Berbuat Baik Kepada Orang Tua

Meng-umrahkan Orang tua atau Membelikannya Kendaraan?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… ingin bertanya.
Manakah yang harus didahulukan berangkat umroh atau membelikan alat transportasi untuk orang tua?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Kedua-duanya sama-sama kemuliaan bagi anak, sebab itu bagian dari bakti anak kepada orangtuanya.
Lalu, mana yang didahulukan?

Ada dua tinjauan:

1. Tinjauan hukum

Kewajiban Umrah diperselisihkan para ulama. SEBAGIAN mengatakan wajib yaitu sekali seumur hidup. Sebagian mengatakan sunnah muakkadah.

Syaikh Abdurrahman Al Juzairi Rahimahullah menjelaskan:

العمرة فرض عين في العمر مرة واحدة – كالحج – على التفصيل السابق من كونه على الفور أو التراخي، وخالف المالكية، والحنفية……
المالكية، والحنفية قالوا: العمرة سنة مؤكدة في العمر مرة لا فرض، لقوله صلى الله عليه وسلم: “الحج مكتوب، والعمرة تطوع” رواه ابن ماجة. وأما قوله تعالى: {وأتمو الحج والعمرة لله} فهو أمر بالاتمام بعد الشروع، والعبادة متى شرع فيها يجب إتمامها ولو كانت نفلا، فلا يدل على الفرضية

Umrah itu fardhu ‘ain sekali seumur hidup seperti haji berdasarkan penjelasan sebelumnya baik dilakukan segera atau menundanya, namun Malikiyah dan Hanafiyah menyelisihi pendapat ini.

Malikiyah dan Hanafiyah mengatakan Umrah itu sunnah muakkadah sekali seumur hidup. Berdasarkan hadits: “Haji itu wajib, Umrah itutathawwu’ (sunnah)” (HR.Ibnu Majah).

Ada pun firman Allah Ta’ala: “Dan sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah”, adalah perintah untuk menyempurnakan ibadah setelah disyariatkan. Ibadah itu setelah disyariatkan memang mesti disempurnakan walau ibadah sunnah, dan itu tidak menunjukkan kewajiban. (Al Fiqh ‘alal Madzahib al Arba’ ah, juz. 1, hal. 615)

Sementara itu membelikan kendaraan atau alat transportasi, hukum asalnya adalah mubah. Ini bagian hajat duniawi yang boleh-boleh saja. Dan bisa menjadi ibadah bagi si anak, jika diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala melalui cara ini, agar mobilitas orangtuanya menjadi lebih ringan. Di sisi ini, maka umrah lebih diutamakan. Sebab kaidahnya adalah mendahulukan kepentingan yang wajib atau sunnah dibanding keperluan yang mubah.

Dalam kondisi mendesak, bisa jadi membelikan kendaraan menjadi sunnah atau wajib, tapi ini berpulang kepada analisa anaknya: sudah sejauh mana kebutuhan orgtuanya thdp kendaraan tersebut? Atau sekedar pemberian hiburan untuk menyenangkan hatinya?

2. Tinjauan teknis

Membelikan kendaraan itu lebih mudah apalagi jika belinya cash. Kita bisa beli pagi, siangnya sudah bisa kita bawa pulang. Sehingga ortua kita sudah bisa kita ringankan sebagian beban kehidupannya.

Ada pun umrah, mesti banyak yang diurus, kesehatan, pasport, visa, kadang juga antrian. Daftar sekarang berangkat mungkin bulan depan. Itu jika kondisi normal. Ada pun kondisi pandemi saat ini (walau sdh mereda) sederetan prosedur harus dilewati. Bahkan bisa tertunda tidak jelas kapan waktunya. Anggaplah itu bagian dari jihad bagi yang ingin umrah.
Dari sisi ini, memilih yang lebih mudah di antara dua hal adalah hal yang utama. Sebagaimana Aisyah Radhiallahu ‘Anha pernah bercerita:

مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللهِ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْه

“Tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘ Alaihi wa Sallam dihadapkan dua perkara melainkan dia akan memilih yang lebih ringan, selama tidak berdosa. Jika mengandung dosa, maka dia paling jauh darinya. ” (HR. Al Bukhari No. 3560, dan MuslimNo. 2327)

Masalah ini bukan antara SALAH dan BENAR, apalagi HAQ dan BATIL. Ini hanyalah masalah mana yang lebih utama dan utama, sebab keduanya sama-sama kebaikan, sama-sama amal shalih.

Seandainya memilih mengumrahkan maka itu kebaikan, seandainya memilih membelikan kendaraan buat orangtua dulu dengan pertimbangan jadwal umrah yang belum jelas, itu juga kebaikan.

Semoga ini bisa jadi pertimbangan, jangan lupa istikharah dan musyawarah dengan keluarga.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Menikah Menghilangkan Stress

Proses Ta’aruf dan Larangannya

Pertanyaan

Assalamu alaikum..
Boleh dijelaskan cara proses taaruf dalam mencari jodoh? Dan larangan2 nya.(MANIS I-09)

Jawaban

Oleh: Ustadzah. EKO YULIARTI SIROJ

📝 🔹Jumhur (mayoritas) ulama menyebutkan bahwa diperbolehkan bagi seorang laki-laki melihat muka perempuan yang hendak dipinang.

🔹Tentu melihatnya secara wajar. Dalam satu atau dua kali pertemuan.

🔹Pertemuannya tidak boleh berdua tapi harus ditemani mahrom) dan tidak boleh sampai menimbulkan fitnah untuk pihak laki-laki.

🔹Misalnya dengan melihat foto ukuran close up dan foto tersebut sering dilihat/dilihat berulang-ulang 😉😉 hingga menimbulkan angan-angan yang jauh di benak laki-laki.

📝🔹Tidak ada aturan baku dalam proses ta’aruf.

🔹Jika pengenalan cukup dengan mengetahui biodata dan melihat sekilas/dari jauh calon pasangan, tentu lebih baik.

🔹Tapi jika ada sesuatu yang ingin diketahui secara spesifik, mengadakan pertemuan terencana dengan ditemani salah seorang teman atau kerabat dari salah satu pihak atau kedua pihak juga diperbolehkan.

🚦🚦⚠ ☝☝☝⚠🚦🚦
📝🔹Hati2 dengan pemanfaatan gadget dalam berta’aruf.

🔹Karena didunia maya sepasang manusia bisa berkomunikasi intensif tanpa saksi/pengawasan siapapun (kecuali Allah).

🔹Usahakan untuk mengenal/komunikasi langsung didampingi seorang atau lebih saksi.

🔹Jangan menggunakan gadget japri bila tidak terpaksa.

🔹Kalaupun terpaksa maka berta’awudz kepada Allah mohon perlindungan & petunjuknya agar tidak terjerumus pada komunikasi intensif tanpa batas.

Wallohu a’lam bis showwab.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Manusia Terbaik

Jika Suami Tidak Menghargai Istri

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz.saya mau bertanya, bagaimana sikap kita jika suami tidak menghargai perasaan kita? Bahkan keluarga besarnya pun tidak menghargai saya dan ibu saya.
Seringkali jika kami berkumpul, mereka hanya membeli makan untuk mereka saja. Kita tidak di ajak atau di tawarkan.

Saya sudah berusaha seramah mgkin dengan keluarga suami terutama ibunya tapi ketika saya nanya mereka malah diam tidak menjawab. Saya merasa diasingkan dengan mereka, bahkan suami saya juga pun seperti itu. Malah suami saya suka tidak sopan dengan ibu saya.

Apa saya boleh meminta cerai dengan alasan seperti itu? Jazaakallah khoir 🙏 A./30

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Ustadz : Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillahirrahmanirrahim..

Dalam menghadapi persoalan rumah tangga, fokus kita adalah pada solusi yang menyatukan, bukan memecahkan. Jangan dulu orientasinya minta cerai, walau minta cerai – jika alasannya syar’i- bukan hal terlarang.

Masalah ini tidak semata-mata diselesaikan secara fiqihnya: boleh atau tdk. Tp, usahakan dulu sekuat tenaga untuk bertahan dalam keadaan, dan sebisa mungkin melewatinya dengan baik.

Dalam rumah tangga, kadang ujian datang lewat pasangan sendiri, atau anak, atau ortua/mertua, atau ekonomi, atau kerabat, bahkan tetangga. Jika satu upaya perbaikan belum ada hasilnya, coba lagi yang lain. Terus seperti itu.

Pahami budaya yang membentuk suami, lalu maklumi, dan maafkan jika ada yg salah. Nikah dgn siapa pun jika tidak ada sikap saling memahami pasangan atau keluarganya, memaklumi, dan memaafkan, maka akan menemukan masalah.

Selama suami dan keluarganya masih ada hati, dan hati itu dikuasai oleh Allah, maka jangan putus asa untuk tetap berharap kepada Allah semoga membimbingnya agar lebih baik dalam mempergauli istrinya.

Wallahu A’lam
🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Khalwat

Menghadapi Suami Yang Suka Chat Mesra Dengan Banyak Wanita

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Izin bertanya ustadz / ustadzah…
Bagaimana kiat dan solusi bagi seorang istri ketika mendapati suaminya mesra-mesraan di WA dengan banyak wanita dan sering telponan ataupun vidiocall dengan bahasa layaknya suami istri, sementara ketika ditanyakan kepada suami perihal apa yang harus diperbaiki dan ditambah dari seorang istri tsb, suami mengatakan sudah merasa cukup dan tidak kurang.
Dan istri tsb setelah mengetahui hal itu menjadi sangat kecewa dan hancur karena selama berumah tangga istrinya sangat mempercayai dan menghormati suaminya, dari kejadian tsb istrinya ini menjadi sangat sensitif dan pemarah, apakah rumah tangga mereka masih bisa diperbaiki atau berpisah adalah solusinya karena menimbang banyaknya mudhorot setelah mengetahui kecurangan yang dilakukan suaminya ? ( ketika istri bertanya tentang apa yang perlu dirubah dan diperbaiki kepada suaminya, saat itu suami belum tahu bahwa istrinya mengetaui apa yang dilakukan suaminya dibelakang istrinya )
Dan setelah istri tsb mengatakan bhwa ia mengetahui kecurangan suaminya, suami tsb justru mengancam akan menalak istrinya saat itu juga jika ketahuan buka hp suaminya lagi…usia pernikahan baru 6 bulan.
Jazakumullahu khoiron atas jawabannya ustad/ ustadzah 🙏🏼 A/39

Jawaban

Ustadz : Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillahirrahmanirrahim..

Jika seorang istri mendapati suaminya bermaksiat dengan bukti yang kuat. Maka, lakukanlah beberapa hal.

Pertama. Perhatikan jenis maksiatnya, apakah masuk kategori dosa besar atau mengarah dosa besar, atau masih dosa kecil. Dosa besar seperti zina, mabuk, judi, meninggalkan shalat, melakukan kesyirikan, dan sejenisnya. Untuk jenis ini maka istri mengambil sikap yang jelas dan tegas.

Ada pun ngobrol dengan wanita yang bukan mahram dgn “mesra”, maka ini mengarah pada zina, walau belum masuk zina itu sendiri namun ini tetap terlarang. Ini mesti diantisipasi sejak dini.

Ada pun ancaman suami akan menceraikan krn apa dilakukannya telah diketahui istri, itu merupakan memprotek apa yang dia lakukan. Di sisi lain, istri memang tidak dibolehkan membuka HP suami tanpa izinnya.

Kedua. Perhatikan apakah ini perbuatan yang sudah berlangsung lama, yg telah menjadi kebiasaan. Jika tidak, maka masih berpeluang untuk cepat2 berubah atau dicegah. Jika ini kebiasaan lama sejak bujangan, maka perlu kesabaran membuatnya berubah.

Ketiga. Bantu suami untuk berubah, bangun hubungan lagi. Sebab, perubahan akan sulit dan terhalang jika benci dan sakit hati blm bsa diredam.

Sebenarnya tidak ada masalah yang tanpa penyelesaian. Yg penting jangan panik saat ketemu masalah, agar dapat berpikir secara jernih dan mengambil tindakan yg pas.

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Jangan Membuka Aib Orang Lain

Menanyakan Keperawanan Calon Saat Ta’aruf

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, apakah menanyakan keperawanan calon saat ta’aruf adalah sesuatu yang dianjurkan atau mubah atau tidak sepatutnya ?

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Tata nilai disebuah masyarakat, jika itu baik dan sesuai dengan Islam, maka Islam akan menjaganya walau pada asalnya itu bukan berawal dari Islam.

Dalam pergaulan orang timur, mengaku pernah berzina itu aib besar, dan seharusnya itu ditutup. Islam pun menghargai itu, dan kita pun dilarang bertanya sesuatu yang jika dijawab malah justru menyulitkan kita.

Menanyakan “masih perawan atau tidak” itu sama saja menanyakan “pernah zina atau tidak”. Ini sangat menyakitkan buat wanita muslimah, apalagi bagi mereka yang sudah hijrah dan tidak mau mengenang masa lalu jika memang dulunya kelam. Walau ketidakperawanan bisa saja disebabkan faktor lain, tapi umumnya logika yang umum dipahami manusia adalah itu terjadi karena zina.

Allah Ta’ala telah tutup aib masa lalunya itu, maka janganlah dia membukanya, dan janganlah orang lain memancing-mancing untuk membukanya, kecuali ada alasan yang benar-benar syar’i.

Islam mengarahkan agar seseorang tidak menceritakan perbuatan aibnya. Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu berkata: Aku mendengar bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا المُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ المُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ البَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ 

Seluruh umatku mendapatkan maaf kecuali Al Mujahirun, yang termasuk “mujahir” adalah seseorang yang pada malam harinya melakukan perbuatan (buruk), pagi harinya Allah tutupi perbuatan itu, tapi dia malah berkata: “Wahai fulan, semalam aku telah melakukan ini dan itu”. Padahal saat dia bermalam Allah telah menutup keburukannya tapi justru dia membukanya di pagi harinya. (HR. Bukhari No. 6069)

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678