Dan Nabi SAW Pun Enggan Memberikan Jabatan Kepada Yang Berambisi & Mengharapkan

๐Ÿ“† Rabu, 20 Rajab 1437 H / 27 April 2016 M

๐Ÿ“š MUAMALAH

๐Ÿ“ Ustadz Rikza Maulan, Lc, M.Ag

๐Ÿ“‹ Dan Nabi SAW Pun Enggan Memberikan Jabatan Kepada Yang Berambisi & Mengharapkan

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“šHadits:

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู…ููˆุณูŽู‰ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฏูŽุฎูŽู„ู’ุชู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุฃูŽู†ูŽุง ูˆูŽุฑูŽุฌูู„ูŽุงู†ู ู…ูู†ู’ ู‚ูŽูˆู’ู…ููŠ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุญูŽุฏู ุงู„ุฑูŽู‘ุฌูู„ูŽูŠู’ู†ู ุฃูŽู…ูู‘ุฑู’ู†ูŽุง ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ุขุฎูŽุฑู ู…ูุซู’ู„ูŽู‡ูุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูู†ูŽู‘ุง ู„ูŽุง ู†ููˆูŽู„ูู‘ูŠ ู‡ูŽุฐูŽุง ู…ูŽู†ู’ ุณูŽุฃูŽู„ูŽู‡ู ูˆูŽู„ูŽุง ู…ูŽู†ู’ ุญูŽุฑูŽุตูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ)

Dari Abu Musa ra berkata, aku menemui Nabi Saw bersama dua orang dari kaumku. Salah satu dari keduanya berkata ‘Wahai Rasulullah, jadikanlah kami pejabat (amir).’ Kemudian orang yang kedua juga mengatakan hal yang sama.

Maka Rasulullah Saw bersabda, “Kita tidak akan memberikan jabatan ini kepada orang-orang yang memintanya dan tidak juga kepada orang yang ambisi terhadapnya.” (HR. Bukhari)

๐Ÿ“šHikmah Hadits :

โฃ1. Kecenderungan manusia umumnya suka terhadap jabatan dan kedudukan.

Karena secara lahiriyah, jabatan terlihat manis dan menyenangkan, bertaburan harta dan penghormatan, serta diwarnai dengan wibawa dan kemewahan.

Maka tidak heran, terkadang demi jabatan, banyak orang yang rela melakuka apa saja, termasuk perbuatan yang tercela, haram bahkan berbau kemusyrikan.

Atau juga sekedar lobi, datang dan sowan, kepada tokoh dan panutan, atau juga melakukan pencitraan, demi mendapatkan jabatan.

โฃ2. Sementara hakikat dari jabatan itu sendiri adalah amanah yang sangat berat dari Allah Swt, yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban dalam hisab yang panjang.

Disamping juga bahwa jabatan, penuh dengan tekanan dan jebakan, bahkan intrik saling menjelekkan dan menjatuhkan, yang apabila seseorang lemah iman, ia akan terperdaya dalam perangkap syaitan.

โฃ3. Maka Nabi Saw pun enggan memberikan jabatan kepada orang yang terperdaya dengan kemilau pesonanya, ambisi terhadap gemerlapnya, atau yang tergoda bias wibawa dan kemewahannya.

Karena mungkin umumnya orang yang ambisi, punya maksud dan niatan yang tersembunyi, yang menggelapkan niatan suci, demi semata keinginan pribadi.

โฃ4. Idealnya, jabatan dipegang oleh orang yang amanah, shiddiq dan fathanah, yang hati kecilnya menolak untuk memangkunya, namun ia ‘terpaksa’ memikulnya, karena beban dan amanah untuk dakwah, bukan karena ingin hidup mewah, namun karena amanah untuk menyelamatkan ummah…

Allah Swt berfirman,

 “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.
Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (Al-Ahzab : 72)

Wallahu A’lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Ganjaran Orang Yang Berkhianat

๐Ÿ“† Jumat, 15 Rajab 1437H / 22 April 2016

๐Ÿ“š MUAMALAH

 ๐Ÿ“Pemateri:  Rikza Maulan, Lc, M.Ag

๐Ÿ“‹Ganjaran Orang Yang Berkhianat

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“šHadits:

ุนูŽู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ูŽุง ุนูŽู†ู’ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ููƒูู„ู‘ู ุบูŽุงุฏูุฑู ู„ููˆูŽุงุกูŒ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ูŠูุนู’ุฑูŽูู ุจูู‡ู (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ)

Dari Abdullah bin Umar ra, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda: “Semua pengkhianat akan diberi tanda bendera pengkhianatannya pada hari kiamat sebagai tanda pengenalnya.” (HR. Bukhari)

๐Ÿ“šHikmah Hadits:

1โƒฃ. Khianat merupakan salah satu sifat paling buruk dan paling tercela dalam pandangan Islam, serta merupakan ciri paling mendasar orang munafik.

Sedangkan orang munafik kelak akan ditempatkan Allah Swt di dalam kerak dasar paling dalam di neraka Jahanam, na’udzubillahi min dzalik.

2โƒฃ. Demikian buruknya dan dibencinya sifat khianat ini, hingga Allah Swt memberikan tanda khusus di hari kiamat bagi orang-orang yang khianat, yaitu bendera khusus sebagai tanda pengkhianatan yang pernah dilakukannya di dunia.

Dalam shahih Muslim diriwayatkan, dari Abu Sa’id ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda:

‘Di hari Kiamat kelak, setiap pengkhianat akan membawa bendera yang dikibarkannya tinggi-tinggi sesuai dengan pengkhianatannya.” (HR. Muslim)

3โƒฃ. Khianat bermacam-macam bentuk dan jenisnya, diantaranya adalah khianat dalam kapasitasnya sebagai hamba, sebagai suami, istri, orang tua, pekerja, pejabat, wakil rakyat, bendahara, guru, dosen, pedagang, pengusaha, dsb.

Oleh karenanya kita harus berusaha menjaga dan menunaikan amanah sebaik-baiknya dan menghindarkan diri dari sifat khianat sejauh-jauhnya.

4โƒฃ. Bentuk khianat yang paling berat dan paling keji adalah khianat kepada Islam dan kaum muslimin.

Seperti meyakini kebenaran agama lain selain Islam, bekerja sama dengan musuh-musuh Allah Swt khususnya dalam hal-hal yang dapat merugikan kepentingan umat, menegatifkan citra Islam dan kaum muslimin, memilih atau mempropaganda umat untuk memilih non muslim sebagai pemimpin, dsb.

Allah Swt berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal : 27).

Semoga Allah Swt hindarkan kita semua dari sifat khianat ini, dan kita dimasukkan ke dalam golongan orang2 yang amanah…

Amiin Ya Rabbal Alamiin.

Wallahu A’lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Agar Terhindar Dari Tipuan Dalam Jual Beli

๐Ÿ“† Jumat, 15 Rajab 1437H / 22 April 2016

๐Ÿ“š MUAMALAH

 ๐Ÿ“Pemateri:  Rikza Maulan, Lc, M.Ag

๐Ÿ“‹Agar Terhindar Dari Tipuan Dalam Jual Beli

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“š Hadits:

ุนูŽู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ูŽุง ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุฌูู„ู‹ุง ุฐูŽูƒูŽุฑูŽ ู„ูู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูุฎู’ุฏูŽุนู ูููŠ ุงู„ู’ุจููŠููˆุนู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูุฐูŽุง  ุจูŽุงูŠูŽุนู’ุชูŽ ููŽู‚ูู„ู’ ู„ูŽุง ุฎูู„ูŽุงุจูŽุฉูŽ (ุฑูˆุงู‡ ู…ุณู„ู…)

Dari Abdullah bin Umar ra, ‘Ada seorang laki-laki mengadu kepada Nabi saw, karena dia sering ditipu dalam jual beli.

Maka beliau bersabda: “Jika engkau melakukan jual-beli, maka katakanlah, ‘Jangan ada tipu-menipu.” (HR. Bukhari)

๐Ÿ“šHikmah Hadits:

1โƒฃ. Bahwa dalam transaksi jual beli, ada potensi terjadinya tipu menipu.

Karena umumnya motivasi pedagang dalam jual beli adalah mencari keuntungan, yang terkadang motif mencari keuntungan membuat sebagian pedagang melanggar aturan halal haram dan melakukan praktik yang diharamkan, yaitu praktik tipu menipu.

2โƒฃ. Hal ini dialami juga oleh salah seorang sahabat Nabi Saw, dimana ia mengadu kepada Nabi Saw bahwa dirinya tertipu dalam jual beli. Maka Nabi Saw memberikan saran agar ia tidak lagi tertipu dalam jual beli, yaitu hendaknya ia mengatakan ketika transaksi, ‘Jangan ada tipu menipu.’

Ungkapan ini insya Allah akan dapat meredam niatan jahat orang yang berniat melakukan tipu menipu.

3โƒฃ. Jual beli menurut syariat sebenarnya dapat mendatangkan pahala dan keberkahan, apabila dilakukan dengan jujur, transparan dan memenuhi rukun dan syarat jual beli.

Sebagaimana hadits Nabi Saw,
“Maka jika keduanya (penjual dan pembeli) jujur dan transparan, maka Allah berikan keberkahan diantara keduanya.’ (HR. Bukhari)

Wallahu A’lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

POTONGAN TABUNGAN

๐ŸŒUstadz Menjawab
๐Ÿ‘ณ๐ŸผUstadz Rikza Maulana Lc. M.Ag

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒป๐Ÿ€๐Ÿ„๐ŸŒธ๐ŸŒท๐ŸŒน

Assalamu’alaikum..mau tanya ustadz/ah..bagaimana hukum potongan tabungan sebesar 10% di salah satu pusat pendidikan. Kesepakatan itu tertera di dlm lembaran kesepakatan antara pihak sekolah dgn ortu santri. Walaupun sebagaian mereka keberatan krn terlalu besar. Namun mereka masih ada yg tetap menabung. Ketika salah satu pengajar menanyakan perihal tersebut, pihak sekolah beralasan uang yg di tabung di bank jg terkena potongan. Dari pihak pengajar memberikan masukan agar pindah bank saja yg tdk terkena potongan atau lbh kecil potongannya. Apakah sistem ini bisa di kategorikan riba? atau masuk ke hukum kesepakan. Syukron..   A16

Jawaban
——————

Waalaikumsalam wr wb..
Seharusnya tidak boleh tabungan dipotong 10% oleh guru atau sekolah kecuali apabila jelas keperluannya dan atas persetujuan kedua belah pihak. Misalnya utk keperluan wisuda, buku, dsb. Adapun jika tidak ada keperluan yang jelas, maka tidak boleh, krn berarti mengambil hak orang lain secara bathil.
Wallahu A’lam.        

๐ŸŒพ๐ŸŒบ๐ŸŒป๐ŸŒน๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒธ๐Ÿ’๐Ÿ„

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih Bahagia….

Larangan Talaqqi Ruqban (Mencegat Kafilah Dagang)

๐Ÿ“† Jumat,  9 Jumadil Akhir 1437H / 18 Maret 2016
๐Ÿ“š Muamalah
๐Ÿ“ Ustadz Rikza Maulan, Lc,. M.Ag
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ 
Materi sebelumnya bisa dilihat di tautan berikut
๐Ÿ“šDampak Talaqqi Rukban Pada Jual Beli
Ulama berbeda pendapat, apakah jual beli dalam kasus talaqqi rukban berkonsek wensi pada rusak (fasad) nya jual beli tersebut, ataukah jual beli tersebut tetap sah?
Sebagian ulama berpenda pat bahwa apabila dilihat dari dzahir haditsnya, maka jual beli tersebut tetap sah dan tidak rusak (fasad).
Karena larangan tersebut merupakan hal yang berada di luar substansi jual belinya, yaitu di luar rukun dan syarat jual beli. Oleh karenanya, tidak mengganggu keabsahan akad jual belinya.
Juga karena dalam hadits kedua disabdakan oleh Nabi SAW, bahwa pemilik barang (kafilah) boleh melakukan khiyar (meneruskan atau membatalkan jual beli), apabila ia sudah sampai di pasar dan mengetahui harga pasar.
Sedangkan sebagian ulama Malikiyah dan madzhab Hambali berpendapat bahwa jual belinya tidak sah dan batal. Karena larangan menunjukkan haram, dan sesuatu yang haram tidak boleh dilakukan.
๐Ÿ“šPenyebab Larangan Talaqqi Rukban
Sebab larangan talaqqi rukban atau menghadang kafilah dagang ini adalah sebagai berikut :
๐Ÿ”นPotensi adanya khidaโ€™ (tipuan) atau pengelabuan harga pasar. 
Karena penjual belum mengetahui berapa harga pasar, dan bisa jadi si pembeli sudah mengetahuinya, namun ia memanfaatkan ketidaktahuan penjual dengan memberikan informasi palsu.
๐Ÿ”นPotensi adanya dzulm (aniaya) terhadap penjual. 
Karena bisa jadi, atas adanya informasi yang tidak benar berkenaan dengan harga yang sesungguhnya, maka penjual melepas harga yang jauh lebih rendah dari harga yang seharusnya.
๐Ÿ”นPotensi hilangnya โ€œan taradhinโ€ (saling ridha), baik dari salah satu pihak, maupun kedua belah pihak, oleh karena adanya manipulasi informasi. Sementara saling ridha merupakan salah satu syarat sahnya jual beli.
๐Ÿ“šBagaimana apabila terjadi kasus, si penjual di tawar dagangannya di tengah perjalanan sebelum ia sampai ke pasar, dan si penjual benar-benar telah mengetahui harga pasaran?
Dalam hal, si penjual mengetahui harga pasar lalu dagangannya dibeli orang di tengah-tengah perjalanannya, dan ia rela serta ridha dengan harga yang ditawar oleh si pembeli, maka jual belinya sah, dan tidak termasuk dalam kategori jual beli yang dilarang.
Karena seluruh illat atau sebab larangannya menjadi tidak ada. Dan dalam hal larangannya sudah tidak ada, maka jual belinya berlaku seperti jual beli yang standar, yaitu sah nya transaksi.
๐Ÿ“šBerlaku Bagi Pedagang Yang Berkendara Atau Berjalan Kaki?
Para ulama mengemukakan, bahwa secara dzahir larangan dalam hadits di atas adalah untuk kafilah dagang yang menggunakan kendaraan. 
Karena dalam hadits disebutkan ( ุงู„ุฑูƒุจุงู† ) yang secara bahasa berarti para pengendara, atau yang mengendarai kendaraan.
Namun ulama sepakat bahwa yang dimaksud adalah bukan hanya pedagang yang mengendarai kendaraan, namun juga semua pedagang termasuk yang berjalan kaki.
Menguatkan pendapat tersebut, adalah hadits kedua riwayat Abu Hurairah ra, dimana nabi bersabda yang redaksinya (ูŠุชู„ู‚ู‰ ุงู„ุฌู„ุจ ) yang berarti menghadang barang dagangan. Tanpa menyebutkan apakah dengan berkendaraaan, atau berjalan kaki.
Sehingga kesimpulannya, menghadang atau mencegat kafilah dagang tersebut adalah haram, baik pedagangnya berkendaraan atau berjalan kaki.
๐Ÿ“šMakna Khiyar
Hadits di atas menjelaskan bahwa โ€œpemilik barang boleh melakukan khiyar, apabila ia sudah sampai ke pasar.โ€
Khiyar adalah hak pilih bagi salah satu pihak (dalam hal ini adalah bagi pedagang atau bagi pemilik barang), untuk meneruskan atau membatalkan transaksi, yang dikaitkan dengan syarat atau peristiwa tertentu.
Dalam konteks hadits di atas, pedagang atau kafilah dagang apabila telah terlanjur melepas barang dagangannya di tengah perjalanan, kepada pembeli yang membeli barangnya di tengah perjalanannya, maka ia memiliki hak khiyar yaitu hak pilih; apakah akan meneruskan transaksinya atau membatalkannya, apabila ia telah sampai di pasar dan mengetahui berapa harga pasar.
Jika penjual berkeinginan membatalkan transaksi, maka si pembeli harus mengembalikan barangnya secara keseluruhan, dan pedagang juga harus mengembalikan uangnya secara keseluruhan.
Hanya saja ulama berbeda pendapat berkenaan dengan khiyar dalam talaqqi rukban ini, apakah khiyar terjadi langsung pada saat jual beli dengan penghadang kafilah dagang tanpa di syarakatkan pada akad, ataukah ia terjadi khiyar apabila diyaratkan khiyar pada saat akad?
Jumhur ulama berpendapat bahwa khiyar langsung terjadi meskipun tidak disyaratkan sebelumnya. Karena khiyar dimaksudkan untuk menjaga kepentingan penjual dari adanya unsur tipuan dalam harga (karena ia belum mengetahui harga pasar), dan agar ia tidak merugi.
Sementara ulama lainnya berpendapat bahwa hal tersebut harus disepakati di awal akad, akan adanya khiyar.
๐Ÿ“šLarangan Berlaku Baik Bagi Pembeli Maupun Bagi Penjual
Secara dzahir, hadits di atas melarang untuk menghadang kafilah dagang lalu membeli barang dagangan mereka sementara mereka belum sampai di pasar dan atau belum mengetahui harga pasar.
Namun para ulama sepakat, bahwa larangan tersebut berlaku bukan hanya bagi calon pembeli yang menghadang para kafilah untuk membeli barang mereka, namun juga berlaku bagi penjual yang menghadang pembeli yang akan ke pasar, sebelum pembeli mengetahui harga pasar.
Karena illat (sebab) larangannya adalah untuk menjaga kemasalahatan jual beli bagi semua pihak, termasuk untuk pasar agar tercipta suasana jual beli yang baik dan saling ridha.
๐Ÿ“šHikmah Larangan Talaqqi Rukban
Islam merupakan agama yang universlal, yang ajarannya mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Dan diantara cakupan ajaran Islam adalah mencakup sisi muamalah, khususnya jual beli. Sehingga Islam demikian memperhatikan sisi kemaslahatan pada jual beli, dan memberikan aturan untuk melindungi kemaslahatan umat manusia.
Dalam jual beli pun, Islam tidak hanya memperhatikan pada sisi objek akad dalam jual beli semata, akan tetapi juga sangat memperhatikan pada tatacara dan proses dalam jual belinya. Sehinga tata cara dan proses yang berpotensi menimbulkan kerugian salah satu pihak atau bahkan kedua belaih pihak menjadi dilarang.
Pentingnya kesetaraan posisi antara penjual dan pembeli, dimana keduanya memiliki hak dan kewajiban yang sama. Dan oleh karenanya, ketika melakukan transaksi mereka harus saling ridha satu dengan yang lainnya. Itulah sebabnya, Islam melarang jual beli yang tidak didasari dengan an taradhin. Maka Ijab dan Qabul merupakan representatif dari tanda keridhaan kedua belah pihak.
Informasi merupakan sesuatu yang sangat penting dalam transaksi. Karena apabila transaksi yang diterima adalah salah, maka akan berdampak bisa merugikan salah satu pihak. Oleh karenanya, tidak bolehnya mencegat kafilah dagang adalah karena potensi mendapatkan informasi yang tidak tepat atau bahkan palsu, lalu merugikan pihak penjual.
Islam mengharamkan manipulasi dalam segala transaksi, apapun bentuknya. Terlebih-lebih apabila manipulasi itu dimaksudkan untuk menguntungkan diri sendiri yang sekaligus merugikan pihak lain. Itulah sebabnya dilarangnya berbagai bentuk jual beli yang mengandung hal-hal yang manipulatif, seperti larangan jual beli najsyi, jual beli habalil habalah, jual beli urbun, dsb.
Keabsahan jual beli dan transaksi akan mendatangkan keberkahan. Keberkahan dalam rizki, insya Allah akan mendatangkan manfaat yang besar. 
Karena rizki yang halal, kecenderungannya akan mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal yang baik. Sebaliknya rizki yang haram, kecenderungannya akan mendorong pada perbuatan buruk dan dosa.
ูˆุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฃุนู„ู‰ ูˆุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ
ูˆุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู†
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน
Dipersembahkan:
www.iman-islam.com
๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Larangan Talaqqi Ruqban (Mencegat Kafilah Dagang)

๐Ÿ“† Rabu,  7 Jumadil Akhir 1437H / 16 Maret 2016
๐Ÿ“š Muamalah
๐Ÿ“ Ustadz Rikza Maulan, Lc,. M.Ag
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ 
ุจุงุจ ุงู„ู†ู‡ูŠ ุนู† ุชู„ู‚ูŠ ุงู„ุฑูƒุจุงู†
๐Ÿ“šHadits #1
ุนูŽู†ู ุงุจู’ู†ู ู…ูŽุณู’ุนููˆู’ุฏู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽุŒ ู†ูŽู‡ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุนูŽู†ู’ ุชูŽู„ูŽู‚ู‘ููŽูŠูŽ ุงู„ู’ุจููŠููˆู’ุนู (ู…ุชูู‚ ุนู„ูŠู‡)
Dari Ibnu Masโ€™ud ra berkata, bahwa Rasulullah SAW melarang menghadang kafilah dagang (di tengah perjalanan untuk membeli barang dagangannya).โ€™ 
(Muttafaqun Alaih)
๐Ÿ“šHadits #2
ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู†ูŽู‡ูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุชูŽู„ูŽู‚ู‘ูŽู‰ ุงู„ู’ุฌูŽู„ูŽุจู ููŽุฅูู†ู’ ุชูŽู„ูŽู‚ู‘ูŽุงู‡ู ุฅูู†ู’ุณูŽุงู†ูŒ ููŽุงุจู’ุชูŽุงุนูŽู‡ู ููŽุตูŽุงุญูุจู ุงู„ุณู‘ูู„ู’ุนูŽุฉู ูููŠู‡ูŽุง ุจูุงู„ู’ุฎููŠูŽุงุฑู ุฅูุฐูŽุง ูˆูŽุฑูŽุฏูŽ ุงู„ุณู‘ููˆู‚ูŽ (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ ุฅู„ุง ุงู„ุจุฎุงุฑูŠุŒ ูˆููŠู‡ ุฏู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ุตุญุฉ ุงู„ุจูŠุน)
Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Nabi SAW melarang menghadang barang dagangan. Maka jika seseorang menghadangnya lalu membeli barang dagangan darinya, maka jika pemilik barang itu tiba di pasar, dia boleh memilih antara membatalkan jual beli tersebut atau melanjutkan nya.โ€™ 
(HR. Jamaah, kecuali Imam Bukhari. Hadits ini merupakan dalil sahnya jual beli tersebut).
๐Ÿ“šTakhrij Hadits
๐Ÿ”นHadits pertama, dari Ibnu Masโ€™ud ra diriwayatkan oleh :
Imam Bukhari dalam Shahihnya, Kitab Al-Buyuโ€™ Bab An-Nahyi an Talaqqi Rukban wa Anna Baiโ€™ahu Mardud, Hadits no 2019.
Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Al-Buyuโ€™, Bab Tahrim Talaqqi Al-Jalbi, Hadits no 2794.
๐Ÿ”นSedangkan hadits kedua, dari Abu Hurairah ra diriwayatkan oleh :
Imam Muslim dalam Shahihnya Kitab Al-Buyuโ€™, Bab Tahrim Talaqqi Al-Jalbi, hadits no 2795.
Imam Tirmidzi dalam Sunannya, Kitab Al-Buyuโ€™ an Rasulillah SAW, Bab Ma Jaโ€™a fi Karahiyati Talaqqi Al-Buyuโ€™, hadits no 1142.
Imam Abu Daud dalam Sunannya, Kitab Al-Buyuโ€™, Bab fi At-Talaqqi, hadits no 2980.
๐Ÿ“šMakna Umum
Secara umum, hadits di atas menggambarkan tentang larangan menghadang kafilah dagang, dalam artian menghadang atau mencegat kafilah dagang yang akan menjual barang dagangan mereka ke pasar, untuk membeli barang-barang dagangannya, sebelum mereka sampai di pasar.
Larangan dalam hadits di atas, sesungguhnya di satu sisi dimaksudkan untuk melindungi kepentingan para kafilah dagang tersebut, yaitu supaya kafilah dagang sampai di pasar, dan mengetahui berapa harga pasar, lalu mereka menjualnya atas dasar harga dari keridhaan mereka. 
Dan di sisi lain menjaga kepentingan masyarakat, agar tetap bisa mendapatkan barang yang mereka butuhkan.
Penghadangan atau pencegatan kafilah dagang tersebut dapat merugikan para pedagang, karena berpotensi terjadinya manipulasi harga barang dari pembeli, karena pedagang belum mengetahui berapa harga barang yang sesungguhnya di pasaran.
๐Ÿ“šMakna Talaqqi Rukban
Secara bahasa, talaqqi rukban ( ุชู„ู‚ูŠ ุงู„ุฑูƒุจุงู† ) terdiri dari dua kata yaitu :
( ุชู„ู‚ูŠ ) 
yang arti dasarnya adalah menemui, yaitu menemui di pertengahan jalan. Dan dalam konteks hadits ini adalah menghadang atau mencegat.
( ุงู„ุฑูƒุจุงู† ) secara bahasa
 artinya orang yang berkendaraan. 
Dan yang dimaksudkan adalah para pedagang yang berkendaraan. Karena umumnya pedagang membawa dagangan adalah dengan menggunakan kendaraan.
๐Ÿ”บSedangkan maknanya secara istilah adalah, menemui atau menghadang rombongan kafilah dagang yang hendak berdagang menuju pasar membawa barang dagangannya, dengan maksud untuk membeli barang dagangan mereka, sebelum sampai ke pasar dan atau sebelum mereka mengetahui harga pasar.
๐Ÿ“šHukum Talaqqi Rukban
Ulama berbeda pendapat, perihal hukum talaqqi rukban :
๐Ÿ’ฆImam Syaukani mengemukakan bahwa hukum talaqqi rukban, yaitu mencegat kafilah dagang untuk membeli barang dagangan mereka sebelum mereka sampai ke pasar dan mengetahui harga pasar, adalah haram.
๐Ÿ’ฆSedangkan Abu Hanifah berpendapat bahwa talaqqi rukban hukumnya boleh dan menjadi makruh, apabila :
๐Ÿ”นMerugikan penduduk (masyarakat) yang menjadi tujuan para kafilah dagang.
๐Ÿ”นInformasi tentang harga pasar menjadi samar dan tidak jelas, sehingga pedagang tidak mengetahui berapa harga pasarnya.
๐Ÿ’กKesimpulannya adalah, bahwa hukum talaqqi rukban yang mengakibatkan kerugian bagi penjual (kafilah dagang), adalah haram, tidak diperbolehkan. 
Kecuali apabila pedagang mengetahui dengan pasti harga pasar, dan ia menjual dengan keridhaannya atas dasar harga pasar yang diketahuinya.
๐Ÿ“šDampak Talaqqi Rukban Pada Jual Beli
๐Ÿ”นBersambung๐Ÿ”น
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน
Dipersembahkan:
www.iman-islam.com
๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…
Prinsip Jual Beli

Bab Larangan Orang Kota Menjual Kepada Orang Desa

Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“šHadits #1

ุนูŽู†ู ุงุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽุŒ ู†ูŽู‡ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุจููŠู’ุนูŽ ุญูŽุงุถูุฑูŒ ู„ูุจูŽุงุฏู (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ูˆุงู„ู†ุณุงุฆูŠ)

Dari Ibnu Umar ra berkata, โ€˜bahwa Rasulullah SAW melarang orang kota menjual kepada orang desa.โ€™ (HR. Bukhari & Nasaโ€™i)

๐Ÿ“šHadits #2

ุนูŽู†ู’ ุฌูŽุงุจูุฑู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู„ุงูŽ ูŠูŽุจูุนู’ ุญูŽุงุถูุฑูŒ ู„ูุจูŽุงุฏู ุฏูŽุนููˆุง ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูŽ ูŠูŽุฑู’ุฒูู‚ู’ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจูŽุนู’ุถูŽู‡ูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุถู (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ ุฅู„ุง ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ)

Dari Jabir ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, โ€˜Janganlah orang kota menjual kepada orang desa. Biarkanlah manusia (melakukan usahanya masing-masing), Allah memberi rizki sebagian mereka dari sebagian yang lain.โ€™ (HR. Jamaโ€™ah, kecuali Imam Bukhari)

๐Ÿ“šHadits #3

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽู†ูŽุณู ุจู’ู†ู ู…ูŽุงู„ููƒู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู†ูู‡ููŠู†ูŽุง ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุจููŠุนูŽ ุญูŽุงุถูุฑูŒ ู„ูุจูŽุงุฏู ูˆูŽุฅูู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุฃูŽุฎูŽุงู‡ู ู„ุฃูŽุจููŠู’ู‡ู ูˆูŽุฃูู…ูู‘ู‡ู (ู…ุชูู‚ ุนู„ูŠู‡)ุŒ ูˆูŽู„ุฃูŽุจููŠู’ ุฏูŽุงูˆูุฏูŽ ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุณูŽุงุฆููŠ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู†ูŽู‡ูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุจููŠู’ุนูŽ ุญูŽุงุถูุฑูŒ ู„ูุจูŽุงุฏูุŒ ูˆูŽุฅูู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุฃูŽุจูŽุงู‡ู ุฃูŽูˆู’ ุฃูŽุฎูŽุงู‡ู

Dari Anas bin Malik ra berkata, bahwa sesungguhnya kami orang kota dilarang menjual kepada orang desa, sekalipun ia saudaranya, baik saudara dari bapaknya maupun dari ibunya. (Muttafaqun Alaih).

Dan dari riwayat Abu Daud dan Nasaโ€™i, โ€˜Bahwa Nabi SAW melarang orang kota menjual kepada orang desa, meskipun ia adalah ayahnya atau saudaranya.โ€™

๐Ÿ“šHadits #4

ุนูŽู†ู’ ุงุจู’ู†ู ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู„ุงูŽ ุชูŽู„ูŽู‚ู‘ูŽูˆู’ุง ุงู„ุฑู‘ููƒู’ุจูŽุงู†ูŽ ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูŽุจูุนู’ ุญูŽุงุถูุฑูŒ ู„ูุจูŽุงุฏู ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽู‚ูู„ู’ุชู ู„ุงุจู’ู†ู ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ู…ูŽุง ู‚ูŽูˆู’ู„ูู‡ู ู„ุงูŽ ูŠูŽุจููŠุนู ุญูŽุงุถูุฑูŒ ู„ูุจูŽุงุฏู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ุงูŽ ูŠูŽูƒููˆู†ู ู„ูŽู‡ู ุณูู…ู’ุณูŽุงุฑู‹ุง (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ ุฅู„ุง ุงู„ุชุฑู…ุฐูŠ)

Dari Ibnu Abbas ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, โ€˜Janganlah kalian menghadang kafilah-kafilah dagang, dan janganlah orang kota menjual kepada orang desa.

Aku (Thawus) berkata kepada Ibnu Abbas, โ€˜Apakah arti sabda Nabi SAW jangalah orang kota menjual kepada orang desa?

Ibnu Abbas menjawab, โ€˜Jangalah ia menjadi perantara (makelar) baginya.โ€™ (Muttafaqun Alaih)

๐ŸŒทMakna Hadits Secara Umum

Secara umum, hadits ini menggambarkan tentang larangan bagi orang kota untuk menjual barang kepada orang desa.

Hal ini karena umumnya orang kota lebih maju, lebih lincah, lebih pintar dalam hal dagangan di bandingkan dengan orang desa.

Orang desa umumnya lebih kurang mengerti terkait transaksi, oleh karenanya tidak boleh memanfaatkan ketidaktahuan orang desa, dengan menjual barang-barang kepada mereka, sehingga dapat menimbulkan berbagai penipuan dan pengelabuan yang berakibat pada kerugian yang akan diderita oleh orang desa tersebut.

Perbuatan yang merugikan orang lain merupakan sifat yang buruk, dan oleh karenanya Nabi SAW melarangnya, karena merugikan dan menimbulkan mudharat.

๐ŸŒทMakna Orang Kota dan Orang Desa

๐Ÿ”บMakna (ุญุงุถุฑ) atau orang kota, adalah orang-orang yang secara tinggal di perkotaan, yang umumnya lebih mengerti dan memahami transaksi, harga barang-barang dan komoditi di pasaran.

Berasal dari kata (ุญุถุงุฑุฉ) yaitu peradaban.

๐Ÿ”บSedangkan (ุจุงุฏ) atau orang desa, adalah orang-orang yang tinggal di pedesaan, yang umumnya lebih terbelakang pengetahuannya tentang perdagangan, tidak terlalu memahami transaksi, harga barang-barang dan komoditi di pasaran.

Berasal dari kata (ุจุงุฏูŠุฉ) yang berarti kampung, udik. Menjadi akar kata dari orang baduy (ุจุฏูˆูŠ) yang umumnya sangat terbelakang tidak mengerti peradaban bahkan terkesan kurang akhlaknya.

๐ŸŒทMakna Larangan Orang Kota Menjual Kepada Orang Desa

Ulama berbeda pendapat berkenaan dengan makna larangan dalam hadits-hadits di atas :

๐Ÿ’ง Ibnu Abbas : bahwa yang dimaksud adalah menjadi simsar, atau perantara (makelar), bagi orang kota dalam menjual sesuatu kepada orang desa.

๐Ÿ’งImam Bukhari berpendapat menguatkan pendapat Ibnu Abbas, yaitu bahwa ย yang dimakud adalah orang-orang yang bertindak menguruskan jual beli untuk orang lain dengan upah.

๐Ÿ’ฆ Namun, apabila ia menjadi perantara dan tidak mengambil keuntungan dari situ, maka tidak termasuk dalam larangan di hadits di atas. Karena ia bertindak sebagai penasehat atau penolong.

๐Ÿ’ฆ Namun sebagian ulama lainnya memasukkan larangan ini kepada semua jenis makelar, baik yang mendapatkan upah maupun yang tidak mendapatkan upah.

๐Ÿ’งMenurut Syafiโ€™iyah dan Hanabilah : bahwa yang dimaksud adalah seperti seseorang datang ke suatu daerah dengan membawa barang dagangannya yang hendak di jual dengan harga pasar pada hari tersebut.

Lalu orang kota datang kepadanya dengan mengatakan, โ€˜berikan barangmu kepadaku, biar aku beli secara kredit dengan harga yang lebih tinggi.โ€™

๐Ÿ’งSebagaian ulama lainnya ada yang membatasi maknanya pada larangan menjadi makelar khusus untuk orang desa saja. Sedangkan menjadi makelar untuk orang kota, maka tidak termasuk dalam larangan tersebut. Kecuali jika orang kotanya juga tidak mengetahui transaksi dan harga pasaran sebagaimana orang desa, maka masih termasuk yang dilarang.

๐Ÿ’ฆKesimpulan dari pendapat ulama tentang larangan orang kota menjual kepada orang desa adalah bahwa orang kota yang mengerti transaksi jual beli, mengerti barang dan komoditi, dan mengerti segala hal terkait dengan pasar dan harga pasar, lantas memanfaatkan ketidaktahuan orang-orang desa atau orang-orang kampung dengan menjual barang-barang kepada mereka.

Karena hal ini dapat merugikan pihak orang-orang desa yang tidak terlalu mengerti tentang harga barang komoditi.

Akibatnya, orang desa bisa dirugikan dari beberapa sisi, diantaranya :
๐Ÿ”น Membeli barang-barang yang sesungguhnya sudah tidak update lagi, atau sudah ketinggalan .
๐Ÿ”น Membeli barang-barang dengan harga jauh di atas harga rata-rata, dsb.

๐ŸŒทLarangan Mencegat Kafilah Dagang

Termasuk yang dilarang dalam hadits-hadits di atas adalah larangan mencegat kafilah dagang di tengah jalan, yang bermaksud menjual barang dagangannya ke pasar dengan harga yang berlaku umum di pasaran.

Dalam hadits di atas disebutkan :

ู„ุงูŽ ุชูŽู„ูŽู‚ู‘ูŽูˆู’ุง ุงู„ุฑู‘ููƒู’ุจูŽุงู†ูŽ

โ€˜Janganlah kalian menghadang kafilah-kafilah (dagang)โ€™ (HR. Jamaah)

Karena umumnya kafilah tersebut belum mengetahui berapa harga barangnya di pasaran, sehingga ketidaktahuan mereka dimanfaatkan dengan dicegat di tengah jalan, lantas diberikan informasi palsu bahwa harga pasar adalah sekian dan sekian, supaya mereka bisa melepaskan barangnya dengan harga di bawah harga pasar yang sebenarnya.

Contohnya adalah seperti para petani dari desa yang akan menjual barang dagangannya ke pasar di kota. Namun dicegat oleh para pengusaha atau tengkulak dan barang mereka dengan harga murah dengan memanfaatkan ketidaktahuan para pedagang tersebut.

Bentuk-bentuk lainnya adalah sebagai berikut :

๐Ÿ”น Memborong atau memonopoli barang yang dibawa oleh kafilah dagang.
๐Ÿ”นMengurangi keuntungan kafilah dagang.
๐Ÿ”นMenimbun dan memacetkan arus barang, sehingga tidak sega tiba di tangan konsumen yang membutuhkannya, dan berakibat pada tingginya harga barang dang menguntungkan pihak ketiga.
๐Ÿ”นMenipu harga kepada kafilah dagang, dengan memberitahu harga yang tidak benar.

Jika dianalisa, maka masuk dalam larangan tersebut adalah para tengkulak yang umumnya membeli barang dari petani sehingga petani menjadi merugi, karena menjualnya jauh di bawah harga pasaran.

Tengkulak umumnya sangat mengetahui fruktuasi harga pasar, dan ia memiliki alat transportasi yang memadai, dan umumnya memiliki akses besar ke para petani dan ke para pedangang di pasar. Nah, ketika ia memotong jalur para petani dengan membeli langsung dari para petani dengan harga yang tidak wajar, maka hukumnya haram.

Terlebih-lebih apabila disertai dengan monopoli, sehingga petani tidak bisa berbuat apa-apa atau tidak punya pilihan lain selain menjual dengan harga murah kepada para tengkulak tersebut. Maka hukumnya haram; karena monopoli dan juga karena terdapat unsur pendzaliman (aniaya) kepada para penjualnya.

Apabila terjadi pencegatan kafilah dagang, maka hukumnya adalah sebagaimana dalam hadits berikut :

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู†ูŽู‡ูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุชูŽู„ูŽู‚ู‘ูŽู‰ ุงู„ู’ุฌูŽู„ูŽุจู ููŽุฅูู†ู’ ุชูŽู„ูŽู‚ู‘ูŽุงู‡ู ุฅูู†ู’ุณูŽุงู†ูŒ ููŽุงุจู’ุชูŽุงุนูŽู‡ู ููŽุตูŽุงุญูุจู ุงู„ุณู‘ูู„ู’ุนูŽุฉู ูููŠู‡ูŽุง ุจูุงู„ู’ุฎููŠูŽุงุฑู ุฅูุฐูŽุง ูˆูŽุฑูŽุฏูŽ ุงู„ุณู‘ููˆู‚ูŽ (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุชุฑู…ุฐูŠ)

๐Ÿ’งDari Abu Hurairah ra, bahwasanya Nabi SAW melarang penghadangan barang yang dibawa (dari luar kota).
Apabila seseorang menghadang lalu membelinya, maka pemilik barang ada hak khiyar padanya, apabila datang ke pasar.โ€™ (HR. Turmudzi)

Jadi, apabila si pedagang sampai di pasar dan mengetahui harga pasar, lantas ia menginginkan pembatalan jual beli sebelumnya, maka si pembeli harus mengembalikannya kepada pedagang.

๐ŸŒทHikmah di Balik Larangan

Islam sangat melindungi kepentingan para pemeluknya; khususnya yang berposisi lebih lemah dan lebih rentan untuk menjadi objek penipuan dan kedzaliman dalam sisi harta.

Dalam hal ini dicontohkan adalah posisi orang desa yang jauh dari peradaban, yang umumnya tidak banyak mengetahui komoditi harga, dsb.

๐Ÿ’ฆMaka tidak boleh memanfaatkan ketidaktahuan mereka, dengan menjual barang-barang atau komoditi tertentu kepada mereka yang nantinya dapat merugikan mereka; baik merugikan dari sisi kemanfaatan barang tersebut maupun dari sisi harga yang lebih tinggi dari yang seharusnya.

Masuk dalam larangan di atas adalah menjadi makelar atau perantara, yang bisa merugikan pihak yang lemah. Dan dalam contoh kasus dari hadits di atas adalah menjadi makelar bagi orang desa yang ketidaktahuannya dapat dimanfaatkan menjadi celah bagi makelar untuk mendapatkan keuntungan berlimpah.

Masuk juga dalam larangan ini, menjadi makelar untuk pihak manapun yang tidak memiliki pengetahuan yang baik terkait objek barang yang ditransaksikan, termasuk kepada orang kota.

๐Ÿ’ฆAdapun apabila terhadap orang yang mengetahui harga, komoditi, pasar, dsb, maka diperbolehkan. Termasuk kepada orang desa, namun ia faham tentang harga pasar dan komoditi, maka boleh menjual atau menjadi makelar bagi mereka.

๐Ÿ’ฆSecara umum, menjadi perantara atau makelar dalam jual beli maupun dalam transaksi lainnya dimana tidak ada unsur tipuan, paksaan, pengelabuan, bersifat memberikan informasi yang benar dan jujur, namun pada akhirnya calon pembeli lah yang menentukan apakah jadi membeli atau tidak, maka hal tersebut adalah diperbolehkan.

๐Ÿ’ฆMasuk dalam kategori yang diperbolehkan adalah profesi agen, marketing, tenaga pemasaran, dsb. Namun dengan syarat sebgaiamana di atas; tidak boleh memanfaatkan ketidaktahuan client nya.

๐Ÿ’ฆSyarat lainnya adalah bahwa objek yang ditawarkannya bukanlah merupakan objek yang diharamkan secara syariah. Namun apabila yang ditawarkannya adalah sesuatu yang haram, maka hukumnya adalah haram.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฃุนู„ู‰ ูˆุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ
ูˆุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู†

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Bab Larangan Jual Beli Hutang Dengan Hutang

Oleh: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

ุจุงุจ ุงู„ู†ู‡ูŠ ุนู† ุจูŠุน ุงู„ุฏูŠู† ุจุงู„ุฏูŠู†

Silahkan buka materi sebelumnya di tautan berikut ini:

http://www.iman-islam.com/2016/02/bab-larangan-jual-beli-hutang-dengan.html

2. Menjual hutang secara tunai pada saat transaksi.

Ulama membagi jual beli hutang secara tunai, menjadi dua bagian, yaitu :

a. ุจูŠุน ุงู„ุฏูŠู† ู„ู„ู…ุฏูŠู† – Menjual piutang kepada pihak yang berhutang.

Kebanyakan ahli fiqih dari empat madzhab memperbolehkan menjual piutang atau menghibahkan piutang kepada orang yang berhutang.

Karena penghalang dari sahnya menjual piutang dengan hutang adalah karena ketidakmampuan menyerahkan objek akad.

Sementara dalam jual beli piutang kepada orang yang berhutang di sini, tidak diperlukan lagi penyerahterimaan objek akad, karena piutang sudah ada pada orang yang meminjamnya sehingga sudah diserah terimakan dengan sendirinya.

Contohnya adalah orang yang memberikan pinjaman (ุงู„ุฏุงุฆู†), menjual piutangnya yang ada pada peminjam (ุงู„ู…ุฏูŠู†) dengan harga dari sesuatu yang bukan sejenis piutangnya.

Namun, berbeda dengan jumhur Ulama, Madzhab Zhahiriyah berperdapat bahwa menjual piutang kepada orang yang berhutang adalah tidak sah, karena jual beli ini mengandung unsur gharar.

Dalam hal ini Ibnu Hazam berkata, โ€˜karena jual beli ini termasuk jual beli barang yang tidak diketahui dan tidak jelas barangnya.

Inilah yang disebut dengan memakan harta orang lain dengan cara yang bathil.

b. ุจูŠุน ุงู„ุฏูŠู† ู„ุบูŠุฑ ุงู„ู…ุฏูŠู† – Menjual hutang kepada orang lain yang bukan merupakan orang yang berhutang.

Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

#1. Mahdzhab Hanafi, Hambali dan Zhahiri mengatakan bahwa oleh karena pada dasarnya tidak boleh menjual barang yang tidak bisa diserah terimakan, maka menjual piutang kepada orang lain yang bukan berhutang adalah tidak boleh.

Sebab piutang tidak bisa diserahkan kecuali kepada orang yang berhutang itu sendiri.
Karena piutang adalah ibarat dari harta yang ada dalam tanggungan seseorang secara hukum, atau ibarat dari mengalihkan hak kepemilikan dan menyertakannya.

Kedua hal tersebut tidak bisa diserahkan oleh penjual kepada pihak lain yang bukan berhutang.

#2. Sementara Madzhab Syafiโ€™i dan Maliki berpendapat bahwa boleh menjual piutang kepada orang lain yang tidak berhutang apabila memenuhi delapan syarat berikut:

a. Jual beli tidak mengakibatkan pada pelanggaran syariah, seperti  riba, gharar, atau sejenisnya.

b. Piutang harus dijual dengan harga tunai agar terhindar dari hukum jual beli piutang yang dilarang.

c. Harga harus berupa sesuatu yang bukan sejenis piutang yang dijual atau sejenisnya tetapi harus ada persamaan jumlahnya agar tidak terjebak dengan jual beli riba yang haram.

d. Harga tidak boleh berupa emas, jika piutang yang dijual adalah perak agar tidak terjadi jual beli uang dengan uang yang tidak tunai, tanpa diserahkan keduanya.

e. Adanya dugaan kuat untuk mendapatkan piutang (dilunasinya hutang), seperti kemungkinan hadirnya orang yang berhutang di tempat dilaksanakannya akad guna mengetahui kondisinya, apakah ia memiliki dana atau tidak.

f. Orang yang berhutang harus mengakui hutangnya agar ia tidak mengingkarinya setelah itu. Maka oleh karenanya tidak diperbolehkan menjual hak milik yang disengketakan.

g. Orang yang berhutang adalah orang yang layak untuk membayar hutangnya; atau debitur bukanlah orang yang tidak mampu atau bukan orang yang terhalang. Hal ini untuk memastikan agar ia bisa menyerahterimakan barang atau hutang.

h. Tidak adanya konflik antara pembeli dan orang yang berhutang seingga pembeli tidak dirugikan, atau agar debitur tidak dirugikan dalam bentuk memberi peluang kepada sengketanya untuk merugikannya.

Hukum Baiโ€™ Dain

Dalam jual beli dain (sebagaimana pembahasan di atas), ada rukun dan syarat yang harus dipenuhi, agar jual beli tersebut menjadi sah, terutama terkait dengan objek akadnya.

Objek akad yang ditransaksikan haruslah merupakan objek yang jelas, baik jenisnya, bentuknya, jumlahnya, spesifikasinya dan sebagainya.

Apabila terjadi ketidakjelasan pada objek akadnya, maka akan menjadikan transaksinya tidak sah.
Seperti jual beli tanah, namun tidak ditentukan tanah yang mana. Jika demikian, maka transaksi jual beli tanah tersebut menjadi tidak sah.

๐Ÿ”น Illat utama dari baiโ€™ dain adalah karena dua hal :

Gharar (ada unsur ketidakjelasan pada objek akad)

– Adamul qudrah alat taslim (tidak dapat diserah-terimakan pada saat berlangsungnya akad)

ูˆุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฃุนู„ู‰ ูˆุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ
ูˆุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู†

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Bab Larangan Jual Beli Hutang Dengan Hutang (bag. 1)

Oleh: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

ุจุงุจ ุงู„ู†ู‡ูŠ ุนู† ุจูŠุน ุงู„ุฏูŠู† ุจุงู„ุฏูŠู†

Hadits #1

ุนูŽู†ู ุงุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจูู‰ู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู†ูŽู‡ูŽู‰ ุนูŽู†ู’ ุจูŽูŠู’ุนู ุงู„ู’ูƒูŽุงู„ูุฆู ุจูุงู„ู’ูƒูŽุงู„ูุฆู (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ู†ุณุงุฆูŠ ููŠ ุงู„ูƒุจุฑู‰ ูˆุงู„ุญุงูƒู… ูˆุงู„ุฏุงุฑู‚ุทู†ูŠ)

Dari Ibnu Umar ra. bahwasanya Nabi SAW melarang jual beli hutang dengan hutang.
(HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra, Daruquthni dan Al-Hakim dalam Mustadraknya)

Hadits #2

ุนูŽู†ู’ ุงุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ูƒูู†ู’ุชู ุฃูŽุจููŠุนู ุงู’ู„ุฅูุจูู„ูŽ ุจูุงู„ู’ุจูŽู‚ููŠุนู ููŽุฃูŽุจููŠุนู ุจูุงู„ุฏู‘ูŽู†ูŽุงู†ููŠุฑู ูˆูŽุขุฎูุฐู ุงู„ุฏู‘ูŽุฑูŽุงู‡ูู…ูŽ ูˆูŽุฃูŽุจููŠุนู ุจูุงู„ุฏู‘ูŽุฑูŽุงู‡ูู…ู ูˆูŽุขุฎูุฐู ุงู„ุฏู‘ูŽู†ูŽุงู†ููŠุฑูŽ ุขุฎูุฐู ู‡ูŽุฐูู‡ู ู…ูู†ู’ ู‡ูŽุฐูู‡ู ูˆูŽุฃูุนู’ุทููŠ ู‡ูŽุฐูู‡ู ู…ูู†ู’ ู‡ูŽุฐูู‡ู ููŽุฃูŽุชูŽูŠู’ุชู ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ูููŠ ุจูŽูŠู’ุชู ุญูŽูู’ุตูŽุฉูŽ ููŽู‚ูู„ู’ุชู ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฑููˆูŽูŠู’ุฏูŽูƒูŽ ุฃูŽุณู’ุฃูŽู„ููƒูŽ ุฅูู†ู‘ููŠ ุฃูŽุจููŠุนู ุงู’ู„ุฅูุจูู„ูŽ ุจูุงู„ู’ุจูŽู‚ููŠุนู ููŽุฃูŽุจููŠุนู ุจูุงู„ุฏู‘ูŽู†ูŽุงู†ููŠุฑู ูˆูŽุขุฎูุฐู ุงู„ุฏู‘ูŽุฑูŽุงู‡ูู…ูŽ ูˆูŽุฃูŽุจููŠุนู ุจูุงู„ุฏู‘ูŽุฑูŽุงู‡ูู…ู ูˆูŽุขุฎูุฐู ุงู„ุฏู‘ูŽู†ูŽุงู†ููŠุฑูŽ ุขุฎูุฐู ู‡ูŽุฐูู‡ู ู…ูู†ู’ ู‡ูŽุฐูู‡ู ูˆูŽุฃูุนู’ุทููŠ ู‡ูŽุฐูู‡ู ู…ูู†ู’ ู‡ูŽุฐูู‡ู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู„ุงูŽ ุจูŽุฃู’ุณูŽ ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุฃู’ุฎูุฐูŽู‡ูŽุง ุจูุณูุนู’ุฑู ูŠูŽูˆู’ู…ูู‡ูŽุง ู…ูŽุง ู„ูŽู…ู’ ุชูŽูู’ุชูŽุฑูู‚ูŽุง ูˆูŽุจูŽูŠู’ู†ูŽูƒูู…ูŽุง ุดูŽูŠู’ุกูŒ (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ู†ุณุงุฆูŠ ูˆุฃุจูˆ ุฏุงูˆุฏ ูˆุฃุญู…ุฏ ูˆุงู„ุญุงูƒู…)

Dari Ibnu Umar, dia berkata; โ€˜Aku pernah menjual unta di Baqiโ€˜, aku menjualnya dengan beberapa dinar, dan aku mengambil beberapa dirham, dan menjual dengan beberapa dirham dan mengambil beberapa dinar.

Kemudian aku datang menemui Nabi SAW di rumah Hafshah ra, lalu aku berkata; “Wahai Rasulullah, aku ingin bertanya. Sesungguhnya aku menjual unta di Baqi’, aku menjualnya dengan dinar dan mengambil dirham, dan menjualnya dengan dirham dan mengambil dinar. Aku mengambil ini sebagai ganti dari ini dan memberi ini sebagai ganti dari ini.โ€™

Kemudian Beliau bersabda: “Tidak mengapa engkau mengambilnya dengan harga pada hari itu, selama kalian berdua belum berpisah sementara (ketika itu) di antara kalian ada sesuatu.”
(HR. Nasaโ€™i, Abu Daud, Ahmad dan Al-Hakim)

Takhrij Hadits

1. Hadits pertama diriwayatkan oleh:

Imam Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra nya, dalam Jamaโ€™ Abwab Ar-Riba, Bab Ma Jaโ€™a fin Nahyi an Baiโ€™ ad-Dayn bi ad-Dayn, Juz V, hal 716.

Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadraknya, Kitab Al-Buyuโ€™, Bab Wa Amma Hadits Maโ€™mar bin Rasyid, hadits no 2302.

Imam Daruquthni dalam Kitab Al-Buyuโ€™, hadits no 3105, Juz VII, hal 351.

2. Hadits kedua diriwayatkan oleh :

Imam Abu Daud dalam sunannya, Kitab Al-Buyuโ€™, Bab fi Iqtidhaโ€™ ad-Dahahab Minal Waraq, hadits no 2911.

Imam Tirmidzi dalam Jamiโ€™nya, Kitab Al-Buyuโ€™ an Rasulillah SAW, Bab Ma Jaโ€™a fi as-Sharf, hadits no 1163.

Imam Nasaโ€™i dalam Sunannya, Kitab Al-Buyuโ€™, Bab bai al-fidhah bid ad-dzhab wa baiโ€™ ad-dzahab bi al-fiddhah, hadits no 4506.

Imam Ibnu Majah dalam Sunannya, Kitab at-Tijarat, Bab Iqtidhaโ€™ ad-Dzahab mi al-waraq wa al-Waraq min ad-Dzahab, hadits no 2253.

Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, dalam Musnad Abdullah bin Umar bin Khattab, hadits no 5296, 5300, 5959 dan 6139.

Makna Umum

Hadits pertama secara umum menggambarkan tentang larangan jual beli hutang dengan hutang, atau jual beli barang yang masih tangguh yang belum diterima dengan uang yang juga masih tangguh atau belum diterima.

Larangan jual beli hutang dengan hutang, adalah sama seperti larangan jual beli maโ€™dum (yaitu jual beli yang objek barangnya tidak ada) dengan uang atau harga yang juga maโ€™dum (uangnya belum ada atau belum diterima).

Adapun hadits kedua menggambarkan tentang bolehnya menukar harga yang berada dalam jaminan seseorang dengan mata uang lain. Namun kebolehannya bersyarat, dengan adanya taqabudh (saling menggemgam barang saat transaksi, sebagai bukti bahwa transaksinya memiliki objek akad)
Karena emas dan perak keduanya merupakan barang-barang ribawi yang tidak boleh ditukarkan kecuali dengan cash pada saat transaksi.

Pembahasan Fiqh Baiโ€™ Dain

Dalam Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, Syekh Wahbah Al-Zuhaily memberikan pembahasan tentang baiโ€™ ad-dain (ุจูŠุน ุงู„ุฏูŠู†) sebagai berikut (4/432):

#1. ุจูŠุน ุงู„ุฏูŠู† ู†ุณุฆุฉ –

1. Menjual hutang dengan hutang (tunggakan pembayaran)

Dalam fiqh dikenal dengan baiโ€™ ad-dain by ad-dayn atau dalam hadits disebut baiโ€™ al-kali bil kali (ุจูŠุน ุงู„ูƒุงู„ุฆ ุจุงู„ูƒุงู„ุฆ).
Bentuk jual beli seperti ini adalah dilarang secara syariah.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits :

ุนูŽู†ู ุงุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจูู‰ู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู†ูŽู‡ูŽู‰ ุนูŽู†ู’ ุจูŽูŠู’ุนู ุงู„ู’ูƒูŽุงู„ูุฆู ุจูุงู„ู’ูƒูŽุงู„ูุฆู
(ุฑูˆุงู‡ ุงู„ู†ุณุงุฆูŠ ููŠ ุงู„ูƒุจุฑู‰ ูˆุงู„ุญุงูƒู… ูˆุงู„ุฏุงุฑู‚ุทู†ูŠ)

Dari Ibnu Umar ra bahwasanya Nabi SAW melarang jual beli hutang dengan hutang.
(HR. An-Nasaโ€™i dalam Sunan Al-Kubra, Daruquthni dan Al-Hakim)

Contoh jual beli hutang dengan hutang adalah sebagai berikut :

โ€˜Saya beli dari kamu satu mud gandum dengan harga satu dinar dengan serah terima dilakukan setelah satu bulan.โ€™

Atau seseorang membeli barang yang akan diserahkan pada waktu tertentu lalu ketika jatuh tempo, penjual tidak mendapatkan barang untuk menutupi utangnya, lantas berkata kepada pembeli,

‘Juallah barang ini kepadaku dengan tambahan waktu lagi dengan imbalan tambahan barangโ€™.

Lalu pembeli menyetujui permintaan penjual dan kedua belah pihak tidak saling sarah terima barang.

Atau dengan bentuk lain yang melibatkan pihak ketiga:
โ€˜Saya jual kepadamu 20 mud gandum milikku yang dipinjam oleh fulan dengan harga sekian dan kamu bisa membayarnya kepadaku setelah satu bulan.โ€™

Jual beli seperti ini adalah jual beli yang terlarang, dan ulama sepakat akan keharamannya.

#2. ุจูŠุน ุงู„ุฏูŠู† ู†ู‚ุฏุง ููŠ ุงู„ุญุงู„ –

2. Menjual hutang secara tunai pada saat transaksi.

Bersambung

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Larangan Jual Beli Sesuatu Yang Tidak Dimiliki (Baiโ€™ Maโ€™dum)

Pemateri: Ust. Rikza Maulan, Lc., M.Ag

Taujih Nabawi

ุนูŽู†ู’ ุญูŽูƒููŠู…ู ุจู’ู†ู ุญูุฒูŽุงู…ู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽุฃู’ุชููŠู†ููŠ ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู ููŽูŠูุฑููŠุฏู ู…ูู†ู‘ููŠ ุงู„ู’ุจูŽูŠู’ุนูŽ ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุนูู†ู’ุฏููŠ ุฃูŽููŽุฃูŽุจู’ุชูŽุงุนูู‡ู ู„ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ุงู„ุณู‘ููˆู‚ู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ุงูŽ ุชูŽุจูุนู’ ู…ูŽุง ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุนูู†ู’ุฏูŽูƒูŽ (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุฎู…ุณุฉ)

Dari Hakim bin Hizam ra, ia berkata, โ€˜Wahai Rasulullah, seseorang datang kepadaku ingin membeli sesuatu yang tidak aku miliki, apakah boleh aku memberlikan untuknya dari pasar?

Beliau bersabda,
โ€˜Janganlah engkau menjual apa yang tidak engkau miliki.โ€™ (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasaโ€™I, Ibnu Majah, & Imam Ahmad bin Hambal)

Takhrij Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dalam Sunannya, Kitab Al-Buyuโ€™, Bab Fi ar-Rajul Yabiโ€™u Ma Laisa Lahu, hadits no 3040.

Diriwayatkan juga oleh Imam Tirmidzi dalam Jamiโ€™nya, Kitab Al-Buyuโ€™ โ€˜an Rasulillah, Bab Ma Jaโ€™a fi Karahiyati Baiโ€™ Ma Laisa โ€˜Indak, hadits no 1153.

Diriwayatkan juga oleh Imam Nasaโ€™i dalam Sunannya, Kitab Al-Buyuโ€™, Bab Baiโ€™ Ma Laisa โ€˜Indal Baโ€™Iโ€™, hadits no 4534.

Diriwayatkan juga oleh Imam Ibnu Majah dalam sunannya, Kitab Al-Buyuโ€™, bab An-Nahyu an Baiโ€™ Ma Laisa Indak wa An Ribhi Ma Lam Yudman, hadits no 2178.

Diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, pada Musnad Al-Makiyin, dalam Musnad Hakim bin Hizam an Rasulillah SAW, hadits no 14772,

Makna Umum

Secara umum, hadits ini menggambarkan tentang larangan jual beli barang yang tidak ada atau jual beli barang yang belum dimiliki oleh penjual, baru kemudian ia membelinya di pasaran, lalu ia menjualnya kepada pembeli.

Dalam istilah lainnya, jual beli dimana penjual tidak memiliki atau belum memiliki objek jual belinya, dikenal juga dengan istilah baiโ€™ maโ€™dum, yaitu jual beli yang objeknya tidak ada.

Hadits Hakim bin Hizam di atas menggambarkan bahwa ia didatangi oleh seseorang yang ingin membeli sesuatu yang tidak ia miliki. Kemudian nanti ia AKAN membelinya, lalu menjualnya kepada orang tersebut.

Namun ternyata hal tersebut dilarang oleh Rasulullah SAW dengan sabdanya, โ€˜Janganlah engkau menjual sesuatu yang tidak ada pada dirimu.โ€™

Makna Sesuatu Yang Tidak Ada (Maโ€™dum)

Sesuatu yang tidak ada (maโ€™dum) adalah sesuatu yang tidak dimiliki oleh penjual, atau tidak dalam kuasa dan genggaman penjual dan tidak dalam penguasaan penjual.

Sehingga penjual tidak bisa melakukan serah terima barang yang ditransaksikan tersebut kepada pembeli.

Sementara diantara syarat dalam jual beli adalah bahwa objek yang diperjualbelikan harus bisa diserah terimakan.

Masuk dalam kategori sesuatu yang tidak ada (maโ€™dum) adalah:

jual beli anak dari anaknya onta (habalil habalah),

jual beli onta yang hilang yang tidak diketahui keberadaannya,

jual beli mutiara yang masih berada di dalam kerang di tengah lautan,

jual beli susu hewan yang masih berada dalam teteknya,

jual beli buku sebelum ditulis bukunya, dsb.

Dikecualikan dari jual beli sesuatu yang tidak ada (maโ€™dum) adalah jual beli barang yang ada, namun tidak ada di hadapan penjual maupun pembeli pada saat transaksi, namun sesungguhnya wujudnya ada di tempat lain.

Atau dengan istilah lain, disebut dengan ghaโ€™ib.

Jual beli barang yang ghaib adalah boleh, dengan syarat wujud barangnya ada.

Dikecualikan juga jual beli barang yang tidak ada, namun secara sifat, spesifikasi, dan wujud keberadaannya secara logika dan kebiasaan umum akan ada, maka termasuk diperbolehkan.

Oleh karenanya, diperboleh kan baiโ€™ salam dan baiโ€™ istishnaโ€™.

Jenis-Jenis Baiโ€™ Maโ€™dum
Dan Hukumnya

 Bersambung

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…