Berbaik Sangka Kepada Allah

Berbaik Sangka Kepada Allah Sampai Wafat

📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi M.A

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa ia pernah mendengar sabda Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam saat tiga hari sebelum wafatnya beliau,

لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ

“Janganlah salah seorang di antara kalian mati melainkan ia harus berhusnuzhan kepada Allah.” (HR. Muslim, no. 2877)

Penjelasan:

1. Seorang hamba hendaknya berprasangka baik kepada Allah apapun yang terjadi kepada dirinya sampai ia wafat, bahwa yang terbaik adalah apa yang Allah taqdirkan untuknya.

2. Suatu hari Rasullullah menemui seorang pemuda yang sedang sakaratul maut kemudian beliau bertanya,

“كيف تجدك ؟”

“Bagaimana engkau mendapatkan dirimu ?

Pemuda ini menjawab

” ارجو الله يا رسول الله واخاف ذنوبى “

Saya berharap ampunan Allah ya Rasululullah dan saya khawatir terhadap dosa-dosa saya, kemudian Rasululullah bersabda

” لا يجتمعان فى قلب عبد مؤمن فى مثل هذ الموطن الا اعطاه الله ما يرجو وامنه مما يخاف

“Tidaklah berkumpul dalam hati seorang mukmin seperti keadaan ini (antara harap kepada ampunan Allah dan khawatir terhadap dosanya) kecuali Allah akan memberikan apa yang ia harapkan dan  Allah jaga dirinya dari apa yang ia khawatirkan (dari Anas, HR. Tirmidzi)

3. Imam Qurtubi menjelaskan,

”  ينبغى ان يكون اغلب على العبد عند الموت فى حال الصحة وهو ان الله تعالى يرحمه ويتجاوز عنه ومغفرته وينبغي

“Sepantasnya bagi seorang hamba ketika ia sedang sakaratul maut, hatinya lebih dominan berada pada keadaan yang benar yaitu ia yakin bahwa Allah mengampuni merahmatinya dan mengampuni dosa-dosanya.”

Kemudian beliau menambahkan, “Seyogyanya orang-orang yang duduk saat di hadapan orang yang sedang sakaratul maut mengingat akan hal itu sampai ia ingat akan firman Allah dalam hadist  qudsi-Nya:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى

“Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (Muttafaqun alaih dari Abu Hurairah)

4. Abdullah bin Mas’ud berkata,

” والله الذى لا اله الا غيره ، لا يحسن احد الظن با لله الا اعطاه الله ظنه ذالك ان الخير بيده  “

“Demi  Allah yang tidak ada Tuhan selain-Nya , tidaklah seseorang berprasangka baik kepada Allah kecuali Ia akan memberikan apa yang ia sangka kepada-Nya yang demikian karena segala kebaikan ada di sisi Allah.”

5.  Ibnu Abbas berkata,

” اذا رأيتم الرجل بالموت فيشروه ليلقي ربه وهو حسن الظن با لله واذا كان حيا فخوفوه

“Jika engkau melihat seseorang sedang sakaratul maut, maka berilah dia kabar gembira agar dia bertemu Allah dalam keadaan berprasangka baik kepada-Nya;  dan jika ia masih hidup maka takuti dia akan dosa-dosanya.”

6. Fudail bin Iyadh berkata,

” الخوف افضل من الرجاء ما كان العبد صحيحا ،فإذا نزل به الموت فالرجاء افضل من الموت

“Khawatir tidak diampuni dosa lebih utama dari berharap ampunan Allah selama seorang hamba itu dalam kedaaan sehat; dan jika kematian mendatanginya maka mengharap rahmat Allah itu lebih utama dari khawatir tidak diampuni dosa.”

7. Zaid bin Aslam berkata, “Seorang laki-laki pada hari Kiamat diperintahkan Allah untuk  masuk neraka, kemudian ia berkata,

” فاين صلاتى وصيامى ؟ “

Ya Allah kemana pahala sholat dan puasaku ?

Allah berfirman:

اليوم اقنطك من رحمتى كما كنت تقنط عبادي من رحمتى

“Hari ini Aku buat engkau putus asa dari rahmat-Ku sebagaimana engkau membuat putus asa hamba-hamba-Ku dari rahmat-Ku.”

8. Jangan terlalu cemas akan dosa-dosamu, nanti engkau putus asa dari ampunan-Nya; dan jangan terlalu gede rasa engkau akan mendapatkan ampunan-Nya, karena itu membuatmu meremehkan dosa dan malas beramal.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

tawadhu

Perjalanan Menuju-Mu

📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

“Wahai manusia! sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya.

Maka adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah,
dan dia kembali kepada keluarganya yang Sama-sama beriman dengan gembira. ”
QS. Al-Insyiqaq ; 84 : 6 – 9

Apa sesungguhnya yang kita cari?
Dari pagi hingga petang
Dari fajar hingga malam menjelang
Kerja keras dan banting tulang

Kadang penat yang melunturkan semangat
Kadang lelah yang membuat hati gundah

Mengisi hari dengan kesibukan kadang buat kita lupa akan wajibnya sebuah amalan.
Mengawali hari tanpa doa dan harapan hingga sia-sia sepanjang perjalanan.

Tiada guna jalani hidup tanpa tujuan.
Tak mendapati ridla dari pemilik kehidupan.
Lantas apa yang kita dapatkan.
Tak bernilai pahala dari yang kita kerjakan.

Mari mulai meluruskan niat dalam amalan.
Hingga apa yang kita kerjakan bisa menjadi bekalan.
Untuk menempuhi kehidupan yang berkekalan.
Berkumpul di surga bersama orang-orang yang beriman.

Bila hati diliputi rasa cinta
Cukuplah hanya pada Sang pencipta
Bila jiwa dibalut rasa taqwa
Hanya Allah yang jadi tujuan utamanya.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

tawadhu

Hakikat Kekayaan

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Kekayaan itu bukanlah banyaknya harta, tapi kekayaan itu adalah kaya jiwanya.

(HR. Bukhari no. 6446)

Penjelasan:

– Makna Ghina (Kekayaan) adalah apa-apa yang membuat cukup. Maka, ketika seseorang yang sudah merasa cukup, maka dia kaya. Tapi, orang yang tidak pernah merasa cukup, maka dia belum kaya, walau hartanya melimpah ruah.

– Ada pun Ghaniy, artinya orang yang memiliki kekayaan. Sedangkan Al Ghaniy (Maha Kaya) adalah salah satu asma Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, Maha Terpuji.

(QS. Al-Baqarah, Ayat 267)

– Kekayaan itu bukanlah dengan banyak al ‘Aradh, apa itu? dikatakan oleh Abu ‘Ubaid:

هو حطام الدنيا، يعنى متاعها، يدخل فيه جميع المال العرَوض وغيرها

Yaitu serpihan-serpihan dunia, yaitu kemewahannya, termasuk di dalamnya semua harta, barang, dan hal-hal lainnya.

(Dikutip oleh Al Qadhi ‘Iyadh, Ikmal Al Mu’lim, 3/586)

Allah Ta’ala berfirman:

مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَن يَكُونَ لَهُۥٓ أَسۡرَىٰ حَتَّىٰ يُثۡخِنَ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ تُرِيدُونَ عَرَضَ ٱلدُّنۡيَا وَٱللَّهُ يُرِيدُ ٱلۡأٓخِرَةَۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٞ

Tidaklah pantas, bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan musuhnya di bumi. Kamu menghendaki ‘aradhad duniya (harta benda duniawi) sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.

(QS. Al-Anfal, Ayat 67)

– Kekayaan itu Ghinan Nafs (kaya jiwanya). Maksudnya jiwa yang yang cukup, jiwa yang kenyang.

Al Qadhi ‘Iyadh Rahimahullah berkata:

أن حقيقة الغنى والغنى المحمُودُ هو: غنى النفس وشبعُها وقلة حرصها، لا كثرة المال، مع الحرص على التزيد منه والشح به، فذلك فقر بالحقيقة؛ لأن صاحبه لم يستعن به بعد

Hakikat Kekayaan dan kekayaan yang terpuji adalah kaya jiwanya, jiwa yang kenyang terhadap dunia dan sedikit hasrat terhadapnya, bukan banyaknya harta lalu dia berambisi kepada harta dan kikir terhadapnya, justru itu fakir yang sebenarnya, sebab pemilik harta tersebut sama sekali tidak pernah merasa cukup. (Ibid)

– Namun, menjadi kaya harta, asalkan bersyukur dan mengelola harta untuk fisabilillah, maka itu juga keutamaan. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada Amr bin al Ash Radhiallahu ‘Anhu:

يَا عَمْرو نعم المَال الصَّالح للرجل الصَّالح

Wahai Amr, Sebaik-baiknya harta adalah harta yang dimiliki (dikelola) oleh orang shalih.

(HR. Ibnu Hibban, lihat Mawarid Azh Zham’an no. 1089)

– Harta memang berpotensi membuat lalai dan fitnah, tapi justru membawa manfaat dan rahmat jika dikendalikan oleh shalih.

Demikian. Wallahu a’lam

Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Akhlaq Kepada Orang Tua

📝 Kak Lelisya~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

🌳🤴🏻👸🏻🌳🤴🏻👸🏻🌳🤴🏻👸🏻

Assalamu’alaikum adik-adik para pejuang ridha Allah, Bagaimana kabar hati hari ini?? apakah Islam telah merasuk hati sehingga akhlak mulia sudah menjadi jati diri ?

Ketika seseorang menginjak dewasa, bapak-ibu gurulah yang mengajarkannya tentang banyak hal hingga ia menjadi mengerti tentang banyak hal dalam kehidupan ini. Maka, kewajiban menghormati orang tua dalam Islam merupakan salah satu ajaran yang sangat penting dan prinsip.

Ketika Allah memerintahkan kita untuk berbakti kepada kedua orang tua, maka perintah ini sebetulnya sangat bisa dipahami. Cobalah bayangkan, bagaimana repotnya ibu ketika mengandung selama kurang lebih 9 bulan. Kerepotan ibu, juga bapak, semakin bertambah ketika kita terlahir ke dunia, mulai dari merawat, memelihara, dan memberinya makan dan minum dengan penuh kasih sayang. Bagi orang tua tidak ada yang lebih berarti daripada sang jabang bayi yang baru saja dilahirkannya. Mereka sangat bahagia dengan tangisan dan kotorannya, akan tetapi mereka akan sedih ketika harus melihatnya sakit.

🏡 Dalam konteks berbuat baik kepada kedua orang tua, Al-Qur’an menganjurkan agar kita melakukannya dengan cara “Ihsān”. Ihsan artinya kita melakukan sesuatu lebih dari sekedar kewajiban. Shalat lima waktu merupakan kewajiban, tetapi jika kita menambahnya dengan shalat-shalat sunnah lainnya, maka itulah ihsan.

🏡 Berbuat baik kepada kedua orang tua harus diupayakan secara maksimal, secara ihsan, lebih dari sekedar kewajiban kita terhadapnya. Jika sang anak ingin memberikan sesuatu kepada orang tua, berikanlah yang maksimal. Karena yang maksimal saja belum tentu dapat sebanding dengan jerih payah dan pengorbanan keduanya selama ini dalam mengasuh dan membesarkannya.

👩‍⚕ Seseorang bisa menjadi dokter, tentu berkat orang tua. Menjadi insinyur, juga berkat orang tua. Menjadi ulama juga berkat orang tua. Bahkan menjadi presiden juga berkat orang tua. Setidaknya, karena do’a orang tua itulah seseorang berhasil menggapai apa yang diusahakannya. Itulah pengorbanan orang tua dalam memelihara, mengasuh dan membesarkan kita hingga seperti ini. Oleh karenanya, Al-Qur’an lagi-lagi menegaskan:

وَوَصَّيْنَا الإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.” (QS. Luqman, 31: 14)

Wallahu’alamu bis showab
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
🌳🤴🏻👸🏻🌳🤴🏻👸🏻🌳🤴🏻👸🏻


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Saat Hatimu Lelah

Manusia Berhati Burung

Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir Lc.

Hadits:

“Akan masuk surga, orang-orang yang hatinya seperti hati burung.”  (HR. Muslim)

Di antara penjelasan ulama tentang ‘hati burung’ yang dimaksud dalam hadits di atas adalah hati yang sangat halus dan lembut serta penuh kasih sayang, jauh dari sifat keras dan zalim.

Hati, adalah keistimewaan yang kita miliki sebagai manusia. Hati pula yang sangat menentukan baik buruknya nilai diri kita, sebagaimana telah dinyatakan dalam sebuah hadits Rasulullah saw.

Di antara perkara yang sangat penting untuk kita pelihara dari hati adalah kelembutan dan kepekaannya terhadap perkara yang terjadi di sekeliling kita.

Di sini kita tidak berbicara tentang kaedah hukum, hak dan kewajiban, dalil dan argumentasi, atau apalah namanya. Kita berbicara tentang perasaan yang secara fitrah dimiliki semua orang. Namun dalam batasan tertentu, dapat bereaksi lebih cepat dan efektif, ketimbang faktor lainnya.

Kelembutan hati dan rasa kasih sayang seorang ibu membuatnya tidak akan dapat tidur nyenyak meski kantuk berat menggelayuti matanya, manakala dia mendengar rengekan bayinya di malam buta, maka dia bangun dan memeriksa kebutuhan sang bayi.

Boleh jadi ketika itu dia tidak berpikir tentang keutamaan atau janji pahala orang tua yang mengasihi anaknya.

Umar bin Khattab yang dikenal berkepribadian tegas, ternyata hatinya begitu lembut ketika melihat seorang nenek memasak batu hanya untuk menenangkan rengekan tangis cucunya yang lapar sementara tidak ada lagi makanan yang dapat dimasaknya, maka tanpa mengindahkan posisinya sebagai kepala Negara, dia mendatangi baitul mal kaum muslimin dan memanggul sendiri bahan makanan yang akan diberikannya kepada sang nenek.

Boleh jadi ketersentuhan hati Umar kala itu mendahului kesadaran akan besarnya tanggungjawab seorang pemimpin di hadapan Allah Ta’ala.

Demikianlah besarnya potensi kelembutan hati menggerakkan seseorang. Kelembutan hati semakin dibutuhkan bagi mereka yang Allah berikan posisi lebih tinggi di dunia ini.

Seperti suami kepada isteri dan anaknya, pemimpin atau pejabat kepada rakyatnya atau orang kaya terhadap orang miskin. Sebab, betapa indahnya jika kelembutan hati berpadu dengan kewenangan dan kemampuan yang dimiliki.

Karena memiliki kewenangan dan kemampuan, suami berhati lembut –misalnya- akan sangat mudah mengekspresikannya kepada isteri dan anaknya, bukan hanya terkait dengan kebutuhan materi, tetapi juga bagaimana agar suasana kejiwaan mereka tenang dan bahagia, tidak tersakiti, apalagi terhinakan. Begitu pula halnya bagi pemimpin, pejabat atau orang kaya.

Akan tetapi, jika kelembutan itu telah sirna berganti dengan hati yang beku, sungguh yang terjadi adalah pemandangan yang sangat miris dan sulit diterima akal.

Bagaimana dapat seorang suami menelantarkan atau menyakiti isteri dan anaknya padahal mereka adalah belahan dan buah hatinya, bagaimana pula ada pemimpin atau pejabat yang berlomba-lomba mereguk kesenangan dan kemewahan dunia di atas penderitaan rakyatnya, padahal mereka dipilih rakyatnya, lalu bagaimana si kaya bisa tega mempertontonkan kekayaannya di hadapan si miskin yang papa tanpa sedikitpun keinginan berbagi, padahal tidak akan ada orang kaya kalau tidak ada orang miskin.
Sungguh mengerikan!

Di zaman ketika materi dan tampilan lahiriah semakin dipuja-puja, sungguh kita semakin banyak membutuhkan manusia berhati burung!


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Karena Allah

SYARIAT, HAKEKAT, TAREKAT & MAKRIFAT

Pertanyaan

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
Mohon penjelasannya tentang syariat hakekat tarekat dan makrifat # A36

Jawaban

Oleh: Ustadzah Nurdiana

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

1. Syariat berasal dari kata syaa ri” artinya jalan. Maksudnya syariat  islam adalah petunjuk jalan. Pedoman aturan . Kaidah buat orang islam.

2. Hakekat Kata hakikat (Haqiqat),  merupakan kata benda yang berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata “Al-Haqq”, dalam bahasa indonesia menjadi kata pokok yaitu kata “hak“ yang berarti milik (ke¬punyaan), kebenaran, atau yang benar-¬benar ada, sedangkan secara etimologi Hakikat berarti inti sesuatu, puncak atau sumber dari segala sesuatu.

3. Tarekat  (Bahasa Arab: طرق, transliterasi: Tariqah), berarti “jalan” atau “metode”, dan mengacu pada aliran keagamaan tasawuf atau sufisme dalam Islam. Ia secara konseptual terkait dengan ḥaqīqah atau “kebenaran sejati”, yaitu cita-cita ideal yang ingin dicapai oleh para pelaku aliran tersebut. Seorang penuntut ilmu agama akan memulai pendekatannya dengan mempelajari hukum Islam, yaitu praktik eksoteris atau duniawi Islam, dan kemudian berlanjut pada jalan pendekatan mistis keagamaan yang berbentuk ṭarīqah. Melalui praktik spiritual dan bimbingan seorang pemimpin tarekat, calon penghayat tarekat akan berupaya untuk mencapai ḥaqīqah (hakikat, atau kebenaran hakiki).

4. Istilah Ma’rifat berasal dari kata “Al-Ma’rifah” yang berarti mengetahui atau mengenal sesuatu. Dan apabila dihubungkan dengan pengamalan Tasawuf, maka istilah ma’rifat di sini berarti mengenal Allah ketika Shufi mencapai maqam dalam Tasawuf.

Kemudian istilah ini dirumuskan definisinya oleh beberapa Ulama Tasawuf; antara lain :

Dr. Mustafa Zahri mengemukakan salah satu pendapat Ulama Tasawuf yang mengatakan:

“Marifat adalah ketetapan hati (dalam mempercayai hadirnya) wujud yang wajib adanya (Allah) yang menggambarkan segala kesempurnaannya.”

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Tertipu dengan dunia lalai dengan akhirat

Menggapai Esok Yang Lebih Baik

Pemateri: Ust. Rikza Maulan S.Ag, M.Ag.

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ، قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ، قَالَ وَمَعْنَى قَوْلِهِ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ يَقُولُ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا قَبْلَ أَنْ يُحَاسَبَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ – رواه الترمذي

Dari Syadad bin Aus ra, dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda,

‘Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.'(Imam Turmudzi) mengatakan, ‘bahwa hadits ini adalah hadits hasan.

Dan makna dari sabda Rasulullah SAW ( دان نفسه ) ‘menghisab/ mengevaluasi dirinya’ adalah ( حاسب نفسه في الدنيا قبل أن يحاسب يوم القيامة ) ‘orang yang menghisab (mengevaluasi diri) di dunia sebelum dihisab pada hari akhir.’ (HR. Turmudzi)

Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari hadits ini. Diantara hikmah-hikmah tersebut adalah sebagai berikut :

1. Sebagai seorang muslim, hendaknya kita selalu melakukan muhasabah (baca ; evaluasi) dalam setiap aktivitas kehidupan kita, baik menyangkut aspek kehidupan dunia (aspek pekerjaan) maupun juga aspek kehidupan akhirat.

Karena berdasarkan hadits di atas, bahwa orang yang cerdas (baca ; sukses) adalah orang mengevaluasi dirinya sendiri dan beramal untuk kehidupan setelah kematiannya. Muhasabah atau evaluasi dapat dilakukan setiap pekan, setiap bulan, setiap triwulan, setiap semester, atau setiap setahun sekali.

Dengan harapan mudah-mudahan hari-hari ke depan selalu lebih baik dari hari-hari sebelumnya.

2. Mengevaluasi atau menghisab diri sendiri sangat penting dalam kehidupan seorang muslim.
Karena dengan evaluasi, seseorang dapat mengetahui porsinya dalam menjalankan ibadah kepada Allah SWT, baik terkait dengan orang lain (muamalah dan pekerjaannya), maupun terkait dengan hubungannya secara langsung kepada Allah SWT.

Dan demikian pentingnya evaluasi, hingga banyak ungkapan dari salafuna shaleh tentang evaluasi (muhasabah) diantaranya adalah :

a. Muhasabah akan meringankan hisab di yaumul akhir.

Dalam sebuah riwayat, Umar bin Khatab ra, mengatakan :

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ اْلأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا

Umar bin Khatab ra berkata, ‘hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kaliau untuk hari aradh akbar (yaumul hisab).

Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia.

b. Muahasabah merupakan ciri dan karakter orang beriman.

Maimun bin Mihran ra, salah seorang tabi’iin (40h – 117h) dalam sebuah riwayat disebutkan :

عَنْ مَيْمُونِ بْنِ مِهْرَانَ قَالَ لاَ يَكُونُ الْعَبْدُ تَقِيًّا حَتَّى يُحَاسِبَ نَفْسَهُ كَمَا يُحَاسِبُ شَرِيكَهُ مِنْ أَيْنَ مَطْعَمُهُ وَمَلْبَسُهُ

Dan dari Maimun bin Mihran bahwa ia berkata, seorang hamba tidak diakatan bertakwa hingga ia menghisab dirinya sebagaimana dihisabnya pengikutnya dari mana makanan dan pakaiannya.

c. Muhasabah merupakan kunci kesuksesan seseorang di dunia maupun di akhirat, – sebagaimana di sebutkan dalam hadits diatas -, bahwa orang yang cerdas (baca ; sukses) adalah orang yang mengevaluasi dirinya sendiri dan beramal untuk kehidupan setelah kematiannya…

d. Setiap orang kelak pada hari akhir akan datang menghadap Allah SWT dengan kondisi sendiri-sendiri untuk  mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya.

Allah SWT menjelaskan dalam Al-Qur’an :

وَكُلُّهُمْ ءَاتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا – (مريم 95)

“Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.”

يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (النور : 24)

Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.

3. Evaluasi atau muhasabah, hendaknya berimbang dalam aspek kehidupan baik dunia maupun akhirat.

Ibarat dua sayap burung yang sedang terbang, kedua sayap harus bergerak seimbang.

Demikian juga kita perlu seimbang dalam mengevaluasi antara aspek duniawi dan aspek ukhrawi.
Tidak seyogianya, muhasabah dilakukan hanya pada aspek dunia saja; seperti aspek pekerjaan, penghasilan, target dan sebagainya, namun muhasabah juga harus dilakukan pada aspek kehidupan akhirat, seperti aspek ibadah kepada Allah SWT.

Diantara hal-hal yang perlu dievaluasi dalam kehidupan kita adalah sebagai berikut :
a. Aspek Ibadah ( الجانب التعبدي )

Evaluasi aspek ibadah sangat penting, karena ibadah merupakan esensi dari keberadaan kita di dunia ini sebagaimana yang difirmankan Allah SWT,

“Dan tidaklah Aku mencipkatan jin dan manusia, melainkan agar mereka menyembah kepada-Ku.” (QS. Ad-Dzariyat : 56).

Oleh karenanya aspek ibadah perlu menjadi perhatian besar bagi setiap muslim dalam melakukan evaluasi atau muhasabah.

Secara garis besar, ibadah mencakup dua hal ; ibadah yang wajib dan ibadah yang sunnah.

Ibadah Wajib ( الفرائض )

Ibadah wajib adalah ibadah yang tidak bisa tidak, harus dikerjakan oleh setiap muslim.

Ibadah yang wajib ini minimal sekali adalah ibadah yang terdapat dalam rukun Islam; seperti shalat, puasa, zakat dan juga haji.

Masing-masing dari ibadah ini perlu kita evaluasi, seperti pada aspek shalat; sudah sempurnakan shalat kita?
Apakah kita mengerjakannya tepat pada waktunya?
Berjamaah di masjidkah shalat kita?, dsb.

Apabila kita mendapatkan kelemahan pada sisi shalat, misalnya jarang berjamaah di masjid, maka kuatkan azam untuk senantiasa dapat shalat berjamaah di masjid.

Demikian juga dengan aspek puasa (ramadhan). Apabila kita merasa banyak kekurangan dalam sisi ibadah puasa ramadhan tahun 1436 H lalu, misalnya masih banyak waktu digunakan untuk sesuatu yang kurang bermanfaat di bulan ramadhan.

Maka hari mendatang harus lebih baik dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Demikian juga dengan zakat dan juga ibadah haji.

Ibadah Sunnah ( النوافل )

Rasulullah SAW sendiri memberikan perhatian yang demikian besarnya pada aspek ibadah sunnah.

Perhatikan saja sebagaimana yang diakatakan Aisyah ra, bahwa Rasulullah SAW shalat malam hingga kedua kakinya bengkak-bengkak. (HR. Bukhari Muslim)

Kemudian bagaimana juga antusias beliau dalam berpuasa sunnah, dalam berdzikir, dalam memperbanyak istighfar dan taubat, dalam berbuat ihsan, dsb.

Oleh karena itulah, hendaknya ibadah-ibadah sunnah yang kita lakukan dievaluasi, untuk kemudian membuat program ibadah sunnah hari mendatang yang lebih baik dari saat ini.

b. Aspek Pekerjaan & Perolehan Rizki ( الجانب العملي والتكسبي )

Alhamdulillah, kita bekerja pada lingkungan pekerjaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman dan keimanan kepada Allah SWT.

Namun walau bagaimanapun juga kita semua adalah kumpulan manusia-manusia biasa, yang sangat mungkin terpeleset dalam lembah yang sangat dibenci Allah SWT, seperti praktik risywah, melalaikan amanah, mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya, manipulasi absensi, menjilat atasan – menginjak bawahan – sikut kiri kanan, ikhtilat dengan lawan jenis, dsb (na’udzubillah min dzalik).

Hal-hal tersebut perlu kita evaluasi, untuk kemudian kita lakukan perbaikan pada tahun yang akan datang.

Rasulullah SAW mengingatkan kita bahwa kelak pada yaumul hisab, semua akan dipertanyakan oleh Allah SWT, termasuk di dalamnya perihal perolehan rizki kita.

Demi Allah, bahwa Rp 500,- yang kita dapatkan pun kelak akan dimintai pertanggung jawaban dari Allah SWT (perhatikan teks hadits yang digaris bawahi):

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلاَهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ – رواه الترمذيٍ

Dari Ibnu Mas’ud ra dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda, ‘Tidak akan bergerak tapak kaki ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara;

1. umurnya untuk apa dihabiskannya,
2. masa mudanya, kemana dipergunakannya,
3. hartanya darimana ia memperolehnya &
4. kemana ia membelanjakannya,
5. serta ilmunya sejauh mana diamalkannya?’ (HR. Turmudzi)

Alangkah meruginya seseorang, yang apabila kelak di akhirat ia tidak bisa mempertanggung jawabkan rizki yang perolehnya, atau ada sesuatu yang “haram” masuk ke dalam rekening atau ke dalam kantongnya.

Karena demi Allah, itu semua kelak akan dimintai pertanggung jawaban dari Allah SWT. Para ulama mengatakan, bahwa salah satu ciri orang yang bertakwa adalah “berhati-hati” dalam sisi halal dan haramnya rizki.

Hadits di atas menggambarkan bahwa orang yang tidak bisa menjelaskan rizkinya yang diperolehnya dalam kehidupannya di dunia, kelak tidak bisa menggerakkan tapak kakinya dihadapan Allah SWT.

c. Aspek kehidupan sosial (hubungan antara sesama manusia)

Aspek ini juga merupakan aspek yang sangat penting untuk dievaluasi. Karena manusia adalah makhluk sosial, yang selalu membutuhkan orang lain dalam menjalankan aktivitas kehidupannya sehari-hari. Kita perlu mengevaluasi berkenaan dengan hubungan kita terhadap orang lain.

Misalnya, apakah selama ini kehadiran kita “menentramkan” orang lain yang ada disekitar kita?, atau justru sebaliknya; kehadiran, perkataan dan juga perbuatan kita selama ini menyakitkan hati orang atau bahkan mendzalimi orang lain? (na’udzubillah min dzalik). Sebuah hadits shahih mengingatkan kita :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ، فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ رواه مسلم

Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?”

Sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak punya uang dan tidak punya harta benda.” Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang kepada Allah SWT pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat. Namun ia juga datang membawa (dosa) suka mencela si Fulan, menuduh si Fulan, memakan harta si Fulan, mencederai darah si Fulan dan memukul si Fulan dsb.

Maka akan diberikanlahlah pahalanya kepada si Fulan dan si Fulan (orang-orang yang didzaliminya). Dan apabila pahala kebaikannya telah habis sebelum ia menuntaskan kepada orang-orang yang didzaliminya, maka diambillah dosa-dosa mereka lalu dilemparkan kepadanya, lalu ia pun dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Muslim)

4. Selain evaluasi atau muhasabah, setiap muslim juga perlu menanamkan visi dalam hidupnya, yaitu bahwa orientasi hidupnya adalah untuk kehidupan setelah kematiannya.

Hadits diatas menggambarkan demikian, bahwa orang yang cerdas (bacaa ; sukses) adalah orang yang mengevaluasi dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan setelah kematiannya”.

Sehingga sesungguhnya visi setiap muslim tidak hanya terbatas pada 5, 10 atau 20 tahun yang akan datang.

Namun visi seorang muslim adalah menembus dimensi kehidupan dunianya, hingga ke dimensi kehidupan akhirat (kehidupan setelah kematiannya).

Apabila visi seperti ini tertanam dalam diri setiap muslim, maka dapat dipastikan (insya Allah) bahwa dalam bekerja, beraktivitas, beribadah, dan dalam segala ativitas hidupnya, ia akan hanya memiliki orienasi kepada Allah dan karena Allah SWT semata. Dan inilah sesungguhnya implementasi dari firman Allah SWT :

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, (QS. Al-An’am : 162)

Jadi ternyata, untuk menjdi hamba Allah sejati yang dapat memasrahkan segala-galanya kepada Allah, cukup dimulai dengan dua hal sederhana dan dapat kita lakukan mulai sekarang juga, yaitu : pertama muhasabah (evaluasi) diri sendiri, dan kedua memiliki visi (beramal) untuk kehidupan akhiratnya.

Jadi marilah kita mulai dari sekarang, untuk melakukan muhasabah serta menanamkan visi yang menembus dimensi kehidupan dunia, ke dimensi kehidupan akhirat kita.

Wallahu A’lam Bis Shawab.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

sabar dan ikhlas

Meraih Indahnya Sabar

Pemateri: Ust. Farid Nu’man Hasan, SS.

Sabar Itu Indah

Sabar secara behasa bermakna Al Habsu (menahan) dan Al Kaffu (mencegah), lawan dari al jaz’u (keluh kesah). Jadi, sabar itu adalah menahan dan mencegah diri dari perbuatan yang tidak perlu.

Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah pernah mengatakan bahwa di surga hanya ada dua kelompok manusia; manusia yang bersyukur dan manusia yang bersabar.

Orang-orang sukses, dunia dan akhirat, salah satu kuncinya oleh kesabaran.

Lihatlah betapa sabarnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya dalam mendakwahkan Islam di Jazirah Arab. Walau tantangan, ancaman, pengusiran, bahkan percobaan pembunuhan sudah berkali-kali dirasakannya ketika tiga belas tahun dakwah di Mekkah, akhirnya Allah Ta’ala menangkan dakwah Islam karena buah kesabaran Beliau dan para sahabatnya.

Sabar memang berat. Oleh karena itu, Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah memasukkan sabar dalam menuntut ilmu, sabar dalam menghafalkan ilmu, dan sabar dalam menyampaikan ilmu adalah termasuk jihad fisabilillah.

Maka, dari sini kita bisa mengetahui bahwa
* sabar bukanlah kelemahan, justru sabar adalah kekuatan,
* sabar bukan kelesuan tetapi dia adalah gairah hidup,
* sabar bukan kecengengan tetapi dia adalah ketegaran,
* sabar bukanlah pesimis tetapi dia adalah optimis, dan
* sabar bukanlah diam membisu tetapi dia adalah pantang menyerah.

Dan, orang sabar bukan sekedar yang tidak menangis ketika mendapatkan musibah, bukan pula sekedar tidak mengeluh ketika tertimpa kesulitan, sebab itu barulah tahapan awal kesabaran.

Allah Ta’ala berfirman:

وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (QS. Ali Imran (3): 146)

Sabar Itu Dapat Mengantarkan Pada Derajat Hamba Terbaik

Dengan sabar, seseorang dapat menjadikan dirinya sebagai manusia terbaik di sisi Allah Ta’ala. Hal ini seperti yang difirmankanNya:

إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ

 Sesungguhnya Kami dapati Dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah Sebaik-baik hamba. Sesungguhnya Dia Amat taat (kepada Tuhan-nya). (QS. Shad: 44)

Sabar itu Pada Pukulan Yang Pertama

Ya, sabar yang benar adalah terjadi pada reaksi awal dari musibah.

Bukanlah sabar jika seseorang marah, meratap, dan menyesali musibah yang menimpanya, barulah dia bisa bersabar setelah beberapa lama musibah itu. Ini bukan sabar yang benar.

Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersaba:

الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى

“Sabar adalah pada hantaman yang pertama.” (HR. Bukhari No. 1223)

Dibalik Sabar Ada Kemenangan

Ini adalah janji Allah Ta’ala kepada hamba-hambaNya yang bersabar. Dan, janjiNya adalah benar.

Namun jangan lupa, sabar juga bukan kekuatan tanpa perhitungan, sabar bukan ketegaran tanpa tujuan, sabar bukan pesimis tanpa arahan, sabar bukanlah gerak pantang menyerah namun tanpa pemikiran yang matang. Tidak demikian. Tetapi sabar adalah berpadunya kekuatan dan perhitungan, ketegaran dan tujuan, optimis dan arahan, gerak pantang menyerah dan pemikiran matang, maka tunggulah kemenangan yang Allah Ta’ala janjikan.

Perhatikan firman Allah Ta’ala berikut:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَفْقَهُونَ (65) الآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا فَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ أَلْفٌ يَغْلِبُوا أَلْفَيْنِ بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ (66) }

Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh.

Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.

Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al Anfal (8): 65-66)

Maka, Maha Benar Allah ketika berfirman:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلا عَلَى الْخَاشِعِينَ

 Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. (QS. Al Baqarah (2): 45)

Ya, orang sabar akan menjadi pemenang, bagaimana mungkin mereka kalah padahal Allah Ta’ala bersama mereka? Innallaha ma’ash shaabiriin (sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar)…

Beginilah Kesabaran Mereka

Nabi Nuh ‘Alaihissalam  menyebarkan dakwah tauhid dalam waktu 950 tahun, walau dia tahu pengikutnya tidak akan banyak, namun dia tetap berjuang tanpa putus asa.

“Dan telah diwahyukan kepada Nuh bahwasanya tidak akan ada yang beriman di antara kaumnya kecuali orang-orang yang telah beriman (dari sebelumnya) maka janganlah kamu putus asa karena apa yang mereka lakukan.” (QS. Huud: 36)

Dari ayat ini kita bisa tahu bahwa Nabi Nuh  ‘Alaihissalam tidak akan banyak pengikut, tetapi dia terus mendakwahkan agama tauhid tanpa putus asa selama 950 tahun.

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, kemudian dia tinggal di antara mereka selama 950 tahun …” (QS. Al ’Ankabut: 14)

Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah mengalami penyiksaan yang amat memilukan selama tiga periode kepemimpinan khalifah yang berbeda yakni khalifah Al Makmun, Al Mu’tashim, dan Al Watsiq, demi mempertahankan aqidah yang benar bahwa Al Quran adalah  kalamullah (firman Allah), dan Al Quran bukan makhluk Allah sebagaimana keyakinan kelompok menyimpang  Mu’tazilah(ultra rasionalis).

Namun, akhirnya pada masa Al Watsiq beliau dibebaskan, bahkan khalifah ini mengakui kebenaran keyakinan Imam Ahmad bin Hambal dan mendukung dakwahnya.

Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani Rahimahullah menyusun kitab Fathul Bari selama 25 tahun. Kitab yang memberikan penjelasan terhadap hadits-hadits yang terdapat kitab Shahih Bukhari. Dan, kitab ini dinilai sebagai kitab terbaik dan terlengkap dalam bidangnya, khususnya dalam memberikan penjelasan (syarah) terhadap kitab hadits Shahih Bukhari.

Masih banyak contoh-contoh kesabaran orang-orang besar dan sukses selain mereka. Lalu, di manakah posisi kita di antara mereka?

Wallahu A’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Stop Ghibah

Antara Ghibah dan Dusta

Pemateri: Ust. Rikza Maulan Lc. MAg.

FENOMENA GHIBAH DAN DUSTA

Ghibah dan Dusta merupakan dua hal, yang hampir-hampir menjadi fenomena dalam lingkup kehidupan manusia. Seringkali, dimanapun manusia berkumpul dan berbicara, tidak luput dari dua hal ini, atau minimal dengan salah satunya.

Jika kita perhatikan di kantor, di pasar, di rumah, di kantin atau di manapun juga, baik laki-laki maupun perempuan, senantiasa minimal ghibah (baca; membicarakan orang lain) menjadi tema sentral pembicaraan mereka.

Padahal, Allah SWT memerintahkan kepada setiap insan untuk berkomunikasi  dan berbicara dengan baik. Dalam salah satu ayatnya Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا*  يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا*

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar (baik), niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta`ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.

Ayat di atas menggambar kan kepada kita, adanya korelasi yang kuat antara keimanan (baca; ketakwaan) dengan perkataan yang baik.

Seseorang yang memiliki keimanan yang baik, insya Allah secara otomatis akan berkomunikasi dan bertutur kata yang baik.

Sementara ghibah apalagi dusta termasuk dalam kategori perkataan yang tidak baik. Bahkan dusta masuk dalam kategori dosa-dosa besar.

ANTARA GHIBAH DAN DUSTA

Dari segi bahasa, ghibah berasal dari kata bahasa Arab ‘Ghaba’, yang berarti ghaib (baca; tidak tampak), atau tidak terlihat:

الغيبة لغة مشتق من فعل غاب أو الغيب، وهو كل ما غاب عن الإنسان

Oleh karena itulah, dari segi bahasa, ghibah berarti membicarakan orang lain yang ghaib (baca; yang tidak hadir) diantara orang yang sedang membicarakannya.
Baik pembicaraan tersebut mengenai hal-hal yang positif darinya, ataupun yang bersifat negatif.

Adapun dari segi istilah, GHIBAH adalah pembicaraan yang dilakukan seorang muslim mengenai saudaranya sesama muslim lainnya dalam hal-hal yang bersifat keburukan dan kejelekannya, atau hal-hal yang tidak disukainya.

Sedangkan DUSTA, adalah kita membicarakan sesuatu yang terdapat dalam diri seseorang yang sesungguhnya sesuatu itu tidak terdapat dalam diri saudara kita tersebut.

Sehingga dari sini, perbedaan antara ghibah dengan dusta terletak pada obyek pembicaraan yang kita lakukan. Dalam ghibah, yang kita bicarakan itu memang benar-benar ada dan melekat pada diri orang yang menjadi obyek pembicaraan kita. Sedangkan dalam dusta, sesuatu yang kita bicarakan tersebut, ternyata tidak terdapat pada diri seseorang yang kita bicarakan.

Hal ini secara jelas pernah digambarkan oleh Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Tahukah kalian, apakah itu ghibah?
Para sahabat menjawab, ‘Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.’

Rasulullah SAW bersabda, ‘engkau membicarakan sesuatu yang terdapat dalam diri saudaramu mengenai sesuatu yang tidak dia sukai.

Salah seorang sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah SAW, bagaimana pendapatmu jika yang aku bicarakan benar-benar ada pada diri saudaraku?

Rasulullah SAW menjawab, jika yang kau bicarakan ada pada diri saudaramu, maka engkau sungguh telah mengghibahinya. Sedangkan jika yang engkau bicarakan tidak terdapat pada diri saudaramu, maka engkau sungguh telah mendustakannya. (HR. Muslim)

DUSTA DAN GHIBAH DALAM PANDANGAN ISLAM

Baik ghibah maupun dusta, sesungguhnya merupakan perbuatan yang dilarang oleh Allah dan Rasulullah SAW .

Mengenai dusta, Dalam Al-Qur’an Allah berfirman (QS. 22: 30):

فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ*

‘Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.’

Bahkan dusta ini masuk dalam kategori dosa-dosa besar yang senantiasa harus dijauhi oleh setiap mu’min.

Dalam satu riwayat, Rasulullah SAW pernah mengatakan:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ قُلْنَا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فَقَالَ أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ فَمَا زَالَ يَقُولُهَا حَتَّى قُلْتُ لاَ يَسْكُتُ (رواه البخاري)

“Dari Abu Bakrah ra, Rasulullah SAW bersabda: ‘Maukah kalian aku beritahu tentang dosa-dosa yang paling besar diantara dosa-dosa besar?

Kami menjawab, tentu wahai Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW mengatakan, ‘Yaitu, menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua.’ Beliau berdiri, kemudian duduk, lalu mengatakan lagi, ‘dan perkataan dusta serta persaksian dusta.. perkataan dusta dan persaksian dusta..’

Beliau terus mengucapkan itu, hingga aku katakan bahwa beliau tidak berhenti mengucapkannya.” (HR. Bukhari)

Ayat-ayat dan hadits-hadits lainnya yang membicarakan masalah ghibah masih cukup banyak. Namun dari kedua dalil di atas, kita sudah dapat mengambil kesimpulan bahwa dusta merupakan perbuatan tercela yang dilarang oleh Allah dan Rasulullah SAW. Bahkan Rasulullah SAW secara langsung mengkategorikannya pada perbuatan dosa-dosa besar yang paling besar.

Sedangkan mengenai ghibah, sebagaimana dusta, banyak ayat-ayat maupun hadits-hadits yang melarangnya. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman dalam (QS. 49 : 12) :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ*

‘Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain.

Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.

Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.’

Dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda :

عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ مِنْ أَرْبَى الرِّبَا الاِسْتِطَالَةَ فِي عِرْضِ الْمُسْلِمِ بِغَيْرِ حَقٍّ (رواه أبو داود)

Dari Said bin Zaid ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya riba yang paling bahaya adalah berpanjang kalam dalam membicarakan (keburukan) seorang muslim dengan (cara) yang tidak benar. (HR. Abu Daud)

Kedua dalil di atas telah cukup menunjukkan kepada kita mengenai bahaya ghibah. Dalam ayat (QS. 49 : 12) Allah mengumpamakan ghibah seperti orang yang memakan daging saudaranya sendiri yang telah meninggal.

Sedangkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Rasulullah SAW mengumpamakannya dengan riba yang paling berat dan berbahaya.Oleh karena itulah, bagi setiap muslim harus berusaha secara maksimal untuk meninggalkan kedua penyakit lisan yang ternyata sangat berbahaya ini.

Kita dapat membayangkan, sekiranya setiap hari kita diumpamakan seperti menyantap makanan yang terbuat dari daging saudara kita sendiri ? Selain itu kita juga diumpakan selalu berinteraksi dengan riba yang paling berbahaya dan paling besar dosanya di sisi Allah SWT?

Na’udzu billah min dzalik.

Kondisi Diperbolehkannya Ghibah dan Dusta

Meskipun demikian, memang ada beberapa kondisi tertentu di mana kita diperbolehkan untuk dusta dan ghibah.

1. Kondisi Diperbolehkan nya Dusta

Dalam hadits dijelaskan oleh Rasulullah SAW mengenai beberapa keadaan dimana seseorang dihalalkan untuk berdusta, berdasarkan hadits berikut:

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيدَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، لاَ يَحِلُّ الْكَذِبُ إِلاَّ فِي ثَلاَثٍ يُحَدِّثُ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ لِيُرْضِيَهَا وَالْكَذِبُ فِي الْحَرْبِ وَالْكَذِبُ لِيُصْلِحَ بَيْنَ النَّاسِ (رواه الترمذى)

“Dari Asma’ binti Yazid ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: Dusta tidak diperkenankan melainkan dalam tiga hal; seorang suami berbicara kepada istrinya agar istrinya (lebih mencintainya), dusta dalam peperangan dan dusta untuk mendamaikan diantara manusia (yang sedang bertikai)” (HR. Turmudzi)

2. Kondisi Diperbolehkan nya Ghibah

Dr. Sayid Muhammad Nuh dalam Afat Ala al-Thariq (1996 : III/ 52) mengungkapkan ada enam hal, dimana seseorang diperbolehkan untuk ghibah, yaitu:

Tadzalum.

Yaitu orang yang teraniaya, kemudian mengadukan derita yang diterimanya kepada hakim, ulama dan penguasa agar dapat mengatasi problematika yang sedang dialaminya. Dalam pengaduan tersebut tentu ia akan menceritakan keburukan orang yang menganiaya dirinya. Dan hal seperti ini diperbolehkan. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman:

لاَ يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلاَّ مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا*

“Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Meminta bantuan untuk merubah kemungkaran & mengembalikan orang yang maksiat menjadi taat kepada Allah SWT, kepada orang yang dirasa mampu untuk melakukannya. Seperti ulama, ustadz atau psikolog.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda,
‘Barang siapa diantara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu, maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu maka dengan hatinya. (HR. Muslim).

Sementara meminta bantuan kepada orang yang lebih mampu, masuk dalam kategori merubah kemungkaran dengan lisan.

Meminta fatwa.

Seperti seseorang yang meminta fatwa kepada ulama dan ustadz, bahwa saudaraku misalnya mendzolimiku seperti ini, maka bagaimana hukumnya bagi diriku maupun bagi suadaraku tersebut.

Dalam salah satu riwayat pernah digambarkan, bahwa Hndun binti Utbah (istri Abu Sufyan) mengadu kepada Rasulullah SAW dan mengatakan, wahai Rasulullah SAW, suamiku adalah seorang yang bakhil. Dia tidak memberikan padaku uang yang cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga kami, kecuali yang aku ambil dari simpanannya dan dia tidak mengetahuinya. Apakah perbuatanku itu dosa ?

Rasulullah SAW menjawab, ambilah darinya sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhanmu dan anak-anakmu dengan cara yang baik (baca; ma’ruf)” (HR. Bukhari)

Peringatan terhadap keburukan atau bahaya.

Seperti ketika Fatimah binti Qais ra datang kepada Rasulullah SAW dan memberitahukan bahwa ada dua orang pemuda yang akan meminangnya, yaitu Muawiyah dan Abu Jahm.

Rasulullah SAW mengatakan, ‘Adapun Muawiyah, ia adalah seseorang yang sangat miskin, sedangkan Abu Jahm, adalah seseorang yang ringan tangan (suka memukul wanita).” (HR. Muslim)

Terhadap orang yang menampakkan kefasikan & kemaksiatannya, seperti minum khamer, berzina, judi, mencuri, dan membunuh.

Terhadap orang yang seperti ini kita boleh ghibah. Apalagi terhadap orang yang menampakkan permusuhannya kepada agama Islam dan kaum muslimin.

Untuk pengenalan.

Adakalanya seseorang telah dikenal dengan julukan tertentu yang terkesan negatif, seperti para periwayat hadits ada yang dikenal dengan sebutan A’masy (si rabun), A’raj (pincang), Asham (tuli), A’ma (buta) dsb. Mereka semua sangat dikenal dengan nama tersebut. Jika disebut nama lain bahkan banyak perawi lainnya yang kurang mengenalnya.

Meskipun demikian, tetap menggunakan nama aslinya adalah lebih baik. Bahkan jika dengan namanya tersebut dia telah dikenal, maka tidak boleh menggunakan julukan yang terkesan negatif.

Cara Untuk Menghindari Dusta dan Ghibah

Sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap penyakit tentu ada obatnya. Demikian juga dengan penyakit hati dan lisan, seperti dusta dan ghibah. Allah memberikan berbagai jalan untuk manusia agar dapat mengobati dirinya dari penyakit-penyakit seperti ini, diantaranya adalah:

1. Dengan meningkatkan rasa ‘muraqabatullah’ yaitu sebuah rasa dimana kita senantiasa tahu, bahwa Allah sangat mengetahui segala tindak tanduk yang kita lakukan, baik ketika seorang diri maupun di saat bersama-sama. Baik ketika orang yang kita bicarakan ada diantara kita ataupun tidak ada. Allah pasti mengetahuinya.

2. Meningkatkan keyakinan kita bahwa setiap orang yang kita bicarakan, pasti akan dimintai pertanggung jawabannya dari Allah SWT kelak. Dalam salah satu ayatnya, Allah berfirman (QS. 50 : 18) :

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ*

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.

3. Menahan emosi dan mencegah amarah. Karena keduanya merupakan faktor yang dapat membawa seseorang pada ghibah dan dusta.

4. Tabayun (baca; mengecek) terhadap informasi yang datang dari seseorang, sebelum membicarakannya pada orang lain.

Dalam Al-Qur’an Allah berfirman (QS. 49 : 6)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ*

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

5. Beramal & berusaha untuk dapat menciptakan suasana yang ‘Islami’, dilingkungan kerja, dirumah, di kantin dsb, dengan membuat kesepakatan dan ketauladanan untuk tidak membicarakan kejelekan orang lain, apalagi berbohong. Di samping itu juga keharusan adanya teguran, kepada orang yang secara sengaja atau tidak dalam membicarakan orang lain.

6. Jika kita merupakan orang yang menjadi obyek pembicaraan, kitapun harus menanggapinya dengan akhlak yang baik dan bijaksana. Kita mencek kembali, mengapa mereka membicarakan kita, siapa saksinya kemudian diselesaikan dengan baik.

7. Himbauan secara khusus kepada orang-orang yang menjadi panutan, baik dalam kantornya, masyarakatnya atau di mana saja, untuk menjauhi hal ini (ghibah dan dusta), supaya mereka yang berada di bawahnya dapat mencontoh. Karena apabila para panutan ini memberikan keteladanan yang buruk, maka para bawahannya pun akan mengikutinya.

8. Membiasakan diri untuk bertanya sesegera mungkin manakala melihat adanya fenomena seseorang yang berbuat sesuatu yang melanggar syariat, hingga kita tidak terjerumus pada keghibahan.

9. Mengajak umat secara keseluruhan untuk menghindari diri dari penyakit ini, dengan cara tidak membicarakan orang lain, tidak mendengarkan jika ada orang yang membicarakan orang lain, memberikan teguran dan lain sebagainya.

10. Mengingat-ingat kembali, tentang hukum dusta dan ghibah serta akibat yang akan ditimbulkan dari adanya hal seperti ini.

❤ PENUTUP

Kita yakin bahwa setiap insan pasti pernah terjerumus dalam perbuatan maksiat.
Dan kemasiatan yang paling mudah menjerumus kan setiap insan adalah maksiat mata dan maksiat lisan. Dan diatara kemasiatan lisan adalah dusta dan ghibah.

Padahal kedua kemaksiatan ini (ghibah dan dusta) adalah termasuk dalam kategori dosa-dosa besar.

Dusta, adalah dosa besar yang paling besar, yang disejajarkan dengan syirik dan durhaka pada orang tua.

Sementara ghibah Allah umpamakan seperti memakan bangkai saudara kita sendiri yang telah mati. Atau seperti orang yang melakukan riba yang paling berat dan berbahaya. Jadi betapa besarnya dosa kita jika setiap hari kita ‘menkonsumsi’ dusta dan ghibah ?

Oleh karena itulah, hendaknya kita memper baharui taubat kita kepada Allah SWT serta berjanji untuk tidak terjerumus kembali pada ghibah & dusta, semampu kita.

Apalagi jika kita merenungi bahwa salah satu sifat mu’min adalah sebagaimana yang digambarkan dalam hadits berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ (رواه البخاري)

Dari Abdullah bin Amru ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Seorang muslim adalah seseorang yang menjadikan muslim lainnya selamat (terjaga) dari lisan dan tanganya.

Sedangkan muhajir adalah orang yang meninggalkan sesuatu yang dilarang Allah SWT. (HR. Bukhari)

Wallahu A’lam Bis Shawab


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

sabar dan ikhlas

SABAR, AKHLAK KAUM BERIMAN

Pemateri: Dr. Wido Supraha

Sabar merupakan pancaran (dhiyaa-un, lihat Shahih Muslim No. 223) keshalihan kaum beriman, keunikan yang tidak ditemukan kecuali  pada kaum beriman saja. Oleh karenanya, sabar bukanlah karakter yang bisa hadir secara instan, akan tetapi buah dari ikatan iman yang tinggi dan latihan ibadah yang terus menerus. Maka kualitas kesabaran  pun akan terus meningkat seiring semakin istiqomah-nya frekuensi interaksi manusia kepada Sang Pencipta.

Berkata Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, bahwa sabar hukumnya wajib berdasarkan al-Qur’an, as-Sunnah, dan Ijma’ Ulama, begitupun akal sehat manusia, dalam kitabnya ash-Shabrul Jamiil fii Dhau-il Kitaab was Sunnah. Dalam pendapat yang senada, Syaikh Yusuf al-Qaradhawy menghubungkan sabar dengan nilai spiritual tertinggi dalam Islam, sehingga dengannya Al-Qur’an begitu memuji kedudukan dan status orang-orang yang sabar, bahkan menegaskan kaitannya sabar sebagai prasyarat kebaikan dunia dan akhirat, dalam kitabny ash-Shabru fil Qur’an.

Ketika Allah Swt memerintahkan kaum beriman untuk bersabar dan meneguhkan kesabarannya (Q.S. 3:200), maka sesungguhnya Allah Swt mewajibkan kaum beriman untuk sabar dalam keta’atan hanya kepadaNya, sabar dalam menjaga diri dari kemaksiatan yang tampak indah di dunia, sabar dalam wujud ridha atas qadha dan qadar-Nya, bahkan lebih jauh dari itu, kualitas sabar dalam upaya yang sungguh-sungguh untuk menjadi pemenang atas musuh-musuh mereka. Jangan sampai musuh-musuh mereka justeru lebih sabar daripada kaum beriman. Sabar yang seperti inilah yang akan membawa kaum beriman kepada keberuntungan. Ibn Katsir menjelaskan bahwa keberuntungan di dunia dan di akhirat akan diperoleh oleh mereka.

Kaum beriman belum layak mendapatkan kabar gembira dari Allah Swt. manakala begitu mudahnya mereka berputus asa dari kasih sayang Allah, padahal Allah baru sedikit saja memberikan rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan hasil usahanya atas diri mereka (Q.S. 2:155). Padahal Allah Swt. tidak suka dengan kaum yang cepat berputus asa, bahkan menyiapkan siksaan sebagai balasannya. Maka manakah yang akan dipilih oleh kaum beriman, apakah pahala Allah yang tidak memiliki batas (Q.S. 39:10) ataukah siksaNya. Sampai disini, kaum beriman diajarkan untuk terus optimis dalam hidupnya, terus berfikir positif untuk masa depan kaumnya.

Mintalah pertolongan Allah agar dimudahkan berkarakter sabar, dan iringi do’a tersebut dengan shalat (Q.S. 2:153), niscaya Allah akan bersama mereka senantiasa dalam suka dan dukanya. Kemampuan kaum beriman untuk sabar dalam seluruh dimensi kehidupan mereka dan seluruh pengalaman kehidupan mereka akan disaksikan oleh Allah Swt. dengan jelas sebagai bukti keberhasilan Allah menguji mereka siapa yang benar-benar berjihad dalam hidupnya dan sabar (Q.S. 47:31).

Keseriusan kaum beriman untuk memperhatikan kualitas sabar dalam diri mereka harus menjadi keniscayaan, karena Allah Swt pun tidak mengulang-ulang satu perkara dalam Al-Qur’an lebih sering kecuali ketika menyebut masalah sabar. Lebih dari 90 tempat dapat kita temukan dalam lembaran-lembaran suci tersebut. Oleh karenanya bekal kesabaran adalah bekal terbaik dalam mengarungi kehidupan yang sebentar ini.

Para Nabi dengan tingkat keshalihan jauh di atas kaum beriman adalah sosok-sosok yang paling berat tatkala mendapatkan cobaan begitupun tatkala sakaratul maut mereka. Begitupun di kalangan kaum beriman, semakin kuat keimanan seseorang, ujian untuk mereka jauh lebih berat. Seakan Allah ingin memastikan apakah layak setiap manusia menempati posisi terbaik di sisiNya  dengan cara menguji keimanannya.

Ketika sakit Nabi Saw. merasakan panas tinggi dua kali lipat keumuman di masanya (lihat kesaksian Ibn Mas’ud dalam Shahih Bukhari dan Muslim (No. 2571). Ketika menjelang sakaratul maut pun, Anas dan Fathimah menyaksikan bagaimana Nabi Saw. beberapa kali tidak sadarkan diri merasakan begitu beratnya sakit yang dirasa (Fathul Bari VIII/149). Namun begitu, seorang Nabi hanya memikirkan satu hal dalam setiap penderitaan yang dialaminya, yakni bagaimana kualitas sabar kaum beriman di kemudian hari? Bahkan kebanyakan para Nabi memberikan teladan mereka menghadapi kebodohan dengan maaf dan toleransi, bahkan tatkala darah membasahi wajah mereka akibat perlakuan kaumnya, mereka bermunajat kepada Allah, “Allaahummaghfir li qaumii, fa innahum laa ya’lamuun). Lihat Shahih Muslim No. 1792.

Menurut Nabi Saw., sejak masa dahulu, kaum beriman senantiasa sabar dalam mempertahankan kehormatan iman mereka meski nyawa mereka harus menjadi balasannya (Shahih Muslim No. 3005). Tidak hanya Nabi Isa a.s. yang diberikan keutamaan oleh Allah Swt. untuk dapat berbicara ketika bayi, akan tetapi seorang bayi dari kalangan Bani Israil pernah tercatat dalam sejarah mampu berbicara kepada ibunya, ketika ibunya ragu apakah harus menjaga kehormatan imannya dengan cara menerima hukuman raja berupa masuk ke dalam kubangan api, ataukah melepaskan keimanannya. Bayi itu berkata, “Yaa ummahushbirii fa innaki ‘alal haqqi”. Ia termasuk satu dari tiga bayi yang ditetapkan Allah dapat berbicara semasa buaian.

Allah begitu memuliakan praktik sabar kaum beriman, khususnya sabar pada kesempatan pertama kali mereka harus menentukan antara sabar atau putus asa.  Ash-shabru ‘inda shadmatil uula (lihat Shahih Muslim No. 926). Sabar seperti inilah yang akan membawa kaum beriman sebagai kaum terpuji, sabar yang hadir pada waktu yang tepat, sebagai wujud keikhlasan. Maka meninggalkan kesabaran berarti meninggalkan ketaqwaan.

Bagaimana respon kaum beriman ketika mendapatkan kenikmatan? Apakah ia langsung syukur? Bagaimana respon kaum beriman ketika mendapatkan kesusahan? Apakah ia langsung sabar?

Sebuah musibah tidak serta merta menyebabkan kaum beriman mendapatkan pahala, karena musibah bukanlah aktivitas manusia. Akan tetapi respon awal kaum beriman terhadap musibahlah, bersama kebaikan niat, keteguhan, kesabaran, dan keridhaannya, yang akan mengundang respon balik dari Allah Swt. Nabi Saw. menginginkan cara pandang penderitaan menjadi nikmat dan ujian menjadi anugerah untuk kandungan pahala dan kesudahan yang luar biasa. Lihat Shahih Muslim No. 2999.

Tatkala kaum beriman mendapatkan musibah, menangis, duka cita, adalah wujud kasih sayang yang diciptakan Allah Swt untuk setiap hamba-Nya yang lembut, dan tidak menafikan kesabaran seseorang. Kata Nabi Saw. terkait air mata yang mengalir di pipinya melihat cucunya, Ali bin Abu Al-‘Ash, dari putri tertuanya, Zainab, sekaligus anak gadis Khadijah,  sedang sakit keras dan berada dalam sakaratul maut, “Hadzihi rahmatun ja’alahallaahu ta’aala fii quluubi ‘ibaadihi”, “fii quluubi man syaa-a min ‘ibaadihi, wa innamaa yarhamullaahu min ‘ibaadihirruhamaa-a.” Namun, menangis sembari meratap, menjadi terlarang bagi kaum beriman, seakan mereka tidak ridha dengan ketetapan Allah Swt.

Surga menjadi janji Allah Swt. kepada kaum beriman yang mampu sabar tatkala yang dicintainya lepas dari sisinya, apakah kekasihnya selama di dunia, penglihatan matanya, sampai kesabarannya dalam menderita penyakit menular di suatu negeri (hingga harus dikarantina), hingga kalaupun ia mati, Allah menganugerakan syahid baginya, karena senantiasa sabar mengharapkan ridha Allah Swt. (Lihat Fathul Bari VI/513).

Terkadang manusia menganggap bahwa penyakit yang ditimpakan kepada mereka adalah wujud bahwa Allah Swt. tidak sayang kepada mereka, padahal bagi kaum beriman justeru sebaliknya, penyakit justeru nikmat dari Allah Swt., karena dengan penyakit yang diturunkan Allah Swt. mereka mendapatkan kesempatan untuk dihapuskan segala kesalahan mereka (lihat Shahih Muslim No. 2573), bahkan dosa-dosa mereka akan digugurkan Allah Swt. laksana gugurnya dedaunan pohon (lihat Shahih Muslim No. 2571). Maka kita saksikan bagaimana Nabi Ayub a.s. dalam do’anya ia tidak meminta kesembuhan atas penyakit yang begitu berat ia derita, justeru ia menguatkan kasih sayang Allah Swt. dalam do’anya. (Q.S. 38:41-44).

Justeru bagi kaum beriman mereka akan merasa gundah gulana manakala tidak pernah ditimpakan cobaan di dunia, karena mereka mengetahui bahwa ciri seseorang itu dikehendaki kebaikan oleh Allah Swt. adalah dengan ditimpakannya cobaan atas mereka. Allah akan menyegerakan hukuman di dunia bagi hamba yang dikehendakinya kebaikan dan akan menahan kepada mereka yang akan memikul hukumanNya di akhirat. Dengan ujian tersebut kaum beriman akan semakin tinggi derajat, akan semakin terangkat posisinya, dan terhapus segala dosanya. Taqwa dan sabar pula yang telah membawa Nabi Ya’qub a.s. dan Nabi Yusuf a.s. mendapatkan balasan kebahagiaan dalam hidupnya. Bahkan sebagian ulama mengakui bahwa kualitas kesabaran Nabi Yusuf a.s. lebih tinggi dari Nabi Ya’qub a.s. dan Nabi Ayub a.s. karena kesabaran Nabi Yusuf a.s. bersifat ikhtiari (ada pilihan tatkala bersama  isteri al-Aziz pada waktu dan tempat yang sangat mendukung untuknya bermaksiat kepada Allah Swt.), sementara yang lainnya bersifat idhthirari (tiada jalan lain kecuali menerimanya).

Kaum beriman pun dilarang mengharapkan kematian tatkala merasa tidak mampu menghadapi ujian kehidupan dan da’wah. Kalaupun terpaksa yang diizinkan adalah berdo’a mengharapkan keputusan terbaik dari Allah Swt. dengan bermunajat “Allaahumma ahyinii maa kaanatil hayaatu khairan lii wa tawaffanii idzaa kaanatil wafaatu khairan lii.” (Lihat Shahih Muslim No. 2680). Khabbab bin al-Aratt pun tidak berani meminta kematian karena teringat larangan Nabi Saw. ini, meskipun pada saat itu ia disiksa dengan besi panas hingga tujuh kali. Nabi Saw. pun menceritakan bagaimana siksaan atas kaum beriman di masa sebelumnya jauh lebih berat lagi, dimana ada yang digergaji kepalanya menjadi dua bagian, ada yang yang disisir di bagian bawah kulit dan tulangnya dengan sisir besi, namun itu tidak menggoyahkan sabar-nya kaum beriman, karena kelak akan ada masa dimana kaum beriman tidak akan pernah khawatir berjalan dari Shan’a di Damaskus  menuju Hadramaut, dalam arti kemenangan dakwah kaum beriman.

Harapan untuk tetap hidup adalah baik bagi kaum beriman karena dengannya ia tetap dalam melanjutkan amal-amal shalihnya, dan hal ini bukan berarti kaum beriman benci bertemu Allah Swt. dengan kematiannya. Justeru dengan kehidupan, kaum beriman belajar untuk terus optimis menata kehidupan dunia  bersama seruan-seruan suci mereka mengajak lebih banyak pengikut ke dalam golongan kaum beriman dengan sabar sebagai karakter dasar.

Dengan sabar, kaum beriman pun semakin cerdas dalam menata amarahnya agar tidak tercampuri godaan syiathan. Nabi Saw. berpesan kepada orang yang berada dalam kemarahan untuk mengucapkan A’udzubillaahi minasysyaithaanirrajiim (Lihat Shahih Muslim No. 2610 yang merujuk Q.S. 7:200). Mereka yang berhasil menata amarahnya sehingga bernilai kebaikan, kelak akan dipanggil Allah Swt. di hadapan sekalian makhluk, sembari dipersilahkan memilih bidadari Surga sekehendak hatinya. Subhanallah. ‘Janganlah marah’ menjadi satu nasihat penting Rasulullah dalam beberapa kesempatan beliau,

Dengan demikian pada akhirnya kaum beriman tersadarkan bahwa ternyata semua bentuk ujian dan cobaan di dunia ini pada akhirnya bertujuan mensucikan kaum beriman sehingga menghadap Allah Yang Maha Tinggi kelak tanpa membawa dosa (Lihat H.R. at-Tirmidzi No. 2399) dan bertemu dengan Rasulullah di al-Haudh (Lihat Shahih Muslim No. 1845).

Allaahumma munzilal kitaabi, wa mujriyassahaabi, wa hazimal ahzaabi, ihzimhum wanshurnaa ‘alaihim.

(wido@supraha.com)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678