Jika Dizhalimi

Assalamualaikum wr wb,                                          
ustadz bagaimana sikap kita bila kita di dzolimi?                      

JAWABAN.                  
Wa alaikum salam wr wb,                            

Sikap jika dizalimi:

Tergantung dg tingkat kezalimannya, jika terkait dngan harga diri dan perkara2 dasar, maka harus berikan perlawanan. Bahkan sampai dlm tingkat melumpuhkan org yg zalim…atau gunakan saluran2 formal, spt menggugat, melaporkan kdp yg berwajib, dll.

Tapi jika kaitannya dg fitnah atau omongan2 yg tdk berdasar, upayakan lakukan klarifikasi, berikan nasehat secara pribadi…

Di luar semua itu, hadapi hal tsb sebagai bagian kesempatan utk mendapatkan pahala dan menghapus dosa… mohon kepada ALlah kebaikan diibalik hal ini … wallahu a’lam.

Ust. Haidir Indo

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Batasan Berhias untuk Wanita

Assalamuallaikum wr wb,                                        
Pertanyaannya :
Ustadz  Saya sdh sering dpt materi perhiasan muslimah…tp ga dalem pas yg ini. kalau batasan pemerah bibir dn pewarna pipi gmn ya dipublik? sy bbbrp liat ummahat/akhwat menggunakan. Sy sebut ummahat/akhwat krn ngaji rutin dn riwayat pend di sekolah islam. Bolehkah? Seberapa batasan tabaruj?

Innar S..manis A 08.        

JAWABANNYA.
Wa alaikum salam wr wb.

HIASAN KULIT DENGAN PEWARNAAN

Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘Anhu mengatakan: “Sesungguhnya didatangkan kepada Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam seorang bencong yang telah mengkhidhob (mewarnai) kedua tangan dan kedua kakinya.

Maka NabiShollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

مَا بَالُ هَذَا؟
“Ada apa dengan orang ini?”.

Dikatakan kepada beliau: “Wahai Rosululloh, dia meniru-niru perempuan”. Lalu beliau memerintahkannya untuk diasingkan ke An-Naqi’.

Orang-orang berkata kepada beliau: “Tidakkah kami membunuhnya?”. Beliau berkata:

إِنِّي نُهِيتُ عَنْ قَتْلِ الْمُصَلِّينَ

“Sesungguhnya aku dilarang membunuh orang yang menunaikan sholat”. (HR Abu Daud)

Hadits ini menunjukkan bahwa sudah merupakan sesuatu yang masyhur di kalangan shohabat kalau wanita menghiasi kaki dan tangannya dengan khidhob.

Ummul Mukminin ‘Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha ditanya tentang boleh tidaknya wanita berkidhob dalam masa haid, maka dia menjawab:

قد كنا عند النبي صلى الله عليه وسلم ونحن نختضب فلم يكن ينهانا عنه

“Dahulu kami di sisi Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dan kami berkhidhob, sementara beliau tidak melarangnya”. (HR Ibnu Majah)

Yang ingin kita petik dari hadits dan atsar-atsar di atas bahwasanya pewarnaan kulit dalam hiasan wanita, memiliki asal dalam syari’at ini selama bukan bersifat permanen (seperti tatto.

PEMERAH PIPI DI KALANGAN MUSLIMIN TERDAHULU

Sumber pembahasan yang bersinggungan dengan masalah ini bisa didapatkan di banyak kitab-kitab ulama terdahulu dari kalangan Hanabilah maupun Syafi’iyyah.

Adapun di kitab-kitab mazhab yang lain sejauh ini belum kami temukan pembahasan terkait.

1. Pembahasan Masalah Pemerah Pipi Di Mazhab Hanabilah

Masalah ini mereka gandengkan dengan masalah pengeritingan rambut, sebagian ulama Hanabilah ada yang menghukuminya dengan tadlis.

Namun larangan mereka tidak terkait tentang pembahasan hiasan yang singgung. Pembahasan ini terkait dengan penjualan budak wanita. Dan hukum tadlis tersebut juga bukan mereka tetapkan secara mutlak. Perkara tersebut mereka hukumi tadlis dalam kondisi apabila pemilik budak sengaja melakukan perkara tersebut untuk diperlihatkan ke calon pembeli karena rambut yang keriting dan pipi yang merah menunjukkan kekuatan pada budak tersebut. Sama halnya dengan menunggu menggumpalnya susu di dadanya kemudian menawarkannya kepada calon pembeli dalam kondisi tersebut. [Lihat: Al-Kaafi 2/48 dan Al-Mughny 7/217 karya Ibnu Qudamah (wafat 620), Al-Mubdi’ fi Syaril Muqni’ 4/80 karya Ibnu Muflih (wafat 884), Matholib Ulin Nuha 5/105 karya Ar-Ruhaibany (wafat 1243) dll]

Adapun jika pemerah pipi tersebut dilakukan bukan dengan tujuan mengibuli calon pembeli maka ada dua pendapat dalam mazhab, sekalangan tetap mengatakan tadlis sementara yang lain mengatakan tidak.[Lihat Al-Inshof fi Ma’rifatir Rojih Minal Khilaf 4/399 karya Al-Mardawy (wafat 885)]

2. Pembahasan Masalah Pemerah Pipi Di Mazhab Syafi’iyyah.

Disamping pembahasan yang sama dengan yang dibahas di kitab-kitab Hanabilah, pada kebanyakan kitab ulama Syafi’iyyah juga membahas permasalahan ini dari sisi yang terkait dengan hiasan wanita. Pemerah tonjolan pipi yang mereka pakai ketika itu adalah daun pacar.

Secara umum mereka membagi permasalahan ini kepada kedua kondisi:

Pertama, apabila perbuatan tersebut diizinkan suami atau pemilik budak perempuan, karena merekalah yang berhak untuk perkara tersebut.

Kedua, apabila perbuatan tersebut tidak diizinkan suami atau pemilik budak perempuan.

Dalam kedua kondisi ini para ulama Syafi’iyyah berbeda pendapat, ada yang membolehkan dan ada yang melarang.

Alasan pelarangan ada dua: Hak suami ataupun tuan akan hiasan seorang wanita dan alasan pengubahan ciptaan Alloh.

Alasan pertama adalah cabang dari alasan pelarangan bahwa perkara tersebut adalah pengubahan ciptaan Alloh. Bagi yang berpendapat bahwa hal tersebut bukanlah pengubahan ciptaan Alloh, mereka berbeda pendapat mengenai perlu tidaknya izin untuk itu. Mayoritas ulama Syafi’iyyah tidak menganggap bahwa pemerahan pipi tergolong pengubahan ciptaan Alloh.

Karena itulah perselisihan mereka pada kondisi pertama sangat lemah bahkan bisa dikatakan terabaikan.

Imam Abul Ma’aly Al-Juwainy Rahimahulloh (wafat 478) mengatakan: Sangat jauh kemungkinan adanya perselisihan dalam pemerahan wajah dengan izin suami, karena tidak adanya khabar (dalil yang melarang pemerahan pipi). Wajah bisa saja memerah karena faktor tertentu, seperti marah, gembira, lelah ataupun cepat dalam berjalan. [Nihayatul Mathlab fi Diroyatil Mazhab 2/319]

Bahkan Ar-Rofi’iy Rahimahulloh (wafat 623) mengatakan perkara tersebut boleh tanpa ada perselisihan. Sementara An-Nawawy menyatakan bahwa pembolehan pemereah pipi jika dilakukan seizin suami atau tuan adalah pendapat mazhab Syafi’i. [Fathul ‘Aziz bi Syarhil Wajiz 4/33, Roudhotul Tholibin 1/276 karya An-Nawawy] [Lihat juga: Tuhfatul Muhtaj 2/128 karya Ibnu Hajar Al-Haitamy, Fathul Wahhab 1/201 karya Al-Qodhi Zakariya Al-Anshory]

PENGUBAHAN TAMPILAN WARNA KULIT DENGAN MAKE UP

Pendapat pertama:

adalah para ulama yang membolehkan.

Pendapat ini adalah pendapat para ulama Al-Lajnah Ad-Daa-imah yang terdiri dari: Syaikh Ibnu Baaz, Syaikh Abdurrozzaq ‘Afify, Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud, Syaikh ‘Abdulloh bin Ghudayyan, Syaikh Sholih Al-Fauzan, Syaikh Sholih Alusy Syaikh, dan Syaikh Bakr Abu Zaid Ghofarohumullohu.

Pendapat kedua:

adalah para ulama yang melarang pemakaiannya disebabkan bahaya dan dampak jelek yang ditimbulkannya.

Diantara ulama yang menyatakan alasan ini adalah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin dan Syaikh Muqbil Ghofarohumullohu.

Pendapat ketiga:

adalah para ulama yang melarang pemakaiannya disebabkan -menurut mereka- menggunakan make up termasuk perbuatan tasyabbuh (menyerupai) wanita kafir maupun wanita fasik dari kalangan muslimin

Diantara yang berpendapat demikian adalah Syaikh Al-Albany dan Syaikh kami Jamil Ash-ShilwyGhofarohumallohu.

Apakah amalan ini tergolong tasyabbuh dengan wanita kafir atau fasik?

A. Pendapat pertama jelas mengatakan bahwa make up berada dalam hukum asal hiasan wanita muslimah yaitu boleh. Hal ini berdasarkan firman Alloh Ta’ala:

قل من حرم زِينَة الله الَّتِي أخرج لِعِبَادِهِ والطيبات من الرزق

“Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?”. (QS Al-A’raf 32)

Maka orang yang menyatakan secara asalnya tidak boleh bagi wanita muslimah memakai make up, dialah yang dituntut mengemukakan alasan.

B. Pemilik pendapat kedua (bahaya bagi kesehatan kulit)

Pada dasarnya mencocoki pendapat ini, karena sesuai kaidah dalam penerapan hukum di syari’at ini:

“Al-Hukmu Yaduuru Ma’a ‘Illatihi”, yakni hukum-hukum itu berjalan sesuai dengan keberadaan ‘illah (sebab hukum)nya, apabila ‘illahnya tidak ada maka hukumnya tidak ada.

Jadi ketika mereka menetapkan yang menjadi ‘illah larangan adalah bahaya, maka konsekwensinya apabila bahaya bisa dihindari maka perkara ini tidak terlarang.

C. Adapun pemilik pendapat ketiga menilai bahwa make up itu sendiri tidak boleh dipakai oleh wanita muslimah karena berasal dari amalan wanita kafir ataupun fasik.

Alasan ini bisa mungkin bisa dijawab oleh dua kelompok sebelumnya,

1. Bahwa tasyabbuh terjadi apabila sebuah amalan merupakan kekhususan mereka, yaitu ciri yang mereka dikenal dengannya, artinya tidak dikenal yang memakai pewarna di wajah kecuali wanita kafir atau fasik. Apabila sebuah amalan muncul atau dimulai oleh orang kafir -dan pasti yang mempopulerkan adalah mereka, karena wanita baik-baik tidak akan memajang dirinya di media-media- tidak mesti dikatakan bahwa amalan tersebut merupakan kekhususan mereka. Berapa banyak amalan-amalan dan alat-alat yang muncul dari kafir dan mereka populerkan di media-media, namun para ulama tidak menghukuminya sebagai bentuk tasyabbuh.

Syaikh Al-‘Utsaimin Rahimahulloh mengatakan:

“Timbangan tasyabbuh adalah:

seorang melakukan penyerupaan dalam kekhususan orang yang diserupai. Tasyabbuh dengan orang kafir adalah seorang muslim melakukan seuatu yang merupakan kehususan mereka. Adapun perkara yang telah berkembang di kalangan muslimin sehingga orang kafir tidak bisa dibedakan dengannya, maka tidak terjadi tasyabbuh.Tidak juga haram karena tasyabbuh kecuali ada unsur keharaman di sisi lain. Apa yang kami sampaikan ini adalah konsekwensi yang ditunjukkan oleh kata (tasyabbuh) ini”.
[Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Al-‘Utsaimin 12/290]

Terlebih lagi meletakkan pewarna di tubuh wanita tidak ada larangan secara khusus, bahkan sebaliknya terdapat dalil tentang pemakaian celak di mata, ataupun inai di tangan dan kaki. Kecuali jika model hiasan wajah tersebut nyentrik, ataupun memboroskan harta maka yang seperti ini mungkin bisa digolongkan dalam kebiasaan mereka (orang-orang yang mengabaikan syari’at) karena syari’at ini melarang tindakan berlebih-lebihan, demikian juga jika make up itu dipertontonkan kepada lelaki yang bukan mahram. Tidak boleh bagi seorang wanita muslimah mengambil perkara terlarang sebagai sebuah kebiasaan.

2. Jawaban kedua,

Bahwasanya pemerah pipi bukanlah perkara yang baru di kalangan kaum muslimin. Masalah ini dicantumkan di kitab-kitab fiqih ulama terdahulu (sebagaimana telah lewat penyebutannya).

Alasan bahwa hiasan ini (make up) tidak diturunkan Alloh penjelasan tentangnya, mengandung konsekwensi -kalau dicermati- bahwa setiap hiasan yang dipakai wanita mesti ada dalilnya. Yakni hukumnya seperti ibadah yang tidak boleh dilakukan kecuali ada dalil. Hal tersebut jelas menyelisihi hukum asal akan bolehnya hiasan bagi wanita baik yang dahulu dikenal maupun tidak selama tidak ada faktor lain yang menyeretnya kepada keharaman, sesuai keumuman ayat.

Kesimpulan:

Semua pembahasan di atas, pembolehannya jika digunakan berhias untuk suami (mahram)

Untuk menggunakannya di publik, apalagi digunakan secara mencolok (merah yang menyala) dan diniatkan berhias untuk menarik pandangan dan perhatian laki-laki yang bukan mahromnya TIDAK BOLEH
Wallahu a’alam

Dra. Indra Asih
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Mengambil Untung Dari Membelikan Barang Titipan

Assalamualaikum, ustadz. Jika kita membeli barang titipan orang lain, dengan uang titipan sebesar 30.000. Harga awal  barng tersebut 30.000. Tetapi setelah tawar menawar harga yang dberikan 25.000. Sisa uang 5000 tersebut bisa  menjadi hak kita atau harus dikembalikan?

Bagaimana itu hukum uang 5000 tsb, apakah riba? Tetapi karena usaha menawar kita jadi berkurang 5000. Kepada yang menitipkan, dengan alasan, bahwa harga sebenarnya memang 30.000.

[Manis_A30] ————–

JAWABAN:

Assalamu alaikum warahmatullah,

Sebelumnya saya sangat bangga dengan pertanyaan Ibu, memperlihatkan betapa berhati-hatinya Ibu dalam masalah muamalah. Sesuatu yang sering dianggap ringan oleh sebagian manusia.

Ibu, prinsip dasar Islam adalah menunaikan akad dengan amanah. Berdasarkan penjelasan ibu, akadnya adalah titipan, bukan ribawi, maka kepercayaan (trust) akan terbangun kepada Ibu jika Ibu mengembalikan dana IDR 5,000,- tersebut beserta kwitansinya. Dalam teori bisnis kuno maupun modern, membangun trust adalah langkah awal membangun kesuksesan, baik di dunia apalagi di akhirat.

Umumnya, dana IDR 5,000,- tetap akan diberikan kepada Ibu dalam kasus sejenis, dan dana itu menjadi halal untuk Ibu, dengan menyisakan TRUST yang dapat Ibu terus pupuk dan kembangkan untuk keberhasilan Ibu dalam kesempatan selanjutnya.

Wassalam,
supraha.com

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Mengamalkan Hadits Dhaif

Assalamu’alaikum  
Ustadzah. Mau tanya, kalau hadist lemah apakah tidak boleh diamalkan? Misal membaca surat Al Waqiah setelah asar dn sebelum subuh. Katanya hadistnya lemah.                        
Bagaimana menurut ustadzah? Jazakumullah khoir.

[Manis_Innar A08]                                

JAWABAN:
                         
Wa’alaikumussalam Wr.Wb.                                                
Alhamdulillah wa syukurillah La haula wala quwata ila billa.Sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam,

مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

”Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka”. (HR. Bukhari & Muslim). Dari hadits ini terlihat jelas bahwasanya seseorang yang menyandarkan sesuatu kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam tanpa mengetahui keshohihannya, dia terancam masuk neraka.

”Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat: 6)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa berita orang yang fasik gugur dan tidak diterima dan persaksian orang yang tidak adil adalah tertolak.” Maka dapat disimpulkan bahwa hadits dho’if tidak boleh dijadikan sandaran hukum karena periwayat hadits dho’if termasuk orang yang fasik.

Ada ulama yang membolehkan beramal dengan hadits dho’if di dalam fadho’il a’mal dengan memberikan persyaratan bagi hadits yang boleh diamalkan dalam hal tersebut.

Syarat-syarat tersebut adalah:

(1) Hendaknya hadits dho’if tersebut bukanlah hadits yang sangat dho’if/lemah,

(2) Hendaknya hadits dho’if tersebut masuk di bawah hadits shohih (atau minimal hasan) yang sifatnya umum, atau didukung oleh dalil lain yang shahih

(3) Di dalam mengamalkannya tidak diyakini keshohihannya,

(4) Hadits ini tidak boleh dipopulerkan.

Catatan: tentang surat Al Waqiah sendiri, penjelasan keutamaan-keutamaan dan khasiat membaca surat Al-Waqi’ah tersebut dijelaskan di dalam hadits-hadits yang derajatnya TIDAK SHOHIH dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Sebagian hadits-hadits tersebut derajatnya DHO’IF (Lemah) dan sebagian lainnya PALSU.

Ustadzah Dra Indra Asih

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Bagaimana Hukum Kerja di Bank?

Assalamuallaikum  mau tanya dong. Sebenarnya, apakah hukum bagi prang yang bekerja di bank? Mengingat bank adalah pusat riba. Dan riba itu haram

A 06.

JAWABAN NYA.3).                    

Wa alaikumsalam wr wb                            

“Tidak boleh bekerja di bank karena bank pasti bermuamalah dengan riba. Jika demikian jika seseorang bekerja di bank, maka terdapat bentuk tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Allah Ta’ala telah berfirman,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَشَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al Maidah: 2)

Juga terdapat hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), orang yang menyerahkan riba (nasabah), pencatat riba (sekretaris) dan dua orang saksinya.” Beliau mengatakan, “Mereka semua itu sama.” (HR. Muslim)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba.” (Al-Baqarah: 275)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga menegaskan:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (Al-Baqarah: 278-279)

Memakan harta riba termasuk dosa yang menghancurkan pelakunya, sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu :

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الَمُوبِقَاتِ -فَذَكَرَ مِنْهَا:- أَكْلَ الرِّبَا

“Jauhilah tujuh dosa yang menghancurkan… (beliau menyebutkan di antaranya): memakan harta riba.” (Muttafaqun ‘alaih)

Hadits Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘anhu , Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا أَحَدٌ أَكْثَرَ مِنَ الرِّبَا إِلَّا كَانَ عَاقِبَةُ أَمْرِهِ إِلَى قِلَّةٍ

“Tidaklah ada seseorang yang memperbanyak riba melainkan akibat akhir urusannya adalah kekurangan.” (HR. Ibnu Majah)

Takwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan tawakkal kepada-Nya adalah kunci datangnya rezeki yang halal

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (Ath-Thalaq: 2-3)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًاوَتَرُوحُ بِطَانًا

“Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan anugerahkan rezeki kepada kalian sebagaimana melimpahkan rezeki kepada burung, di pagi hari dalam keadaan lapar, (pulang) sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad)

Ustadzah Dra Indra Asih

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Istri Kecewa Dengan Suami

Assalamu’alaikum.. Ustadz. Boleh bertanya:

1. Jika seorang istri hanya bisa diam menahan rasa kecewa terhadap suami, apakah itu benar? Karena kalau istri mengungkapkan rasa kekecewaannya suami pasti marah.

2. Bagaimana hukumnya seorang suami yang menampung laki laki tinggal dirumahnya. Laki laki ini saudaranya (adiknya dan ponakan). Bagi sang istri, laki-laki ini bukan mahromnya  Jadi aurot harus selalu tertutup. Suatu saat si istri lagi tidak pakai jilbab (dikira adik ipar tidak ada) tiba-tiba dia masuk rumah dan kadung lihat  kakak ipar tak berjilbab. Perempuan ini malu sama adiknya dan jengkel sama suaminya. Gara-gara ada orang lain, dia tidak bebas di rumah sendiri. Lalu, ia berpikir jika aurotnya terbuka biar suaminya yang tanggung ďosa karena dia yang masukin org dari luar.
Siapakah yang salah dalam hal ini, suami ato istri? Rumah yang ditempati itu adalah milik istri. Apakah bila sudah menikah dia tak punya hak lagi? Jika yang ditampung itu saudara perempuan, si istri tidak keberatan karena dia tidak harus selalu tertutup. Istri merasa terganggu jika yang ikut laki laki. Setelah 3 tahun si ipar dinikahkan….eee ganti ponakan yang ikut. Jadinya tidak bebas lagi.

Mohon penjelasannya. Terima kasih.

[Manis_A29] ————–

JAWABAN:

 و عليكم  السلام  و  رحمة  الله ،

1. Bersabarnya seorang istri akan membawa keberkahan untuknya di akhirat. Namun, berusahanya dia untuk memperbaiki urusannya, baik dengan menggunakan pihak ketiga atau dengan cara lainnya yang lebih berpotensi berhasil.

2. Hendaknya tidak terjadi dua manusia yang bukan mahram berdua dalam satu rumah. Hal ini perlu diingatkan kepada suami. Adapun rumah tetaplah milik istri, bukan milik suami.

Wassalam,
supraha.com

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Shalat Jamak dan Qashan Bagi Pelajar di Luar Negeri

Assalamu’alaikum .. ingin bertanya, hukum sholat jama /qashor bila belajar di luar negeri..ada batasan tidak? Syukron.            

[Manis_Yulia A08]

JAWABAN:

Wa alaikum salam wr wb.                            
Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihi wa Ashhabihi wa man waalah wa ba’d
                                                                                     
A. Berniat Mukim

Kalau memang ia melakukan perjalanan dan berniat mukim di lokasi tujuan, seperti orang yang mempunyai rumah lebih dari satu, maka status musafirnya yang mana itu menjadikannya mendapat rukhshoh itu selesai ketika ia sampai rumah tujuan.

Jadi, Ketika sampai lokasi, ia tidak boleh lagi qashar atau pun jama’ sholat, karena statusnya di lokasi tujuan adalah seorang mukim, bukan musafir. Karena bukan musafir, maka tidak ada keringanan baginya untuk men-qashar atau juga men-jama’ sholat.

B. Tidak Berniat Mukim Hanya Singgah

Tapi ada jenis kedua, yaitu yang melakukan perjalanan tapi tidak berniat mukim di lokasi tujuan, hanya saja mereka berdiam/singgah di lokasi tujuan beberapa hari karena memang ada kebutuhan untuk mereka berdiam di situ. Dan orang yang seperti ini juga tidak semuanya sama, tapi ada 2 jenis;

[1] Tidak tahu dan tidak menentukan berapa hari berdiam di lokasi

[2] Sudah menentukan jumlah hari berdiam/singgah di lokasi

Tidak Menentukan Jumlah Hari

Untuk jenis yang pertama ialah mereka yang berpergian untuk menyelesaikan sebuah urusan atau pekerjaan yang waktunya tidak ditentukan. Karena memang bukan waktu yang menjadi patokannya, akan tetapi urusan atau pekerjaannya yang mereka jadikan ukuran. Berapa hari pekerjaan itu selesai, segitu pula mereka akan singgah.

Imam Al-Turmudzi dalam kitab sunan-nya meriwayatkan beberapa hadits perihal batasan hari di mana seorang musafir tidak lagi mendapatkan rukhshoh, lalu berliau menutup dengan perkataan bahwa ulama telah berijma’ bahwa bagi siapa yang tidak berniat mukim dan tidak menentukan jumlah hari singgahnya, mereka tetap mendapatkan rukhshoh Qashar dan jama’ sholat, walaupun lamanya sampai tahunan. (Sunan Al-Tirmidzi 2/431)

C. Sudah Menentukan/Ditentukan Jumlah Hari

Intinya pada poin ini adalah seorang yang melakukan perjalanan jauh tidak untuk tujuan mukim dan ia sudah menentukan berapa lama ia akan singgah/tinggal di lokasi tujuannya itu, apapun jenis pekerjaan dan kebutuhan.

Untuk jenis safar seperti ini, ulama 4 madzhab sepakat untuk membatasi jumlah hari mereka yang mana mereka boleh qashar dan jama’ sholat, namun terlarang jika mereka sudah melewati batas hari rukhshoh tersebut.

1.  Al-Hanafiyah (14 Hari)

Ini didasarkan pada apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw ketika datang ke Mekkah dari Madinah untuk pembebasan Mekkah (Fathu Makkah). Bahwa beliau saw meng-qashar sholatnya sampai 14 hari di Mekah. (HR. Abu Daud)

2. Al-Malikiyah & Al-Syafiiyah (3 Hari)

Dalil yang digunakan ialah apa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahih-nya bahwa Nabi saw menjadikan bagi para Muhajirin 3 hari untuk rukhshoh setelah mereka menunaikan hajinya.

لِلْمُهَاجِرِ إِقَامَةُ ثَلَاثٍ بَعْدَ الصَّدَرِ بِمَكَّةَ

“untuk para muhajirin itu bermukim 3 hari di Mekkah setelah Shodr (menunaikan manasik)” (HR Muslim)

3. Al-Hanabilah (4 Hari/21 Sholat)

Uniknya dalam madzhab ini adalah bahwa yang dijadikan ukuran bukanlah hari melainkan sholat. Madzhab ini menetapkan bahwa batasan rukhshoh bagi seorang musafir itu setelah ia melewati 21 kali waktu sholat, atau kalau dihitung dalam hari menajdi 4 hari lebih 1 kali waktu sholat.

Ini dijelaskan oleh Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni (2/212) dan juga Imam Al-Mardawi dalam Al-Inshaf (2/329). Dalilnya sama seperti yang digunakan oleh madzhab Al-Syafiiyah dan AL-Malikiyah, hanya saja mereka menghitungnya dengan hitungan jumlah sholat.

Imam Ibnu Qudamah Mengatakan:

وَإِذَا نَوَى الْمُسَافِرُ الْإِقَامَةَ فِي بَلَدٍ أَكْثَرَ مِنْ إحْدَى وَعِشْرِينَ صَلَاةً، أَتَمَّ) الْمَشْهُورُعَنْ أَحْمَدَ – رَحِمَهُ اللَّهُ –

“Jika seseorang musafir berniat untuk tinggal di suatu negeri lebih dari 21 kal waktu sholat, maka ia ketika itu ia harus sempurna sholatnya (tidak jama qashar)” (Al-Mughni 2/212).

Ustadzah Dra Indra Asih

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Status Galau Termasuk abicara Buruk?

Assalamu’alaikum Ustadzah.. Mau tanya.
1. Di medsos sering kita temuin status-status galau. Apakah itu termasuk bicara yang buruk?

2. Temen yang pacaran, suka kumpul sama lawan jenis dalam konteks belajar bareng temen belum berhijab. Bagaimana caranya biar saya berani kasih nasihat?

Terima kasih.

[Manis_A29] ————–

JAWABAN:

Wa’alaikumussalam Wr.Wb

Pertanyaan 1

A. Mengalami galau, pikiran kacau, bingung dalam menentukan arah hidup, bukanlah kesalahan. Hampir semua manusia mengalaminya. Yang lebih penting adalah mengatasi kondisi galau, sehingga tidak sampai menyeret kita kepada jurang maksiat.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ, وَاسْتَعِنْ بِاَللَّهِ, وَلَا تَعْجَزْ, وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْأَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا, وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اَللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ; فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَاَلشَّيْطَانِ

Bersemangatlah untuk mendapatkan apa yang manfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah. Jika kalian mengalami kegagalan, jangan ucapkan, ‘Andai tadi saya melakukan cara ini, harusnya akan terjadi ini…dst.’ Namun ucapkanlah, ‘Ini taqdir Allah, dan apa saja yang dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena berandai-andai membuka peluang setan. (HR. Ahmad, Muslim, Ibn Hibban, dan yang lainnya).

Seorang mukmin tidak perlu merasa kesulitan untuk mencari apa yang manfaat baginya. Karena semua yang ada di sekitarnya, bisa menjadi kegiatan yang bermanfaat baginya. Jika dia belum bisa melakukan kegiatan yang manfaatnya luas, dia bisa awali dengan kegiatan yang manfaatnya terbatas. Setidaknya dia gerakkan lisannya untuk berdzikir atau membaca al-Quran. Atau berusaha menghafal al-Quran atau membaca buku yang bermanfaat.

1. Jangan lupa diiringi dengan doa

 “mintalah pertolongan kepada Allah”

Mengingatkan agar kita tidak hanya bersandar dengan kerja yang kita lakukan, tetapi harus diiringi dengan tawakkal kepada Allah. Karena keberhasilan tidak mungkin bisa kita raih, tanpa pertolongan dari Allah.

2. Jangan merasa lemah

Dalam melakukan hal yang terbaik dalam hidup, bisa dipastikan, kita akan mengalami rintangan. Seorang mukmin, rintangan bukan sebab untuk putus asa. Karena dia paham, rintangan pasti di sepanjang perjalanan hidupnya.

3. Hindari Panjang Angan-angan

Terlalu ambisius menjadi orang sukses, memperparah kondisi galau yang dialami manusia. Dia berangan-angan panjang, hingga terbuai dalam bayangan kosong tanpa makna. Karena itulah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat mencela panjang angan-angan.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَزَالُ قَلْبُ الْكَبِيرِ شَابًّا فِى اثْنَتَيْنِ فِى حُبِّ الدُّنْيَا ، وَطُولِ الأَمَلِ

Hati orang tua akan seperti anak muda dalam dua hal: dalam cinta dunia dan panjang angan-angan. (HR. Bukhari)

4. Jangan Merasa Didzalimi Taqdir

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاتَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

Perhatikanlah orang yang lebih rendah keadaannya dari pada kalian, dan jangan perhatikan orang yang lebih sukses dibandingkan kalian. Karena ini cara paling efektif, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah bagi kalian. (HR. Ahmad, Turmudzi, dan Ibn Majah)

5. Jangan Lupakan Doa Memohon Kebaikan Dunia dan Akhirat

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَامَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّخَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ

Ya Allah ya Tuhanku, perbaikilah bagiku agamaku sebagai benteng urusanku; perbaikilah bagiku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku; perbaikilah bagiku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku! Jadikanlah ya Allah kehidupan ini mempunyai nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala kejahatan. (HR. Muslim no. 2720).

B. Hendaknya kita mengeluh di tempat yang tepat yaitu tempat memberi ketenangan diri seperti dijelaskan dalam al-Quran “Sesungguhnya aku mengeluhkan keadaanku dan kesedihanku hanya kepada Allah,“ (Qs. Yusuf: 86)”, Saudaraku, mengeluhkan penderitaan hanya kepada Allah SWT adalah bagian dari kesabaran.

Islam perbolehkan kita berdoa dimana dan kapan pun kecuali di toilet/kamar mandi. Tetapi akan lebih elok dan berkah doa yang kita untaikan di tempat-tempat telah dicontohkan Rasulullah SAW. Jangan sampai doa di publish jadi bahan guyonan, ingin diketahui publik dan ajang narsis.

Dalil-dalil telah mengatur waktu-waktu untuk berdoa mustajab. Antara lain:

“Pada bulan Ramadhan, terutama pada malam Lailatul Qadar, Pada waktu wukuf di ‘Arafah, ketika menunaikan ibadah haji, Ketika turun hujan, Ketika akan memulai shalat dan sesudahnya, Ketika menghadapi barisan musuh dalam medan peperangan, Di tengah malam, Di antara adzan dan iqamat, Ketika I’tidal yang akhir dalam shalat, Ketika sujud dalam shalat, Ketika khatam (tamat) membaca Al-Quran 30 Juz, Sepanjang malam, utama sekali sepertiga yang akhir dan waktu sahur, Sepanjang hari Jumat, karena mengharap berjumpa dengan saat ijabah (saat diperkenankan doa) yang terletak antara terbit fajar hingga terbenam matahari pada hari Jumat itu, antara Zhuhur dengan ‘Ashar dan antara ‘Ashar dengan Maghrib, Pada waktu pengajian (belajar) di suatu majelis dan Pada waktu minum air zam-zam”

Tempat-tempat baik untuk berdoa “Di kala melihat Ka’bah, Di kala melihat masjid Rasulullah Saw, Di tempat dan di kala melakukan thawaf, Di sisi Multazam. Di dalam Ka’bah, Di sisi sumur Zamzam, Di belakang makam Ibrahim, Di atas bukit Shafa dan Marwah, Di ‘Arafah, di Muzdalifah, di Mina dan di sisi Jamarat yang tiga, Di tempat-tempat yang mulia lainnya, seperti di Masjid dan tempat-tempat peribadatan lainnya.

Nah seperti dijelaskan di atas jelas bahwa tempat dan waktu mustajab berdoa, bukan saat buka Facebook/twitter, sebaiknya social networking dimanfaatkan sebagai tempat berbagi informasi bersifat memotivasi bukan bersifat keluh kesah. Karena Allah tidak menyukai hamba yang suka mengeluh

 —

Pertanyaan 2

Menasehati seseorang (apalagi itu kita kenal) harus berani melakukannya. Menasehati adalah bagian dari kepedulian kita untuk menyelamatkan orang tersebut dari jurang kenistaan dalam hidupnya.

Sebenarnya tak ada resep khusus dalam cara menasehati seseorang yang berbuat maksiat agar kembali kepada ketaatan terhadap syariat. Namun yang pasti, isi nasehat itulah yang terpenting.

Cara boleh berbeda-beda, tetapi isi nasehat haruslah sama berdasarkan tuntunan syariat Islam. Tuntunan Rasulullah saw. ketika kita melihat suatu kemunkaran, tercermin dalam hadits dari Abu Said al-Khudri ra. dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemunkaran, hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemahnya iman.’” (HR Muslim).

Hadits ini adalah panduan ketika kita melihat suatu kemunkaran, dimana contoh dalam pertanyaan ini adalah pacaran.

Cara menasehatinya, bisa ajak dialog dulu teman tersebut, jelaskan haramnya pacaran, jika kuat cegahlah dia.

Kuat atau tidak bisa diketahui dengan mencoba dan terus berlatih memberi nasehat.

Ustadzah Dra Indra Asih

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Kenapa Poliandri Dilarang?

Assalamu’alaikum.. Ustad. Ada dua pertanyaan:

1. Kenapa poliandri tidak dibolehkan?

2. Setiap saya mendapat ujian yang membuat hati saya sedih, saya merasa Allah sangat menyayangi saya. Dan Allah memberikan semua ujian kepadaku mungkin karena saya sanggup dan kuat. Prtanyaan saya, Apakah saya salah menganggap Allah itu sangat menyayangi saya? Dan bagaimana caranya agar saya bisa selalu kuat menghadapi segala ujian? Trimakasih

[Manis_A30] ————–

JAWABAN:

 و عليكم  السلام  و  رحمة  الله ،

1. Poliandri yang dipahami umum adalah adanya 1 wanita yang memiliki lebih dari 1 suami pada saat bersamaan. Maka yg terjadi adalah bercampurnya sperma, dan menjadi tidak jelas nasab. Kedua, bahwa tiada kebahagiaan secara fitrah dalam kejujuran kita seorang wanita dimiliki oleh dua suami dalam waktu bersamaan, karena seluruh sendi hidup kita tidaklah melulu seputar hubungan seksual, namun ada pekerjaan besar di atasnya yang ini hanya bisa dilakukan ketika manusia tetap bersama fitrah kebahagiaannya, dan Allah Swt adalah Dzat yg paling mengetahui fitrah manusia.

2. Anggapan Ibu adalah anggapan yang baik. Pertama, karena berprasangka baik adalah kewajiban. Kedua, karena keimanan manusia bahwa mereka yang sering ditimpa musibah dalam salah satu makna adalah mensucikan jiwanya, dan dikehendaki baginya kebaikan jika ia mampu mengolahnya agar berbuah kebaikan.

Nabi Saw. bersabda,

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)

Wallaahu a’lam,
supraha.com

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Adab Buang Hajat

Assalamualaykum Ustadz..
Mohon penjelasan tentang adab B.A.K (buang air kecil), terutama untuk para ikhwan berikut dalil2nya.

—————

JAWABAN:

Adab membuang hajat
1. Jangan menyentuh kemaluan dengan tangan kanan. Rosulullah saw bersabda “janganlah seseorang di anatara kamu menyentuh kemaluanya dengan tangan kanan saat kencing dan janganlah cebok (istinja) dengan tangan kanannya (HR. Bukhori dan muslim)

2. Jangan menghadap kiblat atau membelakangi kiblat saat buang air. Rosulullah saw bersabda ” dan janganlah kamu menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya saat berak atau kencing, tetapi menghadaplah ketimur atau kebarat (HR. Tujuh ahli hadist)

3. Jangan berbicara saat buang air. Rosulullah saw bersabda ” apabila dua org buang air besar maka hendaklah tiap-tiap  seseorang dari mereka berlindung dari temanua dan janganlah mereka berbicara karena Allah murka kepada yang demikian itu. (HR. Muslim)

4. Janganlah buang air di jalan atau d tempat berteduh. Rosulullah saw bersabda “jauhilah perbuatan dua org yg menyebabkan laknat, yaitu buang air di jalan atau di perteduhan mereka (HR. Muslim)

Wallahu a’alam

Ustadzah Ida Faridah

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com