Menikah Menghilangkan Stress

Proses Ta’aruf dan Larangannya

Pertanyaan

Assalamu alaikum..
Boleh dijelaskan cara proses taaruf dalam mencari jodoh? Dan larangan2 nya.(MANIS I-09)

Jawaban

Oleh: Ustadzah. EKO YULIARTI SIROJ

๐Ÿ“ ๐Ÿ”นJumhur (mayoritas) ulama menyebutkan bahwa diperbolehkan bagi seorang laki-laki melihat muka perempuan yang hendak dipinang.

๐Ÿ”นTentu melihatnya secara wajar. Dalam satu atau dua kali pertemuan.

๐Ÿ”นPertemuannya tidak boleh berdua tapi harus ditemani mahrom) dan tidak boleh sampai menimbulkan fitnah untuk pihak laki-laki.

๐Ÿ”นMisalnya dengan melihat foto ukuran close up dan foto tersebut sering dilihat/dilihat berulang-ulang ๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰ hingga menimbulkan angan-angan yang jauh di benak laki-laki.

๐Ÿ“๐Ÿ”นTidak ada aturan baku dalam proses ta’aruf.

๐Ÿ”นJika pengenalan cukup dengan mengetahui biodata dan melihat sekilas/dari jauh calon pasangan, tentu lebih baik.

๐Ÿ”นTapi jika ada sesuatu yang ingin diketahui secara spesifik, mengadakan pertemuan terencana dengan ditemani salah seorang teman atau kerabat dari salah satu pihak atau kedua pihak juga diperbolehkan.

๐Ÿšฆ๐Ÿšฆโš  โ˜โ˜โ˜โš ๐Ÿšฆ๐Ÿšฆ
๐Ÿ“๐Ÿ”นHati2 dengan pemanfaatan gadget dalam berta’aruf.

๐Ÿ”นKarena didunia maya sepasang manusia bisa berkomunikasi intensif tanpa saksi/pengawasan siapapun (kecuali Allah).

๐Ÿ”นUsahakan untuk mengenal/komunikasi langsung didampingi seorang atau lebih saksi.

๐Ÿ”นJangan menggunakan gadget japri bila tidak terpaksa.

๐Ÿ”นKalaupun terpaksa maka berta’awudz kepada Allah mohon perlindungan & petunjuknya agar tidak terjerumus pada komunikasi intensif tanpa batas.

Wallohu a’lam bis showwab.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Manusia Terbaik

Jika Suami Tidak Menghargai Istri

Pertanyaan

ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡

Ustadz.saya mau bertanya, bagaimana sikap kita jika suami tidak menghargai perasaan kita? Bahkan keluarga besarnya pun tidak menghargai saya dan ibu saya.
Seringkali jika kami berkumpul, mereka hanya membeli makan untuk mereka saja. Kita tidak di ajak atau di tawarkan.

Saya sudah berusaha seramah mgkin dengan keluarga suami terutama ibunya tapi ketika saya nanya mereka malah diam tidak menjawab. Saya merasa diasingkan dengan mereka, bahkan suami saya juga pun seperti itu. Malah suami saya suka tidak sopan dengan ibu saya.

Apa saya boleh meminta cerai dengan alasan seperti itu? Jazaakallah khoir ๐Ÿ™ A./30

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ

Jawaban

Ustadz : Farid Nu’man Hasan

ูˆูŽุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงูŽู…ู ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุจูŽุฑูŽูƒูŽุงุชูู‡ู

Bismillahirrahmanirrahim..

Dalam menghadapi persoalan rumah tangga, fokus kita adalah pada solusi yang menyatukan, bukan memecahkan. Jangan dulu orientasinya minta cerai, walau minta cerai – jika alasannya syar’i- bukan hal terlarang.

Masalah ini tidak semata-mata diselesaikan secara fiqihnya: boleh atau tdk. Tp, usahakan dulu sekuat tenaga untuk bertahan dalam keadaan, dan sebisa mungkin melewatinya dengan baik.

Dalam rumah tangga, kadang ujian datang lewat pasangan sendiri, atau anak, atau ortua/mertua, atau ekonomi, atau kerabat, bahkan tetangga. Jika satu upaya perbaikan belum ada hasilnya, coba lagi yang lain. Terus seperti itu.

Pahami budaya yang membentuk suami, lalu maklumi, dan maafkan jika ada yg salah. Nikah dgn siapa pun jika tidak ada sikap saling memahami pasangan atau keluarganya, memaklumi, dan memaafkan, maka akan menemukan masalah.

Selama suami dan keluarganya masih ada hati, dan hati itu dikuasai oleh Allah, maka jangan putus asa untuk tetap berharap kepada Allah semoga membimbingnya agar lebih baik dalam mempergauli istrinya.

Wallahu Aโ€™lam
๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Khalwat

Menghadapi Suami Yang Suka Chat Mesra Dengan Banyak Wanita

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ

Pertanyaan

ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡

Izin bertanya ustadz / ustadzah…
Bagaimana kiat dan solusi bagi seorang istri ketika mendapati suaminya mesra-mesraan di WA dengan banyak wanita dan sering telponan ataupun vidiocall dengan bahasa layaknya suami istri, sementara ketika ditanyakan kepada suami perihal apa yang harus diperbaiki dan ditambah dari seorang istri tsb, suami mengatakan sudah merasa cukup dan tidak kurang.
Dan istri tsb setelah mengetahui hal itu menjadi sangat kecewa dan hancur karena selama berumah tangga istrinya sangat mempercayai dan menghormati suaminya, dari kejadian tsb istrinya ini menjadi sangat sensitif dan pemarah, apakah rumah tangga mereka masih bisa diperbaiki atau berpisah adalah solusinya karena menimbang banyaknya mudhorot setelah mengetahui kecurangan yang dilakukan suaminya ? ( ketika istri bertanya tentang apa yang perlu dirubah dan diperbaiki kepada suaminya, saat itu suami belum tahu bahwa istrinya mengetaui apa yang dilakukan suaminya dibelakang istrinya )
Dan setelah istri tsb mengatakan bhwa ia mengetahui kecurangan suaminya, suami tsb justru mengancam akan menalak istrinya saat itu juga jika ketahuan buka hp suaminya lagi…usia pernikahan baru 6 bulan.
Jazakumullahu khoiron atas jawabannya ustad/ ustadzah ๐Ÿ™๐Ÿผ A/39

Jawaban

Ustadz : Farid Nu’man Hasan

ูˆุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡

Bismillahirrahmanirrahim..

Jika seorang istri mendapati suaminya bermaksiat dengan bukti yang kuat. Maka, lakukanlah beberapa hal.

Pertama. Perhatikan jenis maksiatnya, apakah masuk kategori dosa besar atau mengarah dosa besar, atau masih dosa kecil. Dosa besar seperti zina, mabuk, judi, meninggalkan shalat, melakukan kesyirikan, dan sejenisnya. Untuk jenis ini maka istri mengambil sikap yang jelas dan tegas.

Ada pun ngobrol dengan wanita yang bukan mahram dgn “mesra”, maka ini mengarah pada zina, walau belum masuk zina itu sendiri namun ini tetap terlarang. Ini mesti diantisipasi sejak dini.

Ada pun ancaman suami akan menceraikan krn apa dilakukannya telah diketahui istri, itu merupakan memprotek apa yang dia lakukan. Di sisi lain, istri memang tidak dibolehkan membuka HP suami tanpa izinnya.

Kedua. Perhatikan apakah ini perbuatan yang sudah berlangsung lama, yg telah menjadi kebiasaan. Jika tidak, maka masih berpeluang untuk cepat2 berubah atau dicegah. Jika ini kebiasaan lama sejak bujangan, maka perlu kesabaran membuatnya berubah.

Ketiga. Bantu suami untuk berubah, bangun hubungan lagi. Sebab, perubahan akan sulit dan terhalang jika benci dan sakit hati blm bsa diredam.

Sebenarnya tidak ada masalah yang tanpa penyelesaian. Yg penting jangan panik saat ketemu masalah, agar dapat berpikir secara jernih dan mengambil tindakan yg pas.

Demikian. Wallahu Aโ€™lam

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Jangan Membuka Aib Orang Lain

Menanyakan Keperawanan Calon Saat Ta’aruf

Pertanyaan

ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡

Ustadz… Saya mau bertanya, apakah menanyakan keperawanan calon saat ta’aruf adalah sesuatu yang dianjurkan atau mubah atau tidak sepatutnya ?

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

ูˆุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡

Tata nilai disebuah masyarakat, jika itu baik dan sesuai dengan Islam, maka Islam akan menjaganya walau pada asalnya itu bukan berawal dari Islam.

Dalam pergaulan orang timur, mengaku pernah berzina itu aib besar, dan seharusnya itu ditutup. Islam pun menghargai itu, dan kita pun dilarang bertanya sesuatu yang jika dijawab malah justru menyulitkan kita.

Menanyakan “masih perawan atau tidak” itu sama saja menanyakan “pernah zina atau tidak”. Ini sangat menyakitkan buat wanita muslimah, apalagi bagi mereka yang sudah hijrah dan tidak mau mengenang masa lalu jika memang dulunya kelam. Walau ketidakperawanan bisa saja disebabkan faktor lain, tapi umumnya logika yang umum dipahami manusia adalah itu terjadi karena zina.

Allah Ta’ala telah tutup aib masa lalunya itu, maka janganlah dia membukanya, dan janganlah orang lain memancing-mancing untuk membukanya, kecuali ada alasan yang benar-benar syar’i.

Islam mengarahkan agar seseorang tidak menceritakan perbuatan aibnya. Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu berkata: Aku mendengar bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ย ูƒูู„ู‘ู ุฃูู…ู‘ูŽุชููŠ ู…ูุนูŽุงูู‹ู‰ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุงู„ู…ูุฌูŽุงู‡ูุฑููŠู†ูŽุŒ ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู…ูุฌูŽุงู‡ูŽุฑูŽุฉู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุนู’ู…ูŽู„ูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู ุจูุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู ุนูŽู…ูŽู„ู‹ุงุŒ ุซูู…ู‘ูŽ ูŠูุตู’ุจูุญูŽ ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุณูŽุชูŽุฑูŽู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูุŒ ููŽูŠูŽู‚ููˆู„ูŽ: ูŠูŽุง ููู„ุงูŽู†ูุŒ ุนูŽู…ูู„ู’ุชู ุงู„ุจูŽุงุฑูุญูŽุฉูŽ ูƒูŽุฐูŽุง ูˆูŽูƒูŽุฐูŽุงุŒ ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุจูŽุงุชูŽ ูŠูŽุณู’ุชูุฑูู‡ู ุฑูŽุจู‘ูู‡ูุŒ ูˆูŽูŠูุตู’ุจูุญู ูŠูŽูƒู’ุดููู ุณูุชู’ุฑูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูย 

Seluruh umatku mendapatkan maaf kecuali Al Mujahirun, yang termasuk “mujahir” adalah seseorang yang pada malam harinya melakukan perbuatan (buruk), pagi harinya Allah tutupi perbuatan itu, tapi dia malah berkata: “Wahai fulan, semalam aku telah melakukan ini dan itu”. Padahal saat dia bermalam Allah telah menutup keburukannya tapi justru dia membukanya di pagi harinya. (HR. Bukhari No. 6069)

Demikian. Wallahu a’lam

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Ibu Tiri dalam Islam โ€“ Posisi, Hak, dan Kewajibannya

Pertanyaan

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah. Ada kah yg bisa Bantu saya.. artikel ttg hak seorang IBU tiri?? Apakah mempunyai kedudukan yg sama??

Jawaban

Oleh: Ustadz Slamet Setiawan

ูˆ ุนู„ูŠูƒู… ย ุงู„ุณู„ุงู… ย ูˆ ย ุฑุญู…ุฉ ย ุงู„ู„ู‡ ย ูˆ ย ุจุฑูƒุงุชู‡

Posisi Ibu Tiri dalam Garis Keluarga menurut Islam

Secara umum ibu tiri bisa diartikan sebagai ibu yang tidak mengandung, melahirkan, atau menyusi anaknya. Ibu tiri adalah hasil dari pernikahan Ayah setelah ibu kandung tiada atau mengalami perceraian. Ibu tiri erat kaitannya dengan posisi atau status yang rendah atau bahkan dikesampingkan karena dianggap bukan ibu asli dari anak-anak sang suami.

Posisi ibu tiri dalam Islam dapat dilihat dari posisinya dalam garis keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa sebetulnya ibu tiri merupakan keluarga sah yang bergabung dengan keluarga suaminya dan berlaku sebaliknya. Dalam hali ini ibu tiri pun juga termasuk di dalam pengertian mahram dalam islam.

Istri yang sah dari Suami (dari terjadinya akad nikah)

Seorang ibu tiri tentunya adalah istri yang sah bagi suaminya. Tentunya seorang wanita yang dinikahi secara sah dalam kaidah-kadiah dan sesuai syarat-syarat akad nikah dalam islam adalah menjadi tanggung jawab suaminya. Begitupun istri yang sah dari pernikahan sesuai rukun nikah dalam islam, walaupun bukan istri pertama atau ibu dari anak anak suami, memiliki tanggung jawab sebegaimana seorang ibu atau istri dalam ajaran islam. Selagi pernikahan itu sah dan terdapat wali nikah yang sah, maka wanita menjadi istri yang sah bagi suami.

Dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda:

โ€œWanita manapun yang menikah tanpa seizin walinya maka nikahnya adalah batal, nikahnya adalah batal, nikahnya adalah batalโ€

Ibu Tiri adalah Ibu yang sah (mahram) bagi Anak dari Suami

Dengan menikahnya laki-laki yang memiliki anak dengan seorang perempuan, maka anak dari laki-laki tersebut menjadi anak dan mahram pula bagi perempuan yang sudah dinikahi. Maka anak dari laki-laki tersebut selama-lamanya berstatus anak yang resmi dan mahram bagi perempuan. Secara otomatis, (walaupun berstatus anak tiri) maka selama-lamanya pula tidak boleh menikah dengan ibu tirinya walaupun suatu waktu telah bercerai pada ayahnya, karena ibu tiri bagi anaknya adalah muhrim dalam islam. Untuk itu ibu tiri adalah wanita yang haram dinikahi dalam islam oleh anak tirinya.

Hal ini dijelaskan dalam QS. Annisa : 22

โ€œDan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh)โ€

Untuk itu, ibu tiri adalah adalah ibu yang sah atau resmi dan berstatus mahram bagi anak-anak dari suami.

Ibu Tiri yang memiliki anak, adalah anak pula bagi suaminya

Apabila Laki-laki menikahi perempuan yang memiliki anak (janda), dan setelah berhubungan seksual, maka anak-anak dari perempuan tersebut pun menjadi anak dan mahram dari laki-laki tersebut (suami). Maka sampai kapanpun laku-laki tersebut diharamkan untuk menikahi anak dari perempuan tersebut, walaupun sudah bercerai dari istrinya. Dalam fiqh pernikahan, maka ibu tiri pun dilarang dinikahi oleh anak-anak suaminya walaupun sudah bercerai dengan ayahnya.

Hal ini dijelaskan pula dalam Al Quran, QS : An Nisa : 23

โ€œDiharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayangโ€

Dari ayat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa jika terjadi pernikahan antara perempuan dan laki-laki yang salah seorang atau keduanya memiliki anak, maka terjadi hukum yang berlaku pula pada anak-anak mereka. Hukum tersebut disebut dengan tahrim muโ€™abbad yaitu larangan untuk melakukan perkawinan selama-lamanya, walau ayah dan ibu dari anak anak tersebut sudah bercerai.

Hak Ibu Tiri dalam Islam

Karena seorang ibu tiri adalah istri yang sah dari suaminya, maka kita bisa melihat hak-hak apa saja yang bisa didapatkan seorang istri walaupun dinikahi bukan pertama kalinya oleh sang suami. Hal-hal tersebut merupakan kewajiban suami terhadap istri dalam islam. Berikut adalah hak-hak yang bisa didapatkan seorang ibu tiri sebagaimana seorang istri,

Mendapatkan Nafkah dari Suaminya

Seorang istri walaupun ia seorang ibu tiri bagi anak-anak suaminya, ia berhak untuk mendapatkan nafkah dari suaminya. Untuk itu seorang suami berkewajiban untuk memberikan nafkah pada istrinya, walaupun secara status bukan ibu kandung dari anak anaknya.
Hal ini dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah : 233

โ€œDan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara maโ€™ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakanโ€

Memperoleh Tempat tinggal yang layak dari suaminya

Ibu tiri sebagaimana istri, ia berhak mendapatkan tempat tinggal yang layak dari suaminya. Tidak dibedak-bedakan sebagaimana ibu tiri statusnya bukan istri pertama atau bukan ibu asli dari anak anaknya. Namun suami berkewajiban memberikan tempat tinggal yang layak. Islam menjelaskannya dalam Qs. Ath-Thalaq : 6

โ€œTempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknyaโ€

Mendapat pergaulan dan perlakuan yang baik dari suaminya

Pergaulan dan perlakuan yang baik pun berhak didapatkan oleh istrinya. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam QS. An-Nisa : 19

โ€œDan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyakโ€

Begitupun keadilan yang harus diterima oleh sang istri, dijelaskan dalam QS : Annisa : 3

โ€œDan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniayaโ€

Mendapat mutโ€™ah atau harta jika ia dicerai

Jika seorang istri bercerai dengan suaminya, atau suami telah menjatuhkan talak, apapun status bagi anak anaknya, maka ia berhak mendapatkan mutโ€™ah atau harta dari perceraian tersebut. Persoalan mutโ€™ah ini disampaikan Allah dalam QS. Al-Baqarah : 241

โ€œKepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mutโ€™ah menurut yang maโ€™ruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang bertakwaโ€

Mendapat warisan dari harta suami

Begitupun jika suami meninggal, maka istri pun berhal mendapatkan warisan dari harta suaminya. Walaupun berstatus ibu tiri anak-anak dari suami tidak boleh iri atau protes karena hal tersebu merupakan hak istri yang dijelaskan dalam QS. Yusuf : 14

โ€œโ€ฆโ€ฆ.Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmuโ€ฆ..โ€

Hal-hal tersebut bisa didapatkan seorang istri dan ibu tiri sekalipun, jika ia sendiri pun menjadi istri yang dalam kriteria calon istri menurut islam dan menjadi istri dengan ciri-ciri istri shalehah dalam islam.

Kewajiban Ibu Tiri terhadap Anak dan Keluarganya

Seorang ibu tiri yang berstatus seorang istri dari suami yang telah memiliki anak tentunya berkewajiban pula untuk berperan sebagai ibu bagi anak-anaknya. Walaupun ibu tiri bukanlah ibu kandung, perbedaannya pada sisi mengandung, melahirkan, dan menyusui, maka itu ia tetap berperan dan berkewajiban untuk menjalankan tugas dan fungsi orang tua sampai kapanpun itu.

Orang tua sebagaimanapun kesibukan dan statusnya, ia tetap berkewajiban untuk mendidik anak-anaknya. Memberikan pengarahan yang benar, memberikan pengetahuan, membentuk moral dan karakter pada anak-anaknya. Jika anak-anaknya sudah dewasa ia pun tetap bertugas untuk menjaga anak-anaknya dari pandangan yang salah.

Maka, tugas dari seorang ibu tiri adalah :
โ€ข Memberikan pendidikan pada anak
โ€ข Menjaga, melindungi, dan memberikan kasih sayang seorang ibu
โ€ข Memperlakukan anak lemah lembut, tidak emosi, dan menganggap anak bukan bagian dari kewajibanya, karena sifat marah dalam islambukanlah hal baik terutama untuk anak.
โ€ข Menjaga nama baik keluarganya dan tidak berbuat yang dapat merusak keutuhan rumah tangga
โ€ข Mengasuh, menjaga anak anak sebagaimana ia terhadap suaminya dengan cinta yang utuh

Kewajiban Anak terhadap Ibu Tiri

โ€œDan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan โ€œahโ€ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, โ€˜Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecilโ€
(QS Al-Isra : 23-24)

Sebagaimana disampaikan di Al Quran maka anak tiri terhadap ibu tiri memiliki kewajiban yang sebagaimana terhadap ibu kandungnya :

โ€ข Berbuat baik, kepada kedua orang tuanya yang masih ada, hal ini termasuk ibu tiri
โ€ข Tidak berkata kasar, melawan atau membantah perintahnya yang baik
โ€ข Menjaga dan memelihara terutama saat sudah memasuki usia uzur (lanjut usia)
โ€ข Mendoakan kebaikan, bukan keburukan kepada orang tua
โ€ข Membantu kesulitan orang tua dan meringankan bebannya

Dalam hal ini tidak ada istilah anak tiri tidak bisa menerima ibu tirinya, karena jika sudah berstatus istri dari ayahnya, maka anak tetap harus menghormati, menghargai, dan berbuat baik kepada ibu tiri tersebut.

Ibu Tiri sama Mulianya sebagaimana Ibu Kandung

Ibu tiri bukanlah ibu sampingan. Jika ibu tiri berbuat sebagaimana ibu kandung memperlakukan anak-anak dan keluarganya dengan baik tentunya akan membawakan kemuliaan, kebaikan di dunia dan akhirat, selayaknya ibu kandung yang juga bertugas dan berkewajiban seperti itu untuk anak-anak dan keluarganya.

Islam tidak pernah memandang rendah ibu tiri melainkan mengangkat derajat seseorang bukan karena statusnya, akan tetapi dari bagaimana perilaku, moral, dan amaliah yang dilakukan.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678