Wasiat Harta

Judul: Wasiat Harta

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… mau bertanya. Apa perbedaan seseorang berwasiat harta dengan memberikan hadiah?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Syaikh K.H. Muhammad Muhajirin Amsaar Bakasiy Rahimahullah -seorang ulama Nusantara, berasal dari Bekasi- dia berkata dalam Syarahnya terhadap kitab Bulughul Maram:

و الوصية بالمال هي التبرع بعد الموت و اما التبرع فى الحياة فانه هبة أو صدقة أو هدية فلا تنفيذ الوصية الا بعد الموت

Wasiat dengan harta adalah pemberian yang dilakukan setelah kematian. Sedangkan pemberian pada saat masih hidup itu adalah hibah, sedekah, dan hadiah. Maka, wasiat tidak bisa dilaksanakan kecuali setelah kematian.

(Mishbahuzh Zhalam Syarh Bulugh Al Maram, Jilid. 3, Hal. 13. 2914M-1435H. Darul Hadits. Jakarta)

Syariat Islam menganjurkan umatnya menuliskan wasiat, sebagaimana hadits berikut:

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ما حقُّ امِرئٍ مسلمٍ ، له شيءُ يُوصي فيه ، يَبِيتُ ليلتين إلا ووصيتُه مكتوبةٌ عندَه

Tidak ada hak bagi seorang muslim yang memiliki sesuatu yang bisa diwasiatkan, dia bermalam selama dua malam, melainkan wasiatnya sudah tertulis disisinya. (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Ini menunjukkan anjuran kuat bagi seorang muslim untuk melakukannya. Syaikh K.H. Muhammad Muhajirin Amsaar Rahimahullah berkata:

قال النووى فى شرح مسلم : فيه الحث على الوصية، قد اجمع على الامر بها، لكن مذهبنا و مذهب الجماهير انها مندوبة لا واجبة، و قال داود و غيره من اهل الظاهر: هي واجبة لهذا الحديث و لا دلالة لهم فيه، فليس فيه تصريح بإيجابها لكن ان كان على الإنسان دين أو حق أو عنده وديعة أو نحوه لزمه إيصاء بذلك

Imam An Nawawi berkata dalam Syarh Muslim: “Pada hadits ini terdapat dorongan untuk membuat wasiat. Telah terjadi ijma’ atas perintah membuatnya. Tetapi madzhab kami dan juga madzhab mayoritas ulama berpendapat bahwa hal itu sunah bukan wajib. Sedangkan Daud dan selainnya, dari golongan tekstualist (Ahluzh Zhahir), berpendapat wajib berwasiat berdasarkan hadits ini. Hadits ini bukankah alasan bagi mereka.

Di dalam hadits ini tidak ada keterangan yang menunjukkan wajibnya. Tetapi, jika manusia memiliki hutang, atau hak, atau dia memiliki harta wadi’ah (titipan), atau yang semisalnya, maka dia mesti/wajib berwasiat karena hal ini. (Mishbahuzh Zhalam, Ibid)

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Suami Adalah Pemimpin

Meninggalkan Suami Untuk Mengurus Ibu

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, selama ini Ibu biasa tinggal sendiri dikampung,anak2nya tinggal jauh ada yg di luar pulau dan di luar daerah.
Selama ini Ibu msh kuat mengurus dirinya sendiri.tetapi kami khawatir dg kesehatannya akhir2 ini, krn usia yg sdh sepuh.
Tidak ada saudara yg tinggal dekat dengannya. anak2nya, semua punya tanggungan pekerjaan dan keluarga yg sebagian besar masih pnya anak2 kecil.
Ibu di boyong disalah satu anaknya belum berkenan.
Akhirnya kami memutuskan untuk bergilir mengunjungi dan menemani Ibu,meskipun harus dg perjalanan jauh.
Bagi anak perempuan,berapa lama diperkenankan meninggalkan suami untuk mengurus Ibunya?
Terima kasih untuk pencerahannya Ustad/Ustazah. A/19
🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillahirrahmanirrahim..

Tidak ada ketentuan khusus berapa lama istri boleh menemani ibunya di rumah, dengan meninggalkan sementara suaminya. Hal ini tergantung izin dan keridhaan suami, berapa lama dia izinkan. Asalkan saat kepergiannya wanita tersebut ditemani suaminya, atau mahramnya, atau orang yang bisa dipercaya. Ini semua tidak masalah, Insya Allah ketaatan kepada suami tetap terjaga dan berbakti kepada ibu juga tetap terlaksana.

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Memelihara Kehormatan

Hukum Mendegarkan Ghibah

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, kita tidak pernah memilih dan tidak bisa menduga orang bercerita apa pada kita. Suatu ketika X menceritakan keburukan Y pada Z. X tau Y dan Z berteman baik. Z hanya mendengarkan apa yang disampaikan X, meski dalam hati Z juga tidak suka mendengar cerita buruk seseorang dan juga tahu bahwa Z sendiri juga mgkn memiliki kekurangan yg sama spt itu. Sedang Z sebagai teman Y juga tidak berani menyampaikan masukan X krn tipikal Y cepat emosi, sensitif dan baperan.
a. Apa yang harus dilakukan Z utk menghargai X dan Y? karena berada pada posisi itu.
b. Perlukah Z meminta maaf pada Y?
Apakah ini termasuk ghibah? dan apakah Z yg mendengar juga melakukan ghibah? A/34

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillahirrahmanirrahim..

Jika memang berteman baik, maka sangat aneh menggunjing kejelekan teman sendiri. Seharusnya saling menutupi kekurangan, jika memang mengaku berteman.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Siapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah Ta’ala akan tutup aibnya pada hari kiamat nanti. (HR. Muslim no.2580)

Apa yang diceritakan di atas adalah ghibah, jika yang diceritakan oleh X adalah hal negatif tentang Y yang tidak disukai oleh Y jika dia tahu itu diceritakan.

Tentang definisi ghibah, telah diceritakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri dalam salah satu haditsnya.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu:

أَنَّهُ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْغِيبَةُ قَالَ « ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ». قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ « إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ بَهَتَّهُ »

Bahwasanya ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ : “Wahai Rasulullah, Apakah ghibah itu?” Beliau bersabda: “Kamu menceritakan tentang saudaramu apa-apa yang dia tidak suka.”

Ditanyakan lagi: “Apa pendapatmu jika pada saudaraku memang seperti yang aku katakan.”

Beliau bersabda: “Jika apa yang kamu katakan memang ada, maka kamu telah menghibahinya. Jika apa yang kamu katakan tidak ada padanya, maka kamu telah melakukan buhtan (kebohongan keji).” (HR. Muslim No. 2589)

Maka, yang perlu dilakukan oleh Z atau siapa pun yang mendengar saudaranya sedang melakukan ghibah, atau dighibahi, hendaknya dia menasihatinya, jika tidak mampu minimal mengalihkan ke pembicaraan lainnya.

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah berkata:

واعلم : أن المستمع للغيبة شريك فيها، ولا يتخلص من إثم سماعها إلا أن ينكر بلسانه، فإن خاف فبقلبه وإن قدر على القيام، أو قطع الكلام بكلام آخر، لزمه ذلك . وقد روى عن النبى صلى الله عليه وآله وسلم أنه قال : من أذل عنده مؤمن وهو يقدر أن ينصره أذله الله عز وجل على رؤوس الخلائق ” وقال صلى الله عليه وآله وسلم : ” من حمى مؤمناً من منافق يعيبه، بعث الله ملكاً يحمى لحمه يوم القيامة من نار جهنم ” ورأى عمر بن عتبة مولاه مع رجل وهو يقع في آخر، فقال له : ويلك نزه سمعك عن استماع الخنا كما تنزه نفسك عن القول به، فالمستمع شريك القائل، إنما نظر إلى شر ما في وعائه فأفرغه في وعائك

Ketahuilah, bahwasanya menjadi pendengar ghibah sama juga terlibat dalam ghibah. Dia tidak akan lepas dari dosa mendengarkannya kecuali jika dia mengingkari dengan lisannya, jika dia takut minimal ingkari dengan hatinya. Jika dia mampu meluruskan atau memutuskan pembicaraan ke pembicaraan lain maka lakukanlah itu.

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa Beliau bersabda: “Barang siapa yang dihadapannya ada seorang mu’min direndahkan, padahal dia mampu membelanya, maka Allah akan rendahkan dia dihadapan para makhluk.”

Dalam hadits lain: “Barang siapa yang melindungi seorang mu’min dari munafiq yang menggunjingnya maka Allah akan utus malaikat untuk menjaga dagingnya dari sengatan neraka Jahanam pada hari kiamat.”

Umar bin Utbah melihat pelayannya sedang bersama seseorang yang sedang menggunjing orang lain. Beliau berkata:

“Celaka kamu, jagalah telingamu dan jangan dengarkan pembicaraan yang kotor, sebagaimana kamu menjaga lisanmu dari pembicaraan kotor, karena orang yang mendengarkan adalah sekutu bagi orang yang membicarakan. Dia melihat sesuatu yang buruk ada di bejananya lalu menuangkan keburukan itu ke bejanamu.”

(Mukhtashar Minhajul Qashidin, Ar Rub’uts Tsaalits, Hal. 30-31)

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Mempermudah dalam Muamalah

Memanfaatkan Barang Gadai

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, untuk barang gadai bisa di gunakan untuk perputaran modal ndak?

Kita ada program buka gadai LM Antam, tanpa biaya administrasi, biaya sewa dan bebas margin.

Kita hanya ambil margin dari perputaran LM Antam yang digadai itu
Jazaakallohu Ustadz 🙏 I/13

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillahirrahmanirrahim..

Dalam akad gadai (Ar Rahn), ada istilah-istilah yang mesti dipahami dulu.

Rahin yaitu orang yang menggadaikan barang, dan dia memperoleh “sesuatu” setelah dia menggadaikan barang tsb.

Murtahin yaitu pihak yg memberikan “sesuatu”, lalu dia yang memegang barang yang digadaikan.

Marhun yaitu barang yang digadaikan.

Permasalahan tentang apakah boleh murtahin memanfaatkan marhun (brg gadaian), sangat sering ditanyakan. Dalam hal ini para ulama merincinya menjadi dua bagian.

📌Pertama. Jika akadnya qardh (pinjaman). Misal, seorang minjam uang 1jt rupiah, dengan menggadaikan sebuah Hand Phone ke kawannya. Lalu, kawannya memakai HP tsb. Tau dia gadaikan laptop, lalu laptopnya dipakai si murtahin.

Ini haram menurut mayoritas ulama (bahkan Imam Ibnu Qudamah mengatakan tidak ada beda pendapat keharamannya), baik dia diizinkan atau tidak oleh pemiliknya, sebab saat dia memakainya maka dia mendapatkan riba. Sebab, dia dapat dua hal: piutang, yg akan dilunaskan untuknya, dan pemakaian tersebut yg merupakan ribanya.

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata:

عقد الرهن عقد يقصد به الاستيثاق وضمان الدين وليس المقصود منه الاستثمار والربح، وما دام ذلك كذلك فإنه لا يحل للمرتهن أن ينتفع بالعين المرهونة، ولو أذن له الراهن، لانه قرض جر نفعا، وكل قرض جر نفعا فهو ربا

Akad gadai adalah akad yg dengannya bermaksud untuk menjaga dan menjamin hutang, bukan untuk mengambil keuntungan dan hasil, *selama akadnya seperti itu maka dilarang si pemberi pinjaman memanfaatkan harta gadaian, walaun diizinkan oleh penggadai, karena itu menjadi pinjaman yang membuahkan untung, maka setiap untung didapatkan dari pinjaman maka itu riba.

(Fiqhus Sunnah, 3/156)

Syaikh Muhammad Shalih al Munajjid Rahimahullah mengatakan:

فإذا أذن الراهن للمرتهن بالانتفاع : فإن كان الدين دين قرض لم يجز للمرتهن الانتفاع بالرهن ، وإن أذن الراهن ؛ لأنه قرض جر نفعا فهو ربا

Jika pihak rahin mengizinkan murtahin memanfaatkannya, dan akadnya adalah hutang pinjaman maka tidak boleh bagi pihak murtahin memanfaatkannya walau itu diizinkan rahin. Sebab, pinjaman yang mendatangkan manfaatkan maka itu riba. (Al Islam Su’aalw a Jawaab no. 39734)

Imam al Baihaqi Rahimahullah -ulama hadits bermadzhab Syafi’i- mengatakan:

روينا عن فضالة بن عبيد ، أنه قال : كل قرض جر منفعة فهو وجه من وجوه الربا . وروينا عن ابن مسعود ، وابن عباس ، وعبد الله بن سلام ، وغيرهم في معناه ، وروي عن عمر ، وأبي بن كعب ، رضي الله عنهما

Kami meriwayatkan dari Fadhalah bin ‘Ubaid, bahwa dia berkata: “Setiap pinjaman yang memunculkan manfaat maka itu salah satu jenis dari berbagai jenis riba.” Kami meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Abdullah bin Salam, dan selain mereka dengan makna yang sama. Diriwayatkan juga dari Umar dan Ubay bin Ka’ad Radhiallahu ‘Anhuma. (as Sunan ash Shaghir, no. 1971)

Sedangkan jika tidak diizinkan pemiliknya, maka lebih besar lagi dosanya. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. (QS. An Nisa: 29)

Dalam hadits:

كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ : دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

Setiap muslim atas mulim lainnya adalah HARAM baik terhadap darahnya, hartanya, dan kehormatannya. (HR. Muslim no. 2564)

📌 Kedua. Jika akadnya jual beli. Misal, seorang beli motor, tapi uangnya kurang. Kekurangan itu akan di bayar misalnya selama 6 bulan secara cicil, selama cicilan tersebut si pembeli menggadaikan laptopnya ke penjual motor, lalu laptop itu dipakai oleh penjual motor tsb.

Jenis ini dibolehkan, jika diizinkan oleh pemilik barang gadainya. Ini bukan riba. Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah mengatakan:

وَإِنْ كَانَ الرَّهْنُ بِثَمَنِ مَبِيعٍ , أَوْ أَجْرِ دَارٍ , أَوْ دَيْنٍ غَيْرِ الْقَرْضِ , فَأَذِنَ لَهُ الرَّاهِنُ فِي الِانْتِفَاعِ , جَازَ ذَلِكَ

Jika gadai itu untuk menjamin harga dari transaksi jual beli, atau onkos sewa rumah, atau hutang yang bukan akad pinjaman, lalu diizinkan oleh rahin (pemilik barang gadai) untuk memanfaatkannya, maka hal itu dibolehkan. (Al Mughni, 4/250)

Tertulis dalam Al Mudawanah:

قُلْتُ: أَرَأَيْتَ الْمُرْتَهِنَ، هَلْ يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَشْتَرِطَ شَيْئًا مِنْ مَنْفَعَةِ الرَّهْنِ؟ قَالَ: إنْ كَانَ مِنْ بَيْعٍ فَذَلِكَ جَائِزٌ، وَإِنْ كَانَ الدَّيْنُ مِنْ قَرْضٍ فَلَا يَجُوزُ ذَلِكَ؛ لِأَنَّهُ يَصِيرُ سَلَفًا جَرَّ مَنْفَعَةً. قُلْتُ: وَهَذَا قَوْلُ مَالِكٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، إلَّا أَنَّ مَالِكًا قَالَ لِي: إذَا بَاعَهُ وَارْتَهَنَ رَهْنًا وَاشْتَرَطَ مَنْفَعَةَ الرَّهْنِ إلَى أَجَلٍ، قَالَ مَالِكٌ: لَا أَرَى بِهِ بَأْسًا فِي الدُّورِ وَالْأَرْضِينَ

Aku berkata: “Apa pendapat Anda tentang murtahin yang mensyaratkan akan memanfaatkan barang gadaian, apakah itu dibolehkan?” Beliau menjawab: “Jika itu berasal dari akad jual beli, maka boleh. Jika itu dari hutang pinjaman maka tidak boleh, sebab itu termasuk pinjaman yang mendatangkan manfaat (bagi yang memberikan pinjaman, riba). Aku berkata: “Apakah ini pendapat Malik?” Dia menjawab: “Ya, hanya saja Malik berkata kepadaku: “Jika seseorang menjual sesuatu dan ada yang digadaikan dan mensyaratkan memanfaatkan barang gadaian sampai batas waktu pembayaran, Malik berkata: “Menurutku tidak apa-apa baik dalam jual beli rumah dan tanah.” (Al Mudawanah, 4/149)

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Tidur Pagi Menghalangi Rezeki

Benarkah Jika Istri Bekerja Maka Rezeki Suami Jadi Berkurang?

Pertanyaan

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, apa benar rezeki istri itu ada di suami sehingga istri tak perlu bekerja? Karena kalau istri bekerja maka rezeki suami akan berkurang yg mana rezeki istri sudah Allah berikan langsung melalui istrinya yg bekerja. Sehingga kalau mau rezeki suami bertambah istri tdk perlu bekerja. Apa benar bgitu Ust? Mohon pencerahannya Ust, jazakumullah khair🙏. A/01

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillahirrahmanirrahim..

Konsep rezeki itu jelas, semua hamba telah dijamin rezekinya. Rezeki suami tidak ada istilah “berkurang” gara-gara istri bekerja. Karena masing-masing sudah Allah Ta’ala haknya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا مِن دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا وَيَعۡلَمُ مُسۡتَقَرَّهَا وَمُسۡتَوۡدَعَهَاۚ كُلّٞ فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ

Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

(QS. Hud, Ayat 6)

Dalam hadits:

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ

‘Sesungguhnya seorang manusia mulai diciptakan dalam perut ibunya setelah diproses selama empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal daging pada empat puluh hari berikutnya. Lalu menjadi segumpal daging pada empat puluh hari berikutnya. Setelah empat puluh hari berikutnya, Allah pun mengutus seorang malaikat untuk menghembuskan ruh ke dalam dirinya dan diperintahkan untuk menulis empat hal; rezekinya, ajalnya, amalnya, dan sengsara atau bahagianya.’

(HR. Muslim no. 2643)

Lalu, rezeki juga tidak bermakna uang atau benda. Tapi juga kesehatan, anak yang shalih, suami/istri yg shalihah, tetangga yang baik, diringankannya masalah hidup, dimudahkan untuk ibadah, dan semua hal yang kebaikannya bisa kita rasakan. Memahami bahwa rezeki hanya pada penghasilan dan harta, inilah yang paling sering membuat manusia sulit bersyukur.

Kemudian, untuk istri yang bekerja, ini harus dirinci dulu baik dari sisi motivasi dan jenis pekerjaannya. Dari sisi motivasi, istri bekerja bukanlah utk menjadi penanggung nafkah, sebab nafkah adalah kewajiban suami. Sekaya apa pun istri, suami tetap wajib nafkah, kewajiban itu tidak hilang karena istrinya kaya, dan ini telah menjadi kesepakatan para fuqaha. Istri bekerja adalah untuk aktualisasi diri, dan sekadar membantu suami jika memang itu diperlukan, sekaligus antisipasi dan belajar mandiri jikalau suami wafat muda sementara anak-anak masih butuh biaya. Sehingga tidak menjadi beban bagi orang lain.

Dari sisi jenis, hendaknya pekerjaan yang halal, tetap menjaga adab pergaulan, menjaga adab berpakaian, dan izin suami. Jika mampu pekerjaan yang bisa dikerjakan di rumah, sebab pada aslinya wanita itu memang di rumah dan itu adalah jihad baginya.

Dalam sebuah riwayat:

عَنْ أَنَسٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: جِئْنَ النِّسَاءُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ذَهَبَ الرِّجَالُ بِالْفَضْلِ وَالْجِهَادِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ تَعَالَى، فَمَا لَنَا عَمَلٌ نُدْرِكُ بِهِ عَمَلَ الْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَنْ قَعَدَ -أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا -مِنْكُنَّ فِي بَيْتِهَا فَإِنَّهَا تُدْرِكُ عَمَلَ الْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ”

Anas bin Malik bercerita bahwa kaum wanita mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam: _”Wahai Rasulullah, kaum laki-laki memiliki keutamaan dengan jihad fisabilillah, lalu bagaimana kami mendapatkan nilai jihad fisabilillah?”_ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: _”Siapa di antara kalian yang berdiam di rumahnya – atau yang seperti itu- maka itu setara dengan amalnya para mujahidin fisabilillah.”_

(Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 6/409)

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Dzikrullah

Perbedaan Al Ma’tsurat Hasan Al Banna dan Hisnul Muslim

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, do’a pqgi dan petang atau Al Ma’tsurat yg prnh sy baca ada bbrp versi..Ada yg dr Imam Hasan Al Banna dan ada yg dr Hisnul Muslim..

Yg ingin sy tnya kan,,apakah kedua al ma’tsurat tsb sm atau kah ada perbedaannya.
Dan yg lbh utama yg sesuai d ajarkan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam itu yg mana?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Al Ma’tsurat disusun oleh Imam Hasan al Banna, di kitab aslinya jauh lebih tebal dan lengkap dibanding yg beredar dipasaran atau di aplikasi2.. Isinya rata2 shahih, ada bbrp yg dha’if

Hishnul Muslim, disusun oleh Syaikh Sa’id Wahf al Qahthani, isinya lebih tipis dibanding al Ma’tsurat. Rata-rata juga shahih, hanya sedikit saja yang diperselisihkan keshahihannya.

Keduanya sama-sama bagus utk dibaca, hanya saja aktivis Islam dan banyak org lebih mengenal al Ma’tsurat, krn mungkin sudah ada sejak tahun 1930-40an.. Sdgkan Hishnul Muslim baru di susun tahun 2000an..

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Qashar

Jarak Safar yang Membolehkan Qashar, Betulkah Tidak Ada Ketentuan Baku?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… mau bertanya, bagaimana menurut ustad pendapat tentang batas jarak dibolehkannya sholat jamak oleh 4 Mazhab namun diselesihi oleh pendapat Ibnu Taimiyah dan Ibnu qoyyim yang hanya mensyaratkan safar saja dan tidak menentukan jarak?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Masalah ini
memang beragam pendapat…

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata:

وقد نقل ابن المنذر وغيره في هذه المسألة أكثر من عشرين قولا

Imam Ibnul Mundizr dan lainnya telah menukilkan bahwa ada lebih dari dua puluh pendapat tentang masalah ini (jarak dibolehkannya qashar). (Fiqhus Sunnah, 1/284)

Perbedaan ini terjadi karena memang tak ada satupun hadits dari Rasulullah ﷺ yang menyebutkan jarak secara jelas dan tegas. Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah, “Tidak ada sebuah hadits pun yang menyebutkan jarak jauh atau dekatnya bepergian itu.” (Fiqhus Sunnah, 1/239)

Secara umum memang ada dua pandangan mainstream:

Pendapat pertama. Empat burud, yaitu sekitar 88,656km

Ini pendapat jumhur ulama:
– Golongan Malikiyah (Imam ad Dasuqi dalam Hasyiyah ad Dasuqi, 1 /359)
– Syafi’iyyah (Imam an Nawawi dalam al Majmu’ Syarh al Muhadzdzab, 4/323, Imam al Mawardi dalam al Hawi al Kabir, 2/360)
– Hambaliyah (Imam al Mardawi dalam al Inshaf, 2/223)
– Juga sejumlah ulama salaf, dikutip oleh Imam An Nawawi Rahimahullah:

مَذْهبنا: أنَّه يجوز القصرُ في مرحلتين، وهو ثمانية وأربعون مِيلًا هاشميَّة، ولا يجوزُ في أقلَّ من ذلك، وبه قال ابنُ عُمرَ، وابنُ عبَّاس، والحسنُ البَصريُّ، والزُّهريُّ، ومالكٌ، والليثُ بنُ سَعدٍ، وأحمدُ، وإسحاقُ، وأبو ثورٍ

Dalam madzhab kami, dibolehkan qashar jika sudah sejauh 2 MARHALAH, yaitu 48 mil hasyimiyah, dan tidak boleh kurang dari itu. Inilah pendapat Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Hasan al Bashri, az Zuhri, Laits bin Sa’ad, Malik, Ahmad, Ishaq, dan Abu Tsaur.
(al Majmu Syarh al Muhadzdzab, 4/325)

– al Qadhi Abu Yusuf (murid dan kawannya Abu Hanifah). (al Muhith al Burhani, 2/22)
– Al Auza’i dan fuqaha kalangan ahli hadits. (an Nawawi, al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 5/195)
– Ini yg dipilih oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baaz (Fatawa Nuur ‘alad Darb, 13/42-43)

Pendapat kedua. Tidak ada batasan jarak khusus, yang penting sudah layak disebut safar baik jauh atau pendek

Siapa saja yang berpendapat seperti itu:

– Madzhab Zhahiri, seperti Imam Daud az Zhahiri, dan Imam Ibnu Hazm. (Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, 1/168)
– Sebagian Hambaliyah (Ikhtiyarat al Fiqhiyah, Hal. 434)
– Imam Ibnu Qudamah, Beliau berkata:

لا أرى لِمَا صار إليه الأئمَّة حُجَّة؛ لأنَّ أقوال الصحابة متعارضة مختلفة، ولا حُجَّة فيها مع الاختلاف

Saya lihat pendapat para imam itu tidak ditopang oleh hujjah, sebab para sahabat nabi sendiri berbeda-beda, maka perbedaan itu tidak bisa dijadikan hujjah.
(Ibnu Qudamah, al Mughni, 2/190)

– Imam Ibnu Taimiyah. (Majmu al Fatawa, 24/15)
– Imam Ibnul Qayyim (Zaadul Ma’ad, 1/463)
– Imam Asy Syaukani (Sailul Jarar, Hal. 188)
– Syaikh Amin Asy Syanqithi (Adhwa’ul Bayan, 1/273)
– Syaikh al Albani (as Silsilah ash Shahihah, 1/311)
– Syaikh Utsaimin (Syarhul Mumti’, 4/351)

Jadi, sebelum Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnul Qayyim, sudah ada yang punya pendapat bahwa jarak itu tidak baku, yang penting sudah layak disebut safar baik jauh atau tidak. Seperti Imam Daud, Imam Ibnu Hazm, Imam Ibnu Qudamah,.. Mereka hidup sebelum zaman Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnul Qayyim. Walau saya ikut pendapat mayoritas ulama, tapi pendapat lainnya mesti diberikan tempat dan tidak boleh remehkan. Sebab perbedaan seperti ini adalah hal yang biasa dalam dunia fiqih.

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Mempermudah dalam Muamalah

Membebaskan Utang

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, saya pengepul (jual beli)buah sawit biasanya para petani pinjam uang, walau ada pinjaman harga pengambil buah ke petani tidak akan dikurangi atau diturun, uang pinjaman sifatnya hanya sebagai pengikat saja, karena sesuatu hal saya berhenti jadi pengepul maka sebagian petani ada yang mengembalikan dan ada yang tdk mengembalikan, untuk sementara saya biarkan tidak sy tagih lagi kalau ybs mau byr alhamdullih sy terima dan kl tdk juga menjadi beban buat sy.
Yg ingin di tanyakan apakah sy tetap wajib mengingatkan atau membiar kewajiban pr petani ustd. Trims.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Jika kita serius membebaskan mrk dari pinjaman, maka beritahukan ke orangnya. Agar jgn sampai dia menyangka masih ada hutang padahal sdh dibebaskan. Ini keutamaan besar yang membebaskan hutang.

وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Siapa yang membebaskan kesulitan seorang muslim maka Allah akan bebaskan kesulitan dia pada hari kiamat. (HR. Bukhari no. 2442)

Tapi, jika memang ingin tetap dianggap hutang tagihlah dgn baik. Jangan dibuat ngambang antara bebas atau msh berhutang.

Dari Jabir bin Abdillah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلاً سَمْحًا إِذَا بَاعَ ، وَإِذَا اشْتَرَى ، وَإِذَا اقْتَضَى

“Semoga Allah merahmati seseorang yang bersikap mudah ketika menjual, ketika membeli dan ketika menagih haknya (utangnya).” (HR. Bukhari no. 2076)
Demikian. Wallahu A’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Membayar Zakat

Zakat Profesi

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, terkait dg zakat penghasilan.
Bagaimana penghitungannya hingga seseorang di kenai zakat penghasilan/profesi?
Apakah ada syarat2 nya?
Jika seorang PNS yg penghasilannya habis untk memenuhi kebutuhan se hari2 apakah dikenakan zakat penghasilan setiap bulannya? Jazakillah khoir 🙏 A/10

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Para ulama, seperti Syaikh Muhammad Abu Zahrah, Syaikh Abdul Wahhab Khalaf, Syaikh Abdurrahman Hasan, dan ditegaskan lagi oleh Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, di mana mereka memandang ada beberapa alasan keharusan adanya zakat profesi:

– Profesi yang dengannya seseorang menghasilkan uang, termasuk kategori harta dan kekayaan (al maal al mustafad).

– Kekayaan dari penghasilan bersifat berkembang, bertambah, dan tidak tetap, ini sama halnya dengan barang yang dimanfaatkan untuk disewakan.

Dilaporkan dari Imam Ahmad, bahwa beliau berpendapat tentang seseorang yang menyewakan rumahnya mendapatkan uang sewaan yang cukup nisab, bahwa orang tersebut wajib mengeluarkan zakatnya ketika menerimanya tanpa persyaratan setahun. Hal itu pada hakikatnya menyerupai mata pencaharian, dan wajib dikeluarkan zakatnya bila sudah mencapai satu nisab, walau tanpa haul.

– Selain itu, hal ini juga diqiyaskan dengan zakat tanaman, yang mesti dikeluarkan oleh petani setiap memetik hasilnya. Bukankah petani juga profesi?

– Dalam perspektif keadilan Islam, maka adanya zakat profesi adalah keniscayaan. Bagaimana mungkin Islam mewajibkan zakat kepada petani yang pendapatannya tidak seberapa, namun membiarkan para pengusaha kaya, pengacara, dokter, dan profesi prestise lainnya menimbun harta mereka? Kita hanya berharap mereka mau bersedekah sesuai kerelaan hati?

– Dalam perspektif maqashid syari’ah (tujuan dan maksud syariat), adanya zakat profesi adalah sah. Sebab lebih mendekati keadilan dan kemaslahatan, serta sesuai ayat:
“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (keluarkan zakat) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.“ (QS. Al Baqarah (2): 267)

Bukankah zakat penghasilan diambil dari hasil usaha yang baik-baik saja? Bukankah usaha yang baik-baik itu tidak terbatas pada perniagaan dan pertanian? Inilah dasar yang kuat tentang kewajiban zakat atas penghasilan dari profesi seseorang.

– Mereka berpendapat bahwa zakat profesi ada dua pendekatan pelaksanaan, sesuai jenis pendapatan manusia.

Pertama, untuk orang yang gajian bulanan, maka pendekatannya dengan zakat pertanian, yaitu nishabnya adalah 5 wasaq, senilai dengan HARGA 653 Kg gabah kering giling (atau 520 kg beras), dan dikeluarkan 2,5%, yang dikeluarkan ketika menerima hasil (gaji), tidak ada haul.

Menurut Syaikh Al Qaradhawi, zakat penghasilan baru dikeluarkan jika sudah dikeluarkan kebutuhan POKOKnya dahulu, jika sisanya masih nishab, itulah yang dikeluarkan 2,5%. Sementara Az Zuhri, mengatakan langsung dikeluarkan tanpa dikurangi kebutuhan-kebutuhan pokok.

Kedua, bagi yang penghasilannya bukan bulanan, seperti tukang jahit, kontraktor, pengacara, dokter, dan semisalnya, menggunakan pendekatan zakat harta, yakni nishab senilai dengan 85gr emas setelah diakumulasi dalam setahun, setelah dikurangi hutang konsumtif, dikeluarkan sebesar 2,5%.

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Di Surga Bersama Orang yang Dicinta

Di Surga Bersama Orang-Orang Tercinta

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ
قِيلَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلُ يُحِبُّ الْقَوْمَ وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ قَالَ الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

Dari Abu Musa dia berkata; Diberitahukan kepada Nabi ﷺ bahwa ada seseorang yang mencintai suatu kaum, namun dia sendiri belum bisa (melakukan hal baik) seperti mereka bahkan menyamainya. Beliau bersabda, “Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya.”

(HR. Bukhari no. 6170)

Pelajaran:

– Makna : وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ, yaitu dia tidak mampu beramal seperti mereka, kedudukannya tidak seperti mereka, dan di dunia tidak bermajelis dengan mereka.

– Makna : الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ, yaitu dia berkumpul bersama orang-orang yang dicintainya di akhirat.

– Anjuran mencintai orang-orang shalih, para ulama,dan ahli ibadah, walau amal kita tidak sampai seperti mereka dalam kualitas dan kuantitas, atau belum pernah berjumpa dengan mereka.

– Dengan cinta itu membuat kita dikumpulkan bersama mereka di surga. Imam Ibnul Mualaqqin mengatakan: “Ini adalah dalil bahwa siapa yang mencintai seorang hamba karena Allah, maka Allah akan mengumpulkan antara dia dan orang yang dicintainya karena ketaatannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla di surgaNya walau dia amalnya terbatas.” (At Taudhih Lisyarhi Al Jaami’ ash Shaghiir, jilid. 28, hal. 585)

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678