Merayakan Tahun Baru Islam

0
125

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, beberapa hari lagi kita akan memasuki bulan Muharram atau tahun baru Hijriyah (tahun 1445 H). Sebagian masyarakat merayakannya dengan mengadakan muhasabah dan kajian. Mohon penjelasan Ustaz terkait perayaan seperti ini.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz DR. Oni Sahroni, MA

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Merayakan tahun baru Islam (Hijriyah) itu dibolehkan selama kegiatan dan acaranya itu sesuai dengan tuntunan syariah dan tidak melanggar aturan. Di antara tuntunan dan adabnya adalah tidak melalaikan aktivitas atau kebutuhan yang lebih penting, tidak menggangu dan merugikan pihak lain, dan tidak berlebihan (israf).

Berdasarkan kriteria ini, maka bisa menjadi tuntunan untuk memilah mana kegiatan yang pantas atau layak menjadi kegiatan perayaan dan peringatan tahun baru Hijriyah, dan mana kegiatan yang tidak sesuai tuntunan atau tidak layak menjadi kegiatan tersebut.

Di antara contoh kegiatan positif tahun baru Hijriyah adalah seperti yang diselenggarakan oleh beberapa komunitas dan organisasi dengan menyelenggarakan muhasabah tahun baru yang berisi rangkaian acara muhasabah, tausiyah, qiyamul lail, zikir dan doa, pengajian, ceramah, istighatsah, pentas seni budaya Islam, gotong-royong membersihkan lingkungan, bazar kebutuhan pokok, donor darah, dan lain sebagainya.

Atau seperti yang diselenggarakan oleh beberapa majelis taklim dengan menggelar tausiyah dan muhasabah berkenaan dengan momentum tahun baru Hijriyah.

Di antara dalil dan referensinya adalah sebagai berikut. (1) Selama isi kegiatan perayaan tahun baru Hijriyah sesuai dengan tuntunan, dhawabith, dan adab sebagaimana disebutkan di atas, maka dibolehkan merujuk kepada tuntunan syariah seputar aktivitas kebaikan tersebut, seperti tuntunan syariah yang menganjurkan untuk bermuhasabah dan berzikir menghidupkan salah satu tradisi positif penanggalan Hijriyah dan sejenisnya.

(2) Dan sebagaimana penjelasan Syekh ‘Athiyah Shaqr. “Bagaimanakah hukum memperingati dan merayakannya bagi seorang Muslim? Tak diragukan lagi bahwa menikmati keindahan hidup dengan makan, minum, dan membersihkan diri merupakan sesuatu yang diperbolehkan selama masih selaras dengan syariat, tidak mengandung unsur kemaksiatan, tidak merusak kehormatan, dan bukan bagian dari akidah yang rusak.” (Wizarah Al-Auqaf Al-Mishriyah, Fatawa Al-Azhar, X/311).

(3) Dan sebagaimana penjelasan Syekh Ali Jum’ah bahwa memperingati tahun baru Islam dengan acara yang positif itu bagian dari al-ihya; menghidupkan tradisi penanggalan Hijriyah yang Islami, bermuhasabah, dan kegiatan positif lainnya.

(4) Jika yang menjadi isu dan permasalahan adalah istilah dan kata “merayakan”, maka sesungguhnya yang menjadi substansi adalah isi, konten, maksud, dan cara menyelenggarakannya, sebagaimana kaidah dalam ushul fiqih, “La musyahata fil ishthilah” dan kaidah, “Al-Ibratu bil musammayat la bil asma” (Yusuf al-Qaradhawi, al-Halal wa al-Haram fi al-Islam, hlm 32).

Terkait dengan pendapat yang melarang merayakan tahun baru Hijriyah, maka bisa dijelaskan dalam poin berikut.

(a) Pendapat yang melarang didasarkan pada contoh kegiatan tahun baru Hijriyah yang tidak sesuai syariah. Padahal itu contoh bukan pengertian perayaan tahun baru Hijriyah, dan bukan satu-satunya contoh perayaan tahun baru Hijriyah. Tetapi ada banyak kegiatan lain yang baik sebagai contohnya. Jadi berbicara tentang hukum, tetapi yang dijelaskan contoh praktik yang terlarang.

(b) Pendapat yang melarang perayaan tahun baru Hijriyah didasarkan karena tidak ada dalil atau tidak pernah dilakukan Rasulullah SAW. Tetapi sebenarnya, tidak semua yang tidak dilakukan oleh Rasulullah SAW itu terlarang. Selama isi kegiatannya baik dan tidak ada yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah SAW, maka tidak ada dalil yang melarangnya.

Mungkin yang menjadi sumber pendapat yang melarang karena kata-kata perayaan yang terasosiasi dengan isi kegiatan hura-hura, menghambur-hamburkan, dan berlebihan.

Jika istilahnya diganti dengan mengisi kegiatan Muharram, maka asosiasinya akan positif. Padahal dalam syariah, yang menjadi standar bukan istilah (bukan nama), tetapi isi kegiatan, maksud kegiatan, dan cara melakukan kegiatan.

Selama ketiga hal itu sesuai dengan tujuan syariah dan tidak melanggar aturan, maka sudah sesuai syariah.

Wallahu a’lam.

Sumber: Republika 15 Juli 2023

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here