sabar dan ikhlas

Meraih Indahnya Sabar

Pemateri: Ust. Farid Nu’man Hasan, SS.

Sabar Itu Indah

Sabar secara behasa bermakna Al Habsu (menahan) dan Al Kaffu (mencegah), lawan dari al jaz’u (keluh kesah). Jadi, sabar itu adalah menahan dan mencegah diri dari perbuatan yang tidak perlu.

Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah pernah mengatakan bahwa di surga hanya ada dua kelompok manusia; manusia yang bersyukur dan manusia yang bersabar.

Orang-orang sukses, dunia dan akhirat, salah satu kuncinya oleh kesabaran.

Lihatlah betapa sabarnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya dalam mendakwahkan Islam di Jazirah Arab. Walau tantangan, ancaman, pengusiran, bahkan percobaan pembunuhan sudah berkali-kali dirasakannya ketika tiga belas tahun dakwah di Mekkah, akhirnya Allah Ta’ala menangkan dakwah Islam karena buah kesabaran Beliau dan para sahabatnya.

Sabar memang berat. Oleh karena itu, Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah memasukkan sabar dalam menuntut ilmu, sabar dalam menghafalkan ilmu, dan sabar dalam menyampaikan ilmu adalah termasuk jihad fisabilillah.

Maka, dari sini kita bisa mengetahui bahwa
* sabar bukanlah kelemahan, justru sabar adalah kekuatan,
* sabar bukan kelesuan tetapi dia adalah gairah hidup,
* sabar bukan kecengengan tetapi dia adalah ketegaran,
* sabar bukanlah pesimis tetapi dia adalah optimis, dan
* sabar bukanlah diam membisu tetapi dia adalah pantang menyerah.

Dan, orang sabar bukan sekedar yang tidak menangis ketika mendapatkan musibah, bukan pula sekedar tidak mengeluh ketika tertimpa kesulitan, sebab itu barulah tahapan awal kesabaran.

Allah Ta’ala berfirman:

وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (QS. Ali Imran (3): 146)

Sabar Itu Dapat Mengantarkan Pada Derajat Hamba Terbaik

Dengan sabar, seseorang dapat menjadikan dirinya sebagai manusia terbaik di sisi Allah Ta’ala. Hal ini seperti yang difirmankanNya:

إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ

 Sesungguhnya Kami dapati Dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah Sebaik-baik hamba. Sesungguhnya Dia Amat taat (kepada Tuhan-nya). (QS. Shad: 44)

Sabar itu Pada Pukulan Yang Pertama

Ya, sabar yang benar adalah terjadi pada reaksi awal dari musibah.

Bukanlah sabar jika seseorang marah, meratap, dan menyesali musibah yang menimpanya, barulah dia bisa bersabar setelah beberapa lama musibah itu. Ini bukan sabar yang benar.

Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersaba:

الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى

“Sabar adalah pada hantaman yang pertama.” (HR. Bukhari No. 1223)

Dibalik Sabar Ada Kemenangan

Ini adalah janji Allah Ta’ala kepada hamba-hambaNya yang bersabar. Dan, janjiNya adalah benar.

Namun jangan lupa, sabar juga bukan kekuatan tanpa perhitungan, sabar bukan ketegaran tanpa tujuan, sabar bukan pesimis tanpa arahan, sabar bukanlah gerak pantang menyerah namun tanpa pemikiran yang matang. Tidak demikian. Tetapi sabar adalah berpadunya kekuatan dan perhitungan, ketegaran dan tujuan, optimis dan arahan, gerak pantang menyerah dan pemikiran matang, maka tunggulah kemenangan yang Allah Ta’ala janjikan.

Perhatikan firman Allah Ta’ala berikut:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَفْقَهُونَ (65) الآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا فَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ أَلْفٌ يَغْلِبُوا أَلْفَيْنِ بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ (66) }

Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh.

Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.

Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al Anfal (8): 65-66)

Maka, Maha Benar Allah ketika berfirman:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلا عَلَى الْخَاشِعِينَ

 Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. (QS. Al Baqarah (2): 45)

Ya, orang sabar akan menjadi pemenang, bagaimana mungkin mereka kalah padahal Allah Ta’ala bersama mereka? Innallaha ma’ash shaabiriin (sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar)…

Beginilah Kesabaran Mereka

Nabi Nuh ‘Alaihissalam  menyebarkan dakwah tauhid dalam waktu 950 tahun, walau dia tahu pengikutnya tidak akan banyak, namun dia tetap berjuang tanpa putus asa.

“Dan telah diwahyukan kepada Nuh bahwasanya tidak akan ada yang beriman di antara kaumnya kecuali orang-orang yang telah beriman (dari sebelumnya) maka janganlah kamu putus asa karena apa yang mereka lakukan.” (QS. Huud: 36)

Dari ayat ini kita bisa tahu bahwa Nabi Nuh  ‘Alaihissalam tidak akan banyak pengikut, tetapi dia terus mendakwahkan agama tauhid tanpa putus asa selama 950 tahun.

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, kemudian dia tinggal di antara mereka selama 950 tahun …” (QS. Al ’Ankabut: 14)

Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah mengalami penyiksaan yang amat memilukan selama tiga periode kepemimpinan khalifah yang berbeda yakni khalifah Al Makmun, Al Mu’tashim, dan Al Watsiq, demi mempertahankan aqidah yang benar bahwa Al Quran adalah  kalamullah (firman Allah), dan Al Quran bukan makhluk Allah sebagaimana keyakinan kelompok menyimpang  Mu’tazilah(ultra rasionalis).

Namun, akhirnya pada masa Al Watsiq beliau dibebaskan, bahkan khalifah ini mengakui kebenaran keyakinan Imam Ahmad bin Hambal dan mendukung dakwahnya.

Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani Rahimahullah menyusun kitab Fathul Bari selama 25 tahun. Kitab yang memberikan penjelasan terhadap hadits-hadits yang terdapat kitab Shahih Bukhari. Dan, kitab ini dinilai sebagai kitab terbaik dan terlengkap dalam bidangnya, khususnya dalam memberikan penjelasan (syarah) terhadap kitab hadits Shahih Bukhari.

Masih banyak contoh-contoh kesabaran orang-orang besar dan sukses selain mereka. Lalu, di manakah posisi kita di antara mereka?

Wallahu A’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Stop Ghibah

Antara Ghibah dan Dusta

Pemateri: Ust. Rikza Maulan Lc. MAg.

FENOMENA GHIBAH DAN DUSTA

Ghibah dan Dusta merupakan dua hal, yang hampir-hampir menjadi fenomena dalam lingkup kehidupan manusia. Seringkali, dimanapun manusia berkumpul dan berbicara, tidak luput dari dua hal ini, atau minimal dengan salah satunya.

Jika kita perhatikan di kantor, di pasar, di rumah, di kantin atau di manapun juga, baik laki-laki maupun perempuan, senantiasa minimal ghibah (baca; membicarakan orang lain) menjadi tema sentral pembicaraan mereka.

Padahal, Allah SWT memerintahkan kepada setiap insan untuk berkomunikasi  dan berbicara dengan baik. Dalam salah satu ayatnya Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا*  يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا*

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar (baik), niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta`ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.

Ayat di atas menggambar kan kepada kita, adanya korelasi yang kuat antara keimanan (baca; ketakwaan) dengan perkataan yang baik.

Seseorang yang memiliki keimanan yang baik, insya Allah secara otomatis akan berkomunikasi dan bertutur kata yang baik.

Sementara ghibah apalagi dusta termasuk dalam kategori perkataan yang tidak baik. Bahkan dusta masuk dalam kategori dosa-dosa besar.

ANTARA GHIBAH DAN DUSTA

Dari segi bahasa, ghibah berasal dari kata bahasa Arab ‘Ghaba’, yang berarti ghaib (baca; tidak tampak), atau tidak terlihat:

الغيبة لغة مشتق من فعل غاب أو الغيب، وهو كل ما غاب عن الإنسان

Oleh karena itulah, dari segi bahasa, ghibah berarti membicarakan orang lain yang ghaib (baca; yang tidak hadir) diantara orang yang sedang membicarakannya.
Baik pembicaraan tersebut mengenai hal-hal yang positif darinya, ataupun yang bersifat negatif.

Adapun dari segi istilah, GHIBAH adalah pembicaraan yang dilakukan seorang muslim mengenai saudaranya sesama muslim lainnya dalam hal-hal yang bersifat keburukan dan kejelekannya, atau hal-hal yang tidak disukainya.

Sedangkan DUSTA, adalah kita membicarakan sesuatu yang terdapat dalam diri seseorang yang sesungguhnya sesuatu itu tidak terdapat dalam diri saudara kita tersebut.

Sehingga dari sini, perbedaan antara ghibah dengan dusta terletak pada obyek pembicaraan yang kita lakukan. Dalam ghibah, yang kita bicarakan itu memang benar-benar ada dan melekat pada diri orang yang menjadi obyek pembicaraan kita. Sedangkan dalam dusta, sesuatu yang kita bicarakan tersebut, ternyata tidak terdapat pada diri seseorang yang kita bicarakan.

Hal ini secara jelas pernah digambarkan oleh Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Tahukah kalian, apakah itu ghibah?
Para sahabat menjawab, ‘Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.’

Rasulullah SAW bersabda, ‘engkau membicarakan sesuatu yang terdapat dalam diri saudaramu mengenai sesuatu yang tidak dia sukai.

Salah seorang sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah SAW, bagaimana pendapatmu jika yang aku bicarakan benar-benar ada pada diri saudaraku?

Rasulullah SAW menjawab, jika yang kau bicarakan ada pada diri saudaramu, maka engkau sungguh telah mengghibahinya. Sedangkan jika yang engkau bicarakan tidak terdapat pada diri saudaramu, maka engkau sungguh telah mendustakannya. (HR. Muslim)

DUSTA DAN GHIBAH DALAM PANDANGAN ISLAM

Baik ghibah maupun dusta, sesungguhnya merupakan perbuatan yang dilarang oleh Allah dan Rasulullah SAW .

Mengenai dusta, Dalam Al-Qur’an Allah berfirman (QS. 22: 30):

فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ*

‘Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.’

Bahkan dusta ini masuk dalam kategori dosa-dosa besar yang senantiasa harus dijauhi oleh setiap mu’min.

Dalam satu riwayat, Rasulullah SAW pernah mengatakan:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ قُلْنَا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فَقَالَ أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ فَمَا زَالَ يَقُولُهَا حَتَّى قُلْتُ لاَ يَسْكُتُ (رواه البخاري)

“Dari Abu Bakrah ra, Rasulullah SAW bersabda: ‘Maukah kalian aku beritahu tentang dosa-dosa yang paling besar diantara dosa-dosa besar?

Kami menjawab, tentu wahai Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW mengatakan, ‘Yaitu, menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua.’ Beliau berdiri, kemudian duduk, lalu mengatakan lagi, ‘dan perkataan dusta serta persaksian dusta.. perkataan dusta dan persaksian dusta..’

Beliau terus mengucapkan itu, hingga aku katakan bahwa beliau tidak berhenti mengucapkannya.” (HR. Bukhari)

Ayat-ayat dan hadits-hadits lainnya yang membicarakan masalah ghibah masih cukup banyak. Namun dari kedua dalil di atas, kita sudah dapat mengambil kesimpulan bahwa dusta merupakan perbuatan tercela yang dilarang oleh Allah dan Rasulullah SAW. Bahkan Rasulullah SAW secara langsung mengkategorikannya pada perbuatan dosa-dosa besar yang paling besar.

Sedangkan mengenai ghibah, sebagaimana dusta, banyak ayat-ayat maupun hadits-hadits yang melarangnya. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman dalam (QS. 49 : 12) :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ*

‘Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain.

Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.

Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.’

Dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda :

عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ مِنْ أَرْبَى الرِّبَا الاِسْتِطَالَةَ فِي عِرْضِ الْمُسْلِمِ بِغَيْرِ حَقٍّ (رواه أبو داود)

Dari Said bin Zaid ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya riba yang paling bahaya adalah berpanjang kalam dalam membicarakan (keburukan) seorang muslim dengan (cara) yang tidak benar. (HR. Abu Daud)

Kedua dalil di atas telah cukup menunjukkan kepada kita mengenai bahaya ghibah. Dalam ayat (QS. 49 : 12) Allah mengumpamakan ghibah seperti orang yang memakan daging saudaranya sendiri yang telah meninggal.

Sedangkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Rasulullah SAW mengumpamakannya dengan riba yang paling berat dan berbahaya.Oleh karena itulah, bagi setiap muslim harus berusaha secara maksimal untuk meninggalkan kedua penyakit lisan yang ternyata sangat berbahaya ini.

Kita dapat membayangkan, sekiranya setiap hari kita diumpamakan seperti menyantap makanan yang terbuat dari daging saudara kita sendiri ? Selain itu kita juga diumpakan selalu berinteraksi dengan riba yang paling berbahaya dan paling besar dosanya di sisi Allah SWT?

Na’udzu billah min dzalik.

Kondisi Diperbolehkannya Ghibah dan Dusta

Meskipun demikian, memang ada beberapa kondisi tertentu di mana kita diperbolehkan untuk dusta dan ghibah.

1. Kondisi Diperbolehkan nya Dusta

Dalam hadits dijelaskan oleh Rasulullah SAW mengenai beberapa keadaan dimana seseorang dihalalkan untuk berdusta, berdasarkan hadits berikut:

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيدَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، لاَ يَحِلُّ الْكَذِبُ إِلاَّ فِي ثَلاَثٍ يُحَدِّثُ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ لِيُرْضِيَهَا وَالْكَذِبُ فِي الْحَرْبِ وَالْكَذِبُ لِيُصْلِحَ بَيْنَ النَّاسِ (رواه الترمذى)

“Dari Asma’ binti Yazid ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: Dusta tidak diperkenankan melainkan dalam tiga hal; seorang suami berbicara kepada istrinya agar istrinya (lebih mencintainya), dusta dalam peperangan dan dusta untuk mendamaikan diantara manusia (yang sedang bertikai)” (HR. Turmudzi)

2. Kondisi Diperbolehkan nya Ghibah

Dr. Sayid Muhammad Nuh dalam Afat Ala al-Thariq (1996 : III/ 52) mengungkapkan ada enam hal, dimana seseorang diperbolehkan untuk ghibah, yaitu:

Tadzalum.

Yaitu orang yang teraniaya, kemudian mengadukan derita yang diterimanya kepada hakim, ulama dan penguasa agar dapat mengatasi problematika yang sedang dialaminya. Dalam pengaduan tersebut tentu ia akan menceritakan keburukan orang yang menganiaya dirinya. Dan hal seperti ini diperbolehkan. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman:

لاَ يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلاَّ مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا*

“Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Meminta bantuan untuk merubah kemungkaran & mengembalikan orang yang maksiat menjadi taat kepada Allah SWT, kepada orang yang dirasa mampu untuk melakukannya. Seperti ulama, ustadz atau psikolog.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda,
‘Barang siapa diantara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu, maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu maka dengan hatinya. (HR. Muslim).

Sementara meminta bantuan kepada orang yang lebih mampu, masuk dalam kategori merubah kemungkaran dengan lisan.

Meminta fatwa.

Seperti seseorang yang meminta fatwa kepada ulama dan ustadz, bahwa saudaraku misalnya mendzolimiku seperti ini, maka bagaimana hukumnya bagi diriku maupun bagi suadaraku tersebut.

Dalam salah satu riwayat pernah digambarkan, bahwa Hndun binti Utbah (istri Abu Sufyan) mengadu kepada Rasulullah SAW dan mengatakan, wahai Rasulullah SAW, suamiku adalah seorang yang bakhil. Dia tidak memberikan padaku uang yang cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga kami, kecuali yang aku ambil dari simpanannya dan dia tidak mengetahuinya. Apakah perbuatanku itu dosa ?

Rasulullah SAW menjawab, ambilah darinya sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhanmu dan anak-anakmu dengan cara yang baik (baca; ma’ruf)” (HR. Bukhari)

Peringatan terhadap keburukan atau bahaya.

Seperti ketika Fatimah binti Qais ra datang kepada Rasulullah SAW dan memberitahukan bahwa ada dua orang pemuda yang akan meminangnya, yaitu Muawiyah dan Abu Jahm.

Rasulullah SAW mengatakan, ‘Adapun Muawiyah, ia adalah seseorang yang sangat miskin, sedangkan Abu Jahm, adalah seseorang yang ringan tangan (suka memukul wanita).” (HR. Muslim)

Terhadap orang yang menampakkan kefasikan & kemaksiatannya, seperti minum khamer, berzina, judi, mencuri, dan membunuh.

Terhadap orang yang seperti ini kita boleh ghibah. Apalagi terhadap orang yang menampakkan permusuhannya kepada agama Islam dan kaum muslimin.

Untuk pengenalan.

Adakalanya seseorang telah dikenal dengan julukan tertentu yang terkesan negatif, seperti para periwayat hadits ada yang dikenal dengan sebutan A’masy (si rabun), A’raj (pincang), Asham (tuli), A’ma (buta) dsb. Mereka semua sangat dikenal dengan nama tersebut. Jika disebut nama lain bahkan banyak perawi lainnya yang kurang mengenalnya.

Meskipun demikian, tetap menggunakan nama aslinya adalah lebih baik. Bahkan jika dengan namanya tersebut dia telah dikenal, maka tidak boleh menggunakan julukan yang terkesan negatif.

Cara Untuk Menghindari Dusta dan Ghibah

Sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap penyakit tentu ada obatnya. Demikian juga dengan penyakit hati dan lisan, seperti dusta dan ghibah. Allah memberikan berbagai jalan untuk manusia agar dapat mengobati dirinya dari penyakit-penyakit seperti ini, diantaranya adalah:

1. Dengan meningkatkan rasa ‘muraqabatullah’ yaitu sebuah rasa dimana kita senantiasa tahu, bahwa Allah sangat mengetahui segala tindak tanduk yang kita lakukan, baik ketika seorang diri maupun di saat bersama-sama. Baik ketika orang yang kita bicarakan ada diantara kita ataupun tidak ada. Allah pasti mengetahuinya.

2. Meningkatkan keyakinan kita bahwa setiap orang yang kita bicarakan, pasti akan dimintai pertanggung jawabannya dari Allah SWT kelak. Dalam salah satu ayatnya, Allah berfirman (QS. 50 : 18) :

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ*

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.

3. Menahan emosi dan mencegah amarah. Karena keduanya merupakan faktor yang dapat membawa seseorang pada ghibah dan dusta.

4. Tabayun (baca; mengecek) terhadap informasi yang datang dari seseorang, sebelum membicarakannya pada orang lain.

Dalam Al-Qur’an Allah berfirman (QS. 49 : 6)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ*

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

5. Beramal & berusaha untuk dapat menciptakan suasana yang ‘Islami’, dilingkungan kerja, dirumah, di kantin dsb, dengan membuat kesepakatan dan ketauladanan untuk tidak membicarakan kejelekan orang lain, apalagi berbohong. Di samping itu juga keharusan adanya teguran, kepada orang yang secara sengaja atau tidak dalam membicarakan orang lain.

6. Jika kita merupakan orang yang menjadi obyek pembicaraan, kitapun harus menanggapinya dengan akhlak yang baik dan bijaksana. Kita mencek kembali, mengapa mereka membicarakan kita, siapa saksinya kemudian diselesaikan dengan baik.

7. Himbauan secara khusus kepada orang-orang yang menjadi panutan, baik dalam kantornya, masyarakatnya atau di mana saja, untuk menjauhi hal ini (ghibah dan dusta), supaya mereka yang berada di bawahnya dapat mencontoh. Karena apabila para panutan ini memberikan keteladanan yang buruk, maka para bawahannya pun akan mengikutinya.

8. Membiasakan diri untuk bertanya sesegera mungkin manakala melihat adanya fenomena seseorang yang berbuat sesuatu yang melanggar syariat, hingga kita tidak terjerumus pada keghibahan.

9. Mengajak umat secara keseluruhan untuk menghindari diri dari penyakit ini, dengan cara tidak membicarakan orang lain, tidak mendengarkan jika ada orang yang membicarakan orang lain, memberikan teguran dan lain sebagainya.

10. Mengingat-ingat kembali, tentang hukum dusta dan ghibah serta akibat yang akan ditimbulkan dari adanya hal seperti ini.

❤ PENUTUP

Kita yakin bahwa setiap insan pasti pernah terjerumus dalam perbuatan maksiat.
Dan kemasiatan yang paling mudah menjerumus kan setiap insan adalah maksiat mata dan maksiat lisan. Dan diatara kemasiatan lisan adalah dusta dan ghibah.

Padahal kedua kemaksiatan ini (ghibah dan dusta) adalah termasuk dalam kategori dosa-dosa besar.

Dusta, adalah dosa besar yang paling besar, yang disejajarkan dengan syirik dan durhaka pada orang tua.

Sementara ghibah Allah umpamakan seperti memakan bangkai saudara kita sendiri yang telah mati. Atau seperti orang yang melakukan riba yang paling berat dan berbahaya. Jadi betapa besarnya dosa kita jika setiap hari kita ‘menkonsumsi’ dusta dan ghibah ?

Oleh karena itulah, hendaknya kita memper baharui taubat kita kepada Allah SWT serta berjanji untuk tidak terjerumus kembali pada ghibah & dusta, semampu kita.

Apalagi jika kita merenungi bahwa salah satu sifat mu’min adalah sebagaimana yang digambarkan dalam hadits berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ (رواه البخاري)

Dari Abdullah bin Amru ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Seorang muslim adalah seseorang yang menjadikan muslim lainnya selamat (terjaga) dari lisan dan tanganya.

Sedangkan muhajir adalah orang yang meninggalkan sesuatu yang dilarang Allah SWT. (HR. Bukhari)

Wallahu A’lam Bis Shawab


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

sabar dan ikhlas

SABAR, AKHLAK KAUM BERIMAN

Pemateri: Dr. Wido Supraha

Sabar merupakan pancaran (dhiyaa-un, lihat Shahih Muslim No. 223) keshalihan kaum beriman, keunikan yang tidak ditemukan kecuali  pada kaum beriman saja. Oleh karenanya, sabar bukanlah karakter yang bisa hadir secara instan, akan tetapi buah dari ikatan iman yang tinggi dan latihan ibadah yang terus menerus. Maka kualitas kesabaran  pun akan terus meningkat seiring semakin istiqomah-nya frekuensi interaksi manusia kepada Sang Pencipta.

Berkata Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, bahwa sabar hukumnya wajib berdasarkan al-Qur’an, as-Sunnah, dan Ijma’ Ulama, begitupun akal sehat manusia, dalam kitabnya ash-Shabrul Jamiil fii Dhau-il Kitaab was Sunnah. Dalam pendapat yang senada, Syaikh Yusuf al-Qaradhawy menghubungkan sabar dengan nilai spiritual tertinggi dalam Islam, sehingga dengannya Al-Qur’an begitu memuji kedudukan dan status orang-orang yang sabar, bahkan menegaskan kaitannya sabar sebagai prasyarat kebaikan dunia dan akhirat, dalam kitabny ash-Shabru fil Qur’an.

Ketika Allah Swt memerintahkan kaum beriman untuk bersabar dan meneguhkan kesabarannya (Q.S. 3:200), maka sesungguhnya Allah Swt mewajibkan kaum beriman untuk sabar dalam keta’atan hanya kepadaNya, sabar dalam menjaga diri dari kemaksiatan yang tampak indah di dunia, sabar dalam wujud ridha atas qadha dan qadar-Nya, bahkan lebih jauh dari itu, kualitas sabar dalam upaya yang sungguh-sungguh untuk menjadi pemenang atas musuh-musuh mereka. Jangan sampai musuh-musuh mereka justeru lebih sabar daripada kaum beriman. Sabar yang seperti inilah yang akan membawa kaum beriman kepada keberuntungan. Ibn Katsir menjelaskan bahwa keberuntungan di dunia dan di akhirat akan diperoleh oleh mereka.

Kaum beriman belum layak mendapatkan kabar gembira dari Allah Swt. manakala begitu mudahnya mereka berputus asa dari kasih sayang Allah, padahal Allah baru sedikit saja memberikan rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan hasil usahanya atas diri mereka (Q.S. 2:155). Padahal Allah Swt. tidak suka dengan kaum yang cepat berputus asa, bahkan menyiapkan siksaan sebagai balasannya. Maka manakah yang akan dipilih oleh kaum beriman, apakah pahala Allah yang tidak memiliki batas (Q.S. 39:10) ataukah siksaNya. Sampai disini, kaum beriman diajarkan untuk terus optimis dalam hidupnya, terus berfikir positif untuk masa depan kaumnya.

Mintalah pertolongan Allah agar dimudahkan berkarakter sabar, dan iringi do’a tersebut dengan shalat (Q.S. 2:153), niscaya Allah akan bersama mereka senantiasa dalam suka dan dukanya. Kemampuan kaum beriman untuk sabar dalam seluruh dimensi kehidupan mereka dan seluruh pengalaman kehidupan mereka akan disaksikan oleh Allah Swt. dengan jelas sebagai bukti keberhasilan Allah menguji mereka siapa yang benar-benar berjihad dalam hidupnya dan sabar (Q.S. 47:31).

Keseriusan kaum beriman untuk memperhatikan kualitas sabar dalam diri mereka harus menjadi keniscayaan, karena Allah Swt pun tidak mengulang-ulang satu perkara dalam Al-Qur’an lebih sering kecuali ketika menyebut masalah sabar. Lebih dari 90 tempat dapat kita temukan dalam lembaran-lembaran suci tersebut. Oleh karenanya bekal kesabaran adalah bekal terbaik dalam mengarungi kehidupan yang sebentar ini.

Para Nabi dengan tingkat keshalihan jauh di atas kaum beriman adalah sosok-sosok yang paling berat tatkala mendapatkan cobaan begitupun tatkala sakaratul maut mereka. Begitupun di kalangan kaum beriman, semakin kuat keimanan seseorang, ujian untuk mereka jauh lebih berat. Seakan Allah ingin memastikan apakah layak setiap manusia menempati posisi terbaik di sisiNya  dengan cara menguji keimanannya.

Ketika sakit Nabi Saw. merasakan panas tinggi dua kali lipat keumuman di masanya (lihat kesaksian Ibn Mas’ud dalam Shahih Bukhari dan Muslim (No. 2571). Ketika menjelang sakaratul maut pun, Anas dan Fathimah menyaksikan bagaimana Nabi Saw. beberapa kali tidak sadarkan diri merasakan begitu beratnya sakit yang dirasa (Fathul Bari VIII/149). Namun begitu, seorang Nabi hanya memikirkan satu hal dalam setiap penderitaan yang dialaminya, yakni bagaimana kualitas sabar kaum beriman di kemudian hari? Bahkan kebanyakan para Nabi memberikan teladan mereka menghadapi kebodohan dengan maaf dan toleransi, bahkan tatkala darah membasahi wajah mereka akibat perlakuan kaumnya, mereka bermunajat kepada Allah, “Allaahummaghfir li qaumii, fa innahum laa ya’lamuun). Lihat Shahih Muslim No. 1792.

Menurut Nabi Saw., sejak masa dahulu, kaum beriman senantiasa sabar dalam mempertahankan kehormatan iman mereka meski nyawa mereka harus menjadi balasannya (Shahih Muslim No. 3005). Tidak hanya Nabi Isa a.s. yang diberikan keutamaan oleh Allah Swt. untuk dapat berbicara ketika bayi, akan tetapi seorang bayi dari kalangan Bani Israil pernah tercatat dalam sejarah mampu berbicara kepada ibunya, ketika ibunya ragu apakah harus menjaga kehormatan imannya dengan cara menerima hukuman raja berupa masuk ke dalam kubangan api, ataukah melepaskan keimanannya. Bayi itu berkata, “Yaa ummahushbirii fa innaki ‘alal haqqi”. Ia termasuk satu dari tiga bayi yang ditetapkan Allah dapat berbicara semasa buaian.

Allah begitu memuliakan praktik sabar kaum beriman, khususnya sabar pada kesempatan pertama kali mereka harus menentukan antara sabar atau putus asa.  Ash-shabru ‘inda shadmatil uula (lihat Shahih Muslim No. 926). Sabar seperti inilah yang akan membawa kaum beriman sebagai kaum terpuji, sabar yang hadir pada waktu yang tepat, sebagai wujud keikhlasan. Maka meninggalkan kesabaran berarti meninggalkan ketaqwaan.

Bagaimana respon kaum beriman ketika mendapatkan kenikmatan? Apakah ia langsung syukur? Bagaimana respon kaum beriman ketika mendapatkan kesusahan? Apakah ia langsung sabar?

Sebuah musibah tidak serta merta menyebabkan kaum beriman mendapatkan pahala, karena musibah bukanlah aktivitas manusia. Akan tetapi respon awal kaum beriman terhadap musibahlah, bersama kebaikan niat, keteguhan, kesabaran, dan keridhaannya, yang akan mengundang respon balik dari Allah Swt. Nabi Saw. menginginkan cara pandang penderitaan menjadi nikmat dan ujian menjadi anugerah untuk kandungan pahala dan kesudahan yang luar biasa. Lihat Shahih Muslim No. 2999.

Tatkala kaum beriman mendapatkan musibah, menangis, duka cita, adalah wujud kasih sayang yang diciptakan Allah Swt untuk setiap hamba-Nya yang lembut, dan tidak menafikan kesabaran seseorang. Kata Nabi Saw. terkait air mata yang mengalir di pipinya melihat cucunya, Ali bin Abu Al-‘Ash, dari putri tertuanya, Zainab, sekaligus anak gadis Khadijah,  sedang sakit keras dan berada dalam sakaratul maut, “Hadzihi rahmatun ja’alahallaahu ta’aala fii quluubi ‘ibaadihi”, “fii quluubi man syaa-a min ‘ibaadihi, wa innamaa yarhamullaahu min ‘ibaadihirruhamaa-a.” Namun, menangis sembari meratap, menjadi terlarang bagi kaum beriman, seakan mereka tidak ridha dengan ketetapan Allah Swt.

Surga menjadi janji Allah Swt. kepada kaum beriman yang mampu sabar tatkala yang dicintainya lepas dari sisinya, apakah kekasihnya selama di dunia, penglihatan matanya, sampai kesabarannya dalam menderita penyakit menular di suatu negeri (hingga harus dikarantina), hingga kalaupun ia mati, Allah menganugerakan syahid baginya, karena senantiasa sabar mengharapkan ridha Allah Swt. (Lihat Fathul Bari VI/513).

Terkadang manusia menganggap bahwa penyakit yang ditimpakan kepada mereka adalah wujud bahwa Allah Swt. tidak sayang kepada mereka, padahal bagi kaum beriman justeru sebaliknya, penyakit justeru nikmat dari Allah Swt., karena dengan penyakit yang diturunkan Allah Swt. mereka mendapatkan kesempatan untuk dihapuskan segala kesalahan mereka (lihat Shahih Muslim No. 2573), bahkan dosa-dosa mereka akan digugurkan Allah Swt. laksana gugurnya dedaunan pohon (lihat Shahih Muslim No. 2571). Maka kita saksikan bagaimana Nabi Ayub a.s. dalam do’anya ia tidak meminta kesembuhan atas penyakit yang begitu berat ia derita, justeru ia menguatkan kasih sayang Allah Swt. dalam do’anya. (Q.S. 38:41-44).

Justeru bagi kaum beriman mereka akan merasa gundah gulana manakala tidak pernah ditimpakan cobaan di dunia, karena mereka mengetahui bahwa ciri seseorang itu dikehendaki kebaikan oleh Allah Swt. adalah dengan ditimpakannya cobaan atas mereka. Allah akan menyegerakan hukuman di dunia bagi hamba yang dikehendakinya kebaikan dan akan menahan kepada mereka yang akan memikul hukumanNya di akhirat. Dengan ujian tersebut kaum beriman akan semakin tinggi derajat, akan semakin terangkat posisinya, dan terhapus segala dosanya. Taqwa dan sabar pula yang telah membawa Nabi Ya’qub a.s. dan Nabi Yusuf a.s. mendapatkan balasan kebahagiaan dalam hidupnya. Bahkan sebagian ulama mengakui bahwa kualitas kesabaran Nabi Yusuf a.s. lebih tinggi dari Nabi Ya’qub a.s. dan Nabi Ayub a.s. karena kesabaran Nabi Yusuf a.s. bersifat ikhtiari (ada pilihan tatkala bersama  isteri al-Aziz pada waktu dan tempat yang sangat mendukung untuknya bermaksiat kepada Allah Swt.), sementara yang lainnya bersifat idhthirari (tiada jalan lain kecuali menerimanya).

Kaum beriman pun dilarang mengharapkan kematian tatkala merasa tidak mampu menghadapi ujian kehidupan dan da’wah. Kalaupun terpaksa yang diizinkan adalah berdo’a mengharapkan keputusan terbaik dari Allah Swt. dengan bermunajat “Allaahumma ahyinii maa kaanatil hayaatu khairan lii wa tawaffanii idzaa kaanatil wafaatu khairan lii.” (Lihat Shahih Muslim No. 2680). Khabbab bin al-Aratt pun tidak berani meminta kematian karena teringat larangan Nabi Saw. ini, meskipun pada saat itu ia disiksa dengan besi panas hingga tujuh kali. Nabi Saw. pun menceritakan bagaimana siksaan atas kaum beriman di masa sebelumnya jauh lebih berat lagi, dimana ada yang digergaji kepalanya menjadi dua bagian, ada yang yang disisir di bagian bawah kulit dan tulangnya dengan sisir besi, namun itu tidak menggoyahkan sabar-nya kaum beriman, karena kelak akan ada masa dimana kaum beriman tidak akan pernah khawatir berjalan dari Shan’a di Damaskus  menuju Hadramaut, dalam arti kemenangan dakwah kaum beriman.

Harapan untuk tetap hidup adalah baik bagi kaum beriman karena dengannya ia tetap dalam melanjutkan amal-amal shalihnya, dan hal ini bukan berarti kaum beriman benci bertemu Allah Swt. dengan kematiannya. Justeru dengan kehidupan, kaum beriman belajar untuk terus optimis menata kehidupan dunia  bersama seruan-seruan suci mereka mengajak lebih banyak pengikut ke dalam golongan kaum beriman dengan sabar sebagai karakter dasar.

Dengan sabar, kaum beriman pun semakin cerdas dalam menata amarahnya agar tidak tercampuri godaan syiathan. Nabi Saw. berpesan kepada orang yang berada dalam kemarahan untuk mengucapkan A’udzubillaahi minasysyaithaanirrajiim (Lihat Shahih Muslim No. 2610 yang merujuk Q.S. 7:200). Mereka yang berhasil menata amarahnya sehingga bernilai kebaikan, kelak akan dipanggil Allah Swt. di hadapan sekalian makhluk, sembari dipersilahkan memilih bidadari Surga sekehendak hatinya. Subhanallah. ‘Janganlah marah’ menjadi satu nasihat penting Rasulullah dalam beberapa kesempatan beliau,

Dengan demikian pada akhirnya kaum beriman tersadarkan bahwa ternyata semua bentuk ujian dan cobaan di dunia ini pada akhirnya bertujuan mensucikan kaum beriman sehingga menghadap Allah Yang Maha Tinggi kelak tanpa membawa dosa (Lihat H.R. at-Tirmidzi No. 2399) dan bertemu dengan Rasulullah di al-Haudh (Lihat Shahih Muslim No. 1845).

Allaahumma munzilal kitaabi, wa mujriyassahaabi, wa hazimal ahzaabi, ihzimhum wanshurnaa ‘alaihim.

(wido@supraha.com)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Iman Islam

JADDID IMANAKA…! PERBARUI IMANMU..!

Pemateri: Ust. ABDULLAH HAIDIR, Lc
Iman adalah karunia terbesar yang Allah berikan kepada seorang hamba. Dialah kunci utama kebahagiaan di dunia dan akhirat. Maka, merawat keimanan yang telah Allah tancapkan di dada kita, mestinya merupakan bagian terpenting dalam agenda kehidupan.
Jika seseorang merasa penting untuk merawat sesuatu yang dia anggap berharga dalam hidupnya, maka terhadap keimanan mestinya lebih dari itu. Karena, baik atau tidaknya kualitas iman kita, berbanding lurus dengan baik atau tidaknya kualitas hidup kita.
Apalagi jika kita memahami, bahwa iman bukanlah sesuatu yang bersifat statis, mati dan tidak berubah-ubah. Tapi iman adalah sesuatu yang sangat dinamis, berubah-ubah, naik turun, dapat bersih bak pualam atau gelap seperti bayang di tengah malam. Itu semua sangat terkait dengan seberapa besar perhatian kita terhadap keimanan yang kita miliki.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
( إِنَّ الإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ فَاسْأَلُوا الله أَنْ يُجَدِّدَ الإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ  (رواه الحاكم
“Sesungguhnya keimanan akan lapuk dalam diri kalian, sebagaimana lapuknya baju. Mohonlah kepada Allah agar Dia selalu memperbaharui keimanan dalam hati kalian.” (HR. Hakim)
Berdasarkan hadits Rasulullah  shallallahu alaihi wa sallam ini, maka hal yang sangat urgent (penting) kita lakukan adalah selalu merenovasi atau memperbarui keimanan (tajdidul iman) agar tampak fresh, segar, dan memberikan energy positif dalam menapaki kehidupan.
1. Hal pertama yang dapat kita lakukan sebagaimana pesan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam  di atas adalah banyak berdoa dengan khusyu dan sungguh-sungguh, memohon kepada Allah Ta’ala agar selalu meneguhkan keimanan kita. Karenanya, di antara doa yang banyak dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah,
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ  (رواه الترمذي
“Wahai yang membolak balikkan hati, tetapkan hatiku dalam agamamu.” (HR. Tirmizi)
2. Selanjutnya hendaknya kita rajin menyiram hati yang menjadi wadah keimanan dengan siraman zikir, termasuk di dalamnya tilawatil quran. Sebab dia merupakan penenang  hati dan pelipur lara yang paling ampuh. Jika hati telah tenang, maka keimanan akan nyaman dan sehat.
Allah Ta’ala berfirman,
“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat (zikir) kepada Allah.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
3. Hal lain lagi yang penting dilakukan untuk memperbarui keimanan adalah menghadiri majelis ilmu. Dengan menghadiri majelis ilmu, banyak yang dapat kita raih untuk memperbarui keimanan kita.
Di antaranya kita akan selalu mendapatkan nasehat. Walaupun kadang dengan tema yang sama, seperti nasehat tentang shalat, namun nasehat yang terus menerus kita terima pada akhirnya akan mampu memperbarui keimanan kita.
Lalu dengan ilmu yang kita dapatkan, maka kita akan dapat menangkal setiap syubhat atau fitnah yang dapat melemahkan keimanan. Betapa banyak orang yang keimanannya lemah karena syubhat-syubhat atau teori-teori sesat yang dia terima karena tidak memiliki ilmu yang cukup.
Begitupun dengan hadir di majelis ilmu, kita akan bertemu dengan saudara-saudara kita seiman yang sama-sama ingin memperbaiki keimanannya. Kebersamaan ini memberikan pengaruh yang tidak sedikit untuk memperbarui keimanan.
Karena itu dikatakan,
الْمُؤْمِنُ ضَعِيفٌ بِنَفْسِهِ قَوِيٌّ بِغَيْرِهِ
“Seorang mukmin lemah jika hanya bersama dirinya, tapi akan kuat jika bersama selainnya.”
Karena pentingnya majelis, maka Rasulullah  sangat menganjurkan kita untuk aktif di dalamnya dengan berbagai penyemangat yang beliau sampaikan. Makanya, hal ini menjadi bagian dari ‘tradisi’ para shahabat untuk berkumpul satu sama lain demi menyegarkan keimanannya. Terkenal ungkapan di tengah para shahabat,
إِجْلِسُوا بِنَا نَزْدَدُ إِيْمَاناً
“Mari kita duduk bersama untuk menambah keimanan.”
4. Perkara lain yang dapat memperbarui keimanan adalah merawat ibadah, baik yang fardhu dan sunah dan pada saat yang bersamaan menjauhi perbuatan munkar dan maksiat. Sebab ibadah pada hakikatnya bukan hanya menjanjikan pahala dari Allah Ta’ala. Tapi dia dapat berfungsi menjadi semacam energi kehidupan yang membuatnya akan selalu segar dan fit. Meninggalkan atau mengabaikan ibadah, sama artinya kita mengabaikan keimanan yang telah Allah berikan. Ibarat  tanaman yang tidak pernah disiram.
Sebaliknya dengan maksiat, dia bukan hanya mendapatkan ancaman dosa, akan tetapi berdampak buruk bagi kesehatan jiwa. Dirinya akan semakin malas dan berat dalam menyambut seruan Allah dan akhirnya membuat hidupnya tak tentu arah. Akibat yang paling berbahaya adalah keimanannya yang akan terancam.
Semoga kita selalu mendapat taufiq dari Allah Ta’ala untuk selalu menyadari betapa pentingnya bagi kita merawat keimanan kita, setiap hari, setiap saat, setiap desah nafas kita…
اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا اْلإِيْمَانَ وَ زَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا وَ كَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَ الْفُسُوقَ وَ الْعِصْيَانَ وَ اجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِينَ 
“Ya Allah, berilah kami kecintaan terhadap iman dan hiasilah hati kami dengannya. Jadikanlah kami benci dengan kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendapatkan petunjuk.”
Wallahu ta’ala a’lam.

Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Manusia Dikejar Rizki

Nikmatnya Qanaah

Pemateri: Ustadz. FARID NU’MAN HASAN SS.

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ (14)

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali Imran: 14)

Demikianlah manusia, Allah ‘Azza wa Jalla memberikan kepada mereka nafsu dan akal.
Nafsu mereka butuhkan, karena dengan itu mereka bisa hidup bergairah dan bersemangat.

Bagi seorang mu’min, nafsu akan ditundukkannya untuk membantunya beramal shalih, saat itu nafsu tidaklah tercela. Adakah nafsu yang mendukung amal shalih?

Dari Abu Dzar Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وفي بضع أحدكم صدقة . قالوا: يا رسول الله ! أياتي أحدنا شهوته ويكون له فيها أجر ؟ قال: أرأيتم لو وضعها في حرام أكان عليه فيها وزر ؟ فكذلك إذا وضعها في الحلال كان له أجرا

“Pada kemaluan salah seorang kalian ada sedekahnya.”
Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah! Apakah salah seorang kami mengumbar syahwatnya akan diberikan pahala?”

Beliau bersabda: “Bagaimana pendapat kalian seandainya meletakan syahwatnya pada yang haram, bukankah dia berdosa?

Maka demikian juga jika dia meletakkannya pada tempat yang halal, maka dia mendapatkan pahala.”

(HR. Muslim No. 1006, Ibnu Hibban No. 4167, Al Baihaqi dalam As Sunan No. 7612)

Sebaliknya, bukan justru nafsu yang mengendalikannya untuk dia beramal salah. Hidup terombang ambing nafsu, syahwat dunia, dan keinginan rendah tanpa batas. Saat itu, nafsu telah menyeretnya pada derajat hidup binatang.

Allah ‘Azza wa Jalla juga memberikan akal bukan sekedar pembeda dengan binatang, tapi agar manusia dapat mengendalikan hawa nafsu.

Akal berpikir dan menilai, bahkan dia menjadi hakim bagi hawa nafsu, sehingga keliaran hawa nafsu terhentikan langkahnya, kelalaiannya dapat disadarkan, ketertidurannya dapat dibangkitkan; yakni akal yang telah tersinari cahaya wahyu, akal yang telah tunduk bersimpuh di depan firman Rabb yang menciptakannya, bukan akal liar sebagaimana liarnya hawa nafsu yang akan dijaganya.

Sungguh, keterjagaan nafsu dan akal dari daya tarik dunia dan permainannya, akan membawa pribadi yang puas (qana’ah). Karena cahaya ketuhanan telah mengantarkannya kepada target yang lebih mulia dan tinggi, dan selayaknya inilah yang menggoda kita. “ ….. dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14)

Percayalah …,
QANA’AH itu NIKMAT.
Kita memandang manusia dengan mata ridha dan ikhlas, tiada iri dan dengki.

Sementara kita memandang diri sendiri dengan mata syukur dan lapang.

Apa yang ada di syukuri, ada pun yang tidak ada, toh semua nanti juga akan binasa. Lalu, apa lagi yang mengganggu pikiran kita?

Palingkanlah pandangan kita dari dunia yang Allah Ta’ala titipkan kepada orang lain; justru itulah ujian dan fitnah bagi mereka! Bukankah ini kenikmatan bagi kita?

Palingkanlah pandangan kita dari jabatan yang Allah Ta’ala embankan kepada orang lain; justru itu akan meremukkan punggung dan menghabiskan waktu mereka! Bukankah ini kenikmatan bagi kita?

Palingkanlah pandangan kita dari rupiah dan harta yang membanjiri mereka; justru karena itu pertanyaan di akhirat bagi mereka tidaklah sederhana!

Bukankah ini juga kenikmatan bagi kita?

Tahukah anda, -dalam hal ini- ada sebagian orang menjadikan Umar bin Al Khathab Radhiallahu ‘Anhu lebih utama dibanding Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu?

Sebab Abu Bakar hidup qana’ah, karena memang dunia tidak mengejarnya, dunia tidak menggodanya, bahkan menjauhinya. Maka itu sudah sewajarnya.

Ada pun Umar, dia qana’ah dan terus menerus seperti itu, ketika dunia mengganggunya, dunia mengejar dan memanggilnya, tetapi dia tidak menoleh sama sekali. Ini lebih berat rasanya.

Namun, qana’ah bukanlah kemiskinan, bukan pula kefakiran.

Tetapi dia sikap mental terhadap semua karunia yang Allah ‘Azza wa Jalla berikan kepada kita; memandangnya dengan syukur , ridha, dan penuh amanah.

Sehingga, kita menjadi pribadi selalu berbahagia dan tersenyum puas.

Benarlah apa yang disebutkan sebuah syair:

“Jika engkau memiliki hati yang puas (qanuu’), maka engkau dan rajanya dunia adalah sama saja!”

Wallahu A’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Amal dan Ajal

CERDAS DENGAN MENGINGAT MATI (bag-2)

Pemateri: Ustzh. DRA. INDRA ASIH

Maka itulah ketika Rasulullah Saw ditanya, siapakah orang yang sebenarnya paling cerdas, beliau menjawab,

الكيس من دان نفسه, وعمل لما بعد الموت والعاجز من اتبع هواها وتمني على الله الأماني (رواه الترمذي)

★ Orang yang cerdas adalah orang yang dapat menundukkan hawa nafsu dan beramal untuk bekal sesudah mati.

★ Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah dengan panjang angan-angan.

Sahabat Abdullah bin Umar pernah bertanya kepada Rasulullah,
‘‘Ya Rasulullah, mukmin manakah yang paling utama?’’

Beliau menjawab,
“Yang paling baik akhlaknya diantara mereka”.

Lalu bertanya lagi,
‘‘Mukmin manakah yang paling cerdas?’’.

Beliau menjawab:

أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ أَكْيَاسٌ

✽”Orang yang paling banyak mengingat mati
dan
✽Paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati.
✽Mereka itulah orang-orang yang cerdas.”

(HR. Ibnu Majah)

Kenapa orang yang selalu mengingat mati dan mempersiapkannya dengan baik disebut Rasulullah sebagai orang yang cerdas?

Karena orang yang selalu mengingat mati adalah orang yang berpikir rasional dan berpikir jauh ke depan.

Dia menyadari bahwa kehidupan dunia hanyalah sesaat, sedangkan kehidupan yang kekal adalah di akhirat dan kehidupan yang kekal itu terjadi setelah kematian.

Diapun beramal sesuai dengan keyakinannya bahwa dunia adalah tempat menanam, sedangkan akhirat tempat menuai.

Hingga dia akan menanami kehidupan dunianya dengan kebaikan dan menghindari kemaksiatan didasari dengan keimanan kepada Allah SWT.

Dan keyakinan akan balasan Allah dengan pahala surga.

KESIMPULAN:

Orang yang cerdas menurut Rasulullah itu diantaranya sebagai berikut:

1. Menundukkan hawa nafsu.

Orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya adalah orang yang cerdas.

Ia memahami bahwa nafsu jika dipenuhi begitu saja tanpa di kendalikan, maka akan mempunyai akibat negatif yang fatal.

Dalam hal ini, kecerdasan itu tidak diukur dengan tingkat pendidikan maupun intelektualitas semata.

2. Banyak mengingat mati.

Orang yang memikirkan kematian dengan segala kaitannya, kemudian berusaha mempersiapkan diri untuk menjemput kematian itu, maka itulah termasuk orang yang cerdas (Akayyis), bukan sebaliknya.

3. Beramal untuk Akhirat.

Hanya orang-orang yang cerdas (berakal) sajalah yang akan memikirkan kehidupan akhirat dan akan beramal untuk kebahagiaan di akhirat kelak,  dengan tidak melupakan kebahagiaan dunia yang telah dianugerahkan Allah kepadanya.

Sebagaimana firman Allah SWT.

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ ﴿٧٧﴾

✽Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan
✽Janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi dan
✽Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan
✽Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka (bumi) ini.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
(QS.Al-Qashash: 77)

Akhirnya, marilah kita renungkan bagaimana kita memaknai tugas kita sebagai hamba Allah dalam kehidupan ini dan apa yang sudah kita siapkan sebagai bekal setelah kematian.

❁Sudah siapkah jika malaikat maut datang menjemput?

❁Sudahkah kita beribadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya?

❁Sudah ringankah kita untuk menolong sesama?

❁Sudah optimalkah kita berbakti kepada orang tua?

❁Sudahkah kita menunaikan amanah, berkata jujur, bersikap adil, dan mengamalkan ilmu yang kita miliki?

❁Sudahkah kita menjauhi segala macam bentuk kemaksiatan, meninggalkan kecurangan,  menzhalimi orang lain dan berlaku curang demi meraih tujuan hidup kita?

Marilah kita memohon kepada Allah SWT. agar kita selalu diingatkan kepada kematian dan kehidupan akhirat.

Sehingga kita semakin bersemangat dalam beramal sholih.

Dan Allah menjadikan kita termasuk orang yang cerdas sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah Saw.

Aamiin yaa Robbal a’lamiin.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Hidup dan Mati Adalah Ujian

CERDAS DENGAN MENGINGAT MATI (bag-1)

Pemateri: Ustadzah. DRA. INDRA ASIH

Rasulullah Saw mengingatkan kepada kita bahwa kehidupan dunia yang fana ini benar-benar sangat singkat jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang kekal nan abadi.

Sebagaimana yang pernah diungkapkan dalam sebuah haditsnya.

عن المستورد بن شداد رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلي الله عليه وسلم: والله ما الدنيا في الأخرة إلامثلَ ما يجعل أحد كم إصبعه في اليم فلينظر بم يرجع. (رواه مسلم)

Dari Al-Mustaurid bin syadad RA. Berkata, bahwa Rasulullah Saw. besabda:

“Demi Allah! Tidaklah perbandingan dunia dengan akhirat itu melainkan seperti salah seorang di antara kalian yang memasukkan jarinya ke dalam lautan, maka lihatlah seberapa banyak air yang ikut pada jari itu.
(HR. muslim)

Subhanallah, sungguh tidak dapat kita bayangkan singkatnya kehidupan dunia ini yang hanya berupa TETESAN AIR yang sangat sedikit di satu jari bila dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang sangat lama dan luas laksana LAUTAN.

Allah SWT. berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati, dan Kami menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai satu fitnah (ujian), dan hanya kepada Kami lah kalian akan dikembalikan.”
(Al-Anbiya`: 35)

Betapa pun berkuasanya manusia di muka bumi ini dan seberapa banyaknya harta kekayaan yang ia miliki, pasti dan pasti kematian itu akan selalu menjemputnya kapan saja.

Ya..
Kematian itu tidak pernah mengenal usia, baik itu tua maupun muda.

Maka janganlah sekali-kali kita yang masih muda, yang masih mempunyai tubuh segar bugar, berwajah rupawan dan kesehatan yang terjamin, mengira akan jauh dari kematian.

Karena Allah SWT. telah mengingatkan kita, bahwa kematian itu akan menjemput kita kapan saja dan tak seorang pun mampu untuk menghalanginya.

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ

Dan setiap umat mempunyai batas waktu. Maka apabila telah datang batas waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.
(QS. Al-A’raf: 34)

Ajal setiap manusia telah ditulis oleh Allah pada saat dia masih berupa janin didalam rahim ibunya, kematian itu ditulis bersamaan dengan rizki, amal, kebahagiaan, dan kesengsaraannya.

Apabila saat ajal seseorang tiba, maka
→ia tiba tepat waktu,
→tidak mungkin ditunda atau disegerakan sedetik pun dan
→ia mencapai di belahan bumi mana pun seseorang berada, tanpa dia ketahui.

Siapapun dia orang besar atau kecil, kaya atau miskin, tua atau muda, sehat maupun sakit.

Subhanallah…

Sesuai firman Allah,

وَمَاتَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ

“Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (QS. Luqman: 34).

Selanjutnya, ketika kita mampu untuk banyak MENGINGAT MATI, maka kita akan mudah untuk menunaikan hal-hal berikut:

⇨ Bersegera untuk bertaubat
⇨ Hati merasa cukup
⇨ Giat/semangat dalam beribadah.

Kita perlu terus menguatkan ketakinan kita bahwa sejatinya yang paling dekat dengan kita, BUKAN orang tua, kerabat, suami, istri atau anak, tetapi yang paling dekat dengan kita adalah KEMATIAN.

Sebab itu janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati

“كل نفس ذائقة الموت”

(Surah Ali-Imran:185)

Rasulullah Saw pun pernah bersabda:

“Cukuplah kematian itu sebagai nasehat.”

(HR. Thabrani dan Baihaqi).
Artinya bahwa mati atau kematian sebenarnya sudahlah cukup menjadi nasehat:

✺ Agar manusia selalu ingat dan beribadah kepada SWT.

✺ Agar manusia menjauhi segala macam bentuk kemaksiatan.

✺ Agar penguasa tidak lagi melakukan korupsi yang membuat rakyat menjadi sengsara

✺ Agar hakim tidak lagi menerima suap yang membuat kasus hukum menjadi buram.

Sungguh, jika seluruh manusia menjadikan MATI sebagai NASEHAT, maka dunia ini akan tentram, damai, dan sejahtera.

Bersambung ke bag-2


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Husnuzhan

Biduk Kebersamaan

📝Pemateri: M. Shafwan Husein Ellomboki

🌺🌸💐🌷🍀🌷💐🌸🌺

“Jika engkau menghadapi dunia dengan jiwa lapang, engkau akan memperoleh banyak kegembiraan yang semakin lama semakin bertambah, semakin luas, duka yang makin mengecil dan menyempit. Engkau harus tahu bahwa bila duniamu terasa sempit, sebenarnya jiwamulah yang sempit, bukan dunianya.” (Ar-Rafi’i)

🙇🏻Biduk kebersamaan kita terua berjalan. Dia telah menembus belukar, menaiki tebing, membelah laut.  Adakah di antara yang tersayat atau terluka? Sayatan luka, rasa sakit, air mata adalah bagian dari tabiat jalan yang sedang kita lalui. Dan kita tak pernah berhenti menyusurinya, mengikuti arus waktu yang juga tak pernah berhenti. Kita tak pernah berhenti karena menderita oleh keadaan seperti ini. Di jalan ini, “rasa sakit telah menjadi kenikmatan, pengorbanan menjadi indah dan jiwa menjadi tidak berharga.”

🌼Saudaraku,🌾
Dalam perjalanan panjang seperti ini, kita memerlukan satu bekal, yaitu sikap lapang dada, nafas panjang, dan mudah memaafkan. Seperti Rasulullah SAW yang tak merasa tertekan dengan penghinaan atau cacian orang-orang sekitarnya dalam menjalani misi kenabian.

🌼Saudaraku, 🌾
Sungguh luar biasa sikap orang-orang shalih dalam memandang dan mengukur penghinaan orang lain terhadap dirinya. Ibrahim An-Nakha’i, suatu hari berjalan bersama sahabatnya, seorang buta. Setelah beberapa menyusuri jalan, orang buta itu mengatakan, “Ya Ibrahim, orang-orang yang melihat kita mengatakan, “Itu orang buta dan pincang…itu orang buta dan pincang.”Ibrahim dengan tenang lalu mengatakan, “Kenapa engkau begitu terbebani memikirkannya? Jika mereka berdosa karena menghina kita sedangkan kita  mendapat pahala, lalu kenapa?

Fudhail bin Iyadh, tokoh utama yang terkenal ketaqwaannya di zaman generasi tabi’in bercerita bahwa suatu ketika, saat berada di Masjidil Haram, ia didatangi seseorang yang menangis. Fudhail bertanya, “Kenapa engkau menangis? “Orang itu menjawab, “Aku kehilangan beberapa dinar dan aku tau ternyata uangku dicuri. “Fudhail mengatakan, “Apakah engkau menangis hanya karena dinar?” Sungguh mengejutkan jawaban orang itu. Ia menjawab, “Tidak, aku menangis karena aku tahu bahwa kelak aku akan berada di hadapan Allah dengan pencuri itu. Aku kasihan dengan pencuri itu, itulah yang menyebabkan aku menangis.”

🌼Saudaraku,🌾
Mereka yang dirahmati Allah itu, menyikapi berbagai persoalan dengan lapang dada. Mungkin saja mereka berduka, bersedih, kecewa, atau barangkali tersulut sedikit kemarahannya. Tetapi mereka berhasil menguasai hatinya kembali. Hati mereka tetap ridha, mata mereka tetap teduh, ketenangan mereka tetap tidak terusik. Betapa indahnya.

🌼Saudaraku,🌾
Jika kita tidak lapang dada dan tidak mudah bersabar, kita pasti menjadi orang yang paling menderita di dunia ini. Sebab penderitaan terbesar adalah jiwa yang cepat goyah dan bimbang saat mnghadapi sesuatu yang yang sebenarnya remeh. Penderitaan paling berbahaya adalah ketika tujuan hidup kita yang demikian agung, terbentur oleh keadaan yang sesungguhnya sepele. Persoalan remeh, yang kita lihat secara keliru, kemudian mengakibatkan sempitnya dada, nafas tersengal, kesal hati, murung wajah, hati yang bergemuruh duka cita, bahkan air mata dan dendam. Hingga istirahat terganggu, pikiran tidak arah.

Jika itu yang terjadi, takkan ada amal-amal besar yang bisa dilakukan. Lantaran amal-amal besar itu, hanya lahir dari jiwa-jiwa yang tenang, hati yang lapang, penuh ridha, pikiran yang jernih.

🌼Saudaraku,🌾
💡🔑 Apa rahasia lapang dada yang dimiliki para salafushalih itu? Kenapa mereka tetap memiliki bashirah (penglihatan) yang terang dalam menghadapi persoalan hidup? Salah satunya adalah karena wawasan ilmunya yang luas. Orang yang sempit wawasan adalah orang yang takut dengan perkara-perkara kecil, sangat takut dengan peristiwa yang remeh dan mudah marah dengan kata-kata yang tidak berkenan di hatinya. Seseorang bahkan bisa sampai terbakar puncak kemarahannya 😡 disebabkan peristiwa yang sebenarnya bisa dilewati dengan memejamkan mata. Bahkan bisa dilewati dengan senyum bila dibarengi dengan sedikit lapang dada.

💡Itulah yang dikatakan Ar-Raf’i dalam Wahyul Qalam, “Jika engkau menghadapi dunia dengan jiwa lapang, engkau akan banyak memperoleh kegembiraan yang semakin lama semakin bertambah, semakin luas, duka yang makin mengecil dan menyempit. Engkau harus tahu bila duniamu terasa sempit, sebenarnya jiwamulah yang sempit, bukan dunianya.” (Wahyul Qalam, 1/50)

🌼Saudaraku dalam perjalanan,🌾
Kita bisa seperti mereka. Jika kita tahu dan sadar, ada sasaran besar dan tujuan maha agung yang akan kita capai bersama di ujung jalan ini. Ada yang maha penting dari peristiwa-peristiwa apa pun di jalan ini. Ada yg maha mulia dari berbagai kejadian-kejadian apa pun di jalan ini.

🌼Saudaraku,🌾
Tak ada artinya aral apa pun di jalan ini. Karena, kita sedang berjuang menuju Allah.
ﺍﻟﻠﻪ أعلم
🌺🌸💐🌷🍀🌷💐🌸🌺

✒📄Disadur dari buku Berjuang di Dunia, Berharap Pertemuan di Surga. Muhammad Nursani. Tarbawi Press.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Janganlah Suka Menghinda Diri Sendiri

TIGA HAL ISTIMEWA DAN PENUH MAKNA

📝 Pemateri: Ust. Farid Nu’man Hasan

Ada TIGA  hal yang membinasakan:
1. Kikir yang dituruti
2. Hawa nafsu yang ditaati
3.Seorang kagum dgn diri sendiri

TIGA hal yang menyelamatkan:
1. Takut kepada Allah dalam kesendirian dan keramaian
2. Sederhana dlm keasaan faqir dan kaya
3. Adil dlm keadaan ridha dan marah

TIGA hal yang meninggikan derajat:
1. Menyebarkan salam
2. Bangun utk shalat malam ktk manusia tidur
3. Memberikan makanan

TIGA hal yang menghapuskan dosa:
1. Menyempurnakan wudhu
2. Berjalan ke masjid
3. Menunggu waktu dari shalat ke shalat

Ada TIGA jenis manusia..:
1. Zhalimun linafsih (zalim thdp diri sndiri)
2. Muqtashid (pertengahan)
3. Sabiqun bil khairat (terdepan dalam kebaikan)

Ada TIGA ciri munafiq:
1. Jika bicara dia bohong
2. Jika janji dia ingkar
3. Jika diberi amanah dia khianat

Ada TIGA macam kezaliman:
1. Kezaliman yg tidak Allah ampuni (syirik)
2. Kezaliman yg diampuni
3. Kezaliman yg tidak akan Allah biarkan

Jika mati manusia semua amal terputus kecuali TIGA:
1⃣. Sedekah jariyah
2⃣. Ilmu yg bermanfaat
3⃣. Doa anak shalih

Ada TIGA surat yang disebut al muawidzaat:
1⃣. Al Ikhlash
2⃣. Al Falaq
3⃣. An Naas

Ada TIGA panglima jihad yg syahid dalam perang Mu’tah:
1⃣. Zaid bin Haritsah
2⃣. Ja’far bin Abi Thalib
3⃣. Abdullah bin Rawahah

Ada TIGA masjid yg sgt dianjurkan dikunjungi:
1⃣. Masjid Al Haram
2⃣. Masjid An Nabawi
3⃣. Masjid Al Aqsha

Ada TIGA cinta utama bagi kaum beriman:
1⃣. Allah
2⃣. Rasul
3⃣. Jihad

Wallohu a’lam bis showaab.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷

Sebarkan! Raih Pahala

Dipersembahkan oleh : manis.id

📲 Follow IG MANIS: http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Gemar Berbuat Baik

Yuk ber-Ihsan

📝 Pemateri: Ust. DR. Wido Supraha

Suatu ketika Nabi Saw. ditanya malaikat berwujud manusia tentang tiga hal utama, yakni Islam, Iman, dan Ihsan (HR. Muslim, No. 8).

Ihsan diperkenalkan kepada umat sebagai tingkatan penghambaan kepada Allah Swt yang tertinggi dengan arahan untuk beribadah kepada Allah Swt seakan-akan melihat-Nya, dan meskipun manusia tidak dapat melihat-Nya, maka dilanjutkan dengan arahan untuk menghadirkan keyakinan bahwa Allah pasti melihat manusia.

Demikianlah pengajaran Malaikat tentang Dinul Islam, sehingga teks hadits ini disebut sebagai Induk Sunnah oleh Al Imam Al-Qurthubi, dikarenakan mengandung hal-hal yang bersifat umum dan mencakup seluruh tugas-tugas ibadah yang zhahir dan yang bathin, sebagaimana penegasan Al-Qadhi Iyadh, rahimahumallahu.

🔎Al Imam An-Nawawi rahimahullah ketika mensyarah hadits riwayat Imam Muslim ini mengingatkan bahwa teks penjelasan ihsan disini merupakan salah satu dari jawami’ al-Kalim yang diberikan kepada Nabi Saw. Hal ini karena tentunya tidak mungkin manusia melihat Rabb-nya secara zhahir, karena melihat tabir wajah-Nya akan menjadi puncak kenikmatan kelak.

Seandainya manusia diperkenankan melihat-Nya saat ini niscaya manusia dapat dipastikan akan begitu mudahnya untuk mengkonsentrasikan zhahir dan batinnya menuju kesempurnaan amal.

Namun karena hal itu tidaklah mungkin di dunia, maka menghadirkan keyakinan seperti ini menjadi tantangan tersendiri bagi manusia sehingga membawa manusia kepada maqam musyahadah.

Inilah posisi yang diinginkan Allah Swt untuk orang-orang yang khusus. Ketika seorang manusia ditakdirkan dapat menyaksikan-Nya, sang Raja, tentu ia akan malu berpaling kepada selain-Nya atau menyibukkan hatinya dengan selain-Nya. Maka maqam ini juga menjadi maqam para shiddiqin.

Ketika Jibril hadir untuk mengajarkan ad-din (آتاكم يعلمكم دينكم), maka Ihsan adalah bagian yang tidak terpisahkan untuk ditegakkan dalam kehidupan seorang muslim. Allah Swt. telah berfirman,

وَأَحۡسِنُوٓاْ‌ۛ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

“Berbuat ihsan-lah kalian semua, sesungguhnya Allah mencintai kaum muhsinin.” (Q.S. Al-Baqarah/2:195)

إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَـٰنِ وَإِيتَآىِٕ ذِى ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنڪَرِ وَٱلۡبَغۡىِ‌ۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّڪُمۡ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berlaku adil dan berbuat ihsan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (Q.S. An-Nahl/16:90)

وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱلۡعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ (٢١٧) ٱلَّذِى يَرَٮٰكَ حِينَ تَقُومُ (٢١٨) وَتَقَلُّبَكَ فِى ٱلسَّـٰجِدِينَ (٢١٩

“Dan bertawakkallah kepada [Allah] Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri [untuk shalat], dan [melihat pula] perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. (Q.S. Asy-Syu’ara/26:217-219)

🔎Al Imam Ibn Katsir menegaskan bahwa ihsan merupakan tingkatan ketaatan yang tertinggi, “.و هو آعلى مقامات الطاعة” (Muhammad ‘Ali Ash-Shabuni, Mukhtashar Tafsir Ibn Katsir, Jilid 1, Beirut: Dar al-Fikr, Tanpa Tahun, hlm. 172).

🔎Sufyan bin Uyainah mengatakan, “Ihsan adalah seseorang yang batinnya lebih baik dari zhahirnya, و الإحسان آن تكون سريرته آحسن من علا نيته” (Ibid, Jilid 2, hlm. 343)

🔎Syaikh Musthafa Dieb al-Bugha mengatakan bahwa ihsan adalah ikhlas dan itqan (profesional), berbuat dengan rapi, sempurna, dan sebaik mungkin dalam amal yang disyariatkan.

🔎Syaikh As-Sa’di mendefinisikan bahwa ihsan adalah mencurahkan semua kemanfaatan dari jenis apapun, kepada makhluk apapun. Hal ini sebagai konsekuensi  bersungguh-sungguhnya manusia dalam menunaikan hak-hak Allah secara ikhlas, menyempurnakannya, sehingga ia pun wajib berbuat baik berkenaan dengan hak-hak makhluk, sebagaimana sabda Nabi Saw., “Sesungguhnya Allah Swt mewajibkan untuk berbuat ihsan atas segala sesuatu, إنّ الله كتب الإحسان على كلّ شيء” (HR. Muslim No. 1955). Maka dalam perkara apapun (tidak hanya khusus kepada manusia) hendaknya seorang muslim berlaku ihsan dimulai dari penunaian hak-hak sesama manusia (Q.S. An-Nisa/4:36), memberi kemanfaatan yang lebih kepadanya, hingga menolak perbuatan buruk manusia dipandang sebagai tingkatan ihsan terbesar (Q.S. Fushshilat/41: 34-35), hingga kemudian berbuat ihsan kepada alam dan seisinya.

🔎Sa’id bin Muhammad Daib Hawwa menyebutkan bahwa dalam pengajaran Jibril kepada Nabi Saw tentang ihsan, mengandung dua maqam: 1. Muraqabah dan 2. Musyahadah.

Jika MURAQABAH  ialah merasakan bahwa Allah melihatmu,
maka MUSYAHADAH adalah menghadirkan perasaan seakan-akan melihat Allah dalam ibadah yang dilakukan.

Inilah ciri hidupnya hati. Sekuat tenaga dengan jalan dzikir dan fikir untuk wushul (sampai di tujuan) kepada maqam iman dan yaqin yang pernah dinikmati oleh para sahabat, tabi’in dan pengikut mereka, adalah pekerjaan penting kaum beriman, dan ini mudah jika hati tidak sakit dan berpenyakit, dan tidak mengikuti langkah-langkah ahli bid’ah dan orang-orang jahil. (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus, Darus Salam)

🔎Syaikh Abdullah Nashih ‘Ulwan menjelaskan bahwa

💡merasakan kesertaan Allah Swt,
💡merasakan keagungan-Nya di setiap waktu dan keadaan,
💡serta merasakan kebersamaan-Nya dikala sepi dan ramai

itulah yang dikenal dengan istilah MURAQABAH.
Ia adalah aktifitas ihsan dengan
💡melahirkan ikhlas ketika melaksanakan ketaatan,
💡taubat total ketika melakukan kemaksiatan,
💡 sentiasa menjaga adab dan selalu bersyukur pada hal-hal yang mubah,
💡selalu mendahulukan ridha atas musibah.

⬆Inilah tangga menuju taqwa menuju derajat para muttaqin yang mulia. (Runaiyatud Da’iyah, Kairo: Darussalam, Cetakan ke-2, 1986)

Jika manusia berlaku ihsan, tentunya karena metode-nya yang juga ihsan, tidak lain balasan yang ia terima dari Allah Swt juga ihsan, terbaik dari sisi Allah Swt, persis seperti janji Allah Swt,

هَلۡ جَزَآءُ ٱلۡإِحۡسَـٰنِ إِلَّا ٱلۡإِحۡسَـٰنُ

“Tidak ada balasan ihsan kecuali juga ihsan.” (Q.S. Ar-Rahman/55:60)

Terbaik dari sisi Allah Swt, bukanlah sekedar terbaik dalam cara pandang manusia. Allah tegaskan bahwa Allah Swt. akan selalu memberikan balasan yang jauh lebih baik dari perbuatan baik manusia, sebagaimana penegasan-Nya,

لِّلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ ٱلۡحُسۡنَىٰ وَزِيَادَةٌ۬‌ۖ وَلَا يَرۡهَقُ وُجُوهَهُمۡ قَتَرٌ۬ وَلَا ذِلَّةٌ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلۡجَنَّةِ‌ۖ هُمۡ فِيہَا خَـٰلِدُونَ

“Bagi orang-orang yang berbuat ihsan, ada pahala yang terbaik dan tambahannya, wajah mereka tidak ditutupi debu hitam dan kehinaan. Mereka itulah penghuni Surga, mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. Yunus/10:26)

Dunia adalah kesempatan bagi manusia untuk berbuat ihsan, area yang telah disiapkan Allah Swt untuk manusia melahirkan ihsan-nya sangatlah luas, sebagai firman-Nya,

قُلۡ يَـٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمۡ‌ۚ لِلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ فِى هَـٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٌ۬‌ۗ وَأَرۡضُ ٱللَّهِ وَٲسِعَةٌ‌ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّـٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٍ۬

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat ihsan di dunia akan memperoleh kebaikan (hasanah),  Bumi Allah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Q.S. Az-Zumar:10)

Rahmat Allah Swt sangat mudah turun bagi orang-orang yang senang berlaku ihsan di dunia, maka jadikanlah seluruh kehidupan kita untuk sentiasa ihsan kepada Allah Swt, dan kemudian ihsan kepada para makhluk Allah Swt.

وَلَا تُفۡسِدُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَـٰحِهَا وَٱدۡعُوهُ خَوۡفً۬ا وَطَمَعًا‌ۚ إِنَّ رَحۡمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ۬ مِّنَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah Allah Swt. memperbaikinya dan berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut [tidak akan diterima] dan harapan [akan dikabulkan].

Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-A’raf/7:56)

Suatu ketika Abu Dzar r.a. bertanya, “Wahai Rasulullah Saw! Bagaimana menurutmu jika seseorang melakukan kebaikan, lalu ia mendapatkan pujian dari orang lain?”
Rasulullah Saw menjawab, “Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin, تلك عاجل بشرى المؤمن” (HR. Muslim No. 2642).

Yuk ber-ihsan !

🌿🌴🌿🌴


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678