Manusia Terbaik

TIGA SIFAT UNGGULAN MANUSIA PILIHAN ALLAH SWT (Bag-1)

Pemateri: Ust. DR. Abas Mansur Tamam

وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إبْرَاهِيمَ وَإِسْحَقَ وَيَعْقُوبَ أُوْلِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ. إِنَّا أَخْلَصْنَاهُم بِخَالِصَةٍ ذِكْرَى الدَّارِ. وَإِنَّهُمْ عِندَنَا لَمِنَ الْمُصْطَفَيْنَ الْأَخْيَارِ (ص [38]: 45-47)

Artinya: “Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang terampil (punya tangan/ulil aidi) dan berwawasan luas (punya penglihatan/ulil abshar). Sesungguhnya Kami telah memilih mereka dengan kualifikasi mengingat negeri akhirat (dzikrad dar). Dan sesungguhnya mereka di sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik” (Shad [38]: 45-47).

MUKADIMAH:

Allah SWT. memiliki khazanah kisah menarik yang jumlahnya tak terhingga, sebanding dengan ketidak terhinggaan ilmu-Nya.

Dari sekian banyak kisah itu, Allah telah memilihkan untuk kita kisah-kisah terbaik dan paling menarik (ahsanal qashashi). Diantara kisah terbaik itu disebutkan dalam tiga ayat di atas, yaitu kisah Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub.

Tidak bisa dipungkiri manusia menyukai kisah.

Allah Mengetahui, karena Dia yang menciptakannya. Maka kisah-kisah dalam Alquran dimaksudkan untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan dalam diri manusia. Karena itu kisah merupakan satu dari sekian metode terbaik dalam pendidikan.

Alquran mengatakan: “Sungguh pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang cerdas” (Yusuf [12]: 111).

Kita wajib berusaha untuk pandai memetik pelajaran dari setiap kisah Alquran.

Dalam hal ini, Allah swt. menyebutkan tiga sifat unggulan dari manusia-manusia pilihan Allah itu, yaitu: terampil (ulil aidi), berwawasan luas (ulil abshar), dan selalu mengingat negeri akhirat (zikrad dar).

Nilai kita di hadapan Allah digantungkan pada kemampuan untuk melakukan proses internalisasi ketiga sifat itu.

Tujuannya agar nilai kita di sisi Allah mendekati keutamaan para nabi, meskipun tidak akan menyamainya. “Saddidu wa qaribu”, bertindaklah dengan tepat dan berupayalah untuk  semakin dekat!
(Bukhari, 5/6099) demikian pesan al-habib Rasulullah saw.

TERAMPIL (ULIL AIDI):

Dalam bahasa Arab kata ulil aidi (punya tangan) digolongkan sebagai pendekatan metafora (majaz mursal).
Artinya bukan punya tangan dalam pengertian biasa, tetapi mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan besar.

Hubungan makna ini dengan kalimat ulil aidi, karena biasanya orang berbuat dengan tangan. Dalam bahasa yang lugas, ulil aidi bisa diartikan terampil.

Agar kita bisa mengejar kualifikasi ulil aidi seperti Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub, kita harus mengetahui ragam penafsiran para ulama tentang kalimat tadi.

Karena keragaman makna ayat bersifat saling melengkapi. Makna-makna itu dirangkum oleh Imam Al-Mawardi dalam tafsirnya (An-Nukat wal Uyun).

Keragaman makna itu sekaligus bisa dijadikan indikator dari ketercapaian kualifikasi terampil dalam diri kita.

1. Kemampuan Beribadah (Al-Quwwatu fil Ibadah):

Indikator pertama dari orang yang terampil adalah memiliki kemampuhan untuk beribadah, demikian menurut Ibn Abbas. Kemampuan ini menjadi indikator pertama dari manusia unggulan, karena agama hakikatnya adalah ibadah, taat, serta tunduk kepada Allah swt.

Kemampuan beribadah kedudukannya lebih dari sekedar tahu dan mau.

Karena orang tahu dan mau belum tentu bisa melakukannya.
Betapa banyak orang yang mengetahui keutamaan bangun malam, tetapi tidak bisa melakukannya. Betapa banyak orang yang mau membiasakan wirid Alquran satu juz dalam sehari, tetapi tidak sanggup menjaga konsistensi tilawahnya karena alasan kesibukan dan lain-lain.

Orang yang terampil akan mampu menunaikan semua amal-amal fardu dengan sebaik-baiknya. Mampu menyempurnakan salat, puasa, zakat, dan haji. Mampu melakukan amal-amal nafilah (sunah), baik yang sejenis fardu seperti: salat sunah, puasa sunah, infak dan sedekah, serta umrah; atau amal-amla sunah lainnya.

Orang yang mampu menyempurnakan ibadah-ibadah wajib dan ditambah dengan ibadah-ibadah sunah akan membuatnya menjadi wali-wali Allah swt.

Dalam hadits qudsi dikatakan:
“Siapa yang memusuhi Aku, maksudnya memusuhi wali-Ku, maka Aku akan mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku taqarrub kepada-Ku lebih Aku cintai dari jenis ibadah yang telah Aku fardukan.

Jika hamba-Ku terus bertaqarrub dengan nawafil, maka Aku akan mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya ketika dia mendengar. Akulah matanya ketika dia melihat. Akulah tangannya ketika dia merangkak. Dan akulah kakinya yang dia pakai untuk melangkah. Jika dia meminta sesuatu pada-Ku, pasti akan Aku kabulkan. Jika ia meminta perlindungan, pasti akan Aku lindungi..”  (Bukhari, 5/6137).

2. Ketegasan Menjaga Perintah Allah (Alquwwatu fi Amrillah):

Indikator kedua adalah ketegasan dalam menjaga perintah Allah (alquwwatu fi amrillah) demikian menurut Qatadah.

Indikator ini berbeda dari indikator pertama. Karena orang yang rajin beribadah (mahzah), belum tentu punya rasa cemburu dengan agamanya.

Sehingga mungkin saja dia bersikap tak acuh dengan pelanggaran-pelanggaran terhadap perintah Allah yang terjadi di tengah masyarakat.

Ketegasan menjaga perintah Allah menuntut kepedulian terhadap masyarakat, serta berani melakukan amar makruf dan nahyil mungkar.

Rasulullah saw. bersabda:

من رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بيده، فَإِنْ لم يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لم يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

Artinya: “Siapa yang melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa dengan tangannya, maka rubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa dengan lisannya, maka dengan hatinya. Dan itu selemah-lemahnya iman” (Muslim, 1/49).

Contoh ideal dari sahabat yang memiliki indikator ini adalah Umar bin Khattab. Ketika Rasulullah saw. mengumumkan prestasi sahabat-sahabatnya beliau bersabda:

“Wa asyadduhum fi amrillah Umar”, orang yang paling tegas menjaga perintah Allah adalah Umar (Tirmizi, 5/3790, hadits hasan garib).

Sebagai tambahan, orang yang tegas dalam menjaga perintah Allah akan disegani oleh kawan dan ditakuti oleh lawan.

Abdullah bin Buraidah mengabarkan, Rasulullah saw. bersabda: “Aku mengira, syaitan saja akan melarikan diri dari engkau wahai Umar” (Sahih Ibn Hibban, 15/6892).

Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang ditakuti oleh syetan.

3. Memiliki Fisik yang Sehat dan Kuat (Alquwwah fil Abdan)

Indikator ketiga adalah memiliki fisik yang sehat dan kuat (alquwwah fil abdan), demikian kata Athiyyah.

Indikator ini menjadi bagian dari pemahaman dasar, bahwa orang-orang yang berbadan kuat dan sehat dimungkinkan akan mampu beramal lebih dahsyat, serta mampu mengerjakan proyek-proyek besar dalam hidup ini.

Kaidah orang kuat mampu melakukan pekerjaan besar memang tidak mutlak.

Karena Syeikh Ahmad Yasin dalam keadaan memiliki fisik yang tidak berdaya, beliau mampu melakukan pekerjaan besar yaitu memimpin intifazah.

Meskipun begitu, tidak bisa dipungkiri bahwa pekerjaan berat dan besar kemungkinan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang fisiknya sehat dan kuat.
Itu sebabnya Rasulullah saw. bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إلي اللَّهِ من الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وفي كُلٍّ خَيْرٌ

Artinya: “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah, daripada seorang mukmin yang lemah. Meskipun masing-masing memiliki kebaikan” (Muslim, 4/2664).

Maka manusia-manusia pilihan Allah memiliki kebiasaan menjaga kesehatan dan kekuatan fisik.

4. Pekerjaan yang Kreatif (Al-ibda’):

Indikator keempat ini diinspirasi dari Ibn Baher, ketika ia mengartikan ulil aidi sebagai al-‘amal.

Al-‘amal secara sederhana artinya memang bekerja atau berbuat. Tetapi jenis pekerjaan yang akan membuat seseorang menjadi orang yang unggul tentu bukan pekerjaan biasa. Pekerjaan itu harus bersifat kreatif dan inovatif, sehingga mampu memberikan sumbangan yang baru bagi umat manusia.

Allah swt. memberikan contoh paling ideal dalam kreatifitas yang inovasi, ketika menciptakan langit dan bumi dengan segala yang ada di dalamnya.

Semua pekerjaan itu bersifat inovatif, tidak menjiplak dari yang ada sebelumnya. Semuanya diciptakan dari ketidak-adaan. Alquran menyebutnya “Badi’us samawati wal ardi” (Al-Baqarah [2]: 117).

Penemuan-penemuan baru di bidang sains dan teknologi masuk dalam kategori ini.

(Bersambung)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Pegang Teguh Tali Allah

Adab Khilafiyah

Pemateri: Ustadz. FARID NU’MAN HASAN SS.

PENGANTAR

Saat ini kita hidup pada zaman penuh fitnah, di antaranya fitnah iftiraqul ummah (perpecahan umat).
Di antara banyak penyebab perpecahan itu adalah perselisihan mereka dalam hal pemahahaman keagamaan.

Hanya yang mendapat rahmat dari Allah Ta’ala semata, yang tidak menjadikan khilafiyah furu’iyah (perbedaan cabang) sebagai ajang perpecahan di antara mereka.

Namun, yang seperti itu tidak banyak. Kebanyakan umat ini, termasuk didukung oleh sebagian ahli ilmu yang tergelincir dalam bersikap, mereka larut dalam keributan perselisihan fiqih yang berkepanjangan.

Mereka tanpa sadar ‘dipermainkan’ oleh emosi dan hawa nafsu.

Untuk itulah materi ini kami susun. Mudah-mudahan kita bisa meneladani para Imam kaum muslimin, mengetahui kedewasaan mereka, dan sikap bijak dan arif mereka dalam menyikapi perselisihan di antara mereka.

Perlu ditegaskan, yang dimaksud khilafiyah di sini adalah perselisihan FIQIH yang termasuk kategori  ikhtilaf tanawwu’  (perbedaan variatif), BUKAN PERSELISIHAN AQIDAH yang termasuk ikhtilaf tadhadh  (perselisihan kontradiktif).

Untuk perkara aqidah, hanya satu yang kita yakini sebagai ahlul haq dan  firqah annajiyah (kelompok yang selamat) yakni Ahlus Sunnah wal Jamaah. Tidak yang lainnya.

Ada beberapa adab dalam menyikapi KHILAFIYAH.

1. Kita meski ikhlas dalam mengutarakan pendapat. Yang kita cari adalah ridho Allah Subhanahu Wa Taala semata. Sehingga tidak merasa kecil hati jika ada perbedaan.

2. Memahami bahwa perbedaan itu suatu keniscayaan. Allah menciptakan manusia berbeda-beda. Perbedaan sudah terjadi sejak zaman nabi terdahulu, zaman nabi Muhammad SAW dan zaman sahabat.

3. Ridhonya manusia adalah suatu hal yang mustahil untuk dicapai.

4. Husnuzhon terhadap sesama muslim.

5. Jangan keluar bahasa kasar, mencela saudara muslim kita.

6. Jangan fanatik berlebihan terhadap pendapat kita.

7. Membangun kesadaran bahwa musuh kita bukan muslim yang berrbeda pendapat dalam fikih.

Bagi kita orang awam, boleh mengikuti fatwa ulama yang paling kita yakini kebenarannya.

Namun, jika para ulama saja saling menghornati perbedaan pendapat diantara mereka, maka sangat tidak pantas jika sesama orang awam saling mencaci saudara muslim kita yang lain.

Wallahu A’lam.

Watch “Ust Farid Numan – Adab Khilafiyah” on YouTube – 

 


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

puasa di bulan Muharram

Hukum dan Pelajaran di bulan Muharam Dan Hari Asyuro

Pemateri: Ustadz. ABDULLAH HAIDIR Lc.

Ibnu Abbas ra berkata, “Ketika Rasulullah saw tiba di Madinah, beliau menyaksikan orang-orang Yahudi ber-puasa pada hari ‘Asyuro, maka dia berkata, “(Hari) apa ini?”

Mereka menjawab, “Ini adalah hari istimewa, karena pada hari ini Allah selamatkan Bani Isra’il dari musuhnya, karena itu Nabi Musa berpuasa pada hari ini.” Rasulullah saw bersabda:

« فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْكُمْ »

“Saya lebih berhak mengikuti Musa daripada kalian.”

Maka beliau berpuasa dan memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa.”

(Shahih Bukhari, Kitab Ash-Shaum, no. 2004,  redaksi dari beliau, dan Shahih Muslim, Kitab Ash-Shiyam, no. 127-(1130), redaksinya: “Kita lebih layak terhadap musa dari kalian.”)

1. Umat Muhammad Rasulullah saw adalah Ummatun Marhumah, ummat yang disayang oleh Allah Ta’ala.

Selain bahwa umat ini tidak diazab secara nasal spt umat terdahulu, sebagaimana dinyatakan Rasulullah saw dalam salah satu haditsnya,  di sisi lain kita dapatkan juga kasih sayang Allah kepada umat ini dengan berbagai kesempatan  yang disediakan untuk beramal sebanyak-banyaknya.

Sehingga walaupun ummat ini berusia lebih pendek di banding umat terdahulu, namun seakan-akan mereka diberi usia panjang dengan banyak kesempatan beramal shaleh yang pahalanya Allah lipatgandakan.

Baru saja kemarin kita disibukkan dengan amal ibadah di bulan Ramadhan, kemudian Allah perintahkan kita untuk berpuasa enam hari di bulan Syawwal, lalu setelah itu kita dipertemukan dengan sepuluh hari bulan Dzulhijjah dengan berbagai keutamaan serta ibadah yang Allah sediakan bagi kita, kemudian sete-lah itu di bulan Muharram, kita diperte-mukan dengan hari Asyuro dengan ibadah dan keutamaan di dalamnya.

2. Hubungan berdasarkan keimanan, lebih kuat dan lebih bermanfaat daripada hubungan yang sekedar kekerabatan atau kesukuan.

Hal tersebut tercermin dalam ungkapan Rasulullah saw yang mengomentari sikap orang Yahudi yang mengikuti Nabi Musa berpuasa ‘Asyuro dengan landasan hubungan kekerabatan. Beliau bersabda:

“Aku lebih berhak mengikuti Musa dibanding kalian.”

Karena hubungannya dengan Nabi Musa adalah hubungan keimanan yang berada di atas hubungan kekerabatan.

3. Hijrah merupakan pelajaran yang sangat berharga dalam kehidupan seorang muslim yang ingin menjaga keimanan dan keyakinannya.

Hari ‘Asyuro mengingatkan kita pada sejarah Nabi Musa tentang  pengorbanan dan perjuangan untuk membela dan melindungi keimanan, apapun resikonya, sampai pada taraf mereka harus angkat kaki dari negerinya untuk membawa dan menyelamatkan keimanannya.

4. Umat Islam seharusnya memiliki jati diri yang nyata dalam kehidupan.

Perintah Rasulullah saw dalam berbagai kesempatan agar kita berbeda dengan orang Yahudi dan Nashrani adalah sebuah ajaran agar kita sebagai seorang muslim memiliki karakteristik khusus sesuai dengan keimanan kita kepada Allah Ta’ala.

Jangan sampai kita menggantungkan kecintaan kita, kebiasaan hidup kita, apalagi dalam masalah ibadah dan keyakinan kita dengan mengikuti ajaran keyakinan lain.

5. Pentingnya melakukan tabayyun (pengecekan) dalam berbagai hal, lalu menyatakan sikap yang tegas untuk mengatasinya.

Ketika Rasulullah saw melihat kaum Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram, beliau bertanya dahulu tentang alasan mereka berpuasa, baru setelah itu beliau menyikapinya.

6. Ibadah merupakan realisasi syukur yang paling nyata kepada Allah Ta’ala.

Selamatnya nabi Musa alaihissalam dari  kejaran Fir’aun disikapi dengan beribadah puasa sebagai rasa syukur kepada Allah Ta’ala, bukan dengan berpesta pora plus kemaksiatan, sebagaimana yang sering kita saksikan.

7. Islam selalu menuntut umatnya berada dalam posisi wasathiyah (pertengahan), tentu dengan bimbingan dan landasan syari’ah. Tidak bersikap Ifrath (berlebih-lebihan) dan Tafrith (Sembrono).

Menjadikan hari Asyuro sebagai hari kesedihan di satu pihak ala kaum syiah yang meratapi terbunuhnya Husein ra, sementara pihak lainnya menjadikannya sebagai hari bersuka cita……ini adalah fenomena Ifrath wa Tafrith.

8. Menolak kemungkaran tidak dibenar-kan jika dilakukan dengan kemungkaran yang lain.

Penolakan kaum Nawasib (yang memusuhi ahlul bait) yang bersuka cita pada hari kematian Husein sebagai penolakan terhadap kebatilan orang Syiah yang mengeksploitasi kesedihan pada hari yang sama adalah langkah yang tidak disetujui oleh para ulama.

Wallahu A’lam.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Pegang Teguh Tali Allah

Sama Dalam Penciptaan, Berbeda Dalam Sifat dan Karakter (Bag-2)

Pemateri: Ustadzah. EKO YULIARTI SIROJ,  M.Ag.

Lantas, dimana letak perbedaan manusia?

Rasulullah SAW bersabda :

إن الله خلق آدم من قبضة قبضها من جميع الأرض, فجاء بنو آدم على قدر الأرض جاء منهم الأبيض والأحمر والأسود وبين ذلك والخبيث والطيب والسهل والحزن وبين ذلك

Artinya:
“Sesungguhnya Allah telah menjadikan Adam dari segumpal tanah yang diambil-Nya dari segala macam tanah.

Kemudian datanglah anak-anak Adam menurut tanah asal mereka. Mereka ada yang putih, merah, hitam dan sebagainya; ada pula yang jelek, baik, sederhana, bersedih dan sebagainya.” (H.R. Abu Daud dan Tirmizi)

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَاا يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban.

Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS Ar Ruum : 54)

Disinilah perbedaannya…..
dalam perjalanan itu.

Dalam tumbuh kembang dan pembentukan karakternya.

Berbedanya pola hidup, makanan, minuman dan budaya membuat manusia memiliki karakter umum yang berbeda-beda.

Ada orang Timur yang ramah dan santun, ada orang Barat yang terbuka dan terus terang.

Ada orang Arab yang penuh semangat, ada orang Inggris yang penuh etika.

Karakter umum itu kemudian mengerucut menjadi karakter khusus orang per orang.

Ada orang yang berhati
lembut, ada yang keras hatinya.
Ada yang pemaaf, ada yang pemarah.
Ada yang pendiam ada yang ramai.
Ada yang terbuka ada yang tertutup.
Ada yang bergerak cepat, ada yang santai.
Dan yang lainnya.

Karakter khusus ini dilandasi oleh sifat dasar seseorang yang dipengaruhi dengan sangat besar oleh pola asuh, kondisi lingkungan, kondisi ekonomi dan pendidikan.

Maka menjadi sebuah keniscayaan bahwa setiap orang memiliki karakter yang berbeda.

Perbedaan karakter ini membuat manusia harus saling mengenal.
Agar interaksi diantara mereka dapat berjalan dengan harmonis. Interaksi yang hangat, saling memahami dan terhindar dari banyak masalah yang muncul karena perbedaan.

Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al Hujurat:13)

Maka mulialah dua sahabat besar Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab RA. Dua insan yang Allah ciptakan sama sebagai manusia kemudian keduanya berjalan dengan takdirnya sendiri-sendiri.

Abu Bakar RA sahabat berhati lembut, berparas tampan, bersegera dalam berderma dan dalam semua kebaikan. Ia  yang rela menghadapi rintangan yang sangat berat demi  menemani Rasulullah SAW dalam perjalanan hijrahnya. Ia yang diakhir hayatnya meminta agar kekayaan yang ia dapat saat menjadi khalifah, dikembalikan ke baitul maal kaum muslimin.
Dan inilah Umar bin Khattab RA… Sahabat berhati baja, berpostur gagah, bersegera menghadang musuh-musuh Allah yang akan mengganggu Rasulullah SAW dan bersegera menghunus pedangnya saat mendengar kemunkaran terjadi.

Ia yang disebutkan dalam hadits riwayat Aisyah sebagai seseorang yang ditakuti oleh syaitan. Ia yang begitu murka saat mendengar orang mengatakan Rasulullah telah wafat.

Allah ciptakan keduanya sama sebagai manusia…dengan karakter yang jauh berbeda.

Namun perbedaan karakter yang hampir seratus delapan puluh derajat itu tidak membuat mereka harus berhadapan, berselisih atau berpisah karena merasa tidak cocok.
Justru perbedaan karakter itu mereka kelola dalam interaksi mereka sehingga menghasilkan amal solih yang luar biasa.

Abu Bakar yang menangis tersedu saat Allah membenarkan pandangan Umar tentang tawanan perang Badar dan Umar yang berlinang air mata saat tahu apa yang setiap pagi dilakukan Abu Bakar dirumah seorang nenek tua dipinggiran kota Madinah.

Keduanya menjadi manusia mulia karena ketakwaan yang mereka miliki bukan sekedar karena karakter belaka.

❁Dan disinilah kita hari ini. Belajar dan terus belajar, berusaha dan terus berusaha agar perbedaan karakter antara suami, istri, anak, orang tua, mertua, ipar, dan kerabat lainnya dapat kita kelola menjadi sebuah harmoni yang indah bukan menjadi sebab terjadinya perpecahan.❁

Di keluargalah kita belajar mengelola beragam karakter ini karena diluar sana, di masyarakat luas, kita akan berhadapan dengan karakter yang lebih beragam.

Sebagai insan yang berbeda, suami istri pasti akan mengahadapi  ketidakcocokan.

Tapi benarkah ketidakcocokan harus menjadi factor yang menyebabkan suami istri berpisah padahal itu adalah hal yang niscaya?

Jika sampai terjadi, maka sesungguhnya kekurangan yang ada pada keluarga-keluarga kita adalah keterampilan untuk mengelola ketidakcocokan itu bukan ketidakcocokan itu sendiri.

Keluarga-keluarga kita kurang terampil mengelola perbedaan bukan perbedaan itu sendiri yang menyebabkan banyak perpisahan.

Maka, memahami persamaan dalam penciptaan  dan perbedaan dalam karakter merupakan prinsip ketiga yang perlu difahami oleh anggota keluarga setelah prinsip pertama yaitu memahami misi sebagai manusia dan prinsip yang kedua yaitu fitrah manusia yang terjaga dengan mengikuti petunjuk Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Semoga Allah kuatkan pondasi-pondasi keluarga kita dan Allah tingkatkan kefahaman kita terhadap ilmu dalam berkeluarga.

Aamiin ya Robbal ‘alamiin….


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Pegang Teguh Tali Allah

Sama Dalam Penciptaan, Berbeda Dalam Sifat dan Karakter (Bag-1)

Pemateri: Ustadzah. EKO YULIARTI SIROJ,  M.Ag.

❃ Tentang nasib para tawanan Badar, keduanya berbeda pandangan.

Dengan kelembutan hatinya, sahabat mulia ini berpandangan bahwa mereka harus diberikan hak untuk hidup. Dilindungi dan dikasihi, sebesar apapun kesalahan dan kebencian mereka kepada Rasulullah SAW.

Sahabat mulia yang lain teguh dengan pandangannya bahwa mereka harus dibunuh karena kekafiran, penolakan dan kebenciannya kepada Rasulullah SAW.

Setelah mempertimbangkan kedua pandangan tersebut, Rasulullah SAW bersabda:

“Allah SWT melembutkan hati beberapa orang diantara kalian lebih lembut dari susu.
Dan Dia mengeraskan hati beberapa orang diantara kalian lebih keras dari batu.”

Kepada Abu Bakar RA, Rasulullah berkata :
“Engkau seperti Ibrahim AS yang mengatakan,
“Dia yang mengikutiku adalah salah satu dari kami, dan dia yang tidak mengikutiku, maka ya Allah, Engkau Maha Pemurah untuk memaafkannya”.

Kepada Umar bin Khattab RA, Rasulullah berkata :
“Engkau seperti Nuh AS yang mengatakan,
“Ya Allah, jangan tinggalkan satupun dari orang yang tidak beriman itu di bumi ini.”

Dan Rasulullah pun menerima saran Abu Bakar RA.

Namun keesokan harinya, Umar mendapati Rasululah dan Abu Bakar sedang menangis.

Umar bertanya:
“Wahai Rasulullah, apa yang membuatmu menangis? Katakan padaku sehingga aku ikut menangis bersamamu.”

Rasulullah menjawab :
“Wahai Umar, tidak ada yang perlu engkau tangisi karena seharusnya engkau berbahagia.
Allah telah menguatkan pandanganmu tentang tawanan Badar, dan menegur mereka yang mengambil pandangan yang bertentangan.”

Kemudian Rassulullah SAW membacakan ayat :

“Tidak patut bagi seorang nabi mempunyai tawanan
sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi.

Kalian menghendaki harta benda duniawiah,
sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untuk kalian).
Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. “(QS Al-Anfaal:67)

❆ Di kesempatan lain…..

Suatu hari, Umar mengawasi Abu Bakar di waktu fajar.
Sesuatu telah menarik perhatian Umar.

Saat itu Abu Bakar pergi ke pinggiran kota Madinah setelah shalat subuh. Abu Bakar mendatangi sebuah gubuk kecil beberapa saat, lalu dia pulang kembali ke rumahnya.

Umar tidak mengetahui apa yang ada di dalam gubuk itu dan apa yang dilakukan Abu Bakar di sana. Umar mengetahui segala kebaikan yang dilakukan Abu Bakar kecuali rahasia urusan gubuk tersebut.

Hari-hari terus berjalan, Abu Bakar tetap mengunjungi gubuk kecil di pinggiran kota itu. Umar masih belum mengetahui apa yang dilakukan Abu Bakar di sana.

Sampai akhirnya Umar memutuskan untuk masuk ke dalam gubuk itu sesaat setelah Abu Bakar meninggalkannya.

Umar ingin melihat apa yang ada di dalam gubuk itu dengan mata kepalanya sendiri. Dia ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh sahabatnya di situ.

Saat Umar masuk ke dalam gubuk kecil itu, Umar mendapatkan seorang nenek tua yang lemah tanpa bisa bergerak. Nenek itu juga buta kedua matanya. Tidak ada sesuatu pun di dalam gubuk kecil itu.

Umar tercengang dengan apa yang dilihatnya, dia ingin mengetahui ada hubungan apa nenek tua ini dengan Abu Bakar RA.

Umar bertanya:
“Apa yang dilakukan laki-laki itu di sini?”

Nenek menjawab:
“Demi Allah, aku tidak mengetahui, wahai anakku. Setiap pagi dia datang, membersihkan rumahku ini dan menyapunya.

Dia menyiapkan makanan untukku. Kemudian dia
pergi tanpa berbicara apapun denganku.”

Berlinang air mata Umar mendengarnya dan ia mengucapkan kalimatnya yang sangat masyhur,

“Sungguh, engkau telah membuat lelah khalifah sesudahmu wahai Abu Bakar.” (Ensiklopedi Kisah Generasi Salaf)
♢♢♢

❁ Manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan penciptaan yang sama.
Dilahirkan sebagai seorang bayi merah, lemah tak berdaya, tanpa sehelai benang di tubuhnya, hanya berbekal tangis sebagai alat untuk berkomunikasi.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً  وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ  إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا  ﴿النساء:١﴾

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.

Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim.

Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”(QS An-Nisaa:1)

Karena Allah menciptakan manusia berpasangan yaitu laki-laki dan perempuan, maka merekapun berkembang biak. Bertambah jumlahnya dan menjadi banyak.

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.” (QS. Ar-Ruum:20)

Ayat-ayat diatas secara nyata menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dengan kondisi yang sama.

Lantas, dimana letak perbedaan manusia?

Bersambung ke bag-2


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Hijrah Itu Menguras Rasa

MEMAKNAI HIJRAH DENGAN BER-HIJRAH

📝 Pemateri: Ustadzah DRA. INDRA ASIH

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Sabda Nabi SAW:

🔎“Ilmu yang pertama kali diangkat adalah kekhusu’an” 🔍

(diriwayatkan oleh Thabrani dengan sanad Hasan)

Perjalanan alam semesta dan dunia, berputar terus, berpindah dari satu proses ke proses yang lain.

Berpindah dari satu era ke era yang lain, dengan perbedaan manusia yang menghuninya dan kecenderungan mereka yang tentu saja juga mengalami perubahan sejalan dengan perbedaan kekhasan mereka dari masa ke masa.

Kita adalah penghuni dunia sekarang.
🔹Dunia yang serba  cepat, praktis dan efisien.
🔹Dunia yang menjanjikan dan menyajikan berbagai arena dan fasilitas yang sungguh-sungguh sangat mengasyikkan dan canggih.
🔹Dunia yang dipenuhi dengan perkembangan teknologi yang begitu menawan dan semuanya menantang kita untuk mencoba dan menikmatinya.

Teknologi komunikasi dan transportasi yang memungkinkan kita menggenggam dunia ini hanya dalam hitungan detik, dalam arti  hanya dalam hitungan detik saja, kita sudah bisa ada dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu negeri ke negeri lain.

Mencermati hadits di awal tulisan ini, apa yang Nabi saw sabdakan terbukti benar adanya sekarang.

Sedikit demi sedikit tanpa kita menyadarinya seluruh diri kita, seluruh indera kita sudah begitu terbiasa dan menikmati bahkan kecanduan  hiruk-pikuk dan gemerlap suasana dunia modern ini.

Luluh lantak bangunan kekhusu’an pada diri kita.

Habis kandas persediaan energi pembangkit khusu’an kita.

Ketika sholat, kita ibarat “mayat” atau “robot” yang sedang melakukan aktifitas tanpa makna. Kosong.

Kemudian, kita terburu-buru menyelesaikannya dan akhirnya, bersegera kembali pada  berbagai judul dan kesibukan kita.

Di masa seperti ini, sungguh memaknai HIJRAH dengan kembali merebut KEKHUSU’AN kita dalam memaknai hidup dan tugas kehidupan kita yang hakiki yang diembankan oleh Allah swt pada kita, merupakan suatu hal yang sangat penting tapi sulit.

Memaknai HIJRAH berupa 🔹keluar dari alur gemerlap dan kesibukan yang melalaikan dan
🔹kembali masuk pada nuansa keheningan dan kekhusu’an,
untuk menapaki sisa-sisa waktu yang masih Allah karuniakan pada kita.

Hingga hidup kita kembali pada suasana semata-mata hanya untuk mengagungkan dan meninggikan Allah swt.

Tentu saja keheningan dan kekhusu’an secara hakiki.

Bukan keheningan dan kekhusu’an yang membuat kita hanya memojokkan diri kita di tempat-tempat sholat kita.

Tapi hening dan khusu’ di tengah keramaian dan kesibukan kita untuk beramal dan berbuat sebanyak-banyaknya untuk memberikan kebaikan dan manfaat bagi orang-orang di sekitar kita.

🔑 Setidaknya ada beberapa langkah yang bisa kita coba untuk proses hijrah kita tersebut.

🍃1⃣. MEMILIH

Di dalam al Qur’an surat Al Kahfi ayat 29, Allah SWT menuntun kita dan menyerahkan pilihan itu pada kita dengan konsekuensinya.

“Dan katakanlah:
Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.
Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka.
Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.”

Mari kita berusaha untuk menentukan pilihan terbaik, pilihan yang paling disukai oleh Allah.

Apakah yang dimaksud dengan pilihan terbaik?

Contoh:
Jika ada seseorang melakukan kesalahan pada kita. Ada beberapa sikap yang bisa kita ambil.

🔹Pilihan pertama: tidak marah. Ini baik.

🔹Pilihan kedua: memaafkan. Ini lebih baik.

🔹Pilihan ketiga: membalas kesalahan seseorang dengan kebaikan. Inilah pilihan terbaik.

🍃2⃣. MENERIMA

Yaitu melapangkan hati kita untuk ikhlas menerima pilihan terbaik yang sudah kita putuskan.

Allah berfirman: “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam.

Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit.

Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.”
(QS. Al An’am : 125)

🍃3⃣. MEMUTUSKAN

Yaitu berarti kita memilih dan melapangkan hati kita bukan hanya pada satu atau dua hal saja, tapi berusaha menerapkannya pada keseluruhan aspek dalam hidup kita.

Di dalam QS. Al An’am ayat 162, Allah swt berfirman:

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”

🍃4⃣. MENEGUHKAN.

Yaitu memohon agar Allah mengokohkan keputusan jalan hidup kita sesuai dengan firman Allah swt.:

“Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.
Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.”
(QS. Al Anfal : 63)

🍃5⃣. MENIKMATI

Caranya dengan menjadikan diri kita terus konsisten dengan 4 hal yang sudah kita lakukan sebelumnya.

Jika kita berhasil, maka kita bisa meraih kembali sumber kenikmatan dan kebahagian hidup kita.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan:

“Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushilat:30)

Siapkah Kita Berhijrah?
Siapkah Kita Untuk Berbahagia?

Mari sama-sama kita raih janji Allah swt:

“….dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”

Wallahu A’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

mukmin satu tubuh

SIAPA TEMANMU, ITULAH KAMU

📝 Pemateri: Ust. ABDULLAH HAIDIR

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

🌾Teman mu adalah yang jujur padamu, bukan yang selalu membenarkan apa saja tindakanmu.

🌾Teman sejati, bukan teman yang tidak pernah berpisah, tapi teman yang apabila bertemu karena Allah, dan jika berpisah, berpisah karena Allah..

🌾Di antara bukti kesetiaanmu terhadap teman mu, jika namanya kau hadirkan dalam doamu tanpa dia ketahui, agar harapan-harapannya terpenuhi.

🌾Mengetahui dan memahami tabiat teman, adalah setengah dari modal pertemanan yang baik…

🌾Pada teman yang lebih muda, katakan:
‘Aku tlah mendahuluinya dalam dosa’.

🌾Pada yang lebih tua katakan, ‘Dia telah mendahuluiku dalam taat & kebaikan.’

🌾🔑 Cari teman yang dapat menerimamu “apa adanya”, bukan yang selalu mencari padamu “ada apanya”🔑

🌾Teman yang baik, bukan hanya sekedar tahu dimana rumahmu, tapi dia tahu dimana hatimu?

🌾Teman yang baik, bukan orang yang dimuliakan temannya, tapi orang yang temannya merasa dimuliakan olehnya…

🌾Kekayaan dan kedudukan dapat menundukkan teman, tapi hanya perbuatan baik yang dapat menundukkan hatinya..

🌾Mengalah dalam ber teman belum tentu kalah. Bisa jadi hal itu menjadi sebab dia dapat “mengalahkannya”…

🌾Adakalanya dalam berteman kita harus mengalah sepanjang tidak menjatuhkan harga diri dan menggadai prinsip..

🌾Husnuzzan dalam berteman itu penting…
Tapi berhati-hati juga perlu….

🌾Saat pertemanan belum begitu intens, hindari memberikan kesimpulan akhir baik atau buruknya teman mu…

🌾Saat engkau merasa tidak ada beban untuk mencurahkn perasaanmu pada teman mu, dialah teman dekatmu…

🌾Saat kau gembira dengan kegembiraan temanmu dan sedih dengan kesedihan temanmu, kau telah menjadi teman sejatinya…

🌾Tundalah marahmu pada temanmu beberapa saat. Boleh jadi kau temukan hakekat yang tidak kau ketahui sebelumnya, atau marahmu sudah reda..

🌾Jika sekian kali teman mu marah kepadamu namun dia tidak mengeluarkan kata-kata kasar, dia layak menjadi teman baikmu

🌾Berhati-hati lah dalam memilih teman. Tapi harus lebih hati-hati lagi jika ingin menggantinya….

🌾Mendamaikan dua teman yang bertikai lebih baik dibanding memihak salah satunya…

🌾Jangan bantu teman mu yg bermusuhan dengan temannya. Bisa jd mereka akan berdamai sedangkan engkau masih bermusuhan..

🌾Jangan terlalu sering bertemu teman, jangan pula terlalu jarang….

🌾Tegurlah teman mu kala sepi dan pujilah dia kala ramai….

🌾Jika engkau hanya ingin ber teman dengan orang yg tidak ada kekurangannya, sama saja engkau tidak ingin berteman dgn dirimu sendiri…

🌾Jika engkau hanya ingin ber teman dengan orang yg tidak ada kekurangannya, sama saja engkau tidak ingin berteman…

🌾🔑 Keinginan menjadi teman yang baik, harus melebihi keinginan mendapatkan teman yg baik…

🌾Kekayaan dapat mendatangkan banyak teman, tapi jika musibah menimpa, akan menjadi ujian bagi merka.

🌾Jika matamu mendapatkan kekurangan pada teman mu, jangan serta merta lisanmu mengungkapkannya…

🌾Kelau teman mu lebih pintar, belajarlah darinya. Kalau lebih bodoh, ajarilah, Kalau sepadan, berdiskusilah…

🌾Teman mu adalah cerminmu. Kalau dia baik, maka sesuaikan dirimu seperti dia, kalau buruk, maka perbaikilah cerminnya.

🌾Kalau ada teman mu membicarakan keburukan temanmu yg lain, hati-hati, keburukanmu bisa jadi akan dia bicarakan kepada temanmu yg lain…

🌾Teman baik teman mu, layak menjadi temanmu, tapi musuh temanmu, tidak harus menjadi musuhmu.

🌾Cepat atau lambat, kita kan berpisah dengan teman-teman kita. Hanya iman dan takwa kepada Allah yang dapat memastikan pertemuan di surga-Nya..

Aamiin..

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

puasa di bulan Muharram

Muharram Bulan Allah, Bukan Bulan Sial Apalagi Bulan Syi’ah

📝 Pemateri: DR. WIDO SUPRAHA

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Muharram, Syahrullah, bulan Allah, segera tiba.

Bulan penuh keutamaan amal shalih seperti puasa, berarti keutamaan juga untuk amal shalih lainnya seperti resepsi pernikahan, sunatan, aqiqah, perjalanan jauh, dan sejenisnya.

Generasi terbaik umat Islam telah mengisi bulan Muharram dengan memperbanyak amal shalih, dan menjaga diri mereka dari berperang kecuali jika diperangi musuh.

Allah Swt. telah berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّہُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَہۡرً۬ا فِى ڪِتَـٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡہَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٌ۬‌ۚ ذَٲلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ‌ۚ فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيہِنَّ أَنفُسَڪُمۡ‌ۚ وَقَـٰتِلُواْ ٱلۡمُشۡرِڪِينَ كَآفَّةً۬ ڪَمَا يُقَـٰتِلُونَكُمۡ ڪَآفَّةً۬‌ۚ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلۡمُتَّقِينَ (٣٦)

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.

Itulah [ketetapan] agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (Q.S. At-Taubah/9:36)

Abu Muhammad Makki ibn Abi Thalib Hammusy ibn Muhammad ibn Mukhtar Al-Qaisi al-Qairawani al-Andalusi al-Qurthubi al-Maliki (355-437H) berkata, “Empat bulan yang dimaksud dalam ayat di atas adalah Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram”.

وهن: رجب، وذو القعدة، وذو الحجة والمحرم

(Al Hidayah ila Bulugh an-Nihayah fi ‘Ilmi Ma’ani al-Qur’an wa Tafsiruhu, wa Ahkamuhu wa Jamalu min Fununi ‘Ulumihi, Maktabah Syamilah).

Hal ini juga telah dijelaskan Nabi Saw. dalam salah satu khutbahnya,

“Sesungguhnya zaman  telah bergulir seperti saat hari ketika diciptakannya langit dan bumi. Satu tahun terdiri atas 12 bulan, dan di antaranya ada 4 bulan haram, 3 bulan berturutan yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan kemudian bulan Rajab yang berada di antara Jumadil Akhir dan Sya’ban. (HR. Bukhari No. 59, HR. Muslim No. 1679)

إن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق السموات والأرض، السنة اثنا عشر شهراً منها أربعة حرم ثلاث متواليات ذو القعدة وذو الحجة والمحرم، ورجب مضر الذي بين جمادى وشعبان

Muhammad ibn ‘Abdurrahman ibn Muhammad ibn ‘Abdullah al-Husni al-Ihabi asy-Syafi’i (832-905H) mengutip pendapat sebagian ulama bahwa larangan untuk berbuat aniaya (kezhaliman) pada ‘فيهن’ merujuk kepada ‘اثنا عشر شهراً’ dimaksud, sehingga tidak terbatas pada empat bulan saja.

Demikian tegas larangan tersebut disampaikan agar manusia mengisi seluruh bulan dengan ketaatan.

والطاعة فيها أعظم أجراً

Dan ketaatan yang dilakukan di bulan haram, sangat besar pahalanya. (Tafsir al-Iji Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an, Maktabah Syamilah)

🔑Jika ketaatan yang diamalkan di bulan Muharram akan mendapatkan pahala yang besar, maka penyimpangan keyakinan dan kemaksiatan yang dilakukan di dalamnya pun mendapatkan balasan yang besar.

Tidak pantas bagi manusia mengisinya dengan keyakinan bahwa bulan Muharram adalah bulan sial, sebagaimana tidak pantas bagi manusia untuk menganiaya dirinya di bulan suci.

Meyakini segala waktu, terlebih bulan Allah, sebagai waktu yang akan melahirkan kesialan adalah keyakinan batil yang akan menyakiti Allah Swt.

Rasul Saw. bersabda, “Janganlah kalian mencela waktu karena Allah Dialah (pencipta) Ad-Dahr. (HR. Muslim No. 5827)

لاَ تَسُبُّوا الدَّهْرَ؛ فَإِنَّ اللهَ هُوَ الدَّهْرُ

Sebagaimana Allah Swt telah berfirman dalam sebuah hadits Qudsi:

“Anak Adam telah menyakiti-Ku; ia mencela dahr (waktu), padahal Aku adalah (pencipta) dahr.
Di tangan-Ku segala perkara, Aku memutar malam dan siang.” (HR. Bukhari No. 2042, Muslim No. 3326)

يؤذيني ابن آدم يسب الدهر، وأنا الدهر، بيدي الأمر أقلب الليل والنهار

Demikian juga dengan beramal, terlebih beramal di bulan Allah dengan amalan yang bersifat menganiaya diri, melukainya, bahkan menyebabkan kecacatannya, hingga kematiannya, sebagaimana perilaku sebagian Syi’ah, bukanlah ciri umat Nabi Muhammad Saw, merujuk peringatan beliau:

“Bukanlah golongan kami sesiapa yang menampar pipi, merobek-robek kantong baju, dan beramal dengan amal jahiliyah”. (HR. Bukhari No. 1294, Muslim No. 103)

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّة

💡🔑 Menjaga iman agar tetap berada dalam pemahaman yang lurus, dan menghidupkan amal agar selalu merujuk kepada ilmu adalah hal yang asasi dalam kehidupan dunia.

Semoga hal itu mudah bagi kita.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Amal dan Ajal

Senandung Keimanan Penghulu Risalah

📝 Pemateri: Ust. Noorahmat Abu Mubarak

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

🌾Saudaraku…
Keimanan yang mengakar ke dalam lubuk jiwa seorang mu’min merupakan bekalan utama dalam menghadapi perjuangan hidup dan menangkal propaganda nafsu duniawi.
Khususnya bagi setiap mu’min yang selalu mencurahkan perhatiannya pada permasalahan ummat yang banyak dijumpai dalam hidup keseharian.

Tanpa keimanan, tiada satupun senjata yang kuat menembus angkara karena sia-sia segala bentuk persiapan.

🌾Saudaraku…
Bekalan utama yang harus kalian miliki adalah keyakinan bahwa MAUT senantiasa mengintai setiap deru nafas kita. Mutlak jiwa kita ada dalam genggamanNya dan ketentuan ajal atas kita tiada satupun yang dapat campur tangan kecuali Allah Ta’ala semata.

Tiada pernah kita akan mampu berlari dari cegatan malaikat maut bila memang Allah Ta’ala sudah putuskan waktunya.

قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا ڪَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوۡلَٮٰنَا‌ وَعَلَى ٱللَّهِ فَليَتَوَڪَّلِ ٱلمُؤمِنُونَ

Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dia-lah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal (QS At Taubah 9:51)

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ۬‌ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ لَا يَستَأۡخِرُونَ سَاعَةً۬‌ وَلَا يَستَقدِمُونَ

Maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak bisa meminta ditunda sesaatpun, dan tidak bisa pula dimajukan (QS Al A’raaf 7:34)

Karenanya bila kita menyadarinya, maka tentu kita akan memiliki keshabaran, keberanian dan semangat yang tinggi hingga bebas dari jeratan rasa cemas, khawatir ataupun takut.

Maka senandungkanlah sya’ir sebagaimana Ali ibn Abi Thalib r.a menancapkannya kedalam hati ketika berhadapan dengan musuh Islam…

 أي يومي من الموت أفر؟
🔹Adakah hari-hari yang mungkin aku bisa lari dari maut…
يوم لا يقدرأم يوم قدر…
🔹Hari yang ditentukan dan yang tidak ditentukan…
يوم لا يقدرلاأرهبه…
🔹Hari yang tak ditetapkan aku pun tidak gentar…
ومن المقدورلاينجوالحذر…
🔹Dan hari yang ditentukanpun aku tak kuasa menghindarinya…
أقول لهاوقد طارت شعاعا…
🔹Kukatakan padanya, ia telah terbang bertabur bintang…
من الأبطال ويحك لن تراعي…
🔹Dari para syuhada yang gugur yang tak kau pedulikan…
فإنك لوسألت بقاءيوم…
🔹Maka sesungguhnya engkau walau meminta penundaan meski sehari…
على الأجل الذي لك لن تطاعي…
🔹Atas ajal yang ditetapkan padamu, tentu ia takkan mau…
فصبرافى عجال الموت صبرا…
🔹Karena itu bershabarlah saat menghadapi kematian…
فما نيل الخلود بمستطاع…
🔹Karena mengharapkan keabadian adalah sesuatu yang mustahil…
🔹Semoga ingatan kalian atas maut senantiasa membuat hati kalian hidup menerangi semesta…
Aamiin…

🌾Saudaraku…
Ketika terlahir sudah kesadaran bahwa ajal tidak pernah lekang dari mengintai kita,
maka sadarkan jiwa kita bahwa selama nyawa masih dikandung badan, rezeki dari Allah Ta’ala tiada akan pernah terputus memenuhi kebutuhan kita.

Tak seorangpun meregang nyawa kecuali telah disempurnakan rezeki dan ajalnya.

Mari perhatikan ayat Allah berikut…

إِنَّ رَبَّكَ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُ‌ۚ إِنَّهُ ۥ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرَۢا بَصِيرً۬ا

Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS Al Isra 17:30)

أَمَّنۡ هَـٰذَا ٱلَّذِى يَرۡزُقُكُمۡ إِنۡ أَمۡسَكَ رِزۡقَهُ ۥ‌ۚ بَل لَّجُّواْ فِى عُتُوٍّ۬ وَنُفُورٍ

Atau siapakah dia ini yang memberi kamu rezki jika Allah menahan rezki-Nya? Sebenarnya mereka terus-menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri? (QS Al Mulk 67:21)

🌾Saudaraku…
Kita sudah selayaknya memiliki sifat kedewasaan, kasih sayang, dan itsar yang tinggi.

💡Kita sudah sepantasnya terbebas dari perbudakan nafsu dunia,
terbebas dari kerinduan untuk memburunya, dari sikap egoistis, tamak maupun kebakhilan…

Bahkan sudah seharusnya kita mengasumsikan bahwa kebahagiaan hidup ada dalam sikap qana’ah…

Terkait ini, Imam Syafi’I rahimahullah bersenandung…

النفسن تجزع أن تكون فقيرة…
🔹Nafsu memang gelisah jika dirinya menjadi fakir…
والفقرخيرمن غنى يطغيها…
🔹Padahal kefakiran itu lebih baik daripada kekayaan yang menyiksa…
وغنى النفوس هوالكفاف, فان أبته…
🔹Kekayaan jiwa itu qana’ah walaupun banyak yang enggan…
فجميع مافى الأرض لايكمنها…
🔹Bumi dengan seluruh kekayaannya tidak akan membuat jiwa qana’ah…

🌾Saudaraku…
Ingatkah kisah ‘Atha’ bin Abi Rabah ketika berkesempatan bertemu dengan Khalifah Abdul Malik bin Marwan?

Pada saat itu khalifah sedang bersantai di atas permadani beserta para pembesar negeri.
Ketika Khalifah melihat ‘Atha’, segeralah ia menyambut dan mempersilakan duduk… kemudian bertanya…
“Yaa Abu Muhammad, adakah kepentingan yang hendak kau utarakan?”
Dan ‘Atha’ pun menjawab dengan lugas…

🔎“Yaa Amirul Mu’miniin, hendaknya anda bertaqwa kepada Allah terhadap apa yang diharamkan oleh Allah dan juga Rasul-Nya, lalu penuhilah perjanjian-Nya dalam memakmurkan negeri.

Hendaknya anda bertaqwa kepada Allah dalam menyantuni putra-putri Muhajirin dan Anshar, karena sesungguhnya anda duduk di majelis ini bersama mereka.

Hendaklah anda bertaqwa kepada Allah dalam melayani dhuafa, karena sesungguhnya mereka benteng kaum muslimiin, dan perhatikanlah urusan kaum muslimin karena sesungguhnya diri anda-lah yang bertanggung jawab atas mereka….”🔍

Khalifah-pun menjawab, “Terima kasih, saya akan melakukan saranmu”. Kemudian ‘Atha’ berdiri tetapi khalifah memegangnya, melarangnya pergi…
“Yaa Abu Muhammad. Anda hanya mengajukan permintaan kepada kami untuk keperluan orang lain, dan itu pun telah kami penuhi. Lalu apakah keperluan untuk anda sendiri?” sang Khalifah-pun mendesak…

Seketika itu ‘Atha’ menjawab tegas…

🔊“Aku tidak pernah menyandarkan keperluanku kepada makhluk”📢

Menggelegar sikap ‘Atha’ hingga relung kalbu kita bergoyang….

Ya….kita tidak boleh menyandarkan keperluan kita kepada makhluk… sebagai konsekuensi atas salim-nya aqidah kita…

🌾Wahai saudaraku…
Kesadaran akan pastinya ajal…dan pastinya takaran rezeki yang Allah Azza wa Jalla berikan pada kita, sudah semestinya melahirkan sikap SYAJA’AH  dan ISTIQOMAH dalam mengusung nilai kebenaran dan keadilan Ilahiyyah.

Dengan demikian maka kita akan dapat memainkan peran kita dalam membina, meng-Ishlah dan menuntun immat kearah kemaslahatan…

Semoga bahu kita mampu mengembalikan ‘Izzah Islam dan kaum muslimin yang saat ini tercabik dan tercerai berai… Aamiin…🙏😢

🌾Wahai saudaraku…
Di masa penuh fitnah ini…keshabaran kita diuji…

🔎Dan hanya keshabaran yang terlahir dari keimanan yang kokoh mengakar-lah yang mampu membebaskan dari belenggu lemahnya jiwa hingga terlahir kekuatan untuk membuang jauh sikap malas, lemah, lesu dan keberserahan…

🔎Karena shabar yang lahir dari jiwa-jiwa yang senantiasa merasa diawasi Allah Ta’ala akan melahirkan ketabahan dan ketegaran dalam menghadapi cobaan yang menimpa…hingga Allah Azza wa Jalla
Mendatangkan pertolongan-Nya atau Allah Ta’ala menjadikan syahid dalam keadaan ridha dan diridhai…😢😢

🔎Kita harus siap menghadapi berbagai tuduhan bohong, propaganda bathil, sikap sinis atau apapun yang mengkerdilkan seruan Islam…

🔎Kita harus siap menghadapi kemungkinan terpahit berupa jeruji besi, pencekalan ataupun penyiksaan…

🔎Kita harus siap menghadapi berbagai tipu daya yang hendak melemahkan semangat perjuangan… tak kurang
– kedudukan sosial…
– jabatan…
– kekayaan…
– hingga wanita-wanita cantik yang menggiurkan…

Siap meluluh-lantakkan barisan dakwah yang dirintis dengan peluh dan darah oleh para pendahulu di masa silam…

Bayangkanlah karenanya wajah Diponegoro, Tjik Di Tiro, Imam Bonjol, Tjokroaminoto, Ahmad Dahlan, Hasyim Asyari, Agus Salim, Mohammad Natsir, Buya Hamka, Syafrudin Prawiranegara…

🔎Kita harus siap menghadapi segala kemungkinan hilangnya nyawa sebagai bentuk tadhiyah….pengorbanan sebagai hamba Allah…gugur sebagai syuhada demi tegaknya kalimatullah hiyal ‘ulya di muka bumi….

🌾Wahai saudaraku…
Sadarkan kembali diri kita….bahwa sungguh salah jika kita melihat jalan dakwah itu licin dan lapang, penuh taburan bunga, taburan senyuman dan tepuk tangan….

Salah besar!!!….
itu salah besar…!!!

Maka sepatutnyalah kita bekali diri dengan keshabaran, ketabahan, kesiapan dalam menghadapi penderitaan dengan tekad yang membaja…agar tak luntur jiwa ketika ujian itu menghadang jalan dakwah kita…

Mari simak bait syair berikut…

حب السلامة يثني هم صاحبه…
عن المعالي ويغري الرء بالكسر…
فإن جنحت إليه فاتخذ نفقا…
فى الارض أوسلما فى الجو فاعتزل…
🔹Cinta keselamatan sikap terpuji tetapi harus didukung oleh semangat yang tinggi…
🔹Sayangnya orang lebih suka hidup santai…
🔹Bila anda cenderung untuk memburunya.
🔹Maka, anda harus mempersiapkan dana di bumi atau anda persiapkan tangga di udara
🔹Lalu, berangkatlah…!!!

Sementara seorang tabi’in Abu Thayib Al Muttaanabbi berkata dalam syairnya…

ذريتى…أنل مالاينال من العلا…
فصعب العلا فى الصعب والسهل فى السهل…
تريد ين إدراك المعالي رخيصة…
ولابددون الشهد من إبرالنحل…
🔹Anak cucuku, aku telah mencapai ketinggian puncak…
🔹Kesulitan ada pada ketinggian, dan kemudahan ada pada kerendahan…
🔹Anda ingin mencapai ketinggian dengan mudah?
🔹Tidak mungkin!!
🔹Tanpa perjuangan melawan sengatan lebah…

Dan seorang penyair generasi tabi’in lain berkata…

إذاكانت النفس كبارا…
🔹Bila keinginan-keinginan itu besar…
تعبت فى مرادها الأجسام…
🔹Maka tubuh-tubuh pun payah dalam meraihnya…

 💡🔑 Semoga kita semua tidak terbuai hembusan angin tenang melenakan, Agar langkah kita tetap luruh menuju cahaya terang yang sudah nampak menyambut kita di penghujung perjalanan…

Aamiin.

وَإِنَّكَ لَتَدۡعُوهُمۡ إِلَىٰ صِرَٲطٍ۬ مُّسۡتَقِيمٍ۬

Dan sesungguhnya kamu benar-benar menyeru mereka kepada jalan yang lurus. [QS Al Mu’minuun 23:73]

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

sabar dan ikhlas

Kalau Belum Waktunya, Jangan

📝 Pemateri: Ust SYAHRONI MARDANI Lc.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Ada kaidah yg mengatakan bahwa:

🍀🍂”SIAPA YANG MENIKMATI SESUATU SEBELUM WAKTUNYA, MAKA SAAT WAKTUNYA TIBA, DIA TIDAK DAPAT MENIKMATINYA LAGI”.🍂🍀

Benar sekali kaidah ini.. Siapa yang bersenang-senang di dunia, maka dia tak dapat bersenang-senang lagi di akhirat.

🌵Pakaian penghuni surga adalah sutera (fathir 35 : 33).. (alhajj 22 : 23)

Dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

🌵 “Janganlah engkau memakai sutera.
Dan barang siapa yg memakai sutera di dunia, maka dia tak akan dapat memakainya lagi di akhirat” (muttafaq alaih)

Ada beberapa minuman penghuni surga, di antaranya adalah khamar. Tentu khamar yg terbaik dan tidak memabukkan. (Muhammad 47 : 15) (alwaqiah 56 : 17 -19)

Rasulullah saw dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Muslim bersabda,

🌵”Setiap yang memabukkan adalah khamar. Setiap khamar adalah haram. Siapa yg minum khamar (di dunia) lalu mati dan belum bertaubat masih kecanduan khamar, maka dia tak akan pernah meminumnya lagi di akhirat” (HR muslim)

Saudaraku..
Dunia adalah tempat beramal…
Dan akhirat tempat memetik hasilnya.

Kita akan bersenang senang di akhirat,
Insya Allah bersenang senang di surganya Allah.

💡”Innaman nasru sobru sa’ah.. ”

Maknanya…

💡 KEMENANGAN ITU ADALAH BERSABAR YANG HANYA SEBENTAR SAJA.

Wallahu a’lam bishawab.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678