Hijrah Itu Menguras Rasa

MEMAKNAI HIJRAH DENGAN BER-HIJRAH

📝 Pemateri: Ustadzah DRA. INDRA ASIH

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Sabda Nabi SAW:

🔎“Ilmu yang pertama kali diangkat adalah kekhusu’an” 🔍

(diriwayatkan oleh Thabrani dengan sanad Hasan)

Perjalanan alam semesta dan dunia, berputar terus, berpindah dari satu proses ke proses yang lain.

Berpindah dari satu era ke era yang lain, dengan perbedaan manusia yang menghuninya dan kecenderungan mereka yang tentu saja juga mengalami perubahan sejalan dengan perbedaan kekhasan mereka dari masa ke masa.

Kita adalah penghuni dunia sekarang.
🔹Dunia yang serba  cepat, praktis dan efisien.
🔹Dunia yang menjanjikan dan menyajikan berbagai arena dan fasilitas yang sungguh-sungguh sangat mengasyikkan dan canggih.
🔹Dunia yang dipenuhi dengan perkembangan teknologi yang begitu menawan dan semuanya menantang kita untuk mencoba dan menikmatinya.

Teknologi komunikasi dan transportasi yang memungkinkan kita menggenggam dunia ini hanya dalam hitungan detik, dalam arti  hanya dalam hitungan detik saja, kita sudah bisa ada dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu negeri ke negeri lain.

Mencermati hadits di awal tulisan ini, apa yang Nabi saw sabdakan terbukti benar adanya sekarang.

Sedikit demi sedikit tanpa kita menyadarinya seluruh diri kita, seluruh indera kita sudah begitu terbiasa dan menikmati bahkan kecanduan  hiruk-pikuk dan gemerlap suasana dunia modern ini.

Luluh lantak bangunan kekhusu’an pada diri kita.

Habis kandas persediaan energi pembangkit khusu’an kita.

Ketika sholat, kita ibarat “mayat” atau “robot” yang sedang melakukan aktifitas tanpa makna. Kosong.

Kemudian, kita terburu-buru menyelesaikannya dan akhirnya, bersegera kembali pada  berbagai judul dan kesibukan kita.

Di masa seperti ini, sungguh memaknai HIJRAH dengan kembali merebut KEKHUSU’AN kita dalam memaknai hidup dan tugas kehidupan kita yang hakiki yang diembankan oleh Allah swt pada kita, merupakan suatu hal yang sangat penting tapi sulit.

Memaknai HIJRAH berupa 🔹keluar dari alur gemerlap dan kesibukan yang melalaikan dan
🔹kembali masuk pada nuansa keheningan dan kekhusu’an,
untuk menapaki sisa-sisa waktu yang masih Allah karuniakan pada kita.

Hingga hidup kita kembali pada suasana semata-mata hanya untuk mengagungkan dan meninggikan Allah swt.

Tentu saja keheningan dan kekhusu’an secara hakiki.

Bukan keheningan dan kekhusu’an yang membuat kita hanya memojokkan diri kita di tempat-tempat sholat kita.

Tapi hening dan khusu’ di tengah keramaian dan kesibukan kita untuk beramal dan berbuat sebanyak-banyaknya untuk memberikan kebaikan dan manfaat bagi orang-orang di sekitar kita.

🔑 Setidaknya ada beberapa langkah yang bisa kita coba untuk proses hijrah kita tersebut.

🍃1⃣. MEMILIH

Di dalam al Qur’an surat Al Kahfi ayat 29, Allah SWT menuntun kita dan menyerahkan pilihan itu pada kita dengan konsekuensinya.

“Dan katakanlah:
Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.
Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka.
Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.”

Mari kita berusaha untuk menentukan pilihan terbaik, pilihan yang paling disukai oleh Allah.

Apakah yang dimaksud dengan pilihan terbaik?

Contoh:
Jika ada seseorang melakukan kesalahan pada kita. Ada beberapa sikap yang bisa kita ambil.

🔹Pilihan pertama: tidak marah. Ini baik.

🔹Pilihan kedua: memaafkan. Ini lebih baik.

🔹Pilihan ketiga: membalas kesalahan seseorang dengan kebaikan. Inilah pilihan terbaik.

🍃2⃣. MENERIMA

Yaitu melapangkan hati kita untuk ikhlas menerima pilihan terbaik yang sudah kita putuskan.

Allah berfirman: “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam.

Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit.

Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.”
(QS. Al An’am : 125)

🍃3⃣. MEMUTUSKAN

Yaitu berarti kita memilih dan melapangkan hati kita bukan hanya pada satu atau dua hal saja, tapi berusaha menerapkannya pada keseluruhan aspek dalam hidup kita.

Di dalam QS. Al An’am ayat 162, Allah swt berfirman:

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”

🍃4⃣. MENEGUHKAN.

Yaitu memohon agar Allah mengokohkan keputusan jalan hidup kita sesuai dengan firman Allah swt.:

“Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.
Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.”
(QS. Al Anfal : 63)

🍃5⃣. MENIKMATI

Caranya dengan menjadikan diri kita terus konsisten dengan 4 hal yang sudah kita lakukan sebelumnya.

Jika kita berhasil, maka kita bisa meraih kembali sumber kenikmatan dan kebahagian hidup kita.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan:

“Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushilat:30)

Siapkah Kita Berhijrah?
Siapkah Kita Untuk Berbahagia?

Mari sama-sama kita raih janji Allah swt:

“….dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”

Wallahu A’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

mukmin satu tubuh

SIAPA TEMANMU, ITULAH KAMU

📝 Pemateri: Ust. ABDULLAH HAIDIR

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

🌾Teman mu adalah yang jujur padamu, bukan yang selalu membenarkan apa saja tindakanmu.

🌾Teman sejati, bukan teman yang tidak pernah berpisah, tapi teman yang apabila bertemu karena Allah, dan jika berpisah, berpisah karena Allah..

🌾Di antara bukti kesetiaanmu terhadap teman mu, jika namanya kau hadirkan dalam doamu tanpa dia ketahui, agar harapan-harapannya terpenuhi.

🌾Mengetahui dan memahami tabiat teman, adalah setengah dari modal pertemanan yang baik…

🌾Pada teman yang lebih muda, katakan:
‘Aku tlah mendahuluinya dalam dosa’.

🌾Pada yang lebih tua katakan, ‘Dia telah mendahuluiku dalam taat & kebaikan.’

🌾🔑 Cari teman yang dapat menerimamu “apa adanya”, bukan yang selalu mencari padamu “ada apanya”🔑

🌾Teman yang baik, bukan hanya sekedar tahu dimana rumahmu, tapi dia tahu dimana hatimu?

🌾Teman yang baik, bukan orang yang dimuliakan temannya, tapi orang yang temannya merasa dimuliakan olehnya…

🌾Kekayaan dan kedudukan dapat menundukkan teman, tapi hanya perbuatan baik yang dapat menundukkan hatinya..

🌾Mengalah dalam ber teman belum tentu kalah. Bisa jadi hal itu menjadi sebab dia dapat “mengalahkannya”…

🌾Adakalanya dalam berteman kita harus mengalah sepanjang tidak menjatuhkan harga diri dan menggadai prinsip..

🌾Husnuzzan dalam berteman itu penting…
Tapi berhati-hati juga perlu….

🌾Saat pertemanan belum begitu intens, hindari memberikan kesimpulan akhir baik atau buruknya teman mu…

🌾Saat engkau merasa tidak ada beban untuk mencurahkn perasaanmu pada teman mu, dialah teman dekatmu…

🌾Saat kau gembira dengan kegembiraan temanmu dan sedih dengan kesedihan temanmu, kau telah menjadi teman sejatinya…

🌾Tundalah marahmu pada temanmu beberapa saat. Boleh jadi kau temukan hakekat yang tidak kau ketahui sebelumnya, atau marahmu sudah reda..

🌾Jika sekian kali teman mu marah kepadamu namun dia tidak mengeluarkan kata-kata kasar, dia layak menjadi teman baikmu

🌾Berhati-hati lah dalam memilih teman. Tapi harus lebih hati-hati lagi jika ingin menggantinya….

🌾Mendamaikan dua teman yang bertikai lebih baik dibanding memihak salah satunya…

🌾Jangan bantu teman mu yg bermusuhan dengan temannya. Bisa jd mereka akan berdamai sedangkan engkau masih bermusuhan..

🌾Jangan terlalu sering bertemu teman, jangan pula terlalu jarang….

🌾Tegurlah teman mu kala sepi dan pujilah dia kala ramai….

🌾Jika engkau hanya ingin ber teman dengan orang yg tidak ada kekurangannya, sama saja engkau tidak ingin berteman dgn dirimu sendiri…

🌾Jika engkau hanya ingin ber teman dengan orang yg tidak ada kekurangannya, sama saja engkau tidak ingin berteman…

🌾🔑 Keinginan menjadi teman yang baik, harus melebihi keinginan mendapatkan teman yg baik…

🌾Kekayaan dapat mendatangkan banyak teman, tapi jika musibah menimpa, akan menjadi ujian bagi merka.

🌾Jika matamu mendapatkan kekurangan pada teman mu, jangan serta merta lisanmu mengungkapkannya…

🌾Kelau teman mu lebih pintar, belajarlah darinya. Kalau lebih bodoh, ajarilah, Kalau sepadan, berdiskusilah…

🌾Teman mu adalah cerminmu. Kalau dia baik, maka sesuaikan dirimu seperti dia, kalau buruk, maka perbaikilah cerminnya.

🌾Kalau ada teman mu membicarakan keburukan temanmu yg lain, hati-hati, keburukanmu bisa jadi akan dia bicarakan kepada temanmu yg lain…

🌾Teman baik teman mu, layak menjadi temanmu, tapi musuh temanmu, tidak harus menjadi musuhmu.

🌾Cepat atau lambat, kita kan berpisah dengan teman-teman kita. Hanya iman dan takwa kepada Allah yang dapat memastikan pertemuan di surga-Nya..

Aamiin..

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

puasa di bulan Muharram

Muharram Bulan Allah, Bukan Bulan Sial Apalagi Bulan Syi’ah

📝 Pemateri: DR. WIDO SUPRAHA

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Muharram, Syahrullah, bulan Allah, segera tiba.

Bulan penuh keutamaan amal shalih seperti puasa, berarti keutamaan juga untuk amal shalih lainnya seperti resepsi pernikahan, sunatan, aqiqah, perjalanan jauh, dan sejenisnya.

Generasi terbaik umat Islam telah mengisi bulan Muharram dengan memperbanyak amal shalih, dan menjaga diri mereka dari berperang kecuali jika diperangi musuh.

Allah Swt. telah berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّہُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَہۡرً۬ا فِى ڪِتَـٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡہَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٌ۬‌ۚ ذَٲلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ‌ۚ فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيہِنَّ أَنفُسَڪُمۡ‌ۚ وَقَـٰتِلُواْ ٱلۡمُشۡرِڪِينَ كَآفَّةً۬ ڪَمَا يُقَـٰتِلُونَكُمۡ ڪَآفَّةً۬‌ۚ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلۡمُتَّقِينَ (٣٦)

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.

Itulah [ketetapan] agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (Q.S. At-Taubah/9:36)

Abu Muhammad Makki ibn Abi Thalib Hammusy ibn Muhammad ibn Mukhtar Al-Qaisi al-Qairawani al-Andalusi al-Qurthubi al-Maliki (355-437H) berkata, “Empat bulan yang dimaksud dalam ayat di atas adalah Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram”.

وهن: رجب، وذو القعدة، وذو الحجة والمحرم

(Al Hidayah ila Bulugh an-Nihayah fi ‘Ilmi Ma’ani al-Qur’an wa Tafsiruhu, wa Ahkamuhu wa Jamalu min Fununi ‘Ulumihi, Maktabah Syamilah).

Hal ini juga telah dijelaskan Nabi Saw. dalam salah satu khutbahnya,

“Sesungguhnya zaman  telah bergulir seperti saat hari ketika diciptakannya langit dan bumi. Satu tahun terdiri atas 12 bulan, dan di antaranya ada 4 bulan haram, 3 bulan berturutan yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan kemudian bulan Rajab yang berada di antara Jumadil Akhir dan Sya’ban. (HR. Bukhari No. 59, HR. Muslim No. 1679)

إن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق السموات والأرض، السنة اثنا عشر شهراً منها أربعة حرم ثلاث متواليات ذو القعدة وذو الحجة والمحرم، ورجب مضر الذي بين جمادى وشعبان

Muhammad ibn ‘Abdurrahman ibn Muhammad ibn ‘Abdullah al-Husni al-Ihabi asy-Syafi’i (832-905H) mengutip pendapat sebagian ulama bahwa larangan untuk berbuat aniaya (kezhaliman) pada ‘فيهن’ merujuk kepada ‘اثنا عشر شهراً’ dimaksud, sehingga tidak terbatas pada empat bulan saja.

Demikian tegas larangan tersebut disampaikan agar manusia mengisi seluruh bulan dengan ketaatan.

والطاعة فيها أعظم أجراً

Dan ketaatan yang dilakukan di bulan haram, sangat besar pahalanya. (Tafsir al-Iji Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an, Maktabah Syamilah)

🔑Jika ketaatan yang diamalkan di bulan Muharram akan mendapatkan pahala yang besar, maka penyimpangan keyakinan dan kemaksiatan yang dilakukan di dalamnya pun mendapatkan balasan yang besar.

Tidak pantas bagi manusia mengisinya dengan keyakinan bahwa bulan Muharram adalah bulan sial, sebagaimana tidak pantas bagi manusia untuk menganiaya dirinya di bulan suci.

Meyakini segala waktu, terlebih bulan Allah, sebagai waktu yang akan melahirkan kesialan adalah keyakinan batil yang akan menyakiti Allah Swt.

Rasul Saw. bersabda, “Janganlah kalian mencela waktu karena Allah Dialah (pencipta) Ad-Dahr. (HR. Muslim No. 5827)

لاَ تَسُبُّوا الدَّهْرَ؛ فَإِنَّ اللهَ هُوَ الدَّهْرُ

Sebagaimana Allah Swt telah berfirman dalam sebuah hadits Qudsi:

“Anak Adam telah menyakiti-Ku; ia mencela dahr (waktu), padahal Aku adalah (pencipta) dahr.
Di tangan-Ku segala perkara, Aku memutar malam dan siang.” (HR. Bukhari No. 2042, Muslim No. 3326)

يؤذيني ابن آدم يسب الدهر، وأنا الدهر، بيدي الأمر أقلب الليل والنهار

Demikian juga dengan beramal, terlebih beramal di bulan Allah dengan amalan yang bersifat menganiaya diri, melukainya, bahkan menyebabkan kecacatannya, hingga kematiannya, sebagaimana perilaku sebagian Syi’ah, bukanlah ciri umat Nabi Muhammad Saw, merujuk peringatan beliau:

“Bukanlah golongan kami sesiapa yang menampar pipi, merobek-robek kantong baju, dan beramal dengan amal jahiliyah”. (HR. Bukhari No. 1294, Muslim No. 103)

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّة

💡🔑 Menjaga iman agar tetap berada dalam pemahaman yang lurus, dan menghidupkan amal agar selalu merujuk kepada ilmu adalah hal yang asasi dalam kehidupan dunia.

Semoga hal itu mudah bagi kita.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Amal dan Ajal

Senandung Keimanan Penghulu Risalah

📝 Pemateri: Ust. Noorahmat Abu Mubarak

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

🌾Saudaraku…
Keimanan yang mengakar ke dalam lubuk jiwa seorang mu’min merupakan bekalan utama dalam menghadapi perjuangan hidup dan menangkal propaganda nafsu duniawi.
Khususnya bagi setiap mu’min yang selalu mencurahkan perhatiannya pada permasalahan ummat yang banyak dijumpai dalam hidup keseharian.

Tanpa keimanan, tiada satupun senjata yang kuat menembus angkara karena sia-sia segala bentuk persiapan.

🌾Saudaraku…
Bekalan utama yang harus kalian miliki adalah keyakinan bahwa MAUT senantiasa mengintai setiap deru nafas kita. Mutlak jiwa kita ada dalam genggamanNya dan ketentuan ajal atas kita tiada satupun yang dapat campur tangan kecuali Allah Ta’ala semata.

Tiada pernah kita akan mampu berlari dari cegatan malaikat maut bila memang Allah Ta’ala sudah putuskan waktunya.

قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا ڪَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوۡلَٮٰنَا‌ وَعَلَى ٱللَّهِ فَليَتَوَڪَّلِ ٱلمُؤمِنُونَ

Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dia-lah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal (QS At Taubah 9:51)

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ۬‌ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ لَا يَستَأۡخِرُونَ سَاعَةً۬‌ وَلَا يَستَقدِمُونَ

Maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak bisa meminta ditunda sesaatpun, dan tidak bisa pula dimajukan (QS Al A’raaf 7:34)

Karenanya bila kita menyadarinya, maka tentu kita akan memiliki keshabaran, keberanian dan semangat yang tinggi hingga bebas dari jeratan rasa cemas, khawatir ataupun takut.

Maka senandungkanlah sya’ir sebagaimana Ali ibn Abi Thalib r.a menancapkannya kedalam hati ketika berhadapan dengan musuh Islam…

 أي يومي من الموت أفر؟
🔹Adakah hari-hari yang mungkin aku bisa lari dari maut…
يوم لا يقدرأم يوم قدر…
🔹Hari yang ditentukan dan yang tidak ditentukan…
يوم لا يقدرلاأرهبه…
🔹Hari yang tak ditetapkan aku pun tidak gentar…
ومن المقدورلاينجوالحذر…
🔹Dan hari yang ditentukanpun aku tak kuasa menghindarinya…
أقول لهاوقد طارت شعاعا…
🔹Kukatakan padanya, ia telah terbang bertabur bintang…
من الأبطال ويحك لن تراعي…
🔹Dari para syuhada yang gugur yang tak kau pedulikan…
فإنك لوسألت بقاءيوم…
🔹Maka sesungguhnya engkau walau meminta penundaan meski sehari…
على الأجل الذي لك لن تطاعي…
🔹Atas ajal yang ditetapkan padamu, tentu ia takkan mau…
فصبرافى عجال الموت صبرا…
🔹Karena itu bershabarlah saat menghadapi kematian…
فما نيل الخلود بمستطاع…
🔹Karena mengharapkan keabadian adalah sesuatu yang mustahil…
🔹Semoga ingatan kalian atas maut senantiasa membuat hati kalian hidup menerangi semesta…
Aamiin…

🌾Saudaraku…
Ketika terlahir sudah kesadaran bahwa ajal tidak pernah lekang dari mengintai kita,
maka sadarkan jiwa kita bahwa selama nyawa masih dikandung badan, rezeki dari Allah Ta’ala tiada akan pernah terputus memenuhi kebutuhan kita.

Tak seorangpun meregang nyawa kecuali telah disempurnakan rezeki dan ajalnya.

Mari perhatikan ayat Allah berikut…

إِنَّ رَبَّكَ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُ‌ۚ إِنَّهُ ۥ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرَۢا بَصِيرً۬ا

Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS Al Isra 17:30)

أَمَّنۡ هَـٰذَا ٱلَّذِى يَرۡزُقُكُمۡ إِنۡ أَمۡسَكَ رِزۡقَهُ ۥ‌ۚ بَل لَّجُّواْ فِى عُتُوٍّ۬ وَنُفُورٍ

Atau siapakah dia ini yang memberi kamu rezki jika Allah menahan rezki-Nya? Sebenarnya mereka terus-menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri? (QS Al Mulk 67:21)

🌾Saudaraku…
Kita sudah selayaknya memiliki sifat kedewasaan, kasih sayang, dan itsar yang tinggi.

💡Kita sudah sepantasnya terbebas dari perbudakan nafsu dunia,
terbebas dari kerinduan untuk memburunya, dari sikap egoistis, tamak maupun kebakhilan…

Bahkan sudah seharusnya kita mengasumsikan bahwa kebahagiaan hidup ada dalam sikap qana’ah…

Terkait ini, Imam Syafi’I rahimahullah bersenandung…

النفسن تجزع أن تكون فقيرة…
🔹Nafsu memang gelisah jika dirinya menjadi fakir…
والفقرخيرمن غنى يطغيها…
🔹Padahal kefakiran itu lebih baik daripada kekayaan yang menyiksa…
وغنى النفوس هوالكفاف, فان أبته…
🔹Kekayaan jiwa itu qana’ah walaupun banyak yang enggan…
فجميع مافى الأرض لايكمنها…
🔹Bumi dengan seluruh kekayaannya tidak akan membuat jiwa qana’ah…

🌾Saudaraku…
Ingatkah kisah ‘Atha’ bin Abi Rabah ketika berkesempatan bertemu dengan Khalifah Abdul Malik bin Marwan?

Pada saat itu khalifah sedang bersantai di atas permadani beserta para pembesar negeri.
Ketika Khalifah melihat ‘Atha’, segeralah ia menyambut dan mempersilakan duduk… kemudian bertanya…
“Yaa Abu Muhammad, adakah kepentingan yang hendak kau utarakan?”
Dan ‘Atha’ pun menjawab dengan lugas…

🔎“Yaa Amirul Mu’miniin, hendaknya anda bertaqwa kepada Allah terhadap apa yang diharamkan oleh Allah dan juga Rasul-Nya, lalu penuhilah perjanjian-Nya dalam memakmurkan negeri.

Hendaknya anda bertaqwa kepada Allah dalam menyantuni putra-putri Muhajirin dan Anshar, karena sesungguhnya anda duduk di majelis ini bersama mereka.

Hendaklah anda bertaqwa kepada Allah dalam melayani dhuafa, karena sesungguhnya mereka benteng kaum muslimiin, dan perhatikanlah urusan kaum muslimin karena sesungguhnya diri anda-lah yang bertanggung jawab atas mereka….”🔍

Khalifah-pun menjawab, “Terima kasih, saya akan melakukan saranmu”. Kemudian ‘Atha’ berdiri tetapi khalifah memegangnya, melarangnya pergi…
“Yaa Abu Muhammad. Anda hanya mengajukan permintaan kepada kami untuk keperluan orang lain, dan itu pun telah kami penuhi. Lalu apakah keperluan untuk anda sendiri?” sang Khalifah-pun mendesak…

Seketika itu ‘Atha’ menjawab tegas…

🔊“Aku tidak pernah menyandarkan keperluanku kepada makhluk”📢

Menggelegar sikap ‘Atha’ hingga relung kalbu kita bergoyang….

Ya….kita tidak boleh menyandarkan keperluan kita kepada makhluk… sebagai konsekuensi atas salim-nya aqidah kita…

🌾Wahai saudaraku…
Kesadaran akan pastinya ajal…dan pastinya takaran rezeki yang Allah Azza wa Jalla berikan pada kita, sudah semestinya melahirkan sikap SYAJA’AH  dan ISTIQOMAH dalam mengusung nilai kebenaran dan keadilan Ilahiyyah.

Dengan demikian maka kita akan dapat memainkan peran kita dalam membina, meng-Ishlah dan menuntun immat kearah kemaslahatan…

Semoga bahu kita mampu mengembalikan ‘Izzah Islam dan kaum muslimin yang saat ini tercabik dan tercerai berai… Aamiin…🙏😢

🌾Wahai saudaraku…
Di masa penuh fitnah ini…keshabaran kita diuji…

🔎Dan hanya keshabaran yang terlahir dari keimanan yang kokoh mengakar-lah yang mampu membebaskan dari belenggu lemahnya jiwa hingga terlahir kekuatan untuk membuang jauh sikap malas, lemah, lesu dan keberserahan…

🔎Karena shabar yang lahir dari jiwa-jiwa yang senantiasa merasa diawasi Allah Ta’ala akan melahirkan ketabahan dan ketegaran dalam menghadapi cobaan yang menimpa…hingga Allah Azza wa Jalla
Mendatangkan pertolongan-Nya atau Allah Ta’ala menjadikan syahid dalam keadaan ridha dan diridhai…😢😢

🔎Kita harus siap menghadapi berbagai tuduhan bohong, propaganda bathil, sikap sinis atau apapun yang mengkerdilkan seruan Islam…

🔎Kita harus siap menghadapi kemungkinan terpahit berupa jeruji besi, pencekalan ataupun penyiksaan…

🔎Kita harus siap menghadapi berbagai tipu daya yang hendak melemahkan semangat perjuangan… tak kurang
– kedudukan sosial…
– jabatan…
– kekayaan…
– hingga wanita-wanita cantik yang menggiurkan…

Siap meluluh-lantakkan barisan dakwah yang dirintis dengan peluh dan darah oleh para pendahulu di masa silam…

Bayangkanlah karenanya wajah Diponegoro, Tjik Di Tiro, Imam Bonjol, Tjokroaminoto, Ahmad Dahlan, Hasyim Asyari, Agus Salim, Mohammad Natsir, Buya Hamka, Syafrudin Prawiranegara…

🔎Kita harus siap menghadapi segala kemungkinan hilangnya nyawa sebagai bentuk tadhiyah….pengorbanan sebagai hamba Allah…gugur sebagai syuhada demi tegaknya kalimatullah hiyal ‘ulya di muka bumi….

🌾Wahai saudaraku…
Sadarkan kembali diri kita….bahwa sungguh salah jika kita melihat jalan dakwah itu licin dan lapang, penuh taburan bunga, taburan senyuman dan tepuk tangan….

Salah besar!!!….
itu salah besar…!!!

Maka sepatutnyalah kita bekali diri dengan keshabaran, ketabahan, kesiapan dalam menghadapi penderitaan dengan tekad yang membaja…agar tak luntur jiwa ketika ujian itu menghadang jalan dakwah kita…

Mari simak bait syair berikut…

حب السلامة يثني هم صاحبه…
عن المعالي ويغري الرء بالكسر…
فإن جنحت إليه فاتخذ نفقا…
فى الارض أوسلما فى الجو فاعتزل…
🔹Cinta keselamatan sikap terpuji tetapi harus didukung oleh semangat yang tinggi…
🔹Sayangnya orang lebih suka hidup santai…
🔹Bila anda cenderung untuk memburunya.
🔹Maka, anda harus mempersiapkan dana di bumi atau anda persiapkan tangga di udara
🔹Lalu, berangkatlah…!!!

Sementara seorang tabi’in Abu Thayib Al Muttaanabbi berkata dalam syairnya…

ذريتى…أنل مالاينال من العلا…
فصعب العلا فى الصعب والسهل فى السهل…
تريد ين إدراك المعالي رخيصة…
ولابددون الشهد من إبرالنحل…
🔹Anak cucuku, aku telah mencapai ketinggian puncak…
🔹Kesulitan ada pada ketinggian, dan kemudahan ada pada kerendahan…
🔹Anda ingin mencapai ketinggian dengan mudah?
🔹Tidak mungkin!!
🔹Tanpa perjuangan melawan sengatan lebah…

Dan seorang penyair generasi tabi’in lain berkata…

إذاكانت النفس كبارا…
🔹Bila keinginan-keinginan itu besar…
تعبت فى مرادها الأجسام…
🔹Maka tubuh-tubuh pun payah dalam meraihnya…

 💡🔑 Semoga kita semua tidak terbuai hembusan angin tenang melenakan, Agar langkah kita tetap luruh menuju cahaya terang yang sudah nampak menyambut kita di penghujung perjalanan…

Aamiin.

وَإِنَّكَ لَتَدۡعُوهُمۡ إِلَىٰ صِرَٲطٍ۬ مُّسۡتَقِيمٍ۬

Dan sesungguhnya kamu benar-benar menyeru mereka kepada jalan yang lurus. [QS Al Mu’minuun 23:73]

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

sabar dan ikhlas

Kalau Belum Waktunya, Jangan

📝 Pemateri: Ust SYAHRONI MARDANI Lc.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Ada kaidah yg mengatakan bahwa:

🍀🍂”SIAPA YANG MENIKMATI SESUATU SEBELUM WAKTUNYA, MAKA SAAT WAKTUNYA TIBA, DIA TIDAK DAPAT MENIKMATINYA LAGI”.🍂🍀

Benar sekali kaidah ini.. Siapa yang bersenang-senang di dunia, maka dia tak dapat bersenang-senang lagi di akhirat.

🌵Pakaian penghuni surga adalah sutera (fathir 35 : 33).. (alhajj 22 : 23)

Dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

🌵 “Janganlah engkau memakai sutera.
Dan barang siapa yg memakai sutera di dunia, maka dia tak akan dapat memakainya lagi di akhirat” (muttafaq alaih)

Ada beberapa minuman penghuni surga, di antaranya adalah khamar. Tentu khamar yg terbaik dan tidak memabukkan. (Muhammad 47 : 15) (alwaqiah 56 : 17 -19)

Rasulullah saw dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Muslim bersabda,

🌵”Setiap yang memabukkan adalah khamar. Setiap khamar adalah haram. Siapa yg minum khamar (di dunia) lalu mati dan belum bertaubat masih kecanduan khamar, maka dia tak akan pernah meminumnya lagi di akhirat” (HR muslim)

Saudaraku..
Dunia adalah tempat beramal…
Dan akhirat tempat memetik hasilnya.

Kita akan bersenang senang di akhirat,
Insya Allah bersenang senang di surganya Allah.

💡”Innaman nasru sobru sa’ah.. ”

Maknanya…

💡 KEMENANGAN ITU ADALAH BERSABAR YANG HANYA SEBENTAR SAJA.

Wallahu a’lam bishawab.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Majelis ilmu

INGINKAH DERAJAT KITA DITINGGIKAN ALLAH SWT?

Oleh: Dr. Wido Supraha
Telah berkejaran manusia di muka bumi untuk meraih derajat tertinggi di mata manusia. 
Untuk tujuan ‘besar’ ini, seluruh macam pengorbanan pun dilakukan setulus hati, tanpa mengenal lelah dan waktu.
Untuk derajat yang didambakan di dunia terkadang bahkan yang halal menjadi haram, dan yang haram menjadi halal.
Adakah pernah terbersit di dalam hati kerinduan mendapatkan derajat yang tinggi dari Pemilik manusia? Jika keinginan itu pernah ada, adakah upaya yang kita kerahkan jauh melebihi upaya kita meraih derajat tertinggi di mata manusia.
Allah Swt telah menjanjikan derajat itu di dalam Surat Mujadilah/58 ayat 11,
يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَـٰتٍ۬‌ۚ
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
 Syaikh Ahmad al-Musthafa al-Maraghi menjelaskan bahwa makna dari ayat tersebut adalah bahwa Allah Swt akan meninggikan orang-orang yang diberikan ilmu di atas imannya kepada Allah Swt dengan banyak tingkatan (derajat), atau meninggikan orang-orang yang berilmu dari kalangan orang-orang beriman secara khusus dengan banyak tingkatan karamah dan ketinggian martabat.
ويرفع الذين أوتوا العلم درجات ، أي ويرفع العالمين منهم خاصة درجات فى الكرامة وعلوّ المنزلة.
(Mufradaat al-Qur’an, Maktabah Syamilah)
 Al-Imam Al-Baghawi menegaskan bahwa seorang mukmin yang berilmu posisinya berada di atas orang-orang yang tidak memiliki ilmu beberapa derajat.
المؤمن العالم فوق الذي لا يعلم درجات
(Ma’alim at-Tanzil fi Tafsir al-Qur’an, Maktabah Syamilah)
Al-Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa balasan bagi orang-orang yang berilmu berupa balasan terbaik di akhirat dan berupa karamah di dunia, dan Allah Swt meninggikan orang-orang mukmin di atas selain mukmin, dan orang-orang berilmu di atas orang-orang yang tidak memiliki ilmu.
الثَّوَابِ فِي الْآخِرَةِ وَفِي الْكَرَامَةِ فِي الدُّنْيَا، فَيَرْفَعُ الْمُؤْمِنَ عَلَى مَنْ لَيْسَ بِمُؤْمِنٍ وَالْعَالِمَ عَلَى مَنْ لَيْسَ بِعَالِمٍ
Beliau juga menjelaskan bahwa Allah Swt meninggikan orang-orang mukmin karena keimanannya terlebih dahulu, baru kemudian meninggikannya lebih tinggi lagi dengan ilmu yang dimilikinya.
فَيَرْفَعُ الْمُؤْمِنَ بِإِيمَانِهِ أَوَّلًا ثُمَّ بِعِلْمِهِ ثَانِيًا
Berkata Ibn ‘Abbas r.a. bahwa Nabi Sulaiman a.s. telah diberikan kesempatan untuk memilih antara ilmu, harta dan kerajaan, maka ia lebih memilih ilmu. Ternyata dengan pilihannya itu ia juga dikaruniai harta dan kerajaan sekaligus.
وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ: خُيِّرَ ]سُلَيْمَانُ] عَلَيْهِ السَّلَامُ [بَيْنَ الْعِلْمِ وَالْمَالِ وَالْمُلْكِ فَاخْتَارَ الْعِلْمَ فَأُعْطِيَ المال والملك معه.
(Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, Maktabah Syamilah)
Abu al-‘Abbas al-Basili at-Tunisi (830H) ketika menafsirkan ayat tersebut mengutip pendapat Ibn Mas’ud r.a. yakni bertambahnya derajat dalam agama mereka jika mereka mengerjakan apa yang diperintahkan dengannya.
دَرَجَاتٍ فِي دِينِهِمْ إِذَا فَعَلُوا مَا أُمِرُوا بِهِ
(Nuktun wa Tanbihatun fi Tafsir al-Qur’an al-Majid, Maktabah Syamilah).
Al Imam Ibn Katsir menambahkan penjelasannya bahwa Allah Swt Maha Mengetahui orang-orang yang memang berhak mendapatkan hal tersebut dan orang-orang yang tidak berhak mendapatkannya.
Beliau mengangkat satu kisah ketika Khaliah ‘Umar r.a. bertanya kepada Nafi’ bin ‘Abdil Harits r.a., pemimpin Makkah yang telah beliau angkat,
“Siapakah yang engkau angkat sebagai khalifah atas penduduk lembah?” Nafi menjawab:”Yang aku angkat sebagai khalifah atas mereka dialah Ibn Abzi, salah seorang budak kami yang telah merdeka.”
Maka ‘Umar r.a. bertanya: “Benarkah engkau telah mengangkat seorang mantan budak sebagai pemimpin mereka?”
Nafi menjawab:” Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya di adalah seorang yang ahli membaca Al-Qur’an, memahami ilmu waris dan pandai berkisah.”
Lalu ‘Umar r.a. pun mengutip sabda Nabi Saw., “Sesungguhnya Allah Swt mengangkat suatu kaum karena Al-Qur’an ini dan merendahkan dengannya juga sebagian lainnya.”
إن اله يرفع بهذا اكتب قوما و يضع به آخرين
(Muhammad Ali Ash-Shabuni, Mukhtashar Tafsir Ibn Katsir, Beirut: Dar Al-Fikr, Tanpa Tahun, hlm. 465)
Syaikh Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa ayat ini turun di hari Jum’at, sebagaimana riwayat dari Muqatil melalui Ibn Abi Hatim, dimana adanya kaum muslimin dari Ahlu Badr yang tentu telah dikenal sebagai kaum yang lebih awal masuk ke dalam Islam, lebih terhormat posisi dan kedudukannya, datang ke majelisnya Rasulullah Saw, namun tidak mendapatkan tempat untuk duduk sehingga mereka berdiri. Tingkat keilmuan mereka memberikan hak lebih kepada mereka atas dasar kehormatan para Ahlu Badr. (Tafsir al-Wasith, Jakarta:GIP, Jilid 3, hlm. 612)
Ayat ini menjadi ayat yang dipilih oleh Al-Imam Al Bukhari sebagai awal dari Kitab Ilmu dalam Shahih Bukhari. Al Hafizh Ibn Hajar Al Atsqalani menjelaskan bahwa derajat yang tinggi mempunyai dua konotasi, yaitu secara ma’nawiyah di dunia dengan memperoleh kedudukan yang tinggi dan reputasi yang bagus, dan hissiyah di akhirat dengan kedudukan yang tinggi di Surga. (Fathul Bari, Jilid 1, Jakarta: Pustaka Azzam, 2002, hlm. 263)
Jika derajat dari Pemilik manusia yang kita harapkan, dengan izin-Nya, derajat di sisi manusia akan diperoleh dengan penuh keberkahan.
Namun jika hanya derajat dari manusia yang diharapkan, khawatirlah jika kehinaan yang disematkan-Nya di akhirat kelak. 
Wallahul musta’an.

Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Taubat

Surat Cinta untuk Sahabat

📝 Pemateri: Ust. Noorahmat  Abu Mubarak  (@noorahmat)

Sungguh….

Tiada manusia tanpa jiwa yang bersemayam didalam tubuhnya….
Bilakah jiwa tiada…maka tinggallah jasad tiada berdaya…
Tiada kuasa kita mengatur hingga kapan jiwa bersemayam…
Hanya Allah Ta’ala Rabb Penguasa Jiwa yang mampu menggenggam jiwa…
اللَّهُ يَتَوَفَّى الأَنفُسَ حينَ مَوتِها وَالَّتي لَم تَمُت في مَنامِها ۖ فَيُمسِكُ الَّتي قَضىٰ عَلَيهَا المَوتَ وَيُرسِلُ الأُخرىٰ إِلىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ إِنَّ في ذٰلِكَ لَآياتٍ لِقَومٍ يَتَفَكَّرونَ

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (QS Az Zumar 39:42)

💕Sahabat…
Dunia begitu melenakan…
Hidup kita tiada pernah luput dari khilaf…
Meski pintu taubat terbuka lebar….
Meski sadar bahwa Syurga tak terbayang indahnya…
Namun seringkali kita dilalaikan oleh indahnya dunia…

Pun tiada jarang kita menyandarkan pada kefanaan manusia…
Cenderung mencari aman dari pandangan manusia…
Namun melalaikan diri dari tatapan tajam Sang Penguasa Langit…

💕Sahabat…
Ketika kita lebih mencari simpati manusia…
Kemudian Ridho Rabb kita di kesampingkan…
Maka sadarkanlah…
Jasad ini bukanlah semata yang kelak menerima siksa atas maksiat itu…
Namun jiwa-pun kelak terpanggang di atas api yang bergolak tinggi menghitam…

قَد أَفلَحَ مَن زَكّاها۞ وَقَد خابَ مَن دَسّاها

Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS Asy Syams 91:9-10)

💕Duhai sahabat…
Lalu bagaimanakah jiwa ini kembali tersucikan?
Bersedekahlah sahabatku….
Bersedekahlah dengan jiwa-mu…
Ingatlah pada apa yang pernah diperintahkan oleh Allah Al Aziz kepada Nabi kita tersayang…

يا أَيُّهَا النَّبِيُّ جاهِدِ الكُفّارَ وَالمُنافِقينَ وَاغلُظ عَلَيهِم ۚ وَمَأواهُم جَهَنَّمُ ۖ وَبِئسَ المَصيرُ

Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya. (QS At Taubah 9:73)

Tahukah mengapa kita perlu keras kepada mereka? Siapakah mereka? Apa kesalahan mereka?

يَحلِفونَ بِاللَّهِ ما قالوا وَلَقَد قالوا كَلِمَةَ الكُفرِ وَكَفَروا بَعدَ إِسلامِهِم وَهَمّوا بِما لَم يَنالوا ۚ وَما نَقَموا إِلّا أَن أَغناهُمُ اللَّهُ وَرَسولُهُ مِن فَضلِهِ ۚ فَإِن يَتوبوا يَكُ خَيرًا لَهُم ۖ وَإِن يَتَوَلَّوا يُعَذِّبهُمُ اللَّهُ عَذابًا أَليمًا فِي الدُّنيا وَالآخِرَةِ ۚ وَما لَهُم فِي الأَرضِ مِن وَلِيٍّ وَلا نَصيرٍ
Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya, dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi. (QS At Taubah 9:74)
وَمِنهُم مَن عاهَدَ اللَّهَ لَئِن آتانا مِن فَضلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكونَنَّ مِنَ الصّالِحينَ
Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. (QS At Taubah 9:75)
فَلَمّا آتاهُم مِن فَضلِهِ بَخِلوا بِهِ وَتَوَلَّوا وَهُم مُعرِضونَ
Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). (QS At Taubah 9:76)
فَأَعقَبَهُم نِفاقًا في قُلوبِهِم إِلىٰ يَومِ يَلقَونَهُ بِما أَخلَفُوا اللَّهَ ما وَعَدوهُ وَبِما كانوا يَكذِبونَ
Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta. (QS At Taubah 9:77)
أَلَم يَعلَموا أَنَّ اللَّهَ يَعلَمُ سِرَّهُم وَنَجواهُم وَأَنَّ اللَّهَ عَلّامُ الغُيوبِ
Tidaklah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib. (QS At Taubah 9:78)
الَّذينَ يَلمِزونَ المُطَّوِّعينَ مِنَ المُؤمِنينَ فِي الصَّدَقاتِ وَالَّذينَ لا يَجِدونَ إِلّا جُهدَهُم فَيَسخَرونَ مِنهُم ۙ سَخِرَ اللَّهُ مِنهُم وَلَهُم عَذابٌ أَليمٌ
(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih. (QS At Taubah 9:79)
Maka bersedekahlah sahabatku…Bersedekah dengan harta-mu…waktu-mu…tenaga-mu…ilmu-mu…pikiran-mu…
Bahkan dengan sepenuh jiwa-mu…

Karena Allah Azza wa Jalla mencintai kita bilamana menyedekahkan harta kita demi kokohnya perjuangan menegakkan nilai-nilai Ilahiyyah dan Rabbaniyyah di muka bumi…

وَسَيُجَنَّبُهَا الأَتقَى۞ الَّذي يُؤتي مالَهُ يَتَزَكّىٰ۞ وَما لِأَحَدٍ عِندَهُ مِن نِعمَةٍ تُجزىٰ۞ إِلَّا ابتِغاءَ وَجهِ رَبِّهِ الأَعلىٰ

Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi. (QS Al Lail 92:17-20)

Semoga Allah Ar Rahmaan memanggil jiwa kita….
Jiwa yang tersucikan karena rindu akan panggilan sayang Penguasa Semesta…

يا أَيَّتُهَا النَّفسُ المُطمَئِنَّةُ۞ ارجِعي إِلىٰ رَبِّكِ راضِيَةً مَرضِيَّةً۞ فَادخُلي في عِبادي۞وَادخُلي جَنَّتي

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku. (Qs Al Fajr 89:27-30)

Dan mempertemukan kita semua kembali di Syurga-Nya…
Berkumpul bersama junjungan kita Rasulullah SAW, bercengkerama di tepian telaganya…

Aamiin

🌿🌴🌿🌴


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Qur'an Nutrisi Akal dan Jiwa

Konsep Kebahagiaan Dalam Islam

📝Dr. Wido Supraha

Terminologi bahagia sebagai sebuah realitas hakiki hanya diulang satu kali, sebagaimana jalan cahaya pun hanya satu di antara ragam kezhaliman, merujuk kepada realitas kebenaran yang juga satu bersama satu realitas rahmat Allah yang melahirkan keberkahan yang banyak dan terus menerus.

Allah Swt. berfirman di dalam Surat Huud [11] ayat 105-108,

يَومَ يَأتِ لا تَكَلَّمُ نَفسٌ إِلّا بِإِذنِهِ ۚ فَمِنهُم شَقِيٌّ وَسَعيدٌ
فَأَمَّا الَّذينَ شَقوا فَفِي النّارِ لَهُم فيها زَفيرٌ وَشَهيقٌ
خالِدينَ فيها ما دامَتِ السَّماواتُ وَالأَرضُ إِلّا ما شاءَ رَبُّكَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ فَعّالٌ لِما يُريدُ
۞ وَأَمَّا الَّذينَ سُعِدوا فَفِي الجَنَّةِ خالِدينَ فيها ما دامَتِ السَّماواتُ وَالأَرضُ إِلّا ما شاءَ رَبُّكَ ۖ عَطاءً غَيرَ مَجذوذٍ

Di kala datang hari itu, tidak ada seorangun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia; Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih); Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki; Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam syurga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.

Dari rangkaian ayat di atas, Allah Swt menghadirkan terminologi bahagia (sa’adah; happiness) dan celaka (syaqawah;misery), keduanya adalah terminologi yang saling berlawanan. Kata sa’adah digunakan di dalam Al-Qur’an hanya pada rangkaian ayat ini yakni 1 kata benda (sa’idun) dan 1 kata kerja (su’idu) . Kata shaqawah digunakan di dalam Al-Quran pada 12 tempat, 8 tempat dalam bentuk kata benda (shiqwatna, shaqiyyan, shaqiyyun, ashqa-ha, al-ashqa), dan 4 tempat dalam bentuk kata kerja (yashqa, shaqu, litashqa, fatashqa).

Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam Prolegomenamenjelaskan bahwa kebahagiaan dalam perspektif Islam diekspresikan dengan terminologi sa’adah, dan terminologi ini sangat terkait dengan dua dimensi eksistensi, akhirat (ukhrawiyyah) dan dunia (dunyawiyyah). Dalam konteks akhirat, sa’adah bermakna kebahagiaan tertinggi tanpa akhir, diberikan hanya kepada manusia yang selama di dunia memberikan penyerahan diri secara total, menjaga dirinya dari apa yang diperintahkan-Nya dan dilarang-Nya. Maka dari pengertian ini, terminologi sa’adah di akhirat sangat terkait sekali dengan kehidupan dunianya, dalam hal ini mencakup tiga hal: 1) jiwa (nafsiyyah) berkenaan dengan ilmu dan karakter baik; 2) jasad (badaniyyah) berkenaan dengan kesehatan fisik dan rasa aman; dan 3) sisi eksternal jiwa dan jasad (kharijiyyah) berkenaan dengan kesuksesan dan kekayaan dan penyebab lain di luar unsur jiwa dan jasad.

Kebahagiaan dapat juga dimaknai dengan memahami lawan katanya, syaqawah, yang mengandung elemen-elemen khauf, huzn, dank, hasrat, hamm, ghamm, dan ‘usr.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Tha-ha [20] ayat 2,

ما أَنزَلنا عَلَيكَ القُرآنَ لِتَشقىٰ

Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah;

Allah Swt. juga berfirman dalam ayat 117,

فَقُلنا يا آدَمُ إِنَّ هٰذا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوجِكَ فَلا يُخرِجَنَّكُما مِنَ الجَنَّةِ فَتَشقىٰ

Maka Kami berkata: “Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka.

Allah Swt. juga berfirman dalam ayat 123,

قالَ اهبِطا مِنها جَميعًا ۖ بَعضُكُم لِبَعضٍ عَدُوٌّ ۖ فَإِمّا يَأتِيَنَّكُم مِنّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدايَ فَلا يَضِلُّ وَلا يَشقىٰ

Allah berfirman: “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.

Bersama tiga ayat Surat Tha-ha, manusia akan terbebas dari ‘shaqawah‘ jika menjalani kehidupan berpedoman dengan Al-Qur’an, menjauhi gangguan iblis, dan istiqomah mengikuti petunjuk Allah Swt.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Mukminum [23] ayat 106,

قالوا رَبَّنا غَلَبَت عَلَينا شِقوَتُنا وَكُنّا قَومًا ضالّينَ

Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan adalah kami orang-orang yang sesat.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Maryam [19] ayat 4,

قالَ رَبِّ إِنّي وَهَنَ العَظمُ مِنّي وَاشتَعَلَ الرَّأسُ شَيبًا وَلَم أَكُن بِدُعائِكَ رَبِّ شَقِيًّا

Ia berkata “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada Engkau, ya Tuhanku.

Allah Swt. juga berfirman pada ayat 32,

وَبَرًّا بِوالِدَتي وَلَم يَجعَلني جَبّارًا شَقِيًّا

Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.

Allah Swt juga berfirman dalam ayat 48,

وَأَعتَزِلُكُم وَما تَدعونَ مِن دونِ اللَّهِ وَأَدعو رَبّي عَسىٰ أَلّا أَكونَ بِدُعاءِ رَبّي شَقِيًّا

Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdo’a kepada Tuhanku,mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdo’a kepada Tuhanku”.

Bersama tiga ayat dalam Surat Maryam ini, kita menyaksikan bagaimana para Nabi seperti Nabi Zakaria a.s., Nabi ‘Isa a.s., dan Nabi Ibrahim a.s. sentiasa bermunajat kepada Allah agar terhindar dari ‘syaqawah‘.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Syams [91] ayat 12,

إِذِ انبَعَثَ أَشقاها

Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka,

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al A’laa [87] ayat 11,

وَيَتَجَنَّبُهَا الأَشقَى

Dan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-Lail [92] ayat 15,

لا يَصلاها إِلَّا الأَشقَى

Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka; Yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).

Kebahagiaan harus diawali dengan mengenali hakikat diri. Unsur jiwa di dalam Al-Qur’an merupakan substansi  spiritual yang mengacu kepada qalb (hearth), nafs (soul or self),‘aql (intellect), atau ruh (spirit), melibatkan dua aspek, jasad dan ruh, maka di satu sisi kita mengenal al-nafs al-hayawaniyyah dan di sisi lain al-nafs al-natiqah (rational soul). Cara seseorang dalam meraih kebahagiaan tergantung pada aspek mana yang dipilihnya yang paling memberikan pengaruh. Kedua aspek ini melahirkan dua kekuatan, kekuatan nafsu hewan adalah motif dan perseptif, sementara kekuatan rasio adalah aktif dan kognitif.

Kebahagiaan harus selalu dihiasi dengan kebajikan. Kebajikan di dalam Islam mencakup apa yang bersifat zhahir (eksternal) dan bathin (internal). Kebajikan eksternal mencakup lima hal utama yakni ritual ibadah yang benar, pembacaan Al-Qur’an, dzikrullah, do’a, memenuhi seluruh keunikan cara hidup dan akhlak Muslim. Kebajikan internal mengacu pada aktifitas-aktifitas hati yang menggabungkan niyyah, ‘amal, ikhlas, dan shidq. Mengenal diri secara lebih baik akan mengarahkan kepada pengetahuan mana yang berkualitas baik dan buruk. Kebiasaan kita dalam proses pemilihan ini akan melibatkan ragam aktifitas diri mulai dari tafakkur (meditation), taubah (repentance), shabr (patience), syukr (gratitude), raja (hope), khauf (fear), tauhid (divine unity), tawakkal (trust), hingga mahabbah (love of god).

Kebahagiaan sangat erat kaitannya dengan iman, sebagai kata amina bermakna aman, bebas dari segala ketakutan, maka terminologi khauf merupakan lawan kata amnu, jika menggunakan pengertian ketakutan kepada selain Allah. Adapun khauf kepada Allah justru akan menghadirkan ‘iffah (temperance), wara’ (abstinence), taqwa (piety), sidq (truthfulness). Dari sinilah kita menjadi faham mengapa iman sangat terkait dengan kondisi-kondisi tatma’innu, tuma’ninah, sehingga melahirkan al-nafs al-muthma’innah.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-Ra’d [13] ayat 28,

الَّذينَ آمَنوا وَتَطمَئِنُّ قُلوبُهُم بِذِكرِ اللَّهِ ۗ أَلا بِذِكرِ اللَّهِ تَطمَئِنُّ القُلوبُ

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Keimanan kepada Allah hanya akan melahirkan keyakinan (yaqin) utuh bahwa seluruh hakikat kepastian hanya datang dari Allah semata. Maka terminologi yaqin berlawanan dengan syakk(keraguan) dan zhann (prasangka). Keyakinan dalam Al-Qur’an disebutkan dalam tiga tingkatan: ‘ilm al-yaqin, ‘ayn al-yaqin, dan haqq al-yaqin. Maka yakinlah kebahagiaan akan hadir manakalah iman tidak lagi terganggu dengan keraguan dan prasangka, iman yang dibangun di atas ilmu sehingga menghadirkan bashirah.

Akhirul kalam, Ibn Khaldun mengatakan, “Bahagia itu tunduk dan patuh mengikuti garis-garis yang ditentukan Allah dan perikemanusiaan”, Ibn Khalid mengatakan, “Bahagia itu sentosa perangai, kuat ingatan, bijaksana akal, tenang dan sabar menuju maksud. Maka jadilah orang yang berbahagia (KUN SA’IIDAN) dengan berpegang teguh dalam agama, maka kebahagiaan hakiki akan diraih.

Buya Hamka mengutip sya’ir Hutai’ah,

Bukanlah kebahagiaan itu pada mengumpul harta benda;

Tetap taqwa akan Allah itulah bahagia

Taqwa akan Allah itulah bekal yang sebaik-baiknya disimpan,

Pada sisi Allah sajalah kebahagiaan para orang yang taqwa.


🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸
Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Gemar Berbuat Baik

Istimrariyah (Kontinyuitas)

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

Istimroriyah artinya berkelanjutan atau bahasa kerennya adalah kontinyuitas. Dia adalah sebuah sikap yang menunjukkan upaya tak kenal henti dalam menekuni satu perbuatan, dalam bahasa kita dikenal istilah kontinyuitas.

Berbicara tentang sebuah cita-cita, harapan, dan keinginan-keinginan yang ingin digapai apalagi menyangkut perkara yang sangat berarti dalam kehidupan, maka istimroriyah mutlak disertakan. Tanpa itu, keinginan hanyalah sebatas keinginan, harapan tinggallah harapan.

Realita kehidupan sering memberikan pelajaran kepada kita bahwa keberhasilan seseorang –dalam berbagai bidangnya – lebih banyak disebabkan oleh keuletannya dan sikap pantang menyerah dalam menggeluti sebuah perbuatan dibanding potensi-potensi lainnya yang dia miliki. Karena sunnatullah dalam kehidupan ini adalah adanya proses sebelum terwujudnya sesuatu, semakin besar sesuatu tersebut, semakin panjang pula proses yang harus dilalui. Itu artinya semakin besar harapan kita, maka proses yang harus dilalui semakin panjang dan berat, di sinilah kita dapat memahami pentingnya istimroriyah.

Pada titik ini pula kita dapat memahami sabda Rasulullah saw,

أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ (متفق عليه)

“Amalan yang paling dicintai adalah yang kontinyu, meskipun sedikit.” (Muttafaq alaih)
Keinginan meraih sebuah harapan, baik urusan dunia maupun akhirat tanpa disertai istimroriyah bak pungguk merindukan bulan.

Dalam kontek dakwah, istimroriyah menjadi kata kunci tersendiri. Ciri bahwa sebuah gerakan dakwah itu sehat adalah adanya sifat istimroriyahnya. Kalau sekedar membangkitkan emosi seseorang untuk berjuang, gemas dengan berbagai bentuk kemungkaran, prihatin dengan berbagai kekurangan dan semacamnya, itu adalah perkara yang relatif mudah. Tetapi bagaimana menjaga stamina agar seseorang terus berada dalam track (jalur) dakwah, terus bergerak, berinovasi tanpa henti. Itulah yang sulit, padahal disitulah letak keberhasilan sebuah dakwah di sisi Allah Ta’ala yang pada akhirnya akan melahirkan keberhasilan yang riil di tengah masyarakat.

Hendaklah kita belajar dari para Nabi bagaimana mereka tak kenal henti berdakwah hingga kesempatan terakhir yang tersedia, betapapun halangan yang mereka dapatkan.

Dan… belajarlah kita dari orang yang paling kita cintai; Rasulullah j, tak kenal henti beliau berjuang, tertutup di sana beliau cari di sini, terhalang di sini beliau upayakan di sana, begitu seterusnya. Bahkan ketika ada tawaran dari malaikat untuk membinasakan kaumnya yang selalu menyakitinya dengan membalikkan gunung di atas mereka, dengan penuh kasih sayang beliau berkata,

بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Aku masih berharap bahwa nantinya akan lahir anak keturunan mereka yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukannya.” (Muttafaq alaih)
🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berbuat Kebajikan

Nasehat Jum’at

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

☑ Tabi’in senior:  Masruq bin Al Ajda’ (W. 63H)

📖 Dia adalah Abu ‘Aisyah biasa dinamakan Masruq, yakni Masruq bin Abdurrahman Al Hamdani Al Kufi (Imam Abu Nu’aim, Hilyatul Aulia’, 1/246. Mawqi’ Al Warraq) , seorang tabi’in terkemuka diperkirakan lahir awal tahun Hijriah atau setahun sebelumnya, bersahabat dengan para sahabat Nabi, seperti Abdullah bin Mas’ud dan ‘Aisyah. Dalam shalat, dipersilahkan di belakang Abu Bakar ketika menjadi imam shalat, sebagai antisipasi mengganti Abu bakar lantaran ilmu dan kewibawaannya.

📕 Berikut ini adalah di antara nasihat berharga darinya:

عن مسروق، قال: كفى بالمرء علماً أن يخشى الله، وكفى بالمرء جهلاً أن يعجب بعمله

Dari Masruq, dia berkata: “Cukuplah seseorang dikatakan berilmu dengan adanya rasa takut kepada Allah, dan cukuplah seseorang disebut bodoh dengan adanya rasa bangga dengan apa yang diperbuatnya.”  (Ibid. Lihat juga Imam Adz Dzahabi, Siyar A’lamin Nubala, 4/68. Muasasah Ar Risalah)

✔ Dari Hilal bin Yasaf, katanya:

قال مسروق: من سره أن يعلم علم الأولين، وعلم الآخرين، وعلم الدنيا والآخرة، فليقرأ سورة الواقعة.

Berkatalah Masruq: “Diantara rahasianya, untuk mengetahui ilmu orang-orang terdahulu dan belakangan, juga ilmu dunia dan akhirat, maka hendaknya bacalah surat Al Waqi’ah.” (Ibid)

Imam Adz Dzahabi mengomentari ucapan ini, katanya:

قلت: هذا قاله مسروق على المبالغة، لعظم ما في السورة من جمل أمور الدارين
ومعنى قوله: فليقرأ الواقعة – أي: يقرأها بتدبر وتفكر وحضور، ولا يكن كمثل الحمار يحمل أسفارا

“Aku berkata: Ucapan Masruq ini memang menunjukkan untuk melebihkan, sebagai upaya mengagungkan surat tersebut yang secara global berisi tentang perkara dunia dan akhirat. Dan, makna ucapannya “bacalah surat Al Waqiah” artinya bacalah dengan mentadabburinya, mentafakkurinya, dan menghadirkan hatinya, sehingga dia tidak seperti seekor keledai yang sedang berat membawa banyak kitab.” (As Siyar, 4/68)

✔ Abu Adh Dhuha berkata: “Masruq ditanya tentang bait syair, beliau menjawab:

أكره أن أجد في صحيفتي شعرا

“Aku tidak suka menemukan di dalam catatanku adanya syair.” (Ibid, 4/69)

✔ Dari Ibrahim bin Muhammad bin Muntasyir, katanya:

عن مسروق، قال: ما من شيء خير للمؤمنين من لحد، قد استراح من هموم الدنيا، وأمن من عذاب الله

Dari Masruq, dia berkata: “Tidaklah sesuatu yang lebih baik bagi orang-orang mukmin dibandingkan liang lahad, dengan itu dia telah istirahat dari obsesi dunia dan di dalamnya dia aman dari azab  Allah.” (Hilyatul Auliya’, 1/247)

✔ Dari Muslim atau lainnya, katanya:

عن مسروق، قال: إني أحسن ما أكون ظناً حين يقول لي الخادم ليس في البيت قفيز ولا درهم

Dari Masruq, dia berkata: “Sesungguhnya prasangka baik yang paling sukai adalah ketika seorang pelayan berkata kepadaku: “Di rumah tidak ada makanan dan tidak pula dirham.” (Ibid)

✔ Abu Wail berkata:

عن مسروق، قال: ما امتلأ بيت خيره إلا امتلأ عبره

Dari Masruq, katanya: “Tidaklah sebuah rumah dipenuhi dengan kebaikannya kecuali jika dipenuhi dengan pelajaran-pelajarannya.” (Ibid)

🌿🌴🌿🌴🌿


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678