BERTEMU RAMADHAN DENGAN GEMBIRA

0
131

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

📝 Khutbah Jum’at Oleh: Ust. Achmad Dahlan, Lc., M.A. (IKADI DIY)

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَكْرَمَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِمَوَاسِمِ الْخَيْرَات، وَأَثَابَهُمْ عَلَى الصَّالِحَاتِ جَزِيْلَ الْمَثُوْبَات.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَه، مُضَاعِفُ الْحَسَنَات وَغَافِرُ السَّيِّئَات، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، مُزِيْلُ الضَّلَالَاتِ وَهَادِمُ الشِّرْكِيَّات.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى حَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَقُرَّةِ أَعْيُنِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ إِلَى يَوْمِ انْشِقَاقِ السَّمَاوَات .
أَمَّا بَعْدُ؛
فَيَا عِبَادَ الله، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَاتَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ الله تَعَالَى: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: «شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ… »

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Sekitar satu pekan mendatang, kita akan bertemu dengan tamu agung. Tamu yang dinantikan oleh orang-orang yang beriman. Suatu bulan yang sangat mulia, yang penuh dengan rahmat, barokah dan maghfirah Allah Ta’ala. Bulan yang selalu menyapa kita setiap tahun, akan tetapi sering kali kita tidak menyambutnya dengan semestinya. Itulah bulan Ramadhan al-Mubarak.

Barangkali sebagian kita akan mengatakan, ”Ah, Ramadhan masih lama. Tidak perlu menyiapkan apa-apa. Nanti saja kalau sudah dekat.” Memang benar Ramadhan tidak akan menjelang besok. Akan tetapi, jika kita memahami dan menghayati keutamaan bulan Ramadhan, pasti saat ini kita sudah menyiapkan diri untuk bertemu dengannya. Sebagaimana jika kita menantikan suatu peristiwa besar dalam hidup kita, atau akan bertemu dengan orang yang terkasih, kita pasti akan menyiapkan diri jauh-jauh hari. Sebagaimana pepatah Arab mengatakan,

إِنَّ غَدًا لِنَاظِرِهِ قَرِيْبُ

“Sesungguhnya esok hari, bagi yang menantikannya, adalah sangat dekat.”

Itulah yang dilakukan oleh para ulama salaf kita. Mereka mengikat kehidupan mereka dengan bulan Ramadhan. Sehingga Ramadhan menjadi hal penting dalam kehidupan mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Mu’alla bin al-Fadhl,

كاَنُوْا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ رَمَضَان، ثُمَّ يَدْعُوْنَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُمْ

”Dahulu para ulama salaf berdoa selama enam bulan agar umur mereka disampaikan hingga bulan Ramadhan, dan kemudian berdoa selama enam bulan agar amalan mereka pada bulan Ramadhan diterima.” (Lathaif al-Ma’arif: 148)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Sungguh, dipanjangkannya umur kita untuk bisa bertemu dengan Ramadhan adalah nikmat yang sangat agung. Karena hal itu berarti kita berkesempatan untuk mendapatkan anugerah rahmat, berkah dan ampunan dari Allah yang sangat agung. Dan tidak semua orang mendapatkan kesempatan tersebut.

Dalam sebuah hadis diceritakan, “Ada dua orang dari Kabilah Bali yang datang kepada Rasulullah dan masuk Islam bersama. Salah satu diantara mereka lebih bersungguh-sungguh daripada yang lain. Maka, orang yang lebih bersungguh-sungguh tersebut berangkat berjihad dan syahid dalam peperangan. Setahun kemudian, temannya yang satu lagi juga meninggal.” Kemudian Thalhah bin Ubaidillah berkata, ”Aku bermimpi berada di pintu surga, disana aku melihat dua orang sahabat tersebut. Kemudian keluar seseorang dari surga. Ia kemudian mengizinkan kepada orang yang meninggal belakangan untuk masuk surga. Setelah itu, orang tersebut keluar dari surga lagi. Kemudian ia mengizinkan kepada yang mati syahid untuk masuk surga. Setelah itu, keduanya mendatangiku dan berkata, ”Pulanglah engkau, saatnya belum tiba bagimu.” Pada pagi harinya, Thalhah menceritakan mimpinya kepada para shahabat. Mereka merasa heran dengan mimpi tersebut.

Sampailah berita itu kepada Rasulullah Saw., maka beliau bertanya, ”Apakah yang membuat kalian heran?” Shahabat menjawab, ”Wahai Rasulullah salah satu diantara mereka lebih bersungguh-sungguh, dan ia syahid di jalan Allah. Akan tetapi, mengapa temannya yang masuk surga lebih dahulu?” Rasulullah bersabda, ”Bukankah temannya itu hidup satu tahun sesudahnya?” Shahabat menjawab: ”Benar.” Rasulullah bertanya lagi, ”Bukankah ia sampai bulan Ramadhan dan ia berpuasa?” Shahabat menjawab: ”Benar.” Rasulullah bertanya lagi, ”Dan dia juga melaksanakan shalat ini dan itu?” Shahabat menjawab: ”Benar.” Rasulullah kemudian bersabda,

فَمَا بَيْنَهُمَا أَبْعَدُ مِمَّا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Maka perbedaan antara keduanya lebih jauh daripada langit dan bumi.” (H.r. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dan Syaikh al-Albani)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Itulah gambaran pahala yang besar yang didapatkan oleh orang yang dipanjangkan umurnya hingga bertemu Ramadhan, dan kemudian ia memaksimalkan ibadah di dalamnya. Maka adakah karunia yang lebih agung dari hal ini? Jika pahala orang yang mati syahid saja bisa dikalahkan oleh pahala orang yang beribadah pada bulan Ramadhan, akankah kita masih akan meremehkannya? Bagi seorang mukmin, tentu hal ini tidak patut dilakukan.

Ramadhan adalah anugerah yang sangat agung. Maka selayaknya kita menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk bertemu dengan bulan agung ini. Tumbuhkan perasaan gembira bertemu dengan Ramadhan. Jika kita selalu bergembira dengan segala nikmat keduniawian, maka seharusnya kita juga bergembira dengan Ramadhan yang agung, karena ini adalah kesempatan untuk mendapatkan pahala dan derajat yang tinggi di akhirat. Allah berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah (Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (Qs. Yunus: 58)

Kegembiraan itu hendaknya dimanifestasikan dalam bentuk persiapan yang maksimal. Siapkan fisik kita dengan baik. Jaga kesehatan dan istirahatlah yang cukup. Kurangi porsi makanan kita, agar kita lebih terbiasa berada dalam kondisi lapar. Akan lebih sempurna, jika kita memperbanyak puasa sebelum datangnya Ramadhan. Sebagaiamana dahulu Rasulullah banyak berpuasa di bulan Sya’ban menjalang Ramadhan.
Mental kita juga perlu disiapkan. Kondisikan hati dan jiwa kita. Perbanyak istighfar dan mohon ampun kepada Allah. Segera bertaubat atas dosa-dosa besar yang dilakukan. Agar kita memasuki Ramadhan dengan jiwa yang bersih dan hati yang penuh dengan cahaya dari Allah. Dengan demikian, kita berharap akan diberikan kekuatan dan taufik untuk memaksimalkan ibadah pada bulan Ramadhan.
Interaksi dengan Alquran juga perlu diperbaik kembali. Jika selama ini kita jarang membaca Alquran, mulailah untuk merutinkan tilawah. Jadikan sebagai wirid dan agenda harian. Latih lisan dan anggota badan kita untuk bersemangat melatunkan ayat-ayat Allah dan mentadabburi maknanya.

Qiyamuillail kita juga harus kembali diaktifkan. Karena selama bulan Ramadhan kita akan melaksanakan shalat tarawih dan shalat tahajjud, maka tubuh kita harus dibiasakan untuk ruku’ dan sujud. Juga berdiri yang lama untuk membaca ayat dan melantunkan doa.

Dan yang terakhir, mari terus berdoa kepada Allah agar umur kita dipanjangkan hingga bulan Ramadhan. Terdapat sebuah riwayat yang lemah mengenai doa berharap untuk disampaikan hingga bulan Ramadhan. Walaupun hadis ini lemah, akan tetapi ulama sepakat kita boleh meminta dan berdoa apa saja kepada Allah selama berupa kebaikan,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَب، وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

”Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan umur kami hingga bulan Ramadhan.”

Demikian khutbah pada siang hari ini, semoga semakin menguatkan hati dan jiwa kita untuk menyambut bulan Ramadhan dengan persiapan maksimal. Dan semoga Allah menyampaikan umur kita hingga bulan Ramadhan, dan memberikan taufik untuk memaksimalkan ibadah di dalamnya. Aamiin, yaa rabbal’aalamiin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ في اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِه، وَأَشهَدُ أَن لَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِه، وأَشهدُ أنَّ نَبِيَّنَا مُحمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلى رِضْوَانِه.
أَمَّا بَعْدُ؛
فَيَا عِبَادَ الله، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَأَطِيْعُوْهُ فِي السِّرِّ وَالنَّجْوَى.
ثُمَّ صَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْر، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْر، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَاحِبِ الْفَضْلِ الْكَبِيْر. فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ: «إِنَّ اللَّهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً»
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إنَّكَ حَمِيْدٌ مَـجِيْد، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْـخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْن، أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيّ، وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعَيْن، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرِمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْن.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ، وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اْلأَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَات، وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَات.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّء الْأَسْقَامِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَة، وَالْمُعَافَاةِ الدَّائِمَة، فِي دِيْنِنَا وَدُنْيَاناَ وَأَهْلِنَا وَمَالِناَ.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَب، وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
والْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
أَقِيْمُوا الصَّلَاة.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

Subscribe YouTube MANIS : https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
wa.me/6285279776222
wa.me/6287782223130

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here