihlah pahala …

Ingatlah… Lupakanlahโ€ฆ

๏“† Rabu, 28 Dzulqo’dah 1437H / 31 Agustus 2016
๏“š *MOTIVASI*

๏“ Pemateri: *Ustadz Abdullah Haidir Lc.*

๏“‹ *Ingatlah… Lupakanlahโ€ฆ*
๏Œฟ๏Œบ๏‚๏€๏Œผ๏„๏Œท๏
โฃ _Selalulah ingat orang yang pernah menolongmu, lupakan orang yang pernah engkau tolong._
๏Œน _Selalulah ingat dosa-dosa yang telah kau lakukan, lupakan menghitung pahala yang telah kau kumpulkan.._
โฃ _Selalulah ingat nikmat surga saat kau dapati keletihan dan beratnya menjaga iman dan amal, lupakan lezat dan keindahan maksiat berbanding dengan pedihnya azab akhiratโ€ฆ_

๏Œน _Selalulah ingat orang yang pernah engkau sakiti, lupakan orang yang pernah menyakitimu._

โฃ _Selalulah ingat, nikmat-nikmat yang pernah kau dapatkan, lupakan duka dan luka yang pernah kau rasakanโ€ฆ_
๏Œน _Selalulah ingat orang-orang yang pernah mengajarimu, lupakan orang-orang yang pernah engkau ajariโ€ฆ_
โฃ _Selalulah ingat harta yang belum engkau sedekahkan, lupakan harta yang telah engkau infakkanโ€ฆ_
๏Œน _Selalulah ingat orang-orang yang kekurangan dan ditimpa nestapa, lupakan khayalan-khayalanmu tentang orang-orang yang diberi kelebihan duniaโ€ฆ_
โฃ _Selalulah ingat ilmu yang belum kau amalkan, lupakan amal dari ilmumu yang telah engkau laksanakan.._
๏Œน _Selalulah ingat akhirat yang kian dekat mendatangimu, lupakan dunia yang telah pergi meninggalkanmuโ€ฆ_
โฃ _Selalulah ingatโ€ฆ isteri/suamimu yang halal bagimu dan setia mendampingimu, lupakan laki-laki/wanita yang haram bagimu dan berupaya merayumu serta memikat hatimu_
๏Œน _Selalulah ingat bayang-bayang keberhasilan dari kerja kerasmu, lupakan bayang-bayang kegagalan yang pernah menghampirimuโ€ฆ._
โฃ _Selalulah ingatlah nasehat dan kritik membangun untukmu, lupakan pujian sanjungan yg dapat menjatuhkanmu._
Wallahu A’lam bis Shawab
๏Œฟ๏Œบ๏‚๏€๏Œผ๏„๏Œท๏
Dipersembahkan oleh:
http://www.iman-islam.com
Ikuti Kami di:
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
๏—ณSebarkan dan raihlah pahala …