Mewaspadai Istidraj

© Nikmat dan musibah bagi orang beriman itu bisa menjadi karunia sekaligus ujian. Sesiapa yang beriman akan menyadari betul jalan-jalan yang telah disiapkan oleh Allah adalah yang terbaik.

▪Bisa jadi kita diberi ujian berupa kenikmatan yang melimpah. Karena kita mengerti bahwa ujian tak selalu berbentuk musibah.  Walau demikian sangat wajar untuk mengubah keadaan hati agar iman yang tertanam semakin kokoh bila berjumpa dengan kesulitan. Namun sering lalai bila ada karunia yang melimpah ruah dalam hidupnya.

® Bila kita ini pribadi yang hati-hati akan mewaspadai dengan hadirnya karunia yang sangat banyak. Kita harus lebih banyak menangisi dan mengevaluasi diri sembari mengingat betapa Allah telah sembunyikan aib kita. Seperti itulah pribadi yang selalu mawas karena kekhawatirannya akan tertipu dengan amal yang mungkin saja selayaknya buih di lautan.

▪Sungguh beruntunglah orang-orang yang bersabar menerima musibah dan memahami hakikat bahwa musibah itu pada dasarnya adalah sebuah proses untuk menghapuskan dosa dosanya.

© Berbeda halnya ketika ada hamba-hamba yang tiada menyadari tentang kesalahan dirinya. Bisa jadi orang yang enggan bermuhasabah akan dibutakan mata hatinya, disilaukan pengelihatannya, sehingga selalu merasa bahwa dirinya benar dan Allah pun ridha.

▪Orang-orang yang enggan mengoreksi diri inilah kadang dibiarkan oleh Allah dan akhirnya tertipu dengan apa yang telah diperbuat sementara semua kosong tak berisi. Dan nikmat yang dikaruniakan kepada mereka akan semakin membuat mereka jauh dan jauh dari cahaya kebenaran.

® Kita kadang melihat tentang nikmat yang di peroleh para pelaku maksiat. Nikmat yang  terus menerus diberikan tanpa musibah itu bukanlah rahmat dari Allah, bisa jadi itu tipu daya Allah. Bisa jadi itu istidraj, dimana Allah membiarkan hambanya memperoleh segala yang ia kehendaki sementara adzab yang nyata telah menanti di akhirat kelak.

▪Sungguh celaka orang yang tertipu. Ia larut dan terlena oleh nikmat dunia yang menjerumuskan.

“Apabila Allah menghendaki hamba-Nya mendapatkan kebaikan maka Allah segerakan baginya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan untuknya maka Allah akan menahan hukumannya sampai akan disempurnakan balasannya kelak di hari kiamat.” (Terjemah hadits riwayat Muslim)

© Mudahlah menjadi pribadi yang mau mengevaluasi diri. Segera muhasabah tanpa menunggu datangnya musibah.

PEREMPUAN KUAT yang HIJRAH dalam Keadaan HAMIL Besar

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ نَصْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Nashr berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah berkata, telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Urwah dari Bapaknya dari Asma binti Abu Bakar radliallahu ‘anhuma,

أَنَّهَا حَمَلَتْ بِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ بِمَكَّةَ
Bahwasanya di Makkah ia mengandung bayi Abdullah bin az-Zubair (dari suaminya az-Zubayr ibn al-Awwam Radhiyallahu’anhu).

قَالَتْ فَخَرَجْتُ وَأَنَا مُتِمٌّ فَأَتَيْتُ الْمَدِينَةَ فَنَزَلْتُ قُبَاءً فَوَلَدْتُ بِقُبَاءٍ
Ia berkata, “Aku lalu keluar (dari kota Makkah) sedangkan (kehamilanku) sudah sempurna, aku menuju Madinah, ketika sampai di Quba, aku singgah dan melahirkan di sana.

ثُمَّ أَتَيْتُ بِهِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعْتُهُ فِي حَجْرِهِ ثُمَّ دَعَا بِتَمْرَةٍ فَمَضَغَهَا ثُمَّ تَفَلَ فِي فِيهِ
Aku lalu membawa bayiku menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan aku letakkan di pangkuannya. Kemudian Baginda minta diambilkan buah kurma, lalu mengunyahnya untuk kemudian menyuapinya ke mulut bayiku.

فَكَانَ أَوَّلَ شَيْءٍ دَخَلَ جَوْفَهُ رِيقُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Maka pertama kali yang masuk ke dalam perutnya adalah kunyahan (kurma) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

ثُمَّ حَنَّكَهُ بِالتَّمْرَةِ ثُمَّ دَعَا لَهُ فَبَرَّكَ عَلَيْهِ
Beliau menyuapkan kunyahan kurma kemudian mendoakan keberkahan kepadanya.

وَكَانَ أَوَّلَ مَوْلُودٍ وُلِدَ فِي الْإِسْلَامِ
Dia adalah bayi pertama yang lahir dalam Islam.

فَفَرِحُوا بِهِ فَرَحًا شَدِيدًا لِأَنَّهُمْ قِيلَ لَهُمْ إِنَّ الْيَهُودَ قَدْ سَحَرَتْكُمْ فَلَا يُولَدُ لَكُمْ
Orang-orang pun bangga sekali, sebab telah dikatakan kepada mereka ‘sesungguhnya orang-orang Yahudi telah menyihir kalian, sehingga kalian tidak akan memiliki anak’.”

HR Al-Bukhari no. 5047, versi Fathul Bari hadits no. 5469.

Berbagai hikmah dalam satu hadits dari Asma’ binti Abi Bakr Radhiyallahu’anhu ‘anhuma:

1. Asma’ ibnt Abi Bakr (ra) meriwayatkan hadits kepada para laki-laki sebagaimana ‘Aisyah (ra) juga banyak merawikan hadits tentang seluk-beluk kehidupan Rasulullah SAW; betapa cerdas serta kuatnya ilmu para muhadditsat generasi itu,
2. Asma’ ibnt Abi Bakar (ra) tetap tegar berangkat hijrah walaupun suaminya masih terhambat untuk berangkat,
3. Asma’ ibnt Abi Bakr (ra) menempuh perjalanan tidak kurang dari 327 kilometer dalam keadaan hamil yang siap melahirkan dari Makkah hingga ke Quba, dekat Madinah
4. Tahnik bayi merupakan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu memberikan kunyahan halus kurma kepada bayi; anak Asma’ ibnt Abi Bakr (ra) adalah yang pertama mendapatkannya di Quba sekaligus mendapatkan doa keberkahan dari Baginda SAW,
5. Anak Asma’ ibnt Abi Bakr (ra) dan Abdullah ibn az-Zubayr (ra) adalah bayi pertama yang lahir dari kalangan Kaum Muslimin dalam Hijrah,
6. Yahudi di Madinah melancarkan serangan sihir kepada Kaum Muslimin yang tertolak dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Agung Waspodo, menarik banyak kesimpulan dari kisah yang dituturkan Asma’ ibnt Abi Bakr (ra) ini, walLaahu a’lam.

Depok, pagi-pagi 30 Januari 2018

Ibu Atau Istri Dulu?

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
manakah yang harus didahulukan antara istri atau ortu ??

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Suami setelah menikah memang memiliki peran dan tanggung jawab yang lebih besar. Diantaranya adalah peranan dan tanggung jawab nya kepada istrinya. Karena seorang istri apabila sudah menikah maka sepenuhnya menjadi hak dan tanggung jawab suami. Berbeda dengan seorang suami, suami walaupun sudah menikah ia tetap berkewajiban untuk menafkahi orang tuanya. Karena orang tua adalah tanggung jawab anak laki-laki (suami). 

Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah ﷺ:

Artinya: “Siapakah yang berhak terhadap seorang wanita? Rasulullah menjawab: “Suaminya” (apabila sudah menikah). Kemudian Aisyah Radhiyallahu ‘anha bertanya lagi: “Siapakah yang berhak terhadap seorang laki-laki? Rasulullah menjawab: “Ibunya”. (HR. Muslim)

Dari hadis tersebut jelas bahwa ibu adalah tanggung jawab anak laki-laki (suami).  Namun yang terjadi sekarang adalah berbeda, disaat suami sudah menikah maka sepenuhnya dia dimiliki oleh istri. Padahal masih ada orang tuanya yang wajib ia nafkahi. 

Nah, yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah, siapa yang lebih didahulukan suami, ibu ataukah istri?

Dari hadis diatas telah disebutkan bahwa yang berhak terhadap seorang laki-laki adalah ibunya. Namun bukan berarti seorang suami  bebas menelantarkan istri demi seorang ibu. Itu salah, karena Ibu dan istri memiliki kedudukan yang sama pentingnya dalam islam, kedua-duanya harus diutamakan dan dimuliakan. 

Seorang suami yang shaleh dia akan membimbing istrinya untuk beriman kepada Allah serta tunduk dan patuh kepada suami. Dan seorang istri yang shalehah dia akan tunduk kepada suaminya. Artinya untuk membina rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah seorang istri harus membantu suaminya untuk menjalankan ketaatan kepada Allah. Salah satunya adalah membantu dia untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Bukan malah kita menghalangi dia agar dia melupakan orang tuanya.

Wallahu a’lam.