Kenikmatan Waktu Luang dan Sehat

Kemana Waktumu Berlalu? (Harishun Ala Waqtihi)

📝 Pemateri: Ustadz Umar Hidayat, M.Ag

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Betapa bahagianya bila amal kita bermanfaat melintasi umur dan usia kita.

“Jika Allah menginginkan kebaikan untuk hamba-Nya, Dia menolongnya dengan waktu dan membuat waktunya sebagai penolong baginya.’(Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah)

Bukankah kewajiban kita jauh lebih banyak yang harus dilakukan dari pada waktu yang tersedia? Di sinilah kita betul-betul membutuhkan pengelolaan waktu dengan baik. Bukankah Waktu yang telah hilang tidak akan pernah Anda temukan lagi karena waktu tak bisa kembali lagi.

Dari Abdullah Ibnu Mas’ud RA bahwasanya dia berkata: “Tidaklah aku menyesali sesuatu, seperti penyesalanku atas suatu hari yang berlalu dengan terbenamnya matahari, semakin berkurang umurku tetapi tidak bertambah amalanku.”

Jika engkau tak disibukan dengan kebaikan, maka yakinlah engkau sedang bergelut dalam keburukan. Lalu kita baru sadar setelah semuanya terjadi. Dan penyesalan selalu datang terlambat mengunjungi. Tentu Kita menyadari, bahwa kita adalah orang yang ingin selalu berubah menjadi lebih baik dalam hidup ini…..

Jika mau berubah, hal pertama yang harus dilakukan adalah rubah kebiasaanmu. Dan untuk mengubah kebiasaan itu kita wajib merubah cara memanfaatkan waktu yang selama ini dilakukan. Inilah uniknya waktu, dengan segala sifat yang melekat di dalamnya. Sehingga sedemikian rupa kita harus memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Di siniah sukses dan bangrut kita pertaruhkan. Untung dan rugi kita ujikan.

Inilah alasannya, Allah secara khusus mengungkap tentang waktu ini dalam Al-Qur’anul Karim Surat Al-Ashr (103): 1-3, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

Ayat di atas menjelaskan bahwa manusia memang benar-benar berada dalam kerugian apabila tidak memanfaatkan waktu yang telah diberikan oleh Allah secara optimal untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan baik. Hanya individu-individu yang beriman dan kemudian mengamalkannyalah yang tidak termasuk orang yang merugi, serta mereka bermanfaat bagi orang banyak dengan melakukan aktivitas dakwah dalam banyak tingkatan.

Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia.Waktu kita sama. Tapi isinya bisa berbeda. Satu hari sama 24 jam, tapi hasil seseorang bisa jauh berbeda. Kesempatan kita sama 24 jam dalam sehari, tapi yang mengisinya dengan amal sholih, tidak semua kita bisa. Tentu bukan tanpa sebab Allah secara khusus ngebahasnya dalam al Qur’an. Lebih lanjut, dalam Al-Qur’an surat Al-Imran (3) ayat 104, Allah berfirman, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.”
Dengan demikian, hanya orang-orang yang mengerjakan yang ma’ruf dan meninggalkan yang munkarlah orang-orang yang memperoleh keuntungan. Sukses. Berkejayaan. Berhasil. Sesungguhnya, jika mengelola waktu (harishun Ala Waqtihi) adalah kunci keberhasilan, maka mengelola diri (jiwa) itu adalah kunci mengelola waktu.

Setiap muslim yang memahami ayat di atas, tentu saja berupaya secara optimal mengamalkannya. Dalam kondisi kekinian dimana banyak sekali ragam aktivitas yang harus ditunaikan, ditambah pula berbagai kendala dan tantangan yang harus dihadapi. Seorang muslim haruslah pandai untuk mengatur segala aktivitasnya agar dapat mengerjakan amal shalih setiap saat, baik secara vertikal maupun horizontal.

Secara vertikal, dirinya menginginkan sebagai ahli ibadah, dengan aktivitas qiyamullail, shaum sunnah, bertaqarrub illallah, dan menuntut ilmu-ilmu syar’i. Dalam hubungannya secara horizontal, ia menginginkan bermuamalah dengan masyarakat, mencari maisyah bagi keluarganya, menunaikan tugas dakwah di lingkungan masyarakat, maupun di tempat-tempat lainnya.

Hanya orang-orang ‘hebat’ dan mendapatkan taufik dari Allah, yang mampu mengetahui urgensi waktu lalu memanfaatkanya seoptimal mungkin. Dalam hadits, “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu dalam keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang (HR. Bukhari).

Semua itu tentu saja harus diatur secara baik, agar apa yang kita inginkan dapat terlaksana secara optimal, tanpa harus meninggalkan yang lain. Misalnya, ada orang yang lebih memfokuskan amalan-amalan untuk bertaqarrub ilallah, tanpa bermu’amalah dengan masyarakat. Ada juga yang lebih mementingkan kegiatan muamalah dengan masyarakat, tetapi mengesampingkannya kegiatan amalan ruhiyahnya.

Sebagai muslim, tentu tidak ada yang patut kita teladani selain peri kehidupan nabi Muhammad S.A.W. dalam segala aspek kehidupan. Tidak hanya dalam hal ritual tetapi dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Begitupun dengan para sahabat Rasulullah. Mus’ab bin Umair misalnya. seorang pemuda yang kaya, berpenampilan rupawan, dan biasa dengan kenikmatan dunia. Ibunya sangat memanjakannya, sampai-sampai saat ia tidur dihidangkan bejana makanan di dekatnya. Ketika ia terbangun dari tidur, maka hidangan makanan sudah ada di hadapannya.

Dalam Asad al-Ghabah, Imam Ibnul Atsir mengatakan, “Mush’ab adalah seorang pemuda yang tampan dan rapi penampilannya. Kedua orang tuanya sangat menyayanginya. Ibunya adalah seorang wanita yang sangat kaya. Sandal Mush’ab adalah sandal al-Hadrami, pakaiannya merupakan pakaian yang terbaik, dan dia adalah orang Mekah yang paling harum sehingga semerbak aroma parfumnya meninggalkan jejak di jalan yang ia lewati.” (al-Jabiri, 2014: 19).

Ia adalah di antara pemuda yang paling tampan dan kaya di Kota Mekah. Kemudian ketika Islam datang, ia jual dunianya dengan kekalnya kebahagiaan di akhirat. Sejak itu seluruh waktu kehidupannya ia persembahkan di jalan dakwah bersama Rasulullah, hingga akhir hidupnya. Rasulullah Saw mengenang Mus’ab dalam bersabdanya,

مَا رَأَيْتُ بِمَكَّةَ أَحَدًا أَحْسَنَ لِمَّةً ، وَلا أَرَقَّ حُلَّةً ، وَلا أَنْعَمَ نِعْمَةً مِنْ مُصْعَبِ بْنِ عُمَيْرٍ

“Aku tidak pernah melihat seorang pun di Mekah yang lebih rapi rambutnya, paling bagus pakaiannya, dan paling banyak diberi kenikmatan selain dari Mush’ab bin Umair.” (HR. Hakim).

Sedang kita……………..?
kita kadang masih tertukar, menjual akhiratnya untuk dunianya. Kejar dunia, lupa akhirat. Waktu habis untuk urusan dunia, akhirat tak kebagian adanya. Meredupkan akhirat untuk alas an dunia. Bangsa Arab mengenal waktu adalah pedang. Sedangkan Bangsa Barat menetapkan waktu adalah uang. Tentu efeknya akan berbeda antara keduanya.

Benarlah kiranya nasehat Al-Hasan Basri; “Sungguh saya telah berjumpa dengan beberapa kaum, mereka lebih bersungguh-sungguh dalam menjaga waktu mereka daripada kesungguhan kalian untuk mendapatkan dinar dan dirham”

Coba kita saksikan episode singkat Rasulullah dan para salafush sholih dalam memanfaatkan waktunya:
Rasulullah SAW : Dalam waktu 23 tahun bisa membangun peradaban Islam yang tetap ada sampai sekarang. Ikut 80 peperangan dalam tempo waktu kurang dari 10 tahun, santun terhadap fakir miskin, menyayangi istri dan kerabat, dan yang luar biasa adalah beliau seorang pemimpin umat yang bisa membagi waktu untuk umat dan keluarga secara seimbang!

Zaid bin Tsabit RA : Sanggup menguasai bahasa Parsi hanya dalam tempo waktu 2 bulan! Beliau dipercaya sebagai sekretaris Rasul dan penghimpun ayat Quran dalam sebuah mush’af

Abu Hurairah : Masuk Islam usia 60 tahun. Namun ketika meninggal di tahun 57 H, beliau meriwayatkan 5374 Hadits! (Subhanallah!)

Anas bin Malik : Pelayan Rasulullah SAW sejak usia 10 tahun, dan bersama rasul 20 tahun. Meriwayatkan 2286 Hadits.

Abul Hasan bin Abi Jaradah (548 H) : Sepanjang hidupnya menulis kitab-kitab penting sebanyak tiga lemari.

Abu Bakar Al-Anbari : Setiap pekan membaca sebanyak sepuluh ribu lembar.Syekh Ali At-Thantawi : Membaca 100-200 halaman setiap hari. Kalkulasinya, berarti dengan umurnya yang 70 tahun, beliau sudah membaca 5.040.000 halaman buku. Artikel yang telah dimuat di media massa sebanyak tiga belas ribu halaman. Dan yang hilang lebih dari itu.

Ibnu Jarir Ath-Thabari, beliau menulis tafsir Al-Qur’an sebanyak 3.000 lembar, menulis kitab Sejarah 3.000 lembar.Setiap harinya beliau menulis sebanyak 40 lembar selama 40 tahun.Total karya Ibnu Jarir 358.000 lembar.

Ibnu Aqil menulis kitab yang paling spektakuler yaitu Kitab Al-Funun, kitab yang memuat beragam ilmu, adz-Dzahabi mengomentari tentang kitab ini, bahwa di dunia ini tidak ada karya tulis yang diciptakan setara dengannya. Menurut Ibnu Rajab, sebagian orang mengatakan bahwa jilidnya mencapai 800 jilid.

Al-Baqqilini tidak tidur hingga beliau menulis 35 lembar tulisan.

Ibnu Al Jauzi senantiasa menulis dalam seharinya setara 4 buah buku tulis. Dengan waktu yang dimilikinya, beliau mampu menghasilkan 2.000 jilid buku. Bekas rautan penanya Ibnul Jauzi dapat digunakan untuk memanasi air yang dipakai untuk memandikan mayat beliau, bahkan masih ada sisanya.

Iman An-Nawawi setiap harinya berlajar 12 mata pelajaran, dan memberikan komentar dan catatan tentang pelajarannya tersebut. Umur beliau singkat, wafat pada umur 45 tahun, namun karya beliu sangat banyak dan masih dijadikan sumber rujukan oleh umat muslim saat sekarang ini.

Al Biruni, (362H—440H), seorang ahli ilmu falak dan ilmu eksakta, ahli sejarah, dan menguasai lima bahasa yaitu bahasa Arab, Suryani, Sanskerta, Persia dan India. Saat detik-detik terakhir hidup beliau, tetap mempelajari masalah faraidh (waris). Lalu seorang berkata kepada beliau, layakkah engkau bertanya dalam kondisi seperti ini? Beliau menjawab, kalau aku meninggalkan dunia ini dalam kondisi mengetahui ilmu dalam persoaalan ini, bukankah itu lebih baik dari pada aku hanya sekedar dapat membayangkannya saja, tidak tahu ilmu tentangnya. Tidak lama setelah itu beliau wafat.

Ibrahim bin Jarrah berkata, “Imam Abu Yusuf Al Qadli rahimahullah sakit. Saya Menjeguknya. Dia dalam keadaan yang tidak sadarkan diri. Ketika tersadar, dia berkata kepadaku, ‘hai Ibrahim, bagaimana pendapatmu dalam masalah ini?’ Saya menjawab, ‘Dalam kondisi ini seperti ini?’ Dia menjawab, ‘Tidak apa-apa, kita terus belajar. Mudah-mudahan ada orang yang terselamatkan karenanya.’ Lalu aku pulang. Ketika aku baru sampai di pintu rumah, aku mendengar tangisan. Ternyata ia telah wafat.”

Syaikh Ibnu Taimiyah selalu menelaah dan memetapi pelajarannya saat beliau sakit atau berpergian. Ibnu Qayyim berkata, Syaikh kami Ibnu Taimiyah pernah menuturkan kepadaku, “Ketika suatu saat aku terserang sakit, maka dokter mengatakan kepadaku,‘Sesungguhnya kesibukan anda menelaah dan memperbincangkan ilmu justru akan menambah parah penyakitmu’. Maka saya katakan kepadanya, ‘Saya tidak mampu bersabar dalam hal itu. Saya ingin menyangkal teori yang engkau miliki. Bukankah jiwa merasa senang dan gembira, maka tabiatnya semakin kuat dan bias mencegah datanya sakit?’ Dokter itu pun menjawab, ‘Benar.’ Lantas saya katakan, ‘Sungguh jiwaku merasa bahagia dengan ilmu, dan tabiatku semakin kuat dengannya. Maka, saya pun mendapatkan ketenangan.’ Lalu dokter itu menmpali, ‘Hal ini diluar model pengobatan kami.’

Mempersingkat waktu makan, serta mengurangi makan agar tidak selalu sering ke WC

Kesungguhan genarasi salafus shalih umat ini dalam memanfaatkan waktu sampai pada tingkat bahwa mereka merasa sayang dengan waktu yang dipakai untuk makan, maka mereka mempersingkat sebisa mungkin.

Dawud At-Tha’i rahimahullah memakan alfatit(roti yang dibasahi dengan air). Dia tidak memakan roti kering (tanpa dibasahi). Pembantunya bertanya, “Apakah anda tidak berhasrat makan roti?” Dawud menjawab, “Saya mendapatkan waktu yang cukup untuk membaca 50 ayat antara memakan roti kering dan basah.” (Sifatus Shafwah, 3/92)

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullahmenceritakan kepada kita, Ibnu Aqil berkata, “Aku menyingkat semaksimal waktu-waktu makan, sehingga aku lebih memilih memakan kue kering yang dicelup ke dalam air (dimakan sambil dibasahi) dari pada memakan roti kering, karena selisih waktu mengunyahnya (waktu dalam mencelup kue dengan air lebih pendek daripada waktu memakan roti keringi) bisa aku gunakan untuk membaca dan menulis suatu faedah yang sebelumnya tidak aku ketahui.” (Dia melakukan hal itu supaya bisa memanfaatkan waktu lebih). (Dzailut Thabaqatil Hanabilah, Ibnu Rajab,1/177)

Asy-Syamsul Ashbahani, (674H—749 H), seorang tokoh mahzab Syafii, pakar fiqih dan tafsir. Apa yang diceritakan tentang beliau menunjukkan antusiasnya terhadap ilmu dan ‘pelitnya’ beliau untuk menyia-nyiakan waktu. Sebagian sahabatnya pernah menuturkan bahwa beliau sangat mengindari makan yang banyak, yang tentunya akan butuh banyak minum, dan selanjutnya butuh waktu masuk WC. Sehingga waktu pun banyak terbuang. Lihatlah! bagaimana mahalnya waktu dalam pandangan imam yang mulia ini. Dan tidaklah waktu itu mahal bagi beliau melainkan karena betapa sangat mahalnya ilmu tersebut.

Memanfaatkan waktu perjalanan dengan membaca buku, berzikir, menuntut ilmu, bahkan menyampaikan hadist

Said bin Jabir berkata, “Saya pernah bersama Ibnu Abbas berjalan disalah satu jalan di Mekah malam hari. Dia mengajari saya beberapa hadis dan saya menulisnya diatas kendaraan dan paginya saya menulisnya kembali diatas kertas.” (Sunan Ad-Darimi, Imam Ad-Darimi, 1/105)

Tentang Al-Fath bin Khaqan, beliau membawa kitab dalam kantong bajunya. Apabila beliau bangun dari tempat duduknya untuk shalat atau buang air kecil atau untuk keperluan lainnya, beliau membaca kitabnya hingga sampai ke tempat ingin dia tuju. Beliau juga melakukan hal tersebut ketika kembali dari keperluanya. (Taqyiidul ‘Ilm, Al Khatib Al-Baghdadi)

Imam An-Nawawi tidak pernah menyia-nyiakan waktunya, baik di waktu siang atau pun malam, kecuali menyibukkan dirinya dengan ilmu. Hingga ketika beliau berjalan di jalanan, beliau mengulang-ngulang ilmu yang telah dihafalnya, atau membaca buku yang telah ditelaahnya sambil berjalan. Beliau melakukan itu selama enam tahun. (Tadzkiratul Huffaz, Adz-Dzahabi, 4/1472)

Ibnu Khayyath An-Nahwi, wafat tahun 320 H. Konon, beliau belajar di sepanjang waktu, hingga saat beliau sedang berada di jalanan. Sehingga terkadang, beliau terjatuh ke seleokan, atau tertabrak binatang. (Al-Hatstsu ‘ala Thalabil ‘Ilm wal ijtihad fi jam’ihi, Abu Hilal Askari, hal. 77)

Mengurangi tidur, dan mengisi malamnya dengan menuntut ilmu dan ibadah

Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani tidak tidur malam kecuali sangat sedekit sekali. Beliau adalah seorang imam ahli fikih, ahli ijtihad dan ahli hadis. Beliau lahir tahun 132H, dan wafat 189H. Konon beliau sering tidak tidur malam. Beliau biasanya meletakkan beberapa jenis buku disisinya. Bila bosan membaca satu buku, beliau akan menelaah yang lain. Beliau menghilangkan rasa kantuk dengan air, sembari berujar, “Sesungguhnya tidur berasal dari panas”. (Miftahus Sa’adah wa Misbahus Siyadah, I:23)

Gurunya Imam An-Nawawi berkata tentang Al-Hafizh Al-Mundziri, “Saya belum pernah melihat dan mendengar seorang pun yang paling bersungguh-sungguh dalam menyibukkan diri dengan ilmu selain dirinya. Ia senantiasa sibuk di waktu malam dan siang hari. Saya pernah berdampingan dengannya di sebuah madrasah di Kairo. Selama 12 tahun, rumahku berada di atas rumahnya. Selama itu pula saya belum pernah bangun malam pada setiap jammya, melainkan cahaya lampu senantiasa menyala di rumahnya, sedangkan ia hanyut dalam ilmu. Bahkan ketika makan pun ia sibuk dengan ilmu.” (Bustanul Arifin, Imam Nawawi)

Dan kita…….??????????????
Apa yang sudah patut dibanggakan dari diri kita?

Kita adalah orang yang ingin manfaat amal kita bisa dinikmati melintasi usia dan umur kita.😭😭😭

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berjihadlah

Kita Berjuang Bukan untuk Ketenaran Cukuplah Penduduk Langit Menjadi Saksi

Setelah beberapa kali ragu-ragu, akhirnya Ka’b ibn Malik Radhiyallahu’anhu tertinggal rombongan Nabi Muhammad ShalalLaahu ‘alayhi wa Sallam ke Perang Tabuk.

والمسلمون من تبع رسول الله صلى الله عليه وسلم كثير
لا يجمعهم كتاب حافظ، يعني بذلك الديوان

Ka’b menduga Rasulullah tidak mengetahui absennya dia karena banyaknya balatentara Kaum Muslimin yang berangkat menuju Tabuk. Begitu banyaknya sahabat yang antusias ikut sehingga tidak semuanya tercatat dalam diwan (register/manifest).

Dari sejak dahulu, para mujahid dan mujahidah tidak pernah berjuang agar tertulis namanya dalam suatu catatan atau prasasti.

وأخبر هم خبره فغزاها رسول الله صلى الله عليه وسلم في حرّ شديد واستقبل سفرًا بعيدًا واستقبل غزو عدوّ كثير 

[Sebagaimana diketahui, pra kondisi keberangkatan Tabuk berbeda dengan ekspedisi lainnya], Rasulullah menjelaskan bahwa perjalanan akan dilakukan pada musim panas/kering (lagi minim sumber air sepanjang rute perjalanan), jaraknya ekstra jauh, serta lawannya yang lebih banyak (daripada sebelumnya).

Rasulullah memberikan kesempatan yang cukup untuk bersiap dan saling membantu persiapan, ciri khas ummah yang shalihah.

فقلّ رجل يريد أن يتغيّب إلا ظنّ انه سيخفى له ذلك 

[Ternyata keadaan yg berat itu tidak mengurangi kesemangatan para sahabat untuk berangkat]. Hanya sedikit yang berniat untuk tidak ikut serta kecuali mereka yang menduga Rasulullah tidak mengetahui ketidakhadirannya.

Merupakan ciri mu’min ketika masalah mendera ummat dengan kekuatan besar, maka ia menyambutnya dengan kesemangatan yang lebih besar lagi.

يحزنني أني لا أرى إلا رجلًا مغموصًا عليه في النفاق، أو رجلًا ممّن عذر الله من الضعفاء

[Setelah benar-benar tertinggal dan tidak mungkin tersusul lagi, kini perasaan yang menghantui Ka’b adalah] sedih karena menilai dirinya sendiri tidak lebih dari seorang laki-laki yang tertancap penyakit nifaq (munafik) atau seorang laki-laki yang diberi udzur oleh Allah karena kelemahannya; [dua perasaan yang tidak dimiliki serta tidak pernah diinginkan Ka’b].

Sungguh menakjubkan para sahabat dahulu ketika melakukan kesalahan, mereka sibuk menghisab diri dan cemas dengan kekhilafannya serta tidak pernah mencari sebab pada orang lain.

Kemudian kita semua ketahui bahwa hanya Ka’b ibn Malik, Murarah ibn ar-Rabi, serta Hilal ibn Umayyah yang terus terang mengakui kesalahan mereka di hadapan Baginda Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam. Taubat mereka diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala setelah hampir dua bulan lamanya menerima sanksi berupa larangan dari Rasulullah untuk berbicara dengan ketiganya, sampai turun ketiga ayat:

لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Sungguh, Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Ansar, yang mengikuti Nabi pada masa-masa sulit, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada mereka,

وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّىٰ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

dan terhadap tiga orang yang ditinggalkan. Hingga ketika bumi terasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah (pula terasa) sempit bagi mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksaan) Allah, melainkan kepada-Nya saja, kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Wahai orang-orang yang beriman!

Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.

Surah At-Tawbah, Ayat 117-119

Agung Waspodo, beristighar panjang atas segala kelalaiannya, semoga Allah Ta’ala ampuni dirinya yang lemah itu.

Depok, 15 Syawwal 1439 Hijriyah


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Dosa Menggelisahkan Jiwa

Sendal Pembawa Dosa

📝 Pemateri: Ustadz Solikhin Abu Izzuddin

© Dalam perjalanan ke masjid untuk mengisi pengajian sore ini aku teringat dengan sebuah kisah yang unik. Seorang ulama ahli ibadah seringkali memakai sandal bagus untuk mendukung dia pergi ke masjid dalam rangka bersyukur kepada Allah. Namun sandal tersebut ternyata diambil atau tepatnya dicuri orang yang membutuhkan.

▪Kemudian dia memakai sandal yang biasa agar tidak menarik minat dan selera orang untuk mengambil sandal tersebut. Eh ternyata hilang juga. Akhirnya beliau memutuskan untuk tidak memakai sandal. Orang-orang pun bertanya keheranan,  “Ya Syaikh mengapa Anda tidak mengenakan sandal?”

▪Dengan bijak beliau menjawab, “Aku memang sengaja tidak memakai sandal agar tidak ada orang yang mencuri sandalku sehingga aku tidak membuat mereka melakukan dosa gara-gara mencuri sandalku. Aku tidak ingin menjadi sebab bagi timbulnya dosa bagi orang lain.”

© Sahabatku…
Kisah ini sangatlah sederhana, seorang yang shalih tidak ingin menjadi sebab timbulnya dosa bagi orang lain. Sangat berbeda dengan orang-orang atau seseorang yang menyengaja membuat sebuah sensasi sehingga diomongin atau dikomentari orang lain yang bisa saja yang komen tersebut menjadi berdosa karenanya. Misalnya mancing malem sandal kemudian ramai ramai orang berkomentar. Bisa saja menjadi berdosa bila komentar termasuk ejekan. Dia pemicu komentar juga berdosa. Kita yang asal komentar juga hati-hati karena bisa jadi sedang memproduksi dosa.

▪Caranya gimana?
Orang yang memang tidak punya kapasitas selain sensasi yang menyebabkan dosa bagi orang lain nggak usah diberikan beban dan amanah yang berat apalagi pemimpin sebuah negara. Kasihan kalau dia banyak berdosa.

® Sahabatku
Mari tolonglah dia dengan tidak usah memilih lagi. Satu kali sudah cukup banyak bikin dosa kita dan dia juga,  apalagi kalau sampai dua periode. Terlalu berat.

Wallahu a’lam

 


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Gemar Berbuat Baik

Banyak Jalan Menuju Kebaikan

Oleh: Ust. DR. Wido Supraha M.Si

Pepatah “Banyak Jalan Menuju Roma” mengandung persoalan filosofis. Mungkin yang paling tepat adalah “Banyak Jalan Menuju Penaklukan Roma”, dikarenakan Rasul Saw. telah memberitakan akan penaklukan kota tersebut di kemudian hari, setelah Konstantinopel ditaklukan 800 tahun kemudian oleh Sultan ke-7 Turki ‘Utsmani, Sultan Muhammad al-Fatih.

Adapun Banyak Jalan Menuju Kebaikan menjadi sebuah keniscayaan di tengah keberagaman jalan yang ternyata telah disiapkan untuk kelanggengan aktivitas umat manusia dalam mencari kemuliaan yang hakiki.

Sungguh, Allah Swt. ternyata begitu memudahkan kita mencapai kemuliaan daripada kehinaan, keagungan daripada kerasukan, keberuntungan daripada kerugian, dan kebaikan daripada keburukan. Tentunya kebaikan yang sesuai dengan kehendak Rabbnya, bukan sesuai dengan kehendak pribadi manusia belaka.

Maka menjadi terang setelah Allah Swt. memastikan bahwa kebaikan apa pun yang dikerjakan, maka sesungguhnya Allah pasti mengetahuinya (Q.S. 2:197, 215). Sekecil apapun kadar kebaikan di mata manusia, Allah tetap akan memberikan balasannya (Q.S. 99:7). Dalam hal ini, setiap manusia perlu berlomba-lomba mencari kebaikan dari Allah untuk dirinya sendiri, karena kemudian ketaqwaannya sajalah yang akan menyampaikan kebaikan (shalihan) yang diperbuatnya kepada Rabb-nya (Q.S. 45:15).

Berbicara tentang semangat mencari kebaikan, alangkah luar biasanya kalau kita berkaca kepada para sahabat Nabi Saw., radhiyallaahu ‘anhum ajma’in, bagaimana setiap waktunya digunakan untuk mencari – melaksanakan segala bentuk kebaikan, seakan-akan mereka tidak pernah merasa cukup dengan kebaikan yang telah mereka lakukan dan dawam­kan, seakan-akan energi mereka tak pernah habis untuk mengejar kebaikan.

Pada saat itu, apakah mungkin mereka masih sempat untuk sekedar berfikir untuk berbuat keburukan? Bahkan apakah mungkin mereka masih sempat untuk beraktivitas yang boleh jadi hukumnya mubah-mubah saja?

Sepertinya, mereka terus menerus hidup untuk menghidupkan sunnah agar terus hidup di kehidupan.

Jangan pernah malu untuk berbuat kebaikan, atau bahkan menganggap kecil sebuah kebaikan.

Satu bentuk hadian kepada manusia mungkin karena dibatasi kemampuan menjadi kecil secara nilai dan upaya, tapi yakinlah, sangat besar di sisi Allah Swt.

Senantiasa menunjukkan wajah terbaik penuh kesejukan dan keramahan kepada manusia (Lihat Shahih Muslim No. 2626), menghadiahkan sekedar kikil kambing, (Lihat Fathul Bari V/197), atau sup sayur yang lebih banyak air daripada isinya, apabila dilakukan dengan mengharap ridha Allah Swt. akan meninggalkan bekas mendalam yang mengeratkan persaudaraan, atau meluaskan syi’ar Islam.

Setiap mukmin selalu ada saja yang ingin ia perbuat untuk saudaranya, ia ingin selalu bermanfaat untuk saudaranya, karena ia yakin itu adalah kebaikan.

Nabi Saw. menyaksikan bagaimana seseorang bisa berpindah-pindah tempat menikmati Surga karena ia berupaya memotong pohon yang menghalangi jalanan saudaranya (Lihat Shahih Muslim No. 1914), sehingga membuat Allah memujinya dan memberikan ampunan kepadanya.

Bahkan tidak hanya kepada manusia, kasih sayang mukmin kepada segala makhluk yang memiliki limpa, seperti seekor anjing yang kehausan, sehingga rela bersusah payah untuk menghilangkan penderitaan anjing tersebut pun mendapatkan balasan yang sama dari Allah Swt. (Lihat Fathul Bari V/40-41).

Luar biasa, bentuk kebaikan yang menunjukkan keluasan rahmat Allah Swt, sekaligus menunjukkan dimanapun mukmin berada, niscaya melahirkan peradaban yang mulia di sekitarnya.

Sesungguhnya setiap kebaikan yang kita perbuat akan menjadi sedekah yang luar biasa di sisi Allah Swt (Lihat Shahih Muslim No. 1005).

Sebagai misal, seorang manusia yang senang menanam tanaman, karena ia yakin Islam adalah agama yang ramah lingkungan, dan mencintai lingkungan hidup, hutan di rumahnya sendiri, maka jika ada burung yang memakan tanamannya, manusia yang mencuri buahnya, itu semua tidak akan mengurangi apa yang ia miliki selain menjadi sedekah yang begitu besar di sisi Allah Swt. (Lihat Shahih Muslim No. 1552).

Dalam bentuk lain, seandainya seorang mukmin tidak diberikan kemampuan untuk membantu kesulitan saudaranya, atau sekedar berbuat sesuatu untuk meringankannya, maka akan menjadi sedekah baginya manakala ia mampu mencegah dirinya dari berbuat keburukan kepada orang lain (Lihat Shahih Muslim No. 84).

Dalam bahasa sederhana, kalau tidak mampu menjadi bagian dari solusi masyarakat, maka tidak menjadi bagian dari problematika masyarakat adalah solusi terbaik.

Begitupun jangan lupakan kekuatan dzikir sebagai bagian dari sedekah, Subhanallah, Alhamdulillah, Allaahu Akbar, Laa Ilaaha illallaah, kekuatan amar ma’ruf dan nahi munkar sebagai sedekah, Shalat Sunnah Dhuha dua rakaat pun sedekah. (Lihat Shahih Muslim No. 720).

Sekalangan sahabat Rasulullah Saw. yang miskin pernah mengeluhkan karena kemampuan orang-orang kaya yang dapat dengan mudah bersedekah dengan harta mereka untuk mendapatkan pahala yang besar. Kemudian Rasul Saw. mengingatkan akan kemudahan sedekah yang dapat dilakukan oleh siapapun, termasuk tidak melupakan kekuatan dzikir dan do’a sebagai bagian dari sedekah, tasbih, takbir, tahmid, dan tahlil, amar makruf dan nahi mungkar, bahkan berhubungan suami istri (jima’) adalah sedekah yang sangat mulia (Lihat Shahih Muslim No. 1006).

Bukankah ternyata sedekah itu mudah sekali bagi mukmin, lantas apa yang kemudian membuat kita sulit untuk bersedekah?

Bersedekah adalah wujud syukur kepada Allah Swt. atas beragam nikmat dan perlindungan-Nya dari malapetaka.

Tiga ratus enam puluh persendian manusia harus dikeluarkan shadaqahnya setiap hari tatkala terbit matahari. Ini menunjukkan bahwa manusia harus terus bergerak untuk melahirkan kebaikan-kebaikan yang akan menjadi sedekah baginya.

Mendamaikan dua orang yang bersengketa, membantu menaikkan atau mengangkat barang saudaranya ke atas kendaraannya, senantiasa memilih kata-kata yang baik dalam bertutur kata, menyingkirkan berbagai potensi gangguan di jalanan, bahkan langkah kaki menuju masjid adalah bagian dari bentuk-bentuk sedekah lainnya yang dapat kita lakukan sebagai penyempurna sedekah kita (Lihat Fathul Bari V/309).

Bersedakahlah sesuai kadar kemampuan, jangan pernah merendahkan keutamannya, meskipun hanya dengan separuh biji kurma saja (Lihat Shahih Muslim No. 2734).

Seandainya ia tidak memiliki apapun untuk disedekahkan secara materi, maka bekerja dengan kedua tangannya sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan untuk dirinya dan bahkan kemudian bersedekah, adalah kebaikan yang sempurna (Lihat Shahih Muslim No. 1008).

Shalat sebagai amal utama dan penentu baiknya semua kebaikan yang dilahirkan menjadi aktivitas rutin dan kunci.

Keseriusan di dalam menjaganya akan melahirkan kebersihan kebaikan dari hal-hal yang dapat merusaknya. Lima kali sehari memotivasi kita untuk terus berkreasi dalam kebaikan.

Kebiasaan kita memelihara shalat berjama’ah di Masjid, seperti Subuh, Ashar dan Isya’, tidak hanya mendapatkan balasan Surga, akan tetapi menjadi terapi yang baik bagi penyakit kemunafikan dalam jiwa manusia (Lihat Fathul Bari II/52).

Manakala sifatnifaq hilang dari jiwa kita, maka tidak akan lahir kecuali kebaikan yang sempurna di atas cahaya tauhid.

Shalat lima waktu berjama’ah di masjid yang terus menerus kita lakukan, Shalat Jum’at yang terus menerus tidak pernah kita tinggalkan, Ibadah Suci Ramadhan yang terus menerus kita giatkan, akan menjadi penghapus dosa-dosa yang terjadi di antara waktu-waktu pelaksanaan nya, dimana kita terus menerus mencintai dan mengembangkan kebaikan dengan tetap menjauhi dosa-dosa besar (Lihat Shahih Muslim No. 233).

Oleh karenanya, khusus berbicara tentang shalat Jum’at, mengawali dengan wudhu yang sempurna, dan kemudian mendatangi masjid, mendengarkan khutbahnya, tidak berbicara sepatah kata pun, tidak memain-mainkan sesuatu di tangannya, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya antara Jum’at ditambah tiga hari lagi (sepuluh hari), subhanallah(Lihat Shahih Muslim No. 857).

Begitupun wudhu yang sempurna yang dilakukannya dengan menghemat air wudhu’, tidak boros dalam penggunaan nya, penuh niat yang bersih mengharapkan terhapusnya dosa, melahirkan kebaikan yang sempurna.

Saat ia membasuh wajahnya, keluar dari wajahnya setiap dosa yang dilakukan oleh kedua matanya karena melihat sesuatu yang diharamkan bersama-sama dengan air itu atau bersama-sama dengan tetesan air yang terakhir.

Tatkala ia membasuh kedua tangannya, maka akan keluar setiap dosa yang diperbuat oleh kedua tangannya itu bersama air atau bersama-sama tetesan air yang terakhir sehingga dia akan keluar dalam keadaan bersih dari dosa.

Kemudian ketika ia membasuh kedua kakinya, maka akan keluar dosa yang diperbuat oleh kedua kakinya, bersama-sama dengan air atau bersama-sama dengan tetesan air yang terakhir, maka ia menyelesaikan wudhunya penuh dengan kebaikan, bersih dari dosa (Lihat Shahih Muslim No. 244).

Maka sempurnakanlah wudhu itu dengan memberikan hak dari setiap anggota tubuh, meskipun sulit terasa, karena derajat kebaikan manusia akan semakin tinggi dengannya (Lihat Shahih Muslim No. 215).

Masjid harus menjadi pusaran kebaikan manusia, maka seluruh manusia harus mencintai masjid, gemar memakmurkan masjid, dan memuliakannya dengah hadir pada waktu-waktu yang telah ditetapkan.

Dalam hal ini tidak perlu berharap memiliki rumah dekat dengan masjid, karena kebaikan justeru lebih banyak akan mengalir kepada mereka yang memiliki rumah yang lebih jauh dari masjid, sebagaimana dahulu Rasulullah Saw. pernah mengingatkan Bani Salimah untuk tidak melanjutkan rencana mereka untuk memindahkan pemukimannya lebih dekat ke masjid. Hal ini karena potensi kebaikan dari setiap langkah kakinya begitupun syi’ar selama perjalanannya akan menjadi berkurang (Lihat Shahih Muslim No. 665).

Maka sebagaimana disaksikan Abul Mundzir, Ubay bin Ka’ab r.a., tatkala ada seorang sahabat yang rumahnya terjauh dari masjid di masanya ditawari seekor keledai untuk memudahkannya ke masjid di waktu gelap dan terik matahari, ia mengatakan bahwa ia tidak menyenangi kalau rumahnya dekat ke masjid.

Maka Rasulullah Saw. bersabda, “Qad jama’allaahu laka dzaalika kullahu”, Sesungguhnya Allah telah mencatat semua kebaikan itu bagimu (Shahih Muslim No. 663).

Biasakanlah merutinkan kebaikan yang telah kita mulai dengan kesungguhan niat, karena niscaya tatkala mengalami kesulitan yang dibenarkan syari’at (udzur syar’i) di suatu masa untuk melaksanakan kebaikan tersebut, Allah Swt. akan segera mengenalinya, dan tetap mencatatnya sebagai kebaikan, hanya karena ia terbiasa melakukannya di kala penuh kemudahan (Lihat Fathul Bari VI/136).

Wallahu A’lam.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Ilmu

Ayo Ngaji…

Oleh: Ust. Abdullah Haidir Lc.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan jalan baginya menuju surga.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dll)

Perhatikan, penekanan nya bukan pada ‘ilmunya’ tapi ‘mencari ilmunya’.

Keutamaan ilmu memang tinggi. Tapi yang tidak kalah tingginya adalah proses mencari ilmunnya.

Seseorang yang merasa dirinya bodoh, lalu tanpa bosan dia terus mencari ilmu, lebih baik daripada orang yang sudah merasa berilmu lalu dia berhenti untuk menuntut ilmu.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ، فَارْتَعُوا “، قَالُوا: وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ؟ قَالَ: حِلَقُ الذِّكْرِ  (رواه الترمذي وقال حديث حسن غريب، وأحمد، وقال الأرنؤوط: إسناده ضعيف)

“Jika kalian melewati taman-taman surga, maka singgahlah.”

Mereka bertanya, “Apakah taman-taman surga itu?”

Beliau menjawab, “Halaqah-halaqah zikir.”

(HR. Tirmizi, dia berkata haditsnya hasan gharib, Ahmad. Al-Arnauth berkata: sanadnya lemah)

Atha bin Abi Rabah berkata:
Halaqah-halaqah zikir adalah majelis (yang menjelaskan) halal haram, bagaimana engkau membeli, bagaimana engkau shalat, bagaimana engkau zakat, bagaimana engkau haji, bagaimana engkau menikah, bagaimana engkau mencerai dan semacamnya.

Ibnu Ruslan berkata dalam syairnya,

وَكُلُّ مَنْ بِغَيْرِ عِلْمٍ يَعْمَلُ أَعْمَالُهُ مَرْدُودَةٌ لاَ تُقْبَلُ

“Siapa yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya tertolak tak diterima.”

Seorang ulama berkata dalam syairnya,

فَإِنَّ فَقِيهاً وَاحِدًا مُتَوَرِّعاً     أَشَدُّ علَىَ الشَّيْطَان مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ

“Satu orang yang paham agama dan dia wara’ (takut melanggar dan maksiat), maka itu lebih berat bagi setan dari seribu ahli ibadah (tanpa ilmu).”

Seorang ulama berkata,
“Siapa yang mendatangi ulama dan duduk di majelisnya, lalu dia tidak dapat merekam ilmu yang disampaikan, Allah tetap memberinya tujuh karomah (kemuliaan):

1. Dia mendapatkan keutamaan orang yang mengaji.

2. Selagi dia tertahan di majelis tersebut, maka selama itu dia terhalang dari dosa dan maksiat.

3. Jika dia keluar dari rumahnya, rahmat Allah diturunkan kepadanya.

4. Jika dia singgah di majelis tersebut, rahmat Allah akan diturunkan kepada ulama tersebut dan dia mendapatkan barokahnya.

5. Dicatatkan untuknya kebaikan-kebaikan selama dia mendengarkannya.

6. Dia dikelilingi malaikat yang membentangkan sayap-sayapnya.

7. Setiap langkah kaki yang dia ayunkan dapat menjadi kafarat (penghapus) dosa dan pengangkat derajat serta penambah pahala.

Ini bagi yang tidak dapat merekam apa yang disampaikan. Bagaimana dengan mereka yang mengaji dan dapat merekam apa yang dia sampaikan. Kebaikan berlipat-lipat akan dia dapatkan.

Yang sudah rutin dan aktif di suatu pengajian, tekunilah dan istiqamahlah, jangan mudah goyah dan lemah.

Yang belum, segera cari tempat mengaji yang dia percaya lurus pemahamannya dan mungkin dia hadiri.

Kalau bukan kita siapa lagi,
Kalau tidak sekarang, kapan lagi…


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Umat Mulia Karena Islam

MELEJITKAN POTENSI DIRI DENGAN ZIKIR

Oleh: Ust. Dr. Abas Mansur Tamam

Hadits:

عن أبي مُوسَى رضي الله عنه قال قال النبي صلى الله عليه وسلم: (مَثَلُ الذي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ) (البخاري 5/6044؛ مسلم 1/779)

Diriwayatkan dari Abu Musa, Nabi saw. bersabda: “Perumpamaan orang yang berzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berzikir adalah seperti perbandingan antara hidup dan mati” (Bukhari, 5/6044; Muslim, 1/779).

Andai kualitas hidup hanya ditentukan oleh kekuatan fisik, posisi manusia tentu sangat kecil di jagat ini.

Beruntung Allah memberikan al-asma’a kullaha, yaitu seluruh ilmu pengetahuan dasar kepada Adam. Dengan bekal ilmu pengetahuan, Adam menjadi makhluk yang lebih mulia dibanding semua makhluk yang ada, termasuk malaikat.

Kini kita berkewajiban mewarisi dan mengembangkan ilmu itu dalam berbagai spesialisasi. Karena itu keunggulan berpikir menjadi parameter kemuliaan manusia setelah iman.

Firman Allah:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Artinya: “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (Al-Mujadilah [58]: 11).

Tetapi akal bukan satu-satunya inti kemanusiaan. Ada yang lain, yaitu ruh. Dua-duanya harus terberdayakan. Olah pikir dan olah zikir menjadi dua sisi mata uang.
Ali Syariati menyebutnya kesatuan antara rausan fikir dan rausan zikir.

Tetapi ada yang unik dari rausan zikir. Bahwa kecanggihan di bidang ini bisa mempercepat pemberdayaan dimensi haraki (pisik) dan fikri (akal). Dalam zikir terdapat energi besar.

Banyak fakta yang bisa direfleksikan terkait dengan persoalan ini. Dalam penelitian Napoleon Benavarte, prajurit-prajurit yang taat beragama jauh lebih unggul:
“Perbandingan antara tentara yang tidak bermoral dengan tentara yang bermoral adalah 1:2”.
Gambaran yang mirip juga ada dalam Alquran. Dalam kondisi lemah, perbandingan tentara kafir dengan tentara Mukmin adalah 1:2.
Dalam kondisi normal perbandingan itu adalah 1:10 (Al-Anfal [8]: 65-66). Itu perbandingan rata-rata.

Ada perbandingan yang lebih dahsyat. Dalam ekspansinya ke Mesir, Jenderal Amr bin Ash meminta bantuan 4000 tentara kepada Khalifah Umar bin Khattab. Anehnya, beliau hanya mengirimkan 4 orang sahabat. Dalam suratnya Umar berkata: wahid fi alfi rajul, satu sebanding seribu orang.

Abu Bakar pernah menggambarkan seorang sahabat yang tidak terkenal, tapi punya energi hidup yang sangat besar: “Sebuah pasukan tidak akan dikalahkan jika di situ ada Qo’qo bin Amr”.
Energi itu juga yang membuat Khalid bin Walid mampu mengikuti 100 peperangan. Dalam perang Yarmuk saja, dengan pedangnya ia membunuh 5 ribu dan mematahkan 9 pedang musuh.

Kebetulan saja ilustrasi ini diawali dari tesis Napoleon, jadi data-datanya lebih banyak tentang perang.

Tetapi sungguh zikir bisa menjadi energi untuk seluruh aktifitas kemanusiaan, termasuk diantaranya kegiatan ilmiah dan akademik. Banyak fakta sejarah yang bisa kita angkat untuk ilustrasi yang terakhir ini.

Ibn Taimiyah, dalam sehari menghabiskan 4 kurasah (± 48 lembar) untuk menulis. Beberapa bukunya ditulis sekali duduk. Dan buku-buku yang beliau tulis lebih dari 1000 judul. Kebanyakan manuskripnya tidak sampai kepada kita.

Ibn Jarir Al-Thabari menulis sebanyak 100 ribu halaman dalam hidupnya. Tentu pula tidak semuanya sampai ke tangan kita.

Muhammad Abduh dalam sekali duduk sebelum tidur sanggup menulis sanggahan terhadap Gabriel Hanotox, seorang orientalis yang menjadi menteri luar negeri Prancis pada masanya. Tulisan itu kurang lebih setengah dari buku Al-Islam Din al-Ilmi wa al-Madaniyah yang terbit dalam 227 halaman.

Banyak ulama menghasilkan produk ilmiahnya bahkan pada usia yang ralatif muda. Misalnya, buku-buku Sibawaih di bidang nahwu umumnya ditulis pada usia 30 tahun. Dan Imam Nawawy yang meninggal dalam usia 45 tahun telah meninggalkan khazanah yang sangat besar dalam fiqih Syafi’iyyah.

Apa rahasia mereka? Hemat saya, rahasianya ada pada kualitas zikir.

Bahwa kecanggihan ruhiyah bisa mengangkat potensi-potensi kemanusiaan sehingga bisa melakukan sesuatu yang mirip adimanusiawi, jauh di luar kemampuhan manusia rata-rata. Hal itu karena yang telah berperan dalam diri mereka tidak murni dimensi kemanusiaannya.

Ada energi besar yang diserap dengan keluhuran ruhiyahnya. Energi itu berasal dari Allah swt. Hadis Qudsi yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Abu Hurairah mendukung tesis ini.

Rasulullah saw. bersabda:

قال رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ اللَّهَ قال: من عَادَى لي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وما تَقَرَّبَ إلي عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إلي مِمَّا افْتَرَضْتُ عليه، وما يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إلي بِالنَّوَافِلِ حتى أُحِبَّهُ، فإذا أَحْبَبْتُهُ كنت سَمْعَهُ الذي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الذي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ التي يَبْطِشُ بها، وَرِجْلَهُ التي يَمْشِي بها، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ، وما تَرَدَّدْتُ عن شَيْءٍ أنا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عن نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وأنا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ

Artinya:
“Siapa yang memusuhi Aku, maksudnya memusuhi wali-Ku, maka Aku akan mengumumkan perang kepadanya.
Tidaklah hamba-Ku taqarrub kepada-Ku lebih Aku cintai dari jenis ibadah yang telah Aku fardukan.

Jika hamba-Ku terus bertaqarrub dengan nawafil, maka Aku akan mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya ketika dia mendengar. Akulah matanya ketika dia melihat. Akulah tangannya ketika dia merangkak. Dan akulah kakinya yang dia pakai untuk melangkah.

Jika dia meminta sesuatu pada-Ku, pasti akan Aku kabulkan. Jika ia meminta perlindungan, pasti akan Aku lindungi.  Dan Aku tidak ragu melakukan suatu perbuatan seperti keraguan-Ku untuk mewafatkan seorang mukmin, dia belum mau mati sedangkan Aku tidak mau menyakitinya”  (Bukhari, 5/6137).

Kematangan ruhiyah bukan hanya akan mempercepat produktifitas dengan kualitas adiluhung, juga akan membuat manusia bertahan menghadapi pekerjaan besar dalam waktu yang lama.

Misalnya, Ibn Asakir bertahan menulis Tarikh Dimasyq dalam rentang waktu 60 tahun. Semua orang penting dari kaum cendekia, sastrawan, penyair, bahkan orang-orang linglung terkenal di Damaskus ditulis dalam bukunya.

Ibn Khaldun, bertahan menyendiri di sebuah benteng untuk menulis tarikhnya, Tarikh Ibn Khalidun.

Begitu pula Imam Ghazali. Ia menyendiri di sebuah kamar di Baitul Maqdis, menulis Ihya Ulumuddin.

Apa yang telah membuat mereka mampu bertahan? Lagi-lagi adalah kematangan ruhiyah, kualitas dzikir.

Sebuah ilustrasi yang amat qudus, Allah swt. menceritakan diri-Nya tentang penciptaan langit dan bumi. Orang-orang Yahudi dan Nasrani menyebut, Tuhan letih setelah bekerja enam hari. Maka di hari ketujuh Ia beristirahat.

Tetapi Allah swt. membantah:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِن لُّغُوبٍ

Artinya: “Sesungguhnya telah Kami menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan” (Qaf [50]: 38).

Yang unik ayat itu diteruskan dengan perintah agar Rasulullah Saw bersabar, bertasbih di pagi hari dan petang, solat malam dan bertasbih seusai sholat. Agar ia bertahan dalam menjalankan tugas besar dengan tantangan yang berat.

Firman Allah:

فَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ. وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَأَدْبَارَ السُّجُودِ

Artinya: “Maka bersabarlah engkau terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam. Dan bertasbihlah engkau kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai sembahyang” (Qaf [50]: 39-40).

Allah swt. telah menjadikan hidup manusia dengan beban yang cukup berat. Semakin tinggi kedudukan agama, sosial dan politiknya semakin berat lagi beban yang ada di pundaknya.

Dengan bekal taqorrub, tilawah, salat dan tasbih, semua beban itu dengan izin Allah akan mudah dihadapi.

Dengan bekal zikir semangat hidup akan terus menyala, aktifitas mengalir deras, kesabaran akan tak kenal batas, dan proyek-proyek besar akan sukses dijalankan.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Umat Mulia Karena Islam

TIGA SIFAT UNGGULAN MANUSIA PILIHAN ALLAH SWT. (bag. 2)

Pemateri: Ust. DR. Abas Mansur Tamam

Materi sebelumnya bisa dilihat di link berikut:

TIGA SIFAT UNGGULAN MANUSIA PILIHAN ALLAH SWT (Bag-1)

BERWAWASAN LUAS (ULIL ABSHAR):

Sifat unggulan manusia pilihan Allah yang kedua adalah memiliki wawasan yang luas (ulil abshar).

Ulil abshar artinya punya pandangan atau pengetahuan yang luas.

Sifat ini berhubungan erat dengan sifat terampil (ulil aidi). Karena antara ilmu dan amal tidak bisa dipisahkan satu sama lain, seperti dua sisi mata uang.

Seseorang disebut ulil abshar jika memiliki lima indikator sebagai berikut:

1. CERDAS (al-‘Aqlu):

Indikator paling dasar adalah cerdas (al-‘aqlu), demikian menurut Mujahid.
Ada dua jenis kecerdasan yang saling berhubungan dalam diri manusia: kecerdasan instingtif (al-aqlu al-garizi), dan
kecerdasaan hasil belajar dan pengalaman (al-aqlu al-muktasab).

A. Kecerdasaan Instingtif

Kecerdasaan instingtif artinya kecerdasaan bawaan, dimana seseorang akan mengerti tentang berbagai hal, sesuai dengan usia perkembangan kognitifnya.

Ukuran standarnya adalah memiliki kecerdasan yang normal, sehingga pada usia mumayyiz (5 sampai 7 tahun) seseorang mulai mengerti persoalan-persoalan dasar  dalam hidupnya, baik-buruk, halal-haram, perintah-larangan dan sebagainya.

Kecerdasan normal ini menjadi sebab mendapatkan beban taklif setelah seseorang beranjak dewasa.

Yaitu status hukum dimana ketentuan-ketentuan agama berlaku kepadanya serta bertanggung jawab penuh atas dirinya.

Diatas kecerdasan normal ada kecerdasan instingtif di atas rata-rata. Yaitu orang yang memiliki kecerdasan melampaui usia perkembangan kognitifnya.

Misalnya, suatu waktu Umar bin Khattab berjalan melewati kerumunan anak-anak yang sedang bermain di jalan, diantara mereka ada Abdullah bin Az-Zubair.
Anak-anak itu segera lari, tetapi Abdullah tetap diam di pinggir jalan.

Umar bertanya: “Mengapa engkau tidak ikut lari seperti teman-temanmu?”

Abdullah menjawab: “Wahai Amirul Mukminin, aku tidak punya salah sehingga takut kepadamu, dan jalan cukup luas” (Al-Mawardi, Adabud Dunya, 12).

Contoh lain adalah Al-Ashma’i (w. 215 H) dengan seorang anak gembala padang pasir (Badwi).

Al-Ashma’i, ulama nahwu dari Basrah, bertanya kepadanya tentang bukti adanya Allah swt.

Dia menjawab dengan logika yang lugas:

”Tapak kaki unta menunjukkan ada unta yang telah lewat.
Tapak kaki manusia menunjukkan ada orang yang telah lewat.

Langit yang memiliki bintang-gemintang, bumi yang memiliki jalan-jalan, lautan yang bergelombang, tidakkah semua itu menunjukkan Sang Maha Mengetahui dan Bijaksana telah menciptakannya?” (Al-Izi, Al-Mawāqif, 1/151).

B. Kecerdasan Hasil Belajar

Kecerdasan instingtif jika diberdayakan dengan belajar dan pengalaman hidup akan berkembang menjadi akal muktasab.

Orang yang tidak punya kecerdasan bawaan, tidak akan cerdas untuk selamanya.

Alquran menggambarkan nya seperti seekor keledai yang membawa buku  (Al-Jumuah [62]: 5).

Meskipun telah melewati pengalaman hidup yang panjang, seorang yang safih, ideot, atau gila tetap tidak akan pintar.

Orang yang mendapatkan pembinaan yang intensif dalam hidupnya, serta melewati perjalanan hidup yang menantang, kecerdasan bawaannya akan terasah dengan baik.

Pepatah Arab mengatakan:
“Orang yang panjang usianya, kekuatan badannya berkuran kemampuhan akalnya bertambah”

Tetapi orang yang tidak mau belajar dan tidak mengambil pelajaran dari pengalaman hidupnya akan menjadi seorang yang bodoh (ahmaq). Yaitu orang yang usianya sudah dewasa, tapi masih kekanak-kanakan.

Orang tua seperti ini diibaratkannya oleh Wahab bin Munabbih seperti tembikar yang pecah: tidak bisa ditambal, tidak bisa diperbaiki, dan tidak bisa dikembalikan menjadi tanah kembali (Abu Hatim, Raudatul Uqala, 122).

C. Fungsi Kecerdasan

Kecerdasan memiliki dua fungsi:

Pertama, fungsi pengetahuan (kognitif) yang akan membuat seseorang mengetahui berbagai hal.
Dalam hal ini akal ibarat cahaya yang membuat seseorang mengenali kebaikan dan keburukan.

Kedua, fungsi sikap (afektif) dan keterampilan (psikomotorik) yang akan membuatnya berhenti melakukan keburukan dan semangat dalam melakukan kebaikan.

Terkait dengan fungsinya ini, orang Arab menyebut kecerdaasn itu sebagai akal (aql). Makna generiknya adalah tali yang mengendalikan seekor unta.

Karena itu tidak disebut cerdas kecuali jika daya pikirnya mampu untuk mengendalikan dirinya dari terjerat hawa nafsu.

Amir bin Abdul Qais berkata:
“Jika kecerdasan engkau mengekang engkau dari melakukan perkara yang tidak senonoh, maka engkau orang cerdas” (Al-Mawardi, Adabud Dunya, 11).

Rasulullah saw. bersabda:

الْكَيِّسُ من دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ من أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى على اللَّهِ

Artinya: “Orang yang cerdas adalah orang yang bisa mengendalikan dirinya dan berbuat untuk bekal setelah mati.
Orang yang bodoh adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya, kemudian berangan-angan menadapatkan ampunan dari Allah swt.”
(Tirmizi, 4/2459, hadits hasan).

Karena itu orang yang cerdas akan membuatnya semakin dekat dengan Allah swt.

Dia mengetahui berbagai ajaran agamanya seperti perintah dan larangan Allah, mampu mengendalikan dirinya dan beramal saleh.

Di dunia mendapatkan ketinggian derajat, dan di akhirat akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah swt.

Firman Allah:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat” (Al-Mujadilah [58]: 11).

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Artinya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa” (Al-Hujurat [48]: 13).

Indikator-indikator lain dari seorang ulil albab yang akan dibahas berikutnya, seperti memiliki wawasan Alquran, wawasan keislaman, kecerdasan dalam beragama, serta wawasan ilmu pengetahuan; semuanya memberdayakan akal muktasab ini dari berbagai aspeknya.

(Bersambung)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Majelis ilmu

Wahyu dan Inspirasi Menuntut Ilmu

Pemateri: Ust. DR. WIDO SUPRAHA

Membaca adalah anjuran atau perintah pertama yang diturunkan Allah Swt sebagai bagian dari wahyu yang suci nan mulia. Kata seru ‘bacalah’ diulang 3 (tiga) kali dalam Al-Qur’an.[1]

Sementara kata wahyu sebagai kata dasar hanya digunakan 1 (satu) kali dalam Al-Qur’an[2], namun terdapat 78 kata yang menggunakan kata dasar wahyu dalam Al-Qur’an, 6 kata adalah kata benda, dan 72 kata adalah kata kerja.

Dalam wahyu yang pertama kali turun itu pun mengandung inspirasi bahwa menuntut ilmu hendaknya sarat dengan aktifitas membaca dan menulis, sebagaimana ilmu diikat dengan tulisan.

Wahyu secara bahasa berarti memberitahukan secara samar; tulisan; tertulis; utusan; ilham; perintah; dan syarat. Secara terminologi syariat, wahyu berarti memberitahukan hukum-hukum syariat, atau juga bisa bermakna sebagai sesuatu yang diwahyukan, yakni kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.

Cara Allah menurunkan wahyu kepada para Nabi adalah sama yakni dengan cara mimpi sehingga hati menjadi tenang, setelahnya baru Allah menurunkan wahyu dalam keadaan sadar.[3]

Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, ‘Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (Q.S. An-Nisa/4:163)

Maka demikian pula dengan Nabi Muhammad Saw dalam hal penerimaan wahyu juga dengan cara yang sama telah dialami oleh para Nabi sebelumnya. Nabi Saw telah dikondisikan pertama kali melalui mimpi yang benar sebagai bagian dari latihan sebelum menerimanya secara sadar.

Maka tidak heran jika setelahnya Nabi Saw dapat melhat cahaya, mendengar suara, dan batu-batu kerikil yang memberikan salam kepadanya.

Pada mimpi ini, Nabi Saw pertama kali melihat sosok Malaikat Jibril. Adapun secara sadar, sebagaimana pengakuan Nabi Saw., wujud asli Malaikat Jibril terlihat langsung sebanyak 2 (dua) kali yakni ketika di Ajyad dan kemudian ketika peristiwa Isra’ Mi’raj.

Namun terdapat juga penjelasan bahwa ketika turunnya wahyu di Gua Hira’, Malaikat Jibril juga menampakkan wujud aslinya.

Perintah Jibril kepada Nabi Muhammad Saw, ‘Iqra’, dijawab dengan “Ma Ana bi Qari” dan hal ini berlangsung hingga 3 (tiga) kali perulangan.

Berulangnya pernyataan Nabi bahwa dirinya tidak bisa membaca, mengandung maksud seakan-akan Nabi Saw memang tidak bisa membaca sama sekali.

Namun, hal ini dapat juga dijelaskan bahwa jawaban pertama Nabi mengadung makna penolakan (imtina’), jawaban kedua Nabi mengandung makna ketidakmampuan, sedangkan jawaban ketiga nabi mengandung makna pertanyaan akan apa yang harus dibaca.[4]

Pertanyaan tentang ‘kaifa aqra‘, dan ‘madza aqra‘, adalah bagian dari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin hadir[5], sehingga kemudian Jibril mengajarkan bahwa bersama pertolongan Allah (bismi rabbika) yang telah menciptakan akan memudahkan dalam membaca, sesuatu yang akan sulit jika hanya disandarkan pada pengetahuan manusia.

Namun di atas itu semua, peristiwa ini memperlihatkan adanya kebenaran yang bersumber dari faktor luar (haqiqah kharijiyyah).

Maka sedemikian bersemangatnya Nabi Saw dalam menerima wahyu, membuatnya selalu tidak sabar untuk dapat menghafalkannya, meskipun itu terasa sukar baginya.

Semangat Nabi yang totalitas untuk perbaikan umat (harakatul inqaz), melahirkan tanggung jawab kenabian (mas-uliyah an-nubuwwah), terlihat dari begitu tergesa-gesanya beliau untuk melahap seluruh ilmu yang disampaikan dalam bentuk wahyu.[6] Maka turunlah firman Allah, Swt,

Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai) nya. (Q.S. Al Qiyamah/ 75:16)

Namun Allah mengajarkan, bahwa sebaik-baik pengajaran adalah talaqqi, dimana yang dididik hendaknya mendengarkan secara seksama baru mengikutinya.

Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. (Q.S. Al-Qiyamah/75:18)

Setelah turunnya wahyu pertama ini, maka tidaklah turun ayat Al-Qur’an kecuali setelah masa penantian selama 6 bulan[7] atau 3 tahun[8] yang terasa sangat lama dan berat bagi Nabi Muhammad Saw., hingga jika beliau berada pada puncak kesedihannya, beliau akan naik ke atas gunung bahkan berniat untuk menjatuhkan diri, namun kehadiran Jibril kembali menguatkan dirinya, bahwa beliau memang benar-benar telah dijadikan utusan Allah[9].

Masa penantian itu berakhir setelah peristiwa melihatnya Nabi Muhammad Saw akan sosok Jibril yang sedang duduk di atas kursi yang melayang di langit dalam wujud aslinya di kota Ajyad.
Peristiwa ini yang mendorong turunnya firman Allah dalam Surat Al-Muddatstsir[10]. Menarik melihat bagaimana kebiasaan Nabi Saw tatkala diuji dengan ketakutan karena hal ghaib yang tidak biasa, seperti dalam peristiwa menampakkan dirinya Jibril di Gua Hira’ dan di Ajyad ini, beliau akan meminta istri tercintanya untuk menyelimuti tubuhnya.

Lebih menarik lagi ketika istrinya nan-shalihah sentiasa menguatkan keyakinan dirinya akan pertolongan bagi orang-orang yang sentiasa berbuat kebajikan dalam menolong orang lain.

Maka setelah turunnya Surat Al-Muddatstsir tersebut, mulailah wahyu turun dengan semakin sering. Terkadang wahyu itu datang seperti bunyi lonceng (shalshalah al-jaras), dan ini merupakan cara yang paling berat bagi manusia seperti Nabi Muhammad Saw.
Namun terkadang datang malaikat menjelma seperti laki-laki yang menyampaikan wahyu kepadanya.

Gambaran begitu beratnya Wahyu yang turun, diumpamakan oleh ‘Aisyah r.a. kejadian turunnya wahyu di saat musim dingin yang amat sangat, namun dahi Nabi Saw terlihat bersimbah peluh pertanda begitu berat yang dialaminya.

Setiap kali wahyu turun, Nabi Saw memerintahkan sahabatnya untuk mencatatnya dengan segera. Setiap kali sahabat bertanya tentang beberapa masalah, Nabi Saw harus menunggu beberapa masa hingga turun ayat yang menjawab permasalahan tersebut.

Permasalahan-permasalahan masa lalu yang tentu mustahil diketahui bagi seorang Nabi yang ummi, terlebih hal-hal yang baru diketahui di masa depan, menjadi jawaban utama keaslian Wahyu yang diterima Nabi Saw. Keraguan akan sosok pembawanya telah terjawab dengan kebersamaan hidup bersamanya selama 40 tahun.

Tuduhan segelintir orientalis bahwa wahyu hanyalah intuisi Nabi Saw dalam khalwatnya seorang diri sebenarnya terbantahkan dengan rangkaian peristiwa yang dialami Nabi Saw.

Pertama, bahwa untuk menumbuhkan inspirasi tidaklah perlu menjalani proses khalwat.

Kedua, tidak terlihatnya Jibril oleh para sahabat lain, bukan berarti Jibril itu tiada. Ketiga, kondisi emosi Nabi dalam ketakutannya akan makhluk jin menjadi jawaban bahwa risalah bukanlah hal yang dicarinya, atau kekhawatirannya akan murka Allah atas tidak turunnya wahyu selama beberapa lama tentu bukanlah hal yang dibuat-buat, atau menggigilnya sekujur tubuh menjadi jawaban bahwa peristiwan yang dialaminya merupakan hal yang tidak biasa, dan bahkan tidak pernah terlintas dalam benaknya sama sekali.[11]

Dalam peristiwa ini, Khadijah mendapatkan ilham untuk membawa suaminya kepada anak pamannya yang sudah tua dan buta, Waraqah bin Naufal, seorang ahli ilmu Kristen.

Pengetahuan Waraqah yang luas dari hasil menuntut ilmunya kepada para Ahli Kitab membawanya kepada keimanan akan kebenaran Nabi Muhammad Saw selaku manusia yang diutus Allah Swt. Namun perlu diketahui, bahwa Waraqah adalah satu dari empat orang yang menyadari akan kesalahan dalam ajaran yang diyakini orang-orang Quraisy, dan membawa mereka kepada pengembaraan ilmu.

Ketiga lainnya adalah Ubaidillah bin Jahsy, Ustman bin al-Huwairits, dan Zaid bin Amr bin Nufail. Ubaidillah bin Jahsy diketahui kemudian masuk Islam dan ikut hijran ke Habasyah bersama istrinya, Ummu Habibah, namun kemudian murtad dan masuk agama Kristen di Habasyah.

Utsman bin al-Huwairits masuk agama Kristen setelah bertemu Kaisar Romawi, dan mendapat kedudukan terhormat. Adapun Zaid bin Ammar tidak memeluk Yahudi maupun Nasrani, namun ia menjaga diri dari beragam perbuatan tercela, karena ia mengikrarkan untuk menyembah Tuhannya Nabi Ibrahim a.s. Zaid terus berkelana mencari agama Ibrahim yang benar, hingga menyelurusi Kota Syam, namun ia mendapatkan jawaban bahwa Nabi itu telah bangkit dari Kota Makkah.

Ketetapan Alalh mendahului, dimana ia terbunuh di pertengahan negeri Lakhm. Ini yang membuat Waraqah bersedih.

Keyakinan para ahli Kristen yang jujur muncul di antaranya karena sifat Nabi Muhammad Saw telah ada dalam kitab suci mereka yakni Al-Munhammana, sebagaimana sabda Nabi ‘Isa. Dalam bahasa Ibrahin, al-Munhamana berarti Muhammad, dan Muhammad dalam bahasa Romawi ialah Paraclet.[12]

Maraji’

1] Q.S. Al-Isra’/17:14; Q.S. Al-‘Alaq/96: 1,3

2] Q.S. An-Najm/53:4

3] Lihat Fathul Bari, Bab Permulaan Turunnya Wahyu

4] Kutipan pendapat Ath-Thibi oleh Ibn Hajar al-Atsqalani

5] Kutipan pendapat Abu Aswan dan Zuhri oleh Ibn Hajar al-Atsqalani

6] H.R. Bukhari No. 5

7] Riwayat Sya’bi dalam kitab sejarah buah karya Imam Ahmad bin Hanbal, dan dikuatkan oleh pendapat Ibn Ishq

8] Riwayat dari Ibn Ishaq

9] Lihat Tafsir Al-Hafizh ‘Imaduddin Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir (Ibn Katsir)

10] H.R. Bukhari No. 4

11] Analisa Dr. Sa’id Ramadhan al-Buthi dalam Fiqh as-Sirah: Dirasat Minhajiah ‘Ilmiah li-Shirat al-Musthafa ‘alaihishshalatu wa salam

12] Sirah Ibn Hisyam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Umat Mulia Karena Islam

Cara Kita Melihat ‘Kegagalan’

Pemateri: Ust. Abdullah Haidir Lc.

Kita seringkali begitu enteng menilai sebuah kegagalan sebagai ‘kegagalan’, lengkap dengan komentar-komentar yang meremehkan.

Padahal, umumnya kegagalan terjadi setelah terwujudnya sebuah amal. Atau bahkan, kegagalan terjadi setelah teraihnya sekian langkah keberhasilan.

Contoh sederhana, sebuah kesebelasan sepakbola yang dikatakan gagal masuk final, atau gagal menjuarai kejuaraan piala dunia, atau seorang atlit yang dianggap gagal meraih emas di arena olympiade, lalu orang-orang dengan mudah mencibirnya.

Sesungguhnya mereka telah melewati keberhasilan yang sangat jarang mampu dilewati oleh tim atau orang selevel mereka, apalagi orang yang bukan level mereka.

Maka, meskipun raut kesedihan itu terbayang diwajah mereka karena kegagalan saat itu, sebetulnya mereka telah melewati sekian banyak kebahagiaan dari sekian panjang perjalanan hingga berhasil masuk dalam even bergengsi tersebut.

Agenda DAKWAH, jika dipandang dari sisi target-target yang diharapkan, sering berujung pada penilaian ‘gagal’, atau paling tidak, dinilai ‘tidak memuaskan atau belum sesuai harapan’.

Hanya saja, kita sering hanya melihat dari satu sisi saja, padahal, banyak point yang dapat diambil dari sebuah usaha yang belum mencapai target yang diharapkan.

Jika kita perhatikan, dibalik apa yang dikatakan kegagalan pada sejumlah masyru’ (proyek) dakwah pada level tertentu, sesungguhnya kita telah melewati sekian banyak capaian dakwah yang sekian puluh tahun lalu masih merupakan khayalan dan impian. Jika obyektif, anda bisa jadi sulit menghitung banyaknya capaian-capaian dakwah yang cukup membanggakan jika dibandingkan dengan kondisi sebelumnya.

Memang, sisi buram selalu saja ada dalam perjalanan dakwah dan tidak boleh pula diingkari. Hanya saja, jika ada sebagian orang begitu fasih menyebutkan satu persatu keburukan dalam agenda dakwah sehingga berpengaruh melemahkan langkah perjalanan, seharusnya kita lebih fasih lagi menyebutkan capaian-capaian dakwah yang dapat menyemangati langkah dalam perjalanan dan menerbitkan optimisme lebih besar.

Layak kita ingat, titik tekan dalam dakwah adalah ‘amal’ bukan ‘hasil’ (At-Taubah: 105).

Sebab kalau titik tekannya adalah hasil, maka Nabi Nuh dapat dianggap ‘gagal’, karena cuma segelintir saja yang bersedia ikut beriman bersamanya setelah 950 tahun berdakwah, bahkan termasuk anak isterinya tidak ikut beriman.

Nabi Zakaria juga dapat dianggap ‘gagal’ karena justeru dibunuh oleh kaumnya yang dia dakwahi. Ashahbul Ukhdud adalah kelompok yang ‘gagal’, karena perjuangan mereka berujung di kobaran api membara.

Namun nyatanya, Allah mengabadikan mereka dalam barisan pioner dakwah yang menjadi inspirasi para dai berikutnya.

Maka, ketika seorang dai selalu berada dalam arena ‘amal’ dan ‘kerja nyata’ sesungguhnya itulah kebehasilannya dalam dakwah. Perkara hasil, itu wewenang Allah yang menetapkan kapan dan dimana dia diberikan.

Sering terjadi dalam arena dakwah, kemenangan, Allah tentukan pada tempat dan waktu yang tidak diperkirakan. Namun yang pasti, Allah telah janjikan kemenangan bagi mereka yang berusaha dan beramal.

Yang pasti, kemenangan tidak akan Allah berikan kepada mereka yang tidak beramal. Juga yang pasti, orang yang berhasil, adalah orang yang pernah gagal dan orang gagal yang sesungguhnya adalah orang yang tidak pernah berusaha!

Kegagalan yang membuat kita terus bekerja dengan sabar untuk mencari peluang dan berharap kemenangan, jauh lebih mulia ketimbang kemenangan yang membuat kita sombong dan menghentikan langkah.

Bisa jadi, kegagalan merupakan cara Allah agar kita terus berada dalam kebaikan dan kemuliaan beramal seraya terus bersandar kepada-Nya.

Maka, langkah ini tidak boleh berhenti. Tak kan surut kaki melangkah, begitu kata sebait syair nasyid.

Medan amal begitu beragam dan luas terbentang menanti aksi kita. Sebab, surut melangkah karena sebuah agenda yang dianggap gagal, justeru lebih buruk dari kegagalan itu sendiri.

Lebih buruk lagi dari itu adalah, mereka yang senang dan tersenyum puas melihat usaha dan amal saudaranya yang dia anggap gagal…!


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Bersegera Mencari Ampunan Allah

Enam Perkara Yang Seharusnya Disegerakan

Pemateri: UST. SYAHRONI MARDANI,Lc

Sesungguhnya perbuatan baik yang paling utama adalah yang disegerakan. Ini sesuai dengan apa yang biasa dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.

Dari Ali bin Abi Thalib, sesungguhnya Rasulullah saw berpesan padanya, “Wahai Ali, ada tiga perkara yang tidak baik kalau diakhirkan (jangan ditunda-tunda): shalat jika sudah datang waktunya, jenazah jika sudah hadir, menikahkan anak gadis jika sudah datang jodohnya (HR Turmudzi).

Dari Hatim Al-Ashom -rahimahullah- berkata :

يقال: العجلة من الشيطان إلا في خمس إطعام الطعام إذا حضر الضيف وتجهيز الميت إذا مات وتزويج البكر إذا أدركت وقضاء الدين إذا وجب والتوبة من الذنب إذا أذنب

“Dikatakan, “Ketergesa-gesaan itu dari setan, kecuali dalam lima perkara: menghidangkan makanan jika tamu telah hadir, mengurusi jenazah jika telah wafat, menikahkan anak gadis jika telah baligh, menunaikan utang jika telah jatuh tempo, dan bertobat dari dosa jika telah melakukan dosa”. [HR. Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (8/78)]

Dari hadist dan keterangan keterangan hadits di atas, minimal ada 6 hal yang seharusnya disegerakan.

1. SHALAT KALAU SUDAH MASUK WAKTUNYA

Pertama, menyegerekan shalat ketika sudah masuk waktunya. Kenyataan yg sering kita temui di lapangan (bahkan mungkin menimpa diri kita, naudzubillahi mindzalik) bahwa “seorang karyawan jika dipanggil bosnya, sesibuk apa pun dia segera memenuhi panggilan tersebut. Tetapi saat Allah memanggilnya melalui suara adzan, kebanyakan dari kita tidak segera memenuhinya.

Padahal dari Abu Abdurrahman Abdulloh bin Masud ra berkata, Aku bertanya pada Nabi saw , “Amal apakah yang paling Allah cintai?” Nabi saw menjawab, “Shalat pada (awal) waktunya. Berbakti pada orang tua, dan Jihad di jalan Allah”. (Muttafaq Alaih)

Ketka Aisyah ra ditanya, “Bagaimanakah kebiasaan Nabi Muhammad saw di rumahnya?” Aisyah menjawab, “Beliau biasa membantu keluarganya dan melayani mereka. Tapi jika terdengar panggilan Adzan, Beliau pergi untuk melakukan shalat”. (HR Bukhari)

Dari Ibnu Umar berkata, Rasulullah saw bersabda, “Shalat di awal waktu akan mendapatkan keridhoan (kasih sayang) Allah. shalat di akhir waktu ‘dimaafkan’ oleh Allah”. (HR Turmudzi)

2. SEGERA MEMULIAKAN TAMU

Kedua, segera memuliakan tamu. Ketika seseorang kedatangan tamu,yang seharusnya disegerakan adalah menghidangkan minuman dan makanan, bukan menanyakan ini dan itu pada sang tamu. Juga tidak perlu ditanya mau  minum apa, sudah makan atau belum? Kalau tamunya pemalu, meskipun lapar dan belum makan, dia akan menjawab sudah makan.

Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang beriman pada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia memuliakan tamunya”. (HR Bukhari dan Muslim).

Nabi Ibrahim dikenal sebagai orang yang paling baik dalam memuliakan tamunya. Tak heran jika Nabi Ibrahim a.s memiliki gelar ABU DHIFAN (orang yang sangat memuliakan tamu).

Allah mengabadikan dalam Al Qur’an kisah bagaimana Nabi Ibrahim a.s yang bersegera dalam memuliakan tamunya. Nabi Ibrahim segera mengeluarkan hidangan saat tamunya datang.

“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (Yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan?

(ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaamun,” Ibrahim menjawab: “Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal.”

Maka Dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk. lalu dihidangkan-nya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata: “Silahkan anda makan.” (Adz Dzariyat 51 : 24 – 27).

dan Sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: “Selamat.” Ibrahim menjawab: “Selamatlah,” Maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang.

Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: “Jangan kamu takut, sesungguhnya Kami adalah (malaikat-ma]aikat) yang diutus kepada kaum Luth.”

dan istrinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya’qub. (Huud 11 : 69 – 71)

3. SEGERA MENGURUS JENAZAH

Ketiga, yang seharusnya segera dilakukan adalah mengurus jenazah. Apalagi ada hadits yang melarang mendiamkan jenazah berlama-lama. “Tidak sepantasnya mayat seorang muslim dibiarkan berlama lama di tengah keluarganya. (HR Abu Daud).

Hadits lainnya menyebutkan, “Jenazah itu segera diurus. Seandainya dia orang baik, maka dia akan segera mendapatkan balasan kebaikannya. Seandainya bukan orang baik, agar segera lepas dari tanggungan kalian” (Muttafaq Alaih).

Jika jenazah digotong di atas pundak (menuju kuburnya), jika jenazah ini adalah orang soleh, maka dia akan berkata, “Segerakan aku.” Dan jika jenazah ini adalah orang jahat, maka dia akan berkata kepada keluarganya “Cilakalah aku, mau dibawa kemanakah aku ini” Semua makhluk mendengar suara ini, kecuali manusia. Seandainya manusia dapat mendengarnya pasti mereka akan pingsan.” (HR Bukhari)

4. MENYEGERAKAN MENIKAHKAN ANAK GADIS KETIKA SUDAH DATANG JODOHNYA

Keempat, yang seharusnya disegerakan menikahkan anak gadis jika sudah ada jodohnya. Dalam menikahkan anak gadisnya, menururt pengamatan Syahroni, kebanyakan yang menjadi pertimbangan dari para orangtua faktornya harta, bukan agama dan akhlaknya.

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda, “Jika datang padamu seorang pemuda yang akan mengkitbah(melamar) anak gadismu. Engkau ridha dengan agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah anak gadismu dengannya. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan muncul kerusakan yang nyata.” (HR Turmudzi).

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, maka Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui. (An Nuur 24 ; 32).

5. MEMBAYAR HUTANG

Kelima, yang seharusnya disegerakan membayar hutang. Jika seseorang punya hutang hendaknya segera dibayar. Jangan ditunda-tunda untuk melunasinya. Dalam Hadits Nabi disebutkan, Dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw bersabda, “Jiwa seorang mukmin itu ‘tergantung’ gara gara hutangnya hingga hutangnya dilunasi. (HR Turmudzi). Rasulullah kembali bersabda, “Penundaan pembayaran hutang oleh orang yang mampu adalah satu kezaliman.” (Muttafaq Alaih)

6. BERTAUBAT DARI PERBUATAN MAKSIAT

Keenam, yang seharusnya disegarakan bertaubat dari perbuatan maksiat. Tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan perbuatan salah dan dosa. Tapi sebaik-baik orang yang pernah melakukan perbuatan salah dan dosa, segera bertaubat kepada Allah. “Sesungguhnya Allah swt menerima taubat hamba-Nya sebelum ajal di tenggorokannya.” (HR Turmudzi)

“Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An Nuur 24 : 31.

Segeralah taubat sebelum wafat dan segeralah shalat sebelum waktunya terlewat.

wallahu a’lam bishshowab


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678