Allahu Robbul Alamin

Urgensi Dua Kalimat Syahadat (أهمية الشهادتين) (Bag-1)

Pemateri: Ustadz DR Wido Supraha

Materi ini mengingatkan kaum muslimin akan pentingnya dua kalimat syahadat yang telah sangat dikenal sejak pertama kali mengenal Islam, bahkan dihafal dan terus menerus diulang pengucapannya setiap hari.

Namun adakah di antara Anda yang memaknai untaian kalimat singkat namun penuh makna ini? Bukankah dua kalimat ini kita lafazhkan setiap harinya?

Bagaimana sesungguhnya urgensi dari kalimat yang merupakan gerbang pertama seseorang untuk masuk ke dalam agama Islam?

Aqidah berasal dari kata ‘aqoda, bermakna ma’qudah (yang terikat).

Aqidah bagaikan ikatan perjanjian yang teguh dan kuat, karena ia terpatri dalam hati dan tertanam di dalam lembah hati yang paling dalam. Aqidah adalah iman dengan semua rukunnya yang enam.

Rukun pertamanya adalah mengucapkan syahadatain, dua kalimat syahadat.[1]

Tegaknya Islam wajib didahului tegaknya rukun Islam. Tegaknya Rukun Islam wajib didahului tegaknya syahadah.

Maka sedemikian pentingnya syahadah ini sehingga ia perlu mendapatkan perhatian khusus agar mendapatkan pemaknaan yang shahih, menentukan kebahagiaan hidup kita, dunia dan akhirat.

Bersama syahadat, kita saksikan generasi awal pemeluk agama ini (السَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ) memiliki kesabaran di atas rata-rata ketika disiksa, ditawan, dipukuli, dan berhijrah.

Syahadatain, dua kalimat syahadat, dua kalimat yang diucapkan sebagai persaksian seorang Muslim.

Kalimat pertama menegaskan bahwa ‘Tidak Ada Tuhan yang disembah dengan sebenar-benarnya selain Allah’, dan kalimat kedua menegaskan bahwa ‘Muhammad Saw. adalah benar utusan Allah Swt.’.[2] Yang dimaksud dengan kalimat ini adalah makna hakikinya bukan sekedar lafazhnya.

Maka kemudian, kedua kalimat ini melahirkan loyalitas (wala’) dan penolakan (bara’), sebagai wujud kelurusan tauhid.

Muslim pun akan tergerak untuk hanya mengesakan Allah, selalu bergantung kepada Allah, mengingkari dan berlepas diri dari segalah sesuatu yang disembah selain Allah. [3]

Berkata Ibn Qayyim al-Jauziyyah, “Tauhid itu mengandung kecintaan kepada Allah, ketundukan dan merendahkan diri kepada-Nya, patuh dengan sebenarnya untuk ta’at kepada-Nya, memurnikan ibadah hanya kepada-Nya, menghendaki pertemuan dengan wajah-Nya Yang Maha Tinggi dengan segenap perkataan dan perbuatan, memberi dan menahan, mencinta dan marah karena-Nya, serta menghindarkan diri dari segala sesuatu yang menyeret pada kedurhakaan kepada-Nya.”[4]

Begitu pentingnya pemaknaan yang benar akan konsep syahadat, dan melihat begitu banyak penyimpangan dalam sejarah pengembangan agama ini, maka lahirlah disiplin ilmu tauhid.

Kehadiran ilmu tauhid ini merupakan salah satu bentuk perhatian terhadap aqidah Islam, baik dari sisi pemahaman, penarikan konklusi dalil, ataupun pembelaan terhadap ragam serangan yang telah pernah terjadi di masanya.

Ragam serang itu muncul karena lahirnya ragam pemikiran menyimpang sehingga membutuhkan upaya untuk pelurusan dan penguatan kembali.[5]

Bersyukurlah kita berada dalam keyakinan Islam. Islam dengan akidah ketuhanan menjadi penyempurna dan perbaikan bagi setiap akidah yang telah mendahuluinya dalam berbagai aliran keagamaan ataupun filsafat yang membahas masalah ketuhanan.[6]

Syahadatain merupakan awal sekaligus inti dari ber-Islam.
Syahadatain adalah akidah itu sendiri. Syahadatain adalah sesuatu yang kepadanya segala bentuk ketundukan sebagaimana makna ad-Din. Maka Islam adalah akidah, agama, dan manhaj hidup seorang mukmin.[7]

Syahadatin menjadi inti dan sumber motivasinya. Konsep ini membawa kita kepada keimanan dengan cara yang benar bahwa hanya kepada Allah kita beribadah, dan bahwa hanya Allah yang memiliki hak membuat syariat untuk manusia.[8]

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-Baqarah/2 ayat 143:

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan [95] agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”

Kata wasathan hanya satu kali ditemukan dalam Al-Qur’an, namun ada 4 kata lain yang menggunakan dasar kata yang sama didapati, dengan satu kata sebagai kata kerja.

Ummat wasathan adalah umat terbaik, sebagaimana dikatakan ‘Rasulullah wasathan fi qaumihi‘, dan sebagaimana Shalat Wustha adalah shalat terbaik. Ketika Allah menjadikan Ummat ini sebagai ummatan wasathan maka Dia memberikan kekhususan kepadanya dengan syari’at yang paling sempurna, jalan yang paling lurus, dan paham yang paling jelas.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Sa’id, juga disebutkan oleh Rasulullah bahwa kata al-wasath juga bermakna al-‘adl, adil dan pilihan.[9]

Kata syahadah dengan ragam bentuknya dapat ditemukan sebanyak 160 kata di dalam Al-Qur’an, 107 kata benda, dan 53 kata kerja. Sebagaimana kata ‘syahiidan’, dalam Surat An-Nisa’/4 ayat 41:

“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu.:

1. Pintu Masuk ke dalam Islam

Memasuki agama Islam sangatlah mudah, hanya dengan memformalkan pengucapan syahadatain di atas keimanan.

Namun sesuatu yang mudah ini sangat sulit dilakukan oleh kafir Quraisy yang sangat memahami makna di balik kalimat yang mudah diucapkan tersebut. Kandungan dan konsekuensi logis di balik kalimat tersebut telah menahan mereka untuk kembali ke jalan Islam, jalan hidayah nan penuh kasih.

Dikatakan ‘kembali’, karena asasinya, manusia telah pernah berjanji di alam ruh, untuk sentiasa menyembah Allah semata.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-A’raf/7 ayat 172;

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”.

(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata- kan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

Atau agar kamu tidak mengatakan:
“Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?”

Menurut Imam Jalaluddin Muhammad al-Mahalli, kata ‘min zhuhurihim‘ merupakan badal isytimal (kata ganti yang mencakup) dari kata-kata sebelumnya, ‘min bani Adam‘ dengan mengulang penyebutan huruf jar ‘min‘.[10]

Maka kemudian kita menyaksikan bagaimana Nabi Muhammad Saw. telah berupaya mengislamkan seluruh isi bumi ini semaksimal kemampuan yang ada saat tersebut, sebagaimana hadits ke-8 Arba’in An-Nawawiyah berikut ini:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَالَ : أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ، وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكاَةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَـهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ تَعَالىَ [رواه البخاري ومسلم

Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma sesungguhnya Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda:

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka melakukan hal itu maka darah dan harta mereka akan dilindungi kecuali dengan hak Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah ta’ala. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Allah Swt. juga berfirman dalam Surat Muhammad/47 ayat 19,

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.”

Kalimat ‘wastaghfir li dzanbika‘ mengikuti untaian kalimat tauhid menunjukkan bahwa ketidakkonsistenan antara pernyataan dan perbuatan merupakan dosa.

Maka selain menjaga kemurnian kalimat tauhid dengan amal ibadah yang shahih, seorang Muslim juga dituntut untuk tidak menyombongkan diri di atas kalimat tersebut, sebagaimana firman Allah dalam Surat Ash-Shaffat/37 ayat 35:

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri.

Maka hanya dengan ilmu-lah, seorang Muslim akan terhindar dari kesombongan diri, dan bersyahadat dalam arti yang sebenarnya. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surat Ali ‘Imran/3 ayat 18,

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu  (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Perlu diketahui bahwa kata paduan qa-sin-tha ini digunakan dalam 27 kata di dalam Al-Qur’an, dengan 14 kata di antaranya adalah kata ‘bil qisth‘. 24 kata darinya adalah kata benda, dan 3 kata merupakan kata kerja

2. Intisari Ajaran Islam

Syahadatain menjadi inti dari ajaran Islam.
Keimanan sebagai motivator kehidupan sekaligus asas amal. Gerak hati menjadi lebih penting daripada gerak jasmani.

Sebab hati sumber dan pengarah amal. Jika hati penuh dengan keimanan, keikhlasan, ketakwaan, maka amal jasmani mendapat ridha dan pahala dari-Nya. Maka wajib setiap Muslim untuk memperbaiki ibadah hati. [11]

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-Anbiya/21 ayat 25,

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.

Allah Swt. juga berfirman dalam Surat Al-Jasiyah/45 ayat 18,

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.”

Maka prinsip syahadatain yang menjadi intisari ajaran Islam adalah sebagai pernyataan penghambaan dan ibadah hanya kepada Allah. Pernyataan bahwa Rasulullah menjadi teladan dalam penghambahan dan ibadah tersebut.

Pernyataan bahwa penghambaan dan ibadah itu meliputi seluruh aspek kehidupan.

Bersambung


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

sabar dan ikhlas

SABAR, AKHLAK KAUM BERIMAN

Pemateri: Dr. Wido Supraha

Sabar merupakan pancaran (dhiyaa-un, lihat Shahih Muslim No. 223) keshalihan kaum beriman, keunikan yang tidak ditemukan kecuali  pada kaum beriman saja. Oleh karenanya, sabar bukanlah karakter yang bisa hadir secara instan, akan tetapi buah dari ikatan iman yang tinggi dan latihan ibadah yang terus menerus. Maka kualitas kesabaran  pun akan terus meningkat seiring semakin istiqomah-nya frekuensi interaksi manusia kepada Sang Pencipta.

Berkata Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, bahwa sabar hukumnya wajib berdasarkan al-Qur’an, as-Sunnah, dan Ijma’ Ulama, begitupun akal sehat manusia, dalam kitabnya ash-Shabrul Jamiil fii Dhau-il Kitaab was Sunnah. Dalam pendapat yang senada, Syaikh Yusuf al-Qaradhawy menghubungkan sabar dengan nilai spiritual tertinggi dalam Islam, sehingga dengannya Al-Qur’an begitu memuji kedudukan dan status orang-orang yang sabar, bahkan menegaskan kaitannya sabar sebagai prasyarat kebaikan dunia dan akhirat, dalam kitabny ash-Shabru fil Qur’an.

Ketika Allah Swt memerintahkan kaum beriman untuk bersabar dan meneguhkan kesabarannya (Q.S. 3:200), maka sesungguhnya Allah Swt mewajibkan kaum beriman untuk sabar dalam keta’atan hanya kepadaNya, sabar dalam menjaga diri dari kemaksiatan yang tampak indah di dunia, sabar dalam wujud ridha atas qadha dan qadar-Nya, bahkan lebih jauh dari itu, kualitas sabar dalam upaya yang sungguh-sungguh untuk menjadi pemenang atas musuh-musuh mereka. Jangan sampai musuh-musuh mereka justeru lebih sabar daripada kaum beriman. Sabar yang seperti inilah yang akan membawa kaum beriman kepada keberuntungan. Ibn Katsir menjelaskan bahwa keberuntungan di dunia dan di akhirat akan diperoleh oleh mereka.

Kaum beriman belum layak mendapatkan kabar gembira dari Allah Swt. manakala begitu mudahnya mereka berputus asa dari kasih sayang Allah, padahal Allah baru sedikit saja memberikan rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan hasil usahanya atas diri mereka (Q.S. 2:155). Padahal Allah Swt. tidak suka dengan kaum yang cepat berputus asa, bahkan menyiapkan siksaan sebagai balasannya. Maka manakah yang akan dipilih oleh kaum beriman, apakah pahala Allah yang tidak memiliki batas (Q.S. 39:10) ataukah siksaNya. Sampai disini, kaum beriman diajarkan untuk terus optimis dalam hidupnya, terus berfikir positif untuk masa depan kaumnya.

Mintalah pertolongan Allah agar dimudahkan berkarakter sabar, dan iringi do’a tersebut dengan shalat (Q.S. 2:153), niscaya Allah akan bersama mereka senantiasa dalam suka dan dukanya. Kemampuan kaum beriman untuk sabar dalam seluruh dimensi kehidupan mereka dan seluruh pengalaman kehidupan mereka akan disaksikan oleh Allah Swt. dengan jelas sebagai bukti keberhasilan Allah menguji mereka siapa yang benar-benar berjihad dalam hidupnya dan sabar (Q.S. 47:31).

Keseriusan kaum beriman untuk memperhatikan kualitas sabar dalam diri mereka harus menjadi keniscayaan, karena Allah Swt pun tidak mengulang-ulang satu perkara dalam Al-Qur’an lebih sering kecuali ketika menyebut masalah sabar. Lebih dari 90 tempat dapat kita temukan dalam lembaran-lembaran suci tersebut. Oleh karenanya bekal kesabaran adalah bekal terbaik dalam mengarungi kehidupan yang sebentar ini.

Para Nabi dengan tingkat keshalihan jauh di atas kaum beriman adalah sosok-sosok yang paling berat tatkala mendapatkan cobaan begitupun tatkala sakaratul maut mereka. Begitupun di kalangan kaum beriman, semakin kuat keimanan seseorang, ujian untuk mereka jauh lebih berat. Seakan Allah ingin memastikan apakah layak setiap manusia menempati posisi terbaik di sisiNya  dengan cara menguji keimanannya.

Ketika sakit Nabi Saw. merasakan panas tinggi dua kali lipat keumuman di masanya (lihat kesaksian Ibn Mas’ud dalam Shahih Bukhari dan Muslim (No. 2571). Ketika menjelang sakaratul maut pun, Anas dan Fathimah menyaksikan bagaimana Nabi Saw. beberapa kali tidak sadarkan diri merasakan begitu beratnya sakit yang dirasa (Fathul Bari VIII/149). Namun begitu, seorang Nabi hanya memikirkan satu hal dalam setiap penderitaan yang dialaminya, yakni bagaimana kualitas sabar kaum beriman di kemudian hari? Bahkan kebanyakan para Nabi memberikan teladan mereka menghadapi kebodohan dengan maaf dan toleransi, bahkan tatkala darah membasahi wajah mereka akibat perlakuan kaumnya, mereka bermunajat kepada Allah, “Allaahummaghfir li qaumii, fa innahum laa ya’lamuun). Lihat Shahih Muslim No. 1792.

Menurut Nabi Saw., sejak masa dahulu, kaum beriman senantiasa sabar dalam mempertahankan kehormatan iman mereka meski nyawa mereka harus menjadi balasannya (Shahih Muslim No. 3005). Tidak hanya Nabi Isa a.s. yang diberikan keutamaan oleh Allah Swt. untuk dapat berbicara ketika bayi, akan tetapi seorang bayi dari kalangan Bani Israil pernah tercatat dalam sejarah mampu berbicara kepada ibunya, ketika ibunya ragu apakah harus menjaga kehormatan imannya dengan cara menerima hukuman raja berupa masuk ke dalam kubangan api, ataukah melepaskan keimanannya. Bayi itu berkata, “Yaa ummahushbirii fa innaki ‘alal haqqi”. Ia termasuk satu dari tiga bayi yang ditetapkan Allah dapat berbicara semasa buaian.

Allah begitu memuliakan praktik sabar kaum beriman, khususnya sabar pada kesempatan pertama kali mereka harus menentukan antara sabar atau putus asa.  Ash-shabru ‘inda shadmatil uula (lihat Shahih Muslim No. 926). Sabar seperti inilah yang akan membawa kaum beriman sebagai kaum terpuji, sabar yang hadir pada waktu yang tepat, sebagai wujud keikhlasan. Maka meninggalkan kesabaran berarti meninggalkan ketaqwaan.

Bagaimana respon kaum beriman ketika mendapatkan kenikmatan? Apakah ia langsung syukur? Bagaimana respon kaum beriman ketika mendapatkan kesusahan? Apakah ia langsung sabar?

Sebuah musibah tidak serta merta menyebabkan kaum beriman mendapatkan pahala, karena musibah bukanlah aktivitas manusia. Akan tetapi respon awal kaum beriman terhadap musibahlah, bersama kebaikan niat, keteguhan, kesabaran, dan keridhaannya, yang akan mengundang respon balik dari Allah Swt. Nabi Saw. menginginkan cara pandang penderitaan menjadi nikmat dan ujian menjadi anugerah untuk kandungan pahala dan kesudahan yang luar biasa. Lihat Shahih Muslim No. 2999.

Tatkala kaum beriman mendapatkan musibah, menangis, duka cita, adalah wujud kasih sayang yang diciptakan Allah Swt untuk setiap hamba-Nya yang lembut, dan tidak menafikan kesabaran seseorang. Kata Nabi Saw. terkait air mata yang mengalir di pipinya melihat cucunya, Ali bin Abu Al-‘Ash, dari putri tertuanya, Zainab, sekaligus anak gadis Khadijah,  sedang sakit keras dan berada dalam sakaratul maut, “Hadzihi rahmatun ja’alahallaahu ta’aala fii quluubi ‘ibaadihi”, “fii quluubi man syaa-a min ‘ibaadihi, wa innamaa yarhamullaahu min ‘ibaadihirruhamaa-a.” Namun, menangis sembari meratap, menjadi terlarang bagi kaum beriman, seakan mereka tidak ridha dengan ketetapan Allah Swt.

Surga menjadi janji Allah Swt. kepada kaum beriman yang mampu sabar tatkala yang dicintainya lepas dari sisinya, apakah kekasihnya selama di dunia, penglihatan matanya, sampai kesabarannya dalam menderita penyakit menular di suatu negeri (hingga harus dikarantina), hingga kalaupun ia mati, Allah menganugerakan syahid baginya, karena senantiasa sabar mengharapkan ridha Allah Swt. (Lihat Fathul Bari VI/513).

Terkadang manusia menganggap bahwa penyakit yang ditimpakan kepada mereka adalah wujud bahwa Allah Swt. tidak sayang kepada mereka, padahal bagi kaum beriman justeru sebaliknya, penyakit justeru nikmat dari Allah Swt., karena dengan penyakit yang diturunkan Allah Swt. mereka mendapatkan kesempatan untuk dihapuskan segala kesalahan mereka (lihat Shahih Muslim No. 2573), bahkan dosa-dosa mereka akan digugurkan Allah Swt. laksana gugurnya dedaunan pohon (lihat Shahih Muslim No. 2571). Maka kita saksikan bagaimana Nabi Ayub a.s. dalam do’anya ia tidak meminta kesembuhan atas penyakit yang begitu berat ia derita, justeru ia menguatkan kasih sayang Allah Swt. dalam do’anya. (Q.S. 38:41-44).

Justeru bagi kaum beriman mereka akan merasa gundah gulana manakala tidak pernah ditimpakan cobaan di dunia, karena mereka mengetahui bahwa ciri seseorang itu dikehendaki kebaikan oleh Allah Swt. adalah dengan ditimpakannya cobaan atas mereka. Allah akan menyegerakan hukuman di dunia bagi hamba yang dikehendakinya kebaikan dan akan menahan kepada mereka yang akan memikul hukumanNya di akhirat. Dengan ujian tersebut kaum beriman akan semakin tinggi derajat, akan semakin terangkat posisinya, dan terhapus segala dosanya. Taqwa dan sabar pula yang telah membawa Nabi Ya’qub a.s. dan Nabi Yusuf a.s. mendapatkan balasan kebahagiaan dalam hidupnya. Bahkan sebagian ulama mengakui bahwa kualitas kesabaran Nabi Yusuf a.s. lebih tinggi dari Nabi Ya’qub a.s. dan Nabi Ayub a.s. karena kesabaran Nabi Yusuf a.s. bersifat ikhtiari (ada pilihan tatkala bersama  isteri al-Aziz pada waktu dan tempat yang sangat mendukung untuknya bermaksiat kepada Allah Swt.), sementara yang lainnya bersifat idhthirari (tiada jalan lain kecuali menerimanya).

Kaum beriman pun dilarang mengharapkan kematian tatkala merasa tidak mampu menghadapi ujian kehidupan dan da’wah. Kalaupun terpaksa yang diizinkan adalah berdo’a mengharapkan keputusan terbaik dari Allah Swt. dengan bermunajat “Allaahumma ahyinii maa kaanatil hayaatu khairan lii wa tawaffanii idzaa kaanatil wafaatu khairan lii.” (Lihat Shahih Muslim No. 2680). Khabbab bin al-Aratt pun tidak berani meminta kematian karena teringat larangan Nabi Saw. ini, meskipun pada saat itu ia disiksa dengan besi panas hingga tujuh kali. Nabi Saw. pun menceritakan bagaimana siksaan atas kaum beriman di masa sebelumnya jauh lebih berat lagi, dimana ada yang digergaji kepalanya menjadi dua bagian, ada yang yang disisir di bagian bawah kulit dan tulangnya dengan sisir besi, namun itu tidak menggoyahkan sabar-nya kaum beriman, karena kelak akan ada masa dimana kaum beriman tidak akan pernah khawatir berjalan dari Shan’a di Damaskus  menuju Hadramaut, dalam arti kemenangan dakwah kaum beriman.

Harapan untuk tetap hidup adalah baik bagi kaum beriman karena dengannya ia tetap dalam melanjutkan amal-amal shalihnya, dan hal ini bukan berarti kaum beriman benci bertemu Allah Swt. dengan kematiannya. Justeru dengan kehidupan, kaum beriman belajar untuk terus optimis menata kehidupan dunia  bersama seruan-seruan suci mereka mengajak lebih banyak pengikut ke dalam golongan kaum beriman dengan sabar sebagai karakter dasar.

Dengan sabar, kaum beriman pun semakin cerdas dalam menata amarahnya agar tidak tercampuri godaan syiathan. Nabi Saw. berpesan kepada orang yang berada dalam kemarahan untuk mengucapkan A’udzubillaahi minasysyaithaanirrajiim (Lihat Shahih Muslim No. 2610 yang merujuk Q.S. 7:200). Mereka yang berhasil menata amarahnya sehingga bernilai kebaikan, kelak akan dipanggil Allah Swt. di hadapan sekalian makhluk, sembari dipersilahkan memilih bidadari Surga sekehendak hatinya. Subhanallah. ‘Janganlah marah’ menjadi satu nasihat penting Rasulullah dalam beberapa kesempatan beliau,

Dengan demikian pada akhirnya kaum beriman tersadarkan bahwa ternyata semua bentuk ujian dan cobaan di dunia ini pada akhirnya bertujuan mensucikan kaum beriman sehingga menghadap Allah Yang Maha Tinggi kelak tanpa membawa dosa (Lihat H.R. at-Tirmidzi No. 2399) dan bertemu dengan Rasulullah di al-Haudh (Lihat Shahih Muslim No. 1845).

Allaahumma munzilal kitaabi, wa mujriyassahaabi, wa hazimal ahzaabi, ihzimhum wanshurnaa ‘alaihim.

(wido@supraha.com)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Pegang Teguh Tali Allah

USTADZ MENJAWAB: Siapakah Syiah?

Pertanyaan:

Kumpulan pertanyaan dari beberapa Group WhatsApp Majelis Iman Islam (Manis) terkait artikel “Siapakah Syi’ah?”, sbb.:
– Ttg Syiah nanti ada materi lanjutannya tidak mba? Karena yang saya tahu, syiah itu amat kurang ajar karena berani menghujat ummul mukminin istri nabi Muhammad SAW dan para sahabat nabi, padahal itu amat sangat dilaknat, “siapa yang telah menyakiti hati nabi Muhammad SAW berarti dia sudah keluar dari Islam”
– Apakah referensi2 yg tercantum di atas berasal dari ulama /pakar Sunni? Atau ada yg mewakili paham Syiah pula? Saya pribadi sangat penasaran utk bisa memahami konflik dalam tubuh umat seperti ini. Saya berpikir, bahwa jika sy berkesempatan utk tabayyun, belajar langsung dr mereka yg dianggap salah, maka sy bisa paham sebenar-benarnya, tanpa mesti terjebak pada potensi fitnah. Jadi, mungkin admin tau di mana sy bisa belajar pada majelis Syiah itu sendiri? mengingat selama ini sy sudah lebih banyak menyerap dari pihak Sunni yg memusuhinya. Allahua’lam bi shawab.
– Mengapa pd masa kekhalifahan Ali & Muawiyyah, Syiah smpai terbagi menjadi 2 golongan, yakni Syiah Ali & Syiah Muawiyyah, padahal dr kedua gol. tsb sama-sama beraqidah dan berfaham Al-Qur’an & As-Sunnah shngga disebut sbg Aswaja..? Apa yang menyebabkan keduanya mempunyai msg2 pndukung/ pmbela PADAHAL keduanya (Ali & Muawiyyah) sama2 salimul aqidah?
– Apakah dari banyaknya teori baru yg mreka (ulama & kaum syiah -red) miliki dalam Aqidah (spt kemakshuman para imam; Bada’; Raj’ah; & taqiyah/ zindiq -lihat pasal 9 pd pnjelasan materi trkait diatas) hal tsb yg MNYEBABKAN/ MNJADIKAN PERGESERAN/ PERKEMBANGAN IDEOLOGI “syiah” dr yg SMULA hny sbg ALIRAN POLITIK mnjdi sbuah ALIRAN AQIDAH & FIQH BARU (lihat pd awalan / pmbuka dr pasal kedua pd materi trkait diatas -red)….?????
– Apa yang harus kita lakukan untuk tidak terjebak ke dalam ajaran syiah? Ciri-ciri syiah itu bagaimana?
– Seharusnya ada tabel perbandingan bagaimana Sunni dan syiah. Disitu akan kelihatan perbedaan yg mendasar, bahwa syiah bukan Islam.
– Apakah semua syiah itu sesat? Sy sering dpt BC yg mencantumkan scra khusus istilah Rafidhoh, apakah golongan itu sj yg disebut sesat, atau bgmna?
– Apakah ada golongan syiah yg pemahamannya mendekati sunni?
– Bagaimana mengidentifikasi / membedakan golongan pd no.1&2 itu? Jika memang ada syiah yg pemahamannya msh selamat.
– Di beberapa negara sudah menyatakan melarang spt malaysia, . Untuk di Indonesia apakah kita sudah merumuskan bersama(seluruh ormas Islam) ? Mhn penjelasannya ust?
– Apakah syiah saat ini boleh dibilang sesat…?  Krn jelas sdh tdk bersumber dari qur’an dan sunnah. Dimana letak kesesatannya syiah? Mohon penjelasan lbh mendalam. krn banyak sekali hal2  mengerikan dari sepak terjang syiah disyiria. Yaman, dll. Semoga tdk terjadi di Indonesia.
– Bagaimana cara untuk membentengi diri. Keluarga dan Masyarakat dari pengaruh syiah+isme2 yg lainnya? Terima kasih atas pencerahannya. Mohon maaf bila ada yg kurang berkenan.
– Bagaimana sikap kita sebagai muslim menghadapi para pengikut syiah, apakah aktif menolak, dan menentang?
– Syiah sesat kenapa masi dperbolehkan naik haji si?
– ‘Afwan, bukannya pendiri sikte syiah abdullah bin saba’, yaitu org yahudi Yg pura2 masuk islam, jdi dengan ini sikte syiah sudah sesat dari dulu??

Jawaban:

Oleh: Dr. Wido Supraha

Assalamu ‘alaikum warahmatullah,

Artikel berjudul ‘Siapakah Syi’ah’ ditulis dengan asumsi awal bahwa seluruh peserta grup telah bersepakat akan kesesatan ajaran syi’ah. Persoalannya kemudian adalah bagaimana kontribusi kita untuk dapat mengobati mereka yang terjangkiti wabah virus syi’ah. Pengobatan tidak bisa dilakukan sebelum kita mengetahui sumber persoalannya, dan sumber persoalan itu ada pada metodologi dan struktur keilmuan syi’ah. Jangankan syi’ah, aliran sesat seperti ‘lia eden’, yang dipimpin oleh seorang wanita yang kurang waras pun diikuti oleh bukan sembarang orang, minimal diketahui diikuti juga oleh sekaliber profesor. Maka bagaimana metodologi umat Islam dalam menuntut ilmu adalah menjadi sesuatu yang jauh lebih penting, karena persoalan kehidupan tidak hanya satu, sementara metodologi yang benar akan memudahkannya untuk melakukan filterisasi terhadap seluruh arus informasi sebelum menjadikannya ilmu dan membentuk struktur berpikir di dalam jiwanya. Mengobati dengan mengetahui persoalan utamanya akan jauh lebih efektif, terlebih ketika cara kita dalam mengobati sesuatu terus menerus saling disempurnakan dalam kebersamaan kita, diperkaya dengan pengalaman dari seluruh sahabat-sahabat Group Manis yang akan meningkatkan kualitas kebersamaan kita dalam mempertahankan kemurnian aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Maka tulisan terkait Syi’ah memang tidak akan cukup dengan satu tulisan pembuka tersebut dan hal yang lebih penting berikutnya adalah bagaimana kita pun dapat menjawab syubhat-syubhat yang dipropagandakan syi’ah secara ilmiah. Insya Allah, tulisan berikutnya dengan tema yang lebih mendalam akan dituliskan.

Referensi dalam tulisan tersebut seluruhnya diambil dari para pembela ahlus sunnah yang telah mengkaji perbandingan antara Sunni – syi’ah dalam waktu yang lama. Nama-nama yang dikutip dikenal sebagai ulama yang juga terlibat dan berkontribusi aktif membela Aqidah Ahlus Sunnah dari ragam penyimpangan manusia. Sebagai contoh Prof. Dr. Ahmad bin Sa’ad al-Ghamidi. Buku yang ditulisnya betul-betul merupakan hasil diskusi dan surat-menyurat dengan seorang yang juga Guru Besar dari negeri syi’ah iran, bahkan mengajar di 8 universitas di negeri tersebut, Prof. Dr. Muhammad al-Qazwini. Dengan semangat taqiyah-nya, al-Qazwini mengunjungi Syaikh al-Ghamidi pada bulan Ramadhan 1423H untuk tujuan awal dialog dan taqrib antara Sunni dan syi’ah. Ketika Syaikh al-Ghamidi menyetujuinya, sejak saat itulah hingga dua tahun kemudian, surat-menyurat di antara mereka terus berlangsung secara intens, dan syaikh al-Ghamidi berhasil mempertahankan pendapatnya secara ilmiah dan penuh hikmah terhadap seluruh hujjah yang disampaikan oleh orang syi’ah tersebut. Berikutnya Syaikh asy-Syatsri, beliau sebagai pengajar tetap di Masjid Quba, Saudi Arabia, telah melahirkan karya untuk menjawab seluruh syubhat yang dipropagandakan syi’ah, tidak dengan dalil-dalil Ahlus Sunnah, namun seluruhnya menggunakan referensi kitab-kitab mu’tabar syi’ah, sehingga umat mengetahui begitu rapuhnya struktur ilmu mereka, bahkan pertentangan demi pertentangan hadir dalam sejarah mereka, sehingga tidak mengherankan jika syi’ah terpecah dalam kelompok-kelompok sekte dalam jumlah yang cukup banyak. Imam Syahrastani dalam kitabnya yang membahas aliran-aliran dalam Islam, bahkan membagi syi’ah kepada lebih dari 30 golongan[1]. Perbedaan yang membesar berawal dari ketidaksepakatan akan siapa yang tepat sebagai pengganti Husain.[2] Aqidah syi’ah yang mengagungkan taqiyah akan membuat sulit bagi mereka yang berkeinginan ‘tabayun’, karena bagi umat Islam yang awam, dan tidak memiliki pondasi aqidah dan bahasa yang kuat, dikhawatirkan akan dengan mudah jatuh ke dalam pelukan syi’ah, sementara para ulama otoritatif pun telah pernah mencoba model pendekatan seperti ini dengan seluruh kapasitas yang mereka miliki, dan kemudian berakhir dengan kekecewaan demi kekecewaan.

Definisi syi’ah dalam masa awal generasi sahabat adalah definisi dalam hal bahasa, sementara syi’ah dalam definisi kekinian dan yang menjadi materi tulisan ini adalah definisi dalam hal teologi baru/bid’ah. Ali r.a. dan Mu’awiyah r.a. adalah termasuk di antara dua sahabat terbaik Rasulullah Saw., dan termasuk dua sahabat yang dipastikan masuk ke Surga-Nya Allah Swt. Terpecahnya ijtihad di antara mereka adalah realitas kehidupan dimana masing-masing memiliki cara pandang tersendiri terhadap apa yang seharusnya menjadi prioritas dalam kepemimpinan, dan ini tidak masuk dalam bab Aqidah yang Lurus. Pembahasan akan perselisihan di antara keduanya, termasuk perselisihan di antara Ali r.a. dan Aisyah r.a. dapat dibahas dalam tema Sirah, agar tidak tercampur fokus kita pada pembahasan syi’ah dalam terminologi teologi baru. Awal ‘terbitnya’ teologi syi’ah adalah sejak mulai aktifnya Abdullah ibn Saba’. (Lihat penjelasan tentang sosok ini pada paragraf terakhir tulisan ini).

Seorang muslim sudah seharusnya berkonsentrasi memperkuat struktur keilmuan yang ada pada dirinya, membangunnya dengan metodologi studi yang benar dan terbukti telah melahirkan para sarjana Islam yang menghadirkan kegemilangan peradaban dan warisan yang teramat kaya. Dengan cara inilah, ia akan terhindar dari ketertarikan menganut syi’ah, dan aliran sesat lainnya seperti lemkari, ahmadiyah, ingkarus sunnah, liberalisme, pluralisme, sekularisme, komunisme, dan lainnya. Dari banyak kasus yang didapati, mereka yang tertarik masuk ke dalam aliran-alirat sesat sempalan adalah mereka yang tidak memiliki latar belakang pondasi agama yang kokoh, sehingga ada banyak cara untuk menarik orang-orang seperti ini seperti melalui ‘pembangkitan emosi jiwa’, tawaran kenikmatan dunia, dan hal-hal lainnya. Adapun ciri-ciri kesesatan syiah itu sendiri akan dibahas dalam tulisan-tulisan berikutnya tentang tema ini, termasuk hal-hal detail seperti tabel perbandingan Sunni-syiah.

Ketika kita mentadabburi Al-Qur’an, akan kita dapatkan bahwa ketika menggunakan terma kebenaran (al-haqq), Allah Swt menggunakan terminologi ‘tunggal’, namun ketika menggunakan terma kesesatan (adh-dhalal), Allah Swt menggunakan terminologi ‘plural’. Famadza ba’da al-haqqi illa adh-dhalaali. Hal ini untuk menggambarkan bahwa realitas kebenaran hanya satu, sementara jalan-jalan yang dapat menarik manusia ke jalan kesesatan sangatlah banyak, maka Rasulullah Saw. telah mengingatkan kita untuk tetap fokus kepada ‘shirathal mustaqim’, bahkan memvisualisasikannya di atas pasir kepada para sahabat, untuk menegaskan hal tersebut.

Kesesatan adalah terminologi bagi jalan yang tidak berada dalam shirathal mustaqim, dan jalan kebenaran itu hanya dapat diperoleh ketika para penuntut ilmu taat kepada perintah Nabi-nya untuk berpandukan hanya kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan keduanya telah diakui oleh para sarjana baik di Timur maupun di Barat tentang bagaimana keduanya telah terjaga hingga hari ini dengan metodologi ilmiah yang dapat diterima oleh semua pihak. Sementara syi’ah memiliki persoalan besar dalam hal ini, sehingga wajar ajaran agama terkesan berubah-ubah. Sebagai contoh utama, syi’ah meyakini bahwa sumber keilmuan mereka tersimpan di sisi para imam mereka, dan para imam mewarisi kitab-kitab dan ilmu yang tidak diwarisi oleh selain mereka, seperti Kitab: Shahifah al-Jami’ah, Ali, al-‘Abithath, Diwan asy-Syi’ah, dan al-Jafr. Seluruh kitab tersebut diklaim berisi segala yang diperlukan manusia di dunia.[3] Sejarah pun mencatat bahwa gerakan pemalsuan hadits dengan motif kultus para tokoh telah terjadi di Kufah, Irak, saat negeri itu menjadi basis Syi’ah. Pemalsuan besar-besaran yang terjadi saat itu telah merusak reputasi negeri Irak, hingga Irak menjadi populer disebut dengan Dar adh-Darb (Negeri Pencetakan Hadits) [4], sebuah istilah bermakna negatif. Namun begitu, tingkat kesesatan atas sesuatu sudah pasti berbeda-beda dalam derajatnya, mulai dari yang lebih dekat kepada Sunni, hingga yang paling jauh kesesatannya sehingga terjatuh ke dalam kekufuran. Hal yang membedakannya ada pada sejauh mana penyimpangannya dari jalan kebenaran yang telah diwariskan oleh Nabi kita yang mulia, Saw. Lebih detail akan penyimpangan syiah dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan selanjutnya, karena sedemikian tingginya gunung kesesatan mereka yang tidak mungkin dapat ditulis dalam satu dua bait kalimat. Menuntut ilmu memang bertujuan untuk memiliki kemampuan mengidentifikasi, bukan taklid.

Banyak negara di luar sana telah jauh-jauh hari memiliki peraturan untuk membentengi aqidah rakyat negerinya. KH. Hasan Basri, Ketua MUI Pusat di tahun 1997 menyebutkan bahwa pada bulan April 1993 Ulama Indonesia, Malaysia, dan Singapura telah diundang oleh Brunai dalam satu Seminar Aqidah. Hadir pada saat itu Rais Aam NU, KH. Ilyas Ruhiat, dan Ketua Umum Muhammadiyah dari Yogya, KH. Azhar Basyir. Seminar itu melahirkan deklarasi bersama, bahwa keempat negara dimaksud adalah Negeri Sunni bukan syi’i. Bahkan Brunei Darussalam disebutkan sebagai negara kecil yang bahkan memfilter syi’ah sejak dari urusan keimigrasiannya, karena syi’ah lebih berbahaya dari sekedar ekstasi dan narkotika, karena meracuni Aqidah, sementara ekstasi dan narkotika hanya meracuni fisik. MUI telah jauh-jauh hari memutuskan kesesatan aqidah syi’ah, bahkan KH. Hasan Basri mengatakan kepada para duta-duta besar yang mendatanginya untuk bertanya mengapa MUI tidak menyetujui syi’ah, “Kami menyelamatkan aqidah kami, menyelamatkan ummat kami.”[5]

Ketua Lajnah Falakiah PBNU, KH. Irfan Zidny, MA., menegaskan bahwa meskipun ia pernah tinggal 18 tahun di negeri-negeri yang mayoritasnya penganut syi’ah, berinteraksi dengan para ulama syi’ah, namun beliau tidak pernah tertarik menjadi penganut syi’ah. Maka menguatkan pemahaman kita akan hakikat Sunni akan menjaga kita dari penyimpangan. KH. Irfan Zidny mengutip Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali (450-505 H),
“Untuk mengetahui kesesatan suatu aliran, sebelum lebih dahulu mengetahui tentang hakikat aliran tersebut, maka hal tersebut adalah tidak mungkin (muhal), bahkan hal yang demikian itu termasuk sikap yang ngawur dan sesat.”[6]

Jika kaum muslimin telah mengetahui hakikat dan jati diri syi’ah, maka tentunya diharapkan sekali agar seluruh penuntut ilmu bahu-membahu bersama-sama melakukan gerakan ‘pengobatan nasional’, penyadaran kepada mereka yang telah terjangkiti virus ini, dengan penuh hikmah, pelajaran yang baik, dan perdebatan yang juga lebih baik. Di satu sisi, kaum muslimin juga diharapkan untuk terus mendorong para pemangku kebijakan strategis untuk terus mempersempit ruang gerak syi’ah di Indonesia, negeri tercinta. Potensi kerusakan yang akan dihasilkan ajaran syi’ah telah terbukti di beberapa negara arab dan afrika, hal ini tidak terlepas dari dogma yang mereka yakini bahwa siapapun yang tidak berkiblat kepada syi’ah imam dua belas, maka dia kafir, di dunia dan akhirat. Syi’ah sangat bermudah-mudah dalam melakukan pengkarifan, karena memang Syi’ah adalah gerakan takfiri.[7] Maka itulah posisi Ahlus Sunnah di dalam jiwa mereka, sehingga tidak mengherankan jika mereka tidak memiliki belas kasih sama sekali dalam seluruh pertarungannya terhadap Ahlus Sunnah.[8] Ahlus Sunnah bukanlah Islam menurut Khomeini, dan dilarang menikahi wanita-wanita Ahlus Sunnah, dalam risalahnya At-Ta’adul wa at-Tarjih, hlm. 82.[9]

Bagi kaum muslimin yang pernah berhaji dan menemukan penganut syiah di sana, maka ketahuilah bahwa tidak semudah itu melarang syi’ah masuk ke Haramain (dua kota suci). Hal ini karena tidak semua warga Iran sebenarnya mengerti tentang ajaran syi’ah kecuali hanya warisan budaya turun temurun. Cara-cara yang digunakan pemerintah Saudi termasuk cara-cara yang bisa disebut lebih toleran, di antaranya berdalil kepada sikap Nabi Saw yang juga tidak pernah mengusir kaum munafik dari Haramain, padahal Nabi Saw tahu persis siapa-siapa yang munafik dari kalangan umatnya. Pemahaman bahwa sekte syi’ah bukanlah sekte seumur jagung, perlu mendapatkan penanganan yang teramat khusus, terlebih ketika perpecahan di tubuh mereka sangat banyak, bahkan ada yang dianggap lebih dekat kepada Ahlus Sunnah, seperti sekte Zaidiyah. Rakyat Iran misalkan, tidak semuanya menganut syi’ah, di KTP mereka tertulis Islam, bukan syi’ah, dan revolusi mereka juga disebut revolusi islam, bukan revolusi syi’ah, maka tentu membutuhkan keahlian khusus untuk dapat memastikan bahwa betul-betul seseorang itu bukan sedang bertaqiyyah. Menjadi lebih rumit jika yang masuk adalah dari negeri selain Iran. Mudah-mudahan dengan masuknya orang-orang bodoh dari penganut syi’ah yang tidak mengetahui persis ajaran syi’ah, dapat mengambil hikmah dan faidah yang banyak dari Ahlus Sunnah dalam seluruh aspek Islam yang dihidupkannya, mulai dari aqidah, ibadah dan tentunya akhlak, dan tersadarkannya mereka dari ragam bentuk ibadah yang bersifat berlebih-lebihan (ghuluw). Adapun bagi mereka yang sangat kuat pondasi kesyiahannya, mungkin dapat diingatkan untuk tidak perlu datang ke Haramain, karena mereka tentu memiliki kota suci tersendiri. Da’wah adalah hal terbaik yang dapat kita lakukan hari ini, dikarenakan Sunni dan syi’ah adalah dua teologi yang berbeda ‘meja’, dan memiliki perbedaan prinsipil yang mustahil disatukan.[10] Dr. ‘Utsman bin Muhammad al-Khamis sampai menulis 28 renungan kepada para penganut syi’ah, dan menjabarkannya dari hati ke hati, mencoba semaksimal mungkin menggunakan ragam bahasa yang ditujukan untuk penyadaran mereka.[11]

Terakhir, Abdullah bin Saba’ — seorang Yahudi yang baru masuk islam di masa kepemimpinan ‘Utsman bin ‘Affan,namun tidak mencerminkan kepribadian Islam sama sekali [12] — memang dengan tegas disebutkan dalam banyak kitab syi’ah dan juga kitab Ahlus Sunnah sebagai tokoh utama yang mempopulerkan tentang keimaman Ali r.a., dan pelopor dalam pencacian terhadap mertua dan menantu Rasulullah Saw.: Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman r.a., bahkan yang pertama memunculkan pendapat tentang reinkarnasi, menuhankan Ali, dan kesesatan lainnya. Maka semenjak itulah kesesatan mulai ditaburkan, dan mereka yang terjerembab ke dalam keyakinan ini telah jatuh ke dalam kesesatan yang nyata. Saya teringat kepada Sayyid Husain al-Musawi (sebagaimana kesaksian seorang pakar aliran syi’ah, Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairi), seorang ulama besar syi’ah di Najaf, kawasan syi’ah terbesar di dunia, yang akhirnya bertaubat dan kembali kepada Ahlus Sunnah, beliau menjelaskan bahwa ajaran di internal mereka menyatakan bahwa sosok Abdullah bin Saba’ adalah rekayasa Ahlus Sunnah untuk menyerang syi’ah dan keyakinannya. Namun faktanya, ternyata informasi itu sangat banyak ditemukan di dalam kitab-kitab induk mereka. Inilah salah satu alasan al-Musawi kemudian bertemu dengan cahaya kebenaran Ahlus Sunnah sebelum kemudian beliau terbunuh.[13]

Wallaahul musta’an,

Wassalamu ‘alaikum warahmatullah,

Maraji’
====
1. Muhammad ibn ‘Abd al-Karim Ahmad al-Syahrastani, Al Milal wa al-Nihal.
2. Tim Penulis Buku Pustaka SIDOGIRI Pondok Pesantren Sidogiri, Mungkinkah Sunni-syi’ah dalam Ukhuwah?, Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab, Sidogiri: Pustaka Sidogiri, 2008, Cetakan II, hlm. 53.
3. Sulaiman bin Shalih al-Kharasyi, As’ilah qadat syabab asy-syi’ah ila al-Haq
4. Amin Muchtar, Hitam di Balik Putih, Bantahan Terhadap Buku Putih Madzhab Syi’ah, Depok: Al-Qalam, 2014, hlm. 80.
5. Sambutan Ketua MUI Pusat dalam Seminar Nasional Sehari tentang Syi’ah di Aula Masjid Istiqlal Jakarta, 21 September 1997
6. Ketua Lajnah Falakiah PBNU, KH. Irfan Zidny, MA., dalam makalahnya berjudul ‘Bunga Rampai Ajaran Syi’ah’
7. Hamid Fahmy Zarkasyi dan Henri Shalahuddin, Teologi dan Ajaran shi’ah Menurut Referensi Induknya, Jakarta: GIP, 2014, hlm. 270.
8. Imad Ali Abdussami, Khiyanat asy-syi’ah wa Atsaruha fi hazaim al-Ummah al-Islamiyyah, Iskandariyah: Dar al-Iman, Tanpa Tahun.
9. Muhammad Malullah, Mauqif al-Khumaini min Ahlis Sunnah
10. Prof. Dr. Mohammad Baharun, Guru Besar Sosiologi Agama, Epistemologi Antagonisme Syi’ah dari Imamah sampai Mut’ah, Malang: Pustaka Bayan, 2008, hlm. 6.
11. ‘Utsman bin Muhammad al-Khumais, Minal Qalbi ila al-Qalbi, al-Minhaj, 2009
12. Ibn Khaldun, Tarikh Ibn Khaldun, Juz 2, hlm. 139-161.
13. Sayyid Hussain al-Musawi, Tsalatsatun Rukhshah Syar’iyyah li an-Nisa, Dar ZHil asy-Syarif, Tanpa Tahun.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

puasa di bulan Muharram

Muharram Bulan Allah, Bukan Bulan Sial Apalagi Bulan Syi’ah

📝 Pemateri: DR. WIDO SUPRAHA

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Muharram, Syahrullah, bulan Allah, segera tiba.

Bulan penuh keutamaan amal shalih seperti puasa, berarti keutamaan juga untuk amal shalih lainnya seperti resepsi pernikahan, sunatan, aqiqah, perjalanan jauh, dan sejenisnya.

Generasi terbaik umat Islam telah mengisi bulan Muharram dengan memperbanyak amal shalih, dan menjaga diri mereka dari berperang kecuali jika diperangi musuh.

Allah Swt. telah berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّہُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَہۡرً۬ا فِى ڪِتَـٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡہَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٌ۬‌ۚ ذَٲلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ‌ۚ فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيہِنَّ أَنفُسَڪُمۡ‌ۚ وَقَـٰتِلُواْ ٱلۡمُشۡرِڪِينَ كَآفَّةً۬ ڪَمَا يُقَـٰتِلُونَكُمۡ ڪَآفَّةً۬‌ۚ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلۡمُتَّقِينَ (٣٦)

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.

Itulah [ketetapan] agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (Q.S. At-Taubah/9:36)

Abu Muhammad Makki ibn Abi Thalib Hammusy ibn Muhammad ibn Mukhtar Al-Qaisi al-Qairawani al-Andalusi al-Qurthubi al-Maliki (355-437H) berkata, “Empat bulan yang dimaksud dalam ayat di atas adalah Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram”.

وهن: رجب، وذو القعدة، وذو الحجة والمحرم

(Al Hidayah ila Bulugh an-Nihayah fi ‘Ilmi Ma’ani al-Qur’an wa Tafsiruhu, wa Ahkamuhu wa Jamalu min Fununi ‘Ulumihi, Maktabah Syamilah).

Hal ini juga telah dijelaskan Nabi Saw. dalam salah satu khutbahnya,

“Sesungguhnya zaman  telah bergulir seperti saat hari ketika diciptakannya langit dan bumi. Satu tahun terdiri atas 12 bulan, dan di antaranya ada 4 bulan haram, 3 bulan berturutan yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan kemudian bulan Rajab yang berada di antara Jumadil Akhir dan Sya’ban. (HR. Bukhari No. 59, HR. Muslim No. 1679)

إن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق السموات والأرض، السنة اثنا عشر شهراً منها أربعة حرم ثلاث متواليات ذو القعدة وذو الحجة والمحرم، ورجب مضر الذي بين جمادى وشعبان

Muhammad ibn ‘Abdurrahman ibn Muhammad ibn ‘Abdullah al-Husni al-Ihabi asy-Syafi’i (832-905H) mengutip pendapat sebagian ulama bahwa larangan untuk berbuat aniaya (kezhaliman) pada ‘فيهن’ merujuk kepada ‘اثنا عشر شهراً’ dimaksud, sehingga tidak terbatas pada empat bulan saja.

Demikian tegas larangan tersebut disampaikan agar manusia mengisi seluruh bulan dengan ketaatan.

والطاعة فيها أعظم أجراً

Dan ketaatan yang dilakukan di bulan haram, sangat besar pahalanya. (Tafsir al-Iji Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an, Maktabah Syamilah)

🔑Jika ketaatan yang diamalkan di bulan Muharram akan mendapatkan pahala yang besar, maka penyimpangan keyakinan dan kemaksiatan yang dilakukan di dalamnya pun mendapatkan balasan yang besar.

Tidak pantas bagi manusia mengisinya dengan keyakinan bahwa bulan Muharram adalah bulan sial, sebagaimana tidak pantas bagi manusia untuk menganiaya dirinya di bulan suci.

Meyakini segala waktu, terlebih bulan Allah, sebagai waktu yang akan melahirkan kesialan adalah keyakinan batil yang akan menyakiti Allah Swt.

Rasul Saw. bersabda, “Janganlah kalian mencela waktu karena Allah Dialah (pencipta) Ad-Dahr. (HR. Muslim No. 5827)

لاَ تَسُبُّوا الدَّهْرَ؛ فَإِنَّ اللهَ هُوَ الدَّهْرُ

Sebagaimana Allah Swt telah berfirman dalam sebuah hadits Qudsi:

“Anak Adam telah menyakiti-Ku; ia mencela dahr (waktu), padahal Aku adalah (pencipta) dahr.
Di tangan-Ku segala perkara, Aku memutar malam dan siang.” (HR. Bukhari No. 2042, Muslim No. 3326)

يؤذيني ابن آدم يسب الدهر، وأنا الدهر، بيدي الأمر أقلب الليل والنهار

Demikian juga dengan beramal, terlebih beramal di bulan Allah dengan amalan yang bersifat menganiaya diri, melukainya, bahkan menyebabkan kecacatannya, hingga kematiannya, sebagaimana perilaku sebagian Syi’ah, bukanlah ciri umat Nabi Muhammad Saw, merujuk peringatan beliau:

“Bukanlah golongan kami sesiapa yang menampar pipi, merobek-robek kantong baju, dan beramal dengan amal jahiliyah”. (HR. Bukhari No. 1294, Muslim No. 103)

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّة

💡🔑 Menjaga iman agar tetap berada dalam pemahaman yang lurus, dan menghidupkan amal agar selalu merujuk kepada ilmu adalah hal yang asasi dalam kehidupan dunia.

Semoga hal itu mudah bagi kita.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Majelis ilmu

INGINKAH DERAJAT KITA DITINGGIKAN ALLAH SWT?

Oleh: Dr. Wido Supraha
Telah berkejaran manusia di muka bumi untuk meraih derajat tertinggi di mata manusia. 
Untuk tujuan ‘besar’ ini, seluruh macam pengorbanan pun dilakukan setulus hati, tanpa mengenal lelah dan waktu.
Untuk derajat yang didambakan di dunia terkadang bahkan yang halal menjadi haram, dan yang haram menjadi halal.
Adakah pernah terbersit di dalam hati kerinduan mendapatkan derajat yang tinggi dari Pemilik manusia? Jika keinginan itu pernah ada, adakah upaya yang kita kerahkan jauh melebihi upaya kita meraih derajat tertinggi di mata manusia.
Allah Swt telah menjanjikan derajat itu di dalam Surat Mujadilah/58 ayat 11,
يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَـٰتٍ۬‌ۚ
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
 Syaikh Ahmad al-Musthafa al-Maraghi menjelaskan bahwa makna dari ayat tersebut adalah bahwa Allah Swt akan meninggikan orang-orang yang diberikan ilmu di atas imannya kepada Allah Swt dengan banyak tingkatan (derajat), atau meninggikan orang-orang yang berilmu dari kalangan orang-orang beriman secara khusus dengan banyak tingkatan karamah dan ketinggian martabat.
ويرفع الذين أوتوا العلم درجات ، أي ويرفع العالمين منهم خاصة درجات فى الكرامة وعلوّ المنزلة.
(Mufradaat al-Qur’an, Maktabah Syamilah)
 Al-Imam Al-Baghawi menegaskan bahwa seorang mukmin yang berilmu posisinya berada di atas orang-orang yang tidak memiliki ilmu beberapa derajat.
المؤمن العالم فوق الذي لا يعلم درجات
(Ma’alim at-Tanzil fi Tafsir al-Qur’an, Maktabah Syamilah)
Al-Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa balasan bagi orang-orang yang berilmu berupa balasan terbaik di akhirat dan berupa karamah di dunia, dan Allah Swt meninggikan orang-orang mukmin di atas selain mukmin, dan orang-orang berilmu di atas orang-orang yang tidak memiliki ilmu.
الثَّوَابِ فِي الْآخِرَةِ وَفِي الْكَرَامَةِ فِي الدُّنْيَا، فَيَرْفَعُ الْمُؤْمِنَ عَلَى مَنْ لَيْسَ بِمُؤْمِنٍ وَالْعَالِمَ عَلَى مَنْ لَيْسَ بِعَالِمٍ
Beliau juga menjelaskan bahwa Allah Swt meninggikan orang-orang mukmin karena keimanannya terlebih dahulu, baru kemudian meninggikannya lebih tinggi lagi dengan ilmu yang dimilikinya.
فَيَرْفَعُ الْمُؤْمِنَ بِإِيمَانِهِ أَوَّلًا ثُمَّ بِعِلْمِهِ ثَانِيًا
Berkata Ibn ‘Abbas r.a. bahwa Nabi Sulaiman a.s. telah diberikan kesempatan untuk memilih antara ilmu, harta dan kerajaan, maka ia lebih memilih ilmu. Ternyata dengan pilihannya itu ia juga dikaruniai harta dan kerajaan sekaligus.
وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ: خُيِّرَ ]سُلَيْمَانُ] عَلَيْهِ السَّلَامُ [بَيْنَ الْعِلْمِ وَالْمَالِ وَالْمُلْكِ فَاخْتَارَ الْعِلْمَ فَأُعْطِيَ المال والملك معه.
(Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, Maktabah Syamilah)
Abu al-‘Abbas al-Basili at-Tunisi (830H) ketika menafsirkan ayat tersebut mengutip pendapat Ibn Mas’ud r.a. yakni bertambahnya derajat dalam agama mereka jika mereka mengerjakan apa yang diperintahkan dengannya.
دَرَجَاتٍ فِي دِينِهِمْ إِذَا فَعَلُوا مَا أُمِرُوا بِهِ
(Nuktun wa Tanbihatun fi Tafsir al-Qur’an al-Majid, Maktabah Syamilah).
Al Imam Ibn Katsir menambahkan penjelasannya bahwa Allah Swt Maha Mengetahui orang-orang yang memang berhak mendapatkan hal tersebut dan orang-orang yang tidak berhak mendapatkannya.
Beliau mengangkat satu kisah ketika Khaliah ‘Umar r.a. bertanya kepada Nafi’ bin ‘Abdil Harits r.a., pemimpin Makkah yang telah beliau angkat,
“Siapakah yang engkau angkat sebagai khalifah atas penduduk lembah?” Nafi menjawab:”Yang aku angkat sebagai khalifah atas mereka dialah Ibn Abzi, salah seorang budak kami yang telah merdeka.”
Maka ‘Umar r.a. bertanya: “Benarkah engkau telah mengangkat seorang mantan budak sebagai pemimpin mereka?”
Nafi menjawab:” Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya di adalah seorang yang ahli membaca Al-Qur’an, memahami ilmu waris dan pandai berkisah.”
Lalu ‘Umar r.a. pun mengutip sabda Nabi Saw., “Sesungguhnya Allah Swt mengangkat suatu kaum karena Al-Qur’an ini dan merendahkan dengannya juga sebagian lainnya.”
إن اله يرفع بهذا اكتب قوما و يضع به آخرين
(Muhammad Ali Ash-Shabuni, Mukhtashar Tafsir Ibn Katsir, Beirut: Dar Al-Fikr, Tanpa Tahun, hlm. 465)
Syaikh Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa ayat ini turun di hari Jum’at, sebagaimana riwayat dari Muqatil melalui Ibn Abi Hatim, dimana adanya kaum muslimin dari Ahlu Badr yang tentu telah dikenal sebagai kaum yang lebih awal masuk ke dalam Islam, lebih terhormat posisi dan kedudukannya, datang ke majelisnya Rasulullah Saw, namun tidak mendapatkan tempat untuk duduk sehingga mereka berdiri. Tingkat keilmuan mereka memberikan hak lebih kepada mereka atas dasar kehormatan para Ahlu Badr. (Tafsir al-Wasith, Jakarta:GIP, Jilid 3, hlm. 612)
Ayat ini menjadi ayat yang dipilih oleh Al-Imam Al Bukhari sebagai awal dari Kitab Ilmu dalam Shahih Bukhari. Al Hafizh Ibn Hajar Al Atsqalani menjelaskan bahwa derajat yang tinggi mempunyai dua konotasi, yaitu secara ma’nawiyah di dunia dengan memperoleh kedudukan yang tinggi dan reputasi yang bagus, dan hissiyah di akhirat dengan kedudukan yang tinggi di Surga. (Fathul Bari, Jilid 1, Jakarta: Pustaka Azzam, 2002, hlm. 263)
Jika derajat dari Pemilik manusia yang kita harapkan, dengan izin-Nya, derajat di sisi manusia akan diperoleh dengan penuh keberkahan.
Namun jika hanya derajat dari manusia yang diharapkan, khawatirlah jika kehinaan yang disematkan-Nya di akhirat kelak. 
Wallahul musta’an.

Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Gemar Berbuat Baik

Yuk ber-Ihsan

📝 Pemateri: Ust. DR. Wido Supraha

Suatu ketika Nabi Saw. ditanya malaikat berwujud manusia tentang tiga hal utama, yakni Islam, Iman, dan Ihsan (HR. Muslim, No. 8).

Ihsan diperkenalkan kepada umat sebagai tingkatan penghambaan kepada Allah Swt yang tertinggi dengan arahan untuk beribadah kepada Allah Swt seakan-akan melihat-Nya, dan meskipun manusia tidak dapat melihat-Nya, maka dilanjutkan dengan arahan untuk menghadirkan keyakinan bahwa Allah pasti melihat manusia.

Demikianlah pengajaran Malaikat tentang Dinul Islam, sehingga teks hadits ini disebut sebagai Induk Sunnah oleh Al Imam Al-Qurthubi, dikarenakan mengandung hal-hal yang bersifat umum dan mencakup seluruh tugas-tugas ibadah yang zhahir dan yang bathin, sebagaimana penegasan Al-Qadhi Iyadh, rahimahumallahu.

🔎Al Imam An-Nawawi rahimahullah ketika mensyarah hadits riwayat Imam Muslim ini mengingatkan bahwa teks penjelasan ihsan disini merupakan salah satu dari jawami’ al-Kalim yang diberikan kepada Nabi Saw. Hal ini karena tentunya tidak mungkin manusia melihat Rabb-nya secara zhahir, karena melihat tabir wajah-Nya akan menjadi puncak kenikmatan kelak.

Seandainya manusia diperkenankan melihat-Nya saat ini niscaya manusia dapat dipastikan akan begitu mudahnya untuk mengkonsentrasikan zhahir dan batinnya menuju kesempurnaan amal.

Namun karena hal itu tidaklah mungkin di dunia, maka menghadirkan keyakinan seperti ini menjadi tantangan tersendiri bagi manusia sehingga membawa manusia kepada maqam musyahadah.

Inilah posisi yang diinginkan Allah Swt untuk orang-orang yang khusus. Ketika seorang manusia ditakdirkan dapat menyaksikan-Nya, sang Raja, tentu ia akan malu berpaling kepada selain-Nya atau menyibukkan hatinya dengan selain-Nya. Maka maqam ini juga menjadi maqam para shiddiqin.

Ketika Jibril hadir untuk mengajarkan ad-din (آتاكم يعلمكم دينكم), maka Ihsan adalah bagian yang tidak terpisahkan untuk ditegakkan dalam kehidupan seorang muslim. Allah Swt. telah berfirman,

وَأَحۡسِنُوٓاْ‌ۛ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

“Berbuat ihsan-lah kalian semua, sesungguhnya Allah mencintai kaum muhsinin.” (Q.S. Al-Baqarah/2:195)

إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَـٰنِ وَإِيتَآىِٕ ذِى ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنڪَرِ وَٱلۡبَغۡىِ‌ۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّڪُمۡ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berlaku adil dan berbuat ihsan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (Q.S. An-Nahl/16:90)

وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱلۡعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ (٢١٧) ٱلَّذِى يَرَٮٰكَ حِينَ تَقُومُ (٢١٨) وَتَقَلُّبَكَ فِى ٱلسَّـٰجِدِينَ (٢١٩

“Dan bertawakkallah kepada [Allah] Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri [untuk shalat], dan [melihat pula] perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. (Q.S. Asy-Syu’ara/26:217-219)

🔎Al Imam Ibn Katsir menegaskan bahwa ihsan merupakan tingkatan ketaatan yang tertinggi, “.و هو آعلى مقامات الطاعة” (Muhammad ‘Ali Ash-Shabuni, Mukhtashar Tafsir Ibn Katsir, Jilid 1, Beirut: Dar al-Fikr, Tanpa Tahun, hlm. 172).

🔎Sufyan bin Uyainah mengatakan, “Ihsan adalah seseorang yang batinnya lebih baik dari zhahirnya, و الإحسان آن تكون سريرته آحسن من علا نيته” (Ibid, Jilid 2, hlm. 343)

🔎Syaikh Musthafa Dieb al-Bugha mengatakan bahwa ihsan adalah ikhlas dan itqan (profesional), berbuat dengan rapi, sempurna, dan sebaik mungkin dalam amal yang disyariatkan.

🔎Syaikh As-Sa’di mendefinisikan bahwa ihsan adalah mencurahkan semua kemanfaatan dari jenis apapun, kepada makhluk apapun. Hal ini sebagai konsekuensi  bersungguh-sungguhnya manusia dalam menunaikan hak-hak Allah secara ikhlas, menyempurnakannya, sehingga ia pun wajib berbuat baik berkenaan dengan hak-hak makhluk, sebagaimana sabda Nabi Saw., “Sesungguhnya Allah Swt mewajibkan untuk berbuat ihsan atas segala sesuatu, إنّ الله كتب الإحسان على كلّ شيء” (HR. Muslim No. 1955). Maka dalam perkara apapun (tidak hanya khusus kepada manusia) hendaknya seorang muslim berlaku ihsan dimulai dari penunaian hak-hak sesama manusia (Q.S. An-Nisa/4:36), memberi kemanfaatan yang lebih kepadanya, hingga menolak perbuatan buruk manusia dipandang sebagai tingkatan ihsan terbesar (Q.S. Fushshilat/41: 34-35), hingga kemudian berbuat ihsan kepada alam dan seisinya.

🔎Sa’id bin Muhammad Daib Hawwa menyebutkan bahwa dalam pengajaran Jibril kepada Nabi Saw tentang ihsan, mengandung dua maqam: 1. Muraqabah dan 2. Musyahadah.

Jika MURAQABAH  ialah merasakan bahwa Allah melihatmu,
maka MUSYAHADAH adalah menghadirkan perasaan seakan-akan melihat Allah dalam ibadah yang dilakukan.

Inilah ciri hidupnya hati. Sekuat tenaga dengan jalan dzikir dan fikir untuk wushul (sampai di tujuan) kepada maqam iman dan yaqin yang pernah dinikmati oleh para sahabat, tabi’in dan pengikut mereka, adalah pekerjaan penting kaum beriman, dan ini mudah jika hati tidak sakit dan berpenyakit, dan tidak mengikuti langkah-langkah ahli bid’ah dan orang-orang jahil. (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus, Darus Salam)

🔎Syaikh Abdullah Nashih ‘Ulwan menjelaskan bahwa

💡merasakan kesertaan Allah Swt,
💡merasakan keagungan-Nya di setiap waktu dan keadaan,
💡serta merasakan kebersamaan-Nya dikala sepi dan ramai

itulah yang dikenal dengan istilah MURAQABAH.
Ia adalah aktifitas ihsan dengan
💡melahirkan ikhlas ketika melaksanakan ketaatan,
💡taubat total ketika melakukan kemaksiatan,
💡 sentiasa menjaga adab dan selalu bersyukur pada hal-hal yang mubah,
💡selalu mendahulukan ridha atas musibah.

⬆Inilah tangga menuju taqwa menuju derajat para muttaqin yang mulia. (Runaiyatud Da’iyah, Kairo: Darussalam, Cetakan ke-2, 1986)

Jika manusia berlaku ihsan, tentunya karena metode-nya yang juga ihsan, tidak lain balasan yang ia terima dari Allah Swt juga ihsan, terbaik dari sisi Allah Swt, persis seperti janji Allah Swt,

هَلۡ جَزَآءُ ٱلۡإِحۡسَـٰنِ إِلَّا ٱلۡإِحۡسَـٰنُ

“Tidak ada balasan ihsan kecuali juga ihsan.” (Q.S. Ar-Rahman/55:60)

Terbaik dari sisi Allah Swt, bukanlah sekedar terbaik dalam cara pandang manusia. Allah tegaskan bahwa Allah Swt. akan selalu memberikan balasan yang jauh lebih baik dari perbuatan baik manusia, sebagaimana penegasan-Nya,

لِّلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ ٱلۡحُسۡنَىٰ وَزِيَادَةٌ۬‌ۖ وَلَا يَرۡهَقُ وُجُوهَهُمۡ قَتَرٌ۬ وَلَا ذِلَّةٌ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلۡجَنَّةِ‌ۖ هُمۡ فِيہَا خَـٰلِدُونَ

“Bagi orang-orang yang berbuat ihsan, ada pahala yang terbaik dan tambahannya, wajah mereka tidak ditutupi debu hitam dan kehinaan. Mereka itulah penghuni Surga, mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. Yunus/10:26)

Dunia adalah kesempatan bagi manusia untuk berbuat ihsan, area yang telah disiapkan Allah Swt untuk manusia melahirkan ihsan-nya sangatlah luas, sebagai firman-Nya,

قُلۡ يَـٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمۡ‌ۚ لِلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ فِى هَـٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٌ۬‌ۗ وَأَرۡضُ ٱللَّهِ وَٲسِعَةٌ‌ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّـٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٍ۬

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat ihsan di dunia akan memperoleh kebaikan (hasanah),  Bumi Allah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Q.S. Az-Zumar:10)

Rahmat Allah Swt sangat mudah turun bagi orang-orang yang senang berlaku ihsan di dunia, maka jadikanlah seluruh kehidupan kita untuk sentiasa ihsan kepada Allah Swt, dan kemudian ihsan kepada para makhluk Allah Swt.

وَلَا تُفۡسِدُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَـٰحِهَا وَٱدۡعُوهُ خَوۡفً۬ا وَطَمَعًا‌ۚ إِنَّ رَحۡمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ۬ مِّنَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah Allah Swt. memperbaikinya dan berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut [tidak akan diterima] dan harapan [akan dikabulkan].

Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-A’raf/7:56)

Suatu ketika Abu Dzar r.a. bertanya, “Wahai Rasulullah Saw! Bagaimana menurutmu jika seseorang melakukan kebaikan, lalu ia mendapatkan pujian dari orang lain?”
Rasulullah Saw menjawab, “Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin, تلك عاجل بشرى المؤمن” (HR. Muslim No. 2642).

Yuk ber-ihsan !

🌿🌴🌿🌴


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Qur'an Nutrisi Akal dan Jiwa

Konsep Kebahagiaan Dalam Islam

📝Dr. Wido Supraha

Terminologi bahagia sebagai sebuah realitas hakiki hanya diulang satu kali, sebagaimana jalan cahaya pun hanya satu di antara ragam kezhaliman, merujuk kepada realitas kebenaran yang juga satu bersama satu realitas rahmat Allah yang melahirkan keberkahan yang banyak dan terus menerus.

Allah Swt. berfirman di dalam Surat Huud [11] ayat 105-108,

يَومَ يَأتِ لا تَكَلَّمُ نَفسٌ إِلّا بِإِذنِهِ ۚ فَمِنهُم شَقِيٌّ وَسَعيدٌ
فَأَمَّا الَّذينَ شَقوا فَفِي النّارِ لَهُم فيها زَفيرٌ وَشَهيقٌ
خالِدينَ فيها ما دامَتِ السَّماواتُ وَالأَرضُ إِلّا ما شاءَ رَبُّكَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ فَعّالٌ لِما يُريدُ
۞ وَأَمَّا الَّذينَ سُعِدوا فَفِي الجَنَّةِ خالِدينَ فيها ما دامَتِ السَّماواتُ وَالأَرضُ إِلّا ما شاءَ رَبُّكَ ۖ عَطاءً غَيرَ مَجذوذٍ

Di kala datang hari itu, tidak ada seorangun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia; Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih); Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki; Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam syurga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.

Dari rangkaian ayat di atas, Allah Swt menghadirkan terminologi bahagia (sa’adah; happiness) dan celaka (syaqawah;misery), keduanya adalah terminologi yang saling berlawanan. Kata sa’adah digunakan di dalam Al-Qur’an hanya pada rangkaian ayat ini yakni 1 kata benda (sa’idun) dan 1 kata kerja (su’idu) . Kata shaqawah digunakan di dalam Al-Quran pada 12 tempat, 8 tempat dalam bentuk kata benda (shiqwatna, shaqiyyan, shaqiyyun, ashqa-ha, al-ashqa), dan 4 tempat dalam bentuk kata kerja (yashqa, shaqu, litashqa, fatashqa).

Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam Prolegomenamenjelaskan bahwa kebahagiaan dalam perspektif Islam diekspresikan dengan terminologi sa’adah, dan terminologi ini sangat terkait dengan dua dimensi eksistensi, akhirat (ukhrawiyyah) dan dunia (dunyawiyyah). Dalam konteks akhirat, sa’adah bermakna kebahagiaan tertinggi tanpa akhir, diberikan hanya kepada manusia yang selama di dunia memberikan penyerahan diri secara total, menjaga dirinya dari apa yang diperintahkan-Nya dan dilarang-Nya. Maka dari pengertian ini, terminologi sa’adah di akhirat sangat terkait sekali dengan kehidupan dunianya, dalam hal ini mencakup tiga hal: 1) jiwa (nafsiyyah) berkenaan dengan ilmu dan karakter baik; 2) jasad (badaniyyah) berkenaan dengan kesehatan fisik dan rasa aman; dan 3) sisi eksternal jiwa dan jasad (kharijiyyah) berkenaan dengan kesuksesan dan kekayaan dan penyebab lain di luar unsur jiwa dan jasad.

Kebahagiaan dapat juga dimaknai dengan memahami lawan katanya, syaqawah, yang mengandung elemen-elemen khauf, huzn, dank, hasrat, hamm, ghamm, dan ‘usr.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Tha-ha [20] ayat 2,

ما أَنزَلنا عَلَيكَ القُرآنَ لِتَشقىٰ

Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah;

Allah Swt. juga berfirman dalam ayat 117,

فَقُلنا يا آدَمُ إِنَّ هٰذا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوجِكَ فَلا يُخرِجَنَّكُما مِنَ الجَنَّةِ فَتَشقىٰ

Maka Kami berkata: “Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka.

Allah Swt. juga berfirman dalam ayat 123,

قالَ اهبِطا مِنها جَميعًا ۖ بَعضُكُم لِبَعضٍ عَدُوٌّ ۖ فَإِمّا يَأتِيَنَّكُم مِنّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدايَ فَلا يَضِلُّ وَلا يَشقىٰ

Allah berfirman: “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.

Bersama tiga ayat Surat Tha-ha, manusia akan terbebas dari ‘shaqawah‘ jika menjalani kehidupan berpedoman dengan Al-Qur’an, menjauhi gangguan iblis, dan istiqomah mengikuti petunjuk Allah Swt.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Mukminum [23] ayat 106,

قالوا رَبَّنا غَلَبَت عَلَينا شِقوَتُنا وَكُنّا قَومًا ضالّينَ

Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan adalah kami orang-orang yang sesat.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Maryam [19] ayat 4,

قالَ رَبِّ إِنّي وَهَنَ العَظمُ مِنّي وَاشتَعَلَ الرَّأسُ شَيبًا وَلَم أَكُن بِدُعائِكَ رَبِّ شَقِيًّا

Ia berkata “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada Engkau, ya Tuhanku.

Allah Swt. juga berfirman pada ayat 32,

وَبَرًّا بِوالِدَتي وَلَم يَجعَلني جَبّارًا شَقِيًّا

Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.

Allah Swt juga berfirman dalam ayat 48,

وَأَعتَزِلُكُم وَما تَدعونَ مِن دونِ اللَّهِ وَأَدعو رَبّي عَسىٰ أَلّا أَكونَ بِدُعاءِ رَبّي شَقِيًّا

Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdo’a kepada Tuhanku,mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdo’a kepada Tuhanku”.

Bersama tiga ayat dalam Surat Maryam ini, kita menyaksikan bagaimana para Nabi seperti Nabi Zakaria a.s., Nabi ‘Isa a.s., dan Nabi Ibrahim a.s. sentiasa bermunajat kepada Allah agar terhindar dari ‘syaqawah‘.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Syams [91] ayat 12,

إِذِ انبَعَثَ أَشقاها

Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka,

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al A’laa [87] ayat 11,

وَيَتَجَنَّبُهَا الأَشقَى

Dan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-Lail [92] ayat 15,

لا يَصلاها إِلَّا الأَشقَى

Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka; Yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).

Kebahagiaan harus diawali dengan mengenali hakikat diri. Unsur jiwa di dalam Al-Qur’an merupakan substansi  spiritual yang mengacu kepada qalb (hearth), nafs (soul or self),‘aql (intellect), atau ruh (spirit), melibatkan dua aspek, jasad dan ruh, maka di satu sisi kita mengenal al-nafs al-hayawaniyyah dan di sisi lain al-nafs al-natiqah (rational soul). Cara seseorang dalam meraih kebahagiaan tergantung pada aspek mana yang dipilihnya yang paling memberikan pengaruh. Kedua aspek ini melahirkan dua kekuatan, kekuatan nafsu hewan adalah motif dan perseptif, sementara kekuatan rasio adalah aktif dan kognitif.

Kebahagiaan harus selalu dihiasi dengan kebajikan. Kebajikan di dalam Islam mencakup apa yang bersifat zhahir (eksternal) dan bathin (internal). Kebajikan eksternal mencakup lima hal utama yakni ritual ibadah yang benar, pembacaan Al-Qur’an, dzikrullah, do’a, memenuhi seluruh keunikan cara hidup dan akhlak Muslim. Kebajikan internal mengacu pada aktifitas-aktifitas hati yang menggabungkan niyyah, ‘amal, ikhlas, dan shidq. Mengenal diri secara lebih baik akan mengarahkan kepada pengetahuan mana yang berkualitas baik dan buruk. Kebiasaan kita dalam proses pemilihan ini akan melibatkan ragam aktifitas diri mulai dari tafakkur (meditation), taubah (repentance), shabr (patience), syukr (gratitude), raja (hope), khauf (fear), tauhid (divine unity), tawakkal (trust), hingga mahabbah (love of god).

Kebahagiaan sangat erat kaitannya dengan iman, sebagai kata amina bermakna aman, bebas dari segala ketakutan, maka terminologi khauf merupakan lawan kata amnu, jika menggunakan pengertian ketakutan kepada selain Allah. Adapun khauf kepada Allah justru akan menghadirkan ‘iffah (temperance), wara’ (abstinence), taqwa (piety), sidq (truthfulness). Dari sinilah kita menjadi faham mengapa iman sangat terkait dengan kondisi-kondisi tatma’innu, tuma’ninah, sehingga melahirkan al-nafs al-muthma’innah.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-Ra’d [13] ayat 28,

الَّذينَ آمَنوا وَتَطمَئِنُّ قُلوبُهُم بِذِكرِ اللَّهِ ۗ أَلا بِذِكرِ اللَّهِ تَطمَئِنُّ القُلوبُ

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Keimanan kepada Allah hanya akan melahirkan keyakinan (yaqin) utuh bahwa seluruh hakikat kepastian hanya datang dari Allah semata. Maka terminologi yaqin berlawanan dengan syakk(keraguan) dan zhann (prasangka). Keyakinan dalam Al-Qur’an disebutkan dalam tiga tingkatan: ‘ilm al-yaqin, ‘ayn al-yaqin, dan haqq al-yaqin. Maka yakinlah kebahagiaan akan hadir manakalah iman tidak lagi terganggu dengan keraguan dan prasangka, iman yang dibangun di atas ilmu sehingga menghadirkan bashirah.

Akhirul kalam, Ibn Khaldun mengatakan, “Bahagia itu tunduk dan patuh mengikuti garis-garis yang ditentukan Allah dan perikemanusiaan”, Ibn Khalid mengatakan, “Bahagia itu sentosa perangai, kuat ingatan, bijaksana akal, tenang dan sabar menuju maksud. Maka jadilah orang yang berbahagia (KUN SA’IIDAN) dengan berpegang teguh dalam agama, maka kebahagiaan hakiki akan diraih.

Buya Hamka mengutip sya’ir Hutai’ah,

Bukanlah kebahagiaan itu pada mengumpul harta benda;

Tetap taqwa akan Allah itulah bahagia

Taqwa akan Allah itulah bekal yang sebaik-baiknya disimpan,

Pada sisi Allah sajalah kebahagiaan para orang yang taqwa.


🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸
Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678