Tidak Percaya Diri dengan Hafalan

0
147

πŸ“ Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸŒΉ

Pembahasan ini sebenarnya masih memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan pembahasan sebelumnya, di mana di antaranya terkadang rasa tidak percaya diri ini membuat seorang penghafal al-Qur’an tidak mau menjadi imam shalat, atau walaupun ia mau menjadi imam shalat, tetapi ia tidak berani membacakan hafalannya di dalamnya. Dan dampak dari tidak percaya diri dengan hafalan ini bukan hanya membuat seseorang menolak ketika diminta menjadi imam, tetapi bahkan bisa membuatnya sama sekali tidak berani membacakan hafalannya di hadapan orang lain.

Banyak penghafal al-Qur’an yang sebenarnya punya hafalan yang bagus, tetapi ketika diminta untuk membacakannya di hadapan orang lain, maka banyak hafalannya yang lupa. Karena mereka merasa kurang percaya diri, hingga akhirnya timbullah rasa grogi, takut, bahkan tak jarang penghafal al-Qur’an yang gemetar ketika hafalannya dites, dan tentu saja hal itu dapat menganggu konsentrasinya ketika membacakan hafalan tersebut. Jika konsentrasinya hilang, selancar apapun hafalannya, maka bisa saja akan menjadi berantakan, banyak yang salah, banyak yang lupa.

Ada banyak faktor yang sebenarnya membuat seorang penghafal al-Qur’an tidak percaya diri ketika membaca hafalannya di hadapan orang lain. Namun yang paling banyak dialami oleh para penghafal al-Qur’an saat ini penyebabnya adalah karena mereka sangat jarang, bahkan mungkin tidak pernah memperdengarkan hafalannya di hadapan orang lain, tidak pernah mengikuti kegiatan simak-menyimak hafalan dengan sesama penghafal al-Qur’an lainnya. Sehingga ketika mereka harus membacakannya di hadapan orang lain, maka mereka merasa grogi, takut salah, takut lupa, dan lain sebagainya.

Jika demikian, solusinya tiada lain adalah dengan mulai membiasakan diri membaca hafalan al-Qur’an di hadapan orang lain, terutama dengan sesama penghafal lainnya, sebab berbeda kesannya jika hafalan al-Qur’an di hadapan orang yang memang juga hafal. Buat dan rencanakanlah kegiatan simak-menyimak hafalan bersama para penghafal lainnya. Rencakan pula kapan waktunya serta berapa banyak yang harus dibaca, agar masing-masing penghafal dapat mempersiapkan hafalannya terlebih dahulu.

Berkaitan dengan pentingnya teman dalam menghafal dan mengulang hafalan al-Qur’an, Majdi Faruq ‘Ubaid di dalam bukunya 9 Asrar li Hifzh al-Qur’an al-Karim mengatakan: β€œJika kita tidak mempunyai teman untuk menghafal al-Qur’an bersama kita, atau sebuah halaqah tahfizh yang kita dapat memperdengarkan hafalan di dalamnya, maka prosentase keberhasilan anda dalam menghafal al-Qur’an sangat kecil.”

Jika memang tidak menemukan penghafal lainnya, atau katakanlah walaupun ada tetapi masing-masing punya kesibukkan yang berbeda, waktu luangnya pun berbeda-beda, maka setidaknya carilah orang yang memang siap untuk menyimak hafalan anda walaupun ia bukan seorang penghafal al-Qur’an. Tetapi, usahakanlah orang yang menyimak hafalan anda memang mampu membaca al-Qur’an dengan baik dan lancar.

Jika anda termasuk penghafal al-Qur’an yang sudah menikah, maka anda dapat memperdengarkan hafalan tersebut di hadapan pasangan anda. Jika anda sebagai seorang suami, biasakanlah shalat berjamaah, terutama shalat Tahajjud, serta bacalah hafalan anda didalamnya. Dengan begitu, insyaAllah anda akan memiliki rasa percaya diri yang tinggi terhadap hafalan yang anda miliki.

Wallahul Muwaffiq ilaa aqwamith thoriiq

πŸƒπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸƒπŸŒΈ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

πŸ“±Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

πŸ’° Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here