Menyisir dari Kanan

Serial Adab Di Tubuh Manusia : Adab Di Rambut

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Islam adalah agama yg konprehensif (menyeluruh), tidak ada yg luput dari perhatiannya. Di antaranya adalah tentang sederet adab atau etika dalam perilaku manusia. Di antara adab itu adalah adab kepada diri sendiri, mulai dari ujung kepala ke using kaki. Kita akan bahas secara cicil di antara adab-adab tersebut.

1⃣ Adab Di Rambut

Ada beberapa adab, di antaranya:

1. Menutupnya bagi kaum wanita

Ini hukumnya wajib secara umum,sebab itu aurat,khususnya lagi saat di hadapan laki-laki yang bukan mahram,saat shalat dan ihram.Kewajiban ini termasuk al ma’lum mind din bidh dharurah yaitu hal yang kewajibaannya telah pasti dan tanpa perdebatan.

ستر العورة واجب بإجماع المسلمين

Menutup aurat adalah wajib berdasarkan ijma’ kaum muslimin. (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah no. 5128)

Ini juga berlaku bagi wanita tua,Allah Ta’ala berfirman:

وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ ۖ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Dan para perempuan tua yang telah berhenti (dari haid dan mengandung) yang tidak ingin menikah (lagi), maka tidak ada dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan; tetapi memelihara kehormatan adalah lebih baik bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.(QS. An-Nur, Ayat 60)

Maksud ayat ini bukan bolehnya membuka jilbab bagi wanita tua, Imam Al Jashash Rahimahullah menjelaskan:

لا خلاف في أن شعر العجوز عورة لا يجوز للأجنبي النظر إليه كشعر الشابة , وأنها إن صلت مكشوفة الرأس كانت كالشابة في فساد صلاتها , فغير جائز أن يكون المراد وضع الخمار بحضرة الأجنبي . إنما أباح للعجوز وضع ردائها بين يدي الرجال بعد أن تكون مغطاة الرأس , وأباح لها بذلك كشف وجهها ويدها ; لأنها لا تشتهى

Tidak ada perbedaan pendapat, bahwa rambut wanita tua (nenek-nenek) adalah aurat, tidak boleh laki-laki bukan mahramnya melihatnya sebagaimana kepada wanita muda.

Dia pun jika shalat kelihatan rambutnya maka shalatnya batal sebagaimana wanita muda. Maka TIDAK BOLEH memaksudkannya dengan menanggalkan Khimar (kerudungan) dihadapan laki-laki bukan mahramnya.

Sesungguhnya dibolehkannya dibuka dihadapan laki-laki bukan mahram adalah tangannya dan wajahnya, sedangkan kepalanya tetap tertutup. Karena dia tidak lagi bersyahwat. (Ahkamul Quran, 3/485)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’diy Rahimahullah mengatakan:

فهؤلاء يجوز لهن أن يكشفن وجوههن لأمن المحذور منها وعليها ..

Maka, mereka (para wanita tua) boleh membuka wajahnya jika aman dari bahaya, baik bahaya karenanya dan bahaya atas dirinya.. (Tafsir As Sa’diy, Hal. 670)

2⃣ Memakai peci atau surban

Ini juga adab bagi kaum laki-laki, sebagian mengatakan sunnah, apalagi di saat shalat. Sedangkan model peci adalah hal yang luwes dan fleksibel, masing-masing negeri muslim ada modelnya sendiri, ini tidak masalah.Ini bagian dari “berhias” bagi kaum laki-laki, namun hal ini kadang berbeda di masing-masing tempat dan zaman.

Dalam Al Mausu’ah disebutkan sunnahnya memakai penutup kepala:

لاَ خِلاَفَ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ فِي اسْتِحْبَابِ سَتْرِ الرَّأْسِ فِي الصَّلاَةِ لِلرَّجُل ، بِعِمَامَةٍ وَمَا فِي مَعْنَاهَا ، لأَِنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ كَذَلِكَ يُصَلِّي

“Tidak ada perbedaan pendapat di antara para ahli fiqih tentang kesunnahan menutup kepala ketika shalat bagi laki-laki baik dengan surban atau yang semakna dengan itu karena begitulah shalatnya Nabi Shallallahu “Alaihi wa Sallam.” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah, 22/5)

Fatwa Syaikh ‘Athiyah Shaqr Rahimahullah (mantan Mufti Mesir), Beliau ditanya tentang orang yang shalat tanpa menutup kepala baik imam, makmum, atau shalat sendiri, bolehkah?

تغطية الرأس فى الصلاة لم يرد فيها حديث صحيح يدعو إليها ، ولذلك ترك العرف تقديرها ، فإن كان من المتعارف عليه أن تكون تغطية الرأس من الآداب العامة كانت مندوبة فى الصلاة نزولا على حكم العرف فيما لم يرد فيه نص ، وإن كان العرف غير ذلك فلا حرج فى كشف الرأس”;ما رآه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن

“Menutup kepala ketika shalat, tidak ada hadits shahih yang menganjurkannya. Hal itu hanyalah meninggalkan kebiasaan saja. Jika telah dikenal secara baik bahwa menutup kepala merupakan adab secara umum, maka hal itu dianjurkan dalam shalat sebagai konsekuensi hukum Al ‘Urf [tradisi] terhadap apa-apa yang tidak memiliki dalil syara’. Jika tradisinya adalah selain itu (yaitu tidak menutup), maka tidak mengapa membuka kepala. “Apa-apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, maka di sisi Allah itu juga baik.” (Fatawa Al Azhar, 9/107)

Sedangkan Imam Ibnu Taimiyah mengatakan makruh tanpa penutup kepala saat shalat bagi kaum laki-laki, sebagaimana tertera dalam Al Fatawa Al Kubra -nya.

3. Meminyaki Rambut

Banyak riwayat yang menceritakan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meminyaki rambutnya, bahkan janggutnya.

Dari Salman Al Farisi Radhiallahu ‘Anhu, katanya: Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallambersabda:

لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الجُمُعَةِ، وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ، وَيَدَّهِنُ مِنْ  دُهْنِهِ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ، ثُمَّ يَخْرُجُ فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ، ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ، ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الإِمَامُ، إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الجُمُعَةِ الأُخْرَى

Tidaklah seorang laki-laki mandi pada hari Jumat, dia bersuci sebersih bersihnya, dia memakai minyak rambut, atau memakai minyak wangi yang ada di rumahnya, lalu dia keluar menuju masjid tanpa membelah barisan di antara dua orang, kemudian dia shalat sebagaimana dia diperintahkan, lalu dia diam ketika imam berkhutbah, melainkan  akan diampuni sejauh hari itu dan Jumat yang lainnya.

(HR.Bukhari no. 883)

Rabi’ah bin Abdurrahman  Radhiallahu ‘Anhu bercerita:

فَرَأَيْتُ شَعَرًا مِنْ شَعَرِهِ، فَإِذَا هُوَ أَحْمَرُ فَسَأَلْتُ فَقِيلَ احْمَرَّ مِنَ الطِّيبِ

Aku melihat rambut di antara rambut-rambut nabi, jika warnanya menjadi merah maka aku bertanya lalu dijawab: merah karena minyak.

(HR.Bukhari no. 3547)

Simak bercerita, bahwa   Jabir bin Samurah ditanya tentang uban Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :

كَانَ إِذَا ادَّهَنَ رَأْسَهُ لَمْ يُرَ مِنْهُ، وَإِذَا لَمْ يُدَّهَنْ رُئِيَ مِنْهُ

Dahulu jika Beliau melumasi dengan minyak ubannya tidak terlihat, dan jika tidak memakai minyak maka ubannya terlihat. **(HR.Muslim no. 2344)**

Jabir bin Samurah Radhiallahu ‘Anhu bercerita:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ شَمِطَ مُقَدَّمُ رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ، وَكَانَ إِذَا ادَّهَنَ لَمْ يَتَبَيَّنْ، وَإِذَا شَعِثَ رَأْسُهُ تَبَيَّنَ، وَكَانَ كَثِيرَ شَعْرِ اللِّحْيَةِ

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mulai memutih rambut bagian depan kepalanya dan jenggotnya, jika dia melumasi dengan minyak  ubannya tidak terlihat jelas, jika sudah mengering rambutnya  ubannya terlihat, dan  Beliau memiliki jenggot yang lebat.

(HR.Muslim No. 2344, An Nasa’i No. 5114)

Maka, anjuran memakai minyak rambut merupakan sunah, baik secara fi’iliyah dan qauliyah dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Wallahu A’lam

4. Tarajjul (Menyisir Rambut)

Ini adalah salah satu cara memuliakan rambut. Bukan karena ganjen atau genit, tapi mengikuti perilaku Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Aisyah Radhiallahu ‘Anha berkata:

كُنْتُ أُرَجِّلُ رَأْسَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وأنا حائض

Aku menyisir kepala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan saat itu aku sedang haid. 1)

Dalam kesempatan lain, ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha juga bercerita:

إِذَا اعْتَكَفَ، يُدْنِي إِلَيَّ رَأْسَهُ فَأُرَجِّلُهُ، وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلَّا لِحَاجَةِ الْإِنْسَانِ

Jika beliau i’tikaf, Beliau mencondongkan kepalanya kepadaku lalu aku menyisirnya, dan Beliau tidaklah masuk ke rumah (ketika i’tikaf) kecuali jika ada kebutuhan manusiawi. 2)

Inilah sunah fi’liyah yang nabi lakukan, yaitu menyisir dan menata rambut. Tetapi, NabiShallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidaklah melakukannya sering-sering seperti wanita pesolek.

Oleh karena itu, dari Abdullah bin Mughaffal Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

نَهَى رَسُولُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عنِ التَّرَجُّلِ إِلَّا غِبًّا

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang menyisir kecuali jarang-jarang. 3)

Menyisir disunahkan dari kanan. Inilah yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan Beliau melakukan semua  kebaikan memulainya dari kanan (at tayammun) . Dari Aisyah Radhiallahu ‘Anha, katanya:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ، فِي تَنَعُّلِهِ، وَتَرَجُّلِهِ، وَطُهُورِهِ، وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ

Dahulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyukai memulai sesuatu dari kanan: memakai sendal, menyisir, bersuci, dan semua perbuatan lainnya. 4)

Al Hafizh Ibnu Hajar Radhiallahu ‘Anhu menjelaskan:

وترجله أي ترجيل شعره وهو تسريحه ودهنه

Tarajjulihi  yaitu merapikan rambutnya, dengan menata dan meminyakinya. 5)

Wallahu A’lam


🌴🌴🌴🌴

[1] HR. At Tirmidzi, Asy Syamail, No. 25. Syaikh Al Albani mengatakan Shahih. Lihat Mukhtashar Asy  Syamail No. 25
[2] HR. Muslim No. 297
[3] HR. Abu Daud No. 4159, At Tirmidzi No. 1756, juga  Asy Syamail, No. 29, katanya: hasan shahih. Ahmad No. 16793. Syaikh Syu’Aib Al Arnauth mengatakan: shahih lighairih. Lihat Ta’liq Musnad AhmadNo. 16793
[4] HR. Bukhari No. 168
[5] Fathul Bari, 1/269

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Aku Cinta Rasulullah

Menista Para Penista Rasulullah SAW

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Diriwayatkan dalam sebuah hadits riwayat Muslim dari Aisyah ra, dia menuturkan bahwa Rasulullah saw meminta beberapa orang sahabat yang diketahui memiliki kemampuan sastra yang baik untuk membalas penghinaan kaum kafir kepada beliau dengan gubahan syair mereka yang dapat merendahkan para penghina tersebut.

Pertama dipanggillah Abdullah bin Rawahah, maka Rasulullah saw memintanya untuk menggubah syair-syari seperti itu. Namun Rasulullah kurang puas. Lalu dipanggilah Ka’ab bin Malik dengan perintah yang sama, tampaknya juga belum memuaskan. Maka akhirnya dipanggillah Hassan bin Tsabit. Rasulullah saw memotvias Hassan dengans sabdanya,

إنَّ رُوحَ القُدُسِ لا يَزالُ يُؤَيِّدُكَ، ما نافَحْتَ عَنِ اللهِ ورَسولِهِ،

“Sesungguhnya ruhul qudus (malaikat Jibril) senantiasa membelamu selama engkau membela Allah dan RasulNya”

Sesudah itu Hassan membuat syair yang meggambarkan kemuliaan Rasulullah saw dan merendahkan para penghinanya. (HR. Muslim)

Hadits di atas paling tidak memberika dua pelajaran bagi kita,

Pertama, tidak ada kehormatan bagi orang yang telah menghina Rasulullah saw, dia layak dikecam, layak diungkap namanya agar kaum muslimin mengetahui keburukannya.

Kedua, wujud dari keimanan kita kepada Rasulullah saw selain mengimani kerasulannya mentaatai segala ajarannya, juga adalah membela nama baiknya jika ada pihak-pihak yang menghinanya.

Rasulullah saw adalah pribadi yang agung, mulia karena dimuliakan Allah, tinggi karena ditinggikan Allah. Karenanya sebagai umatnya kita diperintahkan untuk mencintainya, mengagungkannya dan memuliakannya. Bahkan, walaupun tidak ada perintah khusus dalam Al-Quran atau hadits untuk memuliakan beliau, sudah semestinya kecintaan dan pemuliaan setiap muslim diberikan kepada Rasulullah saw.

Betapa tidak, beliau sangat mencintai kita sebagai umatnya, karena cintanya itu beliau berupaya sekuat tenaga untuk menyampaikan ajaran Allah taala agar umatnya memiliki jalan terang yang diridhai Allah untuk keselamatannya di dunia dan akhirat. Untuk hal tersebut beliau melewati berbagai peristiwa yang amat berat dan pedih. Semua itu tak lain untuk keselamatan kita di dunia dan akhirat. Bagaimana kita sebagai umatnya tidak mencintai dan memuliakan beliau?

Karenanya sudah sepantasnya jika kita sebagai kaum muslimin marah, mengingkari dan mengecam keras setiap ucapan maupun tindakan yang mengarah kepada pelecehan dan penghinaan terhadap kehormatan dan kemuliaan Rasululah saw.

Ini sesunguhnya merupakan konsekwensi logis, bahkan langsung berkaitan dengan tingkat keimanan kita. Mengapa? Karena tidak ada seorang pun yang waras yang diam saja apabila ada orang lain yang menghina orang yang sangat dia cintai, misalnya orang tuanya, gurunya atau siapa yang dia idolakan. Dia pasti akan menolaknya, mengecamnya dan mengingkarinya.

Jika demikian halnya, maka sikap tersebut lebih layak dilakukan kepada orang yang menghina Rasulullah saw. Karena keimanan kita mengajarkan kita untuk mencintai Rasulullah saw lebih dari cinta kita kepada orang tua dan anak kita dan semua orang.

Rasulullah saw bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Tidak sempurna iman kalian sebelum aku lebih dia cintai dibanding orang tuanya, anaknya dan semua manusia (HR. Bukhari)

Setiap tahun kita peringati hari maulid beliau dengan penuh pengkhayatan dan pengagungan dan kita nyatakan bahwa hal tersebut kita lakukan sebagai bukti cinta kita kepada beliau. Maka tentu sebagai bukti cinta kita, kita tidak boleh tinggal diam terhadap penghinaan kepada Rasulullah saw.

Di sisi lain, kejadian ini hendaknya mengingatkan kita untuk mempertegas kembali dan memperkuat kembali kecintaan kepada Rasulullah saw. Kita kenali sirahnya, kita pelajari sabda-sabdanya dan kita ikuti jalan dan petunjuknya.

Semakin umat Islam perlihatkan kecintaannnya kepada Rasulullah saw, insyaAllah akan membuat berbagai pihak berpikir seribu kali untuk melakukan penghinaan kepada Rasulullah saw.

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Cinta Allah

Jejak Tangisan Kerinduan

📝 Pemateri: Ustadz Umar Hidayat, M.Ag

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Bertanyalah Kholid bin Ma’dan kepada Mu’adz: “Wahai Mu’adz, sampaikan kepadaku satu hadist yang pernah engkau dengar dari Rosulullah SAW?”

Belum juga terjawab, suasana terjeda, hening dan membisu. Mu’adz menangis pelan dan makin menderas mencucurkan airmatanya. Terus tak berhenti. Lama sekali Muadz menangis hingga terkira ia tidak akan menghentikan tangisannya itu. Tetiba sambil sesenggukan mereda tangisan, Muadz terdiam lalu berkata;

“Duhai betapa rindunya aku kepada Rasulullah SAW sehingga aku merasa sangat ingin bertemu dengan Baginda Rasulullah SAW.”

Demikian Ibnu al Mubarok telah meriwayatkan dengan sanadnya dari Kholid bin Ma’dan.

Begitulah rasa betapa kerinduan para sahabat kepada baginda Rasulullah SAW begitu tinggi. Para sahabat selalu terkenang bagaimana kasih sayang baginda Rasulullah SAW yang sangat membekas baginya. Tentu tidak hanya Mu’adz yang merasa, begitupun dengan sahabat-sahabat lainnya.

Pernahkah kita merasa keriduan yang begitu dahsyatnya? Kerinduan pada orang-orang yang sangat kita cintai. Lama tidak ketemu. Ada jarak. Jauh. Kerinduan pada suami kita. Pada istri kita. Pada anak-anak kita. Pada orangtua kita. Begitu lama tidak temu.

Terbayang jelas di pelupuk mata kita, di benak hati kita, saat kebersamaan itu ada. Saat bertemu bertatap muka. Saat bercengkrama. Bersendaguaru. Bermain. Bahkan pun saat konflik, bertengkar, saling marah. Semua itu… kini tiada. Kita kehilangan dan berharap bisa kembali. Jejak kerinduan itu begitu dalam terasa.

Hidup tak sekedar satu Warna; berupa warna, tetapi itulah hidup. Ada keindahan. Ada kesedihan. Biarkan itu semua ada. Relakan semuanya. Semua akan menjadi kenangan. Kenangan yang mengugah kerinduan. Tugas kita adalah memilah dan memilih agar semua itu terasa bermakna.

Ending dari semua ini, adakah semua yang memberi kenangan yang meriuh kerinduan akan semakin mendekatkan diri kita kepada Allah? Jika semua yang merindukan itu tidak menghantarkan kita untuk mendekat pada Allah, maka tidak ada maknanya dan tidak ada manfaatnya.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Karena Allah

Semua Tentang Cinta

📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Ketika ibu menyayangi anaknya.
Ketika ayah menafkahi keluarganya.
Ketika kakak menjaga adiknya.
Dan ketika saudara memberikan perhatiannya.
Semua berkisah tentang cinta.

Kala angin bertiup sepoi-sepoi lembut.
Kala air mengalir tanpa menyurut.
Kala hujan membasahi rumput.
Dan langit cerah tanpa awan yang menggelayut.
Itu semua tentang cinta.

Saat berbagi perhatian dengan pasangan.
Saat bahagia dalam persahabatan.
Saat rela berkorban untuk apa yang diperjuangkan.
Dan saat hati berlabuh di dermaga harapan.
Semua ada karena kekuatan cinta.

Bersebab cinta persaudaraan makin terdekatkan.
Bersebab cinta persahabatan makin tereratkan.
Dan bersebab cinta hati yang beriman makin terikatkan.

Bila ada rasa ingin menjaga.
Bila ada hasrat ingin bersua.
Bila ada asa meraih cita.
Dan bila ada semangat membara.
Begitulah jiwa-jiwa yang sedang mencinta.

Namun….
Bijaklah bersikap agar perilaku tetap beradab.
Berhati-hatilah dalam meletakkan supaya diri tak terjatuh dalam kenistaan.
Tak pernah salah tentang cinta
Terkadang kitalah yang tak menempatkan secara semestinya

Cinta bukan soal salah benar.
Tapi bagaimana cinta memposisikan cinta yang benar
Iman pun tak memudar.
Pribadi yang baik pun tak akan tertukar.
Bahkan kesempatan emas akan terhampar
Bagi pecinta sejati karena Allah yang Maha Besar
Allahu Akbar

Dan aku pun mencintai kalian wahai sahabat Surgaku karena Allah semata.
Begitu pun apa yang sedang kujalani akan aku cintai pula.

Wallahu a’lam bisshawwab

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Sedekah Utama Memberi Air

Bersedekah Karena Terpaksa

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya Afwan..
Bagaimana hukum nya sedekah yg terpaksa?
Kondisi ekonomi skrng ini luar biasa sulit. Sementara tuntutan pembiayaaan dlm rumah tangga juga ga sedikit..
Nah.. Dlm kesulitan itu, suami bersedekah untuk makan para santri tanfidz. Keinginan itu terus menerus tanpa mikir ‘dapur’ rumah tangga yg ga stabil.
Alasan suami, berinfaq, masa iya Allah ga bantu kesulitan kita..?
Tapi istri merasa berat. Karena itu tadi.. Di rumah sendiri ga masak.. Uang yg sedikit di infaqkan..

Nah.. Mohon pencerahan nya.. 🙏🏼
Sebagai istri, ga ingin berdebat dengan suami.
Tapi di sisi lain, ga bisa Terima sama keputusan suami..

Terima kasih. Wassalam. A/18

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz DR. Oni Syahroni, MA

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Dalam kondisi keuangan keluarga terbatas, maka dana yang tersedia itu disalurkan untuk kebutuhan yang terbatas. Salah satu kriterianya adalah tidak melalaikan kewajiban atau kebutuhan keuangan yang asasi keluarga. Oleh karena itu, hadits Rasulullah Saw menegaskan bahwa kebutuhan asasi internal keluarga yang harus dipenuhi terlebih dahulu, baru kemudian memenuhi kebutuhan lain. Hadits Rasulullah Saw tersebut menegaskan;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم : ” تَصَدَّقُوا “. فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ، عِنْدِي دِينَارٌ؟ قَالَ: ” تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى نَفْسِكَ ” قَالَ: عِنْدِي آخَرُ، قَالَ: ” تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى وَلَدِكَ ” قَالَ: عِنْدِي آخَرُ، قَالَ: ” تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى خَادِمِكَ ” قَالَ: عِنْدِي آخَرُ، قَالَ: ” أَنْتَ أَبْصَرُ “. (رواه أبو داود والنسائي، وصححه ابن حبان والحاكم)

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah Saw bersabda: “Bersedekahlah”. Lalu seorang laki-laki berkata: Wahai Rasulullah, aku mempunyai satu dinar? Beliau bersabda: “Bersedekahlah pada dirimu sendiri”. Orang itu berkata: Aku mempunyai yang lain. Beliau bersabda: “Sedekahkan untuk anakmu”. Orang itu berkata: Aku masih mempunyai yang lain. Beliau bersabda: “Sedekahkan untuk istrimu”. Orang itu berkata: Aku masih punya yang lain. Beliau bersabda: “Sedekahkan untuk pembantumu”. Orang itu berkata lagi: Aku masih mempunyai yang lain. Beliau bersabda: “Kamu lebih mengetahui penggunaannya.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i, dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan Hakim).

Walaupun hadits tersebut menggunakan kata sedekah, tetapi sedekah tersebut bermakna infak (membiayai) seperti membiayai kebutuhan keluarga.
Demikian. Wallahu ‘alam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berjihad Mencari Ridha Allah

Surga Firdaus Puncak Mimpiku

📝 Pemateri: Ustadz Umar Hidayat, M.Ag

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Mengawali tulisan ini aku ingin mendo’akan semua keluargaku, saudaraku, teman-temanku dan bahkan sesiapa yang membaca tulisanku ini;

“Ya Allah ya Rabbuna masukanlah kami ke surga firdausMu.” Aamiin.

Tidak ada yang salah dari bermimpi menggapai puncak surga firdausNya. Betapa pun seorang yang fakir ilmu, tertatih dalam ibadah, terengah-engah dalam beramal, masih menjadi pejuang elementer menjadi orang sholih, pun dosanya masih berjubel, bahkan miskin dalam hal harta.

Tetapi sebagai Muslim cita-cita dan harapan harus tinggi. Bertaruh untuk menggapai puncak kemuliaan adalah keharusan yang diperjuangkan. Pantang menyerah saat hati sudah berniat, kaki sudah melangkah dan azzam sudah dihamparkan. Tidak pantas dan tidak boleh putus asa dari Rahmat Allah. Karena di tangan Allah tidak ada yang mustahil. “Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang –orang yang kafir” ( Qs Yusuf 87 ).

Dengan semangat inilah energi yang ada pada setiap Muslim selalu terbaharui, menggelegar dan dahsyat untuk melesat. Karena ia tahu, tabi’at jalan menuju puncak mimpi surga firdaus tidak mudah, panjang berliku, menghajatkan perjuangan, butuh pengorbanan, tidak pernah sepi dari halangan dan rintangan. Tantangan pun selalu menghadang. Musuh pasti tidak akan tinggal diam. Terpaan badai ujian tidak akan berhenti menjelang.

Begitu paham tabi’at jalan menuju surga firdausNya, ia tahu bahwa dirinya harus selalu memperbaharui hubungannya dengan Allah, bersandar dan tawakkallah kepadaNya dan yakinlah bahwa Allah sanggup mengeluarkanmu dari berbagai macam kesulitan dan perbanyak melakukann keta’atan seperti membaca al Quran, shalat, sedekah, berdzikir, beristighfar dan berdo’a. Semua jalan langit dan jalan bumi ia tempuh dengan semangat membaja.

Ia tahu jangan sampai ada putus asa mengusai dirinya. Tetapi dirinyalah yang harus menguasainya dengan selalu memilki harapan yang baru setiap harinya. Harapan itu masih ada. Jalan selalu terbuka lebar. Jangan pernah berhenti mencoba, dan jangan pernah mencoba berhenti. Teruslah… dan teruslah mencoba walau kesalahan itu berulang. Walau kesabaran dipertaruhkan. Karena boleh jadi seekor semut itu terus mencoba untuk melakukan sesuatu sampai dengan ratusan kali, ribuan kali hingga ia mencapai berhasil.

“Ketika engkau sudah benar berada di jalan menuju Allah, maka berlarilah. Jika itu sulit bagimu, maka berlari kecilah. Jika kamu lelah berjalanlah. Jika itu kamu pun tidak mampu, merangkaklah. Namun jangan pernah berbalik arah atau berhenti.” (Imam Syafi’i)

Tak lupa, pujilah Allah dan bersyukurlah kepadaNya. Allah masih memberi kesempatan hidup, gunakanlah itu semua untuk melakukan ibadah, amal kebaikan, dan hal-hal yang positif. Bergabung dan berkumpullah dengan orang-orang sholih agar kesholihan itu semakin terjaga.

Satu lagi, menjaga hati agar selalu berhusnudzan pada Allah. Ini penting sebab Nabi saw pernah bersabda “ Janganlah salah seorang di antara kamu meninggal dunia melainkan dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah ( Hr Muslim ).

Selamat berjuang menggapai puncak mimpi surga firdaus yang abadi. Aamiin

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Penduduk Langit dan Bumi Mendoakan Pengajar Kebaikan

Jalan Menuju Surga

📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

Menjadi produktif begitulah sejatinya seorang muslim. Selalu berpikir apa yang harus dilakukan agar keridhaan Allah hadir dalam kehidupan kita. Ada ide kreatif dan inovatif sehingga melahirkan karya-karya fenomenal. Atau dari apa yang dilakukan menjadi pahala yang akan membawanya tinggal di surga.

Muslim produktif itu tidak kenal lelah, mereka pantang menyerah, bahkan merelakan kepentingan pribadinya hanya untuk mendahulukan apa yang dikehendaki oleh Allah. Sehingga akan menjaga kewaspadaan bahwa Allah mengawasi segala tindak tanduk yang kesehariannya.

Sering kita merasakan tubuh penat, lelah bahkan untuk beranjak saja berat. Apakah perlu untuk mengeluh? Tidak! Karena perlu disadari bahwa rasa lelah yang mendera itulah sejatinya aroma semerbak surga. Mari kita berbincang tentang lelah yang akan membawa ke Jannah.

1. Bekerja keras di jalan Allah. Ketika kita sudah dewasa maka tanggung jawab pada diri sendiri dan keluarga harus ada. Memenuhi kebutuhan diri, sehingga fisik terjaga kesehatannya dan ada jaminan untuk keberlangsungan hidupnya menjadi keniscayaan. Apalagi ketika punya keluarga. Nafkah harus diberikan. Maka setiap kita bekerja untuk pemenuhnnya. Kelelahan seperti ini menjadi alasan surga kita dapatkan.

Artinya: “Barangsiapa yang di waktu sore merasa capek (lelah) lantaran pekerjaan kedua tangannya (mencari nafkah) maka di saat itu diampuni dosa baginya.” (HR. Thabrani).

2. Berdakwah untuk menyampaikan kebenaran. Berdakwah ilallah. Menyampaikan kebenaran hingga merasakan lelah ini jelas sekali. Lebih tepatnya bisa disimpulkan bahkan setiap langkah di jalan dakwah tak lain sedang melangkah menuju surga.

Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah memberi banyak kebaikan, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, sampai semut-semut di lubangnya dan ikan-ikan selalu mendoakan orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” (HR. Turmudzi).

3. Beribadah kepada Allah. Penghambaan diri kita kepada Allah denga banyak cara hingga kita merasakan lelah. Ketika lama betilawah, ketika shalat malam, shalat Sunnah dan apa saja. Beribadah adalah sebuah cara untuk mendekatkan diri kepada Allah hingga kepayahan kita rasakan.

Nabi mengatakan,

ما من مكلوم يكلم في سبيل الله والله أعلم بمن يكلم في سبيله إلا جاء يوم القيامة وكلمه يثعب دما ، اللون لون الدم ، والريح ريح المسك

“Tidak ada seorangpun yang terluka di jalan Allah, dan Allah lebih tahu siapa yang benar-benar terluka di jalan-Nya (yakni yang jujur dan ikhlas)-, kecuali dia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan lukanya mengalirkan darah, warnanya warna darah, dan aromanya aroma kasturi (misk).” (HR. Tirmidzi)

4. Menuntut Ilmu dan mengajarkannya. Diwajibkan atas muslim untuk menuntut ilmu. Bersusah payah memahami ilmu itulah jalan ke surga. Seperti diisyaratkan dalam hadits.

Kata Nabi, Man Salaka Thoriiqon Yaltamisu Fiihi Ilman Sahhalallahu Lahu Thoriiqon Ila Al Jannah. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, yang artinya ”Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga”.

5. Mengajak orang untuk masuk barisan dakwah.
Dalam QS An Nahl 125 Allah berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Kita punya kewajiban mengajak orang lain untuk masuk ke dalam barisan dakwah sehingga semakin banyak pasukan yang akan meninggikan kalimat Allah.

.6. Membimbing keluarga agar tertarbiyah islamiyah. Kita perlu menjaga keluarga kita untuk berada di jalan kebenaran. Memberikan bimbingan terbaik. Karena bahagia itu tak hanya ingin dirasakan di dunia tapi hingga surga.

Dalam surat An Nisa ayat 9, Allah berfirman”Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.”

7. Hamil dan meyusui. Seperti apa lelahnya? Masya Allah laa quwwata Illa Billah. Tak terbalas jasa ibu tentang hal ini.

Rasulullah SAW bersabda, “Ketika seorang perempuan menyusui anaknya, Allah membalas setiap isapan air susu yang diisap anak dengan pahala memerdekakan seorang budak dari keturunan Nabi Ismail, dan manakala perempuan itu selesai menyusui anaknya maka malaikat pun meletakkan tangan ke atas sisi perempuan itu seraya berkata, ‘Mulailah hidup dari baru karena Allah telah mengampuni semua dosa-dosamu.’”

8. Lelah orang yang kelelahan dan sakit. Insya Allah setiap rasa sakit akan dikurangi dosa manusia dan tentu balasan surga akan diraihnya. Telah menjadi ketetapan dari Allah SWT bahwa setiap manusia pasti pernah mengalami sakit dan musibah selama hidupnya.

Allah SWT: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi roji’uun’. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk ”. (QSa al-Baqarah : 155-157)

Wallahu a’lam bisshawwab

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

tawadhu

Bagaimana Kita Mengukur

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

📝 Pemateri: Ustadz Umar Hidayat, M.Ag

Meski engkau orang yang kaya, pejabat, tokoh atau sekalipun engkau orang yang berpengaruh. Atau juga Guru, Ustadz, Ajengan dan bahkan Kyai (afwan) sekalipun. Maka sungguh suatu kesombongan, terlalu mentakjubi diri jika menganggap setiap orang yang datang kepadamu itu memerlukan atau membutuhkanmu. Jangan lakukan itu. Tawadhu’lah dan muliakan dirimu.

Boleh jadi justru sebaliknya. Karena sungguh kita sama sekali tidak tahu siapa diantara kita yang lebih mulia di mata makhluk langit. Apalagi di ‘mata’ Allah Swt. Umbaran jumawa atau merasa paling hanya akan mengundang bencana dan kesusahan dikemudian hari.

Biarkan orang lain yang menganggap, atau bahkan engkau melarang mereka untuk beranggapan yang berlebihan. Betapa sakit ketika engkau ‘kejlungup’ (baca; jatuh yang tak sengaja) saat engkau merasa di ketinggian. Maka sebaik engkau adalah orang kaya yang rendah hati dan mau peduli mau berbagi. Maka sebaik engkau adalah menjadi punggawa pejabat yang mencerminkan khadimul ummat. Maka sebaik engkau menjadi maha guru, ustadz maupun Kyai yang mau mengayomi dan meneduhkan ummat. Maka sebaik engkau menjadi orang yang mau menyapa dan berdoa kepada siapa saja meski tidak dimintanya.

Karena sifat tawadhu adalah sifat hamba Allah (QS. Al-Furqan: 63); sebagaimana Rasulullah Nabi dan hamba terbaik mentauladankan kepada kita. Suatu hari sahabat Abu Hurairah RA memasuki pasar bersama Rasulullah SAW. Beliau kemudian membeli beberapa barang dan Abu Hurairah bergegas ingin membantu Rasulullah, akan tetapi Rasulullah berkata: “Pemilik barang lebih berhak membawa barangnya sendiri”. Begitulah ketawadhu’an baginda Nabi. Semua aktivitas di rumah dilakukannya sendiri dan tidak menyuruh orang lain (dan hanya beberapa hal saja beliau menyuruh orang lain).

Begitupun dulu, saat terjadi peristiwa pembukaan Kota Makkah, Rasulullah SAW bersama tentara muslim berjumlah puluhan ribu, Beliau masuk ke dalamnya dalam keadaan menundukan kepalanya yang mulia hingga hampir jenggot beliau menyentuh pelana kendaraan. Rasulullah tidak pernah berbusung dada atau berbangga diri meski dirinya seorang pemimpin pasukan bahkan pemimpin umat ini. Beliau memasuki Kota Makkah dalam keadaan tawadhu’ kepada pemiliknya Allah ‘Azza wa Jalla, Tuhan semesta Alam.

Bagaimana dengan kita?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Seruan Untuk Memakmurkan Masjid

Saksikanlah! Dia termasuk mukmin!

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إذا رأيتم الرجل يتعاهد المسجد فاشهدوا له بالإيمان فإن الله تعالى يقول ( إنما يعمر مساجد الله من آمن بالله واليوم الآخر وأقام الصلاة وآتى الزكاة ) الآية

Apabila kamu sekalian melihat seseorang yang biasa ke masjid maka saksikanlah bahwa ia benar-benar beriman.

Allah ‘azza wajalla berfirman : Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menegakkan shalat dan menunaikan zakat.

(HR. At Tirmidzi No. 2617, Ibnu Majah No. 802, Ahmad No. 11725)

Hadits ini dihasankan oleh: Imam At Tirmidzi, Imam An Nawawi, Syaikh Muhammad Ibrahim, Syaikh Ibnu Jibrin, dan lainnya.

– Tapi SHAHIH, menurut Imam Al Hakim (Al Mustadrak No. 3280), juga Imam Adz Dzahabi Talkhishnya.

– Imam Ibnu Hibban, Imam Ibnu Khuzaimah juga memasukkanya dalam kitab Shahih mereka. (Ibnu Hibban No. 1721, Ibnu Khuzaimah No. 1502).

– Dishahihkan oleh Imam Al Munawi. (At Taysir, 1/198),

– juga Imam As Sakhawi (Maqashid Al Hasanah Hal. 87),

– Imam Al ‘Ajluni (Kasyful Khafa, 1/90), dan Syaikh Ahmad Mushthafa Al A’zhami dalam Tahqiq Ibni Khuzaimah. (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah No. 54303)

– Tapi Syaikh Al Albani mendhaifkannya, tapi menurutnya secara makna tetap shahih. (Tahqiq Riyadhishshalihin, 1067)

Wa Shallallahu ‘Alaihi wa aalihi wa Shahbihi wa Salam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Lebih Sesat dari Hewan Ternak

Fa’tabiruu Ya Ulil Abshaar !!

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

📌 Ada manusia mengolok-olok cadar, gamis, jenggot, dan jidat hitam, tp dia membiarkan pakaian seksi dan umbar aurat … Fa’tabiruu ya ulil Abshaar!!

📌 Ada manusia habis waktunya mendebatkan sampaikah bacaan Al Fatihah kepada mayit, tapi dia tidak pernah menyampaikan bacaan doa untuk saudaranya terzalimi di Palestina, Rohingnya, Uighur, dan lainnya … Fa’tabiruu ya Ulil Abshaar !!

📌 Ada manusia yang rajin mengoleksi kesalahan saudaranya yang sudah mau shalat setelah lama dia meninggalkannya, tp dia mendiamkan keluarganya sendiri yang tidak mau shalat di depan hidungnya … Fa’tabiruu ya Ulil Abshaar!!

📌 Ada orang yang meributkan hukum membunuh cicak, nyamuk, dan lalat, tp tidak pernah sibuk terhadap tertumpahnya darah kaum muslimin di daerah minoritas di berbagai belahan dunia … Fa’tabiruu Ya Ulil Abshaar !!

📌 Semua ini terjadi karena gagal fahamnya terhadap Fiqih Aulawiyat (Fiqih Prioritas) .. Fa’tabiruu ya ulil Abshaar!!

Wallahul Muwaffiq Ilaa aqwamith Thariq

Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678