Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

Karena Berkeluarga Adalah Fitrah

📝 Pemateri: Ustz. EKO YULIARTI SIROJ

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

💝Ada Khadijah yang merindu. Merindukan sesuatu yang hilang dan mengharapkannya kembali.
Ada Muhammad yang gemilang. Pemilik sifat mulia, cerdik dan jujur, yang diminta Khadijah untuk membawa barang dagangan miliknya ke Syam ditemani seorang pembantu bernama Maisarah dan pulang membawa keuntungan yang berlimpah.

Khadijah sepeti menemukan barang yang hilang dan sangat ia harapkan itu. Sudah banyak pemuka kaum yang melamar Khadijah untuk menikahinya. Namun Khadijah tidak mau.

Tiba-tiba…ketika kafilah dagang Muhammad kembali dari negeri Syam dengan capaian yang fenomenal, ia teringan rekannya Nafisah binti Muniyah. Dia meminta rekannya ini untuk menemui Muhammad dan membuka jalan agar mau menikah dengan Khadijah.

Ternyata beliau menerima tawaran itu, lalu beliau meneui paman-pamannya untuk memohon restu. Kemudian paman-paman beliau menemui paman-paman Khadijah untuk mengajukan lamaran. Setelah semua dianggap beres, maka perkawinan siap dilaksanakan.

Dua bulan sepulang dari Syam, Bani Hasyim dan para pemuka Bani Mudhar menjadi saksi pernikahan agung itu. Dengan mas kawin dua puluh ekor unta muda, Muhammad menikahi Khadijah seorang perempuan terpandang, cantik, pandai, dan juga kaya.

Demikian Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury menjelaskan pernikahan Muhammad dengan Khadijah dalam kitab siroh yang terkenal Ar-Rohiqul Makhtum.

💝Rasa itu tersimpan cukup lama dihati seorang pemuda bernama Ali bin Abi Thalib. Rasa yang muncul pertama kali saat Ali melihat Fathimah membersihkan luka sang ayah dengan penuh kasih sepulang sang ayah dari medan perang.

Remuk redam hati Ali saat ia tahu satu demi satu pemuka sahabat mengajukan lamaran kepada Rasulullah untuk menikahi putrinya.
Namun hati Ali kembali berbunga saat jawaban yang diberikan Rasulullah selalu saja “Dia (Fathimah) masih kecil.”

Bunga-bunga di hati Ali tak kunjung bertambah karena ia tidak memiliki keberanian untuk mengajukan lamaran kepada Rasul mulia.

Hingga suatu hari Abu Bakar RA mendatanginya dan menanyakan mengapa ia tidak mengajukan lamaran kepada Fathimah putri Rasulullah SAW. Antara bahagia karena Abu Bakar begitu kuat mendorongnya untuk menikah dan tidak percaya diri karena tidak memiliki apa-apa, Ali mengambil sebuah keputusan berani. Ya…ia akan menemui Rasulullah SAW.

Ummu Salamah yang saat Ali mendatangi Rasulullah sedang berada di rumahnya menceritakan dengan agak detil bagaimana pertemuan Ali dan Rasulullah berlangsung.

Rona merah muka Ali karena malu, bicara gugup sambil tertunduk, wajah Rasulullah yang berbinar bahagia menerima pinangan Ali, dikisahkan Ummu Salamah dengan begitu lengkap.

Bahkan kondisi ekonomi Ali yang dipaparkan dengan jujur dan didiskusikan bersama Rasulullah menambah indahnya perjalanan Ali memulai berkeluarga. Seekor unta, sebilah pedang dan seperangkat baju besi, hanya itu yang dimiliki Ali. Dan Rasulullah memilih baju besi sebagai mahar Ali untuk menikahi Fathimah.

🍂 Berkeluarga memang fitrah setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan. Fitrah yang salah satu maknanya dijelaskan oleh Imam Al-Qurthuby dalam tafsirnya sebagai khilqoh; anugerah pemberian Allah SWT.

Dan setiap orang memiliki anugerah itu. Anugerah kecenderungan untuk memiliki pasangan dan berketurunan.

Islam adalah agama fitrah, dan manusia diciptakan Allah SWT  dengan fitrah ini. Karenanya Allah SWT memerintahkan manusia untuk menghadapkan diri mereka ke agama fitrah agar kehidupan yang dijalani sesuai dengan fitrah yang Allah anugerahkan dan tidak terjadi penyelewengan dan penyimpangan.

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam), (sesuai) fitrah Allah, disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [Ar-Ruum : 30]

💡Ibnu Abdul Bar seperti yang dikutip Al-Qurthuby dalam tafsirnya menjelaskan bahwa fitrah ini harus dijaga agar ia salamah dan istiqomah (selamat dan tetap lurus/konsisten). Yang membuat ia selamat dan lurus adalah dengan mengikuti petunjuk-petunjuk Allah yaitu dienul Islam.

🍂Adakah fitrah yang yang tidak selamat & berbelok?
Hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA berikut menjadi jawabannya.

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُننَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Tidak ada bayi yang dilahirkan kecuali ia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanya yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR Bukhari)

Para ulama menyebutkan bahwa secara khusus yang dimaksud dengan fitrah dalam hadits ini adalah setiap bayi yang dilahirkan memiliki pengetahuan tentang Robb-nya. Maka saat manusia tumbuh menjadi dewasa, pengetahuan tentang Robb ini sangat ditentukan oleh lingkungan tempat ia tumbuh.
Dan lingkungan terdekat dari seseorang adalah ORANG TUA nya.

Diantara fitrah (dalam pemahaman yang lebih umum) yang dimiliki manusia adalah keinginan dan kebutuhan untuk menikah dan berkeluarga. Bahkan para nabi dan rasul sebagai makhluk Allah yang normal, mereka menikah dan berkeluarga. Karena berkeluarga adalah kebutuhan, maka Allah memberikan kemudahan dalam pelaksanaannya.

Lihatlah kisah diatas, bagaimana kecenderungan untuk menikah itu bermula dari Khadijah dan ia membuka jalan sedikit demi sedikit untuk mengupayakannya.

Tidak ada aib disana karena ia merencanakan dan menjalani perencanaan dengan sangat rapi tanpa melanggar aturan. Bahkan urusan usia sang calon istri yang jauh diatas calon suami tidak menjadi penghalang untuk berkeluarga.

🔑 Karena menikah adalah fitrah, maka jalan ke arahnya harus sesuai dengan aturan Allah.

Pun demikian dengan jalan yang ditempuh Ali bin Abi Thalib. Karena menikah itu fitrah, ia beranikan diri menghadap Rasulullah untuk meminang putrinya dengan kondisi Ali yang serba minim.

Tapi lihatlah bagaimana respon Rasulullah SAW? Beliau begitu bahagia, menerima lamaran Ali dengan wajah cerah ceria. Karena walau kondisi ekonominya minim, tapi Ali memiliki banyak keutamaan yang tidak dimiliki sahabat lain. Rasulullah bahagia…karena MENIKAH ITU FITRAH.🔍

🍂Dalam urusan MAHAR, Islam juga memberi kemudahan.

Ada Rasulullah Muhammad yang menikahi Khadijah dengan mahar dua puluh ekor unta muda. Nilai yang sangat besar bahkan untuk situasi saat ini. Karena unta muda (unta merah) adalah unta yang harganya paling mahal.

Ada Ali bin Abi Thalib yang menikahi Fathimah binti Rasulullah dengan mahar seperangkat baju besi senilai 40 dirham menurut sebagian riwayat.

Keduanya berjalan lancar dan mengantarkan mereka kepada pembentukan keluarga harmonis yang penuh berkah hingga anak cucu, kaum kerabat bahkan para sahabatnya.

Tidak ada yang memberatkan dalam mahar, karena menikah dan berkeluarga adalah fitrah.
Fitrah berkeluarga antara laki-laki dan perempuan.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(Q.S. Al Hujurat Ayat 13)

Sepanjang sejarah manusia, Allah SWT seolah menegaskan bahwa sesuai dengan fitrah pernikahan dan pembentukan keluarga dilakukan antara laki-laki dan perempuan. Ada Adam dan Hawa, ada Ibrahim dan Hajar, ada Yusuf dan Zulaikha, ada Muhammad dan Khadijah.

Dan Allah SWT memberikan contoh bagi umat manusia bagaimana akhir cerita suatu kaum yang keluar dari fitrah yang Allah anugerahkan. Kaum nabi Luth adalah sebuah contoh, bagaimana perilaku menyimpang yang mereka lakukan justru mengundang adzab yang sangat besar dari Allah SWT. (silakan pelajari surat Huud ayat 77-82).

Hari ini, kita menghadapi sebuah gelombang besar. 🔹Gelombang yang mengajak manusia untuk meninggalkan fitrahnya. 🔹Gelombang yang menuntut agar penyimpangan fitrah yang dilakukan segelintir orang bukan diobati tetapi dipermaklumkan atas nama hak asasi manusia. 🔹Gelombang yang akan meruntuhkan tatanan berkeluarga dan bermasyarakat itu dipaksakan untuk diterima oleh semua kalangan di semua Negara karena mereka menitipkan suaranya kepada komisi perempuan PBB.

Mereka kaum lesbi, gay, biseksual dan transjender (LGBT) menuntut agar perilaku menyimpang mereka diakui tidak hanya oleh masyarakat akan tetapi diakui oleh Negara.

Pernahkah kita membayangkan sebuah keluarga yang terdiri dari dua orang laki-laki dewasa atau dua orang perempuan dewasa dan seorang atau dua orang anak (adopsi) hidup ditengah masyarakat kita?

Keluarga yang tanpa perlu berfikir panjang bisa memutuskan ikatannya dan membentuk keluarga baru? Keluarga yang tak memiliki orientasi dan tujuan yang jelas untuk apa mereka bersama-sama?  Apakah dari keluarga model ini akan hadir sakinah, mawaddah dan rahmah?

Tentu saja 🔊..TIDAK..🔊 karena berkeluarga memiliki ruh dimensi waktu yang sangat panjang. Bukan hanya saat mereka ada bahkan saat mereka telah tiada keluarga menjadi teladan bagi generasi selanjutnya seperti keluarga Ibrahim AS dan keluarga Muhammad SAW yang hingga kini kita sebut keduanya dalam shalawat kita.

Maka berhati-hatilah terhadap gerakan yang dilakukan kelompok ini yang upayanya merambah kehidupan kita terutama dilakukan dengan menggunakan media.

Film yang ditonton anak-anak kita tanpa menyebutkan identitas yang jelas seperti sponge bob atau teletubbies.

Artis atau comedian laki-laki yang penampilannya gemulai seperti perempuan.
Olah raga berat yang dilakukan oleh kaum perempuan seperti gulat, tinju, angkat besi, dll.

Jika tidak dihentikan, maka gelombang itu akan merasuk ke dalam masyarakat kita.

Naudzu billah tsumma naudzu billah.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

Sudahkah Kita Menjadi Orang Tua yang Sholih?

📝 Pemateri: Dra. Indra Asih

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ أَنَّى لِي هَذِهِ فَيَقُولُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

“Sesunguhnya Allah ta’ala akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga. Kemudian dia akan berkata, “Wahai Rabb-ku, bagaimana hal ini bisa terjadi padaku?

Maka Allah menjawab, “Hal itu dikarenakan do’a yang dipanjatkan anakmu agar kesalahanmu diampuni.” (HR. Ahmad).

Allah ta’ala langsung membebankan tanggung jawab pendidikan anak kepada kedua orang tua.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ (٦)

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At Tahrim: 6).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memikulkan tanggung jawab pendidikan anak ini secara utuh kepada kedua orang tua.

Dari Ibnu radhiallahu ‘anhu, bahwa dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.
Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggunjawabannya dan demikian juga seorang pria adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari).

🔑 Tanggung jawab pendidikan anak ini harus ditangani langsung oleh kedua orang tua.

Sedangkan para pendidik yang mendidik anak di sekolah-sekolah, hanyalah partner bagi orang tua dalam proses pendidikan anak.

Pendidikan yang diberikan orang tua merupakan pemberian yang berharga bagi sang anak, meski terkadang hal itu jarang disadari.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Hakim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما نحل والد ولده أفضل من أدب حسن

“Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.” (HR. Al Hakim).

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا (٧٤)

“Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al Furqan: 74).

🔑 Jika kita menginginkan anak-anak shalih, maka kita juga harus menjadi orang yang shalih. 😊😊

Ada pepatah Arab yang bagus mengenai hal ini,

كيف استقم الظل و عوده أعوج

🔅“Bagaimana bisa bayangan itu lurus sementara bendanya bengkok?”🔅

Kita selaku orang tua adalah bendanya sedangkan anak-anak kita adalah bayangannya. Jika diri kita bengkok, maka anak pun akan bengkok dan rusak. Dan sebaliknya, jika diri kita lurus, maka insya Allah anak-anak akan lurus.

Allah ta’ala berfirman,

ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Keturunan itu sebagiannya merupakan (turunan) dari yang lain.” (Ali Imran: 34).

Maksud dari ayat di atas adalah orang tua yang baik, sumber yang baik, insya Allah akan menghasilkan keturunan yang baik pula.

Kelak di surga, Allah ta’ala pun akan mengumpulkan sang anak bersama orang tua mereka yang shalih, meskipun amalan sang anak tidak dibanding amalan orang tua.

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ (٢١)

“Dan orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (Ath Thuur: 21).

Allah ta’ala memasukkan anak-anak orang mukmin ke dalam surga dengan syarat mereka juga beriman.

Betapa menyenangkannya, jika kita berkumpul bersama keluarga kita di surga sebagaimana kita berkumpul di dunia ini.

Meskipun amal ibadah sang anak tidak sepadan dengan kedua orang tuanya, amalnya kurang daripada orang tuanya, namun Allah tetap memasukkan keturunannya ke dalam surga.

Mengapa? Karena keshalehan kedua orang tuanya.

Betapa penting menjadikan pribadi kita, yaitu orang tua, menjadi pribadi yang shalih, sampai-sampai salah seorang yang shalih pernah mengatakan,

يا بني إني لأستكثر من الصلاة لأجلك

“Wahai anakku, sesungguhnya aku memperbanyak shalat karenamu (dengan harapan Allah akan menjagamu).”

Ada seorang tabi’in yang bernama Sa’id ibn al-Musayyib rahimahullah juga pernah berkata,

إني لأصلي فأذكر ولدي فأزيد في صلاتي

“Ada kalanya ketika aku shalat, aku teringat akan anakku, maka aku pun menambah shalatku (agar anak-anakku dijaga oleh Allah ta’ala).”

🍂Semoga Allah mudahkan kita untuk mampu menjadi pribadi yang baik, taat kepada Allah dan shalih, kita jalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya dengan harapan nantinya Allah ta’ala menjaga dan memelihara anak-anak kita.🍂

Aamiin Ya Mujiibassaailiin..

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Doa mendapatkan anak yang salih

ISLAMIC PARENTING UNTUK KECERDASAN SPIRITUAL DAN KECERDASAN EMOSIONAL ANAK

📝 Pemateri: Ustzh.Dra Wirianingsih M Si.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

🌺 Apa Itu Islamic Parenting ?

Islamic parenting atau pengasuhan islami adalah pengasuhan yang dilakukan oleh orang tua/orang dewasa kepada anak yang sedang tumbuh kembang secara islami.

Secara Islami ,maksudnya berdasarkan nilai-nilai Islam yang bersumber dari tuntunan al-Qur’an dan sunnah Nabi serta contoh generasi terbaik di masa lalu

Istilah Islamic parenting tidak ada dalam al Qur’an maupun sunnah Nabi. Istilah ini berkembang belakangan seiring perkembangan ilmu pengetahuan Islam dan kesadaran ummat akan pengamalan nilai Islam di semua aspek kehidupan, termasuk dalam pengasuhan anak.

💡“Hai orang2 beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka… “(QS 66:6)

💡“Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah,dan menyapihnya dalam dua tahun” (QS 31:14)

💡“Para ibu hendaklah menyusukan anak2 nya selama dua tahun penuh “(QS 2:233)

💡“Dan hendaklah kalian takut meninggalkan di belakang kalian generasi yg lemah ..(QS 4:9)

💡 “…Seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan anak2nya. Dia bertanggung jawab terhadap anak2nya..” (HR Bukhari dan Muslim)

💡“..Didiklah anak kalian terhadap 3 hal : mencintai Nabimu,mencintai kelg Nabi, dan ajarilah al Qur’an krn sesungguhnya org2 yg membawa al Qur’an akan mendapat perlindungan pd hari tdk ada perlindungan selain perlindungan Allah bersama para Nabi dan orang2 suci…(HR Thabrani)

💡Dari ‘Aisyah ra :’’ seorang ibu datang kepadaku dg membawa dua org anak perempuan.Lalu aku memberi makan 3 butir kurma.Kemudian sang ibu memberikan kurma itu kpd kedua anaknya masing2 satu butir dg cara menyuapi ke mulutnya agar anaknya bisa memakannya.Kedua anaknya memakan kurma tsb. Lalu sang ibu membelah satu butir kurma ketiga yg ingin ia makan.

Aku jadi terharu dengan perbuatan si ibu. Kemudian aku ceritakan apa yg aku perbuat itu kpd Rasulullah SAW. Beliau bersabda : ‘sesungguhnya Allah wajib memasukkan ibu itu ke dalam surga dan membebaskannya dari api neraka..” ( HR Bukhari dan Muslim)

🌺 KECERDASAN SPIRITUAL

Spiritualitas  merupakan kebangkitan atau pencerahan diri dalam mencapai tujuan dan makna hidup.

Kecerdasan spiritual (bahasa Inggris : spiritual quotient<disingkat SQ) adalah kecerdasan jiwa yang membantu seseorang unt mengembangkan dirinya secara utuh untuk menerapkan nilai2 positif.

SQ 👉 fasilitas yg membantu seseorang untuk mengatasi persoalan dan berdamai dg persoalannya itu.
Ciri utama SQ ditunjukkan dengan kesadaran seseorg untuk menggunakan pengalamannya sebagai bentuk penerapan nilai dan makna.
Orang yg memiliki semangat hidup sebagai bagian dari kecerdasan spiritual.

🌺CIRI SQ YANG BERKEMBANG BAIK

🎈. Kemampuan bersikap fleksibel
🎈. Mudah menyesuaikan diri dg lingkungan
🎈. Tingkat kesadaran tinggi
🎈. Mampu hadapi penderitaan & rasa sakit
🎈. Mampu mengambil pelajaran dari kegagalan
🎈. Mampu wujudkan hidup sesuai visi misi
🎈. Mampu melihat keterkaitan berbagai hal
🎈. Mandiri
🎈. Mengerti makna hidup

🌺KECERDASAN EMOSIONAL

Kecerdasan emosional (bahasa Inggris emotional quotient,disingkat EQ) adalah kemampuan seseorang untuk menerima ,menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain disekitarnya.

Emosi > perasaan terhadap informasi akan suatu hubungan

Kecerdasan > kapasitas unt berikan hubungan valid atas suatu hubungan

Sebuah penelitian membuktikan bahwa kecerdasan emosional memiliki peran dua kali lebih penting dari kecerdasan intelektual dalam memberikan kontribusi erhadap kesuksesan seseorang.

🌺CIRI-CIRI EQ YANG BERKEMBANG BAIK

🍂. Mampu menyadari dan mengelola emosi diri sendiri
🍂. Memiliki kepekaan terhadap emosi orang lain
🍂. Mampu merespon dan bernegosiasi dg orang lain secara emosional
🍂. Dapat gunakan emosi untuk motivasi diri

🌺APA RELEVANSI  IP DENGAN SQ DAN EQ ?

Islam adalah agama fitrah. Agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Karenanya, ajaran Islam miliki pengaruh terhadap kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosi seseorang.

🔎Semakin dini penanaman nilai-nilai keislaman , akan semakin baik pada perkembangan SQ dan EQ pada anak.🔍

Misal : membiasakan shalat pada usia 6 tahun pada anak sesuai anjuran Rasulullah SAW akan menjadikan anak memahami bahwa ia adalah makhluq ciptaan Allah. Ia sedang menyembah Allah tempat bersandar seluruh manusia.

Aspek IP-nya : orang tua menjadi model dengan melaksanakan shalat secara teratur , sehingga anak akan meniru apa yg dilakukan oleh ortu.

Contoh lain : tentang syukur
Islam mengajarkan tentang hendaknya seorang muslim senantias mengucapkan alhamdulillah saat mendapat ni’mat dan saat bahagia.
Bersyukur akan memunculkan rasa tenang.
Membiasakan anak mengucapkan terima kasih juga untuk menumbuhkan sifat suka menghargai pada orang lain

Beberapa catatan :
💡. Spiritual tidak sama dengan agama.
💡. Bahwa ada hubungan agama dan tingkat spiritualitas seseorang, itu benar
💡. Spiritualitas adalah kesadaran tentang diri dan kesadaran individu tentang asal, tujuan,dan nasib
💡. Spiritualitas memberikan jawaban siapa dan apa seseorang itu ( keberadaan dan kesadaran)
💡. Agama memberikan jawaban apa yg harus/tidak dikerjakan seseorang

🌺MACAM POLA ASUH

MENURUT  BAUMRIND

▪Pola asuh demokratis,
▪Pola asuh otoriter, dan
▪ Pola asuh permisif.

Dalam pandangan Islam, pengasuhan pada anak sejak dimulai dalam masa kehamilan. Anak sudah mulai bisa merasakan sentuhan spiritualitas dan emosi ibunya sejak dalam kandungan

Al QUR’AN berikan gambaran bagaimana seharusnya orang tua mengasuh anaknya. Lihat Kisah Nabi Ibrahim as, kisah Nabi Ya’qub as, kisah keluarga Imran

Anak-anak yang tumbuh dalam asuhan kedua orang tua dan lingkungan yang baik akan menjadi anak2 yang sehat ruhani, jasmani, aqli, nafsi..dan dapat memberikan manfaat/kontribusi pada masanya..

Wallohu a’lam bis showaab.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

Berkeluarga Dengan Memahami Misi Kita Sebagai Manusia

📝 Pemateri: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj M.Ag.

🌿🌺🍂🍀🌻🍄🌷🍁🌹

Berdegup kencang jantung ibunda Hajar saat sang suami Ibrahim AS berkemas pergi meninggalkannya bersama bayi merah tak berdaya di kaki sebuah bukit tandus tanpa tanda-tanda kehidupan. Tak nampak pepohonan, sumber air dan manusia disana. Berbekal sekeranjang kecil kurma dan sebotol air, Hajar harus bertahan ditempat itu.

Saat langkah Ibrahim AS mulai berbilang, dengan mata yang berkaca Hajar bertanya : ”Apakah Allah memerintahkan ini kepadamu?”.

Jawaban yang sangat singkat Ibrahim lontarkan karena sesungguhnya hatinya begitu berat meninggalkan istri dan anak yang ia tunggu sejak lama. Ibrahim AS menjawab : “Ya”.
Dan  seketika itu Allah turunkan ketenangan ke dalam jiwa Hajar. Hilang sudah gundah hatinya berganti dengan keyakinan dan optimisme   akan datangnya pertolongan Allah SWT.

Ketenangan Hajar bersamaan dengan merunduknya Ibrahim AS. Sejak melangkahkan kaki dari samping sang istri, tak sekalipun Ibrahim menoleh ke belakang. Air mata berurai sambil menahan gemuruh perasaannya. Ia mempercepat langkah agar segera hilang dari pandangan Hajar.

Dan begitu sampai di tempat yang tak lagi terlihat Hajar, Ibrahim merunduk bersujud kepada Allah menumpahkan segala gundahnya dan memohon perlindungan-Nya.

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“ Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS Ibrahim : 37)

Teladan yang Allah sematkan pada keluarga Ibrahim AS dilatarbelakangi karena kesadaran penuh mereka terhadap eksistensi dirinya.

Nabi Ibrahim AS dan ibunda Hajar menyadari betul bahwa mereka adalah hamba Allah SWT yang memiliki tugas utama untuk beribadah kepada-Nya. Gejolak jiwa Hajar yang seketika berganti dengan ketenangan tidaklah mudah dilakukan banyak orang, kecuali jika seseorang menyadari bahwa statusnya sebagai hamba Allah memiliki misi untuk beribadah kepada-Nya.

Seorang hamba tentu saja harus mengikuti apa yang diinginkan oleh tuannya. Seorang hamba Allah harus mengikuti semua keinginan Allah SWT. Penghambaan seseorang kepada Allah ditandai dengan kepasrahannya kepada semua ketentuan Allah.

🔊Berprasangka baik dengan segala ketentuan-Nya dan meyakini akan datangnya pertolongan dan kebaikan dari ketentuan itu.🔊

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُون

” Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu”. (QS Adz Dzaariyat: 56)

Tidak hanya beribadah kepada Allah SWT yang menjadi misi manusia tapi ia diberikan misi lain yaitu memakmurkan bumi.

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الأرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ 

“Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka Saleh. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada bagimu Tuhan yang berhak disembah selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat dan memperkenankan (hamba-Nya).” (QS Huud : 61)

Menjalankan kedua misi yang diemban oleh manusia di atas bukanlah hal yang mudah. Namun Allah SWT Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang membekali kepantasan kepada manusia untuk bisa menunaikan misinya.

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلا

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS Al-Isra : 70)

Kemuliaan manusia, Allah bimbing agar bermanfaat untuk menjalankan misi dengan dihadirkannya para nabi dan Rasul yang memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ رُسُلا إِلَى قَوْمِهِمْ فَجَاءُوهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَانْتَقَمْنَا مِنَ الَّذِينَ أَجْرَمُوا وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus sebelum engkau (Muhammad) beberapa orang rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan (yang cukup), lalu Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Dan merupakan hak Kami menolong orang-orang yang beriman.” (QS Ar-Ruum:47)

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.” (QS Al-Fath : 28)

🌹Berkeluarga adalah satu cara manusia dalam menjalankan misinya.

🌹Berkeluarga adalah IBADAH kepada Allah.

🌹Berkeluarga adalah memakmurkan bumi dan kehidupan.

🌹Berkeluarga adalah menunjukkan sifat dan sikap mulia manusia.

🔎Keluarga yang mulia adalah keluarga yang mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya sehingga seluruh anggota keluarga menjadi orang-orang yang kompeten menunaikan misinya sebagai manusia.🔍

Kesadaran dan kefahaman akan korelasi antara misi manusia dengan keluarga merupakan poin penting yang harus terus ditanamkan. Kehidupan modern yang semakin kompleks disertai gangguan-gangguan yang ditujukan kepada keluarga muslim, menuntut kita untuk memahami secara jernih landasan dasar kita berkeluarga.

Kita seringkali mencari solusi atas masalah yang terjadi pada keluarga kita dengan mengandalkan teori praktis, sebab akibat, factor ekonomi, social, kultur, psikologi, dll.

Dan kita seringkali lupa bahwa rapuhnya tatanan keluarga kita sesungguhnya karena ketidakfahaman anggota keluarga akan landasan dasar berkeluarga. Sehingga tidak heran bila banyak ditemukan masalah keluarga yang sama terjadi berulang-ulang dengan subyek yang sama padahal sejumlah trik dan tips sudah dicoba diberikan dan dipraktekan.

Tak akan ada Ibrahim AS yang rela meninggalkan istri dan anaknya di padang tandus, tak akan ada Hajar yang penuh tawakkal dan optimis menghadapi kehidupan berat bersama bayi merahnya jika mereka tak memahami hakikat diri, misi dan kemuliaan yang Allah berikan kepadanya.

Maka kefahaman itulah yang kita butuhkan dalam berkeluarga.
Misi manusia untuk beribadah dan memakmurkan bumi, berbekal kompetensi yang Allah berikan yaitu menjadi makhluk yang mulia.
Dan kemuliaan itu berjalan efektif bila dijalankan sesuai dengan tuntunan Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Semoga Allah kokohkan keluarga-keluarga kita dengan kefahaman kita akan agama yang terus bertambah dan kedekatan kita kepada-Nya yang terus meningkat.

Wallohu a’lam bis showaab.

🌿🌺🍂🍀🌻🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Doa mendapatkan anak yang salih

Lima Langkah Membangun Karakter Anak(part 2 of 2)

📝 Pemateri: Ust. Irwan Rinaldi

Sahabat sekalian. Dibagian pertama kita sudah membahas 2 langkah pertama dari 5 langkah cara membangun karakter anak.

Sekarang mari kita lanjutkan dengan langkah ke 3.

👪 Langkah 3.

Latih anak untuk menggambarkan terlihat seperti apa dan terdengar seperti apa setiap karakter.

Tidak ada jalan yang sempurna untuk mengajarkan karakter, tapi riset menunjukkan bahwa untuk mengajarkan  keterampilan baru selain dengan meminta anak untuk memikirkan bagaimana melakukan satu karakter, dapat juga orang tua menunjukkan karakter target kepada anak.

Orang tua dapat memperkenalkan karakter dengan cara memodelkan kepada anak dan membuat pendidikan karakter menjadi sekonkrit mungkin.

Tiga cara yang dapat anda lakukan:

💎 Role plays karakter:

Beberapa orang tua menemukan hal yang sangat membantunya saat orang tua atau anak mencoba melakuan role-play bagaimana tampaknya satu karakter di depan anak-anak. Ini adalah cara sederhana untuk menunjukkan secara tepat terlihat dan terdengar seperti apa target karakter tertentu.

💎 Lakon pendek karakter

Anak dapat membuat lakon pendek tentang karakter dan menampilkan saat asembli sekolah atau di setiap kelas untuk menunjukkan kepada anak lain pentingnya karakter, juga untuk menunjukkan terlihat dan terdengar seperti apa karakter tersebut.

💎 Foto karakter

Foto anak yang benar-benar sedang menunjukkan karakter target. Cetak foto, perbesar fotonya, dan tempelkan di papan tulis sehingga dapat mengingatkan anak seperti apakah tampaknya keterampilan itu.

👪 Langkah 4: Berikan Kesempatan untuk Mempraktikkan Karakter

Secara umum, anak memerlukan banyak kesempatan untuk mempraktikkan perilaku baru. Teori belajar mengatakan diperlukan kurang lebih 21 hari praktik sebelum perilaku itu menjadi bagian dari diri anak. Hal ini adalah aturan penting untuk dapat diterapkan pada anak anda.
Tiga cara untuk membantu anak mengevaluasi kemajuan perilakunya:

💎 Merekam karakter

Anak dapat melihat kemajuan perilakunya dengan merekam satu sama lain karakter yang mulai menjadi bagian dari diri anak. Hasil rekaman dilihat kembali dan dianalisa oleh anak atau bisa juga dilihat oleh semua anak.

💎 Menulis refleksi pada buku catatan

Anak dapat mencatat kemajuan karakternya dengan cara mencatat setiap hari satu hal yang mereka lakukan yang menunjukkan perilaku dari target karakter.

💎 Berikan pekerjaan rumah karakter

Minta anak untuk mempraktikkan keterampilan di rumah dan mencatat usaha dan hasilnya di buku catatan.

👪 Langkah 5.

Berikan Masukan (Evaluasi) Efektif.

Langkah terakhir dalam mengajar karakter adalah untuk memperkuat perilaku anak yang sudah tepat atau memperbaiki perilaku yang masih kurang pas atau tepat saat ada waktu yang nyaman untuk membicarakannya.

Melakukan hal ini membantu menjelaskan kepada sisiwa: “kamu sudah melakukan hal yang tepat; pertahankan nak,” atau “kamu sudah hampir benar, tapi sebaiknya kamu melakukan hal ini.”

Menangkap anak melakukan perilaku yang salah sebelum menjadi kebiasaan buruk akan meningkatkan kesempatan bagi anak untuk melakukan perilaku atau ciri karakter positif.

Ini ada beberapa cara untuk mengingatkan anak atau memberikan masukan kepada anak:

💎 Gunakan kritik konstruktif. Jika perilaku anak tepat, segera katakana kepada anak “Apa yang kamu lakukan sudah benar.”

💎 Jika perilaku anak kurang tepat, katakan kepada anak apa yang harus dilakukan agar benar: “Apa yang kamu lakukan belum tepat, tapi ini yang harus kamu lakukan di lain waktu.”

💎L akukan perbaikan segera. Anak akan mendapatkan keuntungan dari koreksi yang diberikan segera.

💎Tangkap perilaku postif. Carilah selalu kesempatan untuk menangkap basah anak saat melakukan perilaku yang tepat. Jika orang tua memperkuat ciri karakter yang sudah dilakukan anak dengan tepat, anak akan cenderung mengulang perilaku tersebut.

Pendidik Dapat Membuat Perbedaan.

Dengan bertambah banyaknya anak yang tidak memiliki karakter tangguh  maka penting sekali sekolah mengintegrasikan perkembangan karakter dalam pelajaran untuk waktu yang cukup panjang. Harap perhatikan, pelajaran karakter terbaik  adalah saat karakter dapat terintegarasi secara alamiah.

Ada banyak cara untuk melatih karakter dengan menggunakan buku, video, music, kalimat baik, artikel, atau tokoh sejarah yang didalamnya ada tema yang menggambarkan karakter anak tangguh. Mungkin cara yang paling mudah adalah menonjolkan satu ciri karakter setiap bulannya.

Dengan melakukan hal ini akan mengoptimalkan kesempatan anak untuk mengembangkan karakter tangguh yang akan dipakai tidak hanya untuk hari ini, tapi sepanjang hidup mereka. Dari semua itu, jangan pernah melupakan peran anda sebagai orang tua pada perkembangan karakter anak anda. Anda dapat membuat perbedaan!.

Wallahu a’lam bishowab.
Semoga memberikan inspirasi.

🌿🌴🌿🌴


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Doa mendapatkan anak yang salih

Lima Langkah Membangun Karakter Anak(part 1 of 2)

📝 Pemateri: Ust. Ayah  (Irwan) Rinaldi

Orang tua membaca laporan perilaku Anto dari gurunya. Orang tua menggeleng-gelengkan kepalanya. Ini adalah laporan ke tiga dari perilakunya yang sering memberi komentar negatif kepada temannya.

“Anto kamu sebaiknya tidak mengatakan hal yang negatif kepada temanmu,” si orang tua mengingatkannya.

“Kamu perlu belajar untuk menghormati temanmu,” lanjut ibunya.

“Aku sudah mencoba bu,” Anto menjawab dengan sedih. “Saya tidak tahu bagaimana cara menghormati teman.”

Banyak orang tua yang menyatakan kecemasannya: terlalu banyak anak yang tidak memahami ciri-ciri karakter anak tangguh.

Hasilnya, banyak anak yang gagal memiliki karakter yang menjadi dasar kesuksesan kehidupannya di masa yang akan datang.

Banyak psikolog mengatakan bahwa cara terbaik bagi anak untuk belajar karakter anak tangguh adalah dengan melihat orang lain melakukannya dengan baik.
Coba perhatikan beberapa kejadian yang dapat dilihat anak-anak di TV –
saat pertandingan bola, ada beberapa pemain bola yang menunjukkan sikap yang kurang baik misalnya meludahi wasit, atau saat acara-acara yang banyak sekali sikap membully – mentertawakan orang lain.

Kemudian, berita di koran yang menceritakan tentang guru yang memberikan contekan jawaban saat UN kepada anak didiknya. Jadi pertanyaannya,
“kepada siapa anak-anak dapat belajar tentang karakter anak tangguh dan memiliki karakter tersebut?”
Jawabannya memang membingungkan.

Ketiadaan atau berkurangnya orang dewasa yang menjadi model akhlak baik memang bukan satu-satunya alasan tentang perkembangan karakter anak di Indonesia.

Dr. Thomas Lickona, pengarang buku Character Matter, menunjukkan adanya peningkatan perilaku remaja bermasalah di masyarakat yang menunjukkan menurunnya moral remaja: kekerasan dan vandalisme (sifat suka merusak), mencuri, curang, tidak menghargai orang lain atau tokoh otoriter, kekejaman sesama remaja, sikap fanatik, penggunaan bahasa buruk, ketertarikan terhadap seks yang lebih cepat dan juga bersikap kasar, meningkatnya egoisme dan menurunnya tanggung jawab sebagai warga negara, dan perilaku merusak diri sendiri.

Ini adalah alasan lain mengapa kebanyakan anak tidak memiliki akhlak yang baik.

👪 Mercu Suar Harapan Terakhir

Fakta bahwa mungkin sekali sekolah adalah satu-satunya harapan atau harapan terakhir bagi anak.
Dimana lagi kira-kira mereka mendapatkan kesempatan untuk memahami nilai-nilai karakter seperti tanggung jawab atau peduli atau menghormati orang lain atau kerjasama?

Dimana kira-kira mereka mendapat kesempatan untuk melihat seseorang yang menjadi teladan karakter yang pas?

Dimana lagi kecuali dari seorang orang tua yang peduli dan memiliki komitmen yang dapat memberikan kesempatan untuk belajar tentang ciri-ciri anak yang tangguh?

Lalu, bagaimana caranya kita dapat membantu anak untuk mengembangkan karakter tangguh?

Jawabannya: ciri karakter tidak tumbuh secara alami tapi DAPAT DIPELAJARI ; karena itu kita dapat MELATIHnya.

Artinya bahwa pendidik memiliki kekuatan yang luar biasa untuk dapat melatihnya. Tapi membangun karakter anak membutuhkan beberapa langkah.

👪 Langkah Pertama untuk Melatih Ciri Karakter pada Anak

Karakter apa saja yang akan anda ajarakan – ketekunan, keyakinan diri, empati, tanggung jawab, menghormati orang lain, peduli, atau karakter lain – paling tidak ada lima langkah minimum yang harus dilakukan.
Langkah-langkah ini dapat diintegrasikan pada pelajaran, tapi setiap langkah perlu dilakukan dengan tepat karena dapat membantu anak untuk dapat mengembangkan karakter tangguh.

Lima langkahnya adalah:

👪 Langkah 1. Menonjolkan Ciri Satu Karakter.

Langkah awal untuk mengajarkan satu ciri karakter baru kepada anak adalah cukup dengan menonjolkan karakter tersebut.

Ada 4 cara sederhana untuk menonjolkan ciri satu karakter:

💎 Poster Karakter

Minta anak untuk membuat poster ciri karakter.

Tempelkan poster di mana saja paling tidak selama satu bulan:

“Tanggung jawab artinya saya harus melakukan apa saja  dengan baik serta benar untuk aku dan orang lain dan aku dapat diandalkan.”

Minta anak untuk membuat poster tentang ciri satu karakter yang sedang berlaku pada bulan tersebut.

💎 Asembli Karakter

Hal ini dapat dilakukan oleh orang tua atau anak. Orang tua atau anak dapat melakukan lakon pendek tapi dapat memberikan inspirasi tentang ciri karakter yang sedang dipelajari.

💎 Screen savers

Setiap hari setiap staf atau orang tua atau anak menulis di screen saver di komputer atau dapat juga membuat banner yang bertuliskan pentingnya memiliki karakter tertentu.

Setiap kali staf, orang tua, atau anak membuka komputer maka yang mereka lihat pertama kali di layar adalah kata-kata yang menunjukkan pentingnya memiliki karekter tersebut atau sejauh mata memandang sekitar sekolah melihat tulisan tersebut.

“Bulan ini adalah bulan ketekunan. Ingatlah untuk selalu mengerjakan yang terbaik dan jangan menyerah.”

💎 Pengumuman untuk Anak dan Ortu

Orang tua-orang tua banyak juga melakukan pembicaraan di pagi hari dengan menggambarkan beberapa cara yang dapat dilakukan anak untuk menunjukkan karakter tertentu. Demikian juga orang tua dapat berkirim surat kepada ortu tentang karakter yang sedang di latih pada bulan tersebut.

👪 Langkah 2. Menjelaskan Nilai dan Arti Karakter.

Langkah kedua dalam melatih ciri karakter adalah menjelaskan kepada anak apa arti ciri karakter tersebut dan mengapa penting untuk mempelajarinya.

Jelaskan ciri-ciri dalam konteks tahap perkembangannya; jangan pernah berasumsi bahwa anak sudah tahu. Kebanyakan anak tidak tahu.

Cara untuk mendefinisikan karakter dapat melakukan beberapa cara di bawah ini:

💎 Literatur Karakter

Pilihlah buku yang di dalamnya dibahas tentang karakter yang sedang diperkenalkan, saat anak membacakannya, tanyanya: “bagaimana tokoh dalam buku ini menunjukkan ciri-ciri dari karakter ketekunan? Bagaimana perasaan orang lain saat tokoh menjalankan ciri karakter ketekunan?

💎 Artikel Baru

Mintalah anak untuk mengumpulkan tulisan atau artikel terbaru tentang orang-orang di Indonesia yang melakukan satu karakter tertentu. Orang tua dapat memulai belajar dengan mengulang sedikit tentang kejadian nyata dimana satu karakter dipraktekkan untuk menunjukkan kepada anak pentingnya karakter tersebut dimiliki.

💎 Memberi nama ciri-ciri karakter

Setiap kali orang tua melihat atau mendengar anak menunjukkan ciri-ciri karakter yang sedang ditargetkan, ambil waktu untuk menunjukkan secara spesifik apa yang telah dilakukan anak yang menunjukkan ciri target karakter.

“Azzam, yang baru kamu lakukan ini  adalah sikap menghormati karena kamu telah dengan sabar menunggu saya selesai berbicara dengan temanmu sebelum kamu berbicara dengan saya.”

💎 Berbagi perasaan anda.

Anak perlu mendengar mengapa anda berpikir bahwa karakter itu penting. Jika anda mentargetkan menghormati orang lain, anda dapat mengatakan kepada anak bagaimana pentingnya seseorang harus merubah dirinya karena  membicarakan hal negatif tentang diri sendiri atau orang lain.

💎 Anak sebagai reporter

Minta anak untuk mencari demonstrasi dari target karakter yang dilakukan oleh temannya di sekolah.

Tugas anak adalah melaporkan kepada kelas siapa yang sudah mulai menunjukkan perilaku yang menggambarkan target karakter, dan dampaknya pada perilaku anak kepada orang lain.

(Bersambung – Langkah 3 s/d 5, insya Allah)

Wallahu a’lam bishowab.
Semoga memberikan inspirasi.

🌿🌴🌿🌴


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Mengikat Hati Anak, Menjalin Emotional Bonding (Tips Parenting)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

by : Bendri Jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)

1| Salah satu tugas pengasuhan adalah membuat ikatan emosi yang kuat antara ortu dan anak yang dikenal dengan istilah emotional bonding

2| Ikatan emosi atau batin ini berpengaruh bagi anak dalam menjalani masa-masa sulit semasa hidup sekalipun tak ada ortu di sisi

3| Tak selamanya ortu mendampingi hidup anak. Ia harus tumbuh mandiri dengan potensinya. Emotional bonding yang kuat terhadap ortu sebagai pengarah

4| Setidaknya ada beberapa masa kehidupan dalam diri anak dimana ia alami krisis : pra sekolah, pra puber, pubertas, pra nikah dan nikah

5| Di masa-masa tersebutlah ia butuh bimbingan dan arahan. Maka meski tak ada ortu di sisi, nasehat-nasehat dan teladan ortu tetap dijaga selama masih ada ikatan batin

6| Hal ini lah yang dialami oleh Nabi Yusuf muda saat terpesona dengan kecantikan zulaikha dan diajak berbuat mesum. Ia punya hasrat

7| Hasratnya hampir saja menjerumuskannya seandainya Allah tak berikan ‘pertanda’. Seperti yang terdapat dalam surat Yusuf : 24. Sila dibaca

‘Pertanda’ yg dimaksud adalah nasehat ayahnya yang tiba-tiba muncul saat ia hampir saja terpedaya oleh nafsunya. Ini kata ibnu katsir

9| Bayangkan! Nabi yusuf yang terpisah jauh oleh ayahnya, terjaga diri dari bujukan setan. Tak jadi berbuat zina. Tersebab ikatan batin dengan ayahnya

10| Itu pula yang diharapkan dari anak kita. Jauh terpisah namun menjaga kehormatan keluarga karena nasehat indah ortu yang tertanam dalam jiwa

11| Saat krisis jiwa melanda, tak kemana-mana cari solusi. Yakin ada ortu yang siap membantu cari jalan keluar. Percaya sepenuhnya

12| Seorang wanita yang sedang konflik dengan suaminya, akan curhat ke ayahnya. Bukan ke lelaki lain. Rumah tangga terselamatkan. Sebab ada father bonding

13| Anak yg tak punya emotional bonding maka tak percaya dengan ortunya. Lebih dengar kata temannya sekalipun buruk

14| Bagaimana menciptakan emotional bonding dengan anak? Usia dini jangan diabaikan. Bermula dari bayi dalam kandungan. Ayah bunda terlibat bersama

15| Saat bayi dalam kandungan, jadikan suara ayah-bunda nya yg lebih banyak didengar. Ajak ia bicara sambil mengusap perut bunda

16| Saat anak lahir, sambutlah anak dalam pelukan yang hangat. Hadapkan wajah kita ke hadapannya. agar perlahan di scan dalam memorinya

17| Usia 0-2 tahun adalah fase pengikatan. Disinilah fase dimana ayah-bunda harus jadi aktor utama dalam pengasuhan. Bukan yg lain

18| Di fase inilah Allah perintahkan ibu untuk memberinya ASI. Yang bukan sekedar susunya, namun juga belaian yang dibutuhkan anak

19| Betapa banyak ibu yang lebih sering menitipkan ASI nya pada botol. Tak memberinya langsung dari puting. Sehingga anak sehat namun jiwanya kosong

20| Fase ini juga seorang ayah harus banyak terlibat mengasuh. Luangkan waktu tuk ganti pampers, gendong anak sambil cerita, bacakan quran, dll

21| Dalam usia 0-2 tahun jangan terburu-buru kenalkan anak pada media meskipun isinya bagus. Sebab emosi belum terikat sepenuhnya

22| Jika ingin ajarkan anak tentang quran, jangan dari kaset. Akan lebih elok jika ortunya yang menyuarakan sekaligus belum fasih. Agar tercipta ikatan batin

23| Sekalipun ada pengasuh lain, peran mereka hanya membantu. Bukan tokoh sentral. Agar ikatan yang terjalin bukan kepada mereka namun kepada ortunya

24| Keluarkan segala energi: suara, bahasa tubuh, dan ekspresi muka agar terekam kuat dalam memori anak. Inilah yang menjadi dasar munculnya ikatan hati

25| Bagaimana jika anak sudah melewati usia 2 th sementara kita terlambat melakukan upaya emotional bonding ?

26| Jika anak sudah melewati usia 2 tahun, bisakah kita ciptakan emotional bonding dengannya? Masih sangat bisa. Asal kita bisa membaca golden moment

27| Golden moment ini adalah situasi dimana anak benar-benar butuh hadirnya kita. Bisa tanpa sengaja atau juga kita rekayasa

28| Golden moment yang dimaksud minimal ada dua : yakni saat anak sedih dan saat anak unjuk prestasi. Hadirlah dengan sungguh-sungguh di dua waktu ini

29| Saat anak sedih, ia butuh sandaran jiwa. Butuh ada yang memeluk dan dengarkan curhatnya. Hadirlah segera. Jangan sampai orang lain yang ambil alih

30| Tak pekanya ortu saat anak sedih malah buat ikatan hati makin rapuh. Kepercayaan menurun. Anak lari kepada sosok lain

31| Dan hadirlah saat anak unjuk prestasi : baca puisi di skolah, ambil raport, menari, dan sejenisnya. Ini adalah persembahan untuk ortu dari anak

32| Saat unjuk prestasi, yang anak butuhkan adalah tepuk tangan dan apresiasi ortunya. Jika ortu tak hadir, rusaklah kepercayaan anak

33| Kehadiran ortu dalam kegiatan mereka adalah pengakuan eksistensi anak. Ortu yang cerdas, akan paksakan diri tuk hadir. Demi tercipta emotional bonding

34| Semoga kita bisa menjadi ortu yg jalin emotional bonding dengan anak kita. Agar anak terdampingi selamanya meski kita tiada. Salam cinta (bendri jaisyurrahman)


Dipersembahkan oleh : manis.id

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678l

Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

Memulai dan Melanggengkan Kemesraan di Rumah

👤Dra. Indra Asih

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan bergaullah dengan mereka (istri-istri kalian) dengan baik.” (QS. An Nisa’: 19).

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (QS. Al Baqarah: 228).

Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى

“Sebaik-baik kalian adalah yang berbuat baik kepada keluarganya. Sedangkan aku adalah orang yang  paling berbuat baik pada keluargaku” (HR. Tirmidzi).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata mengenai surat An Nisa’ ayat 19 di atas, “Berkatalah yang baik kepada istri kalian, perbaguslah amalan dan tingkah laku kalian kepada istri. Berbuat baiklah sebagai engkau suka jika istri kalian bertingkah laku demikian.” (Tafsir Al Qur’an)

Berbuat ma’ruf adalah kalimat yang sifatnya umum, tercakup di dalamnya seluruh hak istri.
Lihatlah contoh Nabi kita, beliau memanggil ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, sang istri tercinta dengan panggilan Humaira, artinya wahai yang pipinya kemerah-merahan.  Karena putihnya ‘Aisyah, jadi pipinya biasa nampak kemerah-merahan.

Dari ‘Aisyah, ia berkata,

دَخَلَ الحَبَشَةُ المسْجِدَ يَلْعَبُوْنَ فَقَالَ لِي يَا حُمَيْرَاء أَتُحِبِّيْنَ أَنْ تَنْظُرِي

“Orang-orang Habasyah (Ethiopia) pernah masuk ke dalam masjid untuk bermain, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilku, “Wahai Humaira (artinya: yang pipinya kemerah-merahan), apakah engkau ingin melihat mereka?” (HR. An Nasai).

So sweet…

Marilah jaga terus kemesraan yang terasa demikian hangat pada saat awal pernikahan, sampai seterusanya, walaupun sudah menginjak usia pernikahan yang cukup lamapun.
Jangan sampai panggilan sayang ketika awal-awal pernikahan berganti dengan panggilan yang tidak menyenangkan istri.

Dari Mu’awiyah Al Qusyairi radhiyallahu ‘anhu, ia bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kewajiban suami pada istri, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ – أَوِ اكْتَسَبْتَ – وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِى الْبَيْتِ

“Engkau memberinya makan sebagaimana engkau makan. Engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian -atau engkau usahakan-, dan engkau tidak memukul istrimu di wajahnya, dan engkau tidak menjelek-jelekkannya serta tidak memboikotnya (dalam rangka nasehat) selain di rumah”
(HR. Abu Daud).

Mudah-mudahan Allah terus makin menumbuhkembangkan cinta antara kita dengan pasangan kita.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : manis.id

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Mukmin Itu Akrab dan Diakrabi

Akhlaq Terhadap Istri Tercinta

👤Ustadzah Indra Asih

Islam Agama Akhlak

“بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلاَقِ”

“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”(H.R. Al-Hakim).

Sedemikian besar Islam memperhatikan perealisasian akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Islam tidak hanya menjelaskan hal ini secara global, namun juga menerangkannya secara terperinci.
Islam menjelaskan secara rinci bagaimana akhlak seorang muslim kepada Rabb-nya, keluarganya, tetangganya, bahkan kepada hewan dan tetumbuhan sekalipun.

Hal yang tidak terlepas dari pembahasan adalah penjelasan tentang barometer akhlak mulia. Kapankah seseorang itu berhak dinilai memiliki akhlak mulia?

Qudwah kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  dalam sabdanya,

“خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي”

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” (H.R. Tirmudzi).

Beberapa contoh kemuliaan akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap keluarganya.

Sebagai teladan umat, amatlah wajar jika praktik keseharian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bergaul dengan keluarganya kita pelajari. Dan tentu saja lautan kemuliaan akhlak beliau terhadap keluarganya tidak bisa dikupas dalam tulisan sederhana ini.

Oleh karena itu, di sini kita hanya akan menyampaikan beberapa contoh saja.

1. Turut membantu urusan pekerjaan istri

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk ikut turun tangan membantu pekerjaan para istrinya.

عَنْ عُرْوَةَ قَالَ قُلْتُ لِعَائِشَةَ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِيْنَ أي شَيْءٌ كَانَ يَصْنَعُ رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه وسلم إِذَا كَانَ عِنْدَكِ؟ قَالَتْ: “مَا يَفْعَلُ أَحَدُكُمْ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ يَخْصِفُ نَعْلَهُ وَيُخِيْطُ ثَوْبَهُ وَيَرْفَعُ دَلْوَهُ”

Urwah bertanya kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala bersamamu (di rumahmu)?” Aisyah menjawab, “Beliau melakukan seperti apa yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya. Beliau mengesol sandalnya, menjahit bajunya dan mengangkat air di ember.” (H.R. Ibnu Hibban).

Subhanallah!

Di tengah kesibukannya yang luar biasa padat berdakwah, menjaga stabilitas keamanan negara, berjihad, mengurusi ekonomi umat dan lain-lain, beliau masih bisa menyempatkan diri mengerjakan hal-hal yang mungkin dipandang rendah oleh banyak suami di zaman ini!

Andaikan saja para suami-suami itu mau mempraktekkan hal-hal tersebut, insyaAllah keharmonisan rumah tangga mereka akan langgeng.

2. Berpenampilan prima di hadapan istri dan keluarga

Berikut Aisyah, salah satu istri Rasul shallallahu ‘alahi wa sallam menyampaikan pengamatannya;

“أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ بَدَأَ بِالسِّوَاكِ”

“Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam jika masuk ke rumahnya, hal yang pertama kali beliau lakukan adalah bersiwak.” (H.R. Muslim).

Bersiwak ketika pertama kali masuk rumah??!

Suatu hal yang mungkin tidak pernah terbetik di benak banyak suami. Tetapi, begitulah cara Nabi kita shallallahu ‘alahi wa sallam menjaga penampilannya di hadapan istri dan putra beliau.
Ini hanya salah satunya lho! Dan beginilah salah satu potret kemuliaan akhlak Rasulullah kepada keluarganya.

3. Tidak bosan untuk terus menasehati istri dan keluarga

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

“أَلاَ وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا”

“Ingatlah, hendaknya kalian berwasiat yang baik kepada para istri.” (H.R. Tirmidzi).

Timbulnya riak-riak dalam kehidupan rumah tangga merupakan suatu hal yang lumrah. Namun, jika hal itu sampai mengotori keharmonisan jalinan kasih sayang antara suami dan istri, atau bahkan menghancurkan bahtera pernikahan, tentulah sangat berbahaya. Agar mimpi buruk itu tidaklah terjadi, seyogyanya ditumbuhkan budaya saling memahami dan kebiasaan saling menasehati antara suami dan istri.

Oleh karenanya, benih-benih kesalahan yang ada dalam pasangan suami-istri hendaknya tidaklah didiamkan begitu saja hanya karena dalih menjaga keharmonisan rumah tangga. Justru sebaliknya, kesalahan-kesalahan itu harus segera diluruskan.

Dan tentunya hal itu harus dilakukan dengan cara yang elegan:
tutur kata yang lembut, raut muka yang manis dan metode yang tidak menyakiti hati pasangannya.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678