Aku Cinta Rasulullah

Meneladani Rasulullah saw Pada Tempatnya

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Ayat yang sangat popular di hari-hari belakangan ini adalah ayat 21 surat Al Ahzab.

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا – سورة الأحزاب: 21

Mungkin banyak yang tidak tahu kalau ayat ini dari sebab turunnya memiliki latar belakang perang. Sebagaiman nama suratnya; Al-Ahzab yang di dalamnya banyak bercerita tentang salah satu perang yang fenomenal, yaitu perang Ahzab. Perang yang terjadi pada tahun 5 H ini adalah perang yang sangat berat. Kaum kafir berkolaborasi dan bersekutu menghimpun kekuatan untuk menghabisi kekuatan kaum muslimin di Madinah, karenanya dikatakan ‘ahzab’ (sekutu). Maka untuk menghadapinya Rasulullah dan para sahabatnya membuat parit besar di perbatasan kota Madinah. Karenanya perang ini juga dinamakan perang Khandaq (parit).

Jadilah Rasulullah saw berhari-hari bahu membahu dengan para sahabat lainnya menggali parit dalam suasana yang sangat berat. Sementara itu, orang-orang munafik terlihat enggan ikut bersama kaum muslimin, maka dengan alasan di tempat tersebut tidak ada tempat berteduh dan rumah mereka tidak ada yang menjaga, mereka ‘melipir’ tidak mau ikut menggali parit bersama kaum muslimin (QS. Al-Ahzab: 13). Dalam kontek inilah Allah turunkan ayat tersebut.

Para ulama menyatakan bahwa ayat ini merupakan peringatan bagi kaum munafik yang enggan ikut berlelah-lelah menggali parit dan berjihad menghadapi pasukan sekutu. Semestinya mereka meneladani Rasulullah saw yang walaupun kemuliaannya, tetap mau membersamai para sahabat untuk menggali parit dan menanggung beban jihadi di jalan Allah.

Jalaludin As-Suyuti dan Jalaludin Al-Mahalli dalam tafsirnya Al-Jalalain menafsirkan ayat ini dengan singkat;

اقْتِدَاءً بِهِ فِي الْقِتَالِ وَالثَّبَاتِ فِي مَوَاطِنِهِ

“Meneladaninya dalam perang dan keteguhan pada tempatnya masing-masing.”

Walaupun pemahaman Al-Quran diambil dari keumuman ayat bukan kekhususan sebab, sebagaimana kaidah populer dalam ilmu tafsir, namun latar belakang ini penting kita pahami, bahwa meneladani Rasulullah saw itu bukan hanya pada hal-hal yang sifatnya lembut, santun, kasih sayang dan dalam suasana tenang nyaman tanpa permusuhan. Tapi disana juga ada keteladangan dalam hal ketegasan, marah, perang, letih dan berat menanggung beban dan tidak lemah hadapi permusuhan.

Abu Bakar Ash-Shidiq terkenal dengan kesantunan dan kelembutannya. Saat menjadi khalifah, ada sebagian rakyatnya yang membangkang, menola zakat. Tanpa ragu beliau putuskan untuk memerangi mereka. Saat Umar bin Khatab tampak ragu soal itu, dengan tegas beliau nyatakan, ‘Aku akan perangi orang yang ingin pisahkan shalat dengan zakat. Apakah engkau berani di masa jahiliah, justeru jadi penakut di masa Islam?”

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Zina itu utang

Zina Walau Sama-Sama Ridha dan Suka: Tetap Haram Ferguso!

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Tulisan lama, semoga masih relevan (menyorot PERMENDIKBUD NO. 30/2021)

📌 Keharaman zina, kontak seksual di luar pernikahan, telah final. Jelas dan pasti, orang awam pun juga paham. Maka, sudah seharusnya orang yang mengaku berpendidikan lebih paham lagi.

📌 Bahkan orang yg berzina pun paham apa yang mereka lakukan itu sebenarnya haram. Tapi, karena hawa nafsu, gelap mata, tidak takut dosa, dan rayuan syetan, akhirnya dilakukan juga.

📌 Semua kesepakatan yang berlawanan dengan syariat adalah terlarang, termasuk kesepakatan untuk mengubah yang haram menjadi halal seperti keharaman zina menjadi BOLEH, dengan alasan keduanya sama-sama ridha.

Hal ini mirip yang diprediksikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang manusia yang bermain-main dengan istilah untuk menghalalkan yang haram:

يسمُّونَها بغيرِ اسمِها فيستحلُّونَها

Mereka menamakan bukan dengan nama sebenarnya lalu mereka menghalalkannya

(Takhrij Misykah Al Mashabih, 5/85. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: hasan)

📌 Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُسْلِمُونَ عِنْدَ شُرُوطِهِمْ، إِلَّا شَرْطًا حَرَّمَ حَلَالًا أَوْ شَرْطًا أَحَلَّ حَرَامًا

Kaum muslimin terikat oleh perjanjian yang mereka buat, kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.

(HR. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra no. 11430)

📌 Maka, segala bentuk perzinaan dan pintu-pintunya, walau dibungkus dengan istilah keren, ilmiah, tapi esensinya adalah legalisasi zina, free sex, atas nama HAM, adalah perilaku busuk dan menjijikkan.

📌 Dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ حَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ كِتَابَ اللهِ

Jika zina dan riba sudah nampak di sebuah negeri maka mereka telah menghalalkan siksa Allah ﷻ atas diri mereka.

(HR. Al Baihaqi, Syu’abul Iman No. 5416. Al Hakim, Al Mustadrak No. 2261, kata Al Hakim: shahih)

📌 Maka, tegas bagi seorang muslim menolak pembenaran perzinaan walau atas dasar suka sama suka.

Bukankah Aku telah sampaikan? Allahumasyhad!

Wallahul Musta’an
🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Setiap Perbuatan Baik Adalah Sedekah

Mengantri Kebahagiaan

📝 Pemateri: Ustadz Umar Hidayat, M.Ag

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Ketahuilah jika kita merasa bahagia saat orang lain mendapatkan kebahagiaan, sesungguhnya kita sedang mengantri kebahagiaan yang sama. Bahkan lebih.

Saat ada kesempatan untuk mengecewakan orang lain, tetiba kita mampu mengcencelnya, bahkan merubahnya melakukan apa yang diharapkannýa; maka sungguh kemuliaan akan segera Allah datangkan kepadanya. Begitupun dengan perasaan bahagia tumbuh bagi dirinya dan juga bagi orang lain.

Membahagiakan orang lain dengan cara memberi apa yang sedang dibutuhkan, sungguh kebahagiaan itu terasa ‘nendang’ banget. Orang yang sedang mengalami kelaparan bersebab tak ada makanan yang bisa dikonsumsi, tetiba ada orang yang membagikan makanan. Sungguh bahagia dia. Begitupun orang yang memberi marasakan kebahagiaannya.

Siapa sebenarnya orang yang paling bahagia? Dialah orang yang mampu membahagiakan orang lain. Yang menegur kita disaat kita salah. Yang mau berbagi menolong saat kita berkesusahan.

Sebaliknya buat apa sebenarnya maksud hati ketika seseorang berbuat buruk kepada orang lain. Menyusahkan orang lain. Membuat sedih orang lain. Ingatlah Allah berfirman dalam qs. 17;7; “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.”

Hidup cuman sekali, bagimana agar hidup ini selalu berarti. Menemukan kebahagiaan bersama orang-orang disekitarnya membuat kita semakin memiliki arti. Bukan soal harganya atau nilai nominalnya, tetapi rasa kebersamaan, kepedulian untuk saling membahagiakan, menyamankan dan menentramkan itu penting.

Bukan pula soal status sosial, atau keturunan siapa. Tetapi keberpihakan secara tulus untuk saling menghargai dan berbagi. Senyum mereka adalah bagian kebahagiaan kami. Sebab letak kebahagiaan itu ada di dalam hati. Hati yang lapang. Hati yang merasa cukup. Hati yang penuh kesyukuran dan kesabaran. Kebahagiaan adalah bersyukur dan menghargai orang-orang disekitarnya.

Lalu bagaimana agar kita senantiasa bisa meraih kebahagiaan? Belajar dari Imam Syafi’i agar kita selalu bisa merasakan kebahagiaan tergantung pada cara kita melihat orang lain. Ada dua cara melihat menurut imam syafi’i;

1. Ainur ridhlo; positif thinking, maka dia akan menemukan sejuta alasan untuk melihat kebahagiaan bersama orang lain. Seperti mata lebah kemana saja yang di cari dan dihampiri selalu saja hal yang baik, hal yang positif, yang indah-indah.

2. Ainul syukhthi, negatif thinking, maka dia akan menemukan sejuta alasan untuk menghalangi orang lain bahagia, setidaknya tidak mengakui bahkan membencinya. Yang ia lihat hanya negtif, keburukan dan kebencian. Tidak ada alasan yang paling patut untuk disuguhkan kecuali berpikir negatif dan penuh kebencian. Seperti seekor lalat kemana saja yang dicari tempat yang buruk, kotor, bau dan jelek.

Kita bebas memilihnya, dengan segala konsekuensi di dalamnya. Toh… semua yang kita lakukan akan kembali pada diri kita masing-masing.

Karenanya ketenangan, Kebahagiaan, dan Keberkahan adalah ‘harta’ yang tak bisa dibeli oleh siapa pun. Kebahagiaan adalah pilihan sadar yang harus dipeejuangkan.

Semoga…

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Ilmu

Kata Ulama Tentang Kitab Fiqhus Sunnah

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

📌 Kitab ini di susun sekitar 1930an, oleh ulama Mesir, ulama Al Azhar Al ‘Allamah Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah

📌 Munculnya kitab ini adalah atas saran Imam Hasan Al Banna Rahimahullah untuk membuat buku pedoman fiqih bagi para pemuda Ikhwanul Muslimin. Oleh karena itu di jilid pertama buku ini diberikan kata pengantar Imam Al Banna.

📌 Buku ini mendapat sambutan yang luar biasa di dunia Islam. Sampai di cetak puluhan kali di puluhan negara Islam. Boleh dikatakan tidak ada perpustakaan Islam dan kampus Islam melainkan pasti ada buku Fiqhus Sunnah.

📌 Sehingga Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mendapatkan penghargaan King Faishal Award pada tahun 1993 dari kerajaan Arab Saudi. (Saat itu yang mendapat penghargaan juga Syaikh Yusuf Al Qaradhawi dan Syaikh Ibn Al ‘Utsaimin)

📌 Metode buku ini adalah menampilkan dalil-dalil Al Quran, As Sunnah, Ijma’, dan juga pandangan para sahabat, tabi’in, dan imam madzhab. Namun, umumnya Syaikh Sayyid Sabiq tidak melakukan tarjih. Buku ini disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh orang awam, krn memang tujuannya sebagai panduan yang bisa langsung dipraktekkan.

📌 Dalam muqadimahnya, Beliau sendiri menceritakan kitabnya:

فهذا كتاب يتناول مسائل من الفقه الإسلامي مقرونة بأدلتها من صريح الكتاب وصحيح السنة ، ومما أجمعت عليه الأمة
وقد عُرضت في يسر وسهولة ، وبسط واستيعاب لكثير مما يحتاج إليه المسلم ، مع تجنب ذكر الخلاف إلا إذا وجد ما يسوغ ذكره فنشير إليه
وهو بهذا يعطي صورة صحيحة للفقه الإسلامي الذي بعث الله به محمدًا صلى الله عليه وسلم ، ويفتح للناس باب الفهم عن الله ورسوله ، ويجمعهم على الكتاب والسنة ، ويقضي على الخلاف وبدعة التعصب للمذاهب

Ini adalah kitab yang membahas berbagai permasalahan hukum Islam dibarengi dengan dalil yang jelas dari Al Qur’an dan yanh shahih dari As Sunnah, dan dari apa yang telah disepakati umat Islam.

Buku ini disajikan dengan cara yang ringan, mudah, dan sederhana agar bisa mengakomodasi banyak kebutuhan Muslim, sambil menghindari menyebutkan perdebatan fiqih kecuali ada alasan yg dibenarkan untuk disebutkan dan dipaparkan.

Dengan ini dapat memberikan gambaran yang benar tentang hukum Islam yang dengannya Allah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan dapat membuka pintu bagi orang-orang untuk memahami tentang (agama) Allah dan Rasul-Nya, menyatukan mereka di atas Al Quran dan Sunnah, dan menghilangkan perselisihan, bid’ah, dan fanatik madzhab.

Dari perkataan Beliau, bisa kita tangkap kondisi masa itu dan apa target Beliau dalam menyusun Fiqhus Sunnah, yaitu agar mudah dipahami dan diamalkan, serta tidak mempertajam perselisihan madzhab yang sudah begitu keras di masa itu.

📌 Syaikh Al Albani Rahimahullah meneliti hadits-hadits yg ada di Fiqhus Sunnah, dalam mukadimahnya dia berkata:

فإن كتاب فقه السنة للشيخ سيد سابق من أحسن الكتب التي وقفت عليها مما ألف في موضوعه في حسن تبويب ، وسلاسة أسلوب ، مع البعد عن العبارات المعقدة التي قلما يخلو منها كتاب من كتب الفقه ، الأمر الذي رغب الشباب المسلم في الإقبال عليه والتفقه في دين الله به ، وفتح أمامهم آفاق البحث في السنة المطهرة

Kitab Fiqhus Sunnah karya Syaikh Sayyid Sabiq termasuk kitab terbaik yang pernah saya jumpai, yang tema-temanya ditulis dalam kategorisasi yang bagus, dan metode yang mengalir. Sambil menghindari keruwetan istilah yang hampir selalu ada pada kitab-kitab fiqih yang merupakan hal yang tidak disukai oleh para pemuda muslim dalam mempelajari agama Allah, dan telah membuka bagi mereka cakrawala tentang kajian terhadap sunnah yang suci.

(Tamamul Minnah fi At Ta’liq ‘ala Fiqhis Sunnah, hal. 10)

Namun, ditengah pujiannya kepada kitab Fiqhus Sunnah, Beliau juga memberikan 14 catatan atas kitab tersebut.

📌 Syaikh Abdul Aziz bin Baaz Rahimahullah berkata:

كتاب طيب ومفيد، فقه السنة كتاب طيب ومفيد وفيه علم كثير، فننصح باقتنائه ومراجعته والاستفادة منه، وما قد يقع فيه من زلة أو خطأ فهو مثل غيره من العلماء كل عالم له بعض الخطأ وبعض النقد فإذا أشكل على طالب العلم أو على طالبة العلم بعض المسائل فعليه أن يسأل أهل العلم عما أشكل عليه، وأنا لم أقرأه ولكن قرأت بعضه فرأيت فيه
خيراً كثيراً وفوائد

Kitab yang baik dan berfaidah, Fiqhus Sunnah adlah kitab yang baik dan berfaidah, di dalamnya terdapat ilmu yang banyak, saya nasihatkan agar memilikinya, mengkajinya, dan mengambil manfaat darinya. Jika ada kesalahan di dalamnya, maka hal itu juga terjadi pada banyak ulama di dunia yang sebagian melakukan kesalahan dan ada kritikan. Jika seorang penuntut ilmu mendapatkan adanya masalah pada buku tersebut maka hendaknya dia bertanya kepada ulama. Aku belum pernah baca buku itu (semuanya) tapi pernah baca sebagiannya dan didalammya terdapat banyak kebaikan dan faidah.

(Fatawa Nuur ‘Alad Darb)

📌 Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid mengatakan:

كتاب فقه السنة للشيخ سيد سابق رحمه الله يعد من كتب الفقه المعاصرة الجيدة ، يمتاز بأنه متوسط الحجم ، فلا يتوسع في ذكر تفاصيل المسائل ، ولا يستطرد بذكر أقوال المذاهب وأدلتها ، وليس مختصرا ـ أيضا ـ اختصارا مخلا بالمقصود ، وحاجة المتعلم والمثقف
ثم إنه يمتاز أيضا بأن أسلوبه سهل ميسر ، وعباراته بعيدة عن التعقيد والاصطلاحات الفقهية التي لا يحسن فهمها إلا طلاب العلم ، وأنه يهدف إلى الابتعاد عن التعصب المذهبي والارتباط بالأدلة من الكتاب والسنة والإجماع

Kitab Fiqhus Sunnah karya Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah adalah kitab fiqih zaman modern yang bagus, dengan pembahasan yang sedang, sehingga tidak melebar dalam menyebutkan rincian permasalahan, dan tidak mengenyampingkan perkataan-perkataan mazhab dan dalil-dalilnya, dan juga tidak terlalu singkat sehingga kehilangan maksud pembahasan dan kebutuhan kaum terpelajar dan berwawasan.

Selain itu, kitab ini juga istimewa oleh karena cara penyampaiannya ringan dan mudah, dan ungkapannya jauh dari kebiasaan bahasa fiqih njelimet hanya dapat dipahami oleh kaum terpelajar, dan bertujuan untuk menjauhkan dari fanatisme madzhab, serta memperkuat hubungan dengan dalil Al-Qur’an, Sunnah dan ijma’.

(Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 180904)

Semoga Allah Ta’ala memberikan rahmat kepada Syaikh Sayyid Sabiq dengan kasih sayangnya yang luas dan indah.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Utamakan Akhirat

Jangan Rusak Ekosistem

📝 Pemateri: Aunur Rafiq Saleh

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

اُنْظُرْ  كَيْفَ  فَضَّلْنَا  بَعْضَهُمْ  عَلٰى  بَعْضٍ   ۗ وَلَـلْاٰ خِرَةُ  اَكْبَرُ  دَرَجٰتٍ  وَّاَكْبَرُ  تَفْضِيْلًا

“Perhatikanlah bagaimana Kami melebihkan sebagian mereka atas sebagian (yang lain). Dan kehidupan akhirat lebih tinggi derajatnya dan lebih besar keutamaannya.” (QS. Al-Isra’: 21)

• Allah menciptakan manusia dengan rezki yang saling melengkapi. Masing-masing orang diberi kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Ada yang unggul dalam kedokteran. Ada yang unggul di bidang manajemen. Ada yang unggul dalam bidang-bidang lainnya. Masing-masing unggul dalam suatu bidang.

• Allah tidak menyebutkan siapa yang lebih unggul tersebut. Demikian pula yang kalah keunggulannya. Karena masing-masing punya kelebihan dan keunggulan.

• Dokter yang punya kelebihan dan keunggulan atas yang lain memerlukan orang lain yang mensuport berbagai kebutuhan hidupnya berupa makanan, pakaian dan lainnya. Jadi, dokter unggul di satu bidang kehidupan tetapi tidak pada bidang-bidang kehidupan lainnya.

• Dokter yang menguasai ilmu kedokteran memerlukan insinyur untuk membangun rumah atau gedung yang ditempatinya. Demikian pula memerlukan orang lain yang menyiapkan berbagai kebutuhannya.

• Jadi, setiap kita unggul di satu hal dan lemah pada hal-hal lainnya. Bahkan kita memerlukan petugas kebersihan yang membersihkan ruangan atau membawa sampah ke tempat pembuangan.

• Karena itu, jangan sekali-kali ada orang yang meremehkan pekerjaan orang lain, atau mengatakan saya lebih baik darinya, hanya karena dia bekerja sebagai petugas kebersihan sedangkan saya dokter atau insinyur. Karena masyarakat tidak bisa saling melengkapi kecuali dengan kita semua. Dari pekerjaan yang paling kecil sampai yang paling besar.

• Agar masyarakat saling terikat, tumbuh dan hidup maka Allah mengikat semuanya dengan rezki. Hingga setiap orang melakukan pekerjaannya dengan ridha untuk mendapatkan rezkinya dan rezki anak-anaknya. Bahkan mencari pekerjaan untuk mendapatkan rezkinya.

• Proses ini diperlukan dan sangat indah. Karena jika kita semua menjadi dokter atau insinyur, lalu siapa yang menyiapkan sarapan pagi untuk kita? Siapa yang membersihkan ruangan? Siapa yang bertani dan berdagang?

• Masyarakat yang individu-individunya tidak saling melengkapi pasti mengalami kerusakan. Tidak bisa bertahan hidup. Allah menghendaki masing-masing kita memiliki kelebihan dan keunggulan di satu hal atau bidang yang bermanfaat bagi masyarakat seluruhnya agar kehidupan berjalan normal.

• Karena itu, jangan pernah serakah ingin menguasai semua bidang dan lini rezki lalu merusak ekosistem yang telah diciptakan Allah. Bila keserakahan ini terus diperturutkan pasti terjadi kerusakan, ketimpangan bahkan kerusuhan sosial.

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Usia Penghuni Surga

Pemuda di Dalam Al-Qur’an

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dalam Al-Quran, Allah berbicara tentang pemuda dua kali.

Pertama, tentang para pemuda Ashabul Kahfi, para penghuni goa. Dikatakan demikian, karena demi mempertahankan keimanannya saat penguasa dan kaumnya menjadikan keimanan kepada Allah sebagai kejahatan yang harus dibasmi, mereka lebih memilih meninggalkan negeri mereka dan bersembunyi di goa. Sehingga Allah berikan karomah kepada mereka tertidur selama 309 tahun lamanya tanpa perubahan berarti pada diri mereka. Saat terbangun, zaman sudah berubah, negeri yang mereka tinggalkan telah menjadi negeri beriman.

Allah abadikan kisah mereka dalam surat Al-Kahfi dan Allah jelaskan dengan lugas tentang karakter mereka,

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. (QS. Al-Kahfi: 13)

Ashbul Kahfi adalah teladan yang sangat baik bagaiman para pemuda seharusnya adalah orang yang kokoh keimanannya, tidak mudah tergiur oleh berbagai godaan dan tak mudah lemah oleh berbagai ancaman. Perkara sekarang banyak sekali ujian dan tantangan keimanan, mestinya semakin menambah dorongan bagi para pemuda untuk semakin semangat menjaga dan merawat keimanannya. Dari sinilah langkah-langkahnya kedepan akan sangat ditentukan.

Kedua, tentang sosok Nabi Ibrahim alaihissalam yang juga hidup di tengah kekufuran dan kezaliman merajalela, dari tingkat pemimpin hingga rakyat jelata. Nabi Ibrahim alaihissalam yang saat itu dikatakan masih muda, berdiri tegak menghadapi kerusakan kaumnya, menyampaikan yang hak dan berusaha mencegah kemunkaran yang terjadi. Sampai akhirnya beliau mengambil tindakan berani, secara sembunyi-sembunyi, dihancurkannya berhala-berhala yang mereka sembah dan puja-puja itu.

Maka, ketika orang-orang kafir mencari-cari siapa yang merobohkan berhala-berhala mereka.

قَالُوا۟ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ

“Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim”.

Maka ada yang melaporkan bahwa Ibrahimlah yang melakukan hal tersebut. Kala itu dia disebut sebagai ‘pemuda’.

قَالُوا۟ سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبْرَٰهِيمُ

Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim”. (QS. Al-Anbiya: 59-60)

Kita semua tahu resiko apa yang ditanggung Nabi Ibrahim alaihissalam dari perbuatannya itu. Namun yang penting bagi kita, khususnya bagi para pemuda, adalah mengambil pelajaran, bagaimana semestinya seorang muslim memiliki sikap yang tegas, bahwa mereka menentang berbagai bentuk kemunkaran, kezaliman dan kebatilan. Minimal seorang pemuda hendaknya mengambil posisi yang jelas di hadapan kebatilan, jangan bimbang dan abu-abu, apalagi menjadi pengusung dan promotor kebatilan. Sikap yang seharusnya tidak boleh ada dalam kamus para pemuda.

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Lillah

Menjadikan Jiwa Tenang dalam Menghadapi Musibah

📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Masalah kehidupan akan selalu silih berganti mendatangi manusia. Tak ada satu pun dari kita terlepas dari ujian itu. Dan orang beriman tahu bahwa kadar ujian tergantung keshalihan seorang hamba.

Kita ingat bagaimana para Nabi dan Rasul juga salafussaleh seperti apa ujian yang dialami. Dalam sebuah riwayat dikisahkan, suatu hari seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat cobaannya?” Beliau SAW menjawab: “Para nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang sesudah mereka secara berurutan berdasarkan tingkat keshalihannya. Seseorang akan diberikan ujian sesuai dengan kadar agamanya. Bila ia kuat, ditambah cobaan baginya. Kalau ia lemah dalam agamanya, akan diringankan cobaan baginya. Seorang mukmin akan tetap diberi cobaan, sampai ia berjalan di muka bumi ini tanpa dosa sedikit pun.” (HR Bukhari).

Berbaik sangka kepada Allah atas semua yang terjadi. Menikmati segala yang telah dihadirkan, dan belajar mengambil hikmah dari kesulitan yang ada. Dan bila masalah itu hadir belajar untuk tetap tenang karena semua yang terjadi tak lepas dari rencana terbaik dari Allah. Serahkan saja segala urusan pada Nya. Allah lah yang akan menyelesaikan urusan Nya. Karena semua ada takarannya.

Sungguh luar biasa firman Allah yang mengingatkan dalam surat at thalaq ayat 3. “Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.”

Musibah hadir dalam kehidupan manusia bagaikan air yang keruh, semakin diaduk-aduk kondisinya semakin keruh. Maka bersabar dan tenanglah dalam menghadapi masalah, karena ketika mau menanti sejenak tentu air akan menjernih.

Bersabarlah insya Allah semua akan berakhir indah.
Bersabarlah insya Allah segala urusan akan bertemu jalan yang mudah.

Wallahu a’lam bisshawwab

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Ilmu

Gelorakan Spirit Santri; Mempelajari Ilmu Agama

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Tanggal 22 Oktober ditetapkan pemerintah RI sebagai hari Santri nasional. Ini tentu saja memberikan makna bahwa peran para ulama dan santri dalam sejarah perjuangan bangsa tidak dapat dipungkiri dan seharusnya kita kenang..

Karena memang sejarah mencatat dengan jelas bagaimana para ulama dan santrinya, bukan hanya berjasa pada bangsa ini dalam menyebarkan ilmu, khusunya ilmu agama di tengah masyarakat, tapi mereka pun ikut angkat senjata bersama berbagai elemen masyarakat lainnya dalam perjuangan melawan penjajah.

Karenanya hari Santri ditetapkan berdasarkan tanggal dikeluarkannya resolusi jihad oleh Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari, rahimahullah, yaitu pada tanggal 22 Oktober 1945 di Surabaya.

Penjajah sudah sekian lama meninggalkan negeri kita. Perjuangan bersenjata mengusir penjajah sudah tidak berlaku lagi. Namun kiprah dan spirit santri tidak boleh hilang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Spirit utama dalam kehidupan santri adalah spirit dalam mempelajari ilmu agama. Maka sejatinya, hari santri yang diperingati ini bukan hanya berlaku untuk kalangan santri saja, tapi untuk mengingatkan kaum muslimin agar memiliki mental santri, yaitu orang yang selalu termotivasi dan semangat untuk selalu mempelajari dan memahami agamanya.

Sebab, masalah mempelajari agama, jangankan dalam kondisi normal, dalam kondisi perang sekalipun, Al-Quran mengingatkan kita untuk tidak meninggalkannya.

Allah Taala berfirman,

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS. At-Taubah: 122)

Hal ini tak lain karena nilai-nilai agama sangat dibutuhakn oleh seorang muslim, bukan hanya terkait dengan praktek ibadah sehari-hari, tapi lebih dari itu sangat dibutuhkan untuk menjadi pedoman dan pegangan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan, baik ruang lingkup individu, keluarga, bermasyarakat hingga bernegara. Nah, menghadirkan nilai-nilai agama dapat dimulai dengan mempelajari ajaran agama itu sendiri.

Karena itu kaum muslimin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah Taala.

Kita sangat bersyukur jika kita dapati pada masa sekarang ini kemudahan untuk mempelajari ilmu-ilmu agama. Di masjid-masjid, sekolah dan kampus, perkantoran dan tempat lainnya, banyak diselenggarakan kajian-kajian keislaman. Sehingga kita tidak kesulitan untuk mendapatkan kebaikan di dalamnya. Hal inipun dapat kita tambah dengan kesempatan mendalami ilmu agama lewat membaca buku-buku keislaman, atau tayangan kajian di televisi dan di dunia maya.

Tinggal yang kita butuhkan adalah kesadaran dan kemauan untuk melakukannya. Kesadaran bahwa mempelajari agama pada hakekatnya bukan hanya kewajiban ulama, ustaz atau kalangan santri saja, tapi kewajiban sekaligus kebutuhan setiap muslim, siapapun dia, apapun kedudukannya. Semakin dini kesadaran ini dimiliki, semakin mendorong kemauan untuk mempelajari agama. Semakin dini seseorang belajar agama, semakin banyak kebaikan yang akan didapatkan insyaAllah.

Mempelajari agama semakin tampak kita butuhkan, ketika kita sadari bahwa tantangan yang ada sekarang ini semakin kompleks. Tidak cukup kita hanya mengandalkan kepandaian semata atau kekuatan materi dan fisik semata. Sangat dibutuhkan kekuatan mental yang berbasis pada kekuatan iman dan pemahaman agama yang baik.

Maka dari sini akan kita dapatkan bahwa mempelajari ilmu agama berdampak erat pada kehidupan sosial kemasyarakatan, bahkan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Karena itu, semangat jihad yang sudah diwariskan dari para ulama dan santri di masa-masa perjuangan bangsa ini, dapat kita warisi dan tetap kita lanjutkan, di antaranya dengan bersemangat membekali diri kita dengan pemahaman yang terhadap ajaran Islam melauli majelis-majelis ilmu yang dapat kita hadiri.

Hal ini sesuai dengan semangat yang digelorakan oleh Rasulullah saw, bahwa siapa yang keluar untuk menuntut ilmu, maka pada hakekatnya dia sedang keluar di jalan Allah.

مَن خرَج في طَلَبِ العِلمِ، كان في سَبيلِ اللَّهِ حَتَّى يرجِعَ

Siapa yang keluar untuk menuntut ilmu, maka dia berada di jalan Allah hingga kembali. (HR. Tirmizi)

Karena itu, di hari santri ini, selain kita diingatkan untuk mengenang jasa para ulama dan para santri yang telah berjasa memperjuangkan negeri ini merebut kemerdekaan dari penjajah, hendaknya di sisi lain menjadi pengingat dan motivasi kuat bagi kita sesama anak bangsa yang beragama Islam untuk jangan malas dan terus bersemangat menangkap spirit kaum santri, yaitu semangat belajar ilmu agama. Semakin tinggi kesadaran ini muncul di tengah masyarakat, insyaAllah akan semakin baik dan semakin mendatangkan keberkahan dari Allah Talaa.

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم….

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Menilai Secara Menyeluruh

MENILAI SECARA UTUH

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Pada tahun 2 H, tim kecil dipimpin Abdullah bin Jahsy yg ditugaskan Rasulullah saw kontak senjata dgn kaum kafir Quraisy. Seorang kafir Quraisy tewas. Perisitiwa itu terjadi di bulan haram; bulan Rajab. Sontak orang kafir Quraisy bangun opini, Rasulullah saw melakukan tindakan “radikalime” dan “terorisme” di bulan haram yg mereka muliakan.

Opini terbentuk, kaum muslimin galau, sebab mereka pun diajarkan Rasulullah saw utk menghormati bulan haram, di antaranya dilarang membunuh. Mereka bertanya2. Bagaimana ini?

Maka Allah turunkan wahyu yg menjelaskan bahwa perbuatan sahabat tsb memang sebuah pelanggaran dan dosa besar. Tapi kaum kafir Quraisy jangan merasa paling benar dan suci, justeru pelanggaran dan dosa mereka lebih besar, karena mereka mencegah orang dari jalan Allah dan bahkan mengusirnya, dan peristiwa pembunuhan tersebut tak lepas dari tindakan zalim mereka thd orang beriman. (perhatikan tafsir surat Al-Baqarah 217 dalam berbagai kitab tafsir rujukan)

=======

Pada tahun 17-18 H, masa kekhalifahan Umar bin Khatab radhiallahu anhu terjadi musim paceklik yg sangat parah. Dikenal sebagai Aam Ar-Ramadah atau Aam Al-Majaah. Di antara eksesnya, banyak rakyat kecil yang mencuri. Diriwayatkan bhw Umar bin Khatab saat itu tdk lantas menjatuhkan hukum kepada mereka mempertimbangkan latar belakang perbuatan tersebut.

=======

Pada masa pemerintahan Umar bin Abdulaziz, gubernur Khurasan; Al-Jarrah bin Abdullah, mengirim surat ke khalifah. Dia minta izin kepada khalifah untuk menggunakan kekuatan senjata untuk menghadapi penduduk Khurasan yang dia anggap susah diatur, karena dia menganggap bhw penduduk Khurasan hanya dapat diatur dengan kekuatan senjata.

Alih2 sang khalifah mensupport sang gubernur untuk menghadapi rakyatnya dengan kekuatan senjata, hal mana jika terjadi di masa sekarang mungkin mereka akan dituduh; Intoleran, radikal, teroris, khawarij, anjing neraka, dsb. Beliau justeru menegur sang gubernur dgn berkata,

“Saya sudah terima suratmu yang menyatakan bahwa penduduk Khurasan tidak dapat diatasi kecuali dengan cambuk dan pedang. Engkau dusta!! Mereka dapat diperbaiki dengan keadilan dan menegakkan kebenaran. Bentangkan hal itu di hadapan mereka!!” (Tarikhul Khulafa; As-Suyuthi)

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Menyisir dari Kanan

Serial Adab Di Tubuh Manusia : Adab Di Rambut

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Islam adalah agama yg konprehensif (menyeluruh), tidak ada yg luput dari perhatiannya. Di antaranya adalah tentang sederet adab atau etika dalam perilaku manusia. Di antara adab itu adalah adab kepada diri sendiri, mulai dari ujung kepala ke using kaki. Kita akan bahas secara cicil di antara adab-adab tersebut.

1⃣ Adab Di Rambut

Ada beberapa adab, di antaranya:

1. Menutupnya bagi kaum wanita

Ini hukumnya wajib secara umum,sebab itu aurat,khususnya lagi saat di hadapan laki-laki yang bukan mahram,saat shalat dan ihram.Kewajiban ini termasuk al ma’lum mind din bidh dharurah yaitu hal yang kewajibaannya telah pasti dan tanpa perdebatan.

ستر العورة واجب بإجماع المسلمين

Menutup aurat adalah wajib berdasarkan ijma’ kaum muslimin. (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah no. 5128)

Ini juga berlaku bagi wanita tua,Allah Ta’ala berfirman:

وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ ۖ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Dan para perempuan tua yang telah berhenti (dari haid dan mengandung) yang tidak ingin menikah (lagi), maka tidak ada dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan; tetapi memelihara kehormatan adalah lebih baik bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.(QS. An-Nur, Ayat 60)

Maksud ayat ini bukan bolehnya membuka jilbab bagi wanita tua, Imam Al Jashash Rahimahullah menjelaskan:

لا خلاف في أن شعر العجوز عورة لا يجوز للأجنبي النظر إليه كشعر الشابة , وأنها إن صلت مكشوفة الرأس كانت كالشابة في فساد صلاتها , فغير جائز أن يكون المراد وضع الخمار بحضرة الأجنبي . إنما أباح للعجوز وضع ردائها بين يدي الرجال بعد أن تكون مغطاة الرأس , وأباح لها بذلك كشف وجهها ويدها ; لأنها لا تشتهى

Tidak ada perbedaan pendapat, bahwa rambut wanita tua (nenek-nenek) adalah aurat, tidak boleh laki-laki bukan mahramnya melihatnya sebagaimana kepada wanita muda.

Dia pun jika shalat kelihatan rambutnya maka shalatnya batal sebagaimana wanita muda. Maka TIDAK BOLEH memaksudkannya dengan menanggalkan Khimar (kerudungan) dihadapan laki-laki bukan mahramnya.

Sesungguhnya dibolehkannya dibuka dihadapan laki-laki bukan mahram adalah tangannya dan wajahnya, sedangkan kepalanya tetap tertutup. Karena dia tidak lagi bersyahwat. (Ahkamul Quran, 3/485)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’diy Rahimahullah mengatakan:

فهؤلاء يجوز لهن أن يكشفن وجوههن لأمن المحذور منها وعليها ..

Maka, mereka (para wanita tua) boleh membuka wajahnya jika aman dari bahaya, baik bahaya karenanya dan bahaya atas dirinya.. (Tafsir As Sa’diy, Hal. 670)

2⃣ Memakai peci atau surban

Ini juga adab bagi kaum laki-laki, sebagian mengatakan sunnah, apalagi di saat shalat. Sedangkan model peci adalah hal yang luwes dan fleksibel, masing-masing negeri muslim ada modelnya sendiri, ini tidak masalah.Ini bagian dari “berhias” bagi kaum laki-laki, namun hal ini kadang berbeda di masing-masing tempat dan zaman.

Dalam Al Mausu’ah disebutkan sunnahnya memakai penutup kepala:

لاَ خِلاَفَ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ فِي اسْتِحْبَابِ سَتْرِ الرَّأْسِ فِي الصَّلاَةِ لِلرَّجُل ، بِعِمَامَةٍ وَمَا فِي مَعْنَاهَا ، لأَِنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ كَذَلِكَ يُصَلِّي

“Tidak ada perbedaan pendapat di antara para ahli fiqih tentang kesunnahan menutup kepala ketika shalat bagi laki-laki baik dengan surban atau yang semakna dengan itu karena begitulah shalatnya Nabi Shallallahu “Alaihi wa Sallam.” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah, 22/5)

Fatwa Syaikh ‘Athiyah Shaqr Rahimahullah (mantan Mufti Mesir), Beliau ditanya tentang orang yang shalat tanpa menutup kepala baik imam, makmum, atau shalat sendiri, bolehkah?

تغطية الرأس فى الصلاة لم يرد فيها حديث صحيح يدعو إليها ، ولذلك ترك العرف تقديرها ، فإن كان من المتعارف عليه أن تكون تغطية الرأس من الآداب العامة كانت مندوبة فى الصلاة نزولا على حكم العرف فيما لم يرد فيه نص ، وإن كان العرف غير ذلك فلا حرج فى كشف الرأس”;ما رآه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن

“Menutup kepala ketika shalat, tidak ada hadits shahih yang menganjurkannya. Hal itu hanyalah meninggalkan kebiasaan saja. Jika telah dikenal secara baik bahwa menutup kepala merupakan adab secara umum, maka hal itu dianjurkan dalam shalat sebagai konsekuensi hukum Al ‘Urf [tradisi] terhadap apa-apa yang tidak memiliki dalil syara’. Jika tradisinya adalah selain itu (yaitu tidak menutup), maka tidak mengapa membuka kepala. “Apa-apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, maka di sisi Allah itu juga baik.” (Fatawa Al Azhar, 9/107)

Sedangkan Imam Ibnu Taimiyah mengatakan makruh tanpa penutup kepala saat shalat bagi kaum laki-laki, sebagaimana tertera dalam Al Fatawa Al Kubra -nya.

3. Meminyaki Rambut

Banyak riwayat yang menceritakan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meminyaki rambutnya, bahkan janggutnya.

Dari Salman Al Farisi Radhiallahu ‘Anhu, katanya: Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallambersabda:

لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الجُمُعَةِ، وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ، وَيَدَّهِنُ مِنْ  دُهْنِهِ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ، ثُمَّ يَخْرُجُ فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ، ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ، ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الإِمَامُ، إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الجُمُعَةِ الأُخْرَى

Tidaklah seorang laki-laki mandi pada hari Jumat, dia bersuci sebersih bersihnya, dia memakai minyak rambut, atau memakai minyak wangi yang ada di rumahnya, lalu dia keluar menuju masjid tanpa membelah barisan di antara dua orang, kemudian dia shalat sebagaimana dia diperintahkan, lalu dia diam ketika imam berkhutbah, melainkan  akan diampuni sejauh hari itu dan Jumat yang lainnya.

(HR.Bukhari no. 883)

Rabi’ah bin Abdurrahman  Radhiallahu ‘Anhu bercerita:

فَرَأَيْتُ شَعَرًا مِنْ شَعَرِهِ، فَإِذَا هُوَ أَحْمَرُ فَسَأَلْتُ فَقِيلَ احْمَرَّ مِنَ الطِّيبِ

Aku melihat rambut di antara rambut-rambut nabi, jika warnanya menjadi merah maka aku bertanya lalu dijawab: merah karena minyak.

(HR.Bukhari no. 3547)

Simak bercerita, bahwa   Jabir bin Samurah ditanya tentang uban Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :

كَانَ إِذَا ادَّهَنَ رَأْسَهُ لَمْ يُرَ مِنْهُ، وَإِذَا لَمْ يُدَّهَنْ رُئِيَ مِنْهُ

Dahulu jika Beliau melumasi dengan minyak ubannya tidak terlihat, dan jika tidak memakai minyak maka ubannya terlihat. **(HR.Muslim no. 2344)**

Jabir bin Samurah Radhiallahu ‘Anhu bercerita:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ شَمِطَ مُقَدَّمُ رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ، وَكَانَ إِذَا ادَّهَنَ لَمْ يَتَبَيَّنْ، وَإِذَا شَعِثَ رَأْسُهُ تَبَيَّنَ، وَكَانَ كَثِيرَ شَعْرِ اللِّحْيَةِ

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mulai memutih rambut bagian depan kepalanya dan jenggotnya, jika dia melumasi dengan minyak  ubannya tidak terlihat jelas, jika sudah mengering rambutnya  ubannya terlihat, dan  Beliau memiliki jenggot yang lebat.

(HR.Muslim No. 2344, An Nasa’i No. 5114)

Maka, anjuran memakai minyak rambut merupakan sunah, baik secara fi’iliyah dan qauliyah dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Wallahu A’lam

4. Tarajjul (Menyisir Rambut)

Ini adalah salah satu cara memuliakan rambut. Bukan karena ganjen atau genit, tapi mengikuti perilaku Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Aisyah Radhiallahu ‘Anha berkata:

كُنْتُ أُرَجِّلُ رَأْسَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وأنا حائض

Aku menyisir kepala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan saat itu aku sedang haid. 1)

Dalam kesempatan lain, ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha juga bercerita:

إِذَا اعْتَكَفَ، يُدْنِي إِلَيَّ رَأْسَهُ فَأُرَجِّلُهُ، وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلَّا لِحَاجَةِ الْإِنْسَانِ

Jika beliau i’tikaf, Beliau mencondongkan kepalanya kepadaku lalu aku menyisirnya, dan Beliau tidaklah masuk ke rumah (ketika i’tikaf) kecuali jika ada kebutuhan manusiawi. 2)

Inilah sunah fi’liyah yang nabi lakukan, yaitu menyisir dan menata rambut. Tetapi, NabiShallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidaklah melakukannya sering-sering seperti wanita pesolek.

Oleh karena itu, dari Abdullah bin Mughaffal Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

نَهَى رَسُولُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عنِ التَّرَجُّلِ إِلَّا غِبًّا

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang menyisir kecuali jarang-jarang. 3)

Menyisir disunahkan dari kanan. Inilah yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan Beliau melakukan semua  kebaikan memulainya dari kanan (at tayammun) . Dari Aisyah Radhiallahu ‘Anha, katanya:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ، فِي تَنَعُّلِهِ، وَتَرَجُّلِهِ، وَطُهُورِهِ، وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ

Dahulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyukai memulai sesuatu dari kanan: memakai sendal, menyisir, bersuci, dan semua perbuatan lainnya. 4)

Al Hafizh Ibnu Hajar Radhiallahu ‘Anhu menjelaskan:

وترجله أي ترجيل شعره وهو تسريحه ودهنه

Tarajjulihi  yaitu merapikan rambutnya, dengan menata dan meminyakinya. 5)

Wallahu A’lam


🌴🌴🌴🌴

[1] HR. At Tirmidzi, Asy Syamail, No. 25. Syaikh Al Albani mengatakan Shahih. Lihat Mukhtashar Asy  Syamail No. 25
[2] HR. Muslim No. 297
[3] HR. Abu Daud No. 4159, At Tirmidzi No. 1756, juga  Asy Syamail, No. 29, katanya: hasan shahih. Ahmad No. 16793. Syaikh Syu’Aib Al Arnauth mengatakan: shahih lighairih. Lihat Ta’liq Musnad AhmadNo. 16793
[4] HR. Bukhari No. 168
[5] Fathul Bari, 1/269

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678