Ganti Keburukan dengan Kebaikan

Gantilah Keburukan Dengan Kebaikan

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi M.A

Dari Ibnu Umar ra, Rasulullah saw bersabda,

“إِذَا أَسَأْتَ فَأَحْسِنْ “

“Jika engkau pernah melakukan keburukan maka gantilah dengan berbuat baik.” (Hadist Shahih Riwayat Ibnu Hibban)

PENJELASAN:

1. Tidak ada manusia yang tidak memilki kesalahan dan salah satu cara bertaubat adalah dengan melakukan kebaikan.

Allah berfirman,

“إِنَّ ٱلْحَسَنَٰتِ يُذْهِبْنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ۚ

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114)

2. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Rahm As-Sama’i dari Abu Ayub Al Ansari, ia bercerita bahwa Nabi saw bersabda, ”Setiap shalat menghapus kesalahan yang ada di antaranya”.

Abu Ja’far bin Jarir meriwayatkan dari Syuraih bin Ubaid dari Abu Malik Al-Asy’ari dia berkata : Rasulullah saw bersabda,

“Sesungguhnya antara shalat itu dijadikan sebagai penghapus dosa-dosa karena sesungguhnya Allah berfirman, ‘Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapus perbuatan-perbuatan yang buruk.'”

3. Jika seseorang pernah menulis yang tidak baik, maka hendaklah ia menggantinya dengan menulis kebaikan. Jika ia kikir maka bertaubatlah dengan bersedekah. Jika ia suka berkata kasar maka gantilah dengan tutur kata yang lembut.

4. Ulama berkata,

“ اترك الشر يتركك “

“Tinggalkanlah perbuatan buruk, maka perbuatan buruk itu akan meninggalkanmu.“

5. عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ جُنْدُبِ بنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ) رَوَاهُ التِّرْمِذِي وَقَالَ: حَدِيْثٌ حَسَنٌ. وَفِي بَعْضِ النُّسَخِ: حَسَنٌ صَحِيْحٌ

“Dari Abu Dzarr Jundub bin Junadah dan Abu ‘Abdirrahman Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah dimana pun engkau berada; iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu; dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad, 5:153. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Dosa Menggelisahkan Jiwa

Dosa itu Menggelisahkan dan Memalukan

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Dari Nawas bin Sam’an Al Anshari Radhiallahu ‘Anhu, katanya: Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang “kebaikan” dan “dosa”, Beliau menjawab:

الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ، وَالْإِثْمُ مَاحَاكَ فِي صَدْرِكَ، وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

“Kebaikan” itu adalah akhlak yang baik, dan “dosa” itu apa-apa yang membuat dadamu gelisah, dan kamu benci jika itu tampak dihadapan manusia.

📚 HR. Muslim No. 14/2553, At Tirmidzi No. 2389, dll

Syaikh Fuad Abdul Baqi menjelaskan:

أي تحرك فيه وتردد ولم ينشرح له الصدر وحصل في القلب منه الشك وخوف كونه ذنبا

Yaitu dada terombang ambing, bimbang, dan tidak lapang, di hati lahir keraguan dan rasa takut lahirnya dosa. (Selesai)

Ini merupakan hasasiyah imaniyah (kepekaan iman), yang tidak terjadi atas manusia yang sudah qaswatul qulub (keras hati). Bagi mereka yg sudah keras hati karena terbiasa dengan dosa, maka tidak ada lagi rasa gelisah itu, kecuali yang dirahmati Allah untuk bertaubat.

Wallahu yahdina ilaa sawaa’is sabiil

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Jika Allah Hendak Mewafatkan Mematikan Seseorang

Jika Allah Hendak Mewafatkan Seseorang

📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi M.A

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dari Abi Izzah ra, Rasululullah saw bersabda :

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ قَبْضَ عَبْدٍ بِأَرْضٍ جَعَلَ لَهُ بِهَا حَاجَةً»

“Jika Allah ingin mewafatkan seseorang di sebuah tempat , maka Allah akan membuatnya memiliki keperluan di tempat itu.” (Hadist Shahih riwayat Ibnu Hibban)

PENJELASAN:

1. Ulama berkata,

“ إذا أراد الله شيئا هيأ أسبابه “

“Jika Allah menginginkan sesuatu, maka Allah akan siapkan sebab-sebabnya. Begitu juga ketika Allah ingin mewafatkan seseorang di sebuah tempat, maka Allah akan buat ia punya hajat di tempat tersebut.”

2. Biasakanlah berkunjung ke tempat-tempat yang baik, agar memerintahkan malaikat maut untuk menjemputmu di tempat yang baik.

3. Hakim berkata,

“ إنما يساق من أرض الأرض ليصير أجله هناك لأنه خلق من تلك البقعة “

“Sesungguhnya seseorang digiring untuk wafat di sebuat tempat, karena ia diciptakan dari tanah di tempat itu.”

4. Bisa jadi seseorang yang lahir di Indonesia kemudian wafat di tanah suci karena ia diciptakan dari tanah yang berada di tempat tersebut, hal ini berdasarkan firman Allah :

مِنْهَا خَلَقْنَٰكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ

“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.” (QS. Thaha: 55)

5. Di dalam kitab “Faidul Qodir” disebutkan,

“ فإنما يعاد الإنسان من حيث بدئ به “

“Sesungguhnya manusia akan dikembalikan ke tanah dari mana ia mulai diciptakan.”

Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwasanya Nabi saw lewat di sebuah kubur yang sudah digali untuk seorang Habasy, kemudian beliau saw bersabda:

“Tidak ada Tuhan selain Allah, dia akan digiring ke bumi dan langitnya di mana ia berasal sampai ia akan diwafatkan di tanah ia diciptakan”. (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adab Mufrad).

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Malu dan Iman

Kemana Perginya Rasa Malu Itu?

📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Bila malu telah tiada dari diri kita entah kerusakan apa yang akan terjadi di muka bumi ini. Sangatlah memprihatinkan keadaan manusia-manusia di akhir zaman ini. Malu tiada lagi menghiasi, memgendornya penjagaan atas diri, dan sikap pun tak mencerminkan akhlak islami.

Banyak bertutur tak berlandas syariat
Ada bergaul lawan jenis pun tak mengenal sekat.
Bercanda ria pun dengan saling mendekat.
Tanpa disadari terbukalah peluang untuk bermaksiat.

Hati……
Hati…..
Dan hati…..
Jagalah hati dengan berawal menjaga lisan dan perbuatan serta pandangan kita.

Berawal dari manakah semuanya itu?
Apakah benar beralasan bahwa sekarang era keterbukaan sementara kita tak lagi mengenal asholah dakwah?
Kita mulai meninggalkan apa yang seharusnya kita tetap pegang teguh.
Nilai-nilai rabbaniyah sedikit demi sedikit bergeser.

Bahkan perkembangan era teknologi yang membuat segalanya bisa saja terjadi.
Akhwat nampak jelita nan shalihah meminta no HP ikhwan dan berkata salam kenal yaa akhi???
Begitu sebaliknya……
Istighfar.

Berawal dari hal biasa akhirnya menjadi luar biasa.
Banyak orang akan berdalih, itu wajar, itu manusiawi.
Tapi jika prinsip islami menjadi warna dalam tapak langkah pejuang dakwah niscaya keburukan mampu untuk dihindari.

Semua berawal dari hilangnya rasa malu.
Dan perlulah kita sadari bahwa malu itulah iman yang seharusnya menjadi akhlak kita.

Nabi bersabda,

الحياء والإيمان قرنا جميعا فإذا رفع أحدهما رفع الآخر

“Rasa malu dan iman itu terikat menjadi satu. Jika yang satu hilang maka yang lain juga akan hilang.” (HR. Hakim dari Ibnu Umar dengan penilaian ‘shahih menurut kriteria Bukhari dan Muslim. Penilaian beliau ini disetuju oleh Dzahabi. Juga dinilai shahih oleh al Albani dalam Shahih Jami’ Shaghir, no. 1603)

Rasa takut kepada Allah mencegah kerusakan sisi batin seseorang. Sedangkan rasa malu dengan sesama berfungsi menjaga sisi lahiriah agar tidak melakukan tindakan buruk dan akhlak yang tercela. Karena itu orang yang tidak punya rasa malu itu seakan tidak memiliki iman. Nabi bersabda,

“Di antara perkataan para Nabi terdahulu yang masih diketahui banyak orang pada saat ini adalah jika engkau tidak lagi memiliki rasa malu maka berbuatlah sesuka hatimu.” (HR. Bukhari)

Jangan biarkan rasa malu tergerus oleh nafsu kita. Lantaran malu itu seiring dengan iman.
Bertambahnya rasa malu seperti itulah sejatinya bertambah pula iman kita.

Wallahu a’lam bisshawwab

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

jangan bangga dengan ibadah sunnah bila yang wajib amburadul

Jangan Bangga Dengan Ibadah Sunnah Jika Yang Wajib Amburadul

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

📌 ‘Ujub dengan tahajud yang lama dan banyak rakaatnya, tapi Shubuh kesiangan

📌 Bangga dengan haji ke 2, 3, tapi fakir miskin kelaparan kau diamkan

📌 Narsis dengan shaum sunnahmu yang banyak, tapi kewajiban terhadap suami atau orang tua kau abaikan

📌 Kau ributkan jumlah rakaat tarawih, akhirnya ukhuwah rusak dan tidak kau jaga

📌 Bagus jika kau hati-hati terhadap makanan dan minuman yang haram, tapi sayang sudah berapa banyak bangkai saudaramu kau makan dalam gunjingan

📌 Kau bertengkar karena wanita yang menutup atau membuka wajah, padahal masih banyak wanita yg berpakaian tapi telanjang yg mesti kau luruskan

Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu berkata:

وَأنَّهُ لاَ يَـقـْـبَلُ نَافِلَةً حَتَّى تُؤَدَّى الْفَريِْضَة

Tidaklah diterima ibadah sunnah sampai ditunaikan yang wajibnya. (Imam Abu Nu’aim, Hilyatul Auliya, 1/36)

Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah berkata:

إن أفضل العبادة أداء الفرائض و اجتناب المحارم

Sesungguhnya ibadah yang paling utama adalah menunaikan kewajiban dan menjauhi larangan. (Jawaahir min Aqwaal As Salaf No. 65)

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berbaik Sangka Kepada Allah

Berbaik Sangka Kepada Allah Sampai Wafat

📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi M.A

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa ia pernah mendengar sabda Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam saat tiga hari sebelum wafatnya beliau,

لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ

“Janganlah salah seorang di antara kalian mati melainkan ia harus berhusnuzhan kepada Allah.” (HR. Muslim, no. 2877)

Penjelasan:

1. Seorang hamba hendaknya berprasangka baik kepada Allah apapun yang terjadi kepada dirinya sampai ia wafat, bahwa yang terbaik adalah apa yang Allah taqdirkan untuknya.

2. Suatu hari Rasullullah menemui seorang pemuda yang sedang sakaratul maut kemudian beliau bertanya,

“كيف تجدك ؟”

“Bagaimana engkau mendapatkan dirimu ?

Pemuda ini menjawab

” ارجو الله يا رسول الله واخاف ذنوبى “

Saya berharap ampunan Allah ya Rasululullah dan saya khawatir terhadap dosa-dosa saya, kemudian Rasululullah bersabda

” لا يجتمعان فى قلب عبد مؤمن فى مثل هذ الموطن الا اعطاه الله ما يرجو وامنه مما يخاف

“Tidaklah berkumpul dalam hati seorang mukmin seperti keadaan ini (antara harap kepada ampunan Allah dan khawatir terhadap dosanya) kecuali Allah akan memberikan apa yang ia harapkan dan  Allah jaga dirinya dari apa yang ia khawatirkan (dari Anas, HR. Tirmidzi)

3. Imam Qurtubi menjelaskan,

”  ينبغى ان يكون اغلب على العبد عند الموت فى حال الصحة وهو ان الله تعالى يرحمه ويتجاوز عنه ومغفرته وينبغي

“Sepantasnya bagi seorang hamba ketika ia sedang sakaratul maut, hatinya lebih dominan berada pada keadaan yang benar yaitu ia yakin bahwa Allah mengampuni merahmatinya dan mengampuni dosa-dosanya.”

Kemudian beliau menambahkan, “Seyogyanya orang-orang yang duduk saat di hadapan orang yang sedang sakaratul maut mengingat akan hal itu sampai ia ingat akan firman Allah dalam hadist  qudsi-Nya:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى

“Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (Muttafaqun alaih dari Abu Hurairah)

4. Abdullah bin Mas’ud berkata,

” والله الذى لا اله الا غيره ، لا يحسن احد الظن با لله الا اعطاه الله ظنه ذالك ان الخير بيده  “

“Demi  Allah yang tidak ada Tuhan selain-Nya , tidaklah seseorang berprasangka baik kepada Allah kecuali Ia akan memberikan apa yang ia sangka kepada-Nya yang demikian karena segala kebaikan ada di sisi Allah.”

5.  Ibnu Abbas berkata,

” اذا رأيتم الرجل بالموت فيشروه ليلقي ربه وهو حسن الظن با لله واذا كان حيا فخوفوه

“Jika engkau melihat seseorang sedang sakaratul maut, maka berilah dia kabar gembira agar dia bertemu Allah dalam keadaan berprasangka baik kepada-Nya;  dan jika ia masih hidup maka takuti dia akan dosa-dosanya.”

6. Fudail bin Iyadh berkata,

” الخوف افضل من الرجاء ما كان العبد صحيحا ،فإذا نزل به الموت فالرجاء افضل من الموت

“Khawatir tidak diampuni dosa lebih utama dari berharap ampunan Allah selama seorang hamba itu dalam kedaaan sehat; dan jika kematian mendatanginya maka mengharap rahmat Allah itu lebih utama dari khawatir tidak diampuni dosa.”

7. Zaid bin Aslam berkata, “Seorang laki-laki pada hari Kiamat diperintahkan Allah untuk  masuk neraka, kemudian ia berkata,

” فاين صلاتى وصيامى ؟ “

Ya Allah kemana pahala sholat dan puasaku ?

Allah berfirman:

اليوم اقنطك من رحمتى كما كنت تقنط عبادي من رحمتى

“Hari ini Aku buat engkau putus asa dari rahmat-Ku sebagaimana engkau membuat putus asa hamba-hamba-Ku dari rahmat-Ku.”

8. Jangan terlalu cemas akan dosa-dosamu, nanti engkau putus asa dari ampunan-Nya; dan jangan terlalu gede rasa engkau akan mendapatkan ampunan-Nya, karena itu membuatmu meremehkan dosa dan malas beramal.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

tawadhu

Perjalanan Menuju-Mu

📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

“Wahai manusia! sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya.

Maka adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah,
dan dia kembali kepada keluarganya yang Sama-sama beriman dengan gembira. ”
QS. Al-Insyiqaq ; 84 : 6 – 9

Apa sesungguhnya yang kita cari?
Dari pagi hingga petang
Dari fajar hingga malam menjelang
Kerja keras dan banting tulang

Kadang penat yang melunturkan semangat
Kadang lelah yang membuat hati gundah

Mengisi hari dengan kesibukan kadang buat kita lupa akan wajibnya sebuah amalan.
Mengawali hari tanpa doa dan harapan hingga sia-sia sepanjang perjalanan.

Tiada guna jalani hidup tanpa tujuan.
Tak mendapati ridla dari pemilik kehidupan.
Lantas apa yang kita dapatkan.
Tak bernilai pahala dari yang kita kerjakan.

Mari mulai meluruskan niat dalam amalan.
Hingga apa yang kita kerjakan bisa menjadi bekalan.
Untuk menempuhi kehidupan yang berkekalan.
Berkumpul di surga bersama orang-orang yang beriman.

Bila hati diliputi rasa cinta
Cukuplah hanya pada Sang pencipta
Bila jiwa dibalut rasa taqwa
Hanya Allah yang jadi tujuan utamanya.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

tawadhu

Hakikat Kekayaan

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Kekayaan itu bukanlah banyaknya harta, tapi kekayaan itu adalah kaya jiwanya.

(HR. Bukhari no. 6446)

Penjelasan:

– Makna Ghina (Kekayaan) adalah apa-apa yang membuat cukup. Maka, ketika seseorang yang sudah merasa cukup, maka dia kaya. Tapi, orang yang tidak pernah merasa cukup, maka dia belum kaya, walau hartanya melimpah ruah.

– Ada pun Ghaniy, artinya orang yang memiliki kekayaan. Sedangkan Al Ghaniy (Maha Kaya) adalah salah satu asma Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, Maha Terpuji.

(QS. Al-Baqarah, Ayat 267)

– Kekayaan itu bukanlah dengan banyak al ‘Aradh, apa itu? dikatakan oleh Abu ‘Ubaid:

هو حطام الدنيا، يعنى متاعها، يدخل فيه جميع المال العرَوض وغيرها

Yaitu serpihan-serpihan dunia, yaitu kemewahannya, termasuk di dalamnya semua harta, barang, dan hal-hal lainnya.

(Dikutip oleh Al Qadhi ‘Iyadh, Ikmal Al Mu’lim, 3/586)

Allah Ta’ala berfirman:

مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَن يَكُونَ لَهُۥٓ أَسۡرَىٰ حَتَّىٰ يُثۡخِنَ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ تُرِيدُونَ عَرَضَ ٱلدُّنۡيَا وَٱللَّهُ يُرِيدُ ٱلۡأٓخِرَةَۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٞ

Tidaklah pantas, bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan musuhnya di bumi. Kamu menghendaki ‘aradhad duniya (harta benda duniawi) sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.

(QS. Al-Anfal, Ayat 67)

– Kekayaan itu Ghinan Nafs (kaya jiwanya). Maksudnya jiwa yang yang cukup, jiwa yang kenyang.

Al Qadhi ‘Iyadh Rahimahullah berkata:

أن حقيقة الغنى والغنى المحمُودُ هو: غنى النفس وشبعُها وقلة حرصها، لا كثرة المال، مع الحرص على التزيد منه والشح به، فذلك فقر بالحقيقة؛ لأن صاحبه لم يستعن به بعد

Hakikat Kekayaan dan kekayaan yang terpuji adalah kaya jiwanya, jiwa yang kenyang terhadap dunia dan sedikit hasrat terhadapnya, bukan banyaknya harta lalu dia berambisi kepada harta dan kikir terhadapnya, justru itu fakir yang sebenarnya, sebab pemilik harta tersebut sama sekali tidak pernah merasa cukup. (Ibid)

– Namun, menjadi kaya harta, asalkan bersyukur dan mengelola harta untuk fisabilillah, maka itu juga keutamaan. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada Amr bin al Ash Radhiallahu ‘Anhu:

يَا عَمْرو نعم المَال الصَّالح للرجل الصَّالح

Wahai Amr, Sebaik-baiknya harta adalah harta yang dimiliki (dikelola) oleh orang shalih.

(HR. Ibnu Hibban, lihat Mawarid Azh Zham’an no. 1089)

– Harta memang berpotensi membuat lalai dan fitnah, tapi justru membawa manfaat dan rahmat jika dikendalikan oleh shalih.

Demikian. Wallahu a’lam

Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Akhlaq Kepada Orang Tua

📝 Kak Lelisya~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

🌳🤴🏻👸🏻🌳🤴🏻👸🏻🌳🤴🏻👸🏻

Assalamu’alaikum adik-adik para pejuang ridha Allah, Bagaimana kabar hati hari ini?? apakah Islam telah merasuk hati sehingga akhlak mulia sudah menjadi jati diri ?

Ketika seseorang menginjak dewasa, bapak-ibu gurulah yang mengajarkannya tentang banyak hal hingga ia menjadi mengerti tentang banyak hal dalam kehidupan ini. Maka, kewajiban menghormati orang tua dalam Islam merupakan salah satu ajaran yang sangat penting dan prinsip.

Ketika Allah memerintahkan kita untuk berbakti kepada kedua orang tua, maka perintah ini sebetulnya sangat bisa dipahami. Cobalah bayangkan, bagaimana repotnya ibu ketika mengandung selama kurang lebih 9 bulan. Kerepotan ibu, juga bapak, semakin bertambah ketika kita terlahir ke dunia, mulai dari merawat, memelihara, dan memberinya makan dan minum dengan penuh kasih sayang. Bagi orang tua tidak ada yang lebih berarti daripada sang jabang bayi yang baru saja dilahirkannya. Mereka sangat bahagia dengan tangisan dan kotorannya, akan tetapi mereka akan sedih ketika harus melihatnya sakit.

🏡 Dalam konteks berbuat baik kepada kedua orang tua, Al-Qur’an menganjurkan agar kita melakukannya dengan cara “Ihsān”. Ihsan artinya kita melakukan sesuatu lebih dari sekedar kewajiban. Shalat lima waktu merupakan kewajiban, tetapi jika kita menambahnya dengan shalat-shalat sunnah lainnya, maka itulah ihsan.

🏡 Berbuat baik kepada kedua orang tua harus diupayakan secara maksimal, secara ihsan, lebih dari sekedar kewajiban kita terhadapnya. Jika sang anak ingin memberikan sesuatu kepada orang tua, berikanlah yang maksimal. Karena yang maksimal saja belum tentu dapat sebanding dengan jerih payah dan pengorbanan keduanya selama ini dalam mengasuh dan membesarkannya.

👩‍⚕ Seseorang bisa menjadi dokter, tentu berkat orang tua. Menjadi insinyur, juga berkat orang tua. Menjadi ulama juga berkat orang tua. Bahkan menjadi presiden juga berkat orang tua. Setidaknya, karena do’a orang tua itulah seseorang berhasil menggapai apa yang diusahakannya. Itulah pengorbanan orang tua dalam memelihara, mengasuh dan membesarkan kita hingga seperti ini. Oleh karenanya, Al-Qur’an lagi-lagi menegaskan:

وَوَصَّيْنَا الإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.” (QS. Luqman, 31: 14)

Wallahu’alamu bis showab
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
🌳🤴🏻👸🏻🌳🤴🏻👸🏻🌳🤴🏻👸🏻


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Tertipu dengan dunia lalai dengan akhirat

Menggapai Esok Yang Lebih Baik

Pemateri: Ust. Rikza Maulan S.Ag, M.Ag.

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ، قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ، قَالَ وَمَعْنَى قَوْلِهِ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ يَقُولُ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا قَبْلَ أَنْ يُحَاسَبَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ – رواه الترمذي

Dari Syadad bin Aus ra, dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda,

‘Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.'(Imam Turmudzi) mengatakan, ‘bahwa hadits ini adalah hadits hasan.

Dan makna dari sabda Rasulullah SAW ( دان نفسه ) ‘menghisab/ mengevaluasi dirinya’ adalah ( حاسب نفسه في الدنيا قبل أن يحاسب يوم القيامة ) ‘orang yang menghisab (mengevaluasi diri) di dunia sebelum dihisab pada hari akhir.’ (HR. Turmudzi)

Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari hadits ini. Diantara hikmah-hikmah tersebut adalah sebagai berikut :

1. Sebagai seorang muslim, hendaknya kita selalu melakukan muhasabah (baca ; evaluasi) dalam setiap aktivitas kehidupan kita, baik menyangkut aspek kehidupan dunia (aspek pekerjaan) maupun juga aspek kehidupan akhirat.

Karena berdasarkan hadits di atas, bahwa orang yang cerdas (baca ; sukses) adalah orang mengevaluasi dirinya sendiri dan beramal untuk kehidupan setelah kematiannya. Muhasabah atau evaluasi dapat dilakukan setiap pekan, setiap bulan, setiap triwulan, setiap semester, atau setiap setahun sekali.

Dengan harapan mudah-mudahan hari-hari ke depan selalu lebih baik dari hari-hari sebelumnya.

2. Mengevaluasi atau menghisab diri sendiri sangat penting dalam kehidupan seorang muslim.
Karena dengan evaluasi, seseorang dapat mengetahui porsinya dalam menjalankan ibadah kepada Allah SWT, baik terkait dengan orang lain (muamalah dan pekerjaannya), maupun terkait dengan hubungannya secara langsung kepada Allah SWT.

Dan demikian pentingnya evaluasi, hingga banyak ungkapan dari salafuna shaleh tentang evaluasi (muhasabah) diantaranya adalah :

a. Muhasabah akan meringankan hisab di yaumul akhir.

Dalam sebuah riwayat, Umar bin Khatab ra, mengatakan :

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ اْلأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا

Umar bin Khatab ra berkata, ‘hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kaliau untuk hari aradh akbar (yaumul hisab).

Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia.

b. Muahasabah merupakan ciri dan karakter orang beriman.

Maimun bin Mihran ra, salah seorang tabi’iin (40h – 117h) dalam sebuah riwayat disebutkan :

عَنْ مَيْمُونِ بْنِ مِهْرَانَ قَالَ لاَ يَكُونُ الْعَبْدُ تَقِيًّا حَتَّى يُحَاسِبَ نَفْسَهُ كَمَا يُحَاسِبُ شَرِيكَهُ مِنْ أَيْنَ مَطْعَمُهُ وَمَلْبَسُهُ

Dan dari Maimun bin Mihran bahwa ia berkata, seorang hamba tidak diakatan bertakwa hingga ia menghisab dirinya sebagaimana dihisabnya pengikutnya dari mana makanan dan pakaiannya.

c. Muhasabah merupakan kunci kesuksesan seseorang di dunia maupun di akhirat, – sebagaimana di sebutkan dalam hadits diatas -, bahwa orang yang cerdas (baca ; sukses) adalah orang yang mengevaluasi dirinya sendiri dan beramal untuk kehidupan setelah kematiannya…

d. Setiap orang kelak pada hari akhir akan datang menghadap Allah SWT dengan kondisi sendiri-sendiri untuk  mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya.

Allah SWT menjelaskan dalam Al-Qur’an :

وَكُلُّهُمْ ءَاتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا – (مريم 95)

“Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.”

يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (النور : 24)

Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.

3. Evaluasi atau muhasabah, hendaknya berimbang dalam aspek kehidupan baik dunia maupun akhirat.

Ibarat dua sayap burung yang sedang terbang, kedua sayap harus bergerak seimbang.

Demikian juga kita perlu seimbang dalam mengevaluasi antara aspek duniawi dan aspek ukhrawi.
Tidak seyogianya, muhasabah dilakukan hanya pada aspek dunia saja; seperti aspek pekerjaan, penghasilan, target dan sebagainya, namun muhasabah juga harus dilakukan pada aspek kehidupan akhirat, seperti aspek ibadah kepada Allah SWT.

Diantara hal-hal yang perlu dievaluasi dalam kehidupan kita adalah sebagai berikut :
a. Aspek Ibadah ( الجانب التعبدي )

Evaluasi aspek ibadah sangat penting, karena ibadah merupakan esensi dari keberadaan kita di dunia ini sebagaimana yang difirmankan Allah SWT,

“Dan tidaklah Aku mencipkatan jin dan manusia, melainkan agar mereka menyembah kepada-Ku.” (QS. Ad-Dzariyat : 56).

Oleh karenanya aspek ibadah perlu menjadi perhatian besar bagi setiap muslim dalam melakukan evaluasi atau muhasabah.

Secara garis besar, ibadah mencakup dua hal ; ibadah yang wajib dan ibadah yang sunnah.

Ibadah Wajib ( الفرائض )

Ibadah wajib adalah ibadah yang tidak bisa tidak, harus dikerjakan oleh setiap muslim.

Ibadah yang wajib ini minimal sekali adalah ibadah yang terdapat dalam rukun Islam; seperti shalat, puasa, zakat dan juga haji.

Masing-masing dari ibadah ini perlu kita evaluasi, seperti pada aspek shalat; sudah sempurnakan shalat kita?
Apakah kita mengerjakannya tepat pada waktunya?
Berjamaah di masjidkah shalat kita?, dsb.

Apabila kita mendapatkan kelemahan pada sisi shalat, misalnya jarang berjamaah di masjid, maka kuatkan azam untuk senantiasa dapat shalat berjamaah di masjid.

Demikian juga dengan aspek puasa (ramadhan). Apabila kita merasa banyak kekurangan dalam sisi ibadah puasa ramadhan tahun 1436 H lalu, misalnya masih banyak waktu digunakan untuk sesuatu yang kurang bermanfaat di bulan ramadhan.

Maka hari mendatang harus lebih baik dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Demikian juga dengan zakat dan juga ibadah haji.

Ibadah Sunnah ( النوافل )

Rasulullah SAW sendiri memberikan perhatian yang demikian besarnya pada aspek ibadah sunnah.

Perhatikan saja sebagaimana yang diakatakan Aisyah ra, bahwa Rasulullah SAW shalat malam hingga kedua kakinya bengkak-bengkak. (HR. Bukhari Muslim)

Kemudian bagaimana juga antusias beliau dalam berpuasa sunnah, dalam berdzikir, dalam memperbanyak istighfar dan taubat, dalam berbuat ihsan, dsb.

Oleh karena itulah, hendaknya ibadah-ibadah sunnah yang kita lakukan dievaluasi, untuk kemudian membuat program ibadah sunnah hari mendatang yang lebih baik dari saat ini.

b. Aspek Pekerjaan & Perolehan Rizki ( الجانب العملي والتكسبي )

Alhamdulillah, kita bekerja pada lingkungan pekerjaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman dan keimanan kepada Allah SWT.

Namun walau bagaimanapun juga kita semua adalah kumpulan manusia-manusia biasa, yang sangat mungkin terpeleset dalam lembah yang sangat dibenci Allah SWT, seperti praktik risywah, melalaikan amanah, mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya, manipulasi absensi, menjilat atasan – menginjak bawahan – sikut kiri kanan, ikhtilat dengan lawan jenis, dsb (na’udzubillah min dzalik).

Hal-hal tersebut perlu kita evaluasi, untuk kemudian kita lakukan perbaikan pada tahun yang akan datang.

Rasulullah SAW mengingatkan kita bahwa kelak pada yaumul hisab, semua akan dipertanyakan oleh Allah SWT, termasuk di dalamnya perihal perolehan rizki kita.

Demi Allah, bahwa Rp 500,- yang kita dapatkan pun kelak akan dimintai pertanggung jawaban dari Allah SWT (perhatikan teks hadits yang digaris bawahi):

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلاَهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ – رواه الترمذيٍ

Dari Ibnu Mas’ud ra dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda, ‘Tidak akan bergerak tapak kaki ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara;

1. umurnya untuk apa dihabiskannya,
2. masa mudanya, kemana dipergunakannya,
3. hartanya darimana ia memperolehnya &
4. kemana ia membelanjakannya,
5. serta ilmunya sejauh mana diamalkannya?’ (HR. Turmudzi)

Alangkah meruginya seseorang, yang apabila kelak di akhirat ia tidak bisa mempertanggung jawabkan rizki yang perolehnya, atau ada sesuatu yang “haram” masuk ke dalam rekening atau ke dalam kantongnya.

Karena demi Allah, itu semua kelak akan dimintai pertanggung jawaban dari Allah SWT. Para ulama mengatakan, bahwa salah satu ciri orang yang bertakwa adalah “berhati-hati” dalam sisi halal dan haramnya rizki.

Hadits di atas menggambarkan bahwa orang yang tidak bisa menjelaskan rizkinya yang diperolehnya dalam kehidupannya di dunia, kelak tidak bisa menggerakkan tapak kakinya dihadapan Allah SWT.

c. Aspek kehidupan sosial (hubungan antara sesama manusia)

Aspek ini juga merupakan aspek yang sangat penting untuk dievaluasi. Karena manusia adalah makhluk sosial, yang selalu membutuhkan orang lain dalam menjalankan aktivitas kehidupannya sehari-hari. Kita perlu mengevaluasi berkenaan dengan hubungan kita terhadap orang lain.

Misalnya, apakah selama ini kehadiran kita “menentramkan” orang lain yang ada disekitar kita?, atau justru sebaliknya; kehadiran, perkataan dan juga perbuatan kita selama ini menyakitkan hati orang atau bahkan mendzalimi orang lain? (na’udzubillah min dzalik). Sebuah hadits shahih mengingatkan kita :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ، فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ رواه مسلم

Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?”

Sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak punya uang dan tidak punya harta benda.” Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang kepada Allah SWT pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat. Namun ia juga datang membawa (dosa) suka mencela si Fulan, menuduh si Fulan, memakan harta si Fulan, mencederai darah si Fulan dan memukul si Fulan dsb.

Maka akan diberikanlahlah pahalanya kepada si Fulan dan si Fulan (orang-orang yang didzaliminya). Dan apabila pahala kebaikannya telah habis sebelum ia menuntaskan kepada orang-orang yang didzaliminya, maka diambillah dosa-dosa mereka lalu dilemparkan kepadanya, lalu ia pun dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Muslim)

4. Selain evaluasi atau muhasabah, setiap muslim juga perlu menanamkan visi dalam hidupnya, yaitu bahwa orientasi hidupnya adalah untuk kehidupan setelah kematiannya.

Hadits diatas menggambarkan demikian, bahwa orang yang cerdas (bacaa ; sukses) adalah orang yang mengevaluasi dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan setelah kematiannya”.

Sehingga sesungguhnya visi setiap muslim tidak hanya terbatas pada 5, 10 atau 20 tahun yang akan datang.

Namun visi seorang muslim adalah menembus dimensi kehidupan dunianya, hingga ke dimensi kehidupan akhirat (kehidupan setelah kematiannya).

Apabila visi seperti ini tertanam dalam diri setiap muslim, maka dapat dipastikan (insya Allah) bahwa dalam bekerja, beraktivitas, beribadah, dan dalam segala ativitas hidupnya, ia akan hanya memiliki orienasi kepada Allah dan karena Allah SWT semata. Dan inilah sesungguhnya implementasi dari firman Allah SWT :

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, (QS. Al-An’am : 162)

Jadi ternyata, untuk menjdi hamba Allah sejati yang dapat memasrahkan segala-galanya kepada Allah, cukup dimulai dengan dua hal sederhana dan dapat kita lakukan mulai sekarang juga, yaitu : pertama muhasabah (evaluasi) diri sendiri, dan kedua memiliki visi (beramal) untuk kehidupan akhiratnya.

Jadi marilah kita mulai dari sekarang, untuk melakukan muhasabah serta menanamkan visi yang menembus dimensi kehidupan dunia, ke dimensi kehidupan akhirat kita.

Wallahu A’lam Bis Shawab.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678