Berusaha Mendawamkan Amalan Ringan

📆 Rabu, 24 Dzulhijjah 1439H / 05 September 2018
📚 Renungan Hadist

📝 Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ وَقَالَ اكْلَفُوا مِنْ الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ (رواه البخاري)
Dari Aisyah radliallahu ‘anha berkata; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suatu ketika beliau ditanya; “Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah?” Beliau menjawab; ‘(yaitu) amalan yang dikerjakan secara terus menerus, meskipun hanya sedikit (kecil). Kemudian  beliau bersabda kembali: ‘Beramallah sesuai dengan kemampuan kalian.’ (HR. Bukhari)
© Hikmah Hadits :
1. Antusias para sahabat yang sangat besar untuk menggapai kecintaan Allah Swt. Hal ini terlihat dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para sahabat, yang umumnya berorientasi pada ridha dan mahabbatullah.
2. Bahwa amal shaleh yang kecil dan ringan, yang dilakukan secara kontinou dan dawam, insya Allah akan membuahkan pahala yang mulia, bahkan akan mengantarkannya pada cinta dan keridhaan Allah Swt. Oleh karenanya hendaknya setiap kita memiliki amal shaleh yang menjadi pegangan dalam kehidupan kita, serta menjadi kebiasaan dalam keseharian kita, supaya menjadi bekal untuk kehidupan akhirat kelak.
3. Hendaknya kita juga tidak terlalu berlebihan dan terlalu memaksakan diri dalam melakukan amalan tertentu, terlebih yang memberatkan atau menyulitkan diri sendiri. Karena umumnya amalan yang demikian akan mudah membuat kita futur dan bosan, lalu enggan beramal kembali. Sebaliknya kita dianjurkan melakukan amalan yang ringan, mudah dan tidak memberatkan, namun dilakukam secara dawam.
Wallahu A’lam

Bolehkah seseorang yang tidak berhadast melakukan mandi wajib…???

Ustadz Menjawab
Rabu, 05 September 2018
Ustadz Farid Nu’man Hasan
Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
….Afwan ustadz mau tanya…
Bolehkah seseorang yang tidak berhadast melakukan mandi wajib…???
Mohon pencerahannya ustadz…
Syukron wa Jazaakallahu khairan
Jawaban
————–
‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Jika maksudnya adalah sekedar mandi untuk menyejukkan badan, tentu boleh saja baik dgn cara seperti mandi junub, atau menseka badan, shower, atau apa saja.
Tapi, jika melalukan mandi dgn niat mandi junub padahal sedang tidak junub, maka itu terlarang dan mengada-ada.
Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah berkata:
فلا حرج على المرء في أن يغتسل بنية النظافة أو التبرد ويكون غسله مشابها لكيفية الأغسال المشروعة للتعبد.
Tidak apa-apa bagi seseorang mandi dengan niat membersihkan dan menyejukkan dan cara mandinya menyerupai mandi yang disyariatkan untuk ibadah.
وغسل الجنابة والحيض والنفاس وغسل الجمعة كلها مأمور بها شرعا فهي عبادات والعبادة مبناها على التوقيف، أما أن يغتسل للجمعة قبل يومها أو يغتسل بنية رفع الجنابة وهو يعلم أنه ليس جنبا بقصد التعبد فإن اغتساله هذا غير مشروع وهو بدعة في الدين لقول النبي صلى الله عليه وسلم: من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد. رواه مسلم وأحمد. وفي رواية عند مسلم: من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد.
Mandi junub, haid,  nifas, dan mandi Jumat, semua itu diperintahkan syariat dan termasuk ibadah. Ibadah itu dibangun atas sikap tauqif (petunjuk dalil). Ada pun mandi Jumat padahal belum hari Jumat, atau mandi Dengan niat menghilangkan junub padahal dia tahu dia sedang tidak junub dengan maksud sebagai ibadah maka mandinya ini TIDAK DISYARIATKAN dan BID’AH dalam agama.
Berdasarkan hadits Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Barang siapa yang melakukan amal yang bukan berasal dari agama kami maka itu tertolak.” (HR. Muslim dan Ahmad).
Dan dalam riwayat Imam Muslim: “Barang siapa yang menciptakan hal yang baru dalam urusan (agama) kami ini, dengan suatu yang bukan berasal darinya maka itu tertolak.”
ولا شك أن ذلك الغسل ليس عليه أمر النبي صلى الله عليه وسلم فيكون بدعة، وأما الاغتسال بنية التبرد فهذا جائز وقد قال النبي صلى الله عليه وسلم: إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى. متفق عليه.
Tidak ragu lagi, bahwa mandi tersebut bukanlah termasuk perintah Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam maka itu bid’ah. Ada pun semata-mata mandi dengan niat menyejukkan badan tentu  tidak apa-apa.  Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya dan setiap manusia akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan.  (HR. Muttafaq ‘Alaih)
(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no.  111252)
Wallahu a’lam.

Pujian Ulama Kepada Ulama

📆 Selasa, 23 Dzulhijjah 1439H / 04 September 2018
📚 Adab

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.
Ada pelajaran sangat baik para ulama terdahulu untuk para ulama, ustadz, dan muballigh zaman sekarang, yaitu saling memuji diantara mereka karena kebaikan, ilmu, akhlak, perjuangan, ibadah dan kedermawanannya. Ini merupakan salah satu obat mujarrab untuk membunuh rasa dengki yg biasa muncul dihati orang-orang yang ditokohkan.
Mereka walau berbeda dalam pendapat, fatwa, metodelogi berfikir dan berfiqih, tetap saling memberikan pujian dan testimoni positif satu sama lain. Tidak menyerang kepribadiannya, atau membunuh katakter, agar orang lain menjauhinya; demarketing.
Berikut ini saya tampilkan pujian para imam kepada imam lainnya.
1. Imam Abu Hanifah dan Imam Sufyan Ats Tsauriy Rahimahumallah
Mereka berdua hidup sezaman, bedanya Abu Hanifah pernah berjumpa beberapa sahabat nabi, Sufyan tidak. Mereka berdua kerap terlibat dalam perbedaan dalam fiqih, tapi hal itu tidak membuat mereka terhalang untuk saling mencintai dan memuji kelebihan satu sama lain.
Muhammad bin Bisyr berkata: Aku pernah bergantian mengunjungi Sufyan Ats Tsauri dan Abu Hanifah. Ketika aku mendatangi Abu Hanifah dia bertanya: “Dari mana kamu?” Aku jawab: “Aku datang dari sisi Sufyan Ats Tsauri.”
Abu Hanifah menjawab: “Engkau datang dari sisi seorang laki-laki yang sendainya ‘Alqamah dan Al Aswad melihat semisal orang itu (maksudnya Sufyan), maka mereka berdua akan berhujjah dengannya.”
Lalu aku mendatangi Sufyan Ats Tsauri, dia bertanya: “Dari mana kamu?” Aku jawab: “Aku datang dari sisi Abu Hanifah.” Sufyan menjawab: “Engkau datang dari sisi seorang  yang paling faqih di antara penduduk bumi.”
(Tarikh Baghdad, 15/459)
2. Imam Asy Syafi’iy dan Imam Ahmad bin Hambal Rahimahumallah
Imam Asy Syafi’iy adalah guru dari Imam Ahmad bin Hambal. Walau Imam Ahmad tidak selalu sejalan dengan gurunya tapi mereka saling mencintai dan memuji.
Imam Ahmad bin Hambal berkata:
كان الفقه قفلا علي اهله حتي فتحه الله بالشافعى
Dahulu ilmu fiqih tergembok atas pemiliknya, sampai akhirnya Allah bukakan melalui Asy Syafi’iy.
(Tahdzibul Asma wal Lughat, 1/61)
Beliau juga berkata:
لولا الشافعي ما عرفنا فقه الحديث
Seandainya bukan karena Asy Syafi’iy niscaya kami tidak tahu bagaimana memahami hadits. (Ibid)
Sementara Imam Asy Syafi’iy dengan rendah hati memuji muridnya dengan kalimat yang luar biasa:
خرجت من بغداد وما خلفت بها أفقه ولا أزهد ولا أورع ولا أعلم من أحمد بن حنبل
Aku keluar dari Baghdad, dan tidaklah aku tinggalkan padanya manusia yang lebih faqih, lebih zuhud, lebih wara’, dan lebih berilmu dibanding Ahmad bin Hambal. (Tarikh Baghdad, 4/419)
Beliau juga berkata:
أحمد بن حنبل إمام في ثمان خصال: إمام في الحديث، إمام في الفقه، إمام في اللغة، إمام في القرآن، إمام في الفقر، إمام في الزهد، إمام في الورع، إمام في السنة
Ahmad bin Hambal adalah imam dalam delapan hal: Imam dalam ilmu  hadits,  fiqih, bahasa, Al Quran, kefakiran, zuhud, wara’, dan sunnah.
(Thabaqah Al Hanabilah, 1/5)
3. Imam Malik Rahimahullah
Imam Abdullah bin Al Mubarak berkata:
لو قيل لى : اختر للامة اماما اخترت لها مالكا
Seandainya dikatakan kepadaku: “Pilihlah seorang imam untuk umat ini! Niscaya aku pilihkan bagi mereka Malik sebagai imam.”
Imam Abdurrahman bin Al Mahdi berkata:
ما بقي على وجه الأرض آمن على حديث رسول الله من مالك
Tidak ada di muka bumi ini yang lebih dipercaya tentang hadits Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dibandingkan Malik.
(Mausu’ah Syuruh Al Muwatha’, 1/24)
4. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz Rahimahullah dan Syaikh Yusuf Al Qaradhawiy Hafizhahullah
Mereka berdua pernah berbeda pendapat dalam menyikapi perjanjian damai Palestina dan Zionis Israel di Oslo tahun 1993M. Di mana Syaikh Abdul Aziz bin Baaz menerima perjanjian damai itu seperti yang Beliau tulis di harian Al Muslimun, sementara Syaikh Al Qaradhawiy menentang perjanjian itu dan mengkritik fatwa Syaikh Ibnu Baaz di majalah Al Mujtama’. Mereka saling mengkoreksi sampai 2 kali membuat tulisan masing-masing di tahun 1995M. Tentang hal ini bisa kita lihat di Fatawa Al Mu’ashirah Jilid 3.
Di situ, Syaikh Al Qaradhawiy memujinya dengan sebutan sebagai ulama besar, al ‘allamah (yang luas ilmuanya) ..
Syaikh Ibnu Baaz pun memuji Syaikh Al Qaradhawiy sebagai Al Fadhil  Asy Syaikh  …, dalam kesempatan yang lain menyebutnya sebagai orang yang karyanya berbobot dan berpengaruh di dunia Islam. Tidak seperti sebagian orang yang mulutnya tajam dan kasar  kepada Syaikh Al Qaradhawiy hanya karena tidak setuju dengan fatwa-fatwanya.
Demikianlah, perbedaan pendapat di antara mereka tidak membuat mereka kehilangan etika dan tatakrama terhadap sesama muslim apalagi terhadap ulama.  Semoga kita dapat mengambil banyak pelajaran dari mereka.
Wallahul Muwaffiq ilaa aqwamith Thariq

Hak Amil dari Penghimpunan Zakat dan Infak

Ustadz Menjawab
Selasa, 04 September 2018
Ustadz Dr. Oni Sahroni, M.A
Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
…. Bagaimana dasar hukum ketika amil melakuan penggalangan dana zakat dan infak lalu mengambilnya 12,5% untuk pengelola?
Jawaban
————–
‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
🏢 Lembaga atau pihak yang mengelola zakat, infak, dan sedekah diperkenankan untuk mengambil bagian dari donasi yang dikumpulkannya agar donasi tersebut bisa disalurkan kepada mustahik (penerima manfaat) dengan jumlah atau besaran yang sesuai dengan kebutuhan dan dapat diterima oleh mustahik.
👥 Pengelola zakat dikategorikan sebagai amil, yaitu pihak yang memobilisasi, mengelola, dan mendistribusikan donasi (zakat, infak, dan sedekah) hingga diterima oleh mustahik dan mendapatkan izin dari otoritas. 
📜 Dalam regulasi di Indonesia, angka 12,5% telah ditetapkan sebagai angka maksimal yang berhak diterima oleh pengelola zakat (berstatus sebagai amil) yang bersumber dari penghimpunan zakat. Jika tidak mencukupi, biaya operasional dapat menggunakan alokasi dari dana infak/sedekah paling banyak 20% dari penerimaan dana infak dan sedekah. Sebagaimana disebutkan dalam peraturan BAZNAS No.1 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyusunan RKAT Tahunan Badan Amil Zakat, Pasal 8 bahwa : “(1) Penerimaan Hak Amil dari dana zakat paling banyak 12,5% (dua belas koma lima persen) dari penerimaan dana zakat. (2) Dalam hal penerimaan hak amil dari dana zakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak mencukupi, biaya operasional dapat menggunakan alokasi dari dana infak/sedekah dan DSKL paling banyak 20% (dua puluh persen) dari penerimaan dana infak/sedekah dan DSKL.
👉 Angka ini adalah angka ijtihad kolektif para ulama di Indonesia beserta regulator yang menyimpulkan bahwa angka 12,5% itu tidak kurang atau tidak lebih (لا وكس ولا شطط). Oleh karena itu, setiap pengelola zakat berhak untuk mengambil maksimal 12,5% dari donasi yang dikumpulkannya.
Wallahu a’lam.

Hukum Kredit Kendaraan Bermotor Melalui Leasing Konvensional

Ustadz Menjawab
Senin, 03 September 2018
Ustadz Dr. H. Oni Sahroni, M.A.
Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
….Saya mau membelikan motor anak saya yang baru kuliah. Apakah kredit kendaraan bermotor melalui leasing konvensional dibolehkan? Saya inginnya kredit agar kebutuhan lain bisa teratasi.
Jawaban
————–
‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
🎯 Dalam poin-poin berikut :
1⃣ Kredit kendaraan bermotor yang menjadi produk leasing konvensional itu menggunakan ⏬
❌ skema pinjaman berbunga atau pinjaman ribawi.
2⃣ Salah satu simulasinya adalah A👨🏻‍💼 mengajukan kredit pembiayaan kendaraan bermotor ke leasing B 🏢 dengan meminjam uang sebesar Rp15 juta untuk membeli motor dari dealer tertentu. Setelah mendapatkan uang tersebut, A 👨🏻‍💼 membeli kendaraan tersebut dari dealer secara tunai 💰. Lalu A 👨🏻‍💼 melunasi pinjamannya secara berangsur dengan bunga Rp8 juta dengan angsuran 12 kali dan tenor 1 tahun. Dengan pokok pinjaman Rp15 juta dan bunga Rp8 juta, total angsuran Rp23 juta.
3⃣ Dari skema dan simulasi di atas, 👆🏻kredit kendaraan bermotor di leasing konvensional adalah
🚫 pinjaman berbunga yang tidak diperkenankan atau diharamkandalam Islam,
🕌 sebagaimana firman Allah SWT,
وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ 
“… Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba ….” (al-Baqarah: 275), dan kaidah fikih,
كل قرض جر نفعا فهو ربا
Bahwa manfaat yang diterima kreditur atas jasa pinjaman adalah riba
👆🏻Dalam simulasi di atas, bunga Rp8 juta dan dana Rp8 juta yang diterima oleh leasing adalah riba jahiliyah atau riba qardh atau riba nasa sebagai jasa atas fasilitas pinjaman yang diterima oleh nasabah atau pembeli atau debitor.
4⃣ Alternatif yang sesuai syariah adalah mengajukan pembiayaan kendaraan bermotor ke leasing atau lembaga pembiayaan syariah 🏛yang menggunakan skema atau kontrak sesuai syariah, di antaranya akad murabahah, dengan mengubah fungsi dan status leasing dari kreditor menjadi penjual.
❇ Di konvensional, leasing adalah kreditor, sedangkan di syariah, leasing adalah penjual,
🚶🏻dengan cara nasabah calon pembeli datang ke lembaga pembiayaan syariah atau leasing syariah 🏣, seperti Adira Syariah, lalu mengajukan pembiayaan kendaraan bermotor. Kemudian dengan order (pesanan atau pengajuan) tersebut,🗂 lembaga pembiayaan syariah atau leasing syariah membeli kendaraan yang dipesan dari dealer. 🏭
🛵 Setelah kendaraan menjadi milik lembaga pembiayaan secara prinsip, perusahaan tersebut menjual kepada nasabah dengan akad jual beli murabahah atau jual beli angsuran. Pokok harga jualnya Rp15 juta dengan margin misalnya Rp7 juta, Rp7,5 juta, atau Rp8 juta sehingga angka Rp8 juta yang diterima oleh leasing syariah adalah margin dari jual beli
5⃣ Harga menurut syariah skema tersebut 📈 diperbolehkan karena harga dalam jual beli angsuran itu boleh lebih besar daripada jual beli tunai, sebagaimana ditegaskan dalam ⤵
👳🏼keputusan lembaga fikih organisasi konferensi Internasional di Jeddah yang memperbolehkan harga jual dalam jual beli angsuran itu lebih besar daripada jual beli tunai.
📜 Keputusan Lembaga fikih OKI di Jeddah no 51 ;
أولاً: تجوز الزيادة في الثمن المؤجل عن الثمن الحال، كما يجوز ذكر ثمن المبيع نقداً، وثمنه بالأقساط لمدد معلومة، ولا يصح البيع إلا إذا جزم العاقدان بالنقد أو التأجيل. فإن وقع البيع مع التردد بين النقد والتأجيل بأن لم يحصل الاتفاق الجازم على ثمن واحد محدد فهو غير جائز شرعاً.
📝 Kesimpulan
“♻ Dari penjelasan di atas, yang sesuai dengan alternatif syariah adalah lembaga pembiayaan atau leasing syariah yang menjual kendaraan dengan angsuran, sehingga kelebihan atau margin yang didapat oleh lembaga pembiayaan atau bank syariah 🏛 adalah margin atas jual beli tidak tunai yang dihalalkan dalam Islam.`
📚 Referensi :
📕Buku Riba, Gharar dan Kaidah-Kaidah Ekonomi Syariah Analisis Fikih & Ekonomi (Dr. Oni Sahroni, M.A. & Ir. Adiwarman A. Karim, S.E., M.B.A., M.A.E.P)
📗 Fatwa Dewan Syariah Nasional tentang Murabahah.
📘 Bai’ at-Taqshith karya Rafiq Yunus Al-Mishri
Wallahu a’lam.

Pelajarilah Adab Jangan Hanya Fiqih

📆 Senin, 22 Dzulhijjah 1439H / 03 September 2018
📚 Adab

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.
📌 Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا …
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka ..  (Qs. At Tahrim: 6)
Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu berkata tentang cara menjaga mereka dari api neraka:

ادبوهم و علموهم …
Ajarkan mereka adab dan ajarkan mereka ilmu. (Tafsir Ibnu Katsir, 8/167)
Kemudian …
📌 Umar bin Al Khathab Radhiallahu ‘Anhu berkata:
تَأَدَّبُوا ثُمَّ تَعَلَّمُوا
Pelajarilah Adab, lalu pelajarilah ilmu.  (Imam As Safarayini, Ghidza’ul Baab Syarh Manzhuumah Al Aadab, Hal. 27. Lihat juga Imam Ibnu Muflih, Al Adab Asy Syar’iyyah, 4/264)
📌 Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘Anhuma berkata:
اُطْلُبْ الأَدَبَ فَإِنَّهُ زِيَادَةٌ فِي الْعَقْلِ ، وَدَلِيلٌ عَلَى الْمُرُوءَةِ مُؤْنِسٌ فِي الْوَحْدَةِ ، وَصَاحِبٌ فِي الْغُرْبَةِ ، وَمَالٌ عِنْدَ الْقِلَّةِ
  Carilah adab karena itu adalah tambahan bagi akal, petunjuk bagi keluhuran budi, keramahan dalam kesepian, kawan dalam keterasingan, dan harta di saat sedikit kekayaan. (Ibid)
📌 Abu Abdillah Al Balkhiy Rahimahullah berkata:
أَدَبُ الْعِلْمِ أَكْثَرُ مِنْ الْعِلْمِ
Adabnya ilmu lebih banyak dibanding ilmu itu sendiri. (Ibid, Lihat juga Al Adab Asy Syar’iyyah, 4/264)
📌 Imam Abdullah bin Al Mubarak Rahimahullah berkata:
لا يَنْبُلُ الرَّجُلُ بِنَوْعٍ مِنْ الْعِلْمِ مَا لَمْ يُزَيِّنْ عِلْمَهُ بِالأَدَبِ
Seseorang tidaklah mulia dengan beragam ilmu selama dia tidak menghiasinya dengan adab. (Ibid. Lihat juga Al Adab Asy Syar’iyyah,  2/264)
📌 Ahnaf bin Qais Rahimahullah berkata:
الأَدَبُ نُورُ الْعَقْلِ كَمَا أَنَّ النَّارَ نُورُ الْبَصَرِ
Adab adalah cahaya bagi akal, sebagaimana api adalah cahaya bagi mata. (Ibid. Lihat juga Al Adab Asy Syar’iyyah,  2/264)
📌 Sebagian Ahli Hikmah mengatakan:
لا أَدَبَ إلا بِعَقْلٍ ، وَلا عَقْلَ إلا بِأَدَبٍ
Tidak ada adab kecuali dengan akal, dan tidak ada akal kecuali dengan adab. (Ibid. Lihat juga Al Adab Asy Syar’iyyah,  2/264)
📌 Juga ada yang mengatakan:
الْعَوْنُ لِمَنْ لا عَوْنَ لَهُ الأَدَبُ
Pertolongan bagi orang yang tidak ada pertolongan adalah adab. (Ibid. Lihat juga Al Adab Asy Syar’iyyah,  2/264)
📌 Makhladah bin Al Husein berkata:
نَحْنُ إِلَى كَثِيرٍ مِنَ الْأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيرٍ مِنَ الْحَدِيثِ
Kita adalah kaum yang lebih banyak membutuhkan adab dibanding hadits. (Al Khathib Al Baghdadi, Al jaami’ Liakhlaaq Ar Raawiy wa Adab As Saami’, No. 11)
📌 Ibrahim bin Habib Rahimahullah berkata:
قَالَ لِي أَبِي: يَا بُنَيَّ، إِيتِ الْفُقَهَاءَ وَالْعُلَمَاءَ، وَتَعَلَّمْ مِنْهُمْ، وَخُذْ مِنْ أَدَبِهِمْ وَأَخْلَاقِهِمْ وَهَدْيِهِمْ، فَإِنَّ ذَاكَ أَحَبُّ إِلَيَّ لَكَ مِنْ كَثِيرٍ مِنَ الْحَدِيثِ
Ayahku berkata kepadaku: “Wahai anakku, datangilah ahli fiqih dan ulama, belajarlah dari mereka, ambil-lah adab mereka, akhlak dan juga arahan mereka, sebab itu lebih aku sukai bagimu dibanding banyak memiliki hadits.” (Ibid,  No. 10)
📌 Abu Zakaria Al ‘Anbari Rahimahullah berkata:
عِلْمٌ بِلَا أَدَبٍ كَنَارٍ بِلَا حَطَبٍ، وَأَدَبٌ بِلَا عِلْمٍ كَرُوحٍ بِلَا جِسْم
Ilmu Tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar dan adab tanpa ilmu seperti ruh tanpa jasad. (Ibid, No. 12)

Rukhsoh Tidak Sholat Jum’at

Ustadz Menjawab
Ahad, 02 September 2018
Ustadz Farid Nu’man Hasan

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
….maaf saya mau tanya. Atau mungkin sudah ada pertanyaan yang sama sebelumnya, tapi saya belum dapat.

Apakah ada rukhsah untuk tidak melaksanakan sholat jum’at dan menggantinya dengan shalat dzuhur di daerah yang bener2 jarang masjid dan muslim sebagai minoritas?
Misal bekerja di perusahaan di Jepang dan disana sulit ditemukan masjid, kalaupun ada sangat jauh dari lokasi tempat bekerja dan sangat sedikit jumlah pekerja yang muslim.
Syukran 🙏🏼Dari  i-11

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Berarti dia musafir … Dan bagi musafir, baik  mampir sebentar atau lama, selama tidak berniat jadi penduduk tetap, memang tidak wajib shalat Jumat, baginya shalat zuhur saja.

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:

المسافر وإذا كان نازلا وقت إقامتها فإن أكثر أهل العلم يرون أنه لا جمعة عليه: لان النبي صلى الله عليه وسلم كان يسافر فلا يصلي الجمعة فصلى الظهر والعصر جمع تقديم ولم يصل جمعته، وكذلك فعل الخلفاء وغيرهم.

Musafir walau dia mampir saat shalat Jumat dijalankan, menurut mayoritas ulama adalah tidak wajib shalat Jumat atasnya. Karena Nabi Shalallahu’Alaihi wa Sallam jika safar dia tidak shalat Jumat, tapi shalat zuhur dan ashar secara jamak taqdim, demikian juga hal itu dilakukan oleh Khulafaur Rasyidin setelahnya.(Fiqhus Sunnah, 1/303)

Apalagi di sana minoritas, jamaah shalat Jum’at -menurut madzhab Syafi’iy dan Hambaliy- tidak sah jika tidak mencapai 40 org. Sedangkan Malikiyah mengatakan 12 orang, sedangkan Hanafiy minimal 3 orang. Sementara yang lain mengatakan berdua juga sah. Bahkan kata Imam Ibnu Hajar ada 15 pendapat tentang masalah batas minimal jumlah jamaah shalat Jumat.

Wallahu a’lam.

Dilema Ibu Beranak Kecil dikala Magrib…

Ustadz Menjawab
Sabtu, 01 September 2018
Ustadz Farid Nu’man Hasan

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
….saya sedih sekali,  saya punya dua orang anak kecil2.  Setiap saat mereka ga mau ditinggal .. Terlebih ketika magrib… Kalau saya sholat mereka akan Tarik 2 pakaian saya..  Badan saya dipukul2 bahkan di naikin.. Atau di loncatin..  Saya sedih sekali harus terlewat sholat magrib..  Bgm hukum nya
Saya sdh alihkan ke mainan mereka.. Tapi mereka tetap menjaga saya
Apakah sholat nya bisa diganti waktu lain.. Dan tata cara mengganti sholat bgm.. Apakah ada niat khusus

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Ada dua opsi, pertama, si Ibu tetap shalat seperti biasa sambil bermujahadah mempertahankan kekhusyu’annya walau dia menangis. Sebelumnya diupayakan dulu dgn rayuan,  mainan, makanan, atau apa sj yg membuatnya tenang.

Opsi kedua, jika memang pertama sulit, dia bs tunda dulu sebentar shalatnya. Dia urus anaknya dulu sampai tidur lalu dia shalat. Ini ‘uzur bagi seorang ibu, dan juga kesulitan baginya, tidak apa-apa tertunda shalat baginya.

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid mengatakan:

والصلاة في آخر وقتها جائزة

Shalat diakhir waktu itu boleh

Dalilnya adalah, dari Abu Musa Al Asy’ari Radhiyallahu ‘Anhu:

عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ أَتَاهُ سَائِلٌ يَسْأَلُهُ عَنْ مَوَاقِيتِ الصَّلَاةِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ شَيْئًا قَالَ فَأَقَامَ الْفَجْرَ حِينَ انْشَقَّ الْفَجْرُ وَالنَّاسُ لَا يَكَادُ يَعْرِفُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ بِالظُّهْرِ حِينَ زَالَتْ الشَّمْسُ وَالْقَائِلُ يَقُولُ قَدْ انْتَصَفَ النَّهَارُ وَهُوَ كَانَ أَعْلَمَ مِنْهُمْ ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ بِالْعَصْرِ وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ بِالْمَغْرِبِ حِينَ وَقَعَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ الْعِشَاءَ حِينَ غَابَ الشَّفَقُ ثُمَّ أَخَّرَ الْفَجْرَ مِنْ الْغَدِ حَتَّى انْصَرَفَ مِنْهَا وَالْقَائِلُ يَقُولُ قَدْ طَلَعَتْ الشَّمْسُ أَوْ كَادَتْ ثُمَّ أَخَّرَ الظُّهْرَ حَتَّى كَانَ قَرِيبًا مِنْ وَقْتِ الْعَصْرِ بِالْأَمْسِ ثُمَّ أَخَّرَ الْعَصْرَ حَتَّى انْصَرَفَ مِنْهَا وَالْقَائِلُ يَقُولُ قَدْ احْمَرَّتْ الشَّمْسُ ثُمَّ أَخَّرَ الْمَغْرِبَ حَتَّى كَانَ عِنْدَ سُقُوطِ الشَّفَقِ ثُمَّ أَخَّرَ الْعِشَاءَ حَتَّى كَانَ ثُلُثُ اللَّيْلِ الْأَوَّلِ ثُمَّ أَصْبَحَ فَدَعَا السَّائِلَ فَقَالَ الْوَقْتُ بَيْنَ هَذَيْنِ

Dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa seseorang datang menemui beliau dan bertanya tentang waktu-waktu shalat, namun beliau tidak menawabnya sama sekali. Kata ayah Abu musa; “Kemudian beliau mendirikan shalat fajar ketika fajar baru merekah dan antara sahabat satu dengan yang lain belum bisa mengenal, kemudian beliau memerintahkan (untuk mendirikan shalat shubuh), setelah itu beliau mendirikan shalat zhuhur ketika matahari condong, lantas penanya berkata; “Siang telah berlalu separohnya.!” seolah-olah dirinya orang yang paling pandai diantara mereka, kemudian beliau memerintahkan lalu beliau mendirikan shalat ashr ketika matahari masih tinggi, kemudian beliau memerintahkan supaya mendirian shalat maghrib ketika matahari tenggelam, setelah itu beliau memerintahkan supaya beliau mendirikan shalat isya`, yaitu ketika mega merah telah hilang, keesokan harinya beliau mengakhirkan shalat fajar, seusai shalat (fajar) laki-laki itu berkata; ‘Matahari telah terbit atau nyaris terbit.!” Setelah itu beliau mengakhirkan shalat zhuhur hingga mendekati waktu ‘ashar seperti waktu kemaren, kemudian beliau mengakhirkan shalat ashar, setelah selesai shalat penanya berkata; “Matahari telah memerah.!” kemudian beliau mengakhirkan shalat maghrib hingga syafaq (mega merah) menghilang, setelah itu beliau mengakhirkan shalat isya` hingga sepertiga malam pertama berlalu, di pagi hari beliau memanggil si penanya, lalu beliau bersabda: ‘Waktu-waktu shalat ada diantara dua waktu ini.” (HR. Muslim no. 914)

Wallahu a’lam.